Asidental—Beta
22 subscribers
1 photo
1 link
Download Telegram
Beberapa orang berdiri hampir bersamaan, ada yang menjerit tanpa sadar, ada yang mengumpat karena kalah cepat bereaksi, ada pula yang tertawa pendek dan keras, tawa yang tidak lahir dari kelucuan apa pun, melainkan dari kelegaan kasar karena kematian hari ini memilih orang lain. Suara-suara itu bertabrakan sebentar, lalu menyatu menjadi satu riuh yang tidak benar-benar gembira, hanya hidup.

Di barisan depan, lelaki berambut tipis itu tidak ikut berdiri. Ia tetap duduk, menunduk sedikit, menatap sepatunya yang kini ternoda darah dengan ekspresi orang yang merasa ditipu oleh detail kecil.

“Ini sepatu baru,” katanya lirih, lebih seperti mencatat kerugian daripada mengeluh—seolah yang baru saja terjadi di hadapannya bukan kematian seseorang, melainkan noda yang datang terlalu cepat.

Istrinya menatap sepatu itu cukup lama, lalu mengangkat pandangannya ke wajah suaminya, matanya tenang dengan cara yang membuat kata-kata berikutnya terdengar lebih tajam. “Kupikir kau bilang darah muncrat ke kanan.”

“Biasanya,” jawabnya cepat, terlalu cepat untuk jujur sepenuhnya. Ia melirik arena sekilas, lalu kembali ke sepatunya. “Ini… angin arena.”

Di pinggir arena, morwen sudah bergerak bahkan sebelum sorak benar-benar pecah. Ia berlutut dengan gerakan terlatih, membuka kotak kecil di pangkuannya, memeriksa singkat—terlalu singkat untuk memberi harapan—lalu menggeleng. Tidak ada doa yang dibisikkan. Tidak ada upaya dramatik untuk menipu penonton. Kotaknya ditutup kembali dengan tenang, seperti orang menutup buku yang sudah ia hafal isinya sejak lama.

Tubuh penyihir yang lebih berisi diseret pergi tanpa upacara. Pasir diratakan seadanya, bukan untuk membersihkan, melainkan untuk menyiapkan ruang bagi kesalahan berikutnya. Bekas darah dibiarkan, tidak karena lupa, tetapi sebagai penanda—pengingat bahwa lantai memang licin, dan selalu licin karena alasan yang tepat.

Penonton mulai bubar. Sebagian kembali ke kedai dengan tawa yang sudah berubah setengah. Sebagian menghilang ke lorong lain, membawa cerita yang akan berbeda ketika sampai di mulut ketiga.

Dan Omen—yang tadi bodoh karena mabuk, sekarang tajam karena tidak menonton duel.

Ia menonton sepatu baru yang ternoda.

Ia menonton kantung Dril yang dipegang terlalu dekat ke dada.

Ia menonton pintu keluar, menghitung jarak tanpa terlihat menghitung.

Karena di Helstwo, orang-orang datang untuk melihat siapa yang mati.

Orang seperti Omen datang untuk memastikan siapa yang menyusul.

Ia berdiri ketika kebanyakan orang berdiri. Tidak terlalu cepat. Tidak terlalu lambat. Ia ikut arus yang sama, menjadi salah satu dari banyak tubuh yang ingin keluar sebelum arena memanggil duel berikutnya.

Lorong keluar Helstwo lebih sempit daripada lorong masuk. Itu sengaja. Saat masuk, kota ingin orang merasa masih punya pilihan. Saat keluar, kota ingin orang merasa sudah memilih.

Ada dua penjaga di gerbang besi. Helm yang satu tetap miring, miringnya tidak berubah, seperti dunia ini tidak pernah memberinya alasan untuk meluruskan apa pun.

“Jalan,” kata penjaga itu pada semua orang, bukan perintah, hanya pengingat bahwa di sini orang lewat karena diizinkan.

Lelaki berambut tipis itu merogoh kantung Dril-nya dengan gerakan cepat. Bukan untuk membayar. Untuk memastikan kantung itu masih ada.

Itu refleks yang salah.

Refleks yang membuat orang seperti Omen tahu di mana hidup seseorang disimpan.

Mereka naik tangga.

Tangga yang tadi terasa seperti turunan ke perut kota kini terasa seperti naik ke mulutnya—mulut yang tidak menelan, hanya mengunyah, lalu meludahkannya kembali ke lorong-lorong Drilent dengan sisa-sisa yang berbeda.

Di atas, kedai-kedai menyambut dengan lampu kuning, tawa yang sudah berubah setengah, dan bau minyak goreng yang menutupi bau darah. Drilent pandai menutup luka dengan suara.

Istri lelaki itu membelok ke kiri, memilih jalan yang lebih terang. Jalan terang selalu membuat orang merasa aman.

Omen memilih jalan gelap—tetap mengikuti dari jarak yang aman, membiarkan bayang-bayang mengerjakan separuh pekerjaan.

Ada tiga belokan.
Di belokan kedua, seorang anak melintas sambil membawa ember. Airnya tumpah sedikit, menampar batu, meninggalkan jejak licin.

Lelaki itu mengumpat pelan.

Istrinya menoleh, ingin memarahi anak itu, lalu menahan diri ketika melihat ada orang lain di sekitar. Ia memilih diam.

Diam adalah mata uang kelas menengah: cukup mahal untuk menunjukkan martabat, cukup murah untuk dibeli siapa pun yang takut.

Belokan ketiga membawa mereka ke lorong yang lebih sempit, di mana jemuran menggantung rendah seperti keputusan yang belum selesai. Ada pintu-pintu kecil di kiri-kanan, sebagian terbuka sedikit, cukup untuk menunjukkan bahwa dunia punya banyak cara menonton tanpa terlihat menonton.

Di sini, Omen mempercepat langkahnya.

Bukan banyak. Setengah langkah lebih cepat dari arus.

Cukup untuk memotong jarak.

Istri lelaki itu tiba-tiba berhenti.

Bukan karena ragu. Karena ia melihat sesuatu.

Di ujung lorong, dua pria berdiri, berpura-pura merapikan tali jemuran. Tali itu tidak butuh dirapikan. Mereka hanya butuh alasan untuk berdiri.

Omen menangkap itu dalam sepersekian, lalu menangkap hal yang lebih penting: perempuan itu memegang lengan suaminya lebih erat.

Takut.

Bukan takut pada Helstwo. Takut pada lorong.

Lorong-lorong Drilent lebih jujur daripada arena. Arena memberi alasan. Lorong tidak.

“Lewat sini,” bisik perempuan itu, dan ia menarik suaminya masuk ke gang samping yang lebih gelap.

Bagus.

Gang samping itu membuat pekerjaan Omen lebih mudah, dan membuat kematian nanti terdengar lebih masuk akal.

Gang itu sempit, berbau air basi dan arang tua. Dindingnya lembap, dan batu-batunya licin oleh sesuatu yang tidak pernah diberi nama. Di ujung gang ada pintu kayu belakang—pintu dapur, pintu gudang, pintu orang-orang yang tidak ingin terlihat datang dari depan.

Mereka berhenti di depan pintu itu.

Lelaki berambut tipis itu merogoh saku, mencari kunci. Tangannya gemetar sedikit. Ia tidak menyadarinya, tapi tubuhnya sudah tahu ia sedang diawasi, meski kepala masih berbohong bahwa ia hanya lelah.

Istrinya berdiri setengah langkah di belakang, menoleh ke kanan-kiri, mencoba melihat siapa yang mungkin ada.

Omen tidak memberi waktu untuk melihat.

Ia mendekat dari belakang, cukup dekat hingga ia bisa mencium sabun mahal di rambut perempuan itu, sabun yang tidak dijual di lorong seperti ini.

“Permisi,” kata Omen, suaranya datar.

Keduanya menoleh.

Satu detik.

Satu detik itulah harga nyawa dalam pekerjaan yang rapi.

Omen tidak mengangkat tongkat. Ia tidak membawa tongkat, seperti perintah di kertas itu. Omen membawa tangan.

Tangannya yang kanan bergerak dulu—cepat, tenang, tidak dramatis—mengait dagu lelaki itu dan menariknya sedikit ke depan, membuat lehernya terbuka dengan cara yang tidak sempat ditolak oleh siapa pun.

Tangannya yang kiri sudah memegang sesuatu sejak awal—bukan bilah panjang, bukan pedang. Itu akan terlalu “cerita”. Terlalu mudah diingat.

Ini hanya sepotong besi tipis, keras, ujungnya tajam, benda yang bisa disangka alat tukang jika ditemukan.

Ia menancapkan besi itu di bawah tulang rusuk, tepat di tempat di mana napas manusia berubah jadi cairan.

Bukan tusukan besar.

Tusukan kecil.

Tusukan yang tidak memanggil sorak.

Lelaki itu mengeluarkan bunyi aneh—bukan teriakan, bukan kata, hanya udara yang mencoba jadi suara lalu gagal. Matanya melebar. Tangannya meraih dada, refleks untuk menahan sesuatu yang tidak bisa ditahan.

Istrinya membuka mulut.

Omen menoleh padanya sepersekian, hanya cukup untuk memberinya satu pilihan yang palsu: berteriak dan mati sekarang, atau diam dan hidup sedikit lebih lama.

Perempuan itu memilih diam.

Orang yang hidup dari martabat sering lebih cepat memilih diam daripada orang yang hidup dari kelaparan.

Lelaki itu jatuh ke lutut.

Omen menahan tubuhnya sebentar—bukan karena belas kasihan, tapi karena ia tidak ingin bunyi jatuhnya terlalu keras. Bunyi keras mengundang mata. Bunyi pelan mengundang rumor, dan rumor selalu bisa dijual.

Lalu ia membiarkan tubuh itu meluncur ke lantai batu yang lembap.

Darah tidak muncrat.

Darah merembes.
Seperti kebanyakan hal yang benar-benar penting di Drilent, ia tidak meledak, ia menetap.

Perempuan itu menatap suaminya. Ada sesuatu di matanya yang ingin jadi teriakan, tapi teriakan butuh keyakinan bahwa ada orang yang akan menolong. Di gang sempit ini, keyakinan itu tidak dijual.

Omen mengusap besi tipis itu ke kain jubahnya, bukan untuk bersih, tapi untuk menghapus kilap yang bisa ditangkap cahaya.

Lalu ia menunduk, meraih kantung Dril di dada lelaki itu.

Kantung itu berat.

Lebih berat daripada yang seharusnya dimiliki penonton biasa.

Omen merasakannya, dan ia mengerti kenapa Helstwo dipilih.

Ini bukan tentang sepatu baru. Ini tentang kantung lama.

Ia menyelipkan kantung itu ke dalam jubahnya.

Istri lelaki itu akhirnya bersuara—satu kata, pecah, tidak rapi.

“Kenapa?”

Omen menatapnya sebentar.

Alasan selalu diminta oleh orang yang belum pernah membayar dengan benar.

“Karena kau punya uang,” jawab Omen.

Itu jawaban yang tidak menjawab apa-apa, tapi cukup untuk membuat cerita nanti terdengar masuk akal bagi orang-orang yang ingin percaya bahwa dunia masih punya aturan sederhana.

Ia berbalik untuk pergi.

Di belakangnya, perempuan itu tidak mengejar. Ia tidak memaki. Ia tidak memanggil penjaga.

Ia hanya duduk pelan di samping tubuh suaminya, seperti perempuan yang tiba-tiba dipaksa belajar cara menjadi janda tanpa kelas.

Saat Omen keluar dari gang dan kembali ke arus kota, ia merasakan napasnya stabil lagi.

Bukan lega.

Kosong.

Kosong yang selalu datang setelah pekerjaan selesai, kosong yang membuat orang minum, dan minum yang membuat orang kembali ke tempat seperti Helstwo, sampai lingkaran selesai memakan namanya.

Di saku dalamnya, koin Dril yang terlalu rapi itu terasa dingin.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Omen sadar, pekerjaan ini tidak selesai di gang.

Pekerjaan ini baru saja mulai.

Karena di Drilent, uang yang terlalu berat selalu punya pemilik yang lebih berat.

Omen berjalan tanpa arah beberapa saat.

Tidak pulang. Tidak juga kembali ke Helstwo. Ia hanya mengikuti jalan yang kebetulan tidak menolaknya. Lorong-lorong menyempit lalu melebar lagi, suara kota berubah dari desah ke tawa, dari tawa ke dengkur mabuk.

Tangannya masih berbau besi.

Ia menyeka telapak tangan ke kain jubahnya sekali lagi, lalu berhenti di depan kedai yang pintunya terbuka setengah. Cahaya kuning tumpah ke batu seperti minyak panas—terlalu akrab untuk diabaikan.

Maka ia masuk.
Tidak ada upacara. Tidak ada jeda. Kedai menerima orang seperti lubang menerima air, tanpa bertanya dari mana ia datang, tanpa peduli apa yang baru saja tenggelam bersamanya.

Di dalam, asap tebal menggantung rendah, membuat mata siapa pun tampak sedikit berair jika mereka duduk cukup lama dan pura-pura itu bukan apa-apa. Suara gelas beradu, tawa keras, sumpah serapah, semuanya bekerja sama menutup malam seperti kain kotor menutup luka: tidak menyembuhkan, hanya membuatnya tidak terlihat.

Omen duduk di dekat jendela—bukan karena ingin pemandangan, tapi karena di sana angin masuk sedikit, cukup untuk membuat kepala tidak langsung jatuh.

Ia memesan satu. Lalu satu lagi. Lalu berhenti menghitung.

Di antara sloki, ia membeli roti. Roti yang keras, roti yang tidak benar-benar hangat, roti yang dijual bukan untuk dimakan, melainkan untuk memberi tangan sesuatu agar tidak tremor terlalu jelas. Ia menggigitnya tanpa terburu-buru. Remahnya jatuh ke janggut, menempel, lalu lupa dibersihkan. Di kedai seperti ini, remah roti adalah perkara paling kecil yang bisa kau biarkan terjadi padamu.

Malam berjalan.

Orang datang. Orang pergi. Beberapa orang tidur dengan kepala di meja. Beberapa orang tertawa seperti dunia tidak punya besok. Omen tidak benar-benar ikut salah satunya. Ia hanya membiarkan minuman melakukan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh doa: menumpulkan sudut-sudut pikiran.

Sesekali ia menyentuh saku dalam jubahnya, memastikan lipatan kertas itu masih ada. Sesekali ia mengusap telapak tangannya lagi, seolah bau besi bisa ditukar dengan bau rum murah jika diulang cukup banyak.

Tidak bisa.

Menjelang larut, ia mengeluarkan satu Dril kecil terakhir—yang entah kenapa tersisa—menaruhnya di meja seperti meletakkan titik pada kalimat yang tidak pernah ia pilih untuk ditulis.

Pelayan melihat koin itu, lalu menuang satu lagi tanpa komentar. Di tempat seperti ini, orang jarang menilai; mereka hanya memastikan kau membayar sebelum jatuh.

Ketika kedai mulai tipis oleh manusia—bukan karena pagi, melainkan karena lelah—Omen tetap di sana, sampai bunyi-bunyi berubah. Tawa jadi batuk. Lagu jadi dengkur. Langkah jadi seret.

Lalu pagi datang tanpa seremoni.

Cahaya yang masuk bukan cahaya bersih. Hanya pucat yang membuat semua noda di kedai tampak lebih jujur: meja lengket, lantai basah, wajah-wajah yang kemarin malam tampak berani kini tampak seperti yang sebenarnya—lelah.

Omen bangkit.

Kepalanya berat, tapi bukan itu yang membuat langkahnya lambat. Yang membuat langkahnya lambat adalah tubuh yang selalu lebih dulu mengingat daripada mulut.

Ia keluar.

Udara pagi menampar pelan, dingin dan tipis, menghapus sisa hangat kedai seperti tangan asing menghapus jejak yang tidak pernah ia minta diingat. Matanya berair—bukan karena tangis, bukan karena penyesalan, hanya karena asap semalaman dan minuman murah yang tidak pernah ramah pada orang yang sudah lelah.

Ia duduk di ambang jendela kedai itu.

Papan kayu di atasnya catnya mengelupas, namanya sudah lama tidak terbaca jelas, seolah kedai ini pun tidak mau bertanggung jawab atas siapa pun yang pernah masuk. Kakinya menggantung, punggungnya bersandar, dan dunia di depannya bergerak seperti biasa—orang membawa air, anak berlari, pedagang membuka lapak—seolah tidak ada apa pun yang baru saja selesai di gang sempit dua lorong dari sini.

Ia mengangkat benda kecil gelap berkilau samar di telapak—entah cincin, entah liontin, entah sekadar sisa keyakinan dari hari-hari ketika ia masih percaya sesuatu bisa menyelamatkan keadaan buruk. Benda itu memantulkan cahaya pagi sebentar, lalu kembali jadi gelap.

“Belikan aku sebelas Dril saja,” katanya, suaranya serak tapi masih kuat, menawar dunia seperti menawar tukang sayur yang tidak peduli. “Sebelas Dril untuk beberapa sloki lagi, dan koin ini milikmu.”

Seekor anjing kurus mengendus kaki telanjangnya dan menjauh ketika disepak lemah.

Tidak ada yang berhenti.
Seorang perempuan lewat membawa keranjang sayur, wajahnya mengeras oleh kebiasaan hidup yang tidak menyediakan ruang untuk tragedi orang lain. Ia melirik sekilas, lalu berkata dengan jijik yang praktis, jijik orang yang sedang sibuk bertahan, “Kalau itu sungguh berharga, kau mabuk di dalam, bukan mengemis di luar.”

Omen tertawa pendek, tawa yang segera berubah jadi batuk. Batuknya menghantam dari dalam, membuat tubuhnya tersentak seperti ditarik paksa kembali ke kenyataan. Ia menyeka mulut dengan punggung tangan, merasakan pipinya makin lengket, seolah Drilent dengan sabar menandai orang-orang yang tidak laku.

Di janggutnya menempel remah roti kering—entah dari kapan—dan ia tidak repot membersihkannya, seolah benda sekecil itu tidak lagi layak diperhatikan.

“Tujuh Dril,” katanya lagi, kali ini lebih pelan. “Satu Dril.”

Ia memandangi orang-orang yang lewat.

Sebagian menoleh lalu segera lupa. Sebagian tidak sempat menoleh sama sekali. Beberapa pasang mata berhenti cukup lama untuk menilai benda di tangannya, lalu wajahnya, lalu mengambil keputusan kecil yang cepat dan efisien: bukan urusan mereka.

Di kantungnya, satu Dril kecil tertinggal—entah karena ia lupa, entah karena dunia sengaja menyisakan ejekan terakhir.

Satu Dril.

Cukup untuk minum.

Tidak cukup untuk lupa.

Ia menatap koin itu lagi, menekannya di telapak seolah berharap rasa dinginnya bisa menahan sesuatu yang lebih panas di dalam dada—sesuatu yang tidak mau disebut.

“Besok,” gumamnya.

Ia tertawa kecil, karena kali ini kata itu tidak terdengar seperti lelucon.

Kedai di belakangnya masih terbuka. Tawa sudah kembali, tapi tawa pagi—lebih tipis, lebih cepat selesai, seperti orang yang tertawa supaya tidak perlu mengingat.

Dan di suatu tempat di bawah batu, Helstwo menunggu lagi.

Bukan duel berikutnya, melainkan orang berikutnya yang datang dengan keyakinan sederhana dan bodoh, bahwa ia akan hidup satu hari lagi.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
🜏 DENTANG 🜏

Hujan terus turun sejak pagi, gerimis tipis yang merayap masuk ke tulang, membuat sendi-sendi Cedric terasa ngilu. Dari jendela kecil kamarnya ia sudah melihat halaman luar Kortavel menghitam, batu-batunya licin disiram air, sambil menghitung dentang lonceng yang menandai jam-jam lewat. Ritus lelang dimulai pada dentang keenam setelah doa siang, ketika dentang terakhir terdengar, ia masih berdiri di meja Kanonik Marlow, dipaksa mengulang satu kalimat dalam laporan kolekte tiga kali sampai sang Kanonik puas.

Sekarang, berdiri di bawahnya, Kortavel menjulang dalam keheningan yang dibuat-buat. Kubah beratnya penuh ukiran dewa-dewa dan para wali yang tampak menangis dalam hujan, menjanjikan pengikutnya cahaya dan keselamatan.

Namun Cedric tahu lebih baik.
Ia tahu, jika lembar ritus pertama terlambat lagi, Ordo takkan puas hanya dengan teguran tertulis. Mereka jarang merasa perlu mengulang ancaman dua kali.

Ia mengangkat tudung jubah juru tulisnya, menyembunyikan wajah yang masih sedikit terengah, dan melebur di antara para peziarah yang berdoa kepada Tiga Belasku—panteon yang bahkan walinya sendiri mulai ragu. Bau lilin lebah dan dupa cendana memenuhi udara, manis dan lembap, seolah berusaha menutupi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih busuk, yang berdiam di balik batu-batu suci itu.

Cedric menyelip di antara mereka, bahunya membungkuk dan kepalanya merunduk—bukan semata demi kesalehan, melainkan untuk menyembunyikan napas yang belum sepenuhnya tenang. Tidak ada yang meliriknya dua kali. Di sini, menjadi tidak terlihat adalah satu-satunya kemewahan yang ia miliki, dan satu-satunya perlindungan yang tersisa bila Ordo mulai menginginkan kepala seseorang untuk disalahkan.

Seorang perempuan tua menjulurkan tangan, meminta sedekah dengan suara parau. Cedric pura-pura tidak melihat, bukan karena kejam, melainkan karena ia tidak punya apa-apa selain sisa tenaga dan satu nama yang mudah diganti di daftar hukuman. Di sisi lain, seorang anak altar berlari kecil sambil membawa baskom air—airnya tumpah sedikit, membasahi tepi sepatu Cedric. Anak itu meminta maaf terburu-buru, lalu lenyap lagi ke kerumunan.

Cedric berhenti di dekat altar utama, hanya sesaat, matanya terpejam. Bukan untuk berdoa—ia sungguh tidak punya waktu untuk itu—melainkan untuk menyelaraskan kembali detak jantungnya dengan nyanyian rendah para wali. Patung Sang Penyayang berdiri terlalu bersih, terlalu putih, seakan debu dunia takut menyentuhnya. Cedric sempat berpikir, seandainya patung itu bisa berbicara, ia akan meminta maaf... lalu menagih keterlambatan.

Ia membuka mata dan bergerak menuju lorong kecil di sisi kiri, lorong yang jarang digunakan peziarah, lorong yang menuju sesuatu yang lebih tua daripada Kortavel itu sendiri.

Ia menahan diri untuk tidak berlari.

Jubah juru tulis Ordo tidak layak berkibar seperti milik anak altar, jadi ia hanya mempercepat langkah, sedikit saja, cukup untuk membuat napasnya kembali pendek, cukup untuk membuat bunyi hitungan waktu berulang di dalam kepalanya: dentang keenam, dentang ketujuh, dan kemungkinan yang menyertainya. Ia membenci dirinya sendiri karena masih menghitung dengan cara itu.

Ia membuka pintu kayu di ujung lorong dan masuk begitu saja.

Koridor gelap menyambutnya, berbau tanah kuburan setelah hujan. Mantra-mantra kuno tergores di dinding batu, tanda perlindungan, atau peringatan, tergantung siapa yang membacanya. Udara di sini lebih dingin, lebih padat. Setiap langkah di lantai batu terdengar jelas di telinganya sendiri, seolah seluruh Kortavel bisa mendengar ia datang terlambat dan menyukainya.

Di ujung koridor berdiri pintu kayu rendah yang tak akan dianggap penting oleh mata awam. Pintu itu tidak megah. Tidak ada ukiran dewa. Tidak ada lilin. Hanya kayu tua, paku besi, dan rasa tidak enak yang menempel pada gagangnya.

Di sinilah perjalanannya berakhir. Atau dimulai, jika ia salah melangkah.
Cedric mengusap telapak tangannya ke sisi jubah, mengeringkan keringat yang dingin, lalu mengetuk pelan, dua kali cepat, satu kali lambat. Ketukan kedua terdengar sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan. Ia membeku, menunggu. Membenci dirinya sendiri karenanya.

Dari balik pintu, suara tua bertanya,
“Siapa yang datang ke hadapan Dewa Sunyi?”

Tenggorokannya terasa kering tiba-tiba, tetapi lidahnya sudah hafal jawaban itu sama seperti tangan hafal bentuk pena.
“Cedric Holt. Ordo Atriak Suci.”

Hening. Hanya suara hujan yang jauh di atas, merembes turun lewat batu.

Lalu pertanyaan kedua, yang selalu membuatnya ingin tertawa—bukan karena lucu, melainkan karena setiap jawaban di dunia ini pada akhirnya sama:
“Apa yang kau tinggalkan di belakangmu?”

Kepalanya berdenyut tanpa alasan. Cedric mengatup rahang. Ia pernah menjawab kalimat ini dengan lebih puitis ketika masih baru. Itu hanya membuat mereka menertawakannya.
“Penyesalan, karena ia tidak menerimanya. Harapan, karena ia meminta.”

Ada bunyi klik berat dari dalam, seperti gigi-gigi mekanisme logam yang dipaksa berputar setelah berabad-abad tak digunakan. Pintu itu terbuka sedikit, hanya selebar telapak tangan, memperlihatkan kegelapan pekat di baliknya.

“Kau terlambat, Tuan Holt,” kata suara yang sama, kini lebih dekat, lebih nyata. “Masuk.”

Tangga batu di balik pintu turun curam. Hujan masih terdengar ketika Cedric menuruni anak-anak tangga itu, lalu perlahan memudar, digantikan desis lembap dan gema langkah puluhan orang yang sudah berkumpul di bawah tanah Kortavel. Jubahnya terseret di tepi batu yang licin, dan ia hampir terpeleset sekali, cukup untuk membuatnya berhenti setengah detik lebih lama dari yang ia rencanakan.

Tinta masih mengering di ujung kukunya, ia belum sempat membersihkannya setelah Kanonik gila itu memanggilnya naik hanya untuk memeriksa satu kalimat dalam laporan kolekte. Satu kalimat, setengah jam hilang, dan seluruh ritus hari ini bisa mencatatnya sebagai terlambat.

Tentu saja Ordo tidak peduli alasan.

Balairung itu lebih luas daripada yang pernah ia bayangkan pertama kali datang ke sini bertahun-tahun lalu, namun malam ini terasa sempit oleh jumlah orang yang hadir. Dari tangga, ia melihat mereka tersebar di lantai batu. Sebagian berdiri dalam kelompok kecil, kepala saling mendekat; sebagian lain menempel ke dinding, memastikan tak ada siapa pun di belakang mereka. Wajah-wajah itu pucat dan gelap, mata yang terlalu waspada untuk tempat ibadah.

Cedric tidak berhenti di lantai.

Ia menggeser tubuhnya menyusuri dinding, melewati bau keringat yang disembunyikan ramuan, menyelinap di belakang dua penyihir berjubah ungu yang sibuk berdebat pelan, lalu menaiki tiga anak tangga sempit menuju tembok rendah dari batu hitam di sisi balairung. Di sanalah para juru tulis berdiri, deretan meja sempit dengan papan lilin, pena baja, dan kantong kecil berisi Dril hitam untuk ongkos ritus.

“Engkau datang juga akhirnya.”

Suara itu kering seperti perkamen lama. Master Galvien berdiri di ujung meja, punggungnya melengkung, namun matanya masih setajam pahat. Ia tidak menoleh penuh, hanya sedikit gerakan mata yang menyapu Cedric dari kepala sampai sepatu yang basah, seperti menilai barang yang baru tiba.

“Maaf, Master. Kanonik Marlow—”

“—telah menyampaikan alasannya.”

Galvien akhirnya menatapnya, pandangannya tajam namun tanpa emosi. “Dan Ordo telah memutuskan bahwa alasan itu tidak cukup.”

Ia mengeluarkan gulungan kecil bersegel merah dari lipatan jubahnya dan meletakkannya di meja. Gulungan itu tidak besar—benda kecil, seperti banyak hal lain di tempat ini, yang bisa merusak hidup seseorang. “Setelah ritus selesai, kau akan menyerahkan jari kelingking tangan kirimu.”

Kata-kata itu jatuh seperti angka akhir.
Cedric gemetar. Jari kelingking kirinya menggeliat tanpa sadar, seolah tubuhnya mencoba menyembunyikannya, seperti anak kecil menyembunyikan permen dari orang tua. Untuk sesaat ia hanya berdiri, napasnya tersendat pelan, cukup pelan sehingga hanya ia sendiri yang mendengarnya.

“Master…” ia mencoba, lebih mirip keluhan daripada protes.

Galvien menutup gulungan itu kembali dengan rapi, seolah hanya menata dokumen biasa. “Itu hukuman paling ringan yang dapat mereka berikan untuk kelalaian berulang,” ujarnya datar. “Kau seharusnya bersyukur, Tuan Holt. Ada juru tulis yang kehilangan lidah karena salah menulis satu angka.”

Cedric ingin berkata bahwa ia tidak pernah salah menulis angka. Ia ingin berkata banyak hal. Tapi kata-kata tidak punya nilai di ruangan ini kecuali dicap dan disegel.

Galvien menunjuk papan lilin. “Sekarang bekerja. Jika malam ini ada satu angka yang salah, mereka mungkin akan menginginkan seluruh tangan kirimu.”

Tangan kiri Cedric berdenyut seakan mendengar namanya disebut. Ia menunduk, meraih pena baja dengan tangan yang sedikit gemetar, berusaha menyamakan napasnya dengan dengung obor.

Di tengah ruangan, sebuah meja dari batu hitam berdiri sendiri, permukaannya halus dan dingin seperti danau beku di tengah musim dingin. Kain beludru gelap menutupi benda-benda yang tergeletak di atasnya, tiap gundukan kain menyembunyikan sesuatu yang membuat orang berkeringat hanya karena memandang siluetnya. Cedric pernah bertanya pada dirinya sendiri bagaimana beludru bisa tampak lebih gelap daripada malam. Malam setidaknya punya bintang.

Ia mencatat nama-nama dengan sudut mata, bukan karena ingin tahu, melainkan karena ia tidak punya pilihan lain. Nama adalah hal pertama yang diminta Ordo jika sesuatu berjalan salah, dan juru tulis yang tidak tahu siapa berdiri di ruangan selalu menjadi juru tulis pertama yang disalahkan.

Ia melihat seorang lelaki tua berjubah biru tua berdiri terlalu dekat dengan dinding, jari-jarinya bergerak tanpa suara, seolah masih menghitung sesuatu yang tidak lagi ada di kantungnya. Di sisi lain, seorang perempuan muda dengan cincin emas berlebihan menatap meja batu dengan senyum tipis, senyum orang yang yakin dirinya tidak akan kalah malam ini, atau setidaknya tidak akan kalah sendirian.

Ada juga mereka yang tidak mencatatkan diri.

Cedric mengenali mereka dari cara berdirinya, tidak dekat meja, tidak dekat pintu, dan selalu berada di bayangan orang lain. Orang-orang seperti itu tidak datang untuk membeli. Mereka datang untuk memastikan siapa yang membeli, dan siapa yang setelah malam ini tidak lagi punya hak untuk menolak. Cedric pernah mengira mereka penjaga. Lalu ia mengerti.

Di sudut balairung, dua penyihir bertukar bisik. Salah satu dari mereka tertawa kecil, cepat berhenti, lalu menunduk saat sadar suaranya terdengar terlalu jelas. Cedric mencatat gerak itu, bukan tawa itu. Tawa bisa disangkal. Gerak tubuh tidak.

Obor-obor bergetar serempak, bukan karena angin, tak ada angin di bawah tanah, melainkan karena ritus kedua mulai dibacakan di balik tirai batu di ujung ruangan. Cedric tidak bisa melihat siapa yang membacanya, hanya mendengar potongan suku kata yang terlalu tua untuk disebut doa. Setiap kali satu suku kata jatuh, nyala obor mengecil sesaat, seolah api pun tahu kapan harus menahan diri.

Master Galvien mengetuk papan lilinnya sekali.

Cedric menoleh. Galvien tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunjuk garis waktu yang sudah ditorehkan di papan, tiga kolom, masing-masing dengan tanda kecil di ujungnya. Dentang keenam sudah lewat. Dentang ketujuh akan menentukan apakah nama-nama malam ini tercatat sebagai “sah” atau “diperselisihkan”.

Cedric menelan ludah.

Ia pernah melihat apa yang terjadi pada lelang yang “diperselisihkan”. Bukan pembatalan. Ordo tidak pernah membatalkan apa pun. Mereka hanya menunda pengakuan, lalu menagih kembali dengan cara yang lebih mahal, lebih pelan, dan lebih pasti. Cara yang membuat orang berharap sampai harapannya sendiri jadi utang.
Di meja batu, kain beludru bergeser sedikit, tanpa disentuh. Cedric sempat yakin ia melihat tangan kecil dari bawah kain—bayangan yang salah, tentu saja—dan rasa dingin merambat naik sampai siku. Tidak ada yang mengatakan apa-apa, tapi beberapa orang melangkah mundur setengah tapak. Bukan karena takut—takut adalah reaksi kasar—melainkan karena naluri yang lebih tua, naluri yang mengatakan bahwa jarak adalah satu-satunya bentuk keselamatan yang tersisa.

Cedric menurunkan pena sesaat, cukup lama untuk memastikan tangannya masih berfungsi. Jari kelingking kirinya berdenyut ringan, seperti mengingatkan bahwa ia masih terpasang—untuk sementara.

Ia kembali menulis.

Pena Cedric menari di papan lilin, tapi pikirannya tersangkut pada hal-hal kecil yang tidak ada di kolom mana pun, bunyi kain basah diperas pelan di sudut, bau obat gosok dari seorang lelaki yang mencoba menyembunyikan tremor di pergelangan tangan, cara seorang pembeli merapikan cincin di jarinya berulang-ulang seolah logam bisa membuatnya tampak lebih berani.

Di meja sebelah, seorang juru tulis lain—anak muda bermata cekung dengan noda tinta di ujung hidung—mendorong sebuah papan lilin ke arahnya.

“Namanya salah,” bisik anak itu tanpa benar-benar menoleh. “Yang di sana bukan Ravel, tapi Ravell. Dua L.”

Cedric melirik sekilas ke arah lelaki berjubah biru tua itu. Jari-jarinya masih bergerak, menghitung sesuatu yang tak terlihat.

“Kalau kau yakin,” Cedric membalas pelan.

“Aku pernah menyalin surat utangnya,” kata si juru tulis. Suaranya nyaris tak ada, hanya hembusan. “Dia menghajar meja sampai kuku jarinya retak karena satu huruf. Ordo… tidak suka satu huruf meleset.”

Cedric menggeser pena, menambahkan satu garis kecil pada nama itu, dan merasakan tenggorokannya makin kering. Di tempat ini, satu huruf bisa jadi denda. Dua huruf bisa jadi amputasi lain.

Master Galvien lewat di belakang mereka tanpa suara. Jubahnya menyapu batu, dan Cedric menahan napas seperti seorang anak yang takut ketahuan membawa roti. Galvien tidak berhenti, tidak menegur, hanya menatap papan lilin Cedric sekilas, lalu berlalu seolah ia baru saja memastikan sesuatu.

Di bawah tembok rendah itu, seseorang menyeberang lantai balairung, langkahnya tenang, terlalu tenang. Seorang lelaki dengan tudung kelabu, tanpa perhiasan, tanpa tanda keluarga, tanpa cincin. Cedric hampir tidak mencatatnya—hampir. Lalu ia melihat tangan lelaki itu, tidak ada jari kelingking.

Cedric menunduk cepat-cepat, berpura-pura sibuk menajamkan ujung penanya. Jari kelingkingnya sendiri berdenyut, seolah tubuhnya mengingatkan apa yang akan terjadi padanya kemudian.

Seorang perempuan kurus berwajah tirus berdiri di samping meja. Matanya hitam dan tidak berkedip, pipinya cekung seolah tulang tengkoraknya berusaha menerobos kulit.

“Perlelangan ke-dua dimulai,” kata Custodia.

Suaranya tipis, namun menembus ruangan lebih jauh daripada seruan imam mana pun di atas sana. Bisik-bisik padam seperti lilin dihembus, hanya menyisakan desis obor dan satu dua batuk yang segera ditelan diam.

“Buka kain kedua.”

Seorang pria bertudung maju dari bayang-bayang belakang meja. Tangannya bergerak tenang saat ia meraih ujung kain beludru dan menariknya ke samping.

Bayangan-bayangan di sekeliling ruangan bergerak sedikit, mendekat. Tidak banyak—hanya satu langkah, satu condong badan—tetapi cukup bagi Cedric untuk melihat siapa yang tiba-tiba menegang, siapa yang memilih tetap diam di tempat, dan siapa yang berpura-pura tak tertarik sementara jemarinya meremas kantong Dril di pinggang.

Di atas meja tampak sebuah benda kecil, tak berbahaya, sebuah kotak kayu hitam sebesar telapak tangan, tanpa ukiran, tanpa kunci, tanpa hiasan. Kayunya begitu gelap hingga nyaris menelan cahaya obor, menjadikannya seperti lubang kecil yang diletakkan di atas batu. Cedric membenci kotak-kotak seperti itu. Kotak selalu terlihat sederhana sampai seseorang membukanya.
Tidak ada ukiran, tidak ada segel, tidak ada nama, dan justru itu yang membuat beberapa orang tampak lebih cemas. Barang lelang yang diberi nama masih bisa dibenci. Yang tanpa nama hanya bisa ditakuti.

Seorang pembeli di barisan depan mengangkat dagunya, seolah ingin menertawakan kotak itu. Tawanya tidak jadi keluar. Ia menelan ludah, dan Cedric melihat urat di lehernya bergerak.

Di sisi kanan, perempuan bercincin emas mengubah posisi berdirinya, menaruh satu langkah lebih dekat—lalu berhenti, seperti sadar ia baru saja menunjukkan terlalu banyak niat. Ia merapikan lengan jubahnya, pura-pura santai. Jemarinya, bagaimanapun, meremas kantong Dril sampai kulitnya memutih.

Seseorang berbisik menyebut angka, Cedric tidak menangkapnya, hanya mendengar nada suara yang seperti orang menyebut nama orang mati. Di belakang bisik itu, terdengar bunyi pelan logam kecil beradu, mungkin segel, mungkin Dril, mungkin jimat yang disentuh untuk memastikan masih ada.

Custodia tidak ikut memandang kotak itu lama-lama. Ia memandang ruangan.

Bukan memandang orang-orangnya—melainkan memandang jarak di antara mereka, memandang siapa yang mundur, siapa yang maju, siapa yang sudah mengambil keputusan sebelum mulutnya sempat bicara. Seolah yang dilelang bukan kotak, melainkan keberanian.

Cedric menahan diri untuk tidak menulis “kotak” di papan lilin. Kata itu terasa terlalu ringan. Ia hanya menulis nomor lelang, lalu menulis satu catatan kecil yang tidak ada di format Ordo. Tanpa nama.

Ia menghapusnya segera setelah menulis, tapi bekas goresannya masih ada.

Dari atas Kortavel, terdengar samar suara paduan suara memohon berkat. Di bawah tanah ini, jauh dari telinga dewa dan para wali, Ordo memperdagangkan benda-benda berbahaya, benda-benda yang seharusnya tidak pernah disentuh manusia.

Dan Kortavel yang suci berdiri di atasnya, tenang, damai, dan berdosa.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
✠ KELUARGA VASARIA ✠

Kastel Mirhgate tidak tampak banyak arti dari kejauhan. Hanya gundukan batu kelabu di lereng bukit, dikelilingi hutan cemara kusam dan kabut tipis yang enggan memudar. Dari sini, jika cuaca bersih dan mata cukup tajam, orang bisa melihat kilau pucat Kastel Vasaria jauh di utara—ibu kota wilayah Barcavia. Namun pagi ini langit tertutup awan berat, menyisakan jalan becek, pepohonan basah, dan benteng kecil di ujung pandang.

Mereka sudah meninggalkan Kessermount—kota perbatasan Drilands dan Barcavia—dua hari lalu. Sejak itu jalur semakin sempit, menanjak pelan melalui punggung bukit yang tergerus. Tak ada rumah petani, tak ada menara Kartovel, tak ada asap dapur di cakrawala, hanya batu, lumut, dan sesekali bekas lubang tambang lama yang ditutup seadanya. Kuda Marrec beberapa kali tersandung di tanah yang tak rata.

Dia mengangkat kerah jubahnya lebih tinggi. Angin utara merayap dari sela-sela kain, lembap dan dingin, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lain di baliknya—aroma logam samar yang dikenalnya sejak dalam kandungan. Bau Dril.

Di wilayah ini, kata orang, jika kau menggali tanah terlalu dalam dengan tangan telanjang, jemarimu bisa berkilau. Marrec tidak pernah mencoba membuktikannya. Ia sudah cukup tahu bagaimana rasanya hidup dekat Dril. Bukan kilau yang ia dapat, melainkan utang yang menempel.

Di sampingnya, Ser Halden Darron menunggang dengan punggung tegak. Zirah tuanya bukan lagi berkilau, tapi setiap lempeng masih terpasang rapi, setiap gerakan kuda menggesekkannya satu sama lain, menciptakan denting rendah yang ritmis. Marrec menoleh sekilas. Wajah Halden yang keras, dengan parut tipis di pipi, tampak seperti patung batu yang dipahat oleh angin tenggara, tenang di bawah bayangan tudung wolnya.

Marrec tahu wajah itu sedang menahan sesuatu.

Itu bukan wajah kesatria yang berangkat berburu atau mengawal menteri menghadiri pesta. Kegelisahan menggantung di garis bibir Halden, cara jemarinya sekali-dua kali mengetuk gagang pedang, seolah butuh meyakinkan dirinya bahwa baja masih berada di sana. Marrec sudah melihat ketakutan di mata para prajurit di medan perang, atau inisiat di arena ujian, ketika Dril di lengan mereka mulai menghitam. Namun yang ini berbeda. Ketakutan yang ini tidak tergesa.

Mereka melewati tempat yang dulu pasti sebuah dusun. Marrec bisa melihat sisa pondasi rumah, batu-batu disusun rapi lalu runtuh, ditelan jamur dan lumut. Di tengahnya berdiri tiang kayu dengan lingkar besi di ujung, seperti bekas tempat menggantung lentera. Tidak ada lentera. Yang tergantung hanya papan kayu kecil, hitam, dengan satu ukiran yang sudah menipis dimakan hujan.

Halden memperlambat kudanya. “Jangan lama-lama,” gumamnya.

“Apa itu?” tanya Marrec, meski sudah tahu Halden tidak suka pertanyaan.

Halden tidak menatap papan itu. “Tanda lama.” Suaranya terdengar seperti orang yang menyebut nama orang mati. “Kalau kau melihatnya di pintu, kau tidak mengetuk. Kalau kau melihatnya di jalan, kau tidak bertanya.”

Mereka tidak berhenti. Tidak ada alasan berhenti. Dusun itu sudah lama tak punya mulut untuk bercerita.
Beberapa ratus langkah kemudian, mereka melewati gerobak patah di sisi jalan. Roda kanannya miring, dan kain terpal yang menutup muatan sudah dibuka sampai setengah, memperlihatkan peti-peti kecil yang disusun rapat. Peti kayu, semua sama ukurannya, semua diberi cap tinta yang sudah mengering seperti darah tua.

Di samping gerobak berdiri dua orang. Bukan penjaga jalan, bukan pedagang, bukan penambang. Salah satunya lelaki tua dengan mantel kelabu yang terlalu bersih untuk jalur seperti ini, tangan bersarung, memegang buku catatan tipis. Yang satunya pemuda dengan pisau pendek, tidak terlihat seperti suka memakai pisau itu untuk memotong roti.

Seorang perempuan berdiri beberapa langkah dari mereka, kepala tertutup selendang. Di tangannya ada kantung kecil yang sudah lemas, seperti kantung yang terlalu sering kosong. Ia berbicara pelan, tergesa, suaranya kalah oleh angin.

“Aku minta dua hari,” katanya. “Dua hari saja, m'lord.”

Lelaki tua itu tidak mengangkat kepala. Ia hanya membalik satu halaman, menggerakkan ujung arang di atas kertas, lalu menjawab tanpa suara tinggi. “Kau sudah minta kemarin. Dan kemarin lagi.”

“Anakku—”

“Anakmu tidak tercatat di sini,” kata lelaki tua itu datar. “Yang tercatat namamu.”

Pemuda berpisau memandang perempuan itu seperti memandang sesuatu yang mengganggu jalan. Perempuan itu menoleh sekali, melihat Marrec dan Halden lewat. Di matanya ada permohonan yang sudah kelelahan. Rasanya seperti tusuk kecil di tenggorokan, cukup untuk mengingatkan.

Marrec menelan ludah. Ia tidak menoleh lagi.

Halden memacu kudanya sedikit. “Jangan menatap,” katanya.

“Aku tidak menatap, Ser,” sahut Marrec, cepat.

“Bagus.” Halden menghela napas. “Kalau kau menatap, kau akan ingat wajahnya. Dan kalau kau ingat wajahnya, kau akan mulai berpikir bahwa ini urusanmu.”

Marrec tidak membantah. Angin menggigit pipinya, dan di belakang mereka, suara arang yang digoreskan pada kertas terdengar lebih jelas daripada seharusnya.

Tidak ada kebaikan yang datang dari urusan dengan Vasaria.

Ibu Marrec pernah mengucapkannya di depan perapian pada suatu musim dingin yang begitu panjang, malam ketika api hampir padam dan hanya mereka berdua yang masih terjaga. Ayah Marrec sudah lama tidak pulang saat itu. Tidak mati—belum. Tidak pergi—tidak juga. Ia hanya… diambil.

Marrec tahu sebagian dari kisah itu.

Ibunya tidak pernah menceritakan semuanya. Ia hanya mengatakan bahwa kakek-buyut Marrec pernah memohon Dril pada Vasaria, memohon terlalu banyak pada waktu yang terlalu salah. Vasaria tidak mengirim penjagal. Mereka mengirim pencatat. Selalu pencatat.

Pilihan yang diberikan tidak pernah terdengar seperti pilihan.

Ayah Marrec masuk tambang ketika Marrec masih kecil. Ia masih sempat mengangkat Marrec sekali, sebelum tangan-tangannya mulai berbau batu dan Dril. Setelah itu, ayahnya hanya pulang sesekali, lalu tidak lagi. Tidak ada kabar kematian. Tidak ada pemakaman. Hanya nama yang tetap tercatat.

“Utang itu tidak pernah lunas,” ibunya pernah berbisik, “dan Vasaria tidak pernah lupa.”

Saat Marrec cukup umur, pencatat datang lagi. Nama ayahnya masih ada. Dan karena nama itu belum selesai, Marrec yang berikutnya.

Jika bukan karena Ser Halden—yang menukar satu budi lama dengan pembayaran yang tidak pernah ia jelaskan rinciannya—Marrec tahu persis di mana ia akan berada sekarang. Menggantikan ayahnya. Bukan di atas pelana, melainkan jauh di bawah tanah, menjadi bagian dari deretan wajah yang bekerja untuk melunasi dosa orang mati.

Namun di sinilah dia sekarang, empat tahun kemudian, berkuda menuju kastel yang pernah menelan keluarganya pelan-pelan.
Mereka melewati tebing yang tergerus, tempat batu terbuka seperti luka. Di sana ada mulut lubang lama yang sudah ditutup papan dan rantai. Rantai itu berkarat, tapi simpulnya rapi, seperti seseorang masih memeriksa apakah ia terkunci. Di atasnya, kapur putih ditorehkan membentuk garis dan angka. Angka-angka itu sudah setengah hilang, namun Marrec masih bisa membaca sebagian. Angka bukan untuk penambang. Angka untuk orang yang menagih.

Halden menatap tulisan itu sekilas, lalu mengalihkan pandang seperti orang yang tidak mau memberi hormat pada sesuatu yang lebih kuat.

“Mereka bilang kastel ini dulu cuma menara pengawas tua milik bangsawan kecil,” Halden bergumam akhirnya, seperti berbicara pada dirinya sendiri, bukan pada Marrec. “Lalu Vasaria datang dengan kuda muatan dan kontrak panjang. Sekarang semua bukit di sekitarnya penuh lubang.”

Murah hati, pikir Marrec getir. Itulah kata yang dipakai pamflet-pamflet Kementerian setiap kali menyebut Vasaria. Murah hati mendanai, murah hati menyuplai Dril untuk Ujian, murah hati mengirim logam ke kota-kota.

Dengan tambang yang mencengkeram tanah di utara, selatan, dan tenggara, keluarga itu adalah badai yang sulit dihindari. Mereka bisa membeli kesetiaan, mendanai seorang inisiat hingga menjadi Ketua, atau sekadar membiarkan pesaing mereka kehabisan Dril dan musnah ditelan kematian. Mereka bisa melakukan itu semua tanpa perlu menggumamkan satu mantra pun.

“Mereka punya cukup Dril untuk itu, Ser,” kata Marrec akhirnya, menjaga suaranya tetap rata. “Dan cukup lubang untuk menelan siapa saja yang menyinggung mereka.”

Halden mendengus kecil, suara yang nyaris hilang ditelan angin. “Di Dori kami biasa bercanda soal itu. Kalau seseorang hilang di malam hari, orang hanya mengangkat bahu dan berkata, ‘Mungkin Vasaria butuh jalur baru.’” Dia menatap ke depan, ke arah kastel yang nyaris menyatu dengan langit kelabu. “Tapi aku bukan mengkhawatirkan batu dan lubangnya.”

“Kau mengkhawatirkan apa, Ser?” Marrec bertanya, meski bagian dirinya menyesal segera setelah kata-kata itu keluar.

Halden tidak langsung menjawab. Kuda-kuda mereka terus menanjak, kuku-kuku besinya mencipratkan lumpur beku ke samping. Di kejauhan, di balik bukit lain, terdengar bunyi samar seperti lonceng besi yang diketuk pelan-pelan di perut bumi.

“Mumple,” kata Halden akhirnya. Suaranya terdengar seperti seseorang yang menyesal sudah membuka topik itu. “Penjaga tambang Dril. Kau pasti pernah dengar.”

Marrec mengangguk. Siapa yang tumbuh dekat tambang dan tidak mengenal Mumple?

Mereka kecil, hanya setinggi pinggang orang dewasa, bertulang ringan, dengan lengan panjang yang membuat gerakan mereka tampak seperti bayangan. Kulit mereka pucat kebiruan, selalu berdebu batu. Dan mata mereka… mata bulat yang terlalu besar, selalu tampak seolah menahan amarah, takut, atau keduanya.

“Orang kota bilang runtuhan terjadi karena tiang rapuh,” ujar Halden. “Tapi para penambang lama tahu. Kalau Mumple mulai gelisah, cukup satu dengungan rendah… dan atap bisa turun sebelum kau sempat menyumpahi nasibmu.”

Ia berhenti sebentar, seakan mencari kata yang tepat.

“Masalahnya, mereka tidak selalu gelisah.” Halden menatap ke arah bukit tempat kastel Vasaria berdiri. “Dulu mereka membenci manusia menyentuh Dril. Lampu kita, suara kita, bau kita. Mereka menjaga batu itu lebih fanatik dari para juru tambang.”

Napasnya keluar sebagai kabut tipis.

“Tapi entah bagaimana, lubang-lubang milik Vasaria tidak membuat mereka marah. Mumple diam tanpa suara, tanpa dengungan, tanpa runtuh.” Ia menggeleng pelan. “Seolah mereka… mengizinkannya.”

Halden menyentuh gagang pedangnya, kebiasaan lama ketika pikirannya mulai gelap.

“Itu yang membuat banyak orang resah. Bukan Mumple yang menyerang,” katanya lirih, “tapi Mumple yang tenang.”

Ia menambahkan, hampir berbisik, “bahkan Or’khal paling nekat pun tak mau menyentuh tambang-tambang itu.”
Marrec menahan komentar. Or’khal, kaum Penunggang Liar hidup dari menjual tenaganya pada siapa pun yang mampu membayar, mengawal kafilah, menarik gerobak Dril di musim buruk, menjadi kaki tangan dalam perang kecil antar keluarga-keluarga kecil. Jika mereka pun menolak suatu lubang, orang waras seharusnya mengikuti jejak mereka.

Mirhgate semakin dekat. Dari jarak ini, bangunan itu tetap tampak biasa saja, dinding-dinding batu kelabu yang rendah, satu menara persegi yang tidak terlalu tinggi, dan atap batu yang ditumbuhi lumut tua.

Di puncak menara, bendera Vasaria berkibar pelan dalam angin musim panas—cawan emas yang menumpahkan darah merah tua, warnanya menyala samar di bawah langit kelabu yang berat.

Di bawahnya, tepat di atas gerbang tua, wadah Dril terukir kecil pada batu. Ukirannya halus, nyaris tidak terlihat kecuali bagi mereka yang tahu simbol mana yang perlu dicari.

Gerbang itu sendiri tampak di depan mereka, dua daun pintu dari kayu ek gelap yang diperkuat besi berkarat. Tidak tinggi. Tidak megah. Namun ada sesuatu pada pintu itu—cara ia berdiri, kokoh namun tanpa suara—membuat Marrec tanpa sadar menarik tali kekang kudanya. Seolah pintu itu telah menyaksikan ribuan kedatangan, ribuan wajah cemas dan putus asa… dan tidak tersentuh oleh satu pun di antaranya.

Halden menghentikan kudanya di sampingnya. “Tampaknya mereka sudah tahu kita datang.”

Marrec mengangguk, hawa dingin menjalari lehernya. Dia tidak perlu bertanya siapa “mereka.”

Dan ketika pintu itu terbuka, gerakannya sunyi senyap. Tidak ada derit engsel yang menua, hanya hembusan udara dingin yang mengalir keluar, membawa aroma tinta tua, kulit buku yang lapuk, dan sesuatu yang lain… sisa dari sihir yang baru saja digunakan.

Ser Halden menarik napas dalam-dalam. Marrec menarik napas pendek, lalu memacu kudanya pelan melewati ambang pintu kastel yang gelap itu.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
⟁ BUNYI LAMA, BUNYI BARU ⟁

Tiga bulan di laut mengajarkan Daren dua hal yang tidak pernah dia dapatkan dari rak buku keluarga.

Pertama, bahwa dunia lebih besar daripada yang pernah digambar peta Kementerian. Dan jauh lebih berantakan.

Kedua, tubuh manusia bisa belajar menerima apa pun, termasuk lantai yang tidak pernah berhenti bergerak.

Dari Tent Lumen ke Drastmare, lalu ke Tavelin, sampai akhirnya kapal merapat, ia hampir tidak merasakan hentakan lunas menyentuh dermaga. Lututnya yang sudah lama menyerah pada gelombang justru bingung ketika papan pendaratan diam. Tubuhnya dipaksa percaya pada sesuatu yang tidak bergerak.

Pelabuhan menyambutnya dengan suara yang saling tindih. Tali dikaitkan. Kayu tua mengerang. Besi bergesek. Tawa terputus. Semuanya menutup laut di belakangnya seperti pintu.

Avaross menyambutnya dengan bau. Ter yang mengilap di lambung kapal. Ikan yang baru dibelah. Keringat para kuli. Dan di bawah semuanya, tipis tapi keras kepala, bau logam yang tidak sepenuhnya logam. Dril.

“Turun atau ikut ke pulau berikut, Nak?” teriak seorang kelasi.

Daren merapatkan jubah abu-abunya dan menuruni papan tanpa menjawab. Kakinya menyentuh kayu dermaga yang licin, ia hampir tergelincir sebelum tubuhnya menemukan keseimbangan yang sudah lama ia rindukan. Tanah. Atau sesuatu yang cukup menyerupainya.

Ia berhenti sebentar di tepi dermaga, membiarkan arus manusia menyalipnya. Kapal-kapal lain berbaris rapat, layar terlipat, tiang-tiang menembus langit kelabu. Di depan gudang, seseorang menurunkan peti-peti yang bau garamnya masih basah; di belakangnya, seorang bocah mencongkel ikan dari keranjang dan melarikan diri sebelum pemiliknya sempat memaki.

Di sisi lain, seorang pria dengan jubah berwarna cokelat laut menatap Daren terlalu lama, lalu memalingkan wajah seolah tak pernah memandang.

Kantung Dril di pinggangnya berbunyi kecil ketika ia bergeser. Tidak banyak. Cukup untuk makan beberapa minggu, mungkin. Cukup untuk sewa kamar yang tidak merusak kulit. Cukup untuk membuat orang mendengarkan setengah detik lebih lama. Tidak cukup untuk membeli orang.
Sisanya, ia belum tahu harus diambil dari mana.

Ia menatap kota.

Avaross bangkit dari batu dan kabut. Menara-menara rendah tanpa lambang Kementerian, hanya bendera kain lusuh dengan warna-warna yang tidak pernah dipakai wilayah mana pun. Di atas pintu gudang, orang menggantungkan tanda mereka sendiri: ikan perak, roda besi, burung tanpa kepala, tangan yang memegang pisau. Setiap tanda seperti pernyataan kecil: ini milikku. coba saja.

Di Drilands, kekuasaan punya segel. Di sini, kekuasaan punya bau.

“Pulau,” orang kapal menyebutnya. Kota merdeka, kata mereka. Kota yang tidak tertulis di peta. Tempat orang datang untuk membuang nama lama atau membeli nama baru.

Daren menarik tudung lebih dalam, lalu menyeberangi arus manusia menuju perut kota.

Awalnya ia masih mencoba berjalan seperti orang yang tahu ke mana ia pergi. Ia cepat berhenti mencoba. Jalan Avaross tidak dibuat untuk menuntun. Jalan Avaross dibuat untuk memutar, untuk mengganti tujuan orang dengan kebutuhan-kebutuhan kecil, lapar, haus, takut, dan rasa ingin tahu yang mahal.

Lorong pertama membawanya melewati rumah minum yang pintunya setengah terbuka, bau rum tumpah mengusir bau ikan. Dua pelaut duduk di tangga, tertawa tanpa suara, tawa yang hanya gerak bahu dan mulut, karena gigi mereka sudah pergi entah ke mana.

Di sudut lain, seorang perempuan menjual roti pipih di atas papan kayu. “Masih hangat,” katanya. Hangat karena ia menyimpannya dekat tungku, bukan karena baru dipanggang. Daren membeli satu, menggigitnya, dan merasa rasa asin menempel di lidah. Bahkan tepung di Avaross pun terasa pernah berenang.
“Pertama kali?” tanya perempuan itu, tanpa menatap roti, tapi menatap cara Daren menahan bahu.

“Ya,” jawab Daren.

Perempuan itu mengangguk seolah sudah tahu sebelum dia bicara. “Kalau kau butuh arah, jangan tanya orang yang pakai sepatu bagus.”

Daren melirik sepatunya. Tidak bagus, tapi jelas bukan sepatu kuli. “Kalau aku butuh arah?”

Perempuan itu tersenyum, memperlihatkan sela gigi yang gelap. “Bayar.”

Daren melanjutkan jalan.

Ia menemukan kamar di atas rumah minum yang plafonnya berjamur. Pemiliknya lelaki gemuk dengan kuku hitam oleh arang. Ia menatap kantungnya sekali, lalu menatap wajahnya sebentar lebih lama.

“Dua Dril saja per malam, Tuan,” kata lelaki itu, “termurah di Avaross.”

Daren membayar tanpa menawar.

Malam pertama ia tidur dengan suara pelabuhan masuk lewat dinding, sebuah teriakan, suara peti dibanting, seseorang muntah di bawah jendela, lalu tertawa, lalu mengumpat. Di tengah bunyi itu, Daren berkali-kali terbangun bukan karena bising, melainkan karena hening yang muncul mendadak—hening yang mencekik.

Ia bangun dengan mulut kering dan rasa asin di tenggorokan di pagi berikutnya. Kabut turun lebih rendah. Jalan-jalan basah oleh sisa hujan. Daren makan sup ikan yang lebih banyak air daripada ikan, lalu mulai bertanya.

Dia bertanya dengan cara yang selama ini bekerja di kota-kota Asidental, setengah sopan, setengah berjarak.
Itu cara yang salah di sini.

“Aku mencari seorang pembuat,” katanya pada seorang buruh pelabuhan yang sedang mengikat tali.

Buruh itu meludah ke samping, menatap sepatu Daren, lalu mengangkat bahu. “Pembuat apa? Paku? Pisau? Kuburan?”

“Aku mencari rumah tempa.”

Buruh itu tertawa. “Kau berdiri di kota yang bau arang, Tuan. Semua pintu rumah tempa.”

Daren menahan kekesalan. “Aku mencari yang… tertentu.”

Tawa buruh itu berhenti di tengah, seperti dia baru ingat bahwa tawa bisa memanggil telinga lain. Matanya bergerak cepat ke kanan-kiri. “Kalau tertentu,” katanya, lebih pelan sekarang, “kau salah tempat. Di sini semua orang mau jadi tidak tertentu.”

Daren pergi sebelum pertanyaan berikutnya, membuat buruh itu lebih takut daripada kesal.

Di pasar, seorang perempuan menjual ramuan. Labelnya ditulis tangan: menguatkan tulang, memutihkan gigi, membuat suami pulang sebelum tengah malam. Daren bertanya pada dia, dan ia mengerling, lalu menyebut tiga nama jalan yang berbeda.

Ketika Daren minta arah, perempuan itu tertawa lebih lebar, memperlihatkan satu gigi emas.

“Aku sudah bilang,” katanya, tawanya mati di tengah. “Kau mau apa lagi?”

“Aku mau jalan yang benar.”

Perempuan itu mengangkat bahu. “Di kota ini, Tuan, yang benar itu barang langka."

Dia tidak membantu.

Seorang penjaga pintu gudang—jubahnya tak punya lambang, tapi sikapnya lebih rapi dari serdadu Kementerian—mendengarkan pertanyaan Daren dengan wajah datar.

"Di sini,” kata penjaga itu, “kita tidak menyebut orang. Kita menyebut barang. Kau mau beli apa?”

“Sesuatu yang tidak dijual.”

Penjaga itu menatapnya lama. Lama sekali. “Semua benda di Avaross dijual, Tuan,” ujarnya akhirnya. “Kalau kau tidak menemukannya, berarti kau belum bertanya harganya.”

Daren meninggalkan gudang dengan langkah lebih pelan. Bukan karena ragu, melainkan karena ia merasa langkah cepat akan mengundang mata yang lebih banyak.

Di sudut jalan, tiga orang duduk mengelilingi peti terbalik. Dua pria dan satu perempuan. Pakaian mereka sederhana, tapi bersih dengan cara yang disengaja. Tidak ada senjata yang dipamerkan. Itu saja sudah cukup membuat Daren mencatat mereka.

Perempuan itu mengangkat kepala lebih dulu. “Kau bukan orang sini.”

Daren berhenti. “Kebanyakan orang sudah menebak.”

“Yang menebak biasanya diam,” sahut salah satu pria, jarinya menghitung koin tanpa menatapnya. “Yang banyak tanya biasanya cepat jadi bahan obrolan.”

“Aku tidak suka jadi obrolan,” kata Daren.

Perempuan itu mengangguk tipis. “Tapi kau bertanya ke orang yang salah.”
Daren menimbang mereka cepat. Bukan perampok. Terlalu tenang. Bukan pedagang. Terlalu rapi. Mereka seperti orang yang dibayar untuk duduk di tempat yang tepat dan mendengar hal yang seharusnya lewat saja.

“Aku cuma lewat,” kata Daren.

“Tidak ada yang cuma lewat di Avaross,” jawab perempuan itu. “Kau datang bawa nama lama, atau mau beli yang baru?”

“Aku belum sampai sejauh itu.”

Pria kedua mengeluarkan tawa kecil yang tidak benar-benar senang. “Kalau begitu, kau akan sampai. Cepat atau lambat.”

Daren mengeluarkan satu Dril dan meletakkannya di atas peti. Tidak didorong, tidak ditahan. Sekadar ada.

Perempuan itu menatap koin itu, tapi tidak menyentuh. “Kau mau beli apa?”

“Jawaban,” kata Daren.

“Jawaban punya harga yang beda-beda.”

“Kalau aku sudah memilih,” Daren menatapnya, “aku akan tahu?”

Perempuan itu mendorong koin itu kembali dengan ujung kukunya. “Kalau kau harus bertanya, berarti belum.”

Mereka membiarkannya pergi. Itu yang membuatnya lebih terganggu.

Hari itu berakhir dengan kaki pegal, dua petunjuk palsu, dan sebuah jalan yang ternyata hanya membawanya ke tempat pemotongan ikan. Daren berdiri di antara darah yang mengalir ke selokan, menatap dirinya sendiri di genangan kotor, dan merasa bodoh.

Dalam perjalanan pulang, seorang anak menabraknya, meminta maaf dengan mulut, sementara tangannya mencoba sesuatu di pinggang Daren.

Daren menangkap pergelangan tangan kecil itu. Bocah itu menatapnya, tidak takut, hanya kesal seperti orang dewasa yang ketahuan bekerja. “Lepas,” gumamnya.

Daren tidak langsung melepas. “Kau cepat.”

“Di kota ini, yang lambat mati kelaparan.”

Daren merasakan sesuatu di pinggangnya lebih ringan daripada tadi.

Kantung Dril.

Dia menghela napas pelan, bukan karena kehilangan, melainkan karena pelajaran itu terlalu cepat diberikan. Daren melepas tangan bocah itu. Bocah itu tidak berterima kasih. Ia lenyap ke kerumunan seperti tikus ke celah batu.

Malam kedua, Daren menghitung Dril-nya. Jumlahnya turun—dan bukan karena sup ikan.
Dia tidur dengan satu mata setengah terbuka.

Daren terbangun di pagi ketiga dengan mulut kering dan kepala berat. Ia tidak menyebut hari dalam pikirannya, tapi tubuhnya tahu, kota ini mulai membuatnya lelah.

Ia berhenti bertanya pada orang-orang yang tampak kuat. Ia mulai bertanya pada orang-orang yang tampak lapar. Orang lapar lebih murah, dan rumor sering jadi makanan mereka.

Seorang pelayan rumah minum menyebut “Lorong Asap” sambil mengangkat bahu. Seorang tukang angkut menyebut “jalan belakang dermaga” sambil meludah, seolah semua jalan di Avaross memang belakang. Seorang penyair mabuk menyebut “lorong tempa” lalu tertawa, seperti menyebut sesuatu yang lucu

Pada sore yang sama, Daren mengikuti hal yang sama yang menuntun kebanyakan orang di kota-kota seperti ini. Suara logam dan bau arang.

Lorong itu basah, dengan batu-batu yang licin. Di atas, jemuran kain dan tali-tali bendera menutup sebagian langit, menggantung rendah seperti jaring yang menahan cahaya. Kios-kios menempel rapat, mulutnya menganga ke jalan, menghembuskan panas, percikan api, dan sumpah serapah.

Di satu pintu, seorang pandai besi bertelanjang dada menghantam bilah pedang yang terlalu tipis untuk perang dan terlalu mengilap untuk kerja. Di pintu lain, sepasang anak—mungkin saudara, mungkin bukan—mengecat gagang pisau dengan warna yang terlalu cerah untuk sesuatu yang harusnya berbau darah.

Daren berhenti di beberapa mulut kios, lebih karena lututnya butuh istirahat daripada karena ragu. Ia berpura-pura menilai paku kapal, pisau pelaut, kait jangkar. Para Forger menilai balik, menyapu jubah abu-abunya, kantung Dril di pinggang, cara ia menahan bahu seperti orang yang lebih sering memegang buku daripada palu.

Tidak ada satu pun dari mereka yang ia cari.

Ia tidak benar-benar berharap ada tanda. Catatan tua yang ia bawa ditulis ketika Avaross masih sekadar nama kabur di tepi peta. Orang yang menulisnya tidak menulis untuk membantu seseorang menemukan pintu, ia menulis untuk menenangkan ketakutannya sendiri, dan ketakutan jarang memberi petunjuk rapi.
Di sudut lorong ia melihat toko ramuan dengan jendela berkabut. Botol-botol di balik kaca tampak berputar pelan, mungkin karena tangan, mungkin karena trik kecil untuk menarik pembeli. Seorang perempuan tua duduk di ambang, bibirnya bergerak menghitung sesuatu yang tidak pernah sampai keluar sebagai suara. Di sampingnya, meja kecil dipenuhi benda-benda mungil yang dibungkus kain hitam.

Selebaran kusam menempel di dinding. Tulisan tangan asing, hurufnya miring seolah ditulis sambil terburu-buru: menawarkan sesuatu tentang “menghapus tanda”. Tidak dijelaskan tanda apa.

Daren membaca tanpa menatap terlalu lama. Di daratan utaman, kata-kata seperti itu bisa mengundang tongkat perak dan Segel Ungu. Di Avaross, tulisan itu mengundang pelanggan.

Perempuan tua itu menatapnya. “Kau cari obat?” suaranya parau.

“Aku cari orang,” jawab Daren.

“Orang lebih mudah mati daripada sakit,” katanya. “Kau cari orang untuk apa?”

Daren ragu sepersekian napas. Di Drilent, keraguan kecil membuat orang curiga, di Avaross, keraguan kecil membuat orang tertarik. “Untuk membeli,” katanya akhirnya. “Sesuatu.”

Perempuan tua itu mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang wajar. “Kalau kau punya uang, kau bisa beli apa saja.”

“Tidak,” kata Daren. “Tidak yang ini.”

Perempuan itu tertawa sekali, pendek, tanpa gembira. “Kalau bukan di sini, di mana lagi?”

Daren tidak menjawab. Ia melanjutkan berjalan, membawa tawa itu seperti debu menempel di punggungnya.

Sore itu ia kembali ke kamar. Ia membuka perkamen tua yang ia bawa. Kulitnya kaku, dan rapuh. Tulisan di atasnya kecil dan rapi, tinta memudar menjadi abu-abu pucat. Ia tak perlu membacanya lagi—ia sudah menghafal baris-baris itu sejak masih terlalu pendek untuk mencapai rak tertinggi di perpustakaan keluarga—namun matanya tetap jatuh ke frasa yang ditarik garis oleh tangan yang sudah jadi debu:

“Keluarga itu berhasil meniru mereka…”

“…sisa-sisa keluarga itu berpindah ke pulau-pulau selatan. Avaross…”

Kalimat itu tidak selesai. Halren menulis hampir lima ratus tahun lalu, dan bahkan dalam tulisan yang tersisa, Daren bisa merasakan keraguannya. Pulau itu cuma muncul sekali, diselipkan di pinggir halaman, di antara dua entri yang membahas sesuatu yang jauh lebih gelap. Bukan di bagian utama katalog, tapi di catatan samping kecil yang ditulis melintang di margin, seolah-olah ia sendiri tidak yakin apa harus menulisnya.

Di teks resmi Arsipal, Halren menyebut mereka Relik Agung.