admin buatkan cerita ya, menemani kekosongan kalian
OSPEK: SATYADHARMA
Prolog β Hari Pertama
Hari pertama menjadi mahasiswa baru Universitas Satyadharma seharusnya menjadi hari yang menyenangkan.
Setidaknya begitu yang tertulis di poster OSPEK.
βSELAMAT DATANG, GENERASI BARU SATYADHARMA!β
Bagi sebagian mahasiswa, kalimat itu terdengar membanggakan.
Bagi Farez, kalimat itu terdengar seperti ancaman.
βDam.β
βApa?β
βMenurut kamu, aku masih bisa pulang gak?β
Adam menoleh dari ujung kepala sampai kaki.
βKamu baru lima belas menit di kampus.β
βMakanya.. Aku masih punya kesempatan.β
Adam menghela napas.
βKamu pakai topi apa itu?β
Farez menyentuh benda di kepalanya.
βTopi.β
βItu panci.β
βTopi.β
βItu jelas panci.β
Dari sebelah mereka, Gemilau ikut melihat dan berceletuk.
βKalau nanti disuruh masak, Rez, kamu tinggal bilang siap.β
Farez mengangguk mantap.
βAku memang sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.β
βTermasuk dipanggil panitia?β
βGak.β
Belum sempat Adam menjawab, suara dari pengeras suara terdengar memenuhi halaman kampus.
Farez langsung berdiri.
βNah. Ini waktunya.β
βWaktunya apa?β
βMenentukan nasib.β
Mereka bertiga berjalan mencari nomor kelompok masing-masing.
Masalahnya, bukannya langsung menemukan kelompok sendiri, Farez justru berhenti di depan sebuah barisan.
βIni kelompok kita.β
Adam melihat papan di depan barisan.
βIni kelompok sembilan.β
βTerus?β
βKelompok kita delapan.β
Farez terdiam.
βOh.β
Gemilau menahan tawa.
βKamu yakin tadi baca angkanya?β
βYakin.β
βTerus?β
βAngkanya yang salah.β
ββ¦β
Setelah beberapa menit berputar-putar, akhirnya mereka menemukan barisan yang benar.
KELOMPOK 8.
Di sana sudah ada Rosellina dan Sheina yang sejak tadi menunggu.
βKalian dari tadi ke mana?β tanya Rosellina.
βEksplorasi kampus,β jawab Farez santai.
βKalian nyasar?β
βBahasanya jangan begitu.β
Sheina melihat name tag Farez.
βFar, name tag kamu kebalik.β
Farez melihatnya sebentar.
βIni bukan kebalik.β
βTerus?β
βIni namanya desain.β
Adam langsung menutup wajah.
Panitia yang berdiri di depan mereka akhirnya memperhatikan.
βKamu yang paling semangat?β
Farez menunjuk dirinya sendiri.
βLoh, Saya?β
βYa iya.β
βBisa jadi.β
βKalau begitu, berdiri paling depan.β
Senyum Farez perlahan menghilang.
βBisa gak saya tarik kembali jawaban tadi, Kak?β
βGak bisa.β
Hari pertama OSPEK resmi dimulai.
Dan dalam waktu kurang dari satu jam, Kelompok 8 sudah hampir kehilangan kesabaran.
Mereka diberi tugas membuat yel-yel, mencari beberapa benda di sekitar kampus, menjawab pertanyaan tentang Universitas Satyadharma, sampai berlari ke gedung fakultas hanya untuk mengambil sebuah kertas yang ternyata ada di tangan panitia.
βIni OSPEK atau perlombaan cari harta karun?β keluh Rosellina.
βDua-duanya,β jawab Sheina.
Farez yang sedang membaca lembar tugas tiba-tiba berhenti.
βEh.β
βApa?β tanya Adam.
βAda tugas terakhir.β
Gemilau mendekat.
βApa?β
Farez membaca tulisan di kertas.
Mereka semua terdiam.
Adam mengernyit.
βBerarti cari sesuatu yang gak ada di buku?β
βBisa cari di internet,β kata Rosellina.
Sheina menggeleng.
βKayaknya gak sesederhana itu deh.β
βKenapa?β
Sheina menunjuk ke arah gedung perpustakaan.
βKalau mereka mau kita cari di internet, gak mungkin tugasnya dibuat seperti teka-teki.β
Farez mengikuti arah pandang Sheina.
βPerpustakaan?β
βPerpustakaan.β
βSerius?β
βSerius.β
Farez menghela napas.
βBaiklah. Demi kelulusan OSPEK.β
Mereka akhirnya masuk ke perpustakaan.
Setelah mencari hampir dua puluh menit, mereka menemukan sebuah lorong kecil di bagian belakang.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu tua.
Tulisan di atasnya sederhana.
ARSIP KEGIATAN MAHASISWA.
Adam menatap pintu itu.
βIni masih dipakai?β
βEntahlah,β jawab Sheina.
Farez memegang gagang pintu.
βKalau ada hantu, aku pulang.β
βBuka aja,β kata Gemilau.
Pintu itu terbuka dengan suara berderit.
Di dalamnya terdapat beberapa rak penuh dokumen dan album lama.
Rosellina mengambil satu album.
βIni Gen 1..β
Farez membuka halaman pertama.
ARSIP KEGIATAN MAHASISWA GEN 1 β 2025.
Mereka mulai melihat-lihat.
Sampai akhirnya sebuah foto menarik perhatian Sheina.
OSPEK GENERASI 1 β UNIVERSITAS SATYADHARMA, 2025.
Foto itu memperlihatkan sekelompok mahasiswa baru berdiri di depan gedung utama.
Farez menunjuk salah satu orang di dalam foto.
βEh, Bentar.β
βApa?β tanya Adam.
βYang itu.β
βKenapa?β
βEntahlah.β
Farez memperhatikan wajah orang tersebut lebih lama.
βKayaknya aku pernah lihat.β
Adam tertawa kecil.
βBaru juga masuk kampus.β
βMakanya aneh.β
Sheina mengambil album itu.
Di antara halaman foto tersebut, terdapat tulisan tangan menggunakan tinta hitam.
βJangan biarkan mereka mengulanginya.β
Senyum Farez langsung hilang.
βIni bercanda, kan?β
Tak ada yang menjawab.
Tiba-tibaβ
KLIK.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang panitia berdiri di sana.
Mereka semua langsung menoleh.
βKalian ngapain di sini?β
Adam segera berdiri.
βKami cuma ngerjain tugas, Kak.β
Panitia itu berjalan mendekat dan mengambil album dari tangan Sheina.
βSiapa yang menyuruh kalian buka arsip ini?β
βTidak ada, Kak. Kami cumaββ
βCari tugas kalian di tempat lain.β
Nada suaranya berbeda.
Tidak seperti panitia yang sejak pagi sibuk meneriaki mahasiswa baru.
Lebih serius.
Lebih tegas.
Sebelum pergi, panitia itu berhenti sejenak.
βKarena beberapa hal di kampus iniβ¦β
Ia menatap mereka satu per satu.
ββ¦lebih baik tetap jadi masa lalu.β
Pintu kembali tertutup.
Hening.
βBarusan serem gak sih?β bisik Gemilau.
βSerem,β jawab Rosellina.
Farez mengangguk.
βSerem banget.β
Mereka akhirnya meninggalkan ruangan.
Namun ketika berjalan keluar, Sheina melihat sesuatu terjatuh di lantai.
Sebuah foto kecil.
Ia mengambilnya.
Foto itu tampak lebih tua dari yang lain.
Tidak ada keterangan di bagian depan.
Sheina membaliknya.
Tulisan tangan hitam memenuhi bagian belakang.
CLASS 404
Kelompok 8
Lima nama.
Satu orang tidak seharusnya kembali.
Sheina terdiam.
βGuysβ¦β
Keempatnya menoleh.
βAda apa?β
Sheina tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjukkan foto itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada satu pun dari mereka yang bercanda.
Karena mereka semua sadar akan satu hal...
Mereka berlima baru saja menjadi bagian dari sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
Prolog β Hari Pertama
Hari pertama menjadi mahasiswa baru Universitas Satyadharma seharusnya menjadi hari yang menyenangkan.
Setidaknya begitu yang tertulis di poster OSPEK.
βSELAMAT DATANG, GENERASI BARU SATYADHARMA!β
Bagi sebagian mahasiswa, kalimat itu terdengar membanggakan.
Bagi Farez, kalimat itu terdengar seperti ancaman.
βDam.β
βApa?β
βMenurut kamu, aku masih bisa pulang gak?β
Adam menoleh dari ujung kepala sampai kaki.
βKamu baru lima belas menit di kampus.β
βMakanya.. Aku masih punya kesempatan.β
Adam menghela napas.
βKamu pakai topi apa itu?β
Farez menyentuh benda di kepalanya.
βTopi.β
βItu panci.β
βTopi.β
βItu jelas panci.β
Dari sebelah mereka, Gemilau ikut melihat dan berceletuk.
βKalau nanti disuruh masak, Rez, kamu tinggal bilang siap.β
Farez mengangguk mantap.
βAku memang sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan.β
βTermasuk dipanggil panitia?β
βGak.β
Belum sempat Adam menjawab, suara dari pengeras suara terdengar memenuhi halaman kampus.
βSeluruh mahasiswa baru, harap segera berkumpul sesuai kelompok yang telah ditentukan.β
Farez langsung berdiri.
βNah. Ini waktunya.β
βWaktunya apa?β
βMenentukan nasib.β
Mereka bertiga berjalan mencari nomor kelompok masing-masing.
Masalahnya, bukannya langsung menemukan kelompok sendiri, Farez justru berhenti di depan sebuah barisan.
βIni kelompok kita.β
Adam melihat papan di depan barisan.
βIni kelompok sembilan.β
βTerus?β
βKelompok kita delapan.β
Farez terdiam.
βOh.β
Gemilau menahan tawa.
βKamu yakin tadi baca angkanya?β
βYakin.β
βTerus?β
βAngkanya yang salah.β
ββ¦β
Setelah beberapa menit berputar-putar, akhirnya mereka menemukan barisan yang benar.
KELOMPOK 8.
Di sana sudah ada Rosellina dan Sheina yang sejak tadi menunggu.
βKalian dari tadi ke mana?β tanya Rosellina.
βEksplorasi kampus,β jawab Farez santai.
βKalian nyasar?β
βBahasanya jangan begitu.β
Sheina melihat name tag Farez.
βFar, name tag kamu kebalik.β
Farez melihatnya sebentar.
βIni bukan kebalik.β
βTerus?β
βIni namanya desain.β
Adam langsung menutup wajah.
Panitia yang berdiri di depan mereka akhirnya memperhatikan.
βKamu yang paling semangat?β
Farez menunjuk dirinya sendiri.
βLoh, Saya?β
βYa iya.β
βBisa jadi.β
βKalau begitu, berdiri paling depan.β
Senyum Farez perlahan menghilang.
βBisa gak saya tarik kembali jawaban tadi, Kak?β
βGak bisa.β
Hari pertama OSPEK resmi dimulai.
Dan dalam waktu kurang dari satu jam, Kelompok 8 sudah hampir kehilangan kesabaran.
Mereka diberi tugas membuat yel-yel, mencari beberapa benda di sekitar kampus, menjawab pertanyaan tentang Universitas Satyadharma, sampai berlari ke gedung fakultas hanya untuk mengambil sebuah kertas yang ternyata ada di tangan panitia.
βIni OSPEK atau perlombaan cari harta karun?β keluh Rosellina.
βDua-duanya,β jawab Sheina.
Farez yang sedang membaca lembar tugas tiba-tiba berhenti.
βEh.β
βApa?β tanya Adam.
βAda tugas terakhir.β
Gemilau mendekat.
βApa?β
Farez membaca tulisan di kertas.
βTemukan satu fakta tentang Universitas Satyadharma yang tidak tercantum dalam buku panduan mahasiswa.β
Mereka semua terdiam.
Adam mengernyit.
βBerarti cari sesuatu yang gak ada di buku?β
βBisa cari di internet,β kata Rosellina.
Sheina menggeleng.
βKayaknya gak sesederhana itu deh.β
βKenapa?β
Sheina menunjuk ke arah gedung perpustakaan.
βKalau mereka mau kita cari di internet, gak mungkin tugasnya dibuat seperti teka-teki.β
Farez mengikuti arah pandang Sheina.
βPerpustakaan?β
βPerpustakaan.β
βSerius?β
βSerius.β
Farez menghela napas.
βBaiklah. Demi kelulusan OSPEK.β
Mereka akhirnya masuk ke perpustakaan.
Setelah mencari hampir dua puluh menit, mereka menemukan sebuah lorong kecil di bagian belakang.
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu tua.
Tulisan di atasnya sederhana.
ARSIP KEGIATAN MAHASISWA.
Adam menatap pintu itu.
βIni masih dipakai?β
βEntahlah,β jawab Sheina.
Farez memegang gagang pintu.
βKalau ada hantu, aku pulang.β
βBuka aja,β kata Gemilau.
Pintu itu terbuka dengan suara berderit.
Di dalamnya terdapat beberapa rak penuh dokumen dan album lama.
Rosellina mengambil satu album.
βIni Gen 1..β
Farez membuka halaman pertama.
ARSIP KEGIATAN MAHASISWA GEN 1 β 2025.
Mereka mulai melihat-lihat.
Sampai akhirnya sebuah foto menarik perhatian Sheina.
OSPEK GENERASI 1 β UNIVERSITAS SATYADHARMA, 2025.
Foto itu memperlihatkan sekelompok mahasiswa baru berdiri di depan gedung utama.
Farez menunjuk salah satu orang di dalam foto.
βEh, Bentar.β
βApa?β tanya Adam.
βYang itu.β
βKenapa?β
βEntahlah.β
Farez memperhatikan wajah orang tersebut lebih lama.
βKayaknya aku pernah lihat.β
Adam tertawa kecil.
βBaru juga masuk kampus.β
βMakanya aneh.β
Sheina mengambil album itu.
Di antara halaman foto tersebut, terdapat tulisan tangan menggunakan tinta hitam.
βJangan biarkan mereka mengulanginya.β
Senyum Farez langsung hilang.
βIni bercanda, kan?β
Tak ada yang menjawab.
Tiba-tibaβ
KLIK.
Pintu ruangan terbuka.
Seorang panitia berdiri di sana.
Mereka semua langsung menoleh.
βKalian ngapain di sini?β
Adam segera berdiri.
βKami cuma ngerjain tugas, Kak.β
Panitia itu berjalan mendekat dan mengambil album dari tangan Sheina.
βSiapa yang menyuruh kalian buka arsip ini?β
βTidak ada, Kak. Kami cumaββ
βCari tugas kalian di tempat lain.β
Nada suaranya berbeda.
Tidak seperti panitia yang sejak pagi sibuk meneriaki mahasiswa baru.
Lebih serius.
Lebih tegas.
Sebelum pergi, panitia itu berhenti sejenak.
βKarena beberapa hal di kampus iniβ¦β
Ia menatap mereka satu per satu.
ββ¦lebih baik tetap jadi masa lalu.β
Pintu kembali tertutup.
Hening.
βBarusan serem gak sih?β bisik Gemilau.
βSerem,β jawab Rosellina.
Farez mengangguk.
βSerem banget.β
Mereka akhirnya meninggalkan ruangan.
Namun ketika berjalan keluar, Sheina melihat sesuatu terjatuh di lantai.
Sebuah foto kecil.
Ia mengambilnya.
Foto itu tampak lebih tua dari yang lain.
Tidak ada keterangan di bagian depan.
Sheina membaliknya.
Tulisan tangan hitam memenuhi bagian belakang.
CLASS 404
Kelompok 8
Lima nama.
Satu orang tidak seharusnya kembali.
Sheina terdiam.
βGuysβ¦β
Keempatnya menoleh.
βAda apa?β
Sheina tidak langsung menjawab.
Ia hanya menunjukkan foto itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada satu pun dari mereka yang bercanda.
Karena mereka semua sadar akan satu hal...
Mereka berlima baru saja menjadi bagian dari sesuatu yang seharusnya sudah selesai.
π₯9β€2π1
OSPEK: SATYA DHARMA
Chapter 1 β Day 1: Misi Pertama
Peluit panjang terdengar dari tengah lapangan.
βSEMUA KELOMPOK, PERHATIKAN!β
Suasana yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih tenang. Para mahasiswa baru kembali mengambil posisi masing-masing, sementara panitia berdiri di depan barisan.
Farez menghela napas panjang.
βBaru mulai udah pakai peluit.β
Adam meliriknya.
βHm namanya juga mengatur mahasiswa baru.β
βKan bisa pakai suara biasa.β
βKalau suara biasa, kamu dengar?β
Farez berpikir sebentar.
βLah iya, belum tentu juga.β
βNah.β
Gemilau yang berdiri di sebelah mereka terkekeh.
Panitia kemudian membagikan sebuah lembar tugas kepada setiap kelompok.
βUntuk kegiatan pertama, kalian akan menjalankan beberapa misi di area kampus. Semua anggota kelompok wajib ikut. Waktu kalian satu jam.β
Sheina langsung membaca lembar tersebut.
βLima misi.β
Rosellina ikut melihat.
βAda yang harus mencari lokasi, ada yang harus mencari informasi, sama ada tugas kelompok.β
Farez mengintip dari belakang.
βYang paling gampang mana?β
βSemua ada waktunya,β jawab Sheina.
βBerarti yang gampang dulu.β
Adam mengangguk.
βKita mulai dari yang pertama.β
Misi pertama meminta mereka menemukan salah satu fasilitas kampus berdasarkan petunjuk yang diberikan.
Mereka mulai berjalan meninggalkan lapangan.
Farez berjalan paling belakang sambil membaca petunjuk.
βKatanya dekat gedung utama.β
βBerarti ke sana,β ujar Rosellina.
Mereka berbelok menuju sisi gedung.
Beberapa mahasiswa baru dari kelompok lain terlihat berlarian ke arah yang berbeda.
βKenapa semuanya lari?β tanya Gemilau.
βMungkin panik,β jawab Adam.
Farez mengangguk serius.
βAtau mereka tahu sesuatu yang kita gak tau.β
Sheina menatapnya.
βRez, jangan bikin kami ikut panik gitu dong.β
βLoh, aku cuma sampaikan kemungkinan yang terjadi.β
βGak perlu.β
Mereka terus berjalan sampai menemukan tempat yang dimaksud.
Sheina mencocokkan petunjuk dengan keadaan sekitar.
βCoba ini.β
Adam ikut melihatnya.
βBenar.β
Rosellina langsung mencatat.
βMisi pertama completed.β
Farez mengangkat tangan.
βSatu!β
Gemilau tertawa.
βKenapa kamu seperti sedang menghitung skor?β
βBiar terasa seperti permainan.β
βPadahal ini tugas.β
βLebih seru kalau dianggap permainan.β
Mereka lanjut ke misi kedua.
Kali ini mereka harus mendapatkan jawaban dari salah satu panitia.
Petunjuknya hanya menyebut ciri-ciri sederhana.
βPanitia yang membawa map hitam,β baca Sheina.
Farez langsung melihat ke sekitar.
βGampang.β
βYakin?β tanya Adam.
βLihat aja.β
Mereka menemukan beberapa panitia dengan map yang hampir sama.
Farez menunjuk salah satunya.
βYang itu.β
βMap-nya biru,β kata Rosellina.
βDari jauh kelihatan hitam.β
βJauh dari mana?β
Farez diam.
Akhirnya Adam menemukan panitia yang sesuai.
Mereka segera menghampirinya dan menyelesaikan misi kedua.
Dua misi selesai.
Empat puluh menit tersisa.
βLumayan,β kata Gemilau.
Farez mengangguk.
βKita bisa selesai lebih cepat.β
Adam menatapnya curiga.
βJangan terlalu percaya diri.β
βKenapa?β
βBiasanya setelah kamu bilang begitu, ada sesuatu.β
Farez tertawa.
βBerarti kamu sudah hafal aku.β
βSayangnya.β
Mereka melanjutkan perjalanan sambil sesekali berdiskusi tentang tugas berikutnya.
Tanpa terasa, suasana di antara mereka mulai lebih santai dibandingkan pagi tadi.
Mereka sudah mulai saling bercanda.
Bahkan Sheina yang awalnya lebih pendiam beberapa kali ikut menanggapi kelakuan Farez.
Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah papan pengumuman.
βIni yang dimaksud?β tanya Rosellina.
Sheina melihat petunjuk.
βIya. Misi ketiga.β
Farez berdiri di samping papan.
βFoto?β
βFoto,β jawab Sheina.
βBerarti gampang.β
Mereka berdiri bersama.
Gemilau memegang ponsel.
βSemua lihat kamera.β
Farez mengangkat dua jari.
βJangan peace.β
βKenapa?β tanya Gemilau.
βBiar beda.β
βTerus pose apa?β
Farez berpikir.
βSerius.β
Adam langsung tertawa.
βKamu kalau serius malah kelihatan aneh.β
βFitnah.β
Foto pertama gagal karena Rosellina belum siap.
Foto kedua gagal karena Farez bergerak.
Foto ketigaβ
βSudah.β
Gemilau memperlihatkan hasilnya.
Semua melihat layar.
Hening.
Sheina tersenyum kecil.
βLumayan.β
Farez mengangguk puas.
βBagus.β
Adam menunjuk layar.
βKamu matanya merem.β
Farez langsung melihat lagi.
βOh.β
Gemilau tertawa.
βUlang?β
βTidak usah.β
βKenapa?β
βAnggap saja itu konsep.β
Mereka akhirnya memilih foto kedua yang paling layak.
Dari kejauhan, suara panitia kembali terdengar.
βWAKTU TERSISA DUA PULUH MENIT!β
Sheina langsung melihat lembar tugas.
βMasih dua misi.β
Adam berdiri.
βKalau begitu jangan santai dulu.β
Farez ikut bangkit.
βSiap.β
Mereka kembali berjalan bersama.
Hari pertama mereka belum berjalan setengah hari, tetapi Kelompok 8 sudah mulai menemukan ritmenya sendiri.
Dan mereka belum tahu... bahwa kegiatan sederhana hari itu perlahan akan membawa mereka semakin jauh ke dalam cerita Universitas Satyadharma.
Untuk sekarang, mereka hanya perlu menyelesaikan dua misi terakhir.
Tanpa masalah.
Tanpa terlambat.
Dan tentunyaβ
tanpa Farez membuat kekacauan.
Yang terakhir mungkin paling sulit.
Chapter 1 β Day 1: Misi Pertama
Peluit panjang terdengar dari tengah lapangan.
βSEMUA KELOMPOK, PERHATIKAN!β
Suasana yang sebelumnya ramai perlahan menjadi lebih tenang. Para mahasiswa baru kembali mengambil posisi masing-masing, sementara panitia berdiri di depan barisan.
Farez menghela napas panjang.
βBaru mulai udah pakai peluit.β
Adam meliriknya.
βHm namanya juga mengatur mahasiswa baru.β
βKan bisa pakai suara biasa.β
βKalau suara biasa, kamu dengar?β
Farez berpikir sebentar.
βLah iya, belum tentu juga.β
βNah.β
Gemilau yang berdiri di sebelah mereka terkekeh.
Panitia kemudian membagikan sebuah lembar tugas kepada setiap kelompok.
βUntuk kegiatan pertama, kalian akan menjalankan beberapa misi di area kampus. Semua anggota kelompok wajib ikut. Waktu kalian satu jam.β
Sheina langsung membaca lembar tersebut.
βLima misi.β
Rosellina ikut melihat.
βAda yang harus mencari lokasi, ada yang harus mencari informasi, sama ada tugas kelompok.β
Farez mengintip dari belakang.
βYang paling gampang mana?β
βSemua ada waktunya,β jawab Sheina.
βBerarti yang gampang dulu.β
Adam mengangguk.
βKita mulai dari yang pertama.β
Misi pertama meminta mereka menemukan salah satu fasilitas kampus berdasarkan petunjuk yang diberikan.
Mereka mulai berjalan meninggalkan lapangan.
Farez berjalan paling belakang sambil membaca petunjuk.
βKatanya dekat gedung utama.β
βBerarti ke sana,β ujar Rosellina.
Mereka berbelok menuju sisi gedung.
Beberapa mahasiswa baru dari kelompok lain terlihat berlarian ke arah yang berbeda.
βKenapa semuanya lari?β tanya Gemilau.
βMungkin panik,β jawab Adam.
Farez mengangguk serius.
βAtau mereka tahu sesuatu yang kita gak tau.β
Sheina menatapnya.
βRez, jangan bikin kami ikut panik gitu dong.β
βLoh, aku cuma sampaikan kemungkinan yang terjadi.β
βGak perlu.β
Mereka terus berjalan sampai menemukan tempat yang dimaksud.
Sheina mencocokkan petunjuk dengan keadaan sekitar.
βCoba ini.β
Adam ikut melihatnya.
βBenar.β
Rosellina langsung mencatat.
βMisi pertama completed.β
Farez mengangkat tangan.
βSatu!β
Gemilau tertawa.
βKenapa kamu seperti sedang menghitung skor?β
βBiar terasa seperti permainan.β
βPadahal ini tugas.β
βLebih seru kalau dianggap permainan.β
Mereka lanjut ke misi kedua.
Kali ini mereka harus mendapatkan jawaban dari salah satu panitia.
Petunjuknya hanya menyebut ciri-ciri sederhana.
βPanitia yang membawa map hitam,β baca Sheina.
Farez langsung melihat ke sekitar.
βGampang.β
βYakin?β tanya Adam.
βLihat aja.β
Mereka menemukan beberapa panitia dengan map yang hampir sama.
Farez menunjuk salah satunya.
βYang itu.β
βMap-nya biru,β kata Rosellina.
βDari jauh kelihatan hitam.β
βJauh dari mana?β
Farez diam.
Akhirnya Adam menemukan panitia yang sesuai.
Mereka segera menghampirinya dan menyelesaikan misi kedua.
Dua misi selesai.
Empat puluh menit tersisa.
βLumayan,β kata Gemilau.
Farez mengangguk.
βKita bisa selesai lebih cepat.β
Adam menatapnya curiga.
βJangan terlalu percaya diri.β
βKenapa?β
βBiasanya setelah kamu bilang begitu, ada sesuatu.β
Farez tertawa.
βBerarti kamu sudah hafal aku.β
βSayangnya.β
Mereka melanjutkan perjalanan sambil sesekali berdiskusi tentang tugas berikutnya.
Tanpa terasa, suasana di antara mereka mulai lebih santai dibandingkan pagi tadi.
Mereka sudah mulai saling bercanda.
Bahkan Sheina yang awalnya lebih pendiam beberapa kali ikut menanggapi kelakuan Farez.
Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah papan pengumuman.
βIni yang dimaksud?β tanya Rosellina.
Sheina melihat petunjuk.
βIya. Misi ketiga.β
Farez berdiri di samping papan.
βFoto?β
βFoto,β jawab Sheina.
βBerarti gampang.β
Mereka berdiri bersama.
Gemilau memegang ponsel.
βSemua lihat kamera.β
Farez mengangkat dua jari.
βJangan peace.β
βKenapa?β tanya Gemilau.
βBiar beda.β
βTerus pose apa?β
Farez berpikir.
βSerius.β
Adam langsung tertawa.
βKamu kalau serius malah kelihatan aneh.β
βFitnah.β
Foto pertama gagal karena Rosellina belum siap.
Foto kedua gagal karena Farez bergerak.
Foto ketigaβ
βSudah.β
Gemilau memperlihatkan hasilnya.
Semua melihat layar.
Hening.
Sheina tersenyum kecil.
βLumayan.β
Farez mengangguk puas.
βBagus.β
Adam menunjuk layar.
βKamu matanya merem.β
Farez langsung melihat lagi.
βOh.β
Gemilau tertawa.
βUlang?β
βTidak usah.β
βKenapa?β
βAnggap saja itu konsep.β
Mereka akhirnya memilih foto kedua yang paling layak.
Dari kejauhan, suara panitia kembali terdengar.
βWAKTU TERSISA DUA PULUH MENIT!β
Sheina langsung melihat lembar tugas.
βMasih dua misi.β
Adam berdiri.
βKalau begitu jangan santai dulu.β
Farez ikut bangkit.
βSiap.β
Mereka kembali berjalan bersama.
Hari pertama mereka belum berjalan setengah hari, tetapi Kelompok 8 sudah mulai menemukan ritmenya sendiri.
Dan mereka belum tahu... bahwa kegiatan sederhana hari itu perlahan akan membawa mereka semakin jauh ke dalam cerita Universitas Satyadharma.
Untuk sekarang, mereka hanya perlu menyelesaikan dua misi terakhir.
Tanpa masalah.
Tanpa terlambat.
Dan tentunyaβ
tanpa Farez membuat kekacauan.
Yang terakhir mungkin paling sulit.
β€2
sabar ya yang belum ada namanya, nanti bertambah seiring berjalannya cerita
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
πππππ ππ§ππ’π₯πππ«ππ
lusi, arum, eldul
sebenarnya masih banyak lagi