Shahih Ukhuwah
18 subscribers
7 photos
2 videos
4 files
19 links
Sharing ilmu & saling mengingatkan dalam kebaikan seperti para salaf dalam mengamalkan ajaran Rasulullah.

https://shahih.co
Download Telegram
Renungan Pagi
Air sungai tidak bisa mengalir dengan lancar jika ada sampah, batu ataupun lumpur, demikian juga dengan sungai kehidupan kita…

*Jangan lupa,setelah menonton agar berkenan like,comment,share dan subscribe, terima kasih*
https://shahih.co/renungan-videos/sungai-kehidupan/

#RenunganPagi #SungaiKehidupan
Dalam Islam berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) memiliki kedudukan yang mulia. Banyak keterangan dari Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan keutamaan berbakti kepada kedua orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu adalah salah satu amalan yang paling mudah memasukkan seseorang ke surga. Bahkan pintu surga yang paling pertengahan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوْ احْفَظْهُ
“Orang tua merupakan pintu syurga paling pertengahan, jika engkau mampu maka tetapilah atau jagalah pintu tersebut”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan Syekh Al-Albani dan syekh Al-Arnauth).

Yang di maksud pintu yang paling tengah adalah pintu yang paling mudah dimasuki. Perhatikan jika ada tembok di depan kita, lalu ada pintu di tengah, di samping pinggir kanan dan kiri, tentu secara psikologis kita akan memilih yang tengah karena mudah untuk memasukinya.

Allah memerintahkan kepada kita dalam Al-Quran agar berbakti kepada kedua orang tua khususnya ibu. Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَاالْإِنسَانَبِوَالِدَيْهِحَمَلَتْهُأُمُّهُوَهْناًعَلَىوَهْنٍوَفِصَالُهُفِيعَامَيْنِأَنِاشْكُرْلِيوَلِوَالِدَيْكَإِلَيَّالْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

[Qs. Luqman : 14]

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bagaimana pengorbanan dan perjuangan ibu untuk anaknya. Beliau menafsirkan,

وقالهاهنا {ووصيناالإنسانبوالديهحملتهأمهوهناعلىوهن} . قالجاهد: مشقةوهنالولد. وقالقتادة: جهداعلىجهد. وقالعطاءالخراساني: ضعفاعلىضعف
“Mujahid berkata bahwa yang dimaksud [“وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ”] adalah kesulitan ketika mengandung anak. Qatadah berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dengan penuh usaha keras. ‘Atha’ Al Kharasani berkata bahwa yang dimaksud adalah ibu mengandung kita dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”[Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 6/336]

Demikian juga firman Allah,

وَوَصَّيْنَاالْإِنسَانَبِوَالِدَيْهِإِحْسَاناًحَمَلَتْهُأُمُّهُكُرْهاًوَوَضَعَتْهُكُرْهاًوَحَمْلُهُوَفِصَالُهُثَلَاثُونَشَهْراًحَتَّىإِذَابَلَغَأَشُدَّهُوَبَلَغَأَرْبَعِينَسَنَةًقَالَرَبِّأَوْزِعْنِيأَنْأَشْكُرَنِعْمَتَكَالَّتِيأَنْعَمْتَعَلَيَّوَعَلَىوَالِدَيَّوَأَنْأَعْمَلَصَالِحاًتَرْضَاهُوَأَصْلِحْلِيفِيذُرِّيَّتِيإِنِّيتُبْتُإِلَيْكَوَإِنِّيمِنَالْمُسْلِمِينَ
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [Al-Ahqaaf : 15]

Semoga kita termasuk orang yang bisa berbakti kepada orang tua khususnya ibu. Semoga kita termasuk orang yang tidak melupakan jasa-jasa ibu kita. Semoga anak-istri dan pekerjaan kita tidak menyibukkan kita dan melalaikan kita untuk berbakti dan memberikan perhatian kepada ibu kita. Ingatlah di masa kecil kita sangat sering membuat susah orang tua terutama ibu kita, bersabarlah ketika berbakti kepada keduanya.

https://shahih.co/2020/12/03/berbakti-pada-ibu/
Renungan Pagi
Makhluk melihat yang nampak dari kita, namun Allah Maha Tahu yang tersembunyi dalam hati. Tapi sayangnya, kita kerap menghias yang nampak oleh makhluk, namun merusak yang disaksikan Allah…

*Jangan lupa,setelah menonton agar berkenan like,comment,share dan subscribe, terima kasih*
https://shahih.co/renungan-videos/kamera-ilahi/

#RenunganPagi #AllahMahaMelihat
Sebagian orang ketika turun hujan malah berkeluh kesah. Padahal itu adalah nikmat yang baru saja Allah ciptakan. Seandainya setiap orang mengamalkan do’a-do’a ketika turun hujan tentu saja turunnya hujan jadi nikmat terindah.
Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula.

Allâh Azza wa Jalla menjadikan dunia sebagai ladang akhirat. Memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk menggunakan dunia sebagai ladang pribadinya, menanam apa saja di sana kemudian memanennya di dunia dan akhirat apa yang telah ditanam sebelumnya.

Semua amalan bani Adam di dunia akan diperhitungkan dan dibalas pada hari Kiamat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ﴿٧﴾وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
Az-Zalzalah/99:7-8

Menanam kebaikan akan berbuah dengan hasil memanen kemuliaan hidup. Orang yang mulia dalam hidupnya adalah orang yang banyak berbuat baik dan mereka banyak melakukan amal pahala kebaikan.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Sumber
https://shahih.co/2020/12/07/menanam-kebaikan-terus-di-pupuk-dan-disiram/
Renungan Pagi
Seni hidup di dunia, sejatinya mampu bersabar dengan putaran takdir Allah. Syukur kala kebahagiaan datang, syukur kala kepahitan menghampiri, adalah dua senjata orang beriman agar setiap langkah hidup menjadi ibadah

Tafadhol untuk share video ini karena tugas kita adalah menyampaikan dengan ikhlas walaupun hanya satu ayat. Wallahu a’lam bish-shawabi.
https://shahih.co/renungan-video/rahasia-allah/

#RenunganPagi #sabar #syukur #RahasiaAllah
Renungan Pagi
Putih tak selamanya indah dan menarik. Sebagimana hitam tidak selalu jelek dan menakutkan. Bukankah kain kafan warnanya putih namun menakutkan. Sementara Ka’bah warnanya hitam namun menakjubkan. Demikianlah manusia dinilai dengan akhlaknya bukan semata penampilannya

Tafadhol untuk share video ini karena tugas kita adalah menyampaikan dengan ikhlas walaupun hanya satu ayat. Wallahu a’lam bish-shawabi.
https://shahih.co/renungan-video/pakaian-orang-beriman/

#RenunganPagi #PakaianOrangBeriman #HitamPutih #Akhlak
Renungan Pagi
Karena tak setiap kebaikan dan keburukan berbalas tunai dan adil di Dunia, maka Allah sediakan tempat berbalas yang adil kekal dan tak terbatas, itulah pembeda orang beriman dan pemuja dunia…

Tafadhol untuk share video ini karena tugas kita adalah menyampaikan dengan ikhlas walaupun hanya satu ayat. Wallahu a’lam bish-shawabi.
https://shahih.co/renungan-video/hukum-yang-adil/

#RenunganPagi #hukum #keadilan
Renungan Pagi
Jika jabatan sanggup dipertaruhkan hanya untuk menutupi kebenaran dan keadilan, lalu bagaimana dengan tanggung jawab kita di hadapanNya?…

Tafadhol untuk share video ini karena tugas kita adalah menyampaikan dengan ikhlas walaupun hanya satu ayat. Wallahu a’lam bish-shawabi.
https://shahih.co/renungan-video/supremasi-hukum/

#RenunganPagi #hukum #kebenaran #keadilan
Tiga Followers Setia Yang Mengikuti Mayit

Sesungguhnya manusia itu berdasarkan fitrahnya, telah dijadikan untuk memberikan manfaat kepada orang-orang yang telah mati, khususnya setelah mereka meninggal dunia secara langsung, dengan prasangkaan dan anggapan bahwa amalan yang mereka kerjakan itu bisa memberikan manfaat kepada si mayit ketika di dalam kubur dan setelah ia dibangkitkan darinya.

Namun ketika kebutaan (kebodohan) terhadap agama menyebar di kalangan manusia, menjadikan setiap orang melakukan berbagai amalan ibadah dan ketaatan sekehendaknya, yang dia menganggap bahwa amalan-amalan tersebut bisa memberikan manfaat kepada (si mayit) yang telah meninggal dunia.

Mereka lupa, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, sebagaimana disebutkan di dalam (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Setiap amalan yang padanya tidak ada urusan kami, maka amalan itu tertolak”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Sebelum wafatnya, manusia bisa melakukan sebagian amalan-amalan yang pahalanya bisa terus mengalir setelah kematiannya. Selain itu, orang yang masih hidup juga dapat memberikan manfaat kepada mayit dengan amalan-amalan yang dikerjakan untuk ditujukan kepada si mayit setelah kematiannya.

Amalan-amalan yang bisa dilakukan sebelum kematian itu memungkinkan dan mampu dilakukan. Jika sedikit saja dia mengerahkan usaha, waktu atau harta, maka dia mampu untuk melakukannya. Sedangkan amalan-amalan yang dilakukan oleh orang lain setelah kematiannya, maka amalan-amalan itu tidak berada di tangannya, bisa jadi ada atau tidak ada.

Artikel Selengkapnya ada di :
https://shahih.co/2020/12/14/tiga-followers-setia-yang-mengikuti-mayit/
Meraih Kebahagiaan Dengan Menanam Kebaikan

Menurut pepatah: Jika mau menangkap kupu-kupu jangan dikejar, sebab akan sulit utuk mendapatkannya. Semakin dikejar akan semakin jauh terbang, alih-alih dapat menangkapnya yang terjadi malah kita akan kelelahan.

Supaya kupu-kupu mudah ditangkap, tanamlah pohon yang beragam. Jika pohon yang beragam itu sudah berbunga dengan keberagamannya, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya sehingga mudah ditangkap. Tidak hanya kupu-kupu yang akan datang ketika pohon berbunga, kumbang dan lebah bunga pun akan singgah.

Al-falah atau kebahagiaan ibarat kupu-kupu, semakin dikejar akan semakin menjauh, oleh karena itu untuk memperolehnya itu cukup dengan menanam kebaikan, seperti menanam pohon yang beragam untuk menghadirkan kupu-kupu.

https://shahih.co/2021/01/02/meraih-kebahagiaan-dengan-menanam-kebaikan/
Dalam Al-Quran pun dikatakan bahwa manusia tidak mengetahui banyak hal tentang sesuatu, yang mereka ketahui hanyalah kenyataan yang tampak secara lahiriyah yaitu kehidupan dunia saja, sedangkan kehidupan akhirat mereka lalai.

Islam sebagai Agama yang mengajarkan nilai-nilai totalitas dalam kehidupan mengartikan makna hidup sebagai bentuk kebermaknaan dalam kualitas secara berkeseimbangan; antara kehidupan dunia dan akhirat, bermanfaat secara sosial bagi sesama manusia dan membawa kebaikan bagi lingkungan alam sekitarnya.

Karena itu agar hidup manusia mencapai predikat kemulian dihadapan Allah Ta’ala dan memiliki manfaat bagi sesama, manusia memerlukan nasehat kehidupan.

https://shahih.co/2021/01/03/nasehat-kehidupan/
Etika perdagangan Islam tersebut antara lain:

1. Shidiq (Jujur)
Tidak berbohong, tidak menipu, tidak mengada-ngada fakta, tidak bekhianat, serta tidak pernah ingkar janji merupakan bentuk perbuatan yang dilarang agama Islam.

Dalam Al Qur’an, keharusan bersikap jujur dalam berdagang, berniaga dan atau jual beli, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebut di beberapa ayat – dihubungkan dengan pelaksanaan timbangan, sebagaimana firman Allah SWT:
”Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil”. (Q.S Al An’aam(6): 152)

“Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Q.S Ar Rahmaan(55): 9)

Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya, kerapkali mengingatkan para pedagang untuk berlaku jujur dalam berdagang.
Sabda Rasulullah SAW:
”Wahai para pedagang, hindarilah kebohongan”. (HR. Thabrani)

2. Amanah (Tanggungjawab)
Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat yang memang secara otomatis terbeban di pundaknya.

3. Tidak Menipu
Rasulululah SAW selalu memperingatkan kepada para pedagang untuk tidak mengobral janji atau berpromosi secara berlebihan yang cenderung mengada-ngada, semata-mata agar barang dagangannya laris terjual. Sabda Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar”. (HR. Thabrani)

4. Menepati Janji
Seorang pedagang juga dituntut untuk selalu menepati janjinya, baik kepada para pembeli maupun di antara sesama pedagang, terlebih lagi tentu saja, harus dapat menepati janjinya kepada Allah SWT.
Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur’an:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyaknya supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadaNya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: ”Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezki” (Q.S Al Jumu’ah (62):10-11)

5. Murah Hati
Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menganjurkan agar para pedagang selalu bermurah hati dalam melaksanakan jual beli. Murah hati dalam pengertian; ramah tamah, sopan santun, murah senyum, suka mengalah, namun tetap penuh tanggung jawab.
Sabda Rasulullah SAW:
“Allah berbelas kasih kepada orang yang murah hati ketika ia menjual, bila membeli dan atau ketika menuntut hak”.
(HR. Bukhari)

#reminder