๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ฑ
oleh: Wicaksono
Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.
Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐ฅ๐ฐ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.
Fenomena ini bukan sekadar soal ๐ฌ๐ช๐ฅ๐ด ๐ฏ๐ฐ๐ธ๐ฅ๐ข๐บ๐ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโsunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.
Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ
Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.
Dalam bukunya ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐: ๐๐ค๐ฌ ๐ฉ๐ค ๐ฝ๐ช๐๐ก๐ ๐๐ง๐ช๐จ๐ฉ ๐๐ฃ๐ ๐พ๐ค๐ฃ๐ฃ๐๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ ๐๐ค ๐๐๐ฉ๐ฉ๐๐ง ๐ฉ๐๐ ๐ฟ๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ๐๐, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.
โReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ โ Erica Dhawan
Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.
Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโyang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโyang lain membaca itu sebagai marah.
โIn the absence of body cues, weโre all just guessing.โ โ Erica Dhawan
Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.
Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐ฉ๐ฎ๐น๐๐ฒ ๐ฉ๐ถ๐๐ถ๐ฏ๐น๐ โ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐๐ผ๐บ๐บ๐๐ป๐ถ๐ฐ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐๐น๐น๐ โ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐๐ผ๐น๐น๐ฎ๐ฏ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ผ๐ป๐ณ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐น๐ โ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐ง๐ฟ๐๐๐ ๐ง๐ผ๐๐ฎ๐น๐น๐ โ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.
Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.
๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ adalah jembatanโbukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.
Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.
Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โbahasa tubuh digitalโ jika bukan kita sendiri?
โThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโs the ability to connect,โ tulis Erica.
#INISIATIF
oleh: Wicaksono
Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.
Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐ฅ๐ฐ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.
Fenomena ini bukan sekadar soal ๐ฌ๐ช๐ฅ๐ด ๐ฏ๐ฐ๐ธ๐ฅ๐ข๐บ๐ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโsunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.
Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ
Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.
Dalam bukunya ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐: ๐๐ค๐ฌ ๐ฉ๐ค ๐ฝ๐ช๐๐ก๐ ๐๐ง๐ช๐จ๐ฉ ๐๐ฃ๐ ๐พ๐ค๐ฃ๐ฃ๐๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ ๐๐ค ๐๐๐ฉ๐ฉ๐๐ง ๐ฉ๐๐ ๐ฟ๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ๐๐, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.
โReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ โ Erica Dhawan
Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.
Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโyang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโyang lain membaca itu sebagai marah.
โIn the absence of body cues, weโre all just guessing.โ โ Erica Dhawan
Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.
Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐ฉ๐ฎ๐น๐๐ฒ ๐ฉ๐ถ๐๐ถ๐ฏ๐น๐ โ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐๐ผ๐บ๐บ๐๐ป๐ถ๐ฐ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐๐น๐น๐ โ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐๐ผ๐น๐น๐ฎ๐ฏ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ผ๐ป๐ณ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐น๐ โ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐ง๐ฟ๐๐๐ ๐ง๐ผ๐๐ฎ๐น๐น๐ โ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.
Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.
๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ adalah jembatanโbukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.
Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.
Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โbahasa tubuh digitalโ jika bukan kita sendiri?
โThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโs the ability to connect,โ tulis Erica.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐3
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
โBISA KERJA TAPI GAK BISA INTERVIEWโ โ Apakah Dunia Kerja Cuma Buat yang Pandai โActingโ? ๐ค
oleh : Afif Luthfi
Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur danโฆ menyayat.
Seketika, saya diam.
Bukan karena gak setuju. Tapi karenaโฆ saya paham.
Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai โmata uangโ utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus โmenjual diriโ di depan pewawancara. Laluโฆ jadi gagal.
Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya?
Apakah Interview Itu Sekadar Ajang โActingโ?
Pertanyaan ini menyengat. Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar โactingโ, bukan siapa yang paling siap kerja?
Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling โjualanโ dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal.
Tapi di sisi lainโฆ kita juga harus ngerti perspektif recruiter.
Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri.
Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi.
Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka โkesan pertamaโ jadi satu-satunya pintu.
Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert?
Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil.
Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: โHey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.โ
Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang.
Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik.
Ayo, Re-design Proses Rekrutmen!
Sisi lainnya adalahโฆ kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya:
1. Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi
2. Interview dua arah, bukan interogasi satu arah
3. Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live
Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.
Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview โ bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain.
Karena di dunia yang keras, kadang cara kita โmasukโ lebih menentukan dari apa yang bisa kita โkasihโ.
#INISIATIF
oleh : Afif Luthfi
Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur danโฆ menyayat.
โMUAK BANGET SAMA STANDAR INTERVIEW INDO! Sampe kapan sih perusahaan-perusahaan mau sadar kalo kita BISA KERJA tapi cuma GA BISA INTERVIEW?!โ
Seketika, saya diam.
Bukan karena gak setuju. Tapi karenaโฆ saya paham.
Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai โmata uangโ utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus โmenjual diriโ di depan pewawancara. Laluโฆ jadi gagal.
Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya?
Apakah Interview Itu Sekadar Ajang โActingโ?
Pertanyaan ini menyengat. Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar โactingโ, bukan siapa yang paling siap kerja?
Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling โjualanโ dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal.
Tapi di sisi lainโฆ kita juga harus ngerti perspektif recruiter.
Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri.
Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi.
Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka โkesan pertamaโ jadi satu-satunya pintu.
Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert?
Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil.
Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: โHey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.โ
Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang.
Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik.
Ayo, Re-design Proses Rekrutmen!
Sisi lainnya adalahโฆ kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya:
1. Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi
2. Interview dua arah, bukan interogasi satu arah
3. Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live
Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.
