Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
FINALIS 1👏

Selamat datang di Babak Final Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Dua tim terbaik akhirnya berhasil lolos dan kini siap adu cepat, dan adu strategi menuju tangga juara 🔥

Yuk kita kenalan dengan Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare yang anggotanya terdiri dari:

Kk Dewi Purnamasakty @Deways (PATT Komsek)
Kk Gabrillyanilam @Gabrillyanilam (PATT EP3RS)
Kk Resti Alfina Safar @restisafar (PATT SDM dan Umum)
Kk Andi Indah Fajrina @andin20 (PATT Frontliner)

Tim manakah yang akan berhasil membawa pulang gelar JUARA? Jangan lupa kasih semangat buat Tim jagoan kalian! 💪🔥

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
FINALIS 2👏

Selamat datang di Babak Final Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Dua tim terbaik akhirnya berhasil lolos dan kini siap adu cerdas dan adu strategi menuju tangga juara🔥

Yuk kita kenalan dengan Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI yang anggotanya terdiri dari:

Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

Tim manakah yang akan berhasil membawa pulang gelar JUARA? Jangan lupa kasih semangat buat Tim jagoan kalian! 💪🔥

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
"Kobra vs Gajah: Ketika Si Kecil Menantang Raksasa" 🐍🐘

oleh: Doni M

Pernah kepikiran nggak, gimana jadinya kalau seekor kobra pengen sok jagoan dan nyoba gigit gajah? Kayak cerita duel nggak masuk akal macam anak kos yang nyamperin debt collector cuma modal mie rebus mentah. Tapi lucunya, pertanyaan ini sering muncul: “Bisa nggak sih kobra bunuh gajah pakai bisanya?” Dan jawabannya... nggak sesederhana itu, cuy. Emang sih, bisa kobra tuh tergolong mematikan, tapi sayangnya taringnya itu... ya, kecil. Banget.

Taring kobra itu cuma sekitar 0,5 inci alias 1,27 cm. Ibaratnya, kayak jarum pentul yang lagi iseng. Sementara kulit gajah? Wah, itu udah kayak pakai jaket baja versi alami ketebalannya bisa 1,5 inci alias 3,8 cm. Apalagi di bagian kaki, punggung, atau kuping belakang itu zona tahan banting. Jadi, walaupun racunnya top-tier, senjatanya nggak cukup buat nembus armor alami gajah. Kayak punya racun sekelas Thanos, tapi dilempar pakai sendok plastik.

Nah, gimana kalau nyerang bagian yang lebih lembek? Misalnya belalai atau sekitar mata? Bisa aja sih, tapi itu kayak kamu naik sepeda terus nyoba colok AC di plafon rumah susah, bro. Posisi gajah yang tinggi, plus refleksnya yang cekatan, bikin kemungkinan suksesnya kecil banget. Belum lagi, gajah tuh punya “alarm sosial”. Begitu ada yang mencurigakan, satu teriak, yang lain siap pasang badan. Jadi si kobra kecil ini nggak cuma harus akurat, tapi juga punya nyali dan hoki luar biasa.

Cerita ini ngajarin kita satu hal penting: nggak semua yang punya kekuatan bisa menang. Kadang, bukan soal siapa yang paling berbisa, tapi siapa yang paling tahu batas dirinya. Kobra bisa mematikan, tapi bukan berarti cocok ngelawan segede gajah. Sama kayak kita kita semua punya potensi, tapi butuh kebijaksanaan untuk tahu kapan harus melangkah, dan kapan cukup menepi. Kadang, menang bukan berarti menaklukkan... tapi tahu diri dan memilih tempat berjuang yang tepat.

“Tuhan menciptakan semua makhluk dengan kelebihan dan keterbatasan. Dan dalam hidup, bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling bijak menaruh tenaganya. Sebab kekuatan sejati bukan pada serangan... tapi pada kendali.”

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
JUDI ONLINE = PIKIRAN TIDAK WARAS 💰

sumber: kumparan

Seorang pegawai BPS Halmahera Timur, Aditya Hanafi (27), menghabisi rekan kerjanya, Karya Listyanti Pertiwi alias Tiwi (30), yang dikenal sebagai Statistisi Ahli Pertama dan pernah meraih predikat “employee of the month” pada September 2024. Peristiwa bermula ketika Aditya meminjam uang untuk membayar utang dan "bertaruh daring" alias Judi Online, namun Tiwi menolak.

Tambahan referensi dari keluarga korban:
https://www.instagram.com/s/aGlnaGxpZ2h0OjE3ODU1OTgxMzU1NDM0NjE2?igsh=MWQ3bnl6ZzRkc3hnNw==

Kamu masih melihat ada rekan/keluargamu yang bermain Judol? Doakan semoga Doi segera bertobat


#Judol #Pinjol
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔤🔤🔤🔤🔤 🏆

Dari ratusan tim peserta, hanya ada satu yang akan jadi Juara 🏆🇲🇨


Jadwal:
3rd Place: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.00 WIB)
Final: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.30 WIB)

Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare:
Kk Dewi Purnamasakty @Deways (PATT Komsek)
Kk Gabrillyanilam @Gabrillyanilam (PATT EP3RS)
Kk Resti Alfina Safar @restisafar (PATT SDM dan Umum)
Kk Andi Indah Fajrina @andin20 (PATT Frontliner)

Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI:
Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2
MENGENANG OSPEK DAN BETAPA BANYAK HAL-HAL BAIK YANG HILANG 😢

oleh: Yusran Darmawan

Ospek bukan cuma panggung ego. Ada kreativitas yang mekar: merancang acara, membagi tugas, mengelola dana seadanya. Demi merancang gambar dan kata-kata baliho, butuh rapat berhari-hari.

Ospek juga menjadi panggung penuh kreasi. Mahasiswa Fakultas Sastra selalu membuka Ospek dengan panggung sederhana yang terasa seperti showbiz: tata panggung seadanya, tapi magisnya nyata.

Di ajang Ospek, mahasiswa belajar leadership, memecahkan masalah, sampai menghadapi situasi yang berubah, bahkan krisis terparah pun sudah dipetakan. Saya ingat, di FISIP, kami punya prosedur evakuasi saat tawuran pecah.
💪


Dulu, menjelang ospek, kampus seperti dunia lain. Gedung-gedung seakan mengenakan topeng Halloween. Mahasiswa Fakultas Teknik memamerkan El Santa Muerte, sang dewa kematian bertudung hitam, memegang arit, dan menatap dengan mata kosong yang tak pernah berkedip.

Mahasiswa FISIP malah nyeleneh. Balihonya menampilkan seekor ayam berkostum Superman, lengkap dengan celana dalam merah dan logo “S” (singkatan Sospol) di dadanya, lalu tertera tulisan Moral Force in Struggle.

Baca selengkapnya di sini

ICE CREAM
(
I
nisiatif
C
ulture
E
vent -
C
oaching for
R
esult,
E
ngagement &
M
indset)
🇲🇨


#INISIATIF #ICECREAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
KAPAN KELARNYA, NIH? 👀

oleh: Budiman Hakim

Waktu SD, gue pernah disuruh nyanyi di depan kelas. Jantung langsung deg-degan. Keringat dingin berebutan keluar menerobos pori2. Yang gue pikirin cuma satu: cepet kelar. Jadi gue nyanyi secepat kilat, asal bunyi, lalu lari balik ke bangku dengan napas lega. Bukan karena puas, tapi karena siksaan tuntas.

Di SMA, waktu pelajaran olahraga, disuruh push-up. Gue langsung gas, buru-buru ngitung 1 sampe 10, supaya cepet beres. Begitu selesai? Lega bukan main. Bukan karena tubuh bugar tapi karena tugas udah kelar.

Begitu udah dewasa, masalah yang muncul tetap sama. Misalnya harus presentasi. Ketemu klien ga betah lama2. Pengennya cepet-cepet balik kantor.

Momen acara apapun, ga ada bedanya. Setiap kali hadir di acara pengajian atau pesta keluarga, gue bolak-balik liat jam, cuma nunggu momen yang tepat buat cabut. Seperti biasa bibir memposisikan dirinya jadi kompor, "Kapan kelarnya, nih?"

Belakangan, baru gue menyadari… ternyata cara gue menyikapi hidup itu keliru. Gue jadi gak menikmati apa-apa. Semua momen gue anggap sebagai rintangan yang harus dilewati. Semua hal hanya tentang: Kapan kelarnya, nih?


Padahal, bukankah hidup adalah kumpulan dari momen-momen kecil itu?

Otak kita punya sistem “reward” yang ngasih dopamin setiap kali tugas selesai. Makanya, kita gampang ketagihan saat rasa lega datang. Tapi kalau yang dikejar cuma momen selesai, otak kita jadi terbiasa untuk melewati hidup dengan mode “skip intro” terus-menerus. Yang kebuang? Ya momen-momen yang sebenernya bisa dinikmati.

Sejak memiliki pemahaman itu, tombol 'enjoy' di otak gue nyalakan. Jadi setiap kali didaulat nyanyi, ya gue nyanyi aja. Menikmati suara sendiri. Meresapi deg-degannya. Kalo perlu pake gaya seakan lagi di panggung Broadway. Kita konversikan tawa hinaan teman-teman sebagai standing ovation.

Kalau lagi ngegym dan disuruh push-up, ya jalanin aja. Lakukan pelan2 dan usahakan bersinergi dengan tarikan napas dan gejolak aliran darah dalam tubuh. Nikmati pegalnya, capeknya, ngos-ngosannya. Setelah selesai, tanya ke PT-nya, "Udah, nih? Gini doang?"

Sama klien gitu juga. Kadang gue sempetin WA mereka, meskipun lagi gak ada kerjaan. Pesennya juga sepele banget, "Pak, ada coffee shop baru di Citos. Keliatannya seru. Cobain yuk?"

Intinya adalah nikmati setiap momen, kapan pun itu, apa pun itu, di mana pun itu.
🥰


Kalau lagi ke luar rumah, coba lempar senyum ke orang2 yang kebetulan berpapasan. Kalau lagi terjebak di kemacetan, coba liat sekeliling. Biasanya ada aja hal2 kecil yang kita temukan tapi, tanpa diduga, memberi manfaat di hari berikutnya.

Jangan semua-mua ditanya, "Kapan kelarnya, nih?" Itu indikasi bahwa kita bukan orang yang pintar menikmati hidup. Hati2! Kalo kita selalu bertanya 'kapan kelarnya, nih?'… bisa-bisa hidup kita juga kelarnya cepet banget.

ICE CREAM : Inisiatif Culture Event ~ Coaching for Result, Engagement & Mindset
📊


#INISIATIF #ICECREAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
💯2
Gara-Gara Ngelirik di Lampu Merah, Gue Jadi Tersangka Istri !! 🫣

Oleh: Junaidi Karo Karo

Begini Ceritanya Bro…
Gue sama istri lagi Jemput Anak sekolah,
Awalnya aman.
Mobil melaju, radio nyetel lagu-lagu 90-an, kita nikmati bareng-bareng lagunya...

Tiba-tiba…
Istri gue diem.
Bukan diem santai, tapi diem yang hawanya dingin kayak masuk kulkas.

Gue coba ngobrol, “Mau mampir beli kopi?”
Dia cuma geleng.

Oke, aneh. Gue tes lagi:
“Mau ke supermarket bentar?” → Geleng.
“Laper nggak?” → Geleng.

Ini udah tanda bahaya.
Buat pria, gelengan kepala itu cuma tanda nggak mau.
Buat wanita, gelengan kepala bisa artinya banyak hal, salah satunya: Gue kesel, tebak sendiri kenapa.

Di kepala gue mulai ada rapat darurat:
– Tadi pagi gue nyuci piring?
– Bawa belanjaan ke dapur?
– Ngucapin “makasih” waktu dia bikinin kopi?
– Salah manggil nama? (Aman, nggak kejadian.)

Tapi mukanya tetep datar.
Tangannya udah nyilang di dada.
Itu posisi default sebelum sidang dimulai.

Gue tanya pelan, “Kenapa sih?”
Dia jawab, “Nggak.”

Nah ini… “nggak” versi pria = selesai.
“nggak” versi wanita = permainan baru dimulai.

Sepuluh menit gue nyetir dalam suasana kayak lagi bawa bom aktif.
Akhirnya, menjelang lampu merah berikutnya, dia buang napas panjang…
Terus nyeletuk, “Ya udahlah.”

Hati gue makin nggak tenang.
Ya udahlah versi pria = masalah kelar.
Ya udahlah versi wanita = babak baru baru saja dimulai.

Dan bener aja, begitu mobil berhenti di depan rumah, dia bilang pelan tapi jelas:
“Tadi di lampu merah, aku lihat kamu ngelirik cewek nyebrang.”

DALAM HATI: Astaga… jadi ini.

Bro… itu cewek nyebrang persis di depan mobil.
Masa gue harus merem?
Itu refleks, bukan niat.
Tapi gue paham, ini bukan tentang ceweknya.
Ini tentang proses.
Proses dia bikin gue kebingungan, mikir keras, dan nunggu gue menjelaskan dengan wajah panik.

Gue tarik napas pelan.
Ini momen yang nggak bisa diulang.
Salah jawab, tamat.

Dia duduk tegak, mata tajam kayak sniper kunci target.
Gue nggak bisa jawab terlalu cepat, nanti dibilang “Ah, udah disiapin jawabannya.”
Nggak bisa juga kelamaan, nanti dia bilang, “Lama mikirnya, berarti bohong.”

Gue atur ritme.
Lambat. Tenang. Padahal di dada udah kayak drum band 17-an.

Gue mulai, “Kamu tau nggak…”
Berhenti sebentar, pura-pura cari kata.
“… pas aku lihat dia nyebrang, yang aku pikirin cuma satu hal.”

Dia majuin dagu sedikit. “Apa?”

Gue tahan napas, liat matanya dalam-dalam, terus bilang:
“Apakah… ada orang di dunia ini… yang bisa nyebrang… lebih elegan… dari kamu?”

Diam.
Sepi.
Heningnya sampai gue bisa dengar suara motor lewat di luar.

Tiga detik.
Tiga detik yang rasanya kayak tiga tahun masa percobaan.

Akhirnya… ujung bibirnya naik. Senyum tipis.
Senyum yang di dunia pria artinya “selamat”.
Tapi di dunia wanita artinya: “Selamat… untuk sekarang.”

Gue tahu, kasus ini nggak ditutup.
Cuma ditunda sidangnya.
Sampai ada cewek lain nyebrang… atau sampai dia liat gue ngelirik spion Mobil.

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
⌨️⌨️⌨️⌨️⌨️ 4️⃣ 🔥

Tim Stecu Stecu dari Kedeputian Bidang PKP yang anggotanya terdiri dari:

Bapak Rudhy SH @rudhysh (Asdep PKP PPU)
Ibu Upik Handayani @upikhandayani (Asdep PKP Non PPU)
Ibu Sherly Afrina Lola @SherlyAfrinaLola (Analis PKP Non PPU Muda)
Kk Fanny Wr @fannywr29 (Analis PKP PPU Pratama)

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
⌨️⌨️⌨️⌨️⌨️ 3️⃣ 🔥

Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI yang anggotanya terdiri dari:

Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
⌨️⌨️⌨️⌨️⌨️ 2️⃣🔥

THE ULTIMATE TEAM HAS ARRIVED!

Dari ratusan tim, akhirnya terpilih Tim The Best of The Best! Selamat untuk 3 besar jawara Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan 🇲🇨

Kalian bukan cuma juara di skor, tapi juga di semangat & kebersamaan! Semoga energi positif ini nular terus ke kerja sehari-hari ya! 🚀

Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare yang anggotanya terdiri dari:

Kk Dewi Purnamasakty @Deways (PATT Komsek)
Kk Gabrillyanilam @Gabrillyanilam (PATT EP3RS)
Kk Resti Alfina Safar @restisafar (PATT SDM dan Umum)
Kk Andi Indah Fajrina @andin20 (PATT Frontliner)

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
5 PRINSIP BELAJAR ✍️

oleh: Andrew Tjahjadi


Ada seorang teman.
Ambisinya besar, semangatnya luar biasa.

Dalam 1 tahun dia beli lebih dari 30 kursus online.

Topiknya macam-macam: bisnis, investasi, desain, copywriting, trading, bahasa asing.

Tujuannya sederhana:
“Gue mau upgrade diri. Gue mau hidup lebih baik dari sekarang.”

Tapi setelah 2 tahun… hasilnya tragis.

Bayangin ini:
Laptopnya penuh folder kursus.

Puluhan jam video sudah ditonton.
Catatan sampai ratusan halaman.

Tapi tiap kali ditanya:
“Lo sekarang jago di bidang apa?”

Dia hanya terdiam.
Tidak ada satu pun skill yang benar-benar matang.
Tidak ada satu pun hasil nyata.

Hidupnya jadi roller coaster.
Hari ini semangat jadi trader.
Besok pindah ke desain grafis.
Minggu depan ikutan seminar properti.

Keluarganya bingung.
Istrinya bilang: “Kenapa kita nggak pernah lihat hasilnya, padahal kamu belajar terus?”

Dan dari matanya gue bisa lihat.
Itu bukan mata orang yang berkembang.

Itu mata orang yang kelelahan.

Masalahnya bukan karena dia bodoh.
Bukan karena dia malas.

Tapi karena dia tidak tahu cara manusia sebenarnya belajar.

Kita semua sering begitu.
Ikut banyak kelas, semangat di awal, lalu drop di tengah.

Karena belajar tanpa arah bukan membangun skill.
Itu hanya numpuk informasi.

Setelah gue pelajari, jawabannya sederhana.

Ada 5 prinsip belajar cepat yang hampir semua orang abaikan.

Dan inilah alasan kenapa banyak orang gagal walau sudah keluar uang, tenaga, dan waktu.

🔥 Prinsip #1: Sequencing
Ilmu harus berurutan.
Kalau salah urutan hasilnya kacau.

Belajar iklan tanpa ngerti copywriting dasar itu seperti bangun lantai 10 padahal fondasinya bolong.

🔥 Prinsip #2: Scaffolding
Di awal, manusia butuh roda bantu.

Kalau langsung dilepas, 90% pasti jatuh. Makanya perlu template, checklist, contoh nyata.

Itu bukan kemewahan, itu penyelamat.

🔥 Prinsip #3: Feedback Loops
Formula belajar cepat:
Belajar → Coba → Feedback → Perbaiki → Ulang.

Masalahnya banyak orang berhenti setelah gagal pertama.
Padahal gagal adalah tiket untuk naik level berikutnya.

🔥 Prinsip #4: Active Learning
Lo bisa baca 100 buku.
Lo bisa ikut 50 webinar.

Tapi tanpa praktek hasilnya nol.

Pegang aturan ini:
👉 80% jadi = 100% cukup.
Kalau sudah 80%, langsung jalan.
Sisanya bisa diperbaiki sambil jalan.

🔥 Prinsip #5: Motivational Design
Belajar itu perjalanan panjang.
Otak manusia gampang nyerah.

Tanpa milestone, reward, dan sistem pengingat,
orang pasti berhenti di tengah.

Bukan karena lemah.
Tapi karena memang motivasi manusia terbatas.

Teman gue tadi masih terus belajar.
Tapi kali ini dengan 5 prinsip ini.

Hasilnya beda.
Pelan-pelan skillnya dipakai untuk kerja nyata.
Bukan lagi sekadar koleksi catatan.

Kisah dia jadi pengingat buat gue dan mungkin buat lo juga.

Belajar tanpa arah bisa bikin hidup berantakan.

Bisa bikin keluarga ikut sengsara.
Bisa bikin waktu bertahun-tahun terbuang percuma.

Tapi kalau ngerti cara belajar yang benar, satu skill saja bisa jadi fondasi masa depan.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
SIPALING JITU 🎯

Polling tebak jitu 3 tim Juara Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!

Ada 2 (dua) orang TERBAIK yang kembali berhasil nebak 3 tim dengan presisi 100%! Selamat kepada Kk Arian Fani Arora @Penot87 (Kabag Yanser KC Serang) dan Kk Mochamad Rakha Swardhana @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi)😎

Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025 🇲🇨

#TebakTebakSeru
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
KEDERMAWANAN TANPA SUARA 🙏

oleh: Satria Dharma

Pernah dengar nama Humphrey Bogart? Mungkin tidak karena meski pun ia sangat terkenal tapi ia orang lawas.

Humphrey DeForest Bogart, yang dijuluki Bogie, adalah seorang aktor Amerika zaman lawas dan sudah lama meninggal, bahkan sebelum saya lahir. Penampilannya dalam sinema Hollywood klasik menjadikannya sebagai ikon budaya Amerika. Pada tahun 1999, American Film Institute memilih Bogart sebagai bintang pria terhebat dalam sinema Amerika klasik. Saya sendiri lupa apakah pernah menonton filmnya dulu tapi namanya saya ingat karena sering muncul dan bagi saya namanya unik.

Saya ingin menceritakan sesuatu tentang bintang film terkenal ini.

Selama pembuatan film “To Have and Have Not” pada tahun 1944, sebuah tragedi terjadi yang jarang diketahui orang. Seorang anggota kru lighting menerima panggilan telepon saat istirahat. Istrinya kecelakaan mobil dan meninggal di tempat. Ia langsung pingsan di lahan Warner Bros. Ia dipeluk oleh rekan-rekan kerjanya, sementara mesin produksi terus bergerak. Hanya sedikit yang berhenti sejenak untuk bertanya: apa yang akan terjadi pada kedua anaknya yang masih kecil yang kini kehilangan ibu?

Humphrey Bogart, bintang film tersebut, diam-diam meninggalkan lokasi syuting. Hari itu, tanpa berkata kepada siapa pun, ia menginstruksikan salah seorang asistennya untuk menanggung penuh biaya pemakaman—peti mati, penguburan, transportasi, dan layanan pemakaman istri dari anggota kru lighting tersebut. Ia mengajukan satu permintaan: keluarga tidak boleh tahu bahwa biaya itu berasal darinya. 😎

Malam itu, ia meminta seorang teman casting untuk membantu mencarikan pengasuhan sementara bagi anak-anak yang kehilangan ibu tersebut hingga pengaturan yang lebih permanen dapat dibuat. Ia kembali bekerja keesokan harinya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pemain atau kru yang tahu. Bahkan sutradara Howard Hawks pun tidak.

Namun sesuatu yang luar biasa terjadi di tahun-tahun berikutnya: setiap bulan, sebuah cek anonim tiba di rumah kru lighting tersebut. Cukup untuk menutupi sembako, pakaian, buku sekolah—dan bahkan, biaya kuliah. Sumbernya? Tak terlacak.

Baru setelah teknisi itu meninggal dunia di tahun 70-an, anak-anaknya yang kini sudah dewasa menemukan sepucuk surat terkunci dengan tanda tangan Bogart. Di situ tertulis

“Apa yang kau berikan untuk film ini membantuku bersinar dan terkenal di layar. Apa yang bisa kuberikan kepada keluargamu takkan pernah bisa membalasnya, tapi kuharap itu sedikit meringankan hari-harimu.”

Itu bukan tindakan Bogart satu-satunya. Bertahun-tahun kemudian, seorang mantan akuntan Warner Bros. mengungkapkan bahwa Bogart sering mengirimkan bantuan keuangan secara diam-diam kepada para kru yang sedang kesulitan—selalu dengan kerahasiaan yang ketat. Ia juga diam-diam mendukung staf dan kru grip, pembuat set, asisten, dll membayar tagihan medis, mengatur bantuan, tanpa pernah menginginkan penghargaan.

Bogart ternyata bukan hanya bintang di film-filmnya tapi ia juga menjadi bintang bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. 🙏

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
KESALAHAN TERBESAR ORANG TUA DALAM MENDIDIK ANAKNYA 🤦🤦‍♀️

oleh: Fauziah Tahta

Aku pernah ngobrol sama suamiku..
Topiknya sederhana tapi ternyata dalam banget.

Suamiku nanya:
“Menurutmu, apa kesalahan terbesar orangtua dalam mendidik anaknya?”

Jawabannya bikin aku diem lama.

Aku coba jawab sebisanya..
“Kurang kasih sayang? Atau mungkin terlalu keras?”

Dia cuma tersenyum, lalu bilang:

“Iya itu bisa juga… Tapi ada satu hal yang lebih sering dilakukan, dan tanpa sadar, itu yang paling merusak.”

Aku menatapnya, menunggu dia menjelaskan. Lalu dia melanjutkan,

“...orangtua yang hadir, tapi sebenarnya nggak seutuhnya hadir.”

Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi menusuk.

Suamiku melanjutkan lagi.
“Banyak orangtua merasa sudah hadir karena fisiknya ada di rumah. Padahal pikirannya ada di layar HP, emosinya masih kebawa sama urusan kerja, hatinya lagi jauh entah ke mana.”

Anak mungkin keliatan biasa aja. Tapi jauh di dalam hatinya, dia menyimpan satu pesan yang dia ulang-ulang ke dirinya: ‘Aku nggak cukup penting buat didengarkan.’

Aku tersentak.
Betapa sering kita merasa sudah cukup karena berada di ruangan yang sama dengan anak, padahal perhatian kita tercecer ke banyak hal lain.

“Mindful Parenting itu bukan soal kita jadi orangtua yang sempurna,” katanya.

“Itu soal kita benar-benar hadir—mendengarkan, melihat, dan menerima anak di momen itu.”

“Ketika anak cerita hal sepele, kayak temannya nggak mau main bareng, kadang kita jawab:

‘Ah, gitu aja kok dipikirin.’
Padahal, bagi dia, itu sebesar dunia nya.”

Aku coba nanya, “Jadi mindful parenting itu intinya apa?”

Dia jawab:
“Intinya sederhana: Hadir penuh.
Bukan hadir untuk menggurui, tapi hadir untuk memahami.”

Lalu aku sadar, selama ini banyak momen yang aku lewatkan. Waktu anak pengen cerita panjang lebar, aku sibuk balas chat temen.

Waktu anak pengen main sebentar, aku lebih memilih rebahan dengan HP ku. Aku ada.. tapi tidak benar-benar ada.

Suamiku menatapku dan bicara:
“Anak-anak itu nggak butuh orangtua yang sempurna. Mereka butuh orangtua yang mau berhenti sebentar, menatap mata mereka, dan bilang: ‘Ibu di sini, Nak. Ibu siap dengerin dan ada buat kamu.’”

Aku menunduk. Rasanya ingin menangis 😭

Dari situ aku belajar.
Mindful Parenting ternyata bukan teori ribet. Bukan harus ikut seminar mahal atau punya rumus parenting khusus.

Kadang, itu sesederhana:

Meletakkan HP ketika anak bicara.
Menjawab dengan mata, bukan hanya dengan kata.
Mendengar sampai tuntas, tanpa buru-buru memberi solusi.
Menyadari emosi kita sendiri sebelum menularkannya ke anak.

Itu memang hal kecil. Tapi dampaknya bisa jadi warisan emosi terbesar untuk anak-anak kita kelak.

Jadi buat para orangtua di luar sana..
Mungkin anakmu nggak akan selalu ingat mainan apa yang kita belikan, atau sekolah mahal apa yang kita pilihkan.

Tapi dia pasti akan ingat..
Apakah kamu benar-benar hadir saat dia butuh. Karena bagi anak, kehadiranmu yang penuh itulah hadiah terbesarnya.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM