Gen-ACI Parenting Center
626 subscribers
3 photos
2 links
Channel inspirasi & Ilmu Parenting
Download Telegram
ROTI GOSONG TIDAK PERNAH BERSALAH

Dr Abdul Kalam, Mantan Presiden India bercerita, ketika dirinya masih kecil, ibunya memasak makanan untuk keluarga.

Pada suatu malam, khususnya ketika ibunya membuat makan malam setelah seharian bekerja keras, sang Ibu meletakkan sepiring ‘subzi’ dan roti yang sangat gosong di depan Ayahnya.

“Saya sedang menunggu untuk melihat apakah ada yang memperhatikan roti gosong. Tapi Ayah baru saja makan rotinya dan bertanya padaku bagaimana hari-hariku di sekolah,” kisah Dr Abdul Kalam, dikutip dari thehansindia, Jumat (16/10/2020).

“Aku tidak ingat apa yang kukatakan padanya malam itu, tapi aku ingat aku mendengar Ibu meminta maaf kepada Ayah atas roti gosongnya. Dan aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia katakan: “Sayang, aku suka roti gosong.”

Malamnya ketika hendak tidur, Dr Abdul Kalam pergi untuk mencium sang Ayah. Dia bertanya apakah ayahnya sungguh benar-benar menyukai roti buatan ibunya yang gosong.

“Dia memelukku dan berkata: “Ibumu menghabiskan hari yang berat di tempat kerja hari ini dan dia benar-benar lelah. Lagi pula, roti gosong tidak pernah menyakiti siapa pun kecuali kata-kata kasar!”

“Kamu tahu nak, hidup penuh dengan hal-hal yang tidak sempurna dan orang yang tidak sempurna. Saya bukan yang terbaik dan hampir tidak pandai dalam segala hal. Saya bahkan lupa hari ulang tahun dan hari istimewa seperti orang lain. Namun, apa yang telah saya pelajari selama bertahun-tahun adalah menerima kesalahan satu sama lain dan memilih merayakan hubungan,” kata Dr Abdul Kalam, menceritakan apa yang ayahnya katakan padanya.

Terakhir, sang ayah memberi nasehat mutiara kepada Dr Abdul Kalam, bahwa hidup terlalu singkat untuk bangun dengan penyesalan.

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
"BANTUIN KEK!!! ANGKATIN KEK!!! ATAU APA GITU!!!"

Mungkin, kita pernah melihat, seorang ibu di Minggu pagi tergopoh mengerjakan semuanya sendiri. Mencuci piring, menyikat kamar mandi, mencuci, mengangkat jemuran, mengepel, menjemur baju, memasak, ke pasar,...

Saat si ibu terlihat kepayahan mengangkat seember penuh cucian yang hendak dijemur, si putra remaja yang ada di dekatnya, diam saja membiarkan. Bahkan saat tetesan air ember yang menitik membecekkan lantai, si anak bujang tetap santai.

Ibu bergegas mengambil kain pel. Membungkuk dan tertunduk-tunduk mengeringkan lantai, si anak lanang (yang udah SMP/SMA/bahkan kuliah) malah mengangkat kaki ke kursi tanpa mengalihkan mata dari HPnya😔

Salahkah si anak yang tak peduli? Iya, salah...

Tapi anak bukanlah produk instan. Tentu ada penyebab kenapa dia tak tergerak menolong ibunya.

Selama ini, sudahkah kita sebagai orangtua telah mendidik putra kita bertahap untuk bisa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga?

Sering ibu-ibu bilang begini dengan nada santai :

"Lhaa....anakku wong lanang semua, mana ada yang bantu ibunya,"

"Yah namanya juga anak laki-laki. RAJA. mana mau ngerjain kerjaan perempuan,"

"Enak yaa kamu punya anak perempuan, ada yang bantuin, "

Dan lain-lain. Dan lain-lain.

Aku menulis ini, berkaitan dengan keseharianku membaca curhatan prahara rumah tangga. Bahwa, pemantik perceraian tak melulu kesalahan besar seperti menyusupnya orang ke tiga. Banyak biduk yang oleng, karena istri merasa lelah sendiri. Apalagi kalