๐๐ฒ๐๐ถ๐ธ๐ฎ ๐๐บ๐ผ๐ท๐ถ ๐๐ฎ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ฑ๐ฎ๐ป๐ด ๐ฃ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐ป๐ด ๐๐ป๐๐ฎ๐ฟ๐ด๐ฒ๐ป๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ ๐ซก ๐ ๐
oleh: Wicaksono
Di era digital yang makin riuh, Gen Z kembali membuat gebrakanโbukan dengan demonstrasi di jalanan, tapi lewat perang makna dalam ruang percakapan.
Kali ini yang jadi sasaran bukan isu politik atau lingkungan, melainkan sebuah ikon mungil berwarna kuning: emoji jempol ke atas.
Bagi Gen Z, emoji ini bukan lagi simbol setuju atau apresiasi. Sebaliknya, ia dibaca sebagai tanda pasif-agresif, dingin, bahkan menyebalkan. Seperti senyum simpul dari orang yang sudah malas berdebat tapi tetap ingin menang.
Ini bukan sekadar preferensi gaya komunikasi; ini adalah tafsir budaya yang berubah, refleksi dari sensitivitas zaman yang makin tajam terhadap nada, konteks, dan subteks.
Perubahan ini menyingkap sesuatu yang lebih besar: bahasa digital telah menjadi ladang ranjau emosional. Emoji bukan lagi hiasan percakapan, tapi senjata yang bisa menyampaikan kehangatan atau malah menyulut ketegangan.
Di sinilah generasi yang lebih tua sering keliru langkah, mengira mereka menyiram bunga, padahal justru memercikkan bensin ke api kecil.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar soal isi pesan, tapi bagaimana pesan itu dikemas dan diterima. Sama seperti dua orang bisa membaca puisi yang sama dan merasakan hal yang berbeda, begitu pula dengan emoji.
Jempol bisa menjadi pelukan digital atau sindiran halusโsemua tergantung pada siapa yang mengirim, siapa yang menerima, dan dalam konteks apa ia dikirimkan.
Sayangnya, banyak yang masih menyepelekan pergeseran ini. Mereka menyebut Gen Z terlalu sensitif, mudah tersinggung, atau "lebay". Namun tuduhan ini ibarat menyalahkan termometer karena menunjukkan suhu demam.
Gen Z bukan menciptakan masalah, mereka hanya mencerminkan iklim emosional yang berubah di lanskap digital. Mereka tidak sedang rewel, mereka sedang memetakan ulang etiket komunikasi zaman now.
Di balik sikap mereka, tersimpan ajakan untuk berpikir ulang: apakah komunikasi kita selama ini benar-benar menjembatani makna, atau justru menyisakan celah? Apakah kita bicara untuk dipahami, atau sekadar melempar simbol dan berharap semuanya akan beres?
Saatnya kita memahami bahwa emoji adalah alfabet baru. Dan jika kita tak mau ketinggalan zaman, kita perlu belajar kembali cara mengeja emosi dalam bentuk visual. Jempol tak lagi netral. Dalam dunia komunikasi hari ini, bahkan satu ikon kecil bisa menjadi panduan etika atau ranjau konflik.
Jadi sebelum kita menyapa kolega dengan sebuah jempol, ada baiknya kita bertanya: apakah ini pelukan virtual, atau tamparan yang dibungkus senyum?
Karena, di zaman digital, bahkan hal kecil bisa memicu perang besarโperang tanpa suara, tapi penuh makna. (*)
#INISIATIF #BesokWeekend
oleh: Wicaksono
Di era digital yang makin riuh, Gen Z kembali membuat gebrakanโbukan dengan demonstrasi di jalanan, tapi lewat perang makna dalam ruang percakapan.
Kali ini yang jadi sasaran bukan isu politik atau lingkungan, melainkan sebuah ikon mungil berwarna kuning: emoji jempol ke atas.
Bagi Gen Z, emoji ini bukan lagi simbol setuju atau apresiasi. Sebaliknya, ia dibaca sebagai tanda pasif-agresif, dingin, bahkan menyebalkan. Seperti senyum simpul dari orang yang sudah malas berdebat tapi tetap ingin menang.
Apa yang bagi generasi tua adalah "oke, noted, lanjut," kini diterjemahkan oleh Gen Z sebagai "terserah, males mikir, gue cuek." Bagaikan mengangkat gelas untuk bersulang, tapi air di dalamnya sudah basi.
Ini bukan sekadar preferensi gaya komunikasi; ini adalah tafsir budaya yang berubah, refleksi dari sensitivitas zaman yang makin tajam terhadap nada, konteks, dan subteks.
Perubahan ini menyingkap sesuatu yang lebih besar: bahasa digital telah menjadi ladang ranjau emosional. Emoji bukan lagi hiasan percakapan, tapi senjata yang bisa menyampaikan kehangatan atau malah menyulut ketegangan.
Di sinilah generasi yang lebih tua sering keliru langkah, mengira mereka menyiram bunga, padahal justru memercikkan bensin ke api kecil.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar soal isi pesan, tapi bagaimana pesan itu dikemas dan diterima. Sama seperti dua orang bisa membaca puisi yang sama dan merasakan hal yang berbeda, begitu pula dengan emoji.
Jempol bisa menjadi pelukan digital atau sindiran halusโsemua tergantung pada siapa yang mengirim, siapa yang menerima, dan dalam konteks apa ia dikirimkan.
Sayangnya, banyak yang masih menyepelekan pergeseran ini. Mereka menyebut Gen Z terlalu sensitif, mudah tersinggung, atau "lebay". Namun tuduhan ini ibarat menyalahkan termometer karena menunjukkan suhu demam.
Gen Z bukan menciptakan masalah, mereka hanya mencerminkan iklim emosional yang berubah di lanskap digital. Mereka tidak sedang rewel, mereka sedang memetakan ulang etiket komunikasi zaman now.
Di balik sikap mereka, tersimpan ajakan untuk berpikir ulang: apakah komunikasi kita selama ini benar-benar menjembatani makna, atau justru menyisakan celah? Apakah kita bicara untuk dipahami, atau sekadar melempar simbol dan berharap semuanya akan beres?
Saatnya kita memahami bahwa emoji adalah alfabet baru. Dan jika kita tak mau ketinggalan zaman, kita perlu belajar kembali cara mengeja emosi dalam bentuk visual. Jempol tak lagi netral. Dalam dunia komunikasi hari ini, bahkan satu ikon kecil bisa menjadi panduan etika atau ranjau konflik.
Jadi sebelum kita menyapa kolega dengan sebuah jempol, ada baiknya kita bertanya: apakah ini pelukan virtual, atau tamparan yang dibungkus senyum?
Karena, di zaman digital, bahkan hal kecil bisa memicu perang besarโperang tanpa suara, tapi penuh makna. (*)
#INISIATIF #BesokWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค2๐1
"Kepada Ibu Hiduplah Lebih Lama"
Buku karya : @IlhamNuryadiAkbar (Koordinator EP3RS KC Pematangsiantar)
Buku sastra ini adalah pemantik ingatan dalam tiga masa yang berkelindan, dikemas dalam bentuk puisi yang menafsir seluruh fragmen ibu, termasuk mengurai sumber kekuatan ibu yang begitu mampu berjalan lurus meski keadaan sedang miring.
Pada dasarnya, ibu mencintaimu sebelum tubuhnya meniru sebuah bukit, dan mencintaimu sebelum Tuhan memberi tahu, siapa ibumu.
Sebab pada akhirnya, kala usia ibu sudah berbilang,
merawat ibu adalah perasaan dalam dua kubu:
Kesempatan membalas jasa
Kesedihan menjelang tiada.
Untuk pemesanan buku bisa langsung melalui penerbit.
Dio Media: 0856437620005
๐
Buku karya : @IlhamNuryadiAkbar (Koordinator EP3RS KC Pematangsiantar)
Buku sastra ini adalah pemantik ingatan dalam tiga masa yang berkelindan, dikemas dalam bentuk puisi yang menafsir seluruh fragmen ibu, termasuk mengurai sumber kekuatan ibu yang begitu mampu berjalan lurus meski keadaan sedang miring.
Pada dasarnya, ibu mencintaimu sebelum tubuhnya meniru sebuah bukit, dan mencintaimu sebelum Tuhan memberi tahu, siapa ibumu.
Sebab pada akhirnya, kala usia ibu sudah berbilang,
merawat ibu adalah perasaan dalam dua kubu:
Kesempatan membalas jasa
Kesedihan menjelang tiada.
Untuk pemesanan buku bisa langsung melalui penerbit.
Dio Media: 0856437620005
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค4๐4
MUDIK ๐ซ
oleh: Yusran Darmawan
https://www.timur-angin.com/2025/03/saatnya-kita-mudik-digital.html?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR47a1WcArzlwjBouUmryvPNmfe-Nfacl4axyUQRSzvfZfATpp_k_AOFJXX6bw_aem_GG931_-FwdYe6N2d4pzUmQ&m=1
#INISIATIF #HappyLongWeekend
oleh: Yusran Darmawan
Mudik seperti juga keheningan, adalah bentuk kecil dari pemberontakan terhadap keterhubungan yang berlebihan. Ia seperti puasa: menahan, mengosongkan, agar kita kembali menemukan rasa. Kita mematikan ponsel bukan karena anti-kemajuan, tapi karena sadar, tak semua suara perlu didengar, tak semua notifikasi perlu ditanggapi๐ฑ
https://www.timur-angin.com/2025/03/saatnya-kita-mudik-digital.html?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR47a1WcArzlwjBouUmryvPNmfe-Nfacl4axyUQRSzvfZfATpp_k_AOFJXX6bw_aem_GG931_-FwdYe6N2d4pzUmQ&m=1
#INISIATIF #HappyLongWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Timur-Angin
Saatnya Kita Mudik Digital
Saatnya Kita Mudik Digital - Yusran Darmawan - https://www.timur-angin.com/
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen ๐
Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 412 dengan Tema LEADERSHIP STYLE UNLOCKED (Seni Berkomunikasi dengan Berbagai Tipe Atasan), yaitu:
1. Kk Nilla Khasanah @nilla_83 (Staf EPPP RS KC Medan)
2. Kk Karin Octavia @karinviia (Verifikator Klaim KC Palembang)
3. Kk Nur Adhita Azis Rachmad @nur_adhita (Staf Administrasi Badan, Sekban)
Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb
Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING๐ฎ๐ฉ ๐
#INISIATIF #FunandMeaningful
Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 412 dengan Tema LEADERSHIP STYLE UNLOCKED (Seni Berkomunikasi dengan Berbagai Tipe Atasan), yaitu:
1. Kk Nilla Khasanah @nilla_83 (Staf EPPP RS KC Medan)
2. Kk Karin Octavia @karinviia (Verifikator Klaim KC Palembang)
3. Kk Nur Adhita Azis Rachmad @nur_adhita (Staf Administrasi Badan, Sekban)
Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb
Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING
#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅณ LAST DAY KOMPETISI GERAK LANGKAH ๐ฅณ
Jangan lupa laporkan aktivitasmu hari ini ke PIC ATE berikut yaa:
Partisipan dari Kepwil 1, 2 & 3: @aliamahoroe
Partisipan dari Kepwil 4, 5 & 6: @withhardshipwillbeease
Partisipan dari Kepwil 7, 8 & 9: @randaalwano
Partisipan dari Kepwil 10, 11 & 12 dan Kantor Pusat: @aakarpohon
#INISIATIF #GrowthMindset
Jangan lupa laporkan aktivitasmu hari ini ke PIC ATE berikut yaa:
Partisipan dari Kepwil 1, 2 & 3: @aliamahoroe
Partisipan dari Kepwil 4, 5 & 6: @withhardshipwillbeease
Partisipan dari Kepwil 7, 8 & 9: @randaalwano
Partisipan dari Kepwil 10, 11 & 12 dan Kantor Pusat: @aakarpohon
Join COMMIT Ask The Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)๐ฑ
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIF #GrowthMindset
๐1
POLITIK KANTOR ITU NYATA, TAPI BUKAN BERARTI HARUS MAIN KOTOR ๐ค
oleh : Afif Luthfi
Tiga tahun lalu, saya pernah mengajak makan siang seorang Gen Z yang baru kerja enam bulan.
Usianya 24 tahun, gayanya cuek, tapi matanya tampak penuh api.
Dia bercerita, โKak, aku tuh kerja udah sekeras itu, tapi yang naik level malah yang suka ngobrol di pantry.โ
Saya tersenyum. โKamu pikir yang ngobrol di pantry itu cuma buang waktu?โ
Dia bengong.
Selamat datang di dunia nyata di mana poitik kantor itu exist!
Politik kantor sering dianggap negatif. Seolah-olah itu tentang menjilat atasan, menusuk dari belakang, atau mencari muka. Tapi seperti halnya pisau dapur, politik bisa dipakai untuk membantu memasak atau melukaiโtergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa.
Dan diplomasi yang baik bukan tentang drama, tapi tentang membangun jembatan.
GEN Z, kalian punya senjata berharga: kejujuran dan value!
Kita semua pernah muda. Kita pernah jadi idealis. Tapi hidup di lingkungan kerja mengajarkan satu hal penting: bukan siapa yang paling pintar yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling bisa membaca arah angin dan tahu kapan bicara, kapan diam.
Itu bukan manipulasi. Itu kecerdasan sosial.
Politik yang sehat itu menggunakan pengaruh untuk menumbuhkan!
Saya percaya, Gen Z adalah generasi yang paling transparan. Tapi transparansi saja tidak cukup. Kalian juga perlu ketajaman strategi.
Karena dunia kerja bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal cara membawa diri.
Yang bertahan bukan yang keras, tapi yang lentur!
Di akhir makan siang itu, anak muda tadi diam sebentar. Lalu dia bilang, โBerarti aku harus belajar jadi peka, ya?โ
Saya hanya mengangguk.
Karena kadang, jawaban terbaik tidak perlu dijelaskan panjang lebarโcukup direnungkan.
Untuk kamu, Gen Z yang sedang berjuang di tengah dunia kerja yang kadang tak adil
#INISIATIF
oleh : Afif Luthfi
Tiga tahun lalu, saya pernah mengajak makan siang seorang Gen Z yang baru kerja enam bulan.
Usianya 24 tahun, gayanya cuek, tapi matanya tampak penuh api.
Dia bercerita, โKak, aku tuh kerja udah sekeras itu, tapi yang naik level malah yang suka ngobrol di pantry.โ
Saya tersenyum. โKamu pikir yang ngobrol di pantry itu cuma buang waktu?โ
Dia bengong.
Selamat datang di dunia nyata di mana poitik kantor itu exist!
Politik kantor sering dianggap negatif. Seolah-olah itu tentang menjilat atasan, menusuk dari belakang, atau mencari muka. Tapi seperti halnya pisau dapur, politik bisa dipakai untuk membantu memasak atau melukaiโtergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa.
Saya ingat seorang mentor pernah bilang,
โKantor bukan sekadar tempat kerja, tapi juga arena diplomasi.โ
Dan diplomasi yang baik bukan tentang drama, tapi tentang membangun jembatan.
GEN Z, kalian punya senjata berharga: kejujuran dan value!
Kita semua pernah muda. Kita pernah jadi idealis. Tapi hidup di lingkungan kerja mengajarkan satu hal penting: bukan siapa yang paling pintar yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling bisa membaca arah angin dan tahu kapan bicara, kapan diam.
Itu bukan manipulasi. Itu kecerdasan sosial.
Seorang pemimpin pernah bilang pada saya,
โSaya percaya pada anak muda yang pintar. Tapi saya lebih percaya pada anak muda yang tahu kapan harus menyimak sebelum mengeksekusi.โ
Politik yang sehat itu menggunakan pengaruh untuk menumbuhkan!
Saya percaya, Gen Z adalah generasi yang paling transparan. Tapi transparansi saja tidak cukup. Kalian juga perlu ketajaman strategi.
Karena dunia kerja bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal cara membawa diri.
1. Politik sehat itu saat kamu bisa
support rekan kerja
, bukan saingan diam-diam.
2. Politik sehat itu saat kamu tahu
cara menyampaikan ide ke bos tanpa mengancam egonya.
3. Politik sehat itu saat kamu
menggunakan empati, bukan drama
, untuk memengaruhi keputusan.
Yang bertahan bukan yang keras, tapi yang lentur!
Di akhir makan siang itu, anak muda tadi diam sebentar. Lalu dia bilang, โBerarti aku harus belajar jadi peka, ya?โ
Saya hanya mengangguk.
Karena kadang, jawaban terbaik tidak perlu dijelaskan panjang lebarโcukup direnungkan.
Untuk kamu, Gen Z yang sedang berjuang di tengah dunia kerja yang kadang tak adil
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค12
Pernahkah kamu berpikir bahwa bakat adalah segalanya untuk sukses? Buku Grit karya Angela Duckworth menantang pandangan itu!
Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, mengungkapkan bahwa "grit" atau ketabahan ternyata punya peran besar untuk mencapai tujuan. Buku ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018 dengan 416 halaman penuh wawasan berharga!
Di dalam Grit, Duckworth bercerita tentang murid bernama David. David ini pintar matematika, tapi ketika dipindahkan ke kelas akselerasi, ia sempat gagal total. Bayangkan, dari nilai A langsung turun jadi D! Tapi David enggak menyerah, dia belajar keras dan akhirnya kembali mendapat nilai sempurna. Kisahnya mengingatkan kita bahwa tekad dan ketekunan bisa membawa kita lebih jauh daripada bakat semata.
Selain kisah inspiratif, Duckworth juga mengenalkan "Grit Scale" untuk mengukur tingkat ketabahan kamu. Kamu bisa coba sendiri tesnya dengan mengetik "Grit Scale" di Google. Yuk, lihat sejauh mana ketabahanmu sekarang!
https://angeladuckworth.com/grit-scale/
Bagian kedua buku ini membahas cara menumbuhkan ketabahan dari dalam. Salah satu langkah pertama? Temukan minat yang benar-benar kamu suka! Jangan ragu untuk mengeksplorasi, karena minat yang kuat adalah awal dari ketabahan yang kokoh.
Duckworth juga menyarankan "latihan terencana," alias latihan yang fokus dan konsisten. Konsep ini mirip dengan 10,000 jam latihan dari Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Semakin kita berlatih, semakin ahli kita!
Ada konsep "Kaizen" juga di sini, yang berarti terus berkembang. Jangan sampai merasa puas dengan kemampuan kita saat ini. Dunia terus berkembang, jadi kita juga harus terus upgrade skill kita.
Faktor lain yang penting adalah punya "strong why" atau tujuan yang jelas. Kalau kamu punya alasan kuat, akan lebih mudah menjaga semangat dan konsistensi dalam mengejar impian.
Optimisme juga berperan penting. Orang yang optimis akan melihat setiap masalah sebagai tantangan sementara yang bisa diatasi. Dengan harapan yang kuat, kita bisa bangkit walau sering jatuh.
Bagian ketiga buku ini mengingatkan kita tentang pentingnya dukungan dari lingkungan, terutama orang tua, untuk mengembangkan ketabahan. Dukungan dari orang-orang terdekat ternyata bisa membuat semangat kita bertahan lebih lama.
Menurut Duckworth, kesuksesan bukan cuma soal bakat, tapi perpaduan antara passion dan ketabahan. Orang yang penuh grit biasanya bisa menjaga semangat dalam waktu lama meski sering jatuh bangun.
#INISIATIF
Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, mengungkapkan bahwa "grit" atau ketabahan ternyata punya peran besar untuk mencapai tujuan. Buku ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018 dengan 416 halaman penuh wawasan berharga!
Di dalam Grit, Duckworth bercerita tentang murid bernama David. David ini pintar matematika, tapi ketika dipindahkan ke kelas akselerasi, ia sempat gagal total. Bayangkan, dari nilai A langsung turun jadi D! Tapi David enggak menyerah, dia belajar keras dan akhirnya kembali mendapat nilai sempurna. Kisahnya mengingatkan kita bahwa tekad dan ketekunan bisa membawa kita lebih jauh daripada bakat semata.
Selain kisah inspiratif, Duckworth juga mengenalkan "Grit Scale" untuk mengukur tingkat ketabahan kamu. Kamu bisa coba sendiri tesnya dengan mengetik "Grit Scale" di Google. Yuk, lihat sejauh mana ketabahanmu sekarang!
https://angeladuckworth.com/grit-scale/
Bagian kedua buku ini membahas cara menumbuhkan ketabahan dari dalam. Salah satu langkah pertama? Temukan minat yang benar-benar kamu suka! Jangan ragu untuk mengeksplorasi, karena minat yang kuat adalah awal dari ketabahan yang kokoh.
Duckworth juga menyarankan "latihan terencana," alias latihan yang fokus dan konsisten. Konsep ini mirip dengan 10,000 jam latihan dari Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Semakin kita berlatih, semakin ahli kita!
Ada konsep "Kaizen" juga di sini, yang berarti terus berkembang. Jangan sampai merasa puas dengan kemampuan kita saat ini. Dunia terus berkembang, jadi kita juga harus terus upgrade skill kita.
Faktor lain yang penting adalah punya "strong why" atau tujuan yang jelas. Kalau kamu punya alasan kuat, akan lebih mudah menjaga semangat dan konsistensi dalam mengejar impian.
Optimisme juga berperan penting. Orang yang optimis akan melihat setiap masalah sebagai tantangan sementara yang bisa diatasi. Dengan harapan yang kuat, kita bisa bangkit walau sering jatuh.
Bagian ketiga buku ini mengingatkan kita tentang pentingnya dukungan dari lingkungan, terutama orang tua, untuk mengembangkan ketabahan. Dukungan dari orang-orang terdekat ternyata bisa membuat semangat kita bertahan lebih lama.
Menurut Duckworth, kesuksesan bukan cuma soal bakat, tapi perpaduan antara passion dan ketabahan. Orang yang penuh grit biasanya bisa menjaga semangat dalam waktu lama meski sering jatuh bangun.
#INISIATIF
โค2
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅAsk the Experts #Edisi413๐ฅโจ
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari iniโจ
Sharing hari ini akan dibawakan oleh Narasumber luar biasa, kakak @Rama_Isya dan akan dipandu oleh host kece @haiduladha dan @aliamahoroe
*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh ๐ฅณ
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅAsk the Experts #Edisi413๐ฅโจ
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari iniโจ
๐Gugup saat bicara di depan orang banyak? Tenangโฆ bahkan aktor terbaik pun pernah deg-degan pas opening! ๐ ๐
Sharing hari ini akan dibawakan oleh Narasumber luar biasa, kakak @Rama_Isya dan akan dipandu oleh host kece @haiduladha dan @aliamahoroe
*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh ๐ฅณ
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts
(Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) -->
Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
๐1
CV Muhammad Firdaus Ramadhan.pdf
286.6 KB
Perkenalan singkat narsum hari ini
Kalau Ide Tak Diakui, Haruskah Kita Berhenti Berkarya? ๐ค
oleh : Afif Luthfi
Ada satu cerita yang sering kali berulang dalam dunia kerja, tapi jarang disuarakan. Seorang karyawan muda dengan segudang ide datang dengan semangat. Ia duduk rapat, lempar ide brilian, dan merasa sudah memberi kontribusi besar.
Namun beberapa hari kemudianโide itu muncul lagi. Di presentasi kawan atau atasan. Tanpa namanya disebut. Tanpa sepatah pun pengakuan bahwa itu berasal dari dirinya.
Kalau kamu yang mengalami, apa yang akan kamu lakukan?
Ini bukan soal pencitraan. Ini soal rasa memiliki.
Ketika sebuah ide dicuri atau tidak diakui, yang tercuri bukan cuma konsep. Tapi juga harga diri, semangat, dan bahkan harapan.
Karyawan merasa tidak dihargai, seolah-olah dirinya hanyalah mesin penghasil solusiโtanpa ruh dan tanpa nama.
1. Pertama, kamu harus belajar membedakan antara pencurian ide dengan strategi organisasi.
Tidak semua ide yang digunakan tanpa namamu itu artinya kamu dikhianati. Ada organisasi yang memang budaya pengakuannya rendah, tapi tetap mendengarkan. Mereka menyimpan ide baik, lalu mengemasnya ulang agar lebih layak dipresentasikan ke level yang lebih tinggi.
Jika kamu marah duluan, kamu kehilangan kesempatan untuk tetap didengar.
2. Kedua, ada cara lain untuk tetap berkarya.
Mulailah membiasakan mendokumentasikan idemu. Kirim email. Simpan jejak digital.
Sampaikan dalam forum-forum resmi. Dengan begitu, kamu mengirim sinyal bahwa kamu bukan cuma kreatif, tapi juga punya keberanian intelektual.
3. Ketiga, ide itu seperti benih. Kadang kita yang menanam, tapi bukan kita yang panen.
Dan itu tak selalu buruk. Kalau kamu bekerja di tempat yang benar, lambat laun orang akan melihat siapa yang konsisten menanam.
Jadi, kalau ide tak diakuiโapakah harus berhenti berkarya?
Tidak. Karena berhenti berkarya adalah cara tercepat untuk dilupakan.โ๏ธ
#INISIATIF
oleh : Afif Luthfi
Ada satu cerita yang sering kali berulang dalam dunia kerja, tapi jarang disuarakan. Seorang karyawan muda dengan segudang ide datang dengan semangat. Ia duduk rapat, lempar ide brilian, dan merasa sudah memberi kontribusi besar.
Namun beberapa hari kemudianโide itu muncul lagi. Di presentasi kawan atau atasan. Tanpa namanya disebut. Tanpa sepatah pun pengakuan bahwa itu berasal dari dirinya.
Kalau kamu yang mengalami, apa yang akan kamu lakukan?
Ini bukan soal pencitraan. Ini soal rasa memiliki.
Ketika sebuah ide dicuri atau tidak diakui, yang tercuri bukan cuma konsep. Tapi juga harga diri, semangat, dan bahkan harapan.
Karyawan merasa tidak dihargai, seolah-olah dirinya hanyalah mesin penghasil solusiโtanpa ruh dan tanpa nama.
Tapi begini, mari kita tarik napas dan melihatnya dari sudut yang berbeda๐
1. Pertama, kamu harus belajar membedakan antara pencurian ide dengan strategi organisasi.
Tidak semua ide yang digunakan tanpa namamu itu artinya kamu dikhianati. Ada organisasi yang memang budaya pengakuannya rendah, tapi tetap mendengarkan. Mereka menyimpan ide baik, lalu mengemasnya ulang agar lebih layak dipresentasikan ke level yang lebih tinggi.
Jika kamu marah duluan, kamu kehilangan kesempatan untuk tetap didengar.
2. Kedua, ada cara lain untuk tetap berkarya.
Mulailah membiasakan mendokumentasikan idemu. Kirim email. Simpan jejak digital.
Sampaikan dalam forum-forum resmi. Dengan begitu, kamu mengirim sinyal bahwa kamu bukan cuma kreatif, tapi juga punya keberanian intelektual.
3. Ketiga, ide itu seperti benih. Kadang kita yang menanam, tapi bukan kita yang panen.
Dan itu tak selalu buruk. Kalau kamu bekerja di tempat yang benar, lambat laun orang akan melihat siapa yang konsisten menanam.
Jadi, kalau ide tak diakuiโapakah harus berhenti berkarya?
Tidak. Karena berhenti berkarya adalah cara tercepat untuk dilupakan.
โAnda bisa mencuri ide seseorang, tapi Anda tidak bisa mencuri cara berpikirnya.โ โ Anonim
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐4๐ซก1
#rekaman Ijin share link rekaman kegiatan ATE Edisi 413 "Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT) bersama M. Firdaus Ramadhan". Semoga ilmunya bermanfaat ๐ฏ
https://youtu.be/qkhtSWP7M-Y
https://youtu.be/qkhtSWP7M-Y
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
ATE Edisi 413 Kuasai Panggung dan Presentasi dgn Teknik 10-20-30 & 4MAT bersama M. Firdaus Ramadhan
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅAsk the Experts #Edisi413๐ฅโจ
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari iniโจ
๐Gugup saat bicara di depan orang banyak? Tenangโฆ bahkan aktor terbaik pun pernah deg-degan pas opening! ๐ ๐
Sharingโฆ
โจ๐ฅAsk the Experts #Edisi413๐ฅโจ
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari iniโจ
๐Gugup saat bicara di depan orang banyak? Tenangโฆ bahkan aktor terbaik pun pernah deg-degan pas opening! ๐ ๐
Sharingโฆ
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen ๐
Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang terpilih dalam kegiatan ATE Edisi 413 dengan Tema Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT), yaitu:
1. Kak @Rama_Isya (PATT RO KC Sukabumi)
2. Ibu Desvita Yanni (Kepala KC Sintang)
2. Kak Sri Adhiyati @Sriadh (Staf PMPF KC Kisaran)
3. Kak Dheaaa @deyaaaq (PATT Adm Klaim KC Sidoarjo)
Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb
Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING๐ฎ๐ฉ ๐
#INISIATIF #FunandMeaningful
Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang terpilih dalam kegiatan ATE Edisi 413 dengan Tema Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT), yaitu:
1. Kak @Rama_Isya (PATT RO KC Sukabumi)
2. Ibu Desvita Yanni (Kepala KC Sintang)
2. Kak Sri Adhiyati @Sriadh (Staf PMPF KC Kisaran)
3. Kak Dheaaa @deyaaaq (PATT Adm Klaim KC Sidoarjo)
Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb
Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING
#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YOUR GROWTH'S STEPS ๐ช
oleh: Paulus Aditya Hernawan
Punya ide keren tapi takut memulai?
Sepertinya ini masalah banyak orang.
- Takut dihujat?
- Merasa belum pantas?
- Merasa bukan siapa-siapa?
Apapun alasannya, ide dan potensi yang ada dalam diri kita layak untuk dikulik lebih lanjut dan dibagikan kepada dunia.
Bagaimana caranya?
Yuk kita explore dengan roadmap simple ini๐
1. Kelilingi Dirimu dengan Komunitas Tepatโ
Inovasi lahir dari interaksi! Temukan 2 komunitas yang sesuai dengan minat kalianโbaik online maupun offline.
Gabung, diskusi, dan bagikan ide. Jangan hanya pasif atau jadi silent reader.
Kreativitas berkembang saat ada inspirasi dari berbagai sudut!
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhirโ
Terlalu perfeksionis ternyata tidak membuat kita menjadi produktif, malah justru sebaliknya: stuck.
Lalu harus gimana?
Luangkan waktu untuk berkarya. Lepaskan beban untuk jadi sempurna. Fokus ke prosesnya. Catat progres agar tetap termotivasi.
Hasil memang penting, tapi proses untuk menuju hasil harus menjadi fokusnya. Dalam hal ini konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.
3. Berani Eksperimen!โ
Inget gak waktu kecil, kita sering mencoba melakukan banyak hal tanpa dipusingkan hasilnya akan gimana.
Dulu, kita bebas mencoba apa saja tanpa takut gagal. Kenapa sekarang ragu?
Sekarang:
- Coba hal baru, apa saja bebas.
- Catat pengalamanmu.
- Bagikan apa yang sudah dilakukan.
Kalau gagal gimana? Bahkan kegagalanpun adalah sebuah pengalaman yang bisa dijadikan bahan belajar.
Kadang ide terbaik muncul dari kegagalan yang tak terduga!
4. Bangun Jejak Digitalโ
Di jaman sekarang ini, tanpa kehadiran online, kita seakan-akan tidak ada. Pilih salah satu platform dan tunjukkan diri kita.
Buat blog, Instagram, X, Threads, LinkedIn, atau media sosial yang mencerminkan siapa dirimu.
Post agar orang-orang tahu siapa kita.
Apa yang kita tulis?
- Siapa kita.
- Apa yang kita suka.
- Apa yang kita bisa.
- Sudut pandang kita terhadap sesuatu.
Pilih yang paling nyaman.
5. Rayakan Kemenangan Kecilโ
Banyak orang yang malu membagikan apa yang sudah mereka bisa/pelajari/hasilkan karena merasa belum pantas.
Namun, bagaimana orang lain tahu progres kita kalau kita sendiri tidak merayakannya?
Jangan tunggu sempurna baru berbagi!
Posting progres harian:
Bisa sketsa, insight, atau behind-the-scenes.
Orang lebih relate dengan perjalanan kita daripada hanya hasil akhirnya!
6. Cari Feedback & Terus Belajarโ
Berbagi karya berarti siap menerima opini, baik yang membangun maupun yang kurang relevan.
Kuncinya?
Jangan baper, kritik bukan serangan pribadi, tapi peluang untuk berkembang.
Buat sesi feedback dengan mentor, komunitas, atau audiens. Dengarkan, saring pola yang muncul, lalu eksekusi.
Tetap percaya pada insting kreatifmu!
Banyak orang stuck karena ingin hasil sempurna. Namun, kunci berkembang adalah pada prosesnya.
Luangkan waktu untuk berkarya. Hilangkan tekanan untuk jadi sempurna.
Catat progres, sekecil apa pun. Karena konsistensi lebih penting dari kesempurnaan. Semakin kita berproses, semakin kita berkembang.
Jadi, sudah siap mulai hari ini?๐ค
#INISIATIF
oleh: Paulus Aditya Hernawan
Punya ide keren tapi takut memulai?
Sepertinya ini masalah banyak orang.
- Takut dihujat?
- Merasa belum pantas?
- Merasa bukan siapa-siapa?
Apapun alasannya, ide dan potensi yang ada dalam diri kita layak untuk dikulik lebih lanjut dan dibagikan kepada dunia.
Bagaimana caranya?
Yuk kita explore dengan roadmap simple ini
1. Kelilingi Dirimu dengan Komunitas Tepat
Inovasi lahir dari interaksi! Temukan 2 komunitas yang sesuai dengan minat kalianโbaik online maupun offline.
Gabung, diskusi, dan bagikan ide. Jangan hanya pasif atau jadi silent reader.
Kreativitas berkembang saat ada inspirasi dari berbagai sudut!
2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir
Terlalu perfeksionis ternyata tidak membuat kita menjadi produktif, malah justru sebaliknya: stuck.
Lalu harus gimana?
Luangkan waktu untuk berkarya. Lepaskan beban untuk jadi sempurna. Fokus ke prosesnya. Catat progres agar tetap termotivasi.
Hasil memang penting, tapi proses untuk menuju hasil harus menjadi fokusnya. Dalam hal ini konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.
3. Berani Eksperimen!
Inget gak waktu kecil, kita sering mencoba melakukan banyak hal tanpa dipusingkan hasilnya akan gimana.
Dulu, kita bebas mencoba apa saja tanpa takut gagal. Kenapa sekarang ragu?
Sekarang:
- Coba hal baru, apa saja bebas.
- Catat pengalamanmu.
- Bagikan apa yang sudah dilakukan.
Kalau gagal gimana? Bahkan kegagalanpun adalah sebuah pengalaman yang bisa dijadikan bahan belajar.
Kadang ide terbaik muncul dari kegagalan yang tak terduga!
4. Bangun Jejak Digital
Di jaman sekarang ini, tanpa kehadiran online, kita seakan-akan tidak ada. Pilih salah satu platform dan tunjukkan diri kita.
Buat blog, Instagram, X, Threads, LinkedIn, atau media sosial yang mencerminkan siapa dirimu.
Post agar orang-orang tahu siapa kita.
Apa yang kita tulis?
- Siapa kita.
- Apa yang kita suka.
- Apa yang kita bisa.
- Sudut pandang kita terhadap sesuatu.
Pilih yang paling nyaman.
5. Rayakan Kemenangan Kecil
Banyak orang yang malu membagikan apa yang sudah mereka bisa/pelajari/hasilkan karena merasa belum pantas.
Namun, bagaimana orang lain tahu progres kita kalau kita sendiri tidak merayakannya?
Jangan tunggu sempurna baru berbagi!
Posting progres harian:
Bisa sketsa, insight, atau behind-the-scenes.
Orang lebih relate dengan perjalanan kita daripada hanya hasil akhirnya!
6. Cari Feedback & Terus Belajar
Berbagi karya berarti siap menerima opini, baik yang membangun maupun yang kurang relevan.
Kuncinya?
Jangan baper, kritik bukan serangan pribadi, tapi peluang untuk berkembang.
Buat sesi feedback dengan mentor, komunitas, atau audiens. Dengarkan, saring pola yang muncul, lalu eksekusi.
Tetap percaya pada insting kreatifmu!
Banyak orang stuck karena ingin hasil sempurna. Namun, kunci berkembang adalah pada prosesnya.
Luangkan waktu untuk berkarya. Hilangkan tekanan untuk jadi sempurna.
Catat progres, sekecil apa pun. Karena konsistensi lebih penting dari kesempurnaan. Semakin kita berproses, semakin kita berkembang.
Jadi, sudah siap mulai hari ini?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ซก1
Tuhan Tidak Bermain Dadu ๐
Seekor cheetah berlari sambil berdoa, โTuhan, aku lapar...โ
Seekor gazelle berlari sambil memohon, โSelamatkan aku, Tuhan...โ
Lalu, doa siapakah yang akan dikabulkan?
Pertanyaan ini bukan untuk dijawabโtapi untuk direnungkan. Karena hidup bukan tentang siapa yang Tuhan bela, melainkan tentang peran, kesadaran, dan keikhlasan yang kita jalani.
Sering kali kita menilai doa dari hasilnya. Tapi semesta tidak bekerja sesederhana itu. Terkadang, kita adalah pemburu yang merasa pantas menerima hasil karena usaha.
Di waktu lain, kita adalah yang diburuโyang hanya ingin bertahan dalam rasa takut dan harap.
Namun di balik semuanya, Tuhan sedang menyusun harmoni, bukan drama acak. Tuhan tidak sedang melempar dadu untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Setiap peristiwa, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, adalah bagian dari orkestra agung bernama kehidupan.
Mungkin si cheetah gagal hari ini, tapi tetap hidup untuk esok. Mungkin si gazelle selamat sekarang, namun tetap harus waspada di lain waktu. Dan mungkin, keduanya dikabulkanโdengan cara yang tidak kita pahami, tapi mereka butuhkan.
Karena dalam spiritualitas yang sejati, Doa bukan hanya soal dikabulkan atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kesadaran.
Sudahkah kita hadir penuh dalam doa kita?
Sudahkah kita menjadi bagian dari keseimbangan semesta?
Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah pesan. Termasuk rasa lapar... dan rasa takut.
Kalau kamu sendiri, menurutmuโฆ doa siapa yang seharusnya dikabulkan?
#INISIATIF #TGIF
Seekor cheetah berlari sambil berdoa, โTuhan, aku lapar...โ
Seekor gazelle berlari sambil memohon, โSelamatkan aku, Tuhan...โ
Lalu, doa siapakah yang akan dikabulkan?
Pertanyaan ini bukan untuk dijawabโtapi untuk direnungkan. Karena hidup bukan tentang siapa yang Tuhan bela, melainkan tentang peran, kesadaran, dan keikhlasan yang kita jalani.
Sering kali kita menilai doa dari hasilnya. Tapi semesta tidak bekerja sesederhana itu. Terkadang, kita adalah pemburu yang merasa pantas menerima hasil karena usaha.
Di waktu lain, kita adalah yang diburuโyang hanya ingin bertahan dalam rasa takut dan harap.
Namun di balik semuanya, Tuhan sedang menyusun harmoni, bukan drama acak. Tuhan tidak sedang melempar dadu untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Setiap peristiwa, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun, adalah bagian dari orkestra agung bernama kehidupan.
Mungkin si cheetah gagal hari ini, tapi tetap hidup untuk esok. Mungkin si gazelle selamat sekarang, namun tetap harus waspada di lain waktu. Dan mungkin, keduanya dikabulkanโdengan cara yang tidak kita pahami, tapi mereka butuhkan.
Karena dalam spiritualitas yang sejati, Doa bukan hanya soal dikabulkan atau tidak, tapi soal keikhlasan dan kesadaran.
Sudahkah kita hadir penuh dalam doa kita?
Sudahkah kita menjadi bagian dari keseimbangan semesta?
Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah pesan. Termasuk rasa lapar... dan rasa takut.
Kalau kamu sendiri, menurutmuโฆ doa siapa yang seharusnya dikabulkan?
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐7โค1๐1
RECHARGE YOUR ENERGY ๐
FYI. Besok kami akan coba spill salah satu contoh jenis game yang akan dimainkan pada kompetisi VG semarak HUT BPJS Kes. Semoga ujicoba besok bisa bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sebelumnya belum pernah mencoba bermain Virtual Games karena baru join di Grup ATE.๐
Jangan lupa bersiap ujicoba Sabtu (26/4) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB). Sampai bertemu buat keseruannya๐ฒ๐จ
FYI, pada kompetisi resmi HUT nanti itu akan tersedia 10 jenis VG berbeda dengan ragam filosofi dan jenis tantangannya๐ฅณ
#Weekend
FYI. Besok kami akan coba spill salah satu contoh jenis game yang akan dimainkan pada kompetisi VG semarak HUT BPJS Kes. Semoga ujicoba besok bisa bermanfaat terutama bagi rekan-rekan yang sebelumnya belum pernah mencoba bermain Virtual Games karena baru join di Grup ATE.
Jangan lupa bersiap ujicoba Sabtu (26/4) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB). Sampai bertemu buat keseruannya
FYI, pada kompetisi resmi HUT nanti itu akan tersedia 10 jenis VG berbeda dengan ragam filosofi dan jenis tantangannya
1. Jangan lupa join di Grup Telegram ATE (Khusus Internal)๐ฑ
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
2. Kami lagi mempertimbangkan untuk menggunakan juknis yang baru dalam proses perhitungan dan penetapan poin di kompetisi VG Tahun 2025 nanti (Kalau kalian ada ide dan masukan, boleh banget japri ke Tim ATE yah)๐ซก
3. Biar makin semarak dalam sesi ujicoba game besok sore, ATE menyiapkan 1 buah souvenir kaos/Tote INISIATIF 2025 buat 1 orang pemain dengan peringkat terbaik๐ฅฐ
#Weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Mengapa Lapar itu ada? Siasat Atasi Lapar Masalah Sejuta Ummatโ๏ธ ๐ช
oleh: Ade Rai
https://www.instagram.com/reel/DI3O7Y1zVAi/?igsh=cjVocmc3NnU1cHAx
#fitlife
oleh: Ade Rai
https://www.instagram.com/reel/DI3O7Y1zVAi/?igsh=cjVocmc3NnU1cHAx
#fitlife
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ ๐ฒ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ฐ๐ฎ ๐ฃ๐ฒ๐๐ฎ๐ป ๐ฑ๐ฎ๐น๐ฎ๐บ ๐๐๐ป๐ถ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐ป๐ฝ๐ฎ ๐ง๐ฎ๐๐ฎ๐ฝ๐ฎ๐ป ๐ฑ
oleh: Wicaksono
Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.
Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐ฅ๐ฐ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.
Fenomena ini bukan sekadar soal ๐ฌ๐ช๐ฅ๐ด ๐ฏ๐ฐ๐ธ๐ฅ๐ข๐บ๐ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโsunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.
Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ
Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.
Dalam bukunya ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐: ๐๐ค๐ฌ ๐ฉ๐ค ๐ฝ๐ช๐๐ก๐ ๐๐ง๐ช๐จ๐ฉ ๐๐ฃ๐ ๐พ๐ค๐ฃ๐ฃ๐๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ ๐๐ค ๐๐๐ฉ๐ฉ๐๐ง ๐ฉ๐๐ ๐ฟ๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ๐๐, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.
โReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ โ Erica Dhawan
Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.
Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโyang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโyang lain membaca itu sebagai marah.
โIn the absence of body cues, weโre all just guessing.โ โ Erica Dhawan
Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.
Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐ฉ๐ฎ๐น๐๐ฒ ๐ฉ๐ถ๐๐ถ๐ฏ๐น๐ โ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐๐ผ๐บ๐บ๐๐ป๐ถ๐ฐ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐๐น๐น๐ โ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐๐ผ๐น๐น๐ฎ๐ฏ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ผ๐ป๐ณ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐น๐ โ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐ง๐ฟ๐๐๐ ๐ง๐ผ๐๐ฎ๐น๐น๐ โ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.
Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.
๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ adalah jembatanโbukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.
Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.
Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โbahasa tubuh digitalโ jika bukan kita sendiri?
โThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโs the ability to connect,โ tulis Erica.
#INISIATIF
oleh: Wicaksono
Orang bilang generasi sekarang lebih fasih mengusap layar gawai daripada mengangkat telepon. Anak muda bisa menghabiskan tiga jam menyusun takarir, tapi bingung saat harus menyusun dua kalimat dalam rapat.
Di ruang kelas atau kantor, mereka tampak hadir fisiknya, namun absen maknanya. Mereka tumbuh di dunia di mana emoji menggantikan ekspresi wajah, tanda baca mewakili intonasi, dan ๐ฅ๐ฐ๐ถ๐ฃ๐ญ๐ฆ ๐ต๐ข๐ฑ di Instagram dianggap bentuk valid dari empati.
Fenomena ini bukan sekadar soal ๐ฌ๐ช๐ฅ๐ด ๐ฏ๐ฐ๐ธ๐ฅ๐ข๐บ๐ด yang terlalu sibuk main TikTok. Ini adalah bukti bahwa kita tengah mengalami revolusi komunikasiโsunyi, tapi mengguncang. Kita hidup di zaman ketika bahasa tubuh sudah tidak lagi terlihat, namun dampaknya tetap terasa.
Erica Dhawan menyebutnya sebagai era ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐, dan ia mengajukan pertanyaan penting: โBagaimana kita membangun kepercayaan di dunia yang makin kehilangan tatapan mata?โ
Bayangkan kita sedang menulis surat cinta, tapi tak bisa menambahkan aroma parfum, tak bisa melipat kertasnya, tak ada bekas coretan tangan. Yang ada hanya teks, terkirim dalam hitungan detik, dan entah bagaimana harus bisa menyampaikan rindu. Inilah tantangan komunikasi hari ini.
Dalam bukunya ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐: ๐๐ค๐ฌ ๐ฉ๐ค ๐ฝ๐ช๐๐ก๐ ๐๐ง๐ช๐จ๐ฉ ๐๐ฃ๐ ๐พ๐ค๐ฃ๐ฃ๐๐๐ฉ๐๐ค๐ฃ ๐๐ค ๐๐๐ฉ๐ฉ๐๐ง ๐ฉ๐๐ ๐ฟ๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ๐๐, Erica Dhawan menjelaskan bahwa kesenjangan dalam komunikasi modern bukan karena kurangnya teknologi, melainkan kurangnya pemahaman terhadap isyarat digital yang tak kasatmata.
โReading messages carefully is the new listening. Writing clearly is the new empathy.โ โ Erica Dhawan
Membaca dengan cermat kini menjadi bentuk mendengarkan. Menulis dengan jernih kini menjadi ungkapan empati. Betapa ironisnya: di tengah kelimpahan alat komunikasi, justru makin banyak orang yang merasa tak dipahami.
Di banyak organisasi dan kelompok kerja, pertengkaran kecil biasanya berakar dari pesan yang salah tafsir. Seseorang tak menanggapi email dalam dua hariโyang lain menganggap itu sikap pasif-agresif. Seseorang menulis pesan singkat tanpa emojiโyang lain membaca itu sebagai marah.
โIn the absence of body cues, weโre all just guessing.โ โ Erica Dhawan
Tanpa nada suara, anggukan kepala, atau senyuman di ujung kalimat, kita menjadi penebak emosi. Dan seperti permainan tebak gambar tanpa gambar, hasilnya bisa kacau. Komunikasi pun berubah dari seni menjadi arena perang sunyi.
Dhawan menawarkan panduan praktis: kapan harus memakai email, kapan lebih baik menelepon, dan bagaimana membangun koneksi hanya dengan teks. Ia mengidentifikasi empat prinsip utama:
1. ๐ฉ๐ฎ๐น๐๐ฒ ๐ฉ๐ถ๐๐ถ๐ฏ๐น๐ โ Tunjukkan penghargaan secara eksplisit.
2. ๐๐ผ๐บ๐บ๐๐ป๐ถ๐ฐ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ฎ๐ฟ๐ฒ๐ณ๐๐น๐น๐ โ Kata-kata adalah senjata. Gunakan dengan presisi.
3. ๐๐ผ๐น๐น๐ฎ๐ฏ๐ผ๐ฟ๐ฎ๐๐ฒ ๐๐ผ๐ป๐ณ๐ถ๐ฑ๐ฒ๐ป๐๐น๐ โ Jangan takut memperjelas atau bertanya.
4. ๐ง๐ฟ๐๐๐ ๐ง๐ผ๐๐ฎ๐น๐น๐ โ Asumsikan niat baik, bukan kesalahan.
Tulisan ini bukan hendak menyalahkan generasi muda. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memahami bahwa mereka sedang bertarung di medan yang tak kita kenal: dunia tanpa pelukan, tanpa tatap muka, tanpa jeda napas dalam percakapan. Mereka butuh kompas baru, dan buku ini mungkin salah satu peta jalan terbaik yang bisa diberikan.
๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ adalah jembatanโbukan hanya antar individu, tapi antar generasi. Ia menjelaskan bahwa empati kini tak bisa hanya diandalkan dari wajah, melainkan dari pilihan kata, kejelasan kalimat, bahkan kecepatan membalas pesan.
Di zaman di mana suara bisa dikalahkan oleh notifikasi, dan tatapan digantikan oleh titik tiga yang sedang berkedip, ๐ฟ๐๐๐๐ฉ๐๐ก ๐ฝ๐ค๐๐ฎ ๐๐๐ฃ๐๐ช๐๐๐ mengajak kita untuk tidak hanya berkomunikasi, tapi berempati. Karena kadang, yang tak tertulis bisa lebih keras dari yang diketik.
Siapakah yang akan mengajarkan generasi baru untuk membaca โbahasa tubuh digitalโ jika bukan kita sendiri?
โThe most important skill of the 21st century is not coding. Itโs the ability to connect,โ tulis Erica.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐3
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi414
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Pernah gak sih kamu penasaran, strategi apa yang dipakai para pemimpin hebat sampai bisa membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi414 ๐
โฐ Jangan lupa ingat dan catat waktunya yaa
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)
--> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset