Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
BREAKTIME 😇

oleh: Arisdiansah


Anda tidak punya waktu untuk keluarga? Anda tidak punya waktu untuk olahraga? Anda tidak punya waktu untuk tidur? Anda tidak punya waktu untuk istirahat?

Jangan2 selama ini anda terjebak dalam sebuah jebakan yang bernama "kesibukan".

Saya teringat nasehat guru saya, "Energy is more valuable than even your intelect".

Artinya memberi ruang untuk kita bisa mengisi energi untuk menjalankan suatu pekerjaan itu tidak kalah pentingnya dari melakukan pekerjaan itu sendiri.


Saya ulangi lagi, mengisi energi untuk menjalankan suatu pekerjaan itu tidak kalah penting dari melakukan pekerjaan itu sendiri.

Seperti jika anda menjadi pembalap formula 1. Maka masuk pitstop untuk mengisi BBM dan mengganti roda itu tidak kalah penting dari bermanuver dan melaju mengejar finish terdepan.

Banyak orang ketika dia salah memahami ini, dia akan terperangkap dalam kesibukannya yang membuatnya justru kehilangan energi dan kalah didalam perjuangannya.

Anda harus jadi orang yang cerdas, untuk mengoptimalisasi kehidupan anda agar anda menjadi orang yang produktif.

Karena banyak orang sibuk, tetapi tidak produktif. Mereka seakan2 kehabisan waktu untuk dirinya sendiri, tetapi hasilnya justru kurang produktif.

bisa jadi anda menjadi sangat optimal dan produktif justru ketika anda punya ruang kosong untuk diri anda melakukan "the deep refueling" atau "the deep recovery"

Penulis legendaris Haruki Murakami mengatakan, "when i'm not writing my books and living life is when i'm getting the best ideas"

Anda butuh breaktime. Anda butuh "bernafas".

Anda butuh bermain dengan anak, anda butuh berjalan di hutan atau taman, anda butuh mandi di kolam, anda butuh berinteraksi dengan kucing atau hewan peliharaan, dan ketika itulah idea untuk mengoptimalisasi kehidupan kita datang.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2
Per sore ini jumlah tim yang terdaftar sudah sebanyak 86 tim (Still counting karena penutupan pendaftaran masih bisa dilakukan sd malam hari ini). Jumlah ini adalah yang terbanyak sepanjang sejarah pagelaran family 100 ATE di Momen HUT dari beberapa Tahun belakangan. Terima kasih atas antusiasme rekan2 Selindo 🇲🇨🇲🇨
1
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗘𝗺𝗼𝗷𝗶 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗟𝗮𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗔𝗻𝘁𝗮𝗿𝗴𝗲𝗻𝗲𝗿𝗮𝘀𝗶 🫡🙏👍

oleh: Wicaksono

Di era digital yang makin riuh, Gen Z kembali membuat gebrakan—bukan dengan demonstrasi di jalanan, tapi lewat perang makna dalam ruang percakapan.

Kali ini yang jadi sasaran bukan isu politik atau lingkungan, melainkan sebuah ikon mungil berwarna kuning: emoji jempol ke atas.

Bagi Gen Z, emoji ini bukan lagi simbol setuju atau apresiasi. Sebaliknya, ia dibaca sebagai tanda pasif-agresif, dingin, bahkan menyebalkan. Seperti senyum simpul dari orang yang sudah malas berdebat tapi tetap ingin menang.

Apa yang bagi generasi tua adalah "oke, noted, lanjut," kini diterjemahkan oleh Gen Z sebagai "terserah, males mikir, gue cuek." Bagaikan mengangkat gelas untuk bersulang, tapi air di dalamnya sudah basi.


Ini bukan sekadar preferensi gaya komunikasi; ini adalah tafsir budaya yang berubah, refleksi dari sensitivitas zaman yang makin tajam terhadap nada, konteks, dan subteks.

Perubahan ini menyingkap sesuatu yang lebih besar: bahasa digital telah menjadi ladang ranjau emosional. Emoji bukan lagi hiasan percakapan, tapi senjata yang bisa menyampaikan kehangatan atau malah menyulut ketegangan.

Di sinilah generasi yang lebih tua sering keliru langkah, mengira mereka menyiram bunga, padahal justru memercikkan bensin ke api kecil.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar soal isi pesan, tapi bagaimana pesan itu dikemas dan diterima. Sama seperti dua orang bisa membaca puisi yang sama dan merasakan hal yang berbeda, begitu pula dengan emoji.

Jempol bisa menjadi pelukan digital atau sindiran halus—semua tergantung pada siapa yang mengirim, siapa yang menerima, dan dalam konteks apa ia dikirimkan.

Sayangnya, banyak yang masih menyepelekan pergeseran ini. Mereka menyebut Gen Z terlalu sensitif, mudah tersinggung, atau "lebay". Namun tuduhan ini ibarat menyalahkan termometer karena menunjukkan suhu demam.

Gen Z bukan menciptakan masalah, mereka hanya mencerminkan iklim emosional yang berubah di lanskap digital. Mereka tidak sedang rewel, mereka sedang memetakan ulang etiket komunikasi zaman now.

Di balik sikap mereka, tersimpan ajakan untuk berpikir ulang: apakah komunikasi kita selama ini benar-benar menjembatani makna, atau justru menyisakan celah? Apakah kita bicara untuk dipahami, atau sekadar melempar simbol dan berharap semuanya akan beres?

Saatnya kita memahami bahwa emoji adalah alfabet baru. Dan jika kita tak mau ketinggalan zaman, kita perlu belajar kembali cara mengeja emosi dalam bentuk visual. Jempol tak lagi netral. Dalam dunia komunikasi hari ini, bahkan satu ikon kecil bisa menjadi panduan etika atau ranjau konflik.

Jadi sebelum kita menyapa kolega dengan sebuah jempol, ada baiknya kita bertanya: apakah ini pelukan virtual, atau tamparan yang dibungkus senyum?

Karena, di zaman digital, bahkan hal kecil bisa memicu perang besar—perang tanpa suara, tapi penuh makna. (*)

#INISIATIF #BesokWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2🙏1
"Kepada Ibu Hiduplah Lebih Lama"

Buku karya : @IlhamNuryadiAkbar (Koordinator EP3RS KC Pematangsiantar)

Buku sastra ini adalah pemantik ingatan dalam tiga masa yang berkelindan, dikemas dalam bentuk puisi yang menafsir seluruh fragmen ibu, termasuk mengurai sumber kekuatan ibu yang begitu mampu berjalan lurus meski keadaan sedang miring.

Pada dasarnya, ibu mencintaimu sebelum tubuhnya meniru sebuah bukit, dan mencintaimu sebelum Tuhan memberi tahu, siapa ibumu.

Sebab pada akhirnya, kala usia ibu sudah berbilang,
merawat ibu adalah perasaan dalam dua kubu:
Kesempatan membalas jasa
Kesedihan menjelang tiada
.

Untuk pemesanan buku bisa langsung melalui penerbit.
Dio Media: 0856437620005
🙏
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
4👍4
MUDIK 🛫

oleh: Yusran Darmawan

Mudik seperti juga keheningan, adalah bentuk kecil dari pemberontakan terhadap keterhubungan yang berlebihan. Ia seperti puasa: menahan, mengosongkan, agar kita kembali menemukan rasa. Kita mematikan ponsel bukan karena anti-kemajuan, tapi karena sadar, tak semua suara perlu didengar, tak semua notifikasi perlu ditanggapi📱


https://www.timur-angin.com/2025/03/saatnya-kita-mudik-digital.html?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTEAAR47a1WcArzlwjBouUmryvPNmfe-Nfacl4axyUQRSzvfZfATpp_k_AOFJXX6bw_aem_GG931_-FwdYe6N2d4pzUmQ&m=1

#INISIATIF #HappyLongWeekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen 🔗

Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang beruntung dalam kegiatan ATE Edisi 412 dengan Tema LEADERSHIP STYLE UNLOCKED (Seni Berkomunikasi dengan Berbagai Tipe Atasan), yaitu:

1. Kk Nilla Khasanah @nilla_83 (Staf EPPP RS KC Medan)
2. Kk Karin Octavia @karinviia (Verifikator Klaim KC Palembang)
3. Kk Nur Adhita Azis Rachmad @nur_adhita (Staf Administrasi Badan, Sekban)

Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb

Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING 🇮🇩📖

#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🥳 LAST DAY KOMPETISI GERAK LANGKAH 🥳

Jangan lupa laporkan aktivitasmu hari ini ke PIC ATE berikut yaa:

Partisipan dari Kepwil 1, 2 & 3: @aliamahoroe
Partisipan dari Kepwil 4, 5 & 6: @withhardshipwillbeease
Partisipan dari Kepwil 7, 8 & 9: @randaalwano
Partisipan dari Kepwil 10, 11 & 12 dan Kantor Pusat: @aakarpohon

Join COMMIT Ask The Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan)📱
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1


#INISIATIF #GrowthMindset
👍1
POLITIK KANTOR ITU NYATA, TAPI BUKAN BERARTI HARUS MAIN KOTOR 🤝

oleh : Afif Luthfi

Tiga tahun lalu, saya pernah mengajak makan siang seorang Gen Z yang baru kerja enam bulan.

Usianya 24 tahun, gayanya cuek, tapi matanya tampak penuh api.

Dia bercerita, “Kak, aku tuh kerja udah sekeras itu, tapi yang naik level malah yang suka ngobrol di pantry.”

Saya tersenyum. “Kamu pikir yang ngobrol di pantry itu cuma buang waktu?”

Dia bengong.

Selamat datang di dunia nyata di mana poitik kantor itu exist!

Politik kantor sering dianggap negatif. Seolah-olah itu tentang menjilat atasan, menusuk dari belakang, atau mencari muka. Tapi seperti halnya pisau dapur, politik bisa dipakai untuk membantu memasak atau melukai—tergantung siapa yang memegangnya dan untuk apa.

Saya ingat seorang mentor pernah bilang,
“Kantor bukan sekadar tempat kerja, tapi juga arena diplomasi.”


Dan diplomasi yang baik bukan tentang drama, tapi tentang membangun jembatan.

GEN Z, kalian punya senjata berharga: kejujuran dan value!
Kita semua pernah muda. Kita pernah jadi idealis. Tapi hidup di lingkungan kerja mengajarkan satu hal penting: bukan siapa yang paling pintar yang paling cepat naik, tapi siapa yang paling bisa membaca arah angin dan tahu kapan bicara, kapan diam.

Itu bukan manipulasi. Itu kecerdasan sosial.

Seorang pemimpin pernah bilang pada saya,
“Saya percaya pada anak muda yang pintar. Tapi saya lebih percaya pada anak muda yang tahu kapan harus menyimak sebelum mengeksekusi.”


Politik yang sehat itu menggunakan pengaruh untuk menumbuhkan!
Saya percaya, Gen Z adalah generasi yang paling transparan. Tapi transparansi saja tidak cukup. Kalian juga perlu ketajaman strategi.
Karena dunia kerja bukan cuma soal hasil. Tapi juga soal cara membawa diri.

1. Politik sehat itu saat kamu bisa
support rekan kerja
, bukan saingan diam-diam.
2. Politik sehat itu saat kamu tahu
cara menyampaikan ide ke bos tanpa mengancam egonya.

3. Politik sehat itu saat kamu
menggunakan empati, bukan drama
, untuk memengaruhi keputusan.


Yang bertahan bukan yang keras, tapi yang lentur!

Di akhir makan siang itu, anak muda tadi diam sebentar. Lalu dia bilang, “Berarti aku harus belajar jadi peka, ya?”

Saya hanya mengangguk.
Karena kadang, jawaban terbaik tidak perlu dijelaskan panjang lebar—cukup direnungkan.

Untuk kamu, Gen Z yang sedang berjuang di tengah dunia kerja yang kadang tak adil

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
12
Pernahkah kamu berpikir bahwa bakat adalah segalanya untuk sukses? Buku Grit karya Angela Duckworth menantang pandangan itu!

Angela Duckworth, seorang profesor psikologi di University of Pennsylvania, mengungkapkan bahwa "grit" atau ketabahan ternyata punya peran besar untuk mencapai tujuan. Buku ini diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2018 dengan 416 halaman penuh wawasan berharga!

Di dalam Grit, Duckworth bercerita tentang murid bernama David. David ini pintar matematika, tapi ketika dipindahkan ke kelas akselerasi, ia sempat gagal total. Bayangkan, dari nilai A langsung turun jadi D! Tapi David enggak menyerah, dia belajar keras dan akhirnya kembali mendapat nilai sempurna. Kisahnya mengingatkan kita bahwa tekad dan ketekunan bisa membawa kita lebih jauh daripada bakat semata.

Selain kisah inspiratif, Duckworth juga mengenalkan "Grit Scale" untuk mengukur tingkat ketabahan kamu. Kamu bisa coba sendiri tesnya dengan mengetik "Grit Scale" di Google. Yuk, lihat sejauh mana ketabahanmu sekarang!
https://angeladuckworth.com/grit-scale/

Bagian kedua buku ini membahas cara menumbuhkan ketabahan dari dalam. Salah satu langkah pertama? Temukan minat yang benar-benar kamu suka! Jangan ragu untuk mengeksplorasi, karena minat yang kuat adalah awal dari ketabahan yang kokoh.

Duckworth juga menyarankan "latihan terencana," alias latihan yang fokus dan konsisten. Konsep ini mirip dengan 10,000 jam latihan dari Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers. Semakin kita berlatih, semakin ahli kita!

Ada konsep "Kaizen" juga di sini, yang berarti terus berkembang. Jangan sampai merasa puas dengan kemampuan kita saat ini. Dunia terus berkembang, jadi kita juga harus terus upgrade skill kita.

Faktor lain yang penting adalah punya "strong why" atau tujuan yang jelas. Kalau kamu punya alasan kuat, akan lebih mudah menjaga semangat dan konsistensi dalam mengejar impian.

Optimisme juga berperan penting. Orang yang optimis akan melihat setiap masalah sebagai tantangan sementara yang bisa diatasi. Dengan harapan yang kuat, kita bisa bangkit walau sering jatuh.

Bagian ketiga buku ini mengingatkan kita tentang pentingnya dukungan dari lingkungan, terutama orang tua, untuk mengembangkan ketabahan. Dukungan dari orang-orang terdekat ternyata bisa membuat semangat kita bertahan lebih lama.

Menurut Duckworth, kesuksesan bukan cuma soal bakat, tapi perpaduan antara passion dan ketabahan. Orang yang penuh grit biasanya bisa menjaga semangat dalam waktu lama meski sering jatuh bangun.

#INISIATIF
2
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF

🔥Ask the Experts
#Edisi413🔥

Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts hari ini

📌Gugup saat bicara di depan orang banyak? Tenang… bahkan aktor terbaik pun pernah deg-degan pas opening! 😅🎙


Sharing hari ini akan dibawakan oleh Narasumber luar biasa, kakak @Rama_Isya dan akan dipandu oleh host kece @haiduladha dan @aliamahoroe

*Jangan lupa Lesson Learned untuk 2 JP
**Tersedia 3 souvenir bagi peserta dgn pertanyaan/sharing trbaik saat sharing nanti loh 🥳


Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI

Join COMMIT Ask the Experts

(Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) -->

Link Telegram


#INISIATIF #GrowthMindset
👍1
CV Muhammad Firdaus Ramadhan.pdf
286.6 KB
Perkenalan singkat narsum hari ini
Panduan Live Telegram ATE #juknis #panduan
Kalau Ide Tak Diakui, Haruskah Kita Berhenti Berkarya? 🤝

oleh : Afif Luthfi

Ada satu cerita yang sering kali berulang dalam dunia kerja, tapi jarang disuarakan. Seorang karyawan muda dengan segudang ide datang dengan semangat. Ia duduk rapat, lempar ide brilian, dan merasa sudah memberi kontribusi besar.

Namun beberapa hari kemudian—ide itu muncul lagi. Di presentasi kawan atau atasan. Tanpa namanya disebut. Tanpa sepatah pun pengakuan bahwa itu berasal dari dirinya.

Kalau kamu yang mengalami, apa yang akan kamu lakukan?

Ini bukan soal pencitraan. Ini soal rasa memiliki.
Ketika sebuah ide dicuri atau tidak diakui, yang tercuri bukan cuma konsep. Tapi juga harga diri, semangat, dan bahkan harapan.

Karyawan merasa tidak dihargai, seolah-olah dirinya hanyalah mesin penghasil solusi—tanpa ruh dan tanpa nama.

Tapi begini, mari kita tarik napas dan melihatnya dari sudut yang berbeda👇


1. Pertama, kamu harus belajar membedakan antara pencurian ide dengan strategi organisasi.
Tidak semua ide yang digunakan tanpa namamu itu artinya kamu dikhianati. Ada organisasi yang memang budaya pengakuannya rendah, tapi tetap mendengarkan. Mereka menyimpan ide baik, lalu mengemasnya ulang agar lebih layak dipresentasikan ke level yang lebih tinggi.

Jika kamu marah duluan, kamu kehilangan kesempatan untuk tetap didengar.

2. Kedua, ada cara lain untuk tetap berkarya.
Mulailah membiasakan mendokumentasikan idemu. Kirim email. Simpan jejak digital.

Sampaikan dalam forum-forum resmi. Dengan begitu, kamu mengirim sinyal bahwa kamu bukan cuma kreatif, tapi juga punya keberanian intelektual.

3. Ketiga, ide itu seperti benih. Kadang kita yang menanam, tapi bukan kita yang panen.
Dan itu tak selalu buruk. Kalau kamu bekerja di tempat yang benar, lambat laun orang akan melihat siapa yang konsisten menanam.

Jadi, kalau ide tak diakui—apakah harus berhenti berkarya?

Tidak. Karena berhenti berkarya adalah cara tercepat untuk dilupakan. ✍️

“Anda bisa mencuri ide seseorang, tapi Anda tidak bisa mencuri cara berpikirnya.” – Anonim


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍4🫡1
Mahkotamu sedang dalam Perjalanan King/Queen 🔗

Selamat kepada Bapak/Ibu dan rekan-rekan yang terpilih dalam kegiatan ATE Edisi 413 dengan Tema Dari Gugup ke Glowing (Kuasai Panggung dan Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT), yaitu:

1. Kak @Rama_Isya (PATT RO KC Sukabumi)
2. Ibu Desvita Yanni (Kepala KC Sintang)
2. Kak Sri Adhiyati @Sriadh (Staf PMPF KC Kisaran)
3. Kak Dheaaa @deyaaaq (PATT Adm Klaim KC Sidoarjo)

Terima kasih atas partisipasi Sobat ATE, semoga ilmu yang telah diberikan narasumber itu dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya Narasumber dan keluarga. Amin ya Rabb

Sampai bertemu kembali pada kelas pembelajaran selanjutnya. Tetap CONTINUOUS LEARNING 🇮🇩📖

#INISIATIF #FunandMeaningful
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YOUR GROWTH'S STEPS 💪

oleh: Paulus Aditya Hernawan

Punya ide keren tapi takut memulai?
Sepertinya ini masalah banyak orang.

- Takut dihujat?
- Merasa belum pantas?
- Merasa bukan siapa-siapa?

Apapun alasannya, ide dan potensi yang ada dalam diri kita layak untuk dikulik lebih lanjut dan dibagikan kepada dunia.

Bagaimana caranya?
Yuk kita explore dengan roadmap simple ini 👇

1. Kelilingi Dirimu dengan Komunitas Tepat
Inovasi lahir dari interaksi! Temukan 2 komunitas yang sesuai dengan minat kalian—baik online maupun offline.

Gabung, diskusi, dan bagikan ide. Jangan hanya pasif atau jadi silent reader.

Kreativitas berkembang saat ada inspirasi dari berbagai sudut!

2. Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil Akhir
Terlalu perfeksionis ternyata tidak membuat kita menjadi produktif, malah justru sebaliknya: stuck.

Lalu harus gimana?

Luangkan waktu untuk berkarya. Lepaskan beban untuk jadi sempurna. Fokus ke prosesnya. Catat progres agar tetap termotivasi.

Hasil memang penting, tapi proses untuk menuju hasil harus menjadi fokusnya. Dalam hal ini konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.

3. Berani Eksperimen!
Inget gak waktu kecil, kita sering mencoba melakukan banyak hal tanpa dipusingkan hasilnya akan gimana.

Dulu, kita bebas mencoba apa saja tanpa takut gagal. Kenapa sekarang ragu?

Sekarang:
- Coba hal baru, apa saja bebas.
- Catat pengalamanmu.
- Bagikan apa yang sudah dilakukan.

Kalau gagal gimana? Bahkan kegagalanpun adalah sebuah pengalaman yang bisa dijadikan bahan belajar.

Kadang ide terbaik muncul dari kegagalan yang tak terduga!

4. Bangun Jejak Digital
Di jaman sekarang ini, tanpa kehadiran online, kita seakan-akan tidak ada. Pilih salah satu platform dan tunjukkan diri kita.

Buat blog, Instagram, X, Threads, LinkedIn, atau media sosial yang mencerminkan siapa dirimu.

Post agar orang-orang tahu siapa kita.

Apa yang kita tulis?
- Siapa kita.
- Apa yang kita suka.
- Apa yang kita bisa.
- Sudut pandang kita terhadap sesuatu.

Pilih yang paling nyaman.

5. Rayakan Kemenangan Kecil
Banyak orang yang malu membagikan apa yang sudah mereka bisa/pelajari/hasilkan karena merasa belum pantas.

Namun, bagaimana orang lain tahu progres kita kalau kita sendiri tidak merayakannya?

Jangan tunggu sempurna baru berbagi!

Posting progres harian:
Bisa sketsa, insight, atau behind-the-scenes.

Orang lebih relate dengan perjalanan kita daripada hanya hasil akhirnya!

6. Cari Feedback & Terus Belajar
Berbagi karya berarti siap menerima opini, baik yang membangun maupun yang kurang relevan.

Kuncinya?

Jangan baper, kritik bukan serangan pribadi, tapi peluang untuk berkembang.

Buat sesi feedback dengan mentor, komunitas, atau audiens. Dengarkan, saring pola yang muncul, lalu eksekusi.

Tetap percaya pada insting kreatifmu!

Banyak orang stuck karena ingin hasil sempurna. Namun, kunci berkembang adalah pada prosesnya.

Luangkan waktu untuk berkarya. Hilangkan tekanan untuk jadi sempurna.

Catat progres, sekecil apa pun. Karena konsistensi lebih penting dari kesempurnaan. Semakin kita berproses, semakin kita berkembang.

Jadi, sudah siap mulai hari ini? 🤝

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🫡1