Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Saat ini banyak yang mudah kegocek, karena sejatinya mereka belum benar-benar tahu. Silakan dishare biar makin banyak yang #pahamJKN ๐ซก
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu rekan kita Sobat ATE kakak @alfonsoarthur. Semoga segala amal ibadah dan dedikasi beliau diterima oleh Tuhan YME. Perjuanganmu akan kami lanjutkan ๐ซก
Kirim doa terbaik๐คฒ
Kirim doa terbaik
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Every Pawn has the Potential to be a Queen๐ฅ
Kami mengucapkan Terima Kasih sekaligus ucapan Selamat kepada para pemenang atas pertandingan yang sangat berkesan antara rekan-rekan pecinta catur BPJS Kesehatan dengan adik-adik mahasiswa(i) dari Universitas Indonesia Gadjah Mada dan Universitas Pendidikan Ganesha dalam lanjutan INISIATIF Chess Arena Collaboration Vol 3 Tahun 2025
Sampai bertemu kembali pada momen berbahagia selanjutnya, jangan lupa Selalu Berpikir Sebelum Bertindakโ๏ธ
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kemarin kita sudah bahas sosok Ibu di Squid Game 2. MasyaAllah responnya luar biasa
https://t.me/c/1287712664/190310
Sekarang kita bahas sosok Ayah. Ayah yang bernomor 246. Namanya Gyeng Seok. Dia ikut Squid game untuk membayar pengobatan anaknya. Anak atau putrinya yang lucu itu terkena kanker darah.
Menarik putri Gyeng Seok dekat dengan salah satu snipper bernomor 011. Saat 011 belum kerja sebagai snipper, dia jadi badut. Saat jadi badut itulah dia ketemu putrinya Gyeng Seok. Suka kasih permen yang bikin putri 246 selalu menantikan badut itu. Disitulah, mereka dekat secara emosional.
Maka saat di area squid game. Snipper 011 berusaha melindungi pemain 246. Sebab dia tahu, dia adalah Ayah dari seorang putri yang sedang sakit kanker darah. Saat di permainan pertama, harusnya 246 ditemb*k karena bergerak, tapi 246 tidak ditemb*k. Meski di endingnya nomor 011 menemb*k 246. Tapi masih misteri, mati atau tidak nya. Sepertinya tidak. Hehe
Back to Ayah. Ayah dalam diamnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mayoritas Ayah pasti sayang pada anak-anaknya. Ingatlah bagaimana Ayah kita. Telah banyak keringat lelahnya berjatuhan di bumi demi menafkahi kita, demi menyekolahkan kita, demi kebahagiaan anak-anaknya.
Ayah juga bertaruh nyawa. Seringkali pekerjaannya beresiko. Tapi Ayah tak pernah bilang, "Ayah capek, nak". Ayah tetap pulang dengan wajah yang ceria. Segala lelahnya seperti hilang ketika melihat anaknya, ketika melihat masa depannya.
Ada Ayah yang meski hujan deras di saat malam, ia tetap ngojek. Dia belum mau pulang sebelum targetnya tercapai. Apa yang membuatnya semangat? Ada foto istri dan anak-anaknya yang menempel di motornya. Itu yang bikin ia terus semangat. MasyaAllah. Sehat-sehat untuk seluruh Ayah di dunia.
oleh: Kak Oksa
#INISIATIF
https://t.me/c/1287712664/190310
Sekarang kita bahas sosok Ayah. Ayah yang bernomor 246. Namanya Gyeng Seok. Dia ikut Squid game untuk membayar pengobatan anaknya. Anak atau putrinya yang lucu itu terkena kanker darah.
Menarik putri Gyeng Seok dekat dengan salah satu snipper bernomor 011. Saat 011 belum kerja sebagai snipper, dia jadi badut. Saat jadi badut itulah dia ketemu putrinya Gyeng Seok. Suka kasih permen yang bikin putri 246 selalu menantikan badut itu. Disitulah, mereka dekat secara emosional.
Maka saat di area squid game. Snipper 011 berusaha melindungi pemain 246. Sebab dia tahu, dia adalah Ayah dari seorang putri yang sedang sakit kanker darah. Saat di permainan pertama, harusnya 246 ditemb*k karena bergerak, tapi 246 tidak ditemb*k. Meski di endingnya nomor 011 menemb*k 246. Tapi masih misteri, mati atau tidak nya. Sepertinya tidak. Hehe
Back to Ayah. Ayah dalam diamnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mayoritas Ayah pasti sayang pada anak-anaknya. Ingatlah bagaimana Ayah kita. Telah banyak keringat lelahnya berjatuhan di bumi demi menafkahi kita, demi menyekolahkan kita, demi kebahagiaan anak-anaknya.
Ayah juga bertaruh nyawa. Seringkali pekerjaannya beresiko. Tapi Ayah tak pernah bilang, "Ayah capek, nak". Ayah tetap pulang dengan wajah yang ceria. Segala lelahnya seperti hilang ketika melihat anaknya, ketika melihat masa depannya.
Ada Ayah yang meski hujan deras di saat malam, ia tetap ngojek. Dia belum mau pulang sebelum targetnya tercapai. Apa yang membuatnya semangat? Ada foto istri dan anak-anaknya yang menempel di motornya. Itu yang bikin ia terus semangat. MasyaAllah. Sehat-sehat untuk seluruh Ayah di dunia.
oleh: Kak Oksa
#INISIATIF
๐1
Wisata Bencana Cermin Hedonisme Digital ๐ซฅ
oleh: Wicaksono
Di sebuah kedai kopi di sudut Los Angeles, Uka, seorang selebritas asal Indonesia, duduk termenung. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena baru saja menerima teguran keras dari seorang warga lokal.
Beberapa jam sebelumnya, Uka dengan penuh semangat merekam video di depan rumah yang terbakar akibat kebakaran besar yang melanda kota tersebut. Sambil berbicara di depan kamera, ia mengabaikan suasana duka yang menyelimuti lokasi.
Teguran itu datang dari pemilik rumah yang marah, "Kamu siapa? Ini properti pribadi saya. Berhenti merekam!" Uka terpaku, tak menyangka aksinya akan memicu amarah.
Fenomena ini hanyalah salah satu contoh dari tren yang makin sering terjadi: wisata bencana. Di era media sosial, tragedi manusiawi sering kali berubah menjadi ajang eksploitasi, bukan untuk meningkatkan kesadaran atau membantu korban, melainkan demi konten yang bisa mengundang likes dan komentar. Dari tragedi ledakan di Beirut hingga kebakaran di Los Angeles, fenomena ini mencerminkan dorongan hedonisme digital, hilangnya rasa empati, dan normalisasi eksploitasi tragedi.
oleh: Wicaksono
Di sebuah kedai kopi di sudut Los Angeles, Uka, seorang selebritas asal Indonesia, duduk termenung. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena baru saja menerima teguran keras dari seorang warga lokal.
Beberapa jam sebelumnya, Uka dengan penuh semangat merekam video di depan rumah yang terbakar akibat kebakaran besar yang melanda kota tersebut. Sambil berbicara di depan kamera, ia mengabaikan suasana duka yang menyelimuti lokasi.
Teguran itu datang dari pemilik rumah yang marah, "Kamu siapa? Ini properti pribadi saya. Berhenti merekam!" Uka terpaku, tak menyangka aksinya akan memicu amarah.
Fenomena ini hanyalah salah satu contoh dari tren yang makin sering terjadi: wisata bencana. Di era media sosial, tragedi manusiawi sering kali berubah menjadi ajang eksploitasi, bukan untuk meningkatkan kesadaran atau membantu korban, melainkan demi konten yang bisa mengundang likes dan komentar. Dari tragedi ledakan di Beirut hingga kebakaran di Los Angeles, fenomena ini mencerminkan dorongan hedonisme digital, hilangnya rasa empati, dan normalisasi eksploitasi tragedi.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Saat Uka kembali ke Indonesia, ia mengunjungi rumah Paklik Isnogud, seorang pensiunan yang terkenal bijaksana. Uka menceritakan pengalamannya di Los Angeles dengan nada penuh kebingungan.
โPaklik, saya hanya ingin memberikan informasi kepada penonton saya. Kenapa mereka marah?โ tanya Uka.
Paklik Isnogud menghela napas panjang sambil menyesap kopi hitam. โUka, kamu tahu apa yang salah? Saat tragedi berubah menjadi latar belakang konten, kamu sedang mengesampingkan penderitaan manusia. Itu yang disebut normalisasi eksploitasi tragedi. Kamu menjadikan duka orang lain sebagai alat untuk menghibur atau mempercantik feed media sosialmu.โ
โMasalahnya, Nak,โ lanjut Paklik, โmedia sosial menciptakan dorongan hedonisme digital. Orang-orang ingin mendapatkan validasi instan dalam bentuk likes dan komentar. Tragisnya, semakin dramatis atau kontroversial sebuah konten, semakin besar peluang untuk viral. Inilah yang membuat banyak orang tergoda untuk merekam tragedi tanpa berpikir panjang.โ
โJadi saya salah karena mengikuti tren?โ tanya Uka dengan nada rendah.
โBukan hanya soal tren, Uka. Ini tentang hilangnya rasa empati. Kamu begitu fokus pada angka dan popularitas hingga lupa bahwa di balik layar ada manusia yang menderita,โ jawab Paklik sambil menatap tajam.
Paklik melanjutkan dengan nada tegas, โKita juga punya masalah lain: normalisasi eksploitasi tragedi. Ketika orang-orang terus merekam dan mengunggah konten dari lokasi bencana, itu memberikan pesan bahwa perilaku ini bisa diterima. Padahal, ini adalah bentuk penghinaan terhadap para korban. Alih-alih membantu, kamu malah mengganggu proses pemulihan mereka.โ
Uka terdiam, menyadari bahwa niat baiknya untuk memberikan informasi justru berubah menjadi tindakan yang menyakitkan bagi orang lain.
Paklik mengubah nada bicara menjadi lebih lembut. โUka, ini bukan akhir dunia. Tapi kamu harus belajar literasi digital yang benar. Literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai kamera atau mengedit video, tapi juga soal memahami dampak dari apa yang kamu unggah. Kamu harus tahu kapan merekam dan kapan menaruh kamera.โ
โBagaimana caranya, Paklik?โ tanya Uka dengan nada penasaran.
โPertama, hormati privasi korban. Jangan pernah merekam tanpa izin, apalagi di tempat yang penuh duka. Kedua, kalau kamu benar-benar ingin membantu, buatlah konten yang menginspirasi aksi nyata, seperti ajakan berdonasi atau kampanye kesadaran. Dan yang paling penting, tanya dirimu sendiri: apakah konten ini akan menyakiti atau membantu?โ
Paklik Isnogud melanjutkan nasihatnya. "Kreator konten seperti kamu, Uka, janganlah mengejar sensasi. Pahamilah bahwa tragedi bukan panggung. Berhenti mengeksploitasi penderitaan demi popularitas.
Sebelum merekam atau mengunggah, bayangkan dirimu berada di posisi korban. Bagaimana perasaanmu jika tragedimu menjadi hiburan?
Lebih baik kau gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan untuk mengeksploitasi. Fokus pada dampak positif daripada angka viral.
Media sosial bisa menjadi alat untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Jadi gunakan platform ini untuk menyebarkan empati, bukan eksploitasi.โ
โEmpati, Uka, adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, meski hidup di dunia digital. Tragedi bukanlah panggung, dan manusia bukanlah alat. Di dunia di mana 'likes' lebih dihargai daripada kepedulian, kita harus ingat bahwa empati adalah nilai yang tidak boleh hilang, bahkan di era digital."
#INISIATIF
โPaklik, saya hanya ingin memberikan informasi kepada penonton saya. Kenapa mereka marah?โ tanya Uka.
Paklik Isnogud menghela napas panjang sambil menyesap kopi hitam. โUka, kamu tahu apa yang salah? Saat tragedi berubah menjadi latar belakang konten, kamu sedang mengesampingkan penderitaan manusia. Itu yang disebut normalisasi eksploitasi tragedi. Kamu menjadikan duka orang lain sebagai alat untuk menghibur atau mempercantik feed media sosialmu.โ
โMasalahnya, Nak,โ lanjut Paklik, โmedia sosial menciptakan dorongan hedonisme digital. Orang-orang ingin mendapatkan validasi instan dalam bentuk likes dan komentar. Tragisnya, semakin dramatis atau kontroversial sebuah konten, semakin besar peluang untuk viral. Inilah yang membuat banyak orang tergoda untuk merekam tragedi tanpa berpikir panjang.โ
โJadi saya salah karena mengikuti tren?โ tanya Uka dengan nada rendah.
โBukan hanya soal tren, Uka. Ini tentang hilangnya rasa empati. Kamu begitu fokus pada angka dan popularitas hingga lupa bahwa di balik layar ada manusia yang menderita,โ jawab Paklik sambil menatap tajam.
Paklik melanjutkan dengan nada tegas, โKita juga punya masalah lain: normalisasi eksploitasi tragedi. Ketika orang-orang terus merekam dan mengunggah konten dari lokasi bencana, itu memberikan pesan bahwa perilaku ini bisa diterima. Padahal, ini adalah bentuk penghinaan terhadap para korban. Alih-alih membantu, kamu malah mengganggu proses pemulihan mereka.โ
Uka terdiam, menyadari bahwa niat baiknya untuk memberikan informasi justru berubah menjadi tindakan yang menyakitkan bagi orang lain.
Paklik mengubah nada bicara menjadi lebih lembut. โUka, ini bukan akhir dunia. Tapi kamu harus belajar literasi digital yang benar. Literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai kamera atau mengedit video, tapi juga soal memahami dampak dari apa yang kamu unggah. Kamu harus tahu kapan merekam dan kapan menaruh kamera.โ
โBagaimana caranya, Paklik?โ tanya Uka dengan nada penasaran.
โPertama, hormati privasi korban. Jangan pernah merekam tanpa izin, apalagi di tempat yang penuh duka. Kedua, kalau kamu benar-benar ingin membantu, buatlah konten yang menginspirasi aksi nyata, seperti ajakan berdonasi atau kampanye kesadaran. Dan yang paling penting, tanya dirimu sendiri: apakah konten ini akan menyakiti atau membantu?โ
Paklik Isnogud melanjutkan nasihatnya. "Kreator konten seperti kamu, Uka, janganlah mengejar sensasi. Pahamilah bahwa tragedi bukan panggung. Berhenti mengeksploitasi penderitaan demi popularitas.
Sebelum merekam atau mengunggah, bayangkan dirimu berada di posisi korban. Bagaimana perasaanmu jika tragedimu menjadi hiburan?
Lebih baik kau gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan untuk mengeksploitasi. Fokus pada dampak positif daripada angka viral.
Media sosial bisa menjadi alat untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Jadi gunakan platform ini untuk menyebarkan empati, bukan eksploitasi.โ
โEmpati, Uka, adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, meski hidup di dunia digital. Tragedi bukanlah panggung, dan manusia bukanlah alat. Di dunia di mana 'likes' lebih dihargai daripada kepedulian, kita harus ingat bahwa empati adalah nilai yang tidak boleh hilang, bahkan di era digital."
#INISIATIF
โค3๐1๐1๐1
Drag Force (Gaya Hambat) dan Filosofi Hidup ๐ฅฐ
oleh: Muhammad Farid Maricar
Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai bentuk hambatan, seperti angin yang menerpa pohon tinggi. Dalam ilmu mekanika fluida dan hidrolika, hambatan ini disebut sebagai drag force, yaitu gaya hambat yang dialami oleh suatu benda saat bergerak melalui fluida seperti udara atau air. Untuk rumus umumnya bisa baca di gambar ini.
Hambatan adalah Bagian dari Pertumbuhan
Semakin tinggi pohon, luas permukaan yang terpapar angin meningkat, sehingga drag force menjadi lebih besar. Pohon tinggi juga lebih rentan terhadap angin kencang yang dapat menekuk atau merobohkannya.
Sama seperti pohon yang semakin tinggi menerima lebih banyak angin, manusia yang mencapai posisi tinggi dalam karier, ilmu pengetahuan, atau kehidupan sosial menghadapi lebih banyak hambatan.
Hambatan ini bisa berupa tanggung jawab yang lebih besar, kritik dari orang lain, atau tekanan untuk terus berkembang. Hambatan-hambatan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai halangan, tetapi diterima sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menguatkan.
Keseimbangan adalah Kunci Stabilitas
Cara terbaik untuk menjaga pohon tetap berdiri adalah akar yang kuat dan fondasi tempat berdirinya yang kuat. Karena hal ini akan menjaga pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin atau aliran air banjir. Semakin besar drag force, semakin penting peran akar sebagai penyeimbang.
Akar dan fondasi manusia dalam hidup adalah nilai dan prinsip yang dipegang, hubungan dengan orang lain, serta dukungan moral dari keluarga dan sahabat. Akar ini memberikan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tekanan hidup.
Karenanya, penting untuk memperkuat akar kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, prinsip yang kokoh, dan keimanan. Dengan akar yang kuat, kita dapat tetap stabil meski angin kehidupan menerpa.
Fleksibilitas Dapat Mengurangi Risiko
Batang pohon dan ranting pada dedaunan yang fleksibel dapat membelokkan energi angin alih-alih menahannya langsung, sehingga risiko patah atau roboh berkurang. Tentu, bentuk yang dinamis juga mempengaruhi koefisiennya.
Itulah mengapa, terkadang kita perlu lebih fleksibilitas dalam pemikiran, tindakan, dan keputusan. Karena hal ini membantu seseorang menghadapi tantangan dengan cara yang adaptif, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita pegang. Kekakuan, baik dalam prinsip maupun perilaku, sering kali menjadi penyebab kegagalan.
Karenanya, jangan takut untuk beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Dengan fleksibilitas, kita dapat "membelokkan" tekanan hidup tanpa harus patah secara utuh.
Rendah Hati di Tengah Ketinggian
Pohon yang tinggi memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti naungan, oksigen, dan ekosistem yang sehat. Pohon tidak pernah menonjolkan dirinya, tetapi justru berfungsi sebagai pelindung.
Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia, semakin besar pencapaian kita, semakin besar pula tanggung jawab sosial untuk berbagi manfaat kepada sesama. Keberhasilan harus disertai dengan sikap rendah hati.
Karenanya, syarat menjadi pohon tinggi yang memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa perlu berbangga diri. Karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagaimana memberikan berdampak positif pada orang lain.
Karenanya drag force dalam mekanika fluida, tetapi juga memberikan pelajaran filosofis yang dalam. Semakin tinggi pohon (atau manusia dalam kehidupan), semakin besar hambatan yang harus dihadapi.
Namun, dengan akar yang kuat, batang yang fleksibel, dan dedaunan yang strategis, pohon (atau manusia) dapat tetap berdiri tegak. Filosofi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan, fleksibilitas, dan rendah hati untuk menghadapi tantangan hidup.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF
oleh: Muhammad Farid Maricar
Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai bentuk hambatan, seperti angin yang menerpa pohon tinggi. Dalam ilmu mekanika fluida dan hidrolika, hambatan ini disebut sebagai drag force, yaitu gaya hambat yang dialami oleh suatu benda saat bergerak melalui fluida seperti udara atau air. Untuk rumus umumnya bisa baca di gambar ini.
Hambatan adalah Bagian dari Pertumbuhan
Semakin tinggi pohon, luas permukaan yang terpapar angin meningkat, sehingga drag force menjadi lebih besar. Pohon tinggi juga lebih rentan terhadap angin kencang yang dapat menekuk atau merobohkannya.
Sama seperti pohon yang semakin tinggi menerima lebih banyak angin, manusia yang mencapai posisi tinggi dalam karier, ilmu pengetahuan, atau kehidupan sosial menghadapi lebih banyak hambatan.
Hambatan ini bisa berupa tanggung jawab yang lebih besar, kritik dari orang lain, atau tekanan untuk terus berkembang. Hambatan-hambatan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai halangan, tetapi diterima sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menguatkan.
Keseimbangan adalah Kunci Stabilitas
Cara terbaik untuk menjaga pohon tetap berdiri adalah akar yang kuat dan fondasi tempat berdirinya yang kuat. Karena hal ini akan menjaga pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin atau aliran air banjir. Semakin besar drag force, semakin penting peran akar sebagai penyeimbang.
Akar dan fondasi manusia dalam hidup adalah nilai dan prinsip yang dipegang, hubungan dengan orang lain, serta dukungan moral dari keluarga dan sahabat. Akar ini memberikan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tekanan hidup.
Karenanya, penting untuk memperkuat akar kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, prinsip yang kokoh, dan keimanan. Dengan akar yang kuat, kita dapat tetap stabil meski angin kehidupan menerpa.
Fleksibilitas Dapat Mengurangi Risiko
Batang pohon dan ranting pada dedaunan yang fleksibel dapat membelokkan energi angin alih-alih menahannya langsung, sehingga risiko patah atau roboh berkurang. Tentu, bentuk yang dinamis juga mempengaruhi koefisiennya.
Itulah mengapa, terkadang kita perlu lebih fleksibilitas dalam pemikiran, tindakan, dan keputusan. Karena hal ini membantu seseorang menghadapi tantangan dengan cara yang adaptif, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita pegang. Kekakuan, baik dalam prinsip maupun perilaku, sering kali menjadi penyebab kegagalan.
Karenanya, jangan takut untuk beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Dengan fleksibilitas, kita dapat "membelokkan" tekanan hidup tanpa harus patah secara utuh.
Rendah Hati di Tengah Ketinggian
Pohon yang tinggi memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti naungan, oksigen, dan ekosistem yang sehat. Pohon tidak pernah menonjolkan dirinya, tetapi justru berfungsi sebagai pelindung.
Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia, semakin besar pencapaian kita, semakin besar pula tanggung jawab sosial untuk berbagi manfaat kepada sesama. Keberhasilan harus disertai dengan sikap rendah hati.
Karenanya, syarat menjadi pohon tinggi yang memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa perlu berbangga diri. Karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagaimana memberikan berdampak positif pada orang lain.
Karenanya drag force dalam mekanika fluida, tetapi juga memberikan pelajaran filosofis yang dalam. Semakin tinggi pohon (atau manusia dalam kehidupan), semakin besar hambatan yang harus dihadapi.
Namun, dengan akar yang kuat, batang yang fleksibel, dan dedaunan yang strategis, pohon (atau manusia) dapat tetap berdiri tegak. Filosofi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan, fleksibilitas, dan rendah hati untuk menghadapi tantangan hidup.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Bahan renungan bersama:
1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga
2. Jangan pernah kamu kotori rumah tempat kamu tinggal dan berlindung
3. Jangan pernah kamu jelekkan kantor/tempat kamu bekerja untuk mencari nafkah
4. Jangan pernah kamu fitnah teman atau sahabat tempat kamu curhat, berbagi kisah, meminta nasehat/pendapat bahkan meminjam sesuatu, walau apa yg kamu dapat atau terima tidak sesuai harapanmu, karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jangan kamu sebarkan hoax, kebencian, hasutan, juga fitnah di media sosial terkait rekan atau tempat kerjamu
TETAPI...
1. Jika kamu sudah tidak butuh sumur yang lama, silakan buatlah sumur yang baru tanpa harus meludahi dan membuang sampah ke dalam sumur yang lama
2. Jika rumah tempat kamu tinggal dan berlindung sudah kotor, coba bersihkanlah jangan malah kamu tambahkan kotoran dan sampah yang baru
3. Jika tempat kamu bekerja dan mencari nafkah sudah tidak cocok dan membosankan, pindahlah dan carilah tempat kerja yang baru yang sesuai dengan harapanmu, tanpa harus menjelekan dan merendahkan tempat kerja yang lama
4. Jika teman atau sahabat tempat kamu curhat, diskusi, minta masukan dan nasehat bahkan meminjam sesuatu meskipun apa yang kamu dapat tidak pernah sesuai dengan apa yang kamu harapkan, maklumilah mereka karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jika grup kamu berada dan tempat kamu berbagi salam, doa, harapan, humor yang sehat, video, foto kebersamaan terasa sudah tidak nyaman/cocok/tidak betah dan tidak sefrekwensi lagi dengan passionmu, keluarlah baik-baik tanpa harus menyebar hoax, fitnah, hasutan, hujatan, kebencian dll, terlebih bila kamu masih mau stay di grup tersebut.๐
Have a nice Day๐ฅฐ
#INISIATIF
1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga
2. Jangan pernah kamu kotori rumah tempat kamu tinggal dan berlindung
3. Jangan pernah kamu jelekkan kantor/tempat kamu bekerja untuk mencari nafkah
4. Jangan pernah kamu fitnah teman atau sahabat tempat kamu curhat, berbagi kisah, meminta nasehat/pendapat bahkan meminjam sesuatu, walau apa yg kamu dapat atau terima tidak sesuai harapanmu, karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jangan kamu sebarkan hoax, kebencian, hasutan, juga fitnah di media sosial terkait rekan atau tempat kerjamu
TETAPI...
1. Jika kamu sudah tidak butuh sumur yang lama, silakan buatlah sumur yang baru tanpa harus meludahi dan membuang sampah ke dalam sumur yang lama
2. Jika rumah tempat kamu tinggal dan berlindung sudah kotor, coba bersihkanlah jangan malah kamu tambahkan kotoran dan sampah yang baru
3. Jika tempat kamu bekerja dan mencari nafkah sudah tidak cocok dan membosankan, pindahlah dan carilah tempat kerja yang baru yang sesuai dengan harapanmu, tanpa harus menjelekan dan merendahkan tempat kerja yang lama
4. Jika teman atau sahabat tempat kamu curhat, diskusi, minta masukan dan nasehat bahkan meminjam sesuatu meskipun apa yang kamu dapat tidak pernah sesuai dengan apa yang kamu harapkan, maklumilah mereka karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jika grup kamu berada dan tempat kamu berbagi salam, doa, harapan, humor yang sehat, video, foto kebersamaan terasa sudah tidak nyaman/cocok/tidak betah dan tidak sefrekwensi lagi dengan passionmu, keluarlah baik-baik tanpa harus menyebar hoax, fitnah, hasutan, hujatan, kebencian dll, terlebih bila kamu masih mau stay di grup tersebut.
Have a nice Day
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โค22๐13๐6๐ฅ3โคโ๐ฅ1
Mengapa Kita Harus Waspada Terhadap "Anchoring Bias" di Media Sosial? ๐ฉโ๐ป
oleh: Wicaksono
Teman-teman, mari kita bayangkan kita sedang berselancar di dunia media sosial. Semua orang di sini pasti pernah membuka ponsel, melihat berita, atau mungkin membaca postingan teman, bukan?
Nah, pernahkah teman-teman merasa langsung percaya pada informasi pertama yang kalian baca, meskipun belum tahu kebenarannya? Itulah yang disebut dengan anchoring bias.
Anchoring bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi awal (atau "anchor") ketika membuat keputusan atau menilai sesuatu, bahkan jika informasi awal tersebut kurang relevan atau akurat. Bias ini biasanya terjadi secara tidak sadar, memengaruhi cara seseorang memahami situasi atau membuat pilihan.
Contoh Anchoring Bias
Bayangkan kita sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang penjual buah menawarkan dagangannya. "Mangga ini harganya Rp100 ribu per kilo, tapi untuk Mbaknya yang cantik, saya kasih Rp80 ribu."
Apa yang kalian pikirkan? Pasti merasa mendapat diskon besar, kan? Padahal, harga mangga di tempat lain mungkin cuma Rp50 ribu.
Nah, di sinilah otak kita bermain dengan "anchor" atau titik acuan pertama, yaitu Rp100 ribu tadi.
Di media sosial, hal yang sama terjadi. Saat kalian membaca sebuah judul berita sensasional, misalnya, "Artis A Menghina Artis B!", kalian langsung terpengaruh sebelum membaca isi beritanya.
Judul itu menjadi "anchor" yang membentuk pendapat kalian. Padahal, setelah dibaca, mungkin ternyata itu hanya kesalahpahaman.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak kasus lain yang memicu anchoring bias.
Daniel Kahneman. Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow", menjelaskan bahwa otak kita punya dua cara kerja: yang cepat dan instan (System 1), serta yang pelan tapi cermat (System 2).
Saat kita melihat informasi awal, otak kita yang cepat langsung menganggapnya benar, tanpa sempat berpikir panjang. Itu sebabnya anchoring bias sering muncul.
Rolf Dobelli, penulis buku "The Art of Thinking Clearly", menjelaskan, bias seperti ini sering membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya, kita berpikir sesuatu itu mahal atau murah hanya karena melihat harga pertama yang ditawarkan, bukan karena membandingkannya dengan fakta.
Nah, bayangkan jika semua orang di Indonesia terkena anchoring bias. Berita palsu jadi makin cepat menyebar. Opini yang salah jadi kebenaran di mata banyak orang.
Hasilnya? Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi malah meletus.
Bagaimana Menghindari Bias Ini?
Pertama, jangan percaya pada satu sumber saja. Pastikan berita yang kalian baca benar. Check and recheck.
Jangan mudah terpancing judul click bait. Terkadang, judul berita sengaja dibuat mencolok agar kita penasaran. Jadi, baca isi berita sampai habis, ya!
Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan ke diri sendiri, "Apakah ini masuk akal?" Saring sebelum sharing.
Setiap kali selesai mengonsumsi konten di media sosial, ambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tahan jari dan jempol.
Begitulah, teman-teman, sekarang kalian tahu kenapa kita harus berhati-hati dengan informasi pertama yang kita lihat.
Ingat, media sosial itu seperti samudra luas. Banyak yang indah, tapi ada juga yang berbahaya. Kalau kita bisa menggunakan otak kita dengan cermat, kita akan menjadi pelayar yang bijak di dunia digital.
Siap jadi pengguna media sosial yang cerdas?
#INISIATIF #TGIF
oleh: Wicaksono
Teman-teman, mari kita bayangkan kita sedang berselancar di dunia media sosial. Semua orang di sini pasti pernah membuka ponsel, melihat berita, atau mungkin membaca postingan teman, bukan?
Nah, pernahkah teman-teman merasa langsung percaya pada informasi pertama yang kalian baca, meskipun belum tahu kebenarannya? Itulah yang disebut dengan anchoring bias.
Anchoring bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi awal (atau "anchor") ketika membuat keputusan atau menilai sesuatu, bahkan jika informasi awal tersebut kurang relevan atau akurat. Bias ini biasanya terjadi secara tidak sadar, memengaruhi cara seseorang memahami situasi atau membuat pilihan.
Contoh Anchoring Bias
Bayangkan kita sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang penjual buah menawarkan dagangannya. "Mangga ini harganya Rp100 ribu per kilo, tapi untuk Mbaknya yang cantik, saya kasih Rp80 ribu."
Apa yang kalian pikirkan? Pasti merasa mendapat diskon besar, kan? Padahal, harga mangga di tempat lain mungkin cuma Rp50 ribu.
Nah, di sinilah otak kita bermain dengan "anchor" atau titik acuan pertama, yaitu Rp100 ribu tadi.
Di media sosial, hal yang sama terjadi. Saat kalian membaca sebuah judul berita sensasional, misalnya, "Artis A Menghina Artis B!", kalian langsung terpengaruh sebelum membaca isi beritanya.
Judul itu menjadi "anchor" yang membentuk pendapat kalian. Padahal, setelah dibaca, mungkin ternyata itu hanya kesalahpahaman.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak kasus lain yang memicu anchoring bias.
Daniel Kahneman. Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow", menjelaskan bahwa otak kita punya dua cara kerja: yang cepat dan instan (System 1), serta yang pelan tapi cermat (System 2).
Saat kita melihat informasi awal, otak kita yang cepat langsung menganggapnya benar, tanpa sempat berpikir panjang. Itu sebabnya anchoring bias sering muncul.
Rolf Dobelli, penulis buku "The Art of Thinking Clearly", menjelaskan, bias seperti ini sering membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya, kita berpikir sesuatu itu mahal atau murah hanya karena melihat harga pertama yang ditawarkan, bukan karena membandingkannya dengan fakta.
Nah, bayangkan jika semua orang di Indonesia terkena anchoring bias. Berita palsu jadi makin cepat menyebar. Opini yang salah jadi kebenaran di mata banyak orang.
Hasilnya? Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi malah meletus.
Bagaimana Menghindari Bias Ini?
Pertama, jangan percaya pada satu sumber saja. Pastikan berita yang kalian baca benar. Check and recheck.
Jangan mudah terpancing judul click bait. Terkadang, judul berita sengaja dibuat mencolok agar kita penasaran. Jadi, baca isi berita sampai habis, ya!
Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan ke diri sendiri, "Apakah ini masuk akal?" Saring sebelum sharing.
Setiap kali selesai mengonsumsi konten di media sosial, ambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tahan jari dan jempol.
Begitulah, teman-teman, sekarang kalian tahu kenapa kita harus berhati-hati dengan informasi pertama yang kita lihat.
Ingat, media sosial itu seperti samudra luas. Banyak yang indah, tapi ada juga yang berbahaya. Kalau kita bisa menggunakan otak kita dengan cermat, kita akan menjadi pelayar yang bijak di dunia digital.
Siap jadi pengguna media sosial yang cerdas?
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐4
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
APA?! BPJS BUBAR?!! ๐ฑ ๐ญ
๐น Arif Muhammad
Cemana gak kaya kesambar petir mak beti dengar orang ngomong gitu. Udah jelas banyak kali yang kebantu gara- gara BPJS lo nakkuu.
#bpjskesehatan #bpjsmilikkita
INSTAGRAM:
https://www.instagram.com/reel/DFW1cZky2mg/?igsh=MXI0eWY0bzd5ZnA4cQ==
TIKTOK:
https://vt.tiktok.com/ZS6WGmc91
๐น Arif Muhammad
Cemana gak kaya kesambar petir mak beti dengar orang ngomong gitu. Udah jelas banyak kali yang kebantu gara- gara BPJS lo nakkuu.
#bpjskesehatan #bpjsmilikkita
INSTAGRAM:
https://www.instagram.com/reel/DFW1cZky2mg/?igsh=MXI0eWY0bzd5ZnA4cQ==
TIKTOK:
https://vt.tiktok.com/ZS6WGmc91
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ10
Kisah DeepSeek: Sang Pemain Baru dalam Kompetisi AI Dunia ๐ฅ
oleh: Wicaksono
Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang diikuti oleh pelari-pelari tercepat dari seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pelari dari Amerika Serikat, seperti OpenAI dan Google, selalu mendominasi. Mereka memiliki sepatu teknologi canggih dan pelatih terbaik.
Suatu hari, seorang pelari dari Tiongkok yang tidak banyak dikenal, DeepSeek, muncul. Ia tidak memiliki sepatu mahal atau pelatih terbaik, tetapi entah bagaimana ia berlari lebih cepat, lebih jauh, dan dengan tenaga yang lebih sedikit.
DeepSeek pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2025 oleh Liang Wenfeng, seorang visioner dan pendiri perusahaan ini. Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang Wenfeng adalah seorang analis keuangan yang sukses di dunia hedge fund melalui perusahaannya, High-Flyer. Namun, hatinya tertarik pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia melihat AI bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan uang, tetapi sebagai solusi untuk menjawab tantangan besar dunia, seperti efisiensi energi dan akses teknologi yang lebih inklusif.
Perjuangan Liang dan DeepSeek
Jalan menuju sukses DeepSeek penuh liku. Liang Wenfeng dan timnya bekerja di tengah keterbatasan teknologi akibat sanksi dari Amerika Serikat yang melarang ekspor chip canggih ke Tiongkok. Bayangkan seperti membangun mesin balap hanya dengan peralatan sederhanaโitulah tantangan mereka. Namun, alih-alih menyerah, Liang memimpin timnya untuk menemukan cara baru.
Tim DeepSeek terdiri dari para insinyur muda berbakat dari universitas-universitas top Tiongkok. Mereka bekerja siang dan malam, bereksperimen dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Salah satu inovasi terbesar mereka adalah menciptakan arsitektur AI yang sangat hemat energi, yang mereka sebut sebagai Multi-head Latent Attention. Teknologi ini memungkinkan DeepSeek untuk memproses data besar tanpa menghabiskan banyak sumber daya. Ibarat mobil yang bisa menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan satu liter bensin.
Liang juga memutuskan untuk membuat DeepSeek open-source. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya perusahaan teknologi besar menjaga model mereka seperti harta karun. Namun, Liang percaya bahwa pengetahuan adalah milik bersama, dan dengan membagikannya, DeepSeek bisa tumbuh lebih cepat dengan bantuan komunitas global.
Peluncuran DeepSeek dan Dampaknya
Saat DeepSeek diluncurkan, dunia seolah berhenti sejenak. Model AI mereka, yang lebih cerdas, lebih hemat energi, dan jauh lebih murah, langsung menarik perhatian.
Bagi banyak perusahaan kecil, terutama di negara berkembang, DeepSeek menjadi jalan keluar dari dominasi teknologi mahal buatan Barat. Seperti seorang anak desa yang tiba-tiba mengalahkan juara dunia, peluncuran DeepSeek mematahkan anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang bisa menguasai AI.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, panik. Saham mereka jatuh, dan investor mulai mempertanyakan apakah dominasi mereka dalam dunia AI bisa bertahan.
Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai โmomen Sputnikโ bagi AI, merujuk pada kejutan dunia ketika Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa.
Bersambung part 2๐
oleh: Wicaksono
Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang diikuti oleh pelari-pelari tercepat dari seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pelari dari Amerika Serikat, seperti OpenAI dan Google, selalu mendominasi. Mereka memiliki sepatu teknologi canggih dan pelatih terbaik.
Suatu hari, seorang pelari dari Tiongkok yang tidak banyak dikenal, DeepSeek, muncul. Ia tidak memiliki sepatu mahal atau pelatih terbaik, tetapi entah bagaimana ia berlari lebih cepat, lebih jauh, dan dengan tenaga yang lebih sedikit.
DeepSeek pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2025 oleh Liang Wenfeng, seorang visioner dan pendiri perusahaan ini. Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang Wenfeng adalah seorang analis keuangan yang sukses di dunia hedge fund melalui perusahaannya, High-Flyer. Namun, hatinya tertarik pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia melihat AI bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan uang, tetapi sebagai solusi untuk menjawab tantangan besar dunia, seperti efisiensi energi dan akses teknologi yang lebih inklusif.
Perjuangan Liang dan DeepSeek
Jalan menuju sukses DeepSeek penuh liku. Liang Wenfeng dan timnya bekerja di tengah keterbatasan teknologi akibat sanksi dari Amerika Serikat yang melarang ekspor chip canggih ke Tiongkok. Bayangkan seperti membangun mesin balap hanya dengan peralatan sederhanaโitulah tantangan mereka. Namun, alih-alih menyerah, Liang memimpin timnya untuk menemukan cara baru.
Tim DeepSeek terdiri dari para insinyur muda berbakat dari universitas-universitas top Tiongkok. Mereka bekerja siang dan malam, bereksperimen dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Salah satu inovasi terbesar mereka adalah menciptakan arsitektur AI yang sangat hemat energi, yang mereka sebut sebagai Multi-head Latent Attention. Teknologi ini memungkinkan DeepSeek untuk memproses data besar tanpa menghabiskan banyak sumber daya. Ibarat mobil yang bisa menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan satu liter bensin.
Liang juga memutuskan untuk membuat DeepSeek open-source. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya perusahaan teknologi besar menjaga model mereka seperti harta karun. Namun, Liang percaya bahwa pengetahuan adalah milik bersama, dan dengan membagikannya, DeepSeek bisa tumbuh lebih cepat dengan bantuan komunitas global.
Peluncuran DeepSeek dan Dampaknya
Saat DeepSeek diluncurkan, dunia seolah berhenti sejenak. Model AI mereka, yang lebih cerdas, lebih hemat energi, dan jauh lebih murah, langsung menarik perhatian.
Bagi banyak perusahaan kecil, terutama di negara berkembang, DeepSeek menjadi jalan keluar dari dominasi teknologi mahal buatan Barat. Seperti seorang anak desa yang tiba-tiba mengalahkan juara dunia, peluncuran DeepSeek mematahkan anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang bisa menguasai AI.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, panik. Saham mereka jatuh, dan investor mulai mempertanyakan apakah dominasi mereka dalam dunia AI bisa bertahan.
Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai โmomen Sputnikโ bagi AI, merujuk pada kejutan dunia ketika Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa.
Bersambung part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
Lanjut part 2
Kunci Sukses DeepSeek
Ada tiga hal utama yang membuat DeepSeek begitu luar biasa:
1. Efisiensi Teknologi: Mereka berhasil menciptakan model AI yang hemat energi dan tetap sangat canggih. Analogi sederhananya, jika model AI lain adalah mobil sport yang boros bahan bakar, DeepSeek adalah sepeda listrik yang bisa melaju jauh hanya dengan sedikit daya.
2. Keberanian Liang Wenfeng: Keputusan untuk membuat DeepSeek open-source membuka pintu kolaborasi global. Ini seperti membuka perpustakaan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berinovasi, sehingga DeepSeek berkembang lebih cepat.
3. Ketekunan Tim: Para insinyur muda di DeepSeek, meskipun bekerja dengan keterbatasan, memiliki semangat dan rasa kebanggaan nasional yang mendorong mereka untuk terus maju.
Kompetisi AI Dunia: Masa Depan yang Baru
Fenomena DeepSeek telah mengubah cara dunia memandang AI. Selama ini, perlombaan AI didominasi oleh dua โtim besarโ: Barat, yang diwakili Amerika Serikat dan Eropa, dan Timur, yang diwakili Tiongkok.
DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pemain besar dengan sumber daya melimpah. Justru dalam keterbatasan, lahir solusi-solusi baru yang bisa mengguncang dunia.
Dampak dari peluncuran DeepSeek tidak hanya terasa di dunia bisnis, tetapi juga dalam hal sosial. Dengan biaya yang murah dan akses terbuka, DeepSeek memungkinkan lebih banyak negara, komunitas, dan individu untuk menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Inspirasi dari DeepSeek
Cerita DeepSeek adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, siapa saja bisa menjadi inovator besar, asalkan mereka memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bekerja keras. Liang Wenfeng dan timnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, tetapi justru peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
Kini, dunia menantikan langkah DeepSeek berikutnya. Apakah mereka akan terus memimpin, ataukah para raksasa teknologi lainnya akan menemukan cara untuk kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: DeepSeek telah membuka babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan dunia. (*)
#INISIATIF
Kunci Sukses DeepSeek
Ada tiga hal utama yang membuat DeepSeek begitu luar biasa:
1. Efisiensi Teknologi: Mereka berhasil menciptakan model AI yang hemat energi dan tetap sangat canggih. Analogi sederhananya, jika model AI lain adalah mobil sport yang boros bahan bakar, DeepSeek adalah sepeda listrik yang bisa melaju jauh hanya dengan sedikit daya.
2. Keberanian Liang Wenfeng: Keputusan untuk membuat DeepSeek open-source membuka pintu kolaborasi global. Ini seperti membuka perpustakaan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berinovasi, sehingga DeepSeek berkembang lebih cepat.
3. Ketekunan Tim: Para insinyur muda di DeepSeek, meskipun bekerja dengan keterbatasan, memiliki semangat dan rasa kebanggaan nasional yang mendorong mereka untuk terus maju.
Kompetisi AI Dunia: Masa Depan yang Baru
Fenomena DeepSeek telah mengubah cara dunia memandang AI. Selama ini, perlombaan AI didominasi oleh dua โtim besarโ: Barat, yang diwakili Amerika Serikat dan Eropa, dan Timur, yang diwakili Tiongkok.
DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pemain besar dengan sumber daya melimpah. Justru dalam keterbatasan, lahir solusi-solusi baru yang bisa mengguncang dunia.
Dampak dari peluncuran DeepSeek tidak hanya terasa di dunia bisnis, tetapi juga dalam hal sosial. Dengan biaya yang murah dan akses terbuka, DeepSeek memungkinkan lebih banyak negara, komunitas, dan individu untuk menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Inspirasi dari DeepSeek
Cerita DeepSeek adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, siapa saja bisa menjadi inovator besar, asalkan mereka memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bekerja keras. Liang Wenfeng dan timnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, tetapi justru peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
Kini, dunia menantikan langkah DeepSeek berikutnya. Apakah mereka akan terus memimpin, ataukah para raksasa teknologi lainnya akan menemukan cara untuk kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: DeepSeek telah membuka babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan dunia. (*)
#INISIATIF
๐1
FLUID INTELLIGENCE VS CRYSTALLIZED INTELLIGENCE ๐ง
Oleh: Iwan Kusworo
Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, pada tahun 1971 pernah menulis buku berjudul Abilities: Their Structure, Growth, and Action.
Fluid intelligence adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir secara fleksibel, dan memecahkan masalah yang sulit. Seringkali dihubungkan dengan keahlian membaca dan ilmu matematika. Seorang inovator biasanya memiliki fluid Intelligence yang tinggi. Kecerdasan tipe ini akan mencapai puncaknya di usia 20-an dan akan menurun dengan cepat dimulai di usia pertengahan 30-an atau 40-an.
Sedangkan crystallized intelligence adalah kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki di masa lalu. Ibaratnya seorang petugas perpustakaan di sebuah perpustakaan tua yang tahu di mana letak buku-buku yang ingin dicarinya.
Berbeda dengan fluid Intelligence yang bisa muncul sejak seseorang masih kecil, crystallized intelligence terbentuk belakangan, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Akan ada penurunan memang, namun biasanya itu lebih karena kondisi fisik yang mulai menurun.
Seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam surat terbuka kepada putranya, dia menyampaikan tiga hal tentang โusia tua":
Yang pertama, usia tua seharusnya didedikasikan untuk pelayanan, bukan untuk bermalas-malasan. Kedua, berkah terbesar di usia tua adalah memiliki kearifan (wisdom), di mana hasil pembelajaran dan pemikiran seseorang bisa digunakan untuk memperkaya wawasan orang lain. Dan ketiga, kemampuan alamiah seseorang di titik ini adalah memberikan nasihat dan petuah. Aktifitas coaching, mentoring, dan mengajarkan sesuatu ke orang lain adalah beberapa contoh nyatanya.
Dari sini mungkin bisa dijadikan perenungan buat kita semua jika topik ini dihubungkan dengan diversity (keberagaman), terutama yang terkait โusia.โ Apakah "senior employee" di sekitar kita selama ini sudah ditempatkan pada tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan tipe kecerdasan yang saat ini mereka miliki?
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Iwan Kusworo
Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, pada tahun 1971 pernah menulis buku berjudul Abilities: Their Structure, Growth, and Action.
Di bukunya dia membahas tentang dua tipe kecerdasan (intelligence), yaitu:
1. Fluid intelligence (kecerdasan cair)
2. โ Crystallized intelligence (kecerdasan padat/kristal)
Fluid intelligence adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir secara fleksibel, dan memecahkan masalah yang sulit. Seringkali dihubungkan dengan keahlian membaca dan ilmu matematika. Seorang inovator biasanya memiliki fluid Intelligence yang tinggi. Kecerdasan tipe ini akan mencapai puncaknya di usia 20-an dan akan menurun dengan cepat dimulai di usia pertengahan 30-an atau 40-an.
Sedangkan crystallized intelligence adalah kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki di masa lalu. Ibaratnya seorang petugas perpustakaan di sebuah perpustakaan tua yang tahu di mana letak buku-buku yang ingin dicarinya.
Berbeda dengan fluid Intelligence yang bisa muncul sejak seseorang masih kecil, crystallized intelligence terbentuk belakangan, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Akan ada penurunan memang, namun biasanya itu lebih karena kondisi fisik yang mulai menurun.
Seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam surat terbuka kepada putranya, dia menyampaikan tiga hal tentang โusia tua":
Yang pertama, usia tua seharusnya didedikasikan untuk pelayanan, bukan untuk bermalas-malasan. Kedua, berkah terbesar di usia tua adalah memiliki kearifan (wisdom), di mana hasil pembelajaran dan pemikiran seseorang bisa digunakan untuk memperkaya wawasan orang lain. Dan ketiga, kemampuan alamiah seseorang di titik ini adalah memberikan nasihat dan petuah. Aktifitas coaching, mentoring, dan mengajarkan sesuatu ke orang lain adalah beberapa contoh nyatanya.
Dari sini mungkin bisa dijadikan perenungan buat kita semua jika topik ini dihubungkan dengan diversity (keberagaman), terutama yang terkait โusia.โ Apakah "senior employee" di sekitar kita selama ini sudah ditempatkan pada tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan tipe kecerdasan yang saat ini mereka miliki?
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐1
Info Podium Very Late Post ๐ฅน
Kebanggaan kita bersama kakak @desisantikas yang berhasil keluar sebagai 1st Winner 21K Women Open dalam Tahura Trail Running Race 2025๐ฅ ๐
Kebanggaan kita bersama kakak @desisantikas yang berhasil keluar sebagai 1st Winner 21K Women Open dalam Tahura Trail Running Race 2025
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐ฅ3๐1
Rasa Iri, Muncul dari Kompetisi ๐
oleh: Muhammad Farid Maricar
Kebanyakan orang mungkin tidak sadar, tapi pada umumnya rasa iri itu datang justru karena kita memiliki kesamaan dengan orang lain. Jarang ada ceritanya pengemis yang iri pada triliuner, yang ada adalah pengemis yang iri pada pengemis yang dapat lebih banyak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa iri sering kali lebih dipengaruhi oleh kedekatan sosial daripada jarak yang jauh. Kita cenderung membandingkan diri dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran yang sama, misalnya dalam profesi, lingkungan, atau bahkan teman sebaya. Seorang dosen cemburu kepada sesama dosen, guru cemburu kepada sesama guru, selebritis cemburu kepada selebritis lain, dll.
Mengapa demikian? Karena kesamaan menciptakan standar pembanding yang lebih relevan. Jika kita melihat seseorang yang "mirip" dengan kita berhasil lebih jauh, kita merasa bahwa kesuksesan mereka adalah sesuatu yang juga seharusnya bisa kita capai.
Budaya kompetisi yang ada dalam struktur sosial sering kali memperkuat pola ini. Sistem yang mendorong individu untuk terus bersaing demi pencapaian dan pengakuan, tanpa sadar menumbuhkan benih rasa iri.
Dalam lingkup kerja, misalnya, keberhasilan seorang rekan bisa dirasa mengancam posisi kita sendiri, alih-alih memotivasi. Dalam komunitas yang lebih kecil, seperti lingkungan akademik, rasa iri terhadap kolega dapat menciptakan atmosfer yang kurang mendukung, bahkan merusak.
Jika dibiarkan tanpa pengelolaan, rasa iri dapat berujung pada berbagai dampak negatif, semisal hubungan sosial yang terganggu, fokus kepada orang lain dibanding diri sendiri, dan tentunya lingkungan yang penuh dengan tekanan dan tidak harmonis.
Saya pribadi, berusaha senantiasa belajar agar menghilangkan rasa iri dengan pencapaian orang lain, karena saya senantiasa menanamkan pencegahan untuk berkompetisi dengan orang lain. Misalnya dengan cara memberikan pujian bagi orang lain saat ada hal tertentu yang didapatkannya.
Orang lain mau dapat apa, saya nggak pusing, kecuali kalau mereka dapat dengan cara yang jelek dan zalim semisal korupsi, menjilat, dan semisalnya, semoga Allah balas dengan kejelekan yang setimpal dunia akhirat.
Alih-alih berkompetisi dengan orang lain, saya lebih senang untuk belajar bagaimana caranya untuk mendapatkan apa yang mereka miliki, selama mereka dapat dengan cara yang baik tentunya.
Karena bagaimana pun juga tiap orang punya rezekinya masing-masing yang tentunya itu semua adalah pembagian dari Allah.
Sumber foto : Buku The Conquest of Happiness by Bertrand Russell
#INISIATIF
oleh: Muhammad Farid Maricar
Kebanyakan orang mungkin tidak sadar, tapi pada umumnya rasa iri itu datang justru karena kita memiliki kesamaan dengan orang lain. Jarang ada ceritanya pengemis yang iri pada triliuner, yang ada adalah pengemis yang iri pada pengemis yang dapat lebih banyak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rasa iri sering kali lebih dipengaruhi oleh kedekatan sosial daripada jarak yang jauh. Kita cenderung membandingkan diri dengan orang-orang yang berada dalam lingkaran yang sama, misalnya dalam profesi, lingkungan, atau bahkan teman sebaya. Seorang dosen cemburu kepada sesama dosen, guru cemburu kepada sesama guru, selebritis cemburu kepada selebritis lain, dll.
Mengapa demikian? Karena kesamaan menciptakan standar pembanding yang lebih relevan. Jika kita melihat seseorang yang "mirip" dengan kita berhasil lebih jauh, kita merasa bahwa kesuksesan mereka adalah sesuatu yang juga seharusnya bisa kita capai.
Budaya kompetisi yang ada dalam struktur sosial sering kali memperkuat pola ini. Sistem yang mendorong individu untuk terus bersaing demi pencapaian dan pengakuan, tanpa sadar menumbuhkan benih rasa iri.
Dalam lingkup kerja, misalnya, keberhasilan seorang rekan bisa dirasa mengancam posisi kita sendiri, alih-alih memotivasi. Dalam komunitas yang lebih kecil, seperti lingkungan akademik, rasa iri terhadap kolega dapat menciptakan atmosfer yang kurang mendukung, bahkan merusak.
Jika dibiarkan tanpa pengelolaan, rasa iri dapat berujung pada berbagai dampak negatif, semisal hubungan sosial yang terganggu, fokus kepada orang lain dibanding diri sendiri, dan tentunya lingkungan yang penuh dengan tekanan dan tidak harmonis.
Saya pribadi, berusaha senantiasa belajar agar menghilangkan rasa iri dengan pencapaian orang lain, karena saya senantiasa menanamkan pencegahan untuk berkompetisi dengan orang lain. Misalnya dengan cara memberikan pujian bagi orang lain saat ada hal tertentu yang didapatkannya.
Orang lain mau dapat apa, saya nggak pusing, kecuali kalau mereka dapat dengan cara yang jelek dan zalim semisal korupsi, menjilat, dan semisalnya, semoga Allah balas dengan kejelekan yang setimpal dunia akhirat.
Alih-alih berkompetisi dengan orang lain, saya lebih senang untuk belajar bagaimana caranya untuk mendapatkan apa yang mereka miliki, selama mereka dapat dengan cara yang baik tentunya.
Karena bagaimana pun juga tiap orang punya rezekinya masing-masing yang tentunya itu semua adalah pembagian dari Allah.
Sumber foto : Buku The Conquest of Happiness by Bertrand Russell
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐4