Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
MENIKMATI PROSES

Oleh: Muhammad Farid Maricar

Ini salah satu buku untuk belajar menggambar, harganya 110 yen (sekitar 13 ribu rupiah), tebal sekitar 60 halaman. Yang menarik dari buku ini adalah susunan strukturnya dari awal mengajarkan basicnya, lalu naik ke level tingkat lanjut.

Dalam pendidikan, salah satu hal yang terpenting adalah melalui proses mulai dari dasar, lalu naik level sedikit demi sedikit. Jangan sampai mendidik agar seseorang dengan berusaha memaksa naik, jika level dasarnya belum memadai. Ibarat belum paham pertambahan, sudah ingin belajar perkalian, pangkat, dll.

Ini juga saya pelajari dari sensei-sensei saya di sini, yang ketika memberikan bahan belajar, nggak langsung semuanya, tapi dikasih bertahap. Kalau dikasih segelondongan untuk otodidak apalagi tanpa penjelasan tahapannya, akan berisiko menyebabkan kesalah pahaman. Pendidik, terutama pada tingkat pendidikan tinggi di mana skill pengembangan ilmu lebih utama dari sekadar keterampilan seharusnya menerapkan hal-hal seperti ini.

Kesalahan memang hal yang wajar, tetapi jika kesalahan tersebut adalah masalah level dasar, ini akan menyebabkan banyak masalah di kemudian hari. Makanya, proses mempelajari sesuatu yang dasar itu lebih panjang, daripada tingkat lanjut.

Apa yang terjadi jika tidak memahami yang dasar secara komperehensif? Manipulasi. Ketika hasil tidak sesuai harapan, alih-alih mencari kesalahan untuk memperbaikinya, yang ada malah menutupi kesalahan.

Maka dari itu, kita perlu paham bahwa proses belajar itu panjang. Nggak ada orang yang paham dan terampil dalam proses yang sebentar.

Jadi, nikmati prosesnya, jangan terburu-buru, nggak usah terlalu ambisi ingin cepat-cepat memperoleh semuanya. Membangun dasar yang kuat, naik perlahan secara rasional, lebih bertahan lama.


Ingat, orang yang rawan menjadi korban kecelakaan lalu lintas bukanlah mereka mengendarai dengan kecepatan tinggi, melainkan mereka yang mengendarai dengan kecepatan tinggi pada jalan yang tak biasa mereka lalui, dan akselerasi yang tidak konstan dan stabil. Santai saja....

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2
SOPIR TAKSI YANG JUJUR 🫡

Di Tokyo seorang pria naik taksi. Karena kendala bahasa, dia tidak bisa berkata banyak, kecuali menyebutkan nama tempat yang ingin dia datangi. Sopir taksi mengerti, ia mengangguk, dan dengan hormat membukakan pintu bagi penumpang untuk masuk, yang merupakan bagian dari budaya mereka.

Saat perjalanan dimulai, sopir taksi menyalakan argo, lalu setelah beberapa saat mematikannya, dan kemudian menyalakannya kembali. Penumpang itu bingung tetapi tetap diam karena kendala bahasa. Sesampainya di kantor yang ia datangi, dia bertanya kepada orang-orang yang menyambutnya, "Coba tanyakan kepada sopir taksi mengapa dia mematikan meteran selama beberapa waktu selama perjalanan."

Ketika mereka bertanya kepada sang pengemudi, ia menjawab, "Saya melakukan kesalahan di jalanan tadi. Saya melewati belokan yang seharusnya saya ambil, dan belokan berikutnya yang harus saya ambil cukup jauh. Karena kesalahan saya, kami harus menempuh jarak tambahan dua hingga dua setengah kilometer. Selama waktu itu, saya mematikan meteran. Saya tidak dapat membebankan biaya kepada penumpang untuk jarak yang bertambah karena kesalahan saya."🙏

Oleh: Satria Dharma

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
3👍2❤‍🔥1
PERFEKSIONIS 😇

Oleh: Iwan Kusworo

Seorang filsuf kelahiran Swiss bernama Jean-Jacques Rousseau pernah menuliskan:

“I was not afraid of punishment. I was only afraid of disgrace; and that I feared more than death, more than crime, more than anything else in the world.”

“Aku tidak takut akan hukuman. Aku hanya takut akan rasa malu (atas kegagalan); dan itu yang aku takuti lebih dari kematian, lebih dari kejahatan, lebih dari apapun di dunia ini.”


Sebuah survei di tahun 2018 mengungkapkan bahwa 90% CEO mengaku bahwa rasa takut akan kegagalan membuat mereka sering terjaga di tengah malam.

Sungguh ironis ketika kita mengetahui bahwa orang-orang yang sering merasa takut akan kegagalan justru kesulitan untuk merasakan kebahagiaan atas keberhasilan yang telah mereka raih. Selalu ada rasa cemas yang menanti di setiap momen penting dalam perjalanan hidup mereka. What if I fail next time? (Bagaimana jika lain kali saya gagal?)

Tanpa disadari, mereka menjadi seorang perfeksionis, yang melihat kesuksesan bukan sebagai usaha untuk “melakukan sesuatu dengan baik,” melainkan sebagai usaha untuk “tidak melakukan sesuatu dengan buruk/gagal.” Kegagalan tidak pernah ada dalam kamusnya.

Seorang perfeksionis juga merasa dirinya memiliki keahlian/pengetahuan yang lebih tinggi, standar yang lebih tinggi, dan juga kemampuan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar dibandingkan orang lain.

Kesuksesan di masa sekarang sering dipandang sebagai sesuatu yang bersifat “positional,” yang artinya bisa meningkatkan posisi seseorang dalam hirarki sosial. Namun, banyak pakar ilmu sosial selama satu dekade ini berpendapat bahwa apapun yang bersifat positional tidak akan bisa memberikan dampak pada kebahagiaan. Harta dan popularitas adalah beberapa diantaranya.

“Wealth is like sea-water; the more we drink, the thirstier we become, and the same is true of fame.”
(Kekayaan itu seperti air laut; semakin banyak kita minum, semakin haus kita, dan hal yang sama berlaku untuk ketenaran)
~ Arthur Schopenhauer, 1851.


Buku apa yang Anda baca hari ini? ❤️

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Maafkan kami yang selalu banyak ngeluh dan hitung-hitungannya 🙏

#TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🎊 🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤 🎊

Mempertimbangkan beberapa hal, kami memutuskan untuk memperpanjang tenggat waktu penyelesaian tulisan dalam storytelling challenge ATE maks selama 2 hari hingga Minggu, 16 Februari 2025 (23.59 WIB). 🤝

Semoga info ini dapat memudahkan rekan-rekan yang sedari kemarin memang sudah berkutat di Bab NIAT namun dalam sepekan yang lalu masih terkendala dengan jadwal agenda kegiatan yang sangat padat. Juknisnya masih sama, klik di sini

Note: Jumlah tulisan inspirasi yang masuk s.d saat ini berjumlah 38 tulisan (update 22.00 WIB)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤🔤

Berikut rekap Daftar Peserta akhir Storytelling Challenge
🥇

39. Wulan Kristiana @wulankristiana (Staf Penjaminan Manfaat dan Pengelolaan Faskes KC Denpasar)
https://t.me/c/1287712664/191190

40. Nelrahmi @Nelrahmi (Kabag Yanfaskes KC Payakumbuh)
https://t.me/c/1287712664/191191

41. Wahyu Ediningtias @WahyuEdiningtias (Staf SDM dan Umum KC Pamekasan)
https://t.me/c/1287712664/191192

42. Sylvana Dyna @sylvana (Staf Kepesertaan dan Penagihan Iuran Kab. Labuhanbatu KC Kisaran)
https://t.me/c/1287712664/191213

43. Ridho Mardatilah @ridhomardatilah (Staf PMPF KC Malang)
https://t.me/c/1287712664/191218

44. Nur Imam Rhamdani @Bismillah_Jabar_Aamiin (Koordinator EP3RS KC Tondano)
https://t.me/c/1287712664/191219

45. Asyraf Mursalina @asyraf_mursalina (Asdep Evaluasi Kinerja dan Pelaporan Organisasi, PEO)
https://t.me/c/1287712664/191224

46. Baihaqi Ramzi @arukube (Staf Kerja Sama Faskes KC Medan)
https://t.me/c/1287712664/191225

Terima kasih atas partisipasi Bapak/Ibu dan rekan-rekan selindo untuk berbagi kisah inspirasi, selanjutnya kini giliran panitia tim penilai yang akan bekerja memilih 10 tulisan terbaik daripada 46 yang terbaik🏆🇲🇨
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Steal Like an Artist 🇲🇨

Oleh: Muhammad Farid Maricar

Sudah lama banget mencari buku ini, tapi baru hari ini menemukannya. Banyak kutipan-kutipan dari buku ini yang membuat saya penasaran ingin membacanya.

Salah satu favorit saya adalah yang ini: Bila ada dua atau tiga hal yang kamu minati, jangan merasa harus memilih. Sebagai laki-laki, saya meyakini bahwa laki2 harus punya hobi, apa saja boleh, asal jangan yang buruk, hehehe.

Hobi-hobi ini nantinya akan menjadi pelarian, tapi bukan dalam arti melarikan diri dari tanggung jawab, melainkan sebagai tempat beristirahat dari pekerjaan, masalah, dan segala hal yang menuntut seseorang untuk terus fokus.

Kalau ditanya, hobi saya apa? Dari dulu, hanya dua: membaca dan bermain game.

Tapi jangan salah, kedua hobi ini pun berevolusi, melahirkan hobi-hobi baru. Misalnya, menulis di media sosial. Kok bisa? Karena membaca memperkaya pengetahuan saya, sementara bermain game melatih saya berpikir lebih kompleks, menghubungkan berbagai fakta, memahami pola, dan mengintegrasikannya menjadi suatu pemahaman baru.

Dari situlah saya belajar bahwa kreativitas sering kali lahir dari menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tampak terpisah.

Ini juga selaras dengan gagasan dalam Steal Like an Artist, bahwa tidak ada ide yang benar-benar orisinal, tetapi kita dapat mengumpulkan, memodifikasi, dan mengombinasikan inspirasi dari berbagai sumber untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Jadi, kalau punya lebih dari satu minat, jangan buru-buru menganggapnya sebagai gangguan. Bisa jadi, itulah yang akan membentuk identitas kreatif kita di masa depan. Siapa yang tahu? Hehehe

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
IT'S TAKES TWO, TO TANGO 🕺

oleh: Seruni Yuniarti

Mungkin istilah di atas sudah tidak asing lagi ya. Istilah ini memang sering digunakan untuk menggambarkan suatu hubungan. Suatu hubungan itu terdiri dari dua orang, dua kepala, yang artinya apapun yang terjadi dalam hubungan tersebut adalah hasil atau merupakan tanggung jawab dari kedua orang yang berada di dalamnya, bukan hanya salah satu.

Banyak dari suatu hubungan, kondisi ‘kerjasama’ ini tidak berjalan dengan baik. Biasanya hal ini terjadi karena ada salah satu yang lebih dominan —yang akhirnya satu jauh lebih pasif—, sehingga yang dominan gemes sendiri, sedangkan yang pasif ya asik-asik aja tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi. Komunikasi yang terjadi pada mereka juga pada akhirnya tidak berjalan dengan baik, yang tidak jarang membuat hubungan mereka menjadi tidak bertahan lama.

Ada hal yang selalu aku ingat dari ungkapan pasanganku dari jaman dulu kala, mengerti dan memahami itu dua hal yang berbeda.” Dengan memahami, kita sudah jauh lebih mengerti, bukan hanya tau terkait perilaku yang muncul, tapi juga mengetahui alasan dibalik perilaku tersebut muncul. Menurutku, dengan memahami pasangan satu sama lain, adalah tingkatan tertinggi dari ‘kerjasama’ dalam suatu hubungan.

Memahami dan saling menghargai. Sama seperti tarian Tango, untuk dapat menari dengan dinamis diperlukan komunikasi yang juga berjalan dua arah. Coba bayangkan kalau komunikasi hanya terjadi satu arah, apakah mereka akan bisa menari seirama? I don’t think so.

Begitu juga dengan suatu hubungan, seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, apapun yang terjadi, keputusan apapun yang akan diambil, itu merupakan tanggung jawab dua orang. Sulit? Pasti! Dua kepala disatukan, dua ide menjadi satu, dua prinsip perlu dilebur jadi satu bukan lah hal yang mudah. But this is the art of being in relationship.

Ya, kasarnya kalau belum siap untuk menghadapi kondisi ini, mungkin kalian belum siap untuk menjalin suatu hubungan. Komunikasi dua arah ini adalah kuncinya, saling menyampaikan ide, pendapat, serta prinsip satu sama lain. Belajar untuk saling memahami pribadi satu sama lain, belajar untu sama-sama menurunkan ego masing-masing untuk mencapai suatu kesepakatan bersama. Saat salah satu sudah merasa ‘lebih’ atau ‘diatas’ dari yang lain, otomatis komunikasi dan kerjasama tadi tidak akan berjalan dengan baik.

Terakhir, buat teman-teman yang sedang menuju hubungan yang lebih serius, seperti pernikahan, boleh yuk kita refleksi dulu, apakah komunikasi dan kerjasama kalian sudah berjalan secara dua arah? 🙂

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1
LIVE YOUR LIFE 😇

oleh: Seruni Yuniarti

“Aku cape deh kalau harus ikutin semua tuntutan orang tua?”

Sekarang pertanyaannya, siapa yang mengharuskan? Mereka? Apa kita yang “merasa” punya keharusan? Apakah iya mereka pernah secara gamblang menyampaikan hal tersebut?

Contoh di atas hanyalah salah satu contoh dari banyak cerita klien maupun kerabat. Uniknya, tuntutan ini tidak hanya muncul dari orang tua atau pihak keluarga. Ada beberapa yang merasa tertekan karena tuntutan dari teman, pacar, dan bahkan tetangga. Kita sebagai mahluk sosial memang sangat wajar memiliki keinginan untuk selalu “blend-in” di lingkungan dan keinginan untuk diterima di lingkungan juga merupakan hal yang wajar. Namun kadang kita lupa untuk siapa sebenarnya kita hidup, apakah iya tujuannya selalu untuk memenuhi ekspektasi orang lain? Atau untuk mencapai tujuan dan cita sendiri?

Sebenarnya keduanya tidak ada salahnya, mau fokus pada cita sendiri, maupun fokus untuk memenuhi ekspektasi orang lain, terutama orang terdekat. Hanya saja, yang jadi masalah adalah kita melakukan itu semua secara terpaksa.

Aku paham bahwa tidak mudah untuk menolak ekspektasi orang terhadap kita, apalagi seperti yang sudah aku sampaikan di atas, kita ini adalah mahluk sosial yang perlu blend in sama lingkungan dan orang-orang di lingkungan tersebut. Tapi disisi lain, kita juga perlu memiliki kemampuan untuk standup for yourself. Kemampuan untuk set a bounderies,kemampuan untuk bilang tidak untuk hal-hal yang kita rasa tidak mungkin kita lakukan atau membuat kita tidak nyaman. Salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana cara kita menyampaikan kata “tidak” tersebut.

“Our happiness and well being is our responsibles, not others”

Ketika kita bisa melakukan penolakan dengan tepat, hal ini tidak akan jadi masalah baru. Seringnya yang jadi permasalahan adalah karena kita sendiri ngga tau cara menolaknya seperti apa. Akhirnya memilih untuk saying yes sambil misuh-misuh dan tertekan, atau bilang tidak dengan cara yang salah dan akhirnya malah jadi masalah baru. Maka dari itu kemampuan komunikasi sangat penting dalam hal ini. Kita perlu menjelaskan hal apa yang membuat kita bilang tidak, dan kalau perlu kita cari jalan tengahnya supaya dua ekspektasi tersebut bertemu. Daaann hal ini perlu latihan yang perlu waktu, tidak terjadi dalam satu malam.

“The problem is not about things that we said, but it’s about how we said”

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF

🔥 COMING SOON 🔥


Ask the Experts #Edisi410
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts

Siapa nih, yang udah berlatih agar tetap terlihat PD tapi masih saja insecure ?? Tenang, kalian gak sendiri, mimin juga gitu kok.. hehe
yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi410 📝

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram

#INISIATIF #GrowthMindset
Forwarded from Effi Ekayanti-RO-K9-KC Palopo
Salam INSIATIF

🔥 COMING SOON 🔥


Ask the Experts #Edisi411
Halo Bapak/Ibu Sobat ATE, yuk join di INISIATIF Class bersama Ask the Experts

SGBV ?? Apaan tuh miin ??
Waduh, mimin juga baru denger niih..
Tapi kalo ngebahas keamanan dan kekerasan dalam lingkungan kita saat bekerja, gimana ? yuk kita belajar bareng di ATE Sharing #Edisi411 📝

Dengan sharing, Bisa meng#INSPIRASI

Join COMMIT Ask the Experts (Grup terbatas hanya untuk internal BPJS Kesehatan) --> Link Telegram

#INISIATIF #GrowthMindset
PROFESSIONAL DECLINE 🫠

Oleh: Iwan Kusworo

Selamat pagi, teman-teman!

Pagi ini saya melanjutkan baca buku From Strength to Strength (Arthur C. Brooks).

Buku ini menyoroti fenomena di sekitar kita di mana umumnya di usia 40-an tahun, orang akan mengalami ”professional decline” atau penurunan dalam prestasi profesional. 🙏

Penulis menuliskan data penelitian menunjukkan bahwa usia seseorang berada dalam puncak performa profesionalnya ada di rentang 20-40 tahun.

Penurunan ini salah satunya dipengaruhi oleh perubahan struktur otak, terutama di bagian pre-frontal cortex yang sangat berperan dalam proses mengingat.

Selain itu penulis juga menyebutkan tentang ”principle of psychoprofessional gravitation” yaitu gagasan bahwa ada satu penderitaan luar biasa yang dirasakan oleh orang-orang yang pernah mencapai puncak karir, di mana mereka masih belum bisa melepaskan perasaan bangga, perasaan dihormati dan disegani, yang dirasakannya saat itu. Ada "emotional attachment” atau ikatan emosional yang terlibat di situ, yang ketika mereka melihat ke masa kini, mereka kemudian merasa tidak berguna dan tidak berharga lagi.

Perasaan ini juga dipicu oleh kondisi lingkungan yang membuat apa yang pernah dia banggakan dulu sudah tidak relevan lagi di masa kini.

Di buku ini dicontohkan ada pemilik toko buku langka, yang 20 tahun lalu menikmati masa kejayaannya, namun sekarang dia merasa orang lain sudah tidak membutuhkannya lagi.

”I’ve seen myself through the eyes of the people across the table. What do they see? I guess I’d have to say ‘yesterday’” 😢

(Saya melihat diri saya sendiri melalui mata orang-orang di seberang meja. Apa yang mereka lihat? Saya rasa saya harus mengatakan 'kemarin')

Topik yang diangkat di buku ini sangat menarik dan sangat relevan, terutama dengan makin merebaknya AI di sekitar kita. Untuk jadi bahan perenungan bahwa professional decline ini kemungkinan akan lebih cepat terjadi.

Seperti yang tertulis di judul chapter pertama buku ini:

"Your professional decline is coming (much) sooner than you think.” (Kemunduran profesional Anda datang (jauh) lebih cepat dari yang Anda kira)

Stay relevant! ❤️

Have a nice day! 😊

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
2🔥1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🎤Masih muda, kebanyakan tapi-tapi 🎼

Tmn2 selindo jangan lupa yuk galakkan kebiasaan senam/olahraga rutin di setiap unit kerjanya. Paling minimal banget itu 1 x seminggu 💪

#INISIATIF #fitlife
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥1
Oleh: Muhammad Farid Maricar

Dua hari lalu ke Gramedia, akhirnya beli buku The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim. Setelah baca buku ini, saya merasa “gue banget”.

Buku ini mengajarkan tentang hidup yang santai, nggak terjebak dengan ekspektasi sosial, dan lebih fokus pada apa yang benar-benar penting. Saya memang senang menjalani hidup balance, karena saya bukan bagian dari ‘sandwich generation.’

Saya paham, banyak orang yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhan, terutama mereka yang harus menanggung beban finansial untuk orang tua sekaligus anak-anaknya. Itu pilihan yang harus dihormati. Tapi, kalau kerja keras cuma demi gengsi, nama baik, atau gaya hidup, akhirnya ya capek sendiri.

Karena, jujur saja, standar ‘penting’ atau ‘tidak penting’ itu beda-beda untuk tiap orang. Masa kita harus memenuhi standar semua orang? Caaapeek laah

Nah, ada salah satu bagian dari buku ini yang sangat berkesan. Di sini disebutkan bahwa ada tiga hal yang perlu kita pahami agar membebaskan kita dari rasa terpenjara oleh pendapat orang lain:

1. Orang-orang tuh nggak sepeduli itu sama kita ✔️
Serius, nggak ada orang yang bakal peduli hari ini kita pakai baju apa, bahkan kalau kita pakai baju yang sama dengan kemarin. Orang-orang lebih sibuk dengan hidup mereka sendiri. Kecuali, orang itu benar-benar memikirkan kita.

Biasanya orang begini adalah orang yang menganggap kita rival atau saingan. Semua hidup kita mau dikepoin, dicari kekurangannya, hanya agar dia merasa lebih baik dari kita saat mereka mendapatkan kekurangan kita.

Makanya, saya nggak terlalu mikirin penampilan. Jarang nyisir, jarang beli baju baru. Kecuali, mungkin kalau saya selebritis yang selalu disorot lambe turah 24/7, itu beda cerita.

2. Nggak semua orang harus suka sama kita ✔️
Sorry to say, tapi saya nggak peduli orang suka sama saya atau enggak. Selama apa yang saya lakukan nggak melanggar prinsip agama, hukum, atau hak orang lain, ya bodo amat. Kita nggak mungkin menyenangkan semua orang, dan itu nggak masalah. Fokus aja pada apa yang benar-benar penting untuk hidup kita.

3. Jujur pada diri sendiri: kebaikan yang kita lakukan adalah untuk kita sendiri ✔️
Setiap kebaikan yang saya lakukan bukan untuk orang lain, apalagi karena saya ‘butuh’ mereka. Niat saya adalah untuk mendapatkan pahala dari Allah. Ada ayat yang indah di surah Ar-Rahman (60): “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” Itu yang selalu saya pegang. Kalau ternyata kebaikan saya melukai ego orang lain? Ya, bodo amat. Karena terkadang, orang yang egonya terlalu besar perlu ‘diingatkan’ bahwa mereka nggak sepenting itu.

Makanya, nggak usah terlalu mikirin apa kata orang. Yang penting, kita nggak melanggar hak-hak mereka. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengejar validasi orang lain. Apalagi, kalau itu sampai bikin kita melukai orang lain atau mengambil apa yang bukan hak kita. Kalau ada yang merasa ‘terluka’ hanya karena egonya tersinggung? Biarin aja. Kadang, orang egois memang perlu dibikin sadar biar ngerti realitas.

Ingat, kita semua nanti akan sendirian di kubur. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk saat itu. Jangan sampai apa yang kita kejar selama hidup ini cuma untuk memenuhi ekspektasi orang lain, tapi akhirnya nggak ada artinya buat kita. Jadi, santai aja. Hidup balance. Fokus sama apa yang benar-benar penting buat kita.

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Delegasi BPJS Kesehatan Chess Club 🤩🥰🇲🇨
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Terpantau delegasi dari Universitas Binus didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) ahli data dan IT 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Sementara untuk Delegasi dari Universitas Negeri Surabaya didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) Pendidikan dan Teknik 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Begitupun dari Delegasi dari Universitas Pendidikan Indonesia, meskipun jumlahnya sedikit, mereka didominasi oleh adik-adik mahasiswa(i) Pendidikan dan MIPA 🔥
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
LIFE IS A GAME, WE CAN'T UNDO A MOVE, BUT WE CAN MAKE THE NEXT ONE BETTER 🔥

Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Binus, Tim UKM Catur Universitas Negeri Surabaya, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Indonesia dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada Sabtu, 22 Februari 2025. Semoga kolaborasi dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga 💯1️⃣🤝

Boleh join dan saksikan keseruannya di sini: (🔓Password: DNAINISIATIF)
Link Arena turnamen battle BPJS Kes Vs Unesa Vs UPI Vs Binus 🔗


#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
142 - 133 - 118 - 106 🤝

Hanya untuk menghindari kehilangan sebuah pion, akhirnya banyak orang yang harus kalah dalam permainan 🙏


What a Game? Permainan yang sangat seru dan berkesan antara COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club dengan adik-adik mahasiswa(i) dari UKM Catur Universitas Pendidikan Indonesia, UKM Catur Universitas Negeri Surabaya, dan UKM Catur Universitas Binus dalam INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION. Selamat kepada para Juara dan pemenang Doorprize. Sampai bertemu kembali pada arena fun and meaningful selanjutnya, jangan lupa Selalu Berpikir Sebelum Bertindak 🇲🇨

#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
1