Salah Kirim Pesan Bisa Bikin Masalah Jadi Panjang 🫣
oleh: Wicaksono
Kemarin saya dengar cerita lucu tapi sebenarnya agak miris. Seorang ibu bendahara sekolah dasar tiba-tiba kirim pesan ke grup WhatsApp wali murid.
Katanya, “Uang kegiatan wajib disetor paling lambat Jumat.” Titik. Nggak pakai keterangan tambahan apa pun.
Padahal, maksudnya pengumuman itu cuma untuk murid kelas 5 dan 6. Tapi karena pesannya singkat dan umum, wali murid dari kelas 1 sampai 4 pun ikut panik. Ada yang langsung transfer. Ada yang protes karena katanya belum ada pengumuman resmi. Grup WAG pun meledak, kayak petasan sumbu pendek.
Di tempat lain, seorang bapak bilang ke anaknya, “Nak, bu guru kirim pesan di WAG. Besok jangan lupa bawa buku merah, ya.” Maksudnya buku catatan matematika. Tapi karena tidak dijelaskan dengan jelas, anaknya besoknya malah bawa buku tabungan yang sampulnya juga merah.
Di sekolah, dia dimarahi guru karena dianggap teledor. Sampai di rumah, anak itu manyun, sambil ngomel, “Ayah itu kalau ngomong nggak jelas, selalu bikin aku salah bawa.”
Kedua cerita ini bukan dongeng. Ini kejadian sehari-hari. Bisa terjadi di rumah kita, di kantor, bahkan di warung kopi sebelah.
Masalah yang awalnya sederhana jadi runyam karena satu hal: komunikasi yang nggak nyambung. Bisa karena pesannya terlalu pendek, terlalu kabur, atau nggak mempertimbangkan siapa yang nerima. Kadang karena terlalu buru-buru, kadang karena kita merasa semua orang pasti ngerti maksud kita. Padahal, belum tentu.
Kita sering lupa bahwa gagal komunikasi itu bukan sekadar nggak nyambung. Ia bisa memecah tim, membunuh ide, bahkan menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun lama. Di dunia kerja, komunikasi bukan cuma soal bicara. Ia adalah mata uang kepercayaan. Dan begitu nilainya jatuh, sulit untuk menukarnya kembali.
Karena sesungguhnya, komunikasi bukan cuma soal ucapan. Ia adalah perpaduan antara seni dan ilmu: seni membaca suasana, dan ilmu menyampaikan makna.
Bayangkan sampeyan pegang senter di ruangan gelap. Komunikasi itu seperti senter tadi. Tugas kita bukan cuma menyalakannya, tapi juga mengarahkan cahaya ke tempat yang tepat. Kalau cahayanya buram, atau kita malah menyorot ke arah yang salah, ya orang lain akan tersandung. Dan yang disalahkan? Bukan lantainya, tapi yang megang senternya.
Kita hidup di zaman di mana teknologi berkembang pesat, AI makin canggih, dan semua serba otomatis. Tapi lucunya, di tengah semua kemajuan itu, keterampilan yang paling dicari justru bukan yang paling teknis.
AI bisa menjawab pertanyaan teknis dengan cepat. Tapi hanya manusia yang bisa tahu kapan harus diam, kapan harus bicara lembut, dan kapan harus merangkul lewat kata-kata. Komunikasi membawa empati. Membawa intuisi. Membawa rasa hangat yang nggak bisa diketik oleh mesin.
Itulah mengapa pemimpin besar bukanlah mereka yang tahu segalanya, tapi mereka yang bisa menjelaskan arah dan tujuan dengan cara yang menyentuh. Bukan megafon yang memekakkan telinga, tapi jembatan yang menghubungkan visi dan aksi. Sering kali, orang tidak peduli seberapa pintar Anda, tapi mereka peduli bagaimana Anda membuat mereka merasa disentuh hatinya.
Lanjut Part 2👇
oleh: Wicaksono
Kemarin saya dengar cerita lucu tapi sebenarnya agak miris. Seorang ibu bendahara sekolah dasar tiba-tiba kirim pesan ke grup WhatsApp wali murid.
Katanya, “Uang kegiatan wajib disetor paling lambat Jumat.” Titik. Nggak pakai keterangan tambahan apa pun.
Padahal, maksudnya pengumuman itu cuma untuk murid kelas 5 dan 6. Tapi karena pesannya singkat dan umum, wali murid dari kelas 1 sampai 4 pun ikut panik. Ada yang langsung transfer. Ada yang protes karena katanya belum ada pengumuman resmi. Grup WAG pun meledak, kayak petasan sumbu pendek.
Di tempat lain, seorang bapak bilang ke anaknya, “Nak, bu guru kirim pesan di WAG. Besok jangan lupa bawa buku merah, ya.” Maksudnya buku catatan matematika. Tapi karena tidak dijelaskan dengan jelas, anaknya besoknya malah bawa buku tabungan yang sampulnya juga merah.
Di sekolah, dia dimarahi guru karena dianggap teledor. Sampai di rumah, anak itu manyun, sambil ngomel, “Ayah itu kalau ngomong nggak jelas, selalu bikin aku salah bawa.”
Kedua cerita ini bukan dongeng. Ini kejadian sehari-hari. Bisa terjadi di rumah kita, di kantor, bahkan di warung kopi sebelah.
Masalah yang awalnya sederhana jadi runyam karena satu hal: komunikasi yang nggak nyambung. Bisa karena pesannya terlalu pendek, terlalu kabur, atau nggak mempertimbangkan siapa yang nerima. Kadang karena terlalu buru-buru, kadang karena kita merasa semua orang pasti ngerti maksud kita. Padahal, belum tentu.
Banyak orang berpikir, komunikasi itu cuma urusan bos di ruang rapat, atau PR di depan kamera. Padahal, persoalan komunikasi justru paling sering muncul dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Tapi dampaknya bisa luar biasa. Salah paham, hubungan renggang, kerjaan jadi kacau, dan kadang, harga diri bisa ikut remuk. Komunikasi yang buruk itu seperti menabur benih di tanah yang salah: bukan tumbuh, tapi malah bikin semak liar di mana-mana.
Kita sering lupa bahwa gagal komunikasi itu bukan sekadar nggak nyambung. Ia bisa memecah tim, membunuh ide, bahkan menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun lama. Di dunia kerja, komunikasi bukan cuma soal bicara. Ia adalah mata uang kepercayaan. Dan begitu nilainya jatuh, sulit untuk menukarnya kembali.
Karena sesungguhnya, komunikasi bukan cuma soal ucapan. Ia adalah perpaduan antara seni dan ilmu: seni membaca suasana, dan ilmu menyampaikan makna.
Bayangkan sampeyan pegang senter di ruangan gelap. Komunikasi itu seperti senter tadi. Tugas kita bukan cuma menyalakannya, tapi juga mengarahkan cahaya ke tempat yang tepat. Kalau cahayanya buram, atau kita malah menyorot ke arah yang salah, ya orang lain akan tersandung. Dan yang disalahkan? Bukan lantainya, tapi yang megang senternya.
Kita hidup di zaman di mana teknologi berkembang pesat, AI makin canggih, dan semua serba otomatis. Tapi lucunya, di tengah semua kemajuan itu, keterampilan yang paling dicari justru bukan yang paling teknis.
Menurut riset dari Aura Intelligence, dari hampir dua juta lowongan kerja yang mereka telaah,
yang paling dicari bukan coding atau programming, tapi…
komunikasi
.
Karena ternyata, algoritma sehebat apa pun belum bisa menandingi kemampuan manusia untuk mengerti emosi, menangkap gelagat, dan menyampaikan rasa.
AI bisa menjawab pertanyaan teknis dengan cepat. Tapi hanya manusia yang bisa tahu kapan harus diam, kapan harus bicara lembut, dan kapan harus merangkul lewat kata-kata. Komunikasi membawa empati. Membawa intuisi. Membawa rasa hangat yang nggak bisa diketik oleh mesin.
Itulah mengapa pemimpin besar bukanlah mereka yang tahu segalanya, tapi mereka yang bisa menjelaskan arah dan tujuan dengan cara yang menyentuh. Bukan megafon yang memekakkan telinga, tapi jembatan yang menghubungkan visi dan aksi. Sering kali, orang tidak peduli seberapa pintar Anda, tapi mereka peduli bagaimana Anda membuat mereka merasa disentuh hatinya.
Lanjut Part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤2
Part 2
Dan komunikasi itu wajahnya banyak. Ia bisa verbal—kata-kata yang kita ucapkan. Tapi juga bisa nonverbal—gerak tangan, ekspresi, nada suara. Tubuh kita bisa menjadi panggung kecil tempat pesan-pesan tampil, meski tak ada satu kata pun terucap. Kadang, diam itu sendiri sudah merupakan bentuk komunikasi yang paling lantang.
Ia juga bisa tertulis. Lewat email, laporan, pesan pendek. Tulisan kita adalah bayangan kita ketika tubuh kita tidak hadir. Maka jangan remehkan koma, jangan abaikan titik. Karena satu paragraf yang rancu bisa merusak jam kerja satu tim.🫡
Dan yang tak kalah penting: komunikasi visual. Gambar, grafik, infografik. Di zaman data, visual itu seperti peta: ia membantu orang memahami tanpa harus menghafal seluruh kompas teknis.
Lalu bagaimana kita bisa belajar jadi komunikator yang baik?
Pertama, struktur itu penting. Sebelum bicara, tanya dulu pada diri sendiri: mau ngomong apa? Ke siapa? Dengan tujuan apa? Jangan asal nyerocos. Arahkan sentermu ke tempat yang ingin dituju.
Kedua, sederhanakan bahasa. Jargon itu kabut. Gunakan kata-kata yang jernih seperti air sumur. Supaya semua orang bisa minum tanpa tersedak.
Ketiga, dengarkan dengan hati. Jangan dengar untuk membalas. Dengarkan untuk mengerti. Tahan godaan ingin cepat-cepat menyela.
Keempat, pilih saluran yang pas. Tak semua urusan harus meeting. Tak semua pesan cocok di grup WhatsApp. Komunikasi itu bukan cuma isi, tapi juga wadahnya.
Dan terakhir, cari cermin. Tanyakan pada orang yang Anda percaya: “Gaya ngomong saya ini jelas nggak sih? Bisa dipahami nggak?” Cermin kadang menyakitkan. Tapi justru dari situ kita belajar menata ulang cara menyampaikan.
Sekarang ini, mesin sudah bisa bicara. Tapi manusialah yang masih harus belajar mendengar. Karena pada akhirnya, pesan bukan soal apa yang kita katakan. Tapi bagaimana orang lain merasakannya.
Dan di tengah bisingnya notifikasi, grafik penjualan, dan presentasi PowerPoint yang warnanya norak, keterampilan komunikasi adalah satu suara yang membuat Anda dikenali, dipercaya, dan diingat.✍️
Seperti kata pepatah lama—yang barangkali perlu kita renungkan ulang: lidah tak bertulang, tapi bisa membangun atau meruntuhkan istana.
Atau seperti kata teman saya: lidah memang tak bertulang, tapi bisa bikin pinggang angkat. Entah maksudnya apa, tapi ya begitu kenyataannya.
#INISIATIF
Dan komunikasi itu wajahnya banyak. Ia bisa verbal—kata-kata yang kita ucapkan. Tapi juga bisa nonverbal—gerak tangan, ekspresi, nada suara. Tubuh kita bisa menjadi panggung kecil tempat pesan-pesan tampil, meski tak ada satu kata pun terucap. Kadang, diam itu sendiri sudah merupakan bentuk komunikasi yang paling lantang.
Ia juga bisa tertulis. Lewat email, laporan, pesan pendek. Tulisan kita adalah bayangan kita ketika tubuh kita tidak hadir. Maka jangan remehkan koma, jangan abaikan titik. Karena satu paragraf yang rancu bisa merusak jam kerja satu tim.
Dan yang tak kalah penting: komunikasi visual. Gambar, grafik, infografik. Di zaman data, visual itu seperti peta: ia membantu orang memahami tanpa harus menghafal seluruh kompas teknis.
Lalu bagaimana kita bisa belajar jadi komunikator yang baik?
Pertama, struktur itu penting. Sebelum bicara, tanya dulu pada diri sendiri: mau ngomong apa? Ke siapa? Dengan tujuan apa? Jangan asal nyerocos. Arahkan sentermu ke tempat yang ingin dituju.
Kedua, sederhanakan bahasa. Jargon itu kabut. Gunakan kata-kata yang jernih seperti air sumur. Supaya semua orang bisa minum tanpa tersedak.
Ketiga, dengarkan dengan hati. Jangan dengar untuk membalas. Dengarkan untuk mengerti. Tahan godaan ingin cepat-cepat menyela.
Keempat, pilih saluran yang pas. Tak semua urusan harus meeting. Tak semua pesan cocok di grup WhatsApp. Komunikasi itu bukan cuma isi, tapi juga wadahnya.
Dan terakhir, cari cermin. Tanyakan pada orang yang Anda percaya: “Gaya ngomong saya ini jelas nggak sih? Bisa dipahami nggak?” Cermin kadang menyakitkan. Tapi justru dari situ kita belajar menata ulang cara menyampaikan.
Keterampilan teknis bisa usang. Bisa tergantikan. Tapi komunikasi adalah akar yang menumbuhkan semua cabang lainnya. Kalau ia dirawat, ia bisa jadi pohon rindang. Meneduhkan hubungan, menguatkan karier, dan berbuah kepercayaan.
Sekarang ini, mesin sudah bisa bicara. Tapi manusialah yang masih harus belajar mendengar. Karena pada akhirnya, pesan bukan soal apa yang kita katakan. Tapi bagaimana orang lain merasakannya.
Dan di tengah bisingnya notifikasi, grafik penjualan, dan presentasi PowerPoint yang warnanya norak, keterampilan komunikasi adalah satu suara yang membuat Anda dikenali, dipercaya, dan diingat.
Seperti kata pepatah lama—yang barangkali perlu kita renungkan ulang: lidah tak bertulang, tapi bisa membangun atau meruntuhkan istana.
Atau seperti kata teman saya: lidah memang tak bertulang, tapi bisa bikin pinggang angkat. Entah maksudnya apa, tapi ya begitu kenyataannya.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
Buat Sobat ATE yang gak sempat ngikut sesi live semalam, berikut kami share rekaman kegiatan ATE Edisi 414 The Diary Of a CEO Bersama Pak Erwin Fadillah 🫡
Langsung cuss❤️
https://youtu.be/txnw6nMhwrk?si=IBHEqcflgUGkev4C
Langsung cuss
https://youtu.be/txnw6nMhwrk?si=IBHEqcflgUGkev4C
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
ATE Edisi 414 The Diary of a CEO (Membongkar Pola Pikir Para Pemimpin Hebat) Bersama Erwin Fadillah
Salam INSIATIF ✅
✨🔥Ask the Experts #Edisi414🔥✨
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts Edisi 414✨
📌 Kebangkitan bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang keberanian memimpin perubahan hari ini. Seorang pemimpin sejati…
✨🔥Ask the Experts #Edisi414🔥✨
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts Edisi 414✨
📌 Kebangkitan bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang keberanian memimpin perubahan hari ini. Seorang pemimpin sejati…
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF ✅
✨🔥 COMING SOON 🔥✨
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
Belajar bikin komik dari nol?
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik” bersama kakak @justnamuh
Hanya dengan coretan awal hingga jadi karya komik siap baca! Yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 📝
⏰ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI✨
#INISIATIF #GrowthMindset
✨🔥 COMING SOON 🔥✨
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
Belajar bikin komik dari nol?
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik” bersama kakak @justnamuh
Hanya dengan coretan awal hingga jadi karya komik siap baca! Yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 📝
⏰ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI✨
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
🥰3👏2
3 (TIGA) KETERAMPILAN PENTING UNTUK DUNIA SAAT INI 😇
oleh: Gatot Widayanto
https://youtu.be/Z-zYu4patP8?si=gG7-1KJh0Sx898GA
Dalam video ini, Robert Greene membahas tiga keterampilan penting untuk dunia saat ini:
1. Belajar bekerja sama dengan orang lain,
2. Cinta belajar, dan
3. Perlunya kesabaran🫶
Asik aja ada "kesabaran" sebagai salah satu skill yang dia tawarkan. Memang bener juga sih, kesabaran harus dilatih dan bisa menjadi skill ya ....
#INISIATIF
oleh: Gatot Widayanto
https://youtu.be/Z-zYu4patP8?si=gG7-1KJh0Sx898GA
Dalam video ini, Robert Greene membahas tiga keterampilan penting untuk dunia saat ini:
1. Belajar bekerja sama dengan orang lain,
2. Cinta belajar, dan
3. Perlunya kesabaran
Asik aja ada "kesabaran" sebagai salah satu skill yang dia tawarkan. Memang bener juga sih, kesabaran harus dilatih dan bisa menjadi skill ya ....
Salah satu Leader kita di ATE pernah berpesan bahwa hidup ini itu gak pernah jauh dari 2 (dua) hal yakni Syukur dan Sabar. So selain memperbanyak rasa syukur, sudahkah anda selama ini juga melatih memperbanyak kesabaran?😇
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Three Essential Skills For Today’s World
Robert Greene is the author of the New York Times bestsellers The 48 Laws of Power, The Art of Seduction, The 33 Strategies of War, The 50th Law, Mastery, The Laws of Human Nature, and most recently, The Daily Laws.
Subscribe to my YouTube channel: @Rob…
Subscribe to my YouTube channel: @Rob…
MENDAKI TANJAKAN HIDUP 🔥
oleh: Budiman Hakim
“Brenti dulu, Bro. Capek banget gue…”
Saya menoleh ke belakang. Sahala nampak mukanya sangat pucat. Napasnya ngos-ngosan. Keringatnya netes dari pelipis. Padahal baru jalan beberapa menit.
“Belom juga 100m, masak udah capek?” tanya saya heran.
“Iya, gue juga bingung. Mungkin karena banyak tanjakan. Padahal kalo di jalan datar, gue bisa jalan 20 ribu langkah tanpa masalah.”
Nah! Pernah nggak kalian merasa seperti yang dialami Sahala. Kalau jalan kaki di medan yang datar, kita bisa jauh melangkah. Bahkan sambil ngobrol, dengerin musik, atau mikirin hidup. Gak berasa tau-tau udah 10 ribu langkah. Tapi begitu jalurnya nanjak dikit…
Langkah kita melambat. Napas jadi pendek. Pundak kerasa berat. Dan baru beberapa menit, kita langsung mengeluh, “Hadoh! Capek banget.”
Yang menyebabkan hal itu terjadi adalah gara-gara kerja otak. Gini penjelasannya: Waktu berjalan di jalur yang datar, otot bekerja stabil. Detak jantung tenang. Semua organ bergerak secara otomatis dan ritmik. Otak kita merasa tidak perlu mengendalikan tubuh dan masuk ke mode autopilot.
Otak bisa mikir yang lain—merenung, mendengarkan lagu, bahkan merancang hidup. Proses melangkah di jalan datar itu kayak meditasi bergerak. Di saat itu biasanya pikiran kita melayang ke masa-masa lalu dan bukan jarang kita bisa mendapatkan ide dan pencerahan.
Tapi saat jalan mulai menanjak, semuanya berubah. Tubuh kita mulai mengirim sinyal: “Napas pendek. Kaki berat. Paru-paru ngos-ngosan.”
Mode autopilot langsung dimatikan. Otak bersiaga penuh. Nggak bisa lagi santai atau mikir jauh. Karena otak sedang aktif mikir cara bertahan. Di sinilah kuncinya: capek itu bukan sekadar fisik. Tapi keputusan otak.
Inilah yang disebut dengan Central Governor Theory. Bahwa otak adalah “pengatur pusat” yang mengatur seberapa jauh kita bisa terus bergerak. Hal yang sering terjadi adalah otot masih kuat tapi otak kita bisa bilang: “Stop. Ini terlalu berat. Mending berhenti aja.”
Dan anehnya… otak sering terlalu cepat menyerah. Dia seperti ibu-ibu yang over protective sama anaknya. Tujuannya, sih, bagus, dia ingin melindungi induknya. Dan itu yang menyebabkan kita berhenti sebelum waktunya. Yang terjadi adalah otot masih gagah tapi otak sudah nyerah.
Pernah suatu hari saya ikut lomba lari maraton. Saat itu saya udah gempor banget. Saya merasa gak kuat lari lagi dan memutuskan berhenti di pos terakhir sekalian ngambil minum lalu pulang ke rumah.
Begitu sampe di pos, panitia ngasih tau bahwa garis finish tinggal 100 meter lagi, lalu apa yang terjadi? Tiba-tiba saya bisa lari sprint kayak Gundala Putera Petir. Kenapa? Karena begitu mengetahui ada data baru yang rasanya bisa dilakukan, otak langsung mencabut remnya.
Sama persis dengan tanjakan hidup. Saat hidup mulai berat—utang numpuk, relasi ribet, kerjaan mentok, temen menjauh—kita gak cuma capek badan, tapi juga mental dan emosi. Dan saat itu, otak udah mulai berbisik: “Udahlah, kita gak sanggup.” “Capek banget, kan? Nyerah aja, yuk! ”
Tapi ingat! Itu belum tentu kondisi asli kita. Bisa jadi itu cuma rem dari otak yang takut kita kenapa-kenapa. Maka, tanjakan bukan cuma tempat kita diuji. Tapi tempat kita disadarkan.
Di jalan datar, kita bisa jauh melangkah. Tapi di tanjakan, kita belajar siapa diri kita. Kita jadi sadar bahwa capek itu bisa dikalahkan— bukan dengan tenaga, tapi dengan keyakinan.
Dan kadang, yang dibutuhkan bukan tambahan kekuatan. Tapi sekadar suara di kepala yang bilang: “Ayo, dikit lagi… Lo masih bisa.”
Jalan datar membuat kita jauh melangkah. Jalan bergelombang membuat bertumbuh. Dan ketika berhasil melaluinya, kita bukan cuma lebih kuat—tapi juga lebih tahu seberapa besar potensi kita yang selama ini tersembunyi.
#INISIATIF #TGIF
oleh: Budiman Hakim
“Brenti dulu, Bro. Capek banget gue…”
Saya menoleh ke belakang. Sahala nampak mukanya sangat pucat. Napasnya ngos-ngosan. Keringatnya netes dari pelipis. Padahal baru jalan beberapa menit.
“Belom juga 100m, masak udah capek?” tanya saya heran.
“Iya, gue juga bingung. Mungkin karena banyak tanjakan. Padahal kalo di jalan datar, gue bisa jalan 20 ribu langkah tanpa masalah.”
Nah! Pernah nggak kalian merasa seperti yang dialami Sahala. Kalau jalan kaki di medan yang datar, kita bisa jauh melangkah. Bahkan sambil ngobrol, dengerin musik, atau mikirin hidup. Gak berasa tau-tau udah 10 ribu langkah. Tapi begitu jalurnya nanjak dikit…
Langkah kita melambat. Napas jadi pendek. Pundak kerasa berat. Dan baru beberapa menit, kita langsung mengeluh, “Hadoh! Capek banget.”
Yang menyebabkan hal itu terjadi adalah gara-gara kerja otak. Gini penjelasannya: Waktu berjalan di jalur yang datar, otot bekerja stabil. Detak jantung tenang. Semua organ bergerak secara otomatis dan ritmik. Otak kita merasa tidak perlu mengendalikan tubuh dan masuk ke mode autopilot.
Otak bisa mikir yang lain—merenung, mendengarkan lagu, bahkan merancang hidup. Proses melangkah di jalan datar itu kayak meditasi bergerak. Di saat itu biasanya pikiran kita melayang ke masa-masa lalu dan bukan jarang kita bisa mendapatkan ide dan pencerahan.
Tapi saat jalan mulai menanjak, semuanya berubah. Tubuh kita mulai mengirim sinyal: “Napas pendek. Kaki berat. Paru-paru ngos-ngosan.”
Mode autopilot langsung dimatikan. Otak bersiaga penuh. Nggak bisa lagi santai atau mikir jauh. Karena otak sedang aktif mikir cara bertahan. Di sinilah kuncinya: capek itu bukan sekadar fisik. Tapi keputusan otak.
Inilah yang disebut dengan Central Governor Theory. Bahwa otak adalah “pengatur pusat” yang mengatur seberapa jauh kita bisa terus bergerak. Hal yang sering terjadi adalah otot masih kuat tapi otak kita bisa bilang: “Stop. Ini terlalu berat. Mending berhenti aja.”
Dan anehnya… otak sering terlalu cepat menyerah. Dia seperti ibu-ibu yang over protective sama anaknya. Tujuannya, sih, bagus, dia ingin melindungi induknya. Dan itu yang menyebabkan kita berhenti sebelum waktunya. Yang terjadi adalah otot masih gagah tapi otak sudah nyerah.
Pernah suatu hari saya ikut lomba lari maraton. Saat itu saya udah gempor banget. Saya merasa gak kuat lari lagi dan memutuskan berhenti di pos terakhir sekalian ngambil minum lalu pulang ke rumah.
Begitu sampe di pos, panitia ngasih tau bahwa garis finish tinggal 100 meter lagi, lalu apa yang terjadi? Tiba-tiba saya bisa lari sprint kayak Gundala Putera Petir. Kenapa? Karena begitu mengetahui ada data baru yang rasanya bisa dilakukan, otak langsung mencabut remnya.
Sama persis dengan tanjakan hidup. Saat hidup mulai berat—utang numpuk, relasi ribet, kerjaan mentok, temen menjauh—kita gak cuma capek badan, tapi juga mental dan emosi. Dan saat itu, otak udah mulai berbisik: “Udahlah, kita gak sanggup.” “Capek banget, kan? Nyerah aja, yuk! ”
Tapi ingat! Itu belum tentu kondisi asli kita. Bisa jadi itu cuma rem dari otak yang takut kita kenapa-kenapa. Maka, tanjakan bukan cuma tempat kita diuji. Tapi tempat kita disadarkan.
Di jalan datar, kita bisa jauh melangkah. Tapi di tanjakan, kita belajar siapa diri kita. Kita jadi sadar bahwa capek itu bisa dikalahkan— bukan dengan tenaga, tapi dengan keyakinan.
Dan kadang, yang dibutuhkan bukan tambahan kekuatan. Tapi sekadar suara di kepala yang bilang: “Ayo, dikit lagi… Lo masih bisa.”
Jalan datar membuat kita jauh melangkah. Jalan bergelombang membuat bertumbuh. Dan ketika berhasil melaluinya, kita bukan cuma lebih kuat—tapi juga lebih tahu seberapa besar potensi kita yang selama ini tersembunyi.
Tubuh kita ini cerdas, dia tahu kapan harus rehat, dan kapan harus lanjut. Sobat ATE harus mampu mengenali tanda-tanda sinyal kondisi tubuhnya masing-masing🌤
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GIVEAWAY WINNER 🇲🇨
Selamat kepada Sobat ATE yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 414 The Diary of a CEO, Membongkar Pola Pikir Para Pemimpin Hebat:
1. Ibu Sri Wahyuningsih (Asdep Administrasi Badan)
2. Nur Sugiarti (PATT Telekolekting KC Semarang)
3. Fabio Syakira H @Fabioo_17 (PATT FL Kab Pesisir Selatan KC Padang)
4. Rahayu Triana Yusti (Verifikator Klaim KC Medan)
5. Effi Ekayanti @aakarpohon (RO KC Palopo)
6. Zaipan Popiyandi @Zaipan (Kabag PKP KC Bengkulu)
Trims atas partisipasinya dan sampai bertemu pada kelas pembelajaran ATE selanjutnya🙏
Fun and meaningful di ATE🥰
#INISIATIF
JUM'AT (Jangan Lupa Untuk Makin Hebat)💯
Selamat kepada Sobat ATE yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 414 The Diary of a CEO, Membongkar Pola Pikir Para Pemimpin Hebat:
1. Ibu Sri Wahyuningsih (Asdep Administrasi Badan)
2. Nur Sugiarti (PATT Telekolekting KC Semarang)
3. Fabio Syakira H @Fabioo_17 (PATT FL Kab Pesisir Selatan KC Padang)
4. Rahayu Triana Yusti (Verifikator Klaim KC Medan)
5. Effi Ekayanti @aakarpohon (RO KC Palopo)
6. Zaipan Popiyandi @Zaipan (Kabag PKP KC Bengkulu)
Trims atas partisipasinya dan sampai bertemu pada kelas pembelajaran ATE selanjutnya
Fun and meaningful di ATE
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
KOPDAR PAMJAKIAN #5
Kopi Daring Pamjakian edisi 5
Transformasi digital sistem kesehatan nasional menuntut klaim asuransi yang cepat, transparan, dan terintegrasi. Tantangan interoperabilitas antar penyedia layanan dan perusahaan asuransi menjadi krusial untuk diatasi bersama.
Kopdar Pamjakian kembali hadir dengan topik pembahasan:
INTEROPERABILITAS KLAIM ASURANSI KESEHATAN
🗓️ Minggu, 25 Mei 2025
🕘 09.00–12.00 WIB
📍 Zoom – bit.ly/KopdarPanjiEd-5
🎙️ Narasumber:
• dr. Mulyadi Muchtiar, M.A.R.S. – Direktur Utama RS Yarsi
• dr. Aditya Indra Kusuma – Head of Onboarding & Insurance Benefit, Sun Life Indonesia
• Risty Restia, AAK – Technical Advisor Pembiayaan Kesehatan, TTDK Kemenkes RI
🗣️ Moderator:
Jefri, AAK – PAMJAKI
Mari diskusikan peluang dan tantangan integrasi data klaim antar sistem dan lembaga demi ekosistem asuransi kesehatan yang lebih efisien dan berdaya saing.
📌 Terbuka bagi profesional kesehatan, praktisi asuransi, serta pemangku kepentingan ekosistem pembiayaan kesehatan digital.
Informasi:
Ayu: +62 878-7289-6025
Mukhlis: +62 821-3020-0212
Kopi Daring Pamjakian edisi 5
Transformasi digital sistem kesehatan nasional menuntut klaim asuransi yang cepat, transparan, dan terintegrasi. Tantangan interoperabilitas antar penyedia layanan dan perusahaan asuransi menjadi krusial untuk diatasi bersama.
Kopdar Pamjakian kembali hadir dengan topik pembahasan:
INTEROPERABILITAS KLAIM ASURANSI KESEHATAN
🗓️ Minggu, 25 Mei 2025
🕘 09.00–12.00 WIB
📍 Zoom – bit.ly/KopdarPanjiEd-5
🎙️ Narasumber:
• dr. Mulyadi Muchtiar, M.A.R.S. – Direktur Utama RS Yarsi
• dr. Aditya Indra Kusuma – Head of Onboarding & Insurance Benefit, Sun Life Indonesia
• Risty Restia, AAK – Technical Advisor Pembiayaan Kesehatan, TTDK Kemenkes RI
🗣️ Moderator:
Jefri, AAK – PAMJAKI
Mari diskusikan peluang dan tantangan integrasi data klaim antar sistem dan lembaga demi ekosistem asuransi kesehatan yang lebih efisien dan berdaya saing.
📌 Terbuka bagi profesional kesehatan, praktisi asuransi, serta pemangku kepentingan ekosistem pembiayaan kesehatan digital.
Informasi:
Ayu: +62 878-7289-6025
Mukhlis: +62 821-3020-0212
🇯🇵 Jepang umumkan sebagian besar skuad cadangan untuk pertandingan Kualifikasi Piala Dunia bulan Juni melawan 🇦🇺 Australia dan 🇮🇩 Indonesia, 7 pemain debutan mendapat panggilan timnas pertamanya, sementara beberapa pemain bintang besar absen.
Nampaknya Pelatih Hajime Moriyasu akan menggunakan dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia Putaran 3 terakhir ini untuk bereksperimen, karena Jepang telah dinyatakan lolos ke Piala Dunia 2026 terlepas dari apapun hasil di 2
laga terakhir ini.
Nampaknya Pelatih Hajime Moriyasu akan menggunakan dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia Putaran 3 terakhir ini untuk bereksperimen, karena Jepang telah dinyatakan lolos ke Piala Dunia 2026 terlepas dari apapun hasil di 2
laga terakhir ini.
🚫 Deretan Pemain andalan Jepang yang gak dipanggil seperti Kaoru Mitoma, Junya Ito, Hidemasa Morita, Ayase Ueda, Hiroki Ito, Ko Itakura, Ritsu Doan, Takehiro Tomiyasu (cedera), Daizen Maeda, Reo Hatate, Ao Tanaka, Takumi Minamino, Koki Ogawa (cedera), Yuki Sugawara, Seiya Maikuma, dan masih banyak lagi.
Akankah Timnas Garuda dapat memanfaatkan skuad lapis kedua Jepang ini? atau Jepang tetaplah Jepang, tidak peduli siapa yang berada di lapangan akan tetap kena bantai? 👀
🏆 #AsianQualifiers 𝐑𝐨𝐮𝐧𝐝 𝟑
⚽️ Matchday 𝟗 and 𝟏𝟎
🆚 China — 𝟓/𝟎𝟔/𝟐𝟎𝟐𝟓
🆚 Japan — 𝟏𝟎/𝟎𝟔/𝟐𝟎𝟐𝟓
#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
Kebijaksanaan (Wisdom) = Personal Values + EQ 😇
oleh: Emil Bachtiar
Apa itu kebijaksanaan? Banyak orang mengira bahwa kebijaksanaan bisa muncul seiring bertambahnya usia atau banyaknya buku yang dibaca. Padahal, kebijaksanaan lebih erat kaitannya dengan seberapa dalam seseorang memahami personal values dan menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai itu. Tapi menjadi bijaksana bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, melainkan bagaimana kita menjalani hidup berdasarkan apa yang kita pahami.
Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk hidup selaras dengan nilai-nilai yang penting, dengan mempertimbangkan kebaikan, konteks, dan akibat. Orang yang bijaksana bukan hanya tahu apa yang benar, tapi juga tahu kapan, bagaimana, dan sejauh mana bertindak. Ia tidak hanya berprinsip, tapi juga peka terhadap perasaan dan situasi orang lain.
Orang yang bijaksana tidak mudah reaktif. Ia tidak tergesa menilai, tidak merasa paling benar. Ia mendengarkan, merenung, dan bertindak dengan tenang. Ia tidak hanya tahu apa yang penting, tapi juga menjalaninya secara konsisten. Kehadirannya membawa ketenangan.
Di tengah dunia yang penuh kebisingan dan tuntutan instan, kebijaksanaan menjadi langka. Tapi justru karena itu, ia menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk menjadi pemimpin yang baik, tapi untuk menjadi manusia yang utuh. Tanpa kebijaksanaan, nilai kehilangan makna, dan kecerdasan emosi kehilangan arah.
Contoh kebijaksanaan dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Seorang guru yang menegur muridnya dengan tenang dan penuh empati, bukan dengan kemarahan, karena tahu anak itu sedang menghadapi masalah di rumah.✅
2. Seorang teman yang memilih diam dan mendengarkan ketika sahabatnya curhat, walau sebenarnya tidak setuju, karena tahu bahwa yang dibutuhkan saat itu adalah pendampingan, bukan perdebatan.✅
3. Seorang pemimpin yang menunda keputusan penting agar bisa mempertimbangkan semua sudut pandang, meskipun ada tekanan untuk segera bertindak.✅
4. Seorang anak yang memaafkan orang tuanya yang pernah menyakitinya. Bukan karena melupakan, tapi karena ingin hidup tanpa membawa beban dendam.✅
Kebijaksanaan tidak selalu terlihat dalam keputusan besar. Ia justru sering hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang diambil dengan pertimbangan dan kesadaran. Dalam dunia yang bergerak cepat, pilihan seperti itu adalah bentuk keteguhan.
Menjadi bijaksana bukan hasil dari usia, gelar, atau pengalaman semata. Ia tumbuh dari hidup yang dijalani dengan kesadaran—merenung, merasa, memilih, dan menyesuaikan diri. Ia bukan kesempurnaan, melainkan proses yang terus berjalan untuk tetap jernih dan manusiawi—menjaga agar kita tidak kehilangan arah, tidak kehilangan empati, dan tidak kehilangan diri sebagai manusia di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan.
#INISIATIF
oleh: Emil Bachtiar
Apa itu kebijaksanaan? Banyak orang mengira bahwa kebijaksanaan bisa muncul seiring bertambahnya usia atau banyaknya buku yang dibaca. Padahal, kebijaksanaan lebih erat kaitannya dengan seberapa dalam seseorang memahami personal values dan menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai itu. Tapi menjadi bijaksana bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, melainkan bagaimana kita menjalani hidup berdasarkan apa yang kita pahami.
Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk hidup selaras dengan nilai-nilai yang penting, dengan mempertimbangkan kebaikan, konteks, dan akibat. Orang yang bijaksana bukan hanya tahu apa yang benar, tapi juga tahu kapan, bagaimana, dan sejauh mana bertindak. Ia tidak hanya berprinsip, tapi juga peka terhadap perasaan dan situasi orang lain.
Kebijaksanaan bukan semata soal logika. Ia lahir dari pertemuan dua hal penting: personal values (nilai-nilai pribadi yang diyakini) dan emotional intelligence (kepekaan emosi terhadap diri sendiri dan orang lain). Personal values memberi arah hidup. EQ memberi kepekaan dalam menjalaninya. Tanpa personal values, seseorang bisa cerdas secara emosi tapi manipulatif. Tanpa EQ, seseorang bisa hidup berprinsip tapi menghakimi dan menyakiti.
Orang yang bijaksana tidak mudah reaktif. Ia tidak tergesa menilai, tidak merasa paling benar. Ia mendengarkan, merenung, dan bertindak dengan tenang. Ia tidak hanya tahu apa yang penting, tapi juga menjalaninya secara konsisten. Kehadirannya membawa ketenangan.
Di tengah dunia yang penuh kebisingan dan tuntutan instan, kebijaksanaan menjadi langka. Tapi justru karena itu, ia menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk menjadi pemimpin yang baik, tapi untuk menjadi manusia yang utuh. Tanpa kebijaksanaan, nilai kehilangan makna, dan kecerdasan emosi kehilangan arah.
Contoh kebijaksanaan dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Seorang guru yang menegur muridnya dengan tenang dan penuh empati, bukan dengan kemarahan, karena tahu anak itu sedang menghadapi masalah di rumah.
2. Seorang teman yang memilih diam dan mendengarkan ketika sahabatnya curhat, walau sebenarnya tidak setuju, karena tahu bahwa yang dibutuhkan saat itu adalah pendampingan, bukan perdebatan.
3. Seorang pemimpin yang menunda keputusan penting agar bisa mempertimbangkan semua sudut pandang, meskipun ada tekanan untuk segera bertindak.
4. Seorang anak yang memaafkan orang tuanya yang pernah menyakitinya. Bukan karena melupakan, tapi karena ingin hidup tanpa membawa beban dendam.
Kebijaksanaan tidak selalu terlihat dalam keputusan besar. Ia justru sering hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang diambil dengan pertimbangan dan kesadaran. Dalam dunia yang bergerak cepat, pilihan seperti itu adalah bentuk keteguhan.
Menjadi bijaksana bukan hasil dari usia, gelar, atau pengalaman semata. Ia tumbuh dari hidup yang dijalani dengan kesadaran—merenung, merasa, memilih, dan menyesuaikan diri. Ia bukan kesempurnaan, melainkan proses yang terus berjalan untuk tetap jernih dan manusiawi—menjaga agar kita tidak kehilangan arah, tidak kehilangan empati, dan tidak kehilangan diri sebagai manusia di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan.
Apakah Sobat ATE pernah melihat/mengamati orang yang "bijaksana" sesuai penjelasan di atas?
🫡
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
KENAPA IDE SERING MUNCUL DI TOILET 🧐
oleh: Budiman Hakim
Tau gak? Saya punya pemahaman bahwa manusia itu ditakdirkan untuk berkarya. Berkarya itu penting untuk melanjutkan peradaban. Dan hebatnya, Tuhan tidak cuma nyuruh-nyuruh doang, Dia membekali kita perangkat untuk berkarya. Apa itu? Ada dua, 1. Pancaindra dan 2. Otak.
Pancaindra tugasnya sederhana: mendeteksi data. Dia seperti satpam di gerbang, melaporkan semua tamu yang keluar masuk—apa yang kita lihat, dengar, cium, kecap, dan rasakan.
Mata menangkap cahaya dan bentuk. Telinga menangkap getaran suara. Hidung mencium aroma. Lidah mengecap rasa. Kulit merasakan tekanan dan suhu. Namun harus diingat: Semua itu cuma “data mentah.”
Data yang ditangkap pancaindra masuk ke otak seperti file ZIP—belum bisa dibaca sebelum diekstrak. Nah, di sinilah tugas otak dimulai:
Otak adalah pusat pemrosesan. Ia membuka file ZIP itu satu per satu, menghubungkan antara satu data dengan data lain, mencocokkannya dengan memori masa lalu, dan menyusunnya menjadi makna.
Saat kita melihat awan mendung, pancaindra melaporkan: "Langit gelap, angin dingin, suara gemuruh." Otak segera menyimpulkan: “Oh, mau hujan. Ambil jas hujan.”
Tapi… ada fenomena yang sangat menarik. Ketika pancaindra dalam keadaan idle, tidak sedang sibuk menangkap data, justru otak menjadi lebih leluasa bekerja. Dia mulai menyusun ulang potongan ingatan, menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tampak tak berkaitan, memunculkan ide-ide baru, bahkan kadang melahirkan ilham.
Itu sebabnya ide sering muncul di tempat-tempat tak terduga. Misalnya yang paling sering dikatakan orang adalah ide suka nongol di toilet.
Bener banget. Bukan karena toiletnya sakti, tapi karena saat itu pancaindra sedang diam. Dan saat pancaindra diam, otak berpesta. Selain di toilet, otak paling sering menemukan ide waktu mandi, waktu bengong tunggu MRT, waktu nyetir atau waktu jalan sore sendirian tanpa earphone.
Itu semua momen ketika pancaindra off duty. Dan justru saat itulah otak bisa leluasa bersuara. Dia mulai mengurai ingatan, menyusun ulang potongan peristiwa, dan tiba-tiba… “Eh, gue kayaknya bisa bikin cerita dari kejadian itu ya…” Atau: “Oh! Ide buku gue dapet sekarang!”
Maka jangan heran kalau orang zaman dulu suka bertapa. Mereka menonaktifkan semua pancaindra—tidak melihat, tidak bicara, tidak mendengar dunia luar—agar bisa menyelam ke dalam samudra pikiran. Karena di sanalah ide, makna, dan kadang jawaban hidup, muncul perlahan.
RUANG HENING ITU TEMPAT IDE BERTUMBUHAN
Setelah pancaindra dimatikan sementara, otak mulai bekerja. Satu hal penting yang harus kita siapkan adalah: ruang hening. Tempat di mana tidak ada gangguan dari luar. Bukan sekadar tempat fisik—tapi juga ruang batin.
Ruang hening itu bukan berarti harus pergi ke gunung atau ke gua di tepi pantai. Kadang cukup dengan tidak membuka HP selama sejam. Atau jalan kaki sore hari tanpa musik, hanya ditemani derap langkah dan suara angin.
Di ruang hening itu, memori kita mulai muncul satu-satu. Bukan yang besar-besar, tapi yang kecil-kecil. Kayak tawa teman masa kecil, suara pintu rumah yang berderit, wajah orang asing yang kita lihat lima detik di angkot. Semuanya bisa jadi bahan.
Di situlah otak mulai memainkan perannya yang paling hebat: mengolah. Menggabungkan hal-hal yang tidak berhubungan jadi sesuatu yang utuh. Yang satu dari ingatan, yang satu dari imajinasi, yang satu dari keinginan paling dalam.
Lanjut part 2👇
oleh: Budiman Hakim
Tau gak? Saya punya pemahaman bahwa manusia itu ditakdirkan untuk berkarya. Berkarya itu penting untuk melanjutkan peradaban. Dan hebatnya, Tuhan tidak cuma nyuruh-nyuruh doang, Dia membekali kita perangkat untuk berkarya. Apa itu? Ada dua, 1. Pancaindra dan 2. Otak.
Pancaindra tugasnya sederhana: mendeteksi data. Dia seperti satpam di gerbang, melaporkan semua tamu yang keluar masuk—apa yang kita lihat, dengar, cium, kecap, dan rasakan.
Mata menangkap cahaya dan bentuk. Telinga menangkap getaran suara. Hidung mencium aroma. Lidah mengecap rasa. Kulit merasakan tekanan dan suhu. Namun harus diingat: Semua itu cuma “data mentah.”
Data yang ditangkap pancaindra masuk ke otak seperti file ZIP—belum bisa dibaca sebelum diekstrak. Nah, di sinilah tugas otak dimulai:
Otak adalah pusat pemrosesan. Ia membuka file ZIP itu satu per satu, menghubungkan antara satu data dengan data lain, mencocokkannya dengan memori masa lalu, dan menyusunnya menjadi makna.
Saat kita melihat awan mendung, pancaindra melaporkan: "Langit gelap, angin dingin, suara gemuruh." Otak segera menyimpulkan: “Oh, mau hujan. Ambil jas hujan.”
Tapi… ada fenomena yang sangat menarik. Ketika pancaindra dalam keadaan idle, tidak sedang sibuk menangkap data, justru otak menjadi lebih leluasa bekerja. Dia mulai menyusun ulang potongan ingatan, menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tampak tak berkaitan, memunculkan ide-ide baru, bahkan kadang melahirkan ilham.
Itu sebabnya ide sering muncul di tempat-tempat tak terduga. Misalnya yang paling sering dikatakan orang adalah ide suka nongol di toilet.
Bener banget. Bukan karena toiletnya sakti, tapi karena saat itu pancaindra sedang diam. Dan saat pancaindra diam, otak berpesta. Selain di toilet, otak paling sering menemukan ide waktu mandi, waktu bengong tunggu MRT, waktu nyetir atau waktu jalan sore sendirian tanpa earphone.
Itu semua momen ketika pancaindra off duty. Dan justru saat itulah otak bisa leluasa bersuara. Dia mulai mengurai ingatan, menyusun ulang potongan peristiwa, dan tiba-tiba… “Eh, gue kayaknya bisa bikin cerita dari kejadian itu ya…” Atau: “Oh! Ide buku gue dapet sekarang!”
Maka jangan heran kalau orang zaman dulu suka bertapa. Mereka menonaktifkan semua pancaindra—tidak melihat, tidak bicara, tidak mendengar dunia luar—agar bisa menyelam ke dalam samudra pikiran. Karena di sanalah ide, makna, dan kadang jawaban hidup, muncul perlahan.
RUANG HENING ITU TEMPAT IDE BERTUMBUHAN
Setelah pancaindra dimatikan sementara, otak mulai bekerja. Satu hal penting yang harus kita siapkan adalah: ruang hening. Tempat di mana tidak ada gangguan dari luar. Bukan sekadar tempat fisik—tapi juga ruang batin.
Ruang hening itu bukan berarti harus pergi ke gunung atau ke gua di tepi pantai. Kadang cukup dengan tidak membuka HP selama sejam. Atau jalan kaki sore hari tanpa musik, hanya ditemani derap langkah dan suara angin.
Di ruang hening itu, memori kita mulai muncul satu-satu. Bukan yang besar-besar, tapi yang kecil-kecil. Kayak tawa teman masa kecil, suara pintu rumah yang berderit, wajah orang asing yang kita lihat lima detik di angkot. Semuanya bisa jadi bahan.
Di situlah otak mulai memainkan perannya yang paling hebat: mengolah. Menggabungkan hal-hal yang tidak berhubungan jadi sesuatu yang utuh. Yang satu dari ingatan, yang satu dari imajinasi, yang satu dari keinginan paling dalam.
Itulah asal mula ide.
Ide itu tidak turun dari langit, Guys. Dia muncul dari hutan kecil di dalam kepala kita, dan hanya akan muncul kalau kita berani menenangkan suara luar. Jadi kadang, kalo kamu bilang,"Gue buntu nulis, gak ada ide." Coba cek: Mungkin bukan karena kamu nggak punya ide.Tapi karena kamu nggak kasih waktu untuk mendengarnya.
Besok-besok kalau kamu ke toilet, jangan anggap itu momen sepele. Bisa jadi itu satu-satunya ruang hening dalam hidupmu hari itu. Dan siapa tahu, ide besar justru keluar dari kloset kecil.
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Part 2
JANGAN PERNAH PERCAYA PADA IDE
Kadang ide itu cuma satu kalimat. Kadang cuma gambaran samar. Kadang cuma perasaan aneh yang nggak bisa dijelasin. Tapi semua itu bisa jadi awal dari cerita besar, kalau kamu kasih tempat untuk tumbuh.
Makanya penulis, pemikir, seniman— mereka semua punya kebiasaan yang sama: bawa catatan. Mereka tau: yang paling berharga dari proses kreatif bukan otak yang cemerlang, tapi kesadaran untuk menangkap momen.
Menulis itu bukan soal bakat. Tapi soal kesiapan. Dan ide adalah tamu penting yang tidak pernah membuat janji. Jadi kalau kamu tiba-tiba kepikiran sesuatu di tengah jalan, di toilet, atau lagi di atap ngangkat jemuran kering, jangan ragu untuk berhenti sebentar dan nulis. Karena bisa jadi... itulah kalimat pertama dari buku yang akan mengubah hidupmu.
#INISIATIF
JANGAN PERNAH PERCAYA PADA IDE
Begitu ide muncul, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah: tangkap. Catat. Tulis. Gores. Rekam. Coret. Karena ide itu seperti kupu-kupu liar—datangnya tiba-tiba, warnanya indah, tapi sebentar lagi pasti akan terbang menjauh.
Jangan pernah percaya pada kalimat: "Nanti juga gue inget lagi." Percaya deh, kalian enggak akan inget. Karena otak punya ribuan pintu, dan ide yang tidak dicatat itu kayak tamu yang numpang lewat, pergi tanpa pamit, tanpa meninggalkan jejak.
Kadang ide itu cuma satu kalimat. Kadang cuma gambaran samar. Kadang cuma perasaan aneh yang nggak bisa dijelasin. Tapi semua itu bisa jadi awal dari cerita besar, kalau kamu kasih tempat untuk tumbuh.
Makanya penulis, pemikir, seniman— mereka semua punya kebiasaan yang sama: bawa catatan. Mereka tau: yang paling berharga dari proses kreatif bukan otak yang cemerlang, tapi kesadaran untuk menangkap momen.
Menulis itu bukan soal bakat. Tapi soal kesiapan. Dan ide adalah tamu penting yang tidak pernah membuat janji. Jadi kalau kamu tiba-tiba kepikiran sesuatu di tengah jalan, di toilet, atau lagi di atap ngangkat jemuran kering, jangan ragu untuk berhenti sebentar dan nulis. Karena bisa jadi... itulah kalimat pertama dari buku yang akan mengubah hidupmu.
#INISIATIF
👍1🫡1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤3
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF ✅
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik” bersama kakak @justnamuh dan akan dipandu oleh kakak @withhardshipwillbeease dan @aakarpohon
*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh 🥳
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI✨
#INISIATIF #GrowthMindset
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
"Dari coretan iseng jadi cerita. Siapa sangka belajar jadi komikus ternyata seru banget?"
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik” bersama kakak @justnamuh dan akan dipandu oleh kakak @withhardshipwillbeease dan @aakarpohon
*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh 🥳
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI✨
Join COMMIT Ask the Experts
(Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
KOMEDI DI JALAN RAYA 🫣
oleh: Budiman Hakim
Tadi siang ada kejadian lucu sekaligus miris. Sebuah motor disenggol mobil di pertigaan Senopati. Nggak parah, sih. Motornya cuma jatuh pelan. Pengendaranya dengan sigap bangun sendiri. Tapi begitu berdiri, langsung membentak, "Heh! Bisa bawa mobil nggak? Goblok!"
Si pengemudi mobil juga turun dan dengan nggak kalah sengit langsung memaki, "Lo yang bego, motong jalan sembarangan, nggak pakai sen pulak!"
Suasana makin panas. Tadinya saya mengira akan terjadi baku hantam. Ternyata dugaan saya salah. Keduanya meraih senjata masing-masing dari kantongnya. Pistol? Bukan. Pisau? Salah! Senjata yang mereka gunakan adalah HP. Dengan HP itu mereka mulai saling rekam. Bukannya saling tolong, bukannya saling memaafkan, tapi saling bentak, saling rekam dan saling memviralkan.
“Gue viralin lo. Biar tau rasa.” Si pengendara motor sambil mengarahkan kamera HPnya.
“Lo juga gue viralin. Udah salah ngotot pulak! Tolol lo!”
Keanehan semakin absurd, orang-orang di sekitar TKP, nggak ada yang berniat melerai. Mereka malahan beramai-ramai ngeluarin HP juga dan ikut ngerekam yang lagi berseteru. Buat saya ini komedi yang paling gak lucu. Udah gak jelas siapa korban, siapa kawan, siapa lawan dan siapa wartawan.
Kadang saya mikir, kita hidup di zaman aneh. Kamera ada di mana-mana. Dulu buat mengabadikan kenangan, sekarang buat membenarkan pandangan. Yang dicari bukan kebenaran, tapi pembenaran. Yang penting bukan siapa yang salah, tapi siapa yang lebih dulu upload.
Kamera di tangan kita menjanjikan satu hal: kuasa atas narasi. Sekali rekam, bisa framing. Sekali unggah, bisa jadi korban. Dan satu video bisa jadi pelindung dari rasa bersalah, bahkan ketika kita sebenarnya salah.
Teknologi harusnya membantu kita melihat lebih jelas, tapi nyatanya justru bikin kita makin keruh oleh ego. Kamera yang dulu jadi mata ketiga, kini jadi tameng untuk tidak mau melihat diri sendiri.
Zaman dulu orang ribut lalu berdamai. Sekarang orang ribut lalu rekam. Berdamai urusan nanti—yang penting masuk FYP dulu.
Karena di era ini, yang terekam dianggap nyata, dan yang tidak terekam dianggap tak pernah ada. Kita semua mungkin sudah lupa bahwa dalam hidup, yang paling penting bukan siapa yang benar di depan kamera, tapi siapa yang berani minta maaf meski nggak ada yang nonton.👏
#INISIATIF #MenujuLongWeekend
oleh: Budiman Hakim
Tadi siang ada kejadian lucu sekaligus miris. Sebuah motor disenggol mobil di pertigaan Senopati. Nggak parah, sih. Motornya cuma jatuh pelan. Pengendaranya dengan sigap bangun sendiri. Tapi begitu berdiri, langsung membentak, "Heh! Bisa bawa mobil nggak? Goblok!"
Si pengemudi mobil juga turun dan dengan nggak kalah sengit langsung memaki, "Lo yang bego, motong jalan sembarangan, nggak pakai sen pulak!"
Suasana makin panas. Tadinya saya mengira akan terjadi baku hantam. Ternyata dugaan saya salah. Keduanya meraih senjata masing-masing dari kantongnya. Pistol? Bukan. Pisau? Salah! Senjata yang mereka gunakan adalah HP. Dengan HP itu mereka mulai saling rekam. Bukannya saling tolong, bukannya saling memaafkan, tapi saling bentak, saling rekam dan saling memviralkan.
“Gue viralin lo. Biar tau rasa.” Si pengendara motor sambil mengarahkan kamera HPnya.
“Lo juga gue viralin. Udah salah ngotot pulak! Tolol lo!”
Keanehan semakin absurd, orang-orang di sekitar TKP, nggak ada yang berniat melerai. Mereka malahan beramai-ramai ngeluarin HP juga dan ikut ngerekam yang lagi berseteru. Buat saya ini komedi yang paling gak lucu. Udah gak jelas siapa korban, siapa kawan, siapa lawan dan siapa wartawan.
Kadang saya mikir, kita hidup di zaman aneh. Kamera ada di mana-mana. Dulu buat mengabadikan kenangan, sekarang buat membenarkan pandangan. Yang dicari bukan kebenaran, tapi pembenaran. Yang penting bukan siapa yang salah, tapi siapa yang lebih dulu upload.
Kamera di tangan kita menjanjikan satu hal: kuasa atas narasi. Sekali rekam, bisa framing. Sekali unggah, bisa jadi korban. Dan satu video bisa jadi pelindung dari rasa bersalah, bahkan ketika kita sebenarnya salah.
Teknologi harusnya membantu kita melihat lebih jelas, tapi nyatanya justru bikin kita makin keruh oleh ego. Kamera yang dulu jadi mata ketiga, kini jadi tameng untuk tidak mau melihat diri sendiri.
Zaman dulu orang ribut lalu berdamai. Sekarang orang ribut lalu rekam. Berdamai urusan nanti—yang penting masuk FYP dulu.
Kita pikir kamera itu jujur. Tapi kamera cuma menangkap apa yang kita arahkan. Dan tangan yang menggenggam kamera itu sering kali lebih sibuk membela ego, bukan mencari kebenaran.
Karena di era ini, yang terekam dianggap nyata, dan yang tidak terekam dianggap tak pernah ada. Kita semua mungkin sudah lupa bahwa dalam hidup, yang paling penting bukan siapa yang benar di depan kamera, tapi siapa yang berani minta maaf meski nggak ada yang nonton.
#INISIATIF #MenujuLongWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Ijin share #recording kegiatan ATE Edisi 415 Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik bersama Kakak Hidayatul Fitriyati 🇮🇩
https://youtu.be/n_3CF8L6HUI?si=wjkZLtp3wfbnPw8p
https://youtu.be/n_3CF8L6HUI?si=wjkZLtp3wfbnPw8p
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
ATE Edisi 415 Mulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komik Bersama Hidayatul Fitriyati
Salam INSIATIF ✅
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
"Dari coretan iseng jadi cerita. Siapa sangka belajar jadi komikus ternyata seru banget?"
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai…
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts✨
"Dari coretan iseng jadi cerita. Siapa sangka belajar jadi komikus ternyata seru banget?"
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
“Mulai…
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Yang Ngeluh Capek Kerja Mana Suaranya? yuk kita intip video berikut ini
https://www.instagram.com/reel/DKJj8BszBou/?igsh=MThtZW9heGJtdW5pNg==
#INISIATIF #LongWeekend
https://www.instagram.com/reel/DKJj8BszBou/?igsh=MThtZW9heGJtdW5pNg==
#INISIATIF #LongWeekend