Asidental—Beta
22 subscribers
1 photo
1 link
Download Telegram
Satu siklus malam. Cukup lama untuk membuat seseorang duduk sendiri dalam gelap dan mengulang semua kata yang pernah ia ucapkan. Terlalu singkat untuk mencari kebenaran, jika kebenaran itu benar-benar ada.

Segel besar Majelis diangkat dan ditekan ke dalam lilin sihir di depan kursi tengah. Lilin itu menyala sebentar lebih terang ketika lambang Kementerian menyentuhnya, lalu redup lagi. Tanda itu tidak terlihat jelas di udara, tapi Jorek bisa merasakan perubahan halus setelahnya. Seperti ruangan mengembuskan napas dan menutup sesuatu di baliknya. Di sela itu, salah satu ukiran di pilar dekat pintu terasa berdenyut halus—atau mungkin hanya bayangan dari asap obor. Namun Jorek mendapati dirinya berdiri sedikit lebih tegak, seolah dinding benar-benar sedang mendengarkan.

“Segel ini mengikat seluruh inisiat tanpa pengecualian,” pelayan membaca, sesuai naskah. “Sebagaimana Hukum menetapkan, sebagaimana Majelis menyetujui.”

Pintu dibuka lagi. Egon digiring keluar, kini lebih kecil daripada suaranya tadi. Darel mengikuti, langkahnya rapat, matanya menunduk sebentar seperti orang yang baru sadar bahwa selamat pun punya rasa pahit. Ada sesuatu yang hilang dari wajah keduanya, meski berbeda bentuknya. Seperti dua orang yang keluar dari kuil yang sama dengan doa yang sama, tapi dengan dewa yang berbeda di dalam kepala.

Setelah kedua sidang selesai, hari belum benar-benar siang. Di luar, mungkin matahari baru merayap di antara atap rumah-rumah. Di bawah tanah, waktu diukur dengan jumlah lilin yang habis dan jumlah keputusan yang dijatuhkan.

Para Magi mundur ke ruang istirahat mereka di belakang kursi tinggi. Pelayan sibuk menggulung perkamen, menyimpan kristal, mencabut sisa lilin sihir dari dudukannya. Penjaga lain mengantar para tertuduh ke sel tahanan sementara, atau langsung ke ruang eksekusi administratif, jika hukuman Dril penuh dijatuhkan. Jorek tetap di ambang pintu, menatap lorong kosong yang baru saja dilalui orang-orang tadi, merasakan bau lilin sihir masih menempel di kerongkongan seperti sisa asap yang tidak mau pergi.

“Berat?” tanya suara di sampingnya.

Itu Berran, sesama penjaga, yang berganti jaga menjelang tengah hari. Tubuhnya lebih pendek dari Jorek, tapi lebih bidang dengan jahitan lama bekas luka tampak di lehernya.

“Biasa,” jawab Jorek.

“Pengkhianatan pagi-pagi, Etika sebelum makan siang,” gumam Berran. “Mereka ingin kita lupa bahwa dulu, satu sidang besar bisa cukup untuk satu minggu.”

“Dulu Hukum lebih sedikit,” kata Jorek.

“Dulu kita punya lebih sedikit Magi yang ingin terlihat sibuk,” balas Berran dengan senyum miring.

Jorek tidak menyahut. Ia tahu dinding punya telinga, bahkan di lorong-lorong yang dianggap sepi. Berran boleh bermain dengan ucapan, ia tidak.

“Aku dengar,” lanjut Berran, merendahkan suara, “Direktorat Kehakiman ingin menambah satu jenis sidang lagi. Sidang Tata Krama Publik. Katanya, supaya orang-orang di jalan ingat bahwa mereka diawasi.”

“Sudah cukup banyak orang yang merasa diawasi,” kata Jorek.

“Beda antara merasa dan tahu,” sahut Berran. “Kalau orang hanya merasa, mereka kadang masih berani. Kalau mereka tahu…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu.

Berran menggeser tombak di bahunya. "Jaga di sini lagi hari ini?”

“Hari penuh,” jawab Jorek.

“Kasihan.” Berran menepuk bahunya sekali, lalu berbalik menyusuri lorong. “Kalau suatu hari Hukum memutuskan kita yang harus diadili, aku harap kita tidak berakhir di depan pintu kita sendiri.”

Jorek tidak tertawa. Ia hanya menggeleng pelan.

Ketika langkah Berran menghilang di tikungan, lorong kembali sunyi. Obor masih menyala. Asap tetap naik ke langit-langit, menghitamkan batu. Perkamen besar di dinding seberang masih tergantung, huruf ungunya tetap tegas meski semua yang membacanya berubah wajah dari tahun ke tahun.
Tanpa sadar, Jorek berjalan mendekatinya. Kebiasaan lama kembali, seperti bau lama yang muncul ketika lemari tua dibuka.

Ia membaca baris demi baris dalam hati, meski tidak benar-benar melihat hurufnya. Pasal-pasal tentang Dril, tentang sumpah Perhimpunan, tentang kewenangan Menteri Sihir. Tentang banding. Tentang penggugatan. Tentang bagaimana segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada lingkaran besar: Segel Ungu.

Seluruh kota hidup dalam bayangan teks itu, sadar atau tidak. Inisiat mempelajarinya di kelas. Menteri mengutipnya dalam pidato. Pelayan menyalinnya di catatan. Penjaga berdiri di bawahnya, membiarkan kata-kata itu menetes lewat rambut dan bahu mereka, sedikit demi sedikit, sampai tak bisa dibedakan lagi dengan keringat sendiri.

Jorek mengangkat pandangannya dari perkamen ke pintu perunggu. Permukaan perunggu menyimpan pantulan samar dirinya—wajah keras, rambut mulai menipis di pelipis, garis halus di bawah mata. Beberapa tahun lalu, ia pernah berdiri di tempat yang hampir sama, tapi di sisi lain pintu. Waktu itu ia tidak mengenakan zirah penjaga, melainkan jubah murid biasa.

Ia pernah bermimpi duduk di ruang kelas Perhimpunan, memegang Koin Dril miliknya sendiri, mengucapkan mantra di bawah bimbingan Magi. Ia pernah hampir diangkat menjadi Inisiat. Ujian teori lulus. Ujian sihir lulus. Hanya satu yang gagal, penyaringan terakhir, saat Kementerian menilai siapa saja yang “lebih cocok” mengayunkan tongkat, dan siapa yang lebih dibutuhkan untuk memegang tombak.

Mereka bahkan tidak menulis alasannya di surat penolakan.

Sejak hari itu, ia berdiri di depan pintu. Menyaksikan mereka yang dipilih masuk, dan mereka yang dipilih keluar. Ia tidak pernah benar-benar tahu apakah ia harus merasa beruntung atau dikasihani.

Di catatan Kementerian, namanya hanya satu baris di daftar penjaga. Di berita acara sidang, namanya tidak pernah muncul. Di Hukum, keberadaannya hanya disebut sebagai penjaga.

Namun hari-hari seperti ini, ketika obor hampir padam, ketika dua sidang sudah selesai sebelum siang, ketika bau lilin sihir masih menempel di kerongkongan, Jorek merasakan sesuatu yang tidak tertulis di mana pun.

Ia mengingat.

Ia mengingat wajah Arven ketika Dril disambar. Ia mengingat mata Egon ketika hukuman dibacakan. Ia mengingat tawa kecil pelayan, helaan napas Tertuduh, senyum tipis Magi, ucapan Berran. Ia mengingat suara dentang kecil di batu saat fajar, dan suara pintu menutup ketika seseorang dibawa pergi.

Hukum mungkin mengikat seluruh inisiat. Nama mereka tertulis di perkamen, nasib mereka diikat oleh pasal-pasal yang diperdebatkan di meja tinggi.

Namun ketakutanlah yang mengikat seluruh kota.
Ketakutan pada kata yang belum diucapkan. Pada sidang yang belum dijadwalkan. Pada tongkat yang belum diangkat tinggi-tinggi.

Dan ketakutan, tidak seperti Dril, tidak pernah bisa disita
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⟁ SEBUAH PINTU ⟁

Cressa selalu mengira jalan ini akan sedikit lebih harum.

Di kepalanya, nama Drilent dulu terdengar seperti sesuatu yang megah, lorong yang “penuh Dril”, tempat “apa pun bisa dibeli”, bagian kota yang bahkan Kementerian pura-pura tidak kenal. Seharusnya ada sedikit kemewahan yang tersembunyi di bawah tanah, ia pikir. Wangi kayu tua, asap ramuan mahal, mungkin.

Yang sampai ke hidungnya cuma bau bawang goreng dari warung murah di ujung jalan, keringat orang-orang yang berdesakan, asap ramuan yang tidak pernah diperiksa, sisa anggur basi di mulut lelaki yang tertawa terlalu dekat, dan bau Dril yang tipis di bawah semuanya. Bau itu datang seperti napas lama yang tidak pernah betul-betul habis.

Di atas kepala, tali jemuran dan bendera kain melintang rendah, berlapis-lapis, menutup sebagian langit. Kain-kain itu berkibar malas, menahan cahaya. Dari tempat Cressa berdiri, Drilent terasa seperti perut kota—lembap, padat, dan terlalu penuh suara.

Ia menarik tudungnya lebih dalam, memastikan rambutnya benar-benar tertutup. Di sini, orang tidak punya waktu untuk mengingat wajah yang lewat. Tetapi beberapa wajah memang suka mengingat, terutama wajah yang tampak seperti membawa sesuatu berharga dalam kantung.

Tangga batu menurun dari jalan utama, licin oleh sisa hujan malam dan sesuatu yang tidak ingin ia tebak. Cressa menuruni anak tangga pelan-pelan, satu per satu, merasakan lututnya menyesuaikan dengan kemiringan. Di bawah, lorong Drilent melengkung dan menyempit di antara dinding rumah-rumah tua, seakan kota sengaja menyembunyikan bagian ini dari mata Kartovel Suci.

Kementerian kadang menyebutnya “Drilentine Baru”, seolah nama baru bisa mencuci bau lama. Mereka mengubah namanya seperti mereka mengubah segel, sangat formal, panjang, dan tidak jujur. Anak-anak jalanan punya cara yang lebih cepat. Mereka cukup menggerakkan dagu ke arah bawah dan menyebutnya singkat:

“Drilent.”

Itu sudah cukup.

Cressa membaur di antara kerumunan. Jubah para inisiat, pakaian kasar buruh, baju besi penjaga kota, kain lusuh tukang angkut, jubah bagus orang yang pura-pura tersesat. Semua bercampur, bergerak dengan ritme yang sama. Di sini tidak ada yang benar-benar berjalan pelan, bahkan orang yang tidak punya tujuan pun belajar berpura-pura seolah mereka punya.

Kantung kecil di pinggangnya bergeser setiap kali ia melangkah. Beratnya mengingatkan pada hal yang ia bawa di dalam, potongan logam gelap, setebal kuku, bentuknya sederhana, dinginnya menembus kulit bahkan melalui dua lapis kain. Bukan Dril, setidaknya bukan jenis yang bisa dihitung di meja kasir. Orang yang memberikan benda itu padanya menyebutnya “plat nama”, dengan nada datar seperti menyebut daftar belanja.

“Jangan jatuhkan,” pesan orang itu. “Dan jangan tunjukkan pada siapa pun kecuali orang di balik pintu.”

“Kalau pintunya tidak mau terbuka?” ia sempat bertanya.

“Kalau pintunya tidak mau terbuka,” jawab orang itu, “kau salah pintu.”

Jawaban yang tidak membantu. Tapi ia tetap datang.

Seorang lelaki bertubuh besar lewat membawa peti di pundak. Cressa menyingkir setengah langkah, membiarkan bau kayu basah dan besi berkarat menyusulnya. Di kiri, jendela sempit menampilkan deretan tongkat yang berdiri miring, ujungnya seperti mata kayu yang mengikuti orang berlalu. Lelaki tua kurus duduk di kursi rendah di depan pintu, kedua tangannya bertumpu di lutut, matanya menatap jalan dengan kelopak turun.

Ia tidak berteriak menawarkan dagangan. Ia bahkan tidak bergerak. Ia hanya memiringkan kepala sedikit setiap kali seseorang berhenti terlalu lama di depan kaca.
Cressa mempercepat langkah. Butuh waktu bagi orang untuk diizinkan masuk ke tempat seperti itu. Tongkat-tongkat di sana bukan untuk orang yang cuma punya kantung Dril biasa dan nama yang mudah dicoret.

Di sisi lain lorong, toko ramuan bernafas lewat jendela berkabutnya. Botol-botol bersusun di balik kaca, cairan di dalamnya berputar pelan tanpa sentuhan, warna-warnanya berganti jika terkena cahaya dari arah tertentu. Pintu setengah terbuka, uap tipis melayang keluar.

Aroma tajam menyergapnya: tanaman kering, akar yang dibakar, gula gosong, dan sesuatu yang asam, menyengat, seperti penyesalan yang dipanaskan lagi. Di ambang pintu, seorang Essarist magang duduk, lengan bajunya tergulung, tangan bernoda ungu hampir sampai siku. Ia menumbuk sesuatu di lesung batu, gelegar kecilnya tertelan oleh suara Drilent.

“Ramuan Fortun,” serunya datar, seperti mengulang pelajaran. “Ramuan Brovos. Ramuan Forgo. Harga wajar. Diskon untuk yang baru gagal ujian.”

Dua inisiat muda berhenti sejenak. Jubah mereka masih terlalu baru, lipatannya belum benar-benar jatuh mengikuti tubuh pemakainya. Satu tersenyum miring, yang lain menggigit bibir. Mereka menghilang ke dalam asap beberapa detik kemudian, seperti benda kecil ditelan oleh perut makhluk besar.

Cressa lewat tanpa menoleh. Ia tidak butuh Fortun, Brovos, atau Forgo hari ini. Ia butuh Drilent mengingatnya sesedikit mungkin.

Semakin jauh ke dalam, toko-toko kehilangan papan nama. Sebagian kehilangan keinginan untuk terlihat seperti toko. Sebuah meja panjang didorong keluar sampai hampir menyentuh jalan, kakinya ditopang batu bata supaya tidak miring. Di atasnya, benda-benda kecil bertumpuk. Sebagian dibungkus kain hitam, sebagian dibiarkan terbuka, menampakkan sudut logam, ujung kaca, atau sepotong tulang yang sudah dipoles.

“Tak usah tanya dari mana asalnya,” kata pria gemuk di belakang meja. Cincinnya terlalu banyak, hampir menutupi kulit jarinya; beberapa cincin tampak tidak pas, seperti benda yang belum menyerah untuk dipakai. “Yang perlu kau tahu cuma ini, besok pagi kau tidak akan tercatat memakai apa pun.”

Ia menepuk salah satu bungkusan kain hitam dengan dua jari, seolah membangunkannya. “Dan kalau kau tertangkap Penjaga, kau bisa bilang kau bahkan tidak tahu apa yang sedang kau pakai,” tambahnya pada dua inisiat yang sedang menawar sesuatu yang terlalu kecil untuk dilihat dari jauh.

Seorang inisiat lain, mata cekung dalam, menimbang botol kecil di tangannya. Cairan di dalam bergerak mengelilingi dinding kaca, menolak diam.

“Berapa lama jejaknya hilang?” tanya si inisiat.

“Cukup lama sampai kau bisa berpura-pura tidak tahu-menahu ketika mereka mulai menuduh,” jawab si pedagang, ringan. “Kalau kau masih hidup, tentu.”

Cressa berpura-pura sibuk memperhatikan retakan di dinding saat ia lewat. Di Drilent, selalu ada kalimat yang tidak baik kalau ikut dibawa pulang. Kata-kata punya cara sendiri memanjang, melewati telinga yang tidak diundang.

Beberapa pedagang bahkan tidak punya meja. Seorang perempuan tua duduk di atas karung, punggungnya bersandar pada tembok yang basah. Dagangannya cuma tiga kotak kayu dan serumpun pergamen yang diikat tali. Tangannya cekatan menghitung pecahan Dril yang ditukar di atas kotak, bibirnya bergerak pelan menghitung sesuatu yang mungkin bukan angka sama sekali.

Di sampingnya, seorang pemuda menjaga deretan kandang berjaring. Apa pun yang ada di dalamnya bergerak gelisah, kadang kepakan sayap, kadang dengkuran kecil. Mata-mata kecil menyala di balik gelap.

“Ini mengirim pesan,” katanya pada seorang pria berjubah biru. Suaranya rendah tapi cepat, seperti orang yang terbiasa bicara hal-hal yang tidak seharusnya keras. “Yang di depan sana biasa. Yang di belakang sana mengikuti Dril. Keduanya tidak kembali setelah diutus, jadi namamu tetap aman. Kalau kau takut suratmu dibaca Penjaga, jangan pakai Pos Burung Kestrel.”
Cressa menunduk sedikit ketika tatapan pemuda itu melintas ke arahnya. Ia tidak datang untuk membeli binatang. Bukan hari ini. Ia datang karena seseorang di atasnya memutuskan lebih baik ia yang berjalan di Drilent daripada orang itu sendiri.

Lorong bercabang beberapa kali. Setiap cabang punya nadanya sendiri. Ada gang yang bau arangnya lebih kuat, ada yang dipenuhi suara ketukan logam kecil, ada yang terlalu sepi untuk waktu pagi ini.

Cressa melewati sebuah belokan, dan di sudut mata ia melihat pelat besi bundar tertanam di dinding, dicat hitam sepenuhnya. Tidak ada tulisan. Hanya goresan tipis melintang, seperti bekas pisau. Kulit belakang lehernya merinding. Plat kecil di kantungnya terasa sedikit lebih berat.

Ia tidak menoleh lebih lama dari beberapa detik. Di mulut gang itu, dua lelaki bersandar pada dinding dalam bayangan. Mereka tidak memanggil, tidak menawarkan apa-apa, tidak mencoba menahan siapa pun. Mereka hanya memperhatikan siapa yang masuk dan siapa yang keluar.

Itu sudah cukup untuk menyusun banyak cerita. Cerita-cerita yang jarang diucapkan keras-keras, dan lebih jarang lagi dicatat.

Kerumunan berubah menjelang pusat kota. Batu-batu di bawah kakinya menjadi lebih rata; air yang menggenang di sela-selanya lebih bersih, atau setidaknya tampak lebih bersih. Di kejauhan, di atas atap-atap kayu dan batu, Cressa bisa melihat ujung kubah Kartovel Suci Aphoteon, pucuknya memantulkan cahaya pucat.

Dari sini, kubah itu tampak seperti mata marmer yang mengawasi, berjarak, tidak kotor seperti Drilent, tapi tidak benar-benar bersih. Indah, kalau dilihat dari jauh. Kebanyakan hal memang begitu.

Rumah pelacuran pertama menyelinap di antara dua toko perkakas, nyaris tidak mencolok kalau bukan karena tirai merah yang terlalu bersih untuk lorong sekotor ini. Di atas pintunya tidak ada lukisan perempuan telanjang, hanya lambang bunga lima kelopak yang dilukis tergesa, warna catnya terlalu cerah.

Seorang gadis berambut hitam duduk di ambang. Tubuhnya hampir telanjang, beberapa kain tipis menempel lebih karena kebiasaan daripada fungsi. Tawa kecilnya terdengar, bukan tawa yang lahir dari sesuatu yang lucu, melainkan tawa yang sudah terlalu sering dipakai sampai ia tidak lagi tahu kapan harus berhenti.

Dua inisiat dengan jubah terlalu baru melambat di depan rumah itu. Yang satu menyikut temannya, mengatakan sesuatu dengan suara terlalu pelan untuk ditangkap tapi terlalu mudah ditebak. Temannya tertawa gugup. Mereka berdebat pelan, setengah malu, setengah penasaran, sebelum akhirnya menghilang di balik tirai merah. Bau minyak rambut murah dan ramuan beraroma manis mengikuti mereka.

“Dril paling murah yang pernah mereka habiskan,” gumam seorang penjaga kota di sudut lorong, helmnya agak miring, setengah untuk dirinya sendiri, setengah untuk temannya. “Dan barangkali yang paling mahal.”

Temannya tertawa pendek, bunyinya lebih seperti batuk yang malas.

Cressa menahan senyum yang hampir muncul. Di sini, semua orang suka bersuara bijak seolah mereka dewa itu sendiri. Mereka lupa dewa jarang terlihat di Drilent. Yang ada cuma orang-orang biasa, dengan kebiasaan yang sama sekali tidak suci.

Tak jauh dari rumah pelacuran, sebuah kedai minum mengambil setengah lebar lorong. Pintu kayunya terbuka lebar, suara gelas beradu, nyanyian sumbang, dan sumpah serapah tumpah ke jalan bersama bau minuman keras, daging panggang, dan muntahan yang belum sempat disiram. Papan di atas pintu nyaris tak terbaca karena jelaga dan waktu; huruf-hurufnya mungkin pernah menyusun nama pemilik pertama yang sudah lama mati.

Orang tidak perlu membaca papan untuk tahu fungsinya.

Di bawah salah satu jendela, seorang pria duduk di tanah, punggungnya bersandar pada dinding. Rambutnya kusut, janggutnya dipenuhi remah roti dan noda yang mungkin bukan roti. Matanya merah dan berair. Di tangannya, ia menggenggam sesuatu yang menghitam, koin besar, rata dan terlalu gelap, tanpa ukiran. Ia mengibas-ngibaskannya ke udara seolah benda itu bisa memanggil perhatian.
“Belikan aku sebelas Dril saja!” suaranya serak tapi masih kuat. “Sebelas Dril untuk beberapa sloki lagi, dan koin ini milikmu.”

Seekor anjing kurus mengendus kaki telanjangnya dan menjauh ketika disepak lemah.

Seorang perempuan dengan keranjang sayur mendesis ketika lewat, tidak berhenti. “Kalau itu sungguh berharga, kau mabuk di dalam, bukan mengemis di luar.”

Pria itu tertawa pendek, lalu batuk, tubuhnya tersentak. Ia menyeka mulutnya dengan punggung tangan, meninggalkan garis kotor di pipinya sendiri. Matanya berkeliling, melewati Cressa, kembali lagi sebentar, lalu berpindah pada orang lain yang tampak lebih mudah ditipu.

“Tujuh Dril,” katanya lagi, nadanya menurun. “Satu Dril saja.”

Tidak ada yang berhenti. Kedai tetap melahap orang. Kedai memuntahkan mereka. Koin hitamnya tetap di tangannya.

Cressa mempercepat langkah ketika ia melewati pria itu, merasakan sepasang mata merah itu mengikutinya sebentar sebelum bosan.

Lorong menyempit kembali setelah kedai. Di sini, suara lebih pelan, seolah batu-batu dinding mendengar terlalu banyak dan enggan memantulkan lagi. Bangku-bangku kayu menempel pada tembok, dan beberapa di antaranya terisi.

Mereka yang duduk tidak tampak seperti pedagang. Jubah mereka terlalu polos untuk orang yang menjual sesuatu, wajah mereka terlalu tenang untuk orang yang membeli. Satu memegang buku catatan kecil, menulis dan mencoret sesuatu tanpa melihat ke jalan. Satu lagi menggulung dan membuka gulungan kertas tanpa benar-benar membaca. Seorang perempuan muda bermain dengan sarung tangan kulit tua, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya.

Di atas kepala mereka, di dinding, ada tulisan kapur yang mulai luntur: “Thirtening.”

Cressa membacanya pelan-pelan, di dalam kepala. Ia pernah mendengar nama itu berbisik-bisik di tempat lain. Di Drilent, semua nama yang bagus diucapkan pelan. Semakin pelan, biasanya semakin mahal.

Pintu di samping tulisan itu terbuka sebentar. Dalam sekejap itu, ia melihat ruangan sempit dengan meja, lampu rendah, dan beberapa kepala yang serempak menoleh. Mata-mata itu menakar siapa yang ada di pintu, memutuskan dia bukan urusan mereka, lalu pintu menutup lagi. Thirtening tak pernah sepi. Selama ada Dril, selalu ada orang yang mau melakukan sesuatu demi mendapatkannya. Selalu ada orang yang mau membayar orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin mereka ingat.

Cressa terus berjalan. Kantung kecil di pinggangnya masih berat. Plat di dalamnya seolah menariknya ke bawah, mengingatkannya langkah demi langkah pada tujuan yang belum boleh ia lupakan.

Belokan terakhir menuruni undakan batu yang aus. Dian-dian kecil menggantung acak di dinding, sebagian padam, sebagian menyala redup, cahayanya lebih banyak menciptakan bayangan daripada mengusirnya. Di ujung sana, di dinding terakhir, sebuah pintu berdiri sendirian.

Pintu itu tidak punya jendela. Tidak punya papan nama. Tidak punya lambang. Dicat hitam dari ambang sampai lantai, dari bingkai sampai sisi-sisinya. Catnya tidak mengelupas, meski dinding di sekelilingnya retak-retak, ditumbuhi lumut, dan mengelupas seperti kulit tua. Seolah satu-satunya hal yang dirawat di gang itu hanyalah pintu itu sendiri.

Cressa melambat tanpa sadar. Langkah-langkah di belakangnya menipis. Mereka yang datang sejauh ini biasanya tahu harus belok ke mana sebelum pintu itu. Atau memilih kembali ke arah kedai dan pelacuran. Jalan menuju pintu jadi lebih sepi, lebih tipis suaranya.

Ia berhenti beberapa langkah dari pintu. Dari dekat, cat hitam di permukaannya tidak sepenuhnya rata. Ada bekas sikat, garis melengkung kecil di sudut, tempat seseorang pernah mengusapnya dengan tangan bersarung atau telanjang. Tidak ada gagang yang jelas, hanya bidang kayu mulus dengan satu paku kecil, gelap, menonjol sedikit.
Ia mengangkat tangan, tapi tidak langsung menyentuh. Jantungnya berdetak terlalu keras untuk ruang sesempit itu. Orang yang memberinya plat tidak bilang apa-apa tentang ketakutan. Hanya bicara soal harga, syarat, dan apa yang akan terjadi kalau ia gagal.

“Kau tidak akan gagal kalau kau tidak lari,” kata orang itu. “Yang lain urusan mereka.”

Itu tidak persis menenangkan.

Di belakangnya, suara Drilent masih terdengar samar: gelak di kedai, panggilan pedagang, pekik pendek seseorang yang tersandung, suara sayap binatang dalam kandang. Lorong penuh tongkat, ramuan, artefak, binatang, tubuh di balik tirai merah, dan lelaki mabuk yang mencoba menukar koin hitam dengan satu teguk pelarian.

Kota selalu punya banyak pintu. Kebanyakan orang memilih pintu yang tidak mengintip balik.

Cressa menarik napas pelan dan dalam, merasakan udara lembap mengisi dadanya. Bau Dril ada di dalam napas itu, tipis tapi jelas. Bukan dari plat kecil di kantungnya, bukan dari ramuan yang ia lewati tadi. Bau Dril yang menempel di tempat yang terlalu lama menyimpan hal-hal yang sebaiknya tidak disebutkan.

Ia mengangkat tangan, menyentuhkan buku-buku jarinya ke permukaan pintu. Kayu di balik cat terasa dingin, lebih dingin dari udara, lebih dingin dari logam kecil di kantungnya. Tidak ada getaran, tidak ada sihir yang meledak. Hanya dingin, dan kesan bahwa pintu itu sudah menyentuh banyak tangan lain sebelumnya.

Ia mengetuk sekali.

Suara ketukan hilang dalam kayu, tidak memantul. Sesuatu di dinding sekitarnya berubah, bukan bentuknya, hanya rasanya. Udara di belakang pintu terasa lebih padat, seolah seseorang menahan napas di sana.

Cressa menunggu. Satu detak. Dua. Lima.

Di Drilent, tidak ada jam pasir. Waktu diukur dengan lamanya seseorang berdiri di tempat yang tidak seharusnya mereka ketahui ada.

Ia mengangkat tangan untuk mengetuk kedua kali ketika suara kecil terdengar dari sisi lain pintu, suara kayu bergeser dari dalam, bukan seperti palang dibuka, lebih seperti lapisan yang ditarik. Sebaris cahaya tipis, pucat, menyelinap dari celah yang tiba-tiba muncul di dada pintu. Bukan cahaya siang, bukan cahaya lilin. Cahaya sihir, dingin dan tenang.

Satu mata muncul di celah itu. Hanya mata. Bukan wajah. Bukan hidung. Bukan mulut. Hanya satu mata yang menatap keluar, menilai, seperti mata pedagang tongkat di dalam jendela.

"Kami tidak buka untuk semua orang,” kata suara di balik pintu. Suara itu datar, gendernya tidak jelas, usianya tidak jelas. Seperti suara yang dipakai untuk membacakan Hukum, tetapi lebih malas.

Ia menahan napas sepersekian, lalu membiarkannya keluar pelan.

“Aku tahu,” jawabnya pelan.

Mata itu tidak bergerak. “Lalu kenapa kau di sini?”

“Karena ada orang yang ingin pintu ini mengingatku,” Cressa mengulur tangan pelan, menarik sedikit ujung kantungnya, cukup agar cahaya pucat dari celah menyentuh bentuk plat kecil di dalam. Tidak banyak. Sekilas. Seperti menampilkan gigi pada anjing lain.

Cahaya menyentuh logam, dan untuk sesaat, plat itu memantulkannya dengan cara yang aneh, seolah menolak warna, menelan bentuk.

Mata di balik celah itu menyipit.

“Dari mana kau dapat itu?” tanya suara itu akhirnya.

“Dari orang yang tidak suka disebut,” sahut Cressa. Itu jujur. “Dan yang jauh lebih tidak suka dicari.”

Jawaban itu menggantung di antara mereka, tipis, tapi cukup tajam.

“Siapa namamu?” tanya suara itu lagi.

Pertanyaan yang sederhana. Di Drilent, itu pertanyaan yang jarang dijawab jujur.

“Di sini?” Cressa mengangkat sedikit bahu. “Hari ini kau bisa panggil aku apa saja. Selama pintunya yang ini.”

Mata itu menatapnya lama sekali, seolah mencari sesuatu di balik kulit dan tudung. Sesuatu yang bisa dimasukkan dalam kategori ancaman, peluang, atau masalah yang bisa dibiarkan lewat.

“Orang yang membawa logam seperti itu ke sini,” kata suara itu pelan, “biasanya membawa masalah.”

“Aku hanya membawa barang,” sahut Cressa. “Masalahnya milik orang lain.”
Ia berharap kedengarannya lebih berani dari yang ia rasakan.

Keheningan jatuh lagi. Di lorong, jauh di belakangnya, seseorang tertawa keras. Di depan, satu mata tidak berkedip.

Akhirnya, celah itu menutup perlahan, menghapus cahaya.

Pintu tidak langsung terbuka. Ada suara kecil di dalam, suara gesekan logam, gesekan kayu, suara tumpul sesuatu digeser. Cressa mengencangkan jemarinya di sekeliling kantung kecil di pinggang, merasakan tepi plat menekan kulitnya.

Ini pintu yang benar, ia berharap.

Dan kalau tidak?

Ia membayangkan kembali wajah orang yang memberinya plat, bayangan tangan yang tenang ketika menyodorkan benda kecil itu melintasi meja. Tidak ada ancaman dalam kata-katanya, hanya kejelasan. Drilent punya caranya sendiri untuk memastikan orang yang salah tidak kembali.

Palang di dalam bergeser. Pintu hitam bergerak ke dalam, membuka celah cukup lebar untuk satu tubuh lewat.

“Masuk,” kata suara tadi, kini tanpa perantara kayu. “Dan kalau kau ingin keluar, jangan pernah tanyakan dari siapa kau mendapatkan itu.”

Cressa menarik napas terakhir sebagai orang di luar, lalu melangkah melewati ambang.

Di belakangnya, Drilent menutup pintu dengan sendirinya, mengurung bau bawang goreng, ramuan, keringat, dan Dril di luar. Di depannya, bau lain menunggu, bersama orang-orang yang tidak peduli siapa dirinya, selama logam kecil di kantungnya masih memiliki nilai.

Itu bagian yang paling ia sukai dari tempat seperti ini.

Untuk sementara, semua orang akan pura-pura tidak tahu.
Di Drilent, pura-pura adalah bentuk perlindungan. Sampai seseorang berhenti melakukannya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✶ PUNCAK MUSIM PANAS ✶

Keputusan besar sering dibuat ketika seseorang telanjang.

Naera belajar itu bukan dari kitab, bukan dari doa. Ia belajar dari jeda. Sebuah tarikan napas yang tersangkut sepersekian detik ketika kunci diputar dari luar, dan lelaki di atasnya tetap tidak menoleh seolah pintu itu miliknya juga.

Tidak terkejut. Tidak pernah.

Di sayap barat Kementerian, jeda seperti itu lebih berharga daripada emas.

Kamar itu panas seperti tungku yang disembunyikan di balik sopan santun. Panas mengendap di tirai anggur tua, karpet mahal, dan batu yang menyimpan hangat lilin lebah. Dan yang paling setia, di kulit manusia.

Ranjang tidak diletakkan di tengah ruangan. Ranjang itu bersembunyi, seperti sesuatu yang dilakukan orang-orang terhormat ketika mereka ingin tetap disebut terhormat.

Empat tiang kayu gelap menahan kanopi. Tirai digantung setengah, cukup rapat untuk memecah tubuh jadi bayangan, tidak cukup rapat untuk meredam suara. Dari luar, siapa pun yang tahu kapan harus menunduk akan melihat siluet bergeser pelan, kain berdesir, tangan terangkat lalu jatuh kembali. Selebihnya kamar menuntut semua orang bekerja sama, pura-pura tidak tahu—dan pura-pura tidak mendengar apa yang terjadi di atas ranjang itu.

Naera sudah belajar pura-pura sejak ia punya badan yang bisa dinilai, dan sejak itu ia tidak pernah benar-benar berhenti belajar.

Punggungnya lengket, rambut menempel di pelipis. Ia terlentang di bawah Menteri Sihir Lyran Caelmont. Pahanya dibuka oleh kebiasaan, bukan oleh keinginan. Berat tubuh lelaki itu menekan perutnya seperti buku tebal yang tak pernah dibaca tapi selalu dipakai memukul kepala orang lain. Napasnya jatuh di leher Naera—hangat, malas, yakin.

Tangan yang menandatangani penyitaan Dril kini mencengkeram pinggang Naera tanpa ragu. Cincin Segel Kementerian menyentuh kulit—dingin, selalu dingin. Naera dulu mengira ada sihir di situ. Lalu ia paham bahwa itu kebiasaan orang yang tidak pernah berkeringat untuk apa pun kecuali tubuh orang lain.

Di sisi lain, dua perempuan lain bergerak bergantian, terlatih seperti para pelayan yang menghafal jadwal lilin. Yang satu bernama Maris—wajahnya lembut, tapi matanya sudah lama belajar tidak memohon. Yang satunya Hedra—lebih muda, lebih cepat, tertawa lebih sering di luar kamar, diam lebih sering di dalamnya.

Mereka tidak saling menatap. Menatap terlalu lama membuat semuanya terasa seperti pertemanan, dan di Kementerian, pertemanan adalah kemewahan yang dibayar mahal, kadang dengan darah, kadang dengan “kecelakaan” yang terdengar rapi di laporan.

Naera menyentuh punggung Lyran sebentar saja, sentuhan kecil yang menandai bahwa ia masih “bekerja”.

Di kepalanya, bagian lain dari dirinya menyusun kamar dari bunyi, kain, napas, gesek seprai, dan yang paling ia percaya, bunyi orang-orang berkuasa ketika mereka merasakan kenikmatan.

Di luar tirai, kunci diputar.

Bukan suara pelayan.

Pelayan selalu ragu. Selalu ada jeda malu. Bunyi ini bersih, cepat, milik orang-orang yang tahu pintu akan selalu dibuka untuk mereka, cepat atau lambat.

Langkah sepatu di marmer. Satu pasang, lalu dua, lalu empat. Empat orang berjalan dengan jarak aman satu sama lain—kebiasaan pejabat ketika mereka datang membawa angka dan masalah, dan ingin tetap bisa menyangkal kedekatan jika kelak ada yang menyusahkan mereka.

Ada kain jubah digeser. Gulungan dibuka. Jari diketuk sekali pada meja, bukan dua, orang yang mengetuk dua kali biasanya ingin terdengar penting.

“Mulai,” kata Lyran, dekat di telinga Naera, tapi ditujukan keluar.

Perintah itu tidak keras. Tidak perlu.

Hedra mengeluarkan suara kecil, terlatih—suara yang tepat pada waktu yang tepat—seperti kunci yang diputar dari dalam. Lyran menggeram rendah, puas, lalu bergerak lagi seolah rapat itu hanya angin yang lewat.

Di luar tirai, seseorang berdehem.

“Ujian Inisiat siklus depan,” kata suara itu. Suara pria muda yang berusaha terdengar tua. “Kebutuhan Dril naik. Cadangan kita tidak memadai.”
Naera membayangkan wajah itu tanpa pernah melihatnhya, pipi masih terlalu penuh, rambut terlalu rapi, tangan selalu berbau tinta. Bendahara.

“Tomas Rell,” sapa Lyran, seolah nama itu selembar kertas yang bisa dilipat dan disimpan. “Seberapa jauh?”

“Dua puluh persen, Yang Mulia.” Tomas menjawab cepat, terlalu cepat. “Dan itu masih—”

“Berhati-hati,” potong Lyran. Nada lembut yang mengandung paku. “Aku tahu.”

Tangan di pinggangnya mengencang. Ia mengingat lagi, tanpa diminta, bahwa di kamar ini, bahkan angka bisa dianggap penghinaan. Ada jeda. Di jeda itu ia mendengar gulungan dirapikan, seolah kata-kata bisa dibersihkan dari rasa takut. Lalu suara lain masuk, yang lebih tua, lebih kering, seperti perkamen dibuka di ruangan lembap. Suara yang tidak mencoba menyenangkan siapa pun.

“Dril memang tidak tumbuh,” katanya. “Ia digali.”

Dalam kalimat itu ada kebiasaan, orang yang selalu mulai dari definisi. Orang yang percaya jika sebuah hal diberi nama benar, ia akan patuh.

“Vassir...,” kata Lyran, seperti menyebut jabatan, bukan orang.

“Vassir Caidren, Yang Mulia,” suara itu membetulkan pelan. Bukan demi kehormatan. Demi ketidakmampuannya melihat sesuatu disebut setengah. “Dan yang menggali sekarang bukan kita.”

“Vasaria,” gumam seseorang.

Kalimat itu keluar bukan sebagai fakta, melainkan sebagai rasa tidak suka.

“Delapan puluh persen,” Vassir Caidren berkata, tanpa ragu, seolah angka itu sudah disalin berkali-kali sampai menempel di lidah. “Tambang aktif. Jalur distribusi. Kontrak penyuplai. Delapan puluh.”

Di bawah kanopi, Naera merasakan tubuh Lyran menegang sepersekian, sangat halus, seperti orang yang baru sadar ada paku di bawah karpet.

“Delapan puluh bukan seratus,” kata Lyran tenang. “Seratus pun bukan jaminan ketaatan.”

“Bukan seratus,” Caidren mengulang, dingin, “tapi cukup untuk membuat ujian berhenti kalau mereka memilih.”

Maris menyentuh bahu Lyran, lembut, seperti menenangkan kuda. Naera hampir tertawa. Tidak ada yang menenangkan Menteri Sihir. Lyran hanya berhenti jika berhenti lebih menguntungkan.

“Aku tidak akan datang ke Vasaria,” kata Lyran akhirnya.

Kalimat itu jatuh berat bukan karena keras. Karena ia tidak memberi ruang untuk tawar. Tomas Rell menelan ludah. Naera mendengar dari cara gulungannya bergetar ketika ia menggenggamnya terlalu kuat.

“Aku tahu apa artinya,” lanjut Lyran. “Mereka ingin kunjungan langsung. Mereka ingin aku berdiri di gerbang mereka seolah Kementerian datang meminta perlindungan.” Ia berhenti sebentar, memilih kata yang paling tajam tanpa menaikkan suara. “Dan aku tidak memberi ilusi kesetaraan pada keluarga yang hidup dari lubang.”

Ada gesekan kecil di luar tirai, bukan kursi, bukan meja. Bunyi kulit menggesek kain. Seseorang memakai sarung tangan. Melepasnya. Memakai lagi.

Naera langsung tahu itu siapa, tanpa perlu nama. Orang-orang itu selalu sibuk dengan sarung tangan, seolah dunia kotor dan mereka cuma menyentuhnya jika dunia membayar mereka.

“Utusan,” kata suara lain, lebih pendek, lebih lugas. Suara pria yang biasa mengakhiri rapat dengan keputusan, bukan perasaan. “Jika Yang Mulia tidak datang, seseorang harus membawa pesan.”

“Pesan apa?” tanya Lyran.

“Bahwa kita tidak memohon,” jawabnya, “tapi juga tidak menutup pintu.”

Pria itu bernama Rydan Kolt, Kepala Pengawal Dalam. Tangan kanan Lyran, kata orang. Rydan selalu bicara seperti pedang, tajam—langsung ke tulang, tidak peduli darahnya menodai karpet.

Suara lain masuk, lebih halus, lebih hati-hati, orang yang ingat bahwa semua hal bisa terdengar sebagai ancaman jika salah diucapkan.

“Pilih orang yang punya nama,” katanya. “Vasaria menghitung kehormatan seperti mereka menghitung Dril.”

Itu Ishan Merrow, Sekretaris Segel. Tangan kiri Lyran. Pria yang hidup dari memo, celah hukum, dan kalimat yang bisa dibaca dua cara.

Nama-nama disebut, bergulir seperti koin di atas meja, morwen Kementerian, vassie kecil dari arsip, pejabat Drilands yang menua di belakang meja, kesatria perbatasan.

Lalu nama itu muncul lebih jelas, seperti batu yang dijatuhkan ke air tenang.

“Ser Halden Darron.”
Di atasnya, Lyran berhenti bergerak sepersekian.

Naera merasakannya. Ia selalu merasakan ketika orang penting berhenti bergerak. Mereka berhenti bukan karena ragu. Mereka berhenti karena menghitung.

“Halden?” kata Lyran, menyebutnya seperti menimbang pedang tua. “Kesatria tua.”

“Dia punya nama,” Ishan menyelip. “Dan nama itu dikenali Vasaria.”

Lyran bergerak lagi, lebih keras, lebih ingin menang, seperti seseorang yang hampir merasakan klimaks.

“Utus dia. Besok pagi.”

Keputusan mengendap di ruangan seperti tinta yang baru ditekan.

“Dan kalau Vasaria tersinggung?” Tomas Rell bertanya, tanpa sadar, lalu segera menyesal.

Lyran tersenyum tipis. Naera merasakan senyum itu di kulitnya, bukan melihatnya.

“Mereka akan tersinggung apa pun yang kita lakukan,” kata Lyran. “Yang penting adalah apa yang mereka lakukan setelahnya.”

“Apa yang dia bawa?” tanya Vassir Caidren.

“Surat resmiku,” kata Lyran. “Dan kehormatan Kementerian.”

“Laporan tambahan,” kata suara lain, halus, seolah menawarkan teh. “Dari Avaross.”

Naera mengeluarkan bunyi kecil—bukan desahan. Lebih seperti napas yang hampir jadi tawa, lalu ditelan. Itu bukan suara khas Arsipal. Arsipal jarang tertawa. Arsipal mencatat.

Itu orang bersarung tangan. Dan seperti biasa, mereka memilih momen ketika orang lain merasa menang untuk menyelipkan pisau berikutnya.

“Avaross?” ulang Ishan.

Udara berubah. Bahkan di dalam tirai, Naera merasakan napas Lyran sedikit lebih pendek.

“Kota merdeka,” jawab si bersarung tangan. “Pulau koral itu.”

“Kota yang tidak tertulis di peta resmi,” Vassir Caidren menambahkan, seolah itu sudah cukup untuk menutup perkara.

“Dan justru karena itu,” suara bersarung tangan membalas, “kota itu sering menulis kita duluan.”

Ada bunyi kertas kecil digeser. Seolah seseorang membuka catatan yang tidak seharusnya dibuka di ruangan bersih.

“Nama lama disebut di sana,” lanjutnya, lebih lambat, membiarkan kata-kata jatuh satu per satu. “Hallowind.”

Tidak ada tawa. Tidak ada dengus.

Lyran diam cukup lama untuk menunjukkan ia tidak mengabaikannya, dan tidak cukup lama untuk terlihat takut.

“Lima abad,” kata Lyran akhirnya. “Cukup lama untuk membuat kebohongan terasa seperti sejarah.”

“Atau sebaliknya,” jawab suara bersarung tangan. “Cukup lama untuk membuat sejarah terasa aman disebut kembali.”

Tomas Rell mengeluarkan bunyi kecil—hampir protes, tapi tak berani jadi kata. Vassir Caidren menegang, kaku, cepat, seperti orang yang tak suka rumor menodai raknya.

“Arsipal tidak menemukan catatan resmi tentang sisa mereka,” katanya. “Jika ada, itu hanya cerita yang kau jual untuk Dril.”

“Kalian selalu bilang ‘tidak ada’,” suara bersarung tangan membalas, tetap lembut—dan justru itu yang membuatnya kejam. “Karena kalau ada, kalian harus mengaku catatan kalian pernah bolong.”

Nada Vassir Caidren menegang, halus, seperti tali ditarik terlalu keras.

“Will,” katanya pelan, dan untuk pertama kali Naera menangkap nama itu disebut, tanpa perlu dijelaskan. “Thirtening tidak berhak—”

“Cukup,” potong Lyran.

Naera merasakan tangan itu mengencang di pinggulnya. Ini bukan lagi soal tiga perempuan di ranjang. Ini soal dua lembaga yang saling membenci berdiri terlalu dekat dengan satu pintu.

“Aku tidak akan memburu hantu,” kata Lyran. “Aku tidak akan mengirim orang ke pulau selatan hanya karena informan Thirtening ingin menaikkan harga.”

Willam tertawa kecil, tidak benar-benar lucu.

“Informan kami tidak minta harga,” katanya. “Mereka sudah dibayar. Yang kami sampaikan hanya… kewaspadaan.”

“Kewaspadaan membuat orang miskin,” Lyran membalas. “Dan aku tidak butuh itu.”

Naera menelan napas. Ia merasakan sesuatu yang ia kenal baik, muak yang harus dibungkus seperti hadiah. Kalau muak keluar mentah, ia jadi alasan hukuman.

Ia memaksa dirinya bergerak—lengkung punggung, suara kecil di tenggorokan—cukup untuk membuat Lyran merasa dunia kembali padanya. Itu bukan kelemahan. Itu alat. Dan ia muak karena ia pandai menggunakannya.
“Pantau,” kata Lyran akhirnya, seperti memberi tulang agar anjing berhenti menggonggong. “Tidak lebih.”

Ishan Merrow menyahut cepat, selalu ingin terdengar berguna. “Kami bisa menaruh orang di pelabuhan Drilands. Jika ada kapal dari Avaross—”

“Aku bilang pantau,” ulang Lyran. “Jangan membuat Asidental tampak takut pada rumor.”

Sunyi singkat. Lalu bunyi lain, gulungan dibuka lagi.

Kali ini suara yang masuk bukan bendahara, bukan Arsipal, bukan Thirtening. Suara itu datang dari batu. Datar. Berat. Dan terbiasa didengar orang-orang dengan kepala menunduk.

“Kalau kita bicara soal rumor,” kata Serath Vaudren, Magi Tertinggi, “aku punya satu lagi—lebih dekat, lebih murah, dan lebih menjengkelkan.”

Naera pernah melihat stempelnya di lilin ungu. Ia tak pernah melihat wajahnya jelas. Orang seperti Serath tidak butuh wajah. Mereka hidup dari keputusan.

“Apa?” tanya Rydan Kolt, suara prajurit yang ingin selesai.

“Perhimpunan,” kata Serath. “Dua sidang Majelis pekan ini. Pengkhianatan kecil. Etika. Beberapa nama.”

Ada bunyi kertas digeser. Ada orang yang mencatat, karena inilah jenis hal yang membuat seseorang kehilangan jabatan tanpa pernah disentuh pedang.

“Kementerian mengurus Majelis,” kata Lyran, malas.

“Majelis mengurus Kementerian,” Vassir Caidren membetulkan tanpa sadar, kebiasaan definisinya. Lalu diam. Terlambat.

Naera mendengar tawa kecil dari Thirtening—bukan tawa kemenangan, tawa orang yang baru saja melihat retak yang sudah lama ada.

“Nama Arven Leonhardt,” kata Serath pelan, seperti menyebut catatan lama yang terbakar setengah. “Dan sahabatnya yang terlalu bodoh.”

“Dan menariknya...,” kata Serath melanjutkan, seperti hakim yang mengumumkan cuaca.. “Sepertinya Thirteningmu terlibat dalam hal ini, Will.”

“Bukan salahku jika ada yang meminta bantuan Thirtening,” Will mengangkat bahu, halus, seperti menambah gula ke teh. "Selama mereka mempunyai cukup Dril."

Tomas Rell bergeser gelisah. Di kepalanya angka-angka mungkin sedang berubah jadi wajah.

“Thirtening mengumpulkan terlalu banyak,” Vassir Caidren berkata, dingin.

“Dan Arsipal menyimpan terlalu lama,” Thirtening membalas.

“Cukup,” kata Lyran, kali ini ujungnya tajam. “Aku memanggil kalian bukan untuk mendengar kalian saling bertengkar.”

Naera merasakan perubahan itu di tulang. Lyran mengakhiri, bukan berdebat. Menteri tidak pernah suka menutup rapat dengan kalah, ia menutup rapat dengan seolah ia memilih berhenti. “Kalian sudah memberi aku apa yang perlu,” kata Lyran. “Ujian berjalan. Halden berangkat. Avaross dipantau. Tidak ada pengejaran.”

"Sekarang keluar."

Ketika kata-kata pergi, tubuh selalu dipakai untuk menutupnya.

Suara sepatu menjauh. Kertas digulung. Pintu dibuka dan ditutup. Tak ada salam. Tak ada “terima kasih.” Orang-orang yang memegang kota jarang berterima kasih pada apa pun selain kebetulan.

Tirai tetap setengah tertutup.

Di dalam kanopi, dunia menyempit lagi jadi tubuh dan napas.

Lyran melambat, puas, lengah. Ia berguling setengah, mengembus napas panjang seperti orang yang baru meletakkan beban. Tangan bercincin Segel masih menyentuh pinggang Naera sebentar, lalu pergi juga—bukan karena Naera menariknya, tapi karena pria itu selesai.

Naera berbaring diam. Keringat mendingin di perutnya. Rambut menempel di pipi. Napas pelan-pelan kembali miliknya sendiri, serta satu helaan yang ia curi dari ruangan megah ini.

Di luar tirai, masih ada satu langkah yang tidak pergi secepat yang lain. Orang seperti itu selalu tinggal sebentar. Selalu ingin memastikan keputusan terakhir terdengar seperti miliknya.

“Ada satu hal lagi, Yang Mulia,” kata Ishan Merrow, rendah.

Lyran menghela napas, malas, tanpa membuka mata. “Apa lagi?”

“Hubungan Arsipal dan keluarga itu buruk,” kata Ishan hati-hati, seolah nama itu punya gigi. “Jika Thirtening ikut campur terlalu jauh—”

“Aku mengerti,” Lyran memotong.
Naera tahu cara pria seperti Lyran menyukai kata yang ia ucapkan sendiri. Keputusan. Segel. Kementerian. Semua kata yang berbunyi seperti palu, padahal palunya selalu jatuh ke kepala orang lain.

“Yang Mulia,” Ishan menunduk, undur diri. Pintu ditutup.

Dunia kembali jadi ranjang. Naera memejamkan mata. Lalu membuka lagi. Karena ia tidak punya kemewahan untuk tidur. Di tempat seperti ini, tidur hanya milik orang yang tidak perlu mengingat.

Naera mengingat.

Bukan karena suci. Bukan karena ingin jadi pahlawan. Tapi karena ingatan adalah satu-satunya hal yang tidak tercatat di gulungan mereka—dan yang tidak tercatat kadang tidak bisa dipungut pajaknya.

Ia bangkit pelan. Meraih kain tipis dekat bantal. Tirai berdesir ketika ia menyampirkannya ke bahu, menyembunyikan kulit yang masih hangat. Lyran tidak bangun. Pria itu sudah kembali jadi singa yang tertidur.

Cahaya tipis masuk ketika Maris menggeser tirai untuk keluar. Seberkas cahaya memotong ruangan seperti pisau.

Di sela cahaya itu Naera melihat meja, wadah Dril, peta-peta, gulungan bertumpuk, segel. Benda-benda yang mengatur hidup orang lain tanpa pernah berkeringat. Dan di antara tumpukan, selembar kertas tertinggal—ujungnya menonjol, tinta masih agak basah di satu sudut, seolah seseorang menulisnya terlalu cepat.

Naera melangkah pelan, telanjang kaki di karpet mahal. Berhenti cukup dekat untuk membaca tanpa menyentuh.

Nama itu berdiri sendiri, tergesa tapi jelas.

Ser Halden Darron.

Ia menatapnya sampai bentuk hurufnya menempel di kepala. Nama itu tidak seharusnya tinggal di kepala orang seperti dia.

Nama itu akan berjalan ke utara—ke batu kelabu, ke lubang-lubang tambang yang terlalu tenang, ke keluarga yang memegang delapan puluh persen tanah dan seratus persen kesombongan. Dan di suatu tempat jauh di selatan, seseorang menyebut Hallowind, dan Menteri tidak tertawa—hanya mengira dunia cukup aman untuk mengabaikannya.

Musim panas selalu membuat orang merasa aman.

Naera kembali ke ranjang. Duduk sebentar di tepi, merasakan pegal di pinggul dan rasa sakit di kemaluannya. Ia merapikan kain di bahunya. Ia melirik Lyran sekali—bukan dengan benci, bukan dengan cinta.

Ia menghela napas pelan. Lalu diam. Diam juga kerja, di tempat seperti ini.

Namun hari ini Naera tidak bisa menutup rapatnya sendiri begitu saja. Hari ini ia mendengar terlalu banyak nama yang tidak seharusnya singgah di telinga orang seperti dia.

Dan telinga, di Kementerian, bisa jadi alasan untuk dipotong.

Ia bergerak ke sisi tempat pakaian ditumpuk, cepat tapi tidak tergesa. Ia berpakaian seperti orang yang sudah berkali-kali belajar, tergesa membuat orang curiga, lambat membuat orang lelah dan kejam.

Di pintu kecil belakang kanopi, ia membuka celah.

Koridor luar dingin oleh batu dingin yang palsu, dingin yang ditanam supaya orang-orang merasa Kementerian “bersih”. Seorang penjaga berdiri di ujung lorong, tombaknya tegak. Mata penjaga itu menyapu dirinya sekali, lalu berpindah, seolah Naera hanya bagian dari perabot. Itu sopan, di Kementerian. Itu juga cara untuk bertahan hidup. Naera menghargainya lebih dari sapaan.

“Cepat,” bisik Maris di belakangnya, hampir tanpa suara. “Hari ini… suasananya aneh.”

“Semua hari aneh,” Naera membalas, sama pelannya.

Ia berjalan melewati lorong, melewati pintu-pintu yang selalu tertutup, melewati lukisan para Menteri lama yang wajahnya tampak suci karena sudah lama mati. Ia menahan kepala agar tidak menoleh ke mana-mana, menoleh membuat orang berpikir kau mencari sesuatu.

Di tikungan, ia hampir menabrak seorang pelayan yang membawa nampan perak. Pelayan itu lelaki tua bernama Savren Tull—punggungnya bungkuk, tapi langkahnya masih tahu kapan harus tenang. Di nampannya ada teko kecil, dua cangkir anggur, dan satu kotak kayu tipis yang disegel.

Savren menatap Naera terlalu lama.

Ia tahu tatapan itu, tatapan orang yang menimbang apakah seseorang baru saja mendengar sesuatu yang tidak seharusnya ia dengar.

“Kau kelihatan pucat, Nar,” kata Savren.
Itu “nama kerja” Naera, yang dipakai kamar-kamar seperti ini. Nar. Pendek. Mudah dibuang.

“Aku selalu pucat,” jawab Naera. Ia tersenyum kecil, cukup agar Savren merasa ia tidak menyimpan apa pun selain rasa lelah. Savren menatap kain di bahunya, lalu menatap rambutnya yang masih basah keringat, lalu menatap matanya—mencari panik.

Naera tidak panik. Panik adalah bukti.

“Yang Mulia… tidur?” kata Savren, sengaja membuat kata itu terdengar seperti sopan.

“Yang Mulia selalu tidur setelah keputusan,” Naera menjawab. Ia menunduk sedikit, seperti perempuan yang tahu batas.

Savren mengangguk, tapi matanya sempat melirik kotak kayu bersegel di nampannya, segelnya juga retak tipis di tepi, seakan lilin itu tidak suka dipaksa patuh. Ada sesuatu di retak yang sama-sama ia kenali dan benci, tanda bahwa sesuatu sudah disentuh orang lain sebelum kau sempat menutupnya rapat.

“Jangan lama di lorong,” kata Savren akhirnya. Bukan perintah, bukan nasihat. Lebih seperti belas kasihan yang tidak mau ia akui sebagai belas kasihan. “Hari ini banyak telinga.”

“Bukankah selalu?” Naera bertanya, ringan.

Savren tidak tertawa. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, seperti orang yang mengakui kebenaran tanpa ingin diseret untuk membenarkannya.

Naera lewat.

Ia bisa saja kembali ke kamar sempit yang disediakan Kementerian, tempat yang cukup aman untuk hari ini, cukup dekat untuk dipanggil lagi besok atau malam nanti. Tapi pikirannya terasa penuh, seperti bejana yang terlalu lama ditaruh di bawah tetesan yang sama.

Ia ingin diam di tempat yang tidak menulis namanya.

Ia sudah memikirkannya sejak siang—sebelum rapat ini, sebelum nama-nama itu, sebelum tubuh Lyran dan tubuhnya bersatu.

Kortavel Suci Aphoteon.

Keinginan itu tidak suci. Keinginan itu sederhana, sebuah tempat yang tidak bertanya apa yang baru saja terjadi kepadanya, dan tidak meminta jawaban.

Naera keluar lewat pintu samping, melewati halaman dalam yang batu-batunya licin oleh panas yang disiram air. Matahari masih tinggi, memukul atap dan membuat kota tampak lebih bersih daripada yang sebenarnya. Di luar tembok Kementerian, orang-orang berjalan dengan urusan mereka sendiri, pedagang kecil, anak pembawa air, penjaga lelah dengan perempuan yang memiliki senyum sama sepertinya.

Tidak ada yang memperhatikannya lebih dari sepersekian.

Di kota ini, perempuan sendirian bukan hal aneh. Yang aneh justru kalau ada yang bertanya terlalu banyak.

Saat ia menyeberangi jalan batu menuju dataran yang sedikit lebih tinggi, dentang lonceng terdengar dari arah jauh—bukan lonceng Kementerian. Nada lonceng Kortavel berbeda, lebih tua, lebih berat, tidak terburu-buru menyenangkan siapa pun.

Naera mempercepat langkah. Tidak karena ia terlambat. Ia tidak punya jadwal di sana. Ia mempercepat langkah karena ia takut pikirannya sendiri akan berubah jadi gulungan, dan gulungan selalu berakhir di rak orang lain.

Di depan pintu Kortavel, ia berhenti.

Pintu itu tidak menahan. Pintu itu hanya berdiri, seolah mengatakan, masuk atau tidak, dunia tidak akan menunggu keputusanmu. Naera masuk.

Ia tidak melihat-lihat. Ia tidak mengulang apa yang sudah orang lain ucapkan tentang tempat suci ini. Ia hanya menukar napas, dari napas Kementerian yang panas dan manis palsu, ke napas batu yang lebih dingin dan lebih jujur.

Ia memilih bangku batu paling belakang, sisi kiri.

Bukan karena ia suka sisi kiri. Karena bangku itu memberi dua hal: punggungnya tidak menghadap ruang, dan wajahnya tidak menghadap siapa pun. Ada orang yang duduk di bangku depan, ada yang berdiri dekat lingkaran lilin. Naera tidak menghitung. Menghitung adalah kebiasaan yang sulit mati.

Ia duduk. Ia menaruh kedua telapak tangan di pahanya. Ia membiarkan lututnya tetap lurus.
Ia tidak berlutut. Tidak hari ini. Lututnya masih pegal oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan iman, dan Naera tidak suka berpura-pura kepada tempat yang tidak meminta pura-pura.

Di samping bangkunya, di celah batu, ada lilin yang sumbunya retak. Api kecilnya bergoyang, bukan jatuh, tidak juga menyerah. Retaknya membuat nyalanya tampak seolah punya dua hati.
Naera menatapnya sebentar, lalu menoleh. Terlalu lama menatap hal seperti itu membuat orang berharap. Dan berharap adalah kebiasaan yang lebih berbahaya daripada muak.

Di dinding dekat bangku, ada ukiran doa yang aus—huruf-huruf tua yang ujungnya hilang, seakan batu itu sendiri sudah lelah mengingat kalimat yang sama. Naera tidak membaca keras-keras. Ia hanya membiarkan matanya menangkap sebagian kata, lalu melepaskannya.

Di depannya, seorang lelaki tua menyentuh dahi, dada, bahu. Tangannya gemetar. Gerakan itu terlalu akrab untuk jadi khusyuk, terlalu terlatih untuk jadi pura-pura. Naera tiba-tiba merasa… bukan iri.

Kasihan.

Perasaan itu datang sebentar, seperti angin yang menyelinap di sela pintu. Naera tidak mengusirnya. Ia juga tidak memeliharanya. Kasihan yang dipelihara terlalu lama akan menuntutmu melakukan sesuatu.

Naera tidak punya ruang untuk melakukan apa pun selain bertahan.

Ia menutup mata.

Ia tidak meminta keselamatan besar. Tidak meminta keadilan. Ia hanya ingin hari ini berlalu tanpa meninggalkan sesuatu.

Langkah pelan terdengar dari sisi samping. Seorang pemuda berjubah abu-abu lewat membawa baki lilin. Ia berhenti sebentar ketika melihat Naera—bukan untuk menilai, hanya memastikan ada orang di bangku itu.

“Kau ingin menyalakan satu?” tanyanya pelan.

Naera mengangguk. Ia berdiri pelan.

Ada jeda aneh di bawah tulang rusuk—seperti napasnya tersangkut bukan di dada, tapi lebih rendah. Ia menunggu beberapa saat, memastikan itu bukan pusing.

Tidak.

Ia merapikan kain di pinggangnya, menekan telapak tangan sebentar di sana hanya untuk memastikan kainnya jatuh rapi, lalu menarik tangannya kembali seolah sentuhan itu tak berarti.

Pemuda itu menyerahkan lilin kecil. Naera menyalakannya dari api terdekat, lalu menaruhnya di celah batu. Ia tidak menyebut nama.

Naera menyalakan lilin kecil itu dan menaruhnya di celah batu bersama lilin-lilin lain. Banyak yang sumbunya retak. Banyak yang melelehnya membeku setengah jalan. Ketika ia pergi, pintu Kortavel tetap terbuka. Tidak ada yang bertanya ia datang untuk apa. Tidak ada yang menghitung berapa lama ia duduk.

Itu cukup.

Untuk hari ini, itu lebih dari cukup.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✦ PANDUAN RESMI BAGI INISIAT ✦
Kementerian Sihir Asidental

Selamat datang di jalur pembelajaran resmi.
Setiap inisiat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi bagi stabilitas Asidental.

Pengelolaan Dril
Dril diberikan sebagai sarana pembelajaran dan tanggung jawab. Penggunaan tanpa perhitungan akan tercermin dalam evaluasi. Menyisakan cadangan dianjurkan.


Interaksi Antar Inisiat
Kerja sama di dalam perhimpunan diperbolehkan. Kementerian tidak mengatur pilihan personal. Konsekuensi dari kepercayaan yang diberikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing.


Kerahasiaan dan Paparan
Penyebutan nama, kepemilikan, dan afiliasi sebaiknya dibatasi. Perhatian yang tidak diperlukan jarang membawa hasil yang baik.


Status dan Fasilitas
Gelar, keanggotaan, dan tanda kehormatan memberikan akses tambahan sesuai ketentuan yang berlaku. Perbedaan ini merupakan bagian dari tatanan, bukan penyimpangan.


Perilaku dan Penilaian
Inisiat diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan situasi. Pola perilaku yang menonjol akan dicatat untuk kepentingan evaluasi lanjutan.


Penggunaan Sarana
Item, izin, dan akses khusus memiliki waktu penggunaan yang tepat. Keterlambatan maupun ketergesa-gesaan sama-sama berisiko.


Ketenangan
Keputusan yang diambil dalam tekanan merupakan indikator kedewasaan dan kelayakan magis.


Batasan
Kementerian tidak menganjurkan praktik judi dan pinjaman kepada pihak eksternal. Perlindungan tidak diberikan terhadap akibat yang timbul dari pilihan tersebut.


---

Atas nama Kementerian Sihir Asidental,

Lyran Caelmont
Menteri Sihir

Segel Ungu telah dibubuhkan.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✠ PERSEKUTUAN TERDAFTAR ✠
Ketetapan Kementerian Sihir Asidental

Dalam tatanan Asidental, tidak setiap ikatan diakui.
Ikatan yang tidak tercatat tidak berada di bawah perlindungan hukum, dan segala akibat dari keberadaannya ditanggung oleh mereka yang membentuknya.

Atas dasar itu, Kementerian Sihir menetapkan pengakuan terhadap PerSEKUTUAN TERDAFTAR—yakni kumpulan inisiat yang secara sukarela mengikatkan diri dalam satu badan, dicatat dalam arsip, dan tunduk pada ketetapan yang berlaku.

Persekutuan yang terdaftar diperlakukan sebagai satu kesatuan hukum.
---
✣ KEDUDUKAN PERSEKUTUAN ✣
Persekutuan Terdaftar diakui sebagai badan sah selama menaati ketentuan Kementerian.
Selama pengakuan tersebut berlaku, persekutuan tidak dapat dituduh sebagai perkumpulan terlarang.

Pengakuan ini memberikan hak sebagai berikut:

* Penetapan satu tempat kerja atau kedudukan yang disahkan.
* Kepemilikan harta bersama atas nama persekutuan.
* Pencatatan resmi atas urusan, pergerakan dril, dan kewajiban.
* Penerimaan penugasan atau mandat sebagai satu badan.

Pengakuan ini bersifat sementara dan dapat dicabut.

---
✣ SYARAT PEMBENTUKAN ✣
Untuk membentuk Persekutuan Terdaftar, diperlukan:

* Upeti pendaftaran sebesar tiga puluh lima dril.
* Upeti pemeliharaan sebesar tiga dril untuk setiap masa.
* Keanggotaan awal sekurangnya tiga inisiat.
* Penetapan nama persekutuan dan satu orang Penanggung Jawab, yang dicatat dalam arsip terbuka.

Apabila kewajiban pemeliharaan tidak dipenuhi, persekutuan dianggap bubar demi hukum dan seluruh hartanya disita.

Pembubaran atas permintaan sendiri dikenai biaya pencatatan tambahan sebesar sepuluh dril.

Inisiat yang keluar dari suatu persekutuan tidak diperkenankan bergabung dengan persekutuan lain sebelum satu masa berlalu.

---
✣ TATA KELOLA ✣
Setiap Persekutuan wajib menunjuk satu Penanggung Jawab, yang bertindak sebagai wakil resmi di hadapan Kementerian.

Segala tindakan yang dilakukan atas nama persekutuan—termasuk pengelolaan harta, penerimaan mandat, dan tindakan kolektif—wajib tercatat.

Persekutuan dilarang:

* Menyembunyikan ikatan tambahan di luar pencatatan resmi.
* Menghimpun kekuatan secara diam-diam untuk menguasai dril atau sumber daya lain.
* Bertindak dengan cara yang mengganggu ketertiban umum Asidental.

---
✣ PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ✣
Kementerian berhak melakukan pemeriksaan sewaktu-waktu.
Penanggung Jawab wajib hadir apabila dipanggil untuk memberikan penjelasan.

Apabila pelanggaran terbukti, Kementerian berwenang menjatuhkan hukuman berupa:

* Penahanan atau penyitaan dril.
* Pembatasan hak dan izin.
* Pembubaran persekutuan.

Penanggung Jawab yang lalai dapat dilarang membentuk persekutuan di kemudian hari.

---
✣ PENUTUP ✣
Pengakuan bukanlah jaminan keselamatan. Ia adalah izin untuk bertahan dalam tatanan yang diawasi.

Ketetapan ini berlaku di seluruh wilayah Asidental dan dapat diubah demi kestabilan.

---

Atas nama Kementerian Sihir Asidental,

Lyran Caelmont
Menteri Sihir

Segel Ungu telah dibubuhkan.