Kebun Makna (Kema)💎
2 subscribers
34 photos
17 videos
Penanda perjalanan🌞
Download Telegram
Rabb-ku pun selalu melihat disetiap sisi
Rabb-ku pun selalu mendengar atas apa yang dilangitkan
dan Rabb-ku selalu mengerti atas apa yang dirasakan

Kelak jika semesta pun bersepakat
Dengan segala ketentuan-Nya
Dengan setiap harap yang disandarkan pada-Nya
Bukankah semua akan menenangkan?
Atas setiap harap yang dimakbulkan
"Yassarallah"

@titin_whyn
April, 2023
𝐓𝐮𝐭𝐮𝐫 𝐊𝐚𝐭𝐚

Saat membaca tafsir beberapa ayat surat Maryam, tiba di ayat ke-42 rasanya sangat sayang jika sebagian dari kita melewati begitu saja tanpa mentadabburinya dengan hati. Sebuah kisah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alahissalaam memberikan pengajaran berharga yang bisa kita jadikan bottom line dalam hidup; ketika beliau menyampaikan kebenaran kepada ayahnya.

“Wahai ayahanda, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat membantumu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)

Perhatikanlah ucapan beliau. Beliau ‘alaihissalaam tidak mengatakan “Kenapa engkau syirik wahai ayah?”, “Kenapa kok ayah malah menyembah mereka?”

Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menimimalisir perkataan yang dapat menyakiti hati lawan bicaranya, terutama kepada orang tua, beliau pilih diksi ucapan yang paling lembut, beliau gunakan kata tanya supaya tetap memberikan ruang kepada ayahnya untuk berpikir dengan logikanya sendiri, tidak langsung memberikan judgement.

Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidaklah menyeru ayahnya dengan namanya langsung, atau dengan panggilan yang kasar, beliau memanggil ayahnya dengan kalimat “Yaa abatii”. Jika dilihat dari kaidah Bahasa kata ini bermakna “wahai ayahanda”. Ini adalah bentuk sapaan yang sangat sopan, lembut, dan mengandung rasa hormat. Ini menandakan rasa hormat beliau yang tinggi kepada sang ayah meskipun ayahnya adalah orang yang kufur.

Tidak peduli setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran kita, di hadapan kedua orangtua, kita tetaplah anak dan kita wajib menghormati mereka, jangan pernah sekali-kali dengan keilmuan yang kita miliki kita seenaknya meninggikan suara kita, sehingga membuat mereka merasa dihinakan atau digurui.

Ayahnya tidak mampu menjawab pertanyaan beliau, maka beliau pun melanjutkan perkataannya dengan memberikan kabar kemudian saran,

“Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)

Beliau tidak mengatakan, “Wahai ayah, engkau itu bodoh, sedangkan aku ini punya ilmu”, atau dengan ucapan semisal lainnya.

Kira-kira redaksi yang beliau sampaikan kepada ayahnya seperti ini, “Wahai ayahku, Ayah memang punya ilmu, tapi aku baru saja mendapatkan ilmu yang mungkin belum ayah dapatkan sebelumnya.”

Beliau tidak menyatakan secara langsung, “Selama ini ayah itu sesat.”

Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melanjutkan perkataannya, “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” (QS. Maryam: 45)

Kekhawatiran yang beliau ungkapkan sangat jelas menunjukkan kasih sayang beliau kepada ayahnya. Perhatikan juga bagaimana beliau memilih diksi untuk mengungkapkan kekhawatirannya dengan kalimat أن يمسّك عذاب “disentuh oleh siksa” (makna secara harfiah).

Beliau tidak memilih diksi kalimat أن يهلك عذاب, “aku khawatir engkau akan dibinasakan oleh siksa.”

Beliau juga menyebut kebaikan Allaah ta’aala dengan menyebutkan nama Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, hal ini sebagai motivasi bagi ayahnya untuk segera menuju jalan yang lurus, menuju jalan-Nya Dzat Yang Maha Pengasih.

Terlepas dari berhasil atau tidaknya beliau mendakwahi ayahnya, bukan itu yang menjadi bottom linenya. Sebab hidayah ada di tangan Allaah, sedangkan tugas beliau adalah memberikan arahan. Yang menjadi bottom linenya adalah bagaimana cara beliau dalam menjelaskan kebaikan dan kebenaran, bukan menjelaskan bahwa beliau itu baik dan benar.

Kotak beramal kita bukan dilihat dari hasil, akan tetapi dari bagaimana kita menjalani prosesnya karena disitulah letak ikhtiar kita. Inilah yang menjadi bottom line untuk kita; prosesnya. Kalau hanya dilihat dari hasil, maka para Nabi tentu tidak akan mendapatkan ganjaran dari Allaah atas perjuangannya dalam berdakwah karena ketidakberhasilannya dalam mendakwahi beberapa kaum.

Sebuah nasihat from @Kutbook
Sandwich Generation

Sandwich generation atau generasi sandwich adalah sebuah istilah bagi mereka yang memiliki peran ganda diusia produktif atau bertanggungjawab pada orang tua, anak ataupun saudara mereka. Mereka ikut menanggung beban generasi sebelum dan sesudahnya.

Dikutip dari 𝓽𝓱𝓮𝓪𝓼𝓲𝓪𝓷𝓹𝓪𝓻𝓮𝓷𝓽𝓼 istilah generasi sandwich diperkenalkan pertama kali oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor sekaligus direktur praktikum Kentucky, Lexington, Amerika Serikat.

Kondisi generasi sandwich diibaratkan seperti sandwich dimana sepotong daging terhimpit oleh 2 buah roti. Roti tersebut diibaratkan sebagai orang tua (generasi atas) dan anak (generasi bawah). Sedangkan isi utamanya berupa daging, mayonise, dan saus terhimpit oleh roti diibaratkan oleh diri sendiri.

Dari beberapa artikel yang penulis baca, latar belakang munculnya generasi sandwich timbul dari Orang Tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya dan berpotensi pada anak untuk menjadi generasi sandwich. Status generasi sandwich membuat seseorang memiliki jumlah tanggungan yang lebih besar dibanding non-generasi sandwich. Jika mata rantai ini tidak diputus maka akan berlanjut dimasa depan.
Inilah dampak dari generasi sandwich, namun apakah generasi sandwich akan kita labeli dengan istilah yang negatif? Tentu tidak.

Istilah-istilah tersebut jangan sampai menggiring opini kita menjadi sebuah beban negatif. Dalam agama Islam, orang tua atau keluarga adalah sebuah bentuk rezeki bagi kita. Kita harus memuliakan mereka karena dahulu sewaktu kecil mereka pernah merawat kita menjadi orang-orang yang sukses meraih cita-cita. Dan inilah tugas kita sebaliknya.

Memuliakan orang tua bisa jadi membuka pintu rezeki kita bagaimanapun keadaan yang sedang kita jalani. Seperti kata Buya Hamka "Orang yang membiayai akan mendapatkan pahala sedekah tanpa henti. Adapun pahala sedekah, jika memberikannya mengharapkan Ridho dari Allah SWT maka akan diganti didunia ataupun di akhirat

Allah Subhanahu Wa Ta'ala befirman:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu."
(QS. Luqman 31: Ayat 14)


Memberi nafkah kepada orang tua merupakan salah satu bentuk birrul walidain kepada mereka apalagi jika mereka sudah berusia lanjut. Maka jangan jadikan beban melainkan sebuah kesempatan berharga untuk mereka.


Lalu apa yang harus kita lakukan jika kita menjadi bagian dari generasi sandwich saat ini?

Yaitu memahami finansial literasi atau literasi keuangan. Memahami literasi keuangan membuat kita menjadi individu yang bijak dalam menggunakan uang atau tidak berperilaku konsumtif , kita mampu merencanakan, mengelola, dan menabung untuk hal-hal yang penting sehingga keuangan bisa berjalan dengan baik.


Apalagi bagi seseorang yang belum menikah bisa menjadi latihan awal untuk memanfaatkan uang lebih baik, menyisihkan untuk orang tua, adik, dan menyisihkan dana darurat.


Hal yang paling penting adalah banyak-banyak bersyukur tanpa pasrah dengan keadaan. Karena dengan bersyukur, Allah akan memberikan nikmat yang lebih banyak untuk hambanya tentunya dibarengi dengan usaha tanpa menunggu rezeki itu datang sendiri.

@titin_whyn
👍1
Away.

Tidak ada cobaan berat yang melebihi kesanggupan manusia untuk memikulnya. Setiap cobaan dan ujian hidup sudah diukur dengan kemampuan dan kesanggupan kita dalam mengatasinya.

Seiring berjalannya waktu dan kehidupan yang semakin kompleks, seringkali kita cenderung terjebak dalam kesibukan dan melupakan hubungan spiritual dengan Allah.

Pada saat-saat sulit, menjalin dan memperkuat hubungan dengan Allah dapat menjadi sumber kekuatan dan ketenangan yang tak tergantikan. Namun acap kali kita lalai. Tak ingat Allah sama sekali, disaat nikmat itu dalam genggaman. Namun barulah tersadar, disaat ujian demi ujian datang, menyakiti badan, melemahkan hati, dan merontokkan angan-angan.

Bukan beratnya ujian yang membuat kita rapuh, tapi senggangnya hubungan kita dengan Allah yang menyebabkan diri seakan tidak mampu. Kita seolah mampu, tak butuh dengan Allah yang Maha Pemberi.

Merasa nikmat yang ditangan, adalah buah dari perjuangan. Seolah tak sadar, bahwa ada campur tangan Tuhan. Sekarang, disaat titik terlemah itulah kita baru tersadarkan, bahwa kita butuh bantuan Allah.

Jauhnya jarak. Lemahnya sholat. Urungnya doa-doa. Membuat kita jadi lemah. Diri semakin jauh dari Allah, padahal alasan itulah yang membuat kita merasa—ternyata ujian ini terlalu berat.

Bukankah Rasulullah yang dijamin masuk surga, masih melakukan sholat, terlebih setelah usia 52 tahun setelah peristiwa Mi’raj? Lalu, ketika seorang sahabat mengajukan pertanyaan kritis dan reflektif, untuk apakah salat itu dilakukan bagi hamba yang sudah dijamin surga baginya? Jawaban Rasulullah sangat filosofis: “Bukankah saya ingin dicintai sebagai hamba yang bersyukur?.”

Selamat berbenah kembali, kawan.

Follow our ig @tarbiyah.generation
Join telegram @generasitarbiyah

#GenerasiTarbiyah #TarbiyahGeneration #AyoTarbiyah #dakwahkreatif #dakwahvisual #yukshare #yukngaji #ayohijrah #art #pemudahijrah #istiqomah #muslimdesignercommunity #quotes #quotesislami #islam #dakwah #moslem #muslim #hijrah #nasehat #takwa #graphic #visual #kreatif #designermuslim #fyp #ujian #rapuh #cobaan #allah
Kehilangan adalah untuk menemukan sesuatu yang baru
Hikmah bisa kita pelajari setelah badai berlalu
Malam yang sangat pekat disitulah cahaya akan terpendar sangat terang
Bertanya-tanya boleh, tapi jangan sampai rasa sedih itu menghentikan rasa khusnuzan kita kepada Allah SWT
Hadits Qudsi adalah hadits yang Allah langsung kepada Rasul/firman Allah yg diberikan kepada Rasul tapi tidak ada dalam Al-Qur'an
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
 
Forwarded from #GenerasiTarbiyah
Rafah.

Rafah membuka mata kita. Bahwa penjajah durjana itu memang benar-benar dusta. Rafah membuka mata kita. Bahwa kita yang milyaran tak cukup sebanding dengan sejuta orang-orang beriman di tanah Gaza.

Hingga detik ini, tak cukup kalimat yang bisa diutarakan untuk melukiskan bagaimana kekejaman, kekejian, yang dipertontonkan di depan mata.

Lalu kita hanya sanggup untuk meng-share konten-kontennya. Hanya bisa mendoakannya dalam sujud dan wirid-wirid kita. Tak bisa berbuat apa-apa. Selemah itukah kita?

Sehari di Rafah. Mungkin tak cukup sama sekali untuk menggambarkan bagaimana ribuan ton bom itu menghancurkan segalanya. Bagaimana tenda-tenda doyong itu rata dengan tanah.

Angka kematian sudah tak terhitung jumlahnya dan dunia masih saja buta, tak bisa berbuat apa-apa.

Jangankan mengirim pasukan perdamaian. Sekardus mie instan saja kita sulitnya luar biasa.

Rafahku, Tempat terakhir di perjalananku.

Jika memang tak ada yang bisa membela. Setelah Rafah, mungkin aku akan mengungsi ke surga.

Ucapnya, dari balik reruntuhan yang mengoyak belulang dengan sesak di dada yang luar biasa.

Ya Rabb, Maafkan kelemahan milyaran manusia di dunia ini. Yang beriman, Namun tak cukup taji melakukan pembelaan.

Follow our ig @tarbiyah.generation
Join telegram @generasitarbiyah

#GenerasiTarbiyah #TarbiyahGeneration #AyoTarbiyah #dakwahkreatif #dakwahvisual #yukshare #yukngaji #ayohijrah #art #pemudahijrah #istiqomah #muslimdesignercommunity #quotes #quotesislami #islam #dakwah #moslem #muslim #hijrah #nasehat #takwa #graphic #visual #kreatif #designermuslim #fyp #Rafah #alleyesonrafah #gaza #palestina
Forwarded from Deaulia1
This media is not supported in your browser
VIEW IN TELEGRAM
untuk kamu, untuk kita semua yang dalam perjalanannya pernah gagal, pernah takut, pernah cemas, tapi tetap memilih untuk tetap maju dan melanjutkannya.

Dibalik setiap keraguan diri, masalah, luka, kepahitan, tapi tetap memilih untuk bertahan, dan mampu mengatasinya. Banyak hal yang terjadi, hingga membuatmu hancur berkeping-keping. Namun alih-alih menghitung kegagalan, lebih baik menyadari bahwa “betapa beraninya saya. Saya berhasil mengatasi hari-hari sulit itu”.

Kirim ini untuk diri sendiri? Boleh banget.. karena kamu layak mendapatkan apresiasi itu :)
Forwarded from Deaulia1
Media is too big
VIEW IN TELEGRAM
Orang yang tepat. Ini bisa aku artikan dalam bentuk lingkungan, pasangan, partner kerja atau apapun itu. Mereka akan datang kepadamu bahkan mungkin disaar kamu putus asa bahwa ada orang yang ternyata peduli dan mensupportmu. Mereka datang disaat kamu rapuh, melihat dirimu di keadaan dan paling rentan dan tetap memilih untuk bertahan. Dan lagi, mendukung mu.

Dan untukNya dari diri ini, saya, kami tidak tahu seberapa banyak kami berbuat salah bahkan jatuh berkali-kali. Tapi ampunan dan kesempatan yang Ia berikan selalu terbuka luas untuk kita semua. Untuk hidup yang lebih baik. Dan membimbing kembali kepada sumber kekuatan untuk meghadapi segala rintanban dalam hidup. Dan saya percaya, bahwa tidak mungkin ini dibebankan kecuali sesuai dengan kesanggupan setiap dari kita :)