Teladan Umat
2.15K subscribers
75 photos
2 videos
2 files
115 links
Meraup Ibrah dari Alur Perjalanan Dunia dan Sejarah Hidup Para Pendahulu.
Download Telegram
🔺
Iblis, Bid'ah, dan Keteguhan Az-Zimmi

📝 Imam Yahya bin Yusuf Az-Zimmi rahimahullah bercerita:

🏠 Suatu ketika aku sedang berada di salah satu kamar penginapan di daerah Marwa.

Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang sangat menyeramkan masuk ke dalam kamar.

Aku langsung bertanya, Siapa kamu?

💬 Ia menjawab, Jangan takut, wahai Abu Zakariya.

Aku kembali bertanya, Siapa kamu?

🪪 Aku Abu Murrah (Iblis).

⚔️ Mendengar itu, aku langsung berdiri dan bersiap menghadapinya. Aku berkata,

Semoga Allah tidak menyelamatkanmu!

🚪 Iblis, "Seandainya aku tahu engkau berada di kamar ini, tentu aku tidak akan masuk. Aku akan memilih kamar yang lain. Kamar ini memang biasa kutempati setiap kali aku datang ke Khurasan."

🌍 Aku bertanya, Engkau datang dari mana?

📍Dari Irak, jawabnya.

Apa yang telah engkau lakukan di Irak?

👥 Aku meninggalkan seorang wakil di sana, terang Iblis.

Siapa dia?

📢 Iblis, Bisyr Al-Marrisi.

⚠️ Dia mengajak manusia kepada apa?

📖 Iblis, "Dia mengajak manusia untuk meyakini bahwa Al-Qur'an adalah makhluk."

🛤️ Iblis melanjutkan, "Sekarang aku datang ke Khurasan juga untuk meninggalkan seorang wakil di sini."

Kemudian aku bertanya, "Lalu bagaimana pendapatmu sendiri tentang Al-Qur'an?"

📜 Iblis berkata, "Meskipun aku adalah setan yang terkutuk, aku tetap berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah dan bukan makhluk." (Tipudaya iblis).

Setelah dibacakan kisah diatas, Syaikh Rabi' Al Madkhali rahimahullah mengatakan: Kisah diatas shahih.

Beliau melanjutkan: Seseorang mungkin merasa heran mendengarnya, namun hal tersebut bukan sesuatu yang aneh ataupun mustahil terjadi.

💪 Ini menunjukkan keteguhan Az-Zimmi rahimahullah

Ketika mengetahui yang datang adalah Abu Murrah (Iblis), beliau langsung berdiri dan bersiap menghadapinya.

📖 Memang sebagian orang mampu menghadapi jin bahkan mengalahkannya. Di antaranya adalah Umar bin Khattab radhiallahu anhu.

"Tidaklah beliau melewati suatu jalan melainkan setan memilih jalan yang lain karena takut kepadanya". (Hadis).

🤝 Abu Hurairah radhiallahu anhu yang sampai tiga kali menangkap setan yang menyamar untuk mencuri makanan zakat tanpa merasa takut sedikit pun.

☝️ Maka seorang mukmin yang kuat tidak takut kepada jin maupun manusia. Rasa takutnya hanya ditujukan kepada Allah.

Terlebih rasa takut yang mengandung syirik, kita berlindung kepada Allah darinya.

Beliau rahimahullah melanjutkan:
🚪 Ucapan Iblis, "Seandainya aku tahu engkau ada di rumah ini, aku tidak akan masuk," menjadi bukti bahwa setan dan jin tidak mengetahui perkara gaib.

🔥 Dari kisah ini juga diketahui bahwa para penyebar bid'ah dan kesesatan pada hakikatnya adalah wakil-wakil setan. Adapun para ulama adalah pewaris para nabi dan menjadi wakil mereka, insya Allah".

(Kitab Asy Syariah Karya Al Ajurri: 1/547. Audio Syarh Syaikh Rabi rahimahullah).

https://t.me/Teladanumat
📝
Apakah Menuntut Ilmu Itu Melelahkan?

🌿 Menuntut ilmu memang melelahkan, tetapi di dalamnya terdapat kelezatan dan kenikmatan tersendiri.

🏔️ Ilmu tidak akan pernah bisa diraih melainkan dengan keletihan dan kepayahan. Barangsiapa yang tidak sanggup menahan beratnya belajar sesaat, niscaya ia akan meneguk pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya.

💪 Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan kesabaran menghadapi segala kesulitan, serta menundukkan jiwa dalam mencarinya dan mencurahkan seluruh kemampuan di dalamnya.

📚 Ibnu Jauzi rahimahullah pernah berkisah:

🍯 "Sungguh, aku teringat ketika berada dalam manisnya menuntut ilmu, aku mendapati kesulitan-kesulitan yang bagiku terasa lebih manis daripada madu.

🍞 Demi mengejar ilmu di masa mudaku aku terbiasa membawa roti kering. Aku lalu pergi menuju Sungai Isa.

💧 Karena kerasnya roti itu, aku tidak mampu mengunyahnya kecuali jika aku memakannya sembari meminum air sungai.

Mataku tidak melihat, dan tekadku tidak memandang, melainkan hanya kelezatan dalam meraih ilmu."

📝 Ibnu Katsir rahimahullah juga menceritakan tentang dirinya sendiri—saat beliau sedang menyusun kitab besarnya, Jami'ul Masanid:

🪔 "Aku senantiasa menulis di dalamnya pada malam hari, ditemani lampu yang cahayanya kadang meredup dan kadang terang, hingga akhirnya mataku melemah".

👣 Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah mengisahkan:

🗓️ "Tahun pertama ketika aku keluar untuk menuntut ilmu, aku menghabiskan waktu selama tujuh tahun.

📏 Aku menghitung jarak yang telah kutempuh dengan kedua kakiku ini, hingga ketika jaraknya telah mencapai lebih dari seribu farsakh (sekitar 8.300 km), aku pun berhenti menghitungnya setelah itu.

🌍 Kala itu, aku keluar dari Bahrain menuju Mesir dengan berjalan kaki, kemudian dari Mesir ke Ramlah dengan berjalan kaki, lalu dari Ramlah ke Damaskus, lalu dari Damaskus ke Himsh, kemudian dari Himsh ke Antakya, lalu ke Tarshus. Setelah itu, aku kembali lagi dari Tarshus ke Himsh, lalu dari Himsh ke Baisan, lalu ke Irak.

🥾 Aku mengarungi semua perjalanan ini dengan berjalan kaki, dan saat itu aku baru berusia dua puluh tahun."

🌱 Barangsiapa yang merenungkan indahnya pencapaian, niscaya akan terasa ringan baginya segala perjuangan.

Ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah:

💬 "Kapankah seorang hamba bisa beristirahat?"

🌴 Beliau menjawab: "Ketika ia pertama kali menapakkan kakinya di dalam surga."

🤲 Semoga Allah senantiasa bersamamu, sesuai dengan kadar ketulusanmu dalam menuntut ilmu.

📚 (Khuthuwat ilas Sa'adah: 208–210).

https://t.me/Teladanumat
❗️
Di Balik Rumah Angker: Pelajaran dari Al-Qur'an

Imam Ibnu Aqil rahimahullah berkisah:

🏠 "Dulu di Baghdad ada sebuah rumah. Setiap kali ada orang yang tinggal di sana, keesokan paginya mereka didapati telah meninggal dunia.

📖 Suatu ketika datanglah seorang penghafal Al-Qur'an, lalu ia menyewa rumah tersebut dan tinggal di sana.

Uniknya, keesokan pagi ia tetap hidup dan selamat.

Para tetangga pun merasa heran dan bertanya kepadanya.

📝 Maka ia menjelaskan:

🌙 'Ketika malam tiba, setelah shalat Isya, aku membaca beberapa ayat Al-Qur'an.

🕳️ Tiba-tiba ada seorang pemuda keluar dari sumur lalu mengucapkan salam kepadaku.

Aku terkejut dan merasa takut.

Ia menenangkan: "Tidak perlu takut. Ajarkan kepadaku sebagian dari Al-Qur'an."

🕌 Kemudian ia membuka hakikat dirinya:

"Kami adalah jin muslim. Kami membaca Al-Qur'an dan melaksanakan shalat.

🚫 Rumah ini biasanya hanya disewa oleh orang-orang fasik.

🍷 Mereka berkumpul di sini untuk meneguk miras.

Karena mereka mengganggu kami, kami mencekik mereka hingga mati."

(Al-Funun karya Ibnu Aqil; Siyar: 19 /450; Dzail Thabaqat Hanabilah: 1/183).

Pembaca,
Al-Qur'an adalah sebab datangnya penjagaan dan keberkahan dari Allah bagi orang yang membacanya dengan iman dan ikhlas.

Sebaliknya,
Kemaksiatan mengundang kebinasaan.

https://t.me/Teladanumat
☔️
Merangkul, Bukan Memukul: Seni Mengajak Saudara Menuju Taubat

🫧 Suatu ketika Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu merasa kehilangan seorang teman dari penduduk Syam yang dikenal baik dan biasa menghadiri majelisnya.

Beliau pun bertanya kepada para sahabatnya: "Bagaimana kabar Fulan bin Fulan?"

📝 "Wahai Amirul Mukminin, saat ini ia betul-betul ketagihan dan sering meminum khamr (miras), sehingga kami tidak melihatnya selama beberapa hari."

✍️ Maka Umar radhiallahu anhu memanggil juru tulisnya dan berkata:

"Tuliskan:
Dari Umar bin Al-Khattab kepada Fulan bin Fulan. Salam keselamatan atasmu.

📜 Amma ba'du: Sesungguhnya aku memuji Allah yang tiada Ilah yang haq selain-Nya.

غَافِرِ ٱلذَّنۢبِ وَقَابِلِ ٱلتَّوْبِ شَدِيدِ ٱلْعِقَابِ ذِى ٱلطَّوْلِ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ ٱلْمَصِيرُ

"Dzat yang Maha mengampuni dosa dan menerima taubat, lagi keras hukuman-Nya, memiliki karunia yang besar.

Tidak ada Ilah yang benar selain-Nya. Hanya kepada-Nya tempat kembali." (QS. Ghafir: 3).

🤲 Kemudian Umar radhiallahu anhu meminta kepada para sahabatnya:

"Berdoalah kepada Allah untuk saudara kalian, agar hatinya mudah kembali kepada Allah dan Allah menerima taubatnya."

📨 Ketika surat Umar radhiallahu anhu sampai kepadanya, laki-laki itu membacanya dan mengulang-ulangnya dalam hati sambil merenungi ayat Allah:

"Dzat yang Maha mengampuni dosa dan menerima taubat, lagi keras hukuman-Nya".

🌧️ Sungguh, Dia telah memperingatkanku akan siksaan-Nya dan menjanjikanku dengan ampunan-Nya.

💧 Ia terus mengulang-ulang ayat tersebut hingga terisak tangis, hingga kemudian tak lama ia bertaubat dengan taubat nasuha.

Allahu Akbar..

🌿 Ketika kabar tersebut sampai kepada Umar radhiyallahu 'anhu, beliau memberi pesan emas kepada para sahabatnya:

📢 "Seperti inilah semestinya yang dilakukan jika kalian melihat saudara kalian melakukan kesalahan!.

🛤️ Luruskan dan bimbing dia!
Berdoalah agar Allah menerima taubatnya.

🚫 Serta janganlah kalian menjadi pembantu setan atasnya."


(Tafsir Ibnu Katsir: Surat Ghafir: 3; Hilyatul Auliya': 4/97).

Pesan,
Perlakukan pelaku dosa layaknya pasien yang butuh diobati, bukan musuh yang harus dimusuhi. Bimbing dengan doa, bukan vonis dengan cela. Karena caci maki tak pernah menyembuhkan hati.

https://t.me/Teladanumat
🩸
Raga Terbunuh, Tauhid Tetap Berkibar

🌄 Beliau adalah Asy-Syaikh Sulaiman bin 'Abdullah bin Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahumullah.

🕌 Dilahirkan pada tahun 1200 H di Dir'iyah.

📖 Di antara karya tulisnya yang paling terkenal adalah kitab Taysir Al-'Aziz Al-Hamid, di mana beliau menjelaskan (mensyarah) Kitab At-Tauhid karya kakeknya, Syaikhul Islam Muhammad bin 'Abdul Wahhab rahimahullah.

🌿 Allah Ta'ala telah memuliakannya dengan mati syahid pada tahun 1233 H.

⚠️ Hal itu terjadi ketika sebagian kalangan memfitnahnya kepada Ibrahim bin Muhammad 'Ali Pasha, saat ia menguasai kota Dir'iyah pada tahun 1233 H. Maka Ibrahim Pasha menghadirkannya dan mencelanya dengan perkataan yang kasar.

🏛️ Ibrahim Pasha adalah bagian dari pemerintahan Utsmani (Ottoman).

🚫 Ia termasuk ahli kesesatan dan kefasikan, serta bertekad untuk membinasakan setiap dai yang menyelisihi jalan pemahaman mereka.

Ia menghina Syaikh Sulaiman dengan keji, dengan sengaja pula ia mendatangkan alat-alat musik dan berbagai kemungkaran di hadapan Syaikh untuk memancing kemarahannya.

🪦 Pada puncaknya, ia membawa Syaikh keluar ke pemakaman dan memerintahkan para prajuritnya untuk mengarahkan peluru secara serentak ke arahnya.

Mereka pun menembaki Syaikh hingga tubuhnya hancur berkeping-keping.

Dan wafat lah Syaikh dengan penuh kedzaliman, rahimahullah rahmatan wasi'ah.

📚 (Masyahir 'Ulama Najd: 31; 43 Qishah min Hayat Shahabah wal Ulama': 122-123).

Pembaca,
Mengapa yang demikian terjadi?
Karena memang mereka tidak suka dengan dakwah tauhid. Lagi sangat benci kepada keluarga Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah.

🔋Namun, panji kedzaliman dan kekuasaan buruk tidak akan abadi. Allah menggantinya dengan kekuasaan yang menjunjung tinggi pilar tauhid.

﴿يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾

"Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan perkataan mereka, tetapi Allah enggan selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya." (Ash-Shaf:8).

📝 Mengajarkan bahwa kebenaran akan tetap menang. Tiada perjuangan yang sia-sia. Tauhid tetap berkibar. Dakwah yang lurus akan berjaya. Dan akhir yang indah bersama ahlul-haq.

https://t.me/Teladanumat
🏷
Ketika Ilmu Berbuah Bakti

Ali bin Al-Husain rahimahullah adalah ulama yang sangat berbakti kepada ibunya.

Meskipun demikian, beliau tidak pernah makan bersama ibunya dalam satu nampan.

Pernah beliau ditanya:
"Engkau dikenal sangat berbakti kepada ibumu, namun mengapa kami tidak pernah melihatmu makan bersamanya?"

Beliau menjawab:
💬 "Aku khawatir tanganku mendahului mengambil makanan yang sudah dilirik oleh matanya, sehingga aku menjadi anak yang durhaka".

💧 Diriwayatkan dari Anas bin An-Nadhir:

🌙 Bahwa ibu Ibnu Mas'ud radhiallahu anhu pernah meminta air di suatu malam, lalu Ibnu Mas'ud pergi mengambilkannya.

🥤 Ketika beliau kembali membawa air, ternyata ibunya telah tertidur. Beliau pun memagang cawan air itu di dekat kepala ibunya hingga subuh.

🕋 Dzabyan bin Ali Ats-Tsauri adalah ulama yang sangat berbakti kepada ibunya. Suatu saat beliau pernah bepergian bersama ibunya ke Mekkah.

☀️ Ketika itu hari sangat panas, maka beliau menggali galian kecil, lalu membentangkan kain kulit dan menuangkan air di dalamnya.

Kemudian beliau berkata kepada ibunya:
💬 "Berendamlah di air ini agar dingin".

📚 Haiwah bin Syuraih rahimahullah ketika itu sedang mengajar.

Tiba-tiba ibunya memintanya untuk memberi pakan ayam ternak mereka.

🌾 Maka beliau pun berdiri meninggalkan majelisnya dan menuruti perintah ibunya.

🪴 Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma memiliki seekor keledai yang biasa beliau gunakan ketika lelah berkendara, dan sorban yang sering beliau kenakan.

Suatu hari, ketika beliau sedang menunggangi keledainya lewat seorang arab badui.

Maka beliau bertanya:
Bukankah engkau Fulan bin Fulan?
Ia menjawab, “Benar.”

Maka beliau memberikan kepadanya keledainya seraya berkata, “Naikilah ini.”

Beliau juga memberikan kepadanya sorbannya dan berkata, “Ikatkanlah ini di kepalamu.”

🔹Salah seorang sahabat beliau terheran:
"Semoga Allah mengampunimu. Engkau memberi keledai yang menjadi tunggangan istirahatmu dan sorban yang engkau butuhkan kepada badui ini".

📝 Ibnu Umar menjelaskan:
Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda,
Sesungguhnya termasuk bakti tertinggi adalah berbuat baik kepada sahabat orang tua setelah wafatnya".

Dan dulu ayah orang ini adalah sahabat dekat Umar radhiyallahu ‘anhu
.

🌴 Usamah bin Zaid radhiallahu anhuma memiliki pohon kurma di Madinah. Harga satu pohon kurma saat itu bisa mencapai seribu dinar.

🌱 Pada suatu hari, ibunya mengidam jummar (umbul inti batang kurma yang manis).

🪓 Maka Beliau langsung menebang pohon kurma produktif miliknya demi mengambil jummar tersebut.

Ketika ditanya tentang alasannya, beliau menerangkan:

💬 "Tidak ada suatu hal pun yang diminta oleh ibuku dan aku sanggup melakukannya, melainkan pasti akan aku penuhi."

Allahu Akbar.

🪧 Kaum salaf tidak memandang berbakti kepada orang tua sebagai beban yang harus ditunaikan, tetapi sebagai kesempatan emas yang jangan sampai terlewatkan.

Inilah buah ilmu benar-benar hidup di dalam hati: membentuk kepribadian yang semakin dekat kepada Allah dan besar bakti kepada orang tuanya.

(Shahih Muslim: 2552; Zadul Mudznibin wa Rihlatut Taibin: 29-30).

https://t.me/Teladanumat
🕌
Quba: Menyusuri Jejak Hijrah Baginda ﷺ

Quba menjadi salah satu tempat penting dalam perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ menuju Madinah. Di sinilah beliau ﷺ singgah beberapa hari dan mendirikan Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun atas dasar ketakwaan.

📖 Allah ﷻ berfirman tentang Masjid Quba:

«لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ»

"Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih berhak untuk engkau melaksanakan shalat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108).

📜Nabi ﷺ bersabda:
Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan melaksanakan shalat di dalamnya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala umrah.” (Shahih Ibnu Majah).

🏗️ Masjid Quba telah mengalami beberapa kali pemugaran dan perluasan. Salah satu perluasan besar dilakukan pada masa Raja Fahd bin Abdulaziz rahimahullah.

💧 Bagian barat Quba terdapat
Sumur Aris/Al-Khatam.

🕳️ Sumur Aris merupakan salah satu sumur bersejarah yang keberadaannya telah dikenal sejak masa sebelum Islam. Sumur ini terletak di sebelah barat daya Masjid Quba.

💍 Sumur ini juga dikenal juga dengan nama Sumur Al-Khatam (Cincin). Nama tersebut berkaitan dengan peristiwa jatuhnya cincin Nabi ﷺ ke dalam sumur pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

📜 Nabi ﷺ pernah duduk di bibir lingkaran sumur. Abu Bakar Ash-Shiddiq duduk di sebelah kanan beliau, Umar bin Khattab di sebelah kirinya, sedangkan Utsman bin Affan duduk di hadapan mereka radhiallahu anhum.

Pada saat itu, Nabi ﷺ memberikan kabar gembira kepada mereka dengan surga.

🏠 Kemudian dekat darinya terdapat rumah sahabat Kultsum bin Al-Hadm Al Ausi Al Anshari radhiallahu anhu.

🕌 Ketika berhijrah ke Madinah, Nabi ﷺ singgah di rumah ini dan menginap selama beberapa hari.

📚 Banyak sahabat yang juga singgah di rumah ini ketika berhijrah ke Madinah, di antaranya:

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Al-Miqdad bin Amr, Khabab bin Al-Art, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa'ad bin Khaulah, dan para sahabat mulia lainnya radhiallahu anhum.

Tak beberapa lama setelah hijrah Nabi ﷺ sahabat Kultsum wafat. Semoga Allah meridhainya.

🏠Kemudian tepat di depan rumah sahabat Kultsum terdapat rumah sahabat Sa'ad bin Khaitsamah radhiallahu anhu.
Beliau dari suku Aus, dan beliau termasuk Syuhada Badr.

​Rumah ini terletak di sebelah barat daya Masjid Quba, menempel dengannya. Saat ini termasuk bagian dari masjid.

Ketika Nabi ﷺ berhijrah dan menetap sesaat di Quba, beliau menerima para tamunya di rumah ini.

🪴​Banyak sahabat yang singgah/tinggal di rumah ini ketika mereka berhijrah ke Madinah, di antaranya:

​Hamzah bin Abdul Mutthalib, ​Zaid bin Haritsah, ​Abu Martsad Al-Ghanawi, ​Abdullah bin Mas'ud, ​Dzusy-Syimalain bin Abd Amr,
​Shuhaib Al-Rumi, ​Bilal bin Rabah, dan banyak yang lain radhiallahu anhum.

🎑 Juga dekat dari Masjid Quba terdapat Bustan Al-Mustazhal (kebun berteduh) merupakan tempat pertama yang disinggahi Nabi Muhammad ﷺ setibanya di Madinah.

Ditemani oleh sahabat karibnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu.

🏡Tempat ini dinamakan Al-Mustazhal untuk mengabadikan peristiwa ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu anhu membentangkan selendangnya untuk menaungi Rasulullah ﷺ dari teriknya matahari dan untuk membedakan beliau dari yang lain.

https://t.me/Teladanumat
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Peta perjalanan hijrah Nabi ﷺ dari Makkah ke Madinah.
💡
Ingin Baik Bersama

Ibrahim an-Nakha‘i adalah seorang tabi‘in mulia yang buta satu mata.

Adapun muridnya, Sulaiman al-A‘masy memiliki penglihatan yang lemah.

🕌 Suatu ketika keduanya berjalan bersama menuju masjid melalui salah satu jalan di Kufah.

💬 Imam Ibrahim berkata:
“Wahai Sulaiman, maukah kita mengambil jalan yang berbeda?

Aku khawatir jika kita berjalan bersama, orang-orang yang bodoh akan berkata:

‘Seorang yang buta sebelah sedang menuntun seorang yang lemah penglihatannya.’

Kemudian mereka menggunjing kita dan mendapatkan dosa.

💭 Al-A‘masy menjawab:
“Wahai Abu ‘Imran, apa masalahnya jika kita mendapatkan pahala sementara mereka mendapatkan dosa?”

🤍 Imam Ibrahim pun berkata:
Subhanallah! Kita selamat dan mereka pun selamat, itu lebih baik daripada kita mendapatkan pahala sementara mereka berdosa.”

Allahu Akbar. Semoga Allah merahmati mereka.

(Al-Muntazham fi at-Tarikh: 7/15).

Pembaca,
Mengingkan kebaikan untuk sesama adalah akhlak mulia. Bukan hanya menjauhkan diri dari dosa, tetapi juga berusaha menjaga agar tidak menjadi sebab orang lain terjatuh ke dalam dosa.
Astaghfirullah.

https://t.me/Teladanumat
🔗
Kekuatan Satu Ayat
Suci

Selain biasa membacakan ayat kursi dan tiga surat akhir Quran, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga sering membacakan ke telinga orang yang kesurupan firman Allah:

أفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan?”
(Al-Mu’minun: 115).

Ibnu Taimiyyah bercerita kepada muridnya Ibnul Qayyim rahimahumallah:

📖 Suatu kali aku membacakan ayat tersebut ke telinga orang yang kesurupan.

👤 Maka jin itu mengejek ketakutan:
‘Yaaaa.’
Ia memanjangkan suaranya ketika mengucapkannya.

Kemudian aku mengambil sebuah tongkat dan memukulnya pada urat-urat lehernya. Aku terus memukulnya sampai tanganku terasa lelah.

⚠️ Orang-orang yang hadir sampai menyangka bahwa orang tersebut akan meninggal karena pukulan itu.

Di tengah-tengah pukulan, jin tersebut menipu:
‘Aku mencintainya.’

Aku menegaskan:
‘Dia tidak mencintaimu.’

🕋 Jin itu melanjutkan:
‘Aku ingin pergi haji bersamanya.’

Aku menimpali:
‘Dia tidak ingin pergi haji bersamamu.’

Jin itu kemudian berujar:
‘Aku akan meninggalkannya sebagai penghormatan kepadamu.’

Aku menegaskan:
‘Bukan. Tetapi keluarlah karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya.’

🚪 Jin itu pun mengatakan:
‘Kalau begitu, aku akan keluar darinya.’

Kemudian orang yang kesurupan itu tersadar dan menoleh ke kanan dan ke kiri.

‘Apa yang membawaku ke hadapan Syaikh?’
Tanyanya heran.

Orang-orang berkata kepadanya:
‘Bagaimana dengan semua pukulan tadi?’

💬 Ia menjawab:
‘Atas dasar apa Syaikh memukulku? Aku tidak melakukan dosa.’

⚠️ Ia sama sekali tidak merasakan bahwa dirinya telah dipukul.

Karena yang merasakannya adalah jin .

Lihat!
Kekuatan satu ayat Quran. Membuat musuh tak berdaya. Maka bentengilah diri dengannya!.

Jangan sampai terlewat satu hari melainkan kita telah membaca firman-Nya!.

(Zadul Ma'ad: 4:62-63).

https://t.me/Teladanumat