RUMINI ADALAH NAMAMU
Sepenggal Kisah dr Lereng Gunung Semeru
Mungkin kami harus belajar darimu tentang mencintai, terutama ibu. Tak rela kau tinggalkan ibumu saat erupsi Semeru menyerang desamu, Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Sabtu 4 Desember 2021.
Rumini (28) ditemukan meninggal dunia berpelukan dengan sang ibu, Salamah (71) yang sudah renta dan tak sanggup berjalan. Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan. Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya ditemukan di dapur rumah mereka.
Namamu melangit, malaikat menyambut ruh yang mewangi meski tubuh terbakar material panas, nafas terakhir mu saat memeluk ibumu, InsyaAllah seluruh penduduk langit kini tengah memelukmu.
Kami seluruh relawan di Semeru tak kuasa membendung haru, Rumini telah ajarkan kami tentang kesungguhan mencintai dan berbakti kepada ibu.
Angkat topi sejuta kali untukmu, Rumini.
Tak terasa air mata menetes menulis kisahmu. 😭😭
Source : Fanpage Keindahan Tahajjud
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Sepenggal Kisah dr Lereng Gunung Semeru
Mungkin kami harus belajar darimu tentang mencintai, terutama ibu. Tak rela kau tinggalkan ibumu saat erupsi Semeru menyerang desamu, Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Sabtu 4 Desember 2021.
Rumini (28) ditemukan meninggal dunia berpelukan dengan sang ibu, Salamah (71) yang sudah renta dan tak sanggup berjalan. Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan. Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya ditemukan di dapur rumah mereka.
Namamu melangit, malaikat menyambut ruh yang mewangi meski tubuh terbakar material panas, nafas terakhir mu saat memeluk ibumu, InsyaAllah seluruh penduduk langit kini tengah memelukmu.
Kami seluruh relawan di Semeru tak kuasa membendung haru, Rumini telah ajarkan kami tentang kesungguhan mencintai dan berbakti kepada ibu.
Angkat topi sejuta kali untukmu, Rumini.
Tak terasa air mata menetes menulis kisahmu. 😭😭
Source : Fanpage Keindahan Tahajjud
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
SELISIH
"Apakah anak2 selaku akur?"
Iya sekarang. Sebelum baligh mereka tetaplah kanak-kanak yang kadang berselisih. Perang mulut atau lomba menangis. Namun, tak pernah main tangan. Tak ada luka cakaran, pukulan, cubitan. Kecuali dari batita yang tak paham.
Batita melalui masa agresifitas. Memukul, mencakar, menggigit, melempar, tanpa ada maksud buruk. Mereka sedang mengikuti naluri untuk belajar bersosialisasi. Kadang mereka marah dan meluapkan emosi karena belum bisa menjelaskan keinginannya.
Pada masa ini, kadang si kakak jadi korban. Untungnya tak ada yang membalas.
Perselisihan wajar terjadi pada masa tk-sd. Rebutan mainan, makanan, tempat tidur, atau kamar mandi. Sesekali tersebab candaan berlebihan atau persaingan dalam permainan. Kadang karena ada yang mengadu saat berbuat salah, itupun jarang-jarang.
Perselisihan ini bagus untuk belajar manajemen konflik. Mengendalikan emosi, memaafkan dan berjiwa ksatria. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang tak hanya berisi orang baik dan kedamaian.
Setelah dewasa, bahkan anak-anak saya sudah lupa, kapan terakhir mereka bertengkar. Soal apa dan bagaimana. Yang tersisa adalah kenangan manis dan kelucuan.
Memahami perjalanan tumbuh kembang dan tugas perkembangan pada fasenya, akan membuat orang tua mengerti. Bersabar bahwa semua ada masanya dan itu tidak lama. Kawal agar anak beralih fase dengan tuntas. Tidak meninggalkan hutang yang ditagihkan di fase selanjutnya atau bahkan menetap selamanya.
Misal, agresifitas pada anak 1-3 tahun. Selesai di tahun ke empat dimana anak telah belajar mengenali emosi dan mengendalikan. Anak memiliki ketrampilan bahasa dan sosial yang lebih baik. Gagal di peralihan ini, bisa saja menetap menjadi anak agresif. Bahkan menjadi-jadi sekalipun telah remaja atau dewasa. Bisa mengamuk kapan ia mau.
Jika batita agresif, orang dewasa bisa menangani. Bagaimana jika yang mengamuk remaja atau orang dewasa. Mengerikan ya?
Begitupun tentang perselisihan kanak-kanak. Semestinya selesai saat mereka mengerti syariat. Yakni terminal 10 -14 tahun. Jika menetap hingga tua, masih tak akur dengan saudara kandung, waah. Perlu dibenahi lagi pemahaman agamanya. Jangan lupa, kadang orang tua punya andil kesalahan.
Orang tua memang butuh terus belajar. Sebab anak-anak akan bertumbuh sesuai umur dan zamannya. Tak cukup belajar dari pengalaman sendiri. Kembali pada keteladanan nabi dalam mendidik anak dan memungut hikmah yang tercecer dari pengetahuan kontemporer.
Bersama seluruh ikhtiyar itu, doa-doa adalah kemestian tanpa jeda. Mengiringi setiap pertumbuhan sel dan helaan nafas ananda. Semoga Allah mudahkan, kuatkan, dan karuniakan kesabaran membentangkan jalan surga untuk diri sendiri, pasangan dan anak keturunan.
Source : Ida Nur Laila (Praktisi Parenting)
#trainerpendidikan
#unleadhyourpotential
#hypnosis
#motivasi
"Apakah anak2 selaku akur?"
Iya sekarang. Sebelum baligh mereka tetaplah kanak-kanak yang kadang berselisih. Perang mulut atau lomba menangis. Namun, tak pernah main tangan. Tak ada luka cakaran, pukulan, cubitan. Kecuali dari batita yang tak paham.
Batita melalui masa agresifitas. Memukul, mencakar, menggigit, melempar, tanpa ada maksud buruk. Mereka sedang mengikuti naluri untuk belajar bersosialisasi. Kadang mereka marah dan meluapkan emosi karena belum bisa menjelaskan keinginannya.
Pada masa ini, kadang si kakak jadi korban. Untungnya tak ada yang membalas.
Perselisihan wajar terjadi pada masa tk-sd. Rebutan mainan, makanan, tempat tidur, atau kamar mandi. Sesekali tersebab candaan berlebihan atau persaingan dalam permainan. Kadang karena ada yang mengadu saat berbuat salah, itupun jarang-jarang.
Perselisihan ini bagus untuk belajar manajemen konflik. Mengendalikan emosi, memaafkan dan berjiwa ksatria. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang tak hanya berisi orang baik dan kedamaian.
Setelah dewasa, bahkan anak-anak saya sudah lupa, kapan terakhir mereka bertengkar. Soal apa dan bagaimana. Yang tersisa adalah kenangan manis dan kelucuan.
Memahami perjalanan tumbuh kembang dan tugas perkembangan pada fasenya, akan membuat orang tua mengerti. Bersabar bahwa semua ada masanya dan itu tidak lama. Kawal agar anak beralih fase dengan tuntas. Tidak meninggalkan hutang yang ditagihkan di fase selanjutnya atau bahkan menetap selamanya.
Misal, agresifitas pada anak 1-3 tahun. Selesai di tahun ke empat dimana anak telah belajar mengenali emosi dan mengendalikan. Anak memiliki ketrampilan bahasa dan sosial yang lebih baik. Gagal di peralihan ini, bisa saja menetap menjadi anak agresif. Bahkan menjadi-jadi sekalipun telah remaja atau dewasa. Bisa mengamuk kapan ia mau.
Jika batita agresif, orang dewasa bisa menangani. Bagaimana jika yang mengamuk remaja atau orang dewasa. Mengerikan ya?
Begitupun tentang perselisihan kanak-kanak. Semestinya selesai saat mereka mengerti syariat. Yakni terminal 10 -14 tahun. Jika menetap hingga tua, masih tak akur dengan saudara kandung, waah. Perlu dibenahi lagi pemahaman agamanya. Jangan lupa, kadang orang tua punya andil kesalahan.
Orang tua memang butuh terus belajar. Sebab anak-anak akan bertumbuh sesuai umur dan zamannya. Tak cukup belajar dari pengalaman sendiri. Kembali pada keteladanan nabi dalam mendidik anak dan memungut hikmah yang tercecer dari pengetahuan kontemporer.
Bersama seluruh ikhtiyar itu, doa-doa adalah kemestian tanpa jeda. Mengiringi setiap pertumbuhan sel dan helaan nafas ananda. Semoga Allah mudahkan, kuatkan, dan karuniakan kesabaran membentangkan jalan surga untuk diri sendiri, pasangan dan anak keturunan.
Source : Ida Nur Laila (Praktisi Parenting)
#trainerpendidikan
#unleadhyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JANGAN OVER THINKING
Saat ini, perubahan begitu dahsyat. Konon, kata para ahli penyebabnya ada 4. Pertama, karena adanya disrupsi digital, lalu disrupsi milenial, dan terakhir disrupsi pandemi. Plus pelengkapnya, disrupsi iklim.
Dgn digital – apa lagi skrg ada kecerdasan buatan – jaman sdh banyak berubah. Disrupsi milenial, adalah disrupsi minat, gaya kerja dan mindset yg berbeda dgn generasi sebelumnya. Bahkan generasi Z pun juga berbeda. Perbedaan antar generasi ini menimbulkan “kebingungan & kekacauan” bagaimana merespon, mensikapi & memenuhi kebutuhan dan gaya kepemimpinan mereka karena adanya perbedaan antar generasi yg cukup menyolok.
Belum juga ini diselesaikan, lalu datanglah pandemic. Semua terasa dinolkan dan diakselerasi + dipaksa untuk berubah. Kebijakan pemerintah, bisnis, dunia kerja dan sekolah, kontak sosial bermasyarakat dan bernegara jadi berubah semua. Netizen sekarang bisa “melihat & memaksa” semua untuk jadi lebih baik, bermakna & memberi manfaat bagi sesama. Ini saja kita jadi meraba-raba : sikap spt apa yg paling pas. Lalu bagaimana memerankan diri dalam perubahan, dan prioritas kompetensi seperti apa yang pas sesuai kebutuhan. Dan seterusnya, dan sebagainnya.
Tiga perubahan diatas, lengkap sudah skrg dilengkapi dgn perubahan iklim yg cukup ekstrim. Karena semua perubahan itu, kita sekarang jadi banyak mikir. over thinking, kata para pakar.
Bener-bener perubahan skrg ini hipekompetitif – ekstrim – mendasar – membahayakan – akseleratif – tak terpola – tak terduga.
Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang. Saran saya, tetaplah semakin mendekatkan diri kepada Allah Yg Maha Menggenggam Zaman dan Perubahan. Tambah ilmu, wawasan dan kompetensi.
Banyak belajar dari praktisi sukses, dan yakinlah dibalik kesulitan ada 2 kemudahan. Dan bismillah : action saja. Sempurnakan ikhtiar, biar Allah yang nanti menunjukkan jalan kemudahannya, dan menyempurnakan hasil terbaiknya buat kita.
Jangan over thinking. Karena menurut Aa Gym, kita ini kebanyakan mikir, tapi kurang dzikir.
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Saat ini, perubahan begitu dahsyat. Konon, kata para ahli penyebabnya ada 4. Pertama, karena adanya disrupsi digital, lalu disrupsi milenial, dan terakhir disrupsi pandemi. Plus pelengkapnya, disrupsi iklim.
Dgn digital – apa lagi skrg ada kecerdasan buatan – jaman sdh banyak berubah. Disrupsi milenial, adalah disrupsi minat, gaya kerja dan mindset yg berbeda dgn generasi sebelumnya. Bahkan generasi Z pun juga berbeda. Perbedaan antar generasi ini menimbulkan “kebingungan & kekacauan” bagaimana merespon, mensikapi & memenuhi kebutuhan dan gaya kepemimpinan mereka karena adanya perbedaan antar generasi yg cukup menyolok.
Belum juga ini diselesaikan, lalu datanglah pandemic. Semua terasa dinolkan dan diakselerasi + dipaksa untuk berubah. Kebijakan pemerintah, bisnis, dunia kerja dan sekolah, kontak sosial bermasyarakat dan bernegara jadi berubah semua. Netizen sekarang bisa “melihat & memaksa” semua untuk jadi lebih baik, bermakna & memberi manfaat bagi sesama. Ini saja kita jadi meraba-raba : sikap spt apa yg paling pas. Lalu bagaimana memerankan diri dalam perubahan, dan prioritas kompetensi seperti apa yang pas sesuai kebutuhan. Dan seterusnya, dan sebagainnya.
Tiga perubahan diatas, lengkap sudah skrg dilengkapi dgn perubahan iklim yg cukup ekstrim. Karena semua perubahan itu, kita sekarang jadi banyak mikir. over thinking, kata para pakar.
Bener-bener perubahan skrg ini hipekompetitif – ekstrim – mendasar – membahayakan – akseleratif – tak terpola – tak terduga.
Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang. Saran saya, tetaplah semakin mendekatkan diri kepada Allah Yg Maha Menggenggam Zaman dan Perubahan. Tambah ilmu, wawasan dan kompetensi.
Banyak belajar dari praktisi sukses, dan yakinlah dibalik kesulitan ada 2 kemudahan. Dan bismillah : action saja. Sempurnakan ikhtiar, biar Allah yang nanti menunjukkan jalan kemudahannya, dan menyempurnakan hasil terbaiknya buat kita.
Jangan over thinking. Karena menurut Aa Gym, kita ini kebanyakan mikir, tapi kurang dzikir.
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Sebuah "pekerjaan" yang dilakukan oleh ratusan juta orang, dan rela untuk tidak "digaji"...
Apa yang terlintas dalam benak kita jika mendengar kata "Ibu"...
Apa yang terlintas dalam benak kita jika mendengar kata "Ibu"...
MENDIDIK ANAK BERDASARKAN USIA HARUS BERDALIL
Diantara basis pendidikan Islam yang tidak boleh diabaikan adalah basis usia, sejumlah nash baik dalam Al-Quran maupun Sunnah sudah menjelaskan perkara ini dengan gamblang dan jelas dan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai dan visi generasi dalam Islam yang melahirkan sosok pribadi Islam yang tangguh, generasi pemimpin dan generasi khairu ummah.
Karena dalam pendidikan Islam harus senantiasa integral antara tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai dengan konsep yang dimiliki dan juga metode yang diberlakukan, semua harus berasal dari jenis yang sama yaitu dari Islam. Tidak boleh konsepnya Islam metodenya Barat, apalagi konsepnya Barat metodenya juga Barat kecuali perkara sains dan teknologi dan itupun pada tataran aplikasi tetap saja harus diwaspadai karena bisa jadi mengandung hadharah.
Perkara mendidik berdasarkan usia Allah swt berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Annur : 58)
Ayat ini menjelaskan bagaimana aturan interaksi anak usia prabaligh dengan orang tua dalam kehidupan khas, kehidupan rumah yang harus meminta izin terlebih dahulu di waktu-waktu aurat. Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dalam perkara ini, ayah bunda memberikan pelajaran kepada anak tiga waktu aurat.
Namun ketika anak sudah baligh izin itu tidak hanya tiga waktu aurat tapi semua waktu dan kesempatan anak yang sudah baligh harus dapat izin ayah bundanya terlebih dahulu untuk memasuki kamar atau kehidupan khusus lainnya.
Allah berfirman :
Dan apabila anak-anakmu telah dewasa maka hendaklah mereka meminta izin jua sebagaimana meminta izinnya orang-orang telah terdahulu tadi. Bukankah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya untuk kamu; dan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Annur : 59)
Dalam hadist juga menjelaskan bahwa perkara pendidikan itu harus berbasis usia prabaligh dan anak yang sudah baligh. Rasulullah saw. Bersabda :
رفع القلم ، عن ثلاثة ، النائم حتى يستيقظ ، والصبي حتى يبلغ ، والمجنون حتى يفيق
“Pena diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar” (al-Bayhaqi dalam Ma’rifatus Sunan)
Dapat dipahami bahwa anak usia prabaligh tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya hingga dia baligh. Dari sini penting memahami usia anak dalam penerapan hukum-hukum Allah agar tidak salah dalam mendidik.
Dalam kesempatan lain Rasulullah saw juga mengajarkan parenting berbasis usia kepada kita dalam perkara shalat dan pemisahan tempat tidur langsung menyebutkan usia anak , beliau bersabda :
"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)
Demikianlah Allah dan Rasulnya mengarahkan kita dalam mendidik, harus memperhatikan usia saat prabaligh dan saat baligh. Memperhatikan usia anak dalam mendidik dengan berdasarkan dalil-dalil syara’ agar orang tua memahami hukum-hukum apa saja yang terkait dengan usia tersebut yang harus dilakukan oleh orang tua. Kemudian bagaimana perlakuan mendidik orang tua terhadap anak saat usia pra baligh dan saat usia baligh.
Jika kita memahami tentang pendidikan berbasis usia ini kaitannya dengan parenting adalah sebagai berikut :
Diantara basis pendidikan Islam yang tidak boleh diabaikan adalah basis usia, sejumlah nash baik dalam Al-Quran maupun Sunnah sudah menjelaskan perkara ini dengan gamblang dan jelas dan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai dan visi generasi dalam Islam yang melahirkan sosok pribadi Islam yang tangguh, generasi pemimpin dan generasi khairu ummah.
Karena dalam pendidikan Islam harus senantiasa integral antara tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai dengan konsep yang dimiliki dan juga metode yang diberlakukan, semua harus berasal dari jenis yang sama yaitu dari Islam. Tidak boleh konsepnya Islam metodenya Barat, apalagi konsepnya Barat metodenya juga Barat kecuali perkara sains dan teknologi dan itupun pada tataran aplikasi tetap saja harus diwaspadai karena bisa jadi mengandung hadharah.
Perkara mendidik berdasarkan usia Allah swt berfirman :
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Annur : 58)
Ayat ini menjelaskan bagaimana aturan interaksi anak usia prabaligh dengan orang tua dalam kehidupan khas, kehidupan rumah yang harus meminta izin terlebih dahulu di waktu-waktu aurat. Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dalam perkara ini, ayah bunda memberikan pelajaran kepada anak tiga waktu aurat.
Namun ketika anak sudah baligh izin itu tidak hanya tiga waktu aurat tapi semua waktu dan kesempatan anak yang sudah baligh harus dapat izin ayah bundanya terlebih dahulu untuk memasuki kamar atau kehidupan khusus lainnya.
Allah berfirman :
Dan apabila anak-anakmu telah dewasa maka hendaklah mereka meminta izin jua sebagaimana meminta izinnya orang-orang telah terdahulu tadi. Bukankah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya untuk kamu; dan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Annur : 59)
Dalam hadist juga menjelaskan bahwa perkara pendidikan itu harus berbasis usia prabaligh dan anak yang sudah baligh. Rasulullah saw. Bersabda :
رفع القلم ، عن ثلاثة ، النائم حتى يستيقظ ، والصبي حتى يبلغ ، والمجنون حتى يفيق
“Pena diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar” (al-Bayhaqi dalam Ma’rifatus Sunan)
Dapat dipahami bahwa anak usia prabaligh tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya hingga dia baligh. Dari sini penting memahami usia anak dalam penerapan hukum-hukum Allah agar tidak salah dalam mendidik.
Dalam kesempatan lain Rasulullah saw juga mengajarkan parenting berbasis usia kepada kita dalam perkara shalat dan pemisahan tempat tidur langsung menyebutkan usia anak , beliau bersabda :
"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)
Demikianlah Allah dan Rasulnya mengarahkan kita dalam mendidik, harus memperhatikan usia saat prabaligh dan saat baligh. Memperhatikan usia anak dalam mendidik dengan berdasarkan dalil-dalil syara’ agar orang tua memahami hukum-hukum apa saja yang terkait dengan usia tersebut yang harus dilakukan oleh orang tua. Kemudian bagaimana perlakuan mendidik orang tua terhadap anak saat usia pra baligh dan saat usia baligh.
Jika kita memahami tentang pendidikan berbasis usia ini kaitannya dengan parenting adalah sebagai berikut :
1. Memahami tumbuh kembang anak setiap jenjang usia
2. Menentukan tahapan-tahapan pendidikan
3. Menentukan jenjang sekolah
4. Hukum-hukum syara’ yang terkait dengan anak sesuai jenjang usia
5. Penentuan kurikulum dan bahan ajar sesuai usia serta metode pembelajaran
6. Penentuan ta’dib bagi kesalahan anak
7. Meraih tujuan pendidikan (Takwinusysyakhshiyyah ) di setiap jenjang usia
8. Mengantarkan anak prabaligh menuju mukallaf (dewasa)
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
2. Menentukan tahapan-tahapan pendidikan
3. Menentukan jenjang sekolah
4. Hukum-hukum syara’ yang terkait dengan anak sesuai jenjang usia
5. Penentuan kurikulum dan bahan ajar sesuai usia serta metode pembelajaran
6. Penentuan ta’dib bagi kesalahan anak
7. Meraih tujuan pendidikan (Takwinusysyakhshiyyah ) di setiap jenjang usia
8. Mengantarkan anak prabaligh menuju mukallaf (dewasa)
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI MENGUATKAN PENGARUH IBU TERHADAP ANAK
“ Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithroh, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya”
Demikian Rasulullah membuat stetmen bahwa fithroh anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fithroh anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fithroh anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Source : Ustadzah Yanti Tanjung
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
“ Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithroh, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya”
Demikian Rasulullah membuat stetmen bahwa fithroh anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fithroh anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fithroh anak tetap dalam keislamannya.
Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.
Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.
Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.
Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.
Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.
Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.
Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.
Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.
Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.
Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.
Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.
Source : Ustadzah Yanti Tanjung
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
📌BUKAN SEKEDAR BERMAIN📌
Ayah Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.
Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.
Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.
Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.
Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”
Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).
Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.
Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma
innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.
Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat
Ayah Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.
Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.
Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.
Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.
Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”
Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).
Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.
Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma
innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.
Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat
di mesjid dan sebelum bermain setor muraja'ah dulu minimal 1/2 juz. Bahkan ada salah satu temannya pindah sekolah ke sekolahnya karena tertarik dengan sekolah tahfidznya.
Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :
1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.
2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.
3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.
4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.
Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.
Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.
Wallau a’lam bishshawab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :
1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.
2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.
3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.
4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.
Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.
Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.
Wallau a’lam bishshawab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Bismillah, mari sama² berdo'a agar hari ini kita diberikan Rizky yg halal dan barokah
Aammiiinn
Aammiiinn
Rasulullah bersabda :
لا تزول قدما عبد حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيم أفناه وعن علمه ما فعل فيه وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلاه
Artinya : Tidak akan berpindah, dua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Robbnya, sampai dia ditanya tetang 4 perkara, diamana dia dapatkan hartanya dan dimana dia habiskan. (Hadits Shohih riwayat Tirmidzi dari Abi Barzah, lihat Shohih Jami’ Ash Shoghiir no.7300)
لا تزول قدما عبد حتى يسأل عن أربع: عن عمره فيم أفناه وعن علمه ما فعل فيه وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه وعن جسمه فيم أبلاه
Artinya : Tidak akan berpindah, dua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Robbnya, sampai dia ditanya tetang 4 perkara, diamana dia dapatkan hartanya dan dimana dia habiskan. (Hadits Shohih riwayat Tirmidzi dari Abi Barzah, lihat Shohih Jami’ Ash Shoghiir no.7300)
HIKMAH DARI KISAH NABI NUH DAN NABI YA'QUB
"Sikap Orang Tua ketika Anak Menjadi Ujian Baginya"
Setiap orangtua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.
Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].
Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.
Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipatganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat.
Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.
Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.
Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah SWT walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
"Sikap Orang Tua ketika Anak Menjadi Ujian Baginya"
Setiap orangtua tidak selalu mulus membersamai anak, pasti ada ujian yang dilalui baik besar maupun kecil. Ada yang diuji anak terjebak dengan pergaulan bebas, terpapar pornografi, anak mengalami depresi, anak mogok sekolah, anak tidak mau menjalankan kewajiban shalat dan sejumlah ujian lainnya jika ditulis semua akan menjadi daftar panjang dalam lembaran-lembaran yang tak bisa diprediksi kapan berakhir. Na’udzubilahi mindzalik.
Jangankan kita manusia biasa dalam kisah para Nabi pun hal seperti itu terjadi. Sebutlah nabi Nuh, Allah beri ujian anak yang durhaka pada Allah tidak mau mengikuti ayahnya untuk bertauhid pada Allah. Begitupun nabi Ya’qub sebelas anaknya kecuali Benyamin bersekongkol untuk membunuh Nabi Yusuf di sebuah sumur tua, bertahun-tahun lamanya nabi Ya’qub menunggu pertemuan dengan puteranya tersebut.. Sejatinya perkara anak adalah fitnah / ujian diabadikan oleh Allah dalam wahyunya.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتُصْفِحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللهَ غَفُورُُ رَّحِيمٌ {14} إِنَّمَآ أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةُُ وَاللهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمُُ
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At Taghabun:14,15].
Tentunya kita tidak ingin sang buah hati kelak menjadi musuh ayah bunda, sang buah hati tak pernah menjadi penyejuk dalam rumah kita. Kita selalu berharap dan bekerja keras dan sesungguh-sungguhnya untuk memberikan pendidikan terbaik agar anak-anak kita menjadi anak-anak permata dunia dan anak-anak cahaya mata yang senantiasa menyejukkan jiwa.
Sungguh banyak para bunda diuji dengan anak, katakanlah tangis seorang ibu yang mengalami perih mendalam mengetahui kabar bahwa anak laki-lakinya yang baru kelas lima SD melakukan pelecehan seksual pada teman sekelasnya, ada pula pengaduan curhatan seorang ibu dimana anaknya kecanduan gadget tidak bisa dinasehati dan malas beribadah, bahkan ada seorang ibu yang galau setengah mati terhadap anaknya yang sudah terpapar pornografi dan entah apalagi jenis ujiannya. Padahal kata mereka kami sangat menjaga anak-anak, merasa sudah memberikan pendidikan terbaik yang mereka punya.
Zaman telah menghadapkan kita pada ujian demi ujian, rasa kekhawatiranpun berlipatganda saat anak-anak kita sudah mengenal lingkungannya dan dia menuntut eksplorasi lebih luas di luar rumah. Eksplorasinya itu yang membuat anak mengenal banyak teman yang beragam ada yang shaleh ada yang jahat.
Inilah zaman Kapitalisme sekulerisme yang tidak ada jaminan perlindungan terhadap anak, yang membuat beban orang tua teramat berat dalam pendidikan.
Dalam kondisi seperti ini sebagai orang tua tentu tidak membuat kita lalai dari mengingat Allah. Justru jika dihadapkan pada perkara ini segera bertaubat dan memohon ampunan pada Allah atas semua kekeliruan dan dosa-dosa kita dalam mendidik anak.
Walau kita dihadapkan ujian dengan anak, tidaklah mengurangi semangat orang tua dalam taat pada Allah. Nabi Nuh tak pernah mengurangi ketaatannya pada Allah dan tetap menyebarkan dakwah atas perintah Allah SWT walau nabi Nuh dihadapkan pada kesedihan yang mendalam terhadap anaknya yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya untuk beriman dan taat pada Allah SWT.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
Kitapun bisa berkaca pada Nabi ya’qub ketika saudara-saudara nabi Yusuf menjerumukannya di sumur tua dan mereka berdusta pada
ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang buas dan memperlihatkan bukti darah domba yang dibalurkan pada bajunya Nabi Yusuf.
Betapa menderitanya perasaan sang ayah saat itu namun Nabi Ya’qub bersabar dengan cobaan itu, melapangkan hatinya memaafkan anak-anaknya dan memberikan pada mereka kesempatan untuk kembali pada keshalehannya hingga saat yang diharapkan itu benar-benar disaksikan oleh Nabi Ya’qub, semua anak-anaknya kembali dalam kebaikan dan ketaatan.
Beberapa hal ini bisa kita lakukan ketika kita diuji dengan anak :
1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah SWT bahwa baik buruknya datang dari Allah
2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat
3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur
4. Maafkan kesalahnnya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya
5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lukukan penguatan-penguatan kerpibadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.
6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.
Wallahu a'lam bishshowab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
ayahnya bahwa Yusuf diterkam binatang buas dan memperlihatkan bukti darah domba yang dibalurkan pada bajunya Nabi Yusuf.
Betapa menderitanya perasaan sang ayah saat itu namun Nabi Ya’qub bersabar dengan cobaan itu, melapangkan hatinya memaafkan anak-anaknya dan memberikan pada mereka kesempatan untuk kembali pada keshalehannya hingga saat yang diharapkan itu benar-benar disaksikan oleh Nabi Ya’qub, semua anak-anaknya kembali dalam kebaikan dan ketaatan.
Beberapa hal ini bisa kita lakukan ketika kita diuji dengan anak :
1. Menerima itu sebagai qadha dari Allah SWT bahwa baik buruknya datang dari Allah
2. Muhasabah diri, jika ada amal yang merupakan dosa-dosa kita segeralah bertaubat
3. Hadapi anak dengan sabar dan berupayalah berkomunikasi dengan baik sehingga anak mau terbuka dan berkata jujur
4. Maafkan kesalahnnya dan tawarkan diri untuk membantunya keluar dari persoalan hidupnya
5. Dampingi anak selama masa membenahi diri dan lukukan penguatan-penguatan kerpibadian Islamnya hingga kita yakin anak sudah benar-benar kembali pada Allah dan rasulnya.
6. Senantiasa mendoakannya untuk ketaatannya dan terhindarnya dia dari kejahatan baik dari jin dan manusia.
Wallahu a'lam bishshowab
Source : Channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BELAJAR DARI IMAM SYAFI'I
Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya
Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.
Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”
“Belum faham, ”jawab Rabi’.
Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum.
Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.
Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.
Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?
Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.
Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,
”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”
Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.
Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.
Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.
Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.
Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?
Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran*?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala*?
source : fanpage Facebook
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Baru Terungkap, Ternyata Imam Syafi'i memiliki Murid "Slow Learner" dan Begini Cara Mengajarnya
Sangat mengesankan pada apa yang ditulis oleh Imam Baihaqi dalam kitab Manaqib Imam Syafii, bagaimana cara Imam Syafii, sebagai guru mengajar salah satu muridnya yang sangat lamban dalam memahami pelajaran.
Sang Murid itu adalah Ar Rabi’ bin Sulaiman, murid paling slow learner. Berkali-kali diterangkan oleh sang guru Imam Syafii, tapi Robi’tak juga faham. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafii bertanya,
“Rabi’ Sudah faham paham belum ?”
“Belum faham, ”jawab Rabi’.
Dengan kesabaranya, sang guru mengulang lagi pelajaranya,lalu ditanya kembali, ”sudah faham belum? Belum.
Berulang diterangkan sampai 39x Rabi’ tak juga paham.
Merasa mengecewakan gurunya dan juga malu, Rabi’ beringsut pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Selesai memberi pelajaran Imam Syafii mencari Robi’, melihat muridnya. Imam Syafi'i berkata, ”Robi’ kemarilah, datanglah ke rumah saya !”.
Sebagai seorang guru, sang imam sangat memahami perasaan muridnya, maka beliau mengundangnya untuk belajar secara privat.
Sang Imam mengajarkan Rabi’ secara privat, dan ditanya kembali, ”Sudah paham belum ?
Hasilnya? Rabi’ bin Sulaiman tidak juga paham.
Apakah Imam Asy-Syafi’i berputus asa?
Menghakimi Rabi’ bin Sulaiman sebagai murid bodoh? Sekali-kali tidak. Beliau berkata,
”Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu. Allah-lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”
Mengikuti nasihat gurunya, Rabi’ bin Sulaiman rajin sekali bermunajat berdoa kepada Allah dalam kekhusyukan. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan kesungguhan dalam belajar. Keikhlasan, kesalehan, dan kesungguhan, inilah amalannya Rabi’ bin Sulaiman.
Tahukah kita? Rabi’ bin Sulaiman kemudian berkembang menjadi salah satu ulama besar Madzhab Syafi’i dan termasuk perawi hadis yang sangat kredibel dan terpercaya dalam periwayatannya.
Sang slow learner bermetamorfosis menjadi seorang ulama besar.
Inilah buah dari kesabaran Imam Asy-Syafi’i dalam mengajar dan mendidik.
Adakah kita, para guru dan orangtua bisa meneladani kesabaran Imam Syafii dalam mengajar ?
Berapa kuat kita meyakini bahwa tidak ada anak dan murid yang bodoh?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua mendoakan anak-anak dan murid didik kita agar difahamkan pelajaran*?
*Sudahkan kita, para guru dan orangtua Memotivasi anak murid kita agar gigih berdoa kepada Allah Taala*?
source : fanpage Facebook
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI DALAM MENGHADAPI DUNIA DIGITAL UNTUK ORANG TUA
Sebuah quote populer dari Ali bin Abi Thalib k.w.“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”
Mendidik anak sesuai zaman itu bukan berarti mendidik harus mengikuti zaman, akan tetapi ayah bunda memetakan zaman yang ada, sisi kebaikan dan kerusakannya, ancaman dan tantanganya serta peluang dan dukungannya sehingga dapat memetakan pula sisi strategi mendidik yang dapat melejitkan kepribadian islam anak dan ketangguhannya dalam bidang tsaqafah islam, ilmu, hukum, politik dan jihad dan anak-anak harus unggul dalam hal ini.
Era digital memang cendrung merusak di dalam kekuasaan zaman Kapitalisme Sekulerisme, namun manfaat sanis dan teknologinya dapat diambil untuk mempermudah ayah bunda dalam mendidik bukan malah menghancurkan sendi-sendi kepribadian islam anak.
Teknologi digital dalam penerapannya tentu dipengaruhi tsaqafah tertentu, bila yang mengendalikan teknologi tersebut adalah Kapitalisme maka bisa dipastikan pemanfaatan teknologinya dipengaruhi ideologi tersebut, sebab sebuah ideologi alamiahnya ingin menguasai dan menjadi negara nomor satu.
Jadilah saat ini kita ayah bunda terseok-seok dengan pengaruh teknologi digital yang notabene sajian-sajian di dalamnya boro-boro dapat mencapai insan bertakwa yang ada justru merusak kepribadian Islam anak-anak kita.
Teknologi digital bisa kita manfaatkan sebagai media belajar bisa memudahkan kita mencari informasi2 tentang mendidik anak dan solusi-solusi problematika pendidikan anak. Namun sajiannya tidak selalu tepat untuk digunakan apalagi jika digital semisal hand phone sudah menjadi konsumsi setiap hari bagi anak-anak kita tanpa ada pengawasan yang ketat.
Sudah tidak dapat dipungkiri rusaknya generasi hari ini karena mereka mengkonsumsi video porno, tayangan2 porno dan photo2 porno langsung dari hand phone mereka sendiri. Ketika mereka rusak permanen maka sulit bagi kita untuk memperbaiki generasi yang sudah kecanduan pornografi bahkan menjadi pelakunya dan menyebarkannya.
Oleh karena itu kita butuh sudut pandang sendiri untuk menilai sebuah zaman di era ini dan butuh merubah strategi parenting menghadapi zaman ini. Sudah tidak berlaku bila kita masih berpendapat bahwa orang tua sekarang meniru cara didik orang tuanya dulu, pastinya akan tergilas zaman. Lebih-lebih lagi jika orang tua tersebut korban dari zaman, menyerah pasrah di hadapan zaman yang tidak hanya merusak anaknya tapi merusak orangtua itu sendiri.
Maka strategi parenting itu harus dipelajari, dilatih dan komitmen berpegang pada konsep dan metode pendidikan yang benar.
Sejatinya pendidikan Islam pada tataran konsep dan metode mampu menjawab semua zaman baik dalam pola asuh maupun pola didik. Pendidikan berbasis aqidah Islam tidak bisa lekang oleh zaman, akan selalu terpatri dalam tsaqafah islam yang sejatinya sudah menjadi milik ayah dan bunda.
Konsep dan metode pendidikan itu wajib hukumnya untuk diamalkan dan tidak akan pernah berubah karena bersifat baku. Maka wajib bagi orang tua mempelajari konsep dan metode pendidikan ini dan terus belajar untuk memahami lebih dalam sehingga berpengaruh pada amal kita dalam mendidik.
Dalam menghadapi era digital yang kita perlu pikirkan dan kembangkan adalah strategi parentingnya yang membutuhkan kejeniusan, kreatifitas dan mengambil media dan sarana belajar yang mendukung untuk menguatkan metode pendidikan dan teralisasinya konsep. Tentu butuh paham dulu konsep dan metode baru kita turunkan dan kembangkan dalam uslub untuk menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilaksanakan ketika kita mendidik anak.
Uslub inilah yang berubah, sarana dan prsaranapun berubah, maka teknologi digital itu hanya media dan sarana belajar. Ketika menjadi media dan sarana belajar pada saat itulah kita bijak menilai handphone, TV, internet, dll, apakah kita akan mengambilnya ataukah kita tidak menggunakannya sama sekali. Jadi tidak akan ada anggapan bahwa anak sekarang kalau tidak memakai gadget jadi anak-anak tertinggal, anak sekarang tidak wawasannya akan sempit tanpa gadget.
Sebuah quote populer dari Ali bin Abi Thalib k.w.“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”
Mendidik anak sesuai zaman itu bukan berarti mendidik harus mengikuti zaman, akan tetapi ayah bunda memetakan zaman yang ada, sisi kebaikan dan kerusakannya, ancaman dan tantanganya serta peluang dan dukungannya sehingga dapat memetakan pula sisi strategi mendidik yang dapat melejitkan kepribadian islam anak dan ketangguhannya dalam bidang tsaqafah islam, ilmu, hukum, politik dan jihad dan anak-anak harus unggul dalam hal ini.
Era digital memang cendrung merusak di dalam kekuasaan zaman Kapitalisme Sekulerisme, namun manfaat sanis dan teknologinya dapat diambil untuk mempermudah ayah bunda dalam mendidik bukan malah menghancurkan sendi-sendi kepribadian islam anak.
Teknologi digital dalam penerapannya tentu dipengaruhi tsaqafah tertentu, bila yang mengendalikan teknologi tersebut adalah Kapitalisme maka bisa dipastikan pemanfaatan teknologinya dipengaruhi ideologi tersebut, sebab sebuah ideologi alamiahnya ingin menguasai dan menjadi negara nomor satu.
Jadilah saat ini kita ayah bunda terseok-seok dengan pengaruh teknologi digital yang notabene sajian-sajian di dalamnya boro-boro dapat mencapai insan bertakwa yang ada justru merusak kepribadian Islam anak-anak kita.
Teknologi digital bisa kita manfaatkan sebagai media belajar bisa memudahkan kita mencari informasi2 tentang mendidik anak dan solusi-solusi problematika pendidikan anak. Namun sajiannya tidak selalu tepat untuk digunakan apalagi jika digital semisal hand phone sudah menjadi konsumsi setiap hari bagi anak-anak kita tanpa ada pengawasan yang ketat.
Sudah tidak dapat dipungkiri rusaknya generasi hari ini karena mereka mengkonsumsi video porno, tayangan2 porno dan photo2 porno langsung dari hand phone mereka sendiri. Ketika mereka rusak permanen maka sulit bagi kita untuk memperbaiki generasi yang sudah kecanduan pornografi bahkan menjadi pelakunya dan menyebarkannya.
Oleh karena itu kita butuh sudut pandang sendiri untuk menilai sebuah zaman di era ini dan butuh merubah strategi parenting menghadapi zaman ini. Sudah tidak berlaku bila kita masih berpendapat bahwa orang tua sekarang meniru cara didik orang tuanya dulu, pastinya akan tergilas zaman. Lebih-lebih lagi jika orang tua tersebut korban dari zaman, menyerah pasrah di hadapan zaman yang tidak hanya merusak anaknya tapi merusak orangtua itu sendiri.
Maka strategi parenting itu harus dipelajari, dilatih dan komitmen berpegang pada konsep dan metode pendidikan yang benar.
Sejatinya pendidikan Islam pada tataran konsep dan metode mampu menjawab semua zaman baik dalam pola asuh maupun pola didik. Pendidikan berbasis aqidah Islam tidak bisa lekang oleh zaman, akan selalu terpatri dalam tsaqafah islam yang sejatinya sudah menjadi milik ayah dan bunda.
Konsep dan metode pendidikan itu wajib hukumnya untuk diamalkan dan tidak akan pernah berubah karena bersifat baku. Maka wajib bagi orang tua mempelajari konsep dan metode pendidikan ini dan terus belajar untuk memahami lebih dalam sehingga berpengaruh pada amal kita dalam mendidik.
Dalam menghadapi era digital yang kita perlu pikirkan dan kembangkan adalah strategi parentingnya yang membutuhkan kejeniusan, kreatifitas dan mengambil media dan sarana belajar yang mendukung untuk menguatkan metode pendidikan dan teralisasinya konsep. Tentu butuh paham dulu konsep dan metode baru kita turunkan dan kembangkan dalam uslub untuk menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilaksanakan ketika kita mendidik anak.
Uslub inilah yang berubah, sarana dan prsaranapun berubah, maka teknologi digital itu hanya media dan sarana belajar. Ketika menjadi media dan sarana belajar pada saat itulah kita bijak menilai handphone, TV, internet, dll, apakah kita akan mengambilnya ataukah kita tidak menggunakannya sama sekali. Jadi tidak akan ada anggapan bahwa anak sekarang kalau tidak memakai gadget jadi anak-anak tertinggal, anak sekarang tidak wawasannya akan sempit tanpa gadget.
Anggapan sebaliknya jangan kasih gadget pada anak-anak nanti merusaknya, nanti belajarnya terganggu, nanti lebih fokus pada gadgetnya ketimbang berbuat baik pada ortu, nanti sosialisasinya kurang pada tetangga dan masyarakat.
Memang betul digital sangat deras pengaruhnya karena dia didudukung oleh sistem politik kelas dunia, yaitu Kapitalisme. Jika digital di bawah sistem politik Khilafah yang juga berkelas dua kita tidak perlu khawatir anak usia dini pegang gadget.
Tapi inilah zamannya, sehingga kita banyak menimbang-nimbang kapan saatnya anak diberikan HP kapan saatnya tidak sama sekali dan kapan saat dibatasi.
Mendidik anak di zaman ini harus bisa mewujudkan kepribadian Islam anak hingga di puncak ketangguhannya, sehingga anak paham pemanfaatan teknologi baginya dan paham sejauh mana teknologi itu dapat merusak kepribadian Islamnya. Maka proses mewujudkan kepribadian islam yang tangguh itulah sebuah amanah besar di zaman ini di pundak orang tua.
Wallu a'lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Memang betul digital sangat deras pengaruhnya karena dia didudukung oleh sistem politik kelas dunia, yaitu Kapitalisme. Jika digital di bawah sistem politik Khilafah yang juga berkelas dua kita tidak perlu khawatir anak usia dini pegang gadget.
Tapi inilah zamannya, sehingga kita banyak menimbang-nimbang kapan saatnya anak diberikan HP kapan saatnya tidak sama sekali dan kapan saat dibatasi.
Mendidik anak di zaman ini harus bisa mewujudkan kepribadian Islam anak hingga di puncak ketangguhannya, sehingga anak paham pemanfaatan teknologi baginya dan paham sejauh mana teknologi itu dapat merusak kepribadian Islamnya. Maka proses mewujudkan kepribadian islam yang tangguh itulah sebuah amanah besar di zaman ini di pundak orang tua.
Wallu a'lam bishshowab
Source : channel telegram parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
BAHAYA MARAH
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
Awalnya marah (الغضب).
Jika marah ini terjadi berkali-kali tanpa diselesaikan, lalu membekas dalam hati maka ia akan berubah menjadi benci (البغضاء)
Jika benci ini dipelihara terus dalam hati, diingat-ingat sampai membesar dan berakar maka ia akan berubah menjadi dendam (الحقد)
Jika dendam ini dipelihara, maka ia akan melahirkan keinginan supaya orang yang dibencinya itu sengsara dan hilang semua kesenangannya. Perasaan senang dengan hilangnya nikmat orang lain ini dinamakan dengki alias hasad (الحسد).
Jika orang yang dibenci itu tertimpa musibah, kemudian dia senang dan mengucapkan kata-kata yang nadanya “mengkapokkan” orang yang kesusahan tadi, maka perbuatannya itu disebut syamātah (الشماتة).
Jika level kebencian itu sampai membuat tidak mau kontak dan tidak mau berinteraksi, maka itu dinamakan pemutusan hubungan atau muqāṭa’ah atau hajr (المقاطعة).
Jika kebencian itu sampai membuat meremehkan segala kelebihan yang dimilikinya maka itu dinamakan takabur (التكبر).
Jika kebencian itu sampai level ada upaya menjatuhkan kredibilitasnya, membusukkan citranya dan membunuh karakternya tanpa peduli lagi larangan-larangan Allah, maka akan muncul dosa dusta (الكذب), menggunjing (الغيبة), memfitnah (البهتان), menyebarkan rahasia (إفشاء السر), merusak kehormatannya (هتك الستر), mengolok-olok (السخرية), sampai tidak mau membayar utang kepadanya, tidak mau menyambung silaturrahim kepadanya dan meminta maaf atas kezaliman yang ia lakukan kepadanya.
Jika kebencian itu sampai level menyakiti dengan fisik atau bahkan membunuh maka terjadilah dosa terbesar yang terkait dengan hak hamba.
Semua berawal dari marah.
Karena itu Allah cinta dengan hambanya yang pandai menahan emosi dan memiliki sifat pemaaf. Allah berfirman,
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤ ( اٰل عمران/3:134)
Artinya,
134. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3:134)
Seperti Asyajj Abdul Qais yang dipuji Nabi ﷺ . kata Rasulullah ﷺ kepadanya,
“Kamu punya dua sifat yang disukai Allah; sabar dan tenang.”
اللهم ارزقنا الحلم والأناة
Oleh: Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
Awalnya marah (الغضب).
Jika marah ini terjadi berkali-kali tanpa diselesaikan, lalu membekas dalam hati maka ia akan berubah menjadi benci (البغضاء)
Jika benci ini dipelihara terus dalam hati, diingat-ingat sampai membesar dan berakar maka ia akan berubah menjadi dendam (الحقد)
Jika dendam ini dipelihara, maka ia akan melahirkan keinginan supaya orang yang dibencinya itu sengsara dan hilang semua kesenangannya. Perasaan senang dengan hilangnya nikmat orang lain ini dinamakan dengki alias hasad (الحسد).
Jika orang yang dibenci itu tertimpa musibah, kemudian dia senang dan mengucapkan kata-kata yang nadanya “mengkapokkan” orang yang kesusahan tadi, maka perbuatannya itu disebut syamātah (الشماتة).
Jika level kebencian itu sampai membuat tidak mau kontak dan tidak mau berinteraksi, maka itu dinamakan pemutusan hubungan atau muqāṭa’ah atau hajr (المقاطعة).
Jika kebencian itu sampai membuat meremehkan segala kelebihan yang dimilikinya maka itu dinamakan takabur (التكبر).
Jika kebencian itu sampai level ada upaya menjatuhkan kredibilitasnya, membusukkan citranya dan membunuh karakternya tanpa peduli lagi larangan-larangan Allah, maka akan muncul dosa dusta (الكذب), menggunjing (الغيبة), memfitnah (البهتان), menyebarkan rahasia (إفشاء السر), merusak kehormatannya (هتك الستر), mengolok-olok (السخرية), sampai tidak mau membayar utang kepadanya, tidak mau menyambung silaturrahim kepadanya dan meminta maaf atas kezaliman yang ia lakukan kepadanya.
Jika kebencian itu sampai level menyakiti dengan fisik atau bahkan membunuh maka terjadilah dosa terbesar yang terkait dengan hak hamba.
Semua berawal dari marah.
Karena itu Allah cinta dengan hambanya yang pandai menahan emosi dan memiliki sifat pemaaf. Allah berfirman,
وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤ ( اٰل عمران/3:134)
Artinya,
134. dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3:134)
Seperti Asyajj Abdul Qais yang dipuji Nabi ﷺ . kata Rasulullah ﷺ kepadanya,
“Kamu punya dua sifat yang disukai Allah; sabar dan tenang.”
اللهم ارزقنا الحلم والأناة
MENJAGA LISAN ANAK
Seringkali kita menyaksikan anak-anak lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.
Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.
Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.
Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :
🔸 Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam
🔸 Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.
🔸 Ketaaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
🔸 Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. maliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]
🔸 Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.
Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Seringkali kita menyaksikan anak-anak lisannya jorok dan kotor, jauh dari perkataan-perkataan yang terpuji. Bahasa-bahasa tiruan ataupun ciptaan anak terlontar begitu saja tanpa merasa ada yang salah. Mencaci sesama teman, mencela teman, menjuluki nama-nama yang buruk pada teman, maaf misalnya anjing, monyet, si kurus, si gendut dll menjadi perkara yang biasa. Tidak dipungkiri meski memang temannya gendut tidak rela disebut gendut atau meski temannya kurus tidak rela disebut kurus apalagi julukan-julukan lainnya yang menyakitkan hati jadilah bermusuhan.
Parahnya ada berkelompok kelompok anak seusia SD, SMP dan SMA memanggil nama-nama binatang sesama mereka tanpa ada yang sakit hati karena mereka adalah sesama. Namun kita sebagai orang tua gerah mendengarkannya, pastinya anak-anak tersebut tidak pernah dididik lisannya mengatakan hal-hal yang baik, terpuji dan ahsan.
Anak-anak yang seperti ini akan menciptakan lingkungan yang rusak di masyarakat. Setiap anak yang masuk lingkungan itu yang notabene juga ada di sekolah-sekolah formal akan terbawa dengan bahasa-bahasa celaan tersebut. ini pulalah yang membuat galau orang tua memasukkan anak di lingkungan yang tidak kondusif, khawatir anak yang sudah dijaga dengan baik jika berada di lingkungan anak-anak tercela tersebut pulang-pulang membawa bahasa-bahas yang tercela pula.
Ada beberapa hal benteng untuk menjaga anak-anak agar berkata dengan perkataan yang terpuji dan ahsan :
🔸 Anak harus dibekali tarkiz aqidah islam yang kokoh sehingga anak terbiasa lisannya dalam kesadaran berhubungan dengan Allah berikut beramal juga didorong karena idrak shillah billah.
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam
🔸 Bekali anak dengan kekayaan tsaqafah islam, untuk menimbang segala sesuatunya termasuk lisannya dengan timbangan syariah islam dan memiliki akhlak terpuji dan memiliki adab sopan santun yang mulia.
🔸 Ketaaatan penuh pada hukum-hukum Allah, memahami mana lisan yang harus diucapkan dan mana yang tidak untuk menyelamatkan orang lain.
Diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no.10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya”
🔸 Muraqabatullah, anak yang senantiasa hidup akal dan hatinya pada pengawasan Allah tidak akan mau berkata sembarangan, karena dia yakin setiap kata akan dicatat. maliakan yang ada di kiri dan kanannya akan sibuk mencatat setiap apa yang dikeluarkan oleh lisannya.
Allah juga berfirman.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk disebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” [Qaf : 16-18]
🔸 Memberikan tauladan yang baik dalam berkata oleh orang tua langsung. Ingatah lisan orang tua adalah pembentuk langsung aqliyyah anak, maka penuhilah lisan-lisan orang tua dengan muatan tsaqafah islam, motivasi-motivasi ruhiyyah dan bahasa-bahasa aqidah Islamiyyah.
Maka dengan demikian anak-anak penghafal Alquran akan memahami bahwa melantunkan ayat-ayat Alquran akan membuat lisannya terjaga. Mereka lebih baik membaca Alquran ketimbang harus berbicara yang tercela, menggibah, dan tidak ahsan.
Sejatinya para penghafal Alquran itu dapat mengungkapkan bahasa-bahasa Alquran dalam kehidupan mereka pun ketika mereka berada di tengah-tengah teman dan masyarakat. Namun ini butuh kerja sungguh-sungguh bagi orang tua dan guru untuk membiasakan lisan-lisan Alquran ini hidup di tengah-tengah anak-anak kita dan perlu melatih diri sebaik mungkin agar anak merasakan betapa lisan tertinggi bagi mereka itu adalah lisan Alquran, lisan yang menyeru manusia di jalan Allah swt. Wallahu a'lam bishshowab
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Source : channel parenting
#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi