⌗🐻. Jujur ini baru banget, sekitar tiga bulan terakhir aku mulai ngerasa cukup tanpa terus-terusan bandingin diri sama orang lain. Pelan-pelan aku belajar nerima diri sendiri baik kekurangan maupun kelebihan yang aku punya.
⌗🐻. Sekarang aku juga mulai berhenti ngebandingin diri, dan lebih fokus ke proses aku sendiri. Rasanya jauh lebih ringan, lebih tenang, dan aku bisa lebih menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya sering aku anggap kurang. Memang belum sempurna, tapi setidaknya sekarang aku udah ada di titik yang lebih baik dari sebelumnya.
⌗🐻. Sekarang aku juga mulai berhenti ngebandingin diri, dan lebih fokus ke proses aku sendiri. Rasanya jauh lebih ringan, lebih tenang, dan aku bisa lebih menghargai hal-hal kecil yang sebelumnya sering aku anggap kurang. Memang belum sempurna, tapi setidaknya sekarang aku udah ada di titik yang lebih baik dari sebelumnya.
⌗🐈. Aduh kapan ya... oh iya bulan lalu, abis ujan sore. Pas gua males bgt buka hp, jadi rebahan di kasur sambil dengerin suara air hujan di genteng yang masih netes. Tangan pegang buku yang bacanya nyicil sejak bulan lalu, lampu kamar remang, kaki gue nempel tembok. Ngga ada terget, ngga ada “harus sekian bab”, ngga kepikiran temen yang lagi naik level. Gua cuma mikir: besok mau sarapan apa, roti apa bubur. Di kepala sepi banget kaya ngga ada perbandingan, ngga ada lomba-lomba. Anehnya, di saat paling ngga produktif itu gua malah ngerasa cukup. Bukan heboh atau spektakuler, tapi yaudah ini aja cukup.
⌗☘. Denger cerita kalian tuh kayak diingetin pelan-pelan… ternyata rasa ”cukup” itu nggak harus datang dari hal besar atau pencapaian yang ’wah!’ gitu ya, tapi justru dari momen sederhana dan keputusan kecil buat berhenti bandingin diri sama orang lain. Dari yang mulai nerima diri sendiri, sampai momen tenang tanpa tekanan, semuanya nunjukin kalau damai itu bisa kita ciptain dari dalam diri kita sendiri.
⌗☘. Nah, sebelum kita benar-benar nutup obrolan hari ini, aku mau lempar satu pertanyaan terakhir nih. Kalau ada orang yang sedang berjuang menerima dirinya, pesan apa yang ingin kamu sampaikan untuk mereka?
⌗☘. Nah, sebelum kita benar-benar nutup obrolan hari ini, aku mau lempar satu pertanyaan terakhir nih. Kalau ada orang yang sedang berjuang menerima dirinya, pesan apa yang ingin kamu sampaikan untuk mereka?
⌗🐻. Aku bakal selalu nyemangatin dia buat terus berjuang nerima dirinya sendiri. Aku juga pengen dia tahu kalau dia itu berharga banget. Prosesnya memang pelan-pelan, tapi pasti bisa dilewatin.
⌗🐻. Yang penting jangan berhenti berusaha, tetap sabar sama diri sendiri, dan jangan lupa buat tetap sayang sama diri sendiri juga. Karena di setiap proses itu, sekecil apa pun langkahnya, tetap berarti.
⌗🐻. Yang penting jangan berhenti berusaha, tetap sabar sama diri sendiri, dan jangan lupa buat tetap sayang sama diri sendiri juga. Karena di setiap proses itu, sekecil apa pun langkahnya, tetap berarti.
⌗🐈. Kalau gua boleh ngomong langsung ke orang yang lagi berjuang menerima dirinya, mungkin gua bakal bilang gini.
⌗🐈. Pertama, capek itu wajar. Ngerasa ngga cukup, ngerasa beda, atau ngerasa “kenapa gua ngga bisa kayak orang lain” itu hal yang manusia banget. Kamu nggak aneh, kamu lagi jadi manusia.
⌗🐈. Kedua, ngga harus langsung menerima semuanya sekaligus. Kadang kita mikir “harus love myself sepenuhnya sekarang juga,” padahal prosesnya pelan. Hari ini mungkin kamu cuma bisa “yaudah, gua ngga terlalu benci diri gua hari ini,” dan itu udah termasuk kemajuan.
⌗🐈. Pertama, capek itu wajar. Ngerasa ngga cukup, ngerasa beda, atau ngerasa “kenapa gua ngga bisa kayak orang lain” itu hal yang manusia banget. Kamu nggak aneh, kamu lagi jadi manusia.
⌗🐈. Kedua, ngga harus langsung menerima semuanya sekaligus. Kadang kita mikir “harus love myself sepenuhnya sekarang juga,” padahal prosesnya pelan. Hari ini mungkin kamu cuma bisa “yaudah, gua ngga terlalu benci diri gua hari ini,” dan itu udah termasuk kemajuan.
⌗🐈. Ketiga, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kamu pasti bisa sabar sama orang lain yang lagi struggle, kan? Coba pelan-pelan kasih perlakuan yang sama ke diri kamu sendiri. Kamu juga pantas dipahami, termasuk oleh diri kamu sendiri.
⌗🐈. Keempat, nilai diri itu ngga ditentukan dari standar orang lain. Dunia ini rame banget sama ekspektasi, harus begini, harus begitu. Tapi kamu punya versi hidup kamu sendiri. Kamu ngga telat, ngga gagal, kamu lagi di jalan kamu aja.
⌗🐈. Dan yang terakhir, tetap berharga bahkan di saat belum merasa utuh. Kamu tetap layak dicintai, dihargai, dan diterima, termasuk oleh diri kamu sendiri. Gapapa kalau sekarang masih berantakan. Pelan-pelan aja. Kamu lagi belajar, bukan gagal.
⌗🍄. Wah, dalam juga yaa. Aku mau ucapin makasih banyak buat kalian berdua atas kata-kata yang hangat dan penuh makna hari ini. Apa yang kalian sampaikan bukan cuma sekadar jawaban atau cerita, tapi juga bisa jadi pelukan kecil untuk orang-orang di luar sana yang lagi berjuang menerima dirinya sendiri.
⌗🍄. Semoga obrolan ini bisa nemenin mereka yang lagi ngerasa sendirian, dan pelan-pelan ngingetin kalau mereka nggak harus sempurna untuk bisa merasa cukup. Karena pada akhirnya, setiap orang punya prosesnya masing-masing, dan itu semua tetap berharga.
⌗🍄. Semoga obrolan ini bisa nemenin mereka yang lagi ngerasa sendirian, dan pelan-pelan ngingetin kalau mereka nggak harus sempurna untuk bisa merasa cukup. Karena pada akhirnya, setiap orang punya prosesnya masing-masing, dan itu semua tetap berharga.
⌗🎙. [] Nggak kerasa kita sudah sampai di penghujung obrolan hari ini. Terima kasih banyak untuk kedua narasumber kita yang sudah sharing cerita dan pengalaman yang jujur banget, dan juga buat kalian yang sudah nemenin dari awal sampai akhir.
⌗🎙. [] Semoga dari obrolan santai hari ini, ada hal kecil yang bisa kalian ingat. Nggak harus langsung sempurna, pelan pelan aja, yang penting tetap jalan dan jangan berhenti belajar nerima diri sendiri. Sebagai moderator hari ini, Maureen dan Nishrina udah saatnya pamit undur diri, sampai jumpa di podcast selanjutnya. Selamat malam, Voscade!!
⌗🎙. [] Semoga dari obrolan santai hari ini, ada hal kecil yang bisa kalian ingat. Nggak harus langsung sempurna, pelan pelan aja, yang penting tetap jalan dan jangan berhenti belajar nerima diri sendiri. Sebagai moderator hari ini, Maureen dan Nishrina udah saatnya pamit undur diri, sampai jumpa di podcast selanjutnya. Selamat malam, Voscade!!
ㅤㅤ
🎙[] Halo, Voskidz ⭐ !! Gimana kabarnya malam ini? Semoga selalu baik yaa. Di malam Jum’at yang sunyi ini, Hathersón, Aile, dan Revaline bakal nemenin kalian dengan konten berjudul "Kisah Nyata: Siaran Radio Horor." 📻👻
🎙[] Pernah gak sih kalian bayangin, lagi santai denger radio tiba-tiba ada telepon masuk dari seseorang yang seharusnya sudah tidak ada? Cerita yang awalnya terasa biasa, perlahan berubah jadi sesuatu yang mencekam. Yuk, kita simak kisah misteriusnya bareng-bareng.
ㅤㅤ
🎙[] Halo, Voskidz ⭐ !! Gimana kabarnya malam ini? Semoga selalu baik yaa. Di malam Jum’at yang sunyi ini, Hathersón, Aile, dan Revaline bakal nemenin kalian dengan konten berjudul "Kisah Nyata: Siaran Radio Horor." 📻👻
🎙[] Pernah gak sih kalian bayangin, lagi santai denger radio tiba-tiba ada telepon masuk dari seseorang yang seharusnya sudah tidak ada? Cerita yang awalnya terasa biasa, perlahan berubah jadi sesuatu yang mencekam. Yuk, kita simak kisah misteriusnya bareng-bareng.
ㅤㅤ
📻 01. Prolog ❝
── . . Sebuah siaran radio malam hari berjalan seperti biasa. Penyiar berbincang santai dengan pendengar, membaca pesan masuk, dan mencairkan suasana dengan candaan ringan. Tidak ada yang terasa aneh pada awalnya.
Namun semuanya berubah saat sebuah panggilan tak dikenal masuk ke siaran. Suara dari ujung telepon itu terdengar berbeda, membawa nuansa yang tidak biasa, seolah menyimpan sesuatu dari masa lalu sesuatu yang seharusnya sudah lama berakhir.
ㅤㅤ
☎️ O2. Misteri Penelepon Misterius Di Siaran Radio ❝── . . Panggilan tersebut berasal dari seorang perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Nida. Suaranya pelan, berat, dan terdengar seperti sedang menahan tangis yang sudah lama dipendam.
Ia mengatakan ingin menceritakan sebuah kejadian yang terjadi pada dirinya di masa lalu. Namun cara ia berbicara terasa tidak wajar, seolah-olah ia tidak hanya sedang bercerita tapi sedang mengulang kembali sesuatu yang belum benar-benar selesai.
ㅤㅤ