Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
๐Ÿ“ฃ ๐†๐š๐ซ๐ฎ๐๐š ๐‚๐š๐ฅ๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

๐Ÿ† #AsianQualifiers ๐‘๐จ๐ฎ๐ง๐ ๐Ÿ‘
โšฝ๏ธ Matchday ๐Ÿ— and ๐Ÿ๐ŸŽ

๐Ÿ†š China โ€” ๐Ÿ“/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“
๐Ÿ†š Japan โ€” ๐Ÿ๐ŸŽ/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“

#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐—ž๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ ๐—ž๐—ถ๐˜๐—ฎ ๐—š๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—•๐—ฎ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ ๐—ฆ๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ข๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ฒ๐—ป๐˜๐˜‚? ๐Ÿ—ฃ๐Ÿค
(๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ง๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜Š๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜‹๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ข)

oleh: Afif Luthfi

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang peserta pelatihan yang curhat soal kantornya.

"Pak, saya tuh kerja bareng orang yang kalau ngomong tuh... nyolot, Pak. Kayak ngerasa dia paling bener. Saya capek, baper terus."

Saya diam. Lalu saya tanya, "Apa dia tahu kamu ngerasa begitu?"

"Kayaknya nggak. Soalnya dia ngomongnya gitu ke semua orang." Jawabnya.

Dan di titik itu saya sadar, kadang kita baper bukan karena orang lain salah, tapi karena kita beda.


Banyak dari kita diajarkan sejak kecil bahwa "semua orang itu sama". Tapi kenyataannya, cara kita melihat, merespons, bahkan mencintai... nggak selalu sama.

Ada orang yang berpikir cepat, bergerak agresif, dan suka ambil keputusan.

Ada juga yang lebih suka membangun hubungan, menenangkan, dan menghindari konflik.

Ada yang fokus ke detail. Ada yang fokus ke visi besar.

Lalu saat dua kepribadian itu bertemu, tanpa saling paham, muncullah benturan.

Yang satu ngerasa: "Kok dia lambat banget sih?"

Yang lain mikir: "Kok dia nyuruh-nyuruh mulu?"

Di sinilah seni berkomunikasi diuji. Diuji soal mengelola perbedaan cara berpikir dan berinteraksi.


Dan ini bukan soal siapa yang benar. Tapi bagaimana kita bisa memahami gaya komunikasi dan kepribadian orang lain, lalu menyesuaikan... tanpa kehilangan jati diri.

Karena ketika kita tahu gaya komunikasi orang lain, kita bisa berhenti tersinggung, dan mulai terkoneksi.

Sobat ATE sering merasa demikian juga gak dengan 1 atau beberapa orang tertentu?
โ˜น๏ธ


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
The Diary of a CEO : Hukum 1 - Isi ember Anda dalam urutan yang benar ๐Ÿ”ฅ

oleh: Deni Chan

5 (Lima) Ember

1. Apa yang Anda ketahui - Pengetahuan Anda
2. Apa yang dapat Anda lakukan - Keterampilan Anda
3. Siapa yang Anda kenal - Jaringan Anda
4. Apa yang Anda miliki - Sumber Daya Anda
5. Apa yang dunia pikirkan tentang Anda - Reputasi Anda

Prioritaskan pengisian dua ember pertama di fondasi Anda karena akan memiliki keberlanjutan jangka panjang yang Anda butuhkan ๐Ÿซก


Kemunduran atau bencana dapat menghilangkan sumber daya Anda, jaringan Anda, atau reputasi Anda, tetapi tidak akan pernah menghilangkan pengetahuan Anda dan tidak akan pernah melupakan keterampilan Anda ๐Ÿ”ฅ

https://youtu.be/08uFswMHg-U?si=xC7mGwlSjx4YkdVq

Btw, malam ini mulai pukul 19.00 WIB, di ATE akan ada pembahasan buku The Diary of a CEO, Sobat ATE jangan sampai kelewatan yah
๐Ÿค


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅAsk the Experts
#Edisi414๐Ÿ”ฅโœจ

Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts Edisi 414โœจ

๐Ÿ“Œ Kebangkitan bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang keberanian memimpin perubahan hari ini. Seorang pemimpin sejati menyalakan cahaya di tengah gelap, bukan menunggu terang datang.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


Sharing
ATE edisi 414 akan dibawakan oleh Narasumber luar biasa Bapak @Erwinfa dan akan dipandu oleh host kece @mirdaherlinda dan @FarisFR

*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh ๐Ÿฅณ


Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts
(Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) -->
Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
Salah Kirim Pesan Bisa Bikin Masalah Jadi Panjang ๐Ÿซฃ

oleh: Wicaksono

Kemarin saya dengar cerita lucu tapi sebenarnya agak miris. Seorang ibu bendahara sekolah dasar tiba-tiba kirim pesan ke grup WhatsApp wali murid.

Katanya, โ€œUang kegiatan wajib disetor paling lambat Jumat.โ€ Titik. Nggak pakai keterangan tambahan apa pun.

Padahal, maksudnya pengumuman itu cuma untuk murid kelas 5 dan 6. Tapi karena pesannya singkat dan umum, wali murid dari kelas 1 sampai 4 pun ikut panik. Ada yang langsung transfer. Ada yang protes karena katanya belum ada pengumuman resmi. Grup WAG pun meledak, kayak petasan sumbu pendek.

Di tempat lain, seorang bapak bilang ke anaknya, โ€œNak, bu guru kirim pesan di WAG. Besok jangan lupa bawa buku merah, ya.โ€ Maksudnya buku catatan matematika. Tapi karena tidak dijelaskan dengan jelas, anaknya besoknya malah bawa buku tabungan yang sampulnya juga merah.

Di sekolah, dia dimarahi guru karena dianggap teledor. Sampai di rumah, anak itu manyun, sambil ngomel, โ€œAyah itu kalau ngomong nggak jelas, selalu bikin aku salah bawa.โ€

Kedua cerita ini bukan dongeng. Ini kejadian sehari-hari. Bisa terjadi di rumah kita, di kantor, bahkan di warung kopi sebelah.

Masalah yang awalnya sederhana jadi runyam karena satu hal: komunikasi yang nggak nyambung. Bisa karena pesannya terlalu pendek, terlalu kabur, atau nggak mempertimbangkan siapa yang nerima. Kadang karena terlalu buru-buru, kadang karena kita merasa semua orang pasti ngerti maksud kita. Padahal, belum tentu.

Banyak orang berpikir, komunikasi itu cuma urusan bos di ruang rapat, atau PR di depan kamera. Padahal, persoalan komunikasi justru paling sering muncul dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele. Tapi dampaknya bisa luar biasa. Salah paham, hubungan renggang, kerjaan jadi kacau, dan kadang, harga diri bisa ikut remuk. Komunikasi yang buruk itu seperti menabur benih di tanah yang salah: bukan tumbuh, tapi malah bikin semak liar di mana-mana.


Kita sering lupa bahwa gagal komunikasi itu bukan sekadar nggak nyambung. Ia bisa memecah tim, membunuh ide, bahkan menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun lama. Di dunia kerja, komunikasi bukan cuma soal bicara. Ia adalah mata uang kepercayaan. Dan begitu nilainya jatuh, sulit untuk menukarnya kembali.

Karena sesungguhnya, komunikasi bukan cuma soal ucapan. Ia adalah perpaduan antara seni dan ilmu: seni membaca suasana, dan ilmu menyampaikan makna.

Bayangkan sampeyan pegang senter di ruangan gelap. Komunikasi itu seperti senter tadi. Tugas kita bukan cuma menyalakannya, tapi juga mengarahkan cahaya ke tempat yang tepat. Kalau cahayanya buram, atau kita malah menyorot ke arah yang salah, ya orang lain akan tersandung. Dan yang disalahkan? Bukan lantainya, tapi yang megang senternya.

Kita hidup di zaman di mana teknologi berkembang pesat, AI makin canggih, dan semua serba otomatis. Tapi lucunya, di tengah semua kemajuan itu, keterampilan yang paling dicari justru bukan yang paling teknis.

Menurut riset dari Aura Intelligence, dari hampir dua juta lowongan kerja yang mereka telaah,
yang paling dicari bukan coding atau programming, tapiโ€ฆ
komunikasi
.
Karena ternyata, algoritma sehebat apa pun belum bisa menandingi kemampuan manusia untuk mengerti emosi, menangkap gelagat, dan menyampaikan rasa.


AI bisa menjawab pertanyaan teknis dengan cepat. Tapi hanya manusia yang bisa tahu kapan harus diam, kapan harus bicara lembut, dan kapan harus merangkul lewat kata-kata. Komunikasi membawa empati. Membawa intuisi. Membawa rasa hangat yang nggak bisa diketik oleh mesin.

Itulah mengapa pemimpin besar bukanlah mereka yang tahu segalanya, tapi mereka yang bisa menjelaskan arah dan tujuan dengan cara yang menyentuh. Bukan megafon yang memekakkan telinga, tapi jembatan yang menghubungkan visi dan aksi. Sering kali, orang tidak peduli seberapa pintar Anda, tapi mereka peduli bagaimana Anda membuat mereka merasa disentuh hatinya.

Lanjut Part 2 ๐Ÿ‘‡
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
Part 2

Dan komunikasi itu wajahnya banyak. Ia bisa verbalโ€”kata-kata yang kita ucapkan. Tapi juga bisa nonverbalโ€”gerak tangan, ekspresi, nada suara. Tubuh kita bisa menjadi panggung kecil tempat pesan-pesan tampil, meski tak ada satu kata pun terucap. Kadang, diam itu sendiri sudah merupakan bentuk komunikasi yang paling lantang.

Ia juga bisa tertulis. Lewat email, laporan, pesan pendek. Tulisan kita adalah bayangan kita ketika tubuh kita tidak hadir. Maka jangan remehkan koma, jangan abaikan titik. Karena satu paragraf yang rancu bisa merusak jam kerja satu tim. ๐Ÿซก

Dan yang tak kalah penting: komunikasi visual. Gambar, grafik, infografik. Di zaman data, visual itu seperti peta: ia membantu orang memahami tanpa harus menghafal seluruh kompas teknis.

Lalu bagaimana kita bisa belajar jadi komunikator yang baik?

Pertama, struktur itu penting. Sebelum bicara, tanya dulu pada diri sendiri: mau ngomong apa? Ke siapa? Dengan tujuan apa? Jangan asal nyerocos. Arahkan sentermu ke tempat yang ingin dituju.

Kedua, sederhanakan bahasa. Jargon itu kabut. Gunakan kata-kata yang jernih seperti air sumur. Supaya semua orang bisa minum tanpa tersedak.

Ketiga, dengarkan dengan hati. Jangan dengar untuk membalas. Dengarkan untuk mengerti. Tahan godaan ingin cepat-cepat menyela.

Keempat, pilih saluran yang pas. Tak semua urusan harus meeting. Tak semua pesan cocok di grup WhatsApp. Komunikasi itu bukan cuma isi, tapi juga wadahnya.

Dan terakhir, cari cermin. Tanyakan pada orang yang Anda percaya: โ€œGaya ngomong saya ini jelas nggak sih? Bisa dipahami nggak?โ€ Cermin kadang menyakitkan. Tapi justru dari situ kita belajar menata ulang cara menyampaikan.

Keterampilan teknis bisa usang. Bisa tergantikan. Tapi komunikasi adalah akar yang menumbuhkan semua cabang lainnya. Kalau ia dirawat, ia bisa jadi pohon rindang. Meneduhkan hubungan, menguatkan karier, dan berbuah kepercayaan.


Sekarang ini, mesin sudah bisa bicara. Tapi manusialah yang masih harus belajar mendengar. Karena pada akhirnya, pesan bukan soal apa yang kita katakan. Tapi bagaimana orang lain merasakannya.

Dan di tengah bisingnya notifikasi, grafik penjualan, dan presentasi PowerPoint yang warnanya norak, keterampilan komunikasi adalah satu suara yang membuat Anda dikenali, dipercaya, dan diingat. โœ๏ธ

Seperti kata pepatah lamaโ€”yang barangkali perlu kita renungkan ulang: lidah tak bertulang, tapi bisa membangun atau meruntuhkan istana.

Atau seperti kata teman saya: lidah memang tak bertulang, tapi bisa bikin pinggang angkat. Entah maksudnya apa, tapi ya begitu kenyataannya.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅ COMING SOON ๐Ÿ”ฅโœจ

Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโœจ

Belajar bikin komik dari nol?
Yuk, ikuti INISIATIF Class bertajuk:
โ€œMulai Ngomik: Dari Coretan Menjadi Komikโ€ bersama kakak @justnamuh

Hanya dengan coretan awal hingga jadi karya komik siap baca! Yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 ๐Ÿ“

โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASIโœจ

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
๐Ÿฅฐ3๐Ÿ‘2
3 (TIGA) KETERAMPILAN PENTING UNTUK DUNIA SAAT INI ๐Ÿ˜‡

oleh: Gatot Widayanto

https://youtu.be/Z-zYu4patP8?si=gG7-1KJh0Sx898GA

Dalam video ini, Robert Greene membahas tiga keterampilan penting untuk dunia saat ini:

1. Belajar bekerja sama dengan orang lain,
2. Cinta belajar, dan
3. Perlunya kesabaran ๐Ÿซถ

Asik aja ada "kesabaran" sebagai salah satu skill yang dia tawarkan. Memang bener juga sih, kesabaran harus dilatih dan bisa menjadi skill ya ....

Salah satu Leader kita di ATE pernah berpesan bahwa hidup ini itu gak pernah jauh dari 2 (dua) hal yakni Syukur dan Sabar. So selain memperbanyak rasa syukur, sudahkah anda selama ini juga melatih memperbanyak kesabaran? ๐Ÿ˜‡


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
MENDAKI TANJAKAN HIDUP ๐Ÿ”ฅ

oleh: Budiman Hakim

โ€œBrenti dulu, Bro. Capek banget gueโ€ฆโ€

Saya menoleh ke belakang. Sahala nampak mukanya sangat pucat. Napasnya ngos-ngosan. Keringatnya netes dari pelipis. Padahal baru jalan beberapa menit.

โ€œBelom juga 100m, masak udah capek?โ€ tanya saya heran.

โ€œIya, gue juga bingung. Mungkin karena banyak tanjakan. Padahal kalo di jalan datar, gue bisa jalan 20 ribu langkah tanpa masalah.โ€

Nah! Pernah nggak kalian merasa seperti yang dialami Sahala. Kalau jalan kaki di medan yang datar, kita bisa jauh melangkah. Bahkan sambil ngobrol, dengerin musik, atau mikirin hidup. Gak berasa tau-tau udah 10 ribu langkah. Tapi begitu jalurnya nanjak dikitโ€ฆ

Langkah kita melambat. Napas jadi pendek. Pundak kerasa berat. Dan baru beberapa menit, kita langsung mengeluh, โ€œHadoh! Capek banget.โ€

Yang menyebabkan hal itu terjadi adalah gara-gara kerja otak. Gini penjelasannya: Waktu berjalan di jalur yang datar, otot bekerja stabil. Detak jantung tenang. Semua organ bergerak secara otomatis dan ritmik. Otak kita merasa tidak perlu mengendalikan tubuh dan masuk ke mode autopilot.

Otak bisa mikir yang lainโ€”merenung, mendengarkan lagu, bahkan merancang hidup. Proses melangkah di jalan datar itu kayak meditasi bergerak. Di saat itu biasanya pikiran kita melayang ke masa-masa lalu dan bukan jarang kita bisa mendapatkan ide dan pencerahan.

Tapi saat jalan mulai menanjak, semuanya berubah. Tubuh kita mulai mengirim sinyal: โ€œNapas pendek. Kaki berat. Paru-paru ngos-ngosan.โ€

Mode autopilot langsung dimatikan. Otak bersiaga penuh. Nggak bisa lagi santai atau mikir jauh. Karena otak sedang aktif mikir cara bertahan. Di sinilah kuncinya: capek itu bukan sekadar fisik. Tapi keputusan otak.

Inilah yang disebut dengan Central Governor Theory. Bahwa otak adalah โ€œpengatur pusatโ€ yang mengatur seberapa jauh kita bisa terus bergerak. Hal yang sering terjadi adalah otot masih kuat tapi otak kita bisa bilang: โ€œStop. Ini terlalu berat. Mending berhenti aja.โ€

Dan anehnyaโ€ฆ otak sering terlalu cepat menyerah. Dia seperti ibu-ibu yang over protective sama anaknya. Tujuannya, sih, bagus, dia ingin melindungi induknya. Dan itu yang menyebabkan kita berhenti sebelum waktunya. Yang terjadi adalah otot masih gagah tapi otak sudah nyerah.

Pernah suatu hari saya ikut lomba lari maraton. Saat itu saya udah gempor banget. Saya merasa gak kuat lari lagi dan memutuskan berhenti di pos terakhir sekalian ngambil minum lalu pulang ke rumah.

Begitu sampe di pos, panitia ngasih tau bahwa garis finish tinggal 100 meter lagi, lalu apa yang terjadi? Tiba-tiba saya bisa lari sprint kayak Gundala Putera Petir. Kenapa? Karena begitu mengetahui ada data baru yang rasanya bisa dilakukan, otak langsung mencabut remnya.

Sama persis dengan tanjakan hidup. Saat hidup mulai beratโ€”utang numpuk, relasi ribet, kerjaan mentok, temen menjauhโ€”kita gak cuma capek badan, tapi juga mental dan emosi. Dan saat itu, otak udah mulai berbisik: โ€œUdahlah, kita gak sanggup.โ€ โ€œCapek banget, kan? Nyerah aja, yuk! โ€

Tapi ingat! Itu belum tentu kondisi asli kita. Bisa jadi itu cuma rem dari otak yang takut kita kenapa-kenapa. Maka, tanjakan bukan cuma tempat kita diuji. Tapi tempat kita disadarkan.

Di jalan datar, kita bisa jauh melangkah. Tapi di tanjakan, kita belajar siapa diri kita. Kita jadi sadar bahwa capek itu bisa dikalahkanโ€” bukan dengan tenaga, tapi dengan keyakinan.
Dan kadang, yang dibutuhkan bukan tambahan kekuatan. Tapi sekadar suara di kepala yang bilang: โ€œAyo, dikit lagiโ€ฆ Lo masih bisa.โ€

Jalan datar membuat kita jauh melangkah. Jalan bergelombang membuat bertumbuh. Dan ketika berhasil melaluinya, kita bukan cuma lebih kuatโ€”tapi juga lebih tahu seberapa besar potensi kita yang selama ini tersembunyi.

Tubuh kita ini cerdas, dia tahu kapan harus rehat, dan kapan harus lanjut. Sobat ATE harus mampu mengenali tanda-tanda sinyal kondisi tubuhnya masing-masing ๐ŸŒค


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
GIVEAWAY WINNER ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

JUM'AT (Jangan Lupa Untuk Makin Hebat) ๐Ÿ’ฏ


Selamat kepada Sobat ATE yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 414 The Diary of a CEO, Membongkar Pola Pikir Para Pemimpin Hebat:

1. Ibu Sri Wahyuningsih (Asdep Administrasi Badan)
2. Nur Sugiarti
(PATT Telekolekting KC Semarang)
3. Fabio Syakira H
@Fabioo_17 (PATT FL Kab Pesisir Selatan KC Padang)
4. Rahayu Triana Yusti (Verifikator Klaim KC Medan)
5. Effi Ekayanti @aakarpohon (RO KC Palopo)
6. Zaipan Popiyandi @Zaipan (Kabag PKP KC Bengkulu)

Trims atas partisipasinya dan sampai bertemu pada kelas pembelajaran ATE selanjutnya ๐Ÿ™

Fun and meaningful di ATE ๐Ÿฅฐ

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘1
KOPDAR PAMJAKIAN #5
Kopi Daring Pamjakian edisi 5

Transformasi digital sistem kesehatan nasional menuntut klaim asuransi yang cepat, transparan, dan terintegrasi. Tantangan interoperabilitas antar penyedia layanan dan perusahaan asuransi menjadi krusial untuk diatasi bersama.

Kopdar Pamjakian kembali hadir dengan topik pembahasan:

INTEROPERABILITAS KLAIM ASURANSI KESEHATAN

๐Ÿ—“๏ธ Minggu, 25 Mei 2025
๐Ÿ•˜ 09.00โ€“12.00 WIB
๐Ÿ“ Zoom โ€“ bit.ly/KopdarPanjiEd-5

๐ŸŽ™๏ธ Narasumber:
โ€ข dr. Mulyadi Muchtiar, M.A.R.S. โ€“ Direktur Utama RS Yarsi
โ€ข dr. Aditya Indra Kusuma โ€“ Head of Onboarding & Insurance Benefit, Sun Life Indonesia
โ€ข Risty Restia, AAK โ€“ Technical Advisor Pembiayaan Kesehatan, TTDK Kemenkes RI

๐Ÿ—ฃ๏ธ Moderator:
Jefri, AAK โ€“ PAMJAKI

Mari diskusikan peluang dan tantangan integrasi data klaim antar sistem dan lembaga demi ekosistem asuransi kesehatan yang lebih efisien dan berdaya saing.

๐Ÿ“Œ Terbuka bagi profesional kesehatan, praktisi asuransi, serta pemangku kepentingan ekosistem pembiayaan kesehatan digital.

Informasi:
Ayu: +62 878-7289-6025
Mukhlis: +62 821-3020-0212
VB
๐Ÿ‡ฏ๐Ÿ‡ต Jepang umumkan sebagian besar skuad cadangan untuk pertandingan Kualifikasi Piala Dunia bulan Juni melawan ๐Ÿ‡ฆ๐Ÿ‡บ Australia dan ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Indonesia, 7 pemain debutan mendapat panggilan timnas pertamanya, sementara beberapa pemain bintang besar absen.

Nampaknya Pelatih Hajime Moriyasu akan menggunakan dua pertandingan Kualifikasi Piala Dunia Putaran 3 terakhir ini untuk bereksperimen, karena Jepang telah dinyatakan lolos ke Piala Dunia 2026 terlepas dari apapun hasil di 2
laga terakhir ini.
Hanya 4 pemain reguler dalam skuad Jepang yang beranggotakan 27 orang: Zion Suzuki (Parma), Wataru Endo (Liverpool), dan Takefusa Kubo (Real Sociedad), Daichi Kamada (Crystal Palace). Sisanya? mayoritas Pemain cadangan dan beberapa adalah wajah baru Timnas!
๐Ÿšซ Deretan Pemain andalan Jepang yang gak dipanggil seperti Kaoru Mitoma, Junya Ito, Hidemasa Morita, Ayase Ueda, Hiroki Ito, Ko Itakura, Ritsu Doan, Takehiro Tomiyasu (cedera), Daizen Maeda, Reo Hatate, Ao Tanaka, Takumi Minamino, Koki Ogawa (cedera), Yuki Sugawara, Seiya Maikuma, dan masih banyak lagi.
Akankah Timnas Garuda dapat memanfaatkan skuad lapis kedua Jepang ini? atau Jepang tetaplah Jepang, tidak peduli siapa yang berada di lapangan akan tetap kena bantai? ๐Ÿ‘€

๐Ÿ† #AsianQualifiers ๐‘๐จ๐ฎ๐ง๐ ๐Ÿ‘
โšฝ๏ธ Matchday ๐Ÿ— and ๐Ÿ๐ŸŽ

๐Ÿ†š China โ€” ๐Ÿ“/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“
๐Ÿ†š Japan โ€” ๐Ÿ๐ŸŽ/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“

#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1
Kebijaksanaan (Wisdom) = Personal Values + EQ ๐Ÿ˜‡

oleh: Emil Bachtiar

Apa itu kebijaksanaan? Banyak orang mengira bahwa kebijaksanaan bisa muncul seiring bertambahnya usia atau banyaknya buku yang dibaca. Padahal, kebijaksanaan lebih erat kaitannya dengan seberapa dalam seseorang memahami personal values dan menjalani hidup berdasarkan nilai-nilai itu. Tapi menjadi bijaksana bukan soal seberapa banyak yang kita tahu, melainkan bagaimana kita menjalani hidup berdasarkan apa yang kita pahami.

Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk hidup selaras dengan nilai-nilai yang penting, dengan mempertimbangkan kebaikan, konteks, dan akibat. Orang yang bijaksana bukan hanya tahu apa yang benar, tapi juga tahu kapan, bagaimana, dan sejauh mana bertindak. Ia tidak hanya berprinsip, tapi juga peka terhadap perasaan dan situasi orang lain.

Kebijaksanaan bukan semata soal logika. Ia lahir dari pertemuan dua hal penting: personal values (nilai-nilai pribadi yang diyakini) dan emotional intelligence (kepekaan emosi terhadap diri sendiri dan orang lain). Personal values memberi arah hidup. EQ memberi kepekaan dalam menjalaninya. Tanpa personal values, seseorang bisa cerdas secara emosi tapi manipulatif. Tanpa EQ, seseorang bisa hidup berprinsip tapi menghakimi dan menyakiti.


Orang yang bijaksana tidak mudah reaktif. Ia tidak tergesa menilai, tidak merasa paling benar. Ia mendengarkan, merenung, dan bertindak dengan tenang. Ia tidak hanya tahu apa yang penting, tapi juga menjalaninya secara konsisten. Kehadirannya membawa ketenangan.

Di tengah dunia yang penuh kebisingan dan tuntutan instan, kebijaksanaan menjadi langka. Tapi justru karena itu, ia menjadi semakin penting. Bukan hanya untuk menjadi pemimpin yang baik, tapi untuk menjadi manusia yang utuh. Tanpa kebijaksanaan, nilai kehilangan makna, dan kecerdasan emosi kehilangan arah.

Contoh kebijaksanaan dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Seorang guru yang menegur muridnya dengan tenang dan penuh empati, bukan dengan kemarahan, karena tahu anak itu sedang menghadapi masalah di rumah. โœ…

2. Seorang teman yang memilih diam dan mendengarkan ketika sahabatnya curhat, walau sebenarnya tidak setuju, karena tahu bahwa yang dibutuhkan saat itu adalah pendampingan, bukan perdebatan. โœ…

3. Seorang pemimpin yang menunda keputusan penting agar bisa mempertimbangkan semua sudut pandang, meskipun ada tekanan untuk segera bertindak. โœ…

4. Seorang anak yang memaafkan orang tuanya yang pernah menyakitinya. Bukan karena melupakan, tapi karena ingin hidup tanpa membawa beban dendam. โœ…

Kebijaksanaan tidak selalu terlihat dalam keputusan besar. Ia justru sering hadir dalam pilihan-pilihan kecil yang diambil dengan pertimbangan dan kesadaran. Dalam dunia yang bergerak cepat, pilihan seperti itu adalah bentuk keteguhan.

Menjadi bijaksana bukan hasil dari usia, gelar, atau pengalaman semata. Ia tumbuh dari hidup yang dijalani dengan kesadaranโ€”merenung, merasa, memilih, dan menyesuaikan diri. Ia bukan kesempurnaan, melainkan proses yang terus berjalan untuk tetap jernih dan manusiawiโ€”menjaga agar kita tidak kehilangan arah, tidak kehilangan empati, dan tidak kehilangan diri sebagai manusia di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan.

Apakah Sobat ATE pernah melihat/mengamati orang yang "bijaksana" sesuai penjelasan di atas?
๐Ÿซก


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM