Tanggung jawab bersama untuk akuntabilitas di semua level — mulai dari CEO hingga karyawan yang baru join — akan menghasilkan semangat kerja yang lebih tinggi dan kinerja yang lebih efektif, dan akan membangun kesuksesan organisasi yang konsisten.
Terus, bagaimana membangun budaya accountability ini?
Andrew Robertson dari Gallup merekomendasikan beberapa hal yang bisa dijalankan.
a) *Define what people are accountable for.*
Karyawan perlu mengetahui, ekpektasi manajemen terhadap tujuan yang perlu mereka capai. Atasan juga perlu menunjukkan akuntabilitas melalui availability mereka sendiri dan waktu yang dihabiskan bersama team untuk mendiskusikan, mengkomunikasikan, mendapatkan feedback dan memberikan update progress, serta menyampaikan apresiasi terhadap tanggung jawab seluruh tim dan pencapiannya.
b) *Set and cascade goals throughout the organization.*
Setelah karyawan memahami dengan jelas apa yang menjadi tanggung jawab mereka, atasan harus membantu mereka menetapkan tujuan individual yang terukur dan selaras dengan peran masing-masing. Karyawan harus menetapkan metrik (pengukuran) yang akan membantu mereka mengetahui apakah mereka mencapai tujuan yang diharapkan organisasi.
c) *Provide updates on progress.*
Talent-talent kita membutuhkan informasi untuk mengerti apakah yang mereka lakukan sudah berada di jalur yang benar. Feedback dapat berasal dari survei pelanggan atau karyawan, pembaruan proyek yang sedang berlangsung, feedback dari social media atau sumber lain atau beberapa kombinasi dari semua hal tersebut. Feedback yang yang paling efektif seringkali berasal dari percakapan jujur yang sering terjadi antara atasan dan karyawan.
d) *Align development, learning and growth.*
Organisasi harus memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berlatih, belajar, dan berkembang. Analitik dari Gallup menunjukkan bahwa milenial sangat mementingkan ”opportunity to grow and learn” sebagai faktor pekerjaan yang pentingnya No. 1 -- di atas semua aspek pekerjaan lainnya -- .
Bagi generasi lain, peringkat dari aspek learning and grow ini juga sangat penting. Atasan yang fokus pada pengembangan karyawan akan sangat membantu pekerja agar mampu menjalankan tugasnya dan menghindarkan perusahaan dari resiko-resiko bisnis di masa depan.
e) *Recognize and celebrate progress.*
Identifikasi hal-hal positive yang terjadi dan apresiasi karyawan langsung saat itu juga. Ini akan memotivasi karyawan untuk semakin bertanggung jawab dalam tugasnya, terus melakukan yang terbaik, dan akan ditiru oleh karyawan-karyawan lain.
Jadi ingat ya, untuk membangun culture of accountability, dan menghindarkan organisasi kita dari resiko-resiko di masa depan, kita bisa menjalankan beberapa rekomendasi ini:
• *Define what people are accountable for.*
• *Set and cascade goals throughout the organization.*
• *Provide updates on progress.*
• *Align development, learning and growth.*
• *Recognize and celebrate progress.*
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Terus, bagaimana membangun budaya accountability ini?
Andrew Robertson dari Gallup merekomendasikan beberapa hal yang bisa dijalankan.
a) *Define what people are accountable for.*
Karyawan perlu mengetahui, ekpektasi manajemen terhadap tujuan yang perlu mereka capai. Atasan juga perlu menunjukkan akuntabilitas melalui availability mereka sendiri dan waktu yang dihabiskan bersama team untuk mendiskusikan, mengkomunikasikan, mendapatkan feedback dan memberikan update progress, serta menyampaikan apresiasi terhadap tanggung jawab seluruh tim dan pencapiannya.
b) *Set and cascade goals throughout the organization.*
Setelah karyawan memahami dengan jelas apa yang menjadi tanggung jawab mereka, atasan harus membantu mereka menetapkan tujuan individual yang terukur dan selaras dengan peran masing-masing. Karyawan harus menetapkan metrik (pengukuran) yang akan membantu mereka mengetahui apakah mereka mencapai tujuan yang diharapkan organisasi.
c) *Provide updates on progress.*
Talent-talent kita membutuhkan informasi untuk mengerti apakah yang mereka lakukan sudah berada di jalur yang benar. Feedback dapat berasal dari survei pelanggan atau karyawan, pembaruan proyek yang sedang berlangsung, feedback dari social media atau sumber lain atau beberapa kombinasi dari semua hal tersebut. Feedback yang yang paling efektif seringkali berasal dari percakapan jujur yang sering terjadi antara atasan dan karyawan.
d) *Align development, learning and growth.*
Organisasi harus memberikan kesempatan bagi karyawan untuk berlatih, belajar, dan berkembang. Analitik dari Gallup menunjukkan bahwa milenial sangat mementingkan ”opportunity to grow and learn” sebagai faktor pekerjaan yang pentingnya No. 1 -- di atas semua aspek pekerjaan lainnya -- .
Bagi generasi lain, peringkat dari aspek learning and grow ini juga sangat penting. Atasan yang fokus pada pengembangan karyawan akan sangat membantu pekerja agar mampu menjalankan tugasnya dan menghindarkan perusahaan dari resiko-resiko bisnis di masa depan.
e) *Recognize and celebrate progress.*
Identifikasi hal-hal positive yang terjadi dan apresiasi karyawan langsung saat itu juga. Ini akan memotivasi karyawan untuk semakin bertanggung jawab dalam tugasnya, terus melakukan yang terbaik, dan akan ditiru oleh karyawan-karyawan lain.
Jadi ingat ya, untuk membangun culture of accountability, dan menghindarkan organisasi kita dari resiko-resiko di masa depan, kita bisa menjalankan beberapa rekomendasi ini:
• *Define what people are accountable for.*
• *Set and cascade goals throughout the organization.*
• *Provide updates on progress.*
• *Align development, learning and growth.*
• *Recognize and celebrate progress.*
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from TO DO LIST
Salam INISIATIF ✅
Ask The Experts #edisi385
Live di Instagram Ask The Experts
Risiko saat kehamilan dan persalinan itu kerap diterangkan oleh dokter ketika datang berkonsultasi.
Beberapa forum kesehatan ibu dan anak diketahui juga sering mengangkat masalah kesehatan tersebut. Namun bagaimana dengan Peripartum Cardiomyopathy atau Postpartum Cardiomyopathy (PPCM)?
Kendati jarang ditemukan, penyakit ini patut diwaspadai. Karena berdampak fatal bagi kesehatan. Penyakit gagal jantung yang terjadi pada akhir masa kehamilan hingga 5 bulan setelah persalinan..
Lantas apa saja yang menjadi penyebab dari penyakit tersebut dan bagaimana cara kita mengatasi dan mencegahnya ?
Spesial buat kalian semua, kali ini ATE akan mengulas materi tersebut secara fun and meaningful pada Live Instagram ATE edisi 385 bersama Narasumber yang ahli dibidangnya dan dipandu oleh kakak admin @mumuamiruddin dan @mirdaherlinda 🔥
Ask The Experts #edisi385
Live di Instagram Ask The Experts
Risiko saat kehamilan dan persalinan itu kerap diterangkan oleh dokter ketika datang berkonsultasi.
Beberapa forum kesehatan ibu dan anak diketahui juga sering mengangkat masalah kesehatan tersebut. Namun bagaimana dengan Peripartum Cardiomyopathy atau Postpartum Cardiomyopathy (PPCM)?
Kendati jarang ditemukan, penyakit ini patut diwaspadai. Karena berdampak fatal bagi kesehatan. Penyakit gagal jantung yang terjadi pada akhir masa kehamilan hingga 5 bulan setelah persalinan..
Lantas apa saja yang menjadi penyebab dari penyakit tersebut dan bagaimana cara kita mengatasi dan mencegahnya ?
Spesial buat kalian semua, kali ini ATE akan mengulas materi tersebut secara fun and meaningful pada Live Instagram ATE edisi 385 bersama Narasumber yang ahli dibidangnya dan dipandu oleh kakak admin @mumuamiruddin dan @mirdaherlinda 🔥
CV Mariyati Suna.pdf
748.5 KB
Perkenalan singkat narsum
CV Titin Rita Lestari.pdf
286.4 KB
Perkenalan singkat narsum
FYI. 2 (dua) orang Sobat ATE dengan pertanyaan terbaik versi pilihan narsum pada sore hari ini akan mendapatkan masing-masing 1 buah kaos ATE Ber-INISIATIF. 🏆
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
btw, Masih pada ingat gak nih keseruan kegiatan Kick Off Transformasi Mutu Layanan kemarin?
Kali ini mimin akan menguji ingatan kalian sekaligus ngasih challenge fun and meaningful, eittts ada souvenirnya loh buat peserta terbaik (Yang menjawab tepat 2 jawaban sekaligus).
Ketentuan:
A. Peserta adalah sobat ATE
B. Peserta memilih jawaban sesuai kata hati/ ingatan masing-masing
C. Waktu berpartisipasi mulai saat ini sd pukul 21.00 WIB malam ini
D. 3 (tiga) Orang peserta dengan tebakan terbaik akan mendapatkan masing-masing 1 kaos ATE Ber-INISIATIF
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
Kali ini mimin akan menguji ingatan kalian sekaligus ngasih challenge fun and meaningful, eittts ada souvenirnya loh buat peserta terbaik (Yang menjawab tepat 2 jawaban sekaligus).
Ketentuan:
A. Peserta adalah sobat ATE
B. Peserta memilih jawaban sesuai kata hati/ ingatan masing-masing
C. Waktu berpartisipasi mulai saat ini sd pukul 21.00 WIB malam ini
D. 3 (tiga) Orang peserta dengan tebakan terbaik akan mendapatkan masing-masing 1 kaos ATE Ber-INISIATIF
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
#recording ATE Edisi 385 Kenali dan Waspadai Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) 😇
Link rekaman full video 🇮🇩
Link rekaman full video 🇮🇩
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Pantun Perwakilan Tim Task Force
Bikin ketupat persiapan lebaran
Dilengkapi opor citarasa nusantara
Mari sukseskan transformasi mutu layanan
Untuk JKN yang mudah cepat dan setara
Minum es campur disiram santan
Ditambahkan juga biji selasih
Jika ada salah mohon dimaafkan
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
Jawaban no 2 adalah Es Campur🏆 🇮🇩 😋
Bikin ketupat persiapan lebaran
Dilengkapi opor citarasa nusantara
Mari sukseskan transformasi mutu layanan
Untuk JKN yang mudah cepat dan setara
Minum es campur disiram santan
Ditambahkan juga biji selasih
Jika ada salah mohon dimaafkan
Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
Jawaban no 2 adalah Es Campur
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
CONGRATULATION 🇮🇩
1. Ibu @Ayat_MFP, Plh Asdep MO, Kepbid MSDM
2. Kakak Nonie Erinda. Relationship Officer. KC Kupang
3. Kakak Maria Leman, Staf MO, Kepbid MSDM
Link pengumuman❤️
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
1. Ibu @Ayat_MFP, Plh Asdep MO, Kepbid MSDM
2. Kakak Nonie Erinda. Relationship Officer. KC Kupang
3. Kakak Maria Leman, Staf MO, Kepbid MSDM
Link pengumuman
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
❤1
COMING SOON ATE ED 386 😎
Pekan depan, ATE akan kedatangan salah seorang Promotor Event yang akan membekali kita terkait tips dan trik dalam merencanakan dan penyelenggaraan sebuah event profesional.🏆 ✈️
#INISIATIF #SelfDevelopment
Pekan depan, ATE akan kedatangan salah seorang Promotor Event yang akan membekali kita terkait tips dan trik dalam merencanakan dan penyelenggaraan sebuah event profesional.
#INISIATIF #SelfDevelopment
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
COMING SOON ATE ED 387 🏆
Pekan depan kita juga akan belajar bagaimana kiat efektif untuk menimbulkan WOW Customer Experience yang positif demi penguatan branding Organisasi.🇮🇩
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
Pekan depan kita juga akan belajar bagaimana kiat efektif untuk menimbulkan WOW Customer Experience yang positif demi penguatan branding Organisasi.
#TransformasiMutuLayanan #INISIATIF
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
COLLECT THE DOTS, BEFORE CONNECTING THE DOTS
Steve Jobs pernah kuliah dan kemudian memutuskan drop out. Pada saat itu dia keluar dari kuliahnya, dan dalam keadaan tidak menentu entah kenapa dia memutuskan untuk belajar kaligrafi.
Dia sendiri bingung mengapa dia belajar kaligrafi bahkan teman temannya bertanya kira kira apa manfaatnya belajar kaligrafi. Dia tidak tahu dia hanya enjoy, dia hanya suka belajar kaligrafi. Dia belajar dengan bersungguh-sungguh.
Suatu saat pada saat Steve jobs menemukan computer Macintosh dan ternyata yang membuat Macintosh jauh lebih unggul daripada PC laptop (IBM compatible) adalah bahwa Macintosh mempunyai banyak bentuk huruf dengan font tertentu. Dan itu membuat kejayaan computer Macintosh.
Kaligrafi nya ternyata sangat membantunya di masa depan akhirnya dia sangat berterimakasih bahwa dia pernah belajar kaligrafi,
Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Kris. Dulu kuliah di Eropa di jurusan teknik informatika. Pada saat dia di tingkat dua dia berteman dekat dengan seorang mahasiswi jurusan psikologi di universitas yang sama. Paginya Kris kuliah informatika, dan sering kali siang nya dia mengantarkan pacarnya untuk kuliah psikologi.
Ternyata dia tertarik, bahkan mengikuti semua kuliah dengan seksama, belajar bahkan membaca buku buku literatur nya. Semua temannya mentertawakan mengapa dia harus belajar psikologi yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan bidang Informatika yang dia pelajari.
Tetapi ternyata beberapa puluh tahun kemudian Kris menjadi Direktur sumber daya manusia dan ilmu ke psikologi yang pernah dia pelajari sangat sangat berguna.
Kris tadinya tidak menyangka bahwa ilmu ke psikologi ya yang dia pelajari sebagai hobi suatu saat akan sangat berguna dalam kariernya di bidang sumber daya manusia.
Intinya adalah kalau mau belajar belajar, carilah bidang yang anda sukai bidang yang anda sukai. Ini akan membuat anda belajar dengan semangat. Bahkan seringkali akan membuat Anda melepaskan diri dari stress pekerjaan dan rutinitas anda.
Seorang sahabat saya yang lain, sebut saja namanya Dea, presiden direktur dari sebuah perusahaan minyak dari Eropa. Selama Pandemi hobi belajar bahasa asing. Sekarang dia sudah menguasai enam bahasa asing. Dia sendiri juga belum tahu apakah suatu saat akan berguna, tapi dia yakin dua hal itu membuat dia semangat, melepaskan stress pekerjaannya, dan menghindari dari pikiran negatif selama pandemic. Dia yakin suatu saat bahasa bahasa itu akan berguna baginya.
Itulah yang namanya collecting de dots, before connecting the dots. Artinya apa? Kumpulkan dulu semua learning point kita, kumpulkan portfolio sebanyak banyaknya. Suatu saat pasti akan berguna seperti Steve job, seperti Kris dan seperti Dea.
Saya ulangi sekali lagi. Karena ternyata mempelajari (apa yang kita sukai) itu ternyata membawa 3 manfaat:
1) Menyemangati kita dalam hidup karena melakukan sesuatu yang kita sukai
2) Menghindarkan kita dari pikiran negative
3) Menambah portfolio kompetensi kita yang suatu saat pasti berguna
Terus, apa yang bisa kita lakukan untuk “collect the dots, before connecting the dots”?
Kita bisa melakukan beberapa rekomendasi di bawah ini:
a) RELAX & LEARN
Relax, istirahat, take a break. Pilih satu bidang yang anda akan enjoy. Memasak? Belajar Bahasa baru? Olahraga? Hobby? Seni? Silahkan. Just relax and learn!
b) LEARN SOMETHING YOU NEVER LEARN, do something you have never done
Cobalah pilih satu hal yang belum pernah sama sekali anda lakukan. Jadi kalau pernah membuat daftar bidang-bidang yang tadinya ingin anda pelajari. Buang saja. Pilih something completely new!
Kalau anda orang IT, belajarlah main gitar. Kalau anda orang HR, belajarlah Bahasa Mandarin. Kalau anda orang Finance, belajarlah menari. Kalau anda orang sales, belajarlah memasak. Kalau anda orang marketing, belajarlah memanah. Anything new.
Ingat … to achieve something you never got, you have to learn something you never did. Cobalah. Itu akan membentuk agility dan ambidexterity anda.
Steve Jobs pernah kuliah dan kemudian memutuskan drop out. Pada saat itu dia keluar dari kuliahnya, dan dalam keadaan tidak menentu entah kenapa dia memutuskan untuk belajar kaligrafi.
Dia sendiri bingung mengapa dia belajar kaligrafi bahkan teman temannya bertanya kira kira apa manfaatnya belajar kaligrafi. Dia tidak tahu dia hanya enjoy, dia hanya suka belajar kaligrafi. Dia belajar dengan bersungguh-sungguh.
Suatu saat pada saat Steve jobs menemukan computer Macintosh dan ternyata yang membuat Macintosh jauh lebih unggul daripada PC laptop (IBM compatible) adalah bahwa Macintosh mempunyai banyak bentuk huruf dengan font tertentu. Dan itu membuat kejayaan computer Macintosh.
Kaligrafi nya ternyata sangat membantunya di masa depan akhirnya dia sangat berterimakasih bahwa dia pernah belajar kaligrafi,
Saya mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Kris. Dulu kuliah di Eropa di jurusan teknik informatika. Pada saat dia di tingkat dua dia berteman dekat dengan seorang mahasiswi jurusan psikologi di universitas yang sama. Paginya Kris kuliah informatika, dan sering kali siang nya dia mengantarkan pacarnya untuk kuliah psikologi.
Ternyata dia tertarik, bahkan mengikuti semua kuliah dengan seksama, belajar bahkan membaca buku buku literatur nya. Semua temannya mentertawakan mengapa dia harus belajar psikologi yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan bidang Informatika yang dia pelajari.
Tetapi ternyata beberapa puluh tahun kemudian Kris menjadi Direktur sumber daya manusia dan ilmu ke psikologi yang pernah dia pelajari sangat sangat berguna.
Kris tadinya tidak menyangka bahwa ilmu ke psikologi ya yang dia pelajari sebagai hobi suatu saat akan sangat berguna dalam kariernya di bidang sumber daya manusia.
Intinya adalah kalau mau belajar belajar, carilah bidang yang anda sukai bidang yang anda sukai. Ini akan membuat anda belajar dengan semangat. Bahkan seringkali akan membuat Anda melepaskan diri dari stress pekerjaan dan rutinitas anda.
Seorang sahabat saya yang lain, sebut saja namanya Dea, presiden direktur dari sebuah perusahaan minyak dari Eropa. Selama Pandemi hobi belajar bahasa asing. Sekarang dia sudah menguasai enam bahasa asing. Dia sendiri juga belum tahu apakah suatu saat akan berguna, tapi dia yakin dua hal itu membuat dia semangat, melepaskan stress pekerjaannya, dan menghindari dari pikiran negatif selama pandemic. Dia yakin suatu saat bahasa bahasa itu akan berguna baginya.
Itulah yang namanya collecting de dots, before connecting the dots. Artinya apa? Kumpulkan dulu semua learning point kita, kumpulkan portfolio sebanyak banyaknya. Suatu saat pasti akan berguna seperti Steve job, seperti Kris dan seperti Dea.
Saya ulangi sekali lagi. Karena ternyata mempelajari (apa yang kita sukai) itu ternyata membawa 3 manfaat:
1) Menyemangati kita dalam hidup karena melakukan sesuatu yang kita sukai
2) Menghindarkan kita dari pikiran negative
3) Menambah portfolio kompetensi kita yang suatu saat pasti berguna
Terus, apa yang bisa kita lakukan untuk “collect the dots, before connecting the dots”?
Kita bisa melakukan beberapa rekomendasi di bawah ini:
a) RELAX & LEARN
Relax, istirahat, take a break. Pilih satu bidang yang anda akan enjoy. Memasak? Belajar Bahasa baru? Olahraga? Hobby? Seni? Silahkan. Just relax and learn!
b) LEARN SOMETHING YOU NEVER LEARN, do something you have never done
Cobalah pilih satu hal yang belum pernah sama sekali anda lakukan. Jadi kalau pernah membuat daftar bidang-bidang yang tadinya ingin anda pelajari. Buang saja. Pilih something completely new!
Kalau anda orang IT, belajarlah main gitar. Kalau anda orang HR, belajarlah Bahasa Mandarin. Kalau anda orang Finance, belajarlah menari. Kalau anda orang sales, belajarlah memasak. Kalau anda orang marketing, belajarlah memanah. Anything new.
Ingat … to achieve something you never got, you have to learn something you never did. Cobalah. Itu akan membentuk agility dan ambidexterity anda.
c) CONNECT THE DOTS
Cobalah buat koneksi antara apa yang anda pelajari dengan pekerjaan anda. Ternyata memasak kue itu membutuhkan presisi, agar kue mengembang sempurna, kalau tidak kue jadi bantat. Dan seorang teman saya yang tadinya sangat generalist dan tidak memperhatikan detail, jadi lebih “attention to detail” setelah belajar memasak kue.
Saya belajar memasak “Poulet d’Ore” ala francaise. (Arti harafiahnya ayam keemas an, dari warna ayam goreng Perancis yang akan keemasan, tidak pucat, tidak coklat tua). Ternyata kita harus sabar menunggu di depan penggorengan sampai warnanya tepat seperti itu. Saya yang biasanya tidak sabar, menjadi jauh lebih sabar dalam pekerjaan saya karena itu.
Teman saya belajar Bahasa Perancis. Bahasa Perancis itu banyak aturan, tetapi banyak sekali perkecualiannya. Seorang teman saya yang tadinya sangat strict dan “saklek” pada Work Ing StyleWriter nya sendiri menjadi lebih flexible pada Working Style orang lain.
That’s how you learn and how you connect the dots. Banyak sekali di antara hal-hal itu yang tidak “make sense”, bahkan tidak logic pada awalnya. Albert Einstein pernah berkata, memang banyak hal yang kadang tidak logis pada awalnya, tetapi ada kalanya memang kita mengikuti “intuisi”.
Seperti Steve Jobs yang belajar kaligrafi, dan tidak ada logisnya mengapa. Tetapi akhirnya membuat Macintosh menjadi product hebat!
d) APPLY & EXPERIMENT in your job
Nah, kalau kita sudah melakukan langkah-langkah di atas, kita sudah bisa mempelajari hal baru, atau mempelajari karakter baru dalam diri kita.
Waktunya untuk menerapkan dalam pekerjaan kita. Misalnya dengan “kesabaran yang lebih tinggi”, “ketelitian yang lebih tinggi” , atau dengan “flexibility” yang lebih tinggi, mari kita coba terapkan dalam pekerjaan kita.
Kita coba lakukan tersebut dalam menentukan keputusan, pada saat yang tepat. Karena memang ada saat di mana kita harus lebih sabar, lebih flexible, lebih teliti, atau karakter lainnya lagi.
Atau setelah anda menguasi permainan gitar, dan menciptakan lagu, kembangkan kreativitas anda, dan gunakan creativity itu untuk menciptakan product baru atau memperbaiki proses dengan flow baru dalam bisnis anda.
Voile, by now you connect the dots that you collected before.
Jadi ingat ya, daripada kita berkutat dengan pikiran negative, kenapa tidak mencoba untuk “collect the dots, before connecting the dots” dengan menerapkan 4 hal ini:
a) RELAX & LEARN
b) LEARN SOMETHING YOU NEVER LEARN, do something you have never done
c) CONNECT THE DOTS
d) APPLY & EXPERIMENT in your job
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Cobalah buat koneksi antara apa yang anda pelajari dengan pekerjaan anda. Ternyata memasak kue itu membutuhkan presisi, agar kue mengembang sempurna, kalau tidak kue jadi bantat. Dan seorang teman saya yang tadinya sangat generalist dan tidak memperhatikan detail, jadi lebih “attention to detail” setelah belajar memasak kue.
Saya belajar memasak “Poulet d’Ore” ala francaise. (Arti harafiahnya ayam keemas an, dari warna ayam goreng Perancis yang akan keemasan, tidak pucat, tidak coklat tua). Ternyata kita harus sabar menunggu di depan penggorengan sampai warnanya tepat seperti itu. Saya yang biasanya tidak sabar, menjadi jauh lebih sabar dalam pekerjaan saya karena itu.
Teman saya belajar Bahasa Perancis. Bahasa Perancis itu banyak aturan, tetapi banyak sekali perkecualiannya. Seorang teman saya yang tadinya sangat strict dan “saklek” pada Work Ing StyleWriter nya sendiri menjadi lebih flexible pada Working Style orang lain.
That’s how you learn and how you connect the dots. Banyak sekali di antara hal-hal itu yang tidak “make sense”, bahkan tidak logic pada awalnya. Albert Einstein pernah berkata, memang banyak hal yang kadang tidak logis pada awalnya, tetapi ada kalanya memang kita mengikuti “intuisi”.
Seperti Steve Jobs yang belajar kaligrafi, dan tidak ada logisnya mengapa. Tetapi akhirnya membuat Macintosh menjadi product hebat!
d) APPLY & EXPERIMENT in your job
Nah, kalau kita sudah melakukan langkah-langkah di atas, kita sudah bisa mempelajari hal baru, atau mempelajari karakter baru dalam diri kita.
Waktunya untuk menerapkan dalam pekerjaan kita. Misalnya dengan “kesabaran yang lebih tinggi”, “ketelitian yang lebih tinggi” , atau dengan “flexibility” yang lebih tinggi, mari kita coba terapkan dalam pekerjaan kita.
Kita coba lakukan tersebut dalam menentukan keputusan, pada saat yang tepat. Karena memang ada saat di mana kita harus lebih sabar, lebih flexible, lebih teliti, atau karakter lainnya lagi.
Atau setelah anda menguasi permainan gitar, dan menciptakan lagu, kembangkan kreativitas anda, dan gunakan creativity itu untuk menciptakan product baru atau memperbaiki proses dengan flow baru dalam bisnis anda.
Voile, by now you connect the dots that you collected before.
Jadi ingat ya, daripada kita berkutat dengan pikiran negative, kenapa tidak mencoba untuk “collect the dots, before connecting the dots” dengan menerapkan 4 hal ini:
a) RELAX & LEARN
b) LEARN SOMETHING YOU NEVER LEARN, do something you have never done
c) CONNECT THE DOTS
d) APPLY & EXPERIMENT in your job
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
😍1
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM