Kamu Diserang Netizen? TENANG! 😇
Oleh: Wicaksono
Pernahkah kamu gulir-gulir konten orang di media sosial, lalu melihat nama seorang pesohor atau pejabat muncul di daftar trending topic?
Biasanya ada dua alasan: mereka baru saja memenangkan penghargaan besar, atau—yang lebih sering—mereka sedang diserang, menjadi target mulut pedas dan kejudesan lidah netizen. Dari kritikan kecil soal pakaian hingga komentar pedas tentang kehidupan pribadinya, mereka dihakimi tanpa henti oleh publik.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa tetap berdiri tegak di tengah badai ini?
Suatu hari, aku menemukan jawabannya dalam buku berjudul "The Let Them Theory" karya Mel Robbins. Saat membolak-balik halaman pertama, aku langsung merasa buku ini seperti seorang teman lama yang datang tepat di saat aku butuh pencerahan.
Mel Robbins, penulis buku ini, memulai dengan satu kalimat yang sederhana namun mendalam: "Let them." Dua kata yang kelihatannya biasa saja, namun menyimpan kekuatan besar.
Robbins menceritakan pengalaman pribadinya tentang menghadapi penilaian, baik di dunia kerja maupun kehidupan pribadi. Sebagai seorang pembicara publik dan tokoh terkenal, dia kerap menjadi target komentar negatif. Alih-alih tenggelam dalam rasa sakit hati, dia mulai berlatih "Let Them." Jika seseorang ingin menghakimi, biarkan saja. Jika mereka ingin menyalahkan, silakan. Jika mereka tidak menyukai kita? Itu bukan masalah kita.
Saat membaca buku ini, aku terus memikirkan bagaimana dunia kita sekarang semakin brutal dalam memberikan penilaian. Media sosial telah menjadi medan pertempuran, di mana setiap orang bisa menjadi hakim dan terdakwa.
Buku ini hadir seperti lilin di dalam gua. Ia adalah secercah cahaya di tengah kegelapan. The Let Them Theory mengajarkan kita bahwa kita tidak harus berpartisipasi dalam permainan ini. Bahwa kebahagiaan kita tidak tergantung pada validasi dari orang lain.
Kisah Naratif yang Menginspirasi
Aku ingat suatu malam, aku duduk di kafe sambil menunggu teman. Aku membaca salah satu bagian buku ini yang berbicara tentang bagaimana kita sering terlalu terikat pada pendapat orang lain. Di meja sebelahku, ada seorang perempuan muda yang menangis. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Dia melihatku, terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku baru saja membaca komentar di postingan terakhirku. Orang-orang bilang aku tidak pantas berada di sini.”
Aku tersenyum padanya dan menjelaskan apa yang baru saja kubaca dari buku ini. “Kamu tahu apa yang Mel Robbins katakan? ‘Let them.’ Biarkan mereka berpikir apa pun. Hidupmu bukan panggung untuk memuaskan mereka.”
Dia terdiam lagi, tapi kali ini senyumnya mulai muncul perlahan. Aku melihat ada secercah harapan dalam matanya, dan aku tahu buku ini bukan hanya mengubah cara pandangku, tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi orang lain.
So ... The Let Them Theory adalah buku yang mengingatkan kita untuk melepaskan diri dari beban yang tidak perlu. Buku ini berisi ajakan untuk hidup dengan lebih ringan, lebih bebas, dan lebih penuh makna.
Jika kamu pernah merasa dihakimi, direndahkan, atau bahkan diperlakukan tidak adil, buku ini akan menjadi sahabat yang menenangkan.
Bagi para artis, selebritas, pejabat, atau siapa pun yang berada di bawah sorotan publik, filosofi ini bisa menjadi pelindung yang membebaskan mereka dari keharusan menyenangkan semua orang. Dan bagi kita, yang hidup di era komentar bebas, buku ini adalah peta menuju kebebasan sejati: kebebasan dari opini orang lain.
Jadi, bagaimana kalau mulai hari ini, kita belajar untuk berkata, “Let them?”
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Wicaksono
Pernahkah kamu gulir-gulir konten orang di media sosial, lalu melihat nama seorang pesohor atau pejabat muncul di daftar trending topic?
Biasanya ada dua alasan: mereka baru saja memenangkan penghargaan besar, atau—yang lebih sering—mereka sedang diserang, menjadi target mulut pedas dan kejudesan lidah netizen. Dari kritikan kecil soal pakaian hingga komentar pedas tentang kehidupan pribadinya, mereka dihakimi tanpa henti oleh publik.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa tetap berdiri tegak di tengah badai ini?
Suatu hari, aku menemukan jawabannya dalam buku berjudul "The Let Them Theory" karya Mel Robbins. Saat membolak-balik halaman pertama, aku langsung merasa buku ini seperti seorang teman lama yang datang tepat di saat aku butuh pencerahan.
Mel Robbins, penulis buku ini, memulai dengan satu kalimat yang sederhana namun mendalam: "Let them." Dua kata yang kelihatannya biasa saja, namun menyimpan kekuatan besar.
Filosofi ini sebenarnya sederhana—mengizinkan orang lain melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan melepaskan diri kita dari beban mencoba mengontrol persepsi mereka tentang kita.
Robbins menceritakan pengalaman pribadinya tentang menghadapi penilaian, baik di dunia kerja maupun kehidupan pribadi. Sebagai seorang pembicara publik dan tokoh terkenal, dia kerap menjadi target komentar negatif. Alih-alih tenggelam dalam rasa sakit hati, dia mulai berlatih "Let Them." Jika seseorang ingin menghakimi, biarkan saja. Jika mereka ingin menyalahkan, silakan. Jika mereka tidak menyukai kita? Itu bukan masalah kita.
Saat membaca buku ini, aku terus memikirkan bagaimana dunia kita sekarang semakin brutal dalam memberikan penilaian. Media sosial telah menjadi medan pertempuran, di mana setiap orang bisa menjadi hakim dan terdakwa.
Buku ini hadir seperti lilin di dalam gua. Ia adalah secercah cahaya di tengah kegelapan. The Let Them Theory mengajarkan kita bahwa kita tidak harus berpartisipasi dalam permainan ini. Bahwa kebahagiaan kita tidak tergantung pada validasi dari orang lain.
Buku ini juga mengingatkan bahwa setiap penilaian yang diberikan orang lain kepada kita sebenarnya lebih mencerminkan mereka daripada kita.
Seperti yang dikatakan Robbins, "Komentar mereka adalah cermin dari diri mereka sendiri, bukan dirimu."
Kisah Naratif yang Menginspirasi
Aku ingat suatu malam, aku duduk di kafe sambil menunggu teman. Aku membaca salah satu bagian buku ini yang berbicara tentang bagaimana kita sering terlalu terikat pada pendapat orang lain. Di meja sebelahku, ada seorang perempuan muda yang menangis. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Dia melihatku, terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku baru saja membaca komentar di postingan terakhirku. Orang-orang bilang aku tidak pantas berada di sini.”
Aku tersenyum padanya dan menjelaskan apa yang baru saja kubaca dari buku ini. “Kamu tahu apa yang Mel Robbins katakan? ‘Let them.’ Biarkan mereka berpikir apa pun. Hidupmu bukan panggung untuk memuaskan mereka.”
Dia terdiam lagi, tapi kali ini senyumnya mulai muncul perlahan. Aku melihat ada secercah harapan dalam matanya, dan aku tahu buku ini bukan hanya mengubah cara pandangku, tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi orang lain.
So ... The Let Them Theory adalah buku yang mengingatkan kita untuk melepaskan diri dari beban yang tidak perlu. Buku ini berisi ajakan untuk hidup dengan lebih ringan, lebih bebas, dan lebih penuh makna.
Jika kamu pernah merasa dihakimi, direndahkan, atau bahkan diperlakukan tidak adil, buku ini akan menjadi sahabat yang menenangkan.
Bagi para artis, selebritas, pejabat, atau siapa pun yang berada di bawah sorotan publik, filosofi ini bisa menjadi pelindung yang membebaskan mereka dari keharusan menyenangkan semua orang. Dan bagi kita, yang hidup di era komentar bebas, buku ini adalah peta menuju kebebasan sejati: kebebasan dari opini orang lain.
Jadi, bagaimana kalau mulai hari ini, kita belajar untuk berkata, “Let them?”
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2👍1🥰1👏1🙏1
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
EVERY PAWN HAS THE POTENTIAL TO BE A QUEEN🔥
Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Gadjah Mada, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Ganesha dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 18 Januari 2025 esok. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga💯 🥇 🤝
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Gadjah Mada, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Ganesha dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 18 Januari 2025 esok. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga
1. Join ke COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1
2. Saksikan live pertandingan BPJS Kes Vs UGM Vs Undiksha:
https://lichess.org/tournament/xNI16I8o
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Saat ini banyak yang mudah kegocek, karena sejatinya mereka belum benar-benar tahu. Silakan dishare biar makin banyak yang #pahamJKN 🫡
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Turut Berduka Cita atas berpulangnya salah satu rekan kita Sobat ATE kakak @alfonsoarthur. Semoga segala amal ibadah dan dedikasi beliau diterima oleh Tuhan YME. Perjuanganmu akan kami lanjutkan 🫡
Kirim doa terbaik🤲
Kirim doa terbaik
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Every Pawn has the Potential to be a Queen🔥
Kami mengucapkan Terima Kasih sekaligus ucapan Selamat kepada para pemenang atas pertandingan yang sangat berkesan antara rekan-rekan pecinta catur BPJS Kesehatan dengan adik-adik mahasiswa(i) dari Universitas Indonesia Gadjah Mada dan Universitas Pendidikan Ganesha dalam lanjutan INISIATIF Chess Arena Collaboration Vol 3 Tahun 2025
Sampai bertemu kembali pada momen berbahagia selanjutnya, jangan lupa Selalu Berpikir Sebelum Bertindak♟️
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kemarin kita sudah bahas sosok Ibu di Squid Game 2. MasyaAllah responnya luar biasa
https://t.me/c/1287712664/190310
Sekarang kita bahas sosok Ayah. Ayah yang bernomor 246. Namanya Gyeng Seok. Dia ikut Squid game untuk membayar pengobatan anaknya. Anak atau putrinya yang lucu itu terkena kanker darah.
Menarik putri Gyeng Seok dekat dengan salah satu snipper bernomor 011. Saat 011 belum kerja sebagai snipper, dia jadi badut. Saat jadi badut itulah dia ketemu putrinya Gyeng Seok. Suka kasih permen yang bikin putri 246 selalu menantikan badut itu. Disitulah, mereka dekat secara emosional.
Maka saat di area squid game. Snipper 011 berusaha melindungi pemain 246. Sebab dia tahu, dia adalah Ayah dari seorang putri yang sedang sakit kanker darah. Saat di permainan pertama, harusnya 246 ditemb*k karena bergerak, tapi 246 tidak ditemb*k. Meski di endingnya nomor 011 menemb*k 246. Tapi masih misteri, mati atau tidak nya. Sepertinya tidak. Hehe
Back to Ayah. Ayah dalam diamnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mayoritas Ayah pasti sayang pada anak-anaknya. Ingatlah bagaimana Ayah kita. Telah banyak keringat lelahnya berjatuhan di bumi demi menafkahi kita, demi menyekolahkan kita, demi kebahagiaan anak-anaknya.
Ayah juga bertaruh nyawa. Seringkali pekerjaannya beresiko. Tapi Ayah tak pernah bilang, "Ayah capek, nak". Ayah tetap pulang dengan wajah yang ceria. Segala lelahnya seperti hilang ketika melihat anaknya, ketika melihat masa depannya.
Ada Ayah yang meski hujan deras di saat malam, ia tetap ngojek. Dia belum mau pulang sebelum targetnya tercapai. Apa yang membuatnya semangat? Ada foto istri dan anak-anaknya yang menempel di motornya. Itu yang bikin ia terus semangat. MasyaAllah. Sehat-sehat untuk seluruh Ayah di dunia.
oleh: Kak Oksa
#INISIATIF
https://t.me/c/1287712664/190310
Sekarang kita bahas sosok Ayah. Ayah yang bernomor 246. Namanya Gyeng Seok. Dia ikut Squid game untuk membayar pengobatan anaknya. Anak atau putrinya yang lucu itu terkena kanker darah.
Menarik putri Gyeng Seok dekat dengan salah satu snipper bernomor 011. Saat 011 belum kerja sebagai snipper, dia jadi badut. Saat jadi badut itulah dia ketemu putrinya Gyeng Seok. Suka kasih permen yang bikin putri 246 selalu menantikan badut itu. Disitulah, mereka dekat secara emosional.
Maka saat di area squid game. Snipper 011 berusaha melindungi pemain 246. Sebab dia tahu, dia adalah Ayah dari seorang putri yang sedang sakit kanker darah. Saat di permainan pertama, harusnya 246 ditemb*k karena bergerak, tapi 246 tidak ditemb*k. Meski di endingnya nomor 011 menemb*k 246. Tapi masih misteri, mati atau tidak nya. Sepertinya tidak. Hehe
Back to Ayah. Ayah dalam diamnya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mayoritas Ayah pasti sayang pada anak-anaknya. Ingatlah bagaimana Ayah kita. Telah banyak keringat lelahnya berjatuhan di bumi demi menafkahi kita, demi menyekolahkan kita, demi kebahagiaan anak-anaknya.
Ayah juga bertaruh nyawa. Seringkali pekerjaannya beresiko. Tapi Ayah tak pernah bilang, "Ayah capek, nak". Ayah tetap pulang dengan wajah yang ceria. Segala lelahnya seperti hilang ketika melihat anaknya, ketika melihat masa depannya.
Ada Ayah yang meski hujan deras di saat malam, ia tetap ngojek. Dia belum mau pulang sebelum targetnya tercapai. Apa yang membuatnya semangat? Ada foto istri dan anak-anaknya yang menempel di motornya. Itu yang bikin ia terus semangat. MasyaAllah. Sehat-sehat untuk seluruh Ayah di dunia.
oleh: Kak Oksa
#INISIATIF
👍1
Wisata Bencana Cermin Hedonisme Digital 🫥
oleh: Wicaksono
Di sebuah kedai kopi di sudut Los Angeles, Uka, seorang selebritas asal Indonesia, duduk termenung. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena baru saja menerima teguran keras dari seorang warga lokal.
Beberapa jam sebelumnya, Uka dengan penuh semangat merekam video di depan rumah yang terbakar akibat kebakaran besar yang melanda kota tersebut. Sambil berbicara di depan kamera, ia mengabaikan suasana duka yang menyelimuti lokasi.
Teguran itu datang dari pemilik rumah yang marah, "Kamu siapa? Ini properti pribadi saya. Berhenti merekam!" Uka terpaku, tak menyangka aksinya akan memicu amarah.
Fenomena ini hanyalah salah satu contoh dari tren yang makin sering terjadi: wisata bencana. Di era media sosial, tragedi manusiawi sering kali berubah menjadi ajang eksploitasi, bukan untuk meningkatkan kesadaran atau membantu korban, melainkan demi konten yang bisa mengundang likes dan komentar. Dari tragedi ledakan di Beirut hingga kebakaran di Los Angeles, fenomena ini mencerminkan dorongan hedonisme digital, hilangnya rasa empati, dan normalisasi eksploitasi tragedi.
oleh: Wicaksono
Di sebuah kedai kopi di sudut Los Angeles, Uka, seorang selebritas asal Indonesia, duduk termenung. Wajahnya memerah, bukan karena malu, melainkan karena baru saja menerima teguran keras dari seorang warga lokal.
Beberapa jam sebelumnya, Uka dengan penuh semangat merekam video di depan rumah yang terbakar akibat kebakaran besar yang melanda kota tersebut. Sambil berbicara di depan kamera, ia mengabaikan suasana duka yang menyelimuti lokasi.
Teguran itu datang dari pemilik rumah yang marah, "Kamu siapa? Ini properti pribadi saya. Berhenti merekam!" Uka terpaku, tak menyangka aksinya akan memicu amarah.
Fenomena ini hanyalah salah satu contoh dari tren yang makin sering terjadi: wisata bencana. Di era media sosial, tragedi manusiawi sering kali berubah menjadi ajang eksploitasi, bukan untuk meningkatkan kesadaran atau membantu korban, melainkan demi konten yang bisa mengundang likes dan komentar. Dari tragedi ledakan di Beirut hingga kebakaran di Los Angeles, fenomena ini mencerminkan dorongan hedonisme digital, hilangnya rasa empati, dan normalisasi eksploitasi tragedi.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Saat Uka kembali ke Indonesia, ia mengunjungi rumah Paklik Isnogud, seorang pensiunan yang terkenal bijaksana. Uka menceritakan pengalamannya di Los Angeles dengan nada penuh kebingungan.
“Paklik, saya hanya ingin memberikan informasi kepada penonton saya. Kenapa mereka marah?” tanya Uka.
Paklik Isnogud menghela napas panjang sambil menyesap kopi hitam. “Uka, kamu tahu apa yang salah? Saat tragedi berubah menjadi latar belakang konten, kamu sedang mengesampingkan penderitaan manusia. Itu yang disebut normalisasi eksploitasi tragedi. Kamu menjadikan duka orang lain sebagai alat untuk menghibur atau mempercantik feed media sosialmu.”
“Masalahnya, Nak,” lanjut Paklik, “media sosial menciptakan dorongan hedonisme digital. Orang-orang ingin mendapatkan validasi instan dalam bentuk likes dan komentar. Tragisnya, semakin dramatis atau kontroversial sebuah konten, semakin besar peluang untuk viral. Inilah yang membuat banyak orang tergoda untuk merekam tragedi tanpa berpikir panjang.”
“Jadi saya salah karena mengikuti tren?” tanya Uka dengan nada rendah.
“Bukan hanya soal tren, Uka. Ini tentang hilangnya rasa empati. Kamu begitu fokus pada angka dan popularitas hingga lupa bahwa di balik layar ada manusia yang menderita,” jawab Paklik sambil menatap tajam.
Paklik melanjutkan dengan nada tegas, “Kita juga punya masalah lain: normalisasi eksploitasi tragedi. Ketika orang-orang terus merekam dan mengunggah konten dari lokasi bencana, itu memberikan pesan bahwa perilaku ini bisa diterima. Padahal, ini adalah bentuk penghinaan terhadap para korban. Alih-alih membantu, kamu malah mengganggu proses pemulihan mereka.”
Uka terdiam, menyadari bahwa niat baiknya untuk memberikan informasi justru berubah menjadi tindakan yang menyakitkan bagi orang lain.
Paklik mengubah nada bicara menjadi lebih lembut. “Uka, ini bukan akhir dunia. Tapi kamu harus belajar literasi digital yang benar. Literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai kamera atau mengedit video, tapi juga soal memahami dampak dari apa yang kamu unggah. Kamu harus tahu kapan merekam dan kapan menaruh kamera.”
“Bagaimana caranya, Paklik?” tanya Uka dengan nada penasaran.
“Pertama, hormati privasi korban. Jangan pernah merekam tanpa izin, apalagi di tempat yang penuh duka. Kedua, kalau kamu benar-benar ingin membantu, buatlah konten yang menginspirasi aksi nyata, seperti ajakan berdonasi atau kampanye kesadaran. Dan yang paling penting, tanya dirimu sendiri: apakah konten ini akan menyakiti atau membantu?”
Paklik Isnogud melanjutkan nasihatnya. "Kreator konten seperti kamu, Uka, janganlah mengejar sensasi. Pahamilah bahwa tragedi bukan panggung. Berhenti mengeksploitasi penderitaan demi popularitas.
Sebelum merekam atau mengunggah, bayangkan dirimu berada di posisi korban. Bagaimana perasaanmu jika tragedimu menjadi hiburan?
Lebih baik kau gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan untuk mengeksploitasi. Fokus pada dampak positif daripada angka viral.
Media sosial bisa menjadi alat untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Jadi gunakan platform ini untuk menyebarkan empati, bukan eksploitasi.”
“Empati, Uka, adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, meski hidup di dunia digital. Tragedi bukanlah panggung, dan manusia bukanlah alat. Di dunia di mana 'likes' lebih dihargai daripada kepedulian, kita harus ingat bahwa empati adalah nilai yang tidak boleh hilang, bahkan di era digital."
#INISIATIF
“Paklik, saya hanya ingin memberikan informasi kepada penonton saya. Kenapa mereka marah?” tanya Uka.
Paklik Isnogud menghela napas panjang sambil menyesap kopi hitam. “Uka, kamu tahu apa yang salah? Saat tragedi berubah menjadi latar belakang konten, kamu sedang mengesampingkan penderitaan manusia. Itu yang disebut normalisasi eksploitasi tragedi. Kamu menjadikan duka orang lain sebagai alat untuk menghibur atau mempercantik feed media sosialmu.”
“Masalahnya, Nak,” lanjut Paklik, “media sosial menciptakan dorongan hedonisme digital. Orang-orang ingin mendapatkan validasi instan dalam bentuk likes dan komentar. Tragisnya, semakin dramatis atau kontroversial sebuah konten, semakin besar peluang untuk viral. Inilah yang membuat banyak orang tergoda untuk merekam tragedi tanpa berpikir panjang.”
“Jadi saya salah karena mengikuti tren?” tanya Uka dengan nada rendah.
“Bukan hanya soal tren, Uka. Ini tentang hilangnya rasa empati. Kamu begitu fokus pada angka dan popularitas hingga lupa bahwa di balik layar ada manusia yang menderita,” jawab Paklik sambil menatap tajam.
Paklik melanjutkan dengan nada tegas, “Kita juga punya masalah lain: normalisasi eksploitasi tragedi. Ketika orang-orang terus merekam dan mengunggah konten dari lokasi bencana, itu memberikan pesan bahwa perilaku ini bisa diterima. Padahal, ini adalah bentuk penghinaan terhadap para korban. Alih-alih membantu, kamu malah mengganggu proses pemulihan mereka.”
Uka terdiam, menyadari bahwa niat baiknya untuk memberikan informasi justru berubah menjadi tindakan yang menyakitkan bagi orang lain.
Paklik mengubah nada bicara menjadi lebih lembut. “Uka, ini bukan akhir dunia. Tapi kamu harus belajar literasi digital yang benar. Literasi digital bukan cuma soal tahu cara pakai kamera atau mengedit video, tapi juga soal memahami dampak dari apa yang kamu unggah. Kamu harus tahu kapan merekam dan kapan menaruh kamera.”
“Bagaimana caranya, Paklik?” tanya Uka dengan nada penasaran.
“Pertama, hormati privasi korban. Jangan pernah merekam tanpa izin, apalagi di tempat yang penuh duka. Kedua, kalau kamu benar-benar ingin membantu, buatlah konten yang menginspirasi aksi nyata, seperti ajakan berdonasi atau kampanye kesadaran. Dan yang paling penting, tanya dirimu sendiri: apakah konten ini akan menyakiti atau membantu?”
Paklik Isnogud melanjutkan nasihatnya. "Kreator konten seperti kamu, Uka, janganlah mengejar sensasi. Pahamilah bahwa tragedi bukan panggung. Berhenti mengeksploitasi penderitaan demi popularitas.
Sebelum merekam atau mengunggah, bayangkan dirimu berada di posisi korban. Bagaimana perasaanmu jika tragedimu menjadi hiburan?
Lebih baik kau gunakan media sosial untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat, bukan untuk mengeksploitasi. Fokus pada dampak positif daripada angka viral.
Media sosial bisa menjadi alat untuk membantu, bukan untuk menyakiti. Jadi gunakan platform ini untuk menyebarkan empati, bukan eksploitasi.”
“Empati, Uka, adalah kunci agar kita tetap menjadi manusia, meski hidup di dunia digital. Tragedi bukanlah panggung, dan manusia bukanlah alat. Di dunia di mana 'likes' lebih dihargai daripada kepedulian, kita harus ingat bahwa empati adalah nilai yang tidak boleh hilang, bahkan di era digital."
#INISIATIF
❤3👍1🙏1👌1
Drag Force (Gaya Hambat) dan Filosofi Hidup 🥰
oleh: Muhammad Farid Maricar
Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai bentuk hambatan, seperti angin yang menerpa pohon tinggi. Dalam ilmu mekanika fluida dan hidrolika, hambatan ini disebut sebagai drag force, yaitu gaya hambat yang dialami oleh suatu benda saat bergerak melalui fluida seperti udara atau air. Untuk rumus umumnya bisa baca di gambar ini.
Hambatan adalah Bagian dari Pertumbuhan
Semakin tinggi pohon, luas permukaan yang terpapar angin meningkat, sehingga drag force menjadi lebih besar. Pohon tinggi juga lebih rentan terhadap angin kencang yang dapat menekuk atau merobohkannya.
Sama seperti pohon yang semakin tinggi menerima lebih banyak angin, manusia yang mencapai posisi tinggi dalam karier, ilmu pengetahuan, atau kehidupan sosial menghadapi lebih banyak hambatan.
Hambatan ini bisa berupa tanggung jawab yang lebih besar, kritik dari orang lain, atau tekanan untuk terus berkembang. Hambatan-hambatan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai halangan, tetapi diterima sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menguatkan.
Keseimbangan adalah Kunci Stabilitas
Cara terbaik untuk menjaga pohon tetap berdiri adalah akar yang kuat dan fondasi tempat berdirinya yang kuat. Karena hal ini akan menjaga pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin atau aliran air banjir. Semakin besar drag force, semakin penting peran akar sebagai penyeimbang.
Akar dan fondasi manusia dalam hidup adalah nilai dan prinsip yang dipegang, hubungan dengan orang lain, serta dukungan moral dari keluarga dan sahabat. Akar ini memberikan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tekanan hidup.
Karenanya, penting untuk memperkuat akar kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, prinsip yang kokoh, dan keimanan. Dengan akar yang kuat, kita dapat tetap stabil meski angin kehidupan menerpa.
Fleksibilitas Dapat Mengurangi Risiko
Batang pohon dan ranting pada dedaunan yang fleksibel dapat membelokkan energi angin alih-alih menahannya langsung, sehingga risiko patah atau roboh berkurang. Tentu, bentuk yang dinamis juga mempengaruhi koefisiennya.
Itulah mengapa, terkadang kita perlu lebih fleksibilitas dalam pemikiran, tindakan, dan keputusan. Karena hal ini membantu seseorang menghadapi tantangan dengan cara yang adaptif, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita pegang. Kekakuan, baik dalam prinsip maupun perilaku, sering kali menjadi penyebab kegagalan.
Karenanya, jangan takut untuk beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Dengan fleksibilitas, kita dapat "membelokkan" tekanan hidup tanpa harus patah secara utuh.
Rendah Hati di Tengah Ketinggian
Pohon yang tinggi memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti naungan, oksigen, dan ekosistem yang sehat. Pohon tidak pernah menonjolkan dirinya, tetapi justru berfungsi sebagai pelindung.
Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia, semakin besar pencapaian kita, semakin besar pula tanggung jawab sosial untuk berbagi manfaat kepada sesama. Keberhasilan harus disertai dengan sikap rendah hati.
Karenanya, syarat menjadi pohon tinggi yang memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa perlu berbangga diri. Karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagaimana memberikan berdampak positif pada orang lain.
Karenanya drag force dalam mekanika fluida, tetapi juga memberikan pelajaran filosofis yang dalam. Semakin tinggi pohon (atau manusia dalam kehidupan), semakin besar hambatan yang harus dihadapi.
Namun, dengan akar yang kuat, batang yang fleksibel, dan dedaunan yang strategis, pohon (atau manusia) dapat tetap berdiri tegak. Filosofi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan, fleksibilitas, dan rendah hati untuk menghadapi tantangan hidup.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF
oleh: Muhammad Farid Maricar
Dalam kehidupan, kita sering menghadapi berbagai bentuk hambatan, seperti angin yang menerpa pohon tinggi. Dalam ilmu mekanika fluida dan hidrolika, hambatan ini disebut sebagai drag force, yaitu gaya hambat yang dialami oleh suatu benda saat bergerak melalui fluida seperti udara atau air. Untuk rumus umumnya bisa baca di gambar ini.
Hambatan adalah Bagian dari Pertumbuhan
Semakin tinggi pohon, luas permukaan yang terpapar angin meningkat, sehingga drag force menjadi lebih besar. Pohon tinggi juga lebih rentan terhadap angin kencang yang dapat menekuk atau merobohkannya.
Sama seperti pohon yang semakin tinggi menerima lebih banyak angin, manusia yang mencapai posisi tinggi dalam karier, ilmu pengetahuan, atau kehidupan sosial menghadapi lebih banyak hambatan.
Hambatan ini bisa berupa tanggung jawab yang lebih besar, kritik dari orang lain, atau tekanan untuk terus berkembang. Hambatan-hambatan tersebut seharusnya tidak dianggap sebagai halangan, tetapi diterima sebagai bagian dari proses pertumbuhan yang menguatkan.
Keseimbangan adalah Kunci Stabilitas
Cara terbaik untuk menjaga pohon tetap berdiri adalah akar yang kuat dan fondasi tempat berdirinya yang kuat. Karena hal ini akan menjaga pohon tetap berdiri meskipun diterpa angin atau aliran air banjir. Semakin besar drag force, semakin penting peran akar sebagai penyeimbang.
Akar dan fondasi manusia dalam hidup adalah nilai dan prinsip yang dipegang, hubungan dengan orang lain, serta dukungan moral dari keluarga dan sahabat. Akar ini memberikan fondasi yang kokoh untuk menghadapi tekanan hidup.
Karenanya, penting untuk memperkuat akar kehidupan, seperti hubungan yang bermakna, prinsip yang kokoh, dan keimanan. Dengan akar yang kuat, kita dapat tetap stabil meski angin kehidupan menerpa.
Fleksibilitas Dapat Mengurangi Risiko
Batang pohon dan ranting pada dedaunan yang fleksibel dapat membelokkan energi angin alih-alih menahannya langsung, sehingga risiko patah atau roboh berkurang. Tentu, bentuk yang dinamis juga mempengaruhi koefisiennya.
Itulah mengapa, terkadang kita perlu lebih fleksibilitas dalam pemikiran, tindakan, dan keputusan. Karena hal ini membantu seseorang menghadapi tantangan dengan cara yang adaptif, tentu tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang kita pegang. Kekakuan, baik dalam prinsip maupun perilaku, sering kali menjadi penyebab kegagalan.
Karenanya, jangan takut untuk beradaptasi dan mencari solusi kreatif. Dengan fleksibilitas, kita dapat "membelokkan" tekanan hidup tanpa harus patah secara utuh.
Rendah Hati di Tengah Ketinggian
Pohon yang tinggi memberikan manfaat bagi sekitarnya, seperti naungan, oksigen, dan ekosistem yang sehat. Pohon tidak pernah menonjolkan dirinya, tetapi justru berfungsi sebagai pelindung.
Maka, sudah sepantasnya sebagai manusia, semakin besar pencapaian kita, semakin besar pula tanggung jawab sosial untuk berbagi manfaat kepada sesama. Keberhasilan harus disertai dengan sikap rendah hati.
Karenanya, syarat menjadi pohon tinggi yang memberikan manfaat kepada banyak orang tanpa perlu berbangga diri. Karena keberhasilan yang sesungguhnya adalah bagaimana memberikan berdampak positif pada orang lain.
Karenanya drag force dalam mekanika fluida, tetapi juga memberikan pelajaran filosofis yang dalam. Semakin tinggi pohon (atau manusia dalam kehidupan), semakin besar hambatan yang harus dihadapi.
Namun, dengan akar yang kuat, batang yang fleksibel, dan dedaunan yang strategis, pohon (atau manusia) dapat tetap berdiri tegak. Filosofi ini mengajarkan pentingnya keseimbangan, fleksibilitas, dan rendah hati untuk menghadapi tantangan hidup.
Wallahu'alam bish showab
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Bahan renungan bersama:
1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga
2. Jangan pernah kamu kotori rumah tempat kamu tinggal dan berlindung
3. Jangan pernah kamu jelekkan kantor/tempat kamu bekerja untuk mencari nafkah
4. Jangan pernah kamu fitnah teman atau sahabat tempat kamu curhat, berbagi kisah, meminta nasehat/pendapat bahkan meminjam sesuatu, walau apa yg kamu dapat atau terima tidak sesuai harapanmu, karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jangan kamu sebarkan hoax, kebencian, hasutan, juga fitnah di media sosial terkait rekan atau tempat kerjamu
TETAPI...
1. Jika kamu sudah tidak butuh sumur yang lama, silakan buatlah sumur yang baru tanpa harus meludahi dan membuang sampah ke dalam sumur yang lama
2. Jika rumah tempat kamu tinggal dan berlindung sudah kotor, coba bersihkanlah jangan malah kamu tambahkan kotoran dan sampah yang baru
3. Jika tempat kamu bekerja dan mencari nafkah sudah tidak cocok dan membosankan, pindahlah dan carilah tempat kerja yang baru yang sesuai dengan harapanmu, tanpa harus menjelekan dan merendahkan tempat kerja yang lama
4. Jika teman atau sahabat tempat kamu curhat, diskusi, minta masukan dan nasehat bahkan meminjam sesuatu meskipun apa yang kamu dapat tidak pernah sesuai dengan apa yang kamu harapkan, maklumilah mereka karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jika grup kamu berada dan tempat kamu berbagi salam, doa, harapan, humor yang sehat, video, foto kebersamaan terasa sudah tidak nyaman/cocok/tidak betah dan tidak sefrekwensi lagi dengan passionmu, keluarlah baik-baik tanpa harus menyebar hoax, fitnah, hasutan, hujatan, kebencian dll, terlebih bila kamu masih mau stay di grup tersebut.🙏
Have a nice Day🥰
#INISIATIF
1. Jangan pernah kamu ludahi sumur tempat di mana kamu ambil airnya untuk minummu dan keluarga
2. Jangan pernah kamu kotori rumah tempat kamu tinggal dan berlindung
3. Jangan pernah kamu jelekkan kantor/tempat kamu bekerja untuk mencari nafkah
4. Jangan pernah kamu fitnah teman atau sahabat tempat kamu curhat, berbagi kisah, meminta nasehat/pendapat bahkan meminjam sesuatu, walau apa yg kamu dapat atau terima tidak sesuai harapanmu, karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jangan kamu sebarkan hoax, kebencian, hasutan, juga fitnah di media sosial terkait rekan atau tempat kerjamu
TETAPI...
1. Jika kamu sudah tidak butuh sumur yang lama, silakan buatlah sumur yang baru tanpa harus meludahi dan membuang sampah ke dalam sumur yang lama
2. Jika rumah tempat kamu tinggal dan berlindung sudah kotor, coba bersihkanlah jangan malah kamu tambahkan kotoran dan sampah yang baru
3. Jika tempat kamu bekerja dan mencari nafkah sudah tidak cocok dan membosankan, pindahlah dan carilah tempat kerja yang baru yang sesuai dengan harapanmu, tanpa harus menjelekan dan merendahkan tempat kerja yang lama
4. Jika teman atau sahabat tempat kamu curhat, diskusi, minta masukan dan nasehat bahkan meminjam sesuatu meskipun apa yang kamu dapat tidak pernah sesuai dengan apa yang kamu harapkan, maklumilah mereka karena tidak ada manusia yg sempurna
5. Jika grup kamu berada dan tempat kamu berbagi salam, doa, harapan, humor yang sehat, video, foto kebersamaan terasa sudah tidak nyaman/cocok/tidak betah dan tidak sefrekwensi lagi dengan passionmu, keluarlah baik-baik tanpa harus menyebar hoax, fitnah, hasutan, hujatan, kebencian dll, terlebih bila kamu masih mau stay di grup tersebut.
Have a nice Day
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤22🙏13👍6🔥3❤🔥1
Mengapa Kita Harus Waspada Terhadap "Anchoring Bias" di Media Sosial? 👩💻
oleh: Wicaksono
Teman-teman, mari kita bayangkan kita sedang berselancar di dunia media sosial. Semua orang di sini pasti pernah membuka ponsel, melihat berita, atau mungkin membaca postingan teman, bukan?
Nah, pernahkah teman-teman merasa langsung percaya pada informasi pertama yang kalian baca, meskipun belum tahu kebenarannya? Itulah yang disebut dengan anchoring bias.
Anchoring bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi awal (atau "anchor") ketika membuat keputusan atau menilai sesuatu, bahkan jika informasi awal tersebut kurang relevan atau akurat. Bias ini biasanya terjadi secara tidak sadar, memengaruhi cara seseorang memahami situasi atau membuat pilihan.
Contoh Anchoring Bias
Bayangkan kita sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang penjual buah menawarkan dagangannya. "Mangga ini harganya Rp100 ribu per kilo, tapi untuk Mbaknya yang cantik, saya kasih Rp80 ribu."
Apa yang kalian pikirkan? Pasti merasa mendapat diskon besar, kan? Padahal, harga mangga di tempat lain mungkin cuma Rp50 ribu.
Nah, di sinilah otak kita bermain dengan "anchor" atau titik acuan pertama, yaitu Rp100 ribu tadi.
Di media sosial, hal yang sama terjadi. Saat kalian membaca sebuah judul berita sensasional, misalnya, "Artis A Menghina Artis B!", kalian langsung terpengaruh sebelum membaca isi beritanya.
Judul itu menjadi "anchor" yang membentuk pendapat kalian. Padahal, setelah dibaca, mungkin ternyata itu hanya kesalahpahaman.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak kasus lain yang memicu anchoring bias.
Daniel Kahneman. Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow", menjelaskan bahwa otak kita punya dua cara kerja: yang cepat dan instan (System 1), serta yang pelan tapi cermat (System 2).
Saat kita melihat informasi awal, otak kita yang cepat langsung menganggapnya benar, tanpa sempat berpikir panjang. Itu sebabnya anchoring bias sering muncul.
Rolf Dobelli, penulis buku "The Art of Thinking Clearly", menjelaskan, bias seperti ini sering membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya, kita berpikir sesuatu itu mahal atau murah hanya karena melihat harga pertama yang ditawarkan, bukan karena membandingkannya dengan fakta.
Nah, bayangkan jika semua orang di Indonesia terkena anchoring bias. Berita palsu jadi makin cepat menyebar. Opini yang salah jadi kebenaran di mata banyak orang.
Hasilnya? Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi malah meletus.
Bagaimana Menghindari Bias Ini?
Pertama, jangan percaya pada satu sumber saja. Pastikan berita yang kalian baca benar. Check and recheck.
Jangan mudah terpancing judul click bait. Terkadang, judul berita sengaja dibuat mencolok agar kita penasaran. Jadi, baca isi berita sampai habis, ya!
Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan ke diri sendiri, "Apakah ini masuk akal?" Saring sebelum sharing.
Setiap kali selesai mengonsumsi konten di media sosial, ambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tahan jari dan jempol.
Begitulah, teman-teman, sekarang kalian tahu kenapa kita harus berhati-hati dengan informasi pertama yang kita lihat.
Ingat, media sosial itu seperti samudra luas. Banyak yang indah, tapi ada juga yang berbahaya. Kalau kita bisa menggunakan otak kita dengan cermat, kita akan menjadi pelayar yang bijak di dunia digital.
Siap jadi pengguna media sosial yang cerdas?
#INISIATIF #TGIF
oleh: Wicaksono
Teman-teman, mari kita bayangkan kita sedang berselancar di dunia media sosial. Semua orang di sini pasti pernah membuka ponsel, melihat berita, atau mungkin membaca postingan teman, bukan?
Nah, pernahkah teman-teman merasa langsung percaya pada informasi pertama yang kalian baca, meskipun belum tahu kebenarannya? Itulah yang disebut dengan anchoring bias.
Anchoring bias adalah kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung pada informasi awal (atau "anchor") ketika membuat keputusan atau menilai sesuatu, bahkan jika informasi awal tersebut kurang relevan atau akurat. Bias ini biasanya terjadi secara tidak sadar, memengaruhi cara seseorang memahami situasi atau membuat pilihan.
Contoh Anchoring Bias
Bayangkan kita sedang berjalan di pasar. Tiba-tiba seorang penjual buah menawarkan dagangannya. "Mangga ini harganya Rp100 ribu per kilo, tapi untuk Mbaknya yang cantik, saya kasih Rp80 ribu."
Apa yang kalian pikirkan? Pasti merasa mendapat diskon besar, kan? Padahal, harga mangga di tempat lain mungkin cuma Rp50 ribu.
Nah, di sinilah otak kita bermain dengan "anchor" atau titik acuan pertama, yaitu Rp100 ribu tadi.
Di media sosial, hal yang sama terjadi. Saat kalian membaca sebuah judul berita sensasional, misalnya, "Artis A Menghina Artis B!", kalian langsung terpengaruh sebelum membaca isi beritanya.
Judul itu menjadi "anchor" yang membentuk pendapat kalian. Padahal, setelah dibaca, mungkin ternyata itu hanya kesalahpahaman.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, banyak kasus lain yang memicu anchoring bias.
Daniel Kahneman. Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow", menjelaskan bahwa otak kita punya dua cara kerja: yang cepat dan instan (System 1), serta yang pelan tapi cermat (System 2).
Saat kita melihat informasi awal, otak kita yang cepat langsung menganggapnya benar, tanpa sempat berpikir panjang. Itu sebabnya anchoring bias sering muncul.
Rolf Dobelli, penulis buku "The Art of Thinking Clearly", menjelaskan, bias seperti ini sering membuat kita salah mengambil keputusan. Misalnya, kita berpikir sesuatu itu mahal atau murah hanya karena melihat harga pertama yang ditawarkan, bukan karena membandingkannya dengan fakta.
Nah, bayangkan jika semua orang di Indonesia terkena anchoring bias. Berita palsu jadi makin cepat menyebar. Opini yang salah jadi kebenaran di mata banyak orang.
Hasilnya? Konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi malah meletus.
Bagaimana Menghindari Bias Ini?
Pertama, jangan percaya pada satu sumber saja. Pastikan berita yang kalian baca benar. Check and recheck.
Jangan mudah terpancing judul click bait. Terkadang, judul berita sengaja dibuat mencolok agar kita penasaran. Jadi, baca isi berita sampai habis, ya!
Sebelum menyebarkan informasi, tanyakan ke diri sendiri, "Apakah ini masuk akal?" Saring sebelum sharing.
Setiap kali selesai mengonsumsi konten di media sosial, ambil waktu untuk berpikir sebelum memutuskan sesuatu. Tahan jari dan jempol.
Begitulah, teman-teman, sekarang kalian tahu kenapa kita harus berhati-hati dengan informasi pertama yang kita lihat.
Ingat, media sosial itu seperti samudra luas. Banyak yang indah, tapi ada juga yang berbahaya. Kalau kita bisa menggunakan otak kita dengan cermat, kita akan menjadi pelayar yang bijak di dunia digital.
Siap jadi pengguna media sosial yang cerdas?
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍4
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
APA?! BPJS BUBAR?!! 😱 😭
📹 Arif Muhammad
Cemana gak kaya kesambar petir mak beti dengar orang ngomong gitu. Udah jelas banyak kali yang kebantu gara- gara BPJS lo nakkuu.
#bpjskesehatan #bpjsmilikkita
INSTAGRAM:
https://www.instagram.com/reel/DFW1cZky2mg/?igsh=MXI0eWY0bzd5ZnA4cQ==
TIKTOK:
https://vt.tiktok.com/ZS6WGmc91
📹 Arif Muhammad
Cemana gak kaya kesambar petir mak beti dengar orang ngomong gitu. Udah jelas banyak kali yang kebantu gara- gara BPJS lo nakkuu.
#bpjskesehatan #bpjsmilikkita
INSTAGRAM:
https://www.instagram.com/reel/DFW1cZky2mg/?igsh=MXI0eWY0bzd5ZnA4cQ==
TIKTOK:
https://vt.tiktok.com/ZS6WGmc91
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥10
Kisah DeepSeek: Sang Pemain Baru dalam Kompetisi AI Dunia 🔥
oleh: Wicaksono
Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang diikuti oleh pelari-pelari tercepat dari seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pelari dari Amerika Serikat, seperti OpenAI dan Google, selalu mendominasi. Mereka memiliki sepatu teknologi canggih dan pelatih terbaik.
Suatu hari, seorang pelari dari Tiongkok yang tidak banyak dikenal, DeepSeek, muncul. Ia tidak memiliki sepatu mahal atau pelatih terbaik, tetapi entah bagaimana ia berlari lebih cepat, lebih jauh, dan dengan tenaga yang lebih sedikit.
DeepSeek pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2025 oleh Liang Wenfeng, seorang visioner dan pendiri perusahaan ini. Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang Wenfeng adalah seorang analis keuangan yang sukses di dunia hedge fund melalui perusahaannya, High-Flyer. Namun, hatinya tertarik pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia melihat AI bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan uang, tetapi sebagai solusi untuk menjawab tantangan besar dunia, seperti efisiensi energi dan akses teknologi yang lebih inklusif.
Perjuangan Liang dan DeepSeek
Jalan menuju sukses DeepSeek penuh liku. Liang Wenfeng dan timnya bekerja di tengah keterbatasan teknologi akibat sanksi dari Amerika Serikat yang melarang ekspor chip canggih ke Tiongkok. Bayangkan seperti membangun mesin balap hanya dengan peralatan sederhana—itulah tantangan mereka. Namun, alih-alih menyerah, Liang memimpin timnya untuk menemukan cara baru.
Tim DeepSeek terdiri dari para insinyur muda berbakat dari universitas-universitas top Tiongkok. Mereka bekerja siang dan malam, bereksperimen dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Salah satu inovasi terbesar mereka adalah menciptakan arsitektur AI yang sangat hemat energi, yang mereka sebut sebagai Multi-head Latent Attention. Teknologi ini memungkinkan DeepSeek untuk memproses data besar tanpa menghabiskan banyak sumber daya. Ibarat mobil yang bisa menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan satu liter bensin.
Liang juga memutuskan untuk membuat DeepSeek open-source. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya perusahaan teknologi besar menjaga model mereka seperti harta karun. Namun, Liang percaya bahwa pengetahuan adalah milik bersama, dan dengan membagikannya, DeepSeek bisa tumbuh lebih cepat dengan bantuan komunitas global.
Peluncuran DeepSeek dan Dampaknya
Saat DeepSeek diluncurkan, dunia seolah berhenti sejenak. Model AI mereka, yang lebih cerdas, lebih hemat energi, dan jauh lebih murah, langsung menarik perhatian.
Bagi banyak perusahaan kecil, terutama di negara berkembang, DeepSeek menjadi jalan keluar dari dominasi teknologi mahal buatan Barat. Seperti seorang anak desa yang tiba-tiba mengalahkan juara dunia, peluncuran DeepSeek mematahkan anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang bisa menguasai AI.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, panik. Saham mereka jatuh, dan investor mulai mempertanyakan apakah dominasi mereka dalam dunia AI bisa bertahan.
Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai “momen Sputnik” bagi AI, merujuk pada kejutan dunia ketika Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa.
Bersambung part 2👇
oleh: Wicaksono
Bayangkan sebuah perlombaan maraton besar yang diikuti oleh pelari-pelari tercepat dari seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, pelari dari Amerika Serikat, seperti OpenAI dan Google, selalu mendominasi. Mereka memiliki sepatu teknologi canggih dan pelatih terbaik.
Suatu hari, seorang pelari dari Tiongkok yang tidak banyak dikenal, DeepSeek, muncul. Ia tidak memiliki sepatu mahal atau pelatih terbaik, tetapi entah bagaimana ia berlari lebih cepat, lebih jauh, dan dengan tenaga yang lebih sedikit.
DeepSeek pertama kali diperkenalkan pada awal tahun 2025 oleh Liang Wenfeng, seorang visioner dan pendiri perusahaan ini. Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang Wenfeng adalah seorang analis keuangan yang sukses di dunia hedge fund melalui perusahaannya, High-Flyer. Namun, hatinya tertarik pada teknologi, khususnya kecerdasan buatan. Ia melihat AI bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan uang, tetapi sebagai solusi untuk menjawab tantangan besar dunia, seperti efisiensi energi dan akses teknologi yang lebih inklusif.
Perjuangan Liang dan DeepSeek
Jalan menuju sukses DeepSeek penuh liku. Liang Wenfeng dan timnya bekerja di tengah keterbatasan teknologi akibat sanksi dari Amerika Serikat yang melarang ekspor chip canggih ke Tiongkok. Bayangkan seperti membangun mesin balap hanya dengan peralatan sederhana—itulah tantangan mereka. Namun, alih-alih menyerah, Liang memimpin timnya untuk menemukan cara baru.
Tim DeepSeek terdiri dari para insinyur muda berbakat dari universitas-universitas top Tiongkok. Mereka bekerja siang dan malam, bereksperimen dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya.
Salah satu inovasi terbesar mereka adalah menciptakan arsitektur AI yang sangat hemat energi, yang mereka sebut sebagai Multi-head Latent Attention. Teknologi ini memungkinkan DeepSeek untuk memproses data besar tanpa menghabiskan banyak sumber daya. Ibarat mobil yang bisa menempuh jarak ratusan kilometer hanya dengan satu liter bensin.
Liang juga memutuskan untuk membuat DeepSeek open-source. Ini adalah langkah yang berani, karena biasanya perusahaan teknologi besar menjaga model mereka seperti harta karun. Namun, Liang percaya bahwa pengetahuan adalah milik bersama, dan dengan membagikannya, DeepSeek bisa tumbuh lebih cepat dengan bantuan komunitas global.
Peluncuran DeepSeek dan Dampaknya
Saat DeepSeek diluncurkan, dunia seolah berhenti sejenak. Model AI mereka, yang lebih cerdas, lebih hemat energi, dan jauh lebih murah, langsung menarik perhatian.
Bagi banyak perusahaan kecil, terutama di negara berkembang, DeepSeek menjadi jalan keluar dari dominasi teknologi mahal buatan Barat. Seperti seorang anak desa yang tiba-tiba mengalahkan juara dunia, peluncuran DeepSeek mematahkan anggapan bahwa hanya perusahaan besar yang bisa menguasai AI.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat, seperti Nvidia, Google, dan Microsoft, panik. Saham mereka jatuh, dan investor mulai mempertanyakan apakah dominasi mereka dalam dunia AI bisa bertahan.
Banyak yang menyebut fenomena ini sebagai “momen Sputnik” bagi AI, merujuk pada kejutan dunia ketika Uni Soviet meluncurkan satelit pertama ke luar angkasa.
Bersambung part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
Lanjut part 2
Kunci Sukses DeepSeek
Ada tiga hal utama yang membuat DeepSeek begitu luar biasa:
1. Efisiensi Teknologi: Mereka berhasil menciptakan model AI yang hemat energi dan tetap sangat canggih. Analogi sederhananya, jika model AI lain adalah mobil sport yang boros bahan bakar, DeepSeek adalah sepeda listrik yang bisa melaju jauh hanya dengan sedikit daya.
2. Keberanian Liang Wenfeng: Keputusan untuk membuat DeepSeek open-source membuka pintu kolaborasi global. Ini seperti membuka perpustakaan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berinovasi, sehingga DeepSeek berkembang lebih cepat.
3. Ketekunan Tim: Para insinyur muda di DeepSeek, meskipun bekerja dengan keterbatasan, memiliki semangat dan rasa kebanggaan nasional yang mendorong mereka untuk terus maju.
Kompetisi AI Dunia: Masa Depan yang Baru
Fenomena DeepSeek telah mengubah cara dunia memandang AI. Selama ini, perlombaan AI didominasi oleh dua “tim besar”: Barat, yang diwakili Amerika Serikat dan Eropa, dan Timur, yang diwakili Tiongkok.
DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pemain besar dengan sumber daya melimpah. Justru dalam keterbatasan, lahir solusi-solusi baru yang bisa mengguncang dunia.
Dampak dari peluncuran DeepSeek tidak hanya terasa di dunia bisnis, tetapi juga dalam hal sosial. Dengan biaya yang murah dan akses terbuka, DeepSeek memungkinkan lebih banyak negara, komunitas, dan individu untuk menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Inspirasi dari DeepSeek
Cerita DeepSeek adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, siapa saja bisa menjadi inovator besar, asalkan mereka memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bekerja keras. Liang Wenfeng dan timnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, tetapi justru peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
Kini, dunia menantikan langkah DeepSeek berikutnya. Apakah mereka akan terus memimpin, ataukah para raksasa teknologi lainnya akan menemukan cara untuk kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: DeepSeek telah membuka babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan dunia. (*)
#INISIATIF
Kunci Sukses DeepSeek
Ada tiga hal utama yang membuat DeepSeek begitu luar biasa:
1. Efisiensi Teknologi: Mereka berhasil menciptakan model AI yang hemat energi dan tetap sangat canggih. Analogi sederhananya, jika model AI lain adalah mobil sport yang boros bahan bakar, DeepSeek adalah sepeda listrik yang bisa melaju jauh hanya dengan sedikit daya.
2. Keberanian Liang Wenfeng: Keputusan untuk membuat DeepSeek open-source membuka pintu kolaborasi global. Ini seperti membuka perpustakaan gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berinovasi, sehingga DeepSeek berkembang lebih cepat.
3. Ketekunan Tim: Para insinyur muda di DeepSeek, meskipun bekerja dengan keterbatasan, memiliki semangat dan rasa kebanggaan nasional yang mendorong mereka untuk terus maju.
Kompetisi AI Dunia: Masa Depan yang Baru
Fenomena DeepSeek telah mengubah cara dunia memandang AI. Selama ini, perlombaan AI didominasi oleh dua “tim besar”: Barat, yang diwakili Amerika Serikat dan Eropa, dan Timur, yang diwakili Tiongkok.
DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu datang dari pemain besar dengan sumber daya melimpah. Justru dalam keterbatasan, lahir solusi-solusi baru yang bisa mengguncang dunia.
Dampak dari peluncuran DeepSeek tidak hanya terasa di dunia bisnis, tetapi juga dalam hal sosial. Dengan biaya yang murah dan akses terbuka, DeepSeek memungkinkan lebih banyak negara, komunitas, dan individu untuk menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari.
Inspirasi dari DeepSeek
Cerita DeepSeek adalah pengingat bahwa dalam dunia teknologi, siapa saja bisa menjadi inovator besar, asalkan mereka memiliki visi, keberanian, dan kemauan untuk bekerja keras. Liang Wenfeng dan timnya menunjukkan bahwa tantangan bukanlah penghalang, tetapi justru peluang untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik.
Kini, dunia menantikan langkah DeepSeek berikutnya. Apakah mereka akan terus memimpin, ataukah para raksasa teknologi lainnya akan menemukan cara untuk kembali ke puncak? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: DeepSeek telah membuka babak baru dalam sejarah kecerdasan buatan dunia. (*)
#INISIATIF
👍1
FLUID INTELLIGENCE VS CRYSTALLIZED INTELLIGENCE 🧠
Oleh: Iwan Kusworo
Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, pada tahun 1971 pernah menulis buku berjudul Abilities: Their Structure, Growth, and Action.
Fluid intelligence adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir secara fleksibel, dan memecahkan masalah yang sulit. Seringkali dihubungkan dengan keahlian membaca dan ilmu matematika. Seorang inovator biasanya memiliki fluid Intelligence yang tinggi. Kecerdasan tipe ini akan mencapai puncaknya di usia 20-an dan akan menurun dengan cepat dimulai di usia pertengahan 30-an atau 40-an.
Sedangkan crystallized intelligence adalah kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki di masa lalu. Ibaratnya seorang petugas perpustakaan di sebuah perpustakaan tua yang tahu di mana letak buku-buku yang ingin dicarinya.
Berbeda dengan fluid Intelligence yang bisa muncul sejak seseorang masih kecil, crystallized intelligence terbentuk belakangan, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Akan ada penurunan memang, namun biasanya itu lebih karena kondisi fisik yang mulai menurun.
Seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam surat terbuka kepada putranya, dia menyampaikan tiga hal tentang “usia tua":
Yang pertama, usia tua seharusnya didedikasikan untuk pelayanan, bukan untuk bermalas-malasan. Kedua, berkah terbesar di usia tua adalah memiliki kearifan (wisdom), di mana hasil pembelajaran dan pemikiran seseorang bisa digunakan untuk memperkaya wawasan orang lain. Dan ketiga, kemampuan alamiah seseorang di titik ini adalah memberikan nasihat dan petuah. Aktifitas coaching, mentoring, dan mengajarkan sesuatu ke orang lain adalah beberapa contoh nyatanya.
Dari sini mungkin bisa dijadikan perenungan buat kita semua jika topik ini dihubungkan dengan diversity (keberagaman), terutama yang terkait “usia.” Apakah "senior employee" di sekitar kita selama ini sudah ditempatkan pada tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan tipe kecerdasan yang saat ini mereka miliki?
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Iwan Kusworo
Seorang psikolog asal Inggris bernama Raymond Cattel, pada tahun 1971 pernah menulis buku berjudul Abilities: Their Structure, Growth, and Action.
Di bukunya dia membahas tentang dua tipe kecerdasan (intelligence), yaitu:
1. Fluid intelligence (kecerdasan cair)
2. Crystallized intelligence (kecerdasan padat/kristal)
Fluid intelligence adalah kemampuan untuk menganalisa, berpikir secara fleksibel, dan memecahkan masalah yang sulit. Seringkali dihubungkan dengan keahlian membaca dan ilmu matematika. Seorang inovator biasanya memiliki fluid Intelligence yang tinggi. Kecerdasan tipe ini akan mencapai puncaknya di usia 20-an dan akan menurun dengan cepat dimulai di usia pertengahan 30-an atau 40-an.
Sedangkan crystallized intelligence adalah kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki di masa lalu. Ibaratnya seorang petugas perpustakaan di sebuah perpustakaan tua yang tahu di mana letak buku-buku yang ingin dicarinya.
Berbeda dengan fluid Intelligence yang bisa muncul sejak seseorang masih kecil, crystallized intelligence terbentuk belakangan, dan akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Akan ada penurunan memang, namun biasanya itu lebih karena kondisi fisik yang mulai menurun.
Seorang filsuf Romawi, Marcus Tullius Cicero, dalam surat terbuka kepada putranya, dia menyampaikan tiga hal tentang “usia tua":
Yang pertama, usia tua seharusnya didedikasikan untuk pelayanan, bukan untuk bermalas-malasan. Kedua, berkah terbesar di usia tua adalah memiliki kearifan (wisdom), di mana hasil pembelajaran dan pemikiran seseorang bisa digunakan untuk memperkaya wawasan orang lain. Dan ketiga, kemampuan alamiah seseorang di titik ini adalah memberikan nasihat dan petuah. Aktifitas coaching, mentoring, dan mengajarkan sesuatu ke orang lain adalah beberapa contoh nyatanya.
Dari sini mungkin bisa dijadikan perenungan buat kita semua jika topik ini dihubungkan dengan diversity (keberagaman), terutama yang terkait “usia.” Apakah "senior employee" di sekitar kita selama ini sudah ditempatkan pada tugas-tugas yang sesuai dengan tahapan tipe kecerdasan yang saat ini mereka miliki?
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🏆1