Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Mengapa Orang Gampang Mengumpat? ๐Ÿซข

oleh: Wicaksono

Di sebuah perempatan macet Jakarta, seorang pengendara motor menyalip dengan agresif di depan mobil seorang pria bernama Aryo.

Refleks, Aryo mengumpat, "Goblok!"

Hampir tanpa berpikir, umpatan itu keluar begitu saja, seolah-olah bagian dari dirinya yang otomatis. Tapi bukan hanya Aryo. Banyak di antara kita yang bereaksi seperti itu di banyak kejadian. Kata-kata seperti "anjing" atau "bangsat" biasa meluncur sebagai respons terhadap stres, frustrasi, atau situasi mendesak.

Charles Duhigg, melalui The Power of Habit, memberikan lensa yang tajam untuk memahami fenomena ini. Mengumpat bukanlah sekadar respons emosional spontan; ia dapat dijelaskan sebagai kebiasaan yang terstruktur dalam Habit Loop: pemicu (cue), rutinitas (routine), dan imbalan (reward).

Mengumpat sebagai Kebiasaan: Dekonstruksi Habit Loop

Menurut Duhigg, kebiasaan terbentuk dari pola neurologis yang terdiri dari tiga elemen utama:

1. Pemicu (Cue): Apa yang memulai kebiasaan? Dalam kasus mengumpat, pemicunya sering kali adalah situasi yang memicu stres atau frustrasiโ€”kemacetan, tindakan tidak sopan, atau bahkan kekalahan dalam game online.

2. Rutinitas (Routine): Mengumpat menjadi respons otomatis yang dilakukan tanpa banyak berpikir. Ini adalah kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman sebelumnya, di mana umpatan telah menjadi cara seseorang mengekspresikan emosi.

3. Imbalan (Reward): Mengumpat memberikan pelampiasan emosional sementara. Meski singkat, imbalan ini memberikan perasaan lega atau rasa "kuasa" terhadap situasi.

Seperti kebiasaan lainnya, pola ini diperkuat oleh pengulangan. Ketika seseorang mengumpat dan merasa lega, otak mereka mencatatnya sebagai respons yang "efektif," sehingga kebiasaan itu semakin terpatri.

Mengapa Kebiasaan Mengumpat Begitu Kuat?

Mengumpat biasanya berkaitan dengan cravings atau keinginan tersembunyi yang tak disadari. Dalam konteks ini, keinginan tersebut adalah pelepasan emosi atau rasa kontrol terhadap situasi. Mengumpat memberikan katarsis yang cepat, terutama di lingkungan seperti Jakarta yang penuh tekanan.

Fenomena ini juga diperkuat oleh norma sosial. Di Indonesia, penggunaan kata seperti "goblok" atau "anjing" sering dianggap wajar dalam lingkup tertentu, terutama di lingkungan teman atau saat bermain game online. Norma ini memperkuat rutinitas dan imbalan, menjadikannya kebiasaan kolektif.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Bagaimana Mengubah Kebiasaan Mengumpat?

Duhigg menawarkan kerangka perubahan kebiasaan yang dapat diterapkan pada fenomena ini. The Golden Rule of Habit Change menyatakan bahwa kebiasaan buruk dapat diubah dengan mengganti rutinitas (routine) sambil mempertahankan pemicu (cue) dan imbalan (reward).

Langkah Praktis:

1. Identifikasi Pemicu: Seseorang perlu menyadari kapan dan di mana mereka cenderung mengumpat. Apakah itu saat stres di jalan, saat bermain game, atau ketika berdebat?

2. Ganti Rutinitas: Alih-alih mengumpat, latih diri untuk menggunakan kata-kata netral atau humor. Contohnya, mengganti "anjing!" dengan "aduh, kocak banget sih."

3. Pertahankan Imbalan: Rasa lega atau katarsis tetap bisa diperoleh dengan cara baru. Misalnya, tarik napas dalam-dalam atau beralih ke respons humor yang tidak ofensif.

Mengumpat dalam Konteks Budaya Indonesia

Kebiasaan mengumpat memiliki akar budaya yang kompleks di Indonesia. Di satu sisi, kata-kata seperti "bangsat" sering digunakan dalam konteks bercanda antara teman dekat. Di sisi lain, kebiasaan ini dapat menjadi destruktif dalam situasi tertentu, terutama jika memicu konflik.

Dalam lingkungan urban seperti Jakarta, di mana tekanan emosional tinggi, mengumpat menjadi mekanisme pelarian yang umum. Namun, jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat memperburuk situasi, seperti memperbesar konflik di jalan atau merusak hubungan interpersonal.

Apakah Mengumpat Dapat Dikelola?

Berdasarkan temuan Duhigg, kebiasaan mengumpat bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Faktanya, mengelola kebiasaan ini dapat membawa dampak positif yang luas:

1. Meningkatkan Pengendalian Diri: Dengan mengganti kebiasaan mengumpat dengan respons yang lebih positif, seseorang dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosional.

2. Memperbaiki Hubungan Sosial: Mengurangi umpatan dapat menciptakan komunikasi yang lebih sehat dan menghindari konflik yang tidak perlu.

3. Mengurangi Stres Kolektif: Jika lebih banyak orang mengendalikan kebiasaan mengumpat, suasana sosial di lingkungan seperti jalanan Jakarta bisa menjadi lebih ramah dan kondusif.

Apa yang Dapat Dipelajari dari Buku Ini?

The Power of Habit memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana kebiasaan, termasuk kebiasaan mengumpat, terbentuk dan dapat diubah.

Dalam konteks Indonesia, buku ini relevan bagi individu yang ingin meningkatkan pengendalian diri atau organisasi yang ingin menciptakan budaya kerja yang lebih positif.

Namun, penerapannya membutuhkan kesadaran dan kemauan individu. Apakah kebiasaan mengumpat adalah refleks sesaat atau pola yang telah mendarah daging, perubahan hanya mungkin jika seseorang mau mengamati pola cue-routine-reward dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini mengajarkan bahwa kebiasaan hanyalah pola, bukan takdir. Mengubah kebiasaan seperti mengumpat, meskipun sulit, adalah langkah kecil menuju perubahan besar dalam kehidupan.

Bagi warga Jakarta, seperti Aryo atau siapa pun, yang terjebak dalam kebiasaan yang tidak produktif, buku ini menawarkan harapan bahwa selalu ada cara untuk menjadi lebih baik.

#INISIATIF
Akhirnya tiba juga ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ”ฅ
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ”ฅ2
HOW AI THINKS ๐Ÿ˜ฑ

oleh: Yusran Darmawan

Di berbagai grup WA, orang-orang memamerkan percakapan dengan Meta AI. Berbagai pertanyaan aneh dikemukakan, misalnya kenalkan Anda dengan La Baco? Jawaban dari Meta AI akan bikin banyak orang tersenyum.

Nampaknya orang-orang gembira melihat kenyataan kalau AI bukanlah โ€œKakek Segala Tahuโ€ dalam kisah Wiro Sableng. Beberapa bulan lalu, ChatGPT muncul. Semua orang memamerkan jawaban aneh.

Namun, saya meyakini, lebih banyak orang yang bahagia dengan ChatGPT. Para mahasiswa bodoh dan malas, mendadak hebat dalam menjawab pertanyaan. Semuamya mengandalkan ChatGPT.

Saya ingat percakapan dengan Muliadi Mau, pengajar Ilmu Komunikasi Unhas pekan lalu. Katanya, mahasiswa sekarang tak bisa lepas dari ChatGPT. Saat diminta dosen untuk membuat pertanyaan ke rekannya dalam satu diskusi kelompok, mahasiswa akan minta bantuan ChatGT.

Demikian pula saat menjawab pertanyaan dari rekannya (yang dibuat dengan ChatGPT), maka mahasiswa akan kembali minta bantuan ChatGPT. Di titik ini, tak ada nalar. Tak ada analisis dari hasil bacaan. Tak ada kreativitas menulis dan melahirkan ide-ide baru.

ChatGPT, Meta Ai, Copilot, hingga berbagai perangkat kecerdasan buatan lainnya menimbulkan banyak kekhawatiran. Kita membayangkan generasi yang tidak lagi membaca, tidak lagi menalar, dan hanya bisa mengetik bantuan ke ChatGPT.


Entahlah. Bisa jadi, ini adalah wujud kekhawatiran kita melihat teknologi yang menyuapi kita hingga lupa untuk membaca, menalar, dan mencari jawaban dengan menyatukan keping demi keping pengetahuan.

Sepekan ini saya membaca buku How AI Thinks. Menurut penulisnya, Nigel Toon, kita lebih banyak khawatir soal teknologi ketimbang memahaminya. Kita kadang alpa dan malas untuk mempelajari satu inovasi, dan lebih memilih percaya kabar buruk terkait teknologi itu.

Saya suka dengan cerita penulisnya yang dahulu menderita disleksia, yang kesulitan mengeja kalimat. Tapi dia bekerja keras untuk menyederhanakan semua hal, hingga akhirnya dia berhasil menjadi CEO perusahaan semikonduktor.

Apa arti "berpikir" dalam konteks AI? Nigel Toon menawarkan definisinya sendiri tentang kecerdasan:
"Kemampuan untuk mengumpulkan dan menggunakan informasi untuk beradaptasi dan bertahan hidup." Manusia berpikir, maka manusia ada.


Sementara komputer berbeda. Komputer menyesuaikan buku aturannya sendiri berdasarkan perubahan dalam informasi yang diterimanya, dengan cara yang sama seperti hewan beradaptasi berdasarkan perubahan lingkungan yang diamati melalui data sensorik.

Cara kerja AI mengikuti tahapan: (1) masukkan sensorik mentah atau data, (2) kenali hubungan antar data kontekstual hingga jadi informasi, (3) memahami hubungan antar informasi hingga jadi pengetahuan, (4) memahami hubungan antar pengetahuan hingga menjadi kecerdasan. Sesimpel itu.

Buku ini menawarkan tamasya di jagad AI. Saya cukup familiar dengan beberapa nama yang dibahas di sini. Di antaranya adalah Alan Turing, sang penemu komputer. Pernah lihat film The Imitation Game yang dibintangi Benedict Cumberbatch

Saya juga baru tahu, di masa-masa awal komputer dibuat, perempuan memegang peran penting. Di masa itu, laki-laki mengerjakan perangkat keras, sedangkan perempuan menguji dan menyempurnakan perangat lunak.

Inilah sebab mengapa gangguan pada komputer disebut โ€œbugโ€ atau serangga. Sebab pada masa itu, seorang perempuan Grace Hopper mengalami gangguan komputer saat menemukan serangga di dalam mesin.

Begitulah, buku ini tidak meramalkan apa yang terjadi di masa-masa mendatang. Bagian akhir lebih banyak basa-basi, misalnya menyatakan kita harus mengontrol AI agar tidak jadi masalah di masa depan. Saya pikir, saat ini saja AI sudah jadi masalah yakni menghilangkan kreativitas semua orang, dengan cara mencari jawaban instan.

"Setiap organisme hidup di planet ini, semuanya bergantung pada kita," kata Toon. AI pun bergantung pada kita. Iya, bergantung pada kita.

Tapi apa yang kita lakukan agar kreativitas dan nalar tetap tumbuh di era di mana ChatGPT terus memberi jawaban final pada mahasiwa kita?

#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ™1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Tidak seperti striker yang mendapatkan tepuk tangan dan selebrasi ketika memasukan gol, bek jarang melakukan selebrasi semacam itu. Karena kayaknya ada anggapan umum bahwa itu sudah tugasnya bek. Padahal sama juga dengan striker, bukankah tugas striker memasukan gol?

Perbedaannya ada di anggapan "kemenangan".

Kalau bek menggagalkan goal, itu tidak lantas bikin klubnya memiliki peluang untuk menang--sekalipun tidak bikin klub itu kemasukan goal sebenarnya juga adalah sebuah peluang untuk menang? Di sinilah benarnya ungkapan, posisi menentukan selebrasi.

Apa itu kemenangan?

Naik panggung, dapat tepuk tangan. Jadi sorotan semua orang. Di puji, di puja. Apa itu yang disebut kemenangan?

Nampaknya jika itu arti sebuah kemenangan ada beberapa orang yang seumur hidupnya hanya jadi orang kalah. Menjalani hidupnya sebagai pecundang.

Nyatanya, tidak semua orang seperti itu. Ada orang yang rela sakit agar ada seseorang yang jadi pemenang. Ada orang yang rela diberi kartu merah dikeluarkan dari lapang agar teamnya tidak menjadi pecundang. Ada beberapa orang yang berani merelakan mimpinya agar mimpi orang lain bisa terwujud.

Jika orang haus akan panggung, dahaga akan tepuk tangan, sorak sorai keramaian, orang itu gak cocok berada di posisi bek. Bagusnya di gelandang atau pasnya memang striker.

Bek cocok bagi orang yang mudah dilupakan dan tidak memiliki keinginan mendapat lampu sorot. Posisi ini hanya cocok bagi orang yang datang, do the job whatever it takes, and going home spent time with family. No party. No celebration.


Jadi, apa itu kemenangan?

Setiap orang memiliki definisi yang unik dalam mengartikan kemenangan. Dalam pertandingan sepakbola yang mendapatkan piala itu adalah pemenang, mau sebagus apapun anda bercerita, kalau klub anda gak dapat piala, itu artinya klub anda kalah.

Pada pemasaran, jika produk anda tidak laku, berarti anda kalah. Jika produk kompetitor terjual lebih banyak tapi anda mendapatkan pengakuan sebagai merk Top Of Mind berarti anda menang dalam satu hal tapi kalah dalam hal lain. Lho, kok bisa?

Bisa, karena itu bukan pertandingan sepabola. Memasarkan produk adalah pertandingan jangka panjang yang bertahan itu yang menang. Dan tidak seperti sepakbola, pertandingannya tanpa batas waktu. Infinite game. Tahun ini kalah, tahun depan bisa menang.

Lebih jauhnya lagi dalam hidup, apa arti kemenangan?

Punya mobil tiga, rumah lantai empat tiap tahun bisa liburan ke luar negeri, apa itu artinya kemenangan? Yah, jika bagi anda itu tolok ukurnya, anda menang. Berarti yang cuma punya motor, hidupnya mengandalkan dari gaji ke gaji, dan belum pernah ke luar negeri, hidupnya mirip cecunguk yang selalu ketakutan, mereka pecundang.

Apa pasangan yang tidak bisa mempertahankan biduk pernikahannya adalah orang yang gagal? Belum tentu. Apa mereka yang menjalani hidup sebagai pengusaha, hidup bebas dari telunjuk orang lain adalah orang-orang yang menang? Ya, mungkin saja, tapi..

Ukuran kemenangan dalam pemasaran produk saja sudah sedemikian kompleks, apalagi dalam hidup.

Jadi, apa arti kemenangan menurut anda?

oleh: Taufiqrahman Tedi

#INISIATIF #TGIF
๐Ÿ‘2
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
GOOD POSITIONS DON'T WIN GAMES, GOOD MOVES DO๐Ÿ”ฅ

Berikut rilis susunan line up Tim Catur BPJS Kesehatan Chess Club yang akan menghadapi Tim Catur Bank Mandiri Club Chess dalam ajang pertandingan persahabatan INISIATIF CHESS ARENA COLLABORATION pada 28 Desember 2024. Semoga kemitraan dan kerja sama yang baik bisa terus terjaga ๐Ÿ’ฏ๐Ÿฅ‡๐Ÿค

1. Join ke COMMIT BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
https://t.me/+Hw_pX1nGsDAwNmM1

2. Saksikan live pertandingan BPJS Kes Vs Bank Mandiri:
https://lichess.org/tournament/KaM9ANo3


#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘1
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
Susunan Line up Tim Catur Mandiri Club Chess ๐Ÿฅ‡๐Ÿค
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from BPJS Kesehatan Chess Club (BKC)
1๏ธโƒฃ0๏ธโƒฃ8๏ธโƒฃ ๐ŸŸฐ 1๏ธโƒฃ7๏ธโƒฃ9๏ธโƒฃ ๐Ÿค

Hidup itu seperti permainan catur, ada perjuangan, ada kompetisi, ada kejadian baik dan pasti akan ada juga kejadian yang tidak diharapkan ๐Ÿ™


Selamat kepada Master Aseng Santoso yang keluar sebagai peserta terbaik dalam INISIATIF Chess Arena Collaboration antara BPJS Kesehatan Chess Club Vs Mandiri Club Chess. Sampai bertemu pada arena turnamen selanjutnya ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

#INISIATIF
#BerpikirSebelumBertindak
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Konten Receh Bikin Otakmu Membusuk ๐Ÿ˜จ๐Ÿ˜ฐ

Oleh: Wicaksono

Pernah mendengar istilah "brain rot"? Fenomena "brain rot" kini menjadi perhatian serius di era digital, terutama di kalangan generasi muda.

Istilah ini merujuk pada kondisi di mana kemampuan kognitif seseorang mengalami penurunan akibat konsumsi berlebihan konten digital yang tidak menantang atau berkualitas rendah.

Jika diartikan secara harfiah, "brain rot" berarti "pembusukan otak". Kamus Oxford mendefinisikan istilah ini sebagai degradasi mental atau intelektual yang disebabkan oleh paparan berlebihan terhadap materi yang remeh, terutama konten daring.


Istilah pembusukan otak sebenarnya memiliki sejarah panjang. Salah satu referensi awalnya ditemukan dalam karya klasik "Walden" oleh Henry David Thoreau, yang menggambarkan bagaimana masyarakat cenderung memilih ide-ide sederhana daripada berpikir lebih mendalam. Baca ulasan tentang buku "Walden" di https://www.facebook.com/share/p/18w54ZM8t3/.

Dalam konteks modern, "brain rot" menjadi semakin relevan karena kebiasaan kita yang sering terjebak dalam siklus tanpa akhir menggulir media sosial.

Di Indonesia, fenomena ini tampak nyata.
Seorang mahasiswa di Jakarta, misalnya, pernah mengaku kehilangan kemampuan fokus dan motivasi belajar
akibat terlalu sering menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.

Awalnya ia adalah mahasiswa yang aktif dan berprestasi,
tetapi kebiasaan mengakses konten digital yang berlebihan perlahan-lahan menggerus kualitas hidupnya, bahkan memengaruhi kesehatannya secara keseluruhan.


Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat, para ahli mencatat lonjakan kecanduan media sosial di kalangan remaja, yang mengakibatkan penurunan kemampuan berpikir kritis.

Di Norwegia, penelitian menunjukkan bahwa remaja secara sengaja mencari konten "brain rot" di TikTok untuk mengalihkan perhatian mereka dari stres. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena ini bersifat global, meskipun dampaknya dapat bervariasi tergantung pada lingkungan dan budaya.

Penyebab utama brain rot terletak pada konsumsi media sosial yang berlebihan dan kecenderungan untuk memilih konten yang tidak memberikan nilai edukatif.

Konten seperti meme, video pendek, atau cerita viral biasanya dikonsumsi bukan untuk menambah wawasan, tetapi semata-mata untuk hiburan.

Akibatnya, otak kita terbiasa dengan informasi yang dangkal dan kehilangan kemampuan untuk memproses informasi yang lebih kompleks.

Gaya hidup yang kurang aktif dan minim tantangan intelektual juga memperparah masalah ini.


Dampak dari brain rot tidak bisa dianggap sepele. Kemampuan kognitif yang menurun adalah salah satu efek yang paling nyata, di mana otak menjadi lebih pasif dan kesulitan dalam berpikir kritis atau analitis.

Kecanduan media sosial dapat memicu stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan produktivitas karena waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau bekerja terbuang percuma untuk menggulir konten digital.

Gangguan akibat konten receh di media sosial ini bukan tanpa solusi. Salah satu langkah awal yang bisa diambil adalah membatasi waktu penggunaan media sosial, dengan menetapkan batas harian yang tegas.

Memilih konten berkualitas yang memberikan manfaat intelektual juga merupakan langkah penting.

Aktivitas fisik dan interaksi sosial di dunia nyata juga dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata, sehingga mengurangi dampak negatif dari konsumsi media yang berlebihan.

Fenomena "brain rot" mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan mental dan intelektual di tengah derasnya arus digitalisasi.

Dengan kesadaran dan upaya kolektif, kita dapat menghadapi tantangan ini dan memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat yang mendukung, bukan justru melemahkan, kemampuan berpikir kita.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YOU ARE NOT WHAT YOU FEEL ๐Ÿฅฐ

oleh: Prasetya M Brata

Iman naik-turun. Namanya membangun rutinitas baru, pasti akan berurusan dengan sang homeostatis. Suatu kali saya ingin merutinkan sholat Dhuha. Sang perasaan di alam bawah sadar bernama "Sang Berat" mendadak muncul. Sang Berat menarik saya dari beranjak berwudhu. Katanya, tanggung pekerjaan belum selesai. Enakan begini saja.

Dulu, Sang Berat saya bentak dan lawan. Istilahnya, melawan rasa malas. Saya mem-bully perasaan sendiri. Hasilnya saya jadi otoriter kepada diri saya sendiri. Pola serupa saya lakukan saat sang takut, sang malas, sang cemas, sang sedih, sang kecewa hadir. Otoriter ke dalam, tidak menimbulkan kedamaian ke luar. Semua proses inside-out.

Alih-alih demikian, kali itu saya ajak Sang Berat berdialog. Saya dengarkan maksud-maksud baik Sang Berat muncul. Saya ucapkan terimakasih kepadanya. Saya jelaskan mengapa saya ingin Sholat Dhuha. Lalu saya peluk ia -- accept and embrace -- sambil berjalan menuju tempat wudhu ditemani Sang Ikhlas yang saya minta hadir menemani. Kali itu Sang Berat masih merengek-rengek. Saya rayu ia, kita sholat 2 rakaat dulu. Ia setuju.

Selesai sholat dua rakaat, Sang Berat masih hadir. Sambil masih saya rangkul, saya ajak ia untuk shalat dua raka'at lagi. Selesai empat rakaat, tiba-tiba Sang Berat sudah kembali ke peraduannya, digantikan oleh Sang Nikmat yang hadir. Rupanya Sang Berat telah menyelesaikan tugasnya, memastikan saya berada pada arah dan jalan yang sesuai, appropriate. Kehadiran Sang Nikmat malah menggenapkan rakaat menjadi delapan.

Perasaan seperti alarm yang berbunyi. Ketika ia diterima dan pesannya telah diperhatikan, ia 'diam' lagi. Perasaan adalah instrumen hidup yang bertujuan membantu kehidupan kita. Namanya instrumen, kita yang kendalikan. Saat instrumen bekerja sesuai dengan tujuan kita, maka kita boleh biarkan ia mengendalikan perbuatan kita, bukan kemauan kita. Perasaan bukanlah kita. Perasaan juga adalah informasi untuk kita, bukan instruksi untuk melakukan sesuatu.


Karena perasaan kita bukanlah kita, maka keliru jika saya melihat anda malas lalu saya katakan anda pemalas; ketika melihat anda marah saya katakan anda pemarah. Kalau anda takut, bukan berarti anda penakut. Kalau anda marah, bukan berarti anda pemarah.

Maka hati-hati ketika mendapati anak malas sekolah lantas anda mengatakan, "Nak, sekarang kamu jadi pemalas!". Anda telah menafikan seluruh kebaikan dan kekuatan si anak, dan menciptakan realitas baru bahwa si anak hanya sebesar label 'pemalas'. Jika sampai identitas ini ter-imprint di bawah sadarnya, anda ikut bertanggungjawab menulis 'kertas putih' sang anak. Anda dapat saja mengatakan, "Nak, kamu ini anak baik dan rajin yang kali ini sedang malas sekolah. Ada apa sayang?".

Sang Anak lebih besar dari Sang Malas. Sang Malas siap memberi pesan penting untuk dirinya dan anda, jika ia dan anda bertanya kepadanya dengan penuh kedamaian.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘2
Kalau kamu rela mati demi mereka yang kamu sayangi..

Relakah kamu hidup lebih sehat untuk menjaga, menemani, menyayangi, mengajari dan mendukung mereka?

DALEMMMMM...
Christina Lie

Sobat ATE udah ada resolusi apa aja nih buat jadi lebih baik di Tahun 2025? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk kita mulai bangun kebiasaan itu


#INISIATIF #Fitlife #Komitmen
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Tahun baru datang menyapa,
Mari bersyukur, langkah kita tercipta.
Semangat baru, harapan tak henti,
Mari wujudkan layanan terbaik untuk negeri.

Selamat Tahun Baru 2025

Siruaya Utamawan (Anggota Dewan Pengawas)
KOMITMEN ๐Ÿค

oleh: Muhammad Farid Maricar

Definisi 'komitmen' ini menarik. Menurut the American Heritage Dictionary, komitmen adalah 'The state of being emotionally or intellectually devoted, as to a belief, a course of action, or another person' yang artinya kondisi di mana seseorang secara emosional maupun intelektual menyerahkan diri, apakah itu untuk sebuah agama atau kepercayaan, serangkaian tindakan, atau seseorang.

Berdasarkan definisi tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa komitmen tidak akan bisa dibangun tanpa adanya kesiapan baik dari sisi akal maupun perasaan, yang tentunya ada beberapa komponen yang perlu dipenuhi untuk diperkuat untuk mendapatkan kesiapan tersebut:

1. Niat โœ…
Kita butuh niat yang kuat, untuk meyakinkan diri melakukan sesuatu.

2. Tindakan โœ…
Kita butuh tindakan sebagai bukti bahwa kita memang benar-benar menginginkannya.

3. Perhitungan โœ…
Perhitungan kita lakukan agar kita tidak buta atas apa yang kita lakukan, jangan sampai kita melakukannya tanpa arah yang jelas.

4. Kesabaran โœ…
Yang kita butuhkan dalam proses yang naik turun (pasang surut).

Dalam menjalani komitmen ini, banyak hal yang terkadang terjadi di luar keinginan kita, banyak terjadi perbedaan yang mungkin tidak bisa ditoleransi.

Tapi, di balik semua itu, Alhamdulillah atas izin dari Allah, kita bisa bertahan, dan masih senantiasa berharap untuk menjadi lebih kuat ke depannya dan berharap Allah berikan petunjuk untuk itu. ๐Ÿ’ช

Tentu niat yang senantiasa diperbaiki, menjaga interaksi satu sama lain, dengan perencanaan yang matang, perhitungan yang jelas, dan sabar yang terus dipoles sangat diperlukan untuk menjaga semua itu.

Selamat bersiap mengawali aktifitas perdana kantor di Tahun 2025
๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
DON'T BELIEVE IN LUCK, BELIEVE IN YOURSELF ๐Ÿ”ฅ

Terima kasih atas kebersamaan dan dedikasi adik-adik magang program JKN Apprenticeship Program selindo, semoga sedikit banyaknya ilmu dan pengalaman yang diterima selama berkiprah di BPJS Kesehatan dalam 1 Tahun belakangan ini bisa bermanfaat buat tmn2 di kemudian hari ๐Ÿฅฐ

Tetaplah menjadi corong penghubung informasi seputar Program JKN di lingkungan masyarakat. Salam sehat dan sukses. See you on Top ๐Ÿค

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โคโ€๐Ÿ”ฅ7