Asidental—Beta
22 subscribers
1 photo
1 link
Download Telegram
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🜏 DENTANG 🜏

Hujan terus turun sejak pagi, gerimis tipis yang merayap masuk ke tulang, membuat sendi-sendi Cedric terasa ngilu. Dari jendela kecil kamarnya ia sudah melihat halaman luar Kortavel menghitam, batu-batunya licin disiram air, sambil menghitung dentang lonceng yang menandai jam-jam lewat. Ritus lelang dimulai pada dentang keenam setelah doa siang, ketika dentang terakhir terdengar, ia masih berdiri di meja Kanonik Marlow, dipaksa mengulang satu kalimat dalam laporan kolekte tiga kali sampai sang Kanonik puas.

Sekarang, berdiri di bawahnya, Kortavel menjulang dalam keheningan yang dibuat-buat. Kubah beratnya penuh ukiran dewa-dewa dan para wali yang tampak menangis dalam hujan, menjanjikan pengikutnya cahaya dan keselamatan.

Namun Cedric tahu lebih baik.
Ia tahu, jika lembar ritus pertama terlambat lagi, Ordo takkan puas hanya dengan teguran tertulis. Mereka jarang merasa perlu mengulang ancaman dua kali.

Ia mengangkat tudung jubah juru tulisnya, menyembunyikan wajah yang masih sedikit terengah, dan melebur di antara para peziarah yang berdoa kepada Tiga Belasku—panteon yang bahkan walinya sendiri mulai ragu. Bau lilin lebah dan dupa cendana memenuhi udara, manis dan lembap, seolah berusaha menutupi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih busuk, yang berdiam di balik batu-batu suci itu.

Cedric menyelip di antara mereka, bahunya membungkuk dan kepalanya merunduk—bukan semata demi kesalehan, melainkan untuk menyembunyikan napas yang belum sepenuhnya tenang. Tidak ada yang meliriknya dua kali. Di sini, menjadi tidak terlihat adalah satu-satunya kemewahan yang ia miliki, dan satu-satunya perlindungan yang tersisa bila Ordo mulai menginginkan kepala seseorang untuk disalahkan.

Seorang perempuan tua menjulurkan tangan, meminta sedekah dengan suara parau. Cedric pura-pura tidak melihat, bukan karena kejam, melainkan karena ia tidak punya apa-apa selain sisa tenaga dan satu nama yang mudah diganti di daftar hukuman. Di sisi lain, seorang anak altar berlari kecil sambil membawa baskom air—airnya tumpah sedikit, membasahi tepi sepatu Cedric. Anak itu meminta maaf terburu-buru, lalu lenyap lagi ke kerumunan.

Cedric berhenti di dekat altar utama, hanya sesaat, matanya terpejam. Bukan untuk berdoa—ia sungguh tidak punya waktu untuk itu—melainkan untuk menyelaraskan kembali detak jantungnya dengan nyanyian rendah para wali. Patung Sang Penyayang berdiri terlalu bersih, terlalu putih, seakan debu dunia takut menyentuhnya. Cedric sempat berpikir, seandainya patung itu bisa berbicara, ia akan meminta maaf... lalu menagih keterlambatan.

Ia membuka mata dan bergerak menuju lorong kecil di sisi kiri, lorong yang jarang digunakan peziarah, lorong yang menuju sesuatu yang lebih tua daripada Kortavel itu sendiri.

Ia menahan diri untuk tidak berlari.

Jubah juru tulis Ordo tidak layak berkibar seperti milik anak altar, jadi ia hanya mempercepat langkah, sedikit saja, cukup untuk membuat napasnya kembali pendek, cukup untuk membuat bunyi hitungan waktu berulang di dalam kepalanya: dentang keenam, dentang ketujuh, dan kemungkinan yang menyertainya. Ia membenci dirinya sendiri karena masih menghitung dengan cara itu.

Ia membuka pintu kayu di ujung lorong dan masuk begitu saja.

Koridor gelap menyambutnya, berbau tanah kuburan setelah hujan. Mantra-mantra kuno tergores di dinding batu, tanda perlindungan, atau peringatan, tergantung siapa yang membacanya. Udara di sini lebih dingin, lebih padat. Setiap langkah di lantai batu terdengar jelas di telinganya sendiri, seolah seluruh Kortavel bisa mendengar ia datang terlambat dan menyukainya.

Di ujung koridor berdiri pintu kayu rendah yang tak akan dianggap penting oleh mata awam. Pintu itu tidak megah. Tidak ada ukiran dewa. Tidak ada lilin. Hanya kayu tua, paku besi, dan rasa tidak enak yang menempel pada gagangnya.

Di sinilah perjalanannya berakhir. Atau dimulai, jika ia salah melangkah.
Cedric mengusap telapak tangannya ke sisi jubah, mengeringkan keringat yang dingin, lalu mengetuk pelan, dua kali cepat, satu kali lambat. Ketukan kedua terdengar sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia membeku, menunggu. Membenci dirinya sendiri karenanya.

Dari balik pintu, suara tua bertanya,
“Siapa yang datang ke hadapan Dewa Sunyi?”

Tenggorokannya terasa kering tiba-tiba, tetapi lidahnya sudah hafal jawaban itu sama seperti tangan hafal bentuk pena.
“Cedric Holt. Ordo Atriak Suci.”

Hening. Hanya suara hujan yang jauh di atas, merembes turun lewat batu.

Lalu pertanyaan kedua, yang selalu membuatnya ingin tertawa—bukan karena lucu, melainkan karena setiap jawaban di dunia ini pada akhirnya sama:
“Apa yang kau tinggalkan di belakangmu?”

Kepalanya berdenyut tanpa alasan. Cedric mengatup rahang. Ia pernah menjawab kalimat ini dengan lebih puitis ketika masih baru. Itu hanya membuat mereka menertawakannya.
“Penyesalan, karena ia tidak menerimanya. Harapan, karena ia meminta.”

Ada bunyi klik berat dari dalam, seperti gigi-gigi mekanisme logam yang dipaksa berputar setelah berabad-abad tak digunakan. Pintu itu terbuka sedikit, hanya selebar telapak tangan, memperlihatkan kegelapan pekat di baliknya.

“Kau terlambat, Tuan Holt,” kata suara yang sama, kini lebih dekat, lebih nyata. “Masuk.”

Tangga batu di balik pintu turun curam. Hujan masih terdengar ketika Cedric menuruni anak-anak tangga itu, lalu perlahan memudar, digantikan desis lembap dan gema langkah puluhan orang yang sudah berkumpul di bawah tanah Kortavel. Jubahnya terseret di tepi batu yang licin, dan ia hampir terpeleset sekali, cukup untuk membuatnya berhenti setengah detik lebih lama dari yang ia rencanakan.

Tinta masih mengering di ujung kukunya, ia belum sempat membersihkannya setelah Kanonik gila itu memanggilnya naik hanya untuk memeriksa satu kalimat dalam laporan kolekte. Satu kalimat, setengah jam hilang, dan seluruh ritus hari ini bisa mencatatnya sebagai terlambat.

Tentu saja Ordo tidak peduli alasan.

Balairung itu lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan pertama kali datang ke sini bertahun-tahun lalu, namun malam ini terasa sempit oleh jumlah orang yang hadir. Dari tangga, ia melihat mereka tersebar di lantai batu. Sebagian berdiri dalam kelompok kecil, kepala saling mendekat; sebagian lain menempel ke dinding, memastikan tak ada siapa pun di belakang mereka. Wajah-wajah itu pucat dan gelap, mata yang terlalu waspada untuk tempat ibadah.

Cedric tidak berhenti di lantai.

Ia menggeser tubuhnya menyusuri dinding, melewati bau keringat yang disembunyikan ramuan, menyelinap di belakang dua penyihir berjubah ungu yang sibuk berdebat pelan, lalu menaiki tiga anak tangga sempit menuju tembok rendah dari batu hitam di sisi balairung. Di sanalah para juru tulis berdiri, deretan meja sempit dengan papan lilin, pena baja, dan kantong kecil berisi Dril hitam untuk ongkos ritus.

“Engkau datang juga akhirnya.”

Suara itu kering seperti perkamen lama. Master Galvien berdiri di ujung meja, punggungnya melengkung, namun matanya masih setajam pahat. Ia tidak menoleh penuh, hanya sedikit gerakan mata yang menyapu Cedric dari kepala sampai sepatu yang basah, seperti menilai barang yang baru tiba.

“Maaf, Master. Kanonik Marlow—”

“—telah menyampaikan alasannya.”

Galvien akhirnya menatapnya, pandangannya tajam namun tanpa emosi. “Dan Ordo telah memutuskan bahwa alasan itu tidak cukup.”

Ia mengeluarkan gulungan kecil bersegel merah dari lipatan jubahnya dan meletakkannya di meja. Gulungan itu tidak besar—benda kecil, seperti banyak hal lain di tempat ini, yang bisa merusak hidup seseorang. “Setelah ritus selesai, kau akan menyerahkan jari kelingking tangan kirimu.”

Kata-kata itu jatuh seperti angka akhir.
Cedric gemetar. Jari kelingking kirinya menggeliat tanpa sadar, seolah tubuhnya mencoba menyembunyikannya, seperti anak kecil menyembunyikan permen dari orang tua. Untuk sesaat ia hanya berdiri, napasnya tersendat pelan, cukup pelan sehingga hanya ia sendiri yang mendengarnya.

“Master…” ia mencoba, lebih mirip keluhan daripada protes.

Galvien menutup gulungan itu kembali dengan rapi, seolah hanya menata dokumen biasa. “Itu hukuman paling ringan yang dapat mereka berikan untuk kelalaian berulang,” ujarnya datar. “Kau seharusnya bersyukur, Tuan Holt. Ada juru tulis yang kehilangan lidah karena salah menulis satu angka.”

Cedric ingin berkata bahwa ia tidak pernah salah menulis angka. Ia ingin berkata banyak hal. Tapi kata-kata tidak punya nilai di ruangan ini kecuali dicap dan disegel.

Galvien menunjuk papan lilin. “Sekarang bekerja. Jika malam ini ada satu angka yang salah, mereka mungkin akan menginginkan seluruh tangan kirimu.”

Tangan kiri Cedric berdenyut seakan mendengar namanya disebut. Ia menunduk, meraih pena baja dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menyamakan napasnya dengan dengung obor.

Di tengah ruangan, sebuah meja dari batu hitam berdiri sendiri, permukaannya halus dan dingin seperti danau beku di tengah musim dingin. Kain beludru gelap menutupi benda-benda yang tergeletak di atasnya, tiap gundukan kain menyembunyikan sesuatu yang membuat orang berkeringat hanya karena memandang siluetnya. Cedric pernah bertanya pada dirinya sendiri bagaimana beludru bisa tampak lebih gelap daripada malam. Malam setidaknya punya bintang.

Ia mencatat nama-nama dengan sudut mata, bukan karena ingin tahu, melainkan karena ia tidak punya pilihan lain. Nama adalah hal pertama yang diminta Ordo jika sesuatu berjalan salah, dan juru tulis yang tidak tahu siapa berdiri di ruangan selalu menjadi juru tulis pertama yang disalahkan.

Ia melihat seorang lelaki tua berjubah biru tua berdiri terlalu dekat dengan dinding, jari-jarinya bergerak tanpa suara, seolah masih menghitung sesuatu yang tidak lagi ada di kantungnya. Di sisi lain, seorang perempuan muda dengan cincin emas berlebihan menatap meja batu dengan senyum tipis, senyum orang yang yakin dirinya tidak akan kalah malam ini, atau setidaknya tidak akan kalah sendirian.

Ada juga mereka yang tidak mencatatkan diri.

Cedric mengenali mereka dari cara berdirinya, tidak dekat meja, tidak dekat pintu, dan selalu berada di bayangan orang lain. Orang-orang seperti itu tidak datang untuk membeli. Mereka datang untuk memastikan siapa yang membeli, dan siapa yang setelah malam ini tidak lagi punya hak untuk menolak. Cedric pernah mengira mereka penjaga. Lalu ia mengerti.

Di sudut balairung, dua penyihir bertukar bisik. Salah satu dari mereka tertawa kecil, cepat berhenti, lalu menunduk saat sadar suaranya terdengar terlalu jelas. Cedric mencatat gerak itu, bukan tawa itu. Tawa bisa disangkal. Gerak tubuh tidak.

Obor-obor bergetar serempak, bukan karena angin, tak ada angin di bawah tanah, melainkan karena ritus kedua mulai dibacakan di balik tirai batu di ujung ruangan. Cedric tidak bisa melihat siapa yang membacanya, hanya mendengar potongan suku kata yang terlalu tua untuk disebut doa. Setiap kali satu suku kata jatuh, nyala obor mengecil sesaat, seolah api pun tahu kapan harus menahan diri.

Master Galvien mengetuk papan lilinnya sekali.

Cedric menoleh. Galvien tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunjuk garis waktu yang sudah ditorehkan di papan, tiga kolom, masing-masing dengan tanda kecil di ujungnya. Dentang keenam sudah lewat. Dentang ketujuh akan menentukan apakah nama-nama malam ini tercatat sebagai “sah” atau “diperselisihkan”.

Cedric menelan ludah.

Ia pernah melihat apa yang terjadi pada lelang yang “diperselisihkan”. Bukan pembatalan. Ordo tidak pernah membatalkan apa pun. Mereka hanya menunda pengakuan, lalu menagih kembali dengan cara yang lebih mahal, lebih pelan, dan lebih pasti. Cara yang membuat orang berharap sampai harapannya sendiri jadi utang.
Di meja batu, kain beludru bergeser sedikit, tanpa disentuh. Cedric sempat yakin ia melihat tangan kecil dari bawah kain—bayangan yang salah, tentu saja—dan rasa dingin merambat naik sampai siku. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi beberapa orang melangkah mundur setengah tapak. Bukan karena takut—takut adalah reaksi kasar—melainkan karena naluri yang lebih tua, naluri yang mengatakan bahwa jarak adalah satu-satunya bentuk keselamatan yang tersisa.

Cedric menurunkan pena sesaat, cukup lama untuk memastikan tangannya masih berfungsi. Jari kelingking kirinya berdenyut ringan, seperti mengingatkan bahwa ia masih terpasang—untuk sementara.

Ia kembali menulis.

Pena Cedric menari di papan lilin, tapi pikirannya tersangkut pada hal-hal kecil yang tidak ada di kolom mana pun, bunyi kain basah diperas pelan di sudut, bau obat gosok dari seorang lelaki yang mencoba menyembunyikan tremor di pergelangan tangan, cara seorang pembeli merapikan cincin di jarinya berulang-ulang seolah logam bisa membuatnya tampak lebih berani.

Di meja sebelah, seorang juru tulis lain—anak muda bermata cekung dengan noda tinta di ujung hidung—mendorong sebuah papan lilin ke arahnya.

“Namanya salah,” bisik anak itu tanpa benar-benar menoleh. “Yang di sana bukan Ravel, tapi Ravell. Dua L.”

Cedric melirik sekilas ke arah lelaki berjubah biru tua itu. Jari-jarinya masih bergerak, menghitung sesuatu yang tak terlihat.

“Kalau kau yakin,” Cedric membalas pelan.

“Aku pernah menyalin surat utangnya,” kata si juru tulis. Suaranya nyaris tak ada, hanya hembusan. “Dia menghajar meja sampai kuku jarinya retak karena satu huruf. Ordo… tidak suka satu huruf meleset.”

Cedric menggeser pena, menambahkan satu garis kecil pada nama itu, dan merasakan tenggorokannya makin kering. Di tempat ini, satu huruf bisa jadi denda. Dua huruf bisa jadi amputasi lain.

Master Galvien lewat di belakang mereka tanpa suara. Jubahnya menyapu batu, dan Cedric menahan napas seperti seorang anak yang takut ketahuan membawa roti. Galvien tidak berhenti, tidak menegur, hanya menatap papan lilin Cedric sekilas, lalu berlalu seolah ia baru saja memastikan sesuatu.

Di bawah tembok rendah itu, seseorang menyeberang lantai balairung, langkahnya tenang, terlalu tenang. Seorang lelaki dengan tudung kelabu, tanpa perhiasan, tanpa tanda keluarga, tanpa cincin. Cedric hampir tidak mencatatnya—hampir. Lalu ia melihat tangan lelaki itu, tidak ada jari kelingking.

Cedric menunduk cepat-cepat, berpura-pura sibuk menajamkan ujung penanya. Jari kelingkingnya sendiri berdenyut, seolah tubuhnya mengingatkan apa yang akan terjadi padanya kemudian.

Seorang perempuan kurus berwajah tirus berdiri di samping meja. Matanya hitam dan tidak berkedip, pipinya cekung seolah tulang tengkoraknya berusaha menerobos kulit.

“Perlelangan ke-dua dimulai,” kata Custodia.

Suaranya tipis, namun menembus ruangan lebih jauh daripada seruan imam mana pun di atas sana. Bisik-bisik padam seperti lilin dihembus, hanya menyisakan desis obor dan satu dua batuk yang segera ditelan diam.

“Buka kain kedua.”

Seorang pria bertudung maju dari bayang-bayang belakang meja. Tangannya bergerak tenang saat ia meraih ujung kain beludru dan menariknya ke samping.

Bayangan-bayangan di sekeliling ruangan bergerak sedikit, mendekat. Tidak banyak—hanya satu langkah, satu condong badan—tetapi cukup bagi Cedric untuk melihat siapa yang tiba-tiba menegang, siapa yang memilih tetap diam di tempat, dan siapa yang berpura-pura tak tertarik sementara jemarinya meremas kantong Dril di pinggang.

Di atas meja tampak sebuah benda kecil, tak berbahaya, sebuah kotak kayu hitam sebesar telapak tangan, tanpa ukiran, tanpa kunci, tanpa hiasan. Kayunya begitu gelap hingga nyaris menelan cahaya obor, menjadikannya seperti lubang kecil yang diletakkan di atas batu. Cedric membenci kotak-kotak seperti itu. Kotak selalu terlihat sederhana sampai seseorang membukanya.
Tidak ada ukiran, tidak ada segel, tidak ada nama, dan justru itu yang membuat beberapa orang tampak lebih cemas. Barang lelang yang diberi nama masih bisa dibenci. Yang tanpa nama hanya bisa ditakuti.

Seorang pembeli di barisan depan mengangkat dagunya, seolah ingin menertawakan kotak itu. Tawanya tidak jadi keluar. Ia menelan ludah, dan Cedric melihat urat di lehernya bergerak.

Di sisi kanan, perempuan bercincin emas mengubah posisi berdirinya, menaruh satu langkah lebih dekat—lalu berhenti, seperti sadar ia baru saja menunjukkan terlalu banyak niat. Ia merapikan lengan jubahnya, pura-pura santai. Jemarinya, bagaimanapun, meremas kantong Dril sampai kulitnya memutih.

Seseorang berbisik menyebut angka, Cedric tidak menangkapnya, hanya mendengar nada suara yang seperti orang menyebut nama orang mati. Di belakang bisik itu, terdengar bunyi pelan logam kecil beradu, mungkin segel, mungkin Dril, mungkin jimat yang disentuh untuk memastikan masih ada.

Custodia tidak ikut memandang kotak itu lama-lama. Ia memandang ruangan.

Bukan memandang orang-orangnya—melainkan memandang jarak di antara mereka, memandang siapa yang mundur, siapa yang maju, siapa yang sudah mengambil keputusan sebelum mulutnya sempat bicara. Seolah yang dilelang bukan kotak, melainkan keberanian.

Cedric menahan diri untuk tidak menulis “kotak” di papan lilin. Kata itu terasa terlalu ringan. Ia hanya menulis nomor lelang, lalu menulis satu catatan kecil yang tidak ada di format Ordo. Tanpa nama.

Ia menghapusnya segera setelah menulis, tapi bekas goresannya masih ada.

Dari atas Kortavel, terdengar samar suara paduan suara memohon berkat. Di bawah tanah ini, jauh dari telinga dewa dan para wali, Ordo memperdagangkan benda-benda berbahaya, benda-benda yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia.

Dan Kortavel yang suci berdiri di atasnya, tenang, damai, dan berdosa.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✠ KELUARGA VASARIA ✠

Kastel Mirhgate tidak tampak banyak arti dari kejauhan. Hanya gundukan batu kelabu di lereng bukit, dikelilingi hutan cemara kusam dan kabut tipis yang enggan memudar. Dari sini, jika cuaca bersih dan mata cukup tajam, orang bisa melihat kilau pucat Kastel Vasaria jauh di utara—ibu kota wilayah Barcavia. Namun pagi ini langit tertutup awan berat, menyisakan jalan becek, pepohonan basah, dan benteng kecil di ujung pandang.

Mereka sudah meninggalkan Kessermount—kota perbatasan Drilands dan Barcavia—dua hari lalu. Sejak itu jalur semakin sempit, menanjak pelan melalui punggung bukit yang tergerus. Tak ada rumah petani, tak ada menara Kartovel, tak ada asap dapur di cakrawala, hanya batu, lumut, dan sesekali bekas lubang tambang lama yang ditutup seadanya. Kuda Marrec beberapa kali tersandung di tanah yang tak rata.

Dia mengangkat kerah jubahnya lebih tinggi. Angin utara merayap dari sela-sela kain, lembap dan dingin, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain di baliknya—aroma logam samar yang dikenalnya sejak dalam kandungan. Bau Dril.

Di wilayah ini, kata orang, jika kau menggali tanah terlalu dalam dengan tangan telanjang, jemarimu bisa berkilau. Marrec tidak pernah mencoba membuktikannya. Ia sudah cukup tahu bagaimana rasanya hidup dekat Dril. Bukan kilau yang ia dapat, melainkan utang yang menempel.

Di sampingnya, Ser Halden Darron menunggang dengan punggung tegak. Zirah tuanya bukan lagi berkilau, tapi setiap lempeng masih terpasang rapi, setiap gerakan kuda menggesekkannya satu sama lain, menciptakan denting rendah yang ritmis. Marrec menoleh sekilas. Wajah Halden yang keras, dengan parut tipis di pipi, tampak seperti patung batu yang dipahat oleh angin tenggara, tenang di bawah bayangan tudung wolnya.

Marrec tahu wajah itu sedang menahan sesuatu.

Itu bukan wajah kesatria yang berangkat berburu atau mengawal menteri menghadiri pesta. Kegelisahan menggantung di garis bibir Halden, cara jemarinya sekali-dua kali mengetuk gagang pedang, seolah butuh meyakinkan dirinya bahwa baja masih berada di sana. Marrec sudah melihat ketakutan di mata para prajurit di medan perang, atau inisiat di arena ujian, ketika Dril di lengan mereka mulai menghitam. Namun yang ini berbeda. Ketakutan yang ini tidak tergesa.

Mereka melewati tempat yang dulu pasti sebuah dusun. Marrec bisa melihat sisa pondasi rumah, batu-batu disusun rapi lalu runtuh, ditelan jamur dan lumut. Di tengahnya berdiri tiang kayu dengan lingkar besi di ujung, seperti bekas tempat menggantung lentera. Tidak ada lentera. Yang tergantung hanya papan kayu kecil, hitam, dengan satu ukiran yang sudah menipis dimakan hujan.

Halden memperlambat kudanya. “Jangan lama-lama,” gumamnya.

“Apa itu?” tanya Marrec, meski sudah tahu Halden tidak suka pertanyaan.

Halden tidak menatap papan itu. “Tanda lama.” Suaranya terdengar seperti orang yang menyebut nama orang mati. “Kalau kau melihatnya di pintu, kau tidak mengetuk. Kalau kau melihatnya di jalan, kau tidak bertanya.”

Mereka tidak berhenti. Tidak ada alasan berhenti. Dusun itu sudah lama tak punya mulut untuk bercerita.
Beberapa ratus langkah kemudian, mereka melewati gerobak patah di sisi jalan. Roda kanannya miring, dan kain terpal yang menutup muatan sudah dibuka sampai setengah, memperlihatkan peti-peti kecil yang disusun rapat. Peti kayu, semua sama ukurannya, semua diberi cap tinta yang sudah mengering seperti darah tua.

Di samping gerobak berdiri dua orang. Bukan penjaga jalan, bukan pedagang, bukan penambang. Salah satunya lelaki tua dengan mantel kelabu yang terlalu bersih untuk jalur seperti ini, tangan bersarung, memegang buku catatan tipis. Yang satunya pemuda dengan pisau pendek, tidak terlihat seperti suka memakai pisau itu untuk memotong roti.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari mereka, kepala tertutup selendang. Di tangannya ada kantung kecil yang sudah lemas, seperti kantung yang terlalu sering kosong. Ia berbicara pelan, tergesa, suaranya kalah oleh angin.

“Aku minta dua hari,” katanya. “Dua hari saja, m'lord.”

Lelaki tua itu tidak mengangkat kepala. Ia hanya membalik satu halaman, menggerakkan ujung arang di atas kertas, lalu menjawab tanpa suara tinggi. “Kau sudah minta kemarin. Dan kemarin lagi.”

“Anakku—”

“Anakmu tidak tercatat di sini,” kata lelaki tua itu datar. “Yang tercatat namamu.”

Pemuda berpisau memandang perempuan itu seperti memandang sesuatu yang mengganggu jalan. Perempuan itu menoleh sekali, melihat Marrec dan Halden lewat. Di matanya ada permohonan yang sudah kelelahan. Rasanya seperti tusuk kecil di tenggorokan, cukup untuk mengingatkan.

Marrec menelan ludah. Ia tidak menoleh lagi.

Halden memacu kudanya sedikit. “Jangan menatap,” katanya.

“Aku tidak menatap, Ser,” sahut Marrec, cepat.

“Bagus.” Halden menghela napas. “Kalau kau menatap, kau akan ingat wajahnya. Dan kalau kau ingat wajahnya, kau akan mulai berpikir bahwa ini urusanmu.”

Marrec tidak membantah. Angin menggigit pipinya, dan di belakang mereka, suara arang yang digoreskan pada kertas terdengar lebih jelas daripada seharusnya.

Tidak ada kebaikan yang datang dari urusan dengan Vasaria.

Ibu Marrec pernah mengucapkannya di depan perapian pada suatu musim dingin yang begitu panjang, malam ketika api hampir padam dan hanya mereka berdua yang masih terjaga. Ayah Marrec sudah lama tidak pulang saat itu. Tidak mati—belum. Tidak pergi—tidak juga. Ia hanya… diambil.

Marrec tahu sebagian dari kisah itu.

Ibunya tidak pernah menceritakan semuanya. Ia hanya mengatakan bahwa kakek-buyut Marrec pernah memohon Dril pada Vasaria, memohon terlalu banyak pada waktu yang terlalu salah. Vasaria tidak mengirim penjagal. Mereka mengirim pencatat. Selalu pencatat.

Pilihan yang diberikan tidak pernah terdengar seperti pilihan.

Ayah Marrec masuk tambang ketika Marrec masih kecil. Ia masih sempat mengangkat Marrec sekali, sebelum tangan-tangannya mulai berbau batu dan Dril. Setelah itu, ayahnya hanya pulang sesekali, lalu tidak lagi. Tidak ada kabar kematian. Tidak ada pemakaman. Hanya nama yang tetap tercatat.

“Utang itu tidak pernah lunas,” ibunya pernah berbisik, “dan Vasaria tidak pernah lupa.”

Saat Marrec cukup umur, pencatat datang lagi. Nama ayahnya masih ada. Dan karena nama itu belum selesai, Marrec yang berikutnya.

Jika bukan karena Ser Halden—yang menukar satu budi lama dengan pembayaran yang tidak pernah ia jelaskan rinciannya—Marrec tahu persis di mana ia akan berada sekarang. Menggantikan ayahnya. Bukan di atas pelana, melainkan jauh di bawah tanah, menjadi bagian dari deretan wajah yang bekerja untuk melunasi dosa orang mati.

Namun di sinilah dia sekarang, empat tahun kemudian, berkuda menuju kastel yang pernah menelan keluarganya pelan-pelan.
Mereka melewati tebing yang tergerus, tempat batu terbuka seperti luka. Di sana ada mulut lubang lama yang sudah ditutup papan dan rantai. Rantai itu berkarat, tapi simpulnya rapi, seperti seseorang masih memeriksa apakah ia terkunci. Di atasnya, kapur putih ditorehkan membentuk garis dan angka. Angka-angka itu sudah setengah hilang, namun Marrec masih bisa membaca sebagian. Angka bukan untuk penambang. Angka untuk orang yang menagih.

Halden menatap tulisan itu sekilas, lalu mengalihkan pandang seperti orang yang tidak mau memberi hormat pada sesuatu yang lebih kuat.

“Mereka bilang kastel ini dulu cuma menara pengawas tua milik bangsawan kecil,” Halden bergumam akhirnya, seperti berbicara pada dirinya sendiri, bukan pada Marrec. “Lalu Vasaria datang dengan kuda muatan dan kontrak panjang. Sekarang semua bukit di sekitarnya penuh lubang.”

Murah hati, pikir Marrec getir. Itulah kata yang dipakai pamflet-pamflet Kementerian setiap kali menyebut Vasaria. Murah hati mendanai, murah hati menyuplai Dril untuk Ujian, murah hati mengirim logam ke kota-kota.

Dengan tambang yang mencengkeram tanah di utara, selatan, dan tenggara, keluarga itu adalah badai yang sulit dihindari. Mereka bisa membeli kesetiaan, mendanai seorang inisiat hingga menjadi Ketua, atau sekadar membiarkan pesaing mereka kehabisan Dril dan musnah ditelan kematian. Mereka bisa melakukan itu semua tanpa perlu menggumamkan satu mantra pun.

“Mereka punya cukup Dril untuk itu, Ser,” kata Marrec akhirnya, menjaga suaranya tetap rata. “Dan cukup lubang untuk menelan siapa saja yang menyinggung mereka.”

Halden mendengus kecil, suara yang nyaris hilang ditelan angin. “Di Dori kami biasa bercanda soal itu. Kalau seseorang hilang di malam hari, orang hanya mengangkat bahu dan berkata, ‘Mungkin Vasaria butuh jalur baru.’” Dia menatap ke depan, ke arah kastel yang nyaris menyatu dengan langit kelabu. “Tapi aku bukan mengkhawatirkan batu dan lubangnya.”

“Kau mengkhawatirkan apa, Ser?” Marrec bertanya, meski bagian dirinya menyesal segera setelah kata-kata itu keluar.

Halden tidak langsung menjawab. Kuda-kuda mereka terus menanjak, kuku-kuku besinya mencipratkan lumpur beku ke samping. Di kejauhan, di balik bukit lain, terdengar bunyi samar seperti lonceng besi yang diketuk pelan-pelan di perut bumi.

“Mumple,” kata Halden akhirnya. Suaranya terdengar seperti seseorang yang menyesal sudah membuka topik itu. “Penjaga tambang Dril. Kau pasti pernah dengar.”

Marrec mengangguk. Siapa yang tumbuh dekat tambang dan tidak mengenal Mumple?

Mereka kecil, hanya setinggi pinggang orang dewasa, bertulang ringan, dengan lengan panjang yang membuat gerakan mereka tampak seperti bayangan. Kulit mereka pucat kebiruan, selalu berdebu batu. Dan mata mereka… mata bulat yang terlalu besar, selalu tampak seolah menahan amarah, takut, atau keduanya.

“Orang kota bilang runtuhan terjadi karena tiang rapuh,” ujar Halden. “Tapi para penambang lama tahu. Kalau Mumple mulai gelisah, cukup satu dengungan rendah… dan atap bisa turun sebelum kau sempat menyumpahi nasibmu.”

Ia berhenti sebentar, seakan mencari kata yang tepat.

“Masalahnya, mereka tidak selalu gelisah.” Halden menatap ke arah bukit tempat kastel Vasaria berdiri. “Dulu mereka membenci manusia menyentuh Dril. Lampu kita, suara kita, bau kita. Mereka menjaga batu itu lebih fanatik dari para juru tambang.”

Napasnya keluar sebagai kabut tipis.

“Tapi entah bagaimana, lubang-lubang milik Vasaria tidak membuat mereka marah. Mumple diam tanpa suara, tanpa dengungan, tanpa runtuh.” Ia menggeleng pelan. “Seolah mereka… mengizinkannya.”

Halden menyentuh gagang pedangnya, kebiasaan lama ketika pikirannya mulai gelap.

“Itu yang membuat banyak orang resah. Bukan Mumple yang menyerang,” katanya lirih, “tapi Mumple yang tenang.”

Ia menambahkan, hampir berbisik, “bahkan Or’khal paling nekat pun tak mau menyentuh tambang-tambang itu.”
Marrec menahan komentar. Or’khal, kaum Penunggang Liar hidup dari menjual tenaganya pada siapa pun yang mampu membayar, mengawal kafilah, menarik gerobak Dril di musim buruk, menjadi kaki tangan dalam perang kecil antar keluarga-keluarga kecil. Jika mereka pun menolak suatu lubang, orang waras seharusnya mengikuti jejak mereka.

Mirhgate semakin dekat. Dari jarak ini, bangunan itu tetap tampak biasa saja, dinding-dinding batu kelabu yang rendah, satu menara persegi yang tidak terlalu tinggi, dan atap batu yang ditumbuhi lumut tua.

Di puncak menara, bendera Vasaria berkibar pelan dalam angin musim panas—cawan emas yang menumpahkan darah merah tua, warnanya menyala samar di bawah langit kelabu yang berat.

Di bawahnya, tepat di atas gerbang tua, wadah Dril terukir kecil pada batu. Ukirannya halus, nyaris tidak terlihat kecuali bagi mereka yang tahu simbol mana yang perlu dicari.

Gerbang itu sendiri tampak di depan mereka, dua daun pintu dari kayu ek gelap yang diperkuat besi berkarat. Tidak tinggi. Tidak megah. Namun ada sesuatu pada pintu itu—cara ia berdiri, kokoh namun tanpa suara—membuat Marrec tanpa sadar menarik tali kekang kudanya. Seolah pintu itu telah menyaksikan ribuan kedatangan, ribuan wajah cemas dan putus asa… dan tidak tersentuh oleh satu pun di antaranya.

Halden menghentikan kudanya di sampingnya. “Tampaknya mereka sudah tahu kita datang.”

Marrec mengangguk, hawa dingin menjalari lehernya. Dia tidak perlu bertanya siapa “mereka.”

Dan ketika pintu itu terbuka, gerakannya sunyi senyap. Tidak ada derit engsel yang menua, hanya hembusan udara dingin yang mengalir keluar, membawa aroma tinta tua, kulit buku yang lapuk, dan sesuatu yang lain… sisa dari sihir yang baru saja digunakan.

Ser Halden menarik napas dalam-dalam. Marrec menarik napas pendek, lalu memacu kudanya pelan melewati ambang pintu kastel yang gelap itu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⟁ BUNYI LAMA, BUNYI BARU ⟁

Tiga bulan di laut mengajarkan Daren dua hal yang tidak pernah dia dapatkan dari rak buku keluarga.

Pertama, bahwa dunia lebih besar daripada yang pernah digambar peta Kementerian. Dan jauh lebih berantakan.

Kedua, tubuh manusia bisa belajar menerima apa pun, termasuk lantai yang tidak pernah berhenti bergerak.

Dari Tent Lumen ke Drastmare, lalu ke Tavelin, sampai akhirnya kapal merapat, ia hampir tidak merasakan hentakan lunas menyentuh dermaga. Lututnya yang sudah lama menyerah pada gelombang justru bingung ketika papan pendaratan diam. Tubuhnya dipaksa percaya pada sesuatu yang tidak bergerak.

Pelabuhan menyambutnya dengan suara yang saling tindih. Tali dikaitkan. Kayu tua mengerang. Besi bergesek. Tawa terputus. Semuanya menutup laut di belakangnya seperti pintu.

Avaross menyambutnya dengan bau. Ter yang mengilap di lambung kapal. Ikan yang baru dibelah. Keringat para kuli. Dan di bawah semuanya, tipis tapi keras kepala, bau logam yang tidak sepenuhnya logam. Dril.

“Turun atau ikut ke pulau berikut, Nak?” teriak seorang kelasi.

Daren merapatkan jubah abu-abunya dan menuruni papan tanpa menjawab. Kakinya menyentuh kayu dermaga yang licin, ia hampir tergelincir sebelum tubuhnya menemukan keseimbangan yang sudah lama ia rindukan. Tanah. Atau sesuatu yang cukup menyerupainya.

Ia berhenti sebentar di tepi dermaga, membiarkan arus manusia menyalipnya. Kapal-kapal lain berbaris rapat, layar terlipat, tiang-tiang menembus langit kelabu. Di depan gudang, seseorang menurunkan peti-peti yang bau garamnya masih basah; di belakangnya, seorang bocah mencongkel ikan dari keranjang dan melarikan diri sebelum pemiliknya sempat memaki.

Di sisi lain, seorang pria dengan jubah berwarna cokelat laut menatap Daren terlalu lama, lalu memalingkan wajah seolah tak pernah memandang.

Kantung Dril di pinggangnya berbunyi kecil ketika ia bergeser. Tidak banyak. Cukup untuk makan beberapa minggu, mungkin. Cukup untuk sewa kamar yang tidak merusak kulit. Cukup untuk membuat orang mendengarkan setengah detik lebih lama. Tidak cukup untuk membeli orang.
Sisanya, ia belum tahu harus diambil dari mana.

Ia menatap kota.

Avaross bangkit dari batu dan kabut. Menara-menara rendah tanpa lambang Kementerian, hanya bendera kain lusuh dengan warna-warna yang tidak pernah dipakai wilayah mana pun. Di atas pintu gudang, orang menggantungkan tanda mereka sendiri: ikan perak, roda besi, burung tanpa kepala, tangan yang memegang pisau. Setiap tanda seperti pernyataan kecil: ini milikku. coba saja.

Di Drilands, kekuasaan punya segel. Di sini, kekuasaan punya bau.

“Pulau,” orang kapal menyebutnya. Kota merdeka, kata mereka. Kota yang tidak tertulis di peta. Tempat orang datang untuk membuang nama lama atau membeli nama baru.

Daren menarik tudung lebih dalam, lalu menyeberangi arus manusia menuju perut kota.

Awalnya ia masih mencoba berjalan seperti orang yang tahu ke mana ia pergi. Ia cepat berhenti mencoba. Jalan Avaross tidak dibuat untuk menuntun. Jalan Avaross dibuat untuk memutar, untuk mengganti tujuan orang dengan kebutuhan-kebutuhan kecil, lapar, haus, takut, dan rasa ingin tahu yang mahal.

Lorong pertama membawanya melewati rumah minum yang pintunya setengah terbuka, bau rum tumpah mengusir bau ikan. Dua pelaut duduk di tangga, tertawa tanpa suara, tawa yang hanya gerak bahu dan mulut, karena gigi mereka sudah pergi entah ke mana.

Di sudut lain, seorang perempuan menjual roti pipih di atas papan kayu. “Masih hangat,” katanya. Hangat karena ia menyimpannya dekat tungku, bukan karena baru dipanggang. Daren membeli satu, menggigitnya, dan merasa rasa asin menempel di lidah. Bahkan tepung di Avaross pun terasa pernah berenang.
“Pertama kali?” tanya perempuan itu, tanpa menatap roti, tapi menatap cara Daren menahan bahu.

“Ya,” jawab Daren.

Perempuan itu mengangguk seolah sudah tahu sebelum dia bicara. “Kalau kau butuh arah, jangan tanya orang yang pakai sepatu bagus.”

Daren melirik sepatunya. Tidak bagus, tapi jelas bukan sepatu kuli. “Kalau aku butuh arah?”

Perempuan itu tersenyum, memperlihatkan sela gigi yang gelap. “Bayar.”

Daren melanjutkan jalan.

Ia menemukan kamar di atas rumah minum yang plafonnya berjamur. Pemiliknya lelaki gemuk dengan kuku hitam oleh arang. Ia menatap kantungnya sekali, lalu menatap wajahnya sebentar lebih lama.

“Dua Dril saja per malam, Tuan,” kata lelaki itu, “termurah di Avaross.”

Daren membayar tanpa menawar.

Malam pertama ia tidur dengan suara pelabuhan masuk lewat dinding, sebuah teriakan, suara peti dibanting, seseorang muntah di bawah jendela, lalu tertawa, lalu mengumpat. Di tengah bunyi itu, Daren berkali-kali terbangun bukan karena bising, melainkan karena hening yang muncul mendadak—hening yang mencekik.

Ia bangun dengan mulut kering dan rasa asin di tenggorokan di pagi berikutnya. Kabut turun lebih rendah. Jalan-jalan basah oleh sisa hujan. Daren makan sup ikan yang lebih banyak air daripada ikan, lalu mulai bertanya.

Dia bertanya dengan cara yang selama ini bekerja di kota-kota Asidental, setengah sopan, setengah berjarak.
Itu cara yang salah di sini.

“Aku mencari seorang pembuat,” katanya pada seorang buruh pelabuhan yang sedang mengikat tali.

Buruh itu meludah ke samping, menatap sepatu Daren, lalu mengangkat bahu. “Pembuat apa? Paku? Pisau? Kuburan?”

“Aku mencari rumah tempa.”

Buruh itu tertawa. “Kau berdiri di kota yang bau arang, Tuan. Semua pintu rumah tempa.”

Daren menahan kekesalan. “Aku mencari yang… tertentu.”

Tawa buruh itu berhenti di tengah, seperti dia baru ingat bahwa tawa bisa memanggil telinga lain. Matanya bergerak cepat ke kanan-kiri. “Kalau tertentu,” katanya, lebih pelan sekarang, “kau salah tempat. Di sini semua orang mau jadi tidak tertentu.”

Daren pergi sebelum pertanyaan berikutnya, membuat buruh itu lebih takut daripada kesal.

Di pasar, seorang perempuan menjual ramuan. Labelnya ditulis tangan: menguatkan tulang, memutihkan gigi, membuat suami pulang sebelum tengah malam. Daren bertanya pada dia, dan ia mengerling, lalu menyebut tiga nama jalan yang berbeda.

Ketika Daren minta arah, perempuan itu tertawa lebih lebar, memperlihatkan satu gigi emas.

“Aku sudah bilang,” katanya, tawanya mati di tengah. “Kau mau apa lagi?”

“Aku mau jalan yang benar.”

Perempuan itu mengangkat bahu. “Di kota ini, Tuan, yang benar itu barang langka."

Dia tidak membantu.

Seorang penjaga pintu gudang—jubahnya tak punya lambang, tapi sikapnya lebih rapi dari serdadu Kementerian—mendengarkan pertanyaan Daren dengan wajah datar.

"Di sini,” kata penjaga itu, “kita tidak menyebut orang. Kita menyebut barang. Kau mau beli apa?”

“Sesuatu yang tidak dijual.”

Penjaga itu menatapnya lama. Lama sekali. “Semua benda di Avaross dijual, Tuan,” ujarnya akhirnya. “Kalau kau tidak menemukannya, berarti kau belum bertanya harganya.”

Daren meninggalkan gudang dengan langkah lebih pelan. Bukan karena ragu, melainkan karena ia merasa langkah cepat akan mengundang mata yang lebih banyak.

Di sudut jalan, tiga orang duduk mengelilingi peti terbalik. Dua pria dan satu perempuan. Pakaian mereka sederhana, tapi bersih dengan cara yang disengaja. Tidak ada senjata yang dipamerkan. Itu saja sudah cukup membuat Daren mencatat mereka.

Perempuan itu mengangkat kepala lebih dulu. “Kau bukan orang sini.”

Daren berhenti. “Kebanyakan orang sudah menebak.”

“Yang menebak biasanya diam,” sahut salah satu pria, jarinya menghitung koin tanpa menatapnya. “Yang banyak tanya biasanya cepat jadi bahan obrolan.”

“Aku tidak suka jadi obrolan,” kata Daren.

Perempuan itu mengangguk tipis. “Tapi kau bertanya ke orang yang salah.”
Daren menimbang mereka cepat. Bukan perampok. Terlalu tenang. Bukan pedagang. Terlalu rapi. Mereka seperti orang yang dibayar untuk duduk di tempat yang tepat dan mendengar hal yang seharusnya lewat saja.

“Aku cuma lewat,” kata Daren.

“Tidak ada yang cuma lewat di Avaross,” jawab perempuan itu. “Kau datang bawa nama lama, atau mau beli yang baru?”

“Aku belum sampai sejauh itu.”

Pria kedua mengeluarkan tawa kecil yang tidak benar-benar senang. “Kalau begitu, kau akan sampai. Cepat atau lambat.”

Daren mengeluarkan satu Dril dan meletakkannya di atas peti. Tidak didorong, tidak ditahan. Sekadar ada.

Perempuan itu menatap koin itu, tapi tidak menyentuh. “Kau mau beli apa?”

“Jawaban,” kata Daren.

“Jawaban punya harga yang beda-beda.”

“Kalau aku sudah memilih,” Daren menatapnya, “aku akan tahu?”

Perempuan itu mendorong koin itu kembali dengan ujung kukunya. “Kalau kau harus bertanya, berarti belum.”

Mereka membiarkannya pergi. Itu yang membuatnya lebih terganggu.

Hari itu berakhir dengan kaki pegal, dua petunjuk palsu, dan sebuah jalan yang ternyata hanya membawanya ke tempat pemotongan ikan. Daren berdiri di antara darah yang mengalir ke selokan, menatap dirinya sendiri di genangan kotor, dan merasa bodoh.

Dalam perjalanan pulang, seorang anak menabraknya, meminta maaf dengan mulut, sementara tangannya mencoba sesuatu di pinggang Daren.

Daren menangkap pergelangan tangan kecil itu. Bocah itu menatapnya, tidak takut, hanya kesal seperti orang dewasa yang ketahuan bekerja. “Lepas,” gumamnya.

Daren tidak langsung melepas. “Kau cepat.”

“Di kota ini, yang lambat mati kelaparan.”

Daren merasakan sesuatu di pinggangnya lebih ringan daripada tadi.

Kantung Dril.

Dia menghela napas pelan, bukan karena kehilangan, melainkan karena pelajaran itu terlalu cepat diberikan. Daren melepas tangan bocah itu. Bocah itu tidak berterima kasih. Ia lenyap ke kerumunan seperti tikus ke celah batu.

Malam kedua, Daren menghitung Dril-nya. Jumlahnya turun—dan bukan karena sup ikan.
Dia tidur dengan satu mata setengah terbuka.

Daren terbangun di pagi ketiga dengan mulut kering dan kepala berat. Ia tidak menyebut hari dalam pikirannya, tapi tubuhnya tahu, kota ini mulai membuatnya lelah.

Ia berhenti bertanya pada orang-orang yang tampak kuat. Ia mulai bertanya pada orang-orang yang tampak lapar. Orang lapar lebih murah, dan rumor sering jadi makanan mereka.

Seorang pelayan rumah minum menyebut “Lorong Asap” sambil mengangkat bahu. Seorang tukang angkut menyebut “jalan belakang dermaga” sambil meludah, seolah semua jalan di Avaross memang belakang. Seorang penyair mabuk menyebut “lorong tempa” lalu tertawa, seperti menyebut sesuatu yang lucu

Pada sore yang sama, Daren mengikuti hal yang sama yang menuntun kebanyakan orang di kota-kota seperti ini. Suara logam dan bau arang.

Lorong itu basah, dengan batu-batu yang licin. Di atas, jemuran kain dan tali-tali bendera menutup sebagian langit, menggantung rendah seperti jaring yang menahan cahaya. Kios-kios menempel rapat, mulutnya menganga ke jalan, menghembuskan panas, percikan api, dan sumpah serapah.

Di satu pintu, seorang pandai besi bertelanjang dada menghantam bilah pedang yang terlalu tipis untuk perang dan terlalu mengilap untuk kerja. Di pintu lain, sepasang anak—mungkin saudara, mungkin bukan—mengecat gagang pisau dengan warna yang terlalu cerah untuk sesuatu yang harusnya berbau darah.

Daren berhenti di beberapa mulut kios, lebih karena lututnya butuh istirahat daripada karena ragu. Ia berpura-pura menilai paku kapal, pisau pelaut, kait jangkar. Para Forger menilai balik, menyapu jubah abu-abunya, kantung Dril di pinggang, cara ia menahan bahu seperti orang yang lebih sering memegang buku daripada palu.

Tidak ada satu pun dari mereka yang ia cari.

Ia tidak benar-benar berharap ada tanda. Catatan tua yang ia bawa ditulis ketika Avaross masih sekadar nama kabur di tepi peta. Orang yang menulisnya tidak menulis untuk membantu seseorang menemukan pintu, ia menulis untuk menenangkan ketakutannya sendiri, dan ketakutan jarang memberi petunjuk rapi.
Di sudut lorong ia melihat toko ramuan dengan jendela berkabut. Botol-botol di balik kaca tampak berputar pelan, mungkin karena tangan, mungkin karena trik kecil untuk menarik pembeli. Seorang perempuan tua duduk di ambang, bibirnya bergerak menghitung sesuatu yang tidak pernah sampai keluar sebagai suara. Di sampingnya, meja kecil dipenuhi benda-benda mungil yang dibungkus kain hitam.

Selebaran kusam menempel di dinding. Tulisan tangan asing, hurufnya miring seolah ditulis sambil terburu-buru: menawarkan sesuatu tentang “menghapus tanda”. Tidak dijelaskan tanda apa.

Daren membaca tanpa menatap terlalu lama. Di daratan utaman, kata-kata seperti itu bisa mengundang tongkat perak dan Segel Ungu. Di Avaross, tulisan itu mengundang pelanggan.

Perempuan tua itu menatapnya. “Kau cari obat?” suaranya parau.

“Aku cari orang,” jawab Daren.

“Orang lebih mudah mati daripada sakit,” katanya. “Kau cari orang untuk apa?”

Daren ragu sepersekian napas. Di Drilent, keraguan kecil membuat orang curiga, di Avaross, keraguan kecil membuat orang tertarik. “Untuk membeli,” katanya akhirnya. “Sesuatu.”

Perempuan tua itu mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang wajar. “Kalau kau punya uang, kau bisa beli apa saja.”

“Tidak,” kata Daren. “Tidak yang ini.”

Perempuan itu tertawa sekali, pendek, tanpa gembira. “Kalau bukan di sini, di mana lagi?”

Daren tidak menjawab. Ia melanjutkan berjalan, membawa tawa itu seperti debu menempel di punggungnya.

Sore itu ia kembali ke kamar. Ia membuka perkamen tua yang ia bawa. Kulitnya kaku, dan rapuh. Tulisan di atasnya kecil dan rapi, tinta memudar menjadi abu-abu pucat. Ia tak perlu membacanya lagi—ia sudah menghafal baris-baris itu sejak masih terlalu pendek untuk mencapai rak tertinggi di perpustakaan keluarga—namun matanya tetap jatuh ke frasa yang ditarik garis oleh tangan yang sudah jadi debu:

“Keluarga itu berhasil meniru mereka…”

“…sisa-sisa keluarga itu berpindah ke pulau-pulau selatan. Avaross…”

Kalimat itu tidak selesai. Halren menulis hampir lima ratus tahun lalu, dan bahkan dalam tulisan yang tersisa, Daren bisa merasakan keraguannya. Pulau itu cuma muncul sekali, diselipkan di pinggir halaman, di antara dua entri yang membahas sesuatu yang jauh lebih gelap. Bukan di bagian utama katalog, tapi di catatan samping kecil yang ditulis melintang di margin, seolah-olah ia sendiri tidak yakin apa harus menulisnya.

Di teks resmi Arsipal, Halren menyebut mereka Relik Agung.
Malam itu, hujan turun lagi. Daren menatap tetesan yang merambat di batu-batu kamarnya, lalu menutup perkamen dan menyelipkannya kembali.

Ia turun ke rumah minum sebelum tidur, bukan untuk minum, hanya untuk mendengar. Ruangan itu penuh asap, bau rum murah, dan suara yang sengaja dibuat ramai supaya orang bisa bilang apa saja tanpa merasa didengar.

Daren duduk di sudut, punggung menempel ke dinding. Ia memperhatikan tangan orang-orang lebih lama daripada wajah mereka. Siapa yang memegang gelas seperti memegang senjata. Siapa yang menyentuh kantungnya setiap kali ada langkah mendekat. Siapa yang tertawa duluan, bukan karena lucu, melainkan karena takut keheningan.

Dua meja dari sana, seorang pria tua menatap cangkir kosongnya terlalu lama. Bibirnya bergerak, tapi kata-katanya baru keluar ketika Daren hampir yakin itu cuma kebiasaan.

“Lorong Asap,” gumamnya, seperti menyebut alamat yang tidak ditulis di mana pun.

Daren tidak langsung menoleh.

“Banyak orang cari jalan di sana,” lanjut pria itu, masih menatap cangkir. “Sedikit yang cari pintu.”

Daren memutar kepala pelan. “Dan yang menemukan?”

Pria itu mengangkat bahu. “Biasanya berhenti mencari.”

“Itu terdengar seperti peringatan,” kata Daren.

“Bukan,” jawabnya, datar. “Itu saran.”

Pria itu berdiri dan pergi tanpa menunggu. Cangkirnya tetap kosong. Tempat duduknya langsung diambil orang lain, seolah ia tidak pernah ada.

Daren duduk sebentar lagi. Ia mendengar seseorang menyebut harga, lalu berhenti di tengah kalimat ketika pintu terbuka. Ia melihat seorang lelaki di dekat bar menyelipkan sesuatu ke bawah papan lantai, cepat, seperti refleks. Ia menelan semua itu seperti menelan sup ikan, hambar, tapi perlu.

Ketika ia kembali ke kamarnya dengan satu keputusan sederhana, besok ia berhenti bertanya dengan mulut. Ia akan bertanya dengan mata.

Keesokan harinya, ia kembali ke Lorong Asap tanpa bertanya arah. Ia membiarkan tubuhnya menemukan jalan yang sama seperti laut menemukan pantai. Kebiasaan.

Rumah tempa yang ramai tapi tak pernah selesai. Rumah tempa yang menjual barang terlalu bagus dengan harga terlalu murah. Rumah tempa yang pintunya selalu terbuka tapi tak pernah ada pembeli. Rumah tempa yang tukang besinya menatap jalan bukan untuk mencari pelanggan, melainkan untuk memastikan siapa yang lewat.

Ia berjalan sampai siang, lalu sore.

Ia membeli roti, minum air, dan duduk sebentar di sudut yang bau arang, menunggu. Itu bukan kebiasaan Daren. Kebiasaan Daren adalah mencari jawaban. Tapi Avaross bukan perpustakaan. Avaross adalah mulut yang hanya membuka ketika ia lapar.

Itulah saat ia hampir melewatkannya.

Rumah tempa itu tampak biasa saja. Terlalu biasa bahkan. Pintu lebar terbuka, memperlihatkan ruang setengah gelap, tungku di sudut, paron di tengah, rak kayu dipenuhi barang setengah jadi. Tidak ada pedang di dinding. Tidak ada baju zirah menggantung. Tidak ada papan nama.

Di atas pintu hanya ada plat besi kecil, bulat, dengan garis tipis melintang.—simbol teknis yang tak berarti apa-apa bagi orang yang hanya butuh paku atau pisau dapur. Berarti sesuatu bagi orang yang tidak boleh terlihat paham.

Daren berhenti di depannya.

Ia merogoh ke dalam jubah dan menyentuh perkamen tua itu, bukan untuk membaca, hanya untuk memastikan ia tidak berkhayal selama beberapa hari terakhir.

Lalu ia melangkah masuk.
Udara di dalam lebih hangat, dengan lapisan tipis bau arang lama dan minyak logam tengik. Suara jalanan meredup di belakangnya, terganti oleh keheningan yang tidak benar-benar sepi—ada bunyi kecil yang tidak jelas, seperti besi yang pernah dipukul terlalu sering dan seseorang yang menahan napas

Tungku di sudut redup. Bara kecil bersembunyi di bawah abu, merahnya nyaris tak terlihat kecuali jika mata sabar menunggu. Paron di tengah ruangan seolah menunggu pukulan yang tertahan. Di rak-rak, logam menumpuk dalam bentuk setengah jadi: cincin tanpa inisial, plat kecil belum digrafir, potongan tipis yang bisa menjadi apa saja—atau tidak menjadi apa-apa.

Daren berdiri beberapa langkah dari ambang, membiarkan matanya menyesuaikan diri.

“Permisi,” katanya akhirnya. Suaranya terdengar lebih pelan daripada yang ia rencanakan. "Aku mencari sesuatu."

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu, lalu menambahkan, “Aku bisa membayar.”

Sesuatu bergerak di balik rak. Bukan bunyi berat sepatu pandai besi, melainkan gerakan yang lebih ringan. Lebih terlatih untuk tidak menarik perhatian. Seorang lelaki muda muncul, atau sesuatu yang mencoba tampak muda.

Tubuhnya ramping. Jaket kerja di bahunya bernoda arang. Wajahnya… terlalu bersih untuk ruangan yang dindingnya menghitam. Kesan itu membuat Daren tidak nyaman dengan cara yang sulit dijelaskan—seolah wajah itu baru dipakai, seperti seseorang yang terbiasa memakai ekspresi lain dan masih menyesuaikan diri.

Matanya menilai Daren seperti menilai logam. Menimbang berat, asal, dan kemungkinan.

“Kau tersesat,” katanya. Suaranya datar, tidak marah, tidak ramah, hanya menyatakan sesuatu yang baginya terdengar seperti fakta. “Orang datang ke sini untuk membeli barang. Bukan untuk mencari.”

Daren tidak mundur. “Siapa bilang aku tidak ingin membeli?”

“Kalau begitu, kau salah toko. Kami tidak menjual apa pun hari ini.”

Daren membiarkan pandangannya berkeliling lagi, tungku yang masih hidup, tapi tidak bekerja, barang setengah jadi yang berhenti pada titik yang sama. Tempat ini tidak tutup. Tempat ini bersembunyi.

“Aku mencari seseorang,” kata Daren, kali ini tanpa mencoba terdengar sopan. “Seseorang yang dulu tinggal di Avaross.”

“Kota ini penuh orang yang dulu tinggal di sini,” jawab lelaki itu. Ia menggeser berat tubuh, bersandar sedikit pada paron. Gerakannya lembut untuk orang yang menghabiskan hari di sekitar besi. “Kebanyakan sudah mati.”

Daren menunduk sedikit, mengulurkan tangan seolah memeriksa cincin setengah jadi di rak terdekat. Lubangnya masih kosong. Di titik itu, orang lain akan mengukir huruf pertama nama, lambang keluarga, atau apa pun yang membuat mereka merasa tidak bisa diganti.

“Namanya…” Daren membiarkan satu napas lewat tenggorokan, ragu-ragu sejenak. “…Hallowind.”

Keheningan turun seperti debu logam. Tidak bergerak, tapi terasa.
Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, perlahan, seperti burung menilai apakah benda di depannya berbahaya, menarik, atau keduanya.

“Tidak ada pria bernama itu di Avaross,” katanya akhirnya.

Daren mengangkat cincin itu, menimbangnya. “Aku tidak bilang itu pria,” ujarnya, tidak mengangkat wajah.

Ada gerak halus di wajah lelaki itu. Bukan takut. Bukan kaget. Gerak orang yang sadar ia menutup pintu terlalu cepat. “Nama itu,” katanya perlahan, “tidak ada di sini.”

“Kalau begitu,” Daren mengangkat kepala, menatap lurus, “kau mengenal dia?”

Tatapan mereka bertemu. Di mata lelaki itu, Daren melihat sesuatu yang tidak ia temukan di lorong-lorong Avaross. Bukan keingintahuan, bukan penilaian, melainkan penghitungan. Seberapa jauh suara bisa merambat di dinding batu. Seberapa cepat seseorang bisa mencapai pintu. Seberapa banyak masalah yang dibawa lelaki berjubah abu-abu ini.

“Kau datang jauh,” suara lelaki itu turun, lebih hati-hati. “Untuk apa? Orang yang membawa bunyi-bunyi lama biasanya membawa masalah.”

“Aku bukan mereka,” kata Daren. “Aku cuma…” ia menahan diri untuk menyebut nama Halren. Di tempat seperti ini, nama besar bisa jadi umpan. “…keturunan seseorang yang menulis terlalu banyak tentang hal-hal yang hanya seorang Hallowind bisa menirunya.”

“Aku membawa permintaan,” tambah Daren.

“Permintaan bisa dibeli di pasar malam,” balas lelaki itu.

“Yang ini,” kata Daren, “hanya bisa dibuat oleh satu tangan.”

Lelaki itu memejamkan mata sejenak, napasnya tertahan di antara dada dan tenggorokan. Ketika ia membuka mata lagi, cahaya redup tungku memantul samar di irisnya, seperti bara yang tidak benar-benar padam.

“Orang yang kau cari,” katanya pelan, “sudah lama belajar bahwa dunia lebih suka melihat mereka mati.”

“Aku tidak datang membawa bilah, Tuan” sahut Daren. “Dan aku tidak membawa permusuhan. Hanya kantung kecil… dan satu catatan tua.”

Ia menepuk pelan kantung Dril di pinggang. Bunyi gemerincingnya lembut—cukup jelas untuk menyatakan ia tidak datang kosong, cukup pelan untuk tidak terdengar tamak.

Lelaki itu diam cukup lama sehingga Daren mulai menghitung napasnya sendiri. Di luar, suara pelabuhan seperti ingatan, teriakan nelayan, gebrakan peti, tawa pendek yang tidak sampai ke mata.

“Kalau… orang itu masih ada,” lelaki itu akhirnya berkata, pelan, “ia tidak menerima tamu.”

“Bagus,” jawab Daren. “Karena aku tidak datang sebagai tamu.”

Untuk pertama kalinya, sesuatu yang hampir mirip senyum muncul di sudut bibir lelaki itu. Bukan senyum hangat, lebih seperti garis tipis yang muncul ketika seseorang yang baru sadar ia berada di dalam lelucon buruk yang melibatkan dirinya sendiri.

“Lalu apa kau?” tanyanya lirih.

“Orang yang punya urusan,” sahut Daren, “dan pembayaran. Dan cukup bodoh—atau cukup putus asa—untuk mengikuti catatan seseorang yang sudah mati selama lima abad.”

Lelaki itu memandangnya lama. Terlalu lama untuk sekadar menilai harga.

Akhirnya, ia melirik pintu, memastikan tidak ada bayangan di ambang. Lalu ia bergerak—bukan ke tungku atau paron, melainkan ke celah sempit di antara dua rak belakang, celah yang tadi tampak seperti tumpukan besi tua.

“Kau tidak tahu apa yang kau minta,” katanya tanpa melihat ke belakang.

“Aku tahu cukup,” Daren mengikuti, menjaga jarak agar tidak menantang. “Dan aku tahu… ada hal-hal yang lebih berbahaya kalau dibiarkan tanpa jawaban.”

Lelaki itu mematung. “Kau mengancamku?” tanyanya pelan.

“Aku mengingatkan,” jawab Daren, napasnya rendah.

Keheningan turun lagi. Kali ini lebih berat.

Gerakannya datang terlalu cepat untuk diduga dari tubuh seramping itu.

Tongkat sihir tipis meluncur dari balik jaket kerja, seperti benda itu memang tinggal di sana dan menunggu.

Daren mengutuk dalam hati. Sihir dan besi. Tentu saja. Tidak ada orang yang membangun tiruan relik tanpa menyatukan sihir dan logam sampai keduanya tidak bisa dipisahkan.

Lelaki itu tidak memberi waktu untuk berpikir lebih jauh.

“Damio.”
Mantra itu terasa seperti pintu kayu yang ditutup dari empat arah sekaligus. Udara mengeras di sekelilingnya, tubuh Daren luruh ke lantai seperti boneka yang talinya dipotong.

Tubuhnya membeku. Terdiam.

Tongkat sihir lelaki itu tetap terangkat. Ujungnya sedikit bergetar karena energi yang baru dilepas. Ia mendekat pelan.

“Seharusnya kau tahu,” katanya, suaranya seperti orang menjelaskan aturan lama pada anak keras kepala, “di Avaross, kami tidak menunggu sampai bahaya menyebut dirinya sendiri.”

Daren ingin bicara, tapi lidahnya menempel pada diam yang bukan miliknya.

Sekali lagi lelaki itu mengangkat tongkatnya, kali ini lebih lembut. Cahaya kecil biru pucat, tipis seperti embun dingin, mengalir dari ujungnya.

“Reliram.”

Kendali kembali tidak datang sekaligus. Daren merasakannya seperti air mengisi bejana retak: pertama jari, lalu pergelangan, lengan, lalu dada yang akhirnya bisa menarik napas dalam.

Lelaki itu mundur setengah langkah. Tidak meminta maaf. Tongkat tetap terangkat.

“Hanya untuk memastikan kau tidak mati sebelum aku tahu apa yang kau inginkan,” katanya tenang. “Sekarang bangun. Dan jangan coba dua kali..”

Daren bangkit perlahan. Tidak membalas. Ia menelan kata-kata yang tidak akan berguna.

Lelaki itu mengamatinya sejenak, memastikan Daren benar-benar bisa berdiri. Ada kilatan singkat di wajahnya—bukan simpati, lebih seperti evaluasi yang berubah hasil. Setelah itu ia berbalik, seolah percakapan barusan hanya jeda, bukan ancaman.

“Kalau kau memang datang untuk nama itu,” katanya sambil melangkah ke belakang, “kau sudah lebih dalam daripada separuh orang bodoh yang mencobanya.”

Daren mengikutinya. Tidak terlalu dekat, tapi cukup agar ia tidak kehilangan arah di ruang setengah gelap.

Lelaki itu berhenti di depan dinding batu yang tampak biasa saja. Dari dekat, Daren melihat garis melengkung tipis di sana, goresan yang hampir tertutup jelaga. Tangan lelaki itu menemukan titik di antara batu-batu, menekannya.

Sesuatu di dalam dinding bergeser pelan, nyaris tanpa suara, seperti napas panjang yang ditahan berabad-abad.

“Dari sini ke depan,” ucapnya pelan, masih tidak menoleh, “berhenti sekarang juga tidak akan membuatmu tampak lebih bodoh.”

Di luar, Avaross tetap ramai. Kapal datang dan pergi. Dril berpindah tangan. Tidak ada yang melihat seorang lelaki berjubah abu-abu menghilang ke balik rak di rumah tempa tanpa papan nama, mengikuti orang yang wajahnya terlalu halus untuk pekerjaan yang keras.

Tidak ada yang mencatat bahwa, di tengah siang berkabut itu, sebuah bunyi lama kembali diucapkan. Dan seperti kebanyakan kota merdeka yang hidup dari ingatan pendek dan suara panjang, Avaross akan berpura-pura tidak tahu.

Untuk sementara, setidaknya.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM