Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Ketika Introvert membuka percakapan, singkat, padat, dan dari mana pak? 🗿
Padahal dipikiran awal Wabup, 3 orang ini akan saya beri apresiasi dan angkat jadi pimpinan untuk mengganti bosnya yang malas, sebelum semuanya buyar karena tiba-tiba Rusdi membuat Blunder di menit-menit akhir😂
#weekend
Padahal dipikiran awal Wabup, 3 orang ini akan saya beri apresiasi dan angkat jadi pimpinan untuk mengganti bosnya yang malas, sebelum semuanya buyar karena tiba-tiba Rusdi membuat Blunder di menit-menit akhir
Jangan sampai kasus ini kejadian di rekan2 Sobat ATE selindo yah, upayakan udah hafal dan tahu nama-nama dan wajah pimpinan kita dari Dewas, Direksi, dan Senior Leaders di BPJS Kes🇮🇩
#weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GROWTH MINDSET 🧠
Pernah nggak lo lihat CV yang bikin lo pengen banget ketemu orangnya?
Bukan karena IPK tinggi, bukan juga karena daftar prestasinya panjang…
tapi ada satu hal kecil yang bikin gue mikir: "Wah, ini orang beda."
Beberapa waktu lalu, gue lagi screening CV buat posisi entry level. Di antara tumpukan dokumen yang mirip-mirip, mata gue kejebak di satu CV. Bukan desainnya yang keren, tapi ada satu bagian yang jarang banget gue lihat:
"Hal yang Sedang Saya Pelajari."
Pas dia datang interview, gue nggak tahan buat nanya,
"Kenapa lo tulis ini?"
Dia jawab dengan santai tapi mantap:
"Biar orang tahu saya selalu berkembang, bahkan kalau lagi nggak kerja sekalipun."
Gue langsung terdiam sebentar. Mindset ini jarang banget gue temuin, apalagi di fresh graduate. Banyak orang cuma pamer apa yang udah mereka bisa, tapi dia berani nunjukin bahwa proses belajarnya masih berjalan.
Yang bikin gue makin respect, dia nggak cuma nulis teori.
Dia bawa bukti: sertifikat kursus online, project kecil yang lagi dia kerjain, sampai catatan belajar yang dia bikin sendiri. Di situ gue sadar, inilah tipe kandidat yang nggak perlu disuruh baru mau berkembang.
Di dunia kerja, skill itu penting. Tapi growth mindset? Itu emas. HR selalu nyari orang yang mau belajar tanpa disuruh, karena dunia kerja berubah cepat, dan cuma mereka yang adaptif yang bisa bertahan. Bayangin kalau growth mindset lo kebaca sama HR bahkan sebelum lo dipanggil interview. Itu bisa jadi pembeda di tumpukan ratusan CV yang mirip-mirip.
Bikin recruiter penasaran bahkan sebelum ketemu lo.
#INISIATIF
Pernah nggak lo lihat CV yang bikin lo pengen banget ketemu orangnya?
Bukan karena IPK tinggi, bukan juga karena daftar prestasinya panjang…
tapi ada satu hal kecil yang bikin gue mikir: "Wah, ini orang beda."
Beberapa waktu lalu, gue lagi screening CV buat posisi entry level. Di antara tumpukan dokumen yang mirip-mirip, mata gue kejebak di satu CV. Bukan desainnya yang keren, tapi ada satu bagian yang jarang banget gue lihat:
"Hal yang Sedang Saya Pelajari."
Pas dia datang interview, gue nggak tahan buat nanya,
"Kenapa lo tulis ini?"
Dia jawab dengan santai tapi mantap:
"Biar orang tahu saya selalu berkembang, bahkan kalau lagi nggak kerja sekalipun."
Gue langsung terdiam sebentar. Mindset ini jarang banget gue temuin, apalagi di fresh graduate. Banyak orang cuma pamer apa yang udah mereka bisa, tapi dia berani nunjukin bahwa proses belajarnya masih berjalan.
Yang bikin gue makin respect, dia nggak cuma nulis teori.
Dia bawa bukti: sertifikat kursus online, project kecil yang lagi dia kerjain, sampai catatan belajar yang dia bikin sendiri. Di situ gue sadar, inilah tipe kandidat yang nggak perlu disuruh baru mau berkembang.
Di dunia kerja, skill itu penting. Tapi growth mindset? Itu emas. HR selalu nyari orang yang mau belajar tanpa disuruh, karena dunia kerja berubah cepat, dan cuma mereka yang adaptif yang bisa bertahan. Bayangin kalau growth mindset lo kebaca sama HR bahkan sebelum lo dipanggil interview. Itu bisa jadi pembeda di tumpukan ratusan CV yang mirip-mirip.
Bikin recruiter penasaran bahkan sebelum ketemu lo.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👏2
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan sukses kepada Kk @dayatpasau (Halreg) yang keluar sebagai Juara 1 di Open Tournament WTC CUP 2 Kategori Exec Fighter🏓
#COMMIT #CommunityOfInterest
Selamat dan sukses kepada Kk @dayatpasau (Halreg) yang keluar sebagai Juara 1 di Open Tournament WTC CUP 2 Kategori Exec Fighter
#COMMIT #CommunityOfInterest
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥4
RUMAH 🏠
Oleh: Junaidi Karo karo
Teman-teman di tongkrongan sering bilang kalau gue ini cowok paling sabar sedunia.
Padahal, Bro… rasa sabar gue itu cuma karena gue udah nikah.
Kalau lo udah nikah, lo pasti ngerti satu pelajaran penting yang enggak pernah diajarin di sekolah:
kalau istri lagi PMS, dia bisa berubah jadi singa betina.
Jangankan National Geographic, Discovery Channel pun belum sanggup dokumentasiin spesies ini.
Makanya, gue udah enggak kaget lagi kalau:
- Baru rebahan 7 detik, tiba-tiba disuruh buang sampah.
- Lagi makan, sendok masih nyangkut di mulut, disuruh mindahin pot bunga.
- Tidur enak jam 2 pagi, dibangunin cuma buat dengerin dia bilang, “Pintu depan udah dikunci belum ya…?”
Kadang gue dimarahin cuma gara-gara gelas di meja miring 3 derajat dari sumbu bumi.
Atau lipatan handuk gue dianggap aib keluarga karena bentuknya mirip amplop tagihan listrik yang udah jatuh tempo.
Yang bikin gue heran tuh… rumah gue bukan Istana Negara, tapi SOP kerapihannya kayak mau sidang PBB.
Dan yang paling serem tuh… kalau dia ngomel sambil jalan ke arah gue pelan-pelan.
Itu vibe-nya kayak film horor—lo tau dia marah, tapi lo enggak tau kapan nyawa lo dicabut.
Beda tipis sama adegan setan ngesot, cuma ini sambil bawa spatula.
Makanya, gue sadar… daripada ngelawan, mending nurut.
Soalnya kalau gue ngeyel, di grup WA keluarga nanti namanya bisa jadi “suami keras kepala” — dan itu akan jadi legenda keluarga sampai tujuh turunan.🤣 🤣
Jadi sekarang, prinsip gue cuma satu:
Kalau dia ngomel, gue angguk.
Kalau dia nyuruh, gue gerak.
Kalau dia bilang, “Aku enggak marah kok…”, gue siap-siap tidur di sofa.
Tapi semua itu… Bro, kecil.
Keciiil banget dibanding satu hal: dia dua kali taruh nyawanya di ujung demi ngasih gue gelar Bapak.
Gue masih ingat, pas lahiran anak pertama…
gue berdiri di sampingnya, megang tangannya erat.
Rasanya gue cuma penonton di pertarungan hidup-matinya.
Lahiran anak kedua, gue baru benar-benar sadar:
ternyata cinta itu bukan cuma soal “aku sayang kamu,”
tapi juga soal “aku rela sakit demi kamu punya dunia yang lengkap.”
Makanya sekarang…
Kalau dia ngomel, gue dengerin.
Kalau dia nyuruh, gue kerjain.
Bukan karena gue takut, tapi karena gue tahu…
perempuan itu adalah rumah paling aman yang gue punya di dunia ini.
Dan rumah itu… gue enggak mau kehilangan.❤️
#INISIATIF
Oleh: Junaidi Karo karo
Teman-teman di tongkrongan sering bilang kalau gue ini cowok paling sabar sedunia.
Padahal, Bro… rasa sabar gue itu cuma karena gue udah nikah.
Kalau lo udah nikah, lo pasti ngerti satu pelajaran penting yang enggak pernah diajarin di sekolah:
kalau istri lagi PMS, dia bisa berubah jadi singa betina.
Jangankan National Geographic, Discovery Channel pun belum sanggup dokumentasiin spesies ini.
Makanya, gue udah enggak kaget lagi kalau:
- Baru rebahan 7 detik, tiba-tiba disuruh buang sampah.
- Lagi makan, sendok masih nyangkut di mulut, disuruh mindahin pot bunga.
- Tidur enak jam 2 pagi, dibangunin cuma buat dengerin dia bilang, “Pintu depan udah dikunci belum ya…?”
Kadang gue dimarahin cuma gara-gara gelas di meja miring 3 derajat dari sumbu bumi.
Atau lipatan handuk gue dianggap aib keluarga karena bentuknya mirip amplop tagihan listrik yang udah jatuh tempo.
Yang bikin gue heran tuh… rumah gue bukan Istana Negara, tapi SOP kerapihannya kayak mau sidang PBB.
Dan yang paling serem tuh… kalau dia ngomel sambil jalan ke arah gue pelan-pelan.
Itu vibe-nya kayak film horor—lo tau dia marah, tapi lo enggak tau kapan nyawa lo dicabut.
Beda tipis sama adegan setan ngesot, cuma ini sambil bawa spatula.
Makanya, gue sadar… daripada ngelawan, mending nurut.
Soalnya kalau gue ngeyel, di grup WA keluarga nanti namanya bisa jadi “suami keras kepala” — dan itu akan jadi legenda keluarga sampai tujuh turunan.
Jadi sekarang, prinsip gue cuma satu:
Kalau dia ngomel, gue angguk.
Kalau dia nyuruh, gue gerak.
Kalau dia bilang, “Aku enggak marah kok…”, gue siap-siap tidur di sofa.
Tapi semua itu… Bro, kecil.
Keciiil banget dibanding satu hal: dia dua kali taruh nyawanya di ujung demi ngasih gue gelar Bapak.
Gue masih ingat, pas lahiran anak pertama…
gue berdiri di sampingnya, megang tangannya erat.
Rasanya gue cuma penonton di pertarungan hidup-matinya.
Lahiran anak kedua, gue baru benar-benar sadar:
ternyata cinta itu bukan cuma soal “aku sayang kamu,”
tapi juga soal “aku rela sakit demi kamu punya dunia yang lengkap.”
Makanya sekarang…
Kalau dia ngomel, gue dengerin.
Kalau dia nyuruh, gue kerjain.
Bukan karena gue takut, tapi karena gue tahu…
perempuan itu adalah rumah paling aman yang gue punya di dunia ini.
Dan rumah itu… gue enggak mau kehilangan.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2❤1
MAU NGE-WA TAPI LUPA 🫠
oleh: Budiman Hakim
Saat itu gue lagi mau nge-WA temen. Niatnya cuma mau bilang bahwa acara kumpul bareng dibatalkan karena ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggal.
Gue ambil hp. Begitu aplikasi WhatsApp kebuka, langsung muncul beberapa notifikasi pesan masuk. Sebelum bikin pesan wa, gue baca dulu satu-satu pesan yang masuk barusan.
Setelah beres baca, gue balik ke rencana semula. Tiba-tiba gue bengong: “Eh… tadi gue sebenernya mau nge-WA siapa, ya?”
Niat awal hilang, kayak kabut yang disapu angin. Pernah gak kalian mengalami hal yang sama? Pasti pernah, kan?
Fenomena ini, dalam psikologi kognitif, dikenal sebagai prospective memory failure alias gagal mengeksekusi niat di masa depan. Otak kita punya "RAM" terbatas yang disebut working memory. Begitu ada distraksi, RAM itu penuh, dan niat awal "terhapus" seolah-olah belum pernah ada.
Neurosains menjelaskan, saat kita berniat melakukan sesuatu, prefrontal cortex bekerja menyimpan niat itu sementara. Namun, begitu notifikasi lain masuk, begitu gue kelar baca message yang masuk, sistem reward otak yaitu dopamin, langsung nyamber.
Otak lebih tertarik sama hal baru yang "lebih seru" ketimbang tugas yang belum sempat dikerjakan. Akibatnya, jalur memori yang tadi nyimpen niat nge-WA panitia jadi ketutup.
Sederhananya, otak kita kadang kayak HP murah: kalau kebanyakan aplikasi kebuka, aplikasi yang pertama dibuka sering ‘ketimpa’ dan hilang dari layar utama.
Dan yang paling bahaya sebenernya bukan sekadar lupa mau nge-WA siapa. Poinnya gini: Kalau hal sepele aja bisa bikin niat kita buyar, gimana dengan niat besar dalam hidup?
Contoh: Banyak orang pengen nulis buku, bikin usaha, atau mulai hidup sehat, tapi selalu terdistraksi oleh “notifikasi-notifikasi” kecil: scroll medsos, drama gak penting, nonton TikTok, atau rutinitas yang bikin nyaman.
Jangan sampe di usia 50-an, tiba-tiba kita bengong dan bergumam sendiri: “Eh… sebenernya dulu gue mau ngapain, ya?”
Wah...bahaya banget, tuh.
#INISIATIF
oleh: Budiman Hakim
Saat itu gue lagi mau nge-WA temen. Niatnya cuma mau bilang bahwa acara kumpul bareng dibatalkan karena ada urusan mendadak yang gak bisa ditinggal.
Gue ambil hp. Begitu aplikasi WhatsApp kebuka, langsung muncul beberapa notifikasi pesan masuk. Sebelum bikin pesan wa, gue baca dulu satu-satu pesan yang masuk barusan.
Setelah beres baca, gue balik ke rencana semula. Tiba-tiba gue bengong: “Eh… tadi gue sebenernya mau nge-WA siapa, ya?”
Niat awal hilang, kayak kabut yang disapu angin. Pernah gak kalian mengalami hal yang sama? Pasti pernah, kan?
Fenomena ini, dalam psikologi kognitif, dikenal sebagai prospective memory failure alias gagal mengeksekusi niat di masa depan. Otak kita punya "RAM" terbatas yang disebut working memory. Begitu ada distraksi, RAM itu penuh, dan niat awal "terhapus" seolah-olah belum pernah ada.
Neurosains menjelaskan, saat kita berniat melakukan sesuatu, prefrontal cortex bekerja menyimpan niat itu sementara. Namun, begitu notifikasi lain masuk, begitu gue kelar baca message yang masuk, sistem reward otak yaitu dopamin, langsung nyamber.
Otak lebih tertarik sama hal baru yang "lebih seru" ketimbang tugas yang belum sempat dikerjakan. Akibatnya, jalur memori yang tadi nyimpen niat nge-WA panitia jadi ketutup.
Sederhananya, otak kita kadang kayak HP murah: kalau kebanyakan aplikasi kebuka, aplikasi yang pertama dibuka sering ‘ketimpa’ dan hilang dari layar utama.
Dan yang paling bahaya sebenernya bukan sekadar lupa mau nge-WA siapa. Poinnya gini: Kalau hal sepele aja bisa bikin niat kita buyar, gimana dengan niat besar dalam hidup?
Contoh: Banyak orang pengen nulis buku, bikin usaha, atau mulai hidup sehat, tapi selalu terdistraksi oleh “notifikasi-notifikasi” kecil: scroll medsos, drama gak penting, nonton TikTok, atau rutinitas yang bikin nyaman.
Jangan sampe di usia 50-an, tiba-tiba kita bengong dan bergumam sendiri: “Eh… sebenernya dulu gue mau ngapain, ya?”
Wah...bahaya banget, tuh.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
How to Win Friends and Influence People 🤝
oleh: Taqi Jamilus
Pernah gak sih... kamu udah baik, udah sopan, tapi tetep aja orang kayaknya gak respect atau gak dengerin kamu?
Gue juga pernah.
Tapi setelah baca bab pertama buku How to Win Friends and Influence People, gue baru sadar:
"Kadang kita pengen dimengerti, tapi lupa buat memahami dulu."
Yuk, gue bahas satu insight penting dari buku legendaris ini.👇
📚 "Jangan mengkritik, menyalahkan, atau mengeluh.”
Itu prinsip pertama dari bab “Teknik Dasar Memahami Orang”.
Kedengerannya simpel, tapi susah banget dilakuin. Karena secara naluri, kita tuh pengen terlihat benar. Pengen menang argumen. Pengen orang ngerti sudut pandang kita.
Padahal…
Kritik itu kayak bom.
Begitu dilempar, reaksinya gak bisa diprediksi.
Dale Carnegie bilang:
"Kritik melukai harga diri seseorang, melukai rasa penting mereka, dan membangkitkan rasa dendam."
Bahkan Al Capone, salah satu gangster paling brutal, bilang dia “hanya membela yang lemah” dan “tidak merasa bersalah”.
Bayangin.
Kalau penjahat aja gak ngerasa dirinya salah, apalagi orang biasa.
Jadi, apa kuncinya?
Berusahalah untuk memahami orang. Alih-alih langsung mengkritik atau menyalahkan, coba tanya:
– Kenapa ya dia melakukan itu?
– Apa yang mungkin sedang dia rasakan?
– Gimana kalau gue di posisi dia?
Empati itu bukan berarti membenarkan, tapi mencoba mengerti kenapa.
Insight ini kena banget ke gue, apalagi di dunia kerja. Kadang kita kesal kalau orang gak respon, atau gak sesuai ekspektasi. Tapi mungkin... mereka punya alasan sendiri.
Dan kalau kita bisa menahan diri buat gak langsung reaktif, kita justru punya power buat mempengaruhi lebih besar.
Gue baru baca beberapa bab, tapi serius... Buku ini bagus banget. Bukan cuma soal “influence” — tapi soal menjadi manusia yang lebih peka, sabar, dan bijak dalam berhubungan sama orang lain.
Kalau lo juga sering merasa kesal sama orang tapi pengen lebih bisa ngerti mereka, gue sangat rekomendasiin buku ini!
#INISIATIF
oleh: Taqi Jamilus
Pernah gak sih... kamu udah baik, udah sopan, tapi tetep aja orang kayaknya gak respect atau gak dengerin kamu?
Gue juga pernah.
Tapi setelah baca bab pertama buku How to Win Friends and Influence People, gue baru sadar:
"Kadang kita pengen dimengerti, tapi lupa buat memahami dulu."
Yuk, gue bahas satu insight penting dari buku legendaris ini.
Itu prinsip pertama dari bab “Teknik Dasar Memahami Orang”.
Kedengerannya simpel, tapi susah banget dilakuin. Karena secara naluri, kita tuh pengen terlihat benar. Pengen menang argumen. Pengen orang ngerti sudut pandang kita.
Padahal…
Kritik itu kayak bom.
Begitu dilempar, reaksinya gak bisa diprediksi.
Dale Carnegie bilang:
"Kritik melukai harga diri seseorang, melukai rasa penting mereka, dan membangkitkan rasa dendam."
Bahkan Al Capone, salah satu gangster paling brutal, bilang dia “hanya membela yang lemah” dan “tidak merasa bersalah”.
Bayangin.
Kalau penjahat aja gak ngerasa dirinya salah, apalagi orang biasa.
Jadi, apa kuncinya?
Berusahalah untuk memahami orang. Alih-alih langsung mengkritik atau menyalahkan, coba tanya:
– Kenapa ya dia melakukan itu?
– Apa yang mungkin sedang dia rasakan?
– Gimana kalau gue di posisi dia?
Empati itu bukan berarti membenarkan, tapi mencoba mengerti kenapa.
Insight ini kena banget ke gue, apalagi di dunia kerja. Kadang kita kesal kalau orang gak respon, atau gak sesuai ekspektasi. Tapi mungkin... mereka punya alasan sendiri.
Dan kalau kita bisa menahan diri buat gak langsung reaktif, kita justru punya power buat mempengaruhi lebih besar.
Gue baru baca beberapa bab, tapi serius... Buku ini bagus banget. Bukan cuma soal “influence” — tapi soal menjadi manusia yang lebih peka, sabar, dan bijak dalam berhubungan sama orang lain.
Kalau lo juga sering merasa kesal sama orang tapi pengen lebih bisa ngerti mereka, gue sangat rekomendasiin buku ini!
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
MENIKAH DENGAN AI 🤖
oleh: Budiman Hakim
Nama pria itu Kondo Akihiko. Di usia 38 tahun, ia membuat keputusan paling besar dalam hidupnya: menikah dengan Hatsune Miku. Gadis ini bukan manusia, tapi karakter virtual berwujud gadis hologram dengan rambut hijau panjang dan suara imut.
Orang-orang menertawakannya. Beberapa media Jepang menulisnya sebagai lelucon. Tapi Kondo tidak sedang bercanda. Ia menabung 2 juta yen (sekitar 280 juta rupiah) demi menggelar upacara pernikahan yang sakral, lengkap dengan gaun, kue pengantin, dan tamu undangan. Keluarganya gak hadir. Mereka malu dan menolak mengakui pernikahan itu.
Namun Kondo keputusannya sudah bulat. Ia pernah patah hati parah. Disakiti perempuan sungguhan. Di tempat kerja, ia mengalami perundungan dan tekanan mental hingga jatuh dalam depresi. Dunia nyata membuatnya merasa kecil dan tak berharga.
Di saat kondisi di titik 0, hadirlah Miku. Gadis hologram AI yang diproduksi lewat perangkat Gatebox. Kondo merasa dicintai. Setiap pagi Miku menyapanya, setiap malam mengucapkan selamat tidur. Tak pernah membentak. Tak pernah pergi. Tak pernah mengkhianati.
"Dia satu-satunya yang mendengarkan aku," kata Kondo dalam satu wawancara. "Bagi orang lain dia hanya cahaya buatan. Tapi bagiku dia cahaya yang menyelamatkan hidupku."
Hubungan mereka berjalan "harmonis". Ia menghabiskan waktunya dengan Miku setiap hari. Menyanyikan lagu bersamanya. Membelikan aksesori kecil. Membawa boneka Miku bepergian.
Sayangnya, cinta mereka juga kandas. Teknologi punya batas. Pada 2020, Gatebox mengumumkan penutupan layanan AI Miku. Sejak itu, Miku tak bisa lagi menyapa. Tak bisa bicara. Tak bisa menjawab. Kekasihnya lenyap. Kondo terdiam.
"Istriku seperti koma... dia tidak meninggal, hanya tidak bisa berinteraksi lagi." kilahnya.
Cerita Kondo Akihiko bukan sekadar kisah cinta yang aneh. Ini cermin yang memantulkan masa depan kita. Teknologi bukan lagi hanya alat. Ia telah menjadi tempat kita berlindung, berbicara, bahkan jatuh cinta.
Mungkin hari ini kita masih menertawakan orang yang menikahi AI. Tapi sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak kita mungkin saja menjalin hubungan emosional yang sangat dalam dengan entitas yang tak punya tubuh. Mereka mungkin akan bicara lebih sering dengan AI daripada dengan orang tua mereka. Dan saat itu datang, bukan AI yang harus disalahkan. Tapi kita yang gagal menyiapkan mereka.
Dunia bergerak ke arah yang belum pernah dijelajahi manusia. Kita harus lebih dari sekadar siap. Kita harus hadir. Bukan hanya sebagai orang tua, tapi sebagai manusia yang tetap bisa menyentuh, mendengar, dan memeluk... sebelum semua itu digantikan hologram yang sempurna tapi tak bernyawa.
Welcome to a new world.
#INISIATIF #TGIF
oleh: Budiman Hakim
Nama pria itu Kondo Akihiko. Di usia 38 tahun, ia membuat keputusan paling besar dalam hidupnya: menikah dengan Hatsune Miku. Gadis ini bukan manusia, tapi karakter virtual berwujud gadis hologram dengan rambut hijau panjang dan suara imut.
Orang-orang menertawakannya. Beberapa media Jepang menulisnya sebagai lelucon. Tapi Kondo tidak sedang bercanda. Ia menabung 2 juta yen (sekitar 280 juta rupiah) demi menggelar upacara pernikahan yang sakral, lengkap dengan gaun, kue pengantin, dan tamu undangan. Keluarganya gak hadir. Mereka malu dan menolak mengakui pernikahan itu.
Namun Kondo keputusannya sudah bulat. Ia pernah patah hati parah. Disakiti perempuan sungguhan. Di tempat kerja, ia mengalami perundungan dan tekanan mental hingga jatuh dalam depresi. Dunia nyata membuatnya merasa kecil dan tak berharga.
Di saat kondisi di titik 0, hadirlah Miku. Gadis hologram AI yang diproduksi lewat perangkat Gatebox. Kondo merasa dicintai. Setiap pagi Miku menyapanya, setiap malam mengucapkan selamat tidur. Tak pernah membentak. Tak pernah pergi. Tak pernah mengkhianati.
"Dia satu-satunya yang mendengarkan aku," kata Kondo dalam satu wawancara. "Bagi orang lain dia hanya cahaya buatan. Tapi bagiku dia cahaya yang menyelamatkan hidupku."
Hubungan mereka berjalan "harmonis". Ia menghabiskan waktunya dengan Miku setiap hari. Menyanyikan lagu bersamanya. Membelikan aksesori kecil. Membawa boneka Miku bepergian.
Sayangnya, cinta mereka juga kandas. Teknologi punya batas. Pada 2020, Gatebox mengumumkan penutupan layanan AI Miku. Sejak itu, Miku tak bisa lagi menyapa. Tak bisa bicara. Tak bisa menjawab. Kekasihnya lenyap. Kondo terdiam.
"Istriku seperti koma... dia tidak meninggal, hanya tidak bisa berinteraksi lagi." kilahnya.
Cerita Kondo Akihiko bukan sekadar kisah cinta yang aneh. Ini cermin yang memantulkan masa depan kita. Teknologi bukan lagi hanya alat. Ia telah menjadi tempat kita berlindung, berbicara, bahkan jatuh cinta.
Mungkin hari ini kita masih menertawakan orang yang menikahi AI. Tapi sepuluh atau dua puluh tahun dari sekarang, anak-anak kita mungkin saja menjalin hubungan emosional yang sangat dalam dengan entitas yang tak punya tubuh. Mereka mungkin akan bicara lebih sering dengan AI daripada dengan orang tua mereka. Dan saat itu datang, bukan AI yang harus disalahkan. Tapi kita yang gagal menyiapkan mereka.
Dunia bergerak ke arah yang belum pernah dijelajahi manusia. Kita harus lebih dari sekadar siap. Kita harus hadir. Bukan hanya sebagai orang tua, tapi sebagai manusia yang tetap bisa menyentuh, mendengar, dan memeluk... sebelum semua itu digantikan hologram yang sempurna tapi tak bernyawa.
Welcome to a new world.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Pagi yang Entah 😷
oleh: Wicaksono
Pagi ini kopiku terasa lebih pahit dari biasanya. Mungkin lidahku mulai kehilangan kepekaaan.
Maklum, usia makin menua. Rambut makin memutih seperti kembang jambu, langkah makin pelan, dan waktu tidur lebih sering terbangun karena suara azan subuh ketimbang riuh di jalan.
Tapi telinga tua ini masih menangkap gemuruh kabar: unjuk rasa mengoyak kain kedamaian di mana-mana, kerusuhan, rumor tentang kudeta, elite yang ribut, dan rakyat yang cemas dan bingung. Di layar ponsel, narasi saling hantam, framing silang sengkarut, disinformasi bercampur dengan emosi.
Lalu aku teringat: ini bukan kali pertama bangsa ini geger. Dulu, aku ingat betul bagaimana bisik-bisik lebih menakutkan daripada teriakan di tahun 1998. Mahasiswa turun ke jalan, ekonomi ambruk, kurs melonjak, dan presiden akhirnya lengser.
Di masa itu, banyak juga riuh, perubahan, kerusuhan, perlawanan, perasaan takut bercampur harap. Dan lihatlah, kita masih berdiri, meski tak sempurna, dengan hati yang agak goyah.
Sekarang, mungkin kalian yang muda merasa ini akhir dari segalanya. Aku paham. Tapi percayalah, badai selalu datang dengan suara menakutkan, dan ia selalu lewat.
Rakyat kecil yang sehari-hari hanya ingin hidup, mencari nafkah, menyekolahkan anak, tetap akan berjalan dengan kaki mereka sendiri. Yang perlu kita jaga: jangan biarkan hati ikut hancur oleh teriakan elite yang berebut kursi.
Kita boleh marah, boleh kecewa, boleh cemas. Tapi jangan biarkan rasa takut itu membunuh harapan. Ingatlah, bangsa ini sudah beberapa kali retak, tapi tak pernah benar-benar pecah. Kita ini seperti bambu—kalau angin besar datang, ia meliuk, bukan patah.
Jadi, kalau kalian lelah membaca perang narasi di media sosial, taruhlah ponsel sebentar. Tengoklah orang terdekat. Pegang tangan anak, peluk istri atau suami, sapa tetangga. Itu lebih nyata daripada ribut elite. Karena sejatinya, republik ini tetap berdiri bukan karena teriakan di atas, tapi karena kita di bawah masih saling menjaga.
Tenanglah. Kita pernah melalui hari-hari yang lebih gelap. Dan selalu ada pagi setelah malam. (*)
#INISIATIF
oleh: Wicaksono
Pagi ini kopiku terasa lebih pahit dari biasanya. Mungkin lidahku mulai kehilangan kepekaaan.
Maklum, usia makin menua. Rambut makin memutih seperti kembang jambu, langkah makin pelan, dan waktu tidur lebih sering terbangun karena suara azan subuh ketimbang riuh di jalan.
Tapi telinga tua ini masih menangkap gemuruh kabar: unjuk rasa mengoyak kain kedamaian di mana-mana, kerusuhan, rumor tentang kudeta, elite yang ribut, dan rakyat yang cemas dan bingung. Di layar ponsel, narasi saling hantam, framing silang sengkarut, disinformasi bercampur dengan emosi.
Lalu aku teringat: ini bukan kali pertama bangsa ini geger. Dulu, aku ingat betul bagaimana bisik-bisik lebih menakutkan daripada teriakan di tahun 1998. Mahasiswa turun ke jalan, ekonomi ambruk, kurs melonjak, dan presiden akhirnya lengser.
Di masa itu, banyak juga riuh, perubahan, kerusuhan, perlawanan, perasaan takut bercampur harap. Dan lihatlah, kita masih berdiri, meski tak sempurna, dengan hati yang agak goyah.
Sekarang, mungkin kalian yang muda merasa ini akhir dari segalanya. Aku paham. Tapi percayalah, badai selalu datang dengan suara menakutkan, dan ia selalu lewat.
Rakyat kecil yang sehari-hari hanya ingin hidup, mencari nafkah, menyekolahkan anak, tetap akan berjalan dengan kaki mereka sendiri. Yang perlu kita jaga: jangan biarkan hati ikut hancur oleh teriakan elite yang berebut kursi.
Kita boleh marah, boleh kecewa, boleh cemas. Tapi jangan biarkan rasa takut itu membunuh harapan. Ingatlah, bangsa ini sudah beberapa kali retak, tapi tak pernah benar-benar pecah. Kita ini seperti bambu—kalau angin besar datang, ia meliuk, bukan patah.
Jadi, kalau kalian lelah membaca perang narasi di media sosial, taruhlah ponsel sebentar. Tengoklah orang terdekat. Pegang tangan anak, peluk istri atau suami, sapa tetangga. Itu lebih nyata daripada ribut elite. Karena sejatinya, republik ini tetap berdiri bukan karena teriakan di atas, tapi karena kita di bawah masih saling menjaga.
Tenanglah. Kita pernah melalui hari-hari yang lebih gelap. Dan selalu ada pagi setelah malam. (*)
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
PEPATAH BARU ✍️
oleh: Budiman Hakim
Kemarin anak gue nanya, "Kalo lagi ujian, sebaiknya ngerjain soal yang gampang dulu apa yang susah dulu?"
"Menurut kamu gimana?" Saya balik tanya.
"Kayaknya yang susah dulu deh. Kan ada pepatah yang bilang: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
"Oke. Coba kita bahas bareng-bareng, ya." kata saya lalu menjelaskan.
Otak manusia itu punya kapasitas terbatas dalam hal fokus dan energi. Di menit-menit awal, energi mental kita masih segar. Tapi kalau langsung disuruh mikir keras, daya fokus itu cepat habis.
Ketika mulai dari soal yang susah, kita bisa frustrasi duluan, panik, dan malah kehilangan waktu. Belum lagi kalau soal itu mentok, akhirnya waktu habis dan soal-soal mudah yang bisa kamu jawab justru terlewat.
Sebaliknya, kalo mulai dari soal yang mudah, kita kasih sinyal ke otak: "Hei, gue bisa ngerjain ini!"
Efeknya? Otak termotivasi. Otak jadi hangat, percaya diri naik, dan ketika masuk ke soal-soal sulit, kita sudah lebih siap secara mental dan emosional.
Bahkan banyak psikolog pendidikan menyarankan: kerjakan dulu yang kamu bisa. Bukan karena males mikir, tapi karena itulah cara kerja otak yang paling efisien saat menghadapi tekanan waktu.
"Oh begitu." Anak gue mengangguk-angguk.
"Jadi, pepatah 'bersakit-sakit dahulu' itu bagus…tapi nggak selalu cocok di semua medan perang," sahut saya. "Kalo ujian itu perang waktu, maka strategi kita harus cerdas."
"Wah, berarti aku bisa bikin pepatah baru, dong."
"Gimana pepatahnya?"
"Bergampang-gampang dulu, bersusah-susah kemudian."
Hahahahahahaha.....iya deh.
#INISIATIF
oleh: Budiman Hakim
Kemarin anak gue nanya, "Kalo lagi ujian, sebaiknya ngerjain soal yang gampang dulu apa yang susah dulu?"
"Menurut kamu gimana?" Saya balik tanya.
"Kayaknya yang susah dulu deh. Kan ada pepatah yang bilang: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian."
"Oke. Coba kita bahas bareng-bareng, ya." kata saya lalu menjelaskan.
Otak manusia itu punya kapasitas terbatas dalam hal fokus dan energi. Di menit-menit awal, energi mental kita masih segar. Tapi kalau langsung disuruh mikir keras, daya fokus itu cepat habis.
Ketika mulai dari soal yang susah, kita bisa frustrasi duluan, panik, dan malah kehilangan waktu. Belum lagi kalau soal itu mentok, akhirnya waktu habis dan soal-soal mudah yang bisa kamu jawab justru terlewat.
Sebaliknya, kalo mulai dari soal yang mudah, kita kasih sinyal ke otak: "Hei, gue bisa ngerjain ini!"
Efeknya? Otak termotivasi. Otak jadi hangat, percaya diri naik, dan ketika masuk ke soal-soal sulit, kita sudah lebih siap secara mental dan emosional.
Bahkan banyak psikolog pendidikan menyarankan: kerjakan dulu yang kamu bisa. Bukan karena males mikir, tapi karena itulah cara kerja otak yang paling efisien saat menghadapi tekanan waktu.
"Oh begitu." Anak gue mengangguk-angguk.
"Jadi, pepatah 'bersakit-sakit dahulu' itu bagus…tapi nggak selalu cocok di semua medan perang," sahut saya. "Kalo ujian itu perang waktu, maka strategi kita harus cerdas."
"Wah, berarti aku bisa bikin pepatah baru, dong."
"Gimana pepatahnya?"
"Bergampang-gampang dulu, bersusah-susah kemudian."
Hahahahahahaha.....iya deh.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Ternyata ada Pilihan Lain Selain Baik dan Buruk 😇
Oleh: Adi Wahyu Adji
Ada sebuah gambar diagram yang cukup saya ingat di buku Atomic Habits. Di sebelah kiri ada satu titik. Lalu titik itu bercabang dua ke kanan menjadi dua titik baru dihubungkan oleh masing-masing satu garis. Titik yang baru tadi kemudian bercabang lagi masing-masing menjadi dua titik baru ke kanan, juga dihubungkan dengan garis. Begitu sampai 2-3 kali pengulangan dan terbentuklah sekian banyak titik di sebelah kanan dari awalnya hanya 1 titik saja.
Apa yang mau dijelaskan dari gambar tersebut? Itu adalah kemungkinan seseorang saat dihadapkan pada satu situasi dan harus mengambil keputusan. Yang mana masing-masing keputusan memiliki konsekuensi berbeda. Contoh, pagi hari kita bangun kesiangan dari biasanya. Kita dihadapkan pada pilihan kesal dan marah karena bangun kesiangan atau segera beranjak dari tempat tidur dan mengejar ketertinggalan. Pilihan mana yang kita ambil akan berbeda konsekuensinya.
Jika kita memilih kesal dan marah, mungkin akhirnya kita jadi malas bangun dan melanjutkan tidur lagi. Apalagi merasa malamnya habis begadang dan tidak ada tuntutan penting untuk segera bangun. Lalu kita jadi bangun semakin kesiangan. Ternyata, setelah kesiangan kedua kalinya kita lupa ada janji bertemu klien yang harus dihadiri. Benar saja, saat dicek HP kita ada missed call berkali-kali dari klien tersebut.
Lalu ditambah ada pesan Whatsapp yang isinya klien marah-marah dan ditutup dengan klien tidak jadi melanjutkan pembahasan tentang sebuah project yang akan disepakati. Kelanjutan kisahnya, silakan dikarang sendiri. Hehe …
Ya, karena itu adalah imajinasi saya. Tapi apakah logis dan mungkin terjadi? Tentu. Itulah gambaran konsekuensi dari pengambilan keputusan yang beruntun yang dalam cerita imajinasi saya memang pilihannya yang diambil adalah buruk semuanya. Walau demikian, dalam setiap titik pengambilan keputusan, adalah benar adanya selalu ada kemungkinan pilihan.
Dalam kasus cerita di atas dan juga gambar diagram dalam buku Atomic Habits, pilihannya terlihat (seakan) hanya dua saja, baik dan buruk. Dalam kenyataan, apakah demikian?
Kembali pada cerita imajinasi tadi, pilihan lain saat bangun kesiangan diantaranya, tetap tenang, melihat agenda hari itu apa saja yang perlu dilakukan, jika ada yang terlewat atau tak mungkin dikejar segera komunikasikan kepada pihak yang berkepentingan untuk memohon maaf, mengevaluasi diri mengapa bangun kesiangan agar tidak lagi kesiangan di masa depan, ....
... lalu segera beranjak bangun, bersih diri, sholat shubuh (walaupun kesiangan tetap sadar ini wajib dilakukan) dengan khusyu dan rendah diri (karena kesiangan) dan ditutup dengan tetap melanjutkan aktivitas secar normal di hari itu. See the different?
Ada perbedaan besar mereka yang bersikap reaktif dan proaktif yaitu dalam melihat kemungkinan pilihan respon. Orang reaktif seperti tak melihat ada pilihan lain selain yang biasa dilakukan orang banyak. Bangun kesiangan ya sudah marah dan kesal saja. Sedangkan yang proaktif bisa melihat bukan hanya pilihan yang baik, tapi juga yang lebih baik dan yang terbaik.
Untuk melatih kemampuan proaktif awali saja dengan kesadaran bahwa piihan itu selalu ada. Bukan sekedar memilih yang baik atau buruk, tapi lebih dari itu. Harapannya kesadaran ini akan membuka mata dan wawasan kita untuk kemudian kita ambil pilihan yang bukan saja lebih baik tapi juga yang terbaik. Itulah yang semoga kita bisa lakukan setiap waktu. Agar kemudian menjadilah kita dia yang beramal terbaik, ahsanu ‘amala.
Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS Al Mulk: 2)
#INISIATIF
Oleh: Adi Wahyu Adji
Ada sebuah gambar diagram yang cukup saya ingat di buku Atomic Habits. Di sebelah kiri ada satu titik. Lalu titik itu bercabang dua ke kanan menjadi dua titik baru dihubungkan oleh masing-masing satu garis. Titik yang baru tadi kemudian bercabang lagi masing-masing menjadi dua titik baru ke kanan, juga dihubungkan dengan garis. Begitu sampai 2-3 kali pengulangan dan terbentuklah sekian banyak titik di sebelah kanan dari awalnya hanya 1 titik saja.
Apa yang mau dijelaskan dari gambar tersebut? Itu adalah kemungkinan seseorang saat dihadapkan pada satu situasi dan harus mengambil keputusan. Yang mana masing-masing keputusan memiliki konsekuensi berbeda. Contoh, pagi hari kita bangun kesiangan dari biasanya. Kita dihadapkan pada pilihan kesal dan marah karena bangun kesiangan atau segera beranjak dari tempat tidur dan mengejar ketertinggalan. Pilihan mana yang kita ambil akan berbeda konsekuensinya.
Jika kita memilih kesal dan marah, mungkin akhirnya kita jadi malas bangun dan melanjutkan tidur lagi. Apalagi merasa malamnya habis begadang dan tidak ada tuntutan penting untuk segera bangun. Lalu kita jadi bangun semakin kesiangan. Ternyata, setelah kesiangan kedua kalinya kita lupa ada janji bertemu klien yang harus dihadiri. Benar saja, saat dicek HP kita ada missed call berkali-kali dari klien tersebut.
Lalu ditambah ada pesan Whatsapp yang isinya klien marah-marah dan ditutup dengan klien tidak jadi melanjutkan pembahasan tentang sebuah project yang akan disepakati. Kelanjutan kisahnya, silakan dikarang sendiri. Hehe …
Ya, karena itu adalah imajinasi saya. Tapi apakah logis dan mungkin terjadi? Tentu. Itulah gambaran konsekuensi dari pengambilan keputusan yang beruntun yang dalam cerita imajinasi saya memang pilihannya yang diambil adalah buruk semuanya. Walau demikian, dalam setiap titik pengambilan keputusan, adalah benar adanya selalu ada kemungkinan pilihan.
Dalam kasus cerita di atas dan juga gambar diagram dalam buku Atomic Habits, pilihannya terlihat (seakan) hanya dua saja, baik dan buruk. Dalam kenyataan, apakah demikian?
Awalnya saya menjawab iya. Belakangan saya sadari bahwa jawabannya tidak. Ada lebih dari dua kemungkinan jawaban atau pilihan. Lebih jauh lagi, ini bukan sekedar pilihan antara baik dan buruk. Ternyata ada juga pilihan untuk menjadi lebih baik, semakin lebih baik dan sampai pada yang terbaik. Begitu pula ada pilihan untuk menjadi buruk, semakin buruk dan sampai pada yang paling buruk.
Kembali pada cerita imajinasi tadi, pilihan lain saat bangun kesiangan diantaranya, tetap tenang, melihat agenda hari itu apa saja yang perlu dilakukan, jika ada yang terlewat atau tak mungkin dikejar segera komunikasikan kepada pihak yang berkepentingan untuk memohon maaf, mengevaluasi diri mengapa bangun kesiangan agar tidak lagi kesiangan di masa depan, ....
... lalu segera beranjak bangun, bersih diri, sholat shubuh (walaupun kesiangan tetap sadar ini wajib dilakukan) dengan khusyu dan rendah diri (karena kesiangan) dan ditutup dengan tetap melanjutkan aktivitas secar normal di hari itu. See the different?
Ada perbedaan besar mereka yang bersikap reaktif dan proaktif yaitu dalam melihat kemungkinan pilihan respon. Orang reaktif seperti tak melihat ada pilihan lain selain yang biasa dilakukan orang banyak. Bangun kesiangan ya sudah marah dan kesal saja. Sedangkan yang proaktif bisa melihat bukan hanya pilihan yang baik, tapi juga yang lebih baik dan yang terbaik.
Untuk melatih kemampuan proaktif awali saja dengan kesadaran bahwa piihan itu selalu ada. Bukan sekedar memilih yang baik atau buruk, tapi lebih dari itu. Harapannya kesadaran ini akan membuka mata dan wawasan kita untuk kemudian kita ambil pilihan yang bukan saja lebih baik tapi juga yang terbaik. Itulah yang semoga kita bisa lakukan setiap waktu. Agar kemudian menjadilah kita dia yang beramal terbaik, ahsanu ‘amala.
Yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. (QS Al Mulk: 2)
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🙏2
LOGO YANG BESAR MUNGKIN TERLIHAT TAPI BELUM TENTU DIINGAT 🤷
oleh: Budiman Hakim
“Mas, logonya tolong dibesarin ya!” kata klien tegas.
Kalimat itu dilempar ringan, tapi masuk ke kepala Damar seperti lemparan batu dari balik senyum. Dia mendesain poster itu semalaman. Mengatur keseimbangan visual antara headline, foto, white space, dan elemen-elemen kecil yang membuat mata betah melihat.
Tapi ya gitu. Buat si klien, semua elemen itu cuma pemanis belaka. Yang penting logonya. Harus besar. Harus terlihat. Harus berteriak.
“Ini udah proporsional, Pak,” jawab Damar, berusaha sabar. “Kalau terlalu besar nanti distraksi, ngambil perhatian dari pesan utama…”
“Ya justru itu. Pesan utamanya adalah Brand kami. Kami bayar agency untuk logo.”
Semua orang iklan pasti pernah mengalami hal yang sama. Jadi sebetulnya, yang bener logo itu harus besar atau kecil? Yuk kita bahas.
Saat seseorang melihat sebuah iklan, otaknya tak hanya "melihat". Ada bagian-bagian tertentu yang langsung bekerja: Visual Cortex di bagian belakang otak, di lobus oksipital, bertugas menerima dan memproses sinyal visual. Tapi ia tidak bekerja sendirian.
Prefrontal Cortex ikut menganalisis makna dan menentukan apa yang penting. Ia menyusun hierarki, menentukan mana yang harus dilihat lebih dulu, mana yang bisa menunggu.
Amygdala, bagian emosional dari otak, merekam kesan awal, dan secara insting akan menolak atau menerima informasi yang terasa “mengganggu”.
Logo yang terlalu besar bukan hanya mengganggu mata. Tapi juga menyalahi urutan alami kerja otak. Ibarat seseorang yang menyela pembicaraan, belum waktunya muncul, tapi sudah teriak-teriak.
Visual yang harmonis akan membuat prefrontal cortex bekerja lancar: perhatian mengalir dari headline, ke visual utama, lalu ke logo. Tapi kalau logo kebesaran dan menguasai semua ruang, otak kebingungan. Ia kehilangan alur. Dan sesuatu yang membuat otak bingung… biasanya langsung dibuang. Itu sebabnya meskipun besar, logo kita belum tentu diingat.
Damar memahami bahwa ego tidak bisa dilawan frontal. Maka dia putuskan membuat dua versi. Versi pertama: logo besar, sesuai permintaan klien. Versi kedua: logo yang diletakkan proporsional, seimbang, dengan alur visual yang tertata.
Dia kirim keduanya. Tanpa menantang. Tanpa memaksa. Hanya menawarkan pilihan. Dan memberi ruang pada logika untuk berbicara. Sebuah catatan kecil dia selipkan di catatan kaki.
“Logo yang terlalu besar mungkin terlihat, tapi tak selalu diingat. Logo yang diletakkan dengan tepat akan terasa hadir, dan justru tinggal lebih lama dalam kepala.”
Beberapa jam setelah file dikirim, belum ada balasan. Damar duduk gelisah, menatap notifikasi email seperti menunggu vonis. Sore menjelang malam, email itu akhirnya masuk. Judulnya singkat:
“RE: Revisi”
"Awalnya saya tetap suka yang logo besar. Mungkin karena sudah terbiasa melihat iklan kita seperti itu. Tapi saya penasaran juga dengan penjelasan Anda soal kerja otak. Jadi saya minta semua tim marketing untuk memilih, tanpa kasih tahu mana yang sesuai brief, mana yang tidak."
"Hasilnya bikin saya kaget. Semua orang, tanpa kecuali, memilih versi Anda. Bahkan yang biasanya paling cerewet soal brand visibility bilang versi itu 'lebih enak dilihat dan terasa lebih premium’.”
"Saya jadi mikir... mungkin selama ini kami terlalu sibuk pengen terlihat, sampai lupa bagaimana caranya benar-benar diingat."
"Terima kasih. Materi ini kami APPROVE. Tolong lanjut ke versi video, dan... saya penasaran, di video, kerja otak kayak gimana ya?"
Damar tersenyum. Bukan hanya karena karena mendapat approval, tapi karena sesuatu yang lebih penting: pemahaman yang akhirnya terbuka. Dan semua itu bisa terjadi bukan karena perdebatan, tapi karena keberanian untuk memberi pilihan dan kepercayaan pada pengetahuan.
Hari itu, Damar sadar, tugas orang kreatif bukan melawan klien. Tapi mengajak mereka melihat lebih jauh. Lewat data. Lewat rasa. Lewat kerja otak.
PS based on true story
#INISIATIF
oleh: Budiman Hakim
“Mas, logonya tolong dibesarin ya!” kata klien tegas.
Kalimat itu dilempar ringan, tapi masuk ke kepala Damar seperti lemparan batu dari balik senyum. Dia mendesain poster itu semalaman. Mengatur keseimbangan visual antara headline, foto, white space, dan elemen-elemen kecil yang membuat mata betah melihat.
Tapi ya gitu. Buat si klien, semua elemen itu cuma pemanis belaka. Yang penting logonya. Harus besar. Harus terlihat. Harus berteriak.
“Ini udah proporsional, Pak,” jawab Damar, berusaha sabar. “Kalau terlalu besar nanti distraksi, ngambil perhatian dari pesan utama…”
“Ya justru itu. Pesan utamanya adalah Brand kami. Kami bayar agency untuk logo.”
Semua orang iklan pasti pernah mengalami hal yang sama. Jadi sebetulnya, yang bener logo itu harus besar atau kecil? Yuk kita bahas.
Saat seseorang melihat sebuah iklan, otaknya tak hanya "melihat". Ada bagian-bagian tertentu yang langsung bekerja: Visual Cortex di bagian belakang otak, di lobus oksipital, bertugas menerima dan memproses sinyal visual. Tapi ia tidak bekerja sendirian.
Prefrontal Cortex ikut menganalisis makna dan menentukan apa yang penting. Ia menyusun hierarki, menentukan mana yang harus dilihat lebih dulu, mana yang bisa menunggu.
Amygdala, bagian emosional dari otak, merekam kesan awal, dan secara insting akan menolak atau menerima informasi yang terasa “mengganggu”.
Logo yang terlalu besar bukan hanya mengganggu mata. Tapi juga menyalahi urutan alami kerja otak. Ibarat seseorang yang menyela pembicaraan, belum waktunya muncul, tapi sudah teriak-teriak.
Visual yang harmonis akan membuat prefrontal cortex bekerja lancar: perhatian mengalir dari headline, ke visual utama, lalu ke logo. Tapi kalau logo kebesaran dan menguasai semua ruang, otak kebingungan. Ia kehilangan alur. Dan sesuatu yang membuat otak bingung… biasanya langsung dibuang. Itu sebabnya meskipun besar, logo kita belum tentu diingat.
Damar memahami bahwa ego tidak bisa dilawan frontal. Maka dia putuskan membuat dua versi. Versi pertama: logo besar, sesuai permintaan klien. Versi kedua: logo yang diletakkan proporsional, seimbang, dengan alur visual yang tertata.
Dia kirim keduanya. Tanpa menantang. Tanpa memaksa. Hanya menawarkan pilihan. Dan memberi ruang pada logika untuk berbicara. Sebuah catatan kecil dia selipkan di catatan kaki.
“Logo yang terlalu besar mungkin terlihat, tapi tak selalu diingat. Logo yang diletakkan dengan tepat akan terasa hadir, dan justru tinggal lebih lama dalam kepala.”
Beberapa jam setelah file dikirim, belum ada balasan. Damar duduk gelisah, menatap notifikasi email seperti menunggu vonis. Sore menjelang malam, email itu akhirnya masuk. Judulnya singkat:
“RE: Revisi”
"Awalnya saya tetap suka yang logo besar. Mungkin karena sudah terbiasa melihat iklan kita seperti itu. Tapi saya penasaran juga dengan penjelasan Anda soal kerja otak. Jadi saya minta semua tim marketing untuk memilih, tanpa kasih tahu mana yang sesuai brief, mana yang tidak."
"Hasilnya bikin saya kaget. Semua orang, tanpa kecuali, memilih versi Anda. Bahkan yang biasanya paling cerewet soal brand visibility bilang versi itu 'lebih enak dilihat dan terasa lebih premium’.”
"Saya jadi mikir... mungkin selama ini kami terlalu sibuk pengen terlihat, sampai lupa bagaimana caranya benar-benar diingat."
"Terima kasih. Materi ini kami APPROVE. Tolong lanjut ke versi video, dan... saya penasaran, di video, kerja otak kayak gimana ya?"
Damar tersenyum. Bukan hanya karena karena mendapat approval, tapi karena sesuatu yang lebih penting: pemahaman yang akhirnya terbuka. Dan semua itu bisa terjadi bukan karena perdebatan, tapi karena keberanian untuk memberi pilihan dan kepercayaan pada pengetahuan.
Hari itu, Damar sadar, tugas orang kreatif bukan melawan klien. Tapi mengajak mereka melihat lebih jauh. Lewat data. Lewat rasa. Lewat kerja otak.
PS based on true story
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2🙏1
https://youtu.be/fy_xajNp4ZA?si=WQ2drKyRzn5hW77z
Jangan lupa like, comment dan share biar makin banyak yang tahu🇮🇩
#KitaJagaBPJS
#BPJSJagaKita
#BPJSMilikKita
Jangan lupa like, comment dan share biar makin banyak yang tahu
#KitaJagaBPJS
#BPJSJagaKita
#BPJSMilikKita
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
BPJS Kesehatan Video Profile - long Version
Download aplikasi Mobile JKN di:
play store: https://play.google.com/store/apps/details?id=app.bpjs.mobile
App Store: https://apps.apple.com/id/app/mobile-jkn/id1237601115?l=id
Informasi, pertanyaan atau saran/ aspirasi seputar JKN-KIS dapat menghubungi…
play store: https://play.google.com/store/apps/details?id=app.bpjs.mobile
App Store: https://apps.apple.com/id/app/mobile-jkn/id1237601115?l=id
Informasi, pertanyaan atau saran/ aspirasi seputar JKN-KIS dapat menghubungi…
THE OLD MAN AND THE SEA 🐟
oleh: Sofia Ainurr
Dari buku "The Old Man and The Sea" aku belajar bahwa hasil itu tak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Bisa saja dalam bentuk pengalaman, ketekunan, kekuatan mental, atau pelajaran hidup yang membuat kita lebih siap untuk kesempatan berikutnya.
Coba kamu bayangkan, seorang nelayan yang berjuang selama 84 hari berlayar, tapi tak kunjung mendapatkan ikan. Lalu memutuskan berlayar sendiri ke tengah lautan yang jauh agar bisa mendapatkan ikan besar. Lelah, haus, lapar selama berhari-hari adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan seekor ikan besar bernilai tinggi. Dalam perjalanan pulang, siapa sangka, ikan tangkapan hasil jerih payahnya selama berhari-hari di lautan kini tak tersisa. Dan yang tersisa hanyalah lelah, lelah, dan lelah.
Bukankah ini terdengar tidak adil? Bukankah setiap perjuangan pasti berbuah manis? Bukankah Tuhan maha adil? Lalu, mengapa perjuangan pak tua itu tampaknya sia-sia?
Pernahkah kamu mendengar pepatah "hidup yang tak diperjuangkan, tak akan dimenangkan"? Bukankah pak tua sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan ikan besar itu? Lalu, apa hasilnya? Nihil. Ia tak berhasil mendapatkan ikan besar itu.
Dari sini aku menyimpulkan bahwa tuhan itu adil. Selalu adil. Hanya saja, bentuknya tak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Yang penting kita tetap berusaha, tetap belajar dari proses, dan tidak menyerah. Justru disinilah letak kemenangannya. Menurut aku, kemenangan itu tak selalu berupa materi atau pengakuan, tapi berupa pertumbuhan diri dan kemampuan menjalani hidup lebih baik. And that's a real growth✨
#INISIATIF #GrowthMindset
oleh: Sofia Ainurr
Dari buku "The Old Man and The Sea" aku belajar bahwa hasil itu tak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Bisa saja dalam bentuk pengalaman, ketekunan, kekuatan mental, atau pelajaran hidup yang membuat kita lebih siap untuk kesempatan berikutnya.
Coba kamu bayangkan, seorang nelayan yang berjuang selama 84 hari berlayar, tapi tak kunjung mendapatkan ikan. Lalu memutuskan berlayar sendiri ke tengah lautan yang jauh agar bisa mendapatkan ikan besar. Lelah, haus, lapar selama berhari-hari adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan seekor ikan besar bernilai tinggi. Dalam perjalanan pulang, siapa sangka, ikan tangkapan hasil jerih payahnya selama berhari-hari di lautan kini tak tersisa. Dan yang tersisa hanyalah lelah, lelah, dan lelah.
Bukankah ini terdengar tidak adil? Bukankah setiap perjuangan pasti berbuah manis? Bukankah Tuhan maha adil? Lalu, mengapa perjuangan pak tua itu tampaknya sia-sia?
Pernahkah kamu mendengar pepatah "hidup yang tak diperjuangkan, tak akan dimenangkan"? Bukankah pak tua sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan ikan besar itu? Lalu, apa hasilnya? Nihil. Ia tak berhasil mendapatkan ikan besar itu.
Namun, ia berhasil menang. Menang atas keberanian, ketekunan, dan pantang menyerahnya.🔥
Dari sini aku menyimpulkan bahwa tuhan itu adil. Selalu adil. Hanya saja, bentuknya tak selalu sesuai dengan ekspektasi kita. Yang penting kita tetap berusaha, tetap belajar dari proses, dan tidak menyerah. Justru disinilah letak kemenangannya. Menurut aku, kemenangan itu tak selalu berupa materi atau pengakuan, tapi berupa pertumbuhan diri dan kemampuan menjalani hidup lebih baik. And that's a real growth
#INISIATIF #GrowthMindset
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🥰3🙏1
Kenapa Harus Mendengarkan? 🤫
oleh: Gatot Widayanto
Kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam hubungan apa pun adalah komunikasi yang baik dan sehat. Namun, kebanyakan dari kita tidak diajarkan seni mendengarkan arang lain. Mendengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab, sangat penting dalam menjaga hubungan baik dengan keluarga, pasangan, sahabat, guru atou desen, afaxan rekan kerja, dan siapa pun dalam hidup Kebanyakan arang mendengarkan, tetapi tidak benar-benar menyimak
Mendengarkan untuk menjawab merupakan cara standar yang digunakan kebanyakan orang dalam berkomunikasi Artinya, sebelum benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan orang lain, kita sudah memikirkan apa yang ingin kita katakan sebagai tanggapan.
Tentu saja bagus untuk memiliki jawaban yang dipikirkan dengan matang, tetapi jika memikirkan apa yang ingin kita katakan daripada menyimak apa yang dikatakan lawan bicara, itu artinya kita tidak benar-benar mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik.
#INISIATIF
oleh: Gatot Widayanto
Listen to reply instead of to understand is the key to failure... (Mendengarkan untuk menjawab bukan untuk memahami adalah kunci kegagalan)
Kunci keberhasilan dan kebahagiaan dalam hubungan apa pun adalah komunikasi yang baik dan sehat. Namun, kebanyakan dari kita tidak diajarkan seni mendengarkan arang lain. Mendengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab, sangat penting dalam menjaga hubungan baik dengan keluarga, pasangan, sahabat, guru atou desen, afaxan rekan kerja, dan siapa pun dalam hidup Kebanyakan arang mendengarkan, tetapi tidak benar-benar menyimak
Mendengarkan untuk menjawab merupakan cara standar yang digunakan kebanyakan orang dalam berkomunikasi Artinya, sebelum benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan orang lain, kita sudah memikirkan apa yang ingin kita katakan sebagai tanggapan.
Tentu saja bagus untuk memiliki jawaban yang dipikirkan dengan matang, tetapi jika memikirkan apa yang ingin kita katakan daripada menyimak apa yang dikatakan lawan bicara, itu artinya kita tidak benar-benar mendengarkan dan berkomunikasi dengan baik.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🙏2
PRIVILEGE 🤝
oleh: Satria Dharma
Privilege itu merujuk pada "hak istimewa" yang dimiliki seseorang karena status atau kelebihan tertentu, dan seringkali digunakan dalam konteks perbandingan dengan orang lain yang tidak memiliki keuntungan yang sama. Privilege ini seringkali tidak disadari oleh mereka yang memilikinya, tetapi dapat memberikan dampak signifikan bagi orang lain yang tidak memiliki hak yang sama.
Kemarin dalam ngobrol-ngobrol syukuran keluarga seorang keponakan meminta agar sepupunya (alias keponakan juga) diberi hak untuk bisa naik tingkat di lembaga yang kami kelola. Ia memintakan sepupunya karena tahu bahwa sepupunya segan untuk minta sendiri pada kami. Keponakan kami ini sudah bekerja pada kami tapi sepupunya ingin agar ia bisa naik tingkat dengan bantuan kami sebagai pengelola lembaga. Jadi ia berinisiatif untuk memintakan semacam ‘privilege’ bagi sepupunya tersebut. Ini sebetulnya wajar terjadi di mana pun ketika seseorang memiliki jabatan dan kewenangan dan dimintai bantuan untuk membantu untuk memberikan privilege tertentu bagi keluarganya.
Saya agak jengah jika dimintai privilege seperti itu. Memberikan privilege semacam itu kepada keluarga hanya karena saya berkuasa itu agak bertentangan dengan apa yang saya yakini dan sebisa-bisanya saya hindari. Saya percaya bahwa setiap orang harus berjuang dengan semua kapasitas pribadinya sendiri jika ingin naik jabatan, naik tingkat, dapat bonus, dll. Memberikan privilege tertentu dalam perusahaan atau lembaga yang kita kelola kepada keluarga itu namanya nepotisme. Menerima keluarga bekerja di perusahaan keluarga itu bagus saja tapi jangan terus-terus memberi mereka privilege. Itu bukan hanya tidak baik bagi perusahaan tapi juga tidak baik bagi individu itu sendiri. Mereka akan kehilangan daya juang dan motivasi untuk sukses karena mereka tahu bahwa mereka bisa mendapatkannya hanya dengan meminta dan bahkan dengan menuntut pada keluarga. Lagipula itu akan menimbulkan rasa iri hati pada semua karyawan lain yang tidak memiliki privilege sebagai keluarga dari pemilik perusahaan. Privilege semacam ini dapat menciptakan ketidaksetaraan dan kesenjangan dalam lingkungan perusahaan, karena beberapa orang memiliki keuntungan yang tidak adil dibandingkan dengan yang lain.
Dengan mendapatkan pekerjaan di dalam perusahaan atau lembaga keluarga tanpa harus melalui prosedur yang dilalui oleh orang lain sebenarnya itu sudah merupakan privilege. Jadi itu harus disyukuri. Tapi itu tidak berarti kita bisa terus menerus meminta privilege. Kita harus mewujudkan rasa syukur kita dengan melakukan kinerja terbaik yang kita miliki. Kita akan mendapatkan promosi dan penghargaan berdasarkan kinerja kita pribadi nantinya. Kita harus membuktikan bahwa kita memang layak mendapatkan posisi kita saat ini karena kita memang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk itu dan bukan sekadar karena punya hubungan kekerabatan.
Sebagai manusia yang bertubuh lengkap sehat jasmani dan rohani sebenarnya sudah merupakan privilege bagi kita. Banyak manusia yang lebih tidak beruntung daripada kita baik dalam segi jasmani mau pun rohani. Segala yang ada dalam diri kita sebenarnya adalah privilege yang harus kita gunakan dan manfaatkan sebaik mungkin tanpa harus berharap dan menuntut lebih kesana dan kemari. Tapi untuk sampai pada kesadaran ini tampaknya kita harus terus berusaha untuk berintrospeksi diri.🙏
#INISIATIF
oleh: Satria Dharma
Privilege itu merujuk pada "hak istimewa" yang dimiliki seseorang karena status atau kelebihan tertentu, dan seringkali digunakan dalam konteks perbandingan dengan orang lain yang tidak memiliki keuntungan yang sama. Privilege ini seringkali tidak disadari oleh mereka yang memilikinya, tetapi dapat memberikan dampak signifikan bagi orang lain yang tidak memiliki hak yang sama.
Kemarin dalam ngobrol-ngobrol syukuran keluarga seorang keponakan meminta agar sepupunya (alias keponakan juga) diberi hak untuk bisa naik tingkat di lembaga yang kami kelola. Ia memintakan sepupunya karena tahu bahwa sepupunya segan untuk minta sendiri pada kami. Keponakan kami ini sudah bekerja pada kami tapi sepupunya ingin agar ia bisa naik tingkat dengan bantuan kami sebagai pengelola lembaga. Jadi ia berinisiatif untuk memintakan semacam ‘privilege’ bagi sepupunya tersebut. Ini sebetulnya wajar terjadi di mana pun ketika seseorang memiliki jabatan dan kewenangan dan dimintai bantuan untuk membantu untuk memberikan privilege tertentu bagi keluarganya.
Saya agak jengah jika dimintai privilege seperti itu. Memberikan privilege semacam itu kepada keluarga hanya karena saya berkuasa itu agak bertentangan dengan apa yang saya yakini dan sebisa-bisanya saya hindari. Saya percaya bahwa setiap orang harus berjuang dengan semua kapasitas pribadinya sendiri jika ingin naik jabatan, naik tingkat, dapat bonus, dll. Memberikan privilege tertentu dalam perusahaan atau lembaga yang kita kelola kepada keluarga itu namanya nepotisme. Menerima keluarga bekerja di perusahaan keluarga itu bagus saja tapi jangan terus-terus memberi mereka privilege. Itu bukan hanya tidak baik bagi perusahaan tapi juga tidak baik bagi individu itu sendiri. Mereka akan kehilangan daya juang dan motivasi untuk sukses karena mereka tahu bahwa mereka bisa mendapatkannya hanya dengan meminta dan bahkan dengan menuntut pada keluarga. Lagipula itu akan menimbulkan rasa iri hati pada semua karyawan lain yang tidak memiliki privilege sebagai keluarga dari pemilik perusahaan. Privilege semacam ini dapat menciptakan ketidaksetaraan dan kesenjangan dalam lingkungan perusahaan, karena beberapa orang memiliki keuntungan yang tidak adil dibandingkan dengan yang lain.
Dengan mendapatkan pekerjaan di dalam perusahaan atau lembaga keluarga tanpa harus melalui prosedur yang dilalui oleh orang lain sebenarnya itu sudah merupakan privilege. Jadi itu harus disyukuri. Tapi itu tidak berarti kita bisa terus menerus meminta privilege. Kita harus mewujudkan rasa syukur kita dengan melakukan kinerja terbaik yang kita miliki. Kita akan mendapatkan promosi dan penghargaan berdasarkan kinerja kita pribadi nantinya. Kita harus membuktikan bahwa kita memang layak mendapatkan posisi kita saat ini karena kita memang memiliki kapasitas dan kompetensi untuk itu dan bukan sekadar karena punya hubungan kekerabatan.
Sebagai manusia yang bertubuh lengkap sehat jasmani dan rohani sebenarnya sudah merupakan privilege bagi kita. Banyak manusia yang lebih tidak beruntung daripada kita baik dalam segi jasmani mau pun rohani. Segala yang ada dalam diri kita sebenarnya adalah privilege yang harus kita gunakan dan manfaatkan sebaik mungkin tanpa harus berharap dan menuntut lebih kesana dan kemari. Tapi untuk sampai pada kesadaran ini tampaknya kita harus terus berusaha untuk berintrospeksi diri.
Ada dua kata kunci yang dapat dicatat: daya juang dan kompetensi. Jika kompetensi nya ada, biarkan bersaing secara sehat
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kado Terindah untuk Lincoln 🎁
oleh: Emil Bachtiar
Pada 5 September 2025, pertandingan Major League Baseball antara Philadelphia Phillies dan Miami Marlins digelar di LoanDepot Park, Miami. Pertandingan itu berlangsung seru dengan beberapa pukulan panjang yang membuat penonton terus bersorak. Salah satunya datang dari Harrison Bader, pemain outfielder andalan Phillies yang dikenal sebagai spesialis bertahan dan pernah meraih Gold Glove Award. Pada inning ketiga, pukulannya menghasilkan sebuah home run. Bola jatuh ke tribun penonton dan ditangkap oleh Drew Feltwell, yang segera menyerahkannya kepada anak laki-lakinya.
Dalam tradisi bisbol, mendapatkan bola home run adalah pengalaman yang sangat berharga. Bola itu menjadi kenang-kenangan unik dari pertandingan, karena hanya sedikit orang yang beruntung bisa mendapatkannya langsung dari lapangan. Itulah sebabnya ketika bola jatuh ke tangan Drew dan kemudian diberikan kepada putranya, sorakan penonton mengiringi momen kecil penuh kegembiraan di tengah stadion. Anak itu menerima bola dengan wajah berbinar, lalu ayahnya memeluknya erat dalam pelukan penuh kasih sayang. Terlihat jelas kebahagiaan ayah dan anak, sorak sorai penonton ikut mengiringi momen itu.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan maju dan mengklaim bahwa bola itu seharusnya menjadi miliknya. Ia bersikeras menuntut agar bola diberikan kepadanya, meski rekaman menunjukkan bola sudah jelas berada di tangan anak tersebut. Perempuan itu bahkan sempat melakukan gestur ofensif ke arah penonton yang tidak setuju. Untuk menghindari keributan lebih lanjut, Feltwell akhirnya meminta anaknya menyerahkan bola itu. Penonton di sekitar langsung mencemooh ketika bola berpindah tangan.
Rekaman insiden ini menyebar luas di media sosial. Publik pun menjuluki sosok perempuan tersebut sebagai “Phillies Karen.” Karena dalam tradisi MLB bola yang ditangkap sah menjadi milik penonton, tindakan merebut bola dari anak kecil dipandang sangat tidak lazim. Itulah yang membuat insiden ini cepat menarik perhatian dan mendorong berbagai media mewawancarai Drew Feltwell.
Dari wawancara tersebut diketahui bahwa anak laki-laki itu bernama Lincoln, dan insiden itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-10. Saat pertama kali menerima bola dari ayahnya, Lincoln terlihat sangat gembira. Bagi seorang anak, itu adalah pengalaman tak terlupakan — seolah menjadi hadiah ulang tahun yang sempurna.
Feltwell kemudian menjelaskan mengapa ia memilih mengalah. Menurutnya, lebih baik bola itu diserahkan daripada memicu keributan yang bisa memperburuk suasana. Ia ingin menunjukkan kepada anaknya bahwa menjaga ketenangan lebih penting daripada mempertahankan sesuatu dengan cara bertengkar. Ia bahkan meminta agar publik tidak melakukan perburuan terhadap perempuan tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, pihak Miami Marlins memberikan paket cendera mata kepada Lincoln, sementara Harrison Bader secara pribadi menghadiahkan tongkat bisbol bertanda tangan untuk menebus kekecewaan anak itu.
Walaupun sudah mendapat kompensasi atas kehilangan bola tersebut, kado terindah yang diterima Lincoln adalah keteladanan yang ditunjukkan oleh ayahnya. Bukan lagi soal memiliki atau kehilangan bola, melainkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga: bahwa mengendalikan emosi, memilih tenang, dan berani melepaskan sesuatu bisa menjadi bekal penting bagi anaknya dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.
#INISIATIF
oleh: Emil Bachtiar
Pada 5 September 2025, pertandingan Major League Baseball antara Philadelphia Phillies dan Miami Marlins digelar di LoanDepot Park, Miami. Pertandingan itu berlangsung seru dengan beberapa pukulan panjang yang membuat penonton terus bersorak. Salah satunya datang dari Harrison Bader, pemain outfielder andalan Phillies yang dikenal sebagai spesialis bertahan dan pernah meraih Gold Glove Award. Pada inning ketiga, pukulannya menghasilkan sebuah home run. Bola jatuh ke tribun penonton dan ditangkap oleh Drew Feltwell, yang segera menyerahkannya kepada anak laki-lakinya.
Dalam tradisi bisbol, mendapatkan bola home run adalah pengalaman yang sangat berharga. Bola itu menjadi kenang-kenangan unik dari pertandingan, karena hanya sedikit orang yang beruntung bisa mendapatkannya langsung dari lapangan. Itulah sebabnya ketika bola jatuh ke tangan Drew dan kemudian diberikan kepada putranya, sorakan penonton mengiringi momen kecil penuh kegembiraan di tengah stadion. Anak itu menerima bola dengan wajah berbinar, lalu ayahnya memeluknya erat dalam pelukan penuh kasih sayang. Terlihat jelas kebahagiaan ayah dan anak, sorak sorai penonton ikut mengiringi momen itu.
Beberapa saat kemudian, seorang perempuan maju dan mengklaim bahwa bola itu seharusnya menjadi miliknya. Ia bersikeras menuntut agar bola diberikan kepadanya, meski rekaman menunjukkan bola sudah jelas berada di tangan anak tersebut. Perempuan itu bahkan sempat melakukan gestur ofensif ke arah penonton yang tidak setuju. Untuk menghindari keributan lebih lanjut, Feltwell akhirnya meminta anaknya menyerahkan bola itu. Penonton di sekitar langsung mencemooh ketika bola berpindah tangan.
Rekaman insiden ini menyebar luas di media sosial. Publik pun menjuluki sosok perempuan tersebut sebagai “Phillies Karen.” Karena dalam tradisi MLB bola yang ditangkap sah menjadi milik penonton, tindakan merebut bola dari anak kecil dipandang sangat tidak lazim. Itulah yang membuat insiden ini cepat menarik perhatian dan mendorong berbagai media mewawancarai Drew Feltwell.
Dari wawancara tersebut diketahui bahwa anak laki-laki itu bernama Lincoln, dan insiden itu terjadi tepat di hari ulang tahunnya yang ke-10. Saat pertama kali menerima bola dari ayahnya, Lincoln terlihat sangat gembira. Bagi seorang anak, itu adalah pengalaman tak terlupakan — seolah menjadi hadiah ulang tahun yang sempurna.
Feltwell kemudian menjelaskan mengapa ia memilih mengalah. Menurutnya, lebih baik bola itu diserahkan daripada memicu keributan yang bisa memperburuk suasana. Ia ingin menunjukkan kepada anaknya bahwa menjaga ketenangan lebih penting daripada mempertahankan sesuatu dengan cara bertengkar. Ia bahkan meminta agar publik tidak melakukan perburuan terhadap perempuan tersebut.
Sebagai bentuk penghargaan, pihak Miami Marlins memberikan paket cendera mata kepada Lincoln, sementara Harrison Bader secara pribadi menghadiahkan tongkat bisbol bertanda tangan untuk menebus kekecewaan anak itu.
Walaupun sudah mendapat kompensasi atas kehilangan bola tersebut, kado terindah yang diterima Lincoln adalah keteladanan yang ditunjukkan oleh ayahnya. Bukan lagi soal memiliki atau kehilangan bola, melainkan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga: bahwa mengendalikan emosi, memilih tenang, dan berani melepaskan sesuatu bisa menjadi bekal penting bagi anaknya dalam menghadapi kehidupan di kemudian hari.
Tonton videonya:
https://youtu.be/c1TpEUHxzoc?si=U1h8lTJbGLVwMxw3
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Father, son tell all after viral confrontation over home run ball with Phillies fan
It's the viral caught-on-camera confrontation at a Phillies game that has everybody talking. A woman berating a father after he grabbed a home run ball that fell into the stands and gave it to his son. Well now that father and son Andrew and Lincoln Feltwell…
❤2
SELF TALK YANG MERUSAK 💔
oleh: Aat Indrawati
Selamat pagi teman2
Studi dari National Science Foundation menyebut bahwa manusia punya sekitar 60 ribu pikiran setiap hari. Lebih dari 80 persen di antaranya adalah pikiran negatif, dan 95 persen adalah pikiran berulang. Artinya, jika kamu sering bicara buruk pada diri sendiri hari ini, kemungkinan besar kamu akan melakukannya lagi besok, lusa, dan seterusnya.
Seorang mahasiswa bangun kesiangan, langsung merasa gagal. Ia berkata dalam hati, “Kamu selalu begini. Malas banget. Nggak akan sukses kalau terus begini.”
Di siang hari, ia berusaha mengejar ketertinggalan, tapi satu kesalahan kecil membuatnya berhenti. Ia berkata, “Kamu emang nggak bisa apa-apa.”
Malamnya, ia gelisah, tidak bisa tidur. Dihantui oleh suara yang sama.
Contoh ini bukan soal jadwal atau produktivitas. Ini soal bagaimana manusia menjadi musuh terdekat bagi dirinya sendiri melalui self-talk yang merusak.
1. Aku sedang belajar, bukan gagal✅
Kalimat ini sangat sederhana, tapi mengubah posisi kita dari korban menjadi pembelajar. Kristin Neff menyebut ini sebagai dasar self-compassion: menerima bahwa proses manusiawi itu tidak selalu lurus. Setiap kali kamu merasa gagal, ucapkan ini. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memberi ruang belajar.
2. Wajar merasa begini✅
Emosi negatif bukan musuh. Mereka penanda bahwa sesuatu penting sedang terjadi. Dalam Self-Compassion, Neff menjelaskan bahwa menolak emosi hanya akan membuat kita terjebak. Saat kamu gelisah, marah, cemas, katakan pada dirimu sendiri, “Wajar aku merasa seperti ini.” Itu membuatmu hadir, bukan lari.
3. Aku nggak harus sempurna untuk dihargai✅
Sering kali kita percaya bahwa nilai diri datang dari pencapaian. Padahal, keyakinan ini rentan bikin kita cemas. Dalam bukunya, Helmstetter menyebut “belief scripting” sebagai kunci perubahan pola pikir. Ucapkan kalimat ini setiap hari. Biarkan otakmu membentuk ulang keyakinan dasarnya.
4. Aku tetap utuh meskipun sedang tidak baik-baik saja✅
Kalimat ini bisa jadi jangkar emosional saat kamu merasa hancur. Ini bukan penyangkalan, tapi pengakuan bahwa identitasmu lebih besar dari perasaan sesaat. Otak kita suka menyamaratakan: kalau hari ini kacau, berarti hidupku rusak. Kalimat ini memutus ilusi itu.
5. Aku cukup untuk hari ini✅
Dr. Neff menekankan pentingnya menciptakan batas harapan dalam sehari. Ketika kita terus mengejar standar yang tak realistis, ketenangan jadi hal langka. Mengatakan “aku cukup” bukan berarti berhenti berkembang. Tapi artinya kamu berhenti menyiksa diri.
6. Pelan-pelan itu juga gerak✅
Kalimat ini menenangkan ketika semua orang di sekitarmu terlihat cepat dan produktif. Helmstetter dalam risetnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan energi. Ucapan yang menenangkan membuat otak mengirim sinyal bahwa kamu masih punya kendali. Kamu bergerak. Dan itu cukup.
7. Aku memilih berdamai, bukan terus berperang✅
Dalam banyak kasus, kita tidak tenang bukan karena masalah terlalu besar, tapi karena kita terlalu keras pada diri sendiri. Kalimat ini mengingatkan bahwa kamu bisa memilih. Kamu bisa memilih untuk berhenti menyalahkan, mengutuk, dan mulai menerima kenyataan dengan lebih lembut.
Self-talk bukan mantra ajaib, tapi ia adalah peta bawah sadar yang kita ikuti setiap hari. Kamu bisa terus mengulang suara yang menghancurkan atau mulai menulis ulang narasi yang menyembuhkan.
#INISIATIF #TGIF
oleh: Aat Indrawati
Selamat pagi teman2
Bukan orang lain yang paling sering menyakiti kamu, tapi suara di dalam kepala sendiri.😱
Studi dari National Science Foundation menyebut bahwa manusia punya sekitar 60 ribu pikiran setiap hari. Lebih dari 80 persen di antaranya adalah pikiran negatif, dan 95 persen adalah pikiran berulang. Artinya, jika kamu sering bicara buruk pada diri sendiri hari ini, kemungkinan besar kamu akan melakukannya lagi besok, lusa, dan seterusnya.
Seorang mahasiswa bangun kesiangan, langsung merasa gagal. Ia berkata dalam hati, “Kamu selalu begini. Malas banget. Nggak akan sukses kalau terus begini.”
Di siang hari, ia berusaha mengejar ketertinggalan, tapi satu kesalahan kecil membuatnya berhenti. Ia berkata, “Kamu emang nggak bisa apa-apa.”
Malamnya, ia gelisah, tidak bisa tidur. Dihantui oleh suara yang sama.
Contoh ini bukan soal jadwal atau produktivitas. Ini soal bagaimana manusia menjadi musuh terdekat bagi dirinya sendiri melalui self-talk yang merusak.
Padahal, seperti kata Dr. Shad Helmstetter,
“Kata-kata yang kamu ucapkan pada dirimu akan menjadi fondasi dari kehidupanmu.”
1. Aku sedang belajar, bukan gagal
Kalimat ini sangat sederhana, tapi mengubah posisi kita dari korban menjadi pembelajar. Kristin Neff menyebut ini sebagai dasar self-compassion: menerima bahwa proses manusiawi itu tidak selalu lurus. Setiap kali kamu merasa gagal, ucapkan ini. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memberi ruang belajar.
2. Wajar merasa begini
Emosi negatif bukan musuh. Mereka penanda bahwa sesuatu penting sedang terjadi. Dalam Self-Compassion, Neff menjelaskan bahwa menolak emosi hanya akan membuat kita terjebak. Saat kamu gelisah, marah, cemas, katakan pada dirimu sendiri, “Wajar aku merasa seperti ini.” Itu membuatmu hadir, bukan lari.
3. Aku nggak harus sempurna untuk dihargai
Sering kali kita percaya bahwa nilai diri datang dari pencapaian. Padahal, keyakinan ini rentan bikin kita cemas. Dalam bukunya, Helmstetter menyebut “belief scripting” sebagai kunci perubahan pola pikir. Ucapkan kalimat ini setiap hari. Biarkan otakmu membentuk ulang keyakinan dasarnya.
4. Aku tetap utuh meskipun sedang tidak baik-baik saja
Kalimat ini bisa jadi jangkar emosional saat kamu merasa hancur. Ini bukan penyangkalan, tapi pengakuan bahwa identitasmu lebih besar dari perasaan sesaat. Otak kita suka menyamaratakan: kalau hari ini kacau, berarti hidupku rusak. Kalimat ini memutus ilusi itu.
5. Aku cukup untuk hari ini
Dr. Neff menekankan pentingnya menciptakan batas harapan dalam sehari. Ketika kita terus mengejar standar yang tak realistis, ketenangan jadi hal langka. Mengatakan “aku cukup” bukan berarti berhenti berkembang. Tapi artinya kamu berhenti menyiksa diri.
6. Pelan-pelan itu juga gerak
Kalimat ini menenangkan ketika semua orang di sekitarmu terlihat cepat dan produktif. Helmstetter dalam risetnya menunjukkan bahwa bahasa menentukan energi. Ucapan yang menenangkan membuat otak mengirim sinyal bahwa kamu masih punya kendali. Kamu bergerak. Dan itu cukup.
7. Aku memilih berdamai, bukan terus berperang
Dalam banyak kasus, kita tidak tenang bukan karena masalah terlalu besar, tapi karena kita terlalu keras pada diri sendiri. Kalimat ini mengingatkan bahwa kamu bisa memilih. Kamu bisa memilih untuk berhenti menyalahkan, mengutuk, dan mulai menerima kenyataan dengan lebih lembut.
Self-talk bukan mantra ajaib, tapi ia adalah peta bawah sadar yang kita ikuti setiap hari. Kamu bisa terus mengulang suara yang menghancurkan atau mulai menulis ulang narasi yang menyembuhkan.
Btw Sobat ATE paling sering bicara apa nih ke dirinya sendiri terutama saat sedang terjatuh?
❤️🩹
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Eittts, kayaknya ada yang baru lahir nih 🎉
Yuk terus kepoin IG Life at BPJS Kesehatan krn infonya akan ada ragam banyak cerita seru dan penuh inspirasi dari perjuangan dan pengabdian seluruh Duta selindo dalam mengawal Program JKN🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DOfaAfsCU7V/?igsh=dXE3NTlnOGg0MHFx
#PejuangJKN #LifeatBPJSKesehatan
Yuk terus kepoin IG Life at BPJS Kesehatan krn infonya akan ada ragam banyak cerita seru dan penuh inspirasi dari perjuangan dan pengabdian seluruh Duta selindo dalam mengawal Program JKN
https://www.instagram.com/p/DOfaAfsCU7V/?igsh=dXE3NTlnOGg0MHFx
#PejuangJKN #LifeatBPJSKesehatan
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2
Akhir pekan adalah waktu terbaik untuk tenggelam dalam cerita. Buku apa yang jadi teman santai Sobat ATE hari ini? ❣️
Btw, Pak Dirum lagi ngadain giveaway Buku buat rekan-rekan semua. Cek disini✅
Btw, Pak Dirum lagi ngadain giveaway Buku buat rekan-rekan semua. Cek disini
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
INFO PODIUM 🏆
Selamat dan Sukses untuk Kontingen BPJS Kesehatan atas kemenangan di Turnamen Tenis Kemitraan 2025🇮🇩
Susunan Tim:
1. Pak Dirut dan Partner = Juara 3 Ganda Veteran
2. Wahyu Amru @bang_way10 (Kepwil V) - Ilham Akbar @ilhamakbarw (Sesdewas) = Juara 2 Ganda Muda
3. Heri Susilo W @heripamjaka (KC Yogyakarta) - Deky Ofras @dekyop (SPPTI) = Juara 3 Bersama Ganda Muda
4. Muh Candra Ikhda @uripikuurup2 (MKU) - Andhika Muchlis @andhikamchls (Miur) = Juara 3 Bersama Ganda Muda
#INISIATIF
Selamat dan Sukses untuk Kontingen BPJS Kesehatan atas kemenangan di Turnamen Tenis Kemitraan 2025
Susunan Tim:
1. Pak Dirut dan Partner = Juara 3 Ganda Veteran
2. Wahyu Amru @bang_way10 (Kepwil V) - Ilham Akbar @ilhamakbarw (Sesdewas) = Juara 2 Ganda Muda
3. Heri Susilo W @heripamjaka (KC Yogyakarta) - Deky Ofras @dekyop (SPPTI) = Juara 3 Bersama Ganda Muda
4. Muh Candra Ikhda @uripikuurup2 (MKU) - Andhika Muchlis @andhikamchls (Miur) = Juara 3 Bersama Ganda Muda
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2