Gara-Gara Ngelirik di Lampu Merah, Gue Jadi Tersangka Istri !! 🫣
Oleh: Junaidi Karo Karo
Begini Ceritanya Bro…
Gue sama istri lagi Jemput Anak sekolah,
Awalnya aman.
Mobil melaju, radio nyetel lagu-lagu 90-an, kita nikmati bareng-bareng lagunya...
Tiba-tiba…
Istri gue diem.
Bukan diem santai, tapi diem yang hawanya dingin kayak masuk kulkas.
Gue coba ngobrol, “Mau mampir beli kopi?”
Dia cuma geleng.
Oke, aneh. Gue tes lagi:
“Mau ke supermarket bentar?” → Geleng.
“Laper nggak?” → Geleng.
Ini udah tanda bahaya.
Buat pria, gelengan kepala itu cuma tanda nggak mau.
Buat wanita, gelengan kepala bisa artinya banyak hal, salah satunya: Gue kesel, tebak sendiri kenapa.
Di kepala gue mulai ada rapat darurat:
– Tadi pagi gue nyuci piring? ✅
– Bawa belanjaan ke dapur? ✅
– Ngucapin “makasih” waktu dia bikinin kopi? ✅
– Salah manggil nama? ❌ (Aman, nggak kejadian.)
Tapi mukanya tetep datar.
Tangannya udah nyilang di dada.
Itu posisi default sebelum sidang dimulai.
Gue tanya pelan, “Kenapa sih?”
Dia jawab, “Nggak.”
Nah ini… “nggak” versi pria = selesai.
“nggak” versi wanita = permainan baru dimulai.
Sepuluh menit gue nyetir dalam suasana kayak lagi bawa bom aktif.
Akhirnya, menjelang lampu merah berikutnya, dia buang napas panjang…
Terus nyeletuk, “Ya udahlah.”
Hati gue makin nggak tenang.
Ya udahlah versi pria = masalah kelar.
Ya udahlah versi wanita = babak baru baru saja dimulai.
Dan bener aja, begitu mobil berhenti di depan rumah, dia bilang pelan tapi jelas:
“Tadi di lampu merah, aku lihat kamu ngelirik cewek nyebrang.”
DALAM HATI: Astaga… jadi ini.
Bro… itu cewek nyebrang persis di depan mobil.
Masa gue harus merem?
Itu refleks, bukan niat.
Tapi gue paham, ini bukan tentang ceweknya.
Ini tentang proses.
Proses dia bikin gue kebingungan, mikir keras, dan nunggu gue menjelaskan dengan wajah panik.
Gue tarik napas pelan.
Ini momen yang nggak bisa diulang.
Salah jawab, tamat.
Dia duduk tegak, mata tajam kayak sniper kunci target.
Gue nggak bisa jawab terlalu cepat, nanti dibilang “Ah, udah disiapin jawabannya.”
Nggak bisa juga kelamaan, nanti dia bilang, “Lama mikirnya, berarti bohong.”
Gue atur ritme.
Lambat. Tenang. Padahal di dada udah kayak drum band 17-an.
Gue mulai, “Kamu tau nggak…”
Berhenti sebentar, pura-pura cari kata.
“… pas aku lihat dia nyebrang, yang aku pikirin cuma satu hal.”
Dia majuin dagu sedikit. “Apa?”
Gue tahan napas, liat matanya dalam-dalam, terus bilang:
“Apakah… ada orang di dunia ini… yang bisa nyebrang… lebih elegan… dari kamu?”
Diam.
Sepi.
Heningnya sampai gue bisa dengar suara motor lewat di luar.
Tiga detik.
Tiga detik yang rasanya kayak tiga tahun masa percobaan.
Akhirnya… ujung bibirnya naik. Senyum tipis.
Senyum yang di dunia pria artinya “selamat”.
Tapi di dunia wanita artinya: “Selamat… untuk sekarang.”
Gue tahu, kasus ini nggak ditutup.
Cuma ditunda sidangnya.
Sampai ada cewek lain nyebrang… atau sampai dia liat gue ngelirik spion Mobil.
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Junaidi Karo Karo
Begini Ceritanya Bro…
Gue sama istri lagi Jemput Anak sekolah,
Awalnya aman.
Mobil melaju, radio nyetel lagu-lagu 90-an, kita nikmati bareng-bareng lagunya...
Tiba-tiba…
Istri gue diem.
Bukan diem santai, tapi diem yang hawanya dingin kayak masuk kulkas.
Gue coba ngobrol, “Mau mampir beli kopi?”
Dia cuma geleng.
Oke, aneh. Gue tes lagi:
“Mau ke supermarket bentar?” → Geleng.
“Laper nggak?” → Geleng.
Ini udah tanda bahaya.
Buat pria, gelengan kepala itu cuma tanda nggak mau.
Buat wanita, gelengan kepala bisa artinya banyak hal, salah satunya: Gue kesel, tebak sendiri kenapa.
Di kepala gue mulai ada rapat darurat:
– Tadi pagi gue nyuci piring? ✅
– Bawa belanjaan ke dapur? ✅
– Ngucapin “makasih” waktu dia bikinin kopi? ✅
– Salah manggil nama? ❌ (Aman, nggak kejadian.)
Tapi mukanya tetep datar.
Tangannya udah nyilang di dada.
Itu posisi default sebelum sidang dimulai.
Gue tanya pelan, “Kenapa sih?”
Dia jawab, “Nggak.”
Nah ini… “nggak” versi pria = selesai.
“nggak” versi wanita = permainan baru dimulai.
Sepuluh menit gue nyetir dalam suasana kayak lagi bawa bom aktif.
Akhirnya, menjelang lampu merah berikutnya, dia buang napas panjang…
Terus nyeletuk, “Ya udahlah.”
Hati gue makin nggak tenang.
Ya udahlah versi pria = masalah kelar.
Ya udahlah versi wanita = babak baru baru saja dimulai.
Dan bener aja, begitu mobil berhenti di depan rumah, dia bilang pelan tapi jelas:
“Tadi di lampu merah, aku lihat kamu ngelirik cewek nyebrang.”
DALAM HATI: Astaga… jadi ini.
Bro… itu cewek nyebrang persis di depan mobil.
Masa gue harus merem?
Itu refleks, bukan niat.
Tapi gue paham, ini bukan tentang ceweknya.
Ini tentang proses.
Proses dia bikin gue kebingungan, mikir keras, dan nunggu gue menjelaskan dengan wajah panik.
Gue tarik napas pelan.
Ini momen yang nggak bisa diulang.
Salah jawab, tamat.
Dia duduk tegak, mata tajam kayak sniper kunci target.
Gue nggak bisa jawab terlalu cepat, nanti dibilang “Ah, udah disiapin jawabannya.”
Nggak bisa juga kelamaan, nanti dia bilang, “Lama mikirnya, berarti bohong.”
Gue atur ritme.
Lambat. Tenang. Padahal di dada udah kayak drum band 17-an.
Gue mulai, “Kamu tau nggak…”
Berhenti sebentar, pura-pura cari kata.
“… pas aku lihat dia nyebrang, yang aku pikirin cuma satu hal.”
Dia majuin dagu sedikit. “Apa?”
Gue tahan napas, liat matanya dalam-dalam, terus bilang:
“Apakah… ada orang di dunia ini… yang bisa nyebrang… lebih elegan… dari kamu?”
Diam.
Sepi.
Heningnya sampai gue bisa dengar suara motor lewat di luar.
Tiga detik.
Tiga detik yang rasanya kayak tiga tahun masa percobaan.
Akhirnya… ujung bibirnya naik. Senyum tipis.
Senyum yang di dunia pria artinya “selamat”.
Tapi di dunia wanita artinya: “Selamat… untuk sekarang.”
Gue tahu, kasus ini nggak ditutup.
Cuma ditunda sidangnya.
Sampai ada cewek lain nyebrang… atau sampai dia liat gue ngelirik spion Mobil.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Tim Stecu Stecu dari Kedeputian Bidang PKP yang anggotanya terdiri dari:
#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI yang anggotanya terdiri dari:
#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
THE ULTIMATE TEAM HAS ARRIVED!
Dari ratusan tim, akhirnya terpilih Tim The Best of The Best! Selamat untuk 3 besar jawara Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan
Kalian bukan cuma juara di skor, tapi juga di semangat & kebersamaan! Semoga energi positif ini nular terus ke kerja sehari-hari ya!
Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare yang anggotanya terdiri dari:
#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
5 PRINSIP BELAJAR ✍️
oleh: Andrew Tjahjadi
Ada seorang teman.
Ambisinya besar, semangatnya luar biasa.
Dalam 1 tahun dia beli lebih dari 30 kursus online.
Topiknya macam-macam: bisnis, investasi, desain, copywriting, trading, bahasa asing.
Tujuannya sederhana:
“Gue mau upgrade diri. Gue mau hidup lebih baik dari sekarang.”
Tapi setelah 2 tahun… hasilnya tragis.
Bayangin ini:
Laptopnya penuh folder kursus.
Puluhan jam video sudah ditonton.
Catatan sampai ratusan halaman.
Tapi tiap kali ditanya:
“Lo sekarang jago di bidang apa?”
Dia hanya terdiam.
Tidak ada satu pun skill yang benar-benar matang.
Tidak ada satu pun hasil nyata.
Hidupnya jadi roller coaster.
Hari ini semangat jadi trader.
Besok pindah ke desain grafis.
Minggu depan ikutan seminar properti.
Keluarganya bingung.
Istrinya bilang: “Kenapa kita nggak pernah lihat hasilnya, padahal kamu belajar terus?”
Dan dari matanya gue bisa lihat.
Itu bukan mata orang yang berkembang.
Itu mata orang yang kelelahan.
Masalahnya bukan karena dia bodoh.
Bukan karena dia malas.
Tapi karena dia tidak tahu cara manusia sebenarnya belajar.
Kita semua sering begitu.
Ikut banyak kelas, semangat di awal, lalu drop di tengah.
Karena belajar tanpa arah bukan membangun skill.
Itu hanya numpuk informasi.
Setelah gue pelajari, jawabannya sederhana.
Ada 5 prinsip belajar cepat yang hampir semua orang abaikan.
Dan inilah alasan kenapa banyak orang gagal walau sudah keluar uang, tenaga, dan waktu.
🔥 Prinsip #1: Sequencing
Ilmu harus berurutan.
Kalau salah urutan hasilnya kacau.
Belajar iklan tanpa ngerti copywriting dasar itu seperti bangun lantai 10 padahal fondasinya bolong.
🔥 Prinsip #2: Scaffolding
Di awal, manusia butuh roda bantu.
Kalau langsung dilepas, 90% pasti jatuh. Makanya perlu template, checklist, contoh nyata.
Itu bukan kemewahan, itu penyelamat.
🔥 Prinsip #3: Feedback Loops
Formula belajar cepat:
Belajar → Coba → Feedback → Perbaiki → Ulang.
Masalahnya banyak orang berhenti setelah gagal pertama.
Padahal gagal adalah tiket untuk naik level berikutnya.
🔥 Prinsip #4: Active Learning
Lo bisa baca 100 buku.
Lo bisa ikut 50 webinar.
Tapi tanpa praktek hasilnya nol.
Pegang aturan ini:
👉 80% jadi = 100% cukup.
Kalau sudah 80%, langsung jalan.
Sisanya bisa diperbaiki sambil jalan.
🔥 Prinsip #5: Motivational Design
Belajar itu perjalanan panjang.
Otak manusia gampang nyerah.
Tanpa milestone, reward, dan sistem pengingat,
orang pasti berhenti di tengah.
Bukan karena lemah.
Tapi karena memang motivasi manusia terbatas.
Teman gue tadi masih terus belajar.
Tapi kali ini dengan 5 prinsip ini.
Hasilnya beda.
Pelan-pelan skillnya dipakai untuk kerja nyata.
Bukan lagi sekadar koleksi catatan.
Kisah dia jadi pengingat buat gue dan mungkin buat lo juga.
Belajar tanpa arah bisa bikin hidup berantakan.
Bisa bikin keluarga ikut sengsara.
Bisa bikin waktu bertahun-tahun terbuang percuma.
Tapi kalau ngerti cara belajar yang benar, satu skill saja bisa jadi fondasi masa depan.
#INISIATIF
oleh: Andrew Tjahjadi
Ada seorang teman.
Ambisinya besar, semangatnya luar biasa.
Dalam 1 tahun dia beli lebih dari 30 kursus online.
Topiknya macam-macam: bisnis, investasi, desain, copywriting, trading, bahasa asing.
Tujuannya sederhana:
“Gue mau upgrade diri. Gue mau hidup lebih baik dari sekarang.”
Tapi setelah 2 tahun… hasilnya tragis.
Bayangin ini:
Laptopnya penuh folder kursus.
Puluhan jam video sudah ditonton.
Catatan sampai ratusan halaman.
Tapi tiap kali ditanya:
“Lo sekarang jago di bidang apa?”
Dia hanya terdiam.
Tidak ada satu pun skill yang benar-benar matang.
Tidak ada satu pun hasil nyata.
Hidupnya jadi roller coaster.
Hari ini semangat jadi trader.
Besok pindah ke desain grafis.
Minggu depan ikutan seminar properti.
Keluarganya bingung.
Istrinya bilang: “Kenapa kita nggak pernah lihat hasilnya, padahal kamu belajar terus?”
Dan dari matanya gue bisa lihat.
Itu bukan mata orang yang berkembang.
Itu mata orang yang kelelahan.
Masalahnya bukan karena dia bodoh.
Bukan karena dia malas.
Tapi karena dia tidak tahu cara manusia sebenarnya belajar.
Kita semua sering begitu.
Ikut banyak kelas, semangat di awal, lalu drop di tengah.
Karena belajar tanpa arah bukan membangun skill.
Itu hanya numpuk informasi.
Setelah gue pelajari, jawabannya sederhana.
Ada 5 prinsip belajar cepat yang hampir semua orang abaikan.
Dan inilah alasan kenapa banyak orang gagal walau sudah keluar uang, tenaga, dan waktu.
Ilmu harus berurutan.
Kalau salah urutan hasilnya kacau.
Belajar iklan tanpa ngerti copywriting dasar itu seperti bangun lantai 10 padahal fondasinya bolong.
Di awal, manusia butuh roda bantu.
Kalau langsung dilepas, 90% pasti jatuh. Makanya perlu template, checklist, contoh nyata.
Itu bukan kemewahan, itu penyelamat.
Formula belajar cepat:
Belajar → Coba → Feedback → Perbaiki → Ulang.
Masalahnya banyak orang berhenti setelah gagal pertama.
Padahal gagal adalah tiket untuk naik level berikutnya.
Lo bisa baca 100 buku.
Lo bisa ikut 50 webinar.
Tapi tanpa praktek hasilnya nol.
Pegang aturan ini:
👉 80% jadi = 100% cukup.
Kalau sudah 80%, langsung jalan.
Sisanya bisa diperbaiki sambil jalan.
Belajar itu perjalanan panjang.
Otak manusia gampang nyerah.
Tanpa milestone, reward, dan sistem pengingat,
orang pasti berhenti di tengah.
Bukan karena lemah.
Tapi karena memang motivasi manusia terbatas.
Teman gue tadi masih terus belajar.
Tapi kali ini dengan 5 prinsip ini.
Hasilnya beda.
Pelan-pelan skillnya dipakai untuk kerja nyata.
Bukan lagi sekadar koleksi catatan.
Kisah dia jadi pengingat buat gue dan mungkin buat lo juga.
Belajar tanpa arah bisa bikin hidup berantakan.
Bisa bikin keluarga ikut sengsara.
Bisa bikin waktu bertahun-tahun terbuang percuma.
Tapi kalau ngerti cara belajar yang benar, satu skill saja bisa jadi fondasi masa depan.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
SIPALING JITU 🎯
Polling tebak jitu 3 tim Juara Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!
Ada 2 (dua) orang TERBAIK yang kembali berhasil nebak 3 tim dengan presisi 100%! Selamat kepada Kk Arian Fani Arora @Penot87 (Kabag Yanser KC Serang) dan Kk Mochamad Rakha Swardhana @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi)😎
Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025🇲🇨
#TebakTebakSeru
Polling tebak jitu 3 tim Juara Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!
Ada 2 (dua) orang TERBAIK yang kembali berhasil nebak 3 tim dengan presisi 100%! Selamat kepada Kk Arian Fani Arora @Penot87 (Kabag Yanser KC Serang) dan Kk Mochamad Rakha Swardhana @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi)
Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025
#TebakTebakSeru
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
KEDERMAWANAN TANPA SUARA 🙏
oleh: Satria Dharma
Pernah dengar nama Humphrey Bogart? Mungkin tidak karena meski pun ia sangat terkenal tapi ia orang lawas.
Humphrey DeForest Bogart, yang dijuluki Bogie, adalah seorang aktor Amerika zaman lawas dan sudah lama meninggal, bahkan sebelum saya lahir. Penampilannya dalam sinema Hollywood klasik menjadikannya sebagai ikon budaya Amerika. Pada tahun 1999, American Film Institute memilih Bogart sebagai bintang pria terhebat dalam sinema Amerika klasik. Saya sendiri lupa apakah pernah menonton filmnya dulu tapi namanya saya ingat karena sering muncul dan bagi saya namanya unik.
Saya ingin menceritakan sesuatu tentang bintang film terkenal ini.
Selama pembuatan film “To Have and Have Not” pada tahun 1944, sebuah tragedi terjadi yang jarang diketahui orang. Seorang anggota kru lighting menerima panggilan telepon saat istirahat. Istrinya kecelakaan mobil dan meninggal di tempat. Ia langsung pingsan di lahan Warner Bros. Ia dipeluk oleh rekan-rekan kerjanya, sementara mesin produksi terus bergerak. Hanya sedikit yang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang akan terjadi pada kedua anaknya yang masih kecil yang kini kehilangan ibu?
Humphrey Bogart, bintang film tersebut, diam-diam meninggalkan lokasi syuting. Hari itu, tanpa berkata kepada siapa pun, ia menginstruksikan salah seorang asistennya untuk menanggung penuh biaya pemakaman—peti mati, penguburan, transportasi, dan layanan pemakaman istri dari anggota kru lighting tersebut. Ia mengajukan satu permintaan: keluarga tidak boleh tahu bahwa biaya itu berasal darinya.😎
Malam itu, ia meminta seorang teman casting untuk membantu mencarikan pengasuhan sementara bagi anak-anak yang kehilangan ibu tersebut hingga pengaturan yang lebih permanen dapat dibuat. Ia kembali bekerja keesokan harinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pemain atau kru yang tahu. Bahkan sutradara Howard Hawks pun tidak.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi di tahun-tahun berikutnya: setiap bulan, sebuah cek anonim tiba di rumah kru lighting tersebut. Cukup untuk menutupi sembako, pakaian, buku sekolah—dan bahkan, biaya kuliah. Sumbernya? Tak terlacak.
Baru setelah teknisi itu meninggal dunia di tahun 70-an, anak-anaknya yang kini sudah dewasa menemukan sepucuk surat terkunci dengan tanda tangan Bogart. Di situ tertulis
“Apa yang kau berikan untuk film ini membantuku bersinar dan terkenal di layar. Apa yang bisa kuberikan kepada keluargamu takkan pernah bisa membalasnya, tapi kuharap itu sedikit meringankan hari-harimu.”
Itu bukan tindakan Bogart satu-satunya. Bertahun-tahun kemudian, seorang mantan akuntan Warner Bros. mengungkapkan bahwa Bogart sering mengirimkan bantuan keuangan secara diam-diam kepada para kru yang sedang kesulitan—selalu dengan kerahasiaan yang ketat. Ia juga diam-diam mendukung staf dan kru grip, pembuat set, asisten, dll membayar tagihan medis, mengatur bantuan, tanpa pernah menginginkan penghargaan.
Bogart ternyata bukan hanya bintang di film-filmnya tapi ia juga menjadi bintang bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.🙏
#INISIATIF
oleh: Satria Dharma
Pernah dengar nama Humphrey Bogart? Mungkin tidak karena meski pun ia sangat terkenal tapi ia orang lawas.
Humphrey DeForest Bogart, yang dijuluki Bogie, adalah seorang aktor Amerika zaman lawas dan sudah lama meninggal, bahkan sebelum saya lahir. Penampilannya dalam sinema Hollywood klasik menjadikannya sebagai ikon budaya Amerika. Pada tahun 1999, American Film Institute memilih Bogart sebagai bintang pria terhebat dalam sinema Amerika klasik. Saya sendiri lupa apakah pernah menonton filmnya dulu tapi namanya saya ingat karena sering muncul dan bagi saya namanya unik.
Saya ingin menceritakan sesuatu tentang bintang film terkenal ini.
Selama pembuatan film “To Have and Have Not” pada tahun 1944, sebuah tragedi terjadi yang jarang diketahui orang. Seorang anggota kru lighting menerima panggilan telepon saat istirahat. Istrinya kecelakaan mobil dan meninggal di tempat. Ia langsung pingsan di lahan Warner Bros. Ia dipeluk oleh rekan-rekan kerjanya, sementara mesin produksi terus bergerak. Hanya sedikit yang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang akan terjadi pada kedua anaknya yang masih kecil yang kini kehilangan ibu?
Humphrey Bogart, bintang film tersebut, diam-diam meninggalkan lokasi syuting. Hari itu, tanpa berkata kepada siapa pun, ia menginstruksikan salah seorang asistennya untuk menanggung penuh biaya pemakaman—peti mati, penguburan, transportasi, dan layanan pemakaman istri dari anggota kru lighting tersebut. Ia mengajukan satu permintaan: keluarga tidak boleh tahu bahwa biaya itu berasal darinya.
Malam itu, ia meminta seorang teman casting untuk membantu mencarikan pengasuhan sementara bagi anak-anak yang kehilangan ibu tersebut hingga pengaturan yang lebih permanen dapat dibuat. Ia kembali bekerja keesokan harinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pemain atau kru yang tahu. Bahkan sutradara Howard Hawks pun tidak.
Namun sesuatu yang luar biasa terjadi di tahun-tahun berikutnya: setiap bulan, sebuah cek anonim tiba di rumah kru lighting tersebut. Cukup untuk menutupi sembako, pakaian, buku sekolah—dan bahkan, biaya kuliah. Sumbernya? Tak terlacak.
Baru setelah teknisi itu meninggal dunia di tahun 70-an, anak-anaknya yang kini sudah dewasa menemukan sepucuk surat terkunci dengan tanda tangan Bogart. Di situ tertulis
“Apa yang kau berikan untuk film ini membantuku bersinar dan terkenal di layar. Apa yang bisa kuberikan kepada keluargamu takkan pernah bisa membalasnya, tapi kuharap itu sedikit meringankan hari-harimu.”
Itu bukan tindakan Bogart satu-satunya. Bertahun-tahun kemudian, seorang mantan akuntan Warner Bros. mengungkapkan bahwa Bogart sering mengirimkan bantuan keuangan secara diam-diam kepada para kru yang sedang kesulitan—selalu dengan kerahasiaan yang ketat. Ia juga diam-diam mendukung staf dan kru grip, pembuat set, asisten, dll membayar tagihan medis, mengatur bantuan, tanpa pernah menginginkan penghargaan.
Bogart ternyata bukan hanya bintang di film-filmnya tapi ia juga menjadi bintang bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Mempertanyakan Kebermanfaatan Program JKN 🇲🇨
Jangan lupa like, share, dan comment biar semua orang tahu tentang kebermanfaatan Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan🇲🇨
https://youtu.be/2B1OypTD20w?si=i8Knj1Kw4Jd5OKQ8
#KitaJagaBPJS
#BPJSJagaKita
#BPJSMilikKita
Jangan lupa like, share, dan comment biar semua orang tahu tentang kebermanfaatan Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan
https://youtu.be/2B1OypTD20w?si=i8Knj1Kw4Jd5OKQ8
#KitaJagaBPJS
#BPJSJagaKita
#BPJSMilikKita
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Mempertanyakan Kebermanfaatan Program JKN
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan sering disebut sebagai tulang punggung sistem kesehatan di Indonesia. Tapi… apakah manfaatnya bener-bener terasa di lapangan? 🤔
Banyak yang bilang program ini membantu, tapi ada juga yang…
Banyak yang bilang program ini membantu, tapi ada juga yang…
KESALAHAN TERBESAR ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAKNYA 🤦 🤦♀️
oleh: Fauziah Tahta
Aku pernah ngobrol sama suamiku..
Topiknya sederhana tapi ternyata dalam banget.
Suamiku nanya:
“Menurutmu, apa kesalahan terbesar orangtua dalam mendidik anaknya?”
Jawabannya bikin aku diem lama.
Aku coba jawab sebisanya..
“Kurang kasih sayang? Atau mungkin terlalu keras?”
Dia cuma tersenyum, lalu bilang:
“Iya itu bisa juga… Tapi ada satu hal yang lebih sering dilakukan, dan tanpa sadar, itu yang paling merusak.”
Aku menatapnya, menunggu dia menjelaskan. Lalu dia melanjutkan,
“...orangtua yang hadir, tapi sebenarnya nggak seutuhnya hadir.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi menusuk.
Suamiku melanjutkan lagi.
“Banyak orangtua merasa sudah hadir karena fisiknya ada di rumah. Padahal pikirannya ada di layar HP, emosinya masih kebawa sama urusan kerja, hatinya lagi jauh entah ke mana.”
Anak mungkin keliatan biasa aja. Tapi jauh di dalam hatinya, dia menyimpan satu pesan yang dia ulang-ulang ke dirinya: ‘Aku nggak cukup penting buat didengarkan.’
Aku tersentak.
Betapa sering kita merasa sudah cukup karena berada di ruangan yang sama dengan anak, padahal perhatian kita tercecer ke banyak hal lain.
“Mindful Parenting itu bukan soal kita jadi orangtua yang sempurna,” katanya.
“Itu soal kita benar-benar hadir—mendengarkan, melihat, dan menerima anak di momen itu.”
“Ketika anak cerita hal sepele, kayak temannya nggak mau main bareng, kadang kita jawab:
‘Ah, gitu aja kok dipikirin.’
Padahal, bagi dia, itu sebesar dunia nya.”
Aku coba nanya, “Jadi mindful parenting itu intinya apa?”
Dia jawab:
“Intinya sederhana: Hadir penuh.
Bukan hadir untuk menggurui, tapi hadir untuk memahami.”
Lalu aku sadar, selama ini banyak momen yang aku lewatkan. Waktu anak pengen cerita panjang lebar, aku sibuk balas chat temen.
Waktu anak pengen main sebentar, aku lebih memilih rebahan dengan HP ku. Aku ada.. tapi tidak benar-benar ada.
Suamiku menatapku dan bicara:
“Anak-anak itu nggak butuh orangtua yang sempurna. Mereka butuh orangtua yang mau berhenti sebentar, menatap mata mereka, dan bilang: ‘Ibu di sini, Nak. Ibu siap dengerin dan ada buat kamu.’”
Aku menunduk. Rasanya ingin menangis 😭
Dari situ aku belajar.
Mindful Parenting ternyata bukan teori ribet. Bukan harus ikut seminar mahal atau punya rumus parenting khusus.
Kadang, itu sesederhana:
✅ Meletakkan HP ketika anak bicara.
✅ Menjawab dengan mata, bukan hanya dengan kata.
✅ Mendengar sampai tuntas, tanpa buru-buru memberi solusi.
✅ Menyadari emosi kita sendiri sebelum menularkannya ke anak.
Itu memang hal kecil. Tapi dampaknya bisa jadi warisan emosi terbesar untuk anak-anak kita kelak.
Jadi buat para orangtua di luar sana..
Mungkin anakmu nggak akan selalu ingat mainan apa yang kita belikan, atau sekolah mahal apa yang kita pilihkan.
Tapi dia pasti akan ingat..
Apakah kamu benar-benar hadir saat dia butuh. Karena bagi anak, kehadiranmu yang penuh itulah hadiah terbesarnya.
#INISIATIF
oleh: Fauziah Tahta
Aku pernah ngobrol sama suamiku..
Topiknya sederhana tapi ternyata dalam banget.
Suamiku nanya:
“Menurutmu, apa kesalahan terbesar orangtua dalam mendidik anaknya?”
Jawabannya bikin aku diem lama.
Aku coba jawab sebisanya..
“Kurang kasih sayang? Atau mungkin terlalu keras?”
Dia cuma tersenyum, lalu bilang:
“Iya itu bisa juga… Tapi ada satu hal yang lebih sering dilakukan, dan tanpa sadar, itu yang paling merusak.”
Aku menatapnya, menunggu dia menjelaskan. Lalu dia melanjutkan,
“...orangtua yang hadir, tapi sebenarnya nggak seutuhnya hadir.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi menusuk.
Suamiku melanjutkan lagi.
“Banyak orangtua merasa sudah hadir karena fisiknya ada di rumah. Padahal pikirannya ada di layar HP, emosinya masih kebawa sama urusan kerja, hatinya lagi jauh entah ke mana.”
Anak mungkin keliatan biasa aja. Tapi jauh di dalam hatinya, dia menyimpan satu pesan yang dia ulang-ulang ke dirinya: ‘Aku nggak cukup penting buat didengarkan.’
Aku tersentak.
Betapa sering kita merasa sudah cukup karena berada di ruangan yang sama dengan anak, padahal perhatian kita tercecer ke banyak hal lain.
“Mindful Parenting itu bukan soal kita jadi orangtua yang sempurna,” katanya.
“Itu soal kita benar-benar hadir—mendengarkan, melihat, dan menerima anak di momen itu.”
“Ketika anak cerita hal sepele, kayak temannya nggak mau main bareng, kadang kita jawab:
‘Ah, gitu aja kok dipikirin.’
Padahal, bagi dia, itu sebesar dunia nya.”
Aku coba nanya, “Jadi mindful parenting itu intinya apa?”
Dia jawab:
“Intinya sederhana: Hadir penuh.
Bukan hadir untuk menggurui, tapi hadir untuk memahami.”
Lalu aku sadar, selama ini banyak momen yang aku lewatkan. Waktu anak pengen cerita panjang lebar, aku sibuk balas chat temen.
Waktu anak pengen main sebentar, aku lebih memilih rebahan dengan HP ku. Aku ada.. tapi tidak benar-benar ada.
Suamiku menatapku dan bicara:
“Anak-anak itu nggak butuh orangtua yang sempurna. Mereka butuh orangtua yang mau berhenti sebentar, menatap mata mereka, dan bilang: ‘Ibu di sini, Nak. Ibu siap dengerin dan ada buat kamu.’”
Aku menunduk. Rasanya ingin menangis 😭
Dari situ aku belajar.
Mindful Parenting ternyata bukan teori ribet. Bukan harus ikut seminar mahal atau punya rumus parenting khusus.
Kadang, itu sesederhana:
✅ Meletakkan HP ketika anak bicara.
✅ Menjawab dengan mata, bukan hanya dengan kata.
✅ Mendengar sampai tuntas, tanpa buru-buru memberi solusi.
✅ Menyadari emosi kita sendiri sebelum menularkannya ke anak.
Itu memang hal kecil. Tapi dampaknya bisa jadi warisan emosi terbesar untuk anak-anak kita kelak.
Jadi buat para orangtua di luar sana..
Mungkin anakmu nggak akan selalu ingat mainan apa yang kita belikan, atau sekolah mahal apa yang kita pilihkan.
Tapi dia pasti akan ingat..
Apakah kamu benar-benar hadir saat dia butuh. Karena bagi anak, kehadiranmu yang penuh itulah hadiah terbesarnya.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
SELF SABOTAGE & PERFEKSIONISME 🫠
oleh: Francesca Tju
Pernah gak sih ngerasa gini:
"Sebenernya aku bisa. Tapi kok malah ragu, overthinking, ngulur-ngulur waktu... ujungnya gak jadi apa-apa."
Padahal kamu dikenal cerdas, bisa diandalkan, multitasking jagoan. Kenapa ini bisa kejadian?
Ini namanya Self-Sabotage
Saat Kamu Takut Gagal, Padahal Potensimu Besar. (Emosi fear yg ngeblock begitu besar).
Ini bukan soal malas. Bukan juga karena gak kompeten. Banyak orang hebat justru stuck karena 1 hal: takut gagal.😱
Mereka udah capek banget jadi 'andalan' semua org. Jadi mereka taruh beban tinggi ke diri sendiri:
“Aku gak boleh gagal. Harus sempurna.”🫠
Padahal capekkkk..
Dari sudut pandang psikolog klinis, ini bisa disebut:
'Maladaptive perfectionism' + fear of failure.
Artinya:
Kamu jadi nunda, gak gerak, bahkan sabotase diri sendiri bukan karena kamu lemah, tapi karena otak kamu lagi mencoba menghindari rasa malu & kecewa.
Standar tinggi sih boleh tapi kalau motor energi penggeraknya Fear, ya akan bikin disfungsi..
Yang bikin makin berat:
Ada inner voice yang bilang:
> Kalau aku gagal, brati aku sucks /loser
> mungkin semua orang bakal kecewa/ nilai aku buruk. Aku gak mau jd beban orang lain.
> Mereka pikir aku jago, tapi gimana kalau ketahuan aku gak sepintar itu?
Dan lain2 ...
Kritik diri yang berlebihan :
Akhirnya kamu lelah secara mental. Energi drop. Semangat hilang. Tapi gak tahu kenapa.🫠
Fenomena self sabotage & perfeksionisme ini sering dialami sama orang yang:
✔️ Dibesarkan dengan standar tinggi
✔️ Sering dapat validasi karena 'berprestasi'
✔️ Jarang diajarkan bahwa gagal itu manusiawi
✔️ Sering terima kritikan atas perilakunya
Akhirnya:
Identitas = Prestasi.
Kalau gagal? Berasa gak berharga.😵 🥹 💔
Perfeksionisme+capek ini bisa disembuhkan.
Tapi bukan dengan maksa diri buat “semangat dong” atau “ayo produktif terus!”
👌 Justru kamu perlu:
Kenali asal mula tekanan ini. Bangun ulang hubunganmu dengan kegagalan. Belajar self-compassion, bukan self-judgment
Langkah awal:
Sadari bahwa kamu sedang ‘berusaha melindungi diri’
Ubah cara bicara ke diri sendiri:
Dari: “Aku gagal = aku buruk”
Jadi: “Aku belajar = aku bertumbuh berproses”
Itu bukan toxic positivity. Tapi fondasi pemulihan.❤️🩹
Self-sabotage bukan bukti kamu lemah. Itu tanda kamu udah terlalu lama menekan luka & ketakutan. Saatnya kasih ruang buat dirimu bernapas dan bertumbuh. Tanpa harus selalu jadi sempurna. Just berproses dalam kehidupan menuju hal yg lebih baik.💝
Kamu gak sendiri.
Amati semua org di sekitarmu...
Banyak dari kita yang keliatan ‘oke’, padahal lagi jungkir balik di dalam.
Ada problemnya sendiri2..
Yuk, kita belajar pulih bareng.
Bukan buat jadi sempurna, tapi buat jadi utuh.🥰
Beresin sabotase diri tuh :
Sadar trigger pemicu, diproses (bisa sendirian atau dg mentor/profesional)!
Setelah pulih emosi sedikit demi sedikit, melangkahlah maju!
Baby step juga nggak papa..
Pelan2 mengembalikan ritme dan pupuk kepercayaan diri perlahan.
Percayalah kalau kamu pribadi unggul, akan mudah adaptasinya.
Dan semua akan baik2 saja💝
RELEASE BEBAN EMOSI + ATUR MINDSET + MELANGKAH = GROWTH↗️
#INISIATIF #TGIF
oleh: Francesca Tju
Pernah gak sih ngerasa gini:
"Sebenernya aku bisa. Tapi kok malah ragu, overthinking, ngulur-ngulur waktu... ujungnya gak jadi apa-apa."
Padahal kamu dikenal cerdas, bisa diandalkan, multitasking jagoan. Kenapa ini bisa kejadian?
Ini namanya Self-Sabotage
Saat Kamu Takut Gagal, Padahal Potensimu Besar. (Emosi fear yg ngeblock begitu besar).
Ini bukan soal malas. Bukan juga karena gak kompeten. Banyak orang hebat justru stuck karena 1 hal: takut gagal.
Mereka udah capek banget jadi 'andalan' semua org. Jadi mereka taruh beban tinggi ke diri sendiri:
“Aku gak boleh gagal. Harus sempurna.”
Padahal capekkkk..
Dari sudut pandang psikolog klinis, ini bisa disebut:
'Maladaptive perfectionism' + fear of failure.
Artinya:
Kamu jadi nunda, gak gerak, bahkan sabotase diri sendiri bukan karena kamu lemah, tapi karena otak kamu lagi mencoba menghindari rasa malu & kecewa.
Standar tinggi sih boleh tapi kalau motor energi penggeraknya Fear, ya akan bikin disfungsi..
Yang bikin makin berat:
Ada inner voice yang bilang:
> Kalau aku gagal, brati aku sucks /loser
> mungkin semua orang bakal kecewa/ nilai aku buruk. Aku gak mau jd beban orang lain.
> Mereka pikir aku jago, tapi gimana kalau ketahuan aku gak sepintar itu?
Dan lain2 ...
Kritik diri yang berlebihan :
Akhirnya kamu lelah secara mental. Energi drop. Semangat hilang. Tapi gak tahu kenapa.
Fenomena self sabotage & perfeksionisme ini sering dialami sama orang yang:
Akhirnya:
Identitas = Prestasi.
Kalau gagal? Berasa gak berharga.
Perfeksionisme+capek ini bisa disembuhkan.
Tapi bukan dengan maksa diri buat “semangat dong” atau “ayo produktif terus!”
Kenali asal mula tekanan ini. Bangun ulang hubunganmu dengan kegagalan. Belajar self-compassion, bukan self-judgment
Langkah awal:
Sadari bahwa kamu sedang ‘berusaha melindungi diri’
Ubah cara bicara ke diri sendiri:
Dari: “Aku gagal = aku buruk”
Jadi: “Aku belajar = aku bertumbuh berproses”
Itu bukan toxic positivity. Tapi fondasi pemulihan.
Self-sabotage bukan bukti kamu lemah. Itu tanda kamu udah terlalu lama menekan luka & ketakutan. Saatnya kasih ruang buat dirimu bernapas dan bertumbuh. Tanpa harus selalu jadi sempurna. Just berproses dalam kehidupan menuju hal yg lebih baik.
Kamu gak sendiri.
Amati semua org di sekitarmu...
Banyak dari kita yang keliatan ‘oke’, padahal lagi jungkir balik di dalam.
Ada problemnya sendiri2..
Yuk, kita belajar pulih bareng.
Bukan buat jadi sempurna, tapi buat jadi utuh.
Beresin sabotase diri tuh :
Sadar trigger pemicu, diproses (bisa sendirian atau dg mentor/profesional)!
Setelah pulih emosi sedikit demi sedikit, melangkahlah maju!
Baby step juga nggak papa..
Pelan2 mengembalikan ritme dan pupuk kepercayaan diri perlahan.
Percayalah kalau kamu pribadi unggul, akan mudah adaptasinya.
Dan semua akan baik2 saja
RELEASE BEBAN EMOSI + ATUR MINDSET + MELANGKAH = GROWTH
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Forwarded from Deni Chan
Ask The Experts
The 7 types of rest.pdf
Kalo ngerasa udah cukup istirahat fisik, tapi masih kerasa cape, berarti ada tipe istirahat lain yg belum tertunaikan (katanya nir eyal pengarang buku best seller - hooked)
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan Sukses kepada Tim Bulutangkis BPJS Kesehatan Kk @rida_r2 (Cikarang), @Deadamara (Sidoarjo), Andika (Sekban), Yudi, Fhares (Sekban), @ridhokp (Depok), dkk yang berhasil keluar sebagai Juara 1, 2, dan 3 pada kegiatan Quicky Badminton (Kompetisi untuk Client dan Hotel Partnert) di Jakarta yang diselenggarakan oleh TD Corporation🏆
#COMMIT #CommunityOfInterest
Selamat dan Sukses kepada Tim Bulutangkis BPJS Kesehatan Kk @rida_r2 (Cikarang), @Deadamara (Sidoarjo), Andika (Sekban), Yudi, Fhares (Sekban), @ridhokp (Depok), dkk yang berhasil keluar sebagai Juara 1, 2, dan 3 pada kegiatan Quicky Badminton (Kompetisi untuk Client dan Hotel Partnert) di Jakarta yang diselenggarakan oleh TD Corporation
Btw, dari puluhan COMMIT di BPJS Kesehatan, Sobat ATE udah pada join di COMMIT mana aja? Silakan disesuaikan dengan hobi masing-masing🤝
#COMMIT #CommunityOfInterest
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Ketika Introvert membuka percakapan, singkat, padat, dan dari mana pak? 🗿
Padahal dipikiran awal Wabup, 3 orang ini akan saya beri apresiasi dan angkat jadi pimpinan untuk mengganti bosnya yang malas, sebelum semuanya buyar karena tiba-tiba Rusdi membuat Blunder di menit-menit akhir😂
#weekend
Padahal dipikiran awal Wabup, 3 orang ini akan saya beri apresiasi dan angkat jadi pimpinan untuk mengganti bosnya yang malas, sebelum semuanya buyar karena tiba-tiba Rusdi membuat Blunder di menit-menit akhir
Jangan sampai kasus ini kejadian di rekan2 Sobat ATE selindo yah, upayakan udah hafal dan tahu nama-nama dan wajah pimpinan kita dari Dewas, Direksi, dan Senior Leaders di BPJS Kes🇮🇩
#weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GROWTH MINDSET 🧠
Pernah nggak lo lihat CV yang bikin lo pengen banget ketemu orangnya?
Bukan karena IPK tinggi, bukan juga karena daftar prestasinya panjang…
tapi ada satu hal kecil yang bikin gue mikir: "Wah, ini orang beda."
Beberapa waktu lalu, gue lagi screening CV buat posisi entry level. Di antara tumpukan dokumen yang mirip-mirip, mata gue kejebak di satu CV. Bukan desainnya yang keren, tapi ada satu bagian yang jarang banget gue lihat:
"Hal yang Sedang Saya Pelajari."
Pas dia datang interview, gue nggak tahan buat nanya,
"Kenapa lo tulis ini?"
Dia jawab dengan santai tapi mantap:
"Biar orang tahu saya selalu berkembang, bahkan kalau lagi nggak kerja sekalipun."
Gue langsung terdiam sebentar. Mindset ini jarang banget gue temuin, apalagi di fresh graduate. Banyak orang cuma pamer apa yang udah mereka bisa, tapi dia berani nunjukin bahwa proses belajarnya masih berjalan.
Yang bikin gue makin respect, dia nggak cuma nulis teori.
Dia bawa bukti: sertifikat kursus online, project kecil yang lagi dia kerjain, sampai catatan belajar yang dia bikin sendiri. Di situ gue sadar, inilah tipe kandidat yang nggak perlu disuruh baru mau berkembang.
Di dunia kerja, skill itu penting. Tapi growth mindset? Itu emas. HR selalu nyari orang yang mau belajar tanpa disuruh, karena dunia kerja berubah cepat, dan cuma mereka yang adaptif yang bisa bertahan. Bayangin kalau growth mindset lo kebaca sama HR bahkan sebelum lo dipanggil interview. Itu bisa jadi pembeda di tumpukan ratusan CV yang mirip-mirip.
Bikin recruiter penasaran bahkan sebelum ketemu lo.
#INISIATIF
Pernah nggak lo lihat CV yang bikin lo pengen banget ketemu orangnya?
Bukan karena IPK tinggi, bukan juga karena daftar prestasinya panjang…
tapi ada satu hal kecil yang bikin gue mikir: "Wah, ini orang beda."
Beberapa waktu lalu, gue lagi screening CV buat posisi entry level. Di antara tumpukan dokumen yang mirip-mirip, mata gue kejebak di satu CV. Bukan desainnya yang keren, tapi ada satu bagian yang jarang banget gue lihat:
"Hal yang Sedang Saya Pelajari."
Pas dia datang interview, gue nggak tahan buat nanya,
"Kenapa lo tulis ini?"
Dia jawab dengan santai tapi mantap:
"Biar orang tahu saya selalu berkembang, bahkan kalau lagi nggak kerja sekalipun."
Gue langsung terdiam sebentar. Mindset ini jarang banget gue temuin, apalagi di fresh graduate. Banyak orang cuma pamer apa yang udah mereka bisa, tapi dia berani nunjukin bahwa proses belajarnya masih berjalan.
Yang bikin gue makin respect, dia nggak cuma nulis teori.
Dia bawa bukti: sertifikat kursus online, project kecil yang lagi dia kerjain, sampai catatan belajar yang dia bikin sendiri. Di situ gue sadar, inilah tipe kandidat yang nggak perlu disuruh baru mau berkembang.
Di dunia kerja, skill itu penting. Tapi growth mindset? Itu emas. HR selalu nyari orang yang mau belajar tanpa disuruh, karena dunia kerja berubah cepat, dan cuma mereka yang adaptif yang bisa bertahan. Bayangin kalau growth mindset lo kebaca sama HR bahkan sebelum lo dipanggil interview. Itu bisa jadi pembeda di tumpukan ratusan CV yang mirip-mirip.
Bikin recruiter penasaran bahkan sebelum ketemu lo.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👏2
INFO PODIUM 🔥
Selamat dan sukses kepada Kk @dayatpasau (Halreg) yang keluar sebagai Juara 1 di Open Tournament WTC CUP 2 Kategori Exec Fighter🏓
#COMMIT #CommunityOfInterest
Selamat dan sukses kepada Kk @dayatpasau (Halreg) yang keluar sebagai Juara 1 di Open Tournament WTC CUP 2 Kategori Exec Fighter
#COMMIT #CommunityOfInterest
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥4
RUMAH 🏠
Oleh: Junaidi Karo karo
Teman-teman di tongkrongan sering bilang kalau gue ini cowok paling sabar sedunia.
Padahal, Bro… rasa sabar gue itu cuma karena gue udah nikah.
Kalau lo udah nikah, lo pasti ngerti satu pelajaran penting yang enggak pernah diajarin di sekolah:
kalau istri lagi PMS, dia bisa berubah jadi singa betina.
Jangankan National Geographic, Discovery Channel pun belum sanggup dokumentasiin spesies ini.
Makanya, gue udah enggak kaget lagi kalau:
- Baru rebahan 7 detik, tiba-tiba disuruh buang sampah.
- Lagi makan, sendok masih nyangkut di mulut, disuruh mindahin pot bunga.
- Tidur enak jam 2 pagi, dibangunin cuma buat dengerin dia bilang, “Pintu depan udah dikunci belum ya…?”
Kadang gue dimarahin cuma gara-gara gelas di meja miring 3 derajat dari sumbu bumi.
Atau lipatan handuk gue dianggap aib keluarga karena bentuknya mirip amplop tagihan listrik yang udah jatuh tempo.
Yang bikin gue heran tuh… rumah gue bukan Istana Negara, tapi SOP kerapihannya kayak mau sidang PBB.
Dan yang paling serem tuh… kalau dia ngomel sambil jalan ke arah gue pelan-pelan.
Itu vibe-nya kayak film horor—lo tau dia marah, tapi lo enggak tau kapan nyawa lo dicabut.
Beda tipis sama adegan setan ngesot, cuma ini sambil bawa spatula.
Makanya, gue sadar… daripada ngelawan, mending nurut.
Soalnya kalau gue ngeyel, di grup WA keluarga nanti namanya bisa jadi “suami keras kepala” — dan itu akan jadi legenda keluarga sampai tujuh turunan.🤣 🤣
Jadi sekarang, prinsip gue cuma satu:
Kalau dia ngomel, gue angguk.
Kalau dia nyuruh, gue gerak.
Kalau dia bilang, “Aku enggak marah kok…”, gue siap-siap tidur di sofa.
Tapi semua itu… Bro, kecil.
Keciiil banget dibanding satu hal: dia dua kali taruh nyawanya di ujung demi ngasih gue gelar Bapak.
Gue masih ingat, pas lahiran anak pertama…
gue berdiri di sampingnya, megang tangannya erat.
Rasanya gue cuma penonton di pertarungan hidup-matinya.
Lahiran anak kedua, gue baru benar-benar sadar:
ternyata cinta itu bukan cuma soal “aku sayang kamu,”
tapi juga soal “aku rela sakit demi kamu punya dunia yang lengkap.”
Makanya sekarang…
Kalau dia ngomel, gue dengerin.
Kalau dia nyuruh, gue kerjain.
Bukan karena gue takut, tapi karena gue tahu…
perempuan itu adalah rumah paling aman yang gue punya di dunia ini.
Dan rumah itu… gue enggak mau kehilangan.❤️
#INISIATIF
Oleh: Junaidi Karo karo
Teman-teman di tongkrongan sering bilang kalau gue ini cowok paling sabar sedunia.
Padahal, Bro… rasa sabar gue itu cuma karena gue udah nikah.
Kalau lo udah nikah, lo pasti ngerti satu pelajaran penting yang enggak pernah diajarin di sekolah:
kalau istri lagi PMS, dia bisa berubah jadi singa betina.
Jangankan National Geographic, Discovery Channel pun belum sanggup dokumentasiin spesies ini.
Makanya, gue udah enggak kaget lagi kalau:
- Baru rebahan 7 detik, tiba-tiba disuruh buang sampah.
- Lagi makan, sendok masih nyangkut di mulut, disuruh mindahin pot bunga.
- Tidur enak jam 2 pagi, dibangunin cuma buat dengerin dia bilang, “Pintu depan udah dikunci belum ya…?”
Kadang gue dimarahin cuma gara-gara gelas di meja miring 3 derajat dari sumbu bumi.
Atau lipatan handuk gue dianggap aib keluarga karena bentuknya mirip amplop tagihan listrik yang udah jatuh tempo.
Yang bikin gue heran tuh… rumah gue bukan Istana Negara, tapi SOP kerapihannya kayak mau sidang PBB.
Dan yang paling serem tuh… kalau dia ngomel sambil jalan ke arah gue pelan-pelan.
Itu vibe-nya kayak film horor—lo tau dia marah, tapi lo enggak tau kapan nyawa lo dicabut.
Beda tipis sama adegan setan ngesot, cuma ini sambil bawa spatula.
Makanya, gue sadar… daripada ngelawan, mending nurut.
Soalnya kalau gue ngeyel, di grup WA keluarga nanti namanya bisa jadi “suami keras kepala” — dan itu akan jadi legenda keluarga sampai tujuh turunan.
Jadi sekarang, prinsip gue cuma satu:
Kalau dia ngomel, gue angguk.
Kalau dia nyuruh, gue gerak.
Kalau dia bilang, “Aku enggak marah kok…”, gue siap-siap tidur di sofa.
Tapi semua itu… Bro, kecil.
Keciiil banget dibanding satu hal: dia dua kali taruh nyawanya di ujung demi ngasih gue gelar Bapak.
Gue masih ingat, pas lahiran anak pertama…
gue berdiri di sampingnya, megang tangannya erat.
Rasanya gue cuma penonton di pertarungan hidup-matinya.
Lahiran anak kedua, gue baru benar-benar sadar:
ternyata cinta itu bukan cuma soal “aku sayang kamu,”
tapi juga soal “aku rela sakit demi kamu punya dunia yang lengkap.”
Makanya sekarang…
Kalau dia ngomel, gue dengerin.
Kalau dia nyuruh, gue kerjain.
Bukan karena gue takut, tapi karena gue tahu…
perempuan itu adalah rumah paling aman yang gue punya di dunia ini.
Dan rumah itu… gue enggak mau kehilangan.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2❤1