Penutup: Yang Jago Acting Boleh Masuk, Tapi yang Jago Kerja Harus Diundang Duduk
Interview
itu penting. Tapi jangan sampai dia jadi satu-satunya alat ukur.
Karena dunia kerja butuh
doers
, bukan cuma
talkers
. Butuh
builders
, bukan hanya
debaters
.
Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview โ bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain.
Karena di dunia yang keras, kadang cara kita โmasukโ lebih menentukan dari apa yang bisa kita โkasihโ.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
โKAMU GILA ATAU LINGKUNGAN KERJAMU YANG BIKIN GILA?โ
(Tentang Bos Gaslighting dan Budaya Kantor yang Diam-Diam Merusak)๐ซก
oleh : Afif Luthfi
Saya pernah mendampingi seorang profesional muda yang tiap minggu datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah, bukan fisikโtapi mental. Dia bukan orang yang malas. Bahkan sebaliknya, dia rajin, komunikatif, dan punya inisiatif tinggi.
Tapi belakangan, dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
โJangan-jangan memang aku yang kurang kompetenโฆโ katanya sambil tertawa getir.
Ternyata, bosnya sering membolak-balikkan fakta. Saat hasil kerja bagus, pujian diberikan ke orang lain. Saat ada kesalahan, tanggung jawab dilempar ke dia. Bahkan ide-ide orisinalnya sering dianggap remehโlalu muncul kembali dalam presentasi atasan, seolah milik si bos sendiri.
Saya diam. Lalu bertanya pelan:
โKamu sadar gakโฆ kamu sedang mengalami gaslighting?โ
Gaslighting di Tempat Kerja
Gaslighting bukan cuma istilah di hubungan romantis. Ia hidup dan berkembang juga di ruang meeting. Saat bos membuatmu ragu akan realita. Saat kamu dipermalukan di depan tim lalu disuruh โjangan baperโ. Saat kamu dianggap โkurang inisiatifโ, padahal kamu sebenarnya hanya takut dimatikan idenya.
Lingkungan yang Tidak Aman Secara Psikologis
Banyak organisasi gagal memahami satu hal penting:
Bukan cuma soal keamanan fisik, tapi psikologisโtempat kita bisa jujur, bertanya tanpa takut dibodohi, mengkritik tanpa harus dimusuhi.
Sayangnya, banyak tempat kerja masih mengedepankan fear-based culture. Pimpinan dijadikan sosok tak boleh dibantah. Feedback cuma formalitas. Kesalahan dipermalukan. Transparansi diganti dengan politik.
Padahal, seperti yang dikatakan Amy Edmondson, โPsychological safety is not about being nice. Itโs about candor, about being able to speak up.โ (โKeamanan psikologis itu bukan soal bersikap manis atau baik-baik aja. Tapi soal keterbukaan, soal keberanian buat bicara jujur dan menyampaikan pendapat.โ)
Butuh Budaya Feedback, Bukan Budaya Takut
Organisasi hebat bukan yang bebas dari kesalahan. Tapi yang membuat kesalahan bisa diolah jadi pembelajaran. Bukan tempat yang saling menghakimi. Tapi saling menguatkan. Bukan tempat yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Tapi tempat yang bertanya, โApa yang bisa kita perbaiki bersama?โ
#INISIATIF
(Tentang Bos Gaslighting dan Budaya Kantor yang Diam-Diam Merusak)
oleh : Afif Luthfi
Saya pernah mendampingi seorang profesional muda yang tiap minggu datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah, bukan fisikโtapi mental. Dia bukan orang yang malas. Bahkan sebaliknya, dia rajin, komunikatif, dan punya inisiatif tinggi.
Tapi belakangan, dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
โJangan-jangan memang aku yang kurang kompetenโฆโ katanya sambil tertawa getir.
Ternyata, bosnya sering membolak-balikkan fakta. Saat hasil kerja bagus, pujian diberikan ke orang lain. Saat ada kesalahan, tanggung jawab dilempar ke dia. Bahkan ide-ide orisinalnya sering dianggap remehโlalu muncul kembali dalam presentasi atasan, seolah milik si bos sendiri.
Saya diam. Lalu bertanya pelan:
โKamu sadar gakโฆ kamu sedang mengalami gaslighting?โ
Gaslighting di Tempat Kerja
Gaslighting bukan cuma istilah di hubungan romantis. Ia hidup dan berkembang juga di ruang meeting. Saat bos membuatmu ragu akan realita. Saat kamu dipermalukan di depan tim lalu disuruh โjangan baperโ. Saat kamu dianggap โkurang inisiatifโ, padahal kamu sebenarnya hanya takut dimatikan idenya.
Lingkungan yang Tidak Aman Secara Psikologis
Banyak organisasi gagal memahami satu hal penting:
Karyawan hanya bisa berkembang di lingkungan yang mendukung rasa aman.
Bukan cuma soal keamanan fisik, tapi psikologisโtempat kita bisa jujur, bertanya tanpa takut dibodohi, mengkritik tanpa harus dimusuhi.
Sayangnya, banyak tempat kerja masih mengedepankan fear-based culture. Pimpinan dijadikan sosok tak boleh dibantah. Feedback cuma formalitas. Kesalahan dipermalukan. Transparansi diganti dengan politik.
Padahal, seperti yang dikatakan Amy Edmondson, โPsychological safety is not about being nice. Itโs about candor, about being able to speak up.โ (โKeamanan psikologis itu bukan soal bersikap manis atau baik-baik aja. Tapi soal keterbukaan, soal keberanian buat bicara jujur dan menyampaikan pendapat.โ)
Butuh Budaya Feedback, Bukan Budaya Takut
Organisasi hebat bukan yang bebas dari kesalahan. Tapi yang membuat kesalahan bisa diolah jadi pembelajaran. Bukan tempat yang saling menghakimi. Tapi saling menguatkan. Bukan tempat yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Tapi tempat yang bertanya, โApa yang bisa kita perbaiki bersama?โ
Mari kita bangun budaya kerja yang sehat. Dimulai dari berani bicaraโdan lebih berani mendengar
๐ค
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐3
Pilih Dikritik atau Dipuji? ๐ค
oleh: Emil Bachtiar
Dalam kehidupan sosial, hampir semua orang lebih menyukai pujian daripada kritik. Pujian memperkuat rasa percaya diri, mempererat hubungan, dan memenuhi kebutuhan dasar manusia akan penghargaan. Secara biologis, pujian juga memicu pelepasan dopamin, meningkatkan rasa senang dan motivasi.
Sebaliknya, kritik โ meskipun sering dimaksudkan untuk membangun โ cenderung memicu ketidaknyamanan.
Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa kritik, terutama yang menyentuh harga diri, direspons otak manusia sebagai ancaman sosial, bahkan mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik (Eisenberger et al., 2003).
Ini menjelaskan mengapa kritik sering terasa lebih berat, bahkan ketika kita memahami niat baik di baliknya.
Namun, sikap terhadap kritik tidak mutlak. Ada spektrum penerimaan terhadap kritik:
Ada yang sangat defensif,
Ada yang terganggu tapi bisa merenung,
Ada pula yang relatif lebih terbuka, meskipun tetap merasakan ketidaknyamanan sesaat.
Mengapa kritik sulit diterima?
Beberapa sebab utamanya adalah:
1. Ancaman terhadap harga diri: Kritik sering dipersepsikan sebagai penilaian terhadap nilai diri, bukan sekadar koreksi atas tindakan.
2. Reaksi ego: Ego berfungsi mempertahankan citra diri yang utuh, sehingga kritik dipandang sebagai serangan.
3. Pengalaman masa lalu: Mereka yang tumbuh dalam lingkungan keras cenderung lebih sensitif terhadap kritik karena mengaitkannya dengan rasa sakit atau penolakan.
4. Pola kepribadian: Individu dengan kecenderungan narsistik memandang kritik sebagai ancaman besar terhadap citra superioritas mereka, sehingga cenderung menyangkal atau menyerang balik.
Sebaliknya, pujian tidak menantang identitas, melainkan memperkuat rasa harga diri dan keterikatan sosial, sehingga hampir selalu diterima dengan tangan terbuka.
Lalu, jika diberi pilihan, lebih baik dikritik atau dipuji?
Sebagian besar dari kita tentu lebih nyaman menerima pujian. Itu wajar. Namun dalam perjalanan pengembangan diri, kemampuan untuk menerima kritik dengan kedewasaan menjadi pembeda penting antara mereka yang bertahan di zona nyaman dan mereka yang bertumbuh.
#INISIATIF #TGIF
oleh: Emil Bachtiar
Dalam kehidupan sosial, hampir semua orang lebih menyukai pujian daripada kritik. Pujian memperkuat rasa percaya diri, mempererat hubungan, dan memenuhi kebutuhan dasar manusia akan penghargaan. Secara biologis, pujian juga memicu pelepasan dopamin, meningkatkan rasa senang dan motivasi.
Sebaliknya, kritik โ meskipun sering dimaksudkan untuk membangun โ cenderung memicu ketidaknyamanan.
Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa kritik, terutama yang menyentuh harga diri, direspons otak manusia sebagai ancaman sosial, bahkan mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik (Eisenberger et al., 2003).
Ini menjelaskan mengapa kritik sering terasa lebih berat, bahkan ketika kita memahami niat baik di baliknya.
Namun, sikap terhadap kritik tidak mutlak. Ada spektrum penerimaan terhadap kritik:
Ada yang sangat defensif,
Ada yang terganggu tapi bisa merenung,
Ada pula yang relatif lebih terbuka, meskipun tetap merasakan ketidaknyamanan sesaat.
Mengapa kritik sulit diterima?
Beberapa sebab utamanya adalah:
1. Ancaman terhadap harga diri: Kritik sering dipersepsikan sebagai penilaian terhadap nilai diri, bukan sekadar koreksi atas tindakan.
2. Reaksi ego: Ego berfungsi mempertahankan citra diri yang utuh, sehingga kritik dipandang sebagai serangan.
3. Pengalaman masa lalu: Mereka yang tumbuh dalam lingkungan keras cenderung lebih sensitif terhadap kritik karena mengaitkannya dengan rasa sakit atau penolakan.
4. Pola kepribadian: Individu dengan kecenderungan narsistik memandang kritik sebagai ancaman besar terhadap citra superioritas mereka, sehingga cenderung menyangkal atau menyerang balik.
Sebaliknya, pujian tidak menantang identitas, melainkan memperkuat rasa harga diri dan keterikatan sosial, sehingga hampir selalu diterima dengan tangan terbuka.
Lalu, jika diberi pilihan, lebih baik dikritik atau dipuji?
Sebagian besar dari kita tentu lebih nyaman menerima pujian. Itu wajar. Namun dalam perjalanan pengembangan diri, kemampuan untuk menerima kritik dengan kedewasaan menjadi pembeda penting antara mereka yang bertahan di zona nyaman dan mereka yang bertumbuh.
Jawabannya bukan memilih salah satu, melainkan belajar menerima keduanya dengan bijaksana:
- Menikmati pujian dengan syukur,
- Menyambut kritik dengan ketangguhan,
- Dan menggunakan keduanya sebagai sarana untuk menjadi lebih baik.
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2
The Four Burners Theory โ๏ธ
oleh: Vicario Reinaldo
Kita semua pengen punya:
โข Karir cemerlang
โข Sehat fisik dan mental
โข Pertemanan berkualitas
โข Keluarga harmonis
Tapi dikit banget yang bisa dapat itu semua. Jadi sebenernya work-life balance itu realistis ga sih?
Yuk kenalan sama Four Burners Theory
Apa itu The Four Burners Theory?
Bayangin hidup lo direpresentasikan seperti kompor dengan 4 tungku
Setiap tungku mewakili aspek utama dalam hidup
"Untuk jadi sukses, lo sebaiknya mematikan 1 tungku. Untuk jadi sangat sukses, lo sebaiknya mematikan 2 tungku."
Jadi, apa 2 tungku yang akan lo pilih?
Kalau memilih fokus di karir dan keluarga, lo mungkin perlu mengurangi fokus di teman dan kesehatan
Kalau memilih karir dan kesehatan, lo mungkin perlu mengurangi fokus di keluarga dan teman
Emang ga bisa ya pilih semuanya?
Tenang, James Clear menawarkan 3 opsi yang lebih balance untuk menerapkan ini
1. Pakai kompor lain
2. Maksimalin kondisi
3. Membagi hidup jadi musim-musim
1. Pakai kompor lain
Karena daya kompor kita terbatas, kita bisa pakai kompor lain
Caranya dengan mendelegasikan tugas atau menggunakan teknologi sehingga kita bisa fokus ke aspek lain
Misal
โข Nitipin anak ke day care / mertua
โข Pakai Chat GPT untuk bikin draf dokumen
2. Maksimalin keadaan
Kita semua punya energi dan waktu yang terbatas
Jadi sadari dan manfaatkan keterbatasan itu dengan optimal
Misalnya
โข Gimana caranya bisa perform dengan maksimal tanpa perlu lembur?
โข Gimana bisa maksimal quality time sama anak kalau cuma ada 1 jam?
3. Musim-musim hidup
Membagi hidup jadi beberapa musim
Di setiap musim, kita punya fokus dan prioritas yang berbeda
Misalnya:
โข Usia 20-30: Karir dan kesehatan
โข Usia 30-40: Karir dan keluarga
โข Usia 40-50: Keluarga dan teman
โข Usia 50-60: Keluarga dan kesehatan
Rumusan prioritas di tiap musim itu tergantung banget sama fase hidup yang lo jalani dan preferensi lo
#INISIATIF
oleh: Vicario Reinaldo
Kita semua pengen punya:
โข Karir cemerlang
โข Sehat fisik dan mental
โข Pertemanan berkualitas
โข Keluarga harmonis
Tapi dikit banget yang bisa dapat itu semua. Jadi sebenernya work-life balance itu realistis ga sih?
Yuk kenalan sama Four Burners Theory
Apa itu The Four Burners Theory?
Bayangin hidup lo direpresentasikan seperti kompor dengan 4 tungku
Setiap tungku mewakili aspek utama dalam hidup
"Untuk jadi sukses, lo sebaiknya mematikan 1 tungku. Untuk jadi sangat sukses, lo sebaiknya mematikan 2 tungku."
Jadi, apa 2 tungku yang akan lo pilih?
Kalau memilih fokus di karir dan keluarga, lo mungkin perlu mengurangi fokus di teman dan kesehatan
Kalau memilih karir dan kesehatan, lo mungkin perlu mengurangi fokus di keluarga dan teman
Emang ga bisa ya pilih semuanya?
Tenang, James Clear menawarkan 3 opsi yang lebih balance untuk menerapkan ini
1. Pakai kompor lain
2. Maksimalin kondisi
3. Membagi hidup jadi musim-musim
1. Pakai kompor lain
Karena daya kompor kita terbatas, kita bisa pakai kompor lain
Caranya dengan mendelegasikan tugas atau menggunakan teknologi sehingga kita bisa fokus ke aspek lain
Misal
โข Nitipin anak ke day care / mertua
โข Pakai Chat GPT untuk bikin draf dokumen
2. Maksimalin keadaan
Kita semua punya energi dan waktu yang terbatas
Jadi sadari dan manfaatkan keterbatasan itu dengan optimal
Misalnya
โข Gimana caranya bisa perform dengan maksimal tanpa perlu lembur?
โข Gimana bisa maksimal quality time sama anak kalau cuma ada 1 jam?
3. Musim-musim hidup
Membagi hidup jadi beberapa musim
Di setiap musim, kita punya fokus dan prioritas yang berbeda
Misalnya:
โข Usia 20-30: Karir dan kesehatan
โข Usia 30-40: Karir dan keluarga
โข Usia 40-50: Keluarga dan teman
โข Usia 50-60: Keluarga dan kesehatan
Rumusan prioritas di tiap musim itu tergantung banget sama fase hidup yang lo jalani dan preferensi lo
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1๐1
ELASTIC HABITS ๐
Oleh: Vicario Reinaldo
Coba pake cara yang lebih fleksibel ini
Bangun habit yang awet jangka panjang itu emang susah-susah gampang
Biasanya kita terjebak di siklus begini berulang kali
- Semangat bangun habit mulai awal
- Rajin di minggu-minggu awal
- Mulai bolong-bolong
- Terus nyerah
3 penyebab yang mungkin lo alami:
- Bikin target yang ga realistis
- Ga fokus, karena terlalu banyak habit yang dibangun
- Buat sistem yang terlalu kaku
Coba jadiin proses lo lebih elastis
Elastic Habits
Cara membangun kebiasaan baru yang lebih fleksibel sehingga bisa bertahan lama
Teori ini berasal dari buku berjudul Elastic Habits
Selain Atomic Habits, buku ini juga bisa jadi referensi buat lo yang lagi bangun habit
Caranya gimana?๐ค
1. Pilih maksimal 3 habit
Pilih kebiasaan yang ga terlalu spesifik, karena detailnya di next step
Pilih habit yang mendukung value dan tujuan lo
Contoh: Olahraga, menulis, bangun pagi
2. Pilih 3 opsi lateral di tiap habit
Di sini lo mulai masuk ke action yang lebih detail
Aktivitas apa yang mau lo lakukan untuk membangun habit di step 1 tadi
Contoh: Olahraga
- Push up
- Bersepeda
- Jogging
Lanjut part 2๐
Oleh: Vicario Reinaldo
โ STOP bangun habit dengan aturan gini
- Olahraga 30 menit/hari
- Baca buku 10 lembar/hari
- Upgrade skill 1 jam/hari
Bagi beberapa orang cara ini ga ampuh dan ga bikin habit awet jangka panjang
Coba pake cara yang lebih fleksibel ini
Bangun habit yang awet jangka panjang itu emang susah-susah gampang
Biasanya kita terjebak di siklus begini berulang kali
- Semangat bangun habit mulai awal
- Rajin di minggu-minggu awal
- Mulai bolong-bolong
- Terus nyerah
3 penyebab yang mungkin lo alami:
- Bikin target yang ga realistis
- Ga fokus, karena terlalu banyak habit yang dibangun
- Buat sistem yang terlalu kaku
Coba jadiin proses lo lebih elastis
Elastic Habits
Cara membangun kebiasaan baru yang lebih fleksibel sehingga bisa bertahan lama
Teori ini berasal dari buku berjudul Elastic Habits
Selain Atomic Habits, buku ini juga bisa jadi referensi buat lo yang lagi bangun habit
Caranya gimana?
1. Pilih maksimal 3 habit
Pilih kebiasaan yang ga terlalu spesifik, karena detailnya di next step
Pilih habit yang mendukung value dan tujuan lo
Contoh: Olahraga, menulis, bangun pagi
2. Pilih 3 opsi lateral di tiap habit
Di sini lo mulai masuk ke action yang lebih detail
Aktivitas apa yang mau lo lakukan untuk membangun habit di step 1 tadi
Contoh: Olahraga
- Push up
- Bersepeda
- Jogging
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Part 2
3. Buat 3 target vertikal di tiap opsi
Di sini lo perlu bikin 3 tingkat kesulitan di tiap opsi lateral
Elit: Standar paling tinggi dan challenging
Plus: Standar "cukup"
Mini: Standar paling rendah, jadi lo tetap bisa melakukan habit di si di hari-hari paling sibuk sekalipun
4. Evaluasi tiap 15 hari
- Masih ga konsisten dan bolong-bolong
Solusi: Ubah target mini jadi lebih mudah
- Target mini terlalu sering, Plus dan Elite jarang banget
Solusi: Ubah target Plus jadi lebih mudah, mengecilkan gap antara Mini dan Plus
- Target Elite terlalu sering
Solusi: Target kurang challenging, tingkatkan kadarnya
Manfaat nerapin elastic habits:
- Cenderung lebih awet jangka panjang
- Kita secara konstan merasakan sense of acomplishment, karena melakukan habit tiap hari
- Gak terlalu membebani, karena kita bebas milih aktivitas sesuai kondisi kita
#INISIATIF
3. Buat 3 target vertikal di tiap opsi
Di sini lo perlu bikin 3 tingkat kesulitan di tiap opsi lateral
Elit: Standar paling tinggi dan challenging
Plus: Standar "cukup"
Mini: Standar paling rendah, jadi lo tetap bisa melakukan habit di si di hari-hari paling sibuk sekalipun
4. Evaluasi tiap 15 hari
- Masih ga konsisten dan bolong-bolong
Solusi: Ubah target mini jadi lebih mudah
- Target mini terlalu sering, Plus dan Elite jarang banget
Solusi: Ubah target Plus jadi lebih mudah, mengecilkan gap antara Mini dan Plus
- Target Elite terlalu sering
Solusi: Target kurang challenging, tingkatkan kadarnya
Sistem yang bagus adalah yang realisasinya seimbang antara Mini, Plus dan Elite
Manfaat nerapin elastic habits:
- Cenderung lebih awet jangka panjang
- Kita secara konstan merasakan sense of acomplishment, karena melakukan habit tiap hari
- Gak terlalu membebani, karena kita bebas milih aktivitas sesuai kondisi kita
Apakah ada Sobat ATE yang pernah nyoba strategi Elastic Habits ini? Yuk sharing dong pengalamannya
#INISIATIF
โค1
MARKETING CERDIK DI BALIK MELEDAKNYA FILM JUMBO ๐ฌ
oleh: Yusran Darmawan
Yang dilakukan tim Jumbo di dunia maya bukan promosi. Mereka menciptakan narasi paralel. Sejak film masih dalam tahap pengembangan, akun Instagram dan TikTok mereka sudah aktifโmembagikan sketsa karakter, potongan cerita, hingga proses rekaman suara.
https://unhas.tv/marketing-cerdik-di-balik-meledaknya-film-jumbo/1?
#INISIATIF
oleh: Yusran Darmawan
Yang dilakukan tim Jumbo di dunia maya bukan promosi. Mereka menciptakan narasi paralel. Sejak film masih dalam tahap pengembangan, akun Instagram dan TikTok mereka sudah aktifโmembagikan sketsa karakter, potongan cerita, hingga proses rekaman suara.
https://unhas.tv/marketing-cerdik-di-balik-meledaknya-film-jumbo/1?
Yuk absen sobat ATE yang sudah menonton film Jumbo ๐ค๐ป
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Unhas TV
Marketing Cerdik di Balik Meledaknya Film Jumbo - Unhas TV
๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟoleh: Yusran Darmawan*Bocah itu baru saja keluar dari sebuah bioskop di kota Bogor. Ia berdiri di trotoar, menyeka air mata yang tersisa di sudut matanya. Lalu, dengan suara pelan dan serak, ia menyanyikan potongan lagu yang baru saja mengalun di layar:โฆ
JARANG DIPUJI, TIBA-TIBA.... ๐
oleh: Afif Luthfi
Cerita teman di Coffee Shop. Ketemu barista/kasir.
Kopinya enak. Pelayanannya ramah.
Spontan ia memuji:
"Mas/Mbak, service nya bagus banget deh! Kopinya enak! Nanti aku kesini lagi yaa!
Mereka sedang bad day, who knows. Kita puji. Hati mereka adem.
Di lain waktu, "Mbak make up kamu baguus!" Dia tersipu, malah kita ikutan happy. Sama-sama senyum.
Jadi, apa pesan moralnya?
Kita gak pernah tau, seberapa lelah seseorang menjalani harinya. Tapi kadang satu kalimat sederhana bisa jadi obat pelipur yang sejuk๐ซถ
Dipandang biasa. Namun, mampu membuat hati mereka berbunga.
#INISIATIF
oleh: Afif Luthfi
Cerita teman di Coffee Shop. Ketemu barista/kasir.
Kopinya enak. Pelayanannya ramah.
Spontan ia memuji:
"Mas/Mbak, service nya bagus banget deh! Kopinya enak! Nanti aku kesini lagi yaa!
Mereka sumringah, seneng, hasil kerja mereka dihargai๐ซ
Mereka sedang bad day, who knows. Kita puji. Hati mereka adem.
Di lain waktu, "Mbak make up kamu baguus!" Dia tersipu, malah kita ikutan happy. Sama-sama senyum.
Jadi, apa pesan moralnya?
Kita gak pernah tau, seberapa lelah seseorang menjalani harinya. Tapi kadang satu kalimat sederhana bisa jadi obat pelipur yang sejuk
Dipandang biasa. Namun, mampu membuat hati mereka berbunga.
Rekan-rekan Sobat ATE sedang/pernah punya rekan kerja yg suka spontan memuji juga gak? Kalimat positif apa yang pernah Beliau sampaikan hingga masih terus membekas di hatimu?
๐ฅฐ
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅฐ2
oleh: Yusran Darmawan
Pernikahan Luna Maya terasa seperti pelunasan yang lama ditunggu, seakan semesta akhirnya memberikan keadilan bagi kisah seorang perempuan yang terlalu lama ditempa prasangka dan luka.
SEBUAH CERITA TENTANG LUNA MAYA๐
#INISIATIF #TGIF
Pernikahan Luna Maya terasa seperti pelunasan yang lama ditunggu, seakan semesta akhirnya memberikan keadilan bagi kisah seorang perempuan yang terlalu lama ditempa prasangka dan luka.
SEBUAH CERITA TENTANG LUNA MAYA
"Pernikahan mereka adalah pengingat bahwa cinta yang dewasa tidak datang untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menemani perjalanan ke depan". Sobat ATE sepakat dgn kutipan ini?๐
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Unhas TV
๏ปฟCinta yang Datang Setelah Luka: Sebuah Cerita tentang Luna Maya - Unhas TV
๏ปฟ๏ปฟoleh: Yusran DarmawanDi sebuah kapel kecil nan teduh di pinggiran Pulau Dewata, Luna Maya berdiri dalam balutan gaun putih sederhana. Senyumnya lebar, matanya berkaca. Di sampingnya, Maxim menatap dengan penuh kasih, seolah ingin berkata kepada dunia: โAkuโฆ
TEMAN TAPI TOXIC ๐ โค๏ธโ๐ฉน
Oleh: Emil Bachtiar
Selama ini, kita cenderung memahami toxic friendship sebagai persoalan orang lain. Teman yang suka mengatur, menyindir, atau membuat kita merasa tidak cukup baik. Namun dalam proses belajar dan merenung, kita mulai menyadari: bukan tidak mungkin, kitalah yang pernah menjadi teman yang toxicโbukan karena niat jahat, tetapi karena ketidaksadaran, luka lama, atau kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan.
Dari sini, kita belajar bahwa niat baik saja tidak cukup. Dalam pertemanan, cara kita hadir bisa berdampak besar, bahkan ketika kita merasa sedang berbuat benar. Refleksi ini mengajak kita untuk mengenali, memperbaiki, dan tidak malu untuk berubahโdemi hubungan yang lebih sehat dan lebih tulus.
Setelah menyadari bahwa kita pernah, atau mungkin sedang, menjadi teman yang toxic, pertanyaan berikutnya sering muncul: apa yang akan terjadi? Apakah kita akan kehilangan semua teman? Apakah kita pantas berteman lagi?
Realitasnya, perubahan tidak selalu langsung membawa perbaikan. Ada masa jeda. Ada jarak yang tercipta.
Mungkin ada teman yang perlahan menjauh karena luka yang sudah terlanjur dalam. Mungkin ada rasa kehilangan dan kesepian yang datang ketika kita mulai menata ulang cara kita berteman.
Namun proses ini penting. Karena dari sinilah kita mulai belajar membangun kembali relasi dengan cara yang lebih sehatโdengan tidak lagi menuntut, tidak lagi menekan, dan tidak lagi menjadikan orang lain sebagai tempat pelarian dari luka kita sendiri.
Dalam proses ini, self-awareness menjadi titik tolak yang sangat penting. Tanpa self-awareness, kita hanya akan mengulang pola lama, mengira diri selalu benar, dan terus menyalahkan pihak lain ketika hubungan tidak berjalan baik.
Self-awareness membantu kita:
Mengenali pola perilaku yang tidak sehat, bahkan ketika niat kita baik.
Membedakan antara kepedulian tulus dan kebutuhan tersembunyi akan pengakuan.
Melihat bahwa pertemanan bukan hanya tentang โkita hadirโ, tetapi bagaimana kita hadir.
Menyadari bahwa tidak semua orang harus memberi kita tempat khusus, dan itu tidak berarti kita tidak berharga.
Kesadaran ini juga mengajarkan bahwa pertemanan tidak selalu berarti kedekatan fisik atau intensitas komunikasi, tetapi rasa saling menghargai, memberi ruang, dan bertumbuh bersama.
Kadang kita perlu kehilangan beberapa pertemanan agar bisa membangun ulang relasi yang lebih setara dan jernih. Kadang kita perlu menyendiri agar bisa menjadi teman yang lebih aman dan tidak lagi mengulang pola menyakiti.
Dan mungkin, justru di titik inilah kita benar-benar belajar: bahwa berteman dimulai dari keberanian untuk melihat diri sendiriโdan mengubahnya.
#INISIATIF
Oleh: Emil Bachtiar
Selama ini, kita cenderung memahami toxic friendship sebagai persoalan orang lain. Teman yang suka mengatur, menyindir, atau membuat kita merasa tidak cukup baik. Namun dalam proses belajar dan merenung, kita mulai menyadari: bukan tidak mungkin, kitalah yang pernah menjadi teman yang toxicโbukan karena niat jahat, tetapi karena ketidaksadaran, luka lama, atau kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan.
Toxic tidak selalu berarti keras atau menyakitkan secara langsung. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian yang memaksa, keinginan untuk selalu tahu, atau harapan-harapan yang tak diucapkan tapi membebani. Kita menyebutnya peduli, tapi bisa jadi orang lain merasa tertekan.
Kita mulai mengenali pola-pola itu:
Terlalu banyak memberi nasihat, padahal yang dibutuhkan hanya didengar.
Mudah kecewa jika tak diutamakan, padahal semua orang punya prioritas masing-masing.
Hadir dalam hidup orang lain, tetapi membawa harapan-harapan tersembunyi untuk dibalas.
Dari sini, kita belajar bahwa niat baik saja tidak cukup. Dalam pertemanan, cara kita hadir bisa berdampak besar, bahkan ketika kita merasa sedang berbuat benar. Refleksi ini mengajak kita untuk mengenali, memperbaiki, dan tidak malu untuk berubahโdemi hubungan yang lebih sehat dan lebih tulus.
Setelah menyadari bahwa kita pernah, atau mungkin sedang, menjadi teman yang toxic, pertanyaan berikutnya sering muncul: apa yang akan terjadi? Apakah kita akan kehilangan semua teman? Apakah kita pantas berteman lagi?
Realitasnya, perubahan tidak selalu langsung membawa perbaikan. Ada masa jeda. Ada jarak yang tercipta.
Mungkin ada teman yang perlahan menjauh karena luka yang sudah terlanjur dalam. Mungkin ada rasa kehilangan dan kesepian yang datang ketika kita mulai menata ulang cara kita berteman.
Namun proses ini penting. Karena dari sinilah kita mulai belajar membangun kembali relasi dengan cara yang lebih sehatโdengan tidak lagi menuntut, tidak lagi menekan, dan tidak lagi menjadikan orang lain sebagai tempat pelarian dari luka kita sendiri.
Dalam proses ini, self-awareness menjadi titik tolak yang sangat penting. Tanpa self-awareness, kita hanya akan mengulang pola lama, mengira diri selalu benar, dan terus menyalahkan pihak lain ketika hubungan tidak berjalan baik.
Self-awareness membantu kita:
Mengenali pola perilaku yang tidak sehat, bahkan ketika niat kita baik.
Membedakan antara kepedulian tulus dan kebutuhan tersembunyi akan pengakuan.
Melihat bahwa pertemanan bukan hanya tentang โkita hadirโ, tetapi bagaimana kita hadir.
Menyadari bahwa tidak semua orang harus memberi kita tempat khusus, dan itu tidak berarti kita tidak berharga.
Kesadaran ini juga mengajarkan bahwa pertemanan tidak selalu berarti kedekatan fisik atau intensitas komunikasi, tetapi rasa saling menghargai, memberi ruang, dan bertumbuh bersama.
Kadang kita perlu kehilangan beberapa pertemanan agar bisa membangun ulang relasi yang lebih setara dan jernih. Kadang kita perlu menyendiri agar bisa menjadi teman yang lebih aman dan tidak lagi mengulang pola menyakiti.
Dan mungkin, justru di titik inilah kita benar-benar belajar: bahwa berteman dimulai dari keberanian untuk melihat diri sendiriโdan mengubahnya.
Sudahkah Sobat ATE melakukan self-awareness terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain Toxic?
๐
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐3๐ฅ1๐ซก1
6 LATIHAN BERPIKIR STRATEGIS ๐
oleh: Vicario Reinaldo
Gimana caranya jadi tangan kanan atasan?
Salah satunya adalah punya kemampuan berpikir strategis
Caranya bisa dengan melatih kebiasaan ini ketika bekerja
Yuk kita bahas satu satu
1. Jelasin dampaknyaโ
Dalam 1 minggu Dalam 1 bulan Dalam 1 tahun
Orang yang berpikir strategis itu ga cuma mikirin jangka pendek, tetapi juga dampaknya di masa depan.
Mereka juga mikirin apa impact nya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
2. Cari tau nilai prioritasnyaโ
Ketika ada masalah, pemikir strategis akan mikirin akar masalahnya di mana.
Sehingga mereka gak menyelesaikan permukaan masalahnya aja, tapi juga mencabut sampai ke akar. Jadi masalah yang sama gak berulang, dengan bertanya "Kenapa" sebanyak 5 kali.
3. Jika - Makaโ
Jika rencana X gagal - maka gue akan ...
Pemikir strategis selalu punya lebih dari 1 rencana. Sehingga ketika gagal, mereka bisa lanjut strategi lain.
4. Selalu bawa dataโ
Bukan cuma ngandelin intuisi, tapi membuat keputusan berdasarkan data
โข Hasil riset
โข Tren terbaru
โข Pendapat ahli
โข Laporan keuangan
โข Feedback pelanggan
5. Analisis SWOTโ
Petakan dan pahami situasi sebelum buat keputusan strategis
โข Apa kelemahan kita?
โข Apa kekuatan kita?
โข Apa peluang yang kita punya?
โข Apa ancaman yang menghambat kita?
6. Six Thinking Hatsโ
Biasanya atasan butuh banyak perspektif berbeda sebelum membuat keputusan
Metode ini bantu lo memberikan pendapat yang kaya. Gak hanya fokus ke satu hal.
#INISIATIF
oleh: Vicario Reinaldo
Gimana caranya jadi tangan kanan atasan?
Salah satunya adalah punya kemampuan berpikir strategis
Caranya bisa dengan melatih kebiasaan ini ketika bekerja
Yuk kita bahas satu satu
1. Jelasin dampaknya
Dalam 1 minggu Dalam 1 bulan Dalam 1 tahun
Orang yang berpikir strategis itu ga cuma mikirin jangka pendek, tetapi juga dampaknya di masa depan.
Mereka juga mikirin apa impact nya terhadap pencapaian tujuan organisasi.
2. Cari tau nilai prioritasnya
Ketika ada masalah, pemikir strategis akan mikirin akar masalahnya di mana.
Sehingga mereka gak menyelesaikan permukaan masalahnya aja, tapi juga mencabut sampai ke akar. Jadi masalah yang sama gak berulang, dengan bertanya "Kenapa" sebanyak 5 kali.
3. Jika - Maka
Jika rencana X gagal - maka gue akan ...
Pemikir strategis selalu punya lebih dari 1 rencana. Sehingga ketika gagal, mereka bisa lanjut strategi lain.
4. Selalu bawa data
Bukan cuma ngandelin intuisi, tapi membuat keputusan berdasarkan data
โข Hasil riset
โข Tren terbaru
โข Pendapat ahli
โข Laporan keuangan
โข Feedback pelanggan
5. Analisis SWOT
Petakan dan pahami situasi sebelum buat keputusan strategis
โข Apa kelemahan kita?
โข Apa kekuatan kita?
โข Apa peluang yang kita punya?
โข Apa ancaman yang menghambat kita?
6. Six Thinking Hats
Biasanya atasan butuh banyak perspektif berbeda sebelum membuat keputusan
Metode ini bantu lo memberikan pendapat yang kaya. Gak hanya fokus ke satu hal.
Adakah Sobat ATE yang beberapa kali atau bahkan hampir selalu dipercaya jadi tangan kanan atasan? kamu kelassss King๐ซต ๐ช
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐2โค1
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Menikah itu bukan cuma soal gaun dan gedung, tapi juga soal kesiapan mental dan emosional. Gimana cara adaptasi dengan keluarga pasangan hingga menyelesaikan konflik? ๐คฏ
yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
#inisiatif #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Menikah itu bukan cuma soal gaun dan gedung, tapi juga soal kesiapan mental dan emosional. Gimana cara adaptasi dengan keluarga pasangan hingga menyelesaikan konflik? ๐คฏ
yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
#inisiatif #GrowthMindset
PETUAH TENTANG SEKS DI MASYARAKAT BUTON ๐จโ๐ฉโ๐งโ๐ฆ
https://unhas.tv/petuah-tentang-seks-di-masyarakat-buton/1?
#INISIATIF #TGIF
"Kita tak kekurangan edukasi seks. Yang kita kurang adalah edukasi makna". Kutipan ini sangat daging sekaliโค๏ธ
https://unhas.tv/petuah-tentang-seks-di-masyarakat-buton/1?
Hari baik adalah jum'at dan Senin
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Unhas TV
๏ปฟPetuah tentang Seks di Masyarakat Buton - Unhas TV
๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟ๏ปฟoleh: Yusran DarmawanDi tanah yang menghadap laut di ujung tenggara Sulawesi, puisi bukan sekadar suara hati. Ia adalah hukum, nasihat, dan juga pagar. Di Baubau, kota yang dulu menjadi pusat Kesultanan Buton, manusia belajar menjaga tubuh dan cintaโฆ
๐1
#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM