Cahaya Sunnah
2.31K members
36 photos
16 videos
13 files
738 links
Download Telegram
to view and join the conversation
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*DENGAN JULUKAN SANG GULA*

Beliau bernama Imam Muhammad bin Maimun Abu Hamzah, sang gula.

Mengapa beliau dijuluki dengan
*"sang gula"* ?

Mari kita keterangan Imam Adz Dzahabi:
"Beliau bukanlah seorang penjual gula, akan tetapi dinamakan *as sukkari (sang gula) karena manisnya tutur kata* beliau."
(Siyar A'laamin Nubalaa' 7/386)

Benarlah, saat telinga ini disapa dengan rangkaian kata yang penuh dengan kesantunan dan kelembutan, maka akan terasa manis di dalam jiwa, rasa yang lebih manis dari gula dan madu.

Bukankah sesendok gula yang disajikan dengan umpatan dan cacian akan terasa pahit di dalam hati...?

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam Shahih Bukhari dan Muslim
*"Kata kata yang baik adalah sebuah sedekah."*

Rasanya tidak berkebihan jika kita berharap lahirnya "sang gula" berikutnya untuk menghiasi layar kehidupan keluarga, pergaulan, dunia dakwah dan sosmed kita.

(Terinspirasi oleh Faidah Syaikh Shalih bin 'Abdil 'Aziz As Sindi)

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*11 - Rabi'ul Akhir -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Dosa itu seperti Racun*

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

*الذنب بمنزلة شرب السم، والتوبة ترياقه ودواؤه، والطاعة هي الصحة والعافية*

"Perbuatan dosa itu ibarat seseorang yang meminum racun, maka taubat yang akan menawarkan dan mengobati racun tersebut, dan ketaatan kepada Allah yang akan menyebabkan dia sehat wal afiat."
(Madarijus Salikin 1/222).

Manusia tidak terlepas dari perbuatan dosa, akan tetapi sebaik baik seorang hamba yang berbuat dosa adalah yang segera bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla ketika terjerumus kedalamnya,

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : *“Semua anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.”*

Ketahuilah bahwasanya dosa dan maksiat sangat berbahaya bagi hati, seperti bahayanya racun apabila masuk kedalam tubuh.

Seluruh keburukan dan bencana yang menimpa tidak lain dikarenakan dosa dan maksiat,

AllahSubhanahu wa Ta’ala berfirman,

*وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ*

_”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu”_
(QS. Asy Syuara : 30)

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*12 - Rabi'ul Akhir -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Dahsyatnya adzab Neraka*

Dari Nu'man bin Basyir radhiallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

*إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ رَجُلٌ، عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ، يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِي المِرْجَلُ وَالقُمْقُمُ*

"Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan adzabnya pada hari kiamat adalah seseorang yang dipakaikan bara api di telapak kakinya sehingga otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya periuk dan bejana."
(Dalam riwayat Muslim no. 364),

*«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا مَنْ لَهُ نَعْلَانِ وَشِرَاكَانِ مِنْ نَارٍ، يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِ الْمِرْجَلُ، مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا»*

"Sesungguhnya penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah seseorang yang dipakaikan kedua sandal dan tali sandal dari api neraka sehingga otaknya mendidih, sebagaimana mendidihnya periuk.

"Ia mengira bahwa tidak ada seorang pun yang lebih dahsyat adzabnya dari dirinya, padahal dialah yang paling ringan adzabnya."
HR. Al-Bukhari no. 6562 dan

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*16 - Rabi'ul Akhir -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Sakitnya hati seperti sakitnya badan ...*

Allah menyebutkan dalam Al-Qur'an adanya penyakit hati.

*فِی قُلُوبِهِم مَّرَضࣱ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضࣰاۖ*

_"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya"_
[Surat Al-Baqarah : 10]

Nabi bersabda:

*أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ*

"Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh kalian terdapat segumpal daging; bila ia baik, maka akan baik seluruh badannya, namun bila ia rusak, akan rusak pula semua tubuhnya. Ingatlah, itu adalah hati."
[HR Al-Bukhary, Muslim]

Hal ini menunjukkan bahwa baiknya amalan seorang hamba tergantung pada baiknya hati, sebaliknya, rusaknya amalan seorang hamba adalah sesuai dengan rusaknya hati.

Al-Qur'an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati, baik berupa syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat atau syubhat yang mengotori iman.

Allah berfirman:

*وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ*

_“dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”._
(Al-Isra’ : 82)

Berkata Malik bin Dinar

*إن البدن إذا سقم لا ينجع فيه طعام ولا شراب ولا نوم ولا راحة، وكذلك القلب إذا علق حب الدنيا لم ينجع فيه المواعظ*

“Sesungguhnya apabila badan sakit, maka makan, minum, tidur dan istirahat tidak enak baginya, begitu juga dengan hati, apabila ia cenderung kepada dunia maka nasihat nasihat tidak lagi berguna baginya.”
(Shifatush Shafwah : 3/278).

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*MAKNA AKHLAK YANG BAIK*

Apa yang dimaksud dengan akhlak yang baik?

Sebagaian ulama mengatakan bahwa akhlak yang baik itu berupa menahan gangguan, memberi bantuan, bersabar terhadap gangguan selainnya, dan berwajah ceria.

Menahan gangguanmu terhadap manusia, berkorban dalam bentuk memberi bantuan, dan bersabar atas gangguan, karena seseorang tidak akan pernah terlepas dari gangguan selainnya, dan berwajah ceria yakni wajah yang berseri.

Ketentuan ini berdasarkan penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

*خُذِ الْعَفْوَ*

_“Jadilah engkau pemaaf.”_
(Qs. al-A’raf: 199)

Artinya, berilah maaf dan mudahkanlah urusan manusia, dan jangan engkau mengharapkan balaasan dari mereka seperti apa yang engkau inginkan, karena itu adalah mustahil, tetapi lakukanlah yang paling mudah bagimu:

*خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ*

_“Jadilah engkau pemaaf dan perintahlah orang orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang orang yang bodoh.”_
(Qs. al-A’raf: 199)

Sumber:
Syarah Hadits Arba’in, Imam Nawawi,

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*22 - Rabi'ul Akhir -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Mengendalikan Diri*

Sepenuhnya menahan diri dari ragam perkara yang Allah haramkan itulah *'iffah*, bukan hanya tentang syahwat dan zina, bahkan juga kendali diri dari meminta kepada manusia".

Allah 'azza wa jalla berfirman,

*يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ*

_"Orang lain yang tidak tahu mengira mereka (orang orang fakir) itu adalah orang orang yang berkecukupan karena mereka *(ta’affuf)* menahan diri dari meminta-minta"_
(QS al-Baqarah: 273)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menuturkan bahwa diantara doa yang biasa Nabi shallallahu’alaihi wasallam panjatkan

*اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى*

"Ya Allah, aku memohon kepadaMu hidayah, ketakwaan, penjagaan diri, dan rasa cukup"
(HR. Muslim 2721)

Doa ringkas nan padat namun mencakup makna yang luas lagi saling berkaitan.

Betapa rasa iffah (kendali diri) bisa menjadikan seseorang merasa kaya mencukupkan diri dari rizki Allah ta'ala, salut, pada ia yang menahan diri dari meminta minta kepada manusia walau sebenarnya butuh, dan adalah tugas kita untuk menemukan mereka *memberi tanpa diminta*.

Beda rasanya memberi tanpa diminta dengan pemberian disertai dipinta.

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*KENAPA HATIKU TAK MAU BERLAMA-LAMA MENIKMATI SHALAT*

Ibnul Qoyyim berkata,
"Seseorang yang hatinya kosong dari (mengingat) Allah dan akhirat akan diuji dengan kecintaan terhadap dunia.

Perkara yang paling berat baginya adalah sholat, yang paling ia benci adalah berlama lama di dalam sholat."
(Risalah Ilbnul Qayyim ila Ahadi lkhwanih 39)

dikutip oleh Syeikh Ahmad bin Hijazi Al Fasyani dalam Al Majalisus Saniyyah,

Syarah Al Arbain Nawawiyyah, Syeikh Ibnul Mulqin mengingatkan setiap Muslim harus menyadari Allah sangat dekat.

Ibnul Mulqin berkata alangkah indahnya kalimat sejumlah orang saleh berikut ini:

"Bila kau sedang mengerjakan sholat, sadarilah Allah sedang berada di hadapanmu, karena itu, hadapilah (dengan benar) Allah yang sedang menghadapimu, yang dekat denganmu, dan sedang memandangmu'."

"Seseorang yang tengah melaksanakan sholat perlu menyadari tidak ada jaminan usianya akan panjang, bahkan tidak ada yang bisa memastikan seseorang tetap hidup ketika berganti gerakan sholat".

(Syeikh Ibnul Mulqin mengingatkan demikian).

"Bila kau sedang rukuk, jangan bayangkan usiamu panjang sampai i‘tidal, bila kau sedang i'tidal, jangan bayangkan usiamu berlangsung sampai pada kondisi sujud, bayangkan surga ada di sisi kananmu dan neraka di sisi kirimu sementara sirath di bawah kedua telapak kakimu, kalau begini caranya, baru kau benar benar sholat."

*"Menurut Syeikh Ibnul Mulqin, kunci sholat adalah kesadaran, meski bisa dilakukan dalam berbagai cara".*

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*TANDA TANDA HATI YANG SEHAT DAN HATI YANG SAKIT*

Hati yang sehat memiliki beberapa tanda yang dapat diketahui, di antaranya adalah, hati yang sehat selalu mengutamakan hal yang bermanfaat

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Hati yang sehat lebih mengutamakan hal bermanfaat daripada hal berbahaya.”

Tanda tanda hati yang sehat adalah selalu mengutamakan yang bermanfaat seperti beriman kepada Allah Ta’ala, belajar, dan menuntut ilmu syar’i, membaca dan mentadabburi Al-Quran, membaca buku buku yang bermanfaat, dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Dan termasuk di antara tanda tanda hati yang sehat adalah berpindah dari dunia ini hingga singgah di akhirat dan diam di dalamnya.”

Orang yang hatinya sehat akan mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuannya adalah akhirat, dan ia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu serta mencari bekal untuk akhirat yang kekal.

Orang yang hatinya sehat juga akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal amal shaleh dengan ikhlas karena Allah Ta’ala serta menjauh dari larangan larangan-Nya.

Orang yang hatinya sehat akan menyadari dan meyakini bahwa tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan melainkan dalam beribadah hanya kepada Allah Ta’ala serta bertawakal kepada-Nya.

Orang yang hatinya sehat akan selalu menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah dan selalu bertaubat kepada-Nya.

Orang orang yang hatinya sehat akan selalu ingat kepada Allah Ta’ala, mereka meneladani pribadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang yang hatinya sehat akan selalu beribadah kepada Allah Ta’ala, tidak pernah bosan dan selalu berdzikir kepada Allah dengan zikir dan sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Orang yang hatinya sakit hanya beribadah kepada Allah Ta’ala secara musiman, sedangkan orang yang hatinya sehat akan selau beribadah kepada Allah Ta’ala secara kontinyu dan terus menerus meski sedikit.

“Wirid” secara bahasa artinya “juz”, beberapa ulama salaf membagi Al-Quran menjadi beberapa juz yang sama panjangnya, mereka menamakannya al-aurad (wirid).
(An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, Ibnul Atsir, 5:173)

Dalam perkembanganya, kata wirid digunakan untuk istilah yang lebih umum, yaitu suatu amal ketaatan yang rutin dilakukan, seperti berzikir setiap pagi dan petang, membaca Al-Quran, shalat malam, menuntut ilmu, dan sebagainya.

Orang yang hatinya sehat akan merasa sedih apabila terluput dari wirid wiridnya, berbeda dengan orang yang hatinya sakit, antara berdzikir sama saja, tidak ada perbedaan, tidak bersedih, dan tidak menyesal, bahkan orang yang hatinya sakit selalu membuang buang waktu, tidak banyak beramal, selalu bersantai, dan lalai dari zikir kepada Allah Ta’ala.

Hati yang sakit juga memiliki beberapa tanda yang dapat diketahui dengannya, di antaranya adalah:

Tidak mengenal Allah, tidak mencintai-Nya, tidak merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan tidak mau kembali ke jalan-Nya, serta lebih suka mengikuti hawa nafsu, ia lebih suka mendahulukan kepentingan pribadi dan syahwatnya daripada taat dan cinta kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

*أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً*

_”Sudahkan engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”_
(Q.S. Al-Furqan: 43)

Tidak merasakan sakitnya hati dengan sebab luka luka maksiat, seperti ungkapan pepatah, *”Luka tidak terasa sakit bagi orang mati.”*

https://chat.whatsapp.com/Hl5xFc6hg6YKbsQFJpiySt

Hati yang sehat pasti merasa sakit dan tersiksa dengan perbuatan maksiat, hal itulah yang membuatnya tergerak untuk kembali bertaubat kepada Rabb-nya.

Allah Ta’ala berfirman,

*إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ*

_“Sesungguhnya orang orang bertakwa apabila mereka dibayang bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melih
at (kesalahan-kesalahannya).”_
(Q.S. Al-A’raf: 201)

Adapun orang yang hatinya sakit, dia selalu mengikuti keburukan dengan keburukan juga.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan,
*”Itu adalah dosa di atas dosa sehingga membuat hati menjadi buta, lalu mati.”*

Tidak merasa sakit (tidak merasa tersiksa) dengan kebodohannya (ketidaktahuannya) akan kebenaran, berbeda dengan hati yang sehat, yang akan merasa sakit dengan datang syubhat (ketidak jelasan) pada dirinya.

"Sementara hati yang sehat selalu mengikuti keburukan dengan kebaikan dan mengikuti dosa dengan taubat", seorang ulama mengatakan, “Tidak ada dosa yang lebih buruk selain kebodohan.”

Imam Sahl pernah ditanya, “Wahai Abu Muhammad, apa yang lebih buruk daripada kebodohan?” Ia menjawab, “Kebodohan akan kebodohan (tidak tahu bahwa dirinya bodoh).”

Hati yang sakit meninggalkan makanan yang bermanfaat dan memilih racun yang berbahaya, seperti keengganan sebagian besar orang untuk mendengarkan Al-Quran yang dikabarkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya,

*وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً*

_“Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian.”_
(Q.S. Al-Isra’: 82)

Seseorang mengerjakan perbuatan maksiat karena kecintaannya pada apa yang dibenci oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, keberanian berbuat maksiat adalah buah dari penyakit yang bersarang di dalam hati dan bisa memperparah penyakit yang ada di dalam hati tersebut.

Hati yang sakit cinta pada dunia, senang tinggal di dunia, tidak merasa asing di dunia, dan tidak merasa rindu kepada akhirat, ia tidak pernah mengharapkan akhirat dan tidak berusaha untuk menyiapkan bekal menuju ke sana.

Ia sibuk dengan dunia dan waktunya dihabiskan untuk hal hal yang tidak bermanfaat bahkan untuk hal hal yang haram.


Allah Ta’ala berfirman,

_“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”_
(Q.S Al-A’laa: 16-17)

Disarikan dari buku Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam *Tazkiyatun Nufus* (hlm. 79-100).
Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Bogor: Pustaka At-Taqwa.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*KITA SEMUA SEDANG MENEMPUH PERJALANAN MENUJU ALLAH*

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan :

Setiap hamba, dari sejak kedua kakinya menapak di dunia ini, maka dia mulai menjalani safar menuju Rabbnya, dan lama safarnya itu adalah umurnya yang sudah ditetapkan baginya.

Maka umur adalah waktu safarnya seorang insan di negeri dunia ini menuju Rabbnya yang Maha Tinggi, kemudian siang dan malamnya itu dijadikan sebagai tahapan safarnya.

Maka setiap siang dan malam adalah satu tahapan dari berbagai tahapannya, maka tidak henti hentinya dia melipat satu tahapan demi tahapan, sampai safarnya berakhir.

Maka seorang yang cerdas dan pintar adalah yang menjadikan setiap tahapan selalu di hadapannya, dia begitu perhatian, berusaha menjalaninya dengan selamat dan dapat meraih keuntungan.

Jika telah menempuh satu tahapan, dia menjadikan tahapan berikutnya di hadapan matanya, dan dia tidaklah menjalani waktu yang panjang, sehingga hatinya jadi keras, dipanjangkan oleh angan angannya, dihinggapi sikap menunda nunda, janji berlambat lambat.

Bahkan dia menjadikan umurnya di tahapan tersebut sebagai satu satunya tahapan, sehingga diapun bersungguh sungguh dalam menjalaninya dengan sebaik mungkin yang bisa dia hadirkan.

Karena jika dia yakin akan pendek dan cepat berlalunya tahapan tersebut, niscaya beban amalan akan terasa ringan, dan jiwanya semakin bersemangat, tunduk menyiapkan bekal.

Dan jika dia menyambut tahapan lainnya dari umurnya, diapun menyambutnya demikian, dan terus menerus kebiasaan dia demikian, sampai ia lalui semua tahapan umurnya, dan diapun menjadi terpuji karenanya.

(Thariq Al-Hijratain 403)

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/C5jNi6tR1DUJHQnH4pxa9i
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*TAUBAT TERMINAL UTAMA*

Manusia tempatnya salah dan lupa selalu ingat akan dosa dan tak mungkin *tampa dosa*

Manusia yang baik adalah *ketika dia berbuat kesalahan maka dia langsung bertaubat kepada Allah dengan sebenar benarnya taubat.......*

Taubat merupakan *terminal pertama*, karena segala bentuk ibadah baru diterima Allah jika didahului dengan bertaubat, beristighfar membersihkan hati dari segala penyakit hati...

Sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam :

"Sekali kali jangan pernah berbuat kedzaliman, sebenar nya perbuatan dzalim itu mengotori hati"
( HR al-Tirmidzi )

Taubat bisa mencuci hitamnya qalbu, sehingga amal amal shaleh bisa tampak terang dan diterima...

Taubat merupakan karunia Allah yang diberikan pada hamba hamba-Nya yang dikehendaki..

*Jika kita bertaubat...* kita termasuk hamba yang dicintai-Nya..

Firman Allah Subhanahu wataala :
_"Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan yang membersihkan diri"_
(QS Al-Baqarah : 222)

Dan sebaliknya
Firman Allah Subhanahu wataala :

_"Seburuk-buruk panggilan ialah kefasiq'an setelah iman. Dan siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang dzalim."_
(QS Al-Hujurat :11)

*Basahi lisan dengan selalu beristighfar kepada-Nya siang dan malam....*

Hendaklah kita dapat mempergunakan waktu kita yang semakin berkurang, bertaubatlah, memohon ampunan atas segala dosa, salah dan khilaf selama ini..

*Semoga Allah Subhanahu wataala menerima taubat kita, mengampuni, membersihkan hati kita dari segala penyakit.....*

Aamiin.......

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/C5jNi6tR1DUJHQnH4pxa9i
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*HATI DAN LIDAH*

Seorang wanita dermawan yang sudah berumur telah memberi seekor kambing kepada *Luqmanul Hakim.*

Dia meminta Luqman menyembelih kambing itu dan berpesan, *“Berilah bagian yang terburuk darinya untuk saya makan.”*

Setelah Luqman menyembelih kambing itu, dia pun mengantar *hati* dan *lidah* dari kambing itu kepada wanita tersebut.

Beberapa hari kemudian wanita itu memberikan lagi seekor kambing untuk disembelih.

Kali ini dia berpesan untuk memberinya *"bagian yang terbaik"* dari kambing itu.

Setelah disembelih, Luqman menghantar *hati* dan *lidah* lagi, kepada wanita itu.

Wanita itu keheranan dan bertanya kepada Luqman, *“Mengapakah tuan mengantar lidah dan hati kepada saya ketika meminta bagian yang terburuk ".*

*"Dan mengapa kedua duanya juga diantar kepada saya ketika memesan mengantar bagian yang terbaik?”*

Luqman menjawab,
*“Hati dan lidah sangat baik ketika baiknya, dan apabila keduanya buruk maka teramat sangat buruknya”*

Mendengar jawaban yang bijaksana itu, wanita itu lalu memahami maksud Luqman.

Sebabnya *hati dan lidah* adalah pokok segala kebaikan, begitu juga sebaliknya, *hati dan lidah* juga lahir segala keburukan.

*"Oleh karenanya, jagalah hati dan jagalah lidah"*.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/Hl5xFc6hg6YKbsQFJpiySt
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*23 - Jumadal Ula -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Dalam masalah agama, jangan menilainya dari keadaan kebanyakan orang*

Dalam masalah agama, tidak sepantasnya kita menilai dari keadaan kebanyakan orang saja, tetapi nilailah dengan dalil agar keadaan selalu selaras dengan dalil, bukan dalil yang sering dipaksa selaras dengan keadaan.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan:

“Siapapun yang mengetahui syariat sebagaimana mestinya, dan dia tahu keadaan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabat, dan para ulama besar, tentu dia tahu bahwa sebagian dan kebanyakan besar manusia *tidak dalam keadaan yang lurus* (dalam agamanya)".

"Namun mereka itu berjalan seiring dengan *adat kebiasaan.* mereka biasa saling mengunjungi, tapi kemudian saling menggibah".

"Ada dari mereka yang mencari aib saudaranya, dia hasad bila saudaranya dalam kenikmatan, dia mencela bila saudaranya dalam musibah, dia bersikap takabur bila dinasehati, menipunya untuk mendapatkan sesuatu dari hartanya, dan memanfaatkan kesalahannya bila mungkin untuk dia lakukan.”
[Kitab: Shoidul Khothir, karya Ibnul Jauzi, hal:301]

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*


*BANYAK MENANGIS DI MALAM HARI BANYAK TERSENYUM DI SIANG HARI*

Imam adz-Dzahabi rahimahullâhu bahwa pernah berkata :

*(خير الناس من كان بكّاءً في الليل بسّاماً في النهار)*

❝Sebaik baik manusia adalah orang yang banyak menangis di malam hari dan murah senyum di siang hari❞

Ya .....dia adalah orang yang senang mengisahkan kehidupannya kepada Rabb-nya di sepertiga malam terakhir, dia bermunajat, mengadu dan merendahkan diri di hadapan Rabb-nya...

Dia menangis, mencurahkan air matanya lantaran cinta dan takut kepada-Nya...

Karena dia tahu hanya Rabb-nya semata yang paling memahami dirinya dan mengetahui apa yang terbaik untuknya.

Dia yakin bahwa Rabb-nya semata yang bisa menolong dirinya dari segala sesuatu, akhirnya, Allah karuniakan kepadanya *Ketenangan, Kedamaian dan Ketentraman* di dalam hatinya.

Di pagi harinya, dia orang yang murah senyum kepada saudaranya, berwajah ceria dan penuh bahagia....

Dia ingin mengikuti karakter Nabi sebagaimana diceritakan Jarir :

*ما رآني رسول الله -صلى الله عليه وسلم- إلا تبسم*

"Saya tidak pernah melihat Rasulullah melainkan beliau selalu *Tersenyum*"

Dia ingin mengikuti sabda Nabi :

*تبسمك في وجه أخيك صدقة*

"Senyummu di hadapan saudaramu itu Sedekah"

Dia tahu bahwa senyum itu termasuk perbuatan ma'ruf

*إن من المعروف أن تلقى أخاك بوجه طلق*
"Sesungguhnya termasuk perbuatan ma'ruf ketika kau berjumpa saudaramu dengan wajah ceria"

Murah senyum itu tanda kemuliaan, ciri ketawadhuan, alamat kebaikan, pembangkit rasa cinta dan persaudaraan...

Senyum dapat melapangkan dada, meluaskan hati, meluluh lantakan hasad, dengki, sombong, menghilangkan prasangka buruk, pertikaian dan percekcokan...

Betapa senyuman bisa membuka pintu kebaikan, terketuknya hati, diterimanya dakwah, tercabutnya angkara murka, dan memasukkan kebahagiaan kepada orang lain...

Senyum adalah ibadah yang mudah, tak perlu usaha dan harta, cukup bermodal *qolbu yang bersih*, maka kau pun kan mendulang pahala sedekah yang begitu berlimpah...

*MENANGISLAH DI HADAPAN RABB-MU TERSENYUMLAH DI HADAPAN MANUSIA*

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/HRpuJC0BvkY2vbtCRiy3qV
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*صباح الخير....*

*26 - Jumadal Ula -1442 H*

*"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"*

*اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً*

*"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"*

*“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”*
(HR. Ibnu As-Sunni dan Ibnu Majah)

*Amalan yang sedikit namun Konsekuen*

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan".

Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala.

"Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu)".

Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja,
dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

*يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ*

”Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”

Selain amalan yang kontinu dicintai oleh Allah, amalan tersebut juga dapat mencegah masuknya virus ”futur”
(jenuh untuk beramal).

Jika seseorang beramal sesekali namun banyak, kadang akan muncul rasa malas dan jenuh, sebaliknya jika seseorang beramal sedikit namun ajeg (terus menerus), maka rasa malas pun akan hilang dan rasa semangat untuk beramal akan selalu ada.

*"Itulah mengapa kita dianjurkan untuk beramal yang penting kontinu walaupun jumlahnya sedikit".*

Semoga Allah memberikan Hidayah dan Rahmat-Nya serta menerima amal ibadah kita.

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/HRpuJC0BvkY2vbtCRiy3qV
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِاللّٰهﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*BELAIAN DUNIA*

Hati orang yang beriman akan mengetahui bahwa dunia ini adalah lahan bercocok tanam untuk akhirat disanalah saat untuk memanennya.

Namun, hati yang tenggelam akan gemerlapnya dunia, seperti tanah keras yang tidak mampu menyerap untuk tempat penyemaian benih.

Pada saat seperti itulah iman kita diuji… diuji paras cantik dunia yang menjerumuskan.

Dunia terkadang datang dan pergi, dari kecukupan kepada kekurangan, dari kesenangan kepada kesulitan, *dia tidak akan terus-menerus dan tidak tetap dalam satu keadaan.*

"Dunia adalah sebuah tempat yang dipenuhi dengan perhiasan."

*زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ*

_“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surga)”_ 
(QS. Ali ‘Imran: 14).

"Itulah kesenangan hidup di dunia, dimana semuanya bukanlah puncak dari sebuah harapan."

Manusia yang menjadikan kehidupan dunia sebagai puncak harapan, *bagai berlari di belakang fatamorgana*, berhari-hari, bertahun-tahun lalu pada akhirnya dia *akan mati* dan kematian adalah takdir seluruh makhluk.

*. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ*

_“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. *Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.* Kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”_
(QS. Ali ‘Imran: 185).

Kehidupan di dunia adalah kesenangan yang memperdaya, setelah itu manusia juga akan beralih menuju negeri yang kekal.

Di sanalah semua jiwa mendapat balasan sempurna atas semua amal yang dilakukan di dunia, *catatan baik maupun buruk*.

*"Ingatlah waktu kehidupan ini terus berjalan bagai air mengalir ,sekali sudah tersentuh tak dapat kita mengulang."*

*بَارَكَ اللّٰه فِيْكُمْ*

*@cahayasunnah*

https://chat.whatsapp.com/C5jNi6tR1DUJHQnH4pxa9i
https://t.me/cahayasunnah
*ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ*

*YAA BUNAYYA........*
*LAA TUSYRIK BILLAH*

Allah Ta’ala berfirman,

*وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ*

_“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: *“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutu kan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar*”._
(QS. Lukman ayat 13)

Dan apa yang disampaikan oleh Lukman dalam ayat di atas termasuk pokok dan kaedah besar dalam hikmah
(Taisir Al Karimir Rahman, 648).

"Hal ini menunjukkan penting dan amat urgentnya mengenali dan memahami hikmah pertama yang disampaikan oleh Lukman pada anaknya."

Ia pun menggunakan cara penyampaian yang amat baik yaitu dengan panggilan
*“yaa bunayya”,* wahai anakku.

"Ini adalah panggilan yang amat lemah lembut pada anaknya,"

*"Tujuannya, ia menyampaikan hal ini dalam rangka kasih sayang, supaya anaknya mudah menerima kebaikan."*

"Demikianlah seharusnya kita dalam menyampaikan suatu nasehat kepada anak kita."

Ibnu Katsir rahimahullah,
“Lukman menasehati anaknya yang tentu amat ia sayangi, yaitu dengan nasehat yang amat mulia."

"Ia awali pertama kali dengan nasehat *untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada Allah dengan sesuatu apa pun*.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 53)

*@cahayasunnah*


https://t.me/cahayasunnah