Ask The Experts
1.81K subscribers
4.75K photos
414 videos
188 files
2.91K links
Channel ini merupakan pengembangan dari Grup nasional ATE khusus Internal BPJS kesehatan yang membernya lebih dari 6.000 Orang Duta BPJS Kesehatan Selindo ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ

https://www.instagram.com/commit_asktheexperts?igsh=ZmpmN2xqbWFjZjBn
Download Telegram
Salah satu kunci untuk belajar apapun adalah melawan rasa takut.

Karena belajar apapun pasti akan menghadapi situasi-situasi tertentu untuk pertama kalinya, dan karena menghadapi sesuatu pertama kalinya akan merasakan 'takut' karena tidak tahu bagaimana cara menghadapinya dengan benar.

Ketika kita belajar bahasa misalnya, maka 'ketakutan' terbesar kita adalah takut ketika mengatakan sesuatu yang salah. Padahal, ketika kita berbuat kesalahan akan memudahkan kita untuk belajar, dan mencari apa yang salah, sehingga di kemudian waktu kita tidak mengulang yang sama.

Waktu saya S-1, saya dihadapkan dengan 'ketakutan' yang besar, karena harus mempelajari ilmu science dengan basic seadanya, karena waktu SMA saya dari jurusan IPS. Tentu, dalam prosesnya banyak kegagalan dan setelah itu semua terlewati, rasanya plong, disamping belajar banyak tentunya.

Pertama kali saya belajar saham, saya dihadapkan dengan 'ketakutan' rugi yang sangat besar, bahkan sampai pada titik di mana putus asa untuk melanjutkan. Tapi, setelah melewati itu semua, jadi terkadang sudah 'terbiasa' melihat portofolio merah, ketika yakin dengan kinerja 'saham yang dibeli'.


Pertama kali ke luar negeri sendiri, saya sempat merasakan banyak hal, mulai dari ketinggalan pesawat, dimarahi pegawai imigrasi di Singapura, dll. Tapi, setelah melewati itu semua, jadi banyak pengalaman ke luar negeri, dan bahkan terakhir waktu saya ke Jepang, koper saya 'menginap' di Singapur selama 2 hari, tapi tidak panik karena sudah lama tinggal di Jepang dan percaya dengan pelayanan mereka.

Jadi, rasa takut memang pasti muncul pada saat kita belajar apapun untuk pertama kali, dan satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan melawan rasa takut tersebut. Dengan begitu, kita akan jadi lebih banyak belajar dan mendapatkan pengalaman di kemudian hari.

Tapi, bukan berarti kita harus bermudah-mudahan untuk menerima atau berusaha sesuatu yang menurut kita tidak penting dan tidak ada manfaatnya untuk kita. Tentu penting menghitung antara rasa takut dan keuntungan yang didapatkan, terutama keuntungan akhirat. Bukan asal menerima saja.

oleh: Muhammad Farid Maricar

#INISIATIF
โค1๐Ÿ‘1
UANG MAJIKAN YANG BURUK ๐Ÿ™

oleh: Agung Prasetyo Utomo

Banyak yang menganggap uang adalah Sumber Kebahagiaan... Ini tidak bener 100% juga tidak salah 100%.

Karena biasanya yang bilang uang bukan sumber kebahagiaan biasanya target financialnya sudah tercapai.

Yang bilang uang sumber kebahagiaan biasanya target financialnya belum tercapai

Tetapi emang uang memiliki sumber daya untuk memilih pilihan bahagia lebih banyak.

Meng umrohkan orang tua pakai uang pasti bahagia. Membangun masjid atau mushola pakai uang pasti bahagia. Membangun jalan ke makam warga desa pakai uang dijamin bahagia. Itulah kenapa ada ilmu Mendistribusikan Uang setelah 4 ilmu uang sebelumnya

Sama sama orang miskin ada masalah orang kaya juga ada masalah, saya pribadi sadar lebih baik saya jadi orang kaya itu Niat, Iktiar Doa saya ke Allah. Saya tidak pernah berdoa minta miskin...

Saya sudah mengalami sendiri, saat saya awal hijrah ke Jakarta niatan saya adalah hijrah dari miskin ke kaya... Kaya definisi buat saya bukan punya harta triliuunan tetapi kaya definisi saya, saya memiliki pasive income (tidur aja dapat duit) yang nilainya lebih besar dari kebutuhan hidup dan gaya hidup saya.

Saya pribadi berani menyebut diri saya tercapai kaya definisi saya pada usia saya 38 tahun makanya saya berani resign kerja dan menganggur... Gak ngapain ngapain dirumah saya sejak 2017. Setelah 15 tahun berjuang membangun kekayaan saya.

Misal saya punya kos kos an tiap bulan menghasilkan 20jt sedangkan biaya hidup saya 10jt dan sisa 10jt maka saya kaya karena kos kos an masuk ke Pasive Income definisi saya.

Terus apa maksud uang adalah majikan yang buruk???

Dr. Roger Henderson pengarang buku Money Syndrome, peneliti kesehatan mental di Kerajaan Inggris, belum lama ini menciptakan istilah โ€sindrom sakit uangโ€ untuk menggambarkan berbagai gejala fisik dan psikologis yang dialami orang-orang yang stres karena kekhawatiran akan uang. Gejalanya antara lain napas tersengal, sakit kepala, mual, ruam, selera makan berkurang, uring-uringan, resah, dan pikiran negatif.

''Kekhawatiran akan uang adalah penyebab signifikan stres,โ€ lapor Henderson.


Semakin banyak orang menjadi korban dampak buruk kecemasan lantaran uang.

Di negara berkembang, naiknya harga makanan dan barang-barang kebutuhan pokok juga mengakibatkan banyak orang sangat cemas.

Menderita gara-gara uang pun lazim pada waktu orang dalam keadaan makmur. ''stres, utang, pemborosan, bekerja terlalu keras, rasa serbakurang, iri, dan depresiโ€.

Uang dituding sebagai biang kerok terus merosotnya kualitas kehidupan manusia

Beberapa orang โ€sangat dimotivasi oleh uang dan dikendalikan oleh uang. Ini bisa menyebabkan stres dan gangguan emosiโ€.

Kontrasnya, mereka menambahkan, โ€Orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat cenderung merasa bahwa mereka memegang kendali dan merasa positif terhadap diri sendiri.

Mereka adalah majikan uang dan bukan budak uang . . . Kami menegaskan bahwa orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat juga bisa berkurang tekanan hidupnya, dan, dengan demikian, tidak begitu stres.โ€ Uang dijadikan budak oleh mereka.

Ini kalau mau menjadikan uang sebagai budak harus pelajari ilmu Financial... Mencatat Uang, Menganggarkan Uang, Mengeksekusi Uang, Melakukan Evaluasi Uang, Memperbaiki Penggunaan Uang... Terus menerus melakukan Plan Do Cek Action.

Tetapi uang akan jadi majikan kita kalau kita masuk ke ciri ciri ini :

Uang adalah majikan Anda jika . . .

1. Anda tidak mau membahas soal uang karena cemas
2. Uang kerap menjadi topik pertengkaran keluarga
3. Anda keranjingan belanja
4. Anda terus-menerus mengkhawatirkan tagihan
5. Anda tidak tahu pasti berapa banyak pemasukan Anda
6. Anda tidak tahu pasti berapa banyak pengeluaran Anda
7. Anda tidak tahu pasti berapa banyak utang Anda
8. Tagihan Anda sering kali lebih besar daripada yang Anda perkirakan
9. Anda sering terlambat membayar tagihan
10. Anda hanya sanggup melunasi pembayaran minimum tagihan kartu kredit
11. Anda membayar tagihan dengan uang yang diperuntukkan bagi hal lain


Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ‘1
12. Anda bekerja lembur hanya untuk membayar tagihan
13. Anda meminjam lagi untuk melunasi pinjaman lama
14. Anda menggunakan tabungan untuk membayar tagihan rutin
15. Pada akhir bulan, hampir mustahil bagi Anda untuk tidak kehabisan uang
16. Anda merasa harus mengumpulkan banyak uang
17. Anda menderita gejala fisik dan/atau psikologis akibat stres yang berkaitan dengan uang


Sumber : Buku Money Syndrome.

So kamu mengalami yang mana hari ini di Dimensi Kehidupan Financialmu...

UANG BUDAKMU

atau

UANG MAJIKANMU


#INISIATIF
Kekuatan adalah Sementara, Namun Rasa Hormat Abadi ๐Ÿซก

Oleh : Muhammad Farid Maricar

Sering kali, kita melihat bagaimana kekuatan, baik itu berupa jabatan, ataupun kekayaan, dapat membawa seseorang ke puncak dari mendapatkan popularitas atau pengaruh.

Namun, kita semua tahu itu bersifat sementara. Jabatan akan habis masanya, harta dapat berkurang, dan ketenaran bisa memudar. Hal yang tetap adalah rasa hormat yang kita dapatkan dari orang lain.

Rasa hormat itu bukanlah sesuatu yang bisa dibeli atau diraih melalui kekuatan yang sementara tadi, melainkan melalui tindakan yang menunjukkan integritas, empati, dan rasa tanggung jawab kepada orang lain.

Di masyarakat, seringkali reputasi dikaitkan dengan status, jabatan, atau keanggotaan di dalam lingkungan prestisius.

Namun, reputasi yang sesungguhnya bukanlah hasil dari hal-hal tersebut, melainkan dari apa yang kita kontribusikan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, cara kita berinteraksi dengan orang lain, kebaikan yang kita berikan, serta nilai yang kita tanamkan, jauh lebih berpengaruh terhadap reputasi kita di mata orang lain dibandingkan dengan kekayaan atau status sosial.

Reputasi bukanlah sesuatu yang bisa kita bangun hanya dengan menunjukkan kekuatan atau otoritas. Orang lebih menghargai tindakan yang nyata, yang mencerminkan kualitas seseorang.

Misalnya, seorang pemimpin yang dikenal karena dedikasinya terhadap kesejahteraan timnya akan dihormati lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan atau gelar yang dimilikinya.

Karena proses mengagumi seseorang tidak muncul karena jabatannya, tetapi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan memiliki peran penting dalam membentuk citra diri kita di hadapan orang lain.

Jika kita ingin dihargai, kita harus menambah nilai dalam kehidupan orang lain, baik itu dengan membantu mereka mencapai tujuan mereka, memberikan inspirasi, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.

Dengan berfokus pada tindakan yang benar dan memberikan kontribusi yang positif, kita menciptakan kekaguman yang tulus dari orang lain.

Sering kali, orang yang tidak memiliki jabatan tinggi atau kekayaan besar lebih dikagumi karena kesederhanaan dan ketulusan mereka dalam bertindak. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang memberikan dampak nyata jauh lebih berharga dibandingkan posisi atau status sosial.

Di dunia yang penuh dengan persaingan dan pencapaian, orang sering kali mencari cara untuk membuat diri mereka dihargai. Namun, penghargaan yang sebenarnya datang dari menambah nilai dalam kehidupan orang lain.

Menjadi seseorang yang berkontribusi positif, yang peduli, dan yang mau bekerja untuk kebaikan bersama adalah cara terbaik untuk mendapatkan penghargaan sejati dari orang lain.

Jika kita ingin dikenang, kita harus fokus pada bagaimana kita bisa memberikan dampak, bukan pada apa yang bisa kita terima dari orang lain.

Ini mengajarkan kita bahwa untuk mendapatkan nilai di mata orang lain, kita harus terlebih dahulu memberikan sesuatu yang bernilai.

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Teruslah bermain sampai seluruh asetmu habis terjual. #kapok ๐Ÿ™

#AntiJudol #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
โšก1
Panduan strategi klasik dari Sun Tzu yang tetap relevan dan tak lekang oleh waktu, cocok buat latihan teknik negosiasi ๐Ÿ˜‡

#INISIATIF #Strategi
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿฅฐ1
Seperti lagu Pak Dirut Belum Tahu (BPJS) ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

https://www.instagram.com/p/DAZ0RGzTzOB/?igsh=MWJ1OWpvbXRobzFpcA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
RECHARGE YOUR ENERGY ๐Ÿ‘‘

Hanya pemain hebat yang selalu diturunkan pada permainan yang sulit ๐Ÿ‡ฒ๐Ÿ‡จ


Bersiap Minggu (29/9) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB. Tersedia Souvenir seru-seruan 1 buah kaos ATE INISIATIF 2024 buat pemain peringkat 1. ๐Ÿฅฐ

Join di Grup Telegram ATE (Khusus Internal) untuk mengikuti tantangannya
๐Ÿ“ฑ

https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1


#Weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Iwan Kusworo
Forwarded from Iwan Kusworo
Ask The Experts
Photo
Selamat pagi, Sahabat BREED!

Pernahkah Anda mempunyai cita-cita yang tinggi, namun sampai hari ini hal tersebut masih sekedar jadi angan-angan?

Jika kita memiliki keinginan yang tinggi, namun tanpa diikuti tindakan yang nyata untuk mendapatkannya... bisa jadi itu karena kita TIDAK benar-benar menginginkannya.

Adakah yang bercita-cita punya usaha sendiri, tapi belum mulai belajar cara berwiraswasta atau mengumpulkan modal?

Atau adakah yang bercita-cita punya berat badan ideal, namun enggan untuk pergi ke pusat kebugaran atau sekedar rutin lari pagi?

Atau adakah yang bercita-cita ingin mempersunting gadis idamannya, namun untuk melakukan pendekatan dan mengungkapkan perasaan saja tidak mau? ๐Ÿคญ

Di sinilah letak masalahnya. Kita hanya jatuh cinta pada hasil akhir, namun tidak jatuh cinta pada proses dan perjuangan yang dibutuhkan untuk mencapainya.

"Who you are is defined by what you're willing to struggle for."

Perjuangan yang kita jalani akan menentukan kesuksesan kita. Setiap permasalahan yang kita hadapi, ketika terselesaikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri dalam hidup kita. Dan level permasalahan yang akan kita hadapi pun sedikit demi sedikit akan meningkat, tapi tidak apa-apa, karena di situlah letak keasyikannya.

Mari kita renungkan lagi apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. ๐Ÿ˜Š

Thank God It's Monday! โค๏ธ

---
Note: insight dari buku "The Subtle Art of Not Giving a F*ck" (Mark Manson).
โค1
๐Ÿ’ซSAMPAI BERTEMU BESOK ๐Ÿ˜ตโ€๐Ÿ’ซ

Istilah coaching pasti sudah tak asing lagi di telinga kita, tapi meskipun demikian masih ada banyak perbedaan persepsi terkait definisi, tujuan dan manfaat coaching ini. 

Banyak orang menganggap bahwa coaching hanya untuk mereka yang memiliki masalah besar atau krisis dalam karir. Ada juga yang beranggapan bahwa coaching dan mentoring adalah hal yang sama. Selain itu banyak yang beranggapan bahwa coaching adalah salah satu solusi instan untuk membereskan semua masalah.

Apakah benar demikian adanya? Kali ini mari kita luruskan pemahaman tentang coaching untuk memaksimalkan manfaatnya ๐ŸŽŠ


๐Ÿ“บ Room: https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
๐Ÿ—“ Waktu: Kamis, 10 Okt 2024 (19.30 WIB)
๐Ÿ‘‰ Set a Reminder

#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
๐Ÿ™1
TIDAK SEMUA ILMU DIAJARKAN DI SEKOLAH FORMAL ๐Ÿ“

oleh: Agung Prasetyo Utomo

Kemarin sore ngobrol ama si anak ngenger di rumah saya sambil di mobil perjalanan pulang dari Bandara Sukarno Hatta menuju ke rumah... Anak ngenger yang nyetirin saya ini lulusan pesantren di mana sejak SD SMP SMA di pesantren... Secara karakter dan akhlak saya amati dan berinteraksi hampir tidak ada masalah. Semua baik baik saja... Minimal modal dasar karakter sudah ada... Al Amin... Yang bisa dipercaya dan sepertinya emang bisa dipercaya, walau ini ujiannya paling pas biasanya keterkaitan dengan UANG... belum pernah teruji ini.. makanya saya masih bilang sepertinya.

Ingat kalau kata buku sentuhan tangan midas ada 5 hal yang bikin kita sukses :
1. Ibu Jari : Karakter diri
2. Telunjuk : Focus , Follow One Course Until Sukses
3. Jari Tengah : Konsistensi
4. Jari Manis : Network
5. Kelingkinh : Kompetensi Detail.


Salah satu bahasannya adalah... dia sampaikan... saya setelah 2 minggu lalu diskusi ama Pak APU... saya batalkan cita-cita saya setelah lulus kuliah 2 tahun lagi untuk kerja di Pesantren bergaji 3jt sebulan...

Masuk akal juga masak saya sekarang kuliah di biayain Pak APU 4.5jt sebulan kemudian saya kerja target saya di bawah biaya kuliah.

Cita cita saya terlalu rendah... Saya sadar dan rencana saya setelah lulus kuliah 2 tahun lagi saya akan pergi ke luar negeei ke Timur Tengah mencari pekerjaan di sana... Jadi saya ijin untuk mulai kursus Bahasa Arab dari sekarang.

Bagus... kalau kamu sadar... jadi manusia itu jangan terlalu seneng ketika semua cita-citanya tercapai karena bisa jadi cita-citanya terlalu rendah.. Emang bikin cita-cita ya harus SMART Spesific Measurable Achievable Relevant Timeline ... Tinggi boleh terlalu tinggi yang gak masuk akal juga gak boleh... Misal.. kamu sekolah agama terus cita-cita kamu mau jadi dokter spesialis jantung di usia 25 tahun... ini gak realistis gak relevant.

Pengalaman hidup saya, ketika saya kuliah dulu saya berpikir kalau udah selesai kuliah udah selesai sekolah semuanya enak hidup tenang.. Ternyata KAGAK... Lulus sekolah atau kuliah itu malah mengantarkan saya ke dunia kehidupan yang sesungguhnya beda kayak naik gunung... Misal kita naik gunung tentu kita usaha sampai penuh agar sampai puncak, sampai puncak kita menikmati keindahan alamnya dan puas habis itu turun... Plong rasanya.

Lulus Sekolah atau Kuliah gak gitu... perasaan awalnya gitu... ternyata setelah lulus sampai puncak yang saya lihat adalah gunung-gunung yang lain yang mau gak mau harus saya selesaikan episodenya...

Gunung mencari pekerjaan, gunung mencari uang, gunung menikah berkeluarga, gunung berelasi dengan teman, gunung bersosial dengan lingkungan.. dan masih banyak lagi gunung-gunung yang lain dan mau gak mau seneng gak seneng harus saya hadapi.

Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Gak enaknya lagi setelah lulus kuliah atau sekolah sudah tidak disebut lagi sebagai Pelajar atau Mahasiswa tetapi udah ganti gelar Sarjana atau Lulusan... Nah ini berat... saat jadi pelajar atau mahasiswa kalau salah masih dipandang wajar salah masih belajar... Kalau udah lulus statusnya bukan wajar salah tetapi koq Goblok ya sebagai Lulusan atau Sarjana... Ini beban berat seakan-akan kita gak boleh salah. Tapi fakta yang dihadapi emang gitu.. Jangan sampai kita bikin banyak kesalahan dalam kehidupan yang akhirnya bikin ribet diri kita sendiri dalam menjalani kehidupan.

Jadi sekarang kamu segera cari kursus Bahasa Arab... Agar kamu nanti cari kesempatan kerja di Timur Tengah lebih mudah karena menguasai bahasa Arab... Pekerjaannya apa jangan dipikirin dari sekarang. Siapkan diri dulu aja , bangun kompetensi diri dari Bahasa Arab dulu...

Setelah lulus kuliah kamu juga pasti akan menikah, nah nanti kalau milih istri yang bener-bener jangan asal pilih. Karena istri itu belahan jiwa yang mana akan menjadi Ibadah Seumur hidup sebagai suami istri. Jadikan pernikahan itu laksana surga di dunia bukan laksana neraka di dunia. Salah satu yang kadang ditemuin dalam pernikahan kadang begini.

Saat muda, kita membuat berbagai pilihan tanpa memikirkan masa depan. Terkadang pilihan-pilihan itu merugikan kita di usia paruh baya.

Salah satu yang saya amati adalah tentang pasangan hidup dan pernikahan. Sekali-kali kamu coba nongkrong ke Pengadilan Agama lihatin wajah wajah mereka yang sedang berproses perceraian banyak belajar dari situ.

Menikah dengan orang yang salah akan menjadi hal yang akan kita sesali.

Saat masih muda, periksa kembali motivasi kamu nanti menikah. Jangan menikah untuk meniru teman sebaya, atau untuk kedudukan sosial atau karena tekanan. Menikahlah karena cinta dan persahabatan, nikahi orang yang tepat, nikahi sahabat kamu yang kamu mengenal betul akhlaknya.

Karena jika kamu menikah dengan orang yang salah atau karena alasan yang salah, kamu harus bertahan dengan orang itu seumur hidup. Keadaan bisa menjadi lebih buruk di antara kalian berdua berdua; kemudian depresi, kekerasan fisik, perselingkuhan, rasa sakit, rasa malu, kasus pengadilan, kepahitan akan menentukan tahun-tahun paruh baya kamu, semuanya karena kamu memilih orang yang salah. Keadaan akan menjadi lebih buruk saat anak-anak terlibat. Buatlah pilihan pasangan yang tepat saat kamu masih muda. Apa itu? Ikuti petunjuk agama bagaimana menikah, tetapi mempelajari ilmu yang mendukung petunjuk agama juga akan lebih baik.

Jangan karena merasa udah jatuh cinta setengah mati udah pasti cocok... Jangan kayak gitu...

Itulah mengapa saya selalu menyarankan banyak belajar ke orang-orang tua bukan cuma pelajaran sekolah kuliah tetapi juga Ilmu Kehidupan... Belajar ke orang yang sudah sampai di tujuan yang sama yang kamu inginkan itu lebih baik dari pada mencari jalan sendiri. Tetapi juga jangan yang kamu inginkan terlalu rendah.

Saya hanya mendoakan agar tujuan kamu kerja di Timur Tengah setelah lulus kuliah bisa tercapai... Pelajari dari sekarang , siapkan kompetensimu dari sekarang, agar ketika kesempatan itu datang kamu bisa mencapainya dan mendapatkannya.

Sukses = Kepantasan Kompetensi Diri + Kesempatan

#INISIATIF
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Perubahan itu pasti dan keberhasilan adalah milik mereka yang siap menghadapi tantangan baru ~ Dirum

Baca dan saksikan selengkapnya ๐Ÿ‘‰
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Iwan Kusworo
Selamat malam, Sahabat BREED!

Masih ingat adegan dari potongan gambar di atas?

Ya. Itu adalah salah satu scene dari film Spiderman yang dibintangi oleh Tobey Maguire dan Kirsten Dunst.

Uncle Ben di sini berpesan pada Peter Parker, "With great power, comes great responsibility."

Kalimat ini bagus, namun akan lebih dalam lagi maknanya apabila dibalik rangkaiannya.

"With great responsibility, comes great power."

Semakin besar kita mau mengambil tanggung jawab atas hidup kita, semakin besar kendali yang kita miliki.

Menerima tanggung jawab atas masalah yang kita hadapi adalah langkah awal menuju penyelesaiannya.

Ini juga akan menjauhkan kita dari victim mentality, atau selalu merasa menjadi korban, yang ujung-ujungnya cenderung menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan, dan tidak mau mengambil tindakan.

Maaf "nyampah" malem-malem. Pas kebetulan nemu insight bagus ini, masih dari bukunya Mark Manson. ๐Ÿคญ

Selamat beristirahat semuanya. โค๏ธ