Video inspirasi buat rekan-rekan Selindo calon generasi penerus. Semoga bermanfaat ๐ฎ๐ฉ
https://youtu.be/E_JXRP-XqaE?si=eYiOWhvy--YQ6OD5
https://youtu.be/E_JXRP-XqaE?si=eYiOWhvy--YQ6OD5
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Perjalanan Dokter Andi Afdal, Sisihkan 1 Semester untuk Organisasi kini Direktur BPJS Kesehatan
UNHAS.TV - Tamu Unhas Figure hari ini bukan kaleng-kaleng. Beliau adalah Dr dr Andi Afdal MBA, AKK. Ketika lulus di Fakultas Kedokteran Unhas, dia memulai karier sebagai dokter Puskesmas. Kariernya melesat bagai meteor. Dari dokter puskesmas, dia kini menjabatโฆ
Bagaimana Inovasi Shinkansen menggambarkan Budaya Jepang ๐ฏ๐ต
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Kebanyakan orang mengenal Jepang dengan Bunga Sakuranya, dan sering kali lupa dengan 'Shinkansen'nya. Padahal, Shinkansen adalah satu dari banyak hal yang menjadi simbol Jepang, utamanya sebagai simbol kemampuan mereka dalam teknologi.
Membaca sejarah Shinkansen sangat menarik sebenarnya, karena inovasi Shinkansen pada masa itu membuat Jepang menjadi negara pertama yang memiliki kereta cepat dengan kecapatan mencapai 200 km/jam. Yang menarik, hingga kini belum ada satupun korban akibat kecelakaan Shinkansen.
Hal ini membuktikan kemampuan mereka membuat inovasi tanpa melupakan aspek-aspek 'safety' yang kadang dilupakan oleh orang-orang yang berusaha untuk membuat suatu inovasi terbaru.
Hal ini bisa jadi karena budaya mereka untuk tetap meneliti sesuatu secara mendetail, walaupun harus menjawab kebutuhan untuk membuat inovasi tertentu.
Hal ini nantinya akan menjadi kunci keberhasilan mereka dalam memaintain, dan dapat terus mengembangkan inovasi mereka ke arah yang lebih baik.
Untuk membuat inovasi baru semisal shinkansen, kita tidak cukup dengan menambahkan sesuatu yang sudah ada, tetapi juga membuat sesuatu yang baru.
Untuk membuat sesuatu yang baru, anda tidak hanya 'meniru' saja, tapi benar-benar menerawang untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah tercapai. Istilah keren orang zaman now, 'meninggalkan zona nyaman'.
Tapi, apakah benar meninggalkan zona nyaman saja cukup? Berdasarkan sejarah inovasi shinkansen ini tentu tidak. Karena yang mereka lakukan bukanlah meninggalkan zona nyaman, melainkan memperluas zona nyaman.
Memperluas zona nyaman berarti mereka melakukan sesuatu yang baru, tapi tanpa mengambil risiko yang tinggi dengan cara memperhitungkan sesuatu dengan benar-benar mendetail, tidak asal melangkah, dengan modal nekat dan semangat saja.
Selain itu, untuk membuat suatu lompatan besar, kita tidak hanya perlu bekerja lebih keras, tapi juga perlu mempertimbangkan hal yang ada di sekitar kita, yaitu bagaimana bekerja lebih keras tadi tidak menghasilkan 'gesekan' yang bisa menyebabkan pekerjaan kita justru mendapatkan 'resistensi' dan berujung kegagalan.
Biasanya, resistensi yang kita dapatkan adalah karena kelihatan angkuh, sombong, dan tidak memiliki empati pada orang lain.
Salah satu budaya orang Jepang yang sangat saya kagumi adalah budaya 'Kenkyo' ่ฌ่ atau dalam bahasa Indonesia kadang kita sebut sebagai kerendahan hati.
Di dalam budaya Jepang ada peribahasa 'deru kugi wa utareru', yang artinya paku yang menonjol akan dipukul, yang secara makna berarti orang yang suka menonjolkan diri, memamerkan dirinya, memperlihatkan apa yang dimilikinya akan cenderung dihancurkan oleh orang lain.
Bahkan dampak dari filosofi tersebut mereka terkadang merasa kurang nyaman jika dipuji terlalu tinggi. Karenanya, ketika dipuji, biasanya mereka akan mengatakan hal-hal semisal "nggak kok, biasa aja".
Jarang sekali melihat mereka terlihat berlagak, petantang petenteng, berusaha kelihatan paling hebat, walaupun dari sisi fundamental mereka sangat menguasai. Mungkin kita akan sangat jarang memberikan label 'si paling......' ketika berada di Jepang.
So, kita tetap bisa kok berinovasi, menjadi lebih hebat, tanpa harus merendahkan orang lain, dan tetap rendah hati. Untuk berada di depan enggak selamanya tentang kelihatan berlari, terkadang kita tetap berjalan cepat dengan tetap tanpa ngos-ngosan, agar tak kehabisan stamina sebelum sampai di depan.
Jadilah seperti bunga, yang tetap tumbuh dengan indah tanpa harus menjadi perusak di sekitarnya, yang terkadang tetap kelihatan lebih tinggi tapi tidak menghilangkan kehindahan bunga lain di sekitarnya.
Untuk sebagai bahan bacaan menarik untuk membacanya di https://www.bbc.com/culture/article/20140714-built-for-speed-the-bullet-train
#INISIATIF
Oleh: Muhammad Farid Maricar
Kebanyakan orang mengenal Jepang dengan Bunga Sakuranya, dan sering kali lupa dengan 'Shinkansen'nya. Padahal, Shinkansen adalah satu dari banyak hal yang menjadi simbol Jepang, utamanya sebagai simbol kemampuan mereka dalam teknologi.
Membaca sejarah Shinkansen sangat menarik sebenarnya, karena inovasi Shinkansen pada masa itu membuat Jepang menjadi negara pertama yang memiliki kereta cepat dengan kecapatan mencapai 200 km/jam. Yang menarik, hingga kini belum ada satupun korban akibat kecelakaan Shinkansen.
Hal ini membuktikan kemampuan mereka membuat inovasi tanpa melupakan aspek-aspek 'safety' yang kadang dilupakan oleh orang-orang yang berusaha untuk membuat suatu inovasi terbaru.
Hal ini bisa jadi karena budaya mereka untuk tetap meneliti sesuatu secara mendetail, walaupun harus menjawab kebutuhan untuk membuat inovasi tertentu.
Hal ini nantinya akan menjadi kunci keberhasilan mereka dalam memaintain, dan dapat terus mengembangkan inovasi mereka ke arah yang lebih baik.
Untuk membuat inovasi baru semisal shinkansen, kita tidak cukup dengan menambahkan sesuatu yang sudah ada, tetapi juga membuat sesuatu yang baru.
Untuk membuat sesuatu yang baru, anda tidak hanya 'meniru' saja, tapi benar-benar menerawang untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah tercapai. Istilah keren orang zaman now, 'meninggalkan zona nyaman'.
Tapi, apakah benar meninggalkan zona nyaman saja cukup? Berdasarkan sejarah inovasi shinkansen ini tentu tidak. Karena yang mereka lakukan bukanlah meninggalkan zona nyaman, melainkan memperluas zona nyaman.
Memperluas zona nyaman berarti mereka melakukan sesuatu yang baru, tapi tanpa mengambil risiko yang tinggi dengan cara memperhitungkan sesuatu dengan benar-benar mendetail, tidak asal melangkah, dengan modal nekat dan semangat saja.
Selain itu, untuk membuat suatu lompatan besar, kita tidak hanya perlu bekerja lebih keras, tapi juga perlu mempertimbangkan hal yang ada di sekitar kita, yaitu bagaimana bekerja lebih keras tadi tidak menghasilkan 'gesekan' yang bisa menyebabkan pekerjaan kita justru mendapatkan 'resistensi' dan berujung kegagalan.
Biasanya, resistensi yang kita dapatkan adalah karena kelihatan angkuh, sombong, dan tidak memiliki empati pada orang lain.
Salah satu budaya orang Jepang yang sangat saya kagumi adalah budaya 'Kenkyo' ่ฌ่ atau dalam bahasa Indonesia kadang kita sebut sebagai kerendahan hati.
Di dalam budaya Jepang ada peribahasa 'deru kugi wa utareru', yang artinya paku yang menonjol akan dipukul, yang secara makna berarti orang yang suka menonjolkan diri, memamerkan dirinya, memperlihatkan apa yang dimilikinya akan cenderung dihancurkan oleh orang lain.
Bahkan dampak dari filosofi tersebut mereka terkadang merasa kurang nyaman jika dipuji terlalu tinggi. Karenanya, ketika dipuji, biasanya mereka akan mengatakan hal-hal semisal "nggak kok, biasa aja".
Jarang sekali melihat mereka terlihat berlagak, petantang petenteng, berusaha kelihatan paling hebat, walaupun dari sisi fundamental mereka sangat menguasai. Mungkin kita akan sangat jarang memberikan label 'si paling......' ketika berada di Jepang.
So, kita tetap bisa kok berinovasi, menjadi lebih hebat, tanpa harus merendahkan orang lain, dan tetap rendah hati. Untuk berada di depan enggak selamanya tentang kelihatan berlari, terkadang kita tetap berjalan cepat dengan tetap tanpa ngos-ngosan, agar tak kehabisan stamina sebelum sampai di depan.
Jadilah seperti bunga, yang tetap tumbuh dengan indah tanpa harus menjadi perusak di sekitarnya, yang terkadang tetap kelihatan lebih tinggi tapi tidak menghilangkan kehindahan bunga lain di sekitarnya.
Untuk sebagai bahan bacaan menarik untuk membacanya di https://www.bbc.com/culture/article/20140714-built-for-speed-the-bullet-train
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Bbc
Japanโs Shinkansen: Revolutionary design at 50
As Japanโs revolutionary Shinkansen turns 50, Jonathan Glancey salutes a design classic that changed railway travel around the world.
๐1
APA PERBEDAAN ANTARA S1, S2, DAN S3? ๐ ๐
oleh: Mario Andaru
Part (1)
Aku barusan menemukan insight menarik soal ini oleh Matt Might.
Kalau kalian bingung apa perbedaan level akademis ini, maka akan aku kasih penjelasan yang sangat mudah dipahami.
So, setelah baca ini, diharapkan kalian gak lagi menganggap remeh-temeh pendidikan dengan ngomong "ngapain sekolah tinggi-tinggi? gak penting!".
Berterima-kasihlah kepada orang yang mati-matian mengejar PhD.
Baca di bawah๐
oleh: Mario Andaru
Part (1)
Aku barusan menemukan insight menarik soal ini oleh Matt Might.
Kalau kalian bingung apa perbedaan level akademis ini, maka akan aku kasih penjelasan yang sangat mudah dipahami.
So, setelah baca ini, diharapkan kalian gak lagi menganggap remeh-temeh pendidikan dengan ngomong "ngapain sekolah tinggi-tinggi? gak penting!".
Berterima-kasihlah kepada orang yang mati-matian mengejar PhD.
Baca di bawah
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Part (3)
Ketika kamu menjajaki sekolah dasar, kamu akan tahu sedikit. Itulah kenapa saat SD dan SMP, kamu mempelajari banyak hal. Kamu dipaksa untuk mempelajari semuanya sampai-sampai kamu bilang "GUEHH DISURUH NGERTI SEMUANYA INI HAHHH? NGACO LU".
Iya, wajar. Karena fase itu kita harus tahu pondasi atau akar pengetahuan umat manusia.
For what? Just for survive.
atau setidaknya biar kalian ga bodo dan gampang dibodo-bodoin
Ketika kamu menjajaki sekolah dasar, kamu akan tahu sedikit. Itulah kenapa saat SD dan SMP, kamu mempelajari banyak hal. Kamu dipaksa untuk mempelajari semuanya sampai-sampai kamu bilang "GUEHH DISURUH NGERTI SEMUANYA INI HAHHH? NGACO LU".
Iya, wajar. Karena fase itu kita harus tahu pondasi atau akar pengetahuan umat manusia.
For what? Just for survive.
atau setidaknya biar kalian ga bodo dan gampang dibodo-bodoin
Part (6)
Kalau kalian lanjut S2, maka kalian akan memperdalam spesialisasi tersebut.
So, buat kalian yang lagi bimbang mau lanjut atau tidak, pikirkan lagi. Karena output dari S2 adalah KALIAN DIANGGAP SPESIALIS. Jangan S2 jika alasannya karena nganggur dan bingung.
Pliss, jangan jadi sampah akademik. Kontribusimu terhadap negara adalah salah satunya dengan ini.
Kalau kalian lanjut S2, maka kalian akan memperdalam spesialisasi tersebut.
So, buat kalian yang lagi bimbang mau lanjut atau tidak, pikirkan lagi. Karena output dari S2 adalah KALIAN DIANGGAP SPESIALIS. Jangan S2 jika alasannya karena nganggur dan bingung.
Pliss, jangan jadi sampah akademik. Kontribusimu terhadap negara adalah salah satunya dengan ini.
Part (7)
Ketika S2, kalian pasti dituntut untuk LEBIH BANYAK MEMBACA.
Membaca buku, karya ilmiah, paper atau jurnal. Semua harus kalian telan, bahkan lebih banyak daripada ketika kalian sarjana.
Kalian males membaca? Lulus sarjana mending lanjut kerja aja, jangan ambil S2. Karena dengan semakin banyak kalian membaca, maka semakin kalian dibawa ke batas pengetahuan umat manusia.
Ketika S2, kalian pasti dituntut untuk LEBIH BANYAK MEMBACA.
Membaca buku, karya ilmiah, paper atau jurnal. Semua harus kalian telan, bahkan lebih banyak daripada ketika kalian sarjana.
Kalian males membaca? Lulus sarjana mending lanjut kerja aja, jangan ambil S2. Karena dengan semakin banyak kalian membaca, maka semakin kalian dibawa ke batas pengetahuan umat manusia.
Part (13)
Tapi gimana jika kita zoom-out?
Lihatlah lingkaran besar pengetahuan umat manusia.
So, S3mu seharusnya memiliki kontribusi setidaknya setitik pengetahuan baru.
Kesimpulannya?
S1 dan S2 itu sama-sama mempelajari ilmu yang SUDAH DIKETAHUI. Bedanya, S2 mendalami spesialisasi tertentu, sedangkan S3 memiliki output menambah ilmu yang belum diketahui.
S1 fokus mempelajari pendapat orang lain terkait suatu masalah.
S2 mulai mempelajari apakah ada kelemahan dari tiap solusi terkait suatu masalah tersebut?
S3 mulai mempertanyakan solusi tersebut untuk menghasilkan kesimpulan atau variasi baru.
Analogi lainnya:
S1 mempelajari bagaimana membuat telur dadar yang enak berdasarkan berbagai percobaan orang lain sebelumnya.
S2 mempelajari bagaimana membuat telur dadar yang enak menggunakan panci teflon vs panci granit.
S3 mempelajari bagaimana membuat anak ayam yang sehat dan kuat, sehingga menghasilkan telur yang bergizi dan enak, lalu mempelajari alat kompor yang tepat untuk memasak telur baru tersebut, sehingga menghasilkan telur dadar yang (lebih) enak.
Sumber asli:
https://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/
Matt Might, a professor in Computer Science at the University of Utah, created The Illustrated Guide to a Ph.D. to explain what a Ph.D. is to new and aspiring graduate students. [Matt has licensed the guide for sharing with special terms under the Creative Commons license.]
#INISIATIF
Tapi gimana jika kita zoom-out?
Lihatlah lingkaran besar pengetahuan umat manusia.
So, S3mu seharusnya memiliki kontribusi setidaknya setitik pengetahuan baru.
Kesimpulannya?
S1 dan S2 itu sama-sama mempelajari ilmu yang SUDAH DIKETAHUI. Bedanya, S2 mendalami spesialisasi tertentu, sedangkan S3 memiliki output menambah ilmu yang belum diketahui.
S1 fokus mempelajari pendapat orang lain terkait suatu masalah.
S2 mulai mempelajari apakah ada kelemahan dari tiap solusi terkait suatu masalah tersebut?
S3 mulai mempertanyakan solusi tersebut untuk menghasilkan kesimpulan atau variasi baru.
Analogi lainnya:
S1 mempelajari bagaimana membuat telur dadar yang enak berdasarkan berbagai percobaan orang lain sebelumnya.
S2 mempelajari bagaimana membuat telur dadar yang enak menggunakan panci teflon vs panci granit.
S3 mempelajari bagaimana membuat anak ayam yang sehat dan kuat, sehingga menghasilkan telur yang bergizi dan enak, lalu mempelajari alat kompor yang tepat untuk memasak telur baru tersebut, sehingga menghasilkan telur dadar yang (lebih) enak.
Sumber asli:
https://matt.might.net/articles/phd-school-in-pictures/
Matt Might, a professor in Computer Science at the University of Utah, created The Illustrated Guide to a Ph.D. to explain what a Ph.D. is to new and aspiring graduate students. [Matt has licensed the guide for sharing with special terms under the Creative Commons license.]
#INISIATIF
โค3
๐ ๐๐ฑ๐ถ๐ธ, ๐จ๐ฎ๐ป๐ด, ๐ฑ๐ฎ๐ป ๐ช๐ฎ๐ธ๐๐ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐ง๐ฒ๐ฟ๐น๐๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ป ๐ฅ ๐ธ โฐ
oleh: Wicaksono
Setiap tahun, jalanan padat, stasiun penuh sesak, tapi dompet kita menipis. Itulah wajah Indonesia menjelang dan sehabis Lebaran.
Tradisi mudik, yang penuh cinta dan rindu, nyaris selalu dibarengi dengan pengeluaran besarโdari tiket pesawat pulang kampung hingga oleh-oleh yang harus dibawa agar โtidak maluโ di depan keluarga.
Tak jarang seseorang menghabiskan separuh gajinya hanya untuk seminggu kebersamaan yang, entah bagaimana, terasa lebih sebagai tuntutan sosial ketimbang momen spiritual.
Begitulah yang dirasakan Rani, seorang staf BUMN di Jakarta. Ia menyisihkan tabungan selama dua bulan, lalu menghabiskannya dalam empat hari Lebaran. Beli baju baru, sewa mobil, traktir keluarga besar, semua demi kebahagiaan sesaat.
Setelah itu, yang tersisa hanya saldo kosong dan cicilan baru. Di akhir bulan, ia kembali ke kantor, merasa capek bukan hanya fisik, tapi juga finansial.
Riko, pekerja lepas di Bandung, punya pengalaman yang serupa Rani. Setiap bulan, ia mengeluhkan penghasilannya yang kecil. Tapi jika ditelusuri, uangnya habis di kopi kekinian, rokok premium, dan langganan tiga layanan streaming sekaligus. Ia hidup dari gaji ke gaji, seperti tikus yang terus berlari di roda putar, tanpa pernah keluar dari siklus lelah dan kekurangan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa banyak dari kita bekerja keras, tapi selalu merasa tidak cukup?
Di sinilah Vicki Robin dan Joe Dominguez lewat ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐ค๐ฃ๐๐ฎ ๐ค๐ง ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐๐๐ mengajak kita menengok ulang: bukan hanya soal bagaimana kita menghasilkan uang, tapi bagaimana kita memperlakukannyaโdan apa yang kita tukarkan untuk mendapatkannya.
Mereka menyarankan satu hal yang terdengar sederhana tapi mengubah segalanya: anggap setiap rupiah yang kita belanjakan sebagai potongan waktu hidup.
Setiap jam lembur yang kita habiskan, setiap pagi yang kita lalui di tengah macet, semua itu adalah bagian dari hidup yang tak akan kembali.
Maka pertanyaannya bukan lagi, โBisakah saya beli ini?โ melainkan, โLayakkah saya menukar satu jam hidup saya untuk ini?โ
Bayangkan waktu hidup kita sebagai lilin yang terus menyala. Uang adalah bahan bakar, tapi juga bisa jadi api yang mempercepat habisnya nyala itu. Ketika kita sadar bahwa membeli sepatu diskon Rp500 ribu berarti menukar lima jam kerja, lengkap dengan stres dan lelah, kita mulai berpikir dua kali. Apakah sepatu itu benar-benar membuat kita bahagia, atau hanya mengisi kekosongan sesaat?
๐๐ค๐ช๐ง ๐๐ค๐ฃ๐๐ฎ ๐ค๐ง ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐๐๐ tidak menyuruh kita jadi pelit. Justru sebaliknya, buku ini mengajak kita menemukan cukup. Cukup itu bukan kekurangan, tapi momen ketika kita merasa damai karena kebutuhan terpenuhi tanpa merasa hampa. Ibarat makanโkenyang tidak selalu berarti rakus, dan puas tidak selalu berarti mahal.
Caranya? Mulailah dengan mencatat setiap pengeluaran, bukan untuk menyiksa diri, tapi agar kita tahu pola dan jebakan. Lalu tanyakan: apakah ini selaras dengan nilai hidup saya? Apakah uang ini membawa saya lebih dekat ke hidup yang saya inginkan?
Seperti menata rumah yang berantakan, kita mulai memilih mana yang harus dibuang, mana yang disimpan, dan mana yang benar-benar membuat hidup lebih bernilai.
Seiring waktu, ketika pengeluaran lebih bijak dan tabungan mulai tumbuh, kita tidak lagi takut kehilangan pekerjaan atau khawatir menghadapi darurat. Uang mulai bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Kita menjadi seperti petani yang menanam benih, menyiram setiap hari, dan menuai buah dengan tenang, bukan nelayan yang tergantung pada badai pasar dan ombak nasib.
Hidup bukan sekadar tentang angka di rekening. Ia tentang bagaimana kita menukar waktu, tenaga, dan perhatian untuk hal-hal yang benar-benar kita cintai.
Maka, sebelum membeli, sebelum bekerja tanpa henti, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah ini sebanding dengan waktu hidup saya?
Karena pada akhirnya, pilihan itu selalu kembali pada kita: uangmu, atau hidupmu?
#INISIATIF
oleh: Wicaksono
Setiap tahun, jalanan padat, stasiun penuh sesak, tapi dompet kita menipis. Itulah wajah Indonesia menjelang dan sehabis Lebaran.
Tradisi mudik, yang penuh cinta dan rindu, nyaris selalu dibarengi dengan pengeluaran besarโdari tiket pesawat pulang kampung hingga oleh-oleh yang harus dibawa agar โtidak maluโ di depan keluarga.
Tak jarang seseorang menghabiskan separuh gajinya hanya untuk seminggu kebersamaan yang, entah bagaimana, terasa lebih sebagai tuntutan sosial ketimbang momen spiritual.
Begitulah yang dirasakan Rani, seorang staf BUMN di Jakarta. Ia menyisihkan tabungan selama dua bulan, lalu menghabiskannya dalam empat hari Lebaran. Beli baju baru, sewa mobil, traktir keluarga besar, semua demi kebahagiaan sesaat.
Setelah itu, yang tersisa hanya saldo kosong dan cicilan baru. Di akhir bulan, ia kembali ke kantor, merasa capek bukan hanya fisik, tapi juga finansial.
Riko, pekerja lepas di Bandung, punya pengalaman yang serupa Rani. Setiap bulan, ia mengeluhkan penghasilannya yang kecil. Tapi jika ditelusuri, uangnya habis di kopi kekinian, rokok premium, dan langganan tiga layanan streaming sekaligus. Ia hidup dari gaji ke gaji, seperti tikus yang terus berlari di roda putar, tanpa pernah keluar dari siklus lelah dan kekurangan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa banyak dari kita bekerja keras, tapi selalu merasa tidak cukup?
Di sinilah Vicki Robin dan Joe Dominguez lewat ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐ค๐ฃ๐๐ฎ ๐ค๐ง ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐๐๐ mengajak kita menengok ulang: bukan hanya soal bagaimana kita menghasilkan uang, tapi bagaimana kita memperlakukannyaโdan apa yang kita tukarkan untuk mendapatkannya.
Mereka menyarankan satu hal yang terdengar sederhana tapi mengubah segalanya: anggap setiap rupiah yang kita belanjakan sebagai potongan waktu hidup.
Setiap jam lembur yang kita habiskan, setiap pagi yang kita lalui di tengah macet, semua itu adalah bagian dari hidup yang tak akan kembali.
Maka pertanyaannya bukan lagi, โBisakah saya beli ini?โ melainkan, โLayakkah saya menukar satu jam hidup saya untuk ini?โ
Bayangkan waktu hidup kita sebagai lilin yang terus menyala. Uang adalah bahan bakar, tapi juga bisa jadi api yang mempercepat habisnya nyala itu. Ketika kita sadar bahwa membeli sepatu diskon Rp500 ribu berarti menukar lima jam kerja, lengkap dengan stres dan lelah, kita mulai berpikir dua kali. Apakah sepatu itu benar-benar membuat kita bahagia, atau hanya mengisi kekosongan sesaat?
๐๐ค๐ช๐ง ๐๐ค๐ฃ๐๐ฎ ๐ค๐ง ๐๐ค๐ช๐ง ๐๐๐๐ tidak menyuruh kita jadi pelit. Justru sebaliknya, buku ini mengajak kita menemukan cukup. Cukup itu bukan kekurangan, tapi momen ketika kita merasa damai karena kebutuhan terpenuhi tanpa merasa hampa. Ibarat makanโkenyang tidak selalu berarti rakus, dan puas tidak selalu berarti mahal.
Caranya? Mulailah dengan mencatat setiap pengeluaran, bukan untuk menyiksa diri, tapi agar kita tahu pola dan jebakan. Lalu tanyakan: apakah ini selaras dengan nilai hidup saya? Apakah uang ini membawa saya lebih dekat ke hidup yang saya inginkan?
Seperti menata rumah yang berantakan, kita mulai memilih mana yang harus dibuang, mana yang disimpan, dan mana yang benar-benar membuat hidup lebih bernilai.
Seiring waktu, ketika pengeluaran lebih bijak dan tabungan mulai tumbuh, kita tidak lagi takut kehilangan pekerjaan atau khawatir menghadapi darurat. Uang mulai bekerja untuk kita, bukan sebaliknya. Kita menjadi seperti petani yang menanam benih, menyiram setiap hari, dan menuai buah dengan tenang, bukan nelayan yang tergantung pada badai pasar dan ombak nasib.
Hidup bukan sekadar tentang angka di rekening. Ia tentang bagaimana kita menukar waktu, tenaga, dan perhatian untuk hal-hal yang benar-benar kita cintai.
Maka, sebelum membeli, sebelum bekerja tanpa henti, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah ini sebanding dengan waktu hidup saya?
Karena pada akhirnya, pilihan itu selalu kembali pada kita: uangmu, atau hidupmu?
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
Set Boundaries - Agar Hidup Kita Tenang ๐
oleh: Nadia
Buku ini berisi 2 bagian yaitu memahami pentingnya batasan (9 bab) dan cara menetapkan batasan (6 bab).
Buku ini mengulik semua jenis batasan, pertanyaannya : kenapa sih butuh batasan? Apa pentingnya? Paling nggak 2 pertanyaan dulu kita kulik
Ini hasil merenung pribadi ttg batasan : alasan kita butuh batasan adalah karena kita punya kemampuan terbatas, dari segi waktu, energi, materi, fisik, psikologis dan masih banyak lagi. Karna keterbatasan inilah kita butuh batasan.
Kenapa ia menerima ajakan tsb? Karna ia takut dijauhi/ tidak nyaman menolak temannya. Awal mula dalam menetapkan batasan adalah timbul perasaan seperti di atas dan itu NORMAL. Namun apakah kita akan tetap meneros batas kemampuan kita? Sayangnya masih banyak yg rela mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain (buat kamu yg sudah berhasil memilih dirimu sendiri, selamat yaa!๐ซถ )
Dengan menetapkan batasan yg sehat sebenarnya kita sedang menciptakan relasi yang sehat pula dengan diri dan orang lain. Melalui batasan, 2 orang/ lebih akan lebih mudah untuk memahami kebutuhan kita dan saling mendukung.
Tadinya ogut pikir, batasan itu memisahkan namun yang sebenarnya terjadi adalah mempererat ikatan. Selama disampaikan dengan cara yang asertif dan kadang perlu berulang dan buku ini juga ngasi tau cara-caranya.
Tidak hanya batasan tentang diri sendiri, buku ini juga membahas batasan seputar pertemanan, pasangan (pacaran dan pernikahan: mertua-ipar, anak dan mantan pasangan), pekerjaan, penggunaan gawai dan teknologi. Dan bila semua ini kita batasi dengan pas dan sesuai kondisi maka relasi dan kehidupan yang sehat akan lebih mudah untuk didapatkan. Dan semua ini memerlukan waktu apalagi berhubungan dengan orang lain. Toleransi apa yang bisa ditolentasi dan tegaslah pada halยฒ prinsip
Bab favorit ogut itu bab 4 tentang enam jenis batasan : Fisik, emosional, intelektual, waktu, materi dan seksual. Menurut ogut di bab ini kita diajak untuk menggali diri sendiri mengenai batasan kita ke orang lain. Batasan tercipta agar kita merasa aman dan nyaman ketika berhubungan dgn orang lain๐ซถ
Orang lain tidak akan mengerti kebutuhan kita bila kita tidak mengatakannya (ini juga berlaku kepada pasangan yg sudah bertahunยฒ menjalin hubungan)
Dan sebelum menentukan batasan, pahami dirimu dan kebutuhanmu terlebih dahulu๐ซถ
Thankyou for reading
#INISIATIF #TGIF
oleh: Nadia
Buku ini berisi 2 bagian yaitu memahami pentingnya batasan (9 bab) dan cara menetapkan batasan (6 bab).
Buku ini mengulik semua jenis batasan, pertanyaannya : kenapa sih butuh batasan? Apa pentingnya? Paling nggak 2 pertanyaan dulu kita kulik
Ini hasil merenung pribadi ttg batasan : alasan kita butuh batasan adalah karena kita punya kemampuan terbatas, dari segi waktu, energi, materi, fisik, psikologis dan masih banyak lagi. Karna keterbatasan inilah kita butuh batasan.
Contoh : "temen ngajak ngopi, tapi kita lagi lelah karna kerjaan di kantor" maka opsi yg terbaik adalah istirahat. Terlihat mudah bukan? Namun percayalah bagi orangยฒ yg punya batasan setipus tisu terbelah tujuh, ia akan menerima ajakan temanยฒnya untuk ngopi walau badannya sudah ingin ketemu kasur.
Kenapa ia menerima ajakan tsb? Karna ia takut dijauhi/ tidak nyaman menolak temannya. Awal mula dalam menetapkan batasan adalah timbul perasaan seperti di atas dan itu NORMAL. Namun apakah kita akan tetap meneros batas kemampuan kita? Sayangnya masih banyak yg rela mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain (buat kamu yg sudah berhasil memilih dirimu sendiri, selamat yaa!
Dengan menetapkan batasan yg sehat sebenarnya kita sedang menciptakan relasi yang sehat pula dengan diri dan orang lain. Melalui batasan, 2 orang/ lebih akan lebih mudah untuk memahami kebutuhan kita dan saling mendukung.
Tadinya ogut pikir, batasan itu memisahkan namun yang sebenarnya terjadi adalah mempererat ikatan. Selama disampaikan dengan cara yang asertif dan kadang perlu berulang dan buku ini juga ngasi tau cara-caranya.
Tidak hanya batasan tentang diri sendiri, buku ini juga membahas batasan seputar pertemanan, pasangan (pacaran dan pernikahan: mertua-ipar, anak dan mantan pasangan), pekerjaan, penggunaan gawai dan teknologi. Dan bila semua ini kita batasi dengan pas dan sesuai kondisi maka relasi dan kehidupan yang sehat akan lebih mudah untuk didapatkan. Dan semua ini memerlukan waktu apalagi berhubungan dengan orang lain. Toleransi apa yang bisa ditolentasi dan tegaslah pada halยฒ prinsip
Bab favorit ogut itu bab 4 tentang enam jenis batasan : Fisik, emosional, intelektual, waktu, materi dan seksual. Menurut ogut di bab ini kita diajak untuk menggali diri sendiri mengenai batasan kita ke orang lain. Batasan tercipta agar kita merasa aman dan nyaman ketika berhubungan dgn orang lain
Lalu gimana menyampaikan batasan kita ke orang lain?
1. Bersikaplah tegas dengan kata2 yang baik
2. Sampaikan apa kebutuhan kita secara langsung dan tidak bertele-tele
3. Hadapi perasaan tidak nyaman tersebut
Orang lain tidak akan mengerti kebutuhan kita bila kita tidak mengatakannya (ini juga berlaku kepada pasangan yg sudah bertahunยฒ menjalin hubungan)
Dan sebelum menentukan batasan, pahami dirimu dan kebutuhanmu terlebih dahulu
Thankyou for reading
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค3๐ฅ1
Forwarded from Effi Ekayanti
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi412
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Siapa nih, yang masih bingung tentang cara berkomunikasi yang tepat, khususnya dengan atasan ?? Tenang, kalian gak sendiri, mimin juga gitu kok.. hehe.. yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi412 ๐
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi412
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Siapa nih, yang masih bingung tentang cara berkomunikasi yang tepat, khususnya dengan atasan ?? Tenang, kalian gak sendiri, mimin juga gitu kok.. hehe.. yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi412 ๐
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
Forwarded from Effi Ekayanti
Salam INSIATIF โ
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi413
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT pada saat public speaking ?? Apaan tuuh ?? koq mengatasi gugup saat public speaking ada rumusnya ?? ๐ฑ
Buat yang penasaran, yuk langsung belajar bareng di ATE Sharing #Edisi413 ๐
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
โจ๐ฅ COMING SOON ๐ฅโจ
Ask the Experts #Edisi413
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Expertsโจ
Presentasi dengan Teknik 10-20-30 & 4MAT pada saat public speaking ?? Apaan tuuh ?? koq mengatasi gugup saat public speaking ada rumusnya ?? ๐ฑ
Buat yang penasaran, yuk langsung belajar bareng di ATE Sharing #Edisi413 ๐
Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI โจ
Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram
#INISIATIF #GrowthMindset
๐2๐1