Iyan yang sudah memulai pelajaran olahraga pun tidak dapat membalas pesan papanya. Sedangkan di sisi lain, papanya sudah panik setengah mati. Takut anaknya malu-maluin karena olahraga dengan kaos kutang. Lari-larian dia kesana kemari, kembali ke rumah, mengambil baju olahraga, lalu melanjutkan perjalanan ke sekolah anaknya.
Security yang melihat seorang bapak-bapak berlari ke arahnya pun sontak kaget “Berhenti! Bapak mau kemana lari-larian? Santai pak” kata sang security. Jiwa seorang papa pun meronta-ronta “ANAK SAYA.. ANAK SAYA SALAH, PAKAIAN, KAOS KUTANG..” Security bingung, Hans kehabisan nafas, dan warga yang menyaksikan kejadian di depan gerbang sekolah itu pun ikut bingung sembari berbisik-bisik ria. “Pak, nafas dulu pak.” Setelah beberapa saat, keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah-engah itu perlahan membaik. “Anak saya Shiyan, lupa bawa baju olahraga. Saya mau antarkan”
Security yang melihat seorang bapak-bapak berlari ke arahnya pun sontak kaget “Berhenti! Bapak mau kemana lari-larian? Santai pak” kata sang security. Jiwa seorang papa pun meronta-ronta “ANAK SAYA.. ANAK SAYA SALAH, PAKAIAN, KAOS KUTANG..” Security bingung, Hans kehabisan nafas, dan warga yang menyaksikan kejadian di depan gerbang sekolah itu pun ikut bingung sembari berbisik-bisik ria. “Pak, nafas dulu pak.” Setelah beberapa saat, keringat yang bercucuran dan nafas yang terengah-engah itu perlahan membaik. “Anak saya Shiyan, lupa bawa baju olahraga. Saya mau antarkan”