Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo 🇲🇨

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Konten Receh Bikin Otakmu Membusuk 😨😰

Oleh: Wicaksono

Pernah mendengar istilah "brain rot"? Fenomena "brain rot" kini menjadi perhatian serius di era digital, terutama di kalangan generasi muda.

Istilah ini merujuk pada kondisi di mana kemampuan kognitif seseorang mengalami penurunan akibat konsumsi berlebihan konten digital yang tidak menantang atau berkualitas rendah.

Jika diartikan secara harfiah, "brain rot" berarti "pembusukan otak". Kamus Oxford mendefinisikan istilah ini sebagai degradasi mental atau intelektual yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap materi yang remeh, terutama konten daring.


Istilah pembusukan otak sebenarnya memiliki sejarah panjang. Salah satu referensi awalnya ditemukan dalam karya klasik "Walden" oleh Henry David Thoreau, yang menggambarkan bagaimana masyarakat cenderung memilih ide-ide sederhana daripada berpikir lebih mendalam. Baca ulasan tentang buku "Walden" di https://www.facebook.com/share/p/18w54ZM8t3/.

Dalam konteks modern, "brain rot" menjadi semakin relevan karena kebiasaan kita yang sering terjebak dalam siklus tanpa akhir menggulir media sosial.

Di Indonesia, fenomena ini tampak nyata.
Seorang mahasiswa di Jakarta, misalnya, pernah mengaku kehilangan kemampuan fokus dan motivasi belajar
akibat terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.

Awalnya ia adalah mahasiswa yang aktif dan berprestasi,
tetapi kebiasaan mengakses konten digital yang berlebihan perlahan-lahan menggerus kualitas hidupnya, bahkan memengaruhi kesehatannya secara keseluruhan.


Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, para ahli mencatat lonjakan kecanduan media sosial di kalangan remaja, yang mengakibatkan penurunan kemampuan berpikir kritis.

Di Norwegia, penelitian menunjukkan bahwa remaja secara sengaja mencari konten "brain rot" di TikTok untuk mengalihkan perhatian mereka dari stres. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat global, meskipun dampaknya dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan budaya.

Penyebab utama brain rot terletak pada konsumsi media sosial yang berlebihan dan kecenderungan untuk memilih konten yang tidak memberikan nilai edukatif.

Konten seperti meme, video pendek, atau cerita viral biasanya dikonsumsi bukan untuk menambah wawasan, tetapi semata-mata untuk hiburan.

Akibatnya, otak kita terbiasa dengan informasi yang dangkal dan kehilangan kemampuan untuk memproses informasi yang lebih kompleks.

Gaya hidup yang kurang aktif dan minim tantangan intelektual juga memperparah masalah ini.


Dampak dari brain rot tidak bisa dianggap sepele. Kemampuan kognitif yang menurun adalah salah satu efek yang paling nyata, di mana otak menjadi lebih pasif dan kesulitan dalam berpikir kritis atau analitis.

Kecanduan media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan produktivitas karena waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau bekerja terbuang percuma untuk menggulir konten digital.

Gangguan akibat konten receh di media sosial ini bukan tanpa solusi. Salah satu langkah awal yang bisa diambil adalah membatasi waktu penggunaan media sosial, dengan menetapkan batas harian yang tegas.

Memilih konten berkualitas yang memberikan manfaat intelektual juga merupakan langkah penting.

Aktivitas fisik dan interaksi sosial di dunia nyata juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata, sehingga mengurangi dampak negatif dari konsumsi media yang berlebihan.

Fenomena "brain rot" mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan intelektual di tengah derasnya arus digitalisasi.

Dengan kesadaran dan upaya kolektif, kita dapat menghadapi tantangan ini dan memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang mendukung, bukan justru melemahkan, kemampuan berpikir kita.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YOU ARE NOT WHAT YOU FEEL 🥰

oleh: Prasetya M Brata

Iman naik-turun. Namanya membangun rutinitas baru, pasti akan berurusan dengan sang homeostatis. Suatu kali saya ingin merutinkan sholat Dhuha. Sang perasaan di alam bawah sadar bernama "Sang Berat" mendadak muncul. Sang Berat menarik saya dari beranjak berwudhu. Katanya, tanggung pekerjaan belum selesai. Enakan begini saja.

Dulu, Sang Berat saya bentak dan lawan. Istilahnya, melawan rasa malas. Saya mem-bully perasaan sendiri. Hasilnya saya jadi otoriter kepada diri saya sendiri. Pola serupa saya lakukan saat sang takut, sang malas, sang cemas, sang sedih, sang kecewa hadir. Otoriter ke dalam, tidak menimbulkan kedamaian ke luar. Semua proses inside-out.

Alih-alih demikian, kali itu saya ajak Sang Berat berdialog. Saya dengarkan maksud-maksud baik Sang Berat muncul. Saya ucapkan terimakasih kepadanya. Saya jelaskan mengapa saya ingin Sholat Dhuha. Lalu saya peluk ia -- accept and embrace -- sambil berjalan menuju tempat wudhu ditemani Sang Ikhlas yang saya minta hadir menemani. Kali itu Sang Berat masih merengek-rengek. Saya rayu ia, kita sholat 2 rakaat dulu. Ia setuju.

Selesai sholat dua rakaat, Sang Berat masih hadir. Sambil masih saya rangkul, saya ajak ia untuk shalat dua raka'at lagi. Selesai empat rakaat, tiba-tiba Sang Berat sudah kembali ke peraduannya, digantikan oleh Sang Nikmat yang hadir. Rupanya Sang Berat telah menyelesaikan tugasnya, memastikan saya berada pada arah dan jalan yang sesuai, appropriate. Kehadiran Sang Nikmat malah menggenapkan rakaat menjadi delapan.

Perasaan seperti alarm yang berbunyi. Ketika ia diterima dan pesannya telah diperhatikan, ia 'diam' lagi. Perasaan adalah instrumen hidup yang bertujuan membantu kehidupan kita. Namanya instrumen, kita yang kendalikan. Saat instrumen bekerja sesuai dengan tujuan kita, maka kita boleh biarkan ia mengendalikan perbuatan kita, bukan kemauan kita. Perasaan bukanlah kita. Perasaan juga adalah informasi untuk kita, bukan instruksi untuk melakukan sesuatu.


Karena perasaan kita bukanlah kita, maka keliru jika saya melihat anda malas lalu saya katakan anda pemalas; ketika melihat anda marah saya katakan anda pemarah. Kalau anda takut, bukan berarti anda penakut. Kalau anda marah, bukan berarti anda pemarah.

Maka hati-hati ketika mendapati anak malas sekolah lantas anda mengatakan, "Nak, sekarang kamu jadi pemalas!". Anda telah menafikan seluruh kebaikan dan kekuatan si anak, dan menciptakan realitas baru bahwa si anak hanya sebesar label 'pemalas'. Jika sampai identitas ini ter-imprint di bawah sadarnya, anda ikut bertanggungjawab menulis 'kertas putih' sang anak. Anda dapat saja mengatakan, "Nak, kamu ini anak baik dan rajin yang kali ini sedang malas sekolah. Ada apa sayang?".

Sang Anak lebih besar dari Sang Malas. Sang Malas siap memberi pesan penting untuk dirinya dan anda, jika ia dan anda bertanya kepadanya dengan penuh kedamaian.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍2
Kalau kamu rela mati demi mereka yang kamu sayangi..

Relakah kamu hidup lebih sehat untuk menjaga, menemani, menyayangi, mengajari dan mendukung mereka?

DALEMMMMM...
Christina Lie

Sobat ATE udah ada resolusi apa aja nih buat jadi lebih baik di Tahun 2025? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita mulai bangun kebiasaan itu


#INISIATIF #Fitlife #Komitmen
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Tahun baru datang menyapa,
Mari bersyukur, langkah kita tercipta.
Semangat baru, harapan tak henti,
Mari wujudkan layanan terbaik untuk negeri.

Selamat Tahun Baru 2025

Siruaya Utamawan (Anggota Dewan Pengawas)
KOMITMEN 🤝

oleh: Muhammad Farid Maricar

Definisi 'komitmen' ini menarik. Menurut the American Heritage Dictionary, komitmen adalah 'The state of being emotionally or intellectually devoted, as to a belief, a course of action, or another person' yang artinya kondisi di mana seseorang secara emosional maupun intelektual menyerahkan diri, apakah itu untuk sebuah agama atau kepercayaan, serangkaian tindakan, atau seseorang.

Berdasarkan definisi tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa komitmen tidak akan bisa dibangun tanpa adanya kesiapan baik dari sisi akal maupun perasaan, yang tentunya ada beberapa komponen yang perlu dipenuhi untuk diperkuat untuk mendapatkan kesiapan tersebut:

1. Niat
Kita butuh niat yang kuat, untuk meyakinkan diri melakukan sesuatu.

2. Tindakan
Kita butuh tindakan sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar menginginkannya.

3. Perhitungan
Perhitungan kita lakukan agar kita tidak buta atas apa yang kita lakukan, jangan sampai kita melakukannya tanpa arah yang jelas.

4. Kesabaran
Yang kita butuhkan dalam proses yang naik turun (pasang surut).

Dalam menjalani komitmen ini, banyak hal yang terkadang terjadi di luar keinginan kita, banyak terjadi perbedaan yang mungkin tidak bisa ditoleransi.

Tapi, di balik semua itu, Alhamdulillah atas izin dari Allah, kita bisa bertahan, dan masih senantiasa berharap untuk menjadi lebih kuat ke depannya dan berharap Allah berikan petunjuk untuk itu. 💪

Tentu niat yang senantiasa diperbaiki, menjaga interaksi satu sama lain, dengan perencanaan yang matang, perhitungan yang jelas, dan sabar yang terus dipoles sangat diperlukan untuk menjaga semua itu.

Selamat bersiap mengawali aktifitas perdana kantor di Tahun 2025
🇮🇩


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
DON'T BELIEVE IN LUCK, BELIEVE IN YOURSELF 🔥

Terima kasih atas kebersamaan dan dedikasi adik-adik magang program JKN Apprenticeship Program selindo, semoga sedikit banyaknya ilmu dan pengalaman yang diterima selama berkiprah di BPJS Kesehatan dalam 1 Tahun belakangan ini bisa bermanfaat buat tmn2 di kemudian hari 🥰

Tetaplah menjadi corong penghubung informasi seputar Program JKN di lingkungan masyarakat. Salam sehat dan sukses. See you on Top 🤝

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤‍🔥7
GROWTH MINDSET 🔥

Oleh: Iwan Kusworo


Sebuah quote yang legendaris dari penulis Paulo Coelho di bukunya “The Alchemist” ternyata punya makna yang sangat mendalam jika kita membaca keseluruhan isi bukunya.

“And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”
(Dan ketika Anda menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta berkonspirasi untuk membantu Anda mencapainya)


Di bukunya kita bisa menemukan konteks yang lebih luas dari dialog antara Santiago dan Melchizedek, yang diawali dengan pembahasan tentang “the world’s greatest lie.”


Santiago:
“What’s the world’s greatest lie?”

("Apa kebohongan terbesar di dunia?”)

Melchizedek:
“It’s this: that at a certain point in our lives, we lose control of what’s happening to us, and our lives become controlled by fate. That’s the world’s greatest lie.”

("Begini: pada titik tertentu dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita dikendalikan oleh takdir. Itu adalah kebohongan terbesar di dunia")



Berapa banyak dari kita yang dulu ketika masih kecil mempunyai cita-cita setinggi langit? Apakah itu menjadi astronot, dokter, penemu hebat, atau ingin menyelamatkan dunia. Dahulu kita begitu bebasnya “bermimpi” ingin mencapai sesuatu yang lebih besar yang sangat kita idamkan.

Hingga... pada satu titik dalam hidup kita, kita mulai merasakan bahwa kenyataan tak seindah yang dulu kita bayangkan. Tekanan ekonomi, tuntutan keluarga dan masyarakat, serta banyak hal lainnya, membuat kita berhenti bermimpi dan akhirnya pasrah pada nasib dan mengikuti ekspektasi orang-orang di sekitar kita. Kita kehilangan kendali akan hidup dan cita-cita kita sendiri.

Tapi apakah benar begitu kenyataannya?

Buku ini akan membuka mata kita tentang bagaimana menghadapi perubahan dan mengembangkan “growth mindset” agar kita tidak tergerus oleh roda jaman.

Saya harus bilang, buku ini sangat bagus dan dalam maknanya. 🥺

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤‍🔥1👍1