Yuk Belajar Islam
351 members
4 photos
21 links
Karena Belajar Islam Kewajiban Kita Semua
Download Telegram
to view and join the conversation
*Benarkah al-Imam Ahmad Ingin Melawan Penguasa?*


Pertanyaan:

Bismillah. Afwan ana mau tanya, apakah benar bahwasanya al-Imam Ahmad sebenarnya ingin melawan penguasa namun tidak jadi karena saat itu penguasanya lebih dulu bertaubat. Tolong dijelaskan.
+6282136xxxxxx


Jawab:

Sangat tidak benar dilihat dari banyak sisi, bagi orang yang mengetahui sejarah.

1. Beliau mengalami masa fitnah selama tiga periode khilafah, dan khalifah yang bertaubat (lebih tepatnya: mendapatkan hidayah) adalah khalifah periode keempat.

2. Pada masa tersebut beliau diminta untuk memberontak, tetapi beliau justru melarang padahal masyarakat menanti fatwa beliau.

3. Beliau justru mendoakan kebaikan untuk penguasa di saat beliau mendoakn kejelekan untuk ahlul bid’ah para provokator fitnah.

4. Semua ulama setelah beliau menukil dari beliau tentang prinsip taat kepada penguasa dalam kitab aqidah mereka.

Waffaqallahu lil jami’.

Di jawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin


Sumber: asysyariah.com rubrik tanya jawab ringkas edisi 74


https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/16/benarkah-al-imam-ahmad-ingin-melawan-penguasa/
Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah itu..??

 

Kita sering mendengar kata ahlus sunnah atau ahlus sunnah wal jama’ah atau orang yang mengaku dirinya sebagai ahlus sunnah. Namun realitanya banyak orang yang mengaku sebagai ahlus sunnah tetapi tidak mengerti makna ahlu sunnah, bahkan banyak dari mereka yang menyelisihi prinsip-prinsip ahlus sunnah wal jama’ah.


Siapakah ahlus sunnah wal jama’ah itu…??


Berkata Asy-Syaikh al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah dan bersatu di atasnya. Mereka tidak menoleh kepada selainnya, baik dalam urusan ilmiah i’tiqadiyah (ilmu tentang keyakinan) maupun masalah amaliyah hukmiyah.”

Di sebutkan bahwa ahlus sunnah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah. Lalu apa itu sunnah..?

Sunnah adalah segala yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik berupa akidah, cara beribadah, bermuamalah, akhlak, adab, sikap, maupun yang lainnya. Demikian pula halnya yang diajarkan oleh al-khulafa ar-rasyidin.


Jadi ahlus sunnah wal jamaah adalah
orang-orang yang berpegang teguh dengan segala apa yang dibawa dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik berupa akidah, ibadah, muamalah, akhlak dan yang lainnya dan bersatu di atasnya. Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

 
Admin yukbelajarislam.com

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Wahai Muslimah Pakailah Jilbabmu



Diantara kewajiban seorang muslimah adalah memakai hijab syar’i yang menutupi seluruh tubuhnya.

Tentang hal ini Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (al-Ahzab: 59)

Begitu juga dalam sebuah hadits, ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memerintah para wanita untuk pergi ke tempat dilaksanakannya shalat id, seorang shahabiyah yang bernama Ummu ‘Athiyyah berkata, “Wahai Rasulullah, di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab.” Beliau menjawab,

لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا

“Hendaklah saudarinya memakaikan (meminjamkan) jilbab kepadanya.” (HR. Muslim no. 2093).

Oleh karena itu pakailah jilbabmu wahai muslimah, karena itu adalah perintah Rabbmu, bentuk kasih sayang-Nya kepada mu dan demi kebaikkanmu dan kebaikkan yang lainnya.


Wahai saudariku, perlu diketahui bahwa disana ada kententuan yang harus diperhatikan tetang hijab/jilbab syar’i. Berikut ini penjelasannya,

1. Hijab harus menutupi seluruh tubuh.
Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’aala,

َ يُدۡنِينَ عَلَيۡهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّۚ

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (al-Ahzab: 59)

Yang dimaksud jilbab ialah kain yang lebar atau lapang yang dapat menutupi seluruh tubuh.

2. Hijab harus tebal, tidak tipis, dan tidak transparan.

Karena dengan hijab yang seperti inilah upaya menutupi aurat tercapai. Sebaliknya, jika yang digunakan adalah pakaian yang tipis dan transparan, tidak tercapai tujuan menutup aurat yang diperintahkan oleh agama.

3. Hijab yang dipakai bukan sebagai perhiasan sehingga menarik orang untuk melihatnya.

Yaitu Hijab/jilbab tersebut tidak diberi hiasan, aksesoris, dan yang semisalnya, agar tidak membuat orang lain, terutama laki-laki, tertarik untuk melihatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ

“Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya.” (an-Nur: 31)
Ayat ini umum, mencakup pula pakaian luar yang penuh perhiasan sehingga membuat pandangan orang lain tertuju padanya. Silakan lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah karya asy-Syaikh al-Albani.

4. Hijab/Jilbab harus lebar, tidak sempit/ketat, sehingga tidak memperlihatkan lekukan tubuh.
Itulah jilbab yang diinginkan oleh agama kita. Oleh karena itu pakailah jilbab syar’imu wahai muslimah. (AJ)



Admin yukbelajarislam.com

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
*Tahukah Anda, Siapa yang Dimaksud Wanita yang Berpakaian Tapi Telanjang…?*



Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ؛ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum aku lihat. Pertama, sebuah kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi, yang mereka gunakan untuk mencambuk manusia. Kedua, para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Mereka berjalan berlenggak-lenggok (berjalan dengan menimbulkan fitnah). Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak dapat mencium bau harum surga, padahal baunya tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim)


Dalam hadits ini terdapat ancaman keras bagi para wanita yang berpakaian tapi telanjang. Lalu siapakah mereka itu?


Al-Imam IbnulJauzi 
rahimahullah menyebutkan beberapa makna sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, “wanita yang berpakaian tetapi telanjang” sebagai berikut.

1. Wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga tampak kulitnya. Wanita seperti ini memang memakai pakaian, tetapi sebenarnya dia telanjang.

2. Wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi), maka wanita ini sebenarnya telanjang.

3. Wanita yang mendapat nikmat Allah, tetapi tidak mau bersyukur kepada-Nya (Kasyful Musykil min Hadits ash-Shahihain)


Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan tentang makna wanita berpakain tetapi telanjang,

“Maksudnya adalah para wanita yang berpakaian tetapi tidak menutup auratnya, bisa jadi karena pakaiannya tipis atau karena pendek.” (Majmu’ al-Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah)


Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,

“Nabi shallallahu alaihi wasallam mencirikan wanita penghuni neraka itu dengan (كَاسِيَاتٌ) maksudnya mereka mengenakan pakaian, akan tetapi mereka itu (َعَارِيَاتٌ) “telanjang”, karena pakaian yang mereka kenakan tidaklah menutupi aurat mereka dengan semestinya. Bisa jadi karena pakaian itu tipis, ketat, atau pendek.
(Taujihat lil Mu`minat Haulat Tabarruj was Sufur, hal. 18). (AJ)


Admin yukbelajarislam.com


https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/20/tahukah-anda-apa-yang-dimaksud-wanita-yang-berpakaian-tapi-telanjang/

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Waktu Shalat Dzuhur bagi Wanita pada Hari Jumat.



Pertanyaan:

Kapankah waktu yang disyariatkan bagi wanita untuk menunaikan shalat dzuhur pada hari Jumat? Ada yang mengharuskan seusai para laki-laki shalat Jumat, namun ada yang mengatakan tidak mengapa bersamaan dengan berlangsungnya shalat Jumat.

081358XXXXXX


Jawab

Selama sudah memasuki waktu dzuhur, maka diperbolehkan shalat tanpa menunggu shalat Jumat selesai.

Dijawab olehal-Ustadz Qomar Suaidi

asysyariah.com, edisi 76 rubrik tanya jawab ringkas

 
Admin yukbelajarislam.com


Channel Telegram

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Bolehkah Khutbah Jum’at Selain Dengan Bahasa Arab…?



Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata,

“Dalam masalah ini, yang benar adalah khatib Jum’at itu tidak boleh berkhutbah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh para hadirin dan selainnya.

Jika para hadirin bukan orang Arab, misalnya, dia berkhutbah dengan bahasa mereka, karena ini adalah sarana penjelas bagi mereka.

Tujuan khutbah adalah menjelaskan batasan-batasan Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya serta menasihati dan membimbing mereka.

Adapun ayat-ayat al-Qur’an harus (disebutkan) dengan bahasa Arab, lalu dijelaskan dengan bahasa hadirin.

Dalil bolehnya berkhutbah dengan selain bahasa Arab adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ اِلَّابِلِسَانِ قَوْمِهِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun selain dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim: 4)

Allah Subhanahu wata’ala menerangkan (pada ayat di atas), sarana penjelas hanyalah dengan bahasa yang dipahami oleh orang-orang yang diajak bicara. (Fatawa Arkanil Islam hlm. 393)(AJ)


Admin yukbelajarislam.com


https://www.yukbelajarislam.com/2019/02/15/bolehkah-khutbah-jumat-selain-dengan-bahasa-arab/

Channel telegram

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Apakah majelis tafsir al-Qur’an (MTA) termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah?


Pertanyaan:

Bismillah. Apakah majelis tafsir al-Qur’an (MTA) termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah?
 
Dijawab oleh al-Ustadz Rijal:

MTA bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ahlussunnah wal jama’ah adalah orang yang mengagungkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun MTA, betapa banyak pengingkaran mereka terhadap hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selain itu, MTA banyak menyimpang dalam pokok-pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Diantara penyimpangan MTA dalam masalah aqidah adalah mengingkari ru’yatullah (melihat Allah diakhirat bagi orang mukminin), padahal hadits-hadits tentang melihat Allah mencapai derajat mutawatir, lebih dari 30 orang shahabat meriwayatkannya.

Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Jabir berkata,

كُنَّا جلوسا عِنْدَ رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القمر لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

“Ketika kami sedang bermajelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba beliau memandang bulan purnama, seraya bersabda,

“Sesungguhnya kalian akan dapat melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini, dan kalian tidak berdesak-desakkan ketika kalian melihat-Nya.”

Seluruh shahabat Nabi, tabi’in, atba’ut tabi’in dan seluruh imam Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, al-Auza’i, dan ulama Ahlus Sunnah seluruhnya, berada diatas keyakinan ini.

Keika menafsirkan al-Qur’an, MTA pun tidak menggunakan metode Ahlus Sunnah wal Jamah dalam hal tafsir. Tafsir mereka tidak dibekali ilmu hadits, tidak pula dibekali pemahaman ahlus sunnah dalam hal tafsir. mereka lebih mengedepankan akal.

Mereka juga memiliki bai’at bid’ah, yang diatasnya mereka membangun al-wala’ wal bara’ (loyalitas dan permusuhan).
walhasil, jalan mereka menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allahul musta’an.


Sumber : Majalah Qonitah, edisi 08/vol. 


Admin yukbelajarislam.com


http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Dengan Melihat Hilal atau Hisab Falaki Seseorang Mulai Berpuasa Dibulan Ramadhan...??


Awal mulai seseorang berpuasa di bulan ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal (rembulan yang terlihat pada awal bulan).

Kalau tidak terlihat hilal disempurnakan bulan sya’ban sebanyak tiga puluh hari maka keesokan harinya adalah awal ramadhan. Maka wajib baginya untuk berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ 

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika terhalang atas kalian (dari melihatnya –ed), sempurnakanlah bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Caranya pada tanggal 29 Sya’ban setelah matahari terbenam hendaknya dilakukan pemantauan hilal. Selang beberapa saat, apabila hilal terlihat maka masuk 1 ramadhan jika tidak terlihat maka digenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Dan keesokkanya adalah awal ramadhan karena dalam syari’at kita jumlah hari dalam sebulan hanya tiga puluh hari.

Bukan dengan perhitungan hisab falaki. Sebagaimana dijelaskan oleh banyak para ulama. Diantaranya syaikh Ibnu Utsaimin.

Berkata asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah,

“Puasa tidak menjadi wajib hukumnya dengan berdasarkan ketentuan hisab (falaki) walaupun para pakar ilmu hisab telah menetapkan bahwa malam ini merupakan bagian dari Ramadhan padahal kaum muslimin tidak berhasil melihat Hilal, maka tidak boleh berpuasa. Karena syari’at (Islam) mengaitkan hukum puasa berdasarkan sesuatu yang bisa dicapai oleh indera manusia, yaitu berdasarkan ru’yatul hilal (melihat hilal).” (Asy-Syarhul Mumti’ jilid 6 hlm. 314)


https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/28/dengan-melihat-hilal-atau-hisab-falaki-seseorang-mulai-berpuasa-dibulan-ramadhan/


Channel Telegram

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Foto dari Abdullah Jakarty
7 Hal Penting Tentang Shalat Jum'at


Berikut 7 hal penting untuk diketahui seputar shalat jum’at.
 

Pertama: Hukum Shalat Jum’at.

Shalat jum’at hukùmnya wajib ain bagi laki-laki.
Allah Ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (Al Jumu’ah:9)
 

Kedua: Atas siapa shalat jum’at diwajibkan.

Shalat jum’at wajib atas setiap laki-laki muslim, merdeka, balig, berakal, mampu menghadirinya dan mukim.

 
Ketiga: Waktu Shalat Jum’at.

Waktu shalat jum’at adalah waktu Shalat Zhuhur, yaitu dari tergelincirnya matahari sampai bayangan suatu benda sama panjangnya dengan bendanya.
 

Keempat: Khutbah.

Khutbah jumat adalah salah satu rukun shalat jumat.

Tidak sah tanpanya. Khutbah jumat terdiri dari dua khutbah dan dilakukan sebelum shalat.
 

Kelima: Yang Haram Dilakukan dalam Shalat Jum’at.


1. Berbicara ketika imam berkhutbah.

2. Melangkahi pundak orang-orang ketika khutbah berlangsung. Perbuatan ini dapat mengganggu dan menyakiti mereka, sehingga tidak berkonsentrasi mendengarkan khutbah.

3. Dimakruhkan memisahkan dua orang atau duduk diantara mereka.

 
Keenam: Tatacara Shalat Jum’at.

Shalat jum’at terdiri dari dua rakaat yang dilakukan dengan mengeraskan bacaan. Disunnahkan membaca surat al Jumu’ah pada rakaat pertama setelah membaca al fatihah. Dan surat al Munafiqun pada rakaat kedua. Atau membaca surat al A’la pada rakaat pertama dan surat al Ghasyiyah pada rakaat kedua.

 
Ketujuh: Sunnah-Sunnah Jum’at

1. Berangkat pagi-pagi agar mendapat pahala yang besar.

2. Mandi pada hari jum’at. Sebagian ulama berpendapat wajib.

3. Memakai minyak wangi, membersihkan diri dan memotong kuku.

4. Memakai baju yang paling bagus.

5. Memperbanyak membaca shalawat pada hari dan malam jumat.

6. Pada saat shalat shubuh pada hari jumat membaca surat as Sajdah dan al Insan.

7. Ketika masuk masjid pada hari jumat, shalat dua rakaat sebelum duduk.

8. Memperbanyak doa dan memilih di waktu terkabulnya doa.

Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)


Admin yukbelajarislam.com

https://www.yukbelajarislam.com/2019/03/09/7-hal-penting-tentang-shalat-jumat/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
*10 Hal Penting Tentang Puasa Ramadhan*


Puasa adalah ibadah yang sangat agung yang mempunyai tuntunan syar’i maka wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari hukum yang berkaitan dengan puasa sehingga puasanya sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan.

Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allamah Shaleh Al Fauzan Hafidzahullah,

“Demikanlah seharusnya seorang muslim untuk mempelajari hukum shaum (puasa), dan berbuka, waktu dan sifatnya. Sehingga dapat melaksanakan puasa sesuai dengan apa yang disyariatkan, sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, sehingga puasanya benar dan diterima disisi Allah, maka yang demikian itu (mempelajari puasa –pent) termasuk perkara yang penting sebagaimana Allah Ta’aala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرا

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ” (Ahdzab : 21) (Al Mulakhos Al Fiqhi, hlm. 306)
 

Berikut ini penjelasan ringkas tentang puasa ramadhan.

 
Pertama: Pengertian Puasa.

Puasa secara bahasa adalah menahan diri dari sesuatu.

Adapun secara istilah syariat puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan puasa, dari terbitnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari, disertai niat.
 

Kedua: Hukum Puasa Ramadhan.

Puasa ramadhan hukumnya wajib, berdasarkan al Qur’an, as Sunnah dan Ijma’.

Barangsiapa yang mengingkari kewajibanya maka sungguh dia telah kafir, dan barangsiapa yang tidak melaksanakan ibadah puasa tanpa ada udzur, maka dia telah melakukan perbuatan dosa besar.

Allah Ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

”Wahai orang – orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang – orang sebelum kamu agar kamu bertakwa “ (Al Baqarah : 183).
 
Dalil dari hadits,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

”Islam itu dibangun diatas lima perkara, syahadat (persaksian) Laa Ilaha Illallah Muhammadarrasulullah (tidak ada Ilah/sesembahan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad utusan Allah), mendirikan shalat, menunaikan zakat, pergi haji dan puasa Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Ketiga: Rukun-Rukun Puasa

1. Menahan diri dari pembatal puasa semenjak terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari.

Allah Ta’aala berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.“ (Al Baqarah : 187)
 
2. Berniat.

Maksudnya, ketika menahan diri dari semua pembatal puasa ini, orang yang berpuasa meniatkannya untuk beribadah kepada Allah Ta’aala.
 

Keempat: Keutamaan Puasa Ramadhan.

Keutamaan puasa ramadhan sangatlah banyak diantaranya adalah Allah Ta’aala akan mengampuni dosa orang yang berpuasa ramadhan ikhlas karena-Nya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kerena imam dan mengharao pahala, diampuni pula untuknya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 

Kelima: Hikmah Disyariatkan Puasa Ramadhan.

1. Puasa membersihkan dan menyucikan jiwa dari akhlak yang rendah.

2. Puasa melatih manusia untuk zuhud terhadap dunia.

3. Puasa membangkitkan rasa belas kasihan kepada orang-orang miskin dan ikut merasakan penderitaan mereka.
 

Keenam: Syarat Wajibnya Puasa Ramadhan.

1. Islam. Puasa tidak wajib bagi orang kafir dan tidak sah.

2. Baligh. Puasa tidak wajib bagi anak kecil. Namun seyogyanya orang tua untuk melatih anaknya berpuasa.

3. Berakal.
Puasa tidak wajib atas orang gila.

4. Sehat. Orang yang sakit yang tidak mampu puasa tidak diwajibkan berpuasa.

5. Mukim. Puasa tidak wajib bagi musafir.

6. Tidak sedang haid dan nifas. Tidak boleh wanita yang sedang haid dan nifas berpuasa.

 
Ketujuh: Uzur yang Membolehkan Seseorang Berbuka/Tidak Puasa di Bulan Ramadhan.

1. Orang yang sakit yang diharapkan kesembuhannya. Ia boleh berbuka puasa/tidak berpuasa dan menganti puasanya di waktu yang lain.

Orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, boleh baginya berbuka berpuasa/tidak berpuasa dan wajib baginya membayar fidyah.

2. Orang yang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa. Boleh baginya berbuka puasa dan wajib baginya membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya yang ia tidak berpuasa.

3. Musafir boleh baginya berbuka puasa, tapi wajib baginya mengganti puasa di hari yang lain.

4. Wanita yang haid dan nifas.

Wajib baginya berbuka puasa. Tidak boleh baginya untuk berpuasa. Dan wajib baginya untuk menqadhanya dihari yang lain.

5. Wanita yang hamil dan menyusui yang mengkhawatirkan dirinya, atau mengkhwatirkan bayinya boleh baginya berbuka puasa.

Wanita hamil atau menyusui mengganti puasa yang ia tinggalkan itu jika ia berbuka karena khawatir terhadap dirinya.

Jika wanita yang hamil atau menyusui mengkhawatirkan janin/bayinya, dia mengadha puasa dan memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang dia tinggalkan.

 
Kedelapan: Pembatal Puasa.

1. Makan dan minum dengan sengaja. Adapun kalau karena lupa tidak membatalkan puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ نَسِىَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

”Barangsiapa yang lupa makan dan minum padahal dia sedang berpuasa maka sempurnakanlah puasanya, sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum ”(HR. Bukhari dan Muslim).

2. Melakukan hubungan suami istri.

Para ulama sepakat tentang batal dan berdosanya orang yanh melakukan hubungan suami istri disiang hari bulan ramadhan.

3. Muntah dengan sengaja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

”Barangsiapa yang muntah dengan tanpa disengaja dan dia dalam keadaan puasa tidak ada qada baginya dan apabila disengaja untuk muntah maka wajib baginya qada’.” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh Syaikh al-AlBani).

4. Berbekam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ

“Orang yang membekam dan yang dibekam sama-sama berbuka.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan dishahihkan syaikh Al Abani).

5. Keluar darah haid dan nifas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

”Bukakankah jika haid dia tidak shalat dan tidak berpuasa? maka kami berkata, benar. inilah bentuk kekurangan pada agamanya“ (HR. Muslim).

6. Berniat berbuka sebelum waktunya.

7. Murtad.

Allah Ta’aala berfirman,

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu“ (Az Zummar:65)
 

Kesembilan: Hal yang Disunnahkan Ketika Puasa.

1. Makan sahur.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَسَحَرُّوا فإنَّ في السَّحُور بَرَكَة

“Makan sahurlah, karena sesungguhnya pada makan sahur terdapat keberkaham.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

2. Mengakhirkan sahur.

Dari Zaid bin Tsabit berkata,

“Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian bangkit untuk mengerjakan shalat, saya (Anas bin Malik) berkata: berapa lama jarak antara keduanya?. beliau menjawab, “(sepanjang pembacaan) lima puluh ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Menyegerakan berbuka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia diatas kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Berbuka dengan ruthab
(kurma segar), kalau tidak ada dengan kurma kering dengan bilangan ganjil. Jika tidak ada dengan beberapa teguk.

Datang sebuah hadits yang menerangkan dengan apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka puasa, dari Anas menuturkan

يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Adalah Rasulullah berbuka dengan beberapa buah ruthab (kurma yang menguning yang hampir matang) sebelum mengerjakan shalat. Apabila tidak ada ruthab, dengan beberapa kurma (matang),  dan kalau kurma tidak ada, dengan beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud no 2358 dihasankan olh syaikh Muqbil di al-jami’ as-Shahih:2/419-420).

5. Berdoa ketika berbuka puasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga gologan yang doanya tidak tertolak, yaitu orang yang berpuasa hingga berbuka, imam yang adail dan orang yang di dzalimi.” (HR. At Tirmidzi, al Baihaqi dan di shahihkan oleh syaikh Al Albani).

6. Memperbanyak sedekah, membaca al-Qur’an, menyediakan berbuka dan amalan shalih lainnya.

7. Bersungguh-sungguh dalam melaksanakan shalat tarawih.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat pada malam ramadhan (shalat tarawih) karena imam dan mengharap pahala dari Allah diampuni dosanya apa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

8. Umrah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُمرَةٌ في رمَضَانَ تَعدِلُ حجة أَوْ حَجَّةً مَعِي

“Sesungguhnya umrah pada bulan ramadhan sebanding haji atau haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Mengucapkan, “sesungguhnya aku sedang berpuasa” jika di cela dan dicaci orang.

 
Kesepuluh: Hal yang Di makruhkan Ketika Puasa.

1. Berlebihan dalam berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukan air kehidung).

2. Mencium istri bagi laki-laki yang dikhawatirkan akan bangkit syahwatnya dan tidak bisa menahan diri.

3. Menelan dahak.

4. Mencicipi makanan tanpa ada suatu kebutuhan. Boleh bila dibutuhkan oleh seorang koki misalnya dengan menjaga tidak sampai masuk ke tenggorokkan.

Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)

 
Admin yukbelajarislam.com


Sumber bacaan:

1. Al Fiqih al Muyasar
2. Mulakhos al Fiqhi
3. Dll

https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/19/10-hal-penting-tentang-puasa-ramadhan/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
*Jangan Jadikan Agama Bahan Candaan*


Bodoh terhadap ilmu agama adalah malapetaka bagi seseorang didalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.


Karena bodohnya seseorang terhadap ilmu agama bisa menjadi sebab seseorang melakukan kekufuran dalam keadaan dia tidak tahu atau bahkan menganggap hal itu sesuatu yang biasa.


Contohnya, seseorang yang menjadikan perkara agama bahan olok-olokan walaupun niatnya hanya bercanda atau bersendau gurau.


Allah Subhanahu wa Ta’aala berfirman,

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (At Taubah : 65-66)


Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah,

“Ini adalah nash (dalil) tentang orang yang bersendau gurau/mengolok-ngolok Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya adalah bentuk kekufuran, memaksudkan (dengan sengaja) untuk mencela lebih-lebih jelas kufurnya. Dan sungguh dari ayat ini ditunjukkan tentang setiap orang yang merendahkan Rasulullah dengan sungguh-sungguh atau bersenda gurau sungguh dia telah kafir.”
(Shaarimul Masluul : 2/70).


Berkata Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah,

“Para ulama telah bersepakat atas kafirnya orang yang melakukan sesuatu dari perbuatan itu. Maka barangsiapa yang mengolok-olok Allah atau kitab-Nya, atau Rasul-Nya, atau agama-Nya, maka dia telah kafir secara ijma’ (kesepakatan para ulama), walaupun dia main-main dan tidak memaksudkan mengolok-oloknya.”
(Taisir Al-‘Azizil Hamid hal. 617).


Oleh karena itu betapa pentingnya ilmu agama, karena dengan itu kita mengetahui bahwa mengolok-ngolok sesuatu bagian dari agama adalah perkara yang sangat berbahaya walaupun dengan niat tidak serius atau sekedar bercanda. Sehingga kita bisa menjauhinya. Wallahu a’lam bish shawwab. (AJ)


Admin yukbelajarislam.com


https://www.yukbelajarislam.com/2019/05/06/angan-jadikan-agama-bahan-candaan/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Foto dari Abdullah Jakarty
Shalat di Masjid yang Berdampingan dengan Kuburan

Pertanyaan:

Bagaimana dengan masjid yang di depan dan di sampingnya ada kuburan, apakah boleh shalat di situ?

Jawab

Terpahami dari pertanyaan bahwa kuburan itu di luar dinding masjid. Jika demikian, terdapat khilaf pendapat di antara ulama.

• Pendapat pertama mengatakan boleh dan sah.

• Pendapat kedua mengatakan tidak boleh hingga ada dinding lain selain dinding masjid sebagai pemisah.

Walhasil, sebaiknya menghindari shalat di masjid tersebut jika ada masjid lain, meskipun shalat di situ tetap sah menurut pendapat yang rajih (kuat).

Lihat jawaban lengkapnya pada Problema Anda edisi ke-13, “Shalat di Masjid yang Ada Kuburannya.” Wallahu a’lam.

Di jawab al-Ustadz Muhammad as-Sarbini


Sumber: asysyariah.com rubrik tanya jawab ringkas edisi 74


Admin yukbelajarislam.com

https://www.yukbelajarislam.com/2019/05/10/shalat-di-masjid-yang-berdampingan-dengan-kuburan-2/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
Memohon Perlindungan Dari 'Ain


'Ain sesuatu yang benar adanya. Yaitu pandangan mata seseorang terhadap sesuatu yang dianggap bagus disertai dengan kedengkian yang muncul dari tabiat yang jelek sehingga mengakibatkan bahaya bagi yang dipandang.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ سَبَقَتْهُ الْعَيْنُ وَإِذَا اسْتَغْسَلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“‘Ain itu benar adanya. Seandainya ada sesuatu yang dapat mendahului takdir, tentu akan didahului oleh ‘ain. Apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” (HR. Muslim)

Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,

"Bahwa hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah ‘azza wa jalla, dan tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang telah Allah ‘azza wa jalla takdirkan serta didahului oleh ilmu Allah ‘azza wa jalla tentang kejadian tersebut. Sehingga, tidak akan terjadi bahaya ‘ain ataupun segala sesuatu yang baik ataupun yang buruk kecuali dengan takdir Allah ‘azza wa jalla.

Dalam hadits ini pula terdapat penjelasan bahwa ‘ain itu benar-benar ada dan (secara sebab -ed) memiliki kekuatan untuk menimbulkan bahaya. (Syarh Shahih Muslim, 14/174)

Seseorang yang terkena ain bisa membuat dia menjadi sakit bahkan berujung kepada kematian.

'Ain juga dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman walaupun tidak disertai perasaan dengki (hasad). 


Doa Agar Terhidar Dari 'Ain

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kita doa agar terhindar dari penyakit 'Ain


أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan dari setiap pandangan yang jahat.” (HR. Bukhari).

Sudah seyogyanya seorang muslim membentengi dirinya dengan membaca doa-doa dan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena itu sebab yang sangat bermanfaat agar terhindar dari 'Ain atau kejelekkan yang lainnya.


Admin yukbelajarislam.com


https://www.yukbelajarislam.com/2019/05/12/memohon-perlindungan-dari-ain/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
*6 Sebab Mendapatkan Hidayah*



Banyak orang yang berharap dirinya mendapatkan hidayah. Namun dia tidak mau menempuh sebab-sebab seseorang mendapatkan hidayah.


Berikut ini sebab-sebab mendapatkan hidayah,


1. Beriman kepada Allah Ta’aala.

Allah Ta’aala berfirman,

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.”
(at-Taghabun: 11).


2. Mentadaburi al-Qur’an.

Allah Ta’aala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57).


3. Berpegang teguh kepada agama Allah.

Allah Ta’aala berfirman,

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101).


4. Bertobat kepada Allah.

Allah Ta’aala berfirman,

وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ

“Dan Dia menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (ar-Ra’d: 27).


5. Bersungguh-sungguh mendapatkan hidayah Allah.

Allah Ta’aala berfirman,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69).


6. Berdoa meminta hidayah kepada Allah.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk meminta hidayah adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, aku memohon petunjuk, ketakwaaan, kesucian, dan rasa cukup.” (HR. Muslim).

Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua. (AJ)

 
Admin yukbelajarislam.com


https://www.yukbelajarislam.com/2019/04/15/6-sebab-mendapatkan-hidayah/


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam
::
🚇 PEMBATAL-PEMBATAL PUASA YANG PALING BANYAK DITANYAKAN TENTANG (HUKUM) NYA


1. SUPPOSITORIA (OBAT BERBENTUK PELURU YANG DIMASUKKAN KE DALAM ANUS ATAU YANG SEMISALNYA).
Tidak membatalkan puasa. [Menurut pendapat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh.]

2. TETES MATA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh].

3. CELAK
Tidak membatalkan puasa
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin].

4. TETES TELINGA
Tidak membatalkan puasa.
[Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumulloh]

5. TETES HIDUNG
✋🏽 Jika sampai masuk ke lambung maka membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]
📝 Adapun asy-Syaikh Ibnu Baz berpendapat tetes hidung TIDAK BOLEH bagi orang yang berpuasa. Dan barangsiapa yang mendapati rasanya di tenggorokannya, maka wajib baginya untuk mengqodho' (yakni batal puasanya).

6. SPRAYER (SEMPROT) ASMA.
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz, aay-Syaikh Ibnu Utsaimin dan al-Lajnah ad-Daimah rahimahumulloh].

7. SUNTIKAN NUTRISI
✋🏽 Membatalkan puasa. 👉🏽Adapun suntikan otot, pembuluh darah atau kulit maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

8. SUNTIK PENICILLIN
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

9. SUNTIKAN INSULIN BAGI PENDERITA DIABETES
Tidak membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah].

10. SUNTIK BIUS (ANAESTESI) PADA GIGI, MENAMBAL DAN MEMBERSIHKANNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahulloh].

11. MENGHIRUP BUKHUR (ASAP GAHARU) DENGAN SENGAJA DALAM KEADAAN TAHU
✋🏽 Membatalkan puasa.
)*Adapun sekedar mencium aroma bukhur tanpa sengaja menghirupnya, maka TIDAK membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

12. MEMAKAI MINYAK WANGI DAN MENGHIRUPNYA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

13. PELEMBAB BIBIR
Tidak membatalkan puasa,
👉 Dengan syarat tidak ada yg tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

14. MAKE-UP​
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

15. MUNTAH DENGAN SENGAJA
✋🏽 Membatalkan puasa.
)*Adapun jika tidak sengaja maka tidak membatalkan.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

16. EPISTAKSIS (MIMISAN), CABUT GERAHAM DISERTAI KELUARNYA DARAH
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

17. DIAMBIL DARAH UNTUK DIPERIKSA
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

18. IHTILAM (MIMPI BASAH)
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

19. BERENANG DAN MENYELAM
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].

20. OBAT KUMUR (SEMISAL LISTERINE​)
Tidak membatalkan puasa.
👉🏽Dengan syarat tidak ada yang tertelan sedikitpun darinya.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh]

21. SIWAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dan asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahumalloh].

22. PASTA GIGI (GOSOK GIGI)
Tidak membatalkan puasa selama tidak sampai Ke lambung.
👉🏽(Akan tetapi) yang lebih baik utama tidak menggunakannya, karena memiliki pengaruh (rasa) yang kuat.

23. MENELAN DAHAK
Tidak membatalkan puasa.
[asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahulloh].
👉🏽adapun asy Syaikh ibnu Baz rahimahulloh berpendapat dahak/riak (النخامة) tidak boleh ditelan dan wajib dibuang (tambahan dari pent).

24. MENCICIPI MAKANAN
Tidak membatalkan puasa,
👉🏽 akan tetapi tidak boleh menelannya, dan tidak melakukannya kecuali memang dibutuhkan.

25. KOYO NIKOTIN
✋🏽 Membatalkan puasa.
[al-Lajnah ad-Daimah]


••••
✍🏽 Alih Bahasa : Al-Ustadz Syafi'i al Idrus Hafizhohulloh

📇Dari : "Tanbiihaat Syahri Ramadhon" | Faidah dari Majmu'ah Manaabir al-Kitab was Sunnah dengan sedikit perubahan | Forum Ahlussunnah Ngawi

📡T.me//murottalq


https://www.yukbelajarislam.com/2019/05/17/pembatal-pembatal-puasa-yang-paling-banyak-ditanyakan/
5 Hal yang Terlewatkan Ketika Tidak Datang Lebih Awal Ke Masjid


Segala puji bagi Allah Subhaanahu wata'aala yang telah memberikan taufiq dan pertolongan kepada kita sehingga bisa beribadah kepada - Nya. Diantara ibadah yang Allah Ta'aala mudahkan bagi kita untuk melaksakannya adalah shalat lima waktu di masjid secara berjamaah. Yang hal ini merupakan kenikmatan yang sangat besar yang wajib bagi kita untuk mensyukurinya.

Namun ada hal yang penting yang mungkin terlewatkan oleh kita. Yaitu tentang seringnya kita datang ke masjid dalam keadaan iqamah di kumandangkan atau lebih dari itu. Sehingga banyak amalan shalih yang terluput dari kita diantaranya,


1. Kehilangan keutamaan menunggu shalat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ


"Senantiasa salah seorang diantara kalian dianggap dalam shalat selama ia menunggu shalat dimana shalatnya tersebut menahannya untuk pulang. Tidak ada yang menahannya
untuk pulang ke keluarganya kecuali shalat." (HR. Bukhari dan Muslim).


2. Terlewatkan untuk shalat rawatib.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِدَخَلَ الْجَنَّةَ، أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا،وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ،وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ


“Barang siapa mengerjakan shalat dua belas rakaat secara terus-menerus pada malam dan siang, dia akan masuk surga. Empat rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya, dan dua rakaat sebelum fajar.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)


3. Terlewatkan kesempatan doa antara adzan dan iqamah.

Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الدُّعَاءَ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ، فَادْعُوْا.


"Sesungguhnya do’a di antara adzan dan iqamat tidak akan ditolak, karena itu bedoalah." (HR. At Tirmidzi, beliau menshahihkannya. Abu Dawud dan di shahihkan syaikh Al Albani)


4. Terlewatkan untuk mendapatkan shaf pertama

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِى التَّهْجِيرِ لاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ

“Jikalau orang-orang mengetahui apa yang ada di dalam mengumandangkan adzan dan shaf pertama (berupa pahala), kemudian mereka tidak mendapatkan (orang yang berhak atas itu) kecuali mereka berundi atasnya, maka niscaya mereka berundi, dan jikalau mereka mengetahui apa yang ada di dalam bersegera pergi ke masjid (berupa pahala), maka mereka niscaya akan berlomba-lomba kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim)


5. Terlewatkan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ

“Siapa yang melaksanakan shalat karena Allah selama empat puluh hari secara berjamaah, ia mendapati takbiratul ihram bersama imam, maka ia akan dicatat terbebas dari dua hal yaitu terbebas dari siksa neraka dan terbebas dari kemunafikan.” (HR. Tirmidzi. Dan Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan dan pengingat kita semua. Wallahu a'lam bish shawwab. (AJ)


Admin yukbelajarislam.com


Channel Telegram:

http://t.me/YukBelajarAgamaIslam