Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐——๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿ“ฑ

oleh: Wicaksono

Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.

Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.

Fenomena ini bukan sekadar soal ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ๐˜ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโ€”sunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.

Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โ€œBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ€

Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.

Dalam bukunya ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š: ๐™ƒ๐™ค๐™ฌ ๐™ฉ๐™ค ๐˜ฝ๐™ช๐™ž๐™ก๐™™ ๐™๐™ง๐™ช๐™จ๐™ฉ ๐™–๐™ฃ๐™™ ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™ฃ๐™š๐™˜๐™ฉ๐™ž๐™ค๐™ฃ ๐™‰๐™ค ๐™ˆ๐™–๐™ฉ๐™ฉ๐™š๐™ง ๐™ฉ๐™๐™š ๐˜ฟ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™˜๐™š, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.

โ€œReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ€ โ€” Erica Dhawan

Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.

Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโ€”yang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโ€”yang lain membaca itu sebagai marah.

โ€œIn the absence of body cues, weโ€™re all just guessing.โ€ โ€” Erica Dhawan

Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.

Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐—ฉ๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ฒ ๐—ฉ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฏ๐—น๐˜† โ€“ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐—–๐—ผ๐—บ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—–๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ณ๐˜‚๐—น๐—น๐˜† โ€“ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐—–๐—ผ๐—น๐—น๐—ฎ๐—ฏ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—–๐—ผ๐—ป๐—ณ๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—น๐˜† โ€“ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐—ง๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐˜ ๐—ง๐—ผ๐˜๐—ฎ๐—น๐—น๐˜† โ€“ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.

Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.

๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š adalah jembatanโ€”bukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.

Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.

Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โ€˜bahasa tubuh digitalโ€™ jika bukan kita sendiri?

โ€œThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโ€™s the ability to connect,โ€ tulis Erica.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ™3
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅ COMING SOON ๐Ÿ”ฅโœจ

Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโœจ

Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐Ÿ“

โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
โ€œBISA KERJA TAPI GAK BISA INTERVIEWโ€ โ€” Apakah Dunia Kerja Cuma Buat yang Pandai โ€˜Actingโ€™? ๐Ÿค
oleh : Afif Luthfi

Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur danโ€ฆ menyayat.

โ€œMUAK BANGET SAMA STANDAR INTERVIEW INDO! Sampe kapan sih perusahaan-perusahaan mau sadar kalo kita BISA KERJA tapi cuma GA BISA INTERVIEW?!โ€


Seketika, saya diam.
Bukan karena gak setuju. Tapi karenaโ€ฆ saya paham.

Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai โ€œmata uangโ€ utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus โ€œmenjual diriโ€ di depan pewawancara. Laluโ€ฆ jadi gagal.

Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya?

Apakah Interview Itu Sekadar Ajang โ€˜Actingโ€™?
Pertanyaan ini menyengat. Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar โ€œactingโ€, bukan siapa yang paling siap kerja?

Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling โ€œjualanโ€ dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal.

Tapi di sisi lainโ€ฆ kita juga harus ngerti perspektif recruiter.

Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri.

Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi.

Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka โ€˜kesan pertamaโ€™ jadi satu-satunya pintu.

Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert?
Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil.
Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: โ€œHey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.โ€

Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang.

Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik.

Ayo, Re-design Proses Rekrutmen!
Sisi lainnya adalahโ€ฆ kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya:

1. Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi
2. Interview dua arah, bukan interogasi satu arah
3. Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live

Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.

Penutup: Yang Jago Acting Boleh Masuk, Tapi yang Jago Kerja Harus Diundang Duduk

Interview
itu penting. Tapi jangan sampai dia jadi satu-satunya alat ukur.
Karena dunia kerja butuh
doers
, bukan cuma
talkers
. Butuh
builders
, bukan hanya
debaters
.


Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview โ€” bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain.

Karena di dunia yang keras, kadang cara kita โ€œmasukโ€ lebih menentukan dari apa yang bisa kita โ€œkasihโ€.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2
โ€œKAMU GILA ATAU LINGKUNGAN KERJAMU YANG BIKIN GILA?โ€
(Tentang Bos Gaslighting dan Budaya Kantor yang Diam-Diam Merusak)
๐Ÿซก

oleh : Afif Luthfi

Saya pernah mendampingi seorang profesional muda yang tiap minggu datang ke sesi coaching dalam keadaan lelah, bukan fisikโ€”tapi mental. Dia bukan orang yang malas. Bahkan sebaliknya, dia rajin, komunikatif, dan punya inisiatif tinggi.

Tapi belakangan, dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

โ€œJangan-jangan memang aku yang kurang kompetenโ€ฆโ€ katanya sambil tertawa getir.

Ternyata, bosnya sering membolak-balikkan fakta. Saat hasil kerja bagus, pujian diberikan ke orang lain. Saat ada kesalahan, tanggung jawab dilempar ke dia. Bahkan ide-ide orisinalnya sering dianggap remehโ€”lalu muncul kembali dalam presentasi atasan, seolah milik si bos sendiri.

Saya diam. Lalu bertanya pelan:
โ€œKamu sadar gakโ€ฆ kamu sedang mengalami gaslighting?โ€

Gaslighting di Tempat Kerja
Gaslighting bukan cuma istilah di hubungan romantis. Ia hidup dan berkembang juga di ruang meeting. Saat bos membuatmu ragu akan realita. Saat kamu dipermalukan di depan tim lalu disuruh โ€˜jangan baperโ€™. Saat kamu dianggap โ€˜kurang inisiatifโ€™, padahal kamu sebenarnya hanya takut dimatikan idenya.

Lingkungan yang Tidak Aman Secara Psikologis
Banyak organisasi gagal memahami satu hal penting:
Karyawan hanya bisa berkembang di lingkungan yang mendukung rasa aman.

Bukan cuma soal keamanan fisik, tapi psikologisโ€”tempat kita bisa jujur, bertanya tanpa takut dibodohi, mengkritik tanpa harus dimusuhi.

Sayangnya, banyak tempat kerja masih mengedepankan fear-based culture. Pimpinan dijadikan sosok tak boleh dibantah. Feedback cuma formalitas. Kesalahan dipermalukan. Transparansi diganti dengan politik.

Padahal, seperti yang dikatakan Amy Edmondson, โ€œPsychological safety is not about being nice. Itโ€™s about candor, about being able to speak up.โ€ (โ€œKeamanan psikologis itu bukan soal bersikap manis atau baik-baik aja. Tapi soal keterbukaan, soal keberanian buat bicara jujur dan menyampaikan pendapat.โ€)

Butuh Budaya Feedback, Bukan Budaya Takut
Organisasi hebat bukan yang bebas dari kesalahan. Tapi yang membuat kesalahan bisa diolah jadi pembelajaran. Bukan tempat yang saling menghakimi. Tapi saling menguatkan. Bukan tempat yang membuatmu mempertanyakan kewarasanmu sendiri. Tapi tempat yang bertanya, โ€œApa yang bisa kita perbaiki bersama?โ€

Mari kita bangun budaya kerja yang sehat. Dimulai dari berani bicaraโ€”dan lebih berani mendengar
๐Ÿค


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘3
Pilih Dikritik atau Dipuji? ๐Ÿค”

oleh: Emil Bachtiar

Dalam kehidupan sosial, hampir semua orang lebih menyukai pujian daripada kritik. Pujian memperkuat rasa percaya diri, mempererat hubungan, dan memenuhi kebutuhan dasar manusia akan penghargaan. Secara biologis, pujian juga memicu pelepasan dopamin, meningkatkan rasa senang dan motivasi.

Sebaliknya, kritik โ€” meskipun sering dimaksudkan untuk membangun โ€” cenderung memicu ketidaknyamanan.

Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa kritik, terutama yang menyentuh harga diri, direspons otak manusia sebagai ancaman sosial, bahkan mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik (Eisenberger et al., 2003).

Ini menjelaskan mengapa kritik sering terasa lebih berat, bahkan ketika kita memahami niat baik di baliknya.

Namun, sikap terhadap kritik tidak mutlak. Ada spektrum penerimaan terhadap kritik:

Ada yang sangat defensif,

Ada yang terganggu tapi bisa merenung,

Ada pula yang relatif lebih terbuka, meskipun tetap merasakan ketidaknyamanan sesaat.

Mengapa kritik sulit diterima?
Beberapa sebab utamanya adalah:

1. Ancaman terhadap harga diri: Kritik sering dipersepsikan sebagai penilaian terhadap nilai diri, bukan sekadar koreksi atas tindakan.

2. Reaksi ego: Ego berfungsi mempertahankan citra diri yang utuh, sehingga kritik dipandang sebagai serangan.

3. Pengalaman masa lalu: Mereka yang tumbuh dalam lingkungan keras cenderung lebih sensitif terhadap kritik karena mengaitkannya dengan rasa sakit atau penolakan.

4. Pola kepribadian: Individu dengan kecenderungan narsistik memandang kritik sebagai ancaman besar terhadap citra superioritas mereka, sehingga cenderung menyangkal atau menyerang balik.

Sebaliknya, pujian tidak menantang identitas, melainkan memperkuat rasa harga diri dan keterikatan sosial, sehingga hampir selalu diterima dengan tangan terbuka.

Lalu, jika diberi pilihan, lebih baik dikritik atau dipuji?

Sebagian besar dari kita tentu lebih nyaman menerima pujian. Itu wajar. Namun dalam perjalanan pengembangan diri, kemampuan untuk menerima kritik dengan kedewasaan menjadi pembeda penting antara mereka yang bertahan di zona nyaman dan mereka yang bertumbuh.

Jawabannya bukan memilih salah satu, melainkan belajar menerima keduanya dengan bijaksana:

- Menikmati pujian dengan syukur,
- Menyambut kritik dengan ketangguhan,
- Dan menggunakan keduanya sebagai sarana untuk menjadi lebih baik.


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘2
The Four Burners Theory โœ๏ธ

oleh: Vicario Reinaldo

Kita semua pengen punya:

โ€ข Karir cemerlang
โ€ข Sehat fisik dan mental
โ€ข Pertemanan berkualitas
โ€ข Keluarga harmonis

Tapi dikit banget yang bisa dapat itu semua. Jadi sebenernya work-life balance itu realistis ga sih?

Yuk kenalan sama Four Burners Theory

Apa itu The Four Burners Theory?

Bayangin hidup lo direpresentasikan seperti kompor dengan 4 tungku

Setiap tungku mewakili aspek utama dalam hidup

"Untuk jadi sukses, lo sebaiknya mematikan 1 tungku. Untuk jadi sangat sukses, lo sebaiknya mematikan 2 tungku."

Jadi, apa 2 tungku yang akan lo pilih?

Kalau memilih fokus di karir dan keluarga, lo mungkin perlu mengurangi fokus di teman dan kesehatan

Kalau memilih karir dan kesehatan, lo mungkin perlu mengurangi fokus di keluarga dan teman

Emang ga bisa ya pilih semuanya?

Tenang, James Clear menawarkan 3 opsi yang lebih balance untuk menerapkan ini

1. Pakai kompor lain
2. Maksimalin kondisi
3. Membagi hidup jadi musim-musim

1. Pakai kompor lain
Karena daya kompor kita terbatas, kita bisa pakai kompor lain

Caranya dengan mendelegasikan tugas atau menggunakan teknologi sehingga kita bisa fokus ke aspek lain

Misal
โ€ข Nitipin anak ke day care / mertua
โ€ข Pakai Chat GPT untuk bikin draf dokumen

2. Maksimalin keadaan
Kita semua punya energi dan waktu yang terbatas

Jadi sadari dan manfaatkan keterbatasan itu dengan optimal

Misalnya
โ€ข Gimana caranya bisa perform dengan maksimal tanpa perlu lembur?
โ€ข Gimana bisa maksimal quality time sama anak kalau cuma ada 1 jam?

3. Musim-musim hidup
Membagi hidup jadi beberapa musim

Di setiap musim, kita punya fokus dan prioritas yang berbeda

Misalnya:

โ€ข Usia 20-30: Karir dan kesehatan
โ€ข Usia 30-40: Karir dan keluarga
โ€ข Usia 40-50: Keluarga dan teman
โ€ข Usia 50-60: Keluarga dan kesehatan

Rumusan prioritas di tiap musim itu tergantung banget sama fase hidup yang lo jalani dan preferensi lo

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค1๐Ÿ‘1
ELASTIC HABITS ๐Ÿ“Š

Oleh: Vicario Reinaldo

โŒ STOP bangun habit dengan aturan gini

- Olahraga 30 menit/hari
- Baca buku 10 lembar/hari
- Upgrade skill 1 jam/hari

Bagi beberapa orang cara ini ga ampuh dan ga bikin habit awet jangka panjang


Coba pake cara yang lebih fleksibel ini

Bangun habit yang awet jangka panjang itu emang susah-susah gampang

Biasanya kita terjebak di siklus begini berulang kali

- Semangat bangun habit mulai awal
- Rajin di minggu-minggu awal
- Mulai bolong-bolong
- Terus nyerah

3 penyebab yang mungkin lo alami:
- Bikin target yang ga realistis
- Ga fokus, karena terlalu banyak habit yang dibangun
- Buat sistem yang terlalu kaku

Coba jadiin proses lo lebih elastis

Elastic Habits

Cara membangun kebiasaan baru yang lebih fleksibel sehingga bisa bertahan lama

Teori ini berasal dari buku berjudul Elastic Habits

Selain Atomic Habits, buku ini juga bisa jadi referensi buat lo yang lagi bangun habit

Caranya gimana? ๐Ÿค”

1. Pilih maksimal 3 habit
Pilih kebiasaan yang ga terlalu spesifik, karena detailnya di next step

Pilih habit yang mendukung value dan tujuan lo

Contoh: Olahraga, menulis, bangun pagi

2. Pilih 3 opsi lateral di tiap habit
Di sini lo mulai masuk ke action yang lebih detail

Aktivitas apa yang mau lo lakukan untuk membangun habit di step 1 tadi

Contoh: Olahraga

- Push up
- Bersepeda
- Jogging

Lanjut part 2 ๐Ÿ‘‡
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Part 2

3. Buat 3 target vertikal di tiap opsi

Di sini lo perlu bikin 3 tingkat kesulitan di tiap opsi lateral

Elit: Standar paling tinggi dan challenging

Plus: Standar "cukup"

Mini: Standar paling rendah, jadi lo tetap bisa melakukan habit di si di hari-hari paling sibuk sekalipun

4. Evaluasi tiap 15 hari
- Masih ga konsisten dan bolong-bolong
Solusi: Ubah target mini jadi lebih mudah

- Target mini terlalu sering, Plus dan Elite jarang banget
Solusi: Ubah target Plus jadi lebih mudah, mengecilkan gap antara Mini dan Plus

- Target Elite terlalu sering
Solusi: Target kurang challenging, tingkatkan kadarnya

Sistem yang bagus adalah yang realisasinya seimbang antara Mini, Plus dan Elite


Manfaat nerapin elastic habits:
- Cenderung lebih awet jangka panjang
- Kita secara konstan merasakan sense of acomplishment, karena melakukan habit tiap hari
- Gak terlalu membebani, karena kita bebas milih aktivitas sesuai kondisi kita

Apakah ada Sobat ATE yang pernah nyoba strategi Elastic Habits ini? Yuk sharing dong pengalamannya


#INISIATIF
โค1
MARKETING CERDIK DI BALIK MELEDAKNYA FILM JUMBO ๐ŸŽฌ

oleh: Yusran Darmawan


Yang dilakukan tim Jumbo di dunia maya bukan promosi. Mereka menciptakan narasi paralel. Sejak film masih dalam tahap pengembangan, akun Instagram dan TikTok mereka sudah aktifโ€”membagikan sketsa karakter, potongan cerita, hingga proses rekaman suara.

https://unhas.tv/marketing-cerdik-di-balik-meledaknya-film-jumbo/1?

Yuk absen sobat ATE yang sudah menonton film Jumbo ๐Ÿคš๐Ÿป


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
JARANG DIPUJI, TIBA-TIBA.... ๐Ÿ˜Š

oleh: Afif Luthfi

Cerita teman di Coffee Shop. Ketemu barista/kasir.

Kopinya enak. Pelayanannya ramah.

Spontan ia memuji:

"Mas/Mbak, service nya bagus banget deh! Kopinya enak! Nanti aku kesini lagi yaa!

Mereka sumringah, seneng, hasil kerja mereka dihargai ๐Ÿซ‚

Mereka sedang bad day, who knows. Kita puji. Hati mereka adem.

Di lain waktu, "Mbak make up kamu baguus!" Dia tersipu, malah kita ikutan happy. Sama-sama senyum.

Jadi, apa pesan moralnya?

Kita gak pernah tau, seberapa lelah seseorang menjalani harinya. Tapi kadang satu kalimat sederhana bisa jadi obat pelipur yang sejuk ๐Ÿซถ

Dipandang biasa. Namun, mampu membuat hati mereka berbunga.

Rekan-rekan Sobat ATE sedang/pernah punya rekan kerja yg suka spontan memuji juga gak? Kalimat positif apa yang pernah Beliau sampaikan hingga masih terus membekas di hatimu?
๐Ÿฅฐ


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿฅฐ2
oleh: Yusran Darmawan

Pernikahan Luna Maya terasa seperti pelunasan yang lama ditunggu, seakan semesta akhirnya memberikan keadilan bagi kisah seorang perempuan yang terlalu lama ditempa prasangka dan luka.

SEBUAH CERITA TENTANG LUNA MAYA ๐Ÿ”—

"Pernikahan mereka adalah pengingat bahwa cinta yang dewasa tidak datang untuk menghapus masa lalu, tapi untuk menemani perjalanan ke depan". Sobat ATE sepakat dgn kutipan ini? ๐Ÿ’


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
TEMAN TAPI TOXIC ๐Ÿ’”โค๏ธโ€๐Ÿฉน

Oleh: Emil Bachtiar

Selama ini, kita cenderung memahami toxic friendship sebagai persoalan orang lain. Teman yang suka mengatur, menyindir, atau membuat kita merasa tidak cukup baik. Namun dalam proses belajar dan merenung, kita mulai menyadari: bukan tidak mungkin, kitalah yang pernah menjadi teman yang toxicโ€”bukan karena niat jahat, tetapi karena ketidaksadaran, luka lama, atau kebutuhan akan penerimaan yang berlebihan.

Toxic tidak selalu berarti keras atau menyakitkan secara langsung. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian yang memaksa, keinginan untuk selalu tahu, atau harapan-harapan yang tak diucapkan tapi membebani. Kita menyebutnya peduli, tapi bisa jadi orang lain merasa tertekan.

Kita mulai mengenali pola-pola itu:
Terlalu banyak memberi nasihat, padahal yang dibutuhkan hanya didengar.

Mudah kecewa jika tak diutamakan, padahal semua orang punya prioritas masing-masing.

Hadir dalam hidup orang lain, tetapi membawa harapan-harapan tersembunyi untuk dibalas.

Dari sini, kita belajar bahwa niat baik saja tidak cukup. Dalam pertemanan, cara kita hadir bisa berdampak besar, bahkan ketika kita merasa sedang berbuat benar. Refleksi ini mengajak kita untuk mengenali, memperbaiki, dan tidak malu untuk berubahโ€”demi hubungan yang lebih sehat dan lebih tulus.

Setelah menyadari bahwa kita pernah, atau mungkin sedang, menjadi teman yang toxic, pertanyaan berikutnya sering muncul: apa yang akan terjadi? Apakah kita akan kehilangan semua teman? Apakah kita pantas berteman lagi?

Realitasnya, perubahan tidak selalu langsung membawa perbaikan. Ada masa jeda. Ada jarak yang tercipta.

Mungkin ada teman yang perlahan menjauh karena luka yang sudah terlanjur dalam. Mungkin ada rasa kehilangan dan kesepian yang datang ketika kita mulai menata ulang cara kita berteman.

Namun proses ini penting. Karena dari sinilah kita mulai belajar membangun kembali relasi dengan cara yang lebih sehatโ€”dengan tidak lagi menuntut, tidak lagi menekan, dan tidak lagi menjadikan orang lain sebagai tempat pelarian dari luka kita sendiri.

Dalam proses ini, self-awareness menjadi titik tolak yang sangat penting. Tanpa self-awareness, kita hanya akan mengulang pola lama, mengira diri selalu benar, dan terus menyalahkan pihak lain ketika hubungan tidak berjalan baik.

Self-awareness membantu kita:

Mengenali pola perilaku yang tidak sehat, bahkan ketika niat kita baik.

Membedakan antara kepedulian tulus dan kebutuhan tersembunyi akan pengakuan.

Melihat bahwa pertemanan bukan hanya tentang โ€œkita hadirโ€, tetapi bagaimana kita hadir.

Menyadari bahwa tidak semua orang harus memberi kita tempat khusus, dan itu tidak berarti kita tidak berharga.

Kesadaran ini juga mengajarkan bahwa pertemanan tidak selalu berarti kedekatan fisik atau intensitas komunikasi, tetapi rasa saling menghargai, memberi ruang, dan bertumbuh bersama.

Kadang kita perlu kehilangan beberapa pertemanan agar bisa membangun ulang relasi yang lebih setara dan jernih. Kadang kita perlu menyendiri agar bisa menjadi teman yang lebih aman dan tidak lagi mengulang pola menyakiti.

Dan mungkin, justru di titik inilah kita benar-benar belajar: bahwa berteman dimulai dari keberanian untuk melihat diri sendiriโ€”dan mengubahnya.

Sudahkah Sobat ATE melakukan self-awareness terlebih dahulu sebelum menuduh orang lain Toxic?
๐Ÿ˜‡


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘3๐Ÿ”ฅ1๐Ÿซก1
6 LATIHAN BERPIKIR STRATEGIS ๐Ÿ‘

oleh: Vicario Reinaldo

Gimana caranya jadi tangan kanan atasan?

Salah satunya adalah punya kemampuan berpikir strategis

Caranya bisa dengan melatih kebiasaan ini ketika bekerja

Yuk kita bahas satu satu

1. Jelasin dampaknya โœ…
Dalam 1 minggu Dalam 1 bulan Dalam 1 tahun

Orang yang berpikir strategis itu ga cuma mikirin jangka pendek, tetapi juga dampaknya di masa depan.

Mereka juga mikirin apa impact nya terhadap pencapaian tujuan organisasi.

2. Cari tau nilai prioritasnya โœ…
Ketika ada masalah, pemikir strategis akan mikirin akar masalahnya di mana.

Sehingga mereka gak menyelesaikan permukaan masalahnya aja, tapi juga mencabut sampai ke akar. Jadi masalah yang sama gak berulang, dengan bertanya "Kenapa" sebanyak 5 kali.

3. Jika - Maka โœ…
Jika rencana X gagal - maka gue akan ...

Pemikir strategis selalu punya lebih dari 1 rencana. Sehingga ketika gagal, mereka bisa lanjut strategi lain.

4. Selalu bawa data โœ…
Bukan cuma ngandelin intuisi, tapi membuat keputusan berdasarkan data

โ€ข Hasil riset
โ€ข Tren terbaru
โ€ข Pendapat ahli
โ€ข Laporan keuangan
โ€ข Feedback pelanggan

5. Analisis SWOT โœ…
Petakan dan pahami situasi sebelum buat keputusan strategis

โ€ข Apa kelemahan kita?
โ€ข Apa kekuatan kita?
โ€ข Apa peluang yang kita punya?
โ€ข Apa ancaman yang menghambat kita?

6. Six Thinking Hats โœ…
Biasanya atasan butuh banyak perspektif berbeda sebelum membuat keputusan

Metode ini bantu lo memberikan pendapat yang kaya. Gak hanya fokus ke satu hal.

Adakah Sobat ATE yang beberapa kali atau bahkan hampir selalu dipercaya jadi tangan kanan atasan? kamu kelassss King ๐Ÿซต๐Ÿ’ช


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘2โค1
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅ COMING SOON ๐Ÿ”ฅโœจ

Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโœจ

Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐Ÿ“

โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅ COMING SOON ๐Ÿ”ฅโœจ

Ask the Experts #Edisi415
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโœจ

Menikah itu bukan cuma soal gaun dan gedung, tapi juga soal kesiapan mental dan emosional. Gimana cara adaptasi dengan keluarga pasangan hingga menyelesaikan konflik? ๐Ÿคฏ
yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi415 ๐Ÿ“

โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram


#inisiatif #GrowthMindset
PETUAH TENTANG SEKS DI MASYARAKAT BUTON ๐Ÿ‘จโ€๐Ÿ‘ฉโ€๐Ÿ‘งโ€๐Ÿ‘ฆ

"Kita tak kekurangan edukasi seks. Yang kita kurang adalah edukasi makna". Kutipan ini sangat daging sekali โค๏ธ


https://unhas.tv/petuah-tentang-seks-di-masyarakat-buton/1?

Hari baik adalah jum'at dan Senin


#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘1
๐Ÿ“ฃ ๐†๐š๐ซ๐ฎ๐๐š ๐‚๐š๐ฅ๐ฅ๐ข๐ง๐  ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

๐Ÿ† #AsianQualifiers ๐‘๐จ๐ฎ๐ง๐ ๐Ÿ‘
โšฝ๏ธ Matchday ๐Ÿ— and ๐Ÿ๐ŸŽ

๐Ÿ†š China โ€” ๐Ÿ“/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“
๐Ÿ†š Japan โ€” ๐Ÿ๐ŸŽ/๐ŸŽ๐Ÿ”/๐Ÿ๐ŸŽ๐Ÿ๐Ÿ“

#INISIATIFdukungTimnas #GarudaMendunia
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM