MENDIDIK ANAK BERDASARKAN USIA HARUS BERDALIL
Diantara basis pendidikan Islam yang tidak boleh diabaikan adalah basis usia, sejumlah nash baik dalam Al-Quran maupun Sunnah sudah menjelaskan perkara ini dengan gamblang dan jelas dan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai dan visi generasi dalam Islam yang melahirkan sosok pribadi Islam yang tangguh, generasi pemimpin dan generasi khairu ummah.
Karena dalam pendidikan Islam harus senantiasa integral antara tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai dengan konsep yang dimiliki dan juga metode yang diberlakukan, semua harus berasal dari jenis yang sama yaitu dari Islam. Tidak boleh konsepnya Islam metodenya Barat, apalagi konsepnya Barat metodenya juga Barat kecuali perkara sains dan teknologi dan itupun pada tataran aplikasi tetap saja harus diwaspadai karena bisa jadi mengandung hadharah.
Perkara mendidik berdasarkan usia Allah swt berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Annur : 58)
Ayat ini menjelaskan bagaimana aturan interaksi anak usia prabaligh dengan orang tua dalam kehidupan khas, kehidupan rumah yang harus meminta izin terlebih dahulu di waktu-waktu aurat. Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dalam perkara ini, ayah bunda memberikan pelajaran kepada anak tiga waktu aurat.
Namun ketika anak sudah baligh izin itu tidak hanya tiga waktu aurat tapi semua waktu dan kesempatan anak yang sudah baligh harus dapat izin ayah bundanya terlebih dahulu untuk memasuki kamar atau kehidupan khusus lainnya.
Allah berfirman :
Dan apabila anak-anakmu telah dewasa maka hendaklah mereka meminta izin jua sebagaimana meminta izinnya orang-orang telah terdahulu tadi. Bukankah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya untuk kamu; dan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Annur : 59)
Dalam hadist juga menjelaskan bahwa perkara pendidikan itu harus berbasis usia prabaligh dan anak yang sudah baligh. Rasulullah saw. Bersabda :
رفع القلم ، عن ثلاثة ، النائم حتى يستيقظ ، والصبي حتى يبلغ ، والمجنون حتى يفيق
“Pena diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar” (al-Bayhaqi dalam Ma’rifatus Sunan)
Dapat dipahami bahwa anak usia prabaligh tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya hingga dia baligh. Dari sini penting memahami usia anak dalam penerapan hukum-hukum Allah agar tidak salah dalam mendidik.
Dalam kesempatan lain Rasulullah saw juga mengajarkan parenting berbasis usia kepada kita dalam perkara shalat dan pemisahan tempat tidur langsung menyebutkan usia anak , beliau bersabda :
"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)
Demikianlah Allah dan Rasulnya mengarahkan kita dalam mendidik, harus memperhatikan usia saat prabaligh dan saat baligh. Memperhatikan usia anak dalam mendidik dengan berdasarkan dalil-dalil syara’ agar orang tua memahami hukum-hukum apa saja yang terkait dengan usia tersebut yang harus dilakukan oleh orang tua. Kemudian bagaimana perlakuan mendidik orang tua terhadap anak saat usia pra baligh dan saat usia baligh.
Jika kita memahami tentang pendidikan berbasis usia ini kaitannya dengan parenting adalah sebagai berikut :
Diantara basis pendidikan Islam yang tidak boleh diabaikan adalah basis usia, sejumlah nash baik dalam Al-Quran maupun Sunnah sudah menjelaskan perkara ini dengan gamblang dan jelas dan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai dan visi generasi dalam Islam yang melahirkan sosok pribadi Islam yang tangguh, generasi pemimpin dan generasi khairu ummah.
Karena dalam pendidikan Islam harus senantiasa integral antara tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai dengan konsep yang dimiliki dan juga metode yang diberlakukan, semua harus berasal dari jenis yang sama yaitu dari Islam. Tidak boleh konsepnya Islam metodenya Barat, apalagi konsepnya Barat metodenya juga Barat kecuali perkara sains dan teknologi dan itupun pada tataran aplikasi tetap saja harus diwaspadai karena bisa jadi mengandung hadharah.
Perkara mendidik berdasarkan usia Allah swt berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Annur : 58)
Ayat ini menjelaskan bagaimana aturan interaksi anak usia prabaligh dengan orang tua dalam kehidupan khas, kehidupan rumah yang harus meminta izin terlebih dahulu di waktu-waktu aurat. Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dalam perkara ini, ayah bunda memberikan pelajaran kepada anak tiga waktu aurat.
Namun ketika anak sudah baligh izin itu tidak hanya tiga waktu aurat tapi semua waktu dan kesempatan anak yang sudah baligh harus dapat izin ayah bundanya terlebih dahulu untuk memasuki kamar atau kehidupan khusus lainnya.
Allah berfirman :
Dan apabila anak-anakmu telah dewasa maka hendaklah mereka meminta izin jua sebagaimana meminta izinnya orang-orang telah terdahulu tadi. Bukankah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya untuk kamu; dan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Annur : 59)
Dalam hadist juga menjelaskan bahwa perkara pendidikan itu harus berbasis usia prabaligh dan anak yang sudah baligh. Rasulullah saw. Bersabda :
رفع القلم ، عن ثلاثة ، النائم حتى يستيقظ ، والصبي حتى يبلغ ، والمجنون حتى يفيق
“Pena diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar” (al-Bayhaqi dalam Ma’rifatus Sunan)
Dapat dipahami bahwa anak usia prabaligh tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya hingga dia baligh. Dari sini penting memahami usia anak dalam penerapan hukum-hukum Allah agar tidak salah dalam mendidik.
Dalam kesempatan lain Rasulullah saw juga mengajarkan parenting berbasis usia kepada kita dalam perkara shalat dan pemisahan tempat tidur langsung menyebutkan usia anak , beliau bersabda :
"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)
Demikianlah Allah dan Rasulnya mengarahkan kita dalam mendidik, harus memperhatikan usia saat prabaligh dan saat baligh. Memperhatikan usia anak dalam mendidik dengan berdasarkan dalil-dalil syara’ agar orang tua memahami hukum-hukum apa saja yang terkait dengan usia tersebut yang harus dilakukan oleh orang tua. Kemudian bagaimana perlakuan mendidik orang tua terhadap anak saat usia pra baligh dan saat usia baligh.
Jika kita memahami tentang pendidikan berbasis usia ini kaitannya dengan parenting adalah sebagai berikut :
1. Memahami tumbuh kembang anak setiap jenjang usia
2. Menentukan tahapan-tahapan pendidikan
3. Menentukan jenjang sekolah
4. Hukum-hukum syara’ yang terkait dengan anak sesuai jenjang usia
5. Penentuan kurikulum dan bahan ajar sesuai usia serta metode pembelajaran
6. Penentuan ta’dib bagi kesalahan anak
7. Meraih tujuan pendidikan (Takwinusysyakhshiyyah ) di setiap jenjang usia
8. Mengantarkan anak prabaligh menuju mukallaf (dewasa)
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
2. Menentukan tahapan-tahapan pendidikan
3. Menentukan jenjang sekolah
4. Hukum-hukum syara’ yang terkait dengan anak sesuai jenjang usia
5. Penentuan kurikulum dan bahan ajar sesuai usia serta metode pembelajaran
6. Penentuan ta’dib bagi kesalahan anak
7. Meraih tujuan pendidikan (Takwinusysyakhshiyyah ) di setiap jenjang usia
8. Mengantarkan anak prabaligh menuju mukallaf (dewasa)
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI MENGUATKAN PENGARUH IBU TERHADAP ANAK
“ Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithroh, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya”
Demikian Rasulullah membuat stetmen bahwa fithroh anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fithroh anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fithroh anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Source : Ustadzah Yanti Tanjung
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
“ Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithroh, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya”
Demikian Rasulullah membuat stetmen bahwa fithroh anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fithroh anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fithroh anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Source : Ustadzah Yanti Tanjung
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
📌BUKAN SEKEDAR BERMAIN📌
Ayah Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.
Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.
Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.
Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.
Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”
Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).
Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.
Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma
innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.
Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat
Ayah Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.
Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.
Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.
Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.
Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”
Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).
Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.
Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma
innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.
Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat
di mesjid dan sebelum bermain setor muraja'ah dulu minimal 1/2 juz. Bahkan ada salah satu temannya pindah sekolah ke sekolahnya karena tertarik dengan sekolah tahfidznya.
Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :
1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.
2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.
3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.
4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.
Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.
Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.
Wallau a’lam bishshawab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :
1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.
2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.
3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.
4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.
Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.
Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.
Wallau a’lam bishshawab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Bismillah, mari sama² berdo'a agar hari ini kita diberikan Rizky yg halal dan barokah
Aammiiinn
Aammiiinn
Rasulullah bersabda :
لا تزول قدما عبد حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيم أفناه وعن علمه ما فعل فيه وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلاه
Artinya : Tidak akan berpindah, dua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Robbnya, sampai dia ditanya tetang 4 perkara, diamana dia dapatkan hartanya dan dimana dia habiskan. (Hadits Shohih riwayat Tirmidzi dari Abi Barzah, lihat Shohih Jami’ Ash Shoghiir no.7300)
لا تزول قدما عبد حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيم أفناه وعن علمه ما فعل فيه وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلاه
Artinya : Tidak akan berpindah, dua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Robbnya, sampai dia ditanya tetang 4 perkara, diamana dia dapatkan hartanya dan dimana dia habiskan. (Hadits Shohih riwayat Tirmidzi dari Abi Barzah, lihat Shohih Jami’ Ash Shoghiir no.7300)
HIKMAH DARI KISAH NABI NUH DAN NABI YA'QUB
"Sikap Orang Tua ketika Anak Menjadi Ujian Baginya"
Setiap orangtua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.
Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].
Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.
Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipatganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat.
Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.
Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.
Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah SWT walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
"Sikap Orang Tua ketika Anak Menjadi Ujian Baginya"
Setiap orangtua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.
Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].
Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.
Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipatganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat.
Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.
Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.
Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah SWT walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
Kitapun bisa berkaca pada Nabi ya’qub ketika saudara-saudara nabi Yusuf menjerumukannya di sumur tua dan mereka berdusta pada
ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang buas dan memperlihatkan bukti darah domba yang dibalurkan pada bajunya Nabi Yusuf.
Betapa menderitanya perasaan sang ayah saat itu namun Nabi Ya’qub bersabar dengan cobaan itu, melapangkan hatinya memaafkan anak-anaknya dan memberikan pada mereka kesempatan untuk kembali pada keshalehannya hingga saat yang diharapkan itu benar-benar disaksikan oleh Nabi Ya’qub, semua anak-anaknya kembali dalam kebaikan dan ketaatan.
Beberapa hal ini bisa kita lakukan ketika kita diuji dengan anak :
1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah SWT bahwa baik buruknya datang dari Allah
2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat
3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur
4. Maafkan kesalahnnya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya
5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lukukan penguatan-penguatan kerpibadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.
6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.
Wallahu a'lam bishshowab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang buas dan memperlihatkan bukti darah domba yang dibalurkan pada bajunya Nabi Yusuf.
Betapa menderitanya perasaan sang ayah saat itu namun Nabi Ya’qub bersabar dengan cobaan itu, melapangkan hatinya memaafkan anak-anaknya dan memberikan pada mereka kesempatan untuk kembali pada keshalehannya hingga saat yang diharapkan itu benar-benar disaksikan oleh Nabi Ya’qub, semua anak-anaknya kembali dalam kebaikan dan ketaatan.
Beberapa hal ini bisa kita lakukan ketika kita diuji dengan anak :
1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah SWT bahwa baik buruknya datang dari Allah
2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat
3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur
4. Maafkan kesalahnnya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya
5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lukukan penguatan-penguatan kerpibadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.
6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.
Wallahu a'lam bishshowab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BELAJAR DARI IMAM SYAFI'I
Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya
Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.
Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”
“Belum faham, ”jawab Rabi’.
Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum.
Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.
Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.
Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?
Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.
Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,
”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”
Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.
Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.
Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.
Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.
Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?
Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran*?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala*?
source : fanpage Facebook
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya
Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.
Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”
“Belum faham, ”jawab Rabi’.
Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum.
Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.
Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.
Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?
Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.
Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,
”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”
Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.
Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.
Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.
Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.
Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?
Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran*?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala*?
source : fanpage Facebook
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI DALAM MENGHADAPI DUNIA DIGITAL UNTUK ORANG TUA
Sebuah quote populer dari Ali bin Abi Thalib k.w.“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”
Mendidik anak sesuai zaman itu bukan berarti mendidik harus mengikuti zaman, akan tetapi ayah bunda memetakan zaman yang ada, sisi kebaikan dan kerusakannya, ancaman dan tantanganya serta peluang dan dukungannya sehingga dapat memetakan pula sisi strategi mendidik yang dapat melejitkan kepribadian islam anak dan ketangguhannya dalam bidang tsaqafah islam, ilmu, hukum, politik dan jihad dan anak-anak harus unggul dalam hal ini.
Era digital memang cendrung merusak di dalam kekuasaan zaman Kapitalisme Sekulerisme, namun manfaat sanis dan teknologinya dapat diambil untuk mempermudah ayah bunda dalam mendidik bukan malah menghancurkan sendi-sendi kepribadian islam anak.
Teknologi digital dalam penerapannya tentu dipengaruhi tsaqafah tertentu, bila yang mengendalikan teknologi tersebut adalah Kapitalisme maka bisa dipastikan pemanfaatan teknologinya dipengaruhi ideologi tersebut, sebab sebuah ideologi alamiahnya ingin menguasai dan menjadi negara nomor satu.
Jadilah saat ini kita ayah bunda terseok-seok dengan pengaruh teknologi digital yang notabene sajian-sajian di dalamnya boro-boro dapat mencapai insan bertakwa yang ada justru merusak kepribadian Islam anak-anak kita.
Teknologi digital bisa kita manfaatkan sebagai media belajar bisa memudahkan kita mencari informasi2 tentang mendidik anak dan solusi-solusi problematika pendidikan anak. Namun sajiannya tidak selalu tepat untuk digunakan apalagi jika digital semisal hand phone sudah menjadi konsumsi setiap hari bagi anak-anak kita tanpa ada pengawasan yang ketat.
Sudah tidak dapat dipungkiri rusaknya generasi hari ini karena mereka mengkonsumsi video porno, tayangan2 porno dan photo2 porno langsung dari hand phone mereka sendiri. Ketika mereka rusak permanen maka sulit bagi kita untuk memperbaiki generasi yang sudah kecanduan pornografi bahkan menjadi pelakunya dan menyebarkannya.
Oleh karena itu kita butuh sudut pandang sendiri untuk menilai sebuah zaman di era ini dan butuh merubah strategi parenting menghadapi zaman ini. Sudah tidak berlaku bila kita masih berpendapat bahwa orang tua sekarang meniru cara didik orang tuanya dulu, pastinya akan tergilas zaman. Lebih-lebih lagi jika orang tua tersebut korban dari zaman, menyerah pasrah di hadapan zaman yang tidak hanya merusak anaknya tapi merusak orangtua itu sendiri.
Maka strategi parenting itu harus dipelajari, dilatih dan komitmen berpegang pada konsep dan metode pendidikan yang benar.
Sejatinya pendidikan Islam pada tataran konsep dan metode mampu menjawab semua zaman baik dalam pola asuh maupun pola didik. Pendidikan berbasis aqidah Islam tidak bisa lekang oleh zaman, akan selalu terpatri dalam tsaqafah islam yang sejatinya sudah menjadi milik ayah dan bunda.
Konsep dan metode pendidikan itu wajib hukumnya untuk diamalkan dan tidak akan pernah berubah karena bersifat baku. Maka wajib bagi orang tua mempelajari konsep dan metode pendidikan ini dan terus belajar untuk memahami lebih dalam sehingga berpengaruh pada amal kita dalam mendidik.
Dalam menghadapi era digital yang kita perlu pikirkan dan kembangkan adalah strategi parentingnya yang membutuhkan kejeniusan, kreatifitas dan mengambil media dan sarana belajar yang mendukung untuk menguatkan metode pendidikan dan teralisasinya konsep. Tentu butuh paham dulu konsep dan metode baru kita turunkan dan kembangkan dalam uslub untuk menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilaksanakan ketika kita mendidik anak.
Uslub inilah yang berubah, sarana dan prsaranapun berubah, maka teknologi digital itu hanya media dan sarana belajar. Ketika menjadi media dan sarana belajar pada saat itulah kita bijak menilai handphone, TV, internet, dll, apakah kita akan mengambilnya ataukah kita tidak menggunakannya sama sekali. Jadi tidak akan ada anggapan bahwa anak sekarang kalau tidak memakai gadget jadi anak-anak tertinggal, anak sekarang tidak wawasannya akan sempit tanpa gadget.
Sebuah quote populer dari Ali bin Abi Thalib k.w.“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”
Mendidik anak sesuai zaman itu bukan berarti mendidik harus mengikuti zaman, akan tetapi ayah bunda memetakan zaman yang ada, sisi kebaikan dan kerusakannya, ancaman dan tantanganya serta peluang dan dukungannya sehingga dapat memetakan pula sisi strategi mendidik yang dapat melejitkan kepribadian islam anak dan ketangguhannya dalam bidang tsaqafah islam, ilmu, hukum, politik dan jihad dan anak-anak harus unggul dalam hal ini.
Era digital memang cendrung merusak di dalam kekuasaan zaman Kapitalisme Sekulerisme, namun manfaat sanis dan teknologinya dapat diambil untuk mempermudah ayah bunda dalam mendidik bukan malah menghancurkan sendi-sendi kepribadian islam anak.
Teknologi digital dalam penerapannya tentu dipengaruhi tsaqafah tertentu, bila yang mengendalikan teknologi tersebut adalah Kapitalisme maka bisa dipastikan pemanfaatan teknologinya dipengaruhi ideologi tersebut, sebab sebuah ideologi alamiahnya ingin menguasai dan menjadi negara nomor satu.
Jadilah saat ini kita ayah bunda terseok-seok dengan pengaruh teknologi digital yang notabene sajian-sajian di dalamnya boro-boro dapat mencapai insan bertakwa yang ada justru merusak kepribadian Islam anak-anak kita.
Teknologi digital bisa kita manfaatkan sebagai media belajar bisa memudahkan kita mencari informasi2 tentang mendidik anak dan solusi-solusi problematika pendidikan anak. Namun sajiannya tidak selalu tepat untuk digunakan apalagi jika digital semisal hand phone sudah menjadi konsumsi setiap hari bagi anak-anak kita tanpa ada pengawasan yang ketat.
Sudah tidak dapat dipungkiri rusaknya generasi hari ini karena mereka mengkonsumsi video porno, tayangan2 porno dan photo2 porno langsung dari hand phone mereka sendiri. Ketika mereka rusak permanen maka sulit bagi kita untuk memperbaiki generasi yang sudah kecanduan pornografi bahkan menjadi pelakunya dan menyebarkannya.
Oleh karena itu kita butuh sudut pandang sendiri untuk menilai sebuah zaman di era ini dan butuh merubah strategi parenting menghadapi zaman ini. Sudah tidak berlaku bila kita masih berpendapat bahwa orang tua sekarang meniru cara didik orang tuanya dulu, pastinya akan tergilas zaman. Lebih-lebih lagi jika orang tua tersebut korban dari zaman, menyerah pasrah di hadapan zaman yang tidak hanya merusak anaknya tapi merusak orangtua itu sendiri.
Maka strategi parenting itu harus dipelajari, dilatih dan komitmen berpegang pada konsep dan metode pendidikan yang benar.
Sejatinya pendidikan Islam pada tataran konsep dan metode mampu menjawab semua zaman baik dalam pola asuh maupun pola didik. Pendidikan berbasis aqidah Islam tidak bisa lekang oleh zaman, akan selalu terpatri dalam tsaqafah islam yang sejatinya sudah menjadi milik ayah dan bunda.
Konsep dan metode pendidikan itu wajib hukumnya untuk diamalkan dan tidak akan pernah berubah karena bersifat baku. Maka wajib bagi orang tua mempelajari konsep dan metode pendidikan ini dan terus belajar untuk memahami lebih dalam sehingga berpengaruh pada amal kita dalam mendidik.
Dalam menghadapi era digital yang kita perlu pikirkan dan kembangkan adalah strategi parentingnya yang membutuhkan kejeniusan, kreatifitas dan mengambil media dan sarana belajar yang mendukung untuk menguatkan metode pendidikan dan teralisasinya konsep. Tentu butuh paham dulu konsep dan metode baru kita turunkan dan kembangkan dalam uslub untuk menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilaksanakan ketika kita mendidik anak.
Uslub inilah yang berubah, sarana dan prsaranapun berubah, maka teknologi digital itu hanya media dan sarana belajar. Ketika menjadi media dan sarana belajar pada saat itulah kita bijak menilai handphone, TV, internet, dll, apakah kita akan mengambilnya ataukah kita tidak menggunakannya sama sekali. Jadi tidak akan ada anggapan bahwa anak sekarang kalau tidak memakai gadget jadi anak-anak tertinggal, anak sekarang tidak wawasannya akan sempit tanpa gadget.
Anggapan sebaliknya jangan kasih gadget pada anak-anak nanti merusaknya, nanti belajarnya terganggu, nanti lebih fokus pada gadgetnya ketimbang berbuat baik pada ortu, nanti sosialisasinya kurang pada tetangga dan masyarakat.
Memang betul digital sangat deras pengaruhnya karena dia didudukung oleh sistem politik kelas dunia, yaitu Kapitalisme. Jika digital di bawah sistem politik Khilafah yang juga berkelas dua kita tidak perlu khawatir anak usia dini pegang gadget.
Tapi inilah zamannya, sehingga kita banyak menimbang-nimbang kapan saatnya anak diberikan HP kapan saatnya tidak sama sekali dan kapan saat dibatasi.
Mendidik anak di zaman ini harus bisa mewujudkan kepribadian Islam anak hingga di puncak ketangguhannya, sehingga anak paham pemanfaatan teknologi baginya dan paham sejauh mana teknologi itu dapat merusak kepribadian Islamnya. Maka proses mewujudkan kepribadian islam yang tangguh itulah sebuah amanah besar di zaman ini di pundak orang tua.
Wallu a'lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Memang betul digital sangat deras pengaruhnya karena dia didudukung oleh sistem politik kelas dunia, yaitu Kapitalisme. Jika digital di bawah sistem politik Khilafah yang juga berkelas dua kita tidak perlu khawatir anak usia dini pegang gadget.
Tapi inilah zamannya, sehingga kita banyak menimbang-nimbang kapan saatnya anak diberikan HP kapan saatnya tidak sama sekali dan kapan saat dibatasi.
Mendidik anak di zaman ini harus bisa mewujudkan kepribadian Islam anak hingga di puncak ketangguhannya, sehingga anak paham pemanfaatan teknologi baginya dan paham sejauh mana teknologi itu dapat merusak kepribadian Islamnya. Maka proses mewujudkan kepribadian islam yang tangguh itulah sebuah amanah besar di zaman ini di pundak orang tua.
Wallu a'lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BAHAYA MARAH
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
Awalnya marah (الغضب).
Jika marah ini terjadi berkali-kali tanpa diselesaikan, lalu membekas dalam hati maka ia akan berubah menjadi benci (البغضاء)
Jika benci ini dipelihara terus dalam hati, diingat-ingat sampai membesar dan berakar maka ia akan berubah menjadi dendam (الحقد)
Jika dendam ini dipelihara, maka ia akan melahirkan keinginan supaya orang yang dibencinya itu sengsara dan hilang semua kesenangannya. Perasaan senang dengan hilangnya nikmat orang lain ini dinamakan dengki alias hasad (الحسد).
Jika orang yang dibenci itu tertimpa musibah, kemudian dia senang dan mengucapkan kata-kata yang nadanya “mengkapokkan” orang yang kesusahan tadi, maka perbuatannya itu disebut syamātah (الشماتة).
Jika level kebencian itu sampai membuat tidak mau kontak dan tidak mau berinteraksi, maka itu dinamakan pemutusan hubungan atau muqāṭa’ah atau hajr (المقاطعة).
Jika kebencian itu sampai membuat meremehkan segala kelebihan yang dimilikinya maka itu dinamakan takabur (التكبر).
Jika kebencian itu sampai level ada upaya menjatuhkan kredibilitasnya, membusukkan citranya dan membunuh karakternya tanpa peduli lagi larangan-larangan Allah, maka akan muncul dosa dusta (الكذب), menggunjing (الغيبة), memfitnah (البهتان), menyebarkan rahasia (إفشاء السر), merusak kehormatannya (هتك الستر), mengolok-olok (السخرية), sampai tidak mau membayar utang kepadanya, tidak mau menyambung silaturrahim kepadanya dan meminta maaf atas kezaliman yang ia lakukan kepadanya.
Jika kebencian itu sampai level menyakiti dengan fisik atau bahkan membunuh maka terjadilah dosa terbesar yang terkait dengan hak hamba.
Semua berawal dari marah.
Karena itu Allah cinta dengan hambanya yang pandai menahan emosi dan memiliki sifat pemaaf. Allah berfirman,
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤ ( اٰل عمران/3:134)
Artinya,
134. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3:134)
Seperti Asyajj Abdul Qais yang dipuji Nabi ﷺ . kata Rasulullah ﷺ kepadanya,
“Kamu punya dua sifat yang disukai Allah; sabar dan tenang.”
اللهم ارزقنا الحلم والأناة
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
Awalnya marah (الغضب).
Jika marah ini terjadi berkali-kali tanpa diselesaikan, lalu membekas dalam hati maka ia akan berubah menjadi benci (البغضاء)
Jika benci ini dipelihara terus dalam hati, diingat-ingat sampai membesar dan berakar maka ia akan berubah menjadi dendam (الحقد)
Jika dendam ini dipelihara, maka ia akan melahirkan keinginan supaya orang yang dibencinya itu sengsara dan hilang semua kesenangannya. Perasaan senang dengan hilangnya nikmat orang lain ini dinamakan dengki alias hasad (الحسد).
Jika orang yang dibenci itu tertimpa musibah, kemudian dia senang dan mengucapkan kata-kata yang nadanya “mengkapokkan” orang yang kesusahan tadi, maka perbuatannya itu disebut syamātah (الشماتة).
Jika level kebencian itu sampai membuat tidak mau kontak dan tidak mau berinteraksi, maka itu dinamakan pemutusan hubungan atau muqāṭa’ah atau hajr (المقاطعة).
Jika kebencian itu sampai membuat meremehkan segala kelebihan yang dimilikinya maka itu dinamakan takabur (التكبر).
Jika kebencian itu sampai level ada upaya menjatuhkan kredibilitasnya, membusukkan citranya dan membunuh karakternya tanpa peduli lagi larangan-larangan Allah, maka akan muncul dosa dusta (الكذب), menggunjing (الغيبة), memfitnah (البهتان), menyebarkan rahasia (إفشاء السر), merusak kehormatannya (هتك الستر), mengolok-olok (السخرية), sampai tidak mau membayar utang kepadanya, tidak mau menyambung silaturrahim kepadanya dan meminta maaf atas kezaliman yang ia lakukan kepadanya.
Jika kebencian itu sampai level menyakiti dengan fisik atau bahkan membunuh maka terjadilah dosa terbesar yang terkait dengan hak hamba.
Semua berawal dari marah.
Karena itu Allah cinta dengan hambanya yang pandai menahan emosi dan memiliki sifat pemaaf. Allah berfirman,
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤ ( اٰل عمران/3:134)
Artinya,
134. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3:134)
Seperti Asyajj Abdul Qais yang dipuji Nabi ﷺ . kata Rasulullah ﷺ kepadanya,
“Kamu punya dua sifat yang disukai Allah; sabar dan tenang.”
اللهم ارزقنا الحلم والأناة
MENJAGA LISAN ANAK
Seringkali kita menyaksikan anak-anak lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.
Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.
Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.
Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :
🔸 Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam
🔸 Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.
🔸 Ketaaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
🔸 Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. maliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]
🔸 Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.
Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Seringkali kita menyaksikan anak-anak lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.
Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.
Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.
Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :
🔸 Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam
🔸 Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.
🔸 Ketaaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
🔸 Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. maliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]
🔸 Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.
Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Sejatinya para penghafal Alquran itu dapat mengungkapkan bahasa-bahasa Alquran dalam kehidupan mereka pun ketika mereka berada di tengah-tengah teman dan masyarakat. Namun ini butuh kerja sungguh-sungguh bagi orang tua dan guru untuk membiasakan lisan-lisan Alquran ini hidup di tengah-tengah anak-anak kita dan perlu melatih diri sebaik mungkin agar anak merasakan betapa lisan tertinggi bagi mereka itu adalah lisan Alquran, lisan yang menyeru manusia di jalan Allah swt. Wallahu a'lam bishshowab
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
POSISI PANCA INDERA DALAM PROSES BERPIKIR ANAK
Indera merupakan unsur-unsur penting dalam berpikir, dimana indera tersebut dapat memindahkan fakta ke otak. Maka wajib bagi ayah bunda memacu siswanya menggunakan sebagian besar inderanya untuk memungkinkannya menyerap fakta sebagai obyek berpikir atau obyek belajar, meski fakta itu dihadirkan ketika belajar.
Seringkali ketika kita mendidik anak tidak punya kemampuan menghadirkan fakta ini dalam proses belajar mengajar anak, sehingga anak tidak mempu menjangkau makna-makna yang kita sampaikan karena apa yang kita obrolkan tidak hadir dalam benak anak. Kalau sudah seperti ini anak tidak akan tertarik belajar.
Kadangkala fakta yang kita hadirkan tidak menarik minat anak atau karena penyajian dalam uslub dan sarananya pun tidak tersedia. Maka kegagalan dalam menghadirkan fakta ini membuat anak tidak fokus dan tidak meminati pelajaran.
Jika fakta itu tidak hadir, maka guru harus bisa mendekatkan fakta tersebut ke dalam benak anak dengan uslub dan sarana yang memungkinkan anak dapat menggambarkan fakta tersebut, seakan-akan mereka mengihsasnya. Disinilah pentingnya ayah bunda menjadi sosok yang kreatif dalam mendidik sebab tanpa kreatifitas proses belajar dan mengajar terasa membosankan, tidak hidup akalnya untuk memahami ilmu. Karena itu ihsas fakta merupakan unsur penting dalam berpikir.
Setiap indera, jika lebih banyak bekerjasama dengan indera lainnya dalam mengihsas fakta yang sama dengan indera lainnya, maka setiap itu pula kedalaman ihsas pada diri anak dan ia akan mengambil keputusan di atas sifat-sifat yang lebih dalam dan mampu manarasikannya lebih lengkap.
Misalkan dalam kegiatan belajar mengajar anak usia dini tentang kurma, anak diminta mencium baunya, melihat bentuk dan warnanya, mencicipi rasa dan meraba permukaan buahnya hingga memaknnya apalagi diajak ke kebun kurmanya dan melihat bentuk pohon dan daunnya dll, maka kehadiran fakta tersebut dan indera anak saling bekerjasama dalam mengihsas, anak akan jauh lebih dalam pengihsasannya disbanding ketika kita hanya sodorkan gambar kurma dan pohon kurma.
Maka disinilah urgennya panca indera , disini pula rangsangan kepekaan indera bisa dilatih untuk memindahkan fakta ke otak dengan sifat2 fakta yang lebih dalam.
Wallahu a’lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Indera merupakan unsur-unsur penting dalam berpikir, dimana indera tersebut dapat memindahkan fakta ke otak. Maka wajib bagi ayah bunda memacu siswanya menggunakan sebagian besar inderanya untuk memungkinkannya menyerap fakta sebagai obyek berpikir atau obyek belajar, meski fakta itu dihadirkan ketika belajar.
Seringkali ketika kita mendidik anak tidak punya kemampuan menghadirkan fakta ini dalam proses belajar mengajar anak, sehingga anak tidak mempu menjangkau makna-makna yang kita sampaikan karena apa yang kita obrolkan tidak hadir dalam benak anak. Kalau sudah seperti ini anak tidak akan tertarik belajar.
Kadangkala fakta yang kita hadirkan tidak menarik minat anak atau karena penyajian dalam uslub dan sarananya pun tidak tersedia. Maka kegagalan dalam menghadirkan fakta ini membuat anak tidak fokus dan tidak meminati pelajaran.
Jika fakta itu tidak hadir, maka guru harus bisa mendekatkan fakta tersebut ke dalam benak anak dengan uslub dan sarana yang memungkinkan anak dapat menggambarkan fakta tersebut, seakan-akan mereka mengihsasnya. Disinilah pentingnya ayah bunda menjadi sosok yang kreatif dalam mendidik sebab tanpa kreatifitas proses belajar dan mengajar terasa membosankan, tidak hidup akalnya untuk memahami ilmu. Karena itu ihsas fakta merupakan unsur penting dalam berpikir.
Setiap indera, jika lebih banyak bekerjasama dengan indera lainnya dalam mengihsas fakta yang sama dengan indera lainnya, maka setiap itu pula kedalaman ihsas pada diri anak dan ia akan mengambil keputusan di atas sifat-sifat yang lebih dalam dan mampu manarasikannya lebih lengkap.
Misalkan dalam kegiatan belajar mengajar anak usia dini tentang kurma, anak diminta mencium baunya, melihat bentuk dan warnanya, mencicipi rasa dan meraba permukaan buahnya hingga memaknnya apalagi diajak ke kebun kurmanya dan melihat bentuk pohon dan daunnya dll, maka kehadiran fakta tersebut dan indera anak saling bekerjasama dalam mengihsas, anak akan jauh lebih dalam pengihsasannya disbanding ketika kita hanya sodorkan gambar kurma dan pohon kurma.
Maka disinilah urgennya panca indera , disini pula rangsangan kepekaan indera bisa dilatih untuk memindahkan fakta ke otak dengan sifat2 fakta yang lebih dalam.
Wallahu a’lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
MENDIDIK ANAK DENGAN FITRAH
Ketika anak belum mau bangun subuh dan sulit bangun, sang ibu dengan lembut membangunkan dan membisikkan di telinga anak, "Bangunlah nak, sudah azan subuh, alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba'damaa amaatana wa ilaihinnusyur."Sang ibu terus membngunkan dengan menyentuh fithrohnya sebagai hamba hingga terbangun dan menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan tersebut terus berulang hingga ada masanya ananda bangun subuh sendiri tanpa dibangunkan.
Ketika ananda tergoda menonton TV dengan tayangan yang tidak bermanfaat, bunda mencoba melarangnya, "Jangan notonton tayangan itu ya nak, karena bisa merusak jiwa dan otak, membuat adik lupa sama Allah, membuat adik malas beribadah dan malas membaca alquran, ganti channel ya yang lebih bermanfaat ya, bunda sayang adik, merasa rugi bila waktu adik terbuang percuma" Saat itu juga sang anak justru mematikan TV, karena tak ada tayangan yang bagus.
Ketika anak menyaksikan ibunya shalat tahajjud lalu berdoa sambil menangis, anak bertanya kenapa bunda menangis? "Bunda takut sama api neraka nak karena banyaknya dosa, bunda bermohon pada Allah agar kelak di masukkan ke surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Bunda melakukan shalat wajib juga shalat tahajjud demi berharap dirindukan surga, kita harus taat pada Allah"
Bunda mencoba menyentuh fithroh ananda sambil memeluknya erat. Tak lama kemudian esok harinya, anandapun meminta kepada bundanya, "Bunda besok bangunkan ananda shalat tahajjud, ananda mau masuk surga bersama bunda"
Itu adalah sekelumit kisah menstimulasi berpikir dan naluriyyah anak usia dini. Anak terlahir di atas fitrah yang suci, bersih tak ternoda. Orang tualah yang membuat fitrahnya ternoda, sebagaimana hadist: "Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani atau majusi"
Fitrah anak itu adalah Islam, Allah berikan dalam kelurusannya dan dalam kemudahannya dapat menerima sentuhan aqidah islam dalam pendidikan. Maka tugas kita orang tua adalah menjaga fitrah anak kita tetap dalam kebersihan dan kesuciannya.
Maka disinilah kita bisa memahami konsep stimulasi dini pembentukan kepribadian islam anak. Artinya orang tua dalam mendidik harus bisa menstimulasi fitrah ini agar anak taat pada Allah dengan kesadaran dan tuntunan wahyu.
Konsep mendidik dengan fitrah membutuhkan pengungkapan bahasa aqidah untuk menyetel pemikiran ananda agar senantiasa di atas landasan aqidah. Membutuhkan kekayaan bahasa ibu dan kecerdasan ibu mencelupkan keimanan pada jiwanya.
Seringkali kesulitan dalam mendidik anak disebabkan kita kita mendidik keluar dari fitrah anak, sehingga anak keras dan bandel. Atau kita biarkan dia dirusak fitrahnya oleh yang lain. Bila ibu dalam berbicara dan berbahasa menodai fitrah anak, besar kemungkinan anak sulit dikendalikan dan menjadi anak pembantah dan pelawan, karena ibu kering dari sentuhan fitrah dalam mendidik.
Jagalah fitrah anak kita dengan baik, dengan demikian kita dapatkan ananda kelak sebagai sosok muslim sejati yang senantiasa menghadapkan wajahnya pada agama fitrah yang lurus (Islam). Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Arrum: 30)
Mengingat Allah menciptakan manusia di atas fitrah yang lurus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk percaya diri bahwa Allah akan membimbing kita dan anak-anak kita selalu bersama dalam fitrah yang sama dan tidak pernah terpisah pisah, selalu dalam pemikiran Islam yang sama dan dalam ketaatan yang sama hingga kelak di yaumul akhir.
"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah" TQS ar-Rum: 43. Wallahu a'lam bishshowab
Source : channel parenting telegram
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Ketika anak belum mau bangun subuh dan sulit bangun, sang ibu dengan lembut membangunkan dan membisikkan di telinga anak, "Bangunlah nak, sudah azan subuh, alhamdulillahilladzii ahyaanaa ba'damaa amaatana wa ilaihinnusyur."Sang ibu terus membngunkan dengan menyentuh fithrohnya sebagai hamba hingga terbangun dan menuntunnya ke kamar mandi untuk berwudhu. Kebiasaan tersebut terus berulang hingga ada masanya ananda bangun subuh sendiri tanpa dibangunkan.
Ketika ananda tergoda menonton TV dengan tayangan yang tidak bermanfaat, bunda mencoba melarangnya, "Jangan notonton tayangan itu ya nak, karena bisa merusak jiwa dan otak, membuat adik lupa sama Allah, membuat adik malas beribadah dan malas membaca alquran, ganti channel ya yang lebih bermanfaat ya, bunda sayang adik, merasa rugi bila waktu adik terbuang percuma" Saat itu juga sang anak justru mematikan TV, karena tak ada tayangan yang bagus.
Ketika anak menyaksikan ibunya shalat tahajjud lalu berdoa sambil menangis, anak bertanya kenapa bunda menangis? "Bunda takut sama api neraka nak karena banyaknya dosa, bunda bermohon pada Allah agar kelak di masukkan ke surga yang penuh kesenangan dan kebahagiaan. Bunda melakukan shalat wajib juga shalat tahajjud demi berharap dirindukan surga, kita harus taat pada Allah"
Bunda mencoba menyentuh fithroh ananda sambil memeluknya erat. Tak lama kemudian esok harinya, anandapun meminta kepada bundanya, "Bunda besok bangunkan ananda shalat tahajjud, ananda mau masuk surga bersama bunda"
Itu adalah sekelumit kisah menstimulasi berpikir dan naluriyyah anak usia dini. Anak terlahir di atas fitrah yang suci, bersih tak ternoda. Orang tualah yang membuat fitrahnya ternoda, sebagaimana hadist: "Tidaklah seorang anak lahir kecuali dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, atau nasrani atau majusi"
Fitrah anak itu adalah Islam, Allah berikan dalam kelurusannya dan dalam kemudahannya dapat menerima sentuhan aqidah islam dalam pendidikan. Maka tugas kita orang tua adalah menjaga fitrah anak kita tetap dalam kebersihan dan kesuciannya.
Maka disinilah kita bisa memahami konsep stimulasi dini pembentukan kepribadian islam anak. Artinya orang tua dalam mendidik harus bisa menstimulasi fitrah ini agar anak taat pada Allah dengan kesadaran dan tuntunan wahyu.
Konsep mendidik dengan fitrah membutuhkan pengungkapan bahasa aqidah untuk menyetel pemikiran ananda agar senantiasa di atas landasan aqidah. Membutuhkan kekayaan bahasa ibu dan kecerdasan ibu mencelupkan keimanan pada jiwanya.
Seringkali kesulitan dalam mendidik anak disebabkan kita kita mendidik keluar dari fitrah anak, sehingga anak keras dan bandel. Atau kita biarkan dia dirusak fitrahnya oleh yang lain. Bila ibu dalam berbicara dan berbahasa menodai fitrah anak, besar kemungkinan anak sulit dikendalikan dan menjadi anak pembantah dan pelawan, karena ibu kering dari sentuhan fitrah dalam mendidik.
Jagalah fitrah anak kita dengan baik, dengan demikian kita dapatkan ananda kelak sebagai sosok muslim sejati yang senantiasa menghadapkan wajahnya pada agama fitrah yang lurus (Islam). Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Islam sesuai fitrah Allah, disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Arrum: 30)
Mengingat Allah menciptakan manusia di atas fitrah yang lurus, maka sangat memungkinkan bagi kita untuk percaya diri bahwa Allah akan membimbing kita dan anak-anak kita selalu bersama dalam fitrah yang sama dan tidak pernah terpisah pisah, selalu dalam pemikiran Islam yang sama dan dalam ketaatan yang sama hingga kelak di yaumul akhir.
"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah" TQS ar-Rum: 43. Wallahu a'lam bishshowab
Source : channel parenting telegram
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
🍃 BERKATALAH YANG BAIK ATAU HENDAKLAH DIAM 🍃
📮 Kelemahan banyak orang tua dalam mendidik anak adalah dalam bahasa, apalagi memilih kata-kata yang bisa menyentuh anak sehingga anak termotivasi dari lisan ayah dan bunda bukanlah perkara yang mudah. Seringkali yang terjadi adalah kata-kata instan dan doktrin tanpa anak mendapatkan informasi kejelasan dari sebuah perintah dan larangan. “Makan yang banyak nanti kamu kurus terus“ (Belajar yang tekun umi abi sangat sibuk, kalau tidak bisa belajar mandiri mau jadi apa kamu nanti, apa kamu mau jadi tukang ojek). “Cepetan sholat, kamu mau masuk neraka, kamu mau disiksa Allah.” Entah apalagi yang terkadang kita malas menjalani proses untuk mencelupkan setetes demi setetes embun keimanan pada fithroh anak.
Bahasa itu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, bila pikiran tidak lagi ON untuk mengendalikan maka bahasa yang keluar adalah bahasa emosional. Dan bahasa logika saja juga tidak cukup untuk membangun konsep diri positif pada anak harus disertai dengan bahasa aqidah berikut disertai bahasa rasa agar mampu menyentuh pikiran dan perasaan sekaligus.
Mengemas bahasa termasuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak, karena bahasa adalah wasilah untuk memahami dan menyampaikan pemahaman, dalam hal ini tentunya membentuk pemahaman anak untuk memunculkan kesadaran.
📝 Sebuah kesadaran adalah penting maka membutuhkan bahasa untuk mendorong anak agar berubah ke arah tercapainya tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka dari itu belajar harus dilakukan dengan jalan talqiyyan fikriyyan (proses belajar dengan pemikiran). Talqiyyan fikriyyan metodenya adalah bahasa.
📝 Bahasa ibu sejatinya adalah bahasa yang sangat disukai anak, walau dengan bahasa marah sekalipun. Namun ibu yang sholehah harus mampu menyesuaikan dengan syariah, disesuaikan juga dengan level berpikir anak.
📝 Bahasa yang digunakan untuk anak usia dini tentu tidaklah sama dengan bahasa untuk anak usia tamyiz dan usia baligh karena kemampuan berpikir mereka tidaklah sama. Maka ibu harus bijak menggunakan bahasa, pada saat kapan bahasa yang dikeluarkan dengan stimulasi, saat kapan bahasa disiplin dan saat kapan bahasa serius menjalani kehidupan. Jangan sampai terbalik-balik, seperti ketika anak usia 10 tahun harus diperlakukan serius malah bahasa pemakluman yang banyak digunakan. Anak usia dini yang seharusnya dengan bahasa stimulasi untuk mencelupkan aqidah namun digunakan bahasa pemaksaan menjalankan ketaatan.
🔐 Dalam hal ini tidaklah salah kita mengharapkan bahwa ibu butuh kecerdasan dalam berbahasa. Kecerdasan bahasa ini adalah cerminan kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional, maka ibu membutuhkan ilmu yang lebih banyak untuk dikuasai mencakup seluruh cabang ilmu, semisal Bahasa Arab, Al-Quran, Tsaqofah islam, sains, dan beberapa kemahiran dan kreatifitas untuk menyetel kepribadian Islam anak.
🍃 Namun seringkali ibu dihadapkan pada suatu kondisi tidak bisa mengendalikan tingkah polah anak, seakan ibu kehilangan bahasa untuk menyampaikan banyak hal apa yang ada dalam benaknya. Apalagi bila ibu berhadapan dengan kerewelan anak, perlawanan dan pemaksaan bahkan tindakan fisik anak ketika meminta sesuatu. Emosional ibu pastilah memuncak, semua perasaan serasa diaduk-aduk sehingga terlintas dalam benaknya, kok anak ini nakal amat, gak bisa diatur, pelawan dsb.
🍃 Bila ibu dihadapkan kondisi seperti ini hendaklah diam dan biarkan anak menangis dan meronta hingga ada seuntai doa ibu mampu menenangkannya. Jangan pernah mengeluarkan godaan bahasa yang tidak ahsan sebab itu ciri orang bukan beriman.
🍃 Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata kebaikan atau hendaklah dia diam”
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
📮 Kelemahan banyak orang tua dalam mendidik anak adalah dalam bahasa, apalagi memilih kata-kata yang bisa menyentuh anak sehingga anak termotivasi dari lisan ayah dan bunda bukanlah perkara yang mudah. Seringkali yang terjadi adalah kata-kata instan dan doktrin tanpa anak mendapatkan informasi kejelasan dari sebuah perintah dan larangan. “Makan yang banyak nanti kamu kurus terus“ (Belajar yang tekun umi abi sangat sibuk, kalau tidak bisa belajar mandiri mau jadi apa kamu nanti, apa kamu mau jadi tukang ojek). “Cepetan sholat, kamu mau masuk neraka, kamu mau disiksa Allah.” Entah apalagi yang terkadang kita malas menjalani proses untuk mencelupkan setetes demi setetes embun keimanan pada fithroh anak.
Bahasa itu dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan, bila pikiran tidak lagi ON untuk mengendalikan maka bahasa yang keluar adalah bahasa emosional. Dan bahasa logika saja juga tidak cukup untuk membangun konsep diri positif pada anak harus disertai dengan bahasa aqidah berikut disertai bahasa rasa agar mampu menyentuh pikiran dan perasaan sekaligus.
Mengemas bahasa termasuk kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam mendidik anak, karena bahasa adalah wasilah untuk memahami dan menyampaikan pemahaman, dalam hal ini tentunya membentuk pemahaman anak untuk memunculkan kesadaran.
📝 Sebuah kesadaran adalah penting maka membutuhkan bahasa untuk mendorong anak agar berubah ke arah tercapainya tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka dari itu belajar harus dilakukan dengan jalan talqiyyan fikriyyan (proses belajar dengan pemikiran). Talqiyyan fikriyyan metodenya adalah bahasa.
📝 Bahasa ibu sejatinya adalah bahasa yang sangat disukai anak, walau dengan bahasa marah sekalipun. Namun ibu yang sholehah harus mampu menyesuaikan dengan syariah, disesuaikan juga dengan level berpikir anak.
📝 Bahasa yang digunakan untuk anak usia dini tentu tidaklah sama dengan bahasa untuk anak usia tamyiz dan usia baligh karena kemampuan berpikir mereka tidaklah sama. Maka ibu harus bijak menggunakan bahasa, pada saat kapan bahasa yang dikeluarkan dengan stimulasi, saat kapan bahasa disiplin dan saat kapan bahasa serius menjalani kehidupan. Jangan sampai terbalik-balik, seperti ketika anak usia 10 tahun harus diperlakukan serius malah bahasa pemakluman yang banyak digunakan. Anak usia dini yang seharusnya dengan bahasa stimulasi untuk mencelupkan aqidah namun digunakan bahasa pemaksaan menjalankan ketaatan.
🔐 Dalam hal ini tidaklah salah kita mengharapkan bahwa ibu butuh kecerdasan dalam berbahasa. Kecerdasan bahasa ini adalah cerminan kecerdasan berpikir dan kecerdasan emosional, maka ibu membutuhkan ilmu yang lebih banyak untuk dikuasai mencakup seluruh cabang ilmu, semisal Bahasa Arab, Al-Quran, Tsaqofah islam, sains, dan beberapa kemahiran dan kreatifitas untuk menyetel kepribadian Islam anak.
🍃 Namun seringkali ibu dihadapkan pada suatu kondisi tidak bisa mengendalikan tingkah polah anak, seakan ibu kehilangan bahasa untuk menyampaikan banyak hal apa yang ada dalam benaknya. Apalagi bila ibu berhadapan dengan kerewelan anak, perlawanan dan pemaksaan bahkan tindakan fisik anak ketika meminta sesuatu. Emosional ibu pastilah memuncak, semua perasaan serasa diaduk-aduk sehingga terlintas dalam benaknya, kok anak ini nakal amat, gak bisa diatur, pelawan dsb.
🍃 Bila ibu dihadapkan kondisi seperti ini hendaklah diam dan biarkan anak menangis dan meronta hingga ada seuntai doa ibu mampu menenangkannya. Jangan pernah mengeluarkan godaan bahasa yang tidak ahsan sebab itu ciri orang bukan beriman.
🍃 Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata kebaikan atau hendaklah dia diam”
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI MENGUATKAN PENGARUH IBU TERHADAP ANAK
"Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya"
.........
Demikian Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam membuat stetmen bahwa fitrah anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fitrah anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fitrah anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Wallaahu a’lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
"Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya"
.........
Demikian Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam membuat stetmen bahwa fitrah anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fitrah anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fitrah anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Wallaahu a’lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi