Rabb-ku pun selalu melihat disetiap sisi
Rabb-ku pun selalu mendengar atas apa yang dilangitkan
dan Rabb-ku selalu mengerti atas apa yang dirasakan
Kelak jika semesta pun bersepakat
Dengan segala ketentuan-Nya
Dengan setiap harap yang disandarkan pada-Nya
Bukankah semua akan menenangkan?
Atas setiap harap yang dimakbulkan
"Yassarallah"
@titin_whyn
April, 2023
Rabb-ku pun selalu mendengar atas apa yang dilangitkan
dan Rabb-ku selalu mengerti atas apa yang dirasakan
Kelak jika semesta pun bersepakat
Dengan segala ketentuan-Nya
Dengan setiap harap yang disandarkan pada-Nya
Bukankah semua akan menenangkan?
Atas setiap harap yang dimakbulkan
"Yassarallah"
@titin_whyn
April, 2023
𝐓𝐮𝐭𝐮𝐫 𝐊𝐚𝐭𝐚
Saat membaca tafsir beberapa ayat surat Maryam, tiba di ayat ke-42 rasanya sangat sayang jika sebagian dari kita melewati begitu saja tanpa mentadabburinya dengan hati. Sebuah kisah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alahissalaam memberikan pengajaran berharga yang bisa kita jadikan bottom line dalam hidup; ketika beliau menyampaikan kebenaran kepada ayahnya.
“Wahai ayahanda, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat membantumu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)
Perhatikanlah ucapan beliau. Beliau ‘alaihissalaam tidak mengatakan “Kenapa engkau syirik wahai ayah?”, “Kenapa kok ayah malah menyembah mereka?”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menimimalisir perkataan yang dapat menyakiti hati lawan bicaranya, terutama kepada orang tua, beliau pilih diksi ucapan yang paling lembut, beliau gunakan kata tanya supaya tetap memberikan ruang kepada ayahnya untuk berpikir dengan logikanya sendiri, tidak langsung memberikan judgement.
Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidaklah menyeru ayahnya dengan namanya langsung, atau dengan panggilan yang kasar, beliau memanggil ayahnya dengan kalimat “Yaa abatii”. Jika dilihat dari kaidah Bahasa kata ini bermakna “wahai ayahanda”. Ini adalah bentuk sapaan yang sangat sopan, lembut, dan mengandung rasa hormat. Ini menandakan rasa hormat beliau yang tinggi kepada sang ayah meskipun ayahnya adalah orang yang kufur.
Tidak peduli setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran kita, di hadapan kedua orangtua, kita tetaplah anak dan kita wajib menghormati mereka, jangan pernah sekali-kali dengan keilmuan yang kita miliki kita seenaknya meninggikan suara kita, sehingga membuat mereka merasa dihinakan atau digurui.
Ayahnya tidak mampu menjawab pertanyaan beliau, maka beliau pun melanjutkan perkataannya dengan memberikan kabar kemudian saran,
“Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)
Beliau tidak mengatakan, “Wahai ayah, engkau itu bodoh, sedangkan aku ini punya ilmu”, atau dengan ucapan semisal lainnya.
Kira-kira redaksi yang beliau sampaikan kepada ayahnya seperti ini, “Wahai ayahku, Ayah memang punya ilmu, tapi aku baru saja mendapatkan ilmu yang mungkin belum ayah dapatkan sebelumnya.”
Beliau tidak menyatakan secara langsung, “Selama ini ayah itu sesat.”
Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melanjutkan perkataannya, “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” (QS. Maryam: 45)
Kekhawatiran yang beliau ungkapkan sangat jelas menunjukkan kasih sayang beliau kepada ayahnya. Perhatikan juga bagaimana beliau memilih diksi untuk mengungkapkan kekhawatirannya dengan kalimat أن يمسّك عذاب “disentuh oleh siksa” (makna secara harfiah).
Beliau tidak memilih diksi kalimat أن يهلك عذاب, “aku khawatir engkau akan dibinasakan oleh siksa.”
Beliau juga menyebut kebaikan Allaah ta’aala dengan menyebutkan nama Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, hal ini sebagai motivasi bagi ayahnya untuk segera menuju jalan yang lurus, menuju jalan-Nya Dzat Yang Maha Pengasih.
Terlepas dari berhasil atau tidaknya beliau mendakwahi ayahnya, bukan itu yang menjadi bottom linenya. Sebab hidayah ada di tangan Allaah, sedangkan tugas beliau adalah memberikan arahan. Yang menjadi bottom linenya adalah bagaimana cara beliau dalam menjelaskan kebaikan dan kebenaran, bukan menjelaskan bahwa beliau itu baik dan benar.
Kotak beramal kita bukan dilihat dari hasil, akan tetapi dari bagaimana kita menjalani prosesnya karena disitulah letak ikhtiar kita. Inilah yang menjadi bottom line untuk kita; prosesnya. Kalau hanya dilihat dari hasil, maka para Nabi tentu tidak akan mendapatkan ganjaran dari Allaah atas perjuangannya dalam berdakwah karena ketidakberhasilannya dalam mendakwahi beberapa kaum.
Sebuah nasihat from @Kutbook
Saat membaca tafsir beberapa ayat surat Maryam, tiba di ayat ke-42 rasanya sangat sayang jika sebagian dari kita melewati begitu saja tanpa mentadabburinya dengan hati. Sebuah kisah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alahissalaam memberikan pengajaran berharga yang bisa kita jadikan bottom line dalam hidup; ketika beliau menyampaikan kebenaran kepada ayahnya.
“Wahai ayahanda, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat membantumu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)
Perhatikanlah ucapan beliau. Beliau ‘alaihissalaam tidak mengatakan “Kenapa engkau syirik wahai ayah?”, “Kenapa kok ayah malah menyembah mereka?”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam menimimalisir perkataan yang dapat menyakiti hati lawan bicaranya, terutama kepada orang tua, beliau pilih diksi ucapan yang paling lembut, beliau gunakan kata tanya supaya tetap memberikan ruang kepada ayahnya untuk berpikir dengan logikanya sendiri, tidak langsung memberikan judgement.
Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidaklah menyeru ayahnya dengan namanya langsung, atau dengan panggilan yang kasar, beliau memanggil ayahnya dengan kalimat “Yaa abatii”. Jika dilihat dari kaidah Bahasa kata ini bermakna “wahai ayahanda”. Ini adalah bentuk sapaan yang sangat sopan, lembut, dan mengandung rasa hormat. Ini menandakan rasa hormat beliau yang tinggi kepada sang ayah meskipun ayahnya adalah orang yang kufur.
Tidak peduli setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran kita, di hadapan kedua orangtua, kita tetaplah anak dan kita wajib menghormati mereka, jangan pernah sekali-kali dengan keilmuan yang kita miliki kita seenaknya meninggikan suara kita, sehingga membuat mereka merasa dihinakan atau digurui.
Ayahnya tidak mampu menjawab pertanyaan beliau, maka beliau pun melanjutkan perkataannya dengan memberikan kabar kemudian saran,
“Wahai ayahku, sungguh telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)
Beliau tidak mengatakan, “Wahai ayah, engkau itu bodoh, sedangkan aku ini punya ilmu”, atau dengan ucapan semisal lainnya.
Kira-kira redaksi yang beliau sampaikan kepada ayahnya seperti ini, “Wahai ayahku, Ayah memang punya ilmu, tapi aku baru saja mendapatkan ilmu yang mungkin belum ayah dapatkan sebelumnya.”
Beliau tidak menyatakan secara langsung, “Selama ini ayah itu sesat.”
Kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalaam melanjutkan perkataannya, “Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.” (QS. Maryam: 45)
Kekhawatiran yang beliau ungkapkan sangat jelas menunjukkan kasih sayang beliau kepada ayahnya. Perhatikan juga bagaimana beliau memilih diksi untuk mengungkapkan kekhawatirannya dengan kalimat أن يمسّك عذاب “disentuh oleh siksa” (makna secara harfiah).
Beliau tidak memilih diksi kalimat أن يهلك عذاب, “aku khawatir engkau akan dibinasakan oleh siksa.”
Beliau juga menyebut kebaikan Allaah ta’aala dengan menyebutkan nama Ar-Rahman, Yang Maha Pengasih, hal ini sebagai motivasi bagi ayahnya untuk segera menuju jalan yang lurus, menuju jalan-Nya Dzat Yang Maha Pengasih.
Terlepas dari berhasil atau tidaknya beliau mendakwahi ayahnya, bukan itu yang menjadi bottom linenya. Sebab hidayah ada di tangan Allaah, sedangkan tugas beliau adalah memberikan arahan. Yang menjadi bottom linenya adalah bagaimana cara beliau dalam menjelaskan kebaikan dan kebenaran, bukan menjelaskan bahwa beliau itu baik dan benar.
Kotak beramal kita bukan dilihat dari hasil, akan tetapi dari bagaimana kita menjalani prosesnya karena disitulah letak ikhtiar kita. Inilah yang menjadi bottom line untuk kita; prosesnya. Kalau hanya dilihat dari hasil, maka para Nabi tentu tidak akan mendapatkan ganjaran dari Allaah atas perjuangannya dalam berdakwah karena ketidakberhasilannya dalam mendakwahi beberapa kaum.
Sebuah nasihat from @Kutbook