Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
"Kepada Ibu Hiduplah Lebih Lama"

Buku karya : @IlhamNuryadiAkbar (Koordinator EP3RS KC Pematangsiantar)

Buku sastra ini adalah pemantik ingatan dalam tiga masa yang berkelindan, dikemas dalam bentuk puisi yang menafsir seluruh fragmen ibu, termasuk mengurai sumber kekuatan ibu yang begitu mampu berjalan lurus meski keadaan sedang miring.

Pada dasarnya, ibu mencintaimu sebelum tubuhnya meniru sebuah bukit, dan mencintaimu sebelum Tuhan memberi tahu, siapa ibumu.

Sebab pada akhirnya, kala usia ibu sudah berbilang,
merawat ibu adalah perasaan dalam dua kubu:
Kesempatan membalas jasa
Kesedihan menjelang tiada
.

Untuk pemesanan buku bisa langsung melalui penerbit.
Dio Media: 0856437620005
๐Ÿ™
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค4๐Ÿ‘4
MUDIK ๐Ÿ›ซ

oleh: Yusran Darmawan

Mudik seperti juga keheningan, adalah bentuk kecil dari pemberontakan terhadap keterhubungan yang berlebihan. Ia seperti puasa: menahan, mengosongkan, agar kita kembali menemukan rasa. Kita mematikan ponsel bukan karena anti-kemajuan, tapi karena sadar, tak semua suara perlu didengar, tak semua notifikasi perlu ditanggapi๐Ÿ“ฑ


https://www.timur-angin.com/2025/03/saatnya-kita-mudik-digital.html?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR47a1WcArzlwjBouUmryvPNmfe-Nfacl4axyUQRSzvfZfATpp_k_AOFJXX6bw_aem_GG931_-FwdYe6N2d4pzUmQ&m=1

#INISIATIF #HappyLongWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen ๐Ÿ”—

Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 412 dengan Tema LEADERSHIP STYLE UNLOCKED (Seni Berkomunikasi dengan Berbagai Tipe Atasan), yaitu:

1. Kk Nilla Khasanah @nilla_83 (Staf EPPP RS KC Medan)
2. Kk Karin Octavia @karinviia (Verifikator Klaim KC Palembang)
3. Kk Nur Adhita Azis Rachmad @nur_adhita (Staf Administrasi Badan, Sekban)

Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb

Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ“–

#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿฅณ LAST DAY KOMPETISI GERAK LANGKAH ๐Ÿฅณ

Jangan lupa laporkan aktivitasmu hari ini ke PIC ATE berikut yaa:

Partisipan dari Kepwil 1, 2 & 3: @aliamahoroe
Partisipan dari Kepwil 4, 5 & 6: @withhardshipwillbeease
Partisipan dari Kepwil 7, 8 & 9: @randaalwano
Partisipan dari Kepwil 10, 11 & 12 dan Kantor Pusat: @aakarpohon

Join COMMIT Ask The Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)๐Ÿ“ฑ
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1


#INISIATIF #GrowthMindset
๐Ÿ‘1
POLITIK KANTOR ITU NYATA, TAPI BUKAN BERARTI HARUS MAIN KOTOR ๐Ÿค

oleh : Afif Luthfi

Tiga tahun lalu, saya pernah mengajak makan siang seorang Gen Z yang baru kerja enam bulan.

Usianya 24 tahun, gayanya cuek, tapi matanya tampak penuh api.

Dia bercerita, โ€œKak, aku tuh kerja udah sekeras itu, tapi yang naik level malah yang suka ngobrol di pantry.โ€

Saya tersenyum. โ€œKamu pikir yang ngobrol di pantry itu cuma buang waktu?โ€

Dia bengong.

Selamat datang di dunia nyata di mana poitik kantor itu exist!

Politik kantor sering dianggap negatif. Seolah-olah itu tentang menjilat atasan, menusuk dari belakang, atau mencari muka. Tapi seperti halnya pisau dapur, politik bisa dipakai untuk membantu memasak atau melukaiโ€”tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa.

Saya ingat seorang mentor pernah bilang,
โ€œKantor bukan sekadar tempat kerja, tapi juga arena diplomasi.โ€


Dan diplomasi yang baik bukan tentang drama, tapi tentang membangun jembatan.

GEN Z, kalian punya senjata berharga: kejujuran dan value!
Kita semua pernah muda. Kita pernah jadi idealis. Tapi hidup di lingkungan kerja mengajarkan satu hal penting: bukan siapa yang paling pintar yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling bisa membaca arah angin dan tahu kapan bicara, kapan diam.

Itu bukan manipulasi. Itu kecerdasan sosial.

Seorang pemimpin pernah bilang pada saya,
โ€œSaya percaya pada anak muda yang pintar. Tapi saya lebih percaya pada anak muda yang tahu kapan harus menyimak sebelum mengeksekusi.โ€


Politik yang sehat itu menggunakan pengaruh untuk menumbuhkan!
Saya percaya, Gen Z adalah generasi yang paling transparan. Tapi transparansi saja tidak cukup. Kalian juga perlu ketajaman strategi.
Karena dunia kerja bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal cara membawa diri.

1. Politik sehat itu saat kamu bisa
support rekan kerja
, bukan saingan diam-diam.
2. Politik sehat itu saat kamu tahu
cara menyampaikan ide ke bos tanpa mengancam egonya.

3. Politik sehat itu saat kamu
menggunakan empati, bukan drama
, untuk memengaruhi keputusan.


Yang bertahan bukan yang keras, tapi yang lentur!

Di akhir makan siang itu, anak muda tadi diam sebentar. Lalu dia bilang, โ€œBerarti aku harus belajar jadi peka, ya?โ€

Saya hanya mengangguk.
Karena kadang, jawaban terbaik tidak perlu dijelaskan panjang lebarโ€”cukup direnungkan.

Untuk kamu, Gen Z yang sedang berjuang di tengah dunia kerja yang kadang tak adil

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค12
Pernahkah kamu berpikir bahwa bakat adalah segalanya untuk sukses? Buku Grit karya Angela Duckworth menantang pandangan itu!

Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, mengungkapkan bahwa "grit" atau ketabahan ternyata punya peran besar untuk mencapai tujuan. Buku ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018 dengan 416 halaman penuh wawasan berharga!

Di dalam Grit, Duckworth bercerita tentang murid bernama David. David ini pintar matematika, tapi ketika dipindahkan ke kelas akselerasi, ia sempat gagal total. Bayangkan, dari nilai A langsung turun jadi D! Tapi David enggak menyerah, dia belajar keras dan akhirnya kembali mendapat nilai sempurna. Kisahnya mengingatkan kita bahwa tekad dan ketekunan bisa membawa kita lebih jauh daripada bakat semata.

Selain kisah inspiratif, Duckworth juga mengenalkan "Grit Scale" untuk mengukur tingkat ketabahan kamu. Kamu bisa coba sendiri tesnya dengan mengetik "Grit Scale" di Google. Yuk, lihat sejauh mana ketabahanmu sekarang!
https://angeladuckworth.com/grit-scale/

Bagian kedua buku ini membahas cara menumbuhkan ketabahan dari dalam. Salah satu langkah pertama? Temukan minat yang benar-benar kamu suka! Jangan ragu untuk mengeksplorasi, karena minat yang kuat adalah awal dari ketabahan yang kokoh.

Duckworth juga menyarankan "latihan terencana," alias latihan yang fokus dan konsisten. Konsep ini mirip dengan 10,000 jam latihan dari Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Semakin kita berlatih, semakin ahli kita!

Ada konsep "Kaizen" juga di sini, yang berarti terus berkembang. Jangan sampai merasa puas dengan kemampuan kita saat ini. Dunia terus berkembang, jadi kita juga harus terus upgrade skill kita.

Faktor lain yang penting adalah punya "strong why" atau tujuan yang jelas. Kalau kamu punya alasan kuat, akan lebih mudah menjaga semangat dan konsistensi dalam mengejar impian.

Optimisme juga berperan penting. Orang yang optimis akan melihat setiap masalah sebagai tantangan sementara yang bisa diatasi. Dengan harapan yang kuat, kita bisa bangkit walau sering jatuh.

Bagian ketiga buku ini mengingatkan kita tentang pentingnya dukungan dari lingkungan, terutama orang tua, untuk mengembangkan ketabahan. Dukungan dari orang-orang terdekat ternyata bisa membuat semangat kita bertahan lebih lama.

Menurut Duckworth, kesuksesan bukan cuma soal bakat, tapi perpaduan antara passion dan ketabahan. Orang yang penuh grit biasanya bisa menjaga semangat dalam waktu lama meski sering jatuh bangun.

#INISIATIF
โค2
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅAsk the Experts
#Edisi413๐Ÿ”ฅโœจ

Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari iniโœจ

๐Ÿ“ŒGugup saat bicara di depan orang banyak? Tenangโ€ฆ bahkan aktor terbaik pun pernah deg-degan pas opening! ๐Ÿ˜…๐ŸŽ™


Sharing hari ini akan dibawakan oleh Narasumber luar biasa, kakak @Rama_Isya dan akan dipandu oleh host kece @haiduladha dan @aliamahoroe

*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh ๐Ÿฅณ


Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts

(Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) -->

Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
๐Ÿ‘1
CV Muhammad Firdaus Ramadhan.pdf
286.6 KB
Perkenalan singkat narsum hari ini
Panduan Live Telegram ATE #juknis #panduan
Kalau Ide Tak Diakui, Haruskah Kita Berhenti Berkarya? ๐Ÿค

oleh : Afif Luthfi

Ada satu cerita yang sering kali berulang dalam dunia kerja, tapi jarang disuarakan. Seorang karyawan muda dengan segudang ide datang dengan semangat. Ia duduk rapat, lempar ide brilian, dan merasa sudah memberi kontribusi besar.

Namun beberapa hari kemudianโ€”ide itu muncul lagi. Di presentasi kawan atau atasan. Tanpa namanya disebut. Tanpa sepatah pun pengakuan bahwa itu berasal dari dirinya.

Kalau kamu yang mengalami, apa yang akan kamu lakukan?

Ini bukan soal pencitraan. Ini soal rasa memiliki.
Ketika sebuah ide dicuri atau tidak diakui, yang tercuri bukan cuma konsep. Tapi juga harga diri, semangat, dan bahkan harapan.

Karyawan merasa tidak dihargai, seolah-olah dirinya hanyalah mesin penghasil solusiโ€”tanpa ruh dan tanpa nama.

Tapi begini, mari kita tarik napas dan melihatnya dari sudut yang berbeda๐Ÿ‘‡


1. Pertama, kamu harus belajar membedakan antara pencurian ide dengan strategi organisasi.
Tidak semua ide yang digunakan tanpa namamu itu artinya kamu dikhianati. Ada organisasi yang memang budaya pengakuannya rendah, tapi tetap mendengarkan. Mereka menyimpan ide baik, lalu mengemasnya ulang agar lebih layak dipresentasikan ke level yang lebih tinggi.

Jika kamu marah duluan, kamu kehilangan kesempatan untuk tetap didengar.

2. Kedua, ada cara lain untuk tetap berkarya.
Mulailah membiasakan mendokumentasikan idemu. Kirim email. Simpan jejak digital.

Sampaikan dalam forum-forum resmi. Dengan begitu, kamu mengirim sinyal bahwa kamu bukan cuma kreatif, tapi juga punya keberanian intelektual.

3. Ketiga, ide itu seperti benih. Kadang kita yang menanam, tapi bukan kita yang panen.
Dan itu tak selalu buruk. Kalau kamu bekerja di tempat yang benar, lambat laun orang akan melihat siapa yang konsisten menanam.

Jadi, kalau ide tak diakuiโ€”apakah harus berhenti berkarya?

Tidak. Karena berhenti berkarya adalah cara tercepat untuk dilupakan. โœ๏ธ

โ€œAnda bisa mencuri ide seseorang, tapi Anda tidak bisa mencuri cara berpikirnya.โ€ โ€“ Anonim


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘4๐Ÿซก1
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen ๐Ÿ”—

Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang terpilih dalam kegiatan ATE Edisi 413 dengan Tema Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT), yaitu:

1. Kak @Rama_Isya (PATT RO KC Sukabumi)
2. Ibu Desvita Yanni (Kepala KC Sintang)
2. Kak Sri Adhiyati @Sriadh (Staf PMPF KC Kisaran)
3. Kak Dheaaa @deyaaaq (PATT Adm Klaim KC Sidoarjo)

Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb

Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ๐Ÿ“–

#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YOUR GROWTH'S STEPS ๐Ÿ’ช

oleh: Paulus Aditya Hernawan

Punya ide keren tapi takut memulai?
Sepertinya ini masalah banyak orang.

- Takut dihujat?
- Merasa belum pantas?
- Merasa bukan siapa-siapa?

Apapun alasannya, ide dan potensi yang ada dalam diri kita layak untuk dikulik lebih lanjut dan dibagikan kepada dunia.

Bagaimana caranya?
Yuk kita explore dengan roadmap simple ini ๐Ÿ‘‡

1. Kelilingi Dirimu dengan Komunitas Tepat โœ…
Inovasi lahir dari interaksi! Temukan 2 komunitas yang sesuai dengan minat kalianโ€”baik online maupun offline.

Gabung, diskusi, dan bagikan ide. Jangan hanya pasif atau jadi silent reader.

Kreativitas berkembang saat ada inspirasi dari berbagai sudut!

2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir โœ…
Terlalu perfeksionis ternyata tidak membuat kita menjadi produktif, malah justru sebaliknya: stuck.

Lalu harus gimana?

Luangkan waktu untuk berkarya. Lepaskan beban untuk jadi sempurna. Fokus ke prosesnya. Catat progres agar tetap termotivasi.

Hasil memang penting, tapi proses untuk menuju hasil harus menjadi fokusnya. Dalam hal ini konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.

3. Berani Eksperimen! โœ…
Inget gak waktu kecil, kita sering mencoba melakukan banyak hal tanpa dipusingkan hasilnya akan gimana.

Dulu, kita bebas mencoba apa saja tanpa takut gagal. Kenapa sekarang ragu?

Sekarang:
- Coba hal baru, apa saja bebas.
- Catat pengalamanmu.
- Bagikan apa yang sudah dilakukan.

Kalau gagal gimana? Bahkan kegagalanpun adalah sebuah pengalaman yang bisa dijadikan bahan belajar.

Kadang ide terbaik muncul dari kegagalan yang tak terduga!

4. Bangun Jejak Digital โœ…
Di jaman sekarang ini, tanpa kehadiran online, kita seakan-akan tidak ada. Pilih salah satu platform dan tunjukkan diri kita.

Buat blog, Instagram, X, Threads, LinkedIn, atau media sosial yang mencerminkan siapa dirimu.

Post agar orang-orang tahu siapa kita.

Apa yang kita tulis?
- Siapa kita.
- Apa yang kita suka.
- Apa yang kita bisa.
- Sudut pandang kita terhadap sesuatu.

Pilih yang paling nyaman.

5. Rayakan Kemenangan Kecil โœ…
Banyak orang yang malu membagikan apa yang sudah mereka bisa/pelajari/hasilkan karena merasa belum pantas.

Namun, bagaimana orang lain tahu progres kita kalau kita sendiri tidak merayakannya?

Jangan tunggu sempurna baru berbagi!

Posting progres harian:
Bisa sketsa, insight, atau behind-the-scenes.

Orang lebih relate dengan perjalanan kita daripada hanya hasil akhirnya!

6. Cari Feedback & Terus Belajar โœ…
Berbagi karya berarti siap menerima opini, baik yang membangun maupun yang kurang relevan.

Kuncinya?

Jangan baper, kritik bukan serangan pribadi, tapi peluang untuk berkembang.

Buat sesi feedback dengan mentor, komunitas, atau audiens. Dengarkan, saring pola yang muncul, lalu eksekusi.

Tetap percaya pada insting kreatifmu!

Banyak orang stuck karena ingin hasil sempurna. Namun, kunci berkembang adalah pada prosesnya.

Luangkan waktu untuk berkarya. Hilangkan tekanan untuk jadi sempurna.

Catat progres, sekecil apa pun. Karena konsistensi lebih penting dari kesempurnaan. Semakin kita berproses, semakin kita berkembang.

Jadi, sudah siap mulai hari ini? ๐Ÿค

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿซก1
Tuhan Tidak Bermain Dadu ๐Ÿ˜‡

Seekor cheetah berlari sambil berdoa, โ€œTuhan, aku lapar...โ€

Seekor gazelle berlari sambil memohon, โ€œSelamatkan aku, Tuhan...โ€

Lalu, doa siapakah yang akan dikabulkan?

Pertanyaan ini bukan untuk dijawabโ€”tapi untuk direnungkan. Karena hidup bukan tentang siapa yang Tuhan bela, melainkan tentang peran, kesadaran, dan keikhlasan yang kita jalani.

Sering kali kita menilai doa dari hasilnya. Tapi semesta tidak bekerja sesederhana itu. Terkadang, kita adalah pemburu yang merasa pantas menerima hasil karena usaha.

Di waktu lain, kita adalah yang diburuโ€”yang hanya ingin bertahan dalam rasa takut dan harap.

Namun di balik semuanya, Tuhan sedang menyusun harmoni, bukan drama acak. Tuhan tidak sedang melempar dadu untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Setiap peristiwa, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, adalah bagian dari orkestra agung bernama kehidupan.

Mungkin si cheetah gagal hari ini, tapi tetap hidup untuk esok. Mungkin si gazelle selamat sekarang, namun tetap harus waspada di lain waktu. Dan mungkin, keduanya dikabulkanโ€”dengan cara yang tidak kita pahami, tapi mereka butuhkan.

Karena dalam spiritualitas yang sejati, Doa bukan hanya soal dikabulkan atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kesadaran.

Sudahkah kita hadir penuh dalam doa kita?

Sudahkah kita menjadi bagian dari keseimbangan semesta?

Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah pesan. Termasuk rasa lapar... dan rasa takut.

Kalau kamu sendiri, menurutmuโ€ฆ doa siapa yang seharusnya dikabulkan?

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ™7โค1๐Ÿ˜1
RECHARGE YOUR ENERGY ๐Ÿ‘‘

FYI. Besok kami akan coba spill salah satu contoh jenis game yang akan dimainkan pada kompetisi VG semarak HUT BPJS Kes. Semoga ujicoba besok bisa bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sebelumnya belum pernah mencoba bermain Virtual Games karena baru join di Grup ATE. ๐Ÿ˜‡

Jangan lupa bersiap ujicoba Sabtu (26/4) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB). Sampai bertemu buat keseruannya ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

FYI, pada kompetisi resmi HUT nanti itu akan tersedia 10 jenis VG berbeda dengan ragam filosofi dan jenis tantangannya ๐Ÿฅณ

1. Jangan lupa join di Grup Telegram ATE (Khusus Internal) ๐Ÿ“ฑ
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1

2. Kami lagi mempertimbangkan untuk menggunakan juknis yang baru dalam proses perhitungan dan penetapan poin di kompetisi VG Tahun 2025 nanti (Kalau kalian ada ide dan masukan, boleh banget japri ke Tim ATE yah) ๐Ÿซก

3. Biar makin semarak dalam sesi ujicoba game besok sore, ATE menyiapkan 1 buah souvenir kaos/Tote INISIATIF 2025 buat 1 orang pemain dengan peringkat terbaik ๐Ÿฅฐ


#Weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Mengapa Lapar itu ada? Siasat Atasi Lapar Masalah Sejuta Ummatโœ๏ธ๐Ÿ’ช

oleh: Ade Rai

https://www.instagram.com/reel/DI3O7Y1zVAi/?igsh=cjVocmc3NnU1cHAx

#fitlife
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฐ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐——๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐—ง๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐Ÿ“ฑ

oleh: Wicaksono

Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.

Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.

Fenomena ini bukan sekadar soal ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ด ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฅ๐˜ข๐˜บ๐˜ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโ€”sunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.

Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โ€œBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ€

Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.

Dalam bukunya ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š: ๐™ƒ๐™ค๐™ฌ ๐™ฉ๐™ค ๐˜ฝ๐™ช๐™ž๐™ก๐™™ ๐™๐™ง๐™ช๐™จ๐™ฉ ๐™–๐™ฃ๐™™ ๐˜พ๐™ค๐™ฃ๐™ฃ๐™š๐™˜๐™ฉ๐™ž๐™ค๐™ฃ ๐™‰๐™ค ๐™ˆ๐™–๐™ฉ๐™ฉ๐™š๐™ง ๐™ฉ๐™๐™š ๐˜ฟ๐™ž๐™จ๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™˜๐™š, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.

โ€œReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ€ โ€” Erica Dhawan

Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.

Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโ€”yang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโ€”yang lain membaca itu sebagai marah.

โ€œIn the absence of body cues, weโ€™re all just guessing.โ€ โ€” Erica Dhawan

Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.

Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐—ฉ๐—ฎ๐—น๐˜‚๐—ฒ ๐—ฉ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ฏ๐—น๐˜† โ€“ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐—–๐—ผ๐—บ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—–๐—ฎ๐—ฟ๐—ฒ๐—ณ๐˜‚๐—น๐—น๐˜† โ€“ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐—–๐—ผ๐—น๐—น๐—ฎ๐—ฏ๐—ผ๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฒ ๐—–๐—ผ๐—ป๐—ณ๐—ถ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—น๐˜† โ€“ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐—ง๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐˜ ๐—ง๐—ผ๐˜๐—ฎ๐—น๐—น๐˜† โ€“ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.

Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.

๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š adalah jembatanโ€”bukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.

Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐˜ฟ๐™ž๐™œ๐™ž๐™ฉ๐™–๐™ก ๐˜ฝ๐™ค๐™™๐™ฎ ๐™‡๐™–๐™ฃ๐™œ๐™ช๐™–๐™œ๐™š mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.

Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โ€˜bahasa tubuh digitalโ€™ jika bukan kita sendiri?

โ€œThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโ€™s the ability to connect,โ€ tulis Erica.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ™3
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โœ…

โœจ๐Ÿ”ฅ COMING SOON ๐Ÿ”ฅโœจ

Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโœจ

Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐Ÿ“

โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โœจ

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
-->
Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
โ€œBISA KERJA TAPI GAK BISA INTERVIEWโ€ โ€” Apakah Dunia Kerja Cuma Buat yang Pandai โ€˜Actingโ€™? ๐Ÿค
oleh : Afif Luthfi

Pagi itu, sambil nunggu loading Zoom meeting yang entah kenapa lemot banget, saya berselancar ke salah satu job portal. Lalu nemulah sebuah postingan yang meledak-ledak tapi jujur danโ€ฆ menyayat.

โ€œMUAK BANGET SAMA STANDAR INTERVIEW INDO! Sampe kapan sih perusahaan-perusahaan mau sadar kalo kita BISA KERJA tapi cuma GA BISA INTERVIEW?!โ€


Seketika, saya diam.
Bukan karena gak setuju. Tapi karenaโ€ฆ saya paham.

Kita hidup di dunia yang menjadikan komunikasi sebagai โ€œmata uangโ€ utama untuk masuk ke gerbang kerja. Tapi sayangnya, gak semua orang dilahirkan dengan skill komunikasi yang sama. Bahkan, banyak dari kita yang sebenarnya jago ngerjain tugas, tapi gugup saat harus โ€œmenjual diriโ€ di depan pewawancara. Laluโ€ฆ jadi gagal.

Padahal skill komunikasi dan skill kerja itu dua hal yang beda dimensi. Satu tentang performa sosial, satu tentang kemampuan teknis. Tapi kenapa yang lebih berat malah pintu masuknya?

Apakah Interview Itu Sekadar Ajang โ€˜Actingโ€™?
Pertanyaan ini menyengat. Benarkah interview itu hanya menguji siapa yang paling pintar โ€œactingโ€, bukan siapa yang paling siap kerja?

Di satu sisi, ya. Kita gak bisa munafik. Banyak banget proses rekrutmen yang masih menilai siapa yang paling lancar ngomong, paling percaya diri, paling โ€œjualanโ€ dengan gaya CEO TikTok. Padahal di balik panggung, yang kerja keras mati-matian belum tentu yang paling vokal.

Tapi di sisi lainโ€ฆ kita juga harus ngerti perspektif recruiter.

Bayangkan kamu disuruh memilih partner kerja. Kamu cuma punya waktu 30 menit buat mengenal mereka. Gak ada CV, gak ada portofolio yang bisa bicara sendiri.

Yang kamu punya cuma obrolan singkat. Nah, apa yang akan kamu nilai? Ya, gimana mereka menjawab. Gimana mereka merespons. Gimana mereka membaca situasi.

Makanya, bukan karena dunia kerja gak adil, tapi karena dunia kerja gak punya waktu buat mengenal kita sedalam itu. Maka โ€˜kesan pertamaโ€™ jadi satu-satunya pintu.

Jadi, Haruskah Kita Semua Jadi Extrovert?
Nggak. Tapi kita perlu belajar tampil.
Bukan buat fake atau acting, tapi buat menyampaikan: โ€œHey, gue punya kemampuan. Tapi lo harus tahu dulu caranya gue nunjukin.โ€

Komunikasi itu bukan tentang jadi cerewet. Tapi tentang bisa menjelaskan siapa kita dan apa yang bisa kita bawa ke meja kerja. Bahkan introvert pun bisa jago interview, asal tahu cara memetakan kekuatan mereka dan menyampaikannya dengan jujur dan tenang.

Interview bukan ajang siapa paling heboh. Tapi siapa yang paling siap menyampaikan esensi dirinya, dengan cara yang paling autentik.

Ayo, Re-design Proses Rekrutmen!
Sisi lainnya adalahโ€ฆ kita juga bisa mulai push back. Generasi kita gak cuma boleh ngeluh, tapi bisa ngajak perusahaan duduk bareng, redesign proses rekrutmen biar lebih adil dan manusiawi. Misalnya:

1. Ada tes kerja nyata sebagai bagian dari proses seleksi
2. Interview dua arah, bukan interogasi satu arah
3. Ada pilihan untuk menjawab via video pre-record, bagi yang grogi live

Karena zaman berubah, maka sistem pun harus ikut berubah.

Penutup: Yang Jago Acting Boleh Masuk, Tapi yang Jago Kerja Harus Diundang Duduk

Interview
itu penting. Tapi jangan sampai dia jadi satu-satunya alat ukur.
Karena dunia kerja butuh
doers
, bukan cuma
talkers
. Butuh
builders
, bukan hanya
debaters
.


Kalau kamu merasa bisa kerja tapi susah interview โ€” bukan berarti kamu gagal. Mungkin kamu cuma perlu satu langkah lagi: belajar menyampaikan nilai dirimu, bukan jadi orang lain.

Karena di dunia yang keras, kadang cara kita โ€œmasukโ€ lebih menentukan dari apa yang bisa kita โ€œkasihโ€.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2