Ask The Experts
1.81K subscribers
4.73K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Forwarded from Mendi Indriani
Rekap Peserta yang berhasil menebak 4 Polling dan 3 Polling dengan benar sekaligus pada Tebak-Tebak Seru Semifinal Family 100🔥🔥🔥
SIPALING JITU 🎯

Polling tebak jitu 4 tim semifinalis Family 100 di grup Telegram Ask the Experts udah ketok palu. Dan… hasilnya? Luar biasa goks!

1 orang TERBAIK berhasil nebak 4 tim dengan presisi 100%! Ini sih bukan sekadar hoki, tapi instingnya memang terbukti luar biasa. Selamat kepada Kk Anggi Afifi @anggisutan1906 (Staf Promotif Preventif KC Cibinong) 😎

Nggak kalah keren, 5 orang lainnya juga sukses nebak 3 tim dengan tepat. Selamat kepada Kk @yansa501 (PATT Telecolleting KC Tangerang), Kk @suryapratamaaa (PATT EP3RS KC Denpasar), Kk @rakhapkp (PATT Petugas Pemeriksa KC Banyuwangi), Kk @Puzo_Sicillia (Kabag RT CORPU, SDSU), dan Kk @singgih_cpu (Verifikator Klaim KC Semarang) 💯

Masing-masing akan mendapatkan souvenir Kaos/Tote ATE INISIATIF 2025 🇲🇨

#TebakTebakSeru
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👏2
BAD HABITS 🎃

oleh: Iwan Kusworo

Pagi ini saya melanjutkan lagi baca buku ”Atomic Habits” (James Clear) dan sampai pada chapter yang membahas tentang bagaimana menemukan dan mengatasi penyebab kebiasaan buruk (bad habits).

Tanpa kita sadari, kebiasaan yang kita miliki saat ini sebenarnya adalah usaha kita untuk memenuhi kebutuhan dasar kita sebagai manusia dan makhluk hidup.

Motivasi dasar ini meliputi:
1. Conserve energy (menghemat energi)
2. ⁠Obtain food and water (mendapatkan makanan dan air)
3. ⁠Find love and reproduce (mendapatkan pasangan dan berkembang biak)
4. ⁠Connect and bond with others (terhubung dan memiliki ikatan dengan orang lain)
5. ⁠Win social acceptance and approval (mendapatkan pengakuan dan validasi dari masyarakat/orang lain)
6. ⁠Reduce uncertainty (mengurangi ketidakpastian)
7. ⁠Achieve status and prestige (meraih status dan rasa hormat dari orang lain)

Contoh:
- Kebiasaan merokok mungkin didasari atas keinginan untuk mengurangi kecemasan akibat hal-hal yang tidak pasti (uncertainty).
- ⁠Kebiasaan bermain game online mungkin adalah bentuk dari keinginan seseorang untuk mendapatkan status dan dihormati atau dipuji oleh pemain yang lain.
- ⁠Kebiasaan posting di Instagram didasari dari keinginan untuk mendapatkan penerimaan/pengakuan dari orang lain.

Ketika kita menyadari motivasi apa yang mendasari kebiasaan buruk kita tersebut, maka jika kita ingin menghentikan kebiasaan tersebut, kita bisa melakukan reframing dan reprogramming, serta menyadari bahwa ada begitu banyak alternatif lain untuk memenuhi motivasi dasar kita tadi selain kebiasaan buruk yang kita sudah jalani selama ini. Misal: mengganti kebiasaan merokok dengan berolah raga, karena ternyata berolah raga juga bermanfaat dalam mengurangi rasa cemas.

Kebiasaan buruk apa yang ingin Anda coba hentikan saat ini?

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Teknik Hamburger: Cara Efektif Menyampaikan Pesan yang Melekat dan Meyakinkan 🤝

oleh: Ismail Fahmi

Dalam dunia komunikasi — baik itu presentasi, jurnalisme, maupun penanganan krisis — salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana membuat pesan kita dipahami, dipercaya, dan diingat. Salah satu teknik yang sederhana namun sangat efektif untuk itu adalah “Hamburger Technique”.

Apa Itu Teknik Hamburger?

Teknik Hamburger adalah metode menyusun pesan seperti menyusun lapisan dalam sebuah burger: ada awal yang kuat, isi yang meyakinkan, dan penutup yang mengikat semuanya.

Strukturnya terdiri dari:

1. Roti Atas (Opening Statement)
Ini adalah pesan utama Anda — langsung, jelas, dan kuat. Kalimat pertama ini menentukan arah pembicaraan dan menjadi kesan pertama audiens.

2. Isi Burger (Argumen dan Contoh)
Di bagian tengah inilah Anda menjelaskan alasan atau bukti yang mendukung pesan Anda. Di sinilah "sayur, saus, dan patty" masuk — logika, data, cerita nyata, atau analogi yang menyentuh. Ini adalah bagian paling “juicy” dari pesan Anda.

3. Roti Bawah (Penutup / Re-statement)
Anda menutup dengan mengulangi pesan utama, kini dengan konteks yang lebih kuat karena telah diperkuat oleh argumen dan contoh di tengah. Ini memberi kesan utuh dan meyakinkan.

Mengapa Teknik Ini Efektif?

- Struktur membantu pemahaman. Audiens tahu ke mana arah pembicaraan dan tidak tersesat.

- Contoh konkret memperkuat logika. Orang lebih mudah memahami pesan melalui cerita atau gambaran nyata.

- Pengulangan memperkuat daya ingat. Dengan menyatakan pesan dua kali — di awal dan di akhir — audiens lebih mungkin mengingatnya.

Contoh Kasus Sederhana

> Roti Atas (Pesan):
"Kita tidak akan memelihara anjing."

> Isi (Argumen & Cerita):
"Karena kamu bilang akan merawatnya, tapi pasti akhirnya ibu yang harus jalan-jalan sama anjing itu. Lihat temanmu, Alexander. Dia janji akan mengurus kucing, tapi setelah tiga minggu, orang tuanya harus mengembalikannya ke shelter."

> Roti Bawah (Penegasan):
"Karena itu, kita tidak akan memelihara anjing."

Struktur ini sederhana, masuk akal, dan sulit dibantah — karena argumen disampaikan dengan bukti nyata dan ditutup dengan kejelasan.

Aplikasi dalam Komunikasi Krisis

Teknik ini sangat berguna dalam konferensi pers atau wawancara saat krisis:

1. Mulai dengan pesan kunci: "Kami sedang menyelidiki kejadian ini secara menyeluruh."

2. Jelaskan langkah-langkah dan konteks: siapa yang menyelidiki, apa yang sudah ditemukan, dan mengapa ini penting.

3. Tutup dengan penguatan pesan: "Kami berkomitmen penuh untuk mengungkap fakta dan mencegah hal ini terulang."

Dengan cara ini, audiens merasa tenang karena mendapat arah dan informasi, sekaligus diyakinkan oleh sikap terbuka dan struktur yang solid.

Kesimpulan

Teknik Hamburger bukan sekadar trik retoris, melainkan alat berpikir. Ia memaksa kita untuk punya pesan yang jelas, alasan yang kuat, dan cara menyampaikan yang terstruktur. Dalam komunikasi publik, terutama saat krisis, teknik ini membantu menjaga kejelasan, kepercayaan, dan kendali narasi.

Jadi, sebelum berbicara di depan umum atau membuat pernyataan penting, ingatlah satu hal:

Susun pesanmu seperti menyusun hamburger — jelas, berisi, dan menggugah.

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
LO NAIK BUKAN KARENA LO PINTER, TAPI KARENA ORANG PERCAYA LO BISA PEGANG 🤝

oleh: Mafia Kantor

Gak semua orang yang naik jabatan itu paling jago.

Kadang lo ngeliat:

“Ih, dia doang yang naik? Skill-nya biasa aja!”

Tapi satu hal yang dia punya:
Kepercayaan.

Dan di kantor, kepercayaan > kepintaran.

Bos lo gak nyari yang paling detail.
Atau yang paling cepat.
Atau yang paling teknis.

Bos lo nyari:

“Siapa yang bisa gue percaya buat jaga tim ini?”

“Siapa yang bisa gue titip tanggung jawab, dan gak bikin drama?”

Kepercayaan itu bukan soal skill.
Itu soal:

Cara lo komunikasi
Cara lo respon tekanan
Cara lo kelola konflik
Cara lo jaga stabilitas

Bukan cuma bisa. Tapi bisa diandalkan.

Lo bisa kalah di skor teknikal.
Tapi menang di:
• Konsistensi
• Attitude
• Decision-making
• Sabar & steady saat tim panik

Dan orang bakal lebih pilih lo, karena lo keliatan “bisa megang”.

Mulai sekarang, fokus ke hal ini:

➤ Bikin orang nyaman kerja bareng lo
➤ Tunjukin lo bisa kelola sesuatu, bukan cuma ngerjain
➤ Tunjukin lo tahan tekanan tanpa ngeluh
➤ Tunjukin lo ngerti arah, bukan cuma eksekusi

Promosi itu bukan penghargaan atas kepintaran.


Itu tanda:

“Lo udah cukup dipercaya buat bawa sesuatu yang lebih besar.”
🤝


Kalau lo fokus bangun kepercayaan, panggilan naik akan datang bahkan tanpa lo minta.

Bukan soal lo bisa apa. Tapi apakah orang percaya lo bisa pegang apa.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
7
🔤🔤🔤🔤🔤 🏆

Terus Bersatu dan Solid! Mari kita bawa pulang gelar juara Family 100 Tahun 2025 ke unit kerja dengan senyum dan kerja sama! 🇲🇨


3rd Place: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.00 WIB)
Final: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.30 WIB)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
FINALIS 1👏

Selamat datang di Babak Final Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Dua tim terbaik akhirnya berhasil lolos dan kini siap adu cepat, dan adu strategi menuju tangga juara 🔥

Yuk kita kenalan dengan Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare yang anggotanya terdiri dari:

Kk Dewi Purnamasakty @Deways (PATT Komsek)
Kk Gabrillyanilam @Gabrillyanilam (PATT EP3RS)
Kk Resti Alfina Safar @restisafar (PATT SDM dan Umum)
Kk Andi Indah Fajrina @andin20 (PATT Frontliner)

Tim manakah yang akan berhasil membawa pulang gelar JUARA? Jangan lupa kasih semangat buat Tim jagoan kalian! 💪🔥

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
FINALIS 2👏

Selamat datang di Babak Final Family 100 Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Dua tim terbaik akhirnya berhasil lolos dan kini siap adu cerdas dan adu strategi menuju tangga juara🔥

Yuk kita kenalan dengan Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI yang anggotanya terdiri dari:

Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

Tim manakah yang akan berhasil membawa pulang gelar JUARA? Jangan lupa kasih semangat buat Tim jagoan kalian! 💪🔥

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
"Kobra vs Gajah: Ketika Si Kecil Menantang Raksasa" 🐍🐘

oleh: Doni M

Pernah kepikiran nggak, gimana jadinya kalau seekor kobra pengen sok jagoan dan nyoba gigit gajah? Kayak cerita duel nggak masuk akal macam anak kos yang nyamperin debt collector cuma modal mie rebus mentah. Tapi lucunya, pertanyaan ini sering muncul: “Bisa nggak sih kobra bunuh gajah pakai bisanya?” Dan jawabannya... nggak sesederhana itu, cuy. Emang sih, bisa kobra tuh tergolong mematikan, tapi sayangnya taringnya itu... ya, kecil. Banget.

Taring kobra itu cuma sekitar 0,5 inci alias 1,27 cm. Ibaratnya, kayak jarum pentul yang lagi iseng. Sementara kulit gajah? Wah, itu udah kayak pakai jaket baja versi alami ketebalannya bisa 1,5 inci alias 3,8 cm. Apalagi di bagian kaki, punggung, atau kuping belakang itu zona tahan banting. Jadi, walaupun racunnya top-tier, senjatanya nggak cukup buat nembus armor alami gajah. Kayak punya racun sekelas Thanos, tapi dilempar pakai sendok plastik.

Nah, gimana kalau nyerang bagian yang lebih lembek? Misalnya belalai atau sekitar mata? Bisa aja sih, tapi itu kayak kamu naik sepeda terus nyoba colok AC di plafon rumah susah, bro. Posisi gajah yang tinggi, plus refleksnya yang cekatan, bikin kemungkinan suksesnya kecil banget. Belum lagi, gajah tuh punya “alarm sosial”. Begitu ada yang mencurigakan, satu teriak, yang lain siap pasang badan. Jadi si kobra kecil ini nggak cuma harus akurat, tapi juga punya nyali dan hoki luar biasa.

Cerita ini ngajarin kita satu hal penting: nggak semua yang punya kekuatan bisa menang. Kadang, bukan soal siapa yang paling berbisa, tapi siapa yang paling tahu batas dirinya. Kobra bisa mematikan, tapi bukan berarti cocok ngelawan segede gajah. Sama kayak kita kita semua punya potensi, tapi butuh kebijaksanaan untuk tahu kapan harus melangkah, dan kapan cukup menepi. Kadang, menang bukan berarti menaklukkan... tapi tahu diri dan memilih tempat berjuang yang tepat.

“Tuhan menciptakan semua makhluk dengan kelebihan dan keterbatasan. Dan dalam hidup, bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling bijak menaruh tenaganya. Sebab kekuatan sejati bukan pada serangan... tapi pada kendali.”

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
JUDI ONLINE = PIKIRAN TIDAK WARAS 💰

sumber: kumparan

Seorang pegawai BPS Halmahera Timur, Aditya Hanafi (27), menghabisi rekan kerjanya, Karya Listyanti Pertiwi alias Tiwi (30), yang dikenal sebagai Statistisi Ahli Pertama dan pernah meraih predikat “employee of the month” pada September 2024. Peristiwa bermula ketika Aditya meminjam uang untuk membayar utang dan "bertaruh daring" alias Judi Online, namun Tiwi menolak.

Tambahan referensi dari keluarga korban:
https://www.instagram.com/s/aGlnaGxpZ2h0OjE3ODU1OTgxMzU1NDM0NjE2?igsh=MWQ3bnl6ZzRkc3hnNw==

Kamu masih melihat ada rekan/keluargamu yang bermain Judol? Doakan semoga Doi segera bertobat


#Judol #Pinjol
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔤🔤🔤🔤🔤 🏆

Dari ratusan tim peserta, hanya ada satu yang akan jadi Juara 🏆🇲🇨


Jadwal:
3rd Place: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.00 WIB)
Final: Kamis, 14 Agustus 2025 (16.30 WIB)

Tim Tonrangeng Rangers dari Kantor Cabang Parepare:
Kk Dewi Purnamasakty @Deways (PATT Komsek)
Kk Gabrillyanilam @Gabrillyanilam (PATT EP3RS)
Kk Resti Alfina Safar @restisafar (PATT SDM dan Umum)
Kk Andi Indah Fajrina @andin20 (PATT Frontliner)

Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI:
Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

Pastikan seluruh pemain dan pendukung telah join di grup COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2
MENGENANG OSPEK DAN BETAPA BANYAK HAL-HAL BAIK YANG HILANG 😢

oleh: Yusran Darmawan

Ospek bukan cuma panggung ego. Ada kreativitas yang mekar: merancang acara, membagi tugas, mengelola dana seadanya. Demi merancang gambar dan kata-kata baliho, butuh rapat berhari-hari.

Ospek juga menjadi panggung penuh kreasi. Mahasiswa Fakultas Sastra selalu membuka Ospek dengan panggung sederhana yang terasa seperti showbiz: tata panggung seadanya, tapi magisnya nyata.

Di ajang Ospek, mahasiswa belajar leadership, memecahkan masalah, sampai menghadapi situasi yang berubah, bahkan krisis terparah pun sudah dipetakan. Saya ingat, di FISIP, kami punya prosedur evakuasi saat tawuran pecah.
💪


Dulu, menjelang ospek, kampus seperti dunia lain. Gedung-gedung seakan mengenakan topeng Halloween. Mahasiswa Fakultas Teknik memamerkan El Santa Muerte, sang dewa kematian bertudung hitam, memegang arit, dan menatap dengan mata kosong yang tak pernah berkedip.

Mahasiswa FISIP malah nyeleneh. Balihonya menampilkan seekor ayam berkostum Superman, lengkap dengan celana dalam merah dan logo “S” (singkatan Sospol) di dadanya, lalu tertera tulisan Moral Force in Struggle.

Baca selengkapnya di sini

ICE CREAM
(
I
nisiatif
C
ulture
E
vent -
C
oaching for
R
esult,
E
ngagement &
M
indset)
🇲🇨


#INISIATIF #ICECREAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
KAPAN KELARNYA, NIH? 👀

oleh: Budiman Hakim

Waktu SD, gue pernah disuruh nyanyi di depan kelas. Jantung langsung deg-degan. Keringat dingin berebutan keluar menerobos pori2. Yang gue pikirin cuma satu: cepet kelar. Jadi gue nyanyi secepat kilat, asal bunyi, lalu lari balik ke bangku dengan napas lega. Bukan karena puas, tapi karena siksaan tuntas.

Di SMA, waktu pelajaran olahraga, disuruh push-up. Gue langsung gas, buru-buru ngitung 1 sampe 10, supaya cepet beres. Begitu selesai? Lega bukan main. Bukan karena tubuh bugar tapi karena tugas udah kelar.

Begitu udah dewasa, masalah yang muncul tetap sama. Misalnya harus presentasi. Ketemu klien ga betah lama2. Pengennya cepet-cepet balik kantor.

Momen acara apapun, ga ada bedanya. Setiap kali hadir di acara pengajian atau pesta keluarga, gue bolak-balik liat jam, cuma nunggu momen yang tepat buat cabut. Seperti biasa bibir memposisikan dirinya jadi kompor, "Kapan kelarnya, nih?"

Belakangan, baru gue menyadari… ternyata cara gue menyikapi hidup itu keliru. Gue jadi gak menikmati apa-apa. Semua momen gue anggap sebagai rintangan yang harus dilewati. Semua hal hanya tentang: Kapan kelarnya, nih?


Padahal, bukankah hidup adalah kumpulan dari momen-momen kecil itu?

Otak kita punya sistem “reward” yang ngasih dopamin setiap kali tugas selesai. Makanya, kita gampang ketagihan saat rasa lega datang. Tapi kalau yang dikejar cuma momen selesai, otak kita jadi terbiasa untuk melewati hidup dengan mode “skip intro” terus-menerus. Yang kebuang? Ya momen-momen yang sebenernya bisa dinikmati.

Sejak memiliki pemahaman itu, tombol 'enjoy' di otak gue nyalakan. Jadi setiap kali didaulat nyanyi, ya gue nyanyi aja. Menikmati suara sendiri. Meresapi deg-degannya. Kalo perlu pake gaya seakan lagi di panggung Broadway. Kita konversikan tawa hinaan teman-teman sebagai standing ovation.

Kalau lagi ngegym dan disuruh push-up, ya jalanin aja. Lakukan pelan2 dan usahakan bersinergi dengan tarikan napas dan gejolak aliran darah dalam tubuh. Nikmati pegalnya, capeknya, ngos-ngosannya. Setelah selesai, tanya ke PT-nya, "Udah, nih? Gini doang?"

Sama klien gitu juga. Kadang gue sempetin WA mereka, meskipun lagi gak ada kerjaan. Pesennya juga sepele banget, "Pak, ada coffee shop baru di Citos. Keliatannya seru. Cobain yuk?"

Intinya adalah nikmati setiap momen, kapan pun itu, apa pun itu, di mana pun itu.
🥰


Kalau lagi ke luar rumah, coba lempar senyum ke orang2 yang kebetulan berpapasan. Kalau lagi terjebak di kemacetan, coba liat sekeliling. Biasanya ada aja hal2 kecil yang kita temukan tapi, tanpa diduga, memberi manfaat di hari berikutnya.

Jangan semua-mua ditanya, "Kapan kelarnya, nih?" Itu indikasi bahwa kita bukan orang yang pintar menikmati hidup. Hati2! Kalo kita selalu bertanya 'kapan kelarnya, nih?'… bisa-bisa hidup kita juga kelarnya cepet banget.

ICE CREAM : Inisiatif Culture Event ~ Coaching for Result, Engagement & Mindset
📊


#INISIATIF #ICECREAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
💯2
Gara-Gara Ngelirik di Lampu Merah, Gue Jadi Tersangka Istri !! 🫣

Oleh: Junaidi Karo Karo

Begini Ceritanya Bro…
Gue sama istri lagi Jemput Anak sekolah,
Awalnya aman.
Mobil melaju, radio nyetel lagu-lagu 90-an, kita nikmati bareng-bareng lagunya...

Tiba-tiba…
Istri gue diem.
Bukan diem santai, tapi diem yang hawanya dingin kayak masuk kulkas.

Gue coba ngobrol, “Mau mampir beli kopi?”
Dia cuma geleng.

Oke, aneh. Gue tes lagi:
“Mau ke supermarket bentar?” → Geleng.
“Laper nggak?” → Geleng.

Ini udah tanda bahaya.
Buat pria, gelengan kepala itu cuma tanda nggak mau.
Buat wanita, gelengan kepala bisa artinya banyak hal, salah satunya: Gue kesel, tebak sendiri kenapa.

Di kepala gue mulai ada rapat darurat:
– Tadi pagi gue nyuci piring?
– Bawa belanjaan ke dapur?
– Ngucapin “makasih” waktu dia bikinin kopi?
– Salah manggil nama? (Aman, nggak kejadian.)

Tapi mukanya tetep datar.
Tangannya udah nyilang di dada.
Itu posisi default sebelum sidang dimulai.

Gue tanya pelan, “Kenapa sih?”
Dia jawab, “Nggak.”

Nah ini… “nggak” versi pria = selesai.
“nggak” versi wanita = permainan baru dimulai.

Sepuluh menit gue nyetir dalam suasana kayak lagi bawa bom aktif.
Akhirnya, menjelang lampu merah berikutnya, dia buang napas panjang…
Terus nyeletuk, “Ya udahlah.”

Hati gue makin nggak tenang.
Ya udahlah versi pria = masalah kelar.
Ya udahlah versi wanita = babak baru baru saja dimulai.

Dan bener aja, begitu mobil berhenti di depan rumah, dia bilang pelan tapi jelas:
“Tadi di lampu merah, aku lihat kamu ngelirik cewek nyebrang.”

DALAM HATI: Astaga… jadi ini.

Bro… itu cewek nyebrang persis di depan mobil.
Masa gue harus merem?
Itu refleks, bukan niat.
Tapi gue paham, ini bukan tentang ceweknya.
Ini tentang proses.
Proses dia bikin gue kebingungan, mikir keras, dan nunggu gue menjelaskan dengan wajah panik.

Gue tarik napas pelan.
Ini momen yang nggak bisa diulang.
Salah jawab, tamat.

Dia duduk tegak, mata tajam kayak sniper kunci target.
Gue nggak bisa jawab terlalu cepat, nanti dibilang “Ah, udah disiapin jawabannya.”
Nggak bisa juga kelamaan, nanti dia bilang, “Lama mikirnya, berarti bohong.”

Gue atur ritme.
Lambat. Tenang. Padahal di dada udah kayak drum band 17-an.

Gue mulai, “Kamu tau nggak…”
Berhenti sebentar, pura-pura cari kata.
“… pas aku lihat dia nyebrang, yang aku pikirin cuma satu hal.”

Dia majuin dagu sedikit. “Apa?”

Gue tahan napas, liat matanya dalam-dalam, terus bilang:
“Apakah… ada orang di dunia ini… yang bisa nyebrang… lebih elegan… dari kamu?”

Diam.
Sepi.
Heningnya sampai gue bisa dengar suara motor lewat di luar.

Tiga detik.
Tiga detik yang rasanya kayak tiga tahun masa percobaan.

Akhirnya… ujung bibirnya naik. Senyum tipis.
Senyum yang di dunia pria artinya “selamat”.
Tapi di dunia wanita artinya: “Selamat… untuk sekarang.”

Gue tahu, kasus ini nggak ditutup.
Cuma ditunda sidangnya.
Sampai ada cewek lain nyebrang… atau sampai dia liat gue ngelirik spion Mobil.

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
⌨️⌨️⌨️⌨️⌨️ 4️⃣ 🔥

Tim Stecu Stecu dari Kedeputian Bidang PKP yang anggotanya terdiri dari:

Bapak Rudhy SH @rudhysh (Asdep PKP PPU)
Ibu Upik Handayani @upikhandayani (Asdep PKP Non PPU)
Ibu Sherly Afrina Lola @SherlyAfrinaLola (Analis PKP Non PPU Muda)
Kk Fanny Wr @fannywr29 (Analis PKP PPU Pratama)

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
⌨️⌨️⌨️⌨️⌨️ 3️⃣ 🔥

Tim Gwenchana, Teng Neng Neng Neng Neng dari Kedeputian Bidang KOMSI yang anggotanya terdiri dari:

Kk Emiria Rizki Ayu @erizkiayu (Staf Komunikasi Internal)
Kk Septiani Tri P @SeptianiTriP (Staf Komunikasi Internal)
Kk Puspa Pertiwi @mpuspertiwi (Staf Komunikasi Internal)
Kk Dio Ahmad S @ioomari (PATT Komunikasi Internal)

#Family100
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM