Asidental—Beta
22 subscribers
1 photo
1 link
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⟁ BUNYI LAMA, BUNYI BARU ⟁

Tiga bulan di laut mengajarkan Daren dua hal yang tidak pernah dia dapatkan dari rak buku keluarga.

Pertama, bahwa dunia lebih besar daripada yang pernah digambar peta Kementerian. Dan jauh lebih berantakan.

Kedua, tubuh manusia bisa belajar menerima apa pun, termasuk lantai yang tidak pernah berhenti bergerak.

Dari Tent Lumen ke Drastmare, lalu ke Tavelin, sampai akhirnya kapal merapat, ia hampir tidak merasakan hentakan lunas menyentuh dermaga. Lututnya yang sudah lama menyerah pada gelombang justru bingung ketika papan pendaratan diam. Tubuhnya dipaksa percaya pada sesuatu yang tidak bergerak.

Pelabuhan menyambutnya dengan suara yang saling tindih. Tali dikaitkan. Kayu tua mengerang. Besi bergesek. Tawa terputus. Semuanya menutup laut di belakangnya seperti pintu.

Avaross menyambutnya dengan bau. Ter yang mengilap di lambung kapal. Ikan yang baru dibelah. Keringat para kuli. Dan di bawah semuanya, tipis tapi keras kepala, bau logam yang tidak sepenuhnya logam. Dril.

“Turun atau ikut ke pulau berikut, Nak?” teriak seorang kelasi.

Daren merapatkan jubah abu-abunya dan menuruni papan tanpa menjawab. Kakinya menyentuh kayu dermaga yang licin, ia hampir tergelincir sebelum tubuhnya menemukan keseimbangan yang sudah lama ia rindukan. Tanah. Atau sesuatu yang cukup menyerupainya.

Ia berhenti sebentar di tepi dermaga, membiarkan arus manusia menyalipnya. Kapal-kapal lain berbaris rapat, layar terlipat, tiang-tiang menembus langit kelabu. Di depan gudang, seseorang menurunkan peti-peti yang bau garamnya masih basah; di belakangnya, seorang bocah mencongkel ikan dari keranjang dan melarikan diri sebelum pemiliknya sempat memaki.

Di sisi lain, seorang pria dengan jubah berwarna cokelat laut menatap Daren terlalu lama, lalu memalingkan wajah seolah tak pernah memandang.

Kantung Dril di pinggangnya berbunyi kecil ketika ia bergeser. Tidak banyak. Cukup untuk makan beberapa minggu, mungkin. Cukup untuk sewa kamar yang tidak merusak kulit. Cukup untuk membuat orang mendengarkan setengah detik lebih lama. Tidak cukup untuk membeli orang.
Sisanya, ia belum tahu harus diambil dari mana.

Ia menatap kota.

Avaross bangkit dari batu dan kabut. Menara-menara rendah tanpa lambang Kementerian, hanya bendera kain lusuh dengan warna-warna yang tidak pernah dipakai wilayah mana pun. Di atas pintu gudang, orang menggantungkan tanda mereka sendiri: ikan perak, roda besi, burung tanpa kepala, tangan yang memegang pisau. Setiap tanda seperti pernyataan kecil: ini milikku. coba saja.

Di Drilands, kekuasaan punya segel. Di sini, kekuasaan punya bau.

“Pulau,” orang kapal menyebutnya. Kota merdeka, kata mereka. Kota yang tidak tertulis di peta. Tempat orang datang untuk membuang nama lama atau membeli nama baru.

Daren menarik tudung lebih dalam, lalu menyeberangi arus manusia menuju perut kota.

Awalnya ia masih mencoba berjalan seperti orang yang tahu ke mana ia pergi. Ia cepat berhenti mencoba. Jalan Avaross tidak dibuat untuk menuntun. Jalan Avaross dibuat untuk memutar, untuk mengganti tujuan orang dengan kebutuhan-kebutuhan kecil, lapar, haus, takut, dan rasa ingin tahu yang mahal.

Lorong pertama membawanya melewati rumah minum yang pintunya setengah terbuka, bau rum tumpah mengusir bau ikan. Dua pelaut duduk di tangga, tertawa tanpa suara, tawa yang hanya gerak bahu dan mulut, karena gigi mereka sudah pergi entah ke mana.

Di sudut lain, seorang perempuan menjual roti pipih di atas papan kayu. “Masih hangat,” katanya. Hangat karena ia menyimpannya dekat tungku, bukan karena baru dipanggang. Daren membeli satu, menggigitnya, dan merasa rasa asin menempel di lidah. Bahkan tepung di Avaross pun terasa pernah berenang.
“Pertama kali?” tanya perempuan itu, tanpa menatap roti, tapi menatap cara Daren menahan bahu.

“Ya,” jawab Daren.

Perempuan itu mengangguk seolah sudah tahu sebelum dia bicara. “Kalau kau butuh arah, jangan tanya orang yang pakai sepatu bagus.”

Daren melirik sepatunya. Tidak bagus, tapi jelas bukan sepatu kuli. “Kalau aku butuh arah?”

Perempuan itu tersenyum, memperlihatkan sela gigi yang gelap. “Bayar.”

Daren melanjutkan jalan.

Ia menemukan kamar di atas rumah minum yang plafonnya berjamur. Pemiliknya lelaki gemuk dengan kuku hitam oleh arang. Ia menatap kantungnya sekali, lalu menatap wajahnya sebentar lebih lama.

“Dua Dril saja per malam, Tuan,” kata lelaki itu, “termurah di Avaross.”

Daren membayar tanpa menawar.

Malam pertama ia tidur dengan suara pelabuhan masuk lewat dinding, sebuah teriakan, suara peti dibanting, seseorang muntah di bawah jendela, lalu tertawa, lalu mengumpat. Di tengah bunyi itu, Daren berkali-kali terbangun bukan karena bising, melainkan karena hening yang muncul mendadak—hening yang mencekik.

Ia bangun dengan mulut kering dan rasa asin di tenggorokan di pagi berikutnya. Kabut turun lebih rendah. Jalan-jalan basah oleh sisa hujan. Daren makan sup ikan yang lebih banyak air daripada ikan, lalu mulai bertanya.

Dia bertanya dengan cara yang selama ini bekerja di kota-kota Asidental, setengah sopan, setengah berjarak.
Itu cara yang salah di sini.

“Aku mencari seorang pembuat,” katanya pada seorang buruh pelabuhan yang sedang mengikat tali.

Buruh itu meludah ke samping, menatap sepatu Daren, lalu mengangkat bahu. “Pembuat apa? Paku? Pisau? Kuburan?”

“Aku mencari rumah tempa.”

Buruh itu tertawa. “Kau berdiri di kota yang bau arang, Tuan. Semua pintu rumah tempa.”

Daren menahan kekesalan. “Aku mencari yang… tertentu.”

Tawa buruh itu berhenti di tengah, seperti dia baru ingat bahwa tawa bisa memanggil telinga lain. Matanya bergerak cepat ke kanan-kiri. “Kalau tertentu,” katanya, lebih pelan sekarang, “kau salah tempat. Di sini semua orang mau jadi tidak tertentu.”

Daren pergi sebelum pertanyaan berikutnya, membuat buruh itu lebih takut daripada kesal.

Di pasar, seorang perempuan menjual ramuan. Labelnya ditulis tangan: menguatkan tulang, memutihkan gigi, membuat suami pulang sebelum tengah malam. Daren bertanya pada dia, dan ia mengerling, lalu menyebut tiga nama jalan yang berbeda.

Ketika Daren minta arah, perempuan itu tertawa lebih lebar, memperlihatkan satu gigi emas.

“Aku sudah bilang,” katanya, tawanya mati di tengah. “Kau mau apa lagi?”

“Aku mau jalan yang benar.”

Perempuan itu mengangkat bahu. “Di kota ini, Tuan, yang benar itu barang langka."

Dia tidak membantu.

Seorang penjaga pintu gudang—jubahnya tak punya lambang, tapi sikapnya lebih rapi dari serdadu Kementerian—mendengarkan pertanyaan Daren dengan wajah datar.

"Di sini,” kata penjaga itu, “kita tidak menyebut orang. Kita menyebut barang. Kau mau beli apa?”

“Sesuatu yang tidak dijual.”

Penjaga itu menatapnya lama. Lama sekali. “Semua benda di Avaross dijual, Tuan,” ujarnya akhirnya. “Kalau kau tidak menemukannya, berarti kau belum bertanya harganya.”

Daren meninggalkan gudang dengan langkah lebih pelan. Bukan karena ragu, melainkan karena ia merasa langkah cepat akan mengundang mata yang lebih banyak.

Di sudut jalan, tiga orang duduk mengelilingi peti terbalik. Dua pria dan satu perempuan. Pakaian mereka sederhana, tapi bersih dengan cara yang disengaja. Tidak ada senjata yang dipamerkan. Itu saja sudah cukup membuat Daren mencatat mereka.

Perempuan itu mengangkat kepala lebih dulu. “Kau bukan orang sini.”

Daren berhenti. “Kebanyakan orang sudah menebak.”

“Yang menebak biasanya diam,” sahut salah satu pria, jarinya menghitung koin tanpa menatapnya. “Yang banyak tanya biasanya cepat jadi bahan obrolan.”

“Aku tidak suka jadi obrolan,” kata Daren.

Perempuan itu mengangguk tipis. “Tapi kau bertanya ke orang yang salah.”
Daren menimbang mereka cepat. Bukan perampok. Terlalu tenang. Bukan pedagang. Terlalu rapi. Mereka seperti orang yang dibayar untuk duduk di tempat yang tepat dan mendengar hal yang seharusnya lewat saja.

“Aku cuma lewat,” kata Daren.

“Tidak ada yang cuma lewat di Avaross,” jawab perempuan itu. “Kau datang bawa nama lama, atau mau beli yang baru?”

“Aku belum sampai sejauh itu.”

Pria kedua mengeluarkan tawa kecil yang tidak benar-benar senang. “Kalau begitu, kau akan sampai. Cepat atau lambat.”

Daren mengeluarkan satu Dril dan meletakkannya di atas peti. Tidak didorong, tidak ditahan. Sekadar ada.

Perempuan itu menatap koin itu, tapi tidak menyentuh. “Kau mau beli apa?”

“Jawaban,” kata Daren.

“Jawaban punya harga yang beda-beda.”

“Kalau aku sudah memilih,” Daren menatapnya, “aku akan tahu?”

Perempuan itu mendorong koin itu kembali dengan ujung kukunya. “Kalau kau harus bertanya, berarti belum.”

Mereka membiarkannya pergi. Itu yang membuatnya lebih terganggu.

Hari itu berakhir dengan kaki pegal, dua petunjuk palsu, dan sebuah jalan yang ternyata hanya membawanya ke tempat pemotongan ikan. Daren berdiri di antara darah yang mengalir ke selokan, menatap dirinya sendiri di genangan kotor, dan merasa bodoh.

Dalam perjalanan pulang, seorang anak menabraknya, meminta maaf dengan mulut, sementara tangannya mencoba sesuatu di pinggang Daren.

Daren menangkap pergelangan tangan kecil itu. Bocah itu menatapnya, tidak takut, hanya kesal seperti orang dewasa yang ketahuan bekerja. “Lepas,” gumamnya.

Daren tidak langsung melepas. “Kau cepat.”

“Di kota ini, yang lambat mati kelaparan.”

Daren merasakan sesuatu di pinggangnya lebih ringan daripada tadi.

Kantung Dril.

Dia menghela napas pelan, bukan karena kehilangan, melainkan karena pelajaran itu terlalu cepat diberikan. Daren melepas tangan bocah itu. Bocah itu tidak berterima kasih. Ia lenyap ke kerumunan seperti tikus ke celah batu.

Malam kedua, Daren menghitung Dril-nya. Jumlahnya turun—dan bukan karena sup ikan.
Dia tidur dengan satu mata setengah terbuka.

Daren terbangun di pagi ketiga dengan mulut kering dan kepala berat. Ia tidak menyebut hari dalam pikirannya, tapi tubuhnya tahu, kota ini mulai membuatnya lelah.

Ia berhenti bertanya pada orang-orang yang tampak kuat. Ia mulai bertanya pada orang-orang yang tampak lapar. Orang lapar lebih murah, dan rumor sering jadi makanan mereka.

Seorang pelayan rumah minum menyebut “Lorong Asap” sambil mengangkat bahu. Seorang tukang angkut menyebut “jalan belakang dermaga” sambil meludah, seolah semua jalan di Avaross memang belakang. Seorang penyair mabuk menyebut “lorong tempa” lalu tertawa, seperti menyebut sesuatu yang lucu

Pada sore yang sama, Daren mengikuti hal yang sama yang menuntun kebanyakan orang di kota-kota seperti ini. Suara logam dan bau arang.

Lorong itu basah, dengan batu-batu yang licin. Di atas, jemuran kain dan tali-tali bendera menutup sebagian langit, menggantung rendah seperti jaring yang menahan cahaya. Kios-kios menempel rapat, mulutnya menganga ke jalan, menghembuskan panas, percikan api, dan sumpah serapah.

Di satu pintu, seorang pandai besi bertelanjang dada menghantam bilah pedang yang terlalu tipis untuk perang dan terlalu mengilap untuk kerja. Di pintu lain, sepasang anak—mungkin saudara, mungkin bukan—mengecat gagang pisau dengan warna yang terlalu cerah untuk sesuatu yang harusnya berbau darah.

Daren berhenti di beberapa mulut kios, lebih karena lututnya butuh istirahat daripada karena ragu. Ia berpura-pura menilai paku kapal, pisau pelaut, kait jangkar. Para Forger menilai balik, menyapu jubah abu-abunya, kantung Dril di pinggang, cara ia menahan bahu seperti orang yang lebih sering memegang buku daripada palu.

Tidak ada satu pun dari mereka yang ia cari.

Ia tidak benar-benar berharap ada tanda. Catatan tua yang ia bawa ditulis ketika Avaross masih sekadar nama kabur di tepi peta. Orang yang menulisnya tidak menulis untuk membantu seseorang menemukan pintu, ia menulis untuk menenangkan ketakutannya sendiri, dan ketakutan jarang memberi petunjuk rapi.
Di sudut lorong ia melihat toko ramuan dengan jendela berkabut. Botol-botol di balik kaca tampak berputar pelan, mungkin karena tangan, mungkin karena trik kecil untuk menarik pembeli. Seorang perempuan tua duduk di ambang, bibirnya bergerak menghitung sesuatu yang tidak pernah sampai keluar sebagai suara. Di sampingnya, meja kecil dipenuhi benda-benda mungil yang dibungkus kain hitam.

Selebaran kusam menempel di dinding. Tulisan tangan asing, hurufnya miring seolah ditulis sambil terburu-buru: menawarkan sesuatu tentang “menghapus tanda”. Tidak dijelaskan tanda apa.

Daren membaca tanpa menatap terlalu lama. Di daratan utaman, kata-kata seperti itu bisa mengundang tongkat perak dan Segel Ungu. Di Avaross, tulisan itu mengundang pelanggan.

Perempuan tua itu menatapnya. “Kau cari obat?” suaranya parau.

“Aku cari orang,” jawab Daren.

“Orang lebih mudah mati daripada sakit,” katanya. “Kau cari orang untuk apa?”

Daren ragu sepersekian napas. Di Drilent, keraguan kecil membuat orang curiga, di Avaross, keraguan kecil membuat orang tertarik. “Untuk membeli,” katanya akhirnya. “Sesuatu.”

Perempuan tua itu mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang wajar. “Kalau kau punya uang, kau bisa beli apa saja.”

“Tidak,” kata Daren. “Tidak yang ini.”

Perempuan itu tertawa sekali, pendek, tanpa gembira. “Kalau bukan di sini, di mana lagi?”

Daren tidak menjawab. Ia melanjutkan berjalan, membawa tawa itu seperti debu menempel di punggungnya.

Sore itu ia kembali ke kamar. Ia membuka perkamen tua yang ia bawa. Kulitnya kaku, dan rapuh. Tulisan di atasnya kecil dan rapi, tinta memudar menjadi abu-abu pucat. Ia tak perlu membacanya lagi—ia sudah menghafal baris-baris itu sejak masih terlalu pendek untuk mencapai rak tertinggi di perpustakaan keluarga—namun matanya tetap jatuh ke frasa yang ditarik garis oleh tangan yang sudah jadi debu:

“Keluarga itu berhasil meniru mereka…”

“…sisa-sisa keluarga itu berpindah ke pulau-pulau selatan. Avaross…”

Kalimat itu tidak selesai. Halren menulis hampir lima ratus tahun lalu, dan bahkan dalam tulisan yang tersisa, Daren bisa merasakan keraguannya. Pulau itu cuma muncul sekali, diselipkan di pinggir halaman, di antara dua entri yang membahas sesuatu yang jauh lebih gelap. Bukan di bagian utama katalog, tapi di catatan samping kecil yang ditulis melintang di margin, seolah-olah ia sendiri tidak yakin apa harus menulisnya.

Di teks resmi Arsipal, Halren menyebut mereka Relik Agung.
Malam itu, hujan turun lagi. Daren menatap tetesan yang merambat di batu-batu kamarnya, lalu menutup perkamen dan menyelipkannya kembali.

Ia turun ke rumah minum sebelum tidur, bukan untuk minum, hanya untuk mendengar. Ruangan itu penuh asap, bau rum murah, dan suara yang sengaja dibuat ramai supaya orang bisa bilang apa saja tanpa merasa didengar.

Daren duduk di sudut, punggung menempel ke dinding. Ia memperhatikan tangan orang-orang lebih lama daripada wajah mereka. Siapa yang memegang gelas seperti memegang senjata. Siapa yang menyentuh kantungnya setiap kali ada langkah mendekat. Siapa yang tertawa duluan, bukan karena lucu, melainkan karena takut keheningan.

Dua meja dari sana, seorang pria tua menatap cangkir kosongnya terlalu lama. Bibirnya bergerak, tapi kata-katanya baru keluar ketika Daren hampir yakin itu cuma kebiasaan.

“Lorong Asap,” gumamnya, seperti menyebut alamat yang tidak ditulis di mana pun.

Daren tidak langsung menoleh.

“Banyak orang cari jalan di sana,” lanjut pria itu, masih menatap cangkir. “Sedikit yang cari pintu.”

Daren memutar kepala pelan. “Dan yang menemukan?”

Pria itu mengangkat bahu. “Biasanya berhenti mencari.”

“Itu terdengar seperti peringatan,” kata Daren.

“Bukan,” jawabnya, datar. “Itu saran.”

Pria itu berdiri dan pergi tanpa menunggu. Cangkirnya tetap kosong. Tempat duduknya langsung diambil orang lain, seolah ia tidak pernah ada.

Daren duduk sebentar lagi. Ia mendengar seseorang menyebut harga, lalu berhenti di tengah kalimat ketika pintu terbuka. Ia melihat seorang lelaki di dekat bar menyelipkan sesuatu ke bawah papan lantai, cepat, seperti refleks. Ia menelan semua itu seperti menelan sup ikan, hambar, tapi perlu.

Ketika ia kembali ke kamarnya dengan satu keputusan sederhana, besok ia berhenti bertanya dengan mulut. Ia akan bertanya dengan mata.

Keesokan harinya, ia kembali ke Lorong Asap tanpa bertanya arah. Ia membiarkan tubuhnya menemukan jalan yang sama seperti laut menemukan pantai. Kebiasaan.

Rumah tempa yang ramai tapi tak pernah selesai. Rumah tempa yang menjual barang terlalu bagus dengan harga terlalu murah. Rumah tempa yang pintunya selalu terbuka tapi tak pernah ada pembeli. Rumah tempa yang tukang besinya menatap jalan bukan untuk mencari pelanggan, melainkan untuk memastikan siapa yang lewat.

Ia berjalan sampai siang, lalu sore.

Ia membeli roti, minum air, dan duduk sebentar di sudut yang bau arang, menunggu. Itu bukan kebiasaan Daren. Kebiasaan Daren adalah mencari jawaban. Tapi Avaross bukan perpustakaan. Avaross adalah mulut yang hanya membuka ketika ia lapar.

Itulah saat ia hampir melewatkannya.

Rumah tempa itu tampak biasa saja. Terlalu biasa bahkan. Pintu lebar terbuka, memperlihatkan ruang setengah gelap, tungku di sudut, paron di tengah, rak kayu dipenuhi barang setengah jadi. Tidak ada pedang di dinding. Tidak ada baju zirah menggantung. Tidak ada papan nama.

Di atas pintu hanya ada plat besi kecil, bulat, dengan garis tipis melintang.—simbol teknis yang tak berarti apa-apa bagi orang yang hanya butuh paku atau pisau dapur. Berarti sesuatu bagi orang yang tidak boleh terlihat paham.

Daren berhenti di depannya.

Ia merogoh ke dalam jubah dan menyentuh perkamen tua itu, bukan untuk membaca, hanya untuk memastikan ia tidak berkhayal selama beberapa hari terakhir.

Lalu ia melangkah masuk.
Udara di dalam lebih hangat, dengan lapisan tipis bau arang lama dan minyak logam tengik. Suara jalanan meredup di belakangnya, terganti oleh keheningan yang tidak benar-benar sepi—ada bunyi kecil yang tidak jelas, seperti besi yang pernah dipukul terlalu sering dan seseorang yang menahan napas

Tungku di sudut redup. Bara kecil bersembunyi di bawah abu, merahnya nyaris tak terlihat kecuali jika mata sabar menunggu. Paron di tengah ruangan seolah menunggu pukulan yang tertahan. Di rak-rak, logam menumpuk dalam bentuk setengah jadi: cincin tanpa inisial, plat kecil belum digrafir, potongan tipis yang bisa menjadi apa saja—atau tidak menjadi apa-apa.

Daren berdiri beberapa langkah dari ambang, membiarkan matanya menyesuaikan diri.

“Permisi,” katanya akhirnya. Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang ia rencanakan. "Aku mencari sesuatu."

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu, lalu menambahkan, “Aku bisa membayar.”

Sesuatu bergerak di balik rak. Bukan bunyi berat sepatu pandai besi, melainkan gerakan yang lebih ringan. Lebih terlatih untuk tidak menarik perhatian. Seorang lelaki muda muncul, atau sesuatu yang mencoba tampak muda.

Tubuhnya ramping. Jaket kerja di bahunya bernoda arang. Wajahnya… terlalu bersih untuk ruangan yang dindingnya menghitam. Kesan itu membuat Daren tidak nyaman dengan cara yang sulit dijelaskan—seolah wajah itu baru dipakai, seperti seseorang yang terbiasa memakai ekspresi lain dan masih menyesuaikan diri.

Matanya menilai Daren seperti menilai logam. Menimbang berat, asal, dan kemungkinan.

“Kau tersesat,” katanya. Suaranya datar, tidak marah, tidak ramah, hanya menyatakan sesuatu yang baginya terdengar seperti fakta. “Orang datang ke sini untuk membeli barang. Bukan untuk mencari.”

Daren tidak mundur. “Siapa bilang aku tidak ingin membeli?”

“Kalau begitu, kau salah toko. Kami tidak menjual apa pun hari ini.”

Daren membiarkan pandangannya berkeliling lagi, tungku yang masih hidup, tapi tidak bekerja, barang setengah jadi yang berhenti pada titik yang sama. Tempat ini tidak tutup. Tempat ini bersembunyi.

“Aku mencari seseorang,” kata Daren, kali ini tanpa mencoba terdengar sopan. “Seseorang yang dulu tinggal di Avaross.”

“Kota ini penuh orang yang dulu tinggal di sini,” jawab lelaki itu. Ia menggeser berat tubuh, bersandar sedikit pada paron. Gerakannya lembut untuk orang yang menghabiskan hari di sekitar besi. “Kebanyakan sudah mati.”

Daren menunduk sedikit, mengulurkan tangan seolah memeriksa cincin setengah jadi di rak terdekat. Lubangnya masih kosong. Di titik itu, orang lain akan mengukir huruf pertama nama, lambang keluarga, atau apa pun yang membuat mereka merasa tidak bisa diganti.

“Namanya…” Daren membiarkan satu napas lewat tenggorokan, ragu-ragu sejenak. “…Hallowind.”

Keheningan turun seperti debu logam. Tidak bergerak, tapi terasa.
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, perlahan, seperti burung menilai apakah benda di depannya berbahaya, menarik, atau keduanya.

“Tidak ada pria bernama itu di Avaross,” katanya akhirnya.

Daren mengangkat cincin itu, menimbangnya. “Aku tidak bilang itu pria,” ujarnya, tidak mengangkat wajah.

Ada gerak halus di wajah lelaki itu. Bukan takut. Bukan kaget. Gerak orang yang sadar ia menutup pintu terlalu cepat. “Nama itu,” katanya perlahan, “tidak ada di sini.”

“Kalau begitu,” Daren mengangkat kepala, menatap lurus, “kau mengenal dia?”

Tatapan mereka bertemu. Di mata lelaki itu, Daren melihat sesuatu yang tidak ia temukan di lorong-lorong Avaross. Bukan keingintahuan, bukan penilaian, melainkan penghitungan. Seberapa jauh suara bisa merambat di dinding batu. Seberapa cepat seseorang bisa mencapai pintu. Seberapa banyak masalah yang dibawa lelaki berjubah abu-abu ini.

“Kau datang jauh,” suara lelaki itu turun, lebih hati-hati. “Untuk apa? Orang yang membawa bunyi-bunyi lama biasanya membawa masalah.”

“Aku bukan mereka,” kata Daren. “Aku cuma…” ia menahan diri untuk menyebut nama Halren. Di tempat seperti ini, nama besar bisa jadi umpan. “…keturunan seseorang yang menulis terlalu banyak tentang hal-hal yang hanya seorang Hallowind bisa menirunya.”

“Aku membawa permintaan,” tambah Daren.

“Permintaan bisa dibeli di pasar malam,” balas lelaki itu.

“Yang ini,” kata Daren, “hanya bisa dibuat oleh satu tangan.”

Lelaki itu memejamkan mata sejenak, napasnya tertahan di antara dada dan tenggorokan. Ketika ia membuka mata lagi, cahaya redup tungku memantul samar di irisnya, seperti bara yang tidak benar-benar padam.

“Orang yang kau cari,” katanya pelan, “sudah lama belajar bahwa dunia lebih suka melihat mereka mati.”

“Aku tidak datang membawa bilah, Tuan” sahut Daren. “Dan aku tidak membawa permusuhan. Hanya kantung kecil… dan satu catatan tua.”

Ia menepuk pelan kantung Dril di pinggang. Bunyi gemerincingnya lembut—cukup jelas untuk menyatakan ia tidak datang kosong, cukup pelan untuk tidak terdengar tamak.

Lelaki itu diam cukup lama sehingga Daren mulai menghitung napasnya sendiri. Di luar, suara pelabuhan seperti ingatan, teriakan nelayan, gebrakan peti, tawa pendek yang tidak sampai ke mata.

“Kalau… orang itu masih ada,” lelaki itu akhirnya berkata, pelan, “ia tidak menerima tamu.”

“Bagus,” jawab Daren. “Karena aku tidak datang sebagai tamu.”

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang hampir mirip senyum muncul di sudut bibir lelaki itu. Bukan senyum hangat, lebih seperti garis tipis yang muncul ketika seseorang yang baru sadar ia berada di dalam lelucon buruk yang melibatkan dirinya sendiri.

“Lalu apa kau?” tanyanya lirih.

“Orang yang punya urusan,” sahut Daren, “dan pembayaran. Dan cukup bodoh—atau cukup putus asa—untuk mengikuti catatan seseorang yang sudah mati selama lima abad.”

Lelaki itu memandangnya lama. Terlalu lama untuk sekadar menilai harga.

Akhirnya, ia melirik pintu, memastikan tidak ada bayangan di ambang. Lalu ia bergerak—bukan ke tungku atau paron, melainkan ke celah sempit di antara dua rak belakang, celah yang tadi tampak seperti tumpukan besi tua.

“Kau tidak tahu apa yang kau minta,” katanya tanpa melihat ke belakang.

“Aku tahu cukup,” Daren mengikuti, menjaga jarak agar tidak menantang. “Dan aku tahu… ada hal-hal yang lebih berbahaya kalau dibiarkan tanpa jawaban.”

Lelaki itu mematung. “Kau mengancamku?” tanyanya pelan.

“Aku mengingatkan,” jawab Daren, napasnya rendah.

Keheningan turun lagi. Kali ini lebih berat.

Gerakannya datang terlalu cepat untuk diduga dari tubuh seramping itu.

Tongkat sihir tipis meluncur dari balik jaket kerja, seperti benda itu memang tinggal di sana dan menunggu.

Daren mengutuk dalam hati. Sihir dan besi. Tentu saja. Tidak ada orang yang membangun tiruan relik tanpa menyatukan sihir dan logam sampai keduanya tidak bisa dipisahkan.

Lelaki itu tidak memberi waktu untuk berpikir lebih jauh.

“Damio.”
Mantra itu terasa seperti pintu kayu yang ditutup dari empat arah sekaligus. Udara mengeras di sekelilingnya, tubuh Daren luruh ke lantai seperti boneka yang talinya dipotong.

Tubuhnya membeku. Terdiam.

Tongkat sihir lelaki itu tetap terangkat. Ujungnya sedikit bergetar karena energi yang baru dilepas. Ia mendekat pelan.

“Seharusnya kau tahu,” katanya, suaranya seperti orang menjelaskan aturan lama pada anak keras kepala, “di Avaross, kami tidak menunggu sampai bahaya menyebut dirinya sendiri.”

Daren ingin bicara, tapi lidahnya menempel pada diam yang bukan miliknya.

Sekali lagi lelaki itu mengangkat tongkatnya, kali ini lebih lembut. Cahaya kecil biru pucat, tipis seperti embun dingin, mengalir dari ujungnya.

“Reliram.”

Kendali kembali tidak datang sekaligus. Daren merasakannya seperti air mengisi bejana retak: pertama jari, lalu pergelangan, lengan, lalu dada yang akhirnya bisa menarik napas dalam.

Lelaki itu mundur setengah langkah. Tidak meminta maaf. Tongkat tetap terangkat.

“Hanya untuk memastikan kau tidak mati sebelum aku tahu apa yang kau inginkan,” katanya tenang. “Sekarang bangun. Dan jangan coba dua kali..”

Daren bangkit perlahan. Tidak membalas. Ia menelan kata-kata yang tidak akan berguna.

Lelaki itu mengamatinya sejenak, memastikan Daren benar-benar bisa berdiri. Ada kilatan singkat di wajahnya—bukan simpati, lebih seperti evaluasi yang berubah hasil. Setelah itu ia berbalik, seolah percakapan barusan hanya jeda, bukan ancaman.

“Kalau kau memang datang untuk nama itu,” katanya sambil melangkah ke belakang, “kau sudah lebih dalam daripada separuh orang bodoh yang mencobanya.”

Daren mengikutinya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup agar ia tidak kehilangan arah di ruang setengah gelap.

Lelaki itu berhenti di depan dinding batu yang tampak biasa saja. Dari dekat, Daren melihat garis melengkung tipis di sana, goresan yang hampir tertutup jelaga. Tangan lelaki itu menemukan titik di antara batu-batu, menekannya.

Sesuatu di dalam dinding bergeser pelan, nyaris tanpa suara, seperti napas panjang yang ditahan berabad-abad.

“Dari sini ke depan,” ucapnya pelan, masih tidak menoleh, “berhenti sekarang juga tidak akan membuatmu tampak lebih bodoh.”

Di luar, Avaross tetap ramai. Kapal datang dan pergi. Dril berpindah tangan. Tidak ada yang melihat seorang lelaki berjubah abu-abu menghilang ke balik rak di rumah tempa tanpa papan nama, mengikuti orang yang wajahnya terlalu halus untuk pekerjaan yang keras.

Tidak ada yang mencatat bahwa, di tengah siang berkabut itu, sebuah bunyi lama kembali diucapkan. Dan seperti kebanyakan kota merdeka yang hidup dari ingatan pendek dan suara panjang, Avaross akan berpura-pura tidak tahu.

Untuk sementara, setidaknya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✹ DI BAWAH SEGEL UNGU ✹
Fajar belum pecah ketika lonceng Kementerian berdentang pertama kali.

Dentang itu bukan untuk kota. Bukan untuk orang-orang Drilands yang tidur. Dentang itu untuk penjaga, pelayan, dan mereka yang akan kehilangan sesuatu sebelum matahari sempat menyentuh atap rumah. Suaranya tidak pernah keras, hanya sekali ketukan di kedalaman batu, seperti jantung tua yang malas berdetak. Namun di koridor sempit yang hanya dilalui mereka yang bekerja untuk Hukum, bunyi itu cukup untuk memberi tahu bahwa hari sudah dimulai, walau langit di luar mungkin masih gelap.

Jorek sudah berada di tempatnya ketika dentang pertama menghilang. Ia berdiri di depan pintu perunggu Ruang Sidang, punggung bersandar pada batu dingin, tombak tegak di sisi. Udara di lorong itu selalu dingin, dingin batu yang menahan lembap semalaman, dingin lilin sihir yang tinggal separuh sumbu, dingin bangunan yang terlalu sering menyaksikan orang kehilangan sesuatu. Telapak tangan Jorek terasa mati rasa tiap kali ia memindahkan genggaman pada gagang tombak, bukan karena logam, melainkan karena kebiasaan menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama.

Lorong itu memanjang seperti terowongan, sempit dan rendah. Obor-obor menggantung di dinding, terlalu dekat dengan kepala. Siapa pun yang lewat harus sedikit menunduk jika tak ingin rambutnya terbakar. Jorek sudah hapal posisi setiap obor, ia tahu di mana harus melambat, di mana harus menyingkir, di mana langit-langit retak dan meneteskan air. Asap obor naik perlahan, tertahan di atap lorong, meninggalkan noda hitam di batu. Kalau lama menatapnya, Jorek selalu merasa seolah sedang melihat sepasang paru-paru tua, hitam karena bertahun-tahun menghirup debu kota.

Di dinding seberang pintu, selembar perkamen besar terbentang. Empat paku hitam menancap di sudut-sudutnya. Huruf-huruf ungu memudar di tepi, tapi bagian tengahnya masih tegas. Setiap huruf ditempeli sedikit sihir agar tak lekas hilang. Kementerian lebih rela membiarkan batu runtuh daripada membiarkan teks itu lenyap.

Jorek tidak perlu membaca untuk tahu isinya.

Majelis Sihir memulai persidangan apabila terjadi pelanggaran terhadap Hukum…

Ia hafal sampai titik dan koma. Ketika baru ditempatkan di Depan Pintu bertahun-tahun lalu, ia membaca perkamen itu setiap pagi seperti doa yang tidak pernah ia percaya. Kapten jaga saat itu, pria tua bernama Harvas, menampar belakang kepalanya ketika memergokinya melamun di depan tulisan.

“Tak cukup kau membaca,” kata Harvas. “Kau harus mengingatnya sampai lupa bentuk wajahmu sendiri.”

Saat itu Jorek belum mengerti maksudnya. Sekarang ia mengerti sedikit. Di catatan resmi, namanya memang hanya satu baris di antara puluhan penjaga. Di Hukum, namanya tidak ada sama sekali. Tapi ketika putusan dijatuhkan dan orang digiring keluar, bukan Magi yang berdiri di lorong. Bukan pelayan. Bukan menteri. Hanya penjaga.

Hukum mengikat mereka yang punya nama. Penjaga mengikat sisanya.

Ia menghela napas pelan, merasakan udara dingin masuk sampai ke tulang dada. Kadang ia merasa Hukum itu lebih mengingat dirinya daripada ia mengingat Hukum—seakan setiap hari yang lewat menambah satu lapis pada wajahnya, lalu mengikisnya lagi sampai ia hanya fungsi.

Dari bawah lorong, terdengar gemerisik kecil. Lalu suara besi menyentuh batu, ritmis. Jorek menegakkan tubuh sebelum pikirannya sempat menyusul. Dua pasang langkah. Satu lebih berat, satu lebih ringan. Dua penjaga.
Langkah-langkah itu makin jelas. Di tikungan, dua sosok muncul—penjaga Kementerian berseragam hitam yang dipelitur, zirah ringan melapisi dada, helm tanpa hiasan. Di antara mereka, seorang pemuda berjalan dengan tangan terikat tali sihir. Cahaya pucat merayap di lilitan, menyala dan redup dengan pelan, bukan seperti api melainkan seperti napas yang dipaksa tetap ada.

Inisiat, jelas dari jubahnya. Jubah tersebut kusut, tulang bahu pemuda itu menekan kain dari dalam, seolah jubahnya menyusut atau ia sendiri mengurus dalam beberapa hari terakhir. Lambang Perhimpunan masih terlihat di dada, meski noda lumpur dan sesuatu yang tampak seperti bekas muntahan mengaburkannya. Rambutnya acak-acakan, mungkin karena malam tanpa tidur. Matanya menatap lurus ke depan, terlalu keras untuk usia wajahnya.

“Penuduh sudah di dalam,” kata salah satu penjaga.

Ia berbicara seperti orang yang melaporkan cuaca.

“Ini Tertuduh.”

Jorek menatap tali sihir itu sepersekian detik terlalu lama, lalu memalingkan mata ke gelang kecil di pergelangan pemuda tersebut. Nama terukir di sana, rapi, seperti benda kecil itu ingin berpura-pura bahwa orang bisa diringkas menjadi huruf.

“Kasus?” tanya Jorek.

“Aliansi luar Perhimpunan,” jawab penjaga itu.

Pengkhianatan. Kata itu tidak diucapkan, tapi menggantung sendirian di udara di atas kepala mereka. Kata yang tak tertulis di perkamen luar, tapi selalu ada di antara baris-baris Hukum.

Arven, pikir Jorek, ketika matanya sempat membaca lagi. Arven, putra Leonhardt.

Nama keluarga itu tak berarti apa-apa baginya. Bukan bangsawan. Bukan nama keluarga pendiri. Bukan nama menteri. Bukan nama pengkhianat besar yang diceritakan di barak penjaga. Hanya satu nama lain yang datang dan pergi—dan akan pergi lebih cepat setelah pagi ini.

Jorek berbalik menghadap pintu perunggu. Ia mengetuknya tiga kali dengan buku-buku jarinya seperti aturan menuntut, seperti batu menuntut. Pintu itu lebih tua dari kebanyakan orang di bangunan ini. Permukaannya dipenuhi relief halus simbol-simbol sihir, skala keadilan, mata tertutup, tongkat, dan sebuah lingkaran besar yang mengelilingi segalanya. Jika disentuh terlalu lama, telapak tangan akan kesemutan. Penyihir suka bermain dengan ilusi sederhana semacam itu.

Lubang kecil di pintu bergerak, membuka "mata" bundar di tengah perunggu. Sepasang mata pelayan Majelis menatap keluar, cepat menghitung jumlah orang, memastikan formasi yang benar.

“Mereka sudah di sini,” kata Jorek singkat.

Pelayan mengangguk dan menghilang. Beberapa detik kemudian, pintu berderit terbuka cukup lebar untuk membiarkan mereka masuk. Deritnya pelan, tapi di telinga Jorek selalu terdengar seperti napas makhluk besar yang menahan diri untuk tidak mengaum.

Ruang Sidang Majelis Sihir tidak menyambut siapa pun.

Langkah pertama selalu membuat lantai batu hitam berbunyi pelan, suara kecil yang segera tenggelam dalam keheningan. Batu itu dipoles hingga mengilap, sehingga siapa pun yang menunduk akan melihat wajah mereka terpecah di permukaannya, tercampur dengan cahaya ungu lembut yang jatuh dari kubah sihir di atas.

Pilar-pilar tinggi mengitari ruangan, permukaannya penuh ukiran mantra. Beberapa di antaranya begitu tua sehingga ujung hurufnya aus, namun Jorek mengenal jenisnya. Mantra perlindungan, mantra pengikat sumpah. Di dasar salah satu pilar ada prasasti kecil, menyebut mantranya ditorehkan di zaman ketika Dewa-dewa masih berperang di dunia, jika cerita-cerita lama benar. Sebagian pelayan menertawakan hal itu. Sebagian lain tidak.

Di ujung ruangan, sedikit ditinggikan, tiga kursi tinggi berdiri di atas panggung batu. Di sanalah Para Magi duduk, berjubah ungu gelap yang jatuh hingga menutupi kaki. Lambang Kementerian menempel di dada mereka, berkilau tipis. Wajah-wajah mereka separuh tenggelam dalam bayangan. Kalau cahaya bergerak, bayangan itu ikut bergerak, seolah kursi-kursi itu dihuni sesuatu yang lebih tua daripada orang yang duduk di atasnya.
Penuduh berdiri di sisi kiri ruangan, Tertuduh di sisi kanan. Posisi itu tidak pernah dibalik. Pelayan Majelis pernah bercanda pada Jorek bahwa jika suatu hari Penuduh berdiri di kanan dan Tertuduh di kiri, langit akan runtuh. Jorek tidak menganggapnya lucu. Langit tidak perlu runtuh untuk membuat hidup seseorang selesai.

Perempuan muda yang berdiri sebagai Penuduh tampak tegang. Jubahnya disihir rapi, rambutnya dikuncir ketat. Di tangannya, gulungan bersegel kementerian ia genggam terlalu erat, sehingga sendi-sendi jarinya memutih. Arven berdiri dengan tangan terikat tali sihir, menjaga jarak dengan siapa pun yang ada di sekitarnya. Ia menatap kosong ke depan, tetapi Jorek bisa melihat gerakan halus di lehernya setiap kali ia menelan.

Pelayan Majelis berdiri di tengah ruangan, menghadap deretan kursi tinggi. Tongkat kecil Kementerian dipegang di tangan kanan, ujungnya menyentuh lantai.

“Sidang Pengkhianatan dibuka,” suaranya menggema. “Kasus: aliansi terlarang di luar Perhimpunan.”

Kata-kata itu hanyut ke atas kubah, memantul, dan kembali turun, terdengar dua kali di telinga Jorek. Ia mundur ke dekat pintu, ke posisi biasa, cukup jauh dari pusat ruangan untuk tidak dianggap ikut berbicara, cukup dekat untuk menangkap gerak halus yang tidak pernah tercatat.

Penuduh maju selangkah.

“Aku membawa Bukti Sihir, Yang Mulia,” katanya.

Suaranya tidak bergetar, tapi ujung kalimatnya terlalu cepat, seolah ia ingin buru-buru menyelesaikan bagian yang paling berat. Ia menyerahkan kristal bening kepada pelayan, yang lalu mengangkatnya ke hadapan Para Magi. Sentuhan ringan saja cukup untuk menghidupkannya.

Udara di ruangan mengerut ketika sihir memenuhi isi kristal. Bayangan-bayangan muncul. Ruangan lain, lebih sempit, lebih rendah. Dua inisiat berdiri di dalamnya, tanpa jubah resmi, berbicara dengan suara pelan. Kata-kata mereka tidak sepenuhnya jelas dari tempat Jorek berdiri, tapi intinya cukup mudah ditebak. Pertemuan di luar jadwal, pembicaraan tentang teknik sihir yang hanya diajarkan pada tingkat tertentu, dan hal-hal lain yang selalu terdengar seperti permainan sampai Kementerian memilih menyebutnya “pemberontakan.”

Kristal padam. Menyusul catatan resmi Kementerian. Stempel ungu menempel di bagian bawah, tebal dan bersih, garis lingkaran yang melingkupi simbol Kementerian tanpa cacat.

Terakhir, kesaksian tertulis dari inisiat lain. Tulisan tangan kecil, rapi, tapi setiap huruf tampak ditekan terlalu dalam seakan-akan penulisnya ingin memastikan tidak ada keraguan dalam pengkhianatan rekan sendiri.

Rekaman kejadian. Catatan resmi. Kesaksian tertulis.
Tiga bentuk bukti yang dikodifikasikan dalam Hukum. Jorek pernah menghafalnya ketika masih muda, ketika ia sendiri bertanya-tanya apakah jalan hidupnya akan berakhir di Ruang Sidang sebagai penjaga… atau sebagai tertuduh. Ia menelan pertanyaan lama itu, seperti biasa. Pertanyaan yang terlalu sering diingat menjadi doa. Doa tidak berguna di sini.

“Tertuduh,” suara dari kursi tengah bergema. “Kau berhak menyampaikan pembelaan.”

Suara itu milik Serath Vaudren, Magi Tertinggi Majelis. Jorek sudah mendengar suara itu lebih sering daripada suara ayahnya sendiri. Serath tidak perlu berbicara keras untuk membuat semua orang diam. Nada bicaranya datar, tapi di setiap ujung kalimatnya ada sesuatu yang mengingatkan Jorek pada ujung pisau yang lama tak diasah—tumpul dalam satu tarikan napas, mematikan di tarikan napas berikutnya.

Arven menelan ludah. “Aku punya, Yang Mulia,” katanya. Suaranya tidak sekuat Penuduh, tapi juga tidak sepatah beberapa tertuduh lain yang pernah Jorek lihat. Ada sedikit rasa enggan, namun juga keinginan keras untuk bertahan.

Pelayan mendekat, menyentuhkan kristal kecil ke telapak tangan Arven. Kristal itu melayang di udara, berputar, lalu menyala pelan. Rekaman lain muncul. Tempatnya sama, orang yang sama, tapi sudut pandang berbeda. Kata-kata yang tadi tak terdengar, kini terdengar. Potongan-percakapan yang tadi tak ada, kini muncul.
Serath menyandarkan siku ke lengan kursi, memperhatikan tanpa banyak bergerak. Magi di sisi kiri, seorang perempuan tua dengan jari penuh cincin, mengerutkan dahi sesekali ringis. Magi di sisi kanan, lelaki kurus dengan mata cekung, tampak hampir bosan. Hanya pelayan yang secara terbuka mengikuti setiap suara yang keluar dari Kristal, matanya melirik ke Penuduh, lalu ke Tertuduh, lalu Para Magi, seolah ia mengukur seberapa cepat manusia berubah menjadi keputusan.

Jorek mendengar sendiri bagaimana Arven berkata “ini bodoh” dalam rekaman, bagaimana ia menyebut nama-nama yang tidak seharusnya disebut, bagaimana ia tertawa miring ketika temannya menyebut Perhimpunan terlalu lamban. Ia juga mendengar bagaimana Arven menolak ajakan untuk meninggalkan Kementerian, bagaimana ia menyebut sumpahnya, bagaimana ia mengingatkan bahwa setiap Dril yang diberikan Kementerian punya harga. Jorek merasakan tenggorokannya kering, bukan karena udara dingin, melainkan karena kalimat terakhir itu terdengar terlalu dekat dengan sesuatu yang pernah ia percaya.

Kristal meredup, lalu padam. Bau sihir di udara memudar bersama cahayanya, menyisakan dingin dan bau lilin.

“Cukup,” kata Serath akhirnya.

Ia bangkit dari kursi. Jubahnya jatuh seperti gelombang ungu yang berat.

“Aku, Serath Vaudren, Magi Tertinggi Majelis Sihir, Penjaga Segel Ungu, Pelindung Hukum yang Diikrarkan, mewakili Kementerian Sihir dan kehendak Hukum Tertinggi…”

Jorek menahan napas sepersekian lebih lama dari yang perlu. Bagian itu selalu panjang. Tapi ia tahu mengapa itu diucapkan. Di ruangan ini, siapa pun boleh salah. Pelayan boleh salah. Penuduh boleh salah. Tertuduh hampir pasti salah. Hukum pun kadang dibaca salah. Yang tidak boleh salah hanyalah gelar. Gelar adalah palang pintu. Gelar adalah segel.

“…menyatakan bahwa Inisiat Arven, putra Leonhardt, bersalah atas aliansi terlarang di luar Perhimpunan. Suatu tindakan yang oleh Hukum kita dipandang sebagai pengkhianatan.”

Perempuan Penuduh menghela napas panjang, seolah baru saat itu paru-parunya kembali bekerja. Arven tidak bergerak. Ia berdiri seperti orang yang memutuskan untuk tidak memberi kepuasan pada siapa pun—tidak pada mereka yang menghakimi, tidak pada dirinya sendiri.

“Sebagai akibatnya,” lanjut Serath, “Dril-mu disita sebagian. Hak ujianmu dicabut hingga siklus berikut. Akses komunikasimu ditutup dari semua jalur resmi. Putusan ini berlaku seketika, sebagaimana Hukum menuntut, dan sebagaimana kota ini akan mengingat.”

Kadang, Jorek pernah mendengar kalimat lain menyusul—atau hukuman lain setimpal sesuai kondisi yang berlaku. Hari ini tidak. Ia tak tahu apakah itu karena Arven terlalu muda, atau karena Majelis belum selesai dengan dirinya—dengan siapa pun yang berdiri di lorong ini terlalu lama.

Cahaya pucat turun dari udara, tanpa sumber yang jelas. Ia menyambar tubuh Arven, atau mungkin sesuatu yang hanya bisa dilihat penyihir. Pemuda itu terhuyung satu langkah. Mata yang tadinya keras kini tampak lebih kosong, tetapi tidak sepenuhnya mati. Jorek pernah melihat orang yang seluruh Drilnya disita: tatapan mereka kosong seperti batu yang sudah lama ditinggalkan air.

“Dibawa,” kata Serath.

Perintah sederhana. Selalu sama.

Penjaga di sisi kanan melangkah maju, menggenggam lengan Arven. Jorek membuka pintu, membiarkan mereka lewat. Pemuda itu tak menoleh ke belakang, padahal banyak yang selalu melakukannya—menatap ruangan tempat hidup mereka berubah selamanya, mencoba mencuri satu gambar terakhir untuk dibawa ke dalam gelap. Arven tidak mencuri apa pun. Ia hanya berjalan.

Pintu tertutup pelan. Suara di dalam ruangan teredam.

Itu baru sidang pertama.
Mereka tidak menunggu lama untuk sidang kedua. Lonceng di dalam batu belum sempat berdentang lagi. Obor-obor belum sempat diputar. Lilin sihir di depan kursi Para Magi hanya disesuaikan sedikit.

Pelayan mendekati Serath, berbisik sebentar. Magi Tertinggi itu mengangguk kecil. Ia tidak meninggalkan kursinya. Ia jarang meninggalkan kursinya sepanjang hari sidang.

“Sidang Etika,” seru pelayan, kembali ke posisi semula. “Kasus: penyalahgunaan Dril, manipulasi Hukum, dan pemalsuan mantra.”

Nada suaranya sedikit berubah di kata terakhir. Orang-orang Etika memang suka menyusun pasal sampai terdengar penuh dan padat.

Penuduh kali ini seorang lelaki muda berwajah terlalu bulat untuk usia jubahnya. Pelayan menyebut namanya, jelas dan datar, Inisiat Egon, putra Mareth. Ia tampak marah lebih daripada takut. Kata-katanya meluncur cepat, saling menabrak, seolah ia mencoba menyampaikan keluhan berbulan-bulan dalam satu napas. Tertuduh di seberang, Inisiat Darel, bertubuh lebih tinggi dan lebih tenang, meski rahangnya menggembung karena dikatup terlalu kencang.

Bukti Sihir yang dibawa Egon adalah kristal kecil yang memperlihatkan sebuah lembar ujian dengan tanda-tanda sihir yang kabur di sudutnya, dan percakapan singkat di lorong tentang “jalan cepat”. Di atas kertas, kedengarannya buruk. Di telinga penjaga, seperti Jorek, itu tidak lebih buruk dari ratusan percakapan serupa yang ia dengar di barak, dipan, dan meja makan.

Pembelaan Darel disusun jauh lebih rapi. Ia mengajukan kronologi, menunjukkan catatan menteri kecil yang membuktikan bahwa Egon juga pernah memelintir jadwal ujian. Dua kesaksian tertulis dari inisiat lain mendukungnya, menyebut Penuduh sebagai “ambisius” dengan cara yang tidak dimaksud sebagai pujian.

Majelis mendengarkan. Mereka tidak banyak bertanya. Pada titik tertentu, Jorek berhenti mengikuti isi kata-kata, hanya memperhatikan ritmenya. Egon meninggikan suara ketika merasa di atas angin. Tertuduh menekan suaranya ketika hampir terpancing emosi. Pelayan sudah memegang satu gulungan perkamen kosong dan satu segel kecil, siap menulis putusan begitu diperintahkan—seolah yang kurang dari ruangan ini hanyalah tinta.

Akhirnya, bukan Serath yang bangkit, melainkan Magi di kursi kiri—perempuan tua berjari penuh cincin. Suaranya tajam seperti ujung besi yang lama disimpan di salju.

“Inisiat Egon, putra Mareth,” katanya, “engkau dinyatakan bersalah.”

Egon mengangkat kepala, mata menyala marah—marah yang terlambat, marah yang tidak punya tempat.

“Kau memelintir Hukum demi keuntungan pribadi. Itu sudah cukup buruk. Kau melakukannya dengan ketidakcakapan. Itu penghinaan bagi Majelis.”

Ada yang tertawa tertahan di sisi pelayan. Ia menutup mulut cepat-cepat. Tawa tidak tercatat dalam berita acara, tetapi bukan berarti tidak ada.

“Sebagaimana diatur dalam Pasal Keempat Etika Sihir—tentang kerusakan nama dan tindakan kelicikan yang dilakukan tanpa kecerdasan—maka hukuman dijatuhkan sebagai berikut.”

Ia berhenti sebentar, seolah memberi waktu bagi kata-kata untuk mencari tempatnya sendiri dalam kepala semua orang.

“Seluruh Dril-mu disita. Hak ujian dicabut selama lima hari siklus. Seluruh akses komunikasi ditutup.”

Lima hari. Terdengar singkat. Di lembar Hukum, hanya sebatas kalimat. Di hidup seorang inisiat, lima hari tanpa Dril berarti lima hari tanpa suara. Tanpa nama di papan pengumuman. Tanpa akses jalur resmi. Lima hari hanya menjadi bayangan yang lewat di belakang orang lain.

Egon berteriak. Ia memprotes, memaki, memohon, semuanya bercampur dalam satu tarikan napas panjang. Kata-katanya campur aduk, menyebut nama-nama lain yang seharusnya diadili, menyebut keadilan, menyebut dewa, menyebut sumpah. Ruangan menelannya tanpa menjawab.

“Kau dapat mengajukan banding dalam satu siklus malam,” kata pelayan, kalimatnya terucap begitu lancar seolah ia mengucapkan salam. “Sertakan bukti baru. Jika bandingmu ditolak, putusan Majelis bersifat mengikat dan final. Hanya Menteri Sihir yang dapat menggugatnya.”
Satu siklus malam. Cukup lama untuk membuat seseorang duduk sendiri dalam gelap dan mengulang semua kata yang pernah ia ucapkan. Terlalu singkat untuk mencari kebenaran, jika kebenaran itu benar-benar ada.

Segel besar Majelis diangkat dan ditekan ke dalam lilin sihir di depan kursi tengah. Lilin itu menyala sebentar lebih terang ketika lambang Kementerian menyentuhnya, lalu redup lagi. Tanda itu tidak terlihat jelas di udara, tapi Jorek bisa merasakan perubahan halus setelahnya. Seperti ruangan mengembuskan napas dan menutup sesuatu di baliknya. Di sela itu, salah satu ukiran di pilar dekat pintu terasa berdenyut halus—atau mungkin hanya bayangan dari asap obor. Namun Jorek mendapati dirinya berdiri sedikit lebih tegak, seolah dinding benar-benar sedang mendengarkan.

“Segel ini mengikat seluruh inisiat tanpa pengecualian,” pelayan membaca, sesuai naskah. “Sebagaimana Hukum menetapkan, sebagaimana Majelis menyetujui.”

Pintu dibuka lagi. Egon digiring keluar, kini lebih kecil daripada suaranya tadi. Darel mengikuti, langkahnya rapat, matanya menunduk sebentar seperti orang yang baru sadar bahwa selamat pun punya rasa pahit. Ada sesuatu yang hilang dari wajah keduanya, meski berbeda bentuknya. Seperti dua orang yang keluar dari kuil yang sama dengan doa yang sama, tapi dengan dewa yang berbeda di dalam kepala.

Setelah kedua sidang selesai, hari belum benar-benar siang. Di luar, mungkin matahari baru merayap di antara atap rumah-rumah. Di bawah tanah, waktu diukur dengan jumlah lilin yang habis dan jumlah keputusan yang dijatuhkan.

Para Magi mundur ke ruang istirahat mereka di belakang kursi tinggi. Pelayan sibuk menggulung perkamen, menyimpan kristal, mencabut sisa lilin sihir dari dudukannya. Penjaga lain mengantar para tertuduh ke sel tahanan sementara, atau langsung ke ruang eksekusi administratif, jika hukuman Dril penuh dijatuhkan. Jorek tetap di ambang pintu, menatap lorong kosong yang baru saja dilalui orang-orang tadi, merasakan bau lilin sihir masih menempel di kerongkongan seperti sisa asap yang tidak mau pergi.

“Berat?” tanya suara di sampingnya.

Itu Berran, sesama penjaga, yang berganti jaga menjelang tengah hari. Tubuhnya lebih pendek dari Jorek, tapi lebih bidang dengan jahitan lama bekas luka tampak di lehernya.

“Biasa,” jawab Jorek.

“Pengkhianatan pagi-pagi, Etika sebelum makan siang,” gumam Berran. “Mereka ingin kita lupa bahwa dulu, satu sidang besar bisa cukup untuk satu minggu.”

“Dulu Hukum lebih sedikit,” kata Jorek.

“Dulu kita punya lebih sedikit Magi yang ingin terlihat sibuk,” balas Berran dengan senyum miring.

Jorek tidak menyahut. Ia tahu dinding punya telinga, bahkan di lorong-lorong yang dianggap sepi. Berran boleh bermain dengan ucapan, ia tidak.

“Aku dengar,” lanjut Berran, merendahkan suara, “Direktorat Kehakiman ingin menambah satu jenis sidang lagi. Sidang Tata Krama Publik. Katanya, supaya orang-orang di jalan ingat bahwa mereka diawasi.”

“Sudah cukup banyak orang yang merasa diawasi,” kata Jorek.

“Beda antara merasa dan tahu,” sahut Berran. “Kalau orang hanya merasa, mereka kadang masih berani. Kalau mereka tahu…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tidak perlu.

Berran menggeser tombak di bahunya. "Jaga di sini lagi hari ini?”

“Hari penuh,” jawab Jorek.

“Kasihan.” Berran menepuk bahunya sekali, lalu berbalik menyusuri lorong. “Kalau suatu hari Hukum memutuskan kita yang harus diadili, aku harap kita tidak berakhir di depan pintu kita sendiri.”

Jorek tidak tertawa. Ia hanya menggeleng pelan.

Ketika langkah Berran menghilang di tikungan, lorong kembali sunyi. Obor masih menyala. Asap tetap naik ke langit-langit, menghitamkan batu. Perkamen besar di dinding seberang masih tergantung, huruf ungunya tetap tegas meski semua yang membacanya berubah wajah dari tahun ke tahun.
Tanpa sadar, Jorek berjalan mendekatinya. Kebiasaan lama kembali, seperti bau lama yang muncul ketika lemari tua dibuka.

Ia membaca baris demi baris dalam hati, meski tidak benar-benar melihat hurufnya. Pasal-pasal tentang Dril, tentang sumpah Perhimpunan, tentang kewenangan Menteri Sihir. Tentang banding. Tentang penggugatan. Tentang bagaimana segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada lingkaran besar: Segel Ungu.

Seluruh kota hidup dalam bayangan teks itu, sadar atau tidak. Inisiat mempelajarinya di kelas. Menteri mengutipnya dalam pidato. Pelayan menyalinnya di catatan. Penjaga berdiri di bawahnya, membiarkan kata-kata itu menetes lewat rambut dan bahu mereka, sedikit demi sedikit, sampai tak bisa dibedakan lagi dengan keringat sendiri.

Jorek mengangkat pandangannya dari perkamen ke pintu perunggu. Permukaan perunggu menyimpan pantulan samar dirinya—wajah keras, rambut mulai menipis di pelipis, garis halus di bawah mata. Beberapa tahun lalu, ia pernah berdiri di tempat yang hampir sama, tapi di sisi lain pintu. Waktu itu ia tidak mengenakan zirah penjaga, melainkan jubah murid biasa.

Ia pernah bermimpi duduk di ruang kelas Perhimpunan, memegang Koin Dril miliknya sendiri, mengucapkan mantra di bawah bimbingan Magi. Ia pernah hampir diangkat menjadi Inisiat. Ujian teori lulus. Ujian sihir lulus. Hanya satu yang gagal, penyaringan terakhir, saat Kementerian menilai siapa saja yang “lebih cocok” mengayunkan tongkat, dan siapa yang lebih dibutuhkan untuk memegang tombak.

Mereka bahkan tidak menulis alasannya di surat penolakan.

Sejak hari itu, ia berdiri di depan pintu. Menyaksikan mereka yang dipilih masuk, dan mereka yang dipilih keluar. Ia tidak pernah benar-benar tahu apakah ia harus merasa beruntung atau dikasihani.

Di catatan Kementerian, namanya hanya satu baris di daftar penjaga. Di berita acara sidang, namanya tidak pernah muncul. Di Hukum, keberadaannya hanya disebut sebagai penjaga.

Namun hari-hari seperti ini, ketika obor hampir padam, ketika dua sidang sudah selesai sebelum siang, ketika bau lilin sihir masih menempel di kerongkongan, Jorek merasakan sesuatu yang tidak tertulis di mana pun.

Ia mengingat.

Ia mengingat wajah Arven ketika Dril disambar. Ia mengingat mata Egon ketika hukuman dibacakan. Ia mengingat tawa kecil pelayan, helaan napas Tertuduh, senyum tipis Magi, ucapan Berran. Ia mengingat suara dentang kecil di batu saat fajar, dan suara pintu menutup ketika seseorang dibawa pergi.

Hukum mungkin mengikat seluruh inisiat. Nama mereka tertulis di perkamen, nasib mereka diikat oleh pasal-pasal yang diperdebatkan di meja tinggi.

Namun ketakutanlah yang mengikat seluruh kota.
Ketakutan pada kata yang belum diucapkan. Pada sidang yang belum dijadwalkan. Pada tongkat yang belum diangkat tinggi-tinggi.

Dan ketakutan, tidak seperti Dril, tidak pernah bisa disita
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⟁ SEBUAH PINTU ⟁

Cressa selalu mengira jalan ini akan sedikit lebih harum.

Di kepalanya, nama Drilent dulu terdengar seperti sesuatu yang megah, lorong yang “penuh Dril”, tempat “apa pun bisa dibeli”, bagian kota yang bahkan Kementerian pura-pura tidak kenal. Seharusnya ada sedikit kemewahan yang tersembunyi di bawah tanah, ia pikir. Wangi kayu tua, asap ramuan mahal, mungkin.

Yang sampai ke hidungnya cuma bau bawang goreng dari warung murah di ujung jalan, keringat orang-orang yang berdesakan, asap ramuan yang tidak pernah diperiksa, sisa anggur basi di mulut lelaki yang tertawa terlalu dekat, dan bau Dril yang tipis di bawah semuanya. Bau itu datang seperti napas lama yang tidak pernah betul-betul habis.

Di atas kepala, tali jemuran dan bendera kain melintang rendah, berlapis-lapis, menutup sebagian langit. Kain-kain itu berkibar malas, menahan cahaya. Dari tempat Cressa berdiri, Drilent terasa seperti perut kota—lembap, padat, dan terlalu penuh suara.

Ia menarik tudungnya lebih dalam, memastikan rambutnya benar-benar tertutup. Di sini, orang tidak punya waktu untuk mengingat wajah yang lewat. Tetapi beberapa wajah memang suka mengingat, terutama wajah yang tampak seperti membawa sesuatu berharga dalam kantung.

Tangga batu menurun dari jalan utama, licin oleh sisa hujan malam dan sesuatu yang tidak ingin ia tebak. Cressa menuruni anak tangga pelan-pelan, satu per satu, merasakan lututnya menyesuaikan dengan kemiringan. Di bawah, lorong Drilent melengkung dan menyempit di antara dinding rumah-rumah tua, seakan kota sengaja menyembunyikan bagian ini dari mata Kartovel Suci.

Kementerian kadang menyebutnya “Drilentine Baru”, seolah nama baru bisa mencuci bau lama. Mereka mengubah namanya seperti mereka mengubah segel, sangat formal, panjang, dan tidak jujur. Anak-anak jalanan punya cara yang lebih cepat. Mereka cukup menggerakkan dagu ke arah bawah dan menyebutnya singkat:

“Drilent.”

Itu sudah cukup.

Cressa membaur di antara kerumunan. Jubah para inisiat, pakaian kasar buruh, baju besi penjaga kota, kain lusuh tukang angkut, jubah bagus orang yang pura-pura tersesat. Semua bercampur, bergerak dengan ritme yang sama. Di sini tidak ada yang benar-benar berjalan pelan, bahkan orang yang tidak punya tujuan pun belajar berpura-pura seolah mereka punya.

Kantung kecil di pinggangnya bergeser setiap kali ia melangkah. Beratnya mengingatkan pada hal yang ia bawa di dalam, potongan logam gelap, setebal kuku, bentuknya sederhana, dinginnya menembus kulit bahkan melalui dua lapis kain. Bukan Dril, setidaknya bukan jenis yang bisa dihitung di meja kasir. Orang yang memberikan benda itu padanya menyebutnya “plat nama”, dengan nada datar seperti menyebut daftar belanja.

“Jangan jatuhkan,” pesan orang itu. “Dan jangan tunjukkan pada siapa pun kecuali orang di balik pintu.”

“Kalau pintunya tidak mau terbuka?” ia sempat bertanya.

“Kalau pintunya tidak mau terbuka,” jawab orang itu, “kau salah pintu.”

Jawaban yang tidak membantu. Tapi ia tetap datang.

Seorang lelaki bertubuh besar lewat membawa peti di pundak. Cressa menyingkir setengah langkah, membiarkan bau kayu basah dan besi berkarat menyusulnya. Di kiri, jendela sempit menampilkan deretan tongkat yang berdiri miring, ujungnya seperti mata kayu yang mengikuti orang berlalu. Lelaki tua kurus duduk di kursi rendah di depan pintu, kedua tangannya bertumpu di lutut, matanya menatap jalan dengan kelopak turun.

Ia tidak berteriak menawarkan dagangan. Ia bahkan tidak bergerak. Ia hanya memiringkan kepala sedikit setiap kali seseorang berhenti terlalu lama di depan kaca.
Cressa mempercepat langkah. Butuh waktu bagi orang untuk diizinkan masuk ke tempat seperti itu. Tongkat-tongkat di sana bukan untuk orang yang cuma punya kantung Dril biasa dan nama yang mudah dicoret.

Di sisi lain lorong, toko ramuan bernafas lewat jendela berkabutnya. Botol-botol bersusun di balik kaca, cairan di dalamnya berputar pelan tanpa sentuhan, warna-warnanya berganti jika terkena cahaya dari arah tertentu. Pintu setengah terbuka, uap tipis melayang keluar.

Aroma tajam menyergapnya: tanaman kering, akar yang dibakar, gula gosong, dan sesuatu yang asam, menyengat, seperti penyesalan yang dipanaskan lagi. Di ambang pintu, seorang Essarist magang duduk, lengan bajunya tergulung, tangan bernoda ungu hampir sampai siku. Ia menumbuk sesuatu di lesung batu, gelegar kecilnya tertelan oleh suara Drilent.

“Ramuan Fortun,” serunya datar, seperti mengulang pelajaran. “Ramuan Brovos. Ramuan Forgo. Harga wajar. Diskon untuk yang baru gagal ujian.”

Dua inisiat muda berhenti sejenak. Jubah mereka masih terlalu baru, lipatannya belum benar-benar jatuh mengikuti tubuh pemakainya. Satu tersenyum miring, yang lain menggigit bibir. Mereka menghilang ke dalam asap beberapa detik kemudian, seperti benda kecil ditelan oleh perut makhluk besar.

Cressa lewat tanpa menoleh. Ia tidak butuh Fortun, Brovos, atau Forgo hari ini. Ia butuh Drilent mengingatnya sesedikit mungkin.

Semakin jauh ke dalam, toko-toko kehilangan papan nama. Sebagian kehilangan keinginan untuk terlihat seperti toko. Sebuah meja panjang didorong keluar sampai hampir menyentuh jalan, kakinya ditopang batu bata supaya tidak miring. Di atasnya, benda-benda kecil bertumpuk. Sebagian dibungkus kain hitam, sebagian dibiarkan terbuka, menampakkan sudut logam, ujung kaca, atau sepotong tulang yang sudah dipoles.

“Tak usah tanya dari mana asalnya,” kata pria gemuk di belakang meja. Cincinnya terlalu banyak, hampir menutupi kulit jarinya; beberapa cincin tampak tidak pas, seperti benda yang belum menyerah untuk dipakai. “Yang perlu kau tahu cuma ini, besok pagi kau tidak akan tercatat memakai apa pun.”

Ia menepuk salah satu bungkusan kain hitam dengan dua jari, seolah membangunkannya. “Dan kalau kau tertangkap Penjaga, kau bisa bilang kau bahkan tidak tahu apa yang sedang kau pakai,” tambahnya pada dua inisiat yang sedang menawar sesuatu yang terlalu kecil untuk dilihat dari jauh.

Seorang inisiat lain, mata cekung dalam, menimbang botol kecil di tangannya. Cairan di dalam bergerak mengelilingi dinding kaca, menolak diam.

“Berapa lama jejaknya hilang?” tanya si inisiat.

“Cukup lama sampai kau bisa berpura-pura tidak tahu-menahu ketika mereka mulai menuduh,” jawab si pedagang, ringan. “Kalau kau masih hidup, tentu.”

Cressa berpura-pura sibuk memperhatikan retakan di dinding saat ia lewat. Di Drilent, selalu ada kalimat yang tidak baik kalau ikut dibawa pulang. Kata-kata punya cara sendiri memanjang, melewati telinga yang tidak diundang.

Beberapa pedagang bahkan tidak punya meja. Seorang perempuan tua duduk di atas karung, punggungnya bersandar pada tembok yang basah. Dagangannya cuma tiga kotak kayu dan serumpun pergamen yang diikat tali. Tangannya cekatan menghitung pecahan Dril yang ditukar di atas kotak, bibirnya bergerak pelan menghitung sesuatu yang mungkin bukan angka sama sekali.

Di sampingnya, seorang pemuda menjaga deretan kandang berjaring. Apa pun yang ada di dalamnya bergerak gelisah, kadang kepakan sayap, kadang dengkuran kecil. Mata-mata kecil menyala di balik gelap.

“Ini mengirim pesan,” katanya pada seorang pria berjubah biru. Suaranya rendah tapi cepat, seperti orang yang terbiasa bicara hal-hal yang tidak seharusnya keras. “Yang di depan sana biasa. Yang di belakang sana mengikuti Dril. Keduanya tidak kembali setelah diutus, jadi namamu tetap aman. Kalau kau takut suratmu dibaca Penjaga, jangan pakai Pos Burung Kestrel.”
Cressa menunduk sedikit ketika tatapan pemuda itu melintas ke arahnya. Ia tidak datang untuk membeli binatang. Bukan hari ini. Ia datang karena seseorang di atasnya memutuskan lebih baik ia yang berjalan di Drilent daripada orang itu sendiri.

Lorong bercabang beberapa kali. Setiap cabang punya nadanya sendiri. Ada gang yang bau arangnya lebih kuat, ada yang dipenuhi suara ketukan logam kecil, ada yang terlalu sepi untuk waktu pagi ini.

Cressa melewati sebuah belokan, dan di sudut mata ia melihat pelat besi bundar tertanam di dinding, dicat hitam sepenuhnya. Tidak ada tulisan. Hanya goresan tipis melintang, seperti bekas pisau. Kulit belakang lehernya merinding. Plat kecil di kantungnya terasa sedikit lebih berat.

Ia tidak menoleh lebih lama dari beberapa detik. Di mulut gang itu, dua lelaki bersandar pada dinding dalam bayangan. Mereka tidak memanggil, tidak menawarkan apa-apa, tidak mencoba menahan siapa pun. Mereka hanya memperhatikan siapa yang masuk dan siapa yang keluar.

Itu sudah cukup untuk menyusun banyak cerita. Cerita-cerita yang jarang diucapkan keras-keras, dan lebih jarang lagi dicatat.

Kerumunan berubah menjelang pusat kota. Batu-batu di bawah kakinya menjadi lebih rata; air yang menggenang di sela-selanya lebih bersih, atau setidaknya tampak lebih bersih. Di kejauhan, di atas atap-atap kayu dan batu, Cressa bisa melihat ujung kubah Kartovel Suci Aphoteon, pucuknya memantulkan cahaya pucat.

Dari sini, kubah itu tampak seperti mata marmer yang mengawasi, berjarak, tidak kotor seperti Drilent, tapi tidak benar-benar bersih. Indah, kalau dilihat dari jauh. Kebanyakan hal memang begitu.

Rumah pelacuran pertama menyelinap di antara dua toko perkakas, nyaris tidak mencolok kalau bukan karena tirai merah yang terlalu bersih untuk lorong sekotor ini. Di atas pintunya tidak ada lukisan perempuan telanjang, hanya lambang bunga lima kelopak yang dilukis tergesa, warna catnya terlalu cerah.

Seorang gadis berambut hitam duduk di ambang. Tubuhnya hampir telanjang, beberapa kain tipis menempel lebih karena kebiasaan daripada fungsi. Tawa kecilnya terdengar, bukan tawa yang lahir dari sesuatu yang lucu, melainkan tawa yang sudah terlalu sering dipakai sampai ia tidak lagi tahu kapan harus berhenti.

Dua inisiat dengan jubah terlalu baru melambat di depan rumah itu. Yang satu menyikut temannya, mengatakan sesuatu dengan suara terlalu pelan untuk ditangkap tapi terlalu mudah ditebak. Temannya tertawa gugup. Mereka berdebat pelan, setengah malu, setengah penasaran, sebelum akhirnya menghilang di balik tirai merah. Bau minyak rambut murah dan ramuan beraroma manis mengikuti mereka.

“Dril paling murah yang pernah mereka habiskan,” gumam seorang penjaga kota di sudut lorong, helmnya agak miring, setengah untuk dirinya sendiri, setengah untuk temannya. “Dan barangkali yang paling mahal.”

Temannya tertawa pendek, bunyinya lebih seperti batuk yang malas.

Cressa menahan senyum yang hampir muncul. Di sini, semua orang suka bersuara bijak seolah mereka dewa itu sendiri. Mereka lupa dewa jarang terlihat di Drilent. Yang ada cuma orang-orang biasa, dengan kebiasaan yang sama sekali tidak suci.

Tak jauh dari rumah pelacuran, sebuah kedai minum mengambil setengah lebar lorong. Pintu kayunya terbuka lebar, suara gelas beradu, nyanyian sumbang, dan sumpah serapah tumpah ke jalan bersama bau minuman keras, daging panggang, dan muntahan yang belum sempat disiram. Papan di atas pintu nyaris tak terbaca karena jelaga dan waktu; huruf-hurufnya mungkin pernah menyusun nama pemilik pertama yang sudah lama mati.

Orang tidak perlu membaca papan untuk tahu fungsinya.

Di bawah salah satu jendela, seorang pria duduk di tanah, punggungnya bersandar pada dinding. Rambutnya kusut, janggutnya dipenuhi remah roti dan noda yang mungkin bukan roti. Matanya merah dan berair. Di tangannya, ia menggenggam sesuatu yang menghitam, koin besar, rata dan terlalu gelap, tanpa ukiran. Ia mengibas-ngibaskannya ke udara seolah benda itu bisa memanggil perhatian.