Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
LIVE YOUR LIFE 😇

oleh: Seruni Yuniarti

“Aku cape deh kalau harus ikutin semua tuntutan orang tua?”

Sekarang pertanyaannya, siapa yang mengharuskan? Mereka? Apa kita yang “merasa” punya keharusan? Apakah iya mereka pernah secara gamblang menyampaikan hal tersebut?

Contoh di atas hanyalah salah satu contoh dari banyak cerita klien maupun kerabat. Uniknya, tuntutan ini tidak hanya muncul dari orang tua atau pihak keluarga. Ada beberapa yang merasa tertekan karena tuntutan dari teman, pacar, dan bahkan tetangga. Kita sebagai mahluk sosial memang sangat wajar memiliki keinginan untuk selalu “blend-in” di lingkungan dan keinginan untuk diterima di lingkungan juga merupakan hal yang wajar. Namun kadang kita lupa untuk siapa sebenarnya kita hidup, apakah iya tujuannya selalu untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Atau untuk mencapai tujuan dan cita sendiri?

Sebenarnya keduanya tidak ada salahnya, mau fokus pada cita sendiri, maupun fokus untuk memenuhi ekspektasi orang lain, terutama orang terdekat. Hanya saja, yang jadi masalah adalah kita melakukan itu semua secara terpaksa.

Aku paham bahwa tidak mudah untuk menolak ekspektasi orang terhadap kita, apalagi seperti yang sudah aku sampaikan di atas, kita ini adalah mahluk sosial yang perlu blend in sama lingkungan dan orang-orang di lingkungan tersebut. Tapi disisi lain, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk standup for yourself. Kemampuan untuk set a bounderies,kemampuan untuk bilang tidak untuk hal-hal yang kita rasa tidak mungkin kita lakukan atau membuat kita tidak nyaman. Salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan kata “tidak” tersebut.

“Our happiness and well being is our responsibles, not others”

Ketika kita bisa melakukan penolakan dengan tepat, hal ini tidak akan jadi masalah baru. Seringnya yang jadi permasalahan adalah karena kita sendiri ngga tau cara menolaknya seperti apa. Akhirnya memilih untuk saying yes sambil misuh-misuh dan tertekan, atau bilang tidak dengan cara yang salah dan akhirnya malah jadi masalah baru. Maka dari itu kemampuan komunikasi sangat penting dalam hal ini. Kita perlu menjelaskan hal apa yang membuat kita bilang tidak, dan kalau perlu kita cari jalan tengahnya supaya dua ekspektasi tersebut bertemu. Daaann hal ini perlu latihan yang perlu waktu, tidak terjadi dalam satu malam.

“The problem is not about things that we said, but it’s about how we said”

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF

🔥 COMING SOON 🔥


Ask the Experts #Edisi410
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts

Siapa nih, yang udah berlatih agar tetap terlihat PD tapi masih saja insecure ?? Tenang, kalian gak sendiri, mimin juga gitu kok.. hehe
yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi410 📝

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram

#INISIATIF #GrowthMindset
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF

🔥 COMING SOON 🔥


Ask the Experts #Edisi411
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts

SGBV ?? Apaan tuh miin ??
Waduh, mimin juga baru denger niih..
Tapi kalo ngebahas keamanan dan kekerasan dalam lingkungan kita saat bekerja, gimana ? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi411 📝

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram

#INISIATIF #GrowthMindset
PROFESSIONAL DECLINE 🫠

Oleh: Iwan Kusworo

Selamat pagi, teman-teman!

Pagi ini saya melanjutkan baca buku From Strength to Strength (Arthur C. Brooks).

Buku ini menyoroti fenomena di sekitar kita di mana umumnya di usia 40-an tahun, orang akan mengalami ”professional decline” atau penurunan dalam prestasi profesional. 🙏

Penulis menuliskan data penelitian menunjukkan bahwa usia seseorang berada dalam puncak performa profesionalnya ada di rentang 20-40 tahun.

Penurunan ini salah satunya dipengaruhi oleh perubahan struktur otak, terutama di bagian pre-frontal cortex yang sangat berperan dalam proses mengingat.

Selain itu penulis juga menyebutkan tentang ”principle of psychoprofessional gravitation” yaitu gagasan bahwa ada satu penderitaan luar biasa yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah mencapai puncak karir, di mana mereka masih belum bisa melepaskan perasaan bangga, perasaan dihormati dan disegani, yang dirasakannya saat itu. Ada "emotional attachment” atau ikatan emosional yang terlibat di situ, yang ketika mereka melihat ke masa kini, mereka kemudian merasa tidak berguna dan tidak berharga lagi.

Perasaan ini juga dipicu oleh kondisi lingkungan yang membuat apa yang pernah dia banggakan dulu sudah tidak relevan lagi di masa kini.

Di buku ini dicontohkan ada pemilik toko buku langka, yang 20 tahun lalu menikmati masa kejayaannya, namun sekarang dia merasa orang lain sudah tidak membutuhkannya lagi.

”I’ve seen myself through the eyes of the people across the table. What do they see? I guess I’d have to say ‘yesterday’” 😢

(Saya melihat diri saya sendiri melalui mata orang-orang di seberang meja. Apa yang mereka lihat? Saya rasa saya harus mengatakan 'kemarin')

Topik yang diangkat di buku ini sangat menarik dan sangat relevan, terutama dengan makin merebaknya AI di sekitar kita. Untuk jadi bahan perenungan bahwa professional decline ini kemungkinan akan lebih cepat terjadi.

Seperti yang tertulis di judul chapter pertama buku ini:

"Your professional decline is coming (much) sooner than you think.” (Kemunduran profesional Anda datang (jauh) lebih cepat dari yang Anda kira)

Stay relevant! ❤️

Have a nice day! 😊

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2🔥1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎤Masih muda, kebanyakan tapi-tapi 🎼

Tmn2 selindo jangan lupa yuk galakkan kebiasaan senam/olahraga rutin di setiap unit kerjanya. Paling minimal banget itu 1 x seminggu 💪

#INISIATIF #fitlife
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
Oleh: Muhammad Farid Maricar

Dua hari lalu ke Gramedia, akhirnya beli buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim. Setelah baca buku ini, saya merasa “gue banget”.

Buku ini mengajarkan tentang hidup yang santai, nggak terjebak dengan ekspektasi sosial, dan lebih fokus pada apa yang benar-benar penting. Saya memang senang menjalani hidup balance, karena saya bukan bagian dari ‘sandwich generation.’

Saya paham, banyak orang yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan, terutama mereka yang harus menanggung beban finansial untuk orang tua sekaligus anak-anaknya. Itu pilihan yang harus dihormati. Tapi, kalau kerja keras cuma demi gengsi, nama baik, atau gaya hidup, akhirnya ya capek sendiri.

Karena, jujur saja, standar ‘penting’ atau ‘tidak penting’ itu beda-beda untuk tiap orang. Masa kita harus memenuhi standar semua orang? Caaapeek laah

Nah, ada salah satu bagian dari buku ini yang sangat berkesan. Di sini disebutkan bahwa ada tiga hal yang perlu kita pahami agar membebaskan kita dari rasa terpenjara oleh pendapat orang lain:

1. Orang-orang tuh nggak sepeduli itu sama kita ✔️
Serius, nggak ada orang yang bakal peduli hari ini kita pakai baju apa, bahkan kalau kita pakai baju yang sama dengan kemarin. Orang-orang lebih sibuk dengan hidup mereka sendiri. Kecuali, orang itu benar-benar memikirkan kita.

Biasanya orang begini adalah orang yang menganggap kita rival atau saingan. Semua hidup kita mau dikepoin, dicari kekurangannya, hanya agar dia merasa lebih baik dari kita saat mereka mendapatkan kekurangan kita.

Makanya, saya nggak terlalu mikirin penampilan. Jarang nyisir, jarang beli baju baru. Kecuali, mungkin kalau saya selebritis yang selalu disorot lambe turah 24/7, itu beda cerita.

2. Nggak semua orang harus suka sama kita ✔️
Sorry to say, tapi saya nggak peduli orang suka sama saya atau enggak. Selama apa yang saya lakukan nggak melanggar prinsip agama, hukum, atau hak orang lain, ya bodo amat. Kita nggak mungkin menyenangkan semua orang, dan itu nggak masalah. Fokus aja pada apa yang benar-benar penting untuk hidup kita.

3. Jujur pada diri sendiri: kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri ✔️
Setiap kebaikan yang saya lakukan bukan untuk orang lain, apalagi karena saya ‘butuh’ mereka. Niat saya adalah untuk mendapatkan pahala dari Allah. Ada ayat yang indah di surah Ar-Rahman (60): “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” Itu yang selalu saya pegang. Kalau ternyata kebaikan saya melukai ego orang lain? Ya, bodo amat. Karena terkadang, orang yang egonya terlalu besar perlu ‘diingatkan’ bahwa mereka nggak sepenting itu.

Makanya, nggak usah terlalu mikirin apa kata orang. Yang penting, kita nggak melanggar hak-hak mereka. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengejar validasi orang lain. Apalagi, kalau itu sampai bikin kita melukai orang lain atau mengambil apa yang bukan hak kita. Kalau ada yang merasa ‘terluka’ hanya karena egonya tersinggung? Biarin aja. Kadang, orang egois memang perlu dibikin sadar biar ngerti realitas.

Ingat, kita semua nanti akan sendirian di kubur. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk saat itu. Jangan sampai apa yang kita kejar selama hidup ini cuma untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tapi akhirnya nggak ada artinya buat kita. Jadi, santai aja. Hidup balance. Fokus sama apa yang benar-benar penting buat kita.

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Delegasi BPJS Kesehatan Chess Club 🤩🥰🇲🇨
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Terpantau delegasi dari Universitas Binus didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) ahli data dan IT 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Sementara untuk Delegasi dari Universitas Negeri Surabaya didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) Pendidikan dan Teknik 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Begitupun dari Delegasi dari Universitas Pendidikan Indonesia, meskipun jumlahnya sedikit, mereka didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) Pendidikan dan MIPA 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
LIFE IS A GAME, WE CAN'T UNDO A MOVE, BUT WE CAN MAKE THE NEXT ONE BETTER 🔥

Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Binus, Tim UKM Catur Universitas Negeri Surabaya, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Indonesia dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada Sabtu, 22 Februari 2025. Semoga kolaborasi dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga 💯1️⃣🤝

Boleh join dan saksikan keseruannya di sini: (🔓Password: DNAINISIATIF)
Link Arena turnamen battle BPJS Kes Vs Unesa Vs UPI Vs Binus 🔗


#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
142 - 133 - 118 - 106 🤝

Hanya untuk menghindari kehilangan sebuah pion, akhirnya banyak orang yang harus kalah dalam permainan 🙏


What a Game? Permainan yang sangat seru dan berkesan antara COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club dengan adik-adik mahasiswa(i) dari UKM Catur Universitas Pendidikan Indonesia, UKM Catur Universitas Negeri Surabaya, dan UKM Catur Universitas Binus dalam INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION. Selamat kepada para Juara dan pemenang Doorprize. Sampai bertemu kembali pada arena fun and meaningful selanjutnya, jangan lupa Selalu Berpikir Sebelum Bertindak 🇲🇨

#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1
MAHKOTAMU SEDANG DIUKIR KING/QUEEN 🏆👑

Setelah melalui masa penjurian yang sangat ketat selama hampir seminggu, kini tiba waktunya kami untuk mengumumkan 12 Pencerita Terbaik pada Storytelling Challenge CONNECT THE DOTS. Stay tuned buat pengumuman detailnya 📩
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Jam manusia selalu terburu-buru, tapi jam Tuhan selalu tepat waktu 😇

#weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2
MENGAPA KITA MEMILIKI PEMIMPIN? 👑

Saat ngantri service motor kemarin, saya coba melanjutkan bacaan di DIARY BPJS. Judul bukunya adalah "LEADER EAT LAST" karya Simon Sinek.

Buku ini menjelaskan bahwa meskipun kita semua pasti menyukai gagasan kesetaraan, tapi faktanya memang kita tidak akan pernah setara krn itu demi kebaikan kita bersama juga. ✍️

Seperti kisah para pemburu yg pulang membawa hasil buruan, mereka berhasil menaklukan seekor rusa besar untuk memberi makan semua orang di sukunya. Menyambut kepulangan mereka, sebagian besar anggota suku bergegas mengucapkan selamat & mengolah hasil buruan untuk acara pesta makan. Masalahnya, saat itu semua orang lapar & sangat ingin makan. Ketika hidup dalam populasi sekitar 100 sampai 150 orang seperti nenek moyang kita, jelas semua anggota suku tidak bisa masuk & mengambil begitu saja. Kekacauan pasti akan terjadi. Jadi siapa yg akan makan lebih dulu? 🤔

Tanpa tata tertib, semua orang akan berebut makan. Orang-orang akan saling dorong dan berdesak-desakan. Orang-orang yg cukup beruntung krn berbadan tegap seperti atlet rugbi akan makan terlebih dahulu, sedangkan yg badannya kecil pasti akan selalu tersingkir atau terluka.

Ketika itu terjadi, maka orang-orang yg selalu disingkirkan pasti tidak akan mau percaya atau bekerja sama lagi dgn orang yg hari sebelumnya mendorong atau memukul mereka, sehingga untuk memecahkan masalah ini, akhirnya berevolusilah kita menjadi makhluk hierarkis.

Ketika kita menganggap seseorang lebih kuat dari kita, daripada berhadapan dengannya untuk berebut makanan, akhirnya kita akan secara sukarela mundur teratur dan membiarkan mereka makan terlebih dahulu. Orang2 kuat ini akan merasakan peningkatan status dalam kelompoknya sebagai ALFA. Di antara kelebihan lainnya, mereka bisa memilih pasangan terlebih dahulu, dipersilakan menyantap daging terlebih dahulu. Setelah ALFA selesai makan, barulah anggota suku mereka makan. Meskipun anggota tdk mendapatkan potongan daging terbaik, setidaknya mereka tetap bisa makan & tidak perlu berdesak-desakan saat melakukannya. Sistem inilah yg kemudian dianggap lebih kondusif untuk membangun kerja sama.

Sampai hari modern ini, akhirnya kita merasa nyaman dgn keberadaan ALFA yg mendapatkan fasilitas tertentu dari masyarakat kita.

Kita tdk pernah memiliki masalah dengan seseorang yg memiliki jabatan yg lebih tinggi dari kita, justru sebagian dari kita malah akan merasa aneh atau merasa tidak sopan jika semisal anggaplah Kabag/Asdep/Kacab/Deputi kita harus membawa sendiri barang bawaannya karena Beliau adalah pemimpin dalam hierarki kita.

Namun, ternyata semua keuntungan kepemimpinan itu tdk gratis, malah harganya sangat mahal. Saya masih ingat penyampaian Bapak Donni Hendrawan kepada seluruh jajaran saat berkunjung di KC Mamuju beberapa Tahun silam, Beliau menyampaikan kurang lebih intinya sbb:

"Jadi pemimpin itu tugas yg berat, jangan cuma lihat enak dibesaran gajinya saja. Para pemimpin itu digaji lebih besar dibanding bawahannya karena konon uang itu untuk persiapan biaya berobatnya kelak", canda Beliau 😁


Memang benar bahwa ALFA mungkin benar-benar "lebih kuat" daripada kita semua. Karena ketika kelompok tersebut menghadapi ancaman dari luar, para anggota suku tentu berharap Sang Pemimpin yg benar-benar lebih kuat, lebih bergizi, & lebih percaya diri akan menjadi orang pertama yg bergegas menuju bahaya untuk melindungi para anggotanya.

Itu juga alasan mengapa kita memberikan kesempatan pertama kepada para ALFA untuk memilih pasangan mereka, krn jika kelak mereka gugur lebih awal saat mencoba membela kita, maka kita ingin memastikan semua gen kuat itu tetap bertahan dlm gen suku kita.

Lantas bgmn dgn Pemimpin yg sudah dibayar lebih & mendapatkan fasilitas, tapi tidak menawarkan perlindungan kepada para anggotanya? Hmm, ulasan buku ini masih panjang
📖


Silakan baca bukunya dgn login
😏
menggunakan password email kita
https://bit.ly/Diary-Web (Web)
https://apple.co/39KyJje (IOS)


Mhn maaf bila ada yg kurang, krn masih belajar menuangkan gagasan 🙏

Hormatku
Muhlis Amiruddin (mumu)

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM