Ijin share hasil update Kontes Kumis (Kategori Pegawai & TAD) per Rabu 12.00 WIB, terpantau sudah ada 880-an suara nasional yang masuk sd siang ini 🇮🇩
FYI. Form pemberian dukungan akan ditutup pada Hari Jum'at, 30 Agustus 2024 (maks pukul 17.00 WIB)📱
https://forms.office.com/r/kCuVP6WmtN
Jangan lupa pastikan para pendukung telah join di Grup Telegram ATE (Grup ini khusus Internal pegawai aja yah)
📱
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
MENIKAH YES, PUNYA ANAK NO 🫣
oleh: Satria Dharma
Semakin banyak pasangan yang tidak mau punya anak sekarang ini. Alasannya macam-macam, yang paling umum adalah bahwa punya anak itu mahal.
Menjadi orang tua di zaman sekarang itu memang tidak murah. Ada banyak keperluan anak yang harus dipenuhi. Kita tidak bisa lagi bersikap seperti orang tua zaman lalu yang cuma bermodalkan ‘tawakal’ dan berani punya anak 10. Orang tua saya sendiri anaknya 11 dan modalnya juga tawakal (dan harus jibaku jungkir balik menghidupi 11 anak). Untungnya kok ya jadi semua dan tidak ada yang hidupnya terlunta-lunta. Tapi tidak semua keluarga besar seperti keluarga kami bisa selamat. Banyak keluarga besar yang akhirnya anak-anaknya berantakan. So sad...🥺
Sekarang hampir tidak ada lagi pasangan yang berani hanya bermodalkan ‘tawakal’ dan produksi anak sampai 10 atau 11 orang. Kalau sekarang masih ada yang punya anak 10 mungkin akan menjadi viral dan jadi bahan pergunjingan nasional. Sekarang orang paling banter pingin punya anak kurang dari 5 orang. Lebih dari itu sudah termasuk langka. Trendnya justru mulai banyak pasangan yang tidak ingin punya anak.
Punya anak itu memang mahal biayanya. Tapi uang bukanlah alasan nomor satu yang diberikan oleh pasangan untuk ingin bebas anak. Dalam banyak kasus, generasi muda sekarang mempunyai lebih banyak pilihan hidup. Sekarang mereka menyadari bahwa mereka dapat mengejar kebahagiaan dengan cara lain. Selain itu, semakin tinggi pendidikan suatu populasi, semakin besar kecenderungan laki-laki dan perempuan untuk menunda menjadi orang tua dan juga kecenderungan memiliki lebih sedikit anak.
oleh: Satria Dharma
Semakin banyak pasangan yang tidak mau punya anak sekarang ini. Alasannya macam-macam, yang paling umum adalah bahwa punya anak itu mahal.
Menjadi orang tua di zaman sekarang itu memang tidak murah. Ada banyak keperluan anak yang harus dipenuhi. Kita tidak bisa lagi bersikap seperti orang tua zaman lalu yang cuma bermodalkan ‘tawakal’ dan berani punya anak 10. Orang tua saya sendiri anaknya 11 dan modalnya juga tawakal (dan harus jibaku jungkir balik menghidupi 11 anak). Untungnya kok ya jadi semua dan tidak ada yang hidupnya terlunta-lunta. Tapi tidak semua keluarga besar seperti keluarga kami bisa selamat. Banyak keluarga besar yang akhirnya anak-anaknya berantakan. So sad...
Sekarang hampir tidak ada lagi pasangan yang berani hanya bermodalkan ‘tawakal’ dan produksi anak sampai 10 atau 11 orang. Kalau sekarang masih ada yang punya anak 10 mungkin akan menjadi viral dan jadi bahan pergunjingan nasional. Sekarang orang paling banter pingin punya anak kurang dari 5 orang. Lebih dari itu sudah termasuk langka. Trendnya justru mulai banyak pasangan yang tidak ingin punya anak.
Punya anak itu memang mahal biayanya. Tapi uang bukanlah alasan nomor satu yang diberikan oleh pasangan untuk ingin bebas anak. Dalam banyak kasus, generasi muda sekarang mempunyai lebih banyak pilihan hidup. Sekarang mereka menyadari bahwa mereka dapat mengejar kebahagiaan dengan cara lain. Selain itu, semakin tinggi pendidikan suatu populasi, semakin besar kecenderungan laki-laki dan perempuan untuk menunda menjadi orang tua dan juga kecenderungan memiliki lebih sedikit anak.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Sebagai contoh di Amerika Serikat. Membesarkan anak di AS sangatlah mahal, dan banyak keluarga tidak dapat mengandalkan banyak bantuan dari pemerintah. “Sistem kesejahteraan di Amerika cukup baik untuk orang lanjut usia, namun relatif pelit untuk anak-anak. Dibandingkan Amerika Serikat dengan hampir 40 negara lain di OECD, hanya Turki yang membelanjakan lebih sedikit persentase PDB per anak dari PDB mereka,” podcast NPR, Planet Money, baru-baru ini melaporkan.
Menjadi orang tua di AS menjadi semakin mahal dalam beberapa dekade terakhir. Biaya penitipan anak dan prasekolah melonjak sekitar 263% antara tahun 1991 dan 2024, menurut analisis KPMG terhadap data Biro Statistik Tenaga Kerja. Perkiraan total biaya untuk membesarkan seorang anak pada tahun 2023 sejak lahir hingga usia 18 tahun adalah lebih dari $330.000, menurut analisis Northwestern Mutual.
Tapi uang juga bukanlah alasan nomor satu mengapa orang Amerika tidak punya anak. Dari mereka yang berusia di bawah 50 tahun yang mengatakan bahwa mereka tidak mungkin memiliki anak, 57% mengatakan mereka tidak ingin memiliki anak adalah keinginan untuk fokus pada hal lain (44%) dan kekhawatiran terhadap keadaan dunia atau masa depan. (38%). Dan semakin banyak orang dewasa di bawah usia 50 tahun yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah berniat memiliki anak, demikian temuan studi Pew secara terpisah. Kelompok tersebut tumbuh dari 37% orang dewasa pada tahun 2018 menjadi 47% orang dewasa pada tahun 2023.
Jika biaya bukanlah faktor penentu, mengapa generasi muda Amerika tidak begitu menginginkan anak seperti orang tua mereka sendiri? Bagi banyak orang, hal ini terjadi karena tuntutan dan persyaratan menjadi orang tua itu sendiri telah berubah.
Menjadi orang tua tampak menakutkan: Kami ‘memilih untuk tidak selalu mengawasi anak-anak 24/7’. Callie Freitag, 33, tinggal di Madison, Wisconsin, tempat dia bekerja sebagai peneliti kebijakan publik, ahli demografi dan asisten profesor di Universitas Wisconsin. Dia dan pasangannya “sampai pada keputusan untuk tidak memiliki anak karena tidak satupun dari kami merasa tertarik untuk bertanggung jawab merawat dan memberi makan anak-anak kecil,” katanya kepada CNBC Make It. “Kami lebih suka menghabiskan waktu, energi, dan sumber daya kami dengan cara lain. Kami senang menjadi bibi dan paman, tapi memilih untuk tidak selalu mengawasi anak-anak 24/7,” katanya. Intinya mereka tidak mau terikat dengan tanggung jawab besar membesarkan anak.
Nggak ada lagi yang berani punya anak dengan modal tawakal. Kecuali...😎
Visi yang dikejar oleh generasi muda kini adalah membangun kariernya, bepergian, dan terlibat dengan komunitasnya. Dan memiliki anak menambah kerumitan saja. Mereka lebih suka menghabiskan waktu, energi, dan sumber daya mereka dengan cara lain.
Penurunan angka kelahiran bukan hanya terjadi di AS. Negara-negara di seluruh dunia juga mengalami penurunan angka kelahiran mulai atau terus menurun, seperti yang terjadi di Korea Selatan, yang memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia.
Banyak pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mencoba mendorong warganya untuk menambah jumlah keluarga mereka. Korea Selatan meningkatkan tunjangan bulanan bagi keluarga yang memiliki bayi baru lahir hingga tahun pertama mereka. Taiwan telah memperkenalkan tunjangan tunai dan keringanan pajak bagi orang tua serta memperluas kompensasi cuti keluarga yang dibayar.
Hanya sedikit dari solusi kebijakan ini yang membawa perubahan signifikan. Bahkan negara-negara seperti Norwegia, yang dikenal memiliki kebijakan dukungan keluarga yang kuat, sudah mulai mengalami penurunan angka kelahiran.
Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kita perlu mendorong keluarga untuk memilih lebih banyak anak?🥰
Menjadi orang tua di AS menjadi semakin mahal dalam beberapa dekade terakhir. Biaya penitipan anak dan prasekolah melonjak sekitar 263% antara tahun 1991 dan 2024, menurut analisis KPMG terhadap data Biro Statistik Tenaga Kerja. Perkiraan total biaya untuk membesarkan seorang anak pada tahun 2023 sejak lahir hingga usia 18 tahun adalah lebih dari $330.000, menurut analisis Northwestern Mutual.
Tapi uang juga bukanlah alasan nomor satu mengapa orang Amerika tidak punya anak. Dari mereka yang berusia di bawah 50 tahun yang mengatakan bahwa mereka tidak mungkin memiliki anak, 57% mengatakan mereka tidak ingin memiliki anak adalah keinginan untuk fokus pada hal lain (44%) dan kekhawatiran terhadap keadaan dunia atau masa depan. (38%). Dan semakin banyak orang dewasa di bawah usia 50 tahun yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah berniat memiliki anak, demikian temuan studi Pew secara terpisah. Kelompok tersebut tumbuh dari 37% orang dewasa pada tahun 2018 menjadi 47% orang dewasa pada tahun 2023.
Jika biaya bukanlah faktor penentu, mengapa generasi muda Amerika tidak begitu menginginkan anak seperti orang tua mereka sendiri? Bagi banyak orang, hal ini terjadi karena tuntutan dan persyaratan menjadi orang tua itu sendiri telah berubah.
Menjadi orang tua tampak menakutkan: Kami ‘memilih untuk tidak selalu mengawasi anak-anak 24/7’. Callie Freitag, 33, tinggal di Madison, Wisconsin, tempat dia bekerja sebagai peneliti kebijakan publik, ahli demografi dan asisten profesor di Universitas Wisconsin. Dia dan pasangannya “sampai pada keputusan untuk tidak memiliki anak karena tidak satupun dari kami merasa tertarik untuk bertanggung jawab merawat dan memberi makan anak-anak kecil,” katanya kepada CNBC Make It. “Kami lebih suka menghabiskan waktu, energi, dan sumber daya kami dengan cara lain. Kami senang menjadi bibi dan paman, tapi memilih untuk tidak selalu mengawasi anak-anak 24/7,” katanya. Intinya mereka tidak mau terikat dengan tanggung jawab besar membesarkan anak.
Nggak ada lagi yang berani punya anak dengan modal tawakal. Kecuali...
Visi yang dikejar oleh generasi muda kini adalah membangun kariernya, bepergian, dan terlibat dengan komunitasnya. Dan memiliki anak menambah kerumitan saja. Mereka lebih suka menghabiskan waktu, energi, dan sumber daya mereka dengan cara lain.
Penurunan angka kelahiran bukan hanya terjadi di AS. Negara-negara di seluruh dunia juga mengalami penurunan angka kelahiran mulai atau terus menurun, seperti yang terjadi di Korea Selatan, yang memiliki tingkat kesuburan terendah di dunia.
Banyak pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mencoba mendorong warganya untuk menambah jumlah keluarga mereka. Korea Selatan meningkatkan tunjangan bulanan bagi keluarga yang memiliki bayi baru lahir hingga tahun pertama mereka. Taiwan telah memperkenalkan tunjangan tunai dan keringanan pajak bagi orang tua serta memperluas kompensasi cuti keluarga yang dibayar.
Hanya sedikit dari solusi kebijakan ini yang membawa perubahan signifikan. Bahkan negara-negara seperti Norwegia, yang dikenal memiliki kebijakan dukungan keluarga yang kuat, sudah mulai mengalami penurunan angka kelahiran.
Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah kita perlu mendorong keluarga untuk memilih lebih banyak anak?
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Dalam data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam enam tahun terakhir. Penurunan paling drastis terjadi dalam tiga tahun terakhir. Sejak 2021 hingga 2023, angka pernikahan di Indonesia menyusut sebanyak dua juta.
Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) dari Kementerian Agama (Kemenag), tercatat 1,5 juta pasangan muslim menikah pada 2023. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan 2022 yang mencapai 1,71 juta pasangan. "Yang menikah tidak 1,5 juta, tetapi bisa jadi 1,7 juta kalau dihitung dengan yang nonmuslim, jadi kalau diperkirakan, sejak tahun 2020 angka pernikahan itu sekitar 1,7 juta sekian, baik muslim dan nonmuslim, tetapi di tahun 2023 ini memang turun," katanya.
Sementara hal terbalik terjadi di angka perceraian dalam 3 tahun terakhir. Angka perceraian justru meningkat drastis. Pada tahun 2021 ada lebih dari 447.000 kasus perceraian. Meningkat di 2022 melampaui 500.000, sedikit menurun di 2023 tetapi lebih tinggi dibandingkan 2021 yaitu 463.000 kasus.
Tren Child Free🤔
Dugaan alasan lain yang menyebabkan penurunan jumlah angka pernikahan di Indonesia juga karena munculnya tren child free atau hidup tanpa anak pada generasi muda atau Gen Z. Selain itu ada pula perubahan pola pikir modern di masyarakat. Demikian menurut Psikolog Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim.
Berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu, generasi muda kala itu menganggap pernikahan adalah tujuan utama kehidupan. Saat ini, sebagian anak muda menganggap kebiasaan lama tersebut sudah tidak selalu relevan. Rose juga mengatakan dampak dari perubahan pola pikir modern pada masyarakat dipengaruhi tingkat status ekonomi yang masih rendah. Faktor itu juga turut berkontribusi menurunkan jumlah angka pernikahan di Indonesia.
Dari berbagai pertimbangan, sebagian anak muda lebih memilih mengejar karier atau ekonomi terlebih dahulu. Setelah mapan, barulah memikirkan pernikahan dan kehidupan setelahnya. Jadi sebetulnya sama saja dengan di negara-negara maju lainnya di mana masalah ekonomi menjadi penyebab turunnya keinginan untuk punya anak.
Pergeseran demografis ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi para ekonom, serta politisi dan tokoh masyarakat tertentu yang menganggap penurunan ini sebagai indikasi kerusakan moral. Tidak menginginkan anak adalah “suatu bentuk keegoisan,” kata Paus Fransiskus pada tahun 2022.
Dalam audiensi umum di Vatikan, beliau berkata: “Saat ini… kita melihat suatu bentuk keegoisan. Kita melihat ada sebagian orang yang tidak ingin mempunyai anak. Terkadang mereka punya satu, itu saja, tapi mereka punya anjing dan kucing yang menggantikan anak-anak. Ini mungkin membuat orang tertawa tetapi ini adalah kenyataan. Memelihara hewan peliharaan adalah “penolakan terhadap peran sebagai ayah dan ibu dan meremehkan kita, menghilangkan rasa kemanusiaan kita”, katanya. Konsekuensinya adalah “peradaban menjadi tua tanpa kemanusiaan karena kita kehilangan kekayaan peran sebagai ayah dan ibu, dan negaralah yang menderita”.
Meskipun pasangan yang tidak dapat memiliki anak karena alasan biologis dapat mempertimbangkan untuk mengadopsi anak (dan bukannya malah memilih memelihara anjing atau kucing), ia juga mendesak calon orang tua “tidak perlu takut” untuk menjadi orang tua. “Memiliki anak selalu ada risikonya, tapi risikonya lebih besar jika tidak memiliki anak,” ujarnya.
Bagaimana menurut Anda?🥰
Satria Dharma
#INISIATIF #ketahanankeluarga
Berdasarkan data Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah) dari Kementerian Agama (Kemenag), tercatat 1,5 juta pasangan muslim menikah pada 2023. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan 2022 yang mencapai 1,71 juta pasangan. "Yang menikah tidak 1,5 juta, tetapi bisa jadi 1,7 juta kalau dihitung dengan yang nonmuslim, jadi kalau diperkirakan, sejak tahun 2020 angka pernikahan itu sekitar 1,7 juta sekian, baik muslim dan nonmuslim, tetapi di tahun 2023 ini memang turun," katanya.
Sementara hal terbalik terjadi di angka perceraian dalam 3 tahun terakhir. Angka perceraian justru meningkat drastis. Pada tahun 2021 ada lebih dari 447.000 kasus perceraian. Meningkat di 2022 melampaui 500.000, sedikit menurun di 2023 tetapi lebih tinggi dibandingkan 2021 yaitu 463.000 kasus.
Tekanan orang-orang sekitar juga menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat tidak ingin melangsungkan pernikahan. Kalau menikah di Indonesia pasti ada tekanan untuk mempunyai anak, karena kalau di Indonesia sudah menikah itu, saat Idulfitri misalnya, pasti ditanya sudah punya anak atau belum. Kalau sudah punya anak masih ditanya kapan bikin anak lagi, dst. Pokoknya usil banget deh…😁
Tren Child Free
Dugaan alasan lain yang menyebabkan penurunan jumlah angka pernikahan di Indonesia juga karena munculnya tren child free atau hidup tanpa anak pada generasi muda atau Gen Z. Selain itu ada pula perubahan pola pikir modern di masyarakat. Demikian menurut Psikolog Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim.
Berbeda dengan beberapa puluh tahun lalu, generasi muda kala itu menganggap pernikahan adalah tujuan utama kehidupan. Saat ini, sebagian anak muda menganggap kebiasaan lama tersebut sudah tidak selalu relevan. Rose juga mengatakan dampak dari perubahan pola pikir modern pada masyarakat dipengaruhi tingkat status ekonomi yang masih rendah. Faktor itu juga turut berkontribusi menurunkan jumlah angka pernikahan di Indonesia.
Dari berbagai pertimbangan, sebagian anak muda lebih memilih mengejar karier atau ekonomi terlebih dahulu. Setelah mapan, barulah memikirkan pernikahan dan kehidupan setelahnya. Jadi sebetulnya sama saja dengan di negara-negara maju lainnya di mana masalah ekonomi menjadi penyebab turunnya keinginan untuk punya anak.
Pergeseran demografis ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi para ekonom, serta politisi dan tokoh masyarakat tertentu yang menganggap penurunan ini sebagai indikasi kerusakan moral. Tidak menginginkan anak adalah “suatu bentuk keegoisan,” kata Paus Fransiskus pada tahun 2022.
Dalam audiensi umum di Vatikan, beliau berkata: “Saat ini… kita melihat suatu bentuk keegoisan. Kita melihat ada sebagian orang yang tidak ingin mempunyai anak. Terkadang mereka punya satu, itu saja, tapi mereka punya anjing dan kucing yang menggantikan anak-anak. Ini mungkin membuat orang tertawa tetapi ini adalah kenyataan. Memelihara hewan peliharaan adalah “penolakan terhadap peran sebagai ayah dan ibu dan meremehkan kita, menghilangkan rasa kemanusiaan kita”, katanya. Konsekuensinya adalah “peradaban menjadi tua tanpa kemanusiaan karena kita kehilangan kekayaan peran sebagai ayah dan ibu, dan negaralah yang menderita”.
Meskipun pasangan yang tidak dapat memiliki anak karena alasan biologis dapat mempertimbangkan untuk mengadopsi anak (dan bukannya malah memilih memelihara anjing atau kucing), ia juga mendesak calon orang tua “tidak perlu takut” untuk menjadi orang tua. “Memiliki anak selalu ada risikonya, tapi risikonya lebih besar jika tidak memiliki anak,” ujarnya.
Bagaimana menurut Anda?
Satria Dharma
#INISIATIF #ketahanankeluarga
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
KETAHANAN FINANSIAL, WASPADA PINJOL DAN JUDOL 🙏
Dua anggota polisi dari Ditsamapta Polda Sumatera Barat, Briptu MPP dan Bripda MSAD, terlibat dalam perampokan mobil pengangkut uang senilai Rp 5,1 miliar untuk pengisian mesin ATM. Mereka bekerja sama dengan seorang warga sipil bernama HS, yang mengaku sebagai perwira polisi.
Perampokan terjadi di Flyover Bandara Internasional Minangkabau pada Selasa (27/8). Saat kejadian, uang Rp 2,5 miliar dipindahkan ke mobil lain oleh pelaku.
Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago, mengungkap motif perampokan ini. Menurut Erdi aksi perampokan ini dilatarbelakangi utang.
"Motif dari ketiga tersangka melakukan perbuatan pencurian dengan kekerasan karena ketiganya terlilit utang," kata Erdi dalam keterangannya, Rabu (28/8).
Kedua polisi tersebut, yang sedang mengawal mobil berisi uang, memanfaatkan situasi untuk melancarkan perampokan dengan ancaman senjata api. Pelaku HS ditangkap di rumah orang tuanya pada Selasa (27/8), sementara kedua polisi menyerahkan...
Sumber: Kumparan
#antijudol #antipinjol #ketahananfinansial
Dua anggota polisi dari Ditsamapta Polda Sumatera Barat, Briptu MPP dan Bripda MSAD, terlibat dalam perampokan mobil pengangkut uang senilai Rp 5,1 miliar untuk pengisian mesin ATM. Mereka bekerja sama dengan seorang warga sipil bernama HS, yang mengaku sebagai perwira polisi.
Perampokan terjadi di Flyover Bandara Internasional Minangkabau pada Selasa (27/8). Saat kejadian, uang Rp 2,5 miliar dipindahkan ke mobil lain oleh pelaku.
Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Pol Erdi Adrimulan Chaniago, mengungkap motif perampokan ini. Menurut Erdi aksi perampokan ini dilatarbelakangi utang.
"Motif dari ketiga tersangka melakukan perbuatan pencurian dengan kekerasan karena ketiganya terlilit utang," kata Erdi dalam keterangannya, Rabu (28/8).
Kedua polisi tersebut, yang sedang mengawal mobil berisi uang, memanfaatkan situasi untuk melancarkan perampokan dengan ancaman senjata api. Pelaku HS ditangkap di rumah orang tuanya pada Selasa (27/8), sementara kedua polisi menyerahkan...
Sumber: Kumparan
#antijudol #antipinjol #ketahananfinansial
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
👍1
Ijin share hasil update Kontes Kumis (Kategori Pegawai & TAD) per Kamis 12.00 WIB, terpantau sudah ada 1.170-an suara nasional yang masuk sd siang ini
FYI. Form pemberian dukungan akan ditutup pada Hari Jum'at besok, 30 Agustus 2024 (maks pukul 17.00 WIB)📱
https://forms.office.com/r/kCuVP6WmtN
Jangan lupa pastikan para pendukung telah join di Grup Telegram ATE (Grup ini khusus Internal pegawai aja yah)
📱
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Karena pikiran dan tubuh selalu mencari jawaban atas pertanyaan 🙏
“If your life is an answer of a question, what is the question?”
- Neuro-Semantics -
oleh: Prasetya M Brata
#INISIATIF #TGIF
“If your life is an answer of a question, what is the question?”
- Neuro-Semantics -
oleh: Prasetya M Brata
#INISIATIF #TGIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Akankah Sejarah akan kembali terulang? 🧐
Kalau menurut sobat ATE bgmn? Yuk, simak video berikut sebagai pengantar anda mengawali hari di kantor
https://youtu.be/_tnogc2aqlY?si=DTtQxSTQTGq4TjyO
#INISIATIF #Persisten
Ada 2 garis besar pendapat🇮🇩
1🗣 : Bisa jadi demikian, ga ada yang gak mungkin, yg dulunya raksasa bertahun-tahun juga bisa jatuh seperti Lehman Brothers, Blackberry, Nokia, dll. No one Knows
2🗣 : Google sulit ditinggalkan karena ekosistemnya masih sangat kuat
Kalau menurut sobat ATE bgmn? Yuk, simak video berikut sebagai pengantar anda mengawali hari di kantor
https://youtu.be/_tnogc2aqlY?si=DTtQxSTQTGq4TjyO
#INISIATIF #Persisten
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
YouTube
Akankah Google Bernasib Seperti Yahoo!?
Dua kali Google pernah ditawarkan ke Yahoo! untuk dibeli, tetapi dua kali juga Yahoo! menolak. Ironinya, beberapa tahun kemudian Yahoo! justru takluk di kaki Google. Kini sejarah seperti berulang, ketika Google ditantang perusahaan-perusahaan search engine…
Ijin share hasil update Kontes Kumis (Kategori Pegawai & TAD) per Jum'at 09.00 WIB, terpantau sudah ada 1.239-an suara nasional yang masuk sd pagi ini
Kira-kira siapakah yang akan keluar sebagai juara dalm kontes Kumis 2024?
FYI. Form pemberian dukungan akan ditutup pada Jum'at sore ini maks pukul 17.00 WIB📱
https://forms.office.com/r/kCuVP6WmtN
Jangan lupa pastikan para pendukung telah join di Grup Telegram ATE (Grup ini khusus Internal pegawai aja yah)📱
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, telah merilis daftar 26 pemain yang akan bertanding dalam dua laga penting di putaran ketiga Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Pertandingan pertama akan mempertemukan Timnas Indonesia dengan Arab Saudi, yang diperkuat 7 pemain rekan Cristiano Ronaldo di Al Nassr.
Pertandingan antara Timnas Indonesia dan Arab Saudi ini akan menjadi ujian berat bagi Garuda di mana laga ini diprediksi akan berlangsung sengit.
Apakah Garuda mampu bertahan dari serangan Elang di Jeddah?
Nah, sembari menyaksikan dan memberi dukungan buat Timnas, kembali ada peluang seru-seruan juga buatmu untuk memenangkan Souvenir Kaos ATE INISIATIF masing-masing untuk 3 (tiga) Sobat ATE beruntung yang berhasil menebak 2 opsi polling sekaligus dengan tepat
Periode partisipasinya dimulai saat ini dan akan ditutup pada Kamis, 5 September pukul 16.00 WIB
Syarat klaim : Sudah join di grup COMMIT ATE (Khusus Internal Duta BPJS Kesehatan)
https://t.me/+K3eK0MkLG2MyYTk1
#INISIATIFDukungTimnas
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
FYI. Hanya 30 menit waktu tersisa untuk pemberian dukungan pada Kontes Kumis 2024 🤌 🇮🇩
https://forms.office.com/r/kCuVP6WmtN
https://forms.office.com/r/kCuVP6WmtN
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Luck is When Preparation Meets Opportunity (Bagaimana kita meningkatkan keberuntungan kita?) 😇
oleh : Pambudi Sunarsihanto
Namanya Erick Yuan, dia yang menciptakan Zoom, yang sekarang kita pakai di mana-mana untuk melakukan video conference kita sejak masa pandemi, sampai sekarang.
Market capitalization zoom saat ini adalah 21 Billion USD. Mungkin orang akan bilang bahwa dia adalah orang yang paling beruntung. Dia bikin Zoom. Kemudian ada COVID. Sekarang zoom dipakai, dan dia kaya raya.Tetapi, apakah dia benar-benar beruntung?
Kita lihat perjalanan hidup dia. Waktu dia kuliah, dia harus naik kereta seminggu sekali selama 10 jam untuk mengunjungi pacarnya. Tetapi selama perjalanan kereta itu, dia sudah berfikir untuk membuat sebuah alat (software) agar dia tidak usah menempuh perjalanan 10 jam untuk menemui pacarnya. Dia sudah melihat ke depan, dan merencanakan sesuatu yang akan bermanfaat bagi kita semua. That’s visionary!📝
Kemudian, waktu dia ingin bekerja ke Amerika, visanya ditolak 8 kali. Dia pantang menyerah, dan mencoba terus. Akhirnya pada usahanya yang ke 9, dia berhasil. That’s persistence, kegigihan, tahan banting.📝
Selama bekerja di perusahaan itu, dia menghabiskan banyak waktu dengan customernya, mendengarkan semua suara pelanggannya, dan bukan hanya menghabiskan waktu di laboratorium atau di kantor pusatnya. Sehingga dia benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan pelanggan. Mendengarkan pelanggan memang seringkali membosankan, melelahkan dan kadang-kadang menyebalkan. Tetapi ingat, pelanggan anda adalah yang membayar gaji anda dan yang bisa memecat anda sewaktu-waktu. Eric Yuan mengerti hal itu dan makanya dia menghabiskan banyak waktu dengan pelanggan. That’s customer focus.📝
Pada saat dia mempunyai ide berdasarkan feedback pelanggan, dan perusahaan di mana dia bekerja kurang flexible mengimplementasikan hal itu, dia pun mengimplementasikannya sendiri.
Sementara banyak yang hanya punya wacana dan rencana, Eric sangat focus pada implementasi dan eksekusi! That’s the spirit of making it happen!📝
Nah, sekarang kita bisa mengerti kan? Bahwa yang dialami Eric Yuan sama sekali bukan keberuntungan.
Memang COVID menciptakan opportunity, Tetapi kalau Eric Yuan tidak menyiapkan Zoom sebelumnya, ya dia gak akan dapat apa apa. Arnold Parmer, seorang juara dunia Golf, menyampaikan, semakin banyak saya berlatih (bekerja keras), semakin beruntunglah saya.
Saya dulu hidup serba kekurangan di Magetan, kemudian saya kuliah di ITB, sebelum selesai saya mendapatkan beasiswa ke Perancis dalam bidang Computer Engineering. Saya mendapatkan MBA saya di Finlandia. Banyak sepupu dan teman-teman saya yang bilang, “Betapa beruntungnya kamu ya Pam?”.
They have no idea that it was about hardwork and perserverance, and never about luck. Ingat, semakin keras anda bekerja, semakin beruntunglah anda.
Again, remember ….“Luck is when preparation meets opportunity”, dan semakin banyak saya berlatih (bekerja keras), semakin beruntunglah saya.
oleh : Pambudi Sunarsihanto
Namanya Erick Yuan, dia yang menciptakan Zoom, yang sekarang kita pakai di mana-mana untuk melakukan video conference kita sejak masa pandemi, sampai sekarang.
Market capitalization zoom saat ini adalah 21 Billion USD. Mungkin orang akan bilang bahwa dia adalah orang yang paling beruntung. Dia bikin Zoom. Kemudian ada COVID. Sekarang zoom dipakai, dan dia kaya raya.Tetapi, apakah dia benar-benar beruntung?
Kita lihat perjalanan hidup dia. Waktu dia kuliah, dia harus naik kereta seminggu sekali selama 10 jam untuk mengunjungi pacarnya. Tetapi selama perjalanan kereta itu, dia sudah berfikir untuk membuat sebuah alat (software) agar dia tidak usah menempuh perjalanan 10 jam untuk menemui pacarnya. Dia sudah melihat ke depan, dan merencanakan sesuatu yang akan bermanfaat bagi kita semua. That’s visionary!
Kemudian, waktu dia ingin bekerja ke Amerika, visanya ditolak 8 kali. Dia pantang menyerah, dan mencoba terus. Akhirnya pada usahanya yang ke 9, dia berhasil. That’s persistence, kegigihan, tahan banting.
Selama bekerja di perusahaan itu, dia menghabiskan banyak waktu dengan customernya, mendengarkan semua suara pelanggannya, dan bukan hanya menghabiskan waktu di laboratorium atau di kantor pusatnya. Sehingga dia benar-benar mengetahui apa yang dibutuhkan pelanggan. Mendengarkan pelanggan memang seringkali membosankan, melelahkan dan kadang-kadang menyebalkan. Tetapi ingat, pelanggan anda adalah yang membayar gaji anda dan yang bisa memecat anda sewaktu-waktu. Eric Yuan mengerti hal itu dan makanya dia menghabiskan banyak waktu dengan pelanggan. That’s customer focus.
Pada saat dia mempunyai ide berdasarkan feedback pelanggan, dan perusahaan di mana dia bekerja kurang flexible mengimplementasikan hal itu, dia pun mengimplementasikannya sendiri.
Sementara banyak yang hanya punya wacana dan rencana, Eric sangat focus pada implementasi dan eksekusi! That’s the spirit of making it happen!
Nah, sekarang kita bisa mengerti kan? Bahwa yang dialami Eric Yuan sama sekali bukan keberuntungan.
Lucius Annaeus Seneca, seorang filosof jaman Romawi (yang paling kaya dan paling berpengaruh pada jamannya), bilang “Luck is when preparation meets opportunity”. Keberuntungan itu terjadi saat persiapan bertemu dengan kesempatan."
Memang COVID menciptakan opportunity, Tetapi kalau Eric Yuan tidak menyiapkan Zoom sebelumnya, ya dia gak akan dapat apa apa. Arnold Parmer, seorang juara dunia Golf, menyampaikan, semakin banyak saya berlatih (bekerja keras), semakin beruntunglah saya.
Saya dulu hidup serba kekurangan di Magetan, kemudian saya kuliah di ITB, sebelum selesai saya mendapatkan beasiswa ke Perancis dalam bidang Computer Engineering. Saya mendapatkan MBA saya di Finlandia. Banyak sepupu dan teman-teman saya yang bilang, “Betapa beruntungnya kamu ya Pam?”.
They have no idea that it was about hardwork and perserverance, and never about luck. Ingat, semakin keras anda bekerja, semakin beruntunglah anda.
Again, remember ….“Luck is when preparation meets opportunity”, dan semakin banyak saya berlatih (bekerja keras), semakin beruntunglah saya.
Prinsipnya sederhana,
sebelum kereta (opportunity) itu datang, belilah tiketnya (bekerja keras, berlatih dan bersiap-siaplah).
Jika keretanya datang, anda bisa naik. Jangan sampai saat kesempatan itu datang, dan anda belum siap (gak punya tiketnya), anda bisa diusir sama petugas keretanya.
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM