This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Ternyata begini detik-detik Prabowo dicopot dari jabatan Pangkostrad atas perintah Presiden B.J. Habibie. Kisah ini tertuang dalam buku Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006) karya Habibie, yang kemudian dirangkum oleh Kompas.
#viralreels #viral #reels #indonesia #reelsinstagram
#viralreels #viral #reels #indonesia #reelsinstagram
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Dr. Ir. Sri Bintang Pamungkas Panjaitan, MSISE, PhD. Adalah dosen pengajar UI teknik mesin konsentrasi teknik industri dan aktivis paling berani melawan Soeharto di eranya, seorang tokoh pergerakan, reformis, aktivis, politikus asal Indonesia. Ia juga merupakan pendiri dari Partai Uni Demokrasi Indonesia serta pernah menjadi narapidana pada era Presiden Soeharto. Ia dibebaskan ketika B. J. Habibie menjabat sebagai presiden.
Dosen darah jawa batak beragama islam ini, Pada tahun 1964, ia lulus dari SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah dan melanjutkan studi ke Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung hingga lulus pada tahun 1971. Tahun 1979, ia melanjutkan studi ke Universitas Southern California dan memperoleh gelar master (MSISE) (Master of Science in Industrial System Engineering). Pada tahun 1984, Bintang tertarik belajar ekonomi, dan atas bantuan Georgia Institute of Technology ia bisa mengikuti program doktor di Iowa State University. ia meraih doktor PhD.
Politisi yang sempat di DPR RI ini tidak membuat dirinya berubah malah semakin lantang bersuara melawan rezim soeharto.
Muslim kental ini yang sempat gabung partai Islam saat itu cuma ada PPP, melihat Islam tidak maju-maju dalam pergerakannya dan sangat berani melawan rezim Soeharto, melihat umat Islam kurang maju, kurang daya pukulnya. Bintang bercita-cita agar PPP menjadi partai yang besar. Untuk itu Bintang mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik istri maupun keenam anaknya sudah diajaknya bicara. Menjelang akhir pemerintahan Soeharto, pada 29 Mei 1996, ia mendirikan PUDI. Ia pun menjadi ketua umum PUDI. Namun partainya kurang dan dibrangus oleh Soeharto.
Sri Bintang Pamungkas dikenal sebagai tokoh pergerakan, reformis, politikus, aktivis, dan juga orator hebat di masa penggulingan Soeharto. Di rezim Soeharto, dia ditahan dengan tuduhan makar.
Dia dianggap radikal kanan subversif dan melanggar Undang-undang Anti Subversif dengan membentuk Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) pada Mei 1996. Partai itu didirikan oleh Sri Bintang sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah. Soeharto tak terima. Sri Bintang mendekam di penjara selama satu tahun 20 hari terhitung sejak Mei 1997. Saat itu usianya 51 tahun.
Dosen darah jawa batak beragama islam ini, Pada tahun 1964, ia lulus dari SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah dan melanjutkan studi ke Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung hingga lulus pada tahun 1971. Tahun 1979, ia melanjutkan studi ke Universitas Southern California dan memperoleh gelar master (MSISE) (Master of Science in Industrial System Engineering). Pada tahun 1984, Bintang tertarik belajar ekonomi, dan atas bantuan Georgia Institute of Technology ia bisa mengikuti program doktor di Iowa State University. ia meraih doktor PhD.
Politisi yang sempat di DPR RI ini tidak membuat dirinya berubah malah semakin lantang bersuara melawan rezim soeharto.
Muslim kental ini yang sempat gabung partai Islam saat itu cuma ada PPP, melihat Islam tidak maju-maju dalam pergerakannya dan sangat berani melawan rezim Soeharto, melihat umat Islam kurang maju, kurang daya pukulnya. Bintang bercita-cita agar PPP menjadi partai yang besar. Untuk itu Bintang mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik istri maupun keenam anaknya sudah diajaknya bicara. Menjelang akhir pemerintahan Soeharto, pada 29 Mei 1996, ia mendirikan PUDI. Ia pun menjadi ketua umum PUDI. Namun partainya kurang dan dibrangus oleh Soeharto.
Sri Bintang Pamungkas dikenal sebagai tokoh pergerakan, reformis, politikus, aktivis, dan juga orator hebat di masa penggulingan Soeharto. Di rezim Soeharto, dia ditahan dengan tuduhan makar.
Dia dianggap radikal kanan subversif dan melanggar Undang-undang Anti Subversif dengan membentuk Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI) pada Mei 1996. Partai itu didirikan oleh Sri Bintang sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah. Soeharto tak terima. Sri Bintang mendekam di penjara selama satu tahun 20 hari terhitung sejak Mei 1997. Saat itu usianya 51 tahun.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Sejumlah cuplikan lama dan pernyataan Presiden Prabowo terkait media dan wartawan kembali ramai diperbincangkan di media sosial.
Berbagai pihak menafsirkan sikap tersebut secara berbeda. Ada yang menilai sebagai bentuk ketegasan terhadap pemberitaan, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk ketidaksukaan terhadap kritik dari media.
Di tengah pentingnya kebebasan pers dalam demokrasi, hubungan antara pemimpin dan wartawan selalu menjadi perhatian publik.
Menurut kalian, seperti apa seharusnya hubungan antara pejabat publik dan media?
#Prabowo #Wartawan #Media #KebebasanPers
Berbagai pihak menafsirkan sikap tersebut secara berbeda. Ada yang menilai sebagai bentuk ketegasan terhadap pemberitaan, sementara yang lain melihatnya sebagai bentuk ketidaksukaan terhadap kritik dari media.
Di tengah pentingnya kebebasan pers dalam demokrasi, hubungan antara pemimpin dan wartawan selalu menjadi perhatian publik.
Menurut kalian, seperti apa seharusnya hubungan antara pejabat publik dan media?
#Prabowo #Wartawan #Media #KebebasanPers
Karakter anak tidak dibentuk dalam semalam.
Karakter dibentuk dari kebiasaan.
Dari belajar disiplin saat lelah. Dari belajar bangkit saat gagal. Dari belajar hormat kepada orang tua dan guru. Dari belajar menghadapi tantangan tanpa lari dari masalah.
Itulah sebabnya banyak orang tua memasukkan anaknya ke bela diri sejak usia dini.
Karena bela diri yang baik bukan hanya melatih otot.
🥋 Bela diri melatih karakter.
Anak belajar:
✅ Disiplin
✅ Keberanian
✅ Tanggung jawab
✅ Kepercayaan diri
✅ Pengendalian emosi
✅ Sikap hormat kepada orang lain
Dan di tengah maraknya bullying, kecanduan gadget, serta menurunnya daya juang anak-anak, nilai-nilai ini menjadi semakin penting.
Karakter dibentuk dari kebiasaan.
Dari belajar disiplin saat lelah. Dari belajar bangkit saat gagal. Dari belajar hormat kepada orang tua dan guru. Dari belajar menghadapi tantangan tanpa lari dari masalah.
Itulah sebabnya banyak orang tua memasukkan anaknya ke bela diri sejak usia dini.
Karena bela diri yang baik bukan hanya melatih otot.
🥋 Bela diri melatih karakter.
Anak belajar:
✅ Disiplin
✅ Keberanian
✅ Tanggung jawab
✅ Kepercayaan diri
✅ Pengendalian emosi
✅ Sikap hormat kepada orang lain
Dan di tengah maraknya bullying, kecanduan gadget, serta menurunnya daya juang anak-anak, nilai-nilai ini menjadi semakin penting.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Gus Dur, Presiden Republik Indonesia ke-3 itu pernah menyebut bahwa Amien Rais adalah penipu, bahkan pernyataan itu disampaikannya sebanyak 52 kali di hadapan publik.
Apa alasannya? Bukan tanpa alasan, ternyata sosok besar Abdurrahman Wahid menyampaikan pernyataan itu disebabkan oleh alasan mendasar yang cukup kuat.
Gus Dur sendiri sebenarnya diangkat menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia berkat inisiatif dan dukungan dari Amien Rais yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR.
Namun, belum genap 2 tahun dirinya menjabat, tokoh pejuang pluralisme itu dilengserkan oleh Amien Rais dengan siasatnya sendiri.
Apa alasannya? Bukan tanpa alasan, ternyata sosok besar Abdurrahman Wahid menyampaikan pernyataan itu disebabkan oleh alasan mendasar yang cukup kuat.
Gus Dur sendiri sebenarnya diangkat menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia berkat inisiatif dan dukungan dari Amien Rais yang kala itu menjabat sebagai Ketua MPR.
Namun, belum genap 2 tahun dirinya menjabat, tokoh pejuang pluralisme itu dilengserkan oleh Amien Rais dengan siasatnya sendiri.
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Musibah dunia adalah kebetulan yang direncanakan?
Credit to @sugi.lanus LEE KUAN YEW’S PROPHETIC ASSESSMENT OF PRABOWO SUBIANTO
Decades before Prabowo Subianto became the President of Indonesia, Singapore’s founding father Lee Kuan Yew perfectly mapped out his psychological and leadership blueprint.
Writing in his memoirs, LKY delivered a sharp, double-edged critique after meeting him in the 1990s: "Bright and ambitious, but impetuous and rash... He was quick but inappropriate in his outspokenness."
Fast forward to today, and Indonesia is experiencing this exact character trait play out from the highest office. From going off-script with viral remarks like "ndasmu", "bajingan", "antek-antek asing", "penghianat", "londo ireng", etc to making defensive economic claims while the Rupiah and stock market feel the pressure, the administration is actively grappling with major communication blunders.
LKY’s psychological profile of Indonesia's current leader wasn't just an observation—it was a blueprint of the exact political volatility we are witnessing today.
#Prabowo #LeeKuanYew #IndonesianPolitics #PoliticalBlunder #Rupiah
Translation: en-id
Credit to @sugi.lanus PENILAIAN NUBUATAN LEE KUAN YEW TERHADAP PRABOWO SUBIANTO
Beberapa dekade sebelum Prabowo Subianto menjadi Presiden Indonesia, bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, dengan sempurna memetakan cetak biru psikologis dan kepemimpinannya.
Dalam memoarnya, LKY menyampaikan kritik tajam dan bermata dua setelah bertemu dengannya pada tahun 1990-an: "Cerdas dan ambisius, namun terburu nafsu dan gegabah... Dia cepat namun tidak pantas dalam keterusterangannya."
Kini, Indonesia sedang mengalami karakter yang sama seperti yang ditunjukkan oleh pejabat tertinggi. Mulai dari komentar-komentar yang viral seperti "ndasmu", "bajingan", "antek-antek asing", "penghianat", "londo ireng", dll, hingga membuat klaim ekonomi yang bersifat defensif ketika Rupiah dan pasar saham merasakan tekanan, pemerintah secara aktif bergulat dengan kesalahan komunikasi yang besar.
Profil psikologis LKY mengenai pemimpin Indonesia saat ini bukan sekadar observasi—tetapi merupakan cetak biru volatilitas politik yang kita saksikan saat ini.
#Prabowo #LeeKuanYew #PolitikIndonesia #BlunderPolitik #Rupiah
Decades before Prabowo Subianto became the President of Indonesia, Singapore’s founding father Lee Kuan Yew perfectly mapped out his psychological and leadership blueprint.
Writing in his memoirs, LKY delivered a sharp, double-edged critique after meeting him in the 1990s: "Bright and ambitious, but impetuous and rash... He was quick but inappropriate in his outspokenness."
Fast forward to today, and Indonesia is experiencing this exact character trait play out from the highest office. From going off-script with viral remarks like "ndasmu", "bajingan", "antek-antek asing", "penghianat", "londo ireng", etc to making defensive economic claims while the Rupiah and stock market feel the pressure, the administration is actively grappling with major communication blunders.
LKY’s psychological profile of Indonesia's current leader wasn't just an observation—it was a blueprint of the exact political volatility we are witnessing today.
#Prabowo #LeeKuanYew #IndonesianPolitics #PoliticalBlunder #Rupiah
Translation: en-id
Credit to @sugi.lanus PENILAIAN NUBUATAN LEE KUAN YEW TERHADAP PRABOWO SUBIANTO
Beberapa dekade sebelum Prabowo Subianto menjadi Presiden Indonesia, bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, dengan sempurna memetakan cetak biru psikologis dan kepemimpinannya.
Dalam memoarnya, LKY menyampaikan kritik tajam dan bermata dua setelah bertemu dengannya pada tahun 1990-an: "Cerdas dan ambisius, namun terburu nafsu dan gegabah... Dia cepat namun tidak pantas dalam keterusterangannya."
Kini, Indonesia sedang mengalami karakter yang sama seperti yang ditunjukkan oleh pejabat tertinggi. Mulai dari komentar-komentar yang viral seperti "ndasmu", "bajingan", "antek-antek asing", "penghianat", "londo ireng", dll, hingga membuat klaim ekonomi yang bersifat defensif ketika Rupiah dan pasar saham merasakan tekanan, pemerintah secara aktif bergulat dengan kesalahan komunikasi yang besar.
Profil psikologis LKY mengenai pemimpin Indonesia saat ini bukan sekadar observasi—tetapi merupakan cetak biru volatilitas politik yang kita saksikan saat ini.
#Prabowo #LeeKuanYew #PolitikIndonesia #BlunderPolitik #Rupiah
Kita sering berhenti menghargai apa yang baru kemarin membuat kita bahagia hanya karena kita melihat orang lain memiliki lebih banyak sesuatu yang lebih besar, lebih mahal, atau lebih indah.
Rumah kita tiba-tiba terasa terlalu kecil, mobil kita terasa kurang bagus, hadiah terasa terlalu sederhana, dan pencapaian kita sendiri terasa tidak berarti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang berubah dalam hidup kita. Satu-satunya yang berubah adalah dengan siapa kita mulai membandingkan diri.
Gambaran sempurna milik orang lain seharusnya tidak mengurangi nilai dari apa yang kamu miliki. Hargailah perjalananmu sendiri, orang-orang yang kamu cintai, dan bahkan kemenangan-kemenangan kecilmu karena kebahagiaan berakhir ketika perbandingan dimulai. ❤️
Rumah kita tiba-tiba terasa terlalu kecil, mobil kita terasa kurang bagus, hadiah terasa terlalu sederhana, dan pencapaian kita sendiri terasa tidak berarti. Padahal, sebenarnya tidak ada yang berubah dalam hidup kita. Satu-satunya yang berubah adalah dengan siapa kita mulai membandingkan diri.
Gambaran sempurna milik orang lain seharusnya tidak mengurangi nilai dari apa yang kamu miliki. Hargailah perjalananmu sendiri, orang-orang yang kamu cintai, dan bahkan kemenangan-kemenangan kecilmu karena kebahagiaan berakhir ketika perbandingan dimulai. ❤️