Oleh: Iqbal Aji Daryono
Ini sedang fyp di platform sebelah. Yang saya gatel adalah kenapa TS harus menegaskan "it's not about the money". Lha wong bilang "it's about the money, sebab money berarti apresiasi" juga gak papa kok.
Kenapa akademisi dan cendekiawan harus tampil seolah-olah jijik pada money, sih? Heran saya tu.
Yang menjijikkan itu cari money dengan melacur ke kekuasaan. Atau dengan ngembat duitnya liyan. Atau utang kancane trus macak lali ora mbayar. Atau pura-pura memperjuangkan ini-itu, padahal sebenarnya cuma cari tunggangan untuk menggemukkan saldo tabungan.
Tapi kalau secara profesional memberi harga pada kemampuan diri, saya kira itu sikap yang layak dihormati bahkan pantas dijadikan tradisi.
Saya tentu bukan akademisi seperti Mas Junayd ini. Tapi saya juga menjalankan profesi di bidang pengetahuan. Maka, dalam berbagai obrolan (termasuk di webinar personal branding saya), pernah saya sampaikan bahwa pasang tarif itu bukan sejenis kerakusan. Itu justru adalah ikhtiar bersama untuk membentuk ekosistem yang lebih sehat dan menyehatkan.
Tanpa mendidik publik untuk memberi harga yang pantas bagi pengetahuan, publik tidak akan beranjak dari model pikiran lama: hiburan jauh lebih bernilai daripada ilmu.
Hasilnya, untuk nonton ndangdutan koplo atau konser Blekpink mereka mau bayar muahal, sementara untuk ikut diskusi dan seminar or pelatihan pengennya olweis gretongan.
Efeknya, anak-anak muda bakalan pada males untuk bergerak di bidang elmu dan pengetahuan. Lha nanti ujung-ujungnya hidup mereka gak akan dapat apresiasi yang wajar.
Ingat W.S. Rendra yang pernah marah-marah ke kelompok mahasiswa yang ngundang dia lalu cuma kasih plakat, padahal Rendra ngebis jauh pake duit. Ingat Pram yang murka karena naskahnya dibakar tentara, dan berkata "Itu kan mata pencaharian saya!" (Persisnya gimana kata-kata dia saya lupa, tapi lebih kurang begitu.)
Makanya, pake akad gentlemen agreement saja: semuanya harus klir di depan.
Saya kalo diundang lembaga gede atau perusahaan atau instansi pusat, gak pernah malu buat bilang: rate saya segini ya. Standar narsum ahli, bukan narsum biasa.
(Beda ya kalo sama komunitas atau sejenisnya--saya juga selalu punya porsi untuk sosial.)
Saya mendapatkan semua skill dan pengetahuan saya lewat perjuangan yang panjang, cibiran tanpa henti dari kiri dan kanan, juga biaya lahir-batin yang sangat mahal. Maka, saya merasa wajar memberi harga tertentu pada hasil usaha saya itu.
Nah, demikian pula mas-mbak akademisi, semestinya juga sama. Sebab nunggu orang lain peka dan sadar diri lalu dengan penuh kesadaran memberikan apresiasi itu ilusi belaka.
(Mau gak mau saya ingat kasus rame dulu kala ketika seorang kawan diundang jadi narsum di Mojokerto, lalu "Sekarang saya termenung di kos teman saya, memikirkan bagaimana caranya pulang ke Jogja, sambil memandangi kaos yang diberikan oleh panitia sebagai honor.")
Memang akan ada sebagian wong pinter yang pasang tampang begawan lalu sok jijik kepada mereka yang pasang tarif--kemudian para sok-begawan itu sendiri nyebar-nyebar gratisan. Tapi mereka itu gak sadar bahwa sikap demikian sebenarnya sangat merugikan ekosistem pengetahuan.
Ya bayangkan saja, nanti ruang ini akan terus diisi oleh orang-orang pinter yang sakit-sakitan, dan isinya ngeluuuuh terus sampai akhir zaman.
#INISIATIF #TGIF
Ini sedang fyp di platform sebelah. Yang saya gatel adalah kenapa TS harus menegaskan "it's not about the money". Lha wong bilang "it's about the money, sebab money berarti apresiasi" juga gak papa kok.
Kenapa akademisi dan cendekiawan harus tampil seolah-olah jijik pada money, sih? Heran saya tu.
Yang menjijikkan itu cari money dengan melacur ke kekuasaan. Atau dengan ngembat duitnya liyan. Atau utang kancane trus macak lali ora mbayar. Atau pura-pura memperjuangkan ini-itu, padahal sebenarnya cuma cari tunggangan untuk menggemukkan saldo tabungan.
Tapi kalau secara profesional memberi harga pada kemampuan diri, saya kira itu sikap yang layak dihormati bahkan pantas dijadikan tradisi.
Saya tentu bukan akademisi seperti Mas Junayd ini. Tapi saya juga menjalankan profesi di bidang pengetahuan. Maka, dalam berbagai obrolan (termasuk di webinar personal branding saya), pernah saya sampaikan bahwa pasang tarif itu bukan sejenis kerakusan. Itu justru adalah ikhtiar bersama untuk membentuk ekosistem yang lebih sehat dan menyehatkan.
Tanpa mendidik publik untuk memberi harga yang pantas bagi pengetahuan, publik tidak akan beranjak dari model pikiran lama: hiburan jauh lebih bernilai daripada ilmu.
Hasilnya, untuk nonton ndangdutan koplo atau konser Blekpink mereka mau bayar muahal, sementara untuk ikut diskusi dan seminar or pelatihan pengennya olweis gretongan.
Efeknya, anak-anak muda bakalan pada males untuk bergerak di bidang elmu dan pengetahuan. Lha nanti ujung-ujungnya hidup mereka gak akan dapat apresiasi yang wajar.
Ingat W.S. Rendra yang pernah marah-marah ke kelompok mahasiswa yang ngundang dia lalu cuma kasih plakat, padahal Rendra ngebis jauh pake duit. Ingat Pram yang murka karena naskahnya dibakar tentara, dan berkata "Itu kan mata pencaharian saya!" (Persisnya gimana kata-kata dia saya lupa, tapi lebih kurang begitu.)
Makanya, pake akad gentlemen agreement saja: semuanya harus klir di depan.
Saya kalo diundang lembaga gede atau perusahaan atau instansi pusat, gak pernah malu buat bilang: rate saya segini ya. Standar narsum ahli, bukan narsum biasa.
(Beda ya kalo sama komunitas atau sejenisnya--saya juga selalu punya porsi untuk sosial.)
Saya mendapatkan semua skill dan pengetahuan saya lewat perjuangan yang panjang, cibiran tanpa henti dari kiri dan kanan, juga biaya lahir-batin yang sangat mahal. Maka, saya merasa wajar memberi harga tertentu pada hasil usaha saya itu.
Nah, demikian pula mas-mbak akademisi, semestinya juga sama. Sebab nunggu orang lain peka dan sadar diri lalu dengan penuh kesadaran memberikan apresiasi itu ilusi belaka.
(Mau gak mau saya ingat kasus rame dulu kala ketika seorang kawan diundang jadi narsum di Mojokerto, lalu "Sekarang saya termenung di kos teman saya, memikirkan bagaimana caranya pulang ke Jogja, sambil memandangi kaos yang diberikan oleh panitia sebagai honor.")
Memang akan ada sebagian wong pinter yang pasang tampang begawan lalu sok jijik kepada mereka yang pasang tarif--kemudian para sok-begawan itu sendiri nyebar-nyebar gratisan. Tapi mereka itu gak sadar bahwa sikap demikian sebenarnya sangat merugikan ekosistem pengetahuan.
Ya bayangkan saja, nanti ruang ini akan terus diisi oleh orang-orang pinter yang sakit-sakitan, dan isinya ngeluuuuh terus sampai akhir zaman.
#INISIATIF #TGIF
๐2โก1๐1
BIG RESPECT FOR VERIFIKATOR ๐ซก
Di balik setiap rupiah yang dibayar kepada Fasilitas Kesehatan yang melayani peserta program JKN, ada para Verifikator Klaim, mereka yang bekerja dengan integritas tinggi demi menjaga keberlangsungan layanan kesehatan untuk jutaan peserta di seluruh Indonesia๐ฎ๐ฉ
Lewat kelengkapan dokumen klaim yang mereka verifikasi, ada kisah perjuangan pasien, dedikasi tenaga kesehatan, dan tanggung jawab untuk menjaga dana publik ini tetap aman dan berkeadilan.
https://www.instagram.com/p/DQvEuGbktfU/?igsh=MTlmdzBueXJrMWpmaA==
Di balik setiap rupiah yang dibayar kepada Fasilitas Kesehatan yang melayani peserta program JKN, ada para Verifikator Klaim, mereka yang bekerja dengan integritas tinggi demi menjaga keberlangsungan layanan kesehatan untuk jutaan peserta di seluruh Indonesia
Lewat kelengkapan dokumen klaim yang mereka verifikasi, ada kisah perjuangan pasien, dedikasi tenaga kesehatan, dan tanggung jawab untuk menjaga dana publik ini tetap aman dan berkeadilan.
https://www.instagram.com/p/DQvEuGbktfU/?igsh=MTlmdzBueXJrMWpmaA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2๐2
Oleh: Ahmad Rifai Rifan
Mengapa ada orang yang saat sekolah ranking 1, tapi saat kuliah prestasinya biasa, bahkan tenggelam?
Mengapa ada orang yang saat kuliah akademisnya bagus, IPK nya cumlaude, tetapi setelah lulus, kesulitan cari kerja?
Atau mengapa ada orang yang saat kuliah prestasinya hebat, berhasil masuk perusahaan besar, tapi lantas di perusahaan, karirnya sulit berkembang?
(Ingat ya, saya mengatakan "ada". Jumlahnya bisa saja minoritas. Tapi faktanya, memang "ada".)
Jawaban mudahnya, "Ya karena udah takdir." Jawaban nakalnya, "Karena kita hidup di Konoha." Atau mungkin ada saja yang jawab, "Karena gak punya orang dalem." Atau bisa juga ada yang jawab, "Gak punya priviliage."
Tapi kali ini, mari sejenak mengabaikan faktor-faktor eksternal itu. Kita fokus pada yang bisa kita ubah. Karena nasehat klasik mengatakan, "Orang gagal suka cari alasan. Dan orang yang bertumbuh lebih suka cari solusi."
Jadi kali ini kita fokus pada faktor yang bisa kita ubah. Yakni faktor internal, yang ada dalam diri kita. Artinya, kita kini membahas yang disebut growth mindset.
Mari kembali ke pertanyaan: Mengapa ADA orang yang hebat, pintar, berprestasi di masa lalu, bisa menjadi seseorang yang biasa saja di masa depannya?
"Biasa" dalam arti: ilmunya, skillnya, karirnya, keluarganya, finansialnya, karakternya, pengaruhnya, atau manfaatnya bagi sesama.
Salah satu alasan klasiknya adalah kepintarannya di masa lalu menjadikannya terperangkap dalam bayang-bayang kejayaan lama.
Ia hidup dalam nostalgia prestasi, sehingga tanpa sadar menganggap masa kini akan selalu tunduk pada hukum yang sama seperti dulu: belajar โ ujian โ juara.
Maka tak heran, ada lulusan cumlaude yang gagap menghadapi dunia kerja. Ia mengira ijazah dengan tinta emas akan otomatis membuka pintu ke mana saja.
Ada pula yang berhasil lolos seleksi kerja, namun karirnya stagnan karena ia terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya โpintarโ, bukan berusaha menjadi berguna bagi tim dan organisasinya.
Padahal dunia profesional lebih menghargai jejaring, kepribadian, integritas, dan keterampilan praktis. Tak penting lagi kamu lulusan mana, tapi kamu bisa apa?
Ketika masih sekolah, sistem penilaian relatif jelas, terukur, bahkan kaku. Siapa yang menghafal lebih banyak, lebih rajin mencatat, lebih disiplin mengerjakan tugas, dialah yang mendapat angka terbaik.
Namun, ketika memasuki jenjang kuliah, terlebih setelah keluar ke dunia kerja, rumus tersebut kehilangan daya magisnya. Dunia profesional tidak lagi menanyakan berapa panjang catatanmu, melainkan sejauh mana daya tahanmu terhadap tekanan, kreativitasmu dalam menyelesaikan masalah, serta kemampuanmu bekerja sama dengan orang yang tidak selalu sepemikiran.
Banyak orang yang tumbuh besar dengan label โcerdasโ akhirnya terjebak dalam paradoks psikologis: merasa sudah cukup dengan kecerdasan yang pernah membawanya berhasil.
Ia lantas menolak untuk terus-menerus belajar, bereksperimen, berubah, dan berupaya melampaui dirinya yang lama. Ia sibuk menjadi pengagum masa lalu. Ia bersembunyi di balik piagam-piagam lama. Ia terus membanggakan prestasi dan trophy di masa lalu.
Padahal, yang hadir dan muncul adalah mereka yang terus belajar dan mau beradaptasi dengan perubahan yang ada. Jadikan semua prestasi dan pencapaian di masa lalu sebagai anak tangga untuk meraih pencapaian yang lebih baik.
Karena sebagaimana petuah klasik, kalau hari ini sama dengan kemarin, kita termasuk merugi. Tak ada pilihan lain kecuali terus bertumbuh. Ya ilmunya, prestasinya, ibadahnya, akhlaknya, dan kualitas hubungannya dengan sesama.
#INISIATIF
Mengapa ada orang yang saat sekolah ranking 1, tapi saat kuliah prestasinya biasa, bahkan tenggelam?
Mengapa ada orang yang saat kuliah akademisnya bagus, IPK nya cumlaude, tetapi setelah lulus, kesulitan cari kerja?
Atau mengapa ada orang yang saat kuliah prestasinya hebat, berhasil masuk perusahaan besar, tapi lantas di perusahaan, karirnya sulit berkembang?
(Ingat ya, saya mengatakan "ada". Jumlahnya bisa saja minoritas. Tapi faktanya, memang "ada".)
Jawaban mudahnya, "Ya karena udah takdir." Jawaban nakalnya, "Karena kita hidup di Konoha." Atau mungkin ada saja yang jawab, "Karena gak punya orang dalem." Atau bisa juga ada yang jawab, "Gak punya priviliage."
Tapi kali ini, mari sejenak mengabaikan faktor-faktor eksternal itu. Kita fokus pada yang bisa kita ubah. Karena nasehat klasik mengatakan, "Orang gagal suka cari alasan. Dan orang yang bertumbuh lebih suka cari solusi."
Jadi kali ini kita fokus pada faktor yang bisa kita ubah. Yakni faktor internal, yang ada dalam diri kita. Artinya, kita kini membahas yang disebut growth mindset.
Mari kembali ke pertanyaan: Mengapa ADA orang yang hebat, pintar, berprestasi di masa lalu, bisa menjadi seseorang yang biasa saja di masa depannya?
"Biasa" dalam arti: ilmunya, skillnya, karirnya, keluarganya, finansialnya, karakternya, pengaruhnya, atau manfaatnya bagi sesama.
Salah satu alasan klasiknya adalah kepintarannya di masa lalu menjadikannya terperangkap dalam bayang-bayang kejayaan lama.
Ia hidup dalam nostalgia prestasi, sehingga tanpa sadar menganggap masa kini akan selalu tunduk pada hukum yang sama seperti dulu: belajar โ ujian โ juara.
Maka tak heran, ada lulusan cumlaude yang gagap menghadapi dunia kerja. Ia mengira ijazah dengan tinta emas akan otomatis membuka pintu ke mana saja.
Ada pula yang berhasil lolos seleksi kerja, namun karirnya stagnan karena ia terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya โpintarโ, bukan berusaha menjadi berguna bagi tim dan organisasinya.
Padahal dunia profesional lebih menghargai jejaring, kepribadian, integritas, dan keterampilan praktis. Tak penting lagi kamu lulusan mana, tapi kamu bisa apa?
Ketika masih sekolah, sistem penilaian relatif jelas, terukur, bahkan kaku. Siapa yang menghafal lebih banyak, lebih rajin mencatat, lebih disiplin mengerjakan tugas, dialah yang mendapat angka terbaik.
Namun, ketika memasuki jenjang kuliah, terlebih setelah keluar ke dunia kerja, rumus tersebut kehilangan daya magisnya. Dunia profesional tidak lagi menanyakan berapa panjang catatanmu, melainkan sejauh mana daya tahanmu terhadap tekanan, kreativitasmu dalam menyelesaikan masalah, serta kemampuanmu bekerja sama dengan orang yang tidak selalu sepemikiran.
Banyak orang yang tumbuh besar dengan label โcerdasโ akhirnya terjebak dalam paradoks psikologis: merasa sudah cukup dengan kecerdasan yang pernah membawanya berhasil.
Ia lantas menolak untuk terus-menerus belajar, bereksperimen, berubah, dan berupaya melampaui dirinya yang lama. Ia sibuk menjadi pengagum masa lalu. Ia bersembunyi di balik piagam-piagam lama. Ia terus membanggakan prestasi dan trophy di masa lalu.
Padahal, yang hadir dan muncul adalah mereka yang terus belajar dan mau beradaptasi dengan perubahan yang ada. Jadikan semua prestasi dan pencapaian di masa lalu sebagai anak tangga untuk meraih pencapaian yang lebih baik.
Karena sebagaimana petuah klasik, kalau hari ini sama dengan kemarin, kita termasuk merugi. Tak ada pilihan lain kecuali terus bertumbuh. Ya ilmunya, prestasinya, ibadahnya, akhlaknya, dan kualitas hubungannya dengan sesama.
#INISIATIF
โค1๐1
INFO PODIUM ๐
Selamat kepada kk @ilhamakbarw (Staf Kesekretariatan Dewan Pengawas) yang berhasil keluar sebagai Juara 1 Kategori Tunggal Putra dalam Kejuaraan Tenis Lapangan ILTL support dari MyBCA yang dilaksanakan di Homeground Signature Pluit pada 8-9 November
#INISIATIF
Selamat kepada kk @ilhamakbarw (Staf Kesekretariatan Dewan Pengawas) yang berhasil keluar sebagai Juara 1 Kategori Tunggal Putra dalam Kejuaraan Tenis Lapangan ILTL support dari MyBCA yang dilaksanakan di Homeground Signature Pluit pada 8-9 November
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kadang, alasan seseorang mengambil cuti bisa lebih dalam dari sekadar โbutuh istirahat.โ Yang penting bukan seberapa lama cutinya, tapi seberapa utuh hati kita setelahnya. ๐ฅฐ
Kalau kamu, biasanya ambil cuti buat apa? Yuk drop komentarmu di sini
https://www.instagram.com/p/DQ348ZmCfl_/?igsh=MWR1MjhrbGNjdHVxaA==
Kalau kamu, biasanya ambil cuti buat apa? Yuk drop komentarmu di sini
https://www.instagram.com/p/DQ348ZmCfl_/?igsh=MWR1MjhrbGNjdHVxaA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค3
Oleh : Iwan Kusworo
Selamat pagi, Sahabat!
Pagi ini skip olah raga dulu. Menyempatkan diri untuk melanjutkan baca buku โThanks for the Feedback.โ
Saya mulai baca buku ini gara-gara terinspirasi sharing di EQ Spotlight yang bertema โUnhelpful Feedbackโ yang diasuh oleh Three Coaches.
Seringkali kita di-encourage oleh organisasi untuk selalu rajin memberikan feedback kepada tim, rekan kerja, atau bahkan atasan.
Namun seringkali pula, ketidakmampuan seseorang dalam menerima feedback menjadi isu tersendiri yang akan sangat berpengaruh dalam efektifnya budaya memberikan feedback di organisasi kita.
Buku ini mengulas tentang hal ini. Kita akan diajak mengenali faktor-faktor apa saja yang mencegah kita โlegowoโ dalam menerima feedback, dan menyiasati agar kita bisa semaksimal mungkin mengambil intisari dan kebermanfaatan dari feedback orang lain.
Have a nice day, everyone!
#INISIATIF
Selamat pagi, Sahabat!
Pagi ini skip olah raga dulu. Menyempatkan diri untuk melanjutkan baca buku โThanks for the Feedback.โ
Saya mulai baca buku ini gara-gara terinspirasi sharing di EQ Spotlight yang bertema โUnhelpful Feedbackโ yang diasuh oleh Three Coaches.
Seringkali kita di-encourage oleh organisasi untuk selalu rajin memberikan feedback kepada tim, rekan kerja, atau bahkan atasan.
Namun seringkali pula, ketidakmampuan seseorang dalam menerima feedback menjadi isu tersendiri yang akan sangat berpengaruh dalam efektifnya budaya memberikan feedback di organisasi kita.
Buku ini mengulas tentang hal ini. Kita akan diajak mengenali faktor-faktor apa saja yang mencegah kita โlegowoโ dalam menerima feedback, dan menyiasati agar kita bisa semaksimal mungkin mengambil intisari dan kebermanfaatan dari feedback orang lain.
Feedback is a gift.๐ฅฐ
Have a nice day, everyone!
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ Cikagooo lagi LIVE di TikTok nihh
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91HIfv6fpT8
๐ Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn๐๐ป
https://www.tiktok.com/@cikagooo_news?_r=1&_t=ZS-91HIfv6fpT8
๐ Jangan sampai kelewatan yaa
Bantu join, tap2, like n share yaa bapak/ibu, mas/mba. Hatur nuhunn๐๐ป
๐1
Oleh: Dedi Priadi
Siapa yang bersikap ๐ฒ๐ข๐ฏฤ'๐ข๐ฉโmenerima dan merasa cukup dengan apa yang telah Tuhan berikan, tanpa ambisi duniawi berlebihanโialah Raja dunia sesungguhnya. Takhtanya tidak terletak pada singgasana emas, melainkan bersemayam di dalam hati yang telah menemukan kedamaian.
Di tengah perjalanan hidup, jiwa kita rentan menerima godaan halus berupa keinginan untuk selalu menaikkan standar (๐ณ๐ข๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ณ). Bisikan ini sering kita anggap sebagai "ambisi sehat," padahal ia perlahan bergeser menjadi keinginan berlebih yang mengikis ketenangan jiwa kita.
Keinginan yang tak terpuaskan ini menjelma menjadi standar-standar fisik yang terus-menerus meminta pemenuhan lebih. Kita mengharapkan sekolah anak berlabel Internasional, rumah tinggal di kawasan elit, berkendara dengan mobil termahal, hingga gawai terbaru di genggaman tangan.
Tanpa disadari, kita terjebak dalam putaran yang melelahkan. Kita terus berlari seolah di atas ๐ต๐ณ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ฎ๐ช๐ญ๐ญ, tetapi kita tidak pernah merasa benar-benar sampai. Target kita adalah ilusi yang selalu bergerak menjauh, semakin kita kejar semakin ia meninggi.
Pencapaian materi yang besar jarang memberi jeda, apalagi rasa cukup. Kemewahan yang kita rasakan hari ini akan terasa biasa esok hari. Sebab itu, kita merasa terdorong untuk memiliki ๐ค๐ช๐ณ๐ค๐ญ๐ฆ pertemanan yang berkelas, sesuai dengan standar kemewahan yang baru saja kita ciptakan.
Pada titik ini, cahaya syukur yang tadinya bersinar, spontan mulai meredup. Cahaya syukur menghilang begitu saja dari jiwa kita. Yang tertinggal hanyalah dorongan terus menerus untuk menjaga citra diri, agar sesuai dengan standar yang kian meninggi.
Kenali sisi pahit "Raising the Bar" ini. Di mata orang lain, kita mungkin terlihat sukses dan gemilang. Tapi, di lubuk hati, tersembunyi kekosongan dan rasa khawatir yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan dunia.
Dus, jika kita ingin menjadi Raja dunia, kita harus lebih dulu menjadi Raja atas keinginan dan hati kita sendiri. Jadilah ๐ฒ๐ข๐ฏฤ'๐ข๐ฉ. Hentikan kebiasaan kita menaikkan standar ekspektasi yang "panas" ini. Perlombaan ini tak berujung, hanya membuat pikiran kita kalut dan taman hati kita menjadi subur ditumbuhi rasa kufur.
#INISIATIF
Siapa yang bersikap ๐ฒ๐ข๐ฏฤ'๐ข๐ฉโmenerima dan merasa cukup dengan apa yang telah Tuhan berikan, tanpa ambisi duniawi berlebihanโialah Raja dunia sesungguhnya. Takhtanya tidak terletak pada singgasana emas, melainkan bersemayam di dalam hati yang telah menemukan kedamaian.
Di tengah perjalanan hidup, jiwa kita rentan menerima godaan halus berupa keinginan untuk selalu menaikkan standar (๐ณ๐ข๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ฃ๐ข๐ณ). Bisikan ini sering kita anggap sebagai "ambisi sehat," padahal ia perlahan bergeser menjadi keinginan berlebih yang mengikis ketenangan jiwa kita.
Keinginan yang tak terpuaskan ini menjelma menjadi standar-standar fisik yang terus-menerus meminta pemenuhan lebih. Kita mengharapkan sekolah anak berlabel Internasional, rumah tinggal di kawasan elit, berkendara dengan mobil termahal, hingga gawai terbaru di genggaman tangan.
Tanpa disadari, kita terjebak dalam putaran yang melelahkan. Kita terus berlari seolah di atas ๐ต๐ณ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ฎ๐ช๐ญ๐ญ, tetapi kita tidak pernah merasa benar-benar sampai. Target kita adalah ilusi yang selalu bergerak menjauh, semakin kita kejar semakin ia meninggi.
Pencapaian materi yang besar jarang memberi jeda, apalagi rasa cukup. Kemewahan yang kita rasakan hari ini akan terasa biasa esok hari. Sebab itu, kita merasa terdorong untuk memiliki ๐ค๐ช๐ณ๐ค๐ญ๐ฆ pertemanan yang berkelas, sesuai dengan standar kemewahan yang baru saja kita ciptakan.
Pada titik ini, cahaya syukur yang tadinya bersinar, spontan mulai meredup. Cahaya syukur menghilang begitu saja dari jiwa kita. Yang tertinggal hanyalah dorongan terus menerus untuk menjaga citra diri, agar sesuai dengan standar yang kian meninggi.
Kenali sisi pahit "Raising the Bar" ini. Di mata orang lain, kita mungkin terlihat sukses dan gemilang. Tapi, di lubuk hati, tersembunyi kekosongan dan rasa khawatir yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan dunia.
Dus, jika kita ingin menjadi Raja dunia, kita harus lebih dulu menjadi Raja atas keinginan dan hati kita sendiri. Jadilah ๐ฒ๐ข๐ฏฤ'๐ข๐ฉ. Hentikan kebiasaan kita menaikkan standar ekspektasi yang "panas" ini. Perlombaan ini tak berujung, hanya membuat pikiran kita kalut dan taman hati kita menjadi subur ditumbuhi rasa kufur.
#INISIATIF
๐2
Dari keringat, lahir semangat. Dari tawa, tumbuh kebersamaan ๐ฎ๐ฉ
Awalnya cuma ajakan kecil sepulang kerja. Sekarang, jadi komunitas besar yang nyatuin semangat sehat dan solidaritas๐ค
https://www.instagram.com/p/DQ89zdIicRz/?igsh=MXJjZ3k0eGprNHl3ZA==
Awalnya cuma ajakan kecil sepulang kerja. Sekarang, jadi komunitas besar yang nyatuin semangat sehat dan solidaritas
https://www.instagram.com/p/DQ89zdIicRz/?igsh=MXJjZ3k0eGprNHl3ZA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Tahanโฆ tahanโฆ ๐ฅบ
Sehubungan dengan Hari Ayah kemarin, Tuhan sedang menasihati kita lewat anak 5 tahun.
โBahagia atas kebahagiaan orang lain, dan bahagia dan bersyukur atas kondisi apapun yang ada pada diri dan keluarga yang ada, what a mature person! Bukan anak anak lagi sebutannya.โ
(Adlil Umarat)
#INISIATIF
Sehubungan dengan Hari Ayah kemarin, Tuhan sedang menasihati kita lewat anak 5 tahun.
โBahagia atas kebahagiaan orang lain, dan bahagia dan bersyukur atas kondisi apapun yang ada pada diri dan keluarga yang ada, what a mature person! Bukan anak anak lagi sebutannya.โ
(Adlil Umarat)
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Katanya Produktivitas itu nggak selalu soal niat, tapi kadang soal โteman kerjaโ juga ๐
Ada yang butuh kopi biar melek, musik biar fokus, cemilan biar happy, atau malah suasana tenang biar ide ngalir.
Kamu tim yang mana nih? Langsung vote
https://www.instagram.com/stories/lifeatbpjskesehatan/3764574371462687684?utm_source=ig_story_item_share&igsh=Mm5wOGMya3B0ZW9y
Ada yang butuh kopi biar melek, musik biar fokus, cemilan biar happy, atau malah suasana tenang biar ide ngalir.
Kamu tim yang mana nih? Langsung vote
https://www.instagram.com/stories/lifeatbpjskesehatan/3764574371462687684?utm_source=ig_story_item_share&igsh=Mm5wOGMya3B0ZW9y
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Oleh: Sucipto Hadi Saputro
Ustadz Firanda pernah menasihati bahwa salah satu adab dalam berkomunikasi lewat chat adalah langsung berbicara to the point bila memang ada kebutuhan. Jangan berbelit-belit atau berputar-putar, karena setiap orang memiliki kesibukan dan waktunya sendiri.
Namun, kadang saya temukan ada orang yang cara meminta tolongnya justru terkesan menjebak, entah sadar atau tidak, dia menggiring lawan bicara agar sulit menolak permintaannya. Pola chatnya kurang lebih seperti ini:
๐ณ : Assalamualaikum
๐ง : Waalaikumussalam, iya ada apa?
๐ณ : Lagi di mana sekarang?
๐ง : Di rumah, kenapa?
๐ณ : Sibuk nggak?
๐ง : Nggak terlalu, kenapa emangnya?
๐ณ : Bisa tolong belikan pulpen di toko Berkah?
Nah, di sini terlihat bagaimana lawan chat โdigiringโ untuk tidak bisa menolak. Karena sudah menjawab โtidak sibukโ, akhirnya ia merasa sungkan menolak permintaan tersebut. Padahal, mungkin sebenarnya ia sedang tidak dalam kondisi memungkinkan untuk membantu.
Dalam perihal adab, cara seperti ini jelas tidak terpuji. Adab yang baik adalah bersikap jelas, jujur, dan tidak memaksa dalam meminta bantuan. Jika niat kita meminta tolong, maka caranya pun harus baik, tidak menodong secara halus, tidak memanipulasi, dan tidak membuat orang lain merasa terpaksa.
Maka, adab yang benar ketika ingin meminta tolong lewat chat adalah:
1. Awali dengan salam dan basa-basi secukupnya.
2. Langsung jelaskan keperluannya dengan sopan dan terbuka.
3. Berikan kebebasan bagi orang lain untuk menolak tanpa merasa bersalah.
Contohnya:
"Assalamualaikum, gimana kabarnya? Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Maaf kalau mengganggu. Bila berkenan, boleh minta tolong belikan pulpen di toko Berkah? Kalau sedang tidak memungkinkan juga tidak apa-apa, terima kasih, mohon maaf sebelumnya."
Dengan cara seperti ini, komunikasi menjadi lebih jujur, santun, dan beradab. Orang lain pun merasa dihargai, bukan dijebak. Karena bukan hanya isi pesan yang dinilai, tapi juga adab dan niat di baliknya.
#INISIATIF #TGIF
Ustadz Firanda pernah menasihati bahwa salah satu adab dalam berkomunikasi lewat chat adalah langsung berbicara to the point bila memang ada kebutuhan. Jangan berbelit-belit atau berputar-putar, karena setiap orang memiliki kesibukan dan waktunya sendiri.
Namun, kadang saya temukan ada orang yang cara meminta tolongnya justru terkesan menjebak, entah sadar atau tidak, dia menggiring lawan bicara agar sulit menolak permintaannya. Pola chatnya kurang lebih seperti ini:
๐ณ : Assalamualaikum
๐ง : Waalaikumussalam, iya ada apa?
๐ณ : Lagi di mana sekarang?
๐ง : Di rumah, kenapa?
๐ณ : Sibuk nggak?
๐ง : Nggak terlalu, kenapa emangnya?
๐ณ : Bisa tolong belikan pulpen di toko Berkah?
Nah, di sini terlihat bagaimana lawan chat โdigiringโ untuk tidak bisa menolak. Karena sudah menjawab โtidak sibukโ, akhirnya ia merasa sungkan menolak permintaan tersebut. Padahal, mungkin sebenarnya ia sedang tidak dalam kondisi memungkinkan untuk membantu.
Dalam perihal adab, cara seperti ini jelas tidak terpuji. Adab yang baik adalah bersikap jelas, jujur, dan tidak memaksa dalam meminta bantuan. Jika niat kita meminta tolong, maka caranya pun harus baik, tidak menodong secara halus, tidak memanipulasi, dan tidak membuat orang lain merasa terpaksa.
Maka, adab yang benar ketika ingin meminta tolong lewat chat adalah:
1. Awali dengan salam dan basa-basi secukupnya.
2. Langsung jelaskan keperluannya dengan sopan dan terbuka.
3. Berikan kebebasan bagi orang lain untuk menolak tanpa merasa bersalah.
Contohnya:
"Assalamualaikum, gimana kabarnya? Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Maaf kalau mengganggu. Bila berkenan, boleh minta tolong belikan pulpen di toko Berkah? Kalau sedang tidak memungkinkan juga tidak apa-apa, terima kasih, mohon maaf sebelumnya."
Dengan cara seperti ini, komunikasi menjadi lebih jujur, santun, dan beradab. Orang lain pun merasa dihargai, bukan dijebak. Karena bukan hanya isi pesan yang dinilai, tapi juga adab dan niat di baliknya.
#INISIATIF #TGIF
โค4๐1
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Sebanyak 246 pemain dari 35 Kampus Top Nasional & BPJS Kesehatan siap adu strategi di Ultimate Chess Battle Vol. 2. Dengan semangat โJKN Hero in Actionโ, para pecatur muda ini akan buktikan kalau jadi sehat itu juga bentuk perjuangan.
Seiring kualitas layanan BPJS Kesehatan yang terus meningkat, kita tetap perlu langkah yang strategis dengan menjaga keaktifan kepesertaan JKN agar perlindungan tetap berjalan tanpa celah
Catat Waktu & Tglnya:
๐ Pukul 18.45 WIB โ selesai
๐ Lichess
https://lichess.org/swiss/gZu1Q15Y
Password: DownloadMobileJKN
Join di Grup Telegram BKC (Grup Terbuka Untuk Pegawai Tetap, PATT, TAD di Lingkup BPJS Kesehatan):
https://t.me/+XqeaySjUeWg4NzQ1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Perwakilan 20 Negara pelajari keberhasilan Program JKN. Apa saja yang mereka pelajari? ๐ค
Langsung cek di sini
https://youtu.be/vkRnCxlfxWk?si=jT5b2nygNpRiITSQ
Langsung cek di sini
https://youtu.be/vkRnCxlfxWk?si=jT5b2nygNpRiITSQ
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Perwakilan 20 Negara Pelajari Keberhasilan Program JKN
Perwakilan 20 negara yang tergabung dalam anggota joint learning network bersama perwakilan bank dunia berkunjung ke kantor pusat BPJS Kesehatan, Jumat sore. Kedatangan mereka untuk mempelajari keberhasilan Indonesia dalam mengelola program jaminan kesehatanโฆ