Kita sering berhenti menghargai apa yang baru kemarin membuat kita bahagia hanya karena kita melihat orang lain memiliki lebih banyak sesuatu yang lebih besar, lebih mahal, atau lebih indah.
Rumah kita tiba-tiba terasa terlalu kecil, mobil kita terasa kurang bagus, hadiah terasa terlalu sederhana, dan pencapaian kita sendiri terasa tidak berarti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang berubah dalam hidup kita. Satu-satunya yang berubah adalah dengan siapa kita mulai membandingkan diri.
Gambaran sempurna milik orang lain seharusnya tidak mengurangi nilai dari apa yang kamu miliki. Hargailah perjalananmu sendiri, orang-orang yang kamu cintai, dan bahkan kemenangan-kemenangan kecilmu karena kebahagiaan berakhir ketika perbandingan dimulai. ❤️
Rumah kita tiba-tiba terasa terlalu kecil, mobil kita terasa kurang bagus, hadiah terasa terlalu sederhana, dan pencapaian kita sendiri terasa tidak berarti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang berubah dalam hidup kita. Satu-satunya yang berubah adalah dengan siapa kita mulai membandingkan diri.
Gambaran sempurna milik orang lain seharusnya tidak mengurangi nilai dari apa yang kamu miliki. Hargailah perjalananmu sendiri, orang-orang yang kamu cintai, dan bahkan kemenangan-kemenangan kecilmu karena kebahagiaan berakhir ketika perbandingan dimulai. ❤️
Dua diktator. Dua negeri yang sama-sama dijarah puluhan tahun. Satu jadi raksasa industri dunia, satu masih mencicil utang jarahan itu sampai hari ini.
Park Chung-hee dan Soeharto sama korupnya — hampir semua presiden Korea pun berakhir diadili. Bedanya bukan siapa yang lebih jahat, tapi apa yang ditukar dengan upeti itu, ke mana uangnya boleh pergi, dan apa yang terjadi pada pelakunya di ujung cerita.
Korea mengunci uang chaebolnya di dalam negeri sampai memaksa mereka membangun pabrik yang bersaing di pasar dunia. Kita membuka semua pintu sekaligus — dan hasilnya, brankas konglomerat kita lebih sering ada di Singapura daripada di lini produksi dalam negeri.
Park Chung-hee dan Soeharto sama korupnya — hampir semua presiden Korea pun berakhir diadili. Bedanya bukan siapa yang lebih jahat, tapi apa yang ditukar dengan upeti itu, ke mana uangnya boleh pergi, dan apa yang terjadi pada pelakunya di ujung cerita.
Korea mengunci uang chaebolnya di dalam negeri sampai memaksa mereka membangun pabrik yang bersaing di pasar dunia. Kita membuka semua pintu sekaligus — dan hasilnya, brankas konglomerat kita lebih sering ada di Singapura daripada di lini produksi dalam negeri.
❤1