Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
BAHAYA POSITIVE THINKING
Penulis: Yusran Darmawan
Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu berpikir positif. Kita diajarkan untuk positive thinking ketika sedang melakukan satu pekerjaan besar. Bagi yang pernah membaca buku The Secret, pasti paham kuatnya mantra tentang berpikir positif.
Dalam buku Filosofi Teras, saya temukan pendapat para psikolog yang justru mengkritik positive thinking. Malah, positive thinking mulai dilihat sebagai masalah.
Dalam beberapa eksperimen, seseorang yang menerapkan positive thinking seringkali mendapatkan hasil yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya.
Positive thinking dianggap menipu pikiran kita, beranggapan seolah-olah kita sudah mencapai yang diinginkan, sehingga melemahkan ketekunan dan keuletan kita untuk berusaha. Kita kehilangan daya juang karena dicekoki mantra positive thinking sehingga kita merasa cepat puas.
Beberapa psikolog merekomendasikan “mental contrasting” yaitu menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil positif) dengan memikirkan hambatan apa saja yang bisa ditemui.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang melakukan “mental contrasting” memiliki capaian yang lebih hebat ketimbang mereka yang memikirkan hal positif, atau mereka yang hanya membayangkan hal negatif saja.
Di buku ini, saya temukan artikel menarik di Newsweek berjudul The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness. Positive thinking bisa menyebabkan perasaan gagal, juga perasaan depresi. Anda merasa sedih ketika gagal, tiba-tiba Anda didera lagi rasa bersalah karena tidak bisa berpikir positif.
Misalnya, Anda tidak lulus ujian, sehingga merasa terpuruk. Tiba-tiba Anda merasa bersalah lagi karena tidak bisa bahagia. Kata psikolog, ini sama dengan dua kali dihantam palu godam yang bisa membuat Anda depresi.
Seorang psikolog mengatakan, beberapa orang justru memberi respon lebih baik pada hal negatif, sikap yang disebutnya “pesimisme defensif.” Maksudnya, dengan memikirkan sesuatu akan berjalan tidak sesuai rencana, maka seseorang bisa mengurangi kekhawatiran dan sering kali sanggup mengantisipasi semua tantangan.
Saya tak selalu sepakat dengan para psikolog ini. Seringkali perasaan cemas atas sesuatu yang belum terjadi bisa menjadi masalah baru. Kita sering kali berhalusinasi tentang sesuatu yang buruk, padahal hal itu sendiri belum terjadi. Kita depresi untuk sesuatu yang masih mengawang-awang.
Saya teringat seorang kawan yang positive thinking- nya sudah sampai level akut. Ketika ada cewek yang tersenyum, dia langsung meyakini cewek itu naksir padanya. Dia akan kembangkan semua analisis betapa dia digilai oleh cewek. Tapi ketika penolakan datang, dia seperti dihantam palu godam.Dia terpuruk.
Saya datang menghiburnya, dengan satu kalimat sakti: “Beruntung kamu tidak jadian dengannya. Cewek itu bodoh. Dia hanya mau sama pangeran bodoh di istana pasir. Dia tidak siap menjadi kekasih pendekar. Dia tidak siap mengikuti jalan pedang.” Niat saya sekadar menghibur. Ternyata dia bisa bangkit berkat kalimat itu. Dia mengiyakan kata-kata saya. Selanjutnya, dia kembali jadi figur yang percaya diri.
Buku Filosofi teras ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini. Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya.
Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ. Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat.
Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu.
Terkait positive thinking, saya teringat satu lirik dalam lagu soundtrack Asian Games di Jakarta lalu, yang kalau tak salah dinyanyikan Via Vallen.
Penulis: Yusran Darmawan
Dalam banyak aktivitas, kita selalu mendapat nasihat untuk selalu berpikir positif. Kita diajarkan untuk positive thinking ketika sedang melakukan satu pekerjaan besar. Bagi yang pernah membaca buku The Secret, pasti paham kuatnya mantra tentang berpikir positif.
Dalam buku Filosofi Teras, saya temukan pendapat para psikolog yang justru mengkritik positive thinking. Malah, positive thinking mulai dilihat sebagai masalah.
Dalam beberapa eksperimen, seseorang yang menerapkan positive thinking seringkali mendapatkan hasil yang lebih buruk dibandingkan mereka yang tidak menerapkannya.
Positive thinking dianggap menipu pikiran kita, beranggapan seolah-olah kita sudah mencapai yang diinginkan, sehingga melemahkan ketekunan dan keuletan kita untuk berusaha. Kita kehilangan daya juang karena dicekoki mantra positive thinking sehingga kita merasa cepat puas.
Beberapa psikolog merekomendasikan “mental contrasting” yaitu menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil positif) dengan memikirkan hambatan apa saja yang bisa ditemui.
Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang melakukan “mental contrasting” memiliki capaian yang lebih hebat ketimbang mereka yang memikirkan hal positif, atau mereka yang hanya membayangkan hal negatif saja.
Di buku ini, saya temukan artikel menarik di Newsweek berjudul The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and Happiness. Positive thinking bisa menyebabkan perasaan gagal, juga perasaan depresi. Anda merasa sedih ketika gagal, tiba-tiba Anda didera lagi rasa bersalah karena tidak bisa berpikir positif.
Misalnya, Anda tidak lulus ujian, sehingga merasa terpuruk. Tiba-tiba Anda merasa bersalah lagi karena tidak bisa bahagia. Kata psikolog, ini sama dengan dua kali dihantam palu godam yang bisa membuat Anda depresi.
Seorang psikolog mengatakan, beberapa orang justru memberi respon lebih baik pada hal negatif, sikap yang disebutnya “pesimisme defensif.” Maksudnya, dengan memikirkan sesuatu akan berjalan tidak sesuai rencana, maka seseorang bisa mengurangi kekhawatiran dan sering kali sanggup mengantisipasi semua tantangan.
Saya tak selalu sepakat dengan para psikolog ini. Seringkali perasaan cemas atas sesuatu yang belum terjadi bisa menjadi masalah baru. Kita sering kali berhalusinasi tentang sesuatu yang buruk, padahal hal itu sendiri belum terjadi. Kita depresi untuk sesuatu yang masih mengawang-awang.
Saya teringat seorang kawan yang positive thinking- nya sudah sampai level akut. Ketika ada cewek yang tersenyum, dia langsung meyakini cewek itu naksir padanya. Dia akan kembangkan semua analisis betapa dia digilai oleh cewek. Tapi ketika penolakan datang, dia seperti dihantam palu godam.Dia terpuruk.
Saya datang menghiburnya, dengan satu kalimat sakti: “Beruntung kamu tidak jadian dengannya. Cewek itu bodoh. Dia hanya mau sama pangeran bodoh di istana pasir. Dia tidak siap menjadi kekasih pendekar. Dia tidak siap mengikuti jalan pedang.” Niat saya sekadar menghibur. Ternyata dia bisa bangkit berkat kalimat itu. Dia mengiyakan kata-kata saya. Selanjutnya, dia kembali jadi figur yang percaya diri.
Buku Filosofi teras ini tidak menawarkan satu solusi final. Buku ini menggali kearifan Yunani dan Romawi kuno untuk diterapkan di masa kini. Yang ditawarkan adalah upaya untuk mengendalikan semua hal negatif dengan cara mengubah cara pandang kita, yakni melihat hal negatif itu sebagai sesuatu yang normal dan kita berdamai dengannya.
Artinya, kita mengakui bahwa sesuatu itu negatif, tapi kita tidak lantas tenggelam di situ. Kita punya kemampuan untuk mengubah hal negatif itu menjadi kekuatan positif sehingga ke depannya kita akan lebih tangguh dan kuat.
Pandangan ini mirip dengan ajaran Buddha yang mengatakan: “Diri adalah apa yang kita pikirkan.” Jika kita menganggap diri kita positif dan bernilai, maka semesta pun akan berkonspirasi untuk membantu kita menggapai pandangan itu.
Terkait positive thinking, saya teringat satu lirik dalam lagu soundtrack Asian Games di Jakarta lalu, yang kalau tak salah dinyanyikan Via Vallen.
Dia bilang: “Give your best, and let God do the rest.” Berikan yang terbaik, selanjutnya biarkan Tuhan menilai.
Kerjakan yang terbaik, setelah itu jangan pasrah begitu saja. Jika gagal evaluasi, dan terus tingkatkan. Sebab hasil tak pernah mengkhianati proses. Kalau pun hasil berkhianat, berarti dia tak siap mengikuti jalan pedang. Dia tak siap mengikuti jalan pendekar. Iya kan?
Kerjakan yang terbaik, setelah itu jangan pasrah begitu saja. Jika gagal evaluasi, dan terus tingkatkan. Sebab hasil tak pernah mengkhianati proses. Kalau pun hasil berkhianat, berarti dia tak siap mengikuti jalan pedang. Dia tak siap mengikuti jalan pendekar. Iya kan?
Piramida Terbalik
Setidaknya ada 4 upaya yang bisa ditempuh oleh seorang pemimpin dalam upaya untuk memberdayakan anggota timnya🫡
Penjelasan lengkap silakan baca di caption:
Bacaan INISIATIF akhir pekan👍
Setidaknya ada 4 upaya yang bisa ditempuh oleh seorang pemimpin dalam upaya untuk memberdayakan anggota timnya
Penjelasan lengkap silakan baca di caption:
Bacaan INISIATIF akhir pekan
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
CERITA TENTANG JUARA KELAS
www.timur-angin.com
Di satu kafe di Jakarta Timur, saya bertemu dengannya. Dia sahabat semasa SD hingga SMA di Pulau Buton. Dia masih ceria seperti dulu. Dalam satu perbincangan, dia cerita kalau dirinya sedang membangun rumah senilai miliaran rupiah di kampung kami.
Saya tahu dia tidak niat pamer. Saya pandangi kawan ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Saya tidak sedang berhadapan dengan kawan saya yang dulu. Dia sudah berubah. Dia mengelola banyak usaha. Dia kini sukses, bahkan lebih dari semua teman-teman sekolahnya.
Saya membayangkan dirinya dahulu. Dia seorang siswa paling malas. Kadang sekolah dan kadang tidak. Dia bukan siswa yang masuk radar guru-guru. Bahkan dia nyaris tinggal kelas. Saya masih ingat ada guru yang menyuruhnya berhenti sekolah. Dia sudah dianggap gagal. Mungkin, alasan itu membuatnya tidak kuliah.
Seusai bertemu dengannya, saya ceritakan pada ibu di kampung melalui telepon. Ibu saya adalah guru SD yang cukup mengenal semua kawan saya. Dia nyaris tak percaya pada apa yang saya katakan. Seorang anak yang dahulu divonis gagal total di sekolah, ternyata bisa melejit dan melampaui semua teman-temannya.
Saya teringat buku Barking up the Wrong Tree yang ditulis Eric Barker. Ada uraian tentang riset yang dilakukan oleh Karen Arnold, periset di Boston College. Karen mengikuti 81 orang lulusan terbaik SMA untuk melihat seperti apa karier mereka.
Sebanyak 95 persen yang lanjut kuliah, rata-rata IPK mereka adalah 3.6. Keberhasilan di SMA menentukan keberhasilan di perguruan tinggi. Mereka bisa diandalkan, konsisten, dan punya kehidupan yang baik.
Tetapi adakah di antara mereka yang jadi pemimpin besar? Atau sosok inspiratif yang mengubah dunia? Atau minimal jadi sosok yang melampaui kebanyakan warga di kampung halamannya? Jawabannya nol.
Karen berkesimpulan: “Mereka adalah orang hebat di dunia kerja. Mereka jadi karyawan yang baik. Tapi mereka bukan orang visioner. Mereka tinggal dalam sistem, bukan mengubah sistem.”
Mengapa orang nomor satu di sekolah jarang menjadi orang nomor satu di kehidupan nyata? Dia punya dua jawaban.
Pertama, sekolah menghadiahi siswa yang secara konsisten melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Nilai akademis selalu berbanding lurus dengan nilai kedisiplinan. Nilai akademis adalah peramal yang bagus untuk kedisiplinan, kesungguhan, dan kemampuan mematuhi aturan.
“Pada dasarnya kita menghadiahi kepatuhan dan kemauan mengikuti sistem,” katanya. Banyak lulusan terbaik mengakui kalau mereka bukanlah yang tercerdas, tetapi mereka adalah pekerja keras. Ada yang bilang, ini hanya soal memberi apa yang diinginkan guru dan bukan benar-benar memahami pelajaran dengan lebih baik.
Kedua, sekolah hanya menghadiahi nilai tinggi pada kaum generalis. Tidak banyak pengakuan diberikan pada passion atau kemahiran siswa. “Para lulusan terbaik selalu sukses, secara pribadi dan profesional. Tapi mereka tidak pernah mengabdi total di satu arena di mana mereka menuangkan seluruh gairahnya. Biasanya itu bukan resep meraih kehebatan dan keunggulan” katanya.
Saya ingat anak saya Ara. Dia sangat bagus untuk pelajaran matematika, tapi dia sangat lemah untuk pelajaran bahasa Sunda. Hanya gara-gara itu dia tidak menjadi yang terbaik di kelasnya. Pendekatan generalis tidak membawa pada kemahiran.
Karen melihat semua lulusan terbaik selalu pragmatis. Mereka mengikuti aturan dan lebih menghargai nilai A ketimbang keterampilan serta pemahaman mendalam atas satu topik.
Sekolah memang punya aturan, tapi kehidupan tidak bekerja sebagaimana aturan di sekolah. Kehidupan punya struktur yang lebih rumit, sehingga pemenangnya adalah mereka yang kreatif dan jeli melihat di mana dirinya bisa mengembangkan potensi seluas-luasnya.
Karen menyebut beberapa nama yang gagal di sekolah kemudian jadi pemimpin dunia. Di antaranya adalah Winston Churcill, perdana menteri Inggris terhebat. Dia orang yang terbilang biasa-biasa saja di sekolah. Ketika jadi politisi pun, dia masih menjadi sosok yang biasa-biasa dan malah penakut.
www.timur-angin.com
Di satu kafe di Jakarta Timur, saya bertemu dengannya. Dia sahabat semasa SD hingga SMA di Pulau Buton. Dia masih ceria seperti dulu. Dalam satu perbincangan, dia cerita kalau dirinya sedang membangun rumah senilai miliaran rupiah di kampung kami.
Saya tahu dia tidak niat pamer. Saya pandangi kawan ini dari ujung kepala sampai ujung kaki. Saya tidak sedang berhadapan dengan kawan saya yang dulu. Dia sudah berubah. Dia mengelola banyak usaha. Dia kini sukses, bahkan lebih dari semua teman-teman sekolahnya.
Saya membayangkan dirinya dahulu. Dia seorang siswa paling malas. Kadang sekolah dan kadang tidak. Dia bukan siswa yang masuk radar guru-guru. Bahkan dia nyaris tinggal kelas. Saya masih ingat ada guru yang menyuruhnya berhenti sekolah. Dia sudah dianggap gagal. Mungkin, alasan itu membuatnya tidak kuliah.
Seusai bertemu dengannya, saya ceritakan pada ibu di kampung melalui telepon. Ibu saya adalah guru SD yang cukup mengenal semua kawan saya. Dia nyaris tak percaya pada apa yang saya katakan. Seorang anak yang dahulu divonis gagal total di sekolah, ternyata bisa melejit dan melampaui semua teman-temannya.
Saya teringat buku Barking up the Wrong Tree yang ditulis Eric Barker. Ada uraian tentang riset yang dilakukan oleh Karen Arnold, periset di Boston College. Karen mengikuti 81 orang lulusan terbaik SMA untuk melihat seperti apa karier mereka.
Sebanyak 95 persen yang lanjut kuliah, rata-rata IPK mereka adalah 3.6. Keberhasilan di SMA menentukan keberhasilan di perguruan tinggi. Mereka bisa diandalkan, konsisten, dan punya kehidupan yang baik.
Tetapi adakah di antara mereka yang jadi pemimpin besar? Atau sosok inspiratif yang mengubah dunia? Atau minimal jadi sosok yang melampaui kebanyakan warga di kampung halamannya? Jawabannya nol.
Karen berkesimpulan: “Mereka adalah orang hebat di dunia kerja. Mereka jadi karyawan yang baik. Tapi mereka bukan orang visioner. Mereka tinggal dalam sistem, bukan mengubah sistem.”
Mengapa orang nomor satu di sekolah jarang menjadi orang nomor satu di kehidupan nyata? Dia punya dua jawaban.
Pertama, sekolah menghadiahi siswa yang secara konsisten melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Nilai akademis selalu berbanding lurus dengan nilai kedisiplinan. Nilai akademis adalah peramal yang bagus untuk kedisiplinan, kesungguhan, dan kemampuan mematuhi aturan.
“Pada dasarnya kita menghadiahi kepatuhan dan kemauan mengikuti sistem,” katanya. Banyak lulusan terbaik mengakui kalau mereka bukanlah yang tercerdas, tetapi mereka adalah pekerja keras. Ada yang bilang, ini hanya soal memberi apa yang diinginkan guru dan bukan benar-benar memahami pelajaran dengan lebih baik.
Kedua, sekolah hanya menghadiahi nilai tinggi pada kaum generalis. Tidak banyak pengakuan diberikan pada passion atau kemahiran siswa. “Para lulusan terbaik selalu sukses, secara pribadi dan profesional. Tapi mereka tidak pernah mengabdi total di satu arena di mana mereka menuangkan seluruh gairahnya. Biasanya itu bukan resep meraih kehebatan dan keunggulan” katanya.
Saya ingat anak saya Ara. Dia sangat bagus untuk pelajaran matematika, tapi dia sangat lemah untuk pelajaran bahasa Sunda. Hanya gara-gara itu dia tidak menjadi yang terbaik di kelasnya. Pendekatan generalis tidak membawa pada kemahiran.
Karen melihat semua lulusan terbaik selalu pragmatis. Mereka mengikuti aturan dan lebih menghargai nilai A ketimbang keterampilan serta pemahaman mendalam atas satu topik.
Sekolah memang punya aturan, tapi kehidupan tidak bekerja sebagaimana aturan di sekolah. Kehidupan punya struktur yang lebih rumit, sehingga pemenangnya adalah mereka yang kreatif dan jeli melihat di mana dirinya bisa mengembangkan potensi seluas-luasnya.
Karen menyebut beberapa nama yang gagal di sekolah kemudian jadi pemimpin dunia. Di antaranya adalah Winston Churcill, perdana menteri Inggris terhebat. Dia orang yang terbilang biasa-biasa saja di sekolah. Ketika jadi politisi pun, dia masih menjadi sosok yang biasa-biasa dan malah penakut.
👍2
Dia sering dikontraskan dengan Neville Chamberlain, sosok jenius dan cemerlang yang diprediksi jadi pemimpin besar Inggris.
Tapi, justru ketakutan Churcill adalah sisi yang sangat dibutuhkan Inggris saat itu. Churcill adalah orang pertama yang memandang Hitler sebagai ancaman. Sementara saat itu banyak yang melihat Hitler sebagai kawan. Ketakutan Churcill ternyata menjadi penyelamat bagi Inggris sebelum Perang Dunia II. Dia pun dicatat sejarah.
Hari ini saya kembali bertemu kawan itu. Dia bercerita banyak mimpinya yang ingin digapai. Saya ingat dirinya yang dulu. Saya yakin, sejak dulu dia adalah orang hebat. Dia malas karena sekolah gagal menemukan potensi terbaiknya. Saat keluar sekolah, dia justru bisa melejit laksana roket.
Dia masih bercerita banyak hal. Saya pilih mendengarkan, sembari mencatat dalam hati. Dia keren.
Tapi, justru ketakutan Churcill adalah sisi yang sangat dibutuhkan Inggris saat itu. Churcill adalah orang pertama yang memandang Hitler sebagai ancaman. Sementara saat itu banyak yang melihat Hitler sebagai kawan. Ketakutan Churcill ternyata menjadi penyelamat bagi Inggris sebelum Perang Dunia II. Dia pun dicatat sejarah.
Hari ini saya kembali bertemu kawan itu. Dia bercerita banyak mimpinya yang ingin digapai. Saya ingat dirinya yang dulu. Saya yakin, sejak dulu dia adalah orang hebat. Dia malas karena sekolah gagal menemukan potensi terbaiknya. Saat keluar sekolah, dia justru bisa melejit laksana roket.
Dia masih bercerita banyak hal. Saya pilih mendengarkan, sembari mencatat dalam hati. Dia keren.
Salam INISIATIF ✅
ATE FM #edisi15
Berbicara hobi Drone, nyatanya banyak orang baru yang ingin menekuni hobi ini beranggapan bahwa bemain drone itu hanya seperti memainkan remot kontrol saja. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, saat menerbangkan drone kita diharuskan untuk selalu berkonsentrasi agar drone mampu terbang stabil.
Sementara bagi orang-orang yang sudah terlanjur kecanduan drone pasti sudah tahu bagaimana serunya menerbangkan drone.🫡
Nah spesial buat kalian semua, kali ini ATE akan mengulas materi tersebut secara fun and meaningful meliputi dasar-dasar dan prinsip-prinsip dalam menerbangkan drone pada Live ATE FM edisi 15 bersama Bapak Kacab @ariopambudi yang dipandu oleh kakak admin @mumuamiruddin dan @withhardshipwillbeease🥳
Btw hari ini bertepatan dengan adanya pelantikan Leader dengan pangkat Manager, Senior Manager, dan General Manager, ayo tuliskan ucapan dan harapan untuk leader yang lama dan yang baru🤩 👍
ATE FM #edisi15
Berbicara hobi Drone, nyatanya banyak orang baru yang ingin menekuni hobi ini beranggapan bahwa bemain drone itu hanya seperti memainkan remot kontrol saja. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, saat menerbangkan drone kita diharuskan untuk selalu berkonsentrasi agar drone mampu terbang stabil.
Sementara bagi orang-orang yang sudah terlanjur kecanduan drone pasti sudah tahu bagaimana serunya menerbangkan drone.
Nah spesial buat kalian semua, kali ini ATE akan mengulas materi tersebut secara fun and meaningful meliputi dasar-dasar dan prinsip-prinsip dalam menerbangkan drone pada Live ATE FM edisi 15 bersama Bapak Kacab @ariopambudi yang dipandu oleh kakak admin @mumuamiruddin dan @withhardshipwillbeease
Btw hari ini bertepatan dengan adanya pelantikan Leader dengan pangkat Manager, Senior Manager, dan General Manager, ayo tuliskan ucapan dan harapan untuk leader yang lama dan yang baru
Please open Telegram to view this post
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Ario
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Forwarded from Ario
Forwarded from Ario
Curiculum Vitae
Nama : dr. Ario Pambudi Trisnowibowo AAK , MKes
TTL : Surabaya, 9 November 1981
Alumni : Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2008
STIE Malang Indonesia Magister Manajemen Kesehatan tahun 2016
Riwayat Pekerjaan :
Okt 2008 s/d Juni 2010 : Staf Verifikator PT Askes KCK Surabaya
Juni 2010 s/d Juni 2013 : Staf Verifikator PT Askes KCU Surabaya
Juni 2013 s/d Juni 2017 : Kasie AK KC Jember
Juni 2017 s/d Januari 2018 : Kabid PMR KC Gresik
Januari 2018 s/d Oktober 2018 : Kacab KC Biak
Oktober 2018 s/d April 2021 : Asisten Deputi PKKC Kepwil Papabar
April 2021 s/d Juni 2022 : Asisten Deputi PKKC Kepwil Sulutenggomalut
Juni 2022 s/d Januari 2023 : Kacab KC Luwuk
Nama : dr. Ario Pambudi Trisnowibowo AAK , MKes
TTL : Surabaya, 9 November 1981
Alumni : Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2008
STIE Malang Indonesia Magister Manajemen Kesehatan tahun 2016
Riwayat Pekerjaan :
Okt 2008 s/d Juni 2010 : Staf Verifikator PT Askes KCK Surabaya
Juni 2010 s/d Juni 2013 : Staf Verifikator PT Askes KCU Surabaya
Juni 2013 s/d Juni 2017 : Kasie AK KC Jember
Juni 2017 s/d Januari 2018 : Kabid PMR KC Gresik
Januari 2018 s/d Oktober 2018 : Kacab KC Biak
Oktober 2018 s/d April 2021 : Asisten Deputi PKKC Kepwil Papabar
April 2021 s/d Juni 2022 : Asisten Deputi PKKC Kepwil Sulutenggomalut
Juni 2022 s/d Januari 2023 : Kacab KC Luwuk
Forwarded from Ario