Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
STRATEGIC PLANNING FROM VISION TO EXECUTION 🎯 ♟
Yuk join belajar bersama dalam Chess Class 2025 COMMIT BKC yang spesial menghadirkan 2 orang Pelatih yang sarat pengalaman tanding skala Nasional hingga Internasional🔥
🗓 Rabu, 8 Januari 2025)
⏰ 18.30 WIB sd 20.00 WIB
👤 Chess Lovers BPJS Kesehatan
📱 Cek Link Zoom di Grup BKC:
https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Bagi para penggemarnya, catur bukan hanya sekadar permainan, ia adalah cerminan dari kehidupan itu sendiri. Setiap langkah di atas papan catur mengandung risiko dan konsekuensi yang harus dipertimbangkan dengan matang. Bila dikaitkan dalam konteks pengabdian kita sebagai Duta BPJS Kesehatan, filosofi catur dapat menjadi panduan yang berguna untuk mengelola risiko dengan strategi yang tepat dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab untuk mencapai target organisasi🏆
Yuk join belajar bersama dalam Chess Class 2025 COMMIT BKC yang spesial menghadirkan 2 orang Pelatih yang sarat pengalaman tanding skala Nasional hingga Internasional
https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1
#INISIATIF #BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2
PEMULA VS AHLI 😎
oleh: Muhammad Farid Maricar
Salah satu hal yang membedakan seorang ahli dan pemula adalah apa yang mereka inginkan dari orang lain atas kemampuan mereka. Para pemula menginginkan pujian, validasi, rekognisi, dan hal semisal. Berbeda dengan para ahli (expert) yang selalu mencari kritik, dari ahli yang lain, tentu yang sifatnya objektif, bukan yang subjektif.
Mengapa begitu? Pemula sering mencari pujian dan validasi. Hal ini wajar, karena pujian membantu membangun rasa percaya diri yang mereka butuhkan untuk terus belajar dan berkembang.
Pujian menjadi tanda bahwa mereka diakui dan berada di jalur yang benar. Namun, kebutuhan ini sering mencerminkan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan mereka sendiri.
Berbeda dengan pemula, ahli lebih menghargai kritik objektif. Kritik bagi mereka bukanlah ancaman, tetapi alat untuk menemukan kelemahan yang dapat diperbaiki. Ahli memahami bahwa kesempurnaan tidak dicapai dengan menghindari kesalahan, melainkan dengan belajar dari koreksi.
Inilah mengapa mereka lebih memilih kritik daripada pujian, karena hanya kritik yang memberi mereka peluang untuk terus tumbuh dan mencapai tingkat keahlian yang lebih tinggi.
Perubahan mindset dari mencari pujian ke menerima kritik menandai perubahan penting dalam pola pikir. Ketika seseorang mulai melihat kritik sebagai peluang, itu menunjukkan bahwa ia telah melampaui kebutuhan akan validasi eksternal dan mulai percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
Namun akhirnya kita sadar, bahwa orang yang cerdas dan mau berkembang memilih untuk menerima koreksi daripada pujian. Sehingga jika masih mencari pujian, validasi, adalah simbol ketidak percayaan pada keahlian sendiri, sehingga masih haus dengan hal-hal semacam itu.
Kalau kita masih haus dengan pujian, apalagi dalam hal yang kita merasa diri kita ahli, maka sebenarnya keahlian kita patut diragukan.
#INISIATIF
oleh: Muhammad Farid Maricar
Salah satu hal yang membedakan seorang ahli dan pemula adalah apa yang mereka inginkan dari orang lain atas kemampuan mereka. Para pemula menginginkan pujian, validasi, rekognisi, dan hal semisal. Berbeda dengan para ahli (expert) yang selalu mencari kritik, dari ahli yang lain, tentu yang sifatnya objektif, bukan yang subjektif.
Mengapa begitu? Pemula sering mencari pujian dan validasi. Hal ini wajar, karena pujian membantu membangun rasa percaya diri yang mereka butuhkan untuk terus belajar dan berkembang.
Pujian menjadi tanda bahwa mereka diakui dan berada di jalur yang benar. Namun, kebutuhan ini sering mencerminkan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan mereka sendiri.
Berbeda dengan pemula, ahli lebih menghargai kritik objektif. Kritik bagi mereka bukanlah ancaman, tetapi alat untuk menemukan kelemahan yang dapat diperbaiki. Ahli memahami bahwa kesempurnaan tidak dicapai dengan menghindari kesalahan, melainkan dengan belajar dari koreksi.
Inilah mengapa mereka lebih memilih kritik daripada pujian, karena hanya kritik yang memberi mereka peluang untuk terus tumbuh dan mencapai tingkat keahlian yang lebih tinggi.
Perubahan mindset dari mencari pujian ke menerima kritik menandai perubahan penting dalam pola pikir. Ketika seseorang mulai melihat kritik sebagai peluang, itu menunjukkan bahwa ia telah melampaui kebutuhan akan validasi eksternal dan mulai percaya pada kemampuan dirinya sendiri.
Namun akhirnya kita sadar, bahwa orang yang cerdas dan mau berkembang memilih untuk menerima koreksi daripada pujian. Sehingga jika masih mencari pujian, validasi, adalah simbol ketidak percayaan pada keahlian sendiri, sehingga masih haus dengan hal-hal semacam itu.
Kalau kita masih haus dengan pujian, apalagi dalam hal yang kita merasa diri kita ahli, maka sebenarnya keahlian kita patut diragukan.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Resume _Aay Aisyah Anisa.pdf
148.6 KB
Perkenalan singkat Pelatih malam hari ini WFM Aay Aisyah Anisa
Selamat pagi Sahabat!
Sebuah tulisan di buku ini buat saya sangat bagus dan mengena banget buat saya.
Saya pribadi menerjemahkan dan memahaminya seperti ini:
Bahwa kita tidak bisa mendefinisikan diri kita dan kehidupan kita sebagai sesuatu yang menyenangkan ataupun menyedihkan.🙏
Ada kalanya kita senang, bangga, puas, atau damai. Namun ada kalanya juga kita merasakan sedih, marah, cemburu, atau kecewa. Itu adalah warna-warni dalam hidup kita.
Kemampuan untuk mengenali dan memahami setiap emosi yang kita alami setiap saat adalah salah satu keterampilan yang akan membuat hidup kita menjadi lebih sehat.
Dan untuk memiliki keterampilan ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.🤝
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Have a nice day!❤️
oleh: Iwan Kusworo
#INISIATIF
Sebuah tulisan di buku ini buat saya sangat bagus dan mengena banget buat saya.
_"It's not as if our lives are divided simply into light and dark. There's a shadowy middle ground. Recognising and understanding the shadows is what a healthy intelligence does. And to acquire a healthy intelligence takes a certain amount of time and effort."_
Saya pribadi menerjemahkan dan memahaminya seperti ini:
Bahwa kita tidak bisa mendefinisikan diri kita dan kehidupan kita sebagai sesuatu yang menyenangkan ataupun menyedihkan.
Ada kalanya kita senang, bangga, puas, atau damai. Namun ada kalanya juga kita merasakan sedih, marah, cemburu, atau kecewa. Itu adalah warna-warni dalam hidup kita.
Kemampuan untuk mengenali dan memahami setiap emosi yang kita alami setiap saat adalah salah satu keterampilan yang akan membuat hidup kita menjadi lebih sehat.
Dan untuk memiliki keterampilan ini membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Buku apa yang sedang Anda baca pagi ini?
Have a nice day!
oleh: Iwan Kusworo
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🥰2
Di film Squid game ada sosok Ibu. Dia ikutan game mematikan ini demi bisa membantu anaknya yang sedang terlilit hutang karena suka main judi. Sang Ibu nekat demi kebahagiaan anaknya.
Betapa terkejutnya sang anak melihat Ibu ikut main. Sementara sang Ibu marah saat tahu anaknya juga ikutan main. Tapi nasi sudah menjadi nasi goreng. Ehh. Gak bisa balik lagi. Dua-duanya akhirnya ikutan.
Ada sesi dimana Ibu kecewa. Saat putranya gak nurutin ibunya. Si ibu minta anaknya pencet tombol merah, anaknya malah pencet tombol biru. Tapi setelah itu sang putra minta maaf. Dan begitulah Ibu, pintu maafnya selalu terbuka. Meski Ibu telah terluka hatinya. Meski ibu telah banyak menangis karena tingkah anaknya. Maafnya selalu ada. Ibu, terbuat dari apa hatimu?
Ada juga sesi saat Ibu harus berkorban di permainan ketiga. Dia biarkan anaknya bersama yang lain demi anaknya selamat. Karena yang dibutuhkan hanya tiga orang. Kalau sama ibunya jadi empat. Kalau lebih, semuanya dibunuh. Maka sang Ibu berkata, "Silahkan nak kamu bersama mereka. Biar ibu cari teman lain,"
Ibu....
😭
Ibu akan sentiasa ada untuk anaknya. Ibu akan selalu melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Pengorbanannya bukan hanya saat melahirkan dan membesarkan. Tapi seumur hidup anaknya.
Aku ingat ibuku. Meski udah nikah, ibu masih diam-diam kasih aku duit. Dia belikan banyak baju untuk istriku. Dibelikannya kami lemari. Bahkan dibelikannya aku motor second. Padahal bukan kewajibannya. Begitulah Ibu.
Jadi kangen almarhumah. Alfatihah....
Oleh: Kak Oksa
#INISIATIF #TGIF
Betapa terkejutnya sang anak melihat Ibu ikut main. Sementara sang Ibu marah saat tahu anaknya juga ikutan main. Tapi nasi sudah menjadi nasi goreng. Ehh. Gak bisa balik lagi. Dua-duanya akhirnya ikutan.
Ada sesi dimana Ibu kecewa. Saat putranya gak nurutin ibunya. Si ibu minta anaknya pencet tombol merah, anaknya malah pencet tombol biru. Tapi setelah itu sang putra minta maaf. Dan begitulah Ibu, pintu maafnya selalu terbuka. Meski Ibu telah terluka hatinya. Meski ibu telah banyak menangis karena tingkah anaknya. Maafnya selalu ada. Ibu, terbuat dari apa hatimu?
Ada juga sesi saat Ibu harus berkorban di permainan ketiga. Dia biarkan anaknya bersama yang lain demi anaknya selamat. Karena yang dibutuhkan hanya tiga orang. Kalau sama ibunya jadi empat. Kalau lebih, semuanya dibunuh. Maka sang Ibu berkata, "Silahkan nak kamu bersama mereka. Biar ibu cari teman lain,"
Ibu....
😭
Ibu akan sentiasa ada untuk anaknya. Ibu akan selalu melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya. Pengorbanannya bukan hanya saat melahirkan dan membesarkan. Tapi seumur hidup anaknya.
Aku ingat ibuku. Meski udah nikah, ibu masih diam-diam kasih aku duit. Dia belikan banyak baju untuk istriku. Dibelikannya kami lemari. Bahkan dibelikannya aku motor second. Padahal bukan kewajibannya. Begitulah Ibu.
Jadi kangen almarhumah. Alfatihah....
Oleh: Kak Oksa
#INISIATIF #TGIF
🥰3❤2
Forwarded from Arif Sugiharto
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Assalamualaikum selamat sore bapak ibu ,, ijin mengabarkan dr kaki gunung gede pangrango cisarua ,, alhamdulillah corpu bpjs kesehatan sudah terkareditasi internasional oleh EFMD
Terima kasih atas segala dukungan dan doa bapak ibu untuk perkembangan corpu selama ini..
Berikut pemberitaan nya
https://m.antaranews.com/berita/4575158/corporate-university-bpjs-kesehatan-raih-akreditasi-clip-dari-efmd?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=latest_category
Terima kasih atas segala dukungan dan doa bapak ibu untuk perkembangan corpu selama ini..
Berikut pemberitaan nya
https://m.antaranews.com/berita/4575158/corporate-university-bpjs-kesehatan-raih-akreditasi-clip-dari-efmd?utm_source=antaranews&utm_medium=mobile&utm_campaign=latest_category
❤5👏4
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Losers focus on Winner, Winner focus on Winning🔥
Kami mengucapkan Terima Kasih sekaligus ucapan Selamat kepada para pemenang atas pertandingan yang sangat berkesan antara rekan-rekan pecinta catur BPJS Kesehatan dengan adik-adik mahasiswa(i) dari Universitas Indonesia dalam lanjutan INISIATIF Chess Arena Collaboration Vol 2 Tahun 2025
Sampai bertemu kembali pada momen berbahagia selanjutnya, jangan lupa Selalu Berpikir Sebelum Bertindak♟️
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Hampir 2 dasawarsa menjadi ASN/PNS, sejak masih staf hingga beberapa tahun terakhir ini menjadi direktur, setidaknya ada 25 tips dan saran yang bisa saya sarikan. Mungkin tips dan saran ini bisa berguna bagi siapapun yang berminat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan segala konsekuensinya.
.
Apa aja? Ini dia!
.
1. Biasakan komunikasi dengan tulisan atau chat dibanding lisan, itu akan membantu kita mendokumentasikan perintah dan arahan secara akuntabel.
2. Kerja sebaik-baiknya tapi gunakan waktu secukupnya saja. Negara tidak akan selalu mengingat jasamu, keluarga dan orang-orang terdekat kitalah yang akan selalu ada.
3. Jangan baperan dan menganggap semua masalah adalah hal personal. Bodo amat tidak selalu menjadi dosa!
4. Jangan pernah merasa kemampuan dan kinerja kita tidak ada yang bisa menggantikan. Di pemerintahan, selain sikap birokratis, semua bisa digantikan.
5. Jangan mau mengamankan keputusan pimpinan, tapi bantu pimpinan membuat keputusan yang aman untuk semua.
6. Optimalkan fasilitas negara yg diberikan kepada kita sesuai standard aturan yang telah ditentukan. Kita layak dan berhak menerima itu sebagai seorang profesional.
7. Luangkan waktu untuk membangun relasi kekeluargaan di lingkungan kerja, karena lebih dari setengah hidup kita akan dihabiskan di kantor. Kebersamaan akan saling meringankan beban kerja.
8. Selalu ada group dalam group, terima itu sebagai sebuah kewajaran.
9. Sesuatu yang bisa dibicarakan dalam group percakapan tak perlu dirapatkan berjam-jam.
10. Di kantor, semuanya baik-baik saja sampai kita berpikir kalau sebenarnya tidak baik-baik saja.
11. Selalu produktif sampai kita tidak sempat memikirkan orang yang tidak menyukai kita.
12. Meski jika kita mampu melakukan pekerjaan yang orang lain kerjakan, belum tentu kita adalah orang yang tepat di posisi itu.
13. Rajin upacara atau memasang simbol-simbol negara itu penting, tapi kadar nasionalisme kita diukur dari seberapa banyak aksi kita yang bermanfaat untuk negara.
14. Di pemerintahan yang paling dibutuhkan adalah orang yang mampu mengeksekusi ide-ide, bukan sekedar orang yang banyak ide.
15. Jika belum ada garis tangan, jangan berharap akan adanya tanda tangan. Semua ada waktunya dan semua ada tempatnya masing-masing!
16. Sependek apapun ide bagus kita utarakan, itu lebih baik daripada diskusi panjang yang penuh basa-basi.
.
.
Itu dulu aja tips dan saran saya. 9 tips dan nasihat lainnya biar saya simpan untuk diri sendiri. :)
oleh: Teguh Arifiyadi
#INISIATIF
.
Apa aja? Ini dia!
.
1. Biasakan komunikasi dengan tulisan atau chat dibanding lisan, itu akan membantu kita mendokumentasikan perintah dan arahan secara akuntabel.
2. Kerja sebaik-baiknya tapi gunakan waktu secukupnya saja. Negara tidak akan selalu mengingat jasamu, keluarga dan orang-orang terdekat kitalah yang akan selalu ada.
3. Jangan baperan dan menganggap semua masalah adalah hal personal. Bodo amat tidak selalu menjadi dosa!
4. Jangan pernah merasa kemampuan dan kinerja kita tidak ada yang bisa menggantikan. Di pemerintahan, selain sikap birokratis, semua bisa digantikan.
5. Jangan mau mengamankan keputusan pimpinan, tapi bantu pimpinan membuat keputusan yang aman untuk semua.
6. Optimalkan fasilitas negara yg diberikan kepada kita sesuai standard aturan yang telah ditentukan. Kita layak dan berhak menerima itu sebagai seorang profesional.
7. Luangkan waktu untuk membangun relasi kekeluargaan di lingkungan kerja, karena lebih dari setengah hidup kita akan dihabiskan di kantor. Kebersamaan akan saling meringankan beban kerja.
8. Selalu ada group dalam group, terima itu sebagai sebuah kewajaran.
9. Sesuatu yang bisa dibicarakan dalam group percakapan tak perlu dirapatkan berjam-jam.
10. Di kantor, semuanya baik-baik saja sampai kita berpikir kalau sebenarnya tidak baik-baik saja.
11. Selalu produktif sampai kita tidak sempat memikirkan orang yang tidak menyukai kita.
12. Meski jika kita mampu melakukan pekerjaan yang orang lain kerjakan, belum tentu kita adalah orang yang tepat di posisi itu.
13. Rajin upacara atau memasang simbol-simbol negara itu penting, tapi kadar nasionalisme kita diukur dari seberapa banyak aksi kita yang bermanfaat untuk negara.
14. Di pemerintahan yang paling dibutuhkan adalah orang yang mampu mengeksekusi ide-ide, bukan sekedar orang yang banyak ide.
15. Jika belum ada garis tangan, jangan berharap akan adanya tanda tangan. Semua ada waktunya dan semua ada tempatnya masing-masing!
16. Sependek apapun ide bagus kita utarakan, itu lebih baik daripada diskusi panjang yang penuh basa-basi.
.
.
Itu dulu aja tips dan saran saya. 9 tips dan nasihat lainnya biar saya simpan untuk diri sendiri. :)
oleh: Teguh Arifiyadi
#INISIATIF
🔥3
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
“Dunia ini lebih ringan saat kita saling menopang, bukan saling menjatuhkan.”
Bayangkan sebuah beban berat yang harus dipikul seorang diri, melelahkan, bukan? Tapi saat ada orang lain yang membantu menopang, tiba-tiba beban itu terasa lebih ringan, bahkan perjalanan jadi lebih menyenangkan. Begitulah kekuatan saling mendukung.
Hidup ini memang penuh tantangan, tapi bukan berarti kita harus jadi kompetitor di setiap langkah. Justru, dengan saling menopang, kita bisa menciptakan dunia yang lebih nyaman untuk semua orang. Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling berarti bukan tentang siapa yang di atas, tapi siapa yang berhasil sampai di garis akhir bersama-sama.
Jadi, mari kita ubah cara pandang: daripada saling menjatuhkan, jadilah seseorang yang mengulurkan tangan, memberi dorongan, dan menginspirasi. 😊
oleh: Radakreator
#INISIATIF
Bayangkan sebuah beban berat yang harus dipikul seorang diri, melelahkan, bukan? Tapi saat ada orang lain yang membantu menopang, tiba-tiba beban itu terasa lebih ringan, bahkan perjalanan jadi lebih menyenangkan. Begitulah kekuatan saling mendukung.
Hidup ini memang penuh tantangan, tapi bukan berarti kita harus jadi kompetitor di setiap langkah. Justru, dengan saling menopang, kita bisa menciptakan dunia yang lebih nyaman untuk semua orang. Karena pada akhirnya, kemenangan yang paling berarti bukan tentang siapa yang di atas, tapi siapa yang berhasil sampai di garis akhir bersama-sama.
Jadi, mari kita ubah cara pandang: daripada saling menjatuhkan, jadilah seseorang yang mengulurkan tangan, memberi dorongan, dan menginspirasi. 😊
oleh: Radakreator
#INISIATIF
❤1
Pentingnya Fondasi untuk Bertumbuh 🔥
oleh: Muhammad Farid Maricar
Syarat untuk bertumbuh adalah memiliki fondasi yang kokoh dan pijakan yang jelas. Pertumbuhan sesuatu tidak bisa didasarkan pada asal-asalan atau sekadar memanfaatkan pijakan dari orang lain. Sebab, seperti halnya bangunan, kekuatan sebuah struktur hanya dapat tercapai jika berdiri di atas fondasi yang kuat dan mengakar ke dalam tanah.
Selain itu, semakin tinggi sebuah bangunan, semakin besar pula gaya hambat (drag force) yang harus dihadapinya, baik dari angin atau bahkan air saat banjir maupun tsunami, maupun faktor eksternal lainnya. Maka, fondasi yang kokoh dan perencanaan yang matang adalah syarat mutlak untuk memastikan bangunan tersebut mampu bertahan.
Bangunan yang kokoh tidak dibangun di atas bangunan lain yang rapuh, kecuali sejak awal sudah dihitung dengan cermat kapasitas fondasi yang menopangnya. Tanpa perhitungan yang matang, risiko runtuh akan selalu membayangi.
Hal serupa juga berlaku pada pohon. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi hingga ratusan tahun bukan hanya bergantung pada batang yang besar atau daun yang rindang, tetapi karena akarnya mampu menjalar jauh ke dalam tanah, mencengkeram kuat bumi yang menopangnya.
Semakin tinggi pohon, semakin besar pula gaya hambat yang dihadapi oleh dahan dan batangnya, baik dari angin maupun badai, atau aliran banjir dan debris. Tanpa akar yang dalam dan kuat, pohon itu akan mudah tumbang.
Berbeda dengan benalu, yang hidupnya hanya menumpang pada pohon lain. Benalu mungkin tampak bertahan, tetapi ia tidak memiliki daya untuk hidup dalam waktu yang lama. Sebab, hidup tanpa fondasi yang mandiri hanyalah sementara, seperti menanti waktu untuk layu dan hilang.
Selain itu, bertumbuh juga memerlukan originalitas. Meniru orang lain mungkin terasa lebih mudah, tetapi pertumbuhan yang sejati hanya dapat dicapai ketika kita menemukan pijakan kita sendiri. Seperti bangunan yang memiliki desain khasnya, atau pohon yang tumbuh sesuai lingkungannya, setiap individu pun memiliki jalannya masing-masing untuk bertumbuh. Meniru mungkin menghasilkan sesuatu yang tampak serupa, tetapi tidak akan pernah sama, karena fondasi kita berbeda.
Perlu diingat, semakin tinggi kita tumbuh, semakin besar pula tantangan yang akan dihadapi. Layaknya bangunan yang semakin tinggi dan pohon yang semakin menjulang, gaya hambat dari luar akan semakin kuat mencoba menggoyahkan pijakan kita. Hanya dengan fondasi yang kokoh, keaslian yang terjaga, dan perencanaan yang matang, kita dapat bertahan dan terus tumbuh.
Dengan fondasi yang kokoh, keaslian yang terjaga, dan upaya perbaikan yang konsisten, perjalanan kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari lingkungan, tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga membawa perubahan yang bermakna bagi masa depan.
Sefruit renungan...
#INISIATIF
oleh: Muhammad Farid Maricar
Syarat untuk bertumbuh adalah memiliki fondasi yang kokoh dan pijakan yang jelas. Pertumbuhan sesuatu tidak bisa didasarkan pada asal-asalan atau sekadar memanfaatkan pijakan dari orang lain. Sebab, seperti halnya bangunan, kekuatan sebuah struktur hanya dapat tercapai jika berdiri di atas fondasi yang kuat dan mengakar ke dalam tanah.
Selain itu, semakin tinggi sebuah bangunan, semakin besar pula gaya hambat (drag force) yang harus dihadapinya, baik dari angin atau bahkan air saat banjir maupun tsunami, maupun faktor eksternal lainnya. Maka, fondasi yang kokoh dan perencanaan yang matang adalah syarat mutlak untuk memastikan bangunan tersebut mampu bertahan.
Bangunan yang kokoh tidak dibangun di atas bangunan lain yang rapuh, kecuali sejak awal sudah dihitung dengan cermat kapasitas fondasi yang menopangnya. Tanpa perhitungan yang matang, risiko runtuh akan selalu membayangi.
Hal serupa juga berlaku pada pohon. Pohon-pohon besar yang menjulang tinggi hingga ratusan tahun bukan hanya bergantung pada batang yang besar atau daun yang rindang, tetapi karena akarnya mampu menjalar jauh ke dalam tanah, mencengkeram kuat bumi yang menopangnya.
Semakin tinggi pohon, semakin besar pula gaya hambat yang dihadapi oleh dahan dan batangnya, baik dari angin maupun badai, atau aliran banjir dan debris. Tanpa akar yang dalam dan kuat, pohon itu akan mudah tumbang.
Berbeda dengan benalu, yang hidupnya hanya menumpang pada pohon lain. Benalu mungkin tampak bertahan, tetapi ia tidak memiliki daya untuk hidup dalam waktu yang lama. Sebab, hidup tanpa fondasi yang mandiri hanyalah sementara, seperti menanti waktu untuk layu dan hilang.
Selain itu, bertumbuh juga memerlukan originalitas. Meniru orang lain mungkin terasa lebih mudah, tetapi pertumbuhan yang sejati hanya dapat dicapai ketika kita menemukan pijakan kita sendiri. Seperti bangunan yang memiliki desain khasnya, atau pohon yang tumbuh sesuai lingkungannya, setiap individu pun memiliki jalannya masing-masing untuk bertumbuh. Meniru mungkin menghasilkan sesuatu yang tampak serupa, tetapi tidak akan pernah sama, karena fondasi kita berbeda.
Perlu diingat, semakin tinggi kita tumbuh, semakin besar pula tantangan yang akan dihadapi. Layaknya bangunan yang semakin tinggi dan pohon yang semakin menjulang, gaya hambat dari luar akan semakin kuat mencoba menggoyahkan pijakan kita. Hanya dengan fondasi yang kokoh, keaslian yang terjaga, dan perencanaan yang matang, kita dapat bertahan dan terus tumbuh.
Dengan fondasi yang kokoh, keaslian yang terjaga, dan upaya perbaikan yang konsisten, perjalanan kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari lingkungan, tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga membawa perubahan yang bermakna bagi masa depan.
Sefruit renungan...
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
B U Z Z E R 👻
Buzzer Itu Siapa?
Bayangkan Anda sedang scroll media sosial. Tiba-tiba Anda melihat satu isu yang begitu ramai dibicarakan. Ada orang yang menyuarakan protes terhadap kebijakan tertentu, ada pula yang membela. Dalam sekejap, media sosial jadi medan pertempuran opini. Nah, di tengah hiruk-pikuk itu, ada pihak yang tugasnya "mendengungkan" isu. Itulah yang disebut buzzer.
lanjut👇
Mungkin banyak di antara Anda yang sudah mengenal istilah ini. Ada yang mengasosiasikan label "buzzer" dengan manipulasi, kebohongan, atau bahkan alat propaganda.
Apakah benar citra buzzer selalu seburuk itu? Atau mungkin, kita yang perlu lebih bijak dalam memandangnya? Mari kita bongkar bersama.
Buzzer Itu Siapa?
Bayangkan Anda sedang scroll media sosial. Tiba-tiba Anda melihat satu isu yang begitu ramai dibicarakan. Ada orang yang menyuarakan protes terhadap kebijakan tertentu, ada pula yang membela. Dalam sekejap, media sosial jadi medan pertempuran opini. Nah, di tengah hiruk-pikuk itu, ada pihak yang tugasnya "mendengungkan" isu. Itulah yang disebut buzzer.
lanjut
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Namun, jangan terkecoh oleh label dan narasi. Buzzer itu bukan hanya milik pemerintah, korporasi, atau kelompok besar. Siapa saja bisa menjadi buzzer. Seorang ibu rumah tangga yang protes di X atau platform lain karena layanan pelanggan yang buruk, seorang mahasiswa yang menggalang solidaritas untuk korban bencana, atau bahkan Anda sendiri saat mempromosikan bisnis kecil Anda. Semua itu adalah bentuk dari aktivitas buzzer.
Mari kita mulai dengan sisi baiknya. Pernahkah Anda mendengar gerakan sosial yang berhasil karena media sosial? Misalnya, kampanye lingkungan atau penggalangan dana untuk korban bencana. Banyak dari kampanye ini dimulai oleh buzzer independen, individu atau kelompok kecil yang menyuarakan keprihatinannya terhadap isu tertentu.
Buzzer juga menjadi alat yang sangat efektif untuk menyuarakan hak-hak minoritas. Ketika kelompok tertentu tidak memiliki akses ke media arus utama, buzzer inilah yang menjadi jembatan untuk memperkuat suara mereka.
Misalnya, seorang aktivis perempuan yang memulai tagar untuk menyoroti kekerasan seksual di tempat kerja. Dari satu cuitan, isu ini bisa menjadi tren nasional, mendorong kebijakan yang lebih adil. Di sini, buzzer adalah pahlawan, bukan penjahat.
Namun, mari kita tidak tutup mata terhadap sisi gelap buzzer. Media sosial adalah lautan informasi, dan buzzer bisa saja menjadi penyebab badai di lautan ini.
Ada buzzer yang bekerja untuk menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi opini publik. Mereka memanfaatkan emosi masyarakat—marah, takut, atau simpati—untuk mendorong narasi tertentu. Bahkan, ada yang sengaja menciptakan polarisasi, membuat masyarakat terpecah belah karena isu yang sebenarnya bisa didiskusikan dengan kepala dingin.
Tidak jarang pula buzzer menjadi alat komodifikasi narasi. Mereka bekerja bukan karena peduli pada isu, melainkan karena bayaran dari pihak yang memiliki agenda tersembunyi. Dalam konteks ini, buzzer bukan lagi pahlawan, melainkan pengacau.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Tidak mungkin kita meminta media sosial bebas dari buzzer, karena itu seperti meminta dunia tanpa suara. Yang bisa kita lakukan adalah belajar bersikap kritis.
Saat menemukan isu viral, tanyakan pada diri Anda: Siapa yang diuntungkan jika isu ini ramai dibicarakan? Apakah pesan ini benar-benar objektif, atau ada kepentingan tertentu di baliknya? Jadi, kenali setiap motif di balik pesa .
Jangan mudah percaya pada satu sumber. Cari tahu dari berbagai perspektif. Informasi yang valid biasanya memiliki konsistensi data dan sumber terpercaya. Verifikasi informasi adalah kunci.🔐
Dengan memahami cara kerja algoritma dan strategi media sosial, kita akan lebih siap menghadapi isu yang ditiupkan oleh buzzer. Bekali diri dengan ilmu literasi digital.
Jadi, buzzer, baik yang independen maupun yang berafiliasi, adalah bagian dari ekosistem media sosial. Mereka mencerminkan dinamika masyarakat digital kita. Kadang menjadi pahlawan, kadang menjadi pengacau.
Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi keberadaan mereka.
Dengan nalar kritis dan literasi digital, kita tidak hanya mampu memilah informasi, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang lebih bijak dan dewasa dalam menyuarakan pendapat.
Tabik!
oleh: Wicaksono
#INISIATIF
Mari kita mulai dengan sisi baiknya. Pernahkah Anda mendengar gerakan sosial yang berhasil karena media sosial? Misalnya, kampanye lingkungan atau penggalangan dana untuk korban bencana. Banyak dari kampanye ini dimulai oleh buzzer independen, individu atau kelompok kecil yang menyuarakan keprihatinannya terhadap isu tertentu.
Buzzer juga menjadi alat yang sangat efektif untuk menyuarakan hak-hak minoritas. Ketika kelompok tertentu tidak memiliki akses ke media arus utama, buzzer inilah yang menjadi jembatan untuk memperkuat suara mereka.
Misalnya, seorang aktivis perempuan yang memulai tagar untuk menyoroti kekerasan seksual di tempat kerja. Dari satu cuitan, isu ini bisa menjadi tren nasional, mendorong kebijakan yang lebih adil. Di sini, buzzer adalah pahlawan, bukan penjahat.
Namun, mari kita tidak tutup mata terhadap sisi gelap buzzer. Media sosial adalah lautan informasi, dan buzzer bisa saja menjadi penyebab badai di lautan ini.
Ada buzzer yang bekerja untuk menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi opini publik. Mereka memanfaatkan emosi masyarakat—marah, takut, atau simpati—untuk mendorong narasi tertentu. Bahkan, ada yang sengaja menciptakan polarisasi, membuat masyarakat terpecah belah karena isu yang sebenarnya bisa didiskusikan dengan kepala dingin.
Tidak jarang pula buzzer menjadi alat komodifikasi narasi. Mereka bekerja bukan karena peduli pada isu, melainkan karena bayaran dari pihak yang memiliki agenda tersembunyi. Dalam konteks ini, buzzer bukan lagi pahlawan, melainkan pengacau.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Tidak mungkin kita meminta media sosial bebas dari buzzer, karena itu seperti meminta dunia tanpa suara. Yang bisa kita lakukan adalah belajar bersikap kritis.
Saat menemukan isu viral, tanyakan pada diri Anda: Siapa yang diuntungkan jika isu ini ramai dibicarakan? Apakah pesan ini benar-benar objektif, atau ada kepentingan tertentu di baliknya? Jadi, kenali setiap motif di balik pesa .
Jangan mudah percaya pada satu sumber. Cari tahu dari berbagai perspektif. Informasi yang valid biasanya memiliki konsistensi data dan sumber terpercaya. Verifikasi informasi adalah kunci.
Saya menyarankan agar Anda tak buru-buru marah atau terprovokasi setiap kali melihat adu narasi. Narasi buzzer biasanya dirancang untuk memanfaatkan emosi kita. Sabarlah, jangan gatal jempol. Hindari terjebak arus polarisasi emosi.❣️
Dengan memahami cara kerja algoritma dan strategi media sosial, kita akan lebih siap menghadapi isu yang ditiupkan oleh buzzer. Bekali diri dengan ilmu literasi digital.
Jadi, buzzer, baik yang independen maupun yang berafiliasi, adalah bagian dari ekosistem media sosial. Mereka mencerminkan dinamika masyarakat digital kita. Kadang menjadi pahlawan, kadang menjadi pengacau.
Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi keberadaan mereka.
Dengan nalar kritis dan literasi digital, kita tidak hanya mampu memilah informasi, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang lebih bijak dan dewasa dalam menyuarakan pendapat.
Jika suatu saat Anda melihat isu yang ramai di media sosial, jangan langsung terseret arus. Berdirilah di tepian, amati, analisis, dan baru kemudian tentukan langkah Anda.
Ingat, dalam dunia yang penuh kebisingan, hanya mereka yang berpikir jernih yang akan didengar.
🧠
Tabik!
oleh: Wicaksono
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Kamu Diserang Netizen? TENANG! 😇
Oleh: Wicaksono
Pernahkah kamu gulir-gulir konten orang di media sosial, lalu melihat nama seorang pesohor atau pejabat muncul di daftar trending topic?
Biasanya ada dua alasan: mereka baru saja memenangkan penghargaan besar, atau—yang lebih sering—mereka sedang diserang, menjadi target mulut pedas dan kejudesan lidah netizen. Dari kritikan kecil soal pakaian hingga komentar pedas tentang kehidupan pribadinya, mereka dihakimi tanpa henti oleh publik.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa tetap berdiri tegak di tengah badai ini?
Suatu hari, aku menemukan jawabannya dalam buku berjudul "The Let Them Theory" karya Mel Robbins. Saat membolak-balik halaman pertama, aku langsung merasa buku ini seperti seorang teman lama yang datang tepat di saat aku butuh pencerahan.
Mel Robbins, penulis buku ini, memulai dengan satu kalimat yang sederhana namun mendalam: "Let them." Dua kata yang kelihatannya biasa saja, namun menyimpan kekuatan besar.
Robbins menceritakan pengalaman pribadinya tentang menghadapi penilaian, baik di dunia kerja maupun kehidupan pribadi. Sebagai seorang pembicara publik dan tokoh terkenal, dia kerap menjadi target komentar negatif. Alih-alih tenggelam dalam rasa sakit hati, dia mulai berlatih "Let Them." Jika seseorang ingin menghakimi, biarkan saja. Jika mereka ingin menyalahkan, silakan. Jika mereka tidak menyukai kita? Itu bukan masalah kita.
Saat membaca buku ini, aku terus memikirkan bagaimana dunia kita sekarang semakin brutal dalam memberikan penilaian. Media sosial telah menjadi medan pertempuran, di mana setiap orang bisa menjadi hakim dan terdakwa.
Buku ini hadir seperti lilin di dalam gua. Ia adalah secercah cahaya di tengah kegelapan. The Let Them Theory mengajarkan kita bahwa kita tidak harus berpartisipasi dalam permainan ini. Bahwa kebahagiaan kita tidak tergantung pada validasi dari orang lain.
Kisah Naratif yang Menginspirasi
Aku ingat suatu malam, aku duduk di kafe sambil menunggu teman. Aku membaca salah satu bagian buku ini yang berbicara tentang bagaimana kita sering terlalu terikat pada pendapat orang lain. Di meja sebelahku, ada seorang perempuan muda yang menangis. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Dia melihatku, terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku baru saja membaca komentar di postingan terakhirku. Orang-orang bilang aku tidak pantas berada di sini.”
Aku tersenyum padanya dan menjelaskan apa yang baru saja kubaca dari buku ini. “Kamu tahu apa yang Mel Robbins katakan? ‘Let them.’ Biarkan mereka berpikir apa pun. Hidupmu bukan panggung untuk memuaskan mereka.”
Dia terdiam lagi, tapi kali ini senyumnya mulai muncul perlahan. Aku melihat ada secercah harapan dalam matanya, dan aku tahu buku ini bukan hanya mengubah cara pandangku, tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi orang lain.
So ... The Let Them Theory adalah buku yang mengingatkan kita untuk melepaskan diri dari beban yang tidak perlu. Buku ini berisi ajakan untuk hidup dengan lebih ringan, lebih bebas, dan lebih penuh makna.
Jika kamu pernah merasa dihakimi, direndahkan, atau bahkan diperlakukan tidak adil, buku ini akan menjadi sahabat yang menenangkan.
Bagi para artis, selebritas, pejabat, atau siapa pun yang berada di bawah sorotan publik, filosofi ini bisa menjadi pelindung yang membebaskan mereka dari keharusan menyenangkan semua orang. Dan bagi kita, yang hidup di era komentar bebas, buku ini adalah peta menuju kebebasan sejati: kebebasan dari opini orang lain.
Jadi, bagaimana kalau mulai hari ini, kita belajar untuk berkata, “Let them?”
#INISIATIF #TGIF
Oleh: Wicaksono
Pernahkah kamu gulir-gulir konten orang di media sosial, lalu melihat nama seorang pesohor atau pejabat muncul di daftar trending topic?
Biasanya ada dua alasan: mereka baru saja memenangkan penghargaan besar, atau—yang lebih sering—mereka sedang diserang, menjadi target mulut pedas dan kejudesan lidah netizen. Dari kritikan kecil soal pakaian hingga komentar pedas tentang kehidupan pribadinya, mereka dihakimi tanpa henti oleh publik.
Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa tetap berdiri tegak di tengah badai ini?
Suatu hari, aku menemukan jawabannya dalam buku berjudul "The Let Them Theory" karya Mel Robbins. Saat membolak-balik halaman pertama, aku langsung merasa buku ini seperti seorang teman lama yang datang tepat di saat aku butuh pencerahan.
Mel Robbins, penulis buku ini, memulai dengan satu kalimat yang sederhana namun mendalam: "Let them." Dua kata yang kelihatannya biasa saja, namun menyimpan kekuatan besar.
Filosofi ini sebenarnya sederhana—mengizinkan orang lain melakukan apa pun yang mereka inginkan, dan melepaskan diri kita dari beban mencoba mengontrol persepsi mereka tentang kita.
Robbins menceritakan pengalaman pribadinya tentang menghadapi penilaian, baik di dunia kerja maupun kehidupan pribadi. Sebagai seorang pembicara publik dan tokoh terkenal, dia kerap menjadi target komentar negatif. Alih-alih tenggelam dalam rasa sakit hati, dia mulai berlatih "Let Them." Jika seseorang ingin menghakimi, biarkan saja. Jika mereka ingin menyalahkan, silakan. Jika mereka tidak menyukai kita? Itu bukan masalah kita.
Saat membaca buku ini, aku terus memikirkan bagaimana dunia kita sekarang semakin brutal dalam memberikan penilaian. Media sosial telah menjadi medan pertempuran, di mana setiap orang bisa menjadi hakim dan terdakwa.
Buku ini hadir seperti lilin di dalam gua. Ia adalah secercah cahaya di tengah kegelapan. The Let Them Theory mengajarkan kita bahwa kita tidak harus berpartisipasi dalam permainan ini. Bahwa kebahagiaan kita tidak tergantung pada validasi dari orang lain.
Buku ini juga mengingatkan bahwa setiap penilaian yang diberikan orang lain kepada kita sebenarnya lebih mencerminkan mereka daripada kita.
Seperti yang dikatakan Robbins, "Komentar mereka adalah cermin dari diri mereka sendiri, bukan dirimu."
Kisah Naratif yang Menginspirasi
Aku ingat suatu malam, aku duduk di kafe sambil menunggu teman. Aku membaca salah satu bagian buku ini yang berbicara tentang bagaimana kita sering terlalu terikat pada pendapat orang lain. Di meja sebelahku, ada seorang perempuan muda yang menangis. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Dia melihatku, terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku baru saja membaca komentar di postingan terakhirku. Orang-orang bilang aku tidak pantas berada di sini.”
Aku tersenyum padanya dan menjelaskan apa yang baru saja kubaca dari buku ini. “Kamu tahu apa yang Mel Robbins katakan? ‘Let them.’ Biarkan mereka berpikir apa pun. Hidupmu bukan panggung untuk memuaskan mereka.”
Dia terdiam lagi, tapi kali ini senyumnya mulai muncul perlahan. Aku melihat ada secercah harapan dalam matanya, dan aku tahu buku ini bukan hanya mengubah cara pandangku, tapi juga bisa menjadi penyelamat bagi orang lain.
So ... The Let Them Theory adalah buku yang mengingatkan kita untuk melepaskan diri dari beban yang tidak perlu. Buku ini berisi ajakan untuk hidup dengan lebih ringan, lebih bebas, dan lebih penuh makna.
Jika kamu pernah merasa dihakimi, direndahkan, atau bahkan diperlakukan tidak adil, buku ini akan menjadi sahabat yang menenangkan.
Bagi para artis, selebritas, pejabat, atau siapa pun yang berada di bawah sorotan publik, filosofi ini bisa menjadi pelindung yang membebaskan mereka dari keharusan menyenangkan semua orang. Dan bagi kita, yang hidup di era komentar bebas, buku ini adalah peta menuju kebebasan sejati: kebebasan dari opini orang lain.
Jadi, bagaimana kalau mulai hari ini, kita belajar untuk berkata, “Let them?”
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🔥2👍1🥰1👏1🙏1
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
EVERY PAWN HAS THE POTENTIAL TO BE A QUEEN🔥
Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Gadjah Mada, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Ganesha dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 18 Januari 2025 esok. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga💯 🥇 🤝
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club, Tim UKM Catur Universitas Gadjah Mada, dan Tim UKM Catur Universitas Pendidikan Ganesha dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 18 Januari 2025 esok. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga
1. Join ke COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1
2. Saksikan live pertandingan BPJS Kes Vs UGM Vs Undiksha:
https://lichess.org/tournament/xNI16I8o
#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Saat ini banyak yang mudah kegocek, karena sejatinya mereka belum benar-benar tahu. Silakan dishare biar makin banyak yang #pahamJKN 🫡
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
https://youtu.be/22USig2Uu80?si=d2OSBDkhLfTVwzzV
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM