Haters adalah suatu keniscayaan. 🙏
Rasul, nabi, orang-orang saleh saja, ada yang tidak suka dengannya. Masak kita mau ‘mengalahkan’ mereka?😇
oleh: Prasetya M Brata
#INISIATIF
#bertemudiri
#highermeaningfulliving
#weekend
Rasul, nabi, orang-orang saleh saja, ada yang tidak suka dengannya. Masak kita mau ‘mengalahkan’ mereka?
oleh: Prasetya M Brata
#INISIATIF
#bertemudiri
#highermeaningfulliving
#weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🤗3
THANKS GOD, IT’S MONDAY
(Belajar untuk bersyukur di Hari Senin)
oleh: Pambudi Sunarsihanto
Sebut saja namanya Erika, seorang Sales Director di sebuah perusahaan Amerika. Saya mengenalnya beberapa minggu yang lalu di sebuah forum digital, dan beberapa kali kami ngobrol via WhatsApps, kemudian beberapa minggu yang lalu kami berjumpa untuk dinner di Jakarta Selatan, di sebuah rooftop restaurant yang pemandangannya bagus. Dan kami pun berdiskusi tentang beberapa topik dari yang ringan, berat maupun sedang.
Sampailah pada topik “Monday”. Erika dengan setengah sedih dan kecewa bilang, "Mas Pam, tomorrow is Monday. I hate it!”
Saya bertanya,”Kenapa?”
Dia menjawab,”It’s going to be very hectic. Banyak meeting, banyak urusan, banyak yang urgent, banyak problem! I hate it!”
Saya tersenyum, tentu saja yang disampaikan Erika dapat dimengerti. Kita baru saja menghabiskan 2 hari yang sangat menyenangkan. Hari Sabtu dan Minggu. Melakukan hal-hal yang kita senangi, nonton film di Netflix, olahraga, tiduran sepanjang hari, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau gowes bersama teman-teman. Siapa sih yang mau kalau kegiatan yang menyenangkan itu dihentikan.
Seorang teman saya suka menganalogikan dengan seorang bayi yang sedang asyik-asyiknya minum air susu ibu, dan tiba-tiba dihentikan. Pasti nangislah dia. Seperti kita yang nangis dan merengek-rengek karena kegiatan yang kita sukai dihentikan.
Makanya dari kebudayaan Amerika ada dua pepatah “I hate Monday” dan “Thanks God It’s Friday”. (Sebenarnya istilah itu berasal dari Amerika, dan bukanlah termasuk salah satu kearifan lokal bangsa Indonesia).
Dan kita dengan bodohnya percaya pada apa yang mereka percayai, dan ikut-ikutan an mengucapkan apa yang mereka ucapkan, sampai itu akhirnya menjadi believe dan mindset kita!
Memangnya orang Amerika (USA) selalu lebih benar dan lebih pintar dari kita? Well, mungkin mereka lebih jago bikin film action. Tetapi di banyak hal, mereka sudah kehilangan competitive advantage mereka.
Mestinya, kita semua justru merasa bersyukur bahwa kita masih mempunyai pekerjaan, dan justru masih menerima gaji setiap bulan.
Sementara ada teman-teman kita yang kehilangan pekerjaannya. Sementara ada berita tentang PHK di berbagai media.
Memang mudah kalau kita selalu melihat ke atas, dengan nasib lebih baik. Tetapi kadang-kadang kita juga harus melihat ke bawah kepada mereka yang nasibnya tidak seberuntung kita. Dan ini membuat kita merasa bersyukur.
Bukannya malah terdemotivasi hanya gara-gara ungkapan orang Amerika yang bilang “I hate Monday!”,
Mestinya kita bilang, “I love Monday, I still have a job and a salary!”
”Terus bagaimana memotivasi kita untuk tampil semangat hari Senin pagi mas..?”, tanya Erika.
Saya ingin share beberapa tips…
1) TULISKAN:
Tuliskan setiap pagi (jangan hanya hari Senin), 10 hal yang membuat kita bersyukur (Pekerjaan, Kesehatan, gaji, keluarga, teman, rumah, mobil, kebahagiaan … atau apapun). Sadari dan ingatkan diri kita sendiri, bahwa our happiness score is (at least 10, TEN!), That’s a very good number.
2) SYUKURI:
Mengingatkan diri betapa bersukurnya bahwa aku masih punya pekerjaan, dan menerima penghasilan ini setiap bulan, mempunyai keluarga yang baik dan saling menyayangi, mempunyai teman-teman yang saling menyemangati dan bisa berckita, ….dll
3) MOTIVASI:
memotivasi diri untuk bekerja maksimal, agar bisa mempertahankan pekerjaan ini, sesulit apapun targetnya
4) KEEP THE SCORE:
Kalau ternyata saat kita mulai bekerja, ada hal yang mengganggu atau menurunkan level kebahagiaan kita, misalnya pelanggan yang marah-marah, boss yang kecewa, atau anak buah yang judes, tetap tangani dengan baik, be professional, dan anggaplah bahwa level kebahagiaan turun satu atau dua point. Tapi kan tadi pagi kita berangkat dari score 10. Kalaupun turun 1 atau 2 point, kan masih bertahan dengan 8 atau 9 point. Heiyyy, that’s still a very good number.
(Belajar untuk bersyukur di Hari Senin)
oleh: Pambudi Sunarsihanto
Sebut saja namanya Erika, seorang Sales Director di sebuah perusahaan Amerika. Saya mengenalnya beberapa minggu yang lalu di sebuah forum digital, dan beberapa kali kami ngobrol via WhatsApps, kemudian beberapa minggu yang lalu kami berjumpa untuk dinner di Jakarta Selatan, di sebuah rooftop restaurant yang pemandangannya bagus. Dan kami pun berdiskusi tentang beberapa topik dari yang ringan, berat maupun sedang.
Sampailah pada topik “Monday”. Erika dengan setengah sedih dan kecewa bilang, "Mas Pam, tomorrow is Monday. I hate it!”
Saya bertanya,”Kenapa?”
Dia menjawab,”It’s going to be very hectic. Banyak meeting, banyak urusan, banyak yang urgent, banyak problem! I hate it!”
Saya tersenyum, tentu saja yang disampaikan Erika dapat dimengerti. Kita baru saja menghabiskan 2 hari yang sangat menyenangkan. Hari Sabtu dan Minggu. Melakukan hal-hal yang kita senangi, nonton film di Netflix, olahraga, tiduran sepanjang hari, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau gowes bersama teman-teman. Siapa sih yang mau kalau kegiatan yang menyenangkan itu dihentikan.
Seorang teman saya suka menganalogikan dengan seorang bayi yang sedang asyik-asyiknya minum air susu ibu, dan tiba-tiba dihentikan. Pasti nangislah dia. Seperti kita yang nangis dan merengek-rengek karena kegiatan yang kita sukai dihentikan.
Makanya dari kebudayaan Amerika ada dua pepatah “I hate Monday” dan “Thanks God It’s Friday”. (Sebenarnya istilah itu berasal dari Amerika, dan bukanlah termasuk salah satu kearifan lokal bangsa Indonesia).
Dan kita dengan bodohnya percaya pada apa yang mereka percayai, dan ikut-ikutan an mengucapkan apa yang mereka ucapkan, sampai itu akhirnya menjadi believe dan mindset kita!
Memangnya orang Amerika (USA) selalu lebih benar dan lebih pintar dari kita? Well, mungkin mereka lebih jago bikin film action. Tetapi di banyak hal, mereka sudah kehilangan competitive advantage mereka.
Mestinya, kita semua justru merasa bersyukur bahwa kita masih mempunyai pekerjaan, dan justru masih menerima gaji setiap bulan.
Sementara ada teman-teman kita yang kehilangan pekerjaannya. Sementara ada berita tentang PHK di berbagai media.
Memang mudah kalau kita selalu melihat ke atas, dengan nasib lebih baik. Tetapi kadang-kadang kita juga harus melihat ke bawah kepada mereka yang nasibnya tidak seberuntung kita. Dan ini membuat kita merasa bersyukur.
Bukannya malah terdemotivasi hanya gara-gara ungkapan orang Amerika yang bilang “I hate Monday!”,
Mestinya kita bilang, “I love Monday, I still have a job and a salary!”
”Terus bagaimana memotivasi kita untuk tampil semangat hari Senin pagi mas..?”, tanya Erika.
Saya ingin share beberapa tips…
1) TULISKAN:
Tuliskan setiap pagi (jangan hanya hari Senin), 10 hal yang membuat kita bersyukur (Pekerjaan, Kesehatan, gaji, keluarga, teman, rumah, mobil, kebahagiaan … atau apapun). Sadari dan ingatkan diri kita sendiri, bahwa our happiness score is (at least 10, TEN!), That’s a very good number.
2) SYUKURI:
Mengingatkan diri betapa bersukurnya bahwa aku masih punya pekerjaan, dan menerima penghasilan ini setiap bulan, mempunyai keluarga yang baik dan saling menyayangi, mempunyai teman-teman yang saling menyemangati dan bisa berckita, ….dll
3) MOTIVASI:
memotivasi diri untuk bekerja maksimal, agar bisa mempertahankan pekerjaan ini, sesulit apapun targetnya
4) KEEP THE SCORE:
Kalau ternyata saat kita mulai bekerja, ada hal yang mengganggu atau menurunkan level kebahagiaan kita, misalnya pelanggan yang marah-marah, boss yang kecewa, atau anak buah yang judes, tetap tangani dengan baik, be professional, dan anggaplah bahwa level kebahagiaan turun satu atau dua point. Tapi kan tadi pagi kita berangkat dari score 10. Kalaupun turun 1 atau 2 point, kan masih bertahan dengan 8 atau 9 point. Heiyyy, that’s still a very good number.
👍1
5) KEEP MOTIVATING YOURSELF:
Kadang ada hari yang memang sangat berat, dan score anda turun sampai minimal, 3, 2 atau bahkan kadang NOL. Don’t worry, saat istirahat makan siang, beristirahat sebentar, tuliskan lagi 10 hal yang membuat kita bersyukur (ulangi lagi step 1, yang direkomendasikan di atas). And your happiness score will be back to 10.
Karena lima hal itu akan membuat kita bersyukur (be grateful), memotivasi diri, dan terus menerus meningkatkan performance kita demi kelangsungan pekerjaan kita, dan juga kelangsungan bisnis perusahaan kita.
Erika menjawab dengan senyum manisnya,”Terima Kasih Mas, sederhana dan mudah dipraktekkan”
Jadi self-reminder ini buat kita semua. Semua bisnis dalam masa sulit. Mari kita semua menghindari complain dan malas-malasan, Justru kita harus bersyukur dan memotivasi diri terus menerus. Malam semakin larut, kami pun berpamitan , sudah waktunya kami beristirahat untuk besok pagi, hari senin.
Tapi kali ini kami akan bilang,”THANKS GOD, IT’S MONDAY!”
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF
Kadang ada hari yang memang sangat berat, dan score anda turun sampai minimal, 3, 2 atau bahkan kadang NOL. Don’t worry, saat istirahat makan siang, beristirahat sebentar, tuliskan lagi 10 hal yang membuat kita bersyukur (ulangi lagi step 1, yang direkomendasikan di atas). And your happiness score will be back to 10.
Karena lima hal itu akan membuat kita bersyukur (be grateful), memotivasi diri, dan terus menerus meningkatkan performance kita demi kelangsungan pekerjaan kita, dan juga kelangsungan bisnis perusahaan kita.
Erika menjawab dengan senyum manisnya,”Terima Kasih Mas, sederhana dan mudah dipraktekkan”
Jadi self-reminder ini buat kita semua. Semua bisnis dalam masa sulit. Mari kita semua menghindari complain dan malas-malasan, Justru kita harus bersyukur dan memotivasi diri terus menerus. Malam semakin larut, kami pun berpamitan , sudah waktunya kami beristirahat untuk besok pagi, hari senin.
Tapi kali ini kami akan bilang,”THANKS GOD, IT’S MONDAY!”
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
#INISIATIF
Salah satu kunci untuk belajar apapun adalah melawan rasa takut.
Karena belajar apapun pasti akan menghadapi situasi-situasi tertentu untuk pertama kalinya, dan karena menghadapi sesuatu pertama kalinya akan merasakan 'takut' karena tidak tahu bagaimana cara menghadapinya dengan benar.
Ketika kita belajar bahasa misalnya, maka 'ketakutan' terbesar kita adalah takut ketika mengatakan sesuatu yang salah. Padahal, ketika kita berbuat kesalahan akan memudahkan kita untuk belajar, dan mencari apa yang salah, sehingga di kemudian waktu kita tidak mengulang yang sama.
Waktu saya S-1, saya dihadapkan dengan 'ketakutan' yang besar, karena harus mempelajari ilmu science dengan basic seadanya, karena waktu SMA saya dari jurusan IPS. Tentu, dalam prosesnya banyak kegagalan dan setelah itu semua terlewati, rasanya plong, disamping belajar banyak tentunya.
Pertama kali ke luar negeri sendiri, saya sempat merasakan banyak hal, mulai dari ketinggalan pesawat, dimarahi pegawai imigrasi di Singapura, dll. Tapi, setelah melewati itu semua, jadi banyak pengalaman ke luar negeri, dan bahkan terakhir waktu saya ke Jepang, koper saya 'menginap' di Singapur selama 2 hari, tapi tidak panik karena sudah lama tinggal di Jepang dan percaya dengan pelayanan mereka.
Jadi, rasa takut memang pasti muncul pada saat kita belajar apapun untuk pertama kali, dan satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan melawan rasa takut tersebut. Dengan begitu, kita akan jadi lebih banyak belajar dan mendapatkan pengalaman di kemudian hari.
Tapi, bukan berarti kita harus bermudah-mudahan untuk menerima atau berusaha sesuatu yang menurut kita tidak penting dan tidak ada manfaatnya untuk kita. Tentu penting menghitung antara rasa takut dan keuntungan yang didapatkan, terutama keuntungan akhirat. Bukan asal menerima saja.
oleh: Muhammad Farid Maricar
#INISIATIF
Karena belajar apapun pasti akan menghadapi situasi-situasi tertentu untuk pertama kalinya, dan karena menghadapi sesuatu pertama kalinya akan merasakan 'takut' karena tidak tahu bagaimana cara menghadapinya dengan benar.
Ketika kita belajar bahasa misalnya, maka 'ketakutan' terbesar kita adalah takut ketika mengatakan sesuatu yang salah. Padahal, ketika kita berbuat kesalahan akan memudahkan kita untuk belajar, dan mencari apa yang salah, sehingga di kemudian waktu kita tidak mengulang yang sama.
Waktu saya S-1, saya dihadapkan dengan 'ketakutan' yang besar, karena harus mempelajari ilmu science dengan basic seadanya, karena waktu SMA saya dari jurusan IPS. Tentu, dalam prosesnya banyak kegagalan dan setelah itu semua terlewati, rasanya plong, disamping belajar banyak tentunya.
Pertama kali saya belajar saham, saya dihadapkan dengan 'ketakutan' rugi yang sangat besar, bahkan sampai pada titik di mana putus asa untuk melanjutkan. Tapi, setelah melewati itu semua, jadi terkadang sudah 'terbiasa' melihat portofolio merah, ketika yakin dengan kinerja 'saham yang dibeli'.
Pertama kali ke luar negeri sendiri, saya sempat merasakan banyak hal, mulai dari ketinggalan pesawat, dimarahi pegawai imigrasi di Singapura, dll. Tapi, setelah melewati itu semua, jadi banyak pengalaman ke luar negeri, dan bahkan terakhir waktu saya ke Jepang, koper saya 'menginap' di Singapur selama 2 hari, tapi tidak panik karena sudah lama tinggal di Jepang dan percaya dengan pelayanan mereka.
Jadi, rasa takut memang pasti muncul pada saat kita belajar apapun untuk pertama kali, dan satu-satunya cara untuk melewatinya adalah dengan melawan rasa takut tersebut. Dengan begitu, kita akan jadi lebih banyak belajar dan mendapatkan pengalaman di kemudian hari.
Tapi, bukan berarti kita harus bermudah-mudahan untuk menerima atau berusaha sesuatu yang menurut kita tidak penting dan tidak ada manfaatnya untuk kita. Tentu penting menghitung antara rasa takut dan keuntungan yang didapatkan, terutama keuntungan akhirat. Bukan asal menerima saja.
oleh: Muhammad Farid Maricar
#INISIATIF
❤1👍1
UANG MAJIKAN YANG BURUK 🙏
oleh: Agung Prasetyo Utomo
Banyak yang menganggap uang adalah Sumber Kebahagiaan... Ini tidak bener 100% juga tidak salah 100%.
Karena biasanya yang bilang uang bukan sumber kebahagiaan biasanya target financialnya sudah tercapai.
Yang bilang uang sumber kebahagiaan biasanya target financialnya belum tercapai
Tetapi emang uang memiliki sumber daya untuk memilih pilihan bahagia lebih banyak.
Meng umrohkan orang tua pakai uang pasti bahagia. Membangun masjid atau mushola pakai uang pasti bahagia. Membangun jalan ke makam warga desa pakai uang dijamin bahagia. Itulah kenapa ada ilmu Mendistribusikan Uang setelah 4 ilmu uang sebelumnya
Sama sama orang miskin ada masalah orang kaya juga ada masalah, saya pribadi sadar lebih baik saya jadi orang kaya itu Niat, Iktiar Doa saya ke Allah. Saya tidak pernah berdoa minta miskin...
Saya sudah mengalami sendiri, saat saya awal hijrah ke Jakarta niatan saya adalah hijrah dari miskin ke kaya... Kaya definisi buat saya bukan punya harta triliuunan tetapi kaya definisi saya, saya memiliki pasive income (tidur aja dapat duit) yang nilainya lebih besar dari kebutuhan hidup dan gaya hidup saya.
Saya pribadi berani menyebut diri saya tercapai kaya definisi saya pada usia saya 38 tahun makanya saya berani resign kerja dan menganggur... Gak ngapain ngapain dirumah saya sejak 2017. Setelah 15 tahun berjuang membangun kekayaan saya.
Misal saya punya kos kos an tiap bulan menghasilkan 20jt sedangkan biaya hidup saya 10jt dan sisa 10jt maka saya kaya karena kos kos an masuk ke Pasive Income definisi saya.
Terus apa maksud uang adalah majikan yang buruk???
Semakin banyak orang menjadi korban dampak buruk kecemasan lantaran uang.
Di negara berkembang, naiknya harga makanan dan barang-barang kebutuhan pokok juga mengakibatkan banyak orang sangat cemas.
Menderita gara-gara uang pun lazim pada waktu orang dalam keadaan makmur. ''stres, utang, pemborosan, bekerja terlalu keras, rasa serbakurang, iri, dan depresi”.
Uang dituding sebagai biang kerok terus merosotnya kualitas kehidupan manusia
Beberapa orang ”sangat dimotivasi oleh uang dan dikendalikan oleh uang. Ini bisa menyebabkan stres dan gangguan emosi”.
Kontrasnya, mereka menambahkan, ”Orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat cenderung merasa bahwa mereka memegang kendali dan merasa positif terhadap diri sendiri.
Mereka adalah majikan uang dan bukan budak uang . . . Kami menegaskan bahwa orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat juga bisa berkurang tekanan hidupnya, dan, dengan demikian, tidak begitu stres.” Uang dijadikan budak oleh mereka.
Ini kalau mau menjadikan uang sebagai budak harus pelajari ilmu Financial... Mencatat Uang, Menganggarkan Uang, Mengeksekusi Uang, Melakukan Evaluasi Uang, Memperbaiki Penggunaan Uang... Terus menerus melakukan Plan Do Cek Action.
Tetapi uang akan jadi majikan kita kalau kita masuk ke ciri ciri ini :
Lanjut part 2
oleh: Agung Prasetyo Utomo
Banyak yang menganggap uang adalah Sumber Kebahagiaan... Ini tidak bener 100% juga tidak salah 100%.
Karena biasanya yang bilang uang bukan sumber kebahagiaan biasanya target financialnya sudah tercapai.
Yang bilang uang sumber kebahagiaan biasanya target financialnya belum tercapai
Tetapi emang uang memiliki sumber daya untuk memilih pilihan bahagia lebih banyak.
Meng umrohkan orang tua pakai uang pasti bahagia. Membangun masjid atau mushola pakai uang pasti bahagia. Membangun jalan ke makam warga desa pakai uang dijamin bahagia. Itulah kenapa ada ilmu Mendistribusikan Uang setelah 4 ilmu uang sebelumnya
Sama sama orang miskin ada masalah orang kaya juga ada masalah, saya pribadi sadar lebih baik saya jadi orang kaya itu Niat, Iktiar Doa saya ke Allah. Saya tidak pernah berdoa minta miskin...
Saya sudah mengalami sendiri, saat saya awal hijrah ke Jakarta niatan saya adalah hijrah dari miskin ke kaya... Kaya definisi buat saya bukan punya harta triliuunan tetapi kaya definisi saya, saya memiliki pasive income (tidur aja dapat duit) yang nilainya lebih besar dari kebutuhan hidup dan gaya hidup saya.
Saya pribadi berani menyebut diri saya tercapai kaya definisi saya pada usia saya 38 tahun makanya saya berani resign kerja dan menganggur... Gak ngapain ngapain dirumah saya sejak 2017. Setelah 15 tahun berjuang membangun kekayaan saya.
Misal saya punya kos kos an tiap bulan menghasilkan 20jt sedangkan biaya hidup saya 10jt dan sisa 10jt maka saya kaya karena kos kos an masuk ke Pasive Income definisi saya.
Terus apa maksud uang adalah majikan yang buruk???
Dr. Roger Henderson pengarang buku Money Syndrome, peneliti kesehatan mental di Kerajaan Inggris, belum lama ini menciptakan istilah ”sindrom sakit uang” untuk menggambarkan berbagai gejala fisik dan psikologis yang dialami orang-orang yang stres karena kekhawatiran akan uang. Gejalanya antara lain napas tersengal, sakit kepala, mual, ruam, selera makan berkurang, uring-uringan, resah, dan pikiran negatif.
''Kekhawatiran akan uang adalah penyebab signifikan stres,” lapor Henderson.
Semakin banyak orang menjadi korban dampak buruk kecemasan lantaran uang.
Di negara berkembang, naiknya harga makanan dan barang-barang kebutuhan pokok juga mengakibatkan banyak orang sangat cemas.
Menderita gara-gara uang pun lazim pada waktu orang dalam keadaan makmur. ''stres, utang, pemborosan, bekerja terlalu keras, rasa serbakurang, iri, dan depresi”.
Uang dituding sebagai biang kerok terus merosotnya kualitas kehidupan manusia
Beberapa orang ”sangat dimotivasi oleh uang dan dikendalikan oleh uang. Ini bisa menyebabkan stres dan gangguan emosi”.
Kontrasnya, mereka menambahkan, ”Orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat cenderung merasa bahwa mereka memegang kendali dan merasa positif terhadap diri sendiri.
Mereka adalah majikan uang dan bukan budak uang . . . Kami menegaskan bahwa orang-orang yang menganggarkan uang dengan cermat juga bisa berkurang tekanan hidupnya, dan, dengan demikian, tidak begitu stres.” Uang dijadikan budak oleh mereka.
Ini kalau mau menjadikan uang sebagai budak harus pelajari ilmu Financial... Mencatat Uang, Menganggarkan Uang, Mengeksekusi Uang, Melakukan Evaluasi Uang, Memperbaiki Penggunaan Uang... Terus menerus melakukan Plan Do Cek Action.
Tetapi uang akan jadi majikan kita kalau kita masuk ke ciri ciri ini :
Uang adalah majikan Anda jika . . .
1. Anda tidak mau membahas soal uang karena cemas
2. Uang kerap menjadi topik pertengkaran keluarga
3. Anda keranjingan belanja
4. Anda terus-menerus mengkhawatirkan tagihan
5. Anda tidak tahu pasti berapa banyak pemasukan Anda
6. Anda tidak tahu pasti berapa banyak pengeluaran Anda
7. Anda tidak tahu pasti berapa banyak utang Anda
8. Tagihan Anda sering kali lebih besar daripada yang Anda perkirakan
9. Anda sering terlambat membayar tagihan
10. Anda hanya sanggup melunasi pembayaran minimum tagihan kartu kredit
11. Anda membayar tagihan dengan uang yang diperuntukkan bagi hal lain
Lanjut part 2
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
12. Anda bekerja lembur hanya untuk membayar tagihan
13. Anda meminjam lagi untuk melunasi pinjaman lama
14. Anda menggunakan tabungan untuk membayar tagihan rutin
15. Pada akhir bulan, hampir mustahil bagi Anda untuk tidak kehabisan uang
16. Anda merasa harus mengumpulkan banyak uang
17. Anda menderita gejala fisik dan/atau psikologis akibat stres yang berkaitan dengan uang
Sumber : Buku Money Syndrome.
So kamu mengalami yang mana hari ini di Dimensi Kehidupan Financialmu...
UANG BUDAKMU
atau
UANG MAJIKANMU
#INISIATIF
Kekuatan adalah Sementara, Namun Rasa Hormat Abadi 🫡
Oleh : Muhammad Farid Maricar
Sering kali, kita melihat bagaimana kekuatan, baik itu berupa jabatan, ataupun kekayaan, dapat membawa seseorang ke puncak dari mendapatkan popularitas atau pengaruh.
Namun, kita semua tahu itu bersifat sementara. Jabatan akan habis masanya, harta dapat berkurang, dan ketenaran bisa memudar. Hal yang tetap adalah rasa hormat yang kita dapatkan dari orang lain.
Rasa hormat itu bukanlah sesuatu yang bisa dibeli atau diraih melalui kekuatan yang sementara tadi, melainkan melalui tindakan yang menunjukkan integritas, empati, dan rasa tanggung jawab kepada orang lain.
Di masyarakat, seringkali reputasi dikaitkan dengan status, jabatan, atau keanggotaan di dalam lingkungan prestisius.
Namun, reputasi yang sesungguhnya bukanlah hasil dari hal-hal tersebut, melainkan dari apa yang kita kontribusikan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, cara kita berinteraksi dengan orang lain, kebaikan yang kita berikan, serta nilai yang kita tanamkan, jauh lebih berpengaruh terhadap reputasi kita di mata orang lain dibandingkan dengan kekayaan atau status sosial.
Reputasi bukanlah sesuatu yang bisa kita bangun hanya dengan menunjukkan kekuatan atau otoritas. Orang lebih menghargai tindakan yang nyata, yang mencerminkan kualitas seseorang.
Misalnya, seorang pemimpin yang dikenal karena dedikasinya terhadap kesejahteraan timnya akan dihormati lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan atau gelar yang dimilikinya.
Karena proses mengagumi seseorang tidak muncul karena jabatannya, tetapi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan memiliki peran penting dalam membentuk citra diri kita di hadapan orang lain.
Jika kita ingin dihargai, kita harus menambah nilai dalam kehidupan orang lain, baik itu dengan membantu mereka mencapai tujuan mereka, memberikan inspirasi, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.
Dengan berfokus pada tindakan yang benar dan memberikan kontribusi yang positif, kita menciptakan kekaguman yang tulus dari orang lain.
Sering kali, orang yang tidak memiliki jabatan tinggi atau kekayaan besar lebih dikagumi karena kesederhanaan dan ketulusan mereka dalam bertindak. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang memberikan dampak nyata jauh lebih berharga dibandingkan posisi atau status sosial.
Di dunia yang penuh dengan persaingan dan pencapaian, orang sering kali mencari cara untuk membuat diri mereka dihargai. Namun, penghargaan yang sebenarnya datang dari menambah nilai dalam kehidupan orang lain.
Menjadi seseorang yang berkontribusi positif, yang peduli, dan yang mau bekerja untuk kebaikan bersama adalah cara terbaik untuk mendapatkan penghargaan sejati dari orang lain.
Jika kita ingin dikenang, kita harus fokus pada bagaimana kita bisa memberikan dampak, bukan pada apa yang bisa kita terima dari orang lain.
Ini mengajarkan kita bahwa untuk mendapatkan nilai di mata orang lain, kita harus terlebih dahulu memberikan sesuatu yang bernilai.
#INISIATIF
Oleh : Muhammad Farid Maricar
Sering kali, kita melihat bagaimana kekuatan, baik itu berupa jabatan, ataupun kekayaan, dapat membawa seseorang ke puncak dari mendapatkan popularitas atau pengaruh.
Namun, kita semua tahu itu bersifat sementara. Jabatan akan habis masanya, harta dapat berkurang, dan ketenaran bisa memudar. Hal yang tetap adalah rasa hormat yang kita dapatkan dari orang lain.
Rasa hormat itu bukanlah sesuatu yang bisa dibeli atau diraih melalui kekuatan yang sementara tadi, melainkan melalui tindakan yang menunjukkan integritas, empati, dan rasa tanggung jawab kepada orang lain.
Di masyarakat, seringkali reputasi dikaitkan dengan status, jabatan, atau keanggotaan di dalam lingkungan prestisius.
Namun, reputasi yang sesungguhnya bukanlah hasil dari hal-hal tersebut, melainkan dari apa yang kita kontribusikan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, cara kita berinteraksi dengan orang lain, kebaikan yang kita berikan, serta nilai yang kita tanamkan, jauh lebih berpengaruh terhadap reputasi kita di mata orang lain dibandingkan dengan kekayaan atau status sosial.
Reputasi bukanlah sesuatu yang bisa kita bangun hanya dengan menunjukkan kekuatan atau otoritas. Orang lebih menghargai tindakan yang nyata, yang mencerminkan kualitas seseorang.
Misalnya, seorang pemimpin yang dikenal karena dedikasinya terhadap kesejahteraan timnya akan dihormati lebih tinggi dibandingkan pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan atau gelar yang dimilikinya.
Karena proses mengagumi seseorang tidak muncul karena jabatannya, tetapi dari tindakannya. Dalam hal ini, tindakan memiliki peran penting dalam membentuk citra diri kita di hadapan orang lain.
Jika kita ingin dihargai, kita harus menambah nilai dalam kehidupan orang lain, baik itu dengan membantu mereka mencapai tujuan mereka, memberikan inspirasi, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.
Dengan berfokus pada tindakan yang benar dan memberikan kontribusi yang positif, kita menciptakan kekaguman yang tulus dari orang lain.
Sering kali, orang yang tidak memiliki jabatan tinggi atau kekayaan besar lebih dikagumi karena kesederhanaan dan ketulusan mereka dalam bertindak. Ini menunjukkan bahwa tindakan yang memberikan dampak nyata jauh lebih berharga dibandingkan posisi atau status sosial.
Di dunia yang penuh dengan persaingan dan pencapaian, orang sering kali mencari cara untuk membuat diri mereka dihargai. Namun, penghargaan yang sebenarnya datang dari menambah nilai dalam kehidupan orang lain.
Menjadi seseorang yang berkontribusi positif, yang peduli, dan yang mau bekerja untuk kebaikan bersama adalah cara terbaik untuk mendapatkan penghargaan sejati dari orang lain.
Jika kita ingin dikenang, kita harus fokus pada bagaimana kita bisa memberikan dampak, bukan pada apa yang bisa kita terima dari orang lain.
Ini mengajarkan kita bahwa untuk mendapatkan nilai di mata orang lain, kita harus terlebih dahulu memberikan sesuatu yang bernilai.
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Panduan strategi klasik dari Sun Tzu yang tetap relevan dan tak lekang oleh waktu, cocok buat latihan teknik negosiasi 😇
#INISIATIF #Strategi
#INISIATIF #Strategi
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🥰1
Seperti lagu Pak Dirut Belum Tahu (BPJS) 🇮🇩
https://www.instagram.com/p/DAZ0RGzTzOB/?igsh=MWJ1OWpvbXRobzFpcA==
https://www.instagram.com/p/DAZ0RGzTzOB/?igsh=MWJ1OWpvbXRobzFpcA==
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
RECHARGE YOUR ENERGY 👑
Bersiap Minggu (29/9) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB. Tersedia Souvenir seru-seruan 1 buah kaos ATE INISIATIF 2024 buat pemain peringkat 1.🥰
#Weekend
Hanya pemain hebat yang selalu diturunkan pada permainan yang sulit🇲🇨
Bersiap Minggu (29/9) mulai pukul 16.00 WIB sd 19.00 WIB. Tersedia Souvenir seru-seruan 1 buah kaos ATE INISIATIF 2024 buat pemain peringkat 1.
Join di Grup Telegram ATE (Khusus Internal) untuk mengikuti tantangannya
📱
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#Weekend
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Iwan Kusworo
Ask The Experts
Photo
Selamat pagi, Sahabat BREED!
Pernahkah Anda mempunyai cita-cita yang tinggi, namun sampai hari ini hal tersebut masih sekedar jadi angan-angan?
Jika kita memiliki keinginan yang tinggi, namun tanpa diikuti tindakan yang nyata untuk mendapatkannya... bisa jadi itu karena kita TIDAK benar-benar menginginkannya.
Adakah yang bercita-cita punya usaha sendiri, tapi belum mulai belajar cara berwiraswasta atau mengumpulkan modal?
Atau adakah yang bercita-cita punya berat badan ideal, namun enggan untuk pergi ke pusat kebugaran atau sekedar rutin lari pagi?
Atau adakah yang bercita-cita ingin mempersunting gadis idamannya, namun untuk melakukan pendekatan dan mengungkapkan perasaan saja tidak mau? 🤭
Di sinilah letak masalahnya. Kita hanya jatuh cinta pada hasil akhir, namun tidak jatuh cinta pada proses dan perjuangan yang dibutuhkan untuk mencapainya.
"Who you are is defined by what you're willing to struggle for."
Perjuangan yang kita jalani akan menentukan kesuksesan kita. Setiap permasalahan yang kita hadapi, ketika terselesaikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri dalam hidup kita. Dan level permasalahan yang akan kita hadapi pun sedikit demi sedikit akan meningkat, tapi tidak apa-apa, karena di situlah letak keasyikannya.
Mari kita renungkan lagi apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. 😊
Thank God It's Monday! ❤️
---
Note: insight dari buku "The Subtle Art of Not Giving a F*ck" (Mark Manson).
Pernahkah Anda mempunyai cita-cita yang tinggi, namun sampai hari ini hal tersebut masih sekedar jadi angan-angan?
Jika kita memiliki keinginan yang tinggi, namun tanpa diikuti tindakan yang nyata untuk mendapatkannya... bisa jadi itu karena kita TIDAK benar-benar menginginkannya.
Adakah yang bercita-cita punya usaha sendiri, tapi belum mulai belajar cara berwiraswasta atau mengumpulkan modal?
Atau adakah yang bercita-cita punya berat badan ideal, namun enggan untuk pergi ke pusat kebugaran atau sekedar rutin lari pagi?
Atau adakah yang bercita-cita ingin mempersunting gadis idamannya, namun untuk melakukan pendekatan dan mengungkapkan perasaan saja tidak mau? 🤭
Di sinilah letak masalahnya. Kita hanya jatuh cinta pada hasil akhir, namun tidak jatuh cinta pada proses dan perjuangan yang dibutuhkan untuk mencapainya.
"Who you are is defined by what you're willing to struggle for."
Perjuangan yang kita jalani akan menentukan kesuksesan kita. Setiap permasalahan yang kita hadapi, ketika terselesaikan, akan memberikan kebahagiaan tersendiri dalam hidup kita. Dan level permasalahan yang akan kita hadapi pun sedikit demi sedikit akan meningkat, tapi tidak apa-apa, karena di situlah letak keasyikannya.
Mari kita renungkan lagi apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. 😊
Thank God It's Monday! ❤️
---
Note: insight dari buku "The Subtle Art of Not Giving a F*ck" (Mark Manson).
❤1
Istilah coaching pasti sudah tak asing lagi di telinga kita, tapi meskipun demikian masih ada banyak perbedaan persepsi terkait definisi, tujuan dan manfaat coaching ini.
Banyak orang menganggap bahwa coaching hanya untuk mereka yang memiliki masalah besar atau krisis dalam karir. Ada juga yang beranggapan bahwa coaching dan mentoring adalah hal yang sama. Selain itu banyak yang beranggapan bahwa coaching adalah salah satu solusi instan untuk membereskan semua masalah.
Apakah benar demikian adanya? Kali ini mari kita luruskan pemahaman tentang coaching untuk memaksimalkan manfaatnya 🎊
#INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
🙏1