Arief B. Iskandar
3.93K subscribers
333 photos
31 videos
92 files
426 links
Editor dan Penulis Buku
Download Telegram
to view and join the conversation
Buletin Kaffah No. 220 - 20 Rabiul Akhir 1443 H/26 Novemberr 2021 M

*MUI: KHILAFAH BAGIAN DARI ISLAM,*
*JANGAN DISTIGMA NEGATIF*

Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI ke-7 yang digelar pada tanggal 9-11 di Jakarta resmi ditutup Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas pada Kamis (11/11).

Perhelatan rutin tiga tahunan ini menyepakati 17 poin bahasan. Salah satunya tentang hukum jihad dan khilafah. Intinya, dalam salah satu rumusannya dinyatakan bahwa jihad dan khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Karena itu Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI tersebut lalu merekomendasikan agar masyarakat dan Pemerintah tidak memberikan stigma negatif terhadap makna jihad dan khilafah (Mui.or.id, 14/11/2021).

*Ijmak Ulama Aswaja*
Tentu fatwa MUI tentang Khilafah dan jihad sebagai bagian dari ajaran Islam sangat tepat. Di tengah berbagai upaya kriminalisasi terhadap ajaran Khilafah dan jihad, fatwa MUI tersebut juga amat relevan.

Khusus terkait Khilafah, sebetulnya tanpa fatwa MUI pun, para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja) telah lama bersepakat bahwa Khilafah adalah kewajiban syariah. Dengan kata lain kewajiban menegakkan Khilafah telah menjadi ijmak ulama Aswaja sejak lama. Seluruh ulama Aswaja sepakat bahwa adanya Khilafah—dan upaya menegakkannya ketika tidak ada—hukumnya wajib. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan:

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ
_Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib_… (Lihat: Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, V/416).

Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, _“Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal_.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, XII/205).

Pendapat para ulama terdahulu di atas juga diamini oleh para ulama muta’akhirîn (Lihat: Syaikh Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88; Dr. Dhiyauddin ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm. 99; Dr. Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124; Al-‘Allamah al-Qadhi Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, 2/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248).

Ulama Nusantara, Syaikh Sulaiman Rasyid, dalam kitab fikih yang terbilang sederhana namun sangat terkenal berjudul Fiqih Islam, juga mencantumkan bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah.

*Ijmak Sahabat*
Selain telah menjadi ijmak seluruh ulama Aswaja, kewajiban menegakkan Khilafah ini sejak awal telah menjadi Ijmak Sahabat. Imam al-Haitami menegaskan:

أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ اْلإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ، بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ حَيْثُ اِشْتَغَلُّوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ ﷺ.
_Sungguh para Sahabat—semoga Allah meridhai mereka—telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian berakhir adalah wajib_. _Bahkan mereka menjadikan upaya mengangkat imam/khalifah sebagai kewajiban paling penting_. _Faktanya, mereka lebih menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda (sementara) kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw._ (Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 7).

*Haram Menyalahi Ijmak*
Jelas, kewajiban menegakkan Khilafah telah menjadi Ijmak Sahabat. Kedudukan Ijmak Sahabat sebagai dalil syariah—setelah al-Quran dan as-Sunnah—sangatlah kuat, termasuk dalil yang qath’i. Karena itu para ulama ushul menyatakan bahwa menolak Ijmak Sahabat bisa menyebabkan seseorang murtad dari Islam. Dalam hal ini, Imam as-Sarkhashi [w. 483 H] menegaskan:

وَمَنْ أَنْكَرَ كَوْنَ الإِجْمَاعُ حُجَّةً مُوْجِبَةً لِلْعِلْمِ فَقَدْ أَبْطَلَ أَصْلَ الدِّيْنِ… فَالْمُنْكِرُ لِذَلِكَ يَسْعَى فِي هَدْمِ أَصْلِ الدِّيْنِ.
_Siapa saja yang mengingkari kedudukan Ijmak sebagai hujjah yang secara pasti menghasilkan ilmu berarti benar-benar telah membatalkan fondasi agama ini_…_Karena itu orang yang mengingkari Ijmak sama saja dengan berupaya menghancurkan fondasi agama ini_ (Lihat: Ash-Sarkhasi, Ushûl as-Sarkhasi, I/296).

Karena itu Ijmak Sahabat yang menetapkan kewajiban menegakkan Khilafah tidak boleh diabaikan atau dicampakkan, seakan tidak berharga, hingga dikalahkan oleh “ijmak” para pendiri bangsa. Padahal Ijmak Sahabat hakikatnya mengungkap dalil yang tak terungkap (Lihat: As-Syaukani, Irsyadu al-Fuhul, hlm. 120 dan 124).

*Hanya Khilafah*
Pertanyannya: Betulkah Khilafah bukan satu-satunya sistem pemerintahan yang diakui di dalam Islam?
Dalam nas-nas syariah kita tidak menemukan sistem lain, selain Khilafah. Pemangkunya disebut Khalifah. Allah SWT berfirman:

﴿وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً﴾
_Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat, “Sungguh Aku menjadikan khalifah di muka bumi.”_ (QS al-Baqarah [2]: 30).

Di dalam kitab tafsirnya, Imam al-Qurthubi [w. 671 H] menyatakan, _“Ayat ini merupakan asal (dasar) dalam pengangkatan Imam dan Khalifah yang wajib didengarkan dan ditaati titahnya._ _Dengan itu suara kaum Muslim menyatu_. _Dengan itu pula hukum-hukum tentang Khalifah bisa diterapkan_. _Tidak ada perbedaan di antara umat dan para imam mazhab mengenai kewajiban tersebut, kecuali apa yang diriwayatkan dari al-‘Asham, yang memang tuli tentang syariah.”_

Dalam konteks Nabi Muhammad saw., Allah SWT berfirman:

﴿وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ﴾
_Hendaklah kamu [Muhammad] menerapkan hukum di antara mereka mengikuti wahyu yang Allah turunkan dan janganlah Engkau mengikuti hawa nafsu mereka_ (QS al-Maidah [5]: 49).

Ayat ini jelas berisi perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. agar beliau memerintah umat manusia berdasarkan wahyu (syariah)-Nya, sekaligus larangan untuk mengikuti hawa nafsu mereka.

Dalam melaksanakan titah-Nya, Nabi saw. kemudian mendirikan negara di Madinah. Nabi sendiri yang menjadi kepala negaranya, Abu Bakar dan ‘Umar ra. sebagai wazir (pembantu)-nya.

وَأَمَّا وَزِيْرَايَّ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ فَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ
_Dua pembantuku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan ‘Umar_ (HR at-Tirmidzi).

Nabi saw. tidak hanya menunjuk Abu Bakar dan ‘Umar sebagai pembantu, tetapi juga para Sahabat yang lain. Ada yang menjadi anggota majelis syura, wali, qadhi, panglima perang, penulis wahyu, pemungut zakat, dan sebagainya. Nabi saw. telah memerintah Daulah Nubuwwah ini selama 10 tahun di Madinah. Islam pun tegak sebagai peradaban dan sistem kehidupan secara kaffah. Menebar rahmat ke seluruh penjuru dunia.

Sebelum wafat, Nabi saw. bersabda:

كَانَتْ بَنُوْ إِسْرَاِئيْلَ تَسُوْسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَ بَعْدِيْ وَسَتَكُوْنُ خَلَفَاءُ فَتَكْثُرُ.
_Dulu Bani Israil telah diperintah oleh para nabi. Ketika seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain._ _Sungguh tidak ada lagi nabi setelahku_. _Yang ada adalah para khalifah. Jumlah mereka banyak_ (HR Muslim).

Nabi saw. dengan jelas tidak menyebut penggantinya dengan sebutan yang lain, selain Khalifah, bentuk jamaknya, Khulafa’. Institusi yang menggantikan Daulah Nubuwwah ini disebut oleh Nabi saw. sendiri dengan istilah, Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah.

Tidak hanya menyebut pemangku dan institusinya. Nabi saw. pun berpesan untuk memegang teguh “tuntunan” tersebut dan tidak melepaskannya. Beliau bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
_Kalian wajib menggenggam Sunnahku dan sunah para Khalifah Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku_. _Gigitlah ia (Sunnahku dan Sunnah mereka) dengan gigi geraham_ (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi).
Karena itu, begitu Nabi saw. wafat, para Sahabat sudah tahu apa yang harus mereka lakukan, yakni mengangkat khalifah sebagai pengganti Nabi saw. (sebagai kepala negara, red.). Akhirnya, disepakatilah Abu Bakar as-Shiddiq ra. sebagai khalifah. Beliau menggantikan Nabi saw. dalam mengurus urusan agama dan dunia (Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, IV/664).

Sejak Abu Bakar memerintah, kemudian ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan al-Hasan ra. mereka disebut Khulafa’ Rasyidun. Institusinya disebut Khilafah Rasyidah.

Dari semua dalil syariah baik al-Quran as-Sunnah maupun Ijmak Sahabat, juga penjelasan para ulama mu’tabar, jelas bahwa tidak ada sistem pemerintahan lain di dalam Islam, kecuali Khilafah. Pemangkunya disebut Khalifah, Imam dan Amirul Mukminin. Karena itu Imamah tidak lain adalah Khilafah. Keduanya sinonim (Lihat: An-Nawawi, Rawdhah at-Thalibin, X/49).

Hanya saja, dalam praktiknya memang ada penyimpangan. Pada era Khilafah Umawiyah, ‘Abbasiyah hingga ‘Utsmaniyah, misalnya, suksesi kepemimpinan dilakukan dengan sistem waris, sebagaimana yang dipraktikkan dalam sistem monarki. Ini merupakan kesalahan dalam menerapkan sistem Khilafah. Bukan berarti tidak lagi menggunakan sistem Khilafah.

Adapun penerapan sistem monarki, republik, demokrasi dan sebagainya, pasca keruntuhan Khilafah, hingga saat ini baru terjadi setelah era penjajahan negara-negara Barat di negeri kaum Muslim. Itu pun setelah mendapatkan justifikasi dan legalisasi dari para intelektual yang telah mengenyam pendidikan Barat. Mereka menyatakan bahwa Islam tidak bertentangan dengan monarki, republik, demokrasi. Padahal faktanya tidak demikian. Monarki, republik dan demokrasi jelas tidak bersumber dari Islam, bahkan bertentangan dengan Islam. Karena itu tidak ada satu nas dan dalil syariah pun yang bisa digunakan untuk membuktikan keberadaan sistem tersebut di dalam Islam.
WalLahu a’lam. []

*Hikmah:*

Sayidina Umar bin al-Khaththab ra. berkata:

ثَلَاثٌ لَأَنْ يَكُونَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيَّنَهُمْ لَنَا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا: الْخِلَافَةُ، وَالْكَلَالَةُ وَالرِّبَا
_Ada tiga perkara, yang jika Rasulullah saw. menerangkannya kepada kami, lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya, yakni: Khilafah, al-kalalah dan riba_.
(HR al-Hakim, Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Baihaqi). []
[LIVE] RIDHA MENERIMA QADHA | Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah - Eps.13

Sahabat...
Hakikatnya seorang muslim, wajib baginya mengimani perkara-perkara yang telah diberikan kepadanya berupa rukun iman. Termasuk ridho menerima Qodho atau Takdir dari Allah SWT.

Sejatinya manusia mampu membuat rencana yang hebat. Mampu merencanakan untuk mencapai kepentingan dan tujuannya dengan detail dan rinci. Akan tetapi, sebagus-bagusnya rencana manusia, ketika Allah tidak meridhoi rencana itu terjadi, manusia mampu berbuat apa. Mau tidak mau kita harus menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita baik ataupun buruk.

Nah sahabat...
Bagaimanakah sikap yang benar saat kita di hadapkan dengan qadha Allah ?
Bagaimana tips agar kita menjadi orang-orang yang ridho terhadap qadha Allah SWT ?
Penasaran kan... 🤗

Yuk Ikutan Kajian rutin mingguan, di Program Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah dengan tema "RIDHA MENERIMA QADHA"

Bersama :
👳‍♀️ Narasumber : Ustadz Arief B. Iskandar S.S (Penulis sekaligus Khadim Ma'had Darun Nahdhah Al-Islamiyah Bogor)
🎤 Host : Ustadz Budi Abdurrahim

🗒Sabtu, 26 November 2021
🕐 Jam 13.00 WIB s.d Selesai
((🔴)) Hanya di youtube Darun Nahdhah TV

📡 Link Streaming
https://youtu.be/4aLEFwZSn68
https://youtu.be/4aLEFwZSn68
https://youtu.be/4aLEFwZSn68

Cp : WhatsApp : 082111811453

Jangan lupa share seluas-luasnya yaa...
Semoga menjadi amal jariah untuk kita, dalam menyebarakan kebaikan ini. 🤗
Assalamualaikum sahabat Nahdhah!

Bagaimana kabarnya? Semoga kita selalu diberi nikmat berupa kesehatan agar kita bisa memaksimalkan ikhtiar kita untuk selalu berjuang di jalan Allah yaa. 🤗

Anyway, pernah nggak teman-teman merasakan ketika diri hampir berada pada titik ke-putus asa-an atas apa yang telah sahabat lakukan? Merasa bahwa perjuangan yang sahabat lakukan selama ini tidak menghasilkan apapun dan tidak ada gunanya? Jangan gituuu sahabat! Kita harus bangkit dari jurang ke-putus asa-an ituuu! Boleh pasrah, asal jangan menyerah. Yuk bisa yuk! Hehe…

Sahabatkuu, ingatkah kalian akan firman Allah SWT berikut ini?

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh (Qs. Az Zariat : 58)

Ayat diatas menunjukkan bahwa Allah itu buaaik banget karena telah menjamin rezeki semua makhluk yang ada di bumi ini. Entah itu manusia, hewan, ataupun tumbuhan. Ketika kita telah memperjuangkan sesuatu dan kita tidak berhasil untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, jangan lekas putus asa ya sahabat! Karena ada rezeki dari Allah yang menanti kita di jalan yang lain. Ada banyak jalan untuk sampai ke rumah, bukan?

InsyaaAllah segala ikhtiar yang telah kita lakukan pasti sudah dicatat oleh Allah sebagai ibadah selama kita bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam melakukannya. 👍

Wallahu waliyyut taufiq.
Buletin Kaffah No. 221 - 27 Rabiul Akhir 1443 H/03 Desember 2021 M

*AKSI BELA ISLAM WAJIB TERUS DILANJUTKAN*

Aksi 212 atau Aksi Bela Islam telah menjadi sejarah besar bagi umat Islam negeri ini. Aksi tersebut, yang beberapa kali diselenggarakan, pernah diikuti oleh sekitar 7 juta orang Muslim dari beragam latar belakang. Bahkan aksi itu dihadiri juga oleh sebagian non-Muslim. Aksi 212 atau Aksi Bela Islam tersebut terbukti telah menunjukkan bahwa umat Islam dapat bersatu, sekaligus masih memiliki vitalitas yang luar biasa untuk membela agamanya.

*Wajib Dilanjutkan*
Pembelaan terhadap Islam wajib terus dilanjutkan. Tidak boleh kendor. Pembelaan itu tidak boleh dibatasi oleh waktu dan momen, seperti aksi, atau sekadar reuni. Harus dilakukan secara terus-menerus berkelanjutan sepanjang waktu. Sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Quran, para pembenci Islam akan terus-menerus melakukan permusuhan terhadap Allah SWT, Rasul-Nya dan al-Quran. Tentu dengan berbagai cara. Kaum kafir dan kaki tangan mereka akan terus berusaha tiada henti memerangi Islam dan kaum Muslim. Mereka baru puas jika kaum Muslim telah berbalik arah: kembali pada kekafiran. Mereka akan merasa puas jika kaum Muslim telah meninggalkan Islam, lalu berbalik memusuhi Islam dan kaum Muslim. Allah SWT berfirman:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
Mereka (kaum kafir) akan terus-menerus memerangi kalian hingga mereka berhasil mengembalikan kalian dari agama kalian jika saja mereka mampu (TQS al-Baqarah [2]: 217).

Karena itulah pembelaan kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan al-Quran juga harus terus-menerus kita lakukan.
Memang benar Islam adalah mulia. Kemuliaan Islam tak akan berkurang karena dinistakan dan dimusuhi oleh manusia. Ini adalah ranah akidah/keyakinan/keimanan. Namun, membela dan menjaga kemuliaan Islam adalah ranah amal kita sebagai Muslim. Tentu keliru jika keyakinan akan kemuliaan Islam malah menghalangi kita untuk menjaga dan membela kemuliaan Islam. Allah SWT tegas memerintahkan kita untuk menjadi para penolong (agama)-Nya:

ياَأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُوْنُوْا أَنْصَارَ اللهِ
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penolong (agama) Allah (TQS as-Shaff [61]: 14).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan makna ayat tersebut, yakni Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang Mukmin agar menjadi penolong Allah dalam seluruh keadaan mereka dengan ucapan, perbuatan, jiwa dan harta mereka.

Perintah agar menjadi penolong Allah itu, menurut Imam as-Samarqandi (w. 373 H) di dalam Bahru al-‘Ulûm, bermakna: tolonglah Allah, tolonglah agama-Nya dan tolonglah Muhammad saw.

Menurut Imam an-Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) di dalam tafsirnya, Marâh Labîd: Jadilah penolong Allah
bermakna jadilah penolong agama-Nya.

Menurut Imam Abdul Karim al-Qusyairi (w. 465 H) di dalam Lathâ`if al-Isyârât (Tafsîr al-Qusyairiy), ayat di atas bermakna: jadilah penolong agama-Nya dan Rasul-Nya.

Menurut Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) di dalam Mafâtîh al-Ghayb, frasa jadilah penolong Allah merupakan perintah untuk melanggengkan pertolongan dan teguh di atasnya.

Allah SWT juga memerintahkan kaum Mukmin untuk membela Rasulullah saw.:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ
Sungguh Kami telah mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kalian mengimani Allah dan Rasul-Nya, sekaligus mendukung dan memuliakan dia (TQS al-Fath [48]: 8-9).

Apalagi membela dan menolong agama Allah adalah “wasilah” agar kita mendapatkan pertolongan-Nya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).
Imam ar-Razi menjelaskan, frasa “in tanshurulLah (jika kalian menolong Allah)” dalam ayat di atas bermakna: menolong agama-Nya, memperjuangkan tegaknya syariah-Nya dan membantu para pejuang yang memperjuangkan agama-Nya.

Imam as-Sa’di di dalam Tafsîr as_Sa’di (Taysîr ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân) menjelaskan makna ayat di atas: “Ini merupakan perintah dari Allah kepada kaum Mukmin agar membela Allah dengan menjalankan agamanya, mendakwahkannya dan berjihad melawan musuhnya. Semua itu bertujuan untuk mengharap ridha Allah. Jika mereka melakukan semua itu, Allah akan menolong mereka dan mengokohkan kedudukan mereka.”

Dengan demikian kita wajib terus menolong Allah, al-Quran dan Rasul-Nya. Kita wajib terus menolong agama yang mulia ini. Hanya dengan membela agama-Nya, membela kalam-Nya (al-Quran), membela Rasul-Nya, memperjuangkan syariah-Nya serta membantu para pejuang yang memperjuangkan agama-Nya, maka Allah akan menolong kita.

*Menggenapkan Pembelaan*
Pembelaan terhadap al-Quran telah nyata dapat melahirkan aksi umat yang fenomenal dan bersejarah. Aksi itu menunjukkan bahwa kaum Muslim sesungguhnya bisa bersatu dan bergerak membela kitab sucinya. Saat satu ayat saja, QS al-Maidah ayat 51 dinistakan, umat paham bahwa yang dinistakan adalah al-Quran yang mereka imani, yang tidak pernah mereka ragukan kebenarannya sedikitpun. Lalu dengan kesadaran dan keyakinan itu, mereka bergerak membela al-Quran.

Namun, perlu disadari, di balik penistaan satu ayat al-Quran itu sesungguhnya masih ada sebab mendasar yang melahirkan aneka bentuk penelantaran dan pencampakan al-Quran. Sebab mendasarnya adalah karena negeri ini memang sekular, yakni menjauhkan agama (Islam) dari kehidupan. Karena menerapkan sekularisme, negeri ini dijauhkan dari al-Quran dan hukum-hukumnya; dijauhkan dari Islam dan syariahnya. Karena itu yang terjadi bukan hanya satu ayat yang ditelantarkan dan dicampakkan, tetapi sebagian besar ayat-ayat al-Quran ditelantarkan dan hukum-hukumnya tidak diterapkan dalam kehidupan.

Inilah yang justru dikeluhkan oleh Rasulullah saw. Beliau bahkan mengadukan umatnya yang mencampakkan al-Quran kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا
Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sungguh kaumku telah menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang dicampakkan.” (TQS al-Furqan [25]: 30).

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur’ân (mencampakkan al-Quran). Di antaranya, menurut Imam Ibnu Katsir (W. 774 H): menolak untuk mengimani dan membenarkan al-Quran; tidak men-tadaburi dan memahami al-Quran; tidak mengamalkan serta mematuhi perintah dan larangan al-Quran; berpaling dari al-Quran, kemudian berpaling pada selain al-Quran, di antaranya mengambil tharîqah (jalan hidup) dari selain al-Quran (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/335).

Karena itu kesadaran akan pembelaan terhadap al-Quran harus digenapkan menjadi kesadaran untuk menghentikan penelantaran dan pencampakan al-Quran, sekaligus kesadaran untuk mengambil dan menerapkan al-Quran. Kesadaran akan pembelaan terhadap al-Quran semestinya juga mendorong umat Islam untuk dapat bersatu dan bergerak guna memperjuangkan seluruh isi al-Quran agar dapat diterapkan dalam kehidupan.
Allah SWT memerintahkan kita untuk mengembalikan segala perselisihan pada al-Quran dan as-Sunnah, yakni pada syariah-Nya.

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian benar-benar mengimani Allah dan Hari Akhir (TQS an-Nisa’ [4]: 59).

Menurut Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, firman Allah SWT (artinya): “...jika kalian mengimani Allah dan Hari Akhir” ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak berhukum pada al-Quran dan as-Sunnah bukanlah orang yang mengimani Allah SWT dan Hari Akhir.
Allah SWT juga menafikan (kesempurnaan) keimanan seseorang sampai dia menjadikan Rasul saw. sebagai hakim, yakni menjadikan hukum al-Quran dan as-Sunnah sebagai hukum untuk memutuskan segala perkara (QS an-Nisa’ [4]: 65).

Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi dalam Syarh ‘Aqidah Thahawiyah (2/267) mengatakan, “Sungguh jika seseorang meyakini bahwa hukum yang Allah turunkan tidak wajib, boleh sekadar dijadikan pilihan, atau ia merendahkannya, padahal ia meyakini itu adalah hukum Allah, maka ini adalah kekufuran yang besar.”
Allah SWT telah memerintahkan agar manusia memutuskan segala perkara dengan hukum-hukum-Nya.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ
Hukumilah mereka berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan (kepada kamu) dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (TQS al-Maidah [5]: 49).

Menurut Imam al-Khazin (w. 741 H), dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw. untuk memberlakukan di tengah-tengah manusia hukum yang telah Allah SWT turunkan dalam Kitab-nya (al-Quran) (Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’âni at-Tanzîl).

Perintah ini secara umum juga merupakan perintah kepada seluruh umat Islam. Secara khusus, Allah SWT memerintahkan penguasa untuk memutuskan segala perkara dengan hukum-hukum-Nya. Allah SWT pun mensifati penguasa yang tidak memutuskan perkara dengan hukum-Nya sebagai orang zalim (QS al-Maidah [5]: 45), fasik (QS al-Maidah [5]: 47) bahkan bisa kafir (QS al-Maidah [5]: 44).

Alhasil, kesadaran sekaligus aksi umat untuk membela al-Quran harus terus dilanjutkan. Kesadaran dan aksi bela al-Quran itu harus digenapkan dengan memperjuangkan agar al-Quran dan seluruh hukum-hukumnya diterapkan di tengah kehidupan. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), maka bagi dirinya kehidupan yang sempit dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.
(TQS Thaha [20]: 124). []
Al-Quran Sumbernya Ilmu

Sahabat..
Tahu kah kita, bahwa Al-Quran itu dinilai menjadi sumber segala Ilmu pengetahuan?

Ternyata.. diberbagai hadits Rasulullah SAW telah menerangkan kpd kita, diantaranya beliau bersabda:
"Siapa Saja yang menginginkan Ilmu, maka dalamilah Al-Quran, karena di dalamnya terdapat Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan".
(HR. Ath-Thabrani)

Masya Allah.. tergambarkan dari hadits di atas menjalaskan bahwa, ilmu eksak, biologi, fisika, & sejumlah banyak Ilmu lainnya yg selama ini kita pelajari & kita tahu, ternyata ditemukan bersumber dari Al-Quran.

Oleh karena itu, mempelajari serta memahami  Al-Quran  adlh hal yg utama. Karena, Segala aspek kehidupan di Dunia ini, ada di Al-Quran.

Yuk belajar Islam, maka pasti kita akan temukan rahasia-rahasia apa saja, yg mungkin selama ini belum kita ketahui kebenaran atau Ilmu-ilmu yg ada di dalam Al-Quran.

Wallahu a'lam bish-shawabi

Jika info diatas bermanfaat, jangan lupa disebar ke teman-teman atau sahabat kalian yaa.. 👍
INFAK TERBAIK

Allah SWT Berfirman :

“Kalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna) sebelum kalian menginfakkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan tidaklah sedikit pun yang kalian infakkan kecuali Allah ketahui.”
(QS Ali-Imran [3]: 92).

Yuk sahabat, tunggu apalagi...
Lewat Ponpes Hafidz Qur'an Yatim dan Dhuafa Darun Nahdhah Al-Islamiyah, sahabat dapat menyalurkan Infak terbaik yang sahabat miliki. Insya Allah sangat menolong mereka calon generasi Qur'an dalam meraih cita-cita mereka yakni menjadi Hafidz/ah sekaligus pejuang Al-Qur'an ini. Aamiin.. In syaa Allah 😇🤲

Langsung saja yuk ke nomor rekening :
Bank Syariah Indonesia/BSI
(451) 7128 967 995

BCA Syariah
(536) 0270 000 193

an. YAYASAN DARUN NAHDHAH AL ISLAMIYAH

atau sahabat dapat bersedekah dengan cara memindai QRCode pada poster menggunakan e-wallet atau mobile banking yang sudah mendukung QRIS 🤗

Konfirmasi transfer dan informasi ke nomor:
wa.me/6282111811453 (SMS/WA)

Terima Kasih
[LIVE] HAKIKAT DZIKRULLAH | Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah - Eps.15

Sahabat Nahdhah...
Sebagai Manusia, kita pasti pernah merasakan yang namanya gelisah, gundah, bahkan keputus asaan di dalam hati..

Nah... Semua itu, Zikirlah Obatnya.. 🥰
Allah swt berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."  (QS. Ar-Ra’d: 28).

Sehingga tidak ada kehidupan yang hakiki bagi sebuah hati, melainkan dengan dzikrullah (mengingat Allah).

Namun, yang amat disayangkan, masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami hal ini. Bahkan, untuk mendapatkan kepuasan hati, ketenteraman hidup dan ketenangan jiwa, justru mencari-cari solusi selainnya.

Penasaran untuk membahasnya bukan?

Yuk saksikan live streamingnya di Program Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah dengan tema "HAKIKAT DZIKRULLAH"

Bersama :
👳‍♀️ Narasumber : Ustadz Arief B. Iskandar S.S (Penulis sekaligus Khadim Ma'had Darun Nahdhah Al-Islamiyah Bogor)
🎤 Host : Aa Faqih (Rais 'Aam Ma'had Darun Nahdhah Al-Islamiyah)

🗒Sabtu, 11 Desember 2021
🕐 Jam 13.00 WIB s.d Selesai
((🔴)) Hanya di youtube Darun Nahdhah TV

📡 *Link Streaming* :
https://youtu.be/P-J80NeXhVs
https://youtu.be/P-J80NeXhVs
https://youtu.be/P-J80NeXhVs

Cp : WhatsApp : 082111811453

Jangan lupa share seluas-luasnya yaa...
Semoga menjadi amal jariah untuk kita, dalam menyebarakan kebaikan ini. 🤗

Kunjungi juga akun Sosmed kami yang lain.. 😀
🌏 www.darunnahdhah.com
🔵 Facebook : Darun Nahdhah
🛑 Instagram : @darunnahdhah
🔴 Youtube : Darun Nahdhah
🔊 Spotify : Darun Nahdhah Al Islamiyah
.
Buletin Kaffah No. 223 (12 Jumada al-Ula 1443 H-17 Desember 2021 M)

MODERASI AGAMA: DARI PLURALISME HINGGA NATAL BERSAMA

Isu moderasi agama makin menguat. Kemenag di bawah Yaqut adalah di antara pihak yang paling gencar mengkampanyekan moderasi agama akhir-akhir ini. Isu ini terus diangkat sebagai isu yang seolah penting. Tentu sejalan dengan isu radikalisme yang juga terus-menerus diciptakan dan digembar-gemborkan. Padahal jelas, isu radikalisme tak jelas juntrungannya. Apa dan siapa yang disebut kelompok radikal, masih samar. Yang tidak samar, isu radikalisme hanyalah kelanjutan dari isu terorisme yang sudah usang dan sudah tidak laku.

Sebagaimana isu terorisme, isu radikalisme selalu menyasar kalangan Muslim. Terutama tentu mereka yang berpegang teguh pada agamanya, yang selalu berusaha terikat dengan syariahnya, bahkan yang menginginkan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Lalu pada saat yang sama, diangkatlah moderasi agama sebagai antitesisnya.

Motif Politik

Paham moderasi agama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat. Moderat sering dilawankan dengan radikal. Kedua istilah ini bukanlah istilah ilmiah, tetapi cenderung merupakan istilah politis. Kedua istilah ini memiliki maksud dan tujuan politik tertentu. Sebabnya, moderat adalah paham keagamaan (Islam) yang sesuai selera Barat. Sesuai dengan nilai-nilai Barat yang notabene sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Sebaliknya, radikal adalah paham keagamaan (Islam) yang dilekatkan pada kelompok-kelompok Islam yang anti Barat. Mereka adalah pihak yang menolak keras sekularisme. Mereka inilah yang menghendaki penerapan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Sejak peledakan Gedung WTC 11 September 2001, AS telah memanfaatkan isu terorisme sebagai bagian dari skenario globalnya untuk melemahkan Islam dan kaum Muslim. Untuk itu, para peneliti kemudian menganjurkan beberapa pilihan langkah bagi AS. Salah satunya adalah mempromosikan jaringan ”Islam moderat” untuk melawan gagasan-gagasan “Islam radikal”.

Lebih dari itu, dalam Dokumen RAND Corporation 2006 bertajuk, “Building Moderate Muslim Networks" disebutkan bahwa kemenangan AS yang tertinggi hanya bisa dicapai ketika ideologi Islam terus dicitraburukkan di mata mayoritas penduduk di tempat tinggal mereka. Salah satunya dengan labelisasi “radikal”, “fundamentalis”, “ekstremis”, dll.

Mantan Presiden AS George W Bush pernah menyebut ideologi Islam sebagai “ideologi para ekstremis”. Bahkan oleh mantan PM Inggris Tony Blair, ideologi Islam dijuluki sebagai “ideologi setan”. Hal itu ia nyatakan di dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris (2005). Blair lalu menjelaskan ciri-ciri “ideologi setan” yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariah adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Inilah yang dianggap sebagai paham keagamaan kelompok-kelompok radikal. Jika demikian, sikap keagamaan moderat adalah yang sebaliknya, yakni: (1) Menerima legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariah bukanlah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslim tidak harus menjadi satu-kesatuan dalam naungan Khalifah; (4) Mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Pluralisme Agama dan Natal Bersama

Di antara sikap beragama yang dipandang moderat adalah keterbukaan terhadap pluralisme. Pluralisme adalah paham yang cenderung menyamakan semua agama. Semua agama dianggap benar oleh para pengusung pluralisme. Sebabnya, kata mereka, semua agama sama-sama bersumber dari “mata air” yang sama. Sama-sama berasal dari Tuhan.

Karena itu tidak aneh jika kaum pluralis rajin mempromosikan toleransi beragama yang sering kebablasan. Wujudnya antara lain seperti: ucapan Selamat Natal kepada kaum Nasrani, Perayaan Natal Bersama, doa bersama lintas agama, shalawatan di gereja, dll. Semua itu tentu telah melanggar batas-batas akidah seorang Muslim. Telah mencampuradukkan yang haq dengan yang batil.
Semua itu bisa membuat seorang Muslim murtad (keluar) dari Islam.

Waspada!

Nabi Muhammad saw. telah memerintahkan umatnya untuk selalu waspada agar tidak tergelincir dalam kesesatan dengan mengikuti keyakinan dan perilaku para penganut agama lain. Beliau antara lain bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ القُرُونِ قَبْلَهَا، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَفَارِسَ وَالرُّومِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسُ إِلَّا أُولَئِكَ؟!

“Hari Kiamat tak akan terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR al-Bukhari No. 7319).

Beliau pun bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟!

“Sungguh, engkau akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal. Bahkan andai mereka masuk lubang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah mereka?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR al-Bukhari No. 7320).

Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam kitabnya, Fath al-Bari, menerangkan bahwa Hadis No. 7319 berkaitan dengan ketergelinciran umat Islam karena mengikuti mereka dalam masalah tata negara dan pengaturan urusan rakyat. Adapun Hadis No. 7320 berkaitan dengan ketergelinciran umat Islam karena mengikuti mereka dalam masalah akidah dan ibadah.

Dalam konteks akidah dan ibadah, misalnya, ada sebagian Muslim yang berpendapat tentang kebolehan mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani, bahkan kebolehan mengikuti Perayaan Natal Bersama. Padahal jelas, segala bentuk ucapan selamat dan apalagi mengikuti perayaan hari-hari besar orang kafir adalah haram.

Dasarnya antara lain: Pertama, firman Allah SWT yang menyatakan salah satu sifat hamba-Nya (‘Ibâd ar-Rahmân):

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

…dan mereka tidak menyaksikan kepalsuan… (QS al-Furqan [25]: 72).

Ketika menafsirkan ayat ini Imam al-Qurthubi (w. 671 H) menyatakan, “Maknanya adalah tidak menghadiri dan menyaksikan setiap kebohongan dan kebatilan. Az-Zûr adalah setiap kebatilan yang dihiasi dan dipalsukan. Zûr yang paling besar adalah berlaku syirik dan mengagungkan berhala. Ini adalah penafsiran Adh-Dhahhak, Ibnu Zaid dan Ibnu Abbas ra.

Dalam pandangan Islam, Peringatan Natal adalah kebatilan/kebohongan. Alasannya, Peringatan Natal adalah peringatan atas kelahiran Nabi Isa as. sebagai salah satu oknum Tuhan. Jelas, majelis yang di dalamnya ada pengakuan bahwa Isa as. adalah anak Tuhan adalah majelis yang batil.
Kedua, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيْدًا وَهَذَا عِيْدُنَا

Sungguh setiap kaum mempunyai hari raya dan ini (Idul Adha dan Idul Fitri) adalah hari raya kita (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dari sini dapat dipahami bahwa setiap umat mempunyai hari raya sendiri-sendiri, Karena itu umat Islam tidak perlu ikut-ikutan merayakan hari raya umat yang lain.
Selain itu Sayidina Umar bin al-Khaththab ra. pernah berkata:

إِجْتَنِبُوْا أَعْدَاءَ اللهِ فِيْ عِيْدِهِمْ

Jauhilah oleh kalian musuh-musuh Allah (kaum kafir) pada hari raya mereka (HR al-Bukhari dan al-Baihaqi).

Karena itu Imam Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafii (w. 911 H) berkata:

وَ اعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَلَى عَهْدِ السَّلَفِ السَّابِقِيْنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ مَنْ يُشَارِكِهِمْ فِي شَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ

Ketahuilah bahwa tidak pernah ada seorang pun pada masa generasi salaf dari kaum Muslim yang ikut serta dalam hal apa pun dari perayaan mereka (Haqiqat as-Sunnah wa al-Bid’ah, hlm. 125).

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah—ulama mazhab Hanbali—juga berkata:
وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ

Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi kaum kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijmak (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, “Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu.” Bisa juga dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib.” (Ibnul Qayyim al-Jauziyah, Kitab Ahkâm Ahl adz-Dzimmah, 1/441).

Dari semua hal tersebut di atas, jelaslah bahwa kaum Muslim dilarang ikut dalam Perayaan Natal, apalagi yang dilakukan di dalam gereja, termasuk sekadar mengucapkan Selamat Natal kepada kaum Nasrani. Karena itu fatwa MUI tanggal 7 Maret 1981, yang mengharamkan umat Islam merayakan Hari Natal sudah tepat. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

Hikmah:

Imam Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafii (w. 974 H) berkata:

وَمِنْ أَقْبَحِ الْبِدَعِ مُوَافَقَةُ الْمُسْلِمِينَ النَّصَارَى فِيْ أَعْيَادِهِمْ بِالتَّشَبُّهِ بِأَكْلِهِمْ وَالْهَدِيَّةِ لَهُمْ وَقَبُولِ هَدِيَّتِهِمْ فِيْهِ

Di antara bid’ah yang paling buruk adalah kaum Muslim mengikuti kaum Nasrani dalam hari raya-hari raya mereka, meniru-niru mereka dengan memakan makanan mereka, memberi hadiah kepada mereka dan menerima hadiah dari mereka.” (Al-Fatawâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, 9/357). []
[LIVE] SIMA'AN MINGGUAN USTADZ | JUZ 16

Tahu kah sahabat...
Membaca Al Qur’an adalah amal ibadah yang sangat istimewa pahalanya. Demikian pula berlaku pada yang menyimak bacaan Al-Qur’an. Mengandung pahala besar. Baik itu menyimak langsung dari pembaca Al-Qur’an atau dari rekaman Mp3 atau video murotal. Allah azza wa jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-A’raf: 204).

Setiap Ahad Subuh, Alhamdulillah Ponpes Tahfidz Al-Qur'an Yatim dan Dhuafa Darun Nahdhah Al-Islamiyah Bogor, memiliki Program mingguan yakni Sima'an Al-Qur'an. Bersama :

👳 Ustadz @alfaqihabdillah sebagai Guru Tahfidznya para santri, yang juga sebagai Rais 'Aam Ma'had Darun Nahdhah Al-Islamiyah.. 🤗

Yuk... Kita Dengarkan dan simak bersama di channel youtube kami..

(((🔴))) LIVE DI DARUN NAHDHAH TV
Melalui Link :
https://youtu.be/Pln58kSBDyA
https://youtu.be/Pln58kSBDyA
https://youtu.be/Pln58kSBDyA

Yang Insya Allah akan dilaksanakan
🗓️ Setiap Ahad
🕐 05.30 WIB - Selesai

Contact Person WhatsApp : 082111811453

Jangan lupa yaa, ajak Keluarga dan sanak saudara kita, agar semua mendapatkan berkahnya menyimak bacaan Al Quran.. Dan amal jariah untuk kita, dalam menyebarakan kebaikan ini... 🤗

Yuk kunjungi juga akun Sosmed kami lain:
🌏 www.darunnahdhah.com
🌏 Facebook : Darun Nahdhah
🌏 Instagram : @darunnahdhah
🌏 Youtube : Darun Nahdhah
🌏 Spotify: Darun Nahdhah Al Islamiyah
.
[LIVE] MERINDUKAN SURGA | Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah - Eps.19

Sahabat Nahdhah...

Setiap mukmin tentu memiliki keinginan besar untuk memiliki tempat mulia di surga Allah SWT. Begitu pun juga dengan sahabat Nahdhah bukan...???

Banyak sekelumit kisah menakjubkan yang berakhir happy ending. Tak ada kebahagiaan selain husnul khatimah. Tak ada pilihan lain selain menjadi hamba-Nya yang berupaya meniti jejak Rasulullah SAW dan salafus shalih.

Sudah pasti... Seorang yang senantiasa dalam ketaatan pada Allah, niscaya akhir dari hidupnya dalam kondisi ketaatan pula. Tentunya... ini yang dicita-citakan setiap mukmin bukan...? Masya Allah 🥰

Nah Sahabat Nahdhah....
Siapa sajakah yang akan dimasukan kedalam Surga ? Apa saja yang Allah sediakan didalamnya ? Dan amalan apa yang diperintahkan Allah agar kita bisa memasukinya ? 

Penasaran...??? 😊

Yuk sama-sama saksikan live streamingnya di Program kami Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah dengan tema "MERINDUKAN SURGA."

Bersama :
👳‍♀️ Narasumber : Ustadz Arief B. Iskandar S.S (Penulis sekaligus Khadim Ma'had Darun Nahdhah Al-Islamiyah Bogor)
🎤 Host : Muhammad Adzulfikri (Santri Ponpes Darun Nahdhah Al-Islamiyah)

🗒Sabtu, 8 Januari 2022
🕐 Jam 13.00 WIB s.d Selesai
((🔴)) Hanya di youtube Darun Nahdhah TV

📡 Link Streaming :
https://youtu.be/iZj8VorjAc0
https://youtu.be/iZj8VorjAc0
https://youtu.be/iZj8VorjAc0


Cp : WhatsApp : 082111811453

Jangan lupa share seluas-luasnya yaa...
Semoga menjadi amal jariah untuk kita, dalam menyebarakan kebaikan ini. 🤗

Yuk kunjungi juga akun Sosmed kami yang lain.. 😀
🌏www.darunnahdhah.com
🔵 Facebook : Darun Nahdhah
🛑 Instagram : @darunnahdhah
🔴 Youtube : Darun Nahdhah
🔊 Spotify : Darun Nahdhah Al Islamiyah
.
ISTIRAHAT YANG SESUNGGUHNYA !!!

Tentang istirahat itu, ada seorang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Wahai syaikh, kapan sebenarnya istirahat itu?”Maka Imam Ahmad menjawab, “Istirahat yang sesungguhnya ialah padasaat engkau pertama kali menginjakkan kakimu di dalam Surga.”

Masya Allah, itulah hakikat istirahat bagi seorang muslim. Artinya, kematian sekalipun bukan akhir dan pertanda istirahatnya seorang muslim dari segala aktivitas. Bahkan, setelah kematiannya, seorang muslim akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Lalu ditanya tentang semua perbuatannya selama menjalani kehidupan di dunia. Baik  buruknya prilaku saat hidup di dunia, maka diakhirat kelak akan dimintai pertanggung jawaban.

Mari bersungguh-sungguh mengisi sisa usia ini dengan istikomah berbuat kebaikan dan menjalankan ketaatan hanya kepada Allah Ta’ala. Berusaha selalu menjauhi setiap dosa dan maksiat hingga kematian memisahkan kita dari semua yang hiruk pikuk dunia dan orang-orang yang kita cintai.

wallahua’lam

Yuk Kunjungi juga akun Sosmed kami lainnya:
🌏 Facebook : Darun Nahdhah
🌏 Instagram : @darunnahdhah
🌏 Youtube : Darun Nahdhah
🌏 Spotify : Darun Nahdhah Al Islamiyah
👩‍💻 WhatsApp : 082111811453