Forwarded from penempatan | end
Bukan epilog tapi ini hari-hari sebelum drama cinta-cintaan di angjay maba
🤪92😭40🤣12👍1
Forwarded from penempatan | end
[konten pacaran anak kuliah soalnya admin capek kerja]
Menurut admin, semua orang punya satu hal remeh nggak penting tapi mereka takuti.
Kalau Iky takut air panas, terutama tiap deket sama hari konser. Dia somehow bakal pingit dirinya sendiri seminggu sebelum konser; beneran nggak mau kemana-mana selain venue latihan, nggak mau ngapa-ngapain selain main piano.
Soalnya dulu pernah tuh H-1 konser dia ngerebus Indomie, tapi tangannya kesiram air panas sampai jari-jarinya melepuh parah dan akhirnya dia batal tampil. Sampai sekarang pun Iky tiap liat air panas tuh bawaannya merinding sendiri. Dia milih mandi air dingin bahkan kalau lagi menggigil sekalipun ketimbang air panas. Makanya tiap pagi yang bertugas bikinin mereka teh adalah Kannon.
Tapi di suatu hari, dia dapet telepon dari Efres yang bilang, “aku sakit masa.”
Iky mengernyit. “Sakit apa?”
“Mau mens kayaknya.”
“Kamu nggak punya vagina.”
“Tapi perut aku perih banget?!”
“Itu maag,” Iky dengus.
“Terserah,” Efres anggap lalu. “Kamu kesini dong, Yang.”
Iky menimbang-nimbang nggak enak, “H-2 konser, Sayang.”
“Oh,” Efres mendadak inget. “Aduh, sorry banget, Ky. Aku lupa. Yaudah nggak pa-pa—“
“Enggak, enggak!” Putus Iky. “Aku ke sana.”
“Hah?”
“Aku kesana.” Iky langsung cari Gojek. “Tunggu ya.”
Long story short, Iky beneran dateng ke kos Efres. Bawa bubur yang baru keluar dari panci abangnya sama abon sapi dari mama Iky yang kebetulan Efres suka banget.
“Kiky sayang banget ya sama akuu?” Efres yang cuma bisa gulung-gulung di kasur ternyata masih punya kekuatan buat godain pacarnya. “Beneran disamperin loh akunya.”
“Gue balik ya, Fres.”
“Ya jangan!”
Iky ambil mangkuk di tempat piring. “Kamu udah berapa lama nggak makan?”
“Tadi sempet makan biskuit.”
“Doang?”
“Nggak ada yang enak di lidah aku, Kikyyy!” Efres merajuk.
Iky cuma geleng-geleng sambil taruh mangkuknya di atas meja. Terus dia ambil bungkus bubur itu—baru sadar kalau dari plastik aja udah keliatan sepanas apa.
“Aku aja, Ky. Wait.” Efres berusaha bangun sambil cengkram perutnya.
Iky langsung cegah. “Kamu balik tidur lagi. Aku bisa.”
“Tapi panas, Ky.”
“Nggak pa-pa,” Iky menelan ludah, “aku bisa.”
Setelah menghembuskan nafas panjang dari mulut, Iky mulai buka plastiknya. Asap masih mengepul dari sana. Menghilangkan berbagai skenario jelek di otak, Iky pelan-pelan tuang buburnya ke mangkok.
Berhasil.
Iky taburin abon dari mamanya.
Berhasil.
Iky posisikan mangkok panas itu ke laci dekat kasur Efres berbaring.
Berhasil.
Nggak ada insiden.
Wow.
Iky menahan diri buat nggak tersenyum bangga.
Tapi peran itu digantikan sama Efres yang usap lembut pipi Iky, terus raih tangannya buat ia kecup buku jarinya satu per satu. “Makasih, Sayang.”
Iky first win.
***
Kalau Kannon, karena keadaannya sekarang bikin dia jadi banyak takutnya. Tapi yang buat Kannon paling serem adalah nyebrang jalan sendiri. Beneran sampai segede bagong gini Kannon nggak bisa nyebrang sendiri.
Alasannya? Ya karena dia pernah nyebrang di jalanan ramai, terus malah nggak sengaja sleep walking, dan ketabrak mobil (haha).
Makanya Kannon nggak pernah nyebrang sendiri. Dia lebih milih bayar 20 ribu lebih mahal biar abang Gocar cari tempat muter daripada dia yang nyebrang jalan. Terus somehow dia bakal tutup telinga kalau lagi jalan terus denger ada suara mobil yang ngebut dikit.
Nah hari itu Paris jemput Kannon yang baru ngerjain tugas sama temen-temen kampusnya di sebuah co-working space. Tempatnya ada di sekitaran pertokoan besar gitu. Paris telepon duluan. “Aku di depan, Cupcake.”
Kannon keluar dari lokasinya sambil celingukan kanan kiri tapi nggak liat mobilnya Paris. “Mana, Abang?”
Di saat bersamaan, Mini Cooper kehijauan yang faimiliar menekan klakson dari seberang jalan.
“Abang!” Kannon mau ngambek. “Kok di seberang? Siniii!”
Paris ketawa kecil. “Kamu coba yang kesini.”
“Abang…”
Paris akhirnya keluar dari mobil lalu bersandar di depan pintunya sambil ngeliatin Kannon.
Menurut admin, semua orang punya satu hal remeh nggak penting tapi mereka takuti.
Kalau Iky takut air panas, terutama tiap deket sama hari konser. Dia somehow bakal pingit dirinya sendiri seminggu sebelum konser; beneran nggak mau kemana-mana selain venue latihan, nggak mau ngapa-ngapain selain main piano.
Soalnya dulu pernah tuh H-1 konser dia ngerebus Indomie, tapi tangannya kesiram air panas sampai jari-jarinya melepuh parah dan akhirnya dia batal tampil. Sampai sekarang pun Iky tiap liat air panas tuh bawaannya merinding sendiri. Dia milih mandi air dingin bahkan kalau lagi menggigil sekalipun ketimbang air panas. Makanya tiap pagi yang bertugas bikinin mereka teh adalah Kannon.
Tapi di suatu hari, dia dapet telepon dari Efres yang bilang, “aku sakit masa.”
Iky mengernyit. “Sakit apa?”
“Mau mens kayaknya.”
“Kamu nggak punya vagina.”
“Tapi perut aku perih banget?!”
“Itu maag,” Iky dengus.
“Terserah,” Efres anggap lalu. “Kamu kesini dong, Yang.”
Iky menimbang-nimbang nggak enak, “H-2 konser, Sayang.”
“Oh,” Efres mendadak inget. “Aduh, sorry banget, Ky. Aku lupa. Yaudah nggak pa-pa—“
“Enggak, enggak!” Putus Iky. “Aku ke sana.”
“Hah?”
“Aku kesana.” Iky langsung cari Gojek. “Tunggu ya.”
Long story short, Iky beneran dateng ke kos Efres. Bawa bubur yang baru keluar dari panci abangnya sama abon sapi dari mama Iky yang kebetulan Efres suka banget.
“Kiky sayang banget ya sama akuu?” Efres yang cuma bisa gulung-gulung di kasur ternyata masih punya kekuatan buat godain pacarnya. “Beneran disamperin loh akunya.”
“Gue balik ya, Fres.”
“Ya jangan!”
Iky ambil mangkuk di tempat piring. “Kamu udah berapa lama nggak makan?”
“Tadi sempet makan biskuit.”
“Doang?”
“Nggak ada yang enak di lidah aku, Kikyyy!” Efres merajuk.
Iky cuma geleng-geleng sambil taruh mangkuknya di atas meja. Terus dia ambil bungkus bubur itu—baru sadar kalau dari plastik aja udah keliatan sepanas apa.
“Aku aja, Ky. Wait.” Efres berusaha bangun sambil cengkram perutnya.
Iky langsung cegah. “Kamu balik tidur lagi. Aku bisa.”
“Tapi panas, Ky.”
“Nggak pa-pa,” Iky menelan ludah, “aku bisa.”
Setelah menghembuskan nafas panjang dari mulut, Iky mulai buka plastiknya. Asap masih mengepul dari sana. Menghilangkan berbagai skenario jelek di otak, Iky pelan-pelan tuang buburnya ke mangkok.
Berhasil.
Iky taburin abon dari mamanya.
Berhasil.
Iky posisikan mangkok panas itu ke laci dekat kasur Efres berbaring.
Berhasil.
Nggak ada insiden.
Wow.
Iky menahan diri buat nggak tersenyum bangga.
Tapi peran itu digantikan sama Efres yang usap lembut pipi Iky, terus raih tangannya buat ia kecup buku jarinya satu per satu. “Makasih, Sayang.”
Iky first win.
***
Kalau Kannon, karena keadaannya sekarang bikin dia jadi banyak takutnya. Tapi yang buat Kannon paling serem adalah nyebrang jalan sendiri. Beneran sampai segede bagong gini Kannon nggak bisa nyebrang sendiri.
Alasannya? Ya karena dia pernah nyebrang di jalanan ramai, terus malah nggak sengaja sleep walking, dan ketabrak mobil (haha).
Makanya Kannon nggak pernah nyebrang sendiri. Dia lebih milih bayar 20 ribu lebih mahal biar abang Gocar cari tempat muter daripada dia yang nyebrang jalan. Terus somehow dia bakal tutup telinga kalau lagi jalan terus denger ada suara mobil yang ngebut dikit.
Nah hari itu Paris jemput Kannon yang baru ngerjain tugas sama temen-temen kampusnya di sebuah co-working space. Tempatnya ada di sekitaran pertokoan besar gitu. Paris telepon duluan. “Aku di depan, Cupcake.”
Kannon keluar dari lokasinya sambil celingukan kanan kiri tapi nggak liat mobilnya Paris. “Mana, Abang?”
Di saat bersamaan, Mini Cooper kehijauan yang faimiliar menekan klakson dari seberang jalan.
“Abang!” Kannon mau ngambek. “Kok di seberang? Siniii!”
Paris ketawa kecil. “Kamu coba yang kesini.”
“Abang…”
Paris akhirnya keluar dari mobil lalu bersandar di depan pintunya sambil ngeliatin Kannon.
🥰134👍11🔥5❤4
Forwarded from penempatan | end
Satu tangannya ia lipat di pinggang, sementara lainnya masih memegang ponsel meskipun sebenernya dengan sedikit ngerasin suara mereka berdua bisa ngobrol langsung. “Aku jagain.”
Kannon menghela nafas nggak suka. “Kalau jagain ya sini.”
“Aku jagain dari sini, Cupcake.” Mata Paris nggak pindah dari Kannon. “Ayo coba dulu. Sepi ini.”
Dengan gelisah Kannon lihat sekelilingnya; jalanannya nggak terlalu lebar sebenarnya, pun nggak seramai biasanya. Beberapa kendaraan yang lewat pun kecepatannya di bawah rata-rata karena ini emang daerah pertokoan.
“Percaya sama aku nggak?” Paris malah godain.
“Enggak,” jawab Kannon getir.
“Jangan gitu dong, Sayang.” Paris ketawa. “Aku nggak mungkin ngebiarin kamu kenapa-napa, remember?”
Kannon masih ngeliatin Paris dengan sangat kesel.
Tapi Paris tutup teleponnya, masukin ke saku, dan buka dua tangannya agak lebar—kayak nunggu balita yang belajar jalan buat melangkah ke arahnya.
Akhirnya Kannon menghembuskan nafas pasrah dan ikut masukin ponselnya ke saku. Dia liat kanan-kiri. Ada motor yang mau lewat, tapi masih lumayan jauh.
“Jangan lari.” Paris ingetin. “Jalan aja.”
Kannon balik ngeliat Paris lagi.
“Ada aku.” Paris ngangguk meyakinkan. “Nggak pa-pa.”
Akhirnya Kannon mengeratkan genggam tangannya sendiri, liat kanan-kiri lagi, dan mulai nyeberang.
Motornya masih jauh.
Kannon masih jalan.
Nggak ada kendaraan yang tiba-tiba ngebut.
Kannon sampai seberang.
Motornya baru lewat.
Kannon udah di pelukan Paris waktu motornya lewat.
“Keren banget.” Paris kasih kecupan kecil di pucuk kepala Kannon, turun ke kening, turun ke ujung hidung. Turun ke kedua pipinya.
Kannon cuma ketawa geli. “Apaan sih, Bang? Males ih akunya mau ngambek!”
Paris nggak dengerin. “Pacar aku keren banget.” Dan turun ke bibir.
Kannon first win.
Kannon menghela nafas nggak suka. “Kalau jagain ya sini.”
“Aku jagain dari sini, Cupcake.” Mata Paris nggak pindah dari Kannon. “Ayo coba dulu. Sepi ini.”
Dengan gelisah Kannon lihat sekelilingnya; jalanannya nggak terlalu lebar sebenarnya, pun nggak seramai biasanya. Beberapa kendaraan yang lewat pun kecepatannya di bawah rata-rata karena ini emang daerah pertokoan.
“Percaya sama aku nggak?” Paris malah godain.
“Enggak,” jawab Kannon getir.
“Jangan gitu dong, Sayang.” Paris ketawa. “Aku nggak mungkin ngebiarin kamu kenapa-napa, remember?”
Kannon masih ngeliatin Paris dengan sangat kesel.
Tapi Paris tutup teleponnya, masukin ke saku, dan buka dua tangannya agak lebar—kayak nunggu balita yang belajar jalan buat melangkah ke arahnya.
Akhirnya Kannon menghembuskan nafas pasrah dan ikut masukin ponselnya ke saku. Dia liat kanan-kiri. Ada motor yang mau lewat, tapi masih lumayan jauh.
“Jangan lari.” Paris ingetin. “Jalan aja.”
Kannon balik ngeliat Paris lagi.
“Ada aku.” Paris ngangguk meyakinkan. “Nggak pa-pa.”
Akhirnya Kannon mengeratkan genggam tangannya sendiri, liat kanan-kiri lagi, dan mulai nyeberang.
Motornya masih jauh.
Kannon masih jalan.
Nggak ada kendaraan yang tiba-tiba ngebut.
Kannon sampai seberang.
Motornya baru lewat.
Kannon udah di pelukan Paris waktu motornya lewat.
“Keren banget.” Paris kasih kecupan kecil di pucuk kepala Kannon, turun ke kening, turun ke ujung hidung. Turun ke kedua pipinya.
Kannon cuma ketawa geli. “Apaan sih, Bang? Males ih akunya mau ngambek!”
Paris nggak dengerin. “Pacar aku keren banget.” Dan turun ke bibir.
Kannon first win.
🥰188❤14👍3
Forwarded from penempatan | end
Gimana pertemuan pertama lo sama ✨sirkel✨ lo?
Efres, Iky, sama Kannon emang sekelas tiga taun. Tapi pas sekelas itu awalnya mereka hidup sendiri-sendiri karena beda genre; Efres yang ambis hobinya duduk depan dan jawab pertanyaan guru, Iky yang duduk belakang karena goblok, dan Kannon yang duduk lebih pojok lagi karena udah goblok tukang tidur pula.
Nah karena ceritanya mereka adalah korban Kurikulum Merdeka (haha) jadi pas pelajaran sejarah tuh mereka satu kelompok buat video materi sejarah gitu kan.
Setelah sadar kalau di kelompok ini cuma otak dia yang bisa dipakai, akhirnya Efres yang susun acaranya alias mulai dari konsep sampai skrip semua dari otaknya Efres. Ini dumb and dumber di belakang cuma jadi tim hore dan iya-iya aja—sama seksi konsumsi khusus Kannon karena uang jajannya banyak.
Efres ngajak mereka syuting di Kuburan Cina buat kebutuhan skrip.
“Ih, banyak setannya…” Iky nggak setuju.
Efres dengus. “Lo tau siapa yang bakal jadi setan? Orangtua lo, kalau video kita nggak jadi dan Bu Baqi ngasih lo nilai 0.”
Iky jawab lagi. “Tapi kalau di Kuburan Cina terus ada setan nanti siapa yang mau usir? Kalau di Kuburan Islam kan kita bisa baca doa bertiga. Emang lo bisa doanya orang Cina?”
Efres tepok jidat.
Terus mereka janjian di sekolah. Ke lokasi rencananya naik Transjakarta.
Kannon angkat tangan. “Beli tiket Transjakarta di mana ya? Kalau di Traveloka bisa? Atau Tiket dot Com?”
Efres mendelik. “Hah?”
Kannon cuma pasang muka inosen nyebelinnya itu sambil cek hp-nya. “Kok di Traveloka nggak ada pilihan Transjakarta ya…”
Efres puter mata. “Pakai e-money, Kannon.”
“E-money?” Kannon keliatan bingung. “Kartu yang di-tap di pintu tol itu ya?”
“Iyaaa.”
Kannon ambil dompetnya di saku celana terus keluarin kartu kredit warna hitam-emas yang limitnya jelas nggak terjangkau rakyat jelata. “Kalau pakai ini bisa?”
Efres tepok jidat lagi.
Efres, Iky, sama Kannon emang sekelas tiga taun. Tapi pas sekelas itu awalnya mereka hidup sendiri-sendiri karena beda genre; Efres yang ambis hobinya duduk depan dan jawab pertanyaan guru, Iky yang duduk belakang karena goblok, dan Kannon yang duduk lebih pojok lagi karena udah goblok tukang tidur pula.
Nah karena ceritanya mereka adalah korban Kurikulum Merdeka (haha) jadi pas pelajaran sejarah tuh mereka satu kelompok buat video materi sejarah gitu kan.
Setelah sadar kalau di kelompok ini cuma otak dia yang bisa dipakai, akhirnya Efres yang susun acaranya alias mulai dari konsep sampai skrip semua dari otaknya Efres. Ini dumb and dumber di belakang cuma jadi tim hore dan iya-iya aja—sama seksi konsumsi khusus Kannon karena uang jajannya banyak.
Efres ngajak mereka syuting di Kuburan Cina buat kebutuhan skrip.
“Ih, banyak setannya…” Iky nggak setuju.
Efres dengus. “Lo tau siapa yang bakal jadi setan? Orangtua lo, kalau video kita nggak jadi dan Bu Baqi ngasih lo nilai 0.”
Iky jawab lagi. “Tapi kalau di Kuburan Cina terus ada setan nanti siapa yang mau usir? Kalau di Kuburan Islam kan kita bisa baca doa bertiga. Emang lo bisa doanya orang Cina?”
Efres tepok jidat.
Terus mereka janjian di sekolah. Ke lokasi rencananya naik Transjakarta.
Kannon angkat tangan. “Beli tiket Transjakarta di mana ya? Kalau di Traveloka bisa? Atau Tiket dot Com?”
Efres mendelik. “Hah?”
Kannon cuma pasang muka inosen nyebelinnya itu sambil cek hp-nya. “Kok di Traveloka nggak ada pilihan Transjakarta ya…”
Efres puter mata. “Pakai e-money, Kannon.”
“E-money?” Kannon keliatan bingung. “Kartu yang di-tap di pintu tol itu ya?”
“Iyaaa.”
Kannon ambil dompetnya di saku celana terus keluarin kartu kredit warna hitam-emas yang limitnya jelas nggak terjangkau rakyat jelata. “Kalau pakai ini bisa?”
Efres tepok jidat lagi.
🤣139👍8😁2❤1
Forwarded from penempatan | end
penempatan | end
Gimana pertemuan pertama lo sama ✨sirkel✨ lo? Efres, Iky, sama Kannon emang sekelas tiga taun. Tapi pas sekelas itu awalnya mereka hidup sendiri-sendiri karena beda genre; Efres yang ambis hobinya duduk depan dan jawab pertanyaan guru, Iky yang duduk belakang…
Bonus: Pas janjian di sekolah Iky keliatan komat-kamit ngapalin sesuatu. Sebenernya Efres nggak mau tanya tapi yaudahlah dia tanya aja buat menghargai teman sekelas. “Ngapain lu?”
Dengan bangga Iky jawab, “gue udah apal doa pengusir setan dari semua agama yang diakui negara, Fres! Gue apalin semaleman buat melindungi kita bertiga!”
Efres memicingkan mata. “Terus skrip video yang gue kasih ke lo gimana? Apal?”
Iky terdiam sejenak, sebelum akhirnya sadar dan nyengir. “Ada skrip-nya kah? Soalnya tadi malem gue nggak buka grup.”
“Anak bangs—“
Long story short, video 30 detik itu dibuat dari jam 9 pagi sampai 10 malem karena nggak ada yang apal skrip selain Efres.
Dengan bangga Iky jawab, “gue udah apal doa pengusir setan dari semua agama yang diakui negara, Fres! Gue apalin semaleman buat melindungi kita bertiga!”
Efres memicingkan mata. “Terus skrip video yang gue kasih ke lo gimana? Apal?”
Iky terdiam sejenak, sebelum akhirnya sadar dan nyengir. “Ada skrip-nya kah? Soalnya tadi malem gue nggak buka grup.”
“Anak bangs—“
Long story short, video 30 detik itu dibuat dari jam 9 pagi sampai 10 malem karena nggak ada yang apal skrip selain Efres.
😭147❤3👍1
Forwarded from penempatan | end
Kannon sama Iky duduknya sebaris di belakang. Kalau ada guru masuk kelas dan Iky lagi keasikan main Garage Band, Kannon bakal lempar kepalanya pakai botol minum. Kalau guru mulai ngomel dan Kannon ketiduran, Iky bakal lempar kepalanya pakai charger hp.
Sebuah hubungan mutualisme.
Ada satu lagi kesamaan mereka; naksir cowok satu sekolah.
Bedanya Kannon tuh beneran nggak malu-malu. Kalau lagi ngantin dan kebetulan ketemu sama Paris, Kannon bakal maju paling depan buat bayarin semua jajannya (haha). Kalau lagi jam istirahat dan Paris lagi main futsal di lapangan sekolah, Kannon bakal bersorak dari pinggir buat semangatin.
Pertanyaan Iky pas itu adalah, “lu nggak malu apa?”
Kannon cuma angkat bahu. “Ngapain malu? Kan gue bukan tukang bangunan.”
“Jadi menurut lo tukang bangunan itu pekerjaan yang malu-maluin?!”
Dan mereka bakal debat sendiri.
Anyway, Paris tuh awalnya beneran nggak mau liat Kannon. Kalau dibayarin jajan, Paris bakal kasih jajannya ke orang lain. Kalau disamperin pas lagi main futsal Paris cuma senyum karir terus cuekin Kannon sampai game-nya selesai. Geli kali ya digituin sama adek tingkat (ya siapa yang nggak geli coba).
Tapi Paris juga nggak pernah ngelabrak Kannon atau nyuruh dia stop juga. Waktu itu Iky mikirnya ada dua kemungkinan; (1) Paris lowkey suka perhatian dari Kannon, atau (2) Paris takut dislepet sama papamama-nya Kannon yang terkenal tajir dan overprotektif itu.
Satu sekolah tau cinta Kannon ke Paris bertepuk sebelah tangan and it’s kinda embarassing alias aslinya Iky males keliatan punya asosiasi sama Kannon Frey Agustaf Wardoyo ini.
Nah suatu hari Iky sama Efres dapet jadwal piket barengan. Kannon masih leyeh-leyeh main Among Us karena lagi nunggu jemputan.
Efres sama dua cewek lain kebagian nyapu kelas, Iky kebagian bersihin debu jendela. Nah kan ada tuh jendela kelas yang posisinya agak tinggi. Jadi Iky kudu naik meja buat bersihin.
Waktu Iky jinjit buat bersihin jendela paling atas, tiba-tiba dia ngerasain pinggangnya ditahan sama seseorang. Iky otomatis lirik ke bawah; ada Efres yang pegangin pinggangnya.
“Ati-ati jatoh, Ky.” Efres kasih peringatan.
Dan ternyata bukan cuma di satu jendela, tapi semua jendela yang mengharuskan Iky naik meja pasti dijagain sama Efres. Sampai para cewek-cewek ini udah selesai nyapu bagian mereka dan tinggal lorong Efres aja yang masih kotor.
“Fres, gimana ini sampahnya?” Tanya salah satu cewek.
“Gue aja yang kelarin, nggak pa-pa,” jawab Efres. “Tinggal aja di depan.”
Tentu aja cewek-cewek itu nurut dan langsung ambil tas buat pulang hingga cuma mereka bertiga (sama Kannon) di kelas.
Pas udah selesai, Iky mau turun dari meja pun digenggam juga tangannya sama Efres kayak Cinderella turun dari tangga istana. Iky setengah mati sembunyiin saltingnya buat hal bare minimum kayak gitu.
(Padahal mah Efres berani gitu karena dia pikir Iky adalah cowok alias kemungkinan baper sangat kecil, karena waktu itu Efres nggak tau kalau Iky homo.)
Setelah turun, Iky baru bilang, “thank you, Fres.”
“Santai,” Efres terkekeh. “Eh, bentar.” Tangan Efres ambil sarang laba-laba yang nyangkut di poni Iky.
Mata Iky melebar kaget.
“Dah.” Efres nyengir sambil usir-usir Iky. “Udah sana. Gue mau lanjut nyapu.”
Masih setengah sadar, Iky jalan ke bangkunya buat ambil tasnya dan pergi. Tanpa disadari, Kannon dari tadi nonton interaksi mereka berdua dengan satu alis yang terangkat.
Segoblok-gobloknya Kannon, matanya masih berfungsi dengan baik. Jadi pas Iky ambil tasnya, Kannon langsung tahan lengannya buat bisik, “naksir Efres ya lu?”
“Apaan sih?!” Iky berusaha lepasin cengkraman Kannon.
Tapi Kannon emang dasarnya lebih gede dari Iky jadi tentu aja tangannya tetep cengkram lengan Iky. Dengan kurangajar dia noleh ke arah Efres. “Fres! Iky tuh—mmph!”
Tangan Iky yang bebas langsung bekap mulut sama hidung Kannon sampai susah nafas. Kannon refleks jilat telapak tangan Iky biar dilepas. Tapi Iky nggak mau kalah dan gigit bahu Kannon sampai dia teriak kesakitan.
Long story short mereka jadi baku hantam di kursi belakang.
Sebuah hubungan mutualisme.
Ada satu lagi kesamaan mereka; naksir cowok satu sekolah.
Bedanya Kannon tuh beneran nggak malu-malu. Kalau lagi ngantin dan kebetulan ketemu sama Paris, Kannon bakal maju paling depan buat bayarin semua jajannya (haha). Kalau lagi jam istirahat dan Paris lagi main futsal di lapangan sekolah, Kannon bakal bersorak dari pinggir buat semangatin.
Pertanyaan Iky pas itu adalah, “lu nggak malu apa?”
Kannon cuma angkat bahu. “Ngapain malu? Kan gue bukan tukang bangunan.”
“Jadi menurut lo tukang bangunan itu pekerjaan yang malu-maluin?!”
Dan mereka bakal debat sendiri.
Anyway, Paris tuh awalnya beneran nggak mau liat Kannon. Kalau dibayarin jajan, Paris bakal kasih jajannya ke orang lain. Kalau disamperin pas lagi main futsal Paris cuma senyum karir terus cuekin Kannon sampai game-nya selesai. Geli kali ya digituin sama adek tingkat (ya siapa yang nggak geli coba).
Tapi Paris juga nggak pernah ngelabrak Kannon atau nyuruh dia stop juga. Waktu itu Iky mikirnya ada dua kemungkinan; (1) Paris lowkey suka perhatian dari Kannon, atau (2) Paris takut dislepet sama papamama-nya Kannon yang terkenal tajir dan overprotektif itu.
Satu sekolah tau cinta Kannon ke Paris bertepuk sebelah tangan and it’s kinda embarassing alias aslinya Iky males keliatan punya asosiasi sama Kannon Frey Agustaf Wardoyo ini.
Nah suatu hari Iky sama Efres dapet jadwal piket barengan. Kannon masih leyeh-leyeh main Among Us karena lagi nunggu jemputan.
Efres sama dua cewek lain kebagian nyapu kelas, Iky kebagian bersihin debu jendela. Nah kan ada tuh jendela kelas yang posisinya agak tinggi. Jadi Iky kudu naik meja buat bersihin.
Waktu Iky jinjit buat bersihin jendela paling atas, tiba-tiba dia ngerasain pinggangnya ditahan sama seseorang. Iky otomatis lirik ke bawah; ada Efres yang pegangin pinggangnya.
“Ati-ati jatoh, Ky.” Efres kasih peringatan.
Dan ternyata bukan cuma di satu jendela, tapi semua jendela yang mengharuskan Iky naik meja pasti dijagain sama Efres. Sampai para cewek-cewek ini udah selesai nyapu bagian mereka dan tinggal lorong Efres aja yang masih kotor.
“Fres, gimana ini sampahnya?” Tanya salah satu cewek.
“Gue aja yang kelarin, nggak pa-pa,” jawab Efres. “Tinggal aja di depan.”
Tentu aja cewek-cewek itu nurut dan langsung ambil tas buat pulang hingga cuma mereka bertiga (sama Kannon) di kelas.
Pas udah selesai, Iky mau turun dari meja pun digenggam juga tangannya sama Efres kayak Cinderella turun dari tangga istana. Iky setengah mati sembunyiin saltingnya buat hal bare minimum kayak gitu.
(Padahal mah Efres berani gitu karena dia pikir Iky adalah cowok alias kemungkinan baper sangat kecil, karena waktu itu Efres nggak tau kalau Iky homo.)
Setelah turun, Iky baru bilang, “thank you, Fres.”
“Santai,” Efres terkekeh. “Eh, bentar.” Tangan Efres ambil sarang laba-laba yang nyangkut di poni Iky.
Mata Iky melebar kaget.
“Dah.” Efres nyengir sambil usir-usir Iky. “Udah sana. Gue mau lanjut nyapu.”
Masih setengah sadar, Iky jalan ke bangkunya buat ambil tasnya dan pergi. Tanpa disadari, Kannon dari tadi nonton interaksi mereka berdua dengan satu alis yang terangkat.
Segoblok-gobloknya Kannon, matanya masih berfungsi dengan baik. Jadi pas Iky ambil tasnya, Kannon langsung tahan lengannya buat bisik, “naksir Efres ya lu?”
“Apaan sih?!” Iky berusaha lepasin cengkraman Kannon.
Tapi Kannon emang dasarnya lebih gede dari Iky jadi tentu aja tangannya tetep cengkram lengan Iky. Dengan kurangajar dia noleh ke arah Efres. “Fres! Iky tuh—mmph!”
Tangan Iky yang bebas langsung bekap mulut sama hidung Kannon sampai susah nafas. Kannon refleks jilat telapak tangan Iky biar dilepas. Tapi Iky nggak mau kalah dan gigit bahu Kannon sampai dia teriak kesakitan.
Long story short mereka jadi baku hantam di kursi belakang.
🤣144👍16❤7😭4
Forwarded from penempatan | end
Efres yang ngerasa dipanggil noleh, ngeliat Kannon sama Iky berantem di belakang kayak anak SD, dan cuma geleng-geleng kepala sambil nerusin nyapunya. Pas Efres selesai pun mereka masih saling berusaha gigit satu sama lain.
“Gue duluan ya.” Efres ambil tasnya.
Dua yang diajak ngobrol masih akting kayak kesurupan macan sambil kejar-kejaran.
Yaudah, Efres tinggal pulang.
“Gue duluan ya.” Efres ambil tasnya.
Dua yang diajak ngobrol masih akting kayak kesurupan macan sambil kejar-kejaran.
Yaudah, Efres tinggal pulang.
❤79🤣51
Forwarded from penempatan | end
Buat yang baru join channel ini: mohon maaf sebelumnya kalo ini temanya masih ✨semua Haechan dirayakan ✨ jadi mungkin fokusnya bukan ke pairing harapan kalian 🙏
Anyway pas SMA tuh pernah mereka bertiga rencana kerja kelompok di rumahnya Iky. Efres sama Kannon janjian di sekolah dan berencana naik transportasi umum aja ke sana. Mereka sengaja cari jam yang nggak sibuk biar bisa dapet duduk. Toh dari sekolah ke rumahnya Iky nggak perlu transit ini-itu.
Pas dari depan sekolah sih busnya sepi-sepi aja jadi Efres sama Kannon bisa duduk. Tapi kayaknya semua orang berpikiran sama kayak Efres karena somehow di halte ketiga bus-nya langsung penuh. Efres akhirnya serahin kursinya buat bapak-bapak lansia.
Di sebelah lansia tadi ada bapak-bapak juga. Tapi perkiraan Efres sih belum masuk lansia ya. Mungkin in early 40s? Gitu. Pas liat si bapak lansia dikasih kursi, bapak satunya langsung negur Kannon, “Dek, boleh saya pakai nggak kursinya?”
Kannon yang awalnya cuma ngeliatin jendela langsung noleh bingung karena baru sadar dia ditinggal Efres berdiri. “Tapi saya disabled, Pak.”
(Narkolepsi, at some level, masuk disabilitas btw.)
“Disabled apa?” Bapaknya heran. “Kamu pakai kursi roda? Mana? Bisa jalan kan? Bisa berdiri kan? Bisa pegangan handle kan?”
Kannon ngeliatin si bapak nggak nyaman karena cercaan itu. Ditambah perhatian orang-orang yang mulai tertuju ke dia bikin dia makin nggak enak. Akhirnya Kannon milih ngalah dan berdiri buat kasih kursinya ke si bapak itu.
Efres bisik-bisik, “lu bilang kalau ada narkolepsi, Non.”
“Malu. Dan nggak semua orang tau narkolepsi. Kalau mereka pikir narkolepsi itu pengguna narkoba gimana?” Kannon balas bisik. “Toh rumahnya Iky deket kan?”
“Ya deket sih.” Efres masih nggak habis pikir. “Bisa-bisanya lo nggak malu teriakin nama Bang Paris di pucuk Monas tapi?”
“Ya beda…”
Efres menghela nafas. “Jangan tidur ya, anjing.”
“Nggak janji.”
Bener aja emang lebih baik Kannon nggak janji karena jalanan macet bikin dia matanya nutup perlahan tanpa permisi. Kalau bukan karena ditahan Efres udah cium lantai bus kayaknya Kannon.
Masih tahan lengan Kannon biar nggak jatuh, Efres noleh ke bapak yang tadi sambil nunjukkin Kannon yang masih tidur. “Pak, teman saya beneran disabled. Bapak pikir yang namanya disabled itu cuma yang pakai tongkat sama kursi roda?!”
Si Bapak ngeliat Kannon mulai bangun dan berusaha berdiri sendiri. “Lah itu anaknya nggak pa-pa.”
“Temen saya narkolepsi.” Efres balas tegas.
Denger itu Kannon langsung mendelik. Pipinya merah. “Fres, nggak usah—“
Tapi Efres nggak peduli dan makin galak. “Apa perlu dia jatuh dan gegar otak dulu baru Bapak percaya?”
Akhirnya Si Bapak ngalah dan berdiri meskipun sambil ngomel. Efres tarik Kannon biar duduk. Instead of makasih, Kannon-nya malah ngambek karena ngerasa aibnya disebar.
Efres pijat pelipisnya, terus nunduk dikit biar bisa bisik ke Kannon. “Lo tuh nggak perlu malu buat hal kayak gini, Non. Lo ada di keadaan begini juga bukan mau lo. Kalau rasa malu lo bisa ngebahayain diri sendiri sama orang lain mah buat apa? Tadi masih mending ada gue. Kalau lo sendirian dan jatuh gimana? Nanti lo-nya malah kenapa-napa.”
Kannon masih cemberut, tapi somehow dia tau kalau Efres bener—mengingat nggak sekali dua kali dia, let’s say, hampir mati karena ketiduran. Kannon tau niatnya Efres baik.
“Jangan ngambek dong.” Dengan jahil Efres colek pipi Kannon. “Beb, ih.”
“Najis, brengsek.” Kannon langsung tepis—tapi dia nggak bisa sembunyiin senyumnya. “Tangan lu bau kemiskinan.”
“Tangan lu bau dosa oligarki.”
Tapi akhirnya Kannon nggak ngambek lagi sih.
***
“Btw ya, Ky,” keesokan harinya di jam istirahat Kannon sama Iky ngobrol sambil makan nasi jamur di depan kelas, “gue sekarang bisa paham di mana sisi charming-nya Efres sih.”
Iky mengernyit. “Gimana gimana?”
“Mukanya kayak sambel tapi dia cool in his own way,” Kannon inget-inget perlakuan Efres kepadanya kemarin. “Apa gue move on aja ya, Ky? Apa gue bucinin Efres aja yang lebih bisa gue gapai?”
Iky langsung siap siaga.
Anyway pas SMA tuh pernah mereka bertiga rencana kerja kelompok di rumahnya Iky. Efres sama Kannon janjian di sekolah dan berencana naik transportasi umum aja ke sana. Mereka sengaja cari jam yang nggak sibuk biar bisa dapet duduk. Toh dari sekolah ke rumahnya Iky nggak perlu transit ini-itu.
Pas dari depan sekolah sih busnya sepi-sepi aja jadi Efres sama Kannon bisa duduk. Tapi kayaknya semua orang berpikiran sama kayak Efres karena somehow di halte ketiga bus-nya langsung penuh. Efres akhirnya serahin kursinya buat bapak-bapak lansia.
Di sebelah lansia tadi ada bapak-bapak juga. Tapi perkiraan Efres sih belum masuk lansia ya. Mungkin in early 40s? Gitu. Pas liat si bapak lansia dikasih kursi, bapak satunya langsung negur Kannon, “Dek, boleh saya pakai nggak kursinya?”
Kannon yang awalnya cuma ngeliatin jendela langsung noleh bingung karena baru sadar dia ditinggal Efres berdiri. “Tapi saya disabled, Pak.”
(Narkolepsi, at some level, masuk disabilitas btw.)
“Disabled apa?” Bapaknya heran. “Kamu pakai kursi roda? Mana? Bisa jalan kan? Bisa berdiri kan? Bisa pegangan handle kan?”
Kannon ngeliatin si bapak nggak nyaman karena cercaan itu. Ditambah perhatian orang-orang yang mulai tertuju ke dia bikin dia makin nggak enak. Akhirnya Kannon milih ngalah dan berdiri buat kasih kursinya ke si bapak itu.
Efres bisik-bisik, “lu bilang kalau ada narkolepsi, Non.”
“Malu. Dan nggak semua orang tau narkolepsi. Kalau mereka pikir narkolepsi itu pengguna narkoba gimana?” Kannon balas bisik. “Toh rumahnya Iky deket kan?”
“Ya deket sih.” Efres masih nggak habis pikir. “Bisa-bisanya lo nggak malu teriakin nama Bang Paris di pucuk Monas tapi?”
“Ya beda…”
Efres menghela nafas. “Jangan tidur ya, anjing.”
“Nggak janji.”
Bener aja emang lebih baik Kannon nggak janji karena jalanan macet bikin dia matanya nutup perlahan tanpa permisi. Kalau bukan karena ditahan Efres udah cium lantai bus kayaknya Kannon.
Masih tahan lengan Kannon biar nggak jatuh, Efres noleh ke bapak yang tadi sambil nunjukkin Kannon yang masih tidur. “Pak, teman saya beneran disabled. Bapak pikir yang namanya disabled itu cuma yang pakai tongkat sama kursi roda?!”
Si Bapak ngeliat Kannon mulai bangun dan berusaha berdiri sendiri. “Lah itu anaknya nggak pa-pa.”
“Temen saya narkolepsi.” Efres balas tegas.
Denger itu Kannon langsung mendelik. Pipinya merah. “Fres, nggak usah—“
Tapi Efres nggak peduli dan makin galak. “Apa perlu dia jatuh dan gegar otak dulu baru Bapak percaya?”
Akhirnya Si Bapak ngalah dan berdiri meskipun sambil ngomel. Efres tarik Kannon biar duduk. Instead of makasih, Kannon-nya malah ngambek karena ngerasa aibnya disebar.
Efres pijat pelipisnya, terus nunduk dikit biar bisa bisik ke Kannon. “Lo tuh nggak perlu malu buat hal kayak gini, Non. Lo ada di keadaan begini juga bukan mau lo. Kalau rasa malu lo bisa ngebahayain diri sendiri sama orang lain mah buat apa? Tadi masih mending ada gue. Kalau lo sendirian dan jatuh gimana? Nanti lo-nya malah kenapa-napa.”
Kannon masih cemberut, tapi somehow dia tau kalau Efres bener—mengingat nggak sekali dua kali dia, let’s say, hampir mati karena ketiduran. Kannon tau niatnya Efres baik.
“Jangan ngambek dong.” Dengan jahil Efres colek pipi Kannon. “Beb, ih.”
“Najis, brengsek.” Kannon langsung tepis—tapi dia nggak bisa sembunyiin senyumnya. “Tangan lu bau kemiskinan.”
“Tangan lu bau dosa oligarki.”
Tapi akhirnya Kannon nggak ngambek lagi sih.
***
“Btw ya, Ky,” keesokan harinya di jam istirahat Kannon sama Iky ngobrol sambil makan nasi jamur di depan kelas, “gue sekarang bisa paham di mana sisi charming-nya Efres sih.”
Iky mengernyit. “Gimana gimana?”
“Mukanya kayak sambel tapi dia cool in his own way,” Kannon inget-inget perlakuan Efres kepadanya kemarin. “Apa gue move on aja ya, Ky? Apa gue bucinin Efres aja yang lebih bisa gue gapai?”
Iky langsung siap siaga.
😁102🤣57👍14😭9❤7
Forwarded from penempatan | end
Tapi seakan semesta ikut menolak, seruan dari lapangan terdengar sampai telinga mereka. “Tembak, Ris!”
Paris yang lagi giring bola sepaknya pun tendang dengan tajam sampai hampir mengoyak gawang. Ia lalu berlari buat selebrasi sama temen-temennya sambil… buka kaos olahraganya dan menyisakan singlet hitam ketat yang mencetak ototnya satu-satu.
Iky yang lagi minum langsung keselek sampai muncrat.
“Oh,” pandangan Kannon nggak bisa lepas dari sosok Paris yang masih selebrasi, “wow.”
Kannon nggak akan move on dalam waktu dekat.
Iky lowkey berterimakasih pada semesta.
Paris yang lagi giring bola sepaknya pun tendang dengan tajam sampai hampir mengoyak gawang. Ia lalu berlari buat selebrasi sama temen-temennya sambil… buka kaos olahraganya dan menyisakan singlet hitam ketat yang mencetak ototnya satu-satu.
Iky yang lagi minum langsung keselek sampai muncrat.
“Oh,” pandangan Kannon nggak bisa lepas dari sosok Paris yang masih selebrasi, “wow.”
Kannon nggak akan move on dalam waktu dekat.
Iky lowkey berterimakasih pada semesta.
❤110🤣54😭8🥰5👍2
Selebrasi Hari Pancasila karena sila kelimanya adalah keadilan bagi yang punya uang ((becanda))
🤣275😭69❤3👍1
Karena keadaan spesialnya Kannon (haha) dia sama Paris kalau nge-date tuh paaling malem jam delapan udah balik. Itu salah satu alasan kenapa Iky nggak pernah percaya kalau Kannon punya pacar—alias siapa sih yang malming cuma sampai jam delapan?!
Soalnya malmingnya Iky sama Efres ya dimulainya jam delapan.
Jadi pas Kannon turun dari mobilnya Paris dan masuk lobby, of course dia ketemu sama Iky yang baru keluar dari lift.
“Gue mau keluar sampe pagi, btw. Bang Paris suruh mampir apartemen aja, Non.”
Kannon ketawa. “Mau ngapain? Ngeliatin gue tidur?”
“Ya nggak pa-pa?” Iky angkat alis. “Gue juga suka ngeliatin Efres tidur.”
Kannon nyengir. “I don’t think he likes me that much.”
Iky tuh jujur selalu ngerasa ada hal complicated antara Kannon sama Paris yang dia nggak boleh tanya.
“Lagipula lu mau kemana sampai pagi?”
“Malmingan.”
“Sampai pagi?”
“Ya kan gue bilang kalau gue suka ngeliatin Efres tidur.”
“Creepy as fuck.”
Iky ketawa doang. Matanya masih tertuju ke pintu lobby, ngeliat mobilnya Paris melaju pergi. Terus dia berdecak sendiri pas denger halus suara mesin mobil mahal itu. “Orang kaya kalau nge-date kemana, Non?”
“Yaaa biasa aja? Makan, nonton, ciuman, gitu-gitu.” Kannon terkekeh pas denger pertanyaan Iky. “Ya ini lu mau ngajak Efres ke mana?”
“Ya makan sama nonton juga sih…”
“Nah itu!” Kannon ketawa. “Apa bedanya mah orang pacaran.”
“Beda,” Iky muter mata. “Lu tadi makan di mana?”
“Heishin.”
“Kan! Elu nge-date di tempat yang harga air putihnya aja enam puluh ribu!” Iky nunjuk. “Lu tau gue mau ngajak Efres kemana?”
“Kemana?”
“Gacoan,” jawab Iky, “mau gue traktir udang keju sampe diare dianya.”
Kannon ngakak doang. Tapi habis itu dia bilang. “Tapi seru tau, Ky.”
“Matamu.”
“Serius!” Kannon ketawa lagi. “Kayak—ain’t that romantic? Nge-date naik transum, desek-desekan, kalau rem mendadak bisa jadi excuse buat ciuman. Terus makannya di Gacoan, lu beli udang keju dan Efres beli udang rambutan, habis itu kalian tukeran. Lucu tau.”
Iky dengerin doang. “Iya?”
Kannon kasih senyum tipis. “Kalau gue normal juga gue pengen sekali-sekali ngerasain date yang kayak gitu.”
Iky mengernyit nggak suka. “Apaan deh? Lo normal.”
Kannon menguap. “Yaaa, trims hiburannya—gue jadi ngantuk.”
Iky masih pengen lanjut ceramah, “Kannon…”
Kannon tutup diskusi dengan lanjut jalan ke lift sambil melambaikan tangan. “Enjoy kencannya, Ky.”
Iky ngeliatin kunci mobil di tangannya, terus dia genggam erat buat banyak pertimbangan. Sebelum akhirnya dia mutusin buat telepon Efres dan bikin excuse, “sayang, mobil aku kudu masuk bengkel. Mau naik TJ aja nggak?”
Soalnya malmingnya Iky sama Efres ya dimulainya jam delapan.
Jadi pas Kannon turun dari mobilnya Paris dan masuk lobby, of course dia ketemu sama Iky yang baru keluar dari lift.
“Gue mau keluar sampe pagi, btw. Bang Paris suruh mampir apartemen aja, Non.”
Kannon ketawa. “Mau ngapain? Ngeliatin gue tidur?”
“Ya nggak pa-pa?” Iky angkat alis. “Gue juga suka ngeliatin Efres tidur.”
Kannon nyengir. “I don’t think he likes me that much.”
Iky tuh jujur selalu ngerasa ada hal complicated antara Kannon sama Paris yang dia nggak boleh tanya.
“Lagipula lu mau kemana sampai pagi?”
“Malmingan.”
“Sampai pagi?”
“Ya kan gue bilang kalau gue suka ngeliatin Efres tidur.”
“Creepy as fuck.”
Iky ketawa doang. Matanya masih tertuju ke pintu lobby, ngeliat mobilnya Paris melaju pergi. Terus dia berdecak sendiri pas denger halus suara mesin mobil mahal itu. “Orang kaya kalau nge-date kemana, Non?”
“Yaaa biasa aja? Makan, nonton, ciuman, gitu-gitu.” Kannon terkekeh pas denger pertanyaan Iky. “Ya ini lu mau ngajak Efres ke mana?”
“Ya makan sama nonton juga sih…”
“Nah itu!” Kannon ketawa. “Apa bedanya mah orang pacaran.”
“Beda,” Iky muter mata. “Lu tadi makan di mana?”
“Heishin.”
“Kan! Elu nge-date di tempat yang harga air putihnya aja enam puluh ribu!” Iky nunjuk. “Lu tau gue mau ngajak Efres kemana?”
“Kemana?”
“Gacoan,” jawab Iky, “mau gue traktir udang keju sampe diare dianya.”
Kannon ngakak doang. Tapi habis itu dia bilang. “Tapi seru tau, Ky.”
“Matamu.”
“Serius!” Kannon ketawa lagi. “Kayak—ain’t that romantic? Nge-date naik transum, desek-desekan, kalau rem mendadak bisa jadi excuse buat ciuman. Terus makannya di Gacoan, lu beli udang keju dan Efres beli udang rambutan, habis itu kalian tukeran. Lucu tau.”
Iky dengerin doang. “Iya?”
Kannon kasih senyum tipis. “Kalau gue normal juga gue pengen sekali-sekali ngerasain date yang kayak gitu.”
Iky mengernyit nggak suka. “Apaan deh? Lo normal.”
Kannon menguap. “Yaaa, trims hiburannya—gue jadi ngantuk.”
Iky masih pengen lanjut ceramah, “Kannon…”
Kannon tutup diskusi dengan lanjut jalan ke lift sambil melambaikan tangan. “Enjoy kencannya, Ky.”
Iky ngeliatin kunci mobil di tangannya, terus dia genggam erat buat banyak pertimbangan. Sebelum akhirnya dia mutusin buat telepon Efres dan bikin excuse, “sayang, mobil aku kudu masuk bengkel. Mau naik TJ aja nggak?”
😭341😢43🤔29👍11❤9⚡1
Bonus:
Keesokan paginya, pemandangan pertama Kannon setelah keluar kamar adalah Efres yang lagi bikin sarapan sementara Iky masih molor di sofa.
“Lah?” Kannon mengernyit. “Gue pikir nginep di tempat lu.”
“Penjaga kos gue yang baru judgemental homophobic,” Efres geleng-geleng. “Nggak bebas making out-nya.”
“Anak goblok,” Kannon ketawa. “Balik jam berapa lu?”
“Sekitar jam satu,” jawab Efres. “Eh, Non. Lo tuh berantem sama Bang Paris?”
“Hah? Enggak.” Kannon mengernyit. “Kenapa dah?”
“Kemaren pas gue balik tuh Bang Paris masih nongkrong di bar lobby sendirian,” cerita Efres. “Gue tanya dong ngapain, katanya nggak tenang ninggalin lu tidur sendirian soalnya lo kalo tidur beneran kebo dan nggak sadar sekitar. Yaudah Iky bilang aja ‘naik aja Bang, ini sama gue’ tapi Bang Paris cuma jawab ‘ya kalau lo udah balik nggak pa-pa, berarti Kannon udah ada yang nemenin’. Kayak—aneh banget? Kalau mau jagain lo ya yaudah kan bisa bilang ke lo? Ngapain kudu nunggu di bawah sendirian kan?”
Kannon yang denger cerita itu langsung merah pipinya, “oh.”
“Yee!” Efres getok kepala Kannon pakai spatula. “Gitu doang salting.”
Keesokan paginya, pemandangan pertama Kannon setelah keluar kamar adalah Efres yang lagi bikin sarapan sementara Iky masih molor di sofa.
“Lah?” Kannon mengernyit. “Gue pikir nginep di tempat lu.”
“Penjaga kos gue yang baru judgemental homophobic,” Efres geleng-geleng. “Nggak bebas making out-nya.”
“Anak goblok,” Kannon ketawa. “Balik jam berapa lu?”
“Sekitar jam satu,” jawab Efres. “Eh, Non. Lo tuh berantem sama Bang Paris?”
“Hah? Enggak.” Kannon mengernyit. “Kenapa dah?”
“Kemaren pas gue balik tuh Bang Paris masih nongkrong di bar lobby sendirian,” cerita Efres. “Gue tanya dong ngapain, katanya nggak tenang ninggalin lu tidur sendirian soalnya lo kalo tidur beneran kebo dan nggak sadar sekitar. Yaudah Iky bilang aja ‘naik aja Bang, ini sama gue’ tapi Bang Paris cuma jawab ‘ya kalau lo udah balik nggak pa-pa, berarti Kannon udah ada yang nemenin’. Kayak—aneh banget? Kalau mau jagain lo ya yaudah kan bisa bilang ke lo? Ngapain kudu nunggu di bawah sendirian kan?”
Kannon yang denger cerita itu langsung merah pipinya, “oh.”
“Yee!” Efres getok kepala Kannon pakai spatula. “Gitu doang salting.”
🥰355🤣64❤15👍7👀4🥴3🤗3