EKSPRESI WAJAH ADALAH LOGO DARI MANUSIA ☹️ 🙂
oleh: Budiman Hakim
Seseorang sedang bercermin. Ia menatap wajahnya sendiri lekat2 dan bergumam, “Kenapa sih, kalo lagi diem, orang bilang gue jutek?”
Ia mencoba mengangkat ujung bibirnya sedikit. Lalu lebih tinggi. Lalu melihat wajah itu berubah: lebih bersahabat. Lebih bisa didekati. Lama-lama, dia sadar: hanya butuh dua garis kecil di ujung bibir, dan seluruh dunia bisa menilainya dengan cara berbeda.
Anehnya, senyum bukan cuma membuat wajahnya lebih ramah—hatinya juga ikut tenang. Ada keajaiban kecil yang lahir dari gerakan sesederhana itu.
Dan sejak hari itu, ia mulai mengoleksi senyum. Bukan hanya miliknya, tapi juga dari orang lain. Senyum tukang parkir, senyum sahabat lama, senyum yang muncul tiba-tiba dari orang asing saat bertukar pandang di halte Trans Jakarta. Dan setiap kali itu terjadi, dunia terasa sedikit lebih aman.
Senyum itu seperti emoji biologis. Gak ada sekolah yang ngajarin kita bahwa “kalau ujung bibirmu naik, itu artinya kamu ramah” tapi kita semua tahu. Kenapa?
Karena otak manusia sudah dilatih selama ribuan tahun untuk mengenali ekspresi wajah. Sejak zaman manusia purba, kita hidup dalam kelompok. Untuk bertahan, kita harus tahu siapa yang “teman” dan siapa yang “lawan.” Wajah adalah tempatnya. Dan senyum adalah penandanya.
Senyum → aman → bisa didekati.
Muka datar → netral → waspada.
Muka cemberut → potensi ancaman → siaga.
Penelitian Paul Ekman (psikolog kenamaan) menunjukkan bahwa ekspresi dasar manusia bersifat universal. Bahkan suku-suku terpencil yang belum pernah ketemu budaya luar tetap bisa mengenali senyum, marah, sedih, takut. Artinya: ini sudah jadi bahasa bawaan manusia.
Lebih menarik lagi, saat kita tersenyum: Otak mengeluarkan dopamin dan serotonin—hormon bahagia. Orang lain yang melihat senyum kita juga ikut merasa lebih tenang (thanks to mirror neurons).
Bahkan senyum pura-pura pun bisa memicu reaksi positif di otak. (Ya, fake it till you make it works… in the brain.)
Jadi bisa dibilang, senyum itu bukan cuma ekspresi emosional. Ia adalah alat sosial. Dan yang lebih ajaib: ia menular.
Hari ini, kita hidup di zaman yang bising. Timeline penuh debat. Jalanan penuh wajah lelah. Dunia kadang terasa terlalu cepat, terlalu dingin, terlalu keras.
Tapi mungkin, satu hal kecil bisa mengubah semuanya. Bukan quote motivasi. Bukan kata-kata bijak. Bukan caption panjang. Cukup… senyum.
Karena senyum bukan basa-basi. Ia adalah kode kuno yang pernah menyelamatkan spesies ini dari keterasingan. Ia adalah cara tanpa kata untuk berkata: "Aku tidak mengancam. Aku di pihakmu."
Dan siapa tahu, satu senyum kecil yang lo kasih hari ini, bisa menyelamatkan seseorang yang bahkan gak lo kenal. Bukan karena lo hebat. Tapi karena kita semua, diam-diam, hanya ingin satu hal: Dikenali. Diterima. Didekati tanpa takut. Dan semua itu… bisa dimulai dari dua garis kecil di ujung bibir.
Tapi hati-hati! Senyum juga bisa jadi senjata dua sisi. Tahukah kalian bahwa psikopat dan serial killer umumnya terlihat sangat menawan? Kenapa banyak korbannya justru masuk ke perangkap dengan rela, bahkan percaya sejak awal?
Karena mereka tahu kelemahan manusia: Senyum adalah shortcut menuju rasa aman. Dan mereka pandai memainkannya. Senyum manis, kontak mata, intonasi lembut—semua dirancang untuk memicu otak korban agar menonaktifkan alarm bahayanya.
Senyum, dalam konteks ini, bukan ekspresi, tapi topeng. Ini pengingat: bahwa apa yang kita anggap aman, belum tentu benar. Bahwa senyum bisa jadi pelukan, tapi juga bisa jadi jebakan.
Dan karena itulah, kita harus belajar membaca bukan hanya wajah, tapi juga niat di baliknya.
Meskipun demikian, jangan ragu untuk tersenyum. Syaratnya cuma satu. Tersenyumlah dengan tulus. Kenapa? Karena orang bijak selalu mengingatkan:
"Smile is the best make up anyone can wear."
#INISIATIF
oleh: Budiman Hakim
Seseorang sedang bercermin. Ia menatap wajahnya sendiri lekat2 dan bergumam, “Kenapa sih, kalo lagi diem, orang bilang gue jutek?”
Ia mencoba mengangkat ujung bibirnya sedikit. Lalu lebih tinggi. Lalu melihat wajah itu berubah: lebih bersahabat. Lebih bisa didekati. Lama-lama, dia sadar: hanya butuh dua garis kecil di ujung bibir, dan seluruh dunia bisa menilainya dengan cara berbeda.
Anehnya, senyum bukan cuma membuat wajahnya lebih ramah—hatinya juga ikut tenang. Ada keajaiban kecil yang lahir dari gerakan sesederhana itu.
Dan sejak hari itu, ia mulai mengoleksi senyum. Bukan hanya miliknya, tapi juga dari orang lain. Senyum tukang parkir, senyum sahabat lama, senyum yang muncul tiba-tiba dari orang asing saat bertukar pandang di halte Trans Jakarta. Dan setiap kali itu terjadi, dunia terasa sedikit lebih aman.
Senyum itu seperti emoji biologis. Gak ada sekolah yang ngajarin kita bahwa “kalau ujung bibirmu naik, itu artinya kamu ramah” tapi kita semua tahu. Kenapa?
Karena otak manusia sudah dilatih selama ribuan tahun untuk mengenali ekspresi wajah. Sejak zaman manusia purba, kita hidup dalam kelompok. Untuk bertahan, kita harus tahu siapa yang “teman” dan siapa yang “lawan.” Wajah adalah tempatnya. Dan senyum adalah penandanya.
Senyum → aman → bisa didekati.
Muka datar → netral → waspada.
Muka cemberut → potensi ancaman → siaga.
Penelitian Paul Ekman (psikolog kenamaan) menunjukkan bahwa ekspresi dasar manusia bersifat universal. Bahkan suku-suku terpencil yang belum pernah ketemu budaya luar tetap bisa mengenali senyum, marah, sedih, takut. Artinya: ini sudah jadi bahasa bawaan manusia.
Lebih menarik lagi, saat kita tersenyum: Otak mengeluarkan dopamin dan serotonin—hormon bahagia. Orang lain yang melihat senyum kita juga ikut merasa lebih tenang (thanks to mirror neurons).
Bahkan senyum pura-pura pun bisa memicu reaksi positif di otak. (Ya, fake it till you make it works… in the brain.)
Jadi bisa dibilang, senyum itu bukan cuma ekspresi emosional. Ia adalah alat sosial. Dan yang lebih ajaib: ia menular.
Hari ini, kita hidup di zaman yang bising. Timeline penuh debat. Jalanan penuh wajah lelah. Dunia kadang terasa terlalu cepat, terlalu dingin, terlalu keras.
Tapi mungkin, satu hal kecil bisa mengubah semuanya. Bukan quote motivasi. Bukan kata-kata bijak. Bukan caption panjang. Cukup… senyum.
Karena senyum bukan basa-basi. Ia adalah kode kuno yang pernah menyelamatkan spesies ini dari keterasingan. Ia adalah cara tanpa kata untuk berkata: "Aku tidak mengancam. Aku di pihakmu."
Dan siapa tahu, satu senyum kecil yang lo kasih hari ini, bisa menyelamatkan seseorang yang bahkan gak lo kenal. Bukan karena lo hebat. Tapi karena kita semua, diam-diam, hanya ingin satu hal: Dikenali. Diterima. Didekati tanpa takut. Dan semua itu… bisa dimulai dari dua garis kecil di ujung bibir.
Tapi hati-hati! Senyum juga bisa jadi senjata dua sisi. Tahukah kalian bahwa psikopat dan serial killer umumnya terlihat sangat menawan? Kenapa banyak korbannya justru masuk ke perangkap dengan rela, bahkan percaya sejak awal?
Karena mereka tahu kelemahan manusia: Senyum adalah shortcut menuju rasa aman. Dan mereka pandai memainkannya. Senyum manis, kontak mata, intonasi lembut—semua dirancang untuk memicu otak korban agar menonaktifkan alarm bahayanya.
Senyum, dalam konteks ini, bukan ekspresi, tapi topeng. Ini pengingat: bahwa apa yang kita anggap aman, belum tentu benar. Bahwa senyum bisa jadi pelukan, tapi juga bisa jadi jebakan.
Dan karena itulah, kita harus belajar membaca bukan hanya wajah, tapi juga niat di baliknya.
Meskipun demikian, jangan ragu untuk tersenyum. Syaratnya cuma satu. Tersenyumlah dengan tulus. Kenapa? Karena orang bijak selalu mengingatkan:
"Smile is the best make up anyone can wear."
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🙏1
Menang Tanpa Merendahkan, Kalah Tanpa Menyalahkan 🏆
Terima kasih atas perjuangan seluruh peserta pada Senin, 14 Juli 2025. Sampai bertemu di match selanjutnya🇲🇨
Terima kasih atas perjuangan seluruh peserta pada Senin, 14 Juli 2025. Sampai bertemu di match selanjutnya
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
RASA SYUKUR DAN KELIMPAHAN 😇
oleh: Muhammad Ahadun
Dulu, aku pikir kelimpahan itu soal jumlah. Uang yang banyak. Capaian yang tinggi. Hidup yang penuh kenyamanan.
Tapi semakin aku kejar, semakin terasa kosong. Dan semakin takut kehilangan.
Sampai aku sadar:
kelimpahan tidak datang karena kita memiliki lebih. Tapi karena kita menghargai lebih dalam apa yang sudah kita miliki.
Banyak dari kita tidak miskin secara materi, tapi miskin dalam perasaan.
Kita bisa punya pekerjaan…
tapi tetap merasa takut.
Punya pasangan… tapi tetap merasa tidak cukup.
Punya uang… tapi tetap cemas menghabiskannya.
Karena di dalam…
ada luka yang belum mengerti cara bersyukur.
Dalam tasawuf, syukur bukan hanya ekspresi. Syukur adalah frekuensi jiwa. Energi batin yang menerima dengan penuh kehadiran.
"مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ"
“Man lam yaskur al-qalīl, lam yaskur al-katsīr”
“Siapa yang tak bisa bersyukur atas yang sedikit, tak akan pernah bersyukur atas yang banyak.”
— Hadis Nabi SAW
Filsuf Marcus Aurelius juga berkata:
“Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself.”
Kelimpahan adalah soal apa yang terasa cukup di dalam, bukan apa yang terlihat besar di luar.
Hari ini, kamu boleh merasa marah. Boleh merasa cemas. Boleh kecewa. Tapi di sela semua itu, coba tanya perlahan:
Kadang hanya dengan menyadari satu napas, satu senyuman, atau satu kehadiran… Energi kelimpahan mulai membuka pintunya.💗
#INISIATIF #HUTke57BPJSKesehatan
oleh: Muhammad Ahadun
Dulu, aku pikir kelimpahan itu soal jumlah. Uang yang banyak. Capaian yang tinggi. Hidup yang penuh kenyamanan.
Tapi semakin aku kejar, semakin terasa kosong. Dan semakin takut kehilangan.
Sampai aku sadar:
kelimpahan tidak datang karena kita memiliki lebih. Tapi karena kita menghargai lebih dalam apa yang sudah kita miliki.
Banyak dari kita tidak miskin secara materi, tapi miskin dalam perasaan.
Kita bisa punya pekerjaan…
tapi tetap merasa takut.
Punya pasangan… tapi tetap merasa tidak cukup.
Punya uang… tapi tetap cemas menghabiskannya.
Karena di dalam…
ada luka yang belum mengerti cara bersyukur.
Dalam tasawuf, syukur bukan hanya ekspresi. Syukur adalah frekuensi jiwa. Energi batin yang menerima dengan penuh kehadiran.
"مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ، لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ"
“Man lam yaskur al-qalīl, lam yaskur al-katsīr”
“Siapa yang tak bisa bersyukur atas yang sedikit, tak akan pernah bersyukur atas yang banyak.”
— Hadis Nabi SAW
Filsuf Marcus Aurelius juga berkata:
“Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself.”
Kelimpahan adalah soal apa yang terasa cukup di dalam, bukan apa yang terlihat besar di luar.
Hari ini, kamu boleh merasa marah. Boleh merasa cemas. Boleh kecewa. Tapi di sela semua itu, coba tanya perlahan:
“Apa satu hal kecil hari ini yang bisa aku syukuri… meski hidup belum ideal?”
Kadang hanya dengan menyadari satu napas, satu senyuman, atau satu kehadiran… Energi kelimpahan mulai membuka pintunya.
#INISIATIF #HUTke57BPJSKesehatan
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤4
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Dapat salam dari kawan-kawan KC Cirebon di Atap Jawa Barat (Ciremai 3078 MDPL) 💯
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥16
Trims Pak @adiocree (Kacab Cirebon) dan jajaran yakni Fauzan Nursya’bani (PATT Telcol), Mardiki Akbar (PATT Telcol), Adi prayogi (PATT RO), Pandu djati prayogo (PATT Komsek), Raihan Rahmansyah (PATT Telcol), Fiqo Jauhardi Syafiq (PATT FL), Djovan Herianto (PATT FL), dan Bayu sukma (PATT Ep3rs). 💯
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥29
Menang Tanpa Merendahkan, Kalah Tanpa Menyalahkan 🏆
Terima kasih atas perjuangan seluruh peserta pada Selasa, 15 Juli 2025. Sampai bertemu di match selanjutnya🇲🇨
Terima kasih atas perjuangan seluruh peserta pada Selasa, 15 Juli 2025. Sampai bertemu di match selanjutnya
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
HUMANKIND 🤠
oleh: Iwan Kusworo
Pagi tadi saya gowes dan mampir ngopi di kedai kopi langganan di daerah BSD sambil melanjutkan baca buku "Humankind" karya Rutger Bregman. Di buku ini saya sampai pada satu bab dengan tajuk "The Real Lord of the Flies."
Di bab ini penulis menceritakan intisari sebuah novel klasik yang berjudul "Lord of the Flies" yang pertama kali diterbitkan tahun 1954, karya William Golding, seorang guru asal Inggris.
Novel ini menceritakan 6 orang pelajar yang terdampar di sebuah pulau kecil di lautan Pasifik setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh.
Dalam usahanya untuk bertahan hidup, mereka lalu memilih pemimpin di antara mereka, menentukan tujuan dan prioritas, serta berbagi tugas dan peran.
Namun seiring berjalannya waktu perselisihan mulai terjadi, bahkan salah satu anggota yang paling sabar dan berkepala dingin, pada akhirnya harus menjadi korban. Di kisah itu digambarkan bahwa dalam kondisi terdesak, manusia bisa menjadi berubah menjadi jahat.😈
Di akhir cerita , dikisahkan hanya ada 3 orang yang selamat ketika kapal angkatan laut Inggris yang sedang berlabuh menemukan mereka di pulau tersebut.
Novel "Lord of the Flies" sampai hari ini sudah dicetak puluhan juta copy, diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, dan bahkan penulisnya mendapatkan penghargaan Nobel.
William Golding sendiri, sang penulis, menurut Rutger Bregman, memiliki catatan kelam. Dia adalah seorang pecandu alkohol yang memiliki masalah depresi.
Rutger Bregman lalu melakukan riset tentang apa yang akan terjadi jika peristiwa serupa terjadi di dunia nyata. Dia menelusuri berita dan artikel di berbagai surat kabar mulai dari tahun 1960-an tentang ini.
Dan dia menemukannya.
Pada tahun 1965, enam anak laki-laki menaiki kapal tonga yang mereka "pinjam" dari seseorang, yang lalu terdampar di sebuah pulau.
Mereka bertahan hidup di pulau tersebut selama 15 bulan sampai akhirnya berhasil diselamatkan. Namun apa yang diceritakan di novel "Lord of the Flies" sama sekali tidak terjadi pada mereka.
Enam anak ini saling bekerja sama, menyelesaikan konflik di antara dengan mereka, membangun infrastruktur untuk mereka bisa bertahan hidup, menyiapkan perahu untuk mereka pergi dari pulau tersebut (walaupun selalu gagal), dan membantu anggotanya yang terluka.
Ketika ditemukan kembali, para petugas medis melaporkan bahwa keenam anak ini berada dalam kondisi yang sangat fit (peak condition). Otot-otot tubuh mereka terbentuk dengan optimal. Bahkan salah satu yang sempat mengalami patah kaki, sembuh total seperti sedia kala.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Rutger Bregman dari kisah ini adalah, berhati-hatilah dalam mengkonsumsi bacaan atau tontonan kita, baik itu melalui buku, televisi maupun media sosial, karena itu pelan-pelan akan mempengaruhi cara kita melihat lingkungan di sekitar kita. Dan cara kita melihat lingkungan akan berpengaruh pada cara kita bersikap dalam kehidupan ini.
Sebuah studi juga menunjukkan bahwa perempuan yang lebih sering menonton reality TV (reality show) akan lebih cenderung untuk berbohong dan berbuat jahat/kasar untuk mencapai tujuannya. Pada kenyataannya, reality show umumnya udah di-setting dari stasiun televisinya demi rating yang tinggi.
Pada dasarnya manusia itu penuh cinta kasih. Jadi marilah menjadi bagian dari itu semua.😊 💖
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
oleh: Iwan Kusworo
Pagi tadi saya gowes dan mampir ngopi di kedai kopi langganan di daerah BSD sambil melanjutkan baca buku "Humankind" karya Rutger Bregman. Di buku ini saya sampai pada satu bab dengan tajuk "The Real Lord of the Flies."
Di bab ini penulis menceritakan intisari sebuah novel klasik yang berjudul "Lord of the Flies" yang pertama kali diterbitkan tahun 1954, karya William Golding, seorang guru asal Inggris.
Novel ini menceritakan 6 orang pelajar yang terdampar di sebuah pulau kecil di lautan Pasifik setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh.
Dalam usahanya untuk bertahan hidup, mereka lalu memilih pemimpin di antara mereka, menentukan tujuan dan prioritas, serta berbagi tugas dan peran.
Namun seiring berjalannya waktu perselisihan mulai terjadi, bahkan salah satu anggota yang paling sabar dan berkepala dingin, pada akhirnya harus menjadi korban. Di kisah itu digambarkan bahwa dalam kondisi terdesak, manusia bisa menjadi berubah menjadi jahat.
Di akhir cerita , dikisahkan hanya ada 3 orang yang selamat ketika kapal angkatan laut Inggris yang sedang berlabuh menemukan mereka di pulau tersebut.
Novel ini menyoroti sisi gelap manusia, yang menurut penulisnya menggambarkan kondisi manusia di jaman sekarang ini, dan bahkan membacanya mungkin akan membuat kita merasa miris karena seakan-akan itu bisa terjadi pada anak-anak.
Namun tentu saja itu hanya cerita fiksi.
Novel "Lord of the Flies" sampai hari ini sudah dicetak puluhan juta copy, diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa, dan bahkan penulisnya mendapatkan penghargaan Nobel.
William Golding sendiri, sang penulis, menurut Rutger Bregman, memiliki catatan kelam. Dia adalah seorang pecandu alkohol yang memiliki masalah depresi.
Rutger Bregman lalu melakukan riset tentang apa yang akan terjadi jika peristiwa serupa terjadi di dunia nyata. Dia menelusuri berita dan artikel di berbagai surat kabar mulai dari tahun 1960-an tentang ini.
Dan dia menemukannya.
Pada tahun 1965, enam anak laki-laki menaiki kapal tonga yang mereka "pinjam" dari seseorang, yang lalu terdampar di sebuah pulau.
Mereka bertahan hidup di pulau tersebut selama 15 bulan sampai akhirnya berhasil diselamatkan. Namun apa yang diceritakan di novel "Lord of the Flies" sama sekali tidak terjadi pada mereka.
Enam anak ini saling bekerja sama, menyelesaikan konflik di antara dengan mereka, membangun infrastruktur untuk mereka bisa bertahan hidup, menyiapkan perahu untuk mereka pergi dari pulau tersebut (walaupun selalu gagal), dan membantu anggotanya yang terluka.
Ketika ditemukan kembali, para petugas medis melaporkan bahwa keenam anak ini berada dalam kondisi yang sangat fit (peak condition). Otot-otot tubuh mereka terbentuk dengan optimal. Bahkan salah satu yang sempat mengalami patah kaki, sembuh total seperti sedia kala.
Pesan yang ingin disampaikan oleh Rutger Bregman dari kisah ini adalah, berhati-hatilah dalam mengkonsumsi bacaan atau tontonan kita, baik itu melalui buku, televisi maupun media sosial, karena itu pelan-pelan akan mempengaruhi cara kita melihat lingkungan di sekitar kita. Dan cara kita melihat lingkungan akan berpengaruh pada cara kita bersikap dalam kehidupan ini.
Sebuah studi juga menunjukkan bahwa perempuan yang lebih sering menonton reality TV (reality show) akan lebih cenderung untuk berbohong dan berbuat jahat/kasar untuk mencapai tujuannya. Pada kenyataannya, reality show umumnya udah di-setting dari stasiun televisinya demi rating yang tinggi.
Pada dasarnya manusia itu penuh cinta kasih. Jadi marilah menjadi bagian dari itu semua.
Buku apa yang sedang Anda baca hari ini?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2🙏1
Forwarded from Effi Ekayanti
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Selamat pagi Bapak/Ibu Leader dan Sobat ATE, ijin meneruskan video Ucapan Selamat Ulang Tahun BPJS Kesehatan yang ke-57 dari Bapak Parlindungan Marpaung (Motivator)
"Semoga semakin jaya dan kita semakin bersemangat dalam melayani dan bertransformasi.."
*Salam sehat dari Edinburgh Scotland*
"Semoga semakin jaya dan kita semakin bersemangat dalam melayani dan bertransformasi.."
*Salam sehat dari Edinburgh Scotland*
❤1
Forwarded from Effi Ekayanti
Panduan Live Telegram ATE - ZUMA.pdf
870.8 KB
📢 Ijin menginfokan untuk Bapak/Ibu peserta Kompetisi ZUMA Online berikutnya:
1. Sebelum pertandingan dimulai, Host yang bertugas akan melakukan absen satu per satu kepada 25 peserta. Pada saat itu, peserta diminta untuk mengaktifkan kamera dan melakukan share screen, guna memastikan Level 4 pada game ZUMA sudah siap dimainkan (tidak terkunci).
2. Untuk memastikan Level 4 aman dimainkan saat hari H, Panitia menyarankan agar game Zuma Online tersebut dimainkan hanya pada 1 (satu) device saja, silahkan memainkan game tersebut melalui PC/Laptop, agar memudahkan Bapak/Ibu share screen saat kompetisi nantinya.
3. Panduan terbaru mengenai cara share screen telah dilampirkan. Mohon dapat dipelajari terlebih dahulu sebelum hari H kompetisi.
4. Demi kelancaran kompetisi, mohon kepada Bapak/Ibu peserta dan Sobat ATE untuk menonaktifkan mikrofon dan kamera selama game berlangsung. Hal ini bertujuan agar tampilan layar hanya fokus pada Share Screen game Zuma dari peserta yang sedang bermain.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
EMOSI DAN ENERGI DI BALIK UANG 💯
oleh: Muhammad Ahadun
Uang itu benda mati.
Tapi anehnya… ia bisa membuat dada sesak, jantung berdebar, atau senyum mengembang.
Karena uang bukan cuma alat tukar.
Uang adalah pantulan emosi terdalam yang sering tidak kita sadari.
Ada orang yang begitu ketakutan saat membelanjakan uang. Bukan karena ia pelit. Tapi karena jauh di dalam, ada trauma kehilangan.
Ada pula yang boros, bukan karena ceroboh… tapi karena di masa kecilnya, ia selalu merasa tak cukup dicintai. Dan belanja jadi caranya menenangkan luka itu.
Uang adalah energi yang mengalir mengikuti isi batin. Ketika uang datang bersamaan dengan rasa syukur dan kepercayaan,
ia membuka kelimpahan.
Tapi ketika uang disertai rasa takut, gengsi, atau keinginan membuktikan diri, ia justru menciptakan kelelahan… meski jumlahnya bertambah.
Dalam tasawuf, dikenal ungkapan:
"إِذَا أَصْلَحْتَ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ"
"Idzā aṣlaḥta mā baynaka wa bayna Allāh, aṣlaḥa Allāhu mā baynaka wa bayna an-nās"
"Jika kau benahi relasimu dengan Tuhan, maka relasimu dengan manusia pun akan diperbaiki oleh-Nya."
Dan uang adalah bagian dari relasi itu. Ia tidak berdiri sendiri. Ia memantulkan hubungan kita dengan rasa aman, syukur, dan rasa layak.
Jadi, hari ini coba tanyakan ke dirimu sendiri:
• Apa perasaanku saat menerima uang?
• Apa emosiku saat membelanjakan sesuatu?
• Apakah aku merasa layak hidup nyaman?
• Apakah aku menyimpan rasa takut… terhadap kekurangan?
Karena sampai kita menyadari energi di balik uang, kita hanya akan sibuk mengejar… tapi tak pernah benar-benar merasa aman.
#INISIATIF
oleh: Muhammad Ahadun
Uang itu benda mati.
Tapi anehnya… ia bisa membuat dada sesak, jantung berdebar, atau senyum mengembang.
Karena uang bukan cuma alat tukar.
Uang adalah pantulan emosi terdalam yang sering tidak kita sadari.
Ada orang yang begitu ketakutan saat membelanjakan uang. Bukan karena ia pelit. Tapi karena jauh di dalam, ada trauma kehilangan.
Ada pula yang boros, bukan karena ceroboh… tapi karena di masa kecilnya, ia selalu merasa tak cukup dicintai. Dan belanja jadi caranya menenangkan luka itu.
Uang adalah energi yang mengalir mengikuti isi batin. Ketika uang datang bersamaan dengan rasa syukur dan kepercayaan,
ia membuka kelimpahan.
Tapi ketika uang disertai rasa takut, gengsi, atau keinginan membuktikan diri, ia justru menciptakan kelelahan… meski jumlahnya bertambah.
Dalam tasawuf, dikenal ungkapan:
"إِذَا أَصْلَحْتَ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ اللهِ، أَصْلَحَ اللهُ مَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ النَّاسِ"
"Idzā aṣlaḥta mā baynaka wa bayna Allāh, aṣlaḥa Allāhu mā baynaka wa bayna an-nās"
"Jika kau benahi relasimu dengan Tuhan, maka relasimu dengan manusia pun akan diperbaiki oleh-Nya."
Dan uang adalah bagian dari relasi itu. Ia tidak berdiri sendiri. Ia memantulkan hubungan kita dengan rasa aman, syukur, dan rasa layak.
Filsuf Seneca pernah berkata:
“It is not the man who has too little, but the man who craves more, that is poor.”
Artinya, kemiskinan tak selalu soal isi dompet. Tapi soal isi hati yang tak pernah merasa cukup.
Jadi, hari ini coba tanyakan ke dirimu sendiri:
• Apa perasaanku saat menerima uang?
• Apa emosiku saat membelanjakan sesuatu?
• Apakah aku merasa layak hidup nyaman?
• Apakah aku menyimpan rasa takut… terhadap kekurangan?
Karena sampai kita menyadari energi di balik uang, kita hanya akan sibuk mengejar… tapi tak pernah benar-benar merasa aman.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥3
REMINDER 🤝
Yth Bapak/Ibu dan rekan-rekan peserta Kompetisi Zuma. Saat Bapak/Ibu diminta share screen layar zuma oleh panitia (baik saat absen awal maupun saat bertanding), maka diharapkan bantuannya untuk tidak usah mencentang audio yah (di pojok kiri bawah).🇲🇨
Yth Bapak/Ibu dan rekan-rekan peserta Kompetisi Zuma. Saat Bapak/Ibu diminta share screen layar zuma oleh panitia (baik saat absen awal maupun saat bertanding), maka diharapkan bantuannya untuk tidak usah mencentang audio yah (di pojok kiri bawah).
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
FREE WEBINAR
EOKLIKANAN is inviting you to a scheduled Zoom meeting.
NGOBROL BENTAR DI WEBINAR - BARENG PAK PRAS
Time: Jul 17, 2025 19:30-21:00 WIB
Join Zoom Meeting
https://telkomsel.zoom.us/j/5553800538?pwd=n58zqstLuJwdhxCr9k7oTbtuaQIdmL.1&omn=94364206654
Meeting ID: 555 380 0538
Passcode: EK8xHB
EOKLIKANAN is inviting you to a scheduled Zoom meeting.
NGOBROL BENTAR DI WEBINAR - BARENG PAK PRAS
Time: Jul 17, 2025 19:30-21:00 WIB
Join Zoom Meeting
https://telkomsel.zoom.us/j/5553800538?pwd=n58zqstLuJwdhxCr9k7oTbtuaQIdmL.1&omn=94364206654
Meeting ID: 555 380 0538
Passcode: EK8xHB
CERAI, NAMUN TAK MENCERAIKAN HATI 💗
oleh: Herry Tjahjono
Ada lelaki yang memilih diam bukan karena kalah, pun ada ayah yang merunduk bukan karena lemah.
Tapi karena ia tahu: kehormatan tidak lahir dari menang debat, melainkan dari cara melindungi orang yang pernah dicintai.
Gading Marten berdiri tenang dalam badai perpisahan, bukan karena tak terluka, melainkan karena tahu–ada satu jiwa kecil hasil cinta yang tak butuh kisah masa lalu ibunya. Ia hanya butuh rumah yang tetap hangat, meski tak lagi satu atap. Dan beginilah sikap Gading Marten yang sangat "lelaki":
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘨𝘶𝘦, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘦, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘢𝘩𝘬𝘰𝘥𝘢.”
Kalimat ini bukan sekadar tanggung jawab, tapi cinta yang masih utuh, meski bentuknya telah berubah. Gading paham, jadi suami bisa gagal–tapi jangan gagal jadi manusia.
Di dunia yang ramai saling buka aib dan berlomba jadi korban, Gading memilih diam dan mendekap masa lalu dalam pelukan yang dewasa.
Ia tak membakar jembatan, karena anaknya mungkin suatu hari perlu menyeberangi kenangan dengan tenang.
Inilah bentuk cinta paling jantan:
menjaga martabat orang yang sudah pergi, karena ia tetap ibu dari anakmu, dan dulu–pernah jadi takdirmu.
Semoga yang lain belajar:
Bahwa cinta sejati tak diukur dari seberapa lama bertahan,
tapi seberapa tulus menjaga nama orang yang pernah kamu cintai–meski kini sudah bukan siapa-siapa.
#INISIATIF #TGIF
oleh: Herry Tjahjono
Ada lelaki yang memilih diam bukan karena kalah, pun ada ayah yang merunduk bukan karena lemah.
Tapi karena ia tahu: kehormatan tidak lahir dari menang debat, melainkan dari cara melindungi orang yang pernah dicintai.
Gading Marten berdiri tenang dalam badai perpisahan, bukan karena tak terluka, melainkan karena tahu–ada satu jiwa kecil hasil cinta yang tak butuh kisah masa lalu ibunya. Ia hanya butuh rumah yang tetap hangat, meski tak lagi satu atap. Dan beginilah sikap Gading Marten yang sangat "lelaki":
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘨𝘶𝘦, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘶𝘦, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘨𝘶𝘦 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘢𝘩𝘬𝘰𝘥𝘢.”
Kalimat ini bukan sekadar tanggung jawab, tapi cinta yang masih utuh, meski bentuknya telah berubah. Gading paham, jadi suami bisa gagal–tapi jangan gagal jadi manusia.
Di dunia yang ramai saling buka aib dan berlomba jadi korban, Gading memilih diam dan mendekap masa lalu dalam pelukan yang dewasa.
Ia tak membakar jembatan, karena anaknya mungkin suatu hari perlu menyeberangi kenangan dengan tenang.
Inilah bentuk cinta paling jantan:
menjaga martabat orang yang sudah pergi, karena ia tetap ibu dari anakmu, dan dulu–pernah jadi takdirmu.
Semoga yang lain belajar:
Bahwa cinta sejati tak diukur dari seberapa lama bertahan,
tapi seberapa tulus menjaga nama orang yang pernah kamu cintai–meski kini sudah bukan siapa-siapa.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
THE GAME IS OVER🇮🇩
Setelah melewati adu skill dan strategi selama 10 Edisi dengan ratusan peserta dari seluruh Indonesia, akhirnya The Game Master pun berdiri tegak!🏆 👏
Selamat kepada kakak @danangrwarsito (Kasir KC Maumere) yang berhasil keluar sebagai Juara Utama dalam Lomba Virtual Games ATE Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Sang Juara sudah membuktikan diri sebagai penguasa kecepatan dan ketepatan di medan permainan digital!🚀 💡
#INISIATIF #VirtualGames
Setelah melewati adu skill dan strategi selama 10 Edisi dengan ratusan peserta dari seluruh Indonesia, akhirnya The Game Master pun berdiri tegak!
Selamat kepada kakak @danangrwarsito (Kasir KC Maumere) yang berhasil keluar sebagai Juara Utama dalam Lomba Virtual Games ATE Semarak HUT ke-57 BPJS Kesehatan. Sang Juara sudah membuktikan diri sebagai penguasa kecepatan dan ketepatan di medan permainan digital!
#INISIATIF #VirtualGames
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
TOP FINALIS! 😍
Selamat juga kepada para Peserta Top 5 Nasional beruntung memenangkan Giveaway Spesial dari COMMIT ATE!🎁
2. Kk Desak Made Ari Wahyuni @Sakdekcdps (PATT EP3RS KC Denpasar)
3. Kk Ari Ashari @ari_aasharii (Staf PMPF Kab. Luwu Timur KC Palopo)
4. Kk Andina Manik Pritandari @andinamanik (Staf UPK KC Pati)
5. Kk Riyan Saputra @yansa501 (PATT Penagihan KC Tangerang)
Terima kasih atas dukungan dan antusiasme luar biasa dari seluruh Sobat ATE dan juga UKPF Pendukung kegiatan (MSDM, KPM, MDI, AKUNTANSI, KOMSI). sampai jumpa di event fun and meaningful COMMIT ATE berikutnya!🚀
#INISIATIF #VirtualGames
Selamat juga kepada para Peserta Top 5 Nasional beruntung memenangkan Giveaway Spesial dari COMMIT ATE!
2. Kk Desak Made Ari Wahyuni @Sakdekcdps (PATT EP3RS KC Denpasar)
3. Kk Ari Ashari @ari_aasharii (Staf PMPF Kab. Luwu Timur KC Palopo)
4. Kk Andina Manik Pritandari @andinamanik (Staf UPK KC Pati)
5. Kk Riyan Saputra @yansa501 (PATT Penagihan KC Tangerang)
Terima kasih atas dukungan dan antusiasme luar biasa dari seluruh Sobat ATE dan juga UKPF Pendukung kegiatan (MSDM, KPM, MDI, AKUNTANSI, KOMSI). sampai jumpa di event fun and meaningful COMMIT ATE berikutnya!
#INISIATIF #VirtualGames
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🥰1