semburat jingga dilangit meninggalkan mega alam, pulang keperaduan ketika ia terbenam diantara pertengahan langit senja. nabastala kala itu membiru namun kini yang tersisa hanya kelabu. bagai tiada lagi jiwa yang nyala, sama sama kita sembunyi dalam duka. tawa redup, tak lagi hidup. dalam acaknya aksara yang saya ukir kini, alur yang tertulis pada naskah 'tak berujung abadiah'.
/menunggu kedatanganmu dirimu sembari membawa hadiah terakhir untukmu ; berbalik lantas memperlihatkan diriku yang tengah menggunakan baju yang tipis serta topi nan masker yang menutupi kepala bahkan mulutku ; memicingkan mata saya dan melihat sekitar ; menyuruhmu untuk memegangi hadiah yang saya berikan padamu ; membiarkan jas yang tuan kenakan menutupi tubuhmu ; membiarkan tanganmu segera menggandeng tanganmku lantas menuntunku duduk diantara kursi taman/
"kasih, tahukah kamu apa yang jenaka?" tuan angkat wicara, tiada hampa yang semula jadi isi antar mereka.
Ia tertawa, masih dengan aksa melirik hadap senantiasa, sang wira lanjutkan kata-kata. "kita, jua takdir semesta."
sekala malam tiba, dua anak manusia duduk di pelataran taman, berbahasa perihal canda semesta guna topik utamanya. getir tawa jadi tanda bagaimana lara yang mereka terima, takdir terlalu semena-mena antara kepercayaan nan restu semesta. keping hati yang patah tersimpan apik dalam gerabah, dibawa pergi ke tempat netra 'tak lagi bertukar agah, tiada saling melontar madah, sebab kisah kasih yang bertaut diujung perpisahan.
"mengapa begitu adanya?" pemilik asma yang tuan sebut kasih kini melempar tanya, tanda tak mengerti maksudnya lontaran dari sang lawan tokoh.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
/menunggu kedatanganmu dirimu sembari membawa hadiah terakhir untukmu ; berbalik lantas memperlihatkan diriku yang tengah menggunakan baju yang tipis serta topi nan masker yang menutupi kepala bahkan mulutku ; memicingkan mata saya dan melihat sekitar ; menyuruhmu untuk memegangi hadiah yang saya berikan padamu ; membiarkan jas yang tuan kenakan menutupi tubuhmu ; membiarkan tanganmu segera menggandeng tanganmku lantas menuntunku duduk diantara kursi taman/
"kasih, tahukah kamu apa yang jenaka?" tuan angkat wicara, tiada hampa yang semula jadi isi antar mereka.
Ia tertawa, masih dengan aksa melirik hadap senantiasa, sang wira lanjutkan kata-kata. "kita, jua takdir semesta."
sekala malam tiba, dua anak manusia duduk di pelataran taman, berbahasa perihal canda semesta guna topik utamanya. getir tawa jadi tanda bagaimana lara yang mereka terima, takdir terlalu semena-mena antara kepercayaan nan restu semesta. keping hati yang patah tersimpan apik dalam gerabah, dibawa pergi ke tempat netra 'tak lagi bertukar agah, tiada saling melontar madah, sebab kisah kasih yang bertaut diujung perpisahan.
"mengapa begitu adanya?" pemilik asma yang tuan sebut kasih kini melempar tanya, tanda tak mengerti maksudnya lontaran dari sang lawan tokoh.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
/melihat kearahnya yang kini menoleh ke arahku seakan bertanya-tanya akan penurutan darimu; melihat tatapa darimu dengan tatapan lembut namun terdapat kesedihan yang sangat ketara ; mengulas salah satu sudut pipi kirimu ; memberikan sebuah pernyataan yang mengacu pada hubungan kita saat ini ; ulasan tak lagi menyambut hangat ketika tetesan sang embun turun dari sang tuan tanpa nama/
"bagai jebak teka akan reka canda semesta. kita, dua sang perasa yang jatuh dalam asmara kini justru menerima lara akan semesta sebagai sambutan nya."
"maaf, tuan." ucap sang asma sebut saja kasih.
"tak apa, ini salah saya juga."
hening, mereka kembali berkecamuk dalam pikir masing masing. hela nafas terdengar melas, amat pelik terlihat jelas. semesta, mengapa mesti mereka?
"tuan." ranum itu kembali memanggil sang tuan tanpa nama, sembari menolehkan kepala ia bentuk kurva guna sampul derita.
"kasih apa kita tak punya harapan lagi ?"
/mendapati raut duka milik tuannya ; merasakan hawa tak mengenakkan muncul dalam benak ; membawanya kepala sang taruna tepat tuk bersandar pada bahu yang saya punya ; dengan lembut mengusap surai nya guna pereda kalut/
manik kami bersua, ada air mata yang tercetak di sana. sang kasih ingin kembali bertanya, namun kurva milik sang tuan seolah berkata tak apa. biar mereka keras kepala sampai jagat raya menentukan akhir hubungan ini.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
"bagai jebak teka akan reka canda semesta. kita, dua sang perasa yang jatuh dalam asmara kini justru menerima lara akan semesta sebagai sambutan nya."
"maaf, tuan." ucap sang asma sebut saja kasih.
"tak apa, ini salah saya juga."
hening, mereka kembali berkecamuk dalam pikir masing masing. hela nafas terdengar melas, amat pelik terlihat jelas. semesta, mengapa mesti mereka?
"tuan." ranum itu kembali memanggil sang tuan tanpa nama, sembari menolehkan kepala ia bentuk kurva guna sampul derita.
"kasih apa kita tak punya harapan lagi ?"
/mendapati raut duka milik tuannya ; merasakan hawa tak mengenakkan muncul dalam benak ; membawanya kepala sang taruna tepat tuk bersandar pada bahu yang saya punya ; dengan lembut mengusap surai nya guna pereda kalut/
manik kami bersua, ada air mata yang tercetak di sana. sang kasih ingin kembali bertanya, namun kurva milik sang tuan seolah berkata tak apa. biar mereka keras kepala sampai jagat raya menentukan akhir hubungan ini.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤ ㅤㅤㅤ
kita saling menyayangi...
apakah kita terlalu egois?
saling menunjukan topeng kebohongan...
apakah kita terlalu kejam?
namun... kita tak pernah menyadari...
dari setiap detik yang kita perankan..
ada sebuah rasa yang tak pernah kita dapatkan...
ya, mungkin inilah sang takdir...
aku tidak tahu... kau pun tidak tahu...
apakah benar ini takdir?
takdir menyenangkan atau takdir menyedihkan?
walaupun ini kebohongan..
perasaan ini... apakah harus kita manfaatkan juga?
terasa nyaman namun juga menyakitkan...
kedepannya apakah kita saling membenci
atau akan tetap saling mencintai?
hanya saja aku berharap...
andai aku tak punya dendam...
andai aku tidak terlahir dengan kemarahan..
andai aku tidak terlahir dengan emosi mendalam...
andai aku hidup sebagai bintang keberuntungan...
apakah kita akan dipuncak gunung?
menikmati pancaran cahaya bulan dan bintang
kembang api di hari lampion...
layaknya sepasang kekasih yang biasa...
tanpa ada status kebohongan yang luar biasa...
ㅤ LÈNGKARA,OO:OO - O1:OOㅤㅤㅤㅤ
ㅤ
kita saling menyayangi...
apakah kita terlalu egois?
saling menunjukan topeng kebohongan...
apakah kita terlalu kejam?
namun... kita tak pernah menyadari...
dari setiap detik yang kita perankan..
ada sebuah rasa yang tak pernah kita dapatkan...
ya, mungkin inilah sang takdir...
aku tidak tahu... kau pun tidak tahu...
apakah benar ini takdir?
takdir menyenangkan atau takdir menyedihkan?
walaupun ini kebohongan..
perasaan ini... apakah harus kita manfaatkan juga?
terasa nyaman namun juga menyakitkan...
kedepannya apakah kita saling membenci
atau akan tetap saling mencintai?
hanya saja aku berharap...
andai aku tak punya dendam...
andai aku tidak terlahir dengan kemarahan..
andai aku tidak terlahir dengan emosi mendalam...
andai aku hidup sebagai bintang keberuntungan...
apakah kita akan dipuncak gunung?
menikmati pancaran cahaya bulan dan bintang
kembang api di hari lampion...
layaknya sepasang kekasih yang biasa...
tanpa ada status kebohongan yang luar biasa...
ㅤ LÈNGKARA,OO:OO - O1:OOㅤㅤㅤㅤ
ㅤ
ㅤㅤ ㅤㅤ“𝐕irtual 𝐋ove, 𝐀nomaly”
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Tentang dirinya...
runtutan alkisah romansa menjelang akhir, sekat beruntun yang kian menjelma, titik demi setitik bagai komponen carita rajut asa, pahit nan manis lampiran asmara yang kita pijak, berisikan kisah dua insan yang tak dapat dijabarkan dengan lantunan kata tak dapat dijabarkan oleh semesta, bahwasanya bayang buram penuh lakonan sandiwara.
coretan tinta diatas lampiran benda pipih tipis,
tawa hampa memenuhi sang redup langit malam,
menyelusuri malam yang dingin menerpa kulit,
daku melihat sebuah dunia yang tak berlatar,
daku tak mau anjak kaki meninggalkan ranah semu.
dimensi anomali, persimpangan atas dua dunia.
arutala kian memancarkan remang pilu nespata,
hadirnya sirius pada radar kemiringan nasbatala,
kesadaran sang dua insan saat atmanya terpenjara.
dimana ananta saat dunianya kini t'lah mati rasa?
oh semesta, ku harap waktu memiliki belas kasihan.
adorasi dama.. oh tidak, bekalku kini hanyalah ananta,
ku rangkai aksara serungkut kisah, harapku kamulah
yang meneruskan rangkaian aksara usang itu.
ㅤ LÈNGKARA,OO:OO - O1:OOㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Tentang dirinya...
runtutan alkisah romansa menjelang akhir, sekat beruntun yang kian menjelma, titik demi setitik bagai komponen carita rajut asa, pahit nan manis lampiran asmara yang kita pijak, berisikan kisah dua insan yang tak dapat dijabarkan dengan lantunan kata tak dapat dijabarkan oleh semesta, bahwasanya bayang buram penuh lakonan sandiwara.
coretan tinta diatas lampiran benda pipih tipis,
tawa hampa memenuhi sang redup langit malam,
menyelusuri malam yang dingin menerpa kulit,
daku melihat sebuah dunia yang tak berlatar,
daku tak mau anjak kaki meninggalkan ranah semu.
dimensi anomali, persimpangan atas dua dunia.
arutala kian memancarkan remang pilu nespata,
hadirnya sirius pada radar kemiringan nasbatala,
kesadaran sang dua insan saat atmanya terpenjara.
dimana ananta saat dunianya kini t'lah mati rasa?
oh semesta, ku harap waktu memiliki belas kasihan.
adorasi dama.. oh tidak, bekalku kini hanyalah ananta,
ku rangkai aksara serungkut kisah, harapku kamulah
yang meneruskan rangkaian aksara usang itu.
ㅤ LÈNGKARA,OO:OO - O1:OOㅤㅤㅤㅤ