Forwarded from Syabab Salafy Creative
Forwarded from Syabab Salafy Creative
611. JANGAN TINGGALKAN WITIR
Yuk Share! Amanah, No Crop!
🖌️SSC
@syababsalafycreative
@syababpekanbaru
t.me/syababsalafycreative
___
#shalat #witir #ganjil #salafyindonesia #muslim #islam #ahlussunnah #salafypekanbaru #syababsalafycreative #syababpekanbaru
Yuk Share! Amanah, No Crop!
🖌️SSC
@syababsalafycreative
@syababpekanbaru
t.me/syababsalafycreative
___
#shalat #witir #ganjil #salafyindonesia #muslim #islam #ahlussunnah #salafypekanbaru #syababsalafycreative #syababpekanbaru
Forwarded from Syabab Salafy Creative
963. WAS-WAS
Silahkan di share tanpa di CROP!
🖌️ SSC
@syababsalafycreative
@syabab_pekanbaru
t.me/syababsalafycreative
instagram.com/syabab.pekanbaru
#syababsalafycreative
#syababpekanbaru
Silahkan di share tanpa di CROP!
🖌️ SSC
@syababsalafycreative
@syabab_pekanbaru
t.me/syababsalafycreative
instagram.com/syabab.pekanbaru
#syababsalafycreative
#syababpekanbaru
Forwarded from Syabab Salafy Creative
433. DIANTARA WAS-WAS DARI SETAN
Yuk Share!, No Crop!
🖌️SSC
@syababsalafycreative
@syababkotamobagu
t.me/syababsalafycreative
_______________
#sholat #syababsalafycreative #syababkotamobagu #kotamobagu
Yuk Share!, No Crop!
🖌️SSC
@syababsalafycreative
@syababkotamobagu
t.me/syababsalafycreative
_______________
#sholat #syababsalafycreative #syababkotamobagu #kotamobagu
Bismillah.
💪 Semangat tholabul Ilmi..
🌹 Terus berjuang dalam ketaatan hingga berjumpa dengan Allah Ta'ala.
@THYB6
💪 Semangat tholabul Ilmi..
🌹 Terus berjuang dalam ketaatan hingga berjumpa dengan Allah Ta'ala.
@THYB6
Forwarded from Salafy Indonesia
💥⚠⛔🔥 MENGUTAMAKAN DUNIA TANDA HATI YANG SAKIT
✍🏼 Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
كلما صحّ القلب من مرضه ترحل إلى الآخرة وقرب منها، حتى يصير من أهلها، وكلما مرض القلب واعتل آثر الدنيا واستوطنها، حتى يصير من أهلها.
"Semakin sehat sebuah hati dari sakitnya maka dia menuju akhirat dan mendekatinya, hingga dia menjadi termasuk penduduknya. Dan semakin sakit dan berpenyakit sebuah hati maka dia akan mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat tinggalnya selamanya, hingga dia menjadi termasuk penduduknya."
🌍 Sumber || https://twitter.com/m_g_alomari/status/888286943988994048
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
✍🏼 Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
كلما صحّ القلب من مرضه ترحل إلى الآخرة وقرب منها، حتى يصير من أهلها، وكلما مرض القلب واعتل آثر الدنيا واستوطنها، حتى يصير من أهلها.
"Semakin sehat sebuah hati dari sakitnya maka dia menuju akhirat dan mendekatinya, hingga dia menjadi termasuk penduduknya. Dan semakin sakit dan berpenyakit sebuah hati maka dia akan mengutamakan dunia dan menjadikannya sebagai tempat tinggalnya selamanya, hingga dia menjadi termasuk penduduknya."
🌍 Sumber || https://twitter.com/m_g_alomari/status/888286943988994048
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Forwarded from Salafy Indonesia
✋🏻👍🏻📢💐 KESUSAHAN MENGANTARKAN KEPADA KEBAHAGIAAN
✍🏻 Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
ومن رحمته -سبحانه- : أن نَغّص عليهم الدنيا وكدَّرها، لئلَّا يسكنوا إليها، ولا يطمئنوا إليها، ويرغبوا في النَّعيم المُقيم في داره وجواره، فساقهم إلى ذلك بسياط الابتلاء والامتحان،
فمنَعهم ليُعطيَهُمْ،
وابتلاهُم ليُعافيَهُمْ،
وأماتهم ليُحْييَهُمْ.
Di antara rahmat Allah subhanahu wa ta’ala adalah Allah memberikan kesusahan dan tidak memberi kebahagiaan (yang hakiki) dengan (kenikmatan) dunia kepada para hamba, agar mereka:
√ tidak (terlalu) tenang dan tenteram dengannya.
√ bersemangat mendapatkan kenikmatan di tempat-Nya yang abadi.
Oleh karena itu, Allah menggiring mereka menuju surga-Nya dengan (perantaraan) ujian dan musibah.
Allah halangi mereka mendapatkan suatu kesenangan (yang fana) dalam rangka menganugerahkan suatu kenikmatan (yang lebih baik dan kekal).
Allah memberi ujian kepada mereka (di dunia) dalam rangka memberi keselamatan (di akhirat)
Allah mematikan mereka (di dunia) dalam rangka mengaruniakan kehidupan (yang lebih baik dan kekal di akhirat).
📚 (Ighatsatul Lahafan, 2/917)
🌎 Kunjungi || https://forumsalafy.net/kesusahan-mengantarkan-kepada-kebahagiaan/
⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
✍🏻 Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
ومن رحمته -سبحانه- : أن نَغّص عليهم الدنيا وكدَّرها، لئلَّا يسكنوا إليها، ولا يطمئنوا إليها، ويرغبوا في النَّعيم المُقيم في داره وجواره، فساقهم إلى ذلك بسياط الابتلاء والامتحان،
فمنَعهم ليُعطيَهُمْ،
وابتلاهُم ليُعافيَهُمْ،
وأماتهم ليُحْييَهُمْ.
Di antara rahmat Allah subhanahu wa ta’ala adalah Allah memberikan kesusahan dan tidak memberi kebahagiaan (yang hakiki) dengan (kenikmatan) dunia kepada para hamba, agar mereka:
√ tidak (terlalu) tenang dan tenteram dengannya.
√ bersemangat mendapatkan kenikmatan di tempat-Nya yang abadi.
Oleh karena itu, Allah menggiring mereka menuju surga-Nya dengan (perantaraan) ujian dan musibah.
Allah halangi mereka mendapatkan suatu kesenangan (yang fana) dalam rangka menganugerahkan suatu kenikmatan (yang lebih baik dan kekal).
Allah memberi ujian kepada mereka (di dunia) dalam rangka memberi keselamatan (di akhirat)
Allah mematikan mereka (di dunia) dalam rangka mengaruniakan kehidupan (yang lebih baik dan kekal di akhirat).
📚 (Ighatsatul Lahafan, 2/917)
🌎 Kunjungi || https://forumsalafy.net/kesusahan-mengantarkan-kepada-kebahagiaan/
⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://telegram.me/forumsalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Forwarded from Salafy Indonesia
✋🏻⚠🚫📑 DIANTARA SUNNAH YANG TELAH DITINGGALKAN MANUSIA SETELAH MEMBACA AL-QURAN
Janganlah engkau membaca:
صدق الله العظيم
akan tetapi bacalah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca al-Qur'an.
Disunnahkan setelah selesai membaca al-Qur'an untuk membaca:
( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
◎ Dalil akan hal itu adalah:
Dari Aisyah radhiallahu ’anha berkata:
Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan tidaklah membaca Qur'an dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu.”
Lalu Aisyah berkata:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Qur'an, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?”
Jawab beliau: “Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.
( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Imam an-Nasaai membuat bab atas hadits ini dengan perkataan beliau: “Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Qur'an.”
Sanadnya shahih: Dikeluarkan oleh an-Nasaai dalam as-Sunan al-Kubra dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam nn-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam ash-Shahihah 7/495 : Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.
Syaikh Muqbil al-Wadii berkata dalam al-Jami’ as-Shahih mimma Laisa fi ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yang shahih.
Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca al-Qur'an: Shadaqallahul Azhiim.
● Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim:
Menjadikan kalimat “Shadaqallahul Azhiim” dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca al-Qur'an itu bid’ah.
Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca al-Qur'an.
Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan al-Qur'an niscaya beliau membaca setelahnya.
Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhary dan Muslim)
Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.
Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.
Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.
Dipimpin oleh Imam Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah
Anggota: Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah Abdur Razzaq Afifi rahimahullah.
[Sumber Fatwa no 7306]
📚 Sumber || http://cutt.us/WRFgL
🌏 Kunjungi || http://bit.ly/2qG5BwK
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Janganlah engkau membaca:
صدق الله العظيم
akan tetapi bacalah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Sunnah yang kebanyakan manusia melalaikannya setelah membaca al-Qur'an.
Disunnahkan setelah selesai membaca al-Qur'an untuk membaca:
( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
◎ Dalil akan hal itu adalah:
Dari Aisyah radhiallahu ’anha berkata:
Tidaklah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam duduk di satu majlispun dan tidaklah membaca Qur'an dan mengerjakan shalat apapun kecuali beliau menutupnya dengan bacaan itu.”
Lalu Aisyah berkata:
Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, saya melihat engkau. Tidaklah engkau duduk dalam suatu majlis, tidak pula engkau membaca Qur'an, tidak pula engkau mengerjakan shalat apapun kecuali engkau menutupnya dengan membaca bacaan tadi?”
Jawab beliau: “Ya, barangsiapa yang mengucapkan kebaikan ditutup untuknya penutup di atas kebaikan tadi. Dan barang siapa yang mengucapkan kejelekan (dalam majlisnya), maka bacaan doa tadi sebagai penghapus kejelekan (kaffarah) baginya.
( سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، أشهد أن لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ).
“Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”
Imam an-Nasaai membuat bab atas hadits ini dengan perkataan beliau: “Bab Apa yang dibaca setelah membaca Al-Qur'an.”
Sanadnya shahih: Dikeluarkan oleh an-Nasaai dalam as-Sunan al-Kubra dan al-Hafizh Ibnu Hajar dalam nn-Nukat 2/733. Sanadnya shahih.
Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam ash-Shahihah 7/495 : Ini adalah sanad yang shahih juga diatas syarat Muslim.
Syaikh Muqbil al-Wadii berkata dalam al-Jami’ as-Shahih mimma Laisa fi ash-Shahihain 2/128: Ini adalah sanad yang shahih.
Manusia sekarang meninggalkan sunnah yang satu ini, mereka malah membaca doa setelah membaca al-Qur'an: Shadaqallahul Azhiim.
● Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah Tentang Shadaqallahul Azhiim:
Menjadikan kalimat “Shadaqallahul Azhiim” dan yang semisalnya sebagai penutup untuk membaca al-Qur'an itu bid’ah.
Karena tidak pasti dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam kalau beliau membacanya setiap selesai membaca al-Qur'an.
Kalau seandainya hal itu disyariatkan untuk menutup bacaan al-Qur'an niscaya beliau membaca setelahnya.
Dan telah pasti dari beliau bahwasanya beliau bersabda:
“Barang siapa yang mengada-adakan dalam urusan kami ini perkara yang bukan darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhary dan Muslim)
Hanya Allahlah tempat memohon Taufiq.
Dan shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, Keluarga beliau dan sahabat beliau.
Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiyah Dan Fatwa.
Dipimpin oleh Imam Abdul Aziz Bin Baz rahimahullah
Anggota: Al-Allamah Abdullah bin Ghudayyan rahimahullah.
Anggota Al-Allamah Abdur Razzaq Afifi rahimahullah.
[Sumber Fatwa no 7306]
📚 Sumber || http://cutt.us/WRFgL
🌏 Kunjungi || http://bit.ly/2qG5BwK
⚪ WhatsApp Salafy Indonesia
⏩ Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy
💎💎💎💎💎💎💎💎💎
Forwarded from 🌹SyarhusSunnahLinNisaa`🌹
🌴🌸🌴🌸🌴🌸🌴🌸🌴🌸
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋🎒 JADILAH HAMBA YANG SHALIH
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ((قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَاقْرَؤُوا إنْ شِئْتُمْ: {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [السجدة: ١٧])). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
✏️ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Allah ta‘ala berfirman: Aku telah mempersiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia.
Bacalah jika ingin (artinya),
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Q.S. As-Sajdah: 17).
Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (3244) dan Muslim (2824)].
🍃🌷🍃🌷🍃
👉🏻 Orang shalih ialah yang menunaikan hak Allah dan hak sesama makhluk. Dalam banyak ayat dan hadits dirinci hak-hak tersebut.
Orang yang menunaikan hak Allah dan hak sesamanya, bagi mereka kenikmatan surga.
🚂 Di surga, kita bisa menginginkan nikmat “apa saja”. Benar! “Apa saja”. Semuanya ada. Kapan pun ada. Selalu ada. Seluruhnya sempurna.
Ahli surga tidak pernah berhenti dari merasakan kenikmatan surga. Sepanjang waktu. Karena penduduk surga tidak tidur. Di seluruh waktu mereka dalam kenikmatan.
Sedangkan di dunia, walaupun kita berikan 24 jam waktu kita untuk mengejar tujuan kita, tidak akan bisa mendapatkan “apa saja”. Yang didapatkan hanya hal tertentu saja, sudah itu, terbatas pula.
👉🏻 Dari sini, sudah dapat kesimpulan bahwa kewajiban akhirat harus lebih diprioritaskan daripada dunia?!
👉🏻 Lihat hadits di atas.
Kenikmatan yang Allah persiapkan di surga ialah, “... nikmat yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia.”
Maka ada 2️⃣ poin:
1️⃣. Ada nikmat surga yang Allah ceritakan kepada kita: sungai yang bebas dialirkan ke mana pun, pepohonan, kebun dengan segala buahnya, istana, sutra, emas dan perak, bidadari, dipan dan kasur yang nyaman, makanan dan minuman lezat, dan lain-lain.
Terbayang dari namanya, tapi kenyataannya yang di surga, jauh lebih indah dari bayangan manusia.
Sebab manusia hanya bisa membayangkan nikmat yang mereka tahu di dunia. Sedangkan di surga, lebih indah dari segala yang ada di dunia.
2️⃣. Di luar dari nikmat surga yang Allah ceritakan, masih ada banyak kenikmatan lainnya.
Nikmat yang tidak bisa dibayangkan. Kenikmatan yang di luar dugaan dan khayalan manusia.
__Akhir kalam, semoga Allah menjadikan kita sebagai para penghuni surga. Aamiin..._€
📕 Referensi:
- Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajjaj, 43/556-562.
- Mauqiʼ al-Jamharah.
✍ -- Hari Ahadi, 09 Dzulqaʼdah 1443 / 09 Juni 2022
Penjelasan Bab: Kenikmatan yang Allah Persiapkan untuk Para Penghuni Surga | Kitab Riyadhus Shalihin https://t.me/nasehatetam www.nasehatetam.net
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa
https://t.me/syarhussunnahlinnisa
http://t.me/Arsip_PosterSSLN
https://catatanmms.wordpress.com
🖥 Https://akhwat.net
_*Karena Engkau Wajib Menuntut Ilmu*_
🇸 🇸 🇱 🇳
——— ✧ ※🌹🌹※ ✧ ———
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋🎒 JADILAH HAMBA YANG SHALIH
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ((قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَاقْرَؤُوا إنْ شِئْتُمْ: {فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [السجدة: ١٧])). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
✏️ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Allah ta‘ala berfirman: Aku telah mempersiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia.
Bacalah jika ingin (artinya),
Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(Q.S. As-Sajdah: 17).
Muttafaqun ‘alaihi [H.R. Al-Bukhari (3244) dan Muslim (2824)].
🍃🌷🍃🌷🍃
👉🏻 Orang shalih ialah yang menunaikan hak Allah dan hak sesama makhluk. Dalam banyak ayat dan hadits dirinci hak-hak tersebut.
Orang yang menunaikan hak Allah dan hak sesamanya, bagi mereka kenikmatan surga.
🚂 Di surga, kita bisa menginginkan nikmat “apa saja”. Benar! “Apa saja”. Semuanya ada. Kapan pun ada. Selalu ada. Seluruhnya sempurna.
Ahli surga tidak pernah berhenti dari merasakan kenikmatan surga. Sepanjang waktu. Karena penduduk surga tidak tidur. Di seluruh waktu mereka dalam kenikmatan.
Sedangkan di dunia, walaupun kita berikan 24 jam waktu kita untuk mengejar tujuan kita, tidak akan bisa mendapatkan “apa saja”. Yang didapatkan hanya hal tertentu saja, sudah itu, terbatas pula.
👉🏻 Dari sini, sudah dapat kesimpulan bahwa kewajiban akhirat harus lebih diprioritaskan daripada dunia?!
👉🏻 Lihat hadits di atas.
Kenikmatan yang Allah persiapkan di surga ialah, “... nikmat yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam pikiran manusia.”
Maka ada 2️⃣ poin:
1️⃣. Ada nikmat surga yang Allah ceritakan kepada kita: sungai yang bebas dialirkan ke mana pun, pepohonan, kebun dengan segala buahnya, istana, sutra, emas dan perak, bidadari, dipan dan kasur yang nyaman, makanan dan minuman lezat, dan lain-lain.
Terbayang dari namanya, tapi kenyataannya yang di surga, jauh lebih indah dari bayangan manusia.
Sebab manusia hanya bisa membayangkan nikmat yang mereka tahu di dunia. Sedangkan di surga, lebih indah dari segala yang ada di dunia.
2️⃣. Di luar dari nikmat surga yang Allah ceritakan, masih ada banyak kenikmatan lainnya.
Nikmat yang tidak bisa dibayangkan. Kenikmatan yang di luar dugaan dan khayalan manusia.
__Akhir kalam, semoga Allah menjadikan kita sebagai para penghuni surga. Aamiin..._€
📕 Referensi:
- Al-Bahr al-Muhith ats-Tsajjaj, 43/556-562.
- Mauqiʼ al-Jamharah.
✍ -- Hari Ahadi, 09 Dzulqaʼdah 1443 / 09 Juni 2022
Penjelasan Bab: Kenikmatan yang Allah Persiapkan untuk Para Penghuni Surga | Kitab Riyadhus Shalihin https://t.me/nasehatetam www.nasehatetam.net
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa
https://t.me/syarhussunnahlinnisa
http://t.me/Arsip_PosterSSLN
https://catatanmms.wordpress.com
🖥 Https://akhwat.net
_*Karena Engkau Wajib Menuntut Ilmu*_
🇸 🇸 🇱 🇳
——— ✧ ※🌹🌹※ ✧ ———
🏷️🌷🏷️🌷🏷️🌷🏷️🌷🏷️🌷🏷️
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋 NODA NIAT THALABUL ILMI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Ada beberapa bentuk kesedihan. Dan manusia tak bisa hidup lepas dari kesedihan. Hanya saja, kenapa dan untuk apa bersedih? Itulah pembedanya.
👉🏻 Ada 2 sebab yang juga membuat bersedih:
1️⃣. Pertama ; tentang seorang santri yang berpotensi. Pintar. Cerdas. Baik-baik saja. Didukung orangtua. Finansial cukup. Sopan sikap dan perilaku. Tetiba, ia ingin berhenti jadi santri.
2️⃣. Kedua ; seorang sahabat. Semangat berbuat baik. Cinta kepada ilmu. Terdepan di majlis ilmu. Baik akhlaknya. Sayangnya menghilang. Tak lagi hadir bersama mencari ilmu.
Perlu dicari, apa sebabnya❓ Agar ke depan dapat diantisipasi.
Niat sangat menentukan. Ibarat tumbuhan, niat adalah akar thalabul ilmi. Akar berfungsi untuk menyokong, memperkuat, dan mengokohkan tumbuhan. Thalabul ilmi pun akan kokoh bila kuat mengakar.
Sebagaimana akar dapat menyerap makanan, air, dan unsur hara. Maka, niat akan memacu semangat untuk terus bertahan dan menambah ilmu.
Bicara niat sangat sensitif. Privasi. Urusannya hati. Apalagi jika tentang orang lain. Lebih-lebih menilai atau menghukumi. Berat. Bahkan, jangan!
Jika demikian, ulama Salaf lah yang menjadi sandaran.
🖊️ Hisyam ad Dustuwa'i (Siyar A'lam Nubala) menyatakan,
"Demi Allah! Saya tidak bisa berkata pasti, bahwa saya pernah satu hari sekalipun menuntut ilmu hadis untuk berharap wajah Allah."
🖊️ Adz Dzahabi menambahkan,
"Demi Allah! Saya pun tidak berani mengatakan demikian"
Walau seperti itu, bukan artinya tidak berthalabul ilmi. Jangan jadikan alasan berhenti ngaji. Itu bukan penghalang menghadiri majlis ilmu.
Belajarlah dan teruslah belajar! Dengan ilmu yang dipelajari, akan diketahuilah keikhlasan.
🖊️ Mujahid bin Jabr, ulama tabiin pakar tafsir dari Mekkah, mengakui :
"Dulu saat kami thalabul ilmi, mula-mula tidak begitu besar niatnya. Kemudian, setelah itu Allah karuniakan niat yang benar"
💦 Noda-noda yang mengotori niat sangat variatif. Motifnya beragam. Niat yang semestinya tulus hanya untuk Allah Ta'ala dirusak oleh bercak-bercak dan bopeng-bopeng dunia.
📋Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
مَن طلبَ العِلمَ ليُجاريَ بهِ العلَماءَ أو ليُماريَ بهِ السُّفَهاءَ أو يصرِفَ بهِ وجوهَ النَّاسِ إليهِ أدخلَهُ اللَّهُ النَّارَ
"Barangsiapa berthalabul ilmu dengan tujuan ; membanggakan diri di hadapan ulama, mencari bahan mendebat orang bodoh atau mencari perhatian orang agar terarah padanya, kelak Allah masukkan dia dalam Neraka."
(HR Tirmidzi no.2654 dan disahihkan Al Albani.)
📘 Thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, sejatinya cara untuk dimudahkan masuk surga. Maka, tak boleh kotor niatnya.
Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menerangkan beberapa noda niat Thalabul Ilmi :
1️⃣. Membanggakan diri dihadapan ulama. Supaya ulama memujinya. Agar terlihat hebat dan terkesan baik di mata ulama.
2️⃣. Memperoleh bahan untuk berdebat. Supaya bisa merendahkan dan membuat malu orang lain. Ada kesempatan membodoh-bodohi. Punya peluang untuk menjatuhkan orang.
3️⃣. Mencari simpati. Berharap pujian dan sanjungan. Agar orang-orang memperhatikan. Supaya dihormati dan dimuliakan. Agar banyak pengikutnya. Agar tidak dijauhi dan ditinggalkan.
💥 Na'udzubillah, ancamannya sangat mengerikan! Neraka.
Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama.
🖊️ Al Fudhail bin Iyadh ( Siyar A'lam Nubala) berkata,
"Kasihan benar engkau, He. Engkau jahat tapi merasa baik. Engkau bodoh namun menganggap diri pintar. Engkau kikir tapi merasa dermawan. Engkau dungu namun menganggap berakal. Ajalmu pendek walau angan-anganmu panjang."
🖊️Adz Dzahabi menambahkan,
(*"Demi Allah, beliau memang benar! Engkaulah yang zalim tapi merasa dizalimi. Engkau makan yang haram namun menganggap diri wara'. Engkau fasik tapi merasa bersikap adil"**
"Engkau thalabul ilmi untuk tendensi duniawi, namun engkau beralasan mencarinya karena Allah", pungkas Adz Dzahabi.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
📋 NODA NIAT THALABUL ILMI
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Ada beberapa bentuk kesedihan. Dan manusia tak bisa hidup lepas dari kesedihan. Hanya saja, kenapa dan untuk apa bersedih? Itulah pembedanya.
👉🏻 Ada 2 sebab yang juga membuat bersedih:
1️⃣. Pertama ; tentang seorang santri yang berpotensi. Pintar. Cerdas. Baik-baik saja. Didukung orangtua. Finansial cukup. Sopan sikap dan perilaku. Tetiba, ia ingin berhenti jadi santri.
2️⃣. Kedua ; seorang sahabat. Semangat berbuat baik. Cinta kepada ilmu. Terdepan di majlis ilmu. Baik akhlaknya. Sayangnya menghilang. Tak lagi hadir bersama mencari ilmu.
Perlu dicari, apa sebabnya❓ Agar ke depan dapat diantisipasi.
Niat sangat menentukan. Ibarat tumbuhan, niat adalah akar thalabul ilmi. Akar berfungsi untuk menyokong, memperkuat, dan mengokohkan tumbuhan. Thalabul ilmi pun akan kokoh bila kuat mengakar.
Sebagaimana akar dapat menyerap makanan, air, dan unsur hara. Maka, niat akan memacu semangat untuk terus bertahan dan menambah ilmu.
Bicara niat sangat sensitif. Privasi. Urusannya hati. Apalagi jika tentang orang lain. Lebih-lebih menilai atau menghukumi. Berat. Bahkan, jangan!
Jika demikian, ulama Salaf lah yang menjadi sandaran.
🖊️ Hisyam ad Dustuwa'i (Siyar A'lam Nubala) menyatakan,
"Demi Allah! Saya tidak bisa berkata pasti, bahwa saya pernah satu hari sekalipun menuntut ilmu hadis untuk berharap wajah Allah."
🖊️ Adz Dzahabi menambahkan,
"Demi Allah! Saya pun tidak berani mengatakan demikian"
Walau seperti itu, bukan artinya tidak berthalabul ilmi. Jangan jadikan alasan berhenti ngaji. Itu bukan penghalang menghadiri majlis ilmu.
Belajarlah dan teruslah belajar! Dengan ilmu yang dipelajari, akan diketahuilah keikhlasan.
🖊️ Mujahid bin Jabr, ulama tabiin pakar tafsir dari Mekkah, mengakui :
"Dulu saat kami thalabul ilmi, mula-mula tidak begitu besar niatnya. Kemudian, setelah itu Allah karuniakan niat yang benar"
💦 Noda-noda yang mengotori niat sangat variatif. Motifnya beragam. Niat yang semestinya tulus hanya untuk Allah Ta'ala dirusak oleh bercak-bercak dan bopeng-bopeng dunia.
📋Nabi Muhammad ﷺ bersabda :
مَن طلبَ العِلمَ ليُجاريَ بهِ العلَماءَ أو ليُماريَ بهِ السُّفَهاءَ أو يصرِفَ بهِ وجوهَ النَّاسِ إليهِ أدخلَهُ اللَّهُ النَّارَ
"Barangsiapa berthalabul ilmu dengan tujuan ; membanggakan diri di hadapan ulama, mencari bahan mendebat orang bodoh atau mencari perhatian orang agar terarah padanya, kelak Allah masukkan dia dalam Neraka."
(HR Tirmidzi no.2654 dan disahihkan Al Albani.)
📘 Thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, sejatinya cara untuk dimudahkan masuk surga. Maka, tak boleh kotor niatnya.
Dalam hadis di atas, Nabi Muhammad ﷺ menerangkan beberapa noda niat Thalabul Ilmi :
1️⃣. Membanggakan diri dihadapan ulama. Supaya ulama memujinya. Agar terlihat hebat dan terkesan baik di mata ulama.
2️⃣. Memperoleh bahan untuk berdebat. Supaya bisa merendahkan dan membuat malu orang lain. Ada kesempatan membodoh-bodohi. Punya peluang untuk menjatuhkan orang.
3️⃣. Mencari simpati. Berharap pujian dan sanjungan. Agar orang-orang memperhatikan. Supaya dihormati dan dimuliakan. Agar banyak pengikutnya. Agar tidak dijauhi dan ditinggalkan.
💥 Na'udzubillah, ancamannya sangat mengerikan! Neraka.
Memang sensitif jika bicara niat. Tetapi, hal ini selalu diingatkan ulama.
🖊️ Al Fudhail bin Iyadh ( Siyar A'lam Nubala) berkata,
"Kasihan benar engkau, He. Engkau jahat tapi merasa baik. Engkau bodoh namun menganggap diri pintar. Engkau kikir tapi merasa dermawan. Engkau dungu namun menganggap berakal. Ajalmu pendek walau angan-anganmu panjang."
🖊️Adz Dzahabi menambahkan,
(*"Demi Allah, beliau memang benar! Engkaulah yang zalim tapi merasa dizalimi. Engkau makan yang haram namun menganggap diri wara'. Engkau fasik tapi merasa bersikap adil"**
"Engkau thalabul ilmi untuk tendensi duniawi, namun engkau beralasan mencarinya karena Allah", pungkas Adz Dzahabi.
💦 Sedih sangat! Jika ada santri punya banyak potensi, pintar, cerdas, baik, sopan, dan semangat. Namun, di tengah perjalanan, ia ingin berhenti jadi santri. Ia ingin kerja, ingin cepat menikah saja, ingin jadi orang biasa, katanya.
💦 Sedih juga, bila punya teman. Dia lebih pintar. Dia lebih cerdas. Dia lebih sopan. Dia lebih rajin. Tetapi, setelah cukup jauh melangkah, ia menghilang. Thalabul ilmi ditinggalkan.
☝🏻 Maka, koreksi niat harus rutin dilakukan. Menjaga dan merawat niat agar tetap bersih dan jernih. Niat terus dievaluasi supaya selalu bening dan hening. Cerah dan tidak keruh.
Apalah kita❓ Lemah dan kerdil. Naif dan bodoh.
🖊️Imam Ahmad bin Hanbal (Raudhatul Muhibbin 1/69) saja ketika ditanya,
"Apakah Anda mempelajari ilmu karena Allah? ".
"Adapun karena Allah, amatlah berat. Namun, sesuatu yang aku dibuat suka, maka aku lakukan" , jawab beliau.
✔️ Jika niat thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, benar-benar lillahi Ta'ala, tentu akan bertahan.
🥀 Bila salah niat, akan tiba waktunya menguap dan menghilang.
🖊️ Imam Malik bin Anas menyatakan,
"Apapun, jika niatnya Lillahi Ta'ala, tentu akan bertahan".
Di Calon Asrama Kelas IV
Awal Shafar 1444 H/29 Agustus 2022
t.me/anakmudadansalaf
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa
https://t.me/syarhussunnahlinnisa
http://t.me/Arsip_PosterSSLN
https://catatanmms.wordpress.com
🖥 Https://akhwat.net
_*Karena Engkau Wajib Menuntut Ilmu*_
🇸 🇸 🇱 🇳
——— ✧ ※🌹🌹※ ✧ ———
💦 Sedih juga, bila punya teman. Dia lebih pintar. Dia lebih cerdas. Dia lebih sopan. Dia lebih rajin. Tetapi, setelah cukup jauh melangkah, ia menghilang. Thalabul ilmi ditinggalkan.
☝🏻 Maka, koreksi niat harus rutin dilakukan. Menjaga dan merawat niat agar tetap bersih dan jernih. Niat terus dievaluasi supaya selalu bening dan hening. Cerah dan tidak keruh.
Apalah kita❓ Lemah dan kerdil. Naif dan bodoh.
🖊️Imam Ahmad bin Hanbal (Raudhatul Muhibbin 1/69) saja ketika ditanya,
"Apakah Anda mempelajari ilmu karena Allah? ".
"Adapun karena Allah, amatlah berat. Namun, sesuatu yang aku dibuat suka, maka aku lakukan" , jawab beliau.
✔️ Jika niat thalabul ilmi, ngaji, menghadiri majlis ilmu, mengikuti daurah, jadi santri, benar-benar lillahi Ta'ala, tentu akan bertahan.
🥀 Bila salah niat, akan tiba waktunya menguap dan menghilang.
🖊️ Imam Malik bin Anas menyatakan,
"Apapun, jika niatnya Lillahi Ta'ala, tentu akan bertahan".
Di Calon Asrama Kelas IV
Awal Shafar 1444 H/29 Agustus 2022
t.me/anakmudadansalaf
•┈┈┈┈•✿❁✿••✿❁✿•┈┈┈┈•
🍃Turut menyebarkan:
WA 🌹syarhus sunnah lin nisaa
https://t.me/syarhussunnahlinnisa
http://t.me/Arsip_PosterSSLN
https://catatanmms.wordpress.com
🖥 Https://akhwat.net
_*Karena Engkau Wajib Menuntut Ilmu*_
🇸 🇸 🇱 🇳
——— ✧ ※🌹🌹※ ✧ ———
Telegram
Anak Muda Dan Salaf
Artikel-artikel ini diserahkan Penulis kepada tim Pusdiklatmu Media untuk dikelola sebagai Unit Usaha Pusdiklatmu.
Email : akhisalafy1433@gmail.com
https://t.me/Donasi_Pusdiklatmu
Boleh dinukil selama bukan untuk tujuan komersial.
Email : akhisalafy1433@gmail.com
https://t.me/Donasi_Pusdiklatmu
Boleh dinukil selama bukan untuk tujuan komersial.
Apabila muncul was-was pada hati seseorang berupa tanya-jawab yang terus-menerus dalam hatinya, misalnya muncul dalam hati seseorang tanya jawab berikut ini,
“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:
“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.
Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.
Allah Ta’ala berfirman.
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).
Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,
Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.
Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:
*) Jika ada waswas,
“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”
“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”
*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”
*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”
Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.
*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”
Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,
Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.
Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60577-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-2.html
“Siapa yang menciptakan langit?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; lalu muncul lagi, “Siapa yang menciptakan bumi?”; lalu dijawab oleh hatinya, “Allah”; dan demikian seterusnya, sampai pada lintasan yang buruk:
“Siapa yang menciptakan Allah?”; ketahuilah ini adalah was-was dari setan.
Maka segera ucapkan, “A’uudzu billaahi minasy-syaitoonir rajiim” dengan meyakini bahwa Allah Maha Kuasa melindungi hamba-Nya dari was-was setan dan bahwa tipudaya dan was-was setan itu lemah.
Allah Ta’ala berfirman.
إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
“Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” (QS. An-Nisa’: 76).
Dan hendaklah dia segera berhenti dari pikiran buruk itu, sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas. Adapun makna “berhenti” dalam hadis tersebut adalah,
Pertama, Tidak meneruskan dan tidak meladeni pikiran was-was yang buruk serta tidak meyakini kebenarannya. Meskipun penderita yang sering dan dikuasai was-was tersebut menduga kuat bahwa was-was dalam hatinya itu benar.
Hal ini berlaku dalam masalah ibadah dan muamalah. Berikut ini beberapa contoh kasus was-was:
*) Jika ada waswas,
“Ada yang menciptakan Allah”; maka yakini, “Tidak benar!”
“Allah bukan makhluk. Justru Allah-lah satu-satunya Sang Pencipta.”
*) Jika sering was-was setelah wudu, “Kamu belum basuh tanganmu”; maka yakini, “Aku sudah basuh”
*) Jika sering was-was dalam salat, “Sudah berniat atau belum”; maka yakini, “Sudah berniat.” Atau, “Baru 3 atau 4 rakaat?”; maka yakini, “4 rakaat”
Meskipun dia menduga kuat 3 rakaat, karena dia telah dikuasai oleh was-was. Sehingga pikirannya sudah tidak normal. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh An-Nafrawi Rahimahullah, salah seorang ulama mazhab Malikiyyah, dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani.
*) Jika sering was-was dalam cerai, “Jangan-jangan ucapanku barusan termasuk talaq kinayah”; maka yakini, “Saya tidak mencerai istriku.”
Kedua, Mengalihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari, saat menjelaskan makna “berhenti” dalam hadis di atas,
Maka alihkan pikiran dan hati kepada kesibukan yang bermanfaat, seperti bertaubat kepada Allah Ta’ala dari segala dosa, zikrullah, istighfar, dan baca Alquran serta aktifitas lainnya yang bermanfaat, termasuk aktifitas duniawi.
Dengan demikian, hindari menyendiri dan menutup diri, karena hal itu akan memperparah penyakit was-was.
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60577-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-2.html
Muslim.or.id
Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2)
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 1) [lwptoc] Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du Hadis Kedua Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu…
Pertama, berdoa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala, misalnya dengan mengucapkan, “A’uudzu billaah minasy-syaitoonir rajiim”.
Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.
Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60584-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-3.html
Kedua, berhenti dari was-was setan tersebut dengan makna “berhenti” yang telah disebutkan dalam penjelasan hadis kedua.
Ketiga, mengucapkan, “Aamantu billaah wa Rusulihi”(Saya beriman kepada Allah Ta’ala dan para Rasul-Nya).
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60584-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-3.html
Muslim.or.id
Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 3)
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2) Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, [lwptoc] Hadis Ketiga dan Keempat Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah…
Kesimpulan
Dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ
“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”
Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60584-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-3.html
Dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الحمدُ للهِ الذي ردَّ كيدَه إلى الوسوسةِ
“Segala pujian kesempurnaan hanya bagi Allah yang telah menolak tipu daya setan kepada (sekedar) was-was (saja)”
Dapat disimpulkan bahwa tipudaya was-was setan tersebut tidaklah sedikit pun membahayakan orang-orang yang beriman kecuali hanya sekedar ingin membuat mereka sedih, bingung, dan galau, serta berpaling dari beribadah kepada Allah Ta’ala.
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60584-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-3.html
Muslim.or.id
Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 3)
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 2) Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, [lwptoc] Hadis Ketiga dan Keempat Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, Rasulullah…
Ini adalah karunia Allah Ta’ala yang luas dan untuk meringankan hamba-hamba-Nya.
Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.
Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”
Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,
“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”
Beliau Rahimahullah juga mengatakan,
“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman, yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”
Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,
إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب
“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’ Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”
Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).
Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60582-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-4.html
Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendapatkan bisikan tersebut tidak menghiraukannya, tidak condong kepadanya, tidak memikirkannya, dan hendaklah segera mengusir dari dalam hatinya.
Janganlah dia meyakini bahwa dengan waswas yang terdapat dalam hatinya itu, maka dia menjadi berdosa. Bahkan hendaklah dia membencinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya dengan berhenti dari memikirkannya serta bertaubat, berdoa, berzikir, istigfar, dan banyak membaca Alquran Alkarim serta kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
Penutup: “Penyakit waswas adalah ujian keimanan”
Syaikhul Islam Rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa berkata,
“Seorang yang beriman diuji dengan waswas setan dan waswas orang kafir yang menyempitkan dadanya. Oleh karena itulah, waswas dan syubhat itu didapatkan pada diri para penuntut ilmu syar’i dan para ahli ibadah, yang justru hal ini tidak didapatkan pada selain mereka. Karena selain mereka tidak meniti jalan Allah dan manhaj-Nya (dengan baik), bahkan dia menyambut hawa nafsunya dan (banyak) lalai dari dzikrullah. Tentu saja, hal ini yang dikehendaki oleh setan (sehingga di sini target setan telah tercapai, pent.), berbeda keadaannya dengan orang-orang yang perhatian besar terhadap ilmu syar’i dan ibadah, maka musuh mereka (setan) mengincarnya untuk memalingkan mereka dari Allah Ta’ala.”
Beliau Rahimahullah juga mengatakan,
“Tatkala waswas itu diiringi dengan kebencian dan ketidaksukaan, maka ini hakikatnya adalah sharihul iman, yaitu keimanan yang murni dan bersih. Karena seorang munafik dan kafir tidak mendapatkan (di diri mereka) kebencian dan ketidaksukaan saat ada waswas (pada diri mereka).”
Oleh karena itu, pernah disampaikan kepada sebagian salaf ash-shalih,
إن اليهود والنصارى يقولون: لا نوسوَس، فقال: صدقوا، وما يصنع الشيطان بالبيت الخراب
“Sesungguhnya Yahudi dan Nashara mengatakan, ‘Kami tidak merasakan waswas!’ Lalu salaf ash-shalih itu pun menjawab, ‘Apa yang bisa diperbuat oleh setan terhadap rumah yang sudah hancur!’”
Dan upaya seorang mukmin yang menderita waswas ketika memerangi waswas itu dengan kesabaran, ikhlas karena Allah dengan cara sesuai ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan memperoleh pahala berjihad melawan setan -bahkan ini adalah jihad yang besar-, dan dia akan mendapatkan pahala sabar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar: 10).
Dan orang yang bersungguh-sungguh berjihad melawan waswas setan, pasti Allah akan beri petunjuk kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-‘Ankabut: 69).
© 2023 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/60582-resep-manjur-sembuh-dari-penyakit-was-was-bag-4.html
Muslim.or.id
Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit Was-Was (Bag. 4)
Baca pembahasan sebelumnya Resep Manjur untuk Sembuh dari Penyakit waswas (Bag. 3) Bismillah wal hamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. [lwptoc] Hadis Keenam Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi Shallallahu ‘alaihi…