This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Aktivis Tio Ardianto melontarkan kritik tajam dalam acara diskusi di UII, Yogyakarta. Ia menyoroti putusan MK yang meloloskan Gibran sebagai wapres, menyebutnya cacat hukum. Tio juga mengkritik pengangkatan Mayor Teddy sebagai Seskab yang melanggar UU TNI. "Hanya dua jenis manusia yang berbaik sangka pada penguasa: orang bodoh dan penikmat kekuasaan," tegasnya, membuat Mahfud MD geleng kepala. #suarajujurwarga #seskabteddy #prabowo #gibran
Lee Kuan Yew dikenal sebagai sosok pemimpin yang membangun Singapura dari negara kecil tanpa sumber daya menjadi salah satu negara paling bersih dan maju di dunia. Ia menerapkan kebijakan anti-korupsi yang sangat tegas, tanpa pandang bulu, bahkan terhadap orang-orang di lingkar kekuasaan sendiri.
Di masa kepemimpinannya, korupsi diperlakukan sebagai ancaman serius bagi negara, bukan sekadar pelanggaran biasa. Ketegasannya inilah yang membuat Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia hingga saat ini.
Sebuah pengingat bahwa keberanian menegakkan integritas adalah kunci perubahan besar—hal yang masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang.
Sumber: rambate.id
Di masa kepemimpinannya, korupsi diperlakukan sebagai ancaman serius bagi negara, bukan sekadar pelanggaran biasa. Ketegasannya inilah yang membuat Singapura dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia hingga saat ini.
Sebuah pengingat bahwa keberanian menegakkan integritas adalah kunci perubahan besar—hal yang masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang.
Sumber: rambate.id
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Berikut video analisa saya berjudul "Rakyat gaduh : Presiden Prabowo 1 dari 6 hari berada di luar negeri ? 5 saran saya". Semoga didengar Pemerintah. Silahkan dikomentari, dibahas, dikutip & boleh juga diliput media. Salam, Dr. Dino Patti Djalal
Kesaksian Ishak Bahar menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kelam G30S/PKI.
Pria asal Purbalingga ini menyaksikan langsung bagaimana tujuh perwira TNI diculik dan dibantai di Lubang Buaya, Jakarta.
Pria yang pernah menyandang pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma) itu saat peristiwa G30S bertugas sebagai Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa.
Ia pernah menempuh pendidikan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan sejak 1964 ditugaskan menjadi pengawal Istana.
Pada masa itu ia bahkan pernah ikut mengawal Presiden Soekarno dalam kunjungan ke luar negeri.
Ishak mengungkapkan, keterlibatan dirinya dalam tragedi G30S adalah hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Ia merasa terjebak dalam pusaran politik yang menjungkirbalikkan nasibnya dari seorang patriot yang terhormat menjadi pesakitan berlabel pengkhianat negara.
Masih jelas di ingatan, Letkol Untung, pimpinan Ishak di Batalion Cakrabirawa memberi perintah untuk ikut bersamanya.
Padahal sore itu, Ishak sebenarnya memiliki jadwal mengawal presiden ke Senayan.
Ketika ia menanyakan perintah tersebut, Untung menegaskan agar Ishak tidak perlu lagi mengawal presiden dan justru mengikutinya.
Dengan persenjataan lengkap, Ishak kemudian mengawal dalam satu kendaraan bersama Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief yang kala itu menjabat Komandan Garnisun Kodam Jaya, seorang sopir, dan ajudan.
Mereka sempat berhenti di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk menemui Soeharto yang sedang menjaga anaknya, Hutomo Mandala Putra, yang tengah sakit.
Ishak sendiri tidak masuk ke kamar tempat Tomy dirawat, namun ia mendengar percakapan di mana Untung dan Abdul Latief berpamitan kepada Soeharto untuk melaksanakan sebuah misi.
Belakangan, ia baru menyadari bahwa misi yang dimaksud adalah penculikan para jenderal.
Sesampainya di Lubang Buaya, Ishak diperintahkan untuk bersiaga di sebuah rumah pondok.
Menjelang tengah malam, pasukan Batalion Cakrabirawa datang berduyun-duyun.
Ishak sempat terkejut karena pasukan yang datang adalah rekan-rekannya sendiri yang kemudian dibagi
Pria asal Purbalingga ini menyaksikan langsung bagaimana tujuh perwira TNI diculik dan dibantai di Lubang Buaya, Jakarta.
Pria yang pernah menyandang pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma) itu saat peristiwa G30S bertugas sebagai Komandan Regu Pengawal Istana Batalion Cakrabirawa.
Ia pernah menempuh pendidikan di Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dan sejak 1964 ditugaskan menjadi pengawal Istana.
Pada masa itu ia bahkan pernah ikut mengawal Presiden Soekarno dalam kunjungan ke luar negeri.
Ishak mengungkapkan, keterlibatan dirinya dalam tragedi G30S adalah hal yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Ia merasa terjebak dalam pusaran politik yang menjungkirbalikkan nasibnya dari seorang patriot yang terhormat menjadi pesakitan berlabel pengkhianat negara.
Masih jelas di ingatan, Letkol Untung, pimpinan Ishak di Batalion Cakrabirawa memberi perintah untuk ikut bersamanya.
Padahal sore itu, Ishak sebenarnya memiliki jadwal mengawal presiden ke Senayan.
Ketika ia menanyakan perintah tersebut, Untung menegaskan agar Ishak tidak perlu lagi mengawal presiden dan justru mengikutinya.
Dengan persenjataan lengkap, Ishak kemudian mengawal dalam satu kendaraan bersama Letkol Untung, Kolonel Abdul Latief yang kala itu menjabat Komandan Garnisun Kodam Jaya, seorang sopir, dan ajudan.
Mereka sempat berhenti di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) untuk menemui Soeharto yang sedang menjaga anaknya, Hutomo Mandala Putra, yang tengah sakit.
Ishak sendiri tidak masuk ke kamar tempat Tomy dirawat, namun ia mendengar percakapan di mana Untung dan Abdul Latief berpamitan kepada Soeharto untuk melaksanakan sebuah misi.
Belakangan, ia baru menyadari bahwa misi yang dimaksud adalah penculikan para jenderal.
Sesampainya di Lubang Buaya, Ishak diperintahkan untuk bersiaga di sebuah rumah pondok.
Menjelang tengah malam, pasukan Batalion Cakrabirawa datang berduyun-duyun.
Ishak sempat terkejut karena pasukan yang datang adalah rekan-rekannya sendiri yang kemudian dibagi
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Kerja di luar negeri bisa bantu memperkuat rupiah? Hah, gimana caranya? 🇮🇩💸
Hari ini kita ngobrol bareng Pak John Rachmat @jdr22web , veteran pasar modal Indonesia yang pernah jadi Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Head of Investment & Research Mandiri Investment, sekarang Independent Commissioner di Pinnacle Investment 🏦💪🏻
Kita bahas kenapa USD/IDR bisa tembus 17.800 🌍
BI bilang ini karena faktor global, tapi kok rupiah kalah perform dari banyak currency lain seperti VND sampai Nigerian Naira? 🤔
Menurut Pak John, masalahnya bukan cuma global. Investor juga lagi kurang nyaman dengan kondisi Indonesia sekarang. Apalagi defisit fiskal 4 bulan pertama sudah mencapai Rp164 triliun. Kalau 4 bulan aja sudah segini, full year 2026 gimana coba? 👀
Solusi dari beliau: Indonesia perlu lebih disiplin fiskal, termasuk berani pangkas pengeluaran yang kurang produktif seperti MBG 😱
Menariknya, buat anak muda Indonesia, salah satu cara bantu rupiah bisa sesimpel kerja di negara dengan currency kuat, kirim uang balik ke Indonesia, lalu ikut naikin demand rupiah 🚀
Menurut kalian, ini realistis nggak buat bantu Indonesia? 🇮🇩👇
#rupiah #indonesia #indonesianinsingapore
Hari ini kita ngobrol bareng Pak John Rachmat @jdr22web , veteran pasar modal Indonesia yang pernah jadi Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, Head of Investment & Research Mandiri Investment, sekarang Independent Commissioner di Pinnacle Investment 🏦💪🏻
Kita bahas kenapa USD/IDR bisa tembus 17.800 🌍
BI bilang ini karena faktor global, tapi kok rupiah kalah perform dari banyak currency lain seperti VND sampai Nigerian Naira? 🤔
Menurut Pak John, masalahnya bukan cuma global. Investor juga lagi kurang nyaman dengan kondisi Indonesia sekarang. Apalagi defisit fiskal 4 bulan pertama sudah mencapai Rp164 triliun. Kalau 4 bulan aja sudah segini, full year 2026 gimana coba? 👀
Solusi dari beliau: Indonesia perlu lebih disiplin fiskal, termasuk berani pangkas pengeluaran yang kurang produktif seperti MBG 😱
Menariknya, buat anak muda Indonesia, salah satu cara bantu rupiah bisa sesimpel kerja di negara dengan currency kuat, kirim uang balik ke Indonesia, lalu ikut naikin demand rupiah 🚀
Menurut kalian, ini realistis nggak buat bantu Indonesia? 🇮🇩👇
#rupiah #indonesia #indonesianinsingapore
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
DePen Squad, Sebuah rekaman percakapan dua wanita tentang Prabowo-Teddy viral di media sosial dan menjadi perbincangan publik. Dalam rekaman tersebut, salah satu wanita mengaku memperoleh informasi langsung dari pilot private jet yang disebut pernah menerbangkan Presiden Prabowo Subianto dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian netizen karena berkaitan dengan isu yang selama ini ramai diperbincangkan di media sosial. Wanita itu mengklaim bahwa informasi yang diterimanya dari sang pilot membenarkan sejumlah kabar yang selama ini beredar di ruang publik.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang dapat memverifikasi kebenaran klaim yang disampaikan dalam rekaman suara tersebut.
Bagaimana menurutmu DePen Squad? Tulis di kolom komentar yaa.👇
#deputipenerangan #news
@deputipenerangan
Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian netizen karena berkaitan dengan isu yang selama ini ramai diperbincangkan di media sosial. Wanita itu mengklaim bahwa informasi yang diterimanya dari sang pilot membenarkan sejumlah kabar yang selama ini beredar di ruang publik.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang dapat memverifikasi kebenaran klaim yang disampaikan dalam rekaman suara tersebut.
Bagaimana menurutmu DePen Squad? Tulis di kolom komentar yaa.👇
#deputipenerangan #news
@deputipenerangan
Forwarded from Materi SID
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Syarat mau jadi pemimpin di Singapura dan perbedaan standar di Negara Maju dan Negara Berkembang
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
Lirik asli lagu Indonesia Raya
Max Havelaar; Nestapa Pribumi dan Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda
Penulis. : Multatuli
Penerbit. : DIVA Press
Tahun terbit: 2025
Halaman. : 400
Harga. : 99.000
“Sungguh pilu mendengarkan ratapan rakyat tentang penindasan, pemerasan, kelaparan… saat aku, istri dan anakku, menatap kemungkinan nasib yang sama: kelaparan dan kemiskinan.”
Ya, aku, Multatuli, “yang telah banyak menderita”, kini mengambil alih pena ini. Aku ingin dibaca! Dibaca oleh negarawan yang mesti membuka mata pada tanda-tanda zaman... oleh sastrawan yang merasa berkewajiban membaca buku yang konon “terlalu mengganggu”... oleh Gubernur Jenderal pensiunan... oleh para menteri yang katanya “sibuk sekali”... oleh para jongos ‘Yang Mulia’ itu... oleh anggota parlemen, yang sepatutnya tahu apa yang terjadi di Tanah Jajahan.
Max Havelaar adalah buku yang menceritakan tentang Max Havelaar, seorang pejabat kolonial Belanda, yang bertugas di Lebak, Banten. Ia berjuang melawan korupsi dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial terhadap penduduk pribumi, terutama melalui sistem tanam paksa.
Naskah Max Havelaar dalam buku ini adalah naskah yang tata bahasanya telah disesuaikan dengan Bahasa Indonesia hari ini, gaya ungkapnya telah dipadankan dengan gaya ungkap orang Indonesia masa kini. Dengan begitu, diharapkan buku ini lebih mudah dipahami oleh siapa pun dan menjangkau pembaca seluas-luasnya.
Penulis. : Multatuli
Penerbit. : DIVA Press
Tahun terbit: 2025
Halaman. : 400
Harga. : 99.000
“Sungguh pilu mendengarkan ratapan rakyat tentang penindasan, pemerasan, kelaparan… saat aku, istri dan anakku, menatap kemungkinan nasib yang sama: kelaparan dan kemiskinan.”
Ya, aku, Multatuli, “yang telah banyak menderita”, kini mengambil alih pena ini. Aku ingin dibaca! Dibaca oleh negarawan yang mesti membuka mata pada tanda-tanda zaman... oleh sastrawan yang merasa berkewajiban membaca buku yang konon “terlalu mengganggu”... oleh Gubernur Jenderal pensiunan... oleh para menteri yang katanya “sibuk sekali”... oleh para jongos ‘Yang Mulia’ itu... oleh anggota parlemen, yang sepatutnya tahu apa yang terjadi di Tanah Jajahan.
Max Havelaar adalah buku yang menceritakan tentang Max Havelaar, seorang pejabat kolonial Belanda, yang bertugas di Lebak, Banten. Ia berjuang melawan korupsi dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa kolonial terhadap penduduk pribumi, terutama melalui sistem tanam paksa.
Naskah Max Havelaar dalam buku ini adalah naskah yang tata bahasanya telah disesuaikan dengan Bahasa Indonesia hari ini, gaya ungkapnya telah dipadankan dengan gaya ungkap orang Indonesia masa kini. Dengan begitu, diharapkan buku ini lebih mudah dipahami oleh siapa pun dan menjangkau pembaca seluas-luasnya.