Ia mengangkat tangan, tapi tidak langsung menyentuh. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk ruang sesempit itu. Orang yang memberinya plat tidak bilang apa-apa tentang ketakutan. Hanya bicara soal harga, syarat, dan apa yang akan terjadi kalau ia gagal.
“Kau tidak akan gagal kalau kau tidak lari,” kata orang itu. “Yang lain urusan mereka.”
Itu tidak persis menenangkan.
Di belakangnya, suara Drilent masih terdengar samar: gelak di kedai, panggilan pedagang, pekik pendek seseorang yang tersandung, suara sayap binatang dalam kandang. Lorong penuh tongkat, ramuan, artefak, binatang, tubuh di balik tirai merah, dan lelaki mabuk yang mencoba menukar koin hitam dengan satu teguk pelarian.
Kota selalu punya banyak pintu. Kebanyakan orang memilih pintu yang tidak mengintip balik.
Cressa menarik napas pelan dan dalam, merasakan udara lembap mengisi dadanya. Bau Dril ada di dalam napas itu, tipis tapi jelas. Bukan dari plat kecil di kantungnya, bukan dari ramuan yang ia lewati tadi. Bau Dril yang menempel di tempat yang terlalu lama menyimpan hal-hal yang sebaiknya tidak disebutkan.
Ia mengangkat tangan, menyentuhkan buku-buku jarinya ke permukaan pintu. Kayu di balik cat terasa dingin, lebih dingin dari udara, lebih dingin dari logam kecil di kantungnya. Tidak ada getaran, tidak ada sihir yang meledak. Hanya dingin, dan kesan bahwa pintu itu sudah menyentuh banyak tangan lain sebelumnya.
Ia mengetuk sekali.
Suara ketukan hilang dalam kayu, tidak memantul. Sesuatu di dinding sekitarnya berubah, bukan bentuknya, hanya rasanya. Udara di belakang pintu terasa lebih padat, seolah seseorang menahan napas di sana.
Cressa menunggu. Satu detak. Dua. Lima.
Di Drilent, tidak ada jam pasir. Waktu diukur dengan lamanya seseorang berdiri di tempat yang tidak seharusnya mereka ketahui ada.
Ia mengangkat tangan untuk mengetuk kedua kali ketika suara kecil terdengar dari sisi lain pintu, suara kayu bergeser dari dalam, bukan seperti palang dibuka, lebih seperti lapisan yang ditarik. Sebaris cahaya tipis, pucat, menyelinap dari celah yang tiba-tiba muncul di dada pintu. Bukan cahaya siang, bukan cahaya lilin. Cahaya sihir, dingin dan tenang.
Satu mata muncul di celah itu. Hanya mata. Bukan wajah. Bukan hidung. Bukan mulut. Hanya satu mata yang menatap keluar, menilai, seperti mata pedagang tongkat di dalam jendela.
"Kami tidak buka untuk semua orang,” kata suara di balik pintu. Suara itu datar, gendernya tidak jelas, usianya tidak jelas. Seperti suara yang dipakai untuk membacakan Hukum, tetapi lebih malas.
Ia menahan napas sepersekian, lalu membiarkannya keluar pelan.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
Mata itu tidak bergerak. “Lalu kenapa kau di sini?”
“Karena ada orang yang ingin pintu ini mengingatku,” Cressa mengulur tangan pelan, menarik sedikit ujung kantungnya, cukup agar cahaya pucat dari celah menyentuh bentuk plat kecil di dalam. Tidak banyak. Sekilas. Seperti menampilkan gigi pada anjing lain.
Cahaya menyentuh logam, dan untuk sesaat, plat itu memantulkannya dengan cara yang aneh, seolah menolak warna, menelan bentuk.
Mata di balik celah itu menyipit.
“Dari mana kau dapat itu?” tanya suara itu akhirnya.
“Dari orang yang tidak suka disebut,” sahut Cressa. Itu jujur. “Dan yang jauh lebih tidak suka dicari.”
Jawaban itu menggantung di antara mereka, tipis, tapi cukup tajam.
“Siapa namamu?” tanya suara itu lagi.
Pertanyaan yang sederhana. Di Drilent, itu pertanyaan yang jarang dijawab jujur.
“Di sini?” Cressa mengangkat sedikit bahu. “Hari ini kau bisa panggil aku apa saja. Selama pintunya yang ini.”
Mata itu menatapnya lama sekali, seolah mencari sesuatu di balik kulit dan tudung. Sesuatu yang bisa dimasukkan dalam kategori ancaman, peluang, atau masalah yang bisa dibiarkan lewat.
“Orang yang membawa logam seperti itu ke sini,” kata suara itu pelan, “biasanya membawa masalah.”
“Aku hanya membawa barang,” sahut Cressa. “Masalahnya milik orang lain.”
Ia berharap kedengarannya lebih berani dari yang ia rasakan.
Keheningan jatuh lagi. Di lorong, jauh di belakangnya, seseorang tertawa keras. Di depan, satu mata tidak berkedip.
Akhirnya, celah itu menutup perlahan, menghapus cahaya.
Pintu tidak langsung terbuka. Ada suara kecil di dalam, suara gesekan logam, gesekan kayu, suara tumpul sesuatu digeser. Cressa mengencangkan jemarinya di sekeliling kantung kecil di pinggang, merasakan tepi plat menekan kulitnya.
Ini pintu yang benar, ia berharap.
Dan kalau tidak?
Ia membayangkan kembali wajah orang yang memberinya plat, bayangan tangan yang tenang ketika menyodorkan benda kecil itu melintasi meja. Tidak ada ancaman dalam kata-katanya, hanya kejelasan. Drilent punya caranya sendiri untuk memastikan orang yang salah tidak kembali.
Palang di dalam bergeser. Pintu hitam bergerak ke dalam, membuka celah cukup lebar untuk satu tubuh lewat.
“Masuk,” kata suara tadi, kini tanpa perantara kayu. “Dan kalau kau ingin keluar, jangan pernah tanyakan dari siapa kau mendapatkan itu.”
Cressa menarik napas terakhir sebagai orang di luar, lalu melangkah melewati ambang.
Di belakangnya, Drilent menutup pintu dengan sendirinya, mengurung bau bawang goreng, ramuan, keringat, dan Dril di luar. Di depannya, bau lain menunggu, bersama orang-orang yang tidak peduli siapa dirinya, selama logam kecil di kantungnya masih memiliki nilai.
Itu bagian yang paling ia sukai dari tempat seperti ini.
Untuk sementara, semua orang akan pura-pura tidak tahu.
Di Drilent, pura-pura adalah bentuk perlindungan. Sampai seseorang berhenti melakukannya.
✶ PUNCAK MUSIM PANAS ✶
Keputusan besar sering dibuat ketika seseorang telanjang.
Naera belajar itu bukan dari kitab, bukan dari doa. Ia belajar dari jeda. Sebuah tarikan napas yang tersangkut sepersekian detik ketika kunci diputar dari luar, dan lelaki di atasnya tetap tidak menoleh seolah pintu itu miliknya juga.
Tidak terkejut. Tidak pernah.
Di sayap barat Kementerian, jeda seperti itu lebih berharga daripada emas.
Kamar itu panas seperti tungku yang disembunyikan di balik sopan santun. Panas mengendap di tirai anggur tua, karpet mahal, dan batu yang menyimpan hangat lilin lebah. Dan yang paling setia, di kulit manusia.
Ranjang tidak diletakkan di tengah ruangan. Ranjang itu bersembunyi, seperti sesuatu yang dilakukan orang-orang terhormat ketika mereka ingin tetap disebut terhormat.
Empat tiang kayu gelap menahan kanopi. Tirai digantung setengah, cukup rapat untuk memecah tubuh jadi bayangan, tidak cukup rapat untuk meredam suara. Dari luar, siapa pun yang tahu kapan harus menunduk akan melihat siluet bergeser pelan, kain berdesir, tangan terangkat lalu jatuh kembali. Selebihnya kamar menuntut semua orang bekerja sama, pura-pura tidak tahu—dan pura-pura tidak mendengar apa yang terjadi di atas ranjang itu.
Naera sudah belajar pura-pura sejak ia punya badan yang bisa dinilai, dan sejak itu ia tidak pernah benar-benar berhenti belajar.
Punggungnya lengket, rambut menempel di pelipis. Ia terlentang di bawah Menteri Sihir Lyran Caelmont. Pahanya dibuka oleh kebiasaan, bukan oleh keinginan. Berat tubuh lelaki itu menekan perutnya seperti buku tebal yang tak pernah dibaca tapi selalu dipakai memukul kepala orang lain. Napasnya jatuh di leher Naera—hangat, malas, yakin.
Tangan yang menandatangani penyitaan Dril kini mencengkeram pinggang Naera tanpa ragu. Cincin Segel Kementerian menyentuh kulit—dingin, selalu dingin. Naera dulu mengira ada sihir di situ. Lalu ia paham bahwa itu kebiasaan orang yang tidak pernah berkeringat untuk apa pun kecuali tubuh orang lain.
Di sisi lain, dua perempuan lain bergerak bergantian, terlatih seperti para pelayan yang menghafal jadwal lilin. Yang satu bernama Maris—wajahnya lembut, tapi matanya sudah lama belajar tidak memohon. Yang satunya Hedra—lebih muda, lebih cepat, tertawa lebih sering di luar kamar, diam lebih sering di dalamnya.
Mereka tidak saling menatap. Menatap terlalu lama membuat semuanya terasa seperti pertemanan, dan di Kementerian, pertemanan adalah kemewahan yang dibayar mahal, kadang dengan darah, kadang dengan “kecelakaan” yang terdengar rapi di laporan.
Naera menyentuh punggung Lyran sebentar saja, sentuhan kecil yang menandai bahwa ia masih “bekerja”.
Di kepalanya, bagian lain dari dirinya menyusun kamar dari bunyi, kain, napas, gesek seprai, dan yang paling ia percaya, bunyi orang-orang berkuasa ketika mereka merasakan kenikmatan.
Di luar tirai, kunci diputar.
Bukan suara pelayan.
Pelayan selalu ragu. Selalu ada jeda malu. Bunyi ini bersih, cepat, milik orang-orang yang tahu pintu akan selalu dibuka untuk mereka, cepat atau lambat.
Langkah sepatu di marmer. Satu pasang, lalu dua, lalu empat. Empat orang berjalan dengan jarak aman satu sama lain—kebiasaan pejabat ketika mereka datang membawa angka dan masalah, dan ingin tetap bisa menyangkal kedekatan jika kelak ada yang menyusahkan mereka.
Ada kain jubah digeser. Gulungan dibuka. Jari diketuk sekali pada meja, bukan dua, orang yang mengetuk dua kali biasanya ingin terdengar penting.
“Mulai,” kata Lyran, dekat di telinga Naera, tapi ditujukan keluar.
Perintah itu tidak keras. Tidak perlu.
Hedra mengeluarkan suara kecil, terlatih—suara yang tepat pada waktu yang tepat—seperti kunci yang diputar dari dalam. Lyran menggeram rendah, puas, lalu bergerak lagi seolah rapat itu hanya angin yang lewat.
Di luar tirai, seseorang berdehem.
“Ujian Inisiat siklus depan,” kata suara itu. Suara pria muda yang berusaha terdengar tua. “Kebutuhan Dril naik. Cadangan kita tidak memadai.”
Naera membayangkan wajah itu tanpa pernah melihatnhya, pipi masih terlalu penuh, rambut terlalu rapi, tangan selalu berbau tinta. Bendahara.
“Tomas Rell,” sapa Lyran, seolah nama itu selembar kertas yang bisa dilipat dan disimpan. “Seberapa jauh?”
“Dua puluh persen, Yang Mulia.” Tomas menjawab cepat, terlalu cepat. “Dan itu masih—”
“Berhati-hati,” potong Lyran. Nada lembut yang mengandung paku. “Aku tahu.”
Tangan di pinggangnya mengencang. Ia mengingat lagi, tanpa diminta, bahwa di kamar ini, bahkan angka bisa dianggap penghinaan. Ada jeda. Di jeda itu ia mendengar gulungan dirapikan, seolah kata-kata bisa dibersihkan dari rasa takut. Lalu suara lain masuk, yang lebih tua, lebih kering, seperti perkamen dibuka di ruangan lembap. Suara yang tidak mencoba menyenangkan siapa pun.
“Dril memang tidak tumbuh,” katanya. “Ia digali.”
Dalam kalimat itu ada kebiasaan, orang yang selalu mulai dari definisi. Orang yang percaya jika sebuah hal diberi nama benar, ia akan patuh.
“Vassir...,” kata Lyran, seperti menyebut jabatan, bukan orang.
“Vassir Caidren, Yang Mulia,” suara itu membetulkan pelan. Bukan demi kehormatan. Demi ketidakmampuannya melihat sesuatu disebut setengah. “Dan yang menggali sekarang bukan kita.”
“Vasaria,” gumam seseorang.
Kalimat itu keluar bukan sebagai fakta, melainkan sebagai rasa tidak suka.
“Delapan puluh persen,” Vassir Caidren berkata, tanpa ragu, seolah angka itu sudah disalin berkali-kali sampai menempel di lidah. “Tambang aktif. Jalur distribusi. Kontrak penyuplai. Delapan puluh.”
Di bawah kanopi, Naera merasakan tubuh Lyran menegang sepersekian, sangat halus, seperti orang yang baru sadar ada paku di bawah karpet.
“Delapan puluh bukan seratus,” kata Lyran tenang. “Seratus pun bukan jaminan ketaatan.”
“Bukan seratus,” Caidren mengulang, dingin, “tapi cukup untuk membuat ujian berhenti kalau mereka memilih.”
Maris menyentuh bahu Lyran, lembut, seperti menenangkan kuda. Naera hampir tertawa. Tidak ada yang menenangkan Menteri Sihir. Lyran hanya berhenti jika berhenti lebih menguntungkan.
“Aku tidak akan datang ke Vasaria,” kata Lyran akhirnya.
Kalimat itu jatuh berat bukan karena keras. Karena ia tidak memberi ruang untuk tawar. Tomas Rell menelan ludah. Naera mendengar dari cara gulungannya bergetar ketika ia menggenggamnya terlalu kuat.
“Aku tahu apa artinya,” lanjut Lyran. “Mereka ingin kunjungan langsung. Mereka ingin aku berdiri di gerbang mereka seolah Kementerian datang meminta perlindungan.” Ia berhenti sebentar, memilih kata yang paling tajam tanpa menaikkan suara. “Dan aku tidak memberi ilusi kesetaraan pada keluarga yang hidup dari lubang.”
Ada gesekan kecil di luar tirai, bukan kursi, bukan meja. Bunyi kulit menggesek kain. Seseorang memakai sarung tangan. Melepasnya. Memakai lagi.
Naera langsung tahu itu siapa, tanpa perlu nama. Orang-orang itu selalu sibuk dengan sarung tangan, seolah dunia kotor dan mereka cuma menyentuhnya jika dunia membayar mereka.
“Utusan,” kata suara lain, lebih pendek, lebih lugas. Suara pria yang biasa mengakhiri rapat dengan keputusan, bukan perasaan. “Jika Yang Mulia tidak datang, seseorang harus membawa pesan.”
“Pesan apa?” tanya Lyran.
“Bahwa kita tidak memohon,” jawabnya, “tapi juga tidak menutup pintu.”
Pria itu bernama Rydan Kolt, Kepala Pengawal Dalam. Tangan kanan Lyran, kata orang. Rydan selalu bicara seperti pedang, tajam—langsung ke tulang, tidak peduli darahnya menodai karpet.
Suara lain masuk, lebih halus, lebih hati-hati, orang yang ingat bahwa semua hal bisa terdengar sebagai ancaman jika salah diucapkan.
“Pilih orang yang punya nama,” katanya. “Vasaria menghitung kehormatan seperti mereka menghitung Dril.”
Itu Ishan Merrow, Sekretaris Segel. Tangan kiri Lyran. Pria yang hidup dari memo, celah hukum, dan kalimat yang bisa dibaca dua cara.
Nama-nama disebut, bergulir seperti koin di atas meja, morwen Kementerian, vassie kecil dari arsip, pejabat Drilands yang menua di belakang meja, kesatria perbatasan.
Lalu nama itu muncul lebih jelas, seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang.
“Ser Halden Darron.”
Di atasnya, Lyran berhenti bergerak sepersekian.
Naera merasakannya. Ia selalu merasakan ketika orang penting berhenti bergerak. Mereka berhenti bukan karena ragu. Mereka berhenti karena menghitung.
“Halden?” kata Lyran, menyebutnya seperti menimbang pedang tua. “Kesatria tua.”
“Dia punya nama,” Ishan menyelip. “Dan nama itu dikenali Vasaria.”
Lyran bergerak lagi, lebih keras, lebih ingin menang, seperti seseorang yang hampir merasakan klimaks.
“Utus dia. Besok pagi.”
Keputusan mengendap di ruangan seperti tinta yang baru ditekan.
“Dan kalau Vasaria tersinggung?” Tomas Rell bertanya, tanpa sadar, lalu segera menyesal.
Lyran tersenyum tipis. Naera merasakan senyum itu di kulitnya, bukan melihatnya.
“Mereka akan tersinggung apa pun yang kita lakukan,” kata Lyran. “Yang penting adalah apa yang mereka lakukan setelahnya.”
“Apa yang dia bawa?” tanya Vassir Caidren.
“Surat resmiku,” kata Lyran. “Dan kehormatan Kementerian.”
“Laporan tambahan,” kata suara lain, halus, seolah menawarkan teh. “Dari Avaross.”
Naera mengeluarkan bunyi kecil—bukan desahan. Lebih seperti napas yang hampir jadi tawa, lalu ditelan. Itu bukan suara khas Arsipal. Arsipal jarang tertawa. Arsipal mencatat.
Itu orang bersarung tangan. Dan seperti biasa, mereka memilih momen ketika orang lain merasa menang untuk menyelipkan pisau berikutnya.
“Avaross?” ulang Ishan.
Udara berubah. Bahkan di dalam tirai, Naera merasakan napas Lyran sedikit lebih pendek.
“Kota merdeka,” jawab si bersarung tangan. “Pulau koral itu.”
“Kota yang tidak tertulis di peta resmi,” Vassir Caidren menambahkan, seolah itu sudah cukup untuk menutup perkara.
“Dan justru karena itu,” suara bersarung tangan membalas, “kota itu sering menulis kita duluan.”
Ada bunyi kertas kecil digeser. Seolah seseorang membuka catatan yang tidak seharusnya dibuka di ruangan bersih.
“Nama lama disebut di sana,” lanjutnya, lebih lambat, membiarkan kata-kata jatuh satu per satu. “Hallowind.”
Tidak ada tawa. Tidak ada dengus.
Lyran diam cukup lama untuk menunjukkan ia tidak mengabaikannya, dan tidak cukup lama untuk terlihat takut.
“Lima abad,” kata Lyran akhirnya. “Cukup lama untuk membuat kebohongan terasa seperti sejarah.”
“Atau sebaliknya,” jawab suara bersarung tangan. “Cukup lama untuk membuat sejarah terasa aman disebut kembali.”
Tomas Rell mengeluarkan bunyi kecil—hampir protes, tapi tak berani jadi kata. Vassir Caidren menegang, kaku, cepat, seperti orang yang tak suka rumor menodai raknya.
“Arsipal tidak menemukan catatan resmi tentang sisa mereka,” katanya. “Jika ada, itu hanya cerita yang kau jual untuk Dril.”
“Kalian selalu bilang ‘tidak ada’,” suara bersarung tangan membalas, tetap lembut—dan justru itu yang membuatnya kejam. “Karena kalau ada, kalian harus mengaku catatan kalian pernah bolong.”
Nada Vassir Caidren menegang, halus, seperti tali ditarik terlalu keras.
“Will,” katanya pelan, dan untuk pertama kali Naera menangkap nama itu disebut, tanpa perlu dijelaskan. “Thirtening tidak berhak—”
“Cukup,” potong Lyran.
Naera merasakan tangan itu mengencang di pinggulnya. Ini bukan lagi soal tiga perempuan di ranjang. Ini soal dua lembaga yang saling membenci berdiri terlalu dekat dengan satu pintu.
“Aku tidak akan memburu hantu,” kata Lyran. “Aku tidak akan mengirim orang ke pulau selatan hanya karena informan Thirtening ingin menaikkan harga.”
Willam tertawa kecil, tidak benar-benar lucu.
“Informan kami tidak minta harga,” katanya. “Mereka sudah dibayar. Yang kami sampaikan hanya… kewaspadaan.”
“Kewaspadaan membuat orang miskin,” Lyran membalas. “Dan aku tidak butuh itu.”
Naera menelan napas. Ia merasakan sesuatu yang ia kenal baik, muak yang harus dibungkus seperti hadiah. Kalau muak keluar mentah, ia jadi alasan hukuman.
Ia memaksa dirinya bergerak—lengkung punggung, suara kecil di tenggorokan—cukup untuk membuat Lyran merasa dunia kembali padanya. Itu bukan kelemahan. Itu alat. Dan ia muak karena ia pandai menggunakannya.
“Pantau,” kata Lyran akhirnya, seperti memberi tulang agar anjing berhenti menggonggong. “Tidak lebih.”
Ishan Merrow menyahut cepat, selalu ingin terdengar berguna. “Kami bisa menaruh orang di pelabuhan Drilands. Jika ada kapal dari Avaross—”
“Aku bilang pantau,” ulang Lyran. “Jangan membuat Asidental tampak takut pada rumor.”
Sunyi singkat. Lalu bunyi lain, gulungan dibuka lagi.
Kali ini suara yang masuk bukan bendahara, bukan Arsipal, bukan Thirtening. Suara itu datang dari batu. Datar. Berat. Dan terbiasa didengar orang-orang dengan kepala menunduk.
“Kalau kita bicara soal rumor,” kata Serath Vaudren, Magi Tertinggi, “aku punya satu lagi—lebih dekat, lebih murah, dan lebih menjengkelkan.”
Naera pernah melihat stempelnya di lilin ungu. Ia tak pernah melihat wajahnya jelas. Orang seperti Serath tidak butuh wajah. Mereka hidup dari keputusan.
“Apa?” tanya Rydan Kolt, suara prajurit yang ingin selesai.
“Perhimpunan,” kata Serath. “Dua sidang Majelis pekan ini. Pengkhianatan kecil. Etika. Beberapa nama.”
Ada bunyi kertas digeser. Ada orang yang mencatat, karena inilah jenis hal yang membuat seseorang kehilangan jabatan tanpa pernah disentuh pedang.
“Kementerian mengurus Majelis,” kata Lyran, malas.
“Majelis mengurus Kementerian,” Vassir Caidren membetulkan tanpa sadar, kebiasaan definisinya. Lalu diam. Terlambat.
Naera mendengar tawa kecil dari Thirtening—bukan tawa kemenangan, tawa orang yang baru saja melihat retak yang sudah lama ada.
“Nama Arven Leonhardt,” kata Serath pelan, seperti menyebut catatan lama yang terbakar setengah. “Dan sahabatnya yang terlalu bodoh.”
“Dan menariknya...,” kata Serath melanjutkan, seperti hakim yang mengumumkan cuaca.. “Sepertinya Thirteningmu terlibat dalam hal ini, Will.”
“Bukan salahku jika ada yang meminta bantuan Thirtening,” Will mengangkat bahu, halus, seperti menambah gula ke teh. "Selama mereka mempunyai cukup Dril."
Tomas Rell bergeser gelisah. Di kepalanya angka-angka mungkin sedang berubah jadi wajah.
“Thirtening mengumpulkan terlalu banyak,” Vassir Caidren berkata, dingin.
“Dan Arsipal menyimpan terlalu lama,” Thirtening membalas.
“Cukup,” kata Lyran, kali ini ujungnya tajam. “Aku memanggil kalian bukan untuk mendengar kalian saling bertengkar.”
Naera merasakan perubahan itu di tulang. Lyran mengakhiri, bukan berdebat. Menteri tidak pernah suka menutup rapat dengan kalah, ia menutup rapat dengan seolah ia memilih berhenti. “Kalian sudah memberi aku apa yang perlu,” kata Lyran. “Ujian berjalan. Halden berangkat. Avaross dipantau. Tidak ada pengejaran.”
"Sekarang keluar."
Ketika kata-kata pergi, tubuh selalu dipakai untuk menutupnya.
Suara sepatu menjauh. Kertas digulung. Pintu dibuka dan ditutup. Tak ada salam. Tak ada “terima kasih.” Orang-orang yang memegang kota jarang berterima kasih pada apa pun selain kebetulan.
Tirai tetap setengah tertutup.
Di dalam kanopi, dunia menyempit lagi jadi tubuh dan napas.
Lyran melambat, puas, lengah. Ia berguling setengah, mengembus napas panjang seperti orang yang baru meletakkan beban. Tangan bercincin Segel masih menyentuh pinggang Naera sebentar, lalu pergi juga—bukan karena Naera menariknya, tapi karena pria itu selesai.
Naera berbaring diam. Keringat mendingin di perutnya. Rambut menempel di pipi. Napas pelan-pelan kembali miliknya sendiri, serta satu helaan yang ia curi dari ruangan megah ini.
Di luar tirai, masih ada satu langkah yang tidak pergi secepat yang lain. Orang seperti itu selalu tinggal sebentar. Selalu ingin memastikan keputusan terakhir terdengar seperti miliknya.
“Ada satu hal lagi, Yang Mulia,” kata Ishan Merrow, rendah.
Lyran menghela napas, malas, tanpa membuka mata. “Apa lagi?”
“Hubungan Arsipal dan keluarga itu buruk,” kata Ishan hati-hati, seolah nama itu punya gigi. “Jika Thirtening ikut campur terlalu jauh—”
“Aku mengerti,” Lyran memotong.
Naera tahu cara pria seperti Lyran menyukai kata yang ia ucapkan sendiri. Keputusan. Segel. Kementerian. Semua kata yang berbunyi seperti palu, padahal palunya selalu jatuh ke kepala orang lain.
“Yang Mulia,” Ishan menunduk, undur diri. Pintu ditutup.
Dunia kembali jadi ranjang. Naera memejamkan mata. Lalu membuka lagi. Karena ia tidak punya kemewahan untuk tidur. Di tempat seperti ini, tidur hanya milik orang yang tidak perlu mengingat.
Naera mengingat.
Bukan karena suci. Bukan karena ingin jadi pahlawan. Tapi karena ingatan adalah satu-satunya hal yang tidak tercatat di gulungan mereka—dan yang tidak tercatat kadang tidak bisa dipungut pajaknya.
Ia bangkit pelan. Meraih kain tipis dekat bantal. Tirai berdesir ketika ia menyampirkannya ke bahu, menyembunyikan kulit yang masih hangat. Lyran tidak bangun. Pria itu sudah kembali jadi singa yang tertidur.
Cahaya tipis masuk ketika Maris menggeser tirai untuk keluar. Seberkas cahaya memotong ruangan seperti pisau.
Di sela cahaya itu Naera melihat meja, wadah Dril, peta-peta, gulungan bertumpuk, segel. Benda-benda yang mengatur hidup orang lain tanpa pernah berkeringat. Dan di antara tumpukan, selembar kertas tertinggal—ujungnya menonjol, tinta masih agak basah di satu sudut, seolah seseorang menulisnya terlalu cepat.
Naera melangkah pelan, telanjang kaki di karpet mahal. Berhenti cukup dekat untuk membaca tanpa menyentuh.
Nama itu berdiri sendiri, tergesa tapi jelas.
Ser Halden Darron.
Ia menatapnya sampai bentuk hurufnya menempel di kepala. Nama itu tidak seharusnya tinggal di kepala orang seperti dia.
Nama itu akan berjalan ke utara—ke batu kelabu, ke lubang-lubang tambang yang terlalu tenang, ke keluarga yang memegang delapan puluh persen tanah dan seratus persen kesombongan. Dan di suatu tempat jauh di selatan, seseorang menyebut Hallowind, dan Menteri tidak tertawa—hanya mengira dunia cukup aman untuk mengabaikannya.
Musim panas selalu membuat orang merasa aman.
Naera kembali ke ranjang. Duduk sebentar di tepi, merasakan pegal di pinggul dan rasa sakit di kemaluannya. Ia merapikan kain di bahunya. Ia melirik Lyran sekali—bukan dengan benci, bukan dengan cinta.
Ia menghela napas pelan. Lalu diam. Diam juga kerja, di tempat seperti ini.
Namun hari ini Naera tidak bisa menutup rapatnya sendiri begitu saja. Hari ini ia mendengar terlalu banyak nama yang tidak seharusnya singgah di telinga orang seperti dia.
Dan telinga, di Kementerian, bisa jadi alasan untuk dipotong.
Ia bergerak ke sisi tempat pakaian ditumpuk, cepat tapi tidak tergesa. Ia berpakaian seperti orang yang sudah berkali-kali belajar, tergesa membuat orang curiga, lambat membuat orang lelah dan kejam.
Di pintu kecil belakang kanopi, ia membuka celah.
Koridor luar dingin oleh batu dingin yang palsu, dingin yang ditanam supaya orang-orang merasa Kementerian “bersih”. Seorang penjaga berdiri di ujung lorong, tombaknya tegak. Mata penjaga itu menyapu dirinya sekali, lalu berpindah, seolah Naera hanya bagian dari perabot. Itu sopan, di Kementerian. Itu juga cara untuk bertahan hidup. Naera menghargainya lebih dari sapaan.
“Cepat,” bisik Maris di belakangnya, hampir tanpa suara. “Hari ini… suasananya aneh.”
“Semua hari aneh,” Naera membalas, sama pelannya.
Ia berjalan melewati lorong, melewati pintu-pintu yang selalu tertutup, melewati lukisan para Menteri lama yang wajahnya tampak suci karena sudah lama mati. Ia menahan kepala agar tidak menoleh ke mana-mana, menoleh membuat orang berpikir kau mencari sesuatu.
Di tikungan, ia hampir menabrak seorang pelayan yang membawa nampan perak. Pelayan itu lelaki tua bernama Savren Tull—punggungnya bungkuk, tapi langkahnya masih tahu kapan harus tenang. Di nampannya ada teko kecil, dua cangkir anggur, dan satu kotak kayu tipis yang disegel.
Savren menatap Naera terlalu lama.
Ia tahu tatapan itu, tatapan orang yang menimbang apakah seseorang baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.
“Kau kelihatan pucat, Nar,” kata Savren.
Itu “nama kerja” Naera, yang dipakai kamar-kamar seperti ini. Nar. Pendek. Mudah dibuang.
“Aku selalu pucat,” jawab Naera. Ia tersenyum kecil, cukup agar Savren merasa ia tidak menyimpan apa pun selain rasa lelah. Savren menatap kain di bahunya, lalu menatap rambutnya yang masih basah keringat, lalu menatap matanya—mencari panik.
Naera tidak panik. Panik adalah bukti.
“Yang Mulia… tidur?” kata Savren, sengaja membuat kata itu terdengar seperti sopan.
“Yang Mulia selalu tidur setelah keputusan,” Naera menjawab. Ia menunduk sedikit, seperti perempuan yang tahu batas.
Savren mengangguk, tapi matanya sempat melirik kotak kayu bersegel di nampannya, segelnya juga retak tipis di tepi, seakan lilin itu tidak suka dipaksa patuh. Ada sesuatu di retak yang sama-sama ia kenali dan benci, tanda bahwa sesuatu sudah disentuh orang lain sebelum kau sempat menutupnya rapat.
“Jangan lama di lorong,” kata Savren akhirnya. Bukan perintah, bukan nasihat. Lebih seperti belas kasihan yang tidak mau ia akui sebagai belas kasihan. “Hari ini banyak telinga.”
“Bukankah selalu?” Naera bertanya, ringan.
Savren tidak tertawa. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, seperti orang yang mengakui kebenaran tanpa ingin diseret untuk membenarkannya.
Naera lewat.
Ia bisa saja kembali ke kamar sempit yang disediakan Kementerian, tempat yang cukup aman untuk hari ini, cukup dekat untuk dipanggil lagi besok atau malam nanti. Tapi pikirannya terasa penuh, seperti bejana yang terlalu lama ditaruh di bawah tetesan yang sama.
Ia ingin diam di tempat yang tidak menulis namanya.
Ia sudah memikirkannya sejak siang—sebelum rapat ini, sebelum nama-nama itu, sebelum tubuh Lyran dan tubuhnya bersatu.
Kortavel Suci Aphoteon.
Keinginan itu tidak suci. Keinginan itu sederhana, sebuah tempat yang tidak bertanya apa yang baru saja terjadi kepadanya, dan tidak meminta jawaban.
Naera keluar lewat pintu samping, melewati halaman dalam yang batu-batunya licin oleh panas yang disiram air. Matahari masih tinggi, memukul atap dan membuat kota tampak lebih bersih daripada yang sebenarnya. Di luar tembok Kementerian, orang-orang berjalan dengan urusan mereka sendiri, pedagang kecil, anak pembawa air, penjaga lelah dengan perempuan yang memiliki senyum sama sepertinya.
Tidak ada yang memperhatikannya lebih dari sepersekian.
Di kota ini, perempuan sendirian bukan hal aneh. Yang aneh justru kalau ada yang bertanya terlalu banyak.
Saat ia menyeberangi jalan batu menuju dataran yang sedikit lebih tinggi, dentang lonceng terdengar dari arah jauh—bukan lonceng Kementerian. Nada lonceng Kortavel berbeda, lebih tua, lebih berat, tidak terburu-buru menyenangkan siapa pun.
Naera mempercepat langkah. Tidak karena ia terlambat. Ia tidak punya jadwal di sana. Ia mempercepat langkah karena ia takut pikirannya sendiri akan berubah jadi gulungan, dan gulungan selalu berakhir di rak orang lain.
Di depan pintu Kortavel, ia berhenti.
Pintu itu tidak menahan. Pintu itu hanya berdiri, seolah mengatakan, masuk atau tidak, dunia tidak akan menunggu keputusanmu. Naera masuk.
Ia tidak melihat-lihat. Ia tidak mengulang apa yang sudah orang lain ucapkan tentang tempat suci ini. Ia hanya menukar napas, dari napas Kementerian yang panas dan manis palsu, ke napas batu yang lebih dingin dan lebih jujur.
Ia memilih bangku batu paling belakang, sisi kiri.
Bukan karena ia suka sisi kiri. Karena bangku itu memberi dua hal: punggungnya tidak menghadap ruang, dan wajahnya tidak menghadap siapa pun. Ada orang yang duduk di bangku depan, ada yang berdiri dekat lingkaran lilin. Naera tidak menghitung. Menghitung adalah kebiasaan yang sulit mati.
Ia duduk. Ia menaruh kedua telapak tangan di pahanya. Ia membiarkan lututnya tetap lurus.
Ia tidak berlutut. Tidak hari ini. Lututnya masih pegal oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan iman, dan Naera tidak suka berpura-pura kepada tempat yang tidak meminta pura-pura.
Di samping bangkunya, di celah batu, ada lilin yang sumbunya retak. Api kecilnya bergoyang, bukan jatuh, tidak juga menyerah. Retaknya membuat nyalanya tampak seolah punya dua hati.
Naera menatapnya sebentar, lalu menoleh. Terlalu lama menatap hal seperti itu membuat orang berharap. Dan berharap adalah kebiasaan yang lebih berbahaya daripada muak.
Di dinding dekat bangku, ada ukiran doa yang aus—huruf-huruf tua yang ujungnya hilang, seakan batu itu sendiri sudah lelah mengingat kalimat yang sama. Naera tidak membaca keras-keras. Ia hanya membiarkan matanya menangkap sebagian kata, lalu melepaskannya.
Di depannya, seorang lelaki tua menyentuh dahi, dada, bahu. Tangannya gemetar. Gerakan itu terlalu akrab untuk jadi khusyuk, terlalu terlatih untuk jadi pura-pura. Naera tiba-tiba merasa… bukan iri.
Kasihan.
Perasaan itu datang sebentar, seperti angin yang menyelinap di sela pintu. Naera tidak mengusirnya. Ia juga tidak memeliharanya. Kasihan yang dipelihara terlalu lama akan menuntutmu melakukan sesuatu.
Naera tidak punya ruang untuk melakukan apa pun selain bertahan.
Ia menutup mata.
Ia tidak meminta keselamatan besar. Tidak meminta keadilan. Ia hanya ingin hari ini berlalu tanpa meninggalkan sesuatu.
Langkah pelan terdengar dari sisi samping. Seorang pemuda berjubah abu-abu lewat membawa baki lilin. Ia berhenti sebentar ketika melihat Naera—bukan untuk menilai, hanya memastikan ada orang di bangku itu.
“Kau ingin menyalakan satu?” tanyanya pelan.
Naera mengangguk. Ia berdiri pelan.
Ada jeda aneh di bawah tulang rusuk—seperti napasnya tersangkut bukan di dada, tapi lebih rendah. Ia menunggu beberapa saat, memastikan itu bukan pusing.
Tidak.
Ia merapikan kain di pinggangnya, menekan telapak tangan sebentar di sana hanya untuk memastikan kainnya jatuh rapi, lalu menarik tangannya kembali seolah sentuhan itu tak berarti.
Pemuda itu menyerahkan lilin kecil. Naera menyalakannya dari api terdekat, lalu menaruhnya di celah batu. Ia tidak menyebut nama.
Naera menyalakan lilin kecil itu dan menaruhnya di celah batu bersama lilin-lilin lain. Banyak yang sumbunya retak. Banyak yang melelehnya membeku setengah jalan. Ketika ia pergi, pintu Kortavel tetap terbuka. Tidak ada yang bertanya ia datang untuk apa. Tidak ada yang menghitung berapa lama ia duduk.
Itu cukup.
Untuk hari ini, itu lebih dari cukup.
✦ PANDUAN RESMI BAGI INISIAT ✦
Kementerian Sihir Asidental
Selamat datang di jalur pembelajaran resmi.
Setiap inisiat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi stabilitas Asidental.
Pengelolaan Dril
Interaksi Antar Inisiat
Kerahasiaan dan Paparan
Status dan Fasilitas
Perilaku dan Penilaian
Penggunaan Sarana
Ketenangan
Batasan
---
Atas nama Kementerian Sihir Asidental,
Lyran Caelmont
Menteri Sihir
Segel Ungu telah dibubuhkan.
Kementerian Sihir Asidental
Selamat datang di jalur pembelajaran resmi.
Setiap inisiat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi stabilitas Asidental.
Pengelolaan Dril
Dril diberikan sebagai sarana pembelajaran dan tanggung jawab. Penggunaan tanpa perhitungan akan tercermin dalam evaluasi. Menyisakan cadangan dianjurkan.
Interaksi Antar Inisiat
Kerja sama di dalam perhimpunan diperbolehkan. Kementerian tidak mengatur pilihan personal. Konsekuensi dari kepercayaan yang diberikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing.
Kerahasiaan dan Paparan
Penyebutan nama, kepemilikan, dan afiliasi sebaiknya dibatasi. Perhatian yang tidak diperlukan jarang membawa hasil yang baik.
Status dan Fasilitas
Gelar, keanggotaan, dan tanda kehormatan memberikan akses tambahan sesuai ketentuan yang berlaku. Perbedaan ini merupakan bagian dari tatanan, bukan penyimpangan.
Perilaku dan Penilaian
Inisiat diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi. Pola perilaku yang menonjol akan dicatat untuk kepentingan evaluasi lanjutan.
Penggunaan Sarana
Item, izin, dan akses khusus memiliki waktu penggunaan yang tepat. Keterlambatan maupun ketergesa-gesaan sama-sama berisiko.
Ketenangan
Keputusan yang diambil dalam tekanan merupakan indikator kedewasaan dan kelayakan magis.
Batasan
Kementerian tidak menganjurkan praktik judi dan pinjaman kepada pihak eksternal. Perlindungan tidak diberikan terhadap akibat yang timbul dari pilihan tersebut.
---
Atas nama Kementerian Sihir Asidental,
Lyran Caelmont
Menteri Sihir
Segel Ungu telah dibubuhkan.
✠ PERSEKUTUAN TERDAFTAR ✠
Ketetapan Kementerian Sihir Asidental
Dalam tatanan Asidental, tidak setiap ikatan diakui.
Ikatan yang tidak tercatat tidak berada di bawah perlindungan hukum, dan segala akibat dari keberadaannya ditanggung oleh mereka yang membentuknya.
Atas dasar itu, Kementerian Sihir menetapkan pengakuan terhadap PerSEKUTUAN TERDAFTAR—yakni kumpulan inisiat yang secara sukarela mengikatkan diri dalam satu badan, dicatat dalam arsip, dan tunduk pada ketetapan yang berlaku.
Persekutuan yang terdaftar diperlakukan sebagai satu kesatuan hukum.
---
✣ KEDUDUKAN PERSEKUTUAN ✣
---
✣ SYARAT PEMBENTUKAN ✣
---
✣ TATA KELOLA ✣
---
✣ PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ✣
---
✣ PENUTUP ✣
---
Atas nama Kementerian Sihir Asidental,
Lyran Caelmont
Menteri Sihir
Segel Ungu telah dibubuhkan.
Ketetapan Kementerian Sihir Asidental
Dalam tatanan Asidental, tidak setiap ikatan diakui.
Ikatan yang tidak tercatat tidak berada di bawah perlindungan hukum, dan segala akibat dari keberadaannya ditanggung oleh mereka yang membentuknya.
Atas dasar itu, Kementerian Sihir menetapkan pengakuan terhadap PerSEKUTUAN TERDAFTAR—yakni kumpulan inisiat yang secara sukarela mengikatkan diri dalam satu badan, dicatat dalam arsip, dan tunduk pada ketetapan yang berlaku.
Persekutuan yang terdaftar diperlakukan sebagai satu kesatuan hukum.
---
✣ KEDUDUKAN PERSEKUTUAN ✣
Persekutuan Terdaftar diakui sebagai badan sah selama menaati ketentuan Kementerian.
Selama pengakuan tersebut berlaku, persekutuan tidak dapat dituduh sebagai perkumpulan terlarang.
Pengakuan ini memberikan hak sebagai berikut:
* Penetapan satu tempat kerja atau kedudukan yang disahkan.
* Kepemilikan harta bersama atas nama persekutuan.
* Pencatatan resmi atas urusan, pergerakan dril, dan kewajiban.
* Penerimaan penugasan atau mandat sebagai satu badan.
Pengakuan ini bersifat sementara dan dapat dicabut.
---
✣ SYARAT PEMBENTUKAN ✣
Untuk membentuk Persekutuan Terdaftar, diperlukan:
* Upeti pendaftaran sebesar tiga puluh lima dril.
* Upeti pemeliharaan sebesar tiga dril untuk setiap masa.
* Keanggotaan awal sekurangnya tiga inisiat.
* Penetapan nama persekutuan dan satu orang Penanggung Jawab, yang dicatat dalam arsip terbuka.
Apabila kewajiban pemeliharaan tidak dipenuhi, persekutuan dianggap bubar demi hukum dan seluruh hartanya disita.
Pembubaran atas permintaan sendiri dikenai biaya pencatatan tambahan sebesar sepuluh dril.
Inisiat yang keluar dari suatu persekutuan tidak diperkenankan bergabung dengan persekutuan lain sebelum satu masa berlalu.
---
✣ TATA KELOLA ✣
Setiap Persekutuan wajib menunjuk satu Penanggung Jawab, yang bertindak sebagai wakil resmi di hadapan Kementerian.
Segala tindakan yang dilakukan atas nama persekutuan—termasuk pengelolaan harta, penerimaan mandat, dan tindakan kolektif—wajib tercatat.
Persekutuan dilarang:
* Menyembunyikan ikatan tambahan di luar pencatatan resmi.
* Menghimpun kekuatan secara diam-diam untuk menguasai dril atau sumber daya lain.
* Bertindak dengan cara yang mengganggu ketertiban umum Asidental.
---
✣ PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ✣
Kementerian berhak melakukan pemeriksaan sewaktu-waktu.
Penanggung Jawab wajib hadir apabila dipanggil untuk memberikan penjelasan.
Apabila pelanggaran terbukti, Kementerian berwenang menjatuhkan hukuman berupa:
* Penahanan atau penyitaan dril.
* Pembatasan hak dan izin.
* Pembubaran persekutuan.
Penanggung Jawab yang lalai dapat dilarang membentuk persekutuan di kemudian hari.
---
✣ PENUTUP ✣
Pengakuan bukanlah jaminan keselamatan. Ia adalah izin untuk bertahan dalam tatanan yang diawasi.
Ketetapan ini berlaku di seluruh wilayah Asidental dan dapat diubah demi kestabilan.
---
Atas nama Kementerian Sihir Asidental,
Lyran Caelmont
Menteri Sihir
Segel Ungu telah dibubuhkan.
✶ KATALOG CATATAN HALREN ✶
Naskah pinjaman terbatas dari Arsipal — Paviliun Keempat (Relik & Fenomena).
Disalin ulang untuk peredaran.
---
Naskah pinjaman terbatas dari Arsipal — Paviliun Keempat (Relik & Fenomena).
Disalin ulang untuk peredaran.
---
PAV04–739–01— Sisa satu
Harga: Tiga Puluh Dril
PAV04–739–02 — Sisa satu
Harga: Dua Puluh Lima Dril
PAV04–739–03 — Sisa satu
Harga: Dua Puluh Dril
PAV04–739–04 — Sisa satu
Harga: Lima Belas Dril
PAV04–739–05 — Sisa satu
Harga: Tiga Belas Dril
PAV04–739–06 — Habis
Harga: Sepuluh Dril
PAV04–739–07 — Sisa satu
Harga: Sembilan Dril
PAV04–739–08 — Sisa satu
Harga: Delapan Dril
PAV04–739–09 — Habis
Harga: Tujuh Dril
PAV04–739–10 — Habis
Harga: Enam Dril
PAV04–739–11 — Habis
Harga: Lima Dril
PAV04–739–12 — Habis
Harga: Empat Dril
PAV04–739–13 — Habis
Harga: Tiga Dril
PAV04–739–14 — Habis
Harga: Dua Dril
PAV04–739–15 — Habis
Harga: Satu Dril
Ekhem, Halo, Ini Lord Elio, cuma mau ngomong beberapa hal aja.
Sebelumnya saya pribadi, Lady Ravelline serta Lady Fletchar ingin memohon maaf yaaa atas kekurangan, kesalahan serta hal-hal lain yang di rasa merugikan kalian selama menjalani ujian sihir kali ini. Mohon maaf sekali, kita masih banyak kekurangan saat melayani kalian. Masih banyak yang harus kami perbaiki agar ujian ini bisa di nikmati keseruannya oleh banyak orang, sekali lagi kami mohon maaf.
Terimakasih juga untuk para Inisiat yang sudah bergabung dengan kami, terimakasih untuk makhluk terkutuk—Lady Beatrix (sebelum namanya di ubah oleh Arbisha) dan Pixie (sebelum namanya di ubah oleh hal yang sama)—yang berhasil menjalankan perannya dengan baik, sekali lagi terimakasih.
Selanjutnya terimakasih kepada penyihir hitam kita—Lord Alaric, Lady Catherine, dan Lord Argus—yang sudah berusaha sebaik mungkin menjalankan peran mereka hingga titik darah penghabisan, mohon maaf untuk penyesuaian2 yang di rasa merugikan kalian, terimakasih untuk perjuangannya, effort serta segala hal yang telah mereka lakukan.
Untuk Master Akademi—Lady Camilla— yang meskipun sudah menjadi "terkutuk" namun tetap membela manusia serta menjalankan perannya dengan sangat hebat juga, mohon maaf apa bila dalamm prosesnya merasakan perasaan tertekan, terimakasih sudah berusaha sebaik mungkin.
Lalu, selamat untuk Lady Allegra yang sudah memenangkan ujian ini bersama dua orang lainnya, menjadi yang terbaik di antara semua Inisiat yang ada, selamat. Terimakasih juga kepada inisiat lain, Lady Dorothy, Lord Asher, yang juga sudah memberikan ujian yang menarik bagi kita semua, Fendi Chrome, Rocianne, Cyrilla dengan jokes dan memenya, Lord Noel Theodorus dengan kekikirannya, serta Kanaeris dan Phantom yang sudah bergabung dengan kita semua. Terimakasih banyak.
Terakhir, Terimakasih untuk kalian yang sudah sudi mengunjungi Drilent, Avaross, Thirtening serta tempat-tempat lain.
Itu saja yah kira-kira dari saya, barangkali Lady yang lain juga ingin menambahkan, di persilahkan.
Catatan: Kesan Pesan Inisiat lain akan saya share di sini. Malam ini, selamat berisitirahat Inisiat, terimakasih sudah bekerja keras, dan sampai jumpa lagi.
Rahassion!
Sebelumnya saya pribadi, Lady Ravelline serta Lady Fletchar ingin memohon maaf yaaa atas kekurangan, kesalahan serta hal-hal lain yang di rasa merugikan kalian selama menjalani ujian sihir kali ini. Mohon maaf sekali, kita masih banyak kekurangan saat melayani kalian. Masih banyak yang harus kami perbaiki agar ujian ini bisa di nikmati keseruannya oleh banyak orang, sekali lagi kami mohon maaf.
Terimakasih juga untuk para Inisiat yang sudah bergabung dengan kami, terimakasih untuk makhluk terkutuk—Lady Beatrix (sebelum namanya di ubah oleh Arbisha) dan Pixie (sebelum namanya di ubah oleh hal yang sama)—yang berhasil menjalankan perannya dengan baik, sekali lagi terimakasih.
Selanjutnya terimakasih kepada penyihir hitam kita—Lord Alaric, Lady Catherine, dan Lord Argus—yang sudah berusaha sebaik mungkin menjalankan peran mereka hingga titik darah penghabisan, mohon maaf untuk penyesuaian2 yang di rasa merugikan kalian, terimakasih untuk perjuangannya, effort serta segala hal yang telah mereka lakukan.
Untuk Master Akademi—Lady Camilla— yang meskipun sudah menjadi "terkutuk" namun tetap membela manusia serta menjalankan perannya dengan sangat hebat juga, mohon maaf apa bila dalamm prosesnya merasakan perasaan tertekan, terimakasih sudah berusaha sebaik mungkin.
Lalu, selamat untuk Lady Allegra yang sudah memenangkan ujian ini bersama dua orang lainnya, menjadi yang terbaik di antara semua Inisiat yang ada, selamat. Terimakasih juga kepada inisiat lain, Lady Dorothy, Lord Asher, yang juga sudah memberikan ujian yang menarik bagi kita semua, Fendi Chrome, Rocianne, Cyrilla dengan jokes dan memenya, Lord Noel Theodorus dengan kekikirannya, serta Kanaeris dan Phantom yang sudah bergabung dengan kita semua. Terimakasih banyak.
Terakhir, Terimakasih untuk kalian yang sudah sudi mengunjungi Drilent, Avaross, Thirtening serta tempat-tempat lain.
Itu saja yah kira-kira dari saya, barangkali Lady yang lain juga ingin menambahkan, di persilahkan.
Catatan: Kesan Pesan Inisiat lain akan saya share di sini. Malam ini, selamat berisitirahat Inisiat, terimakasih sudah bekerja keras, dan sampai jumpa lagi.
Rahassion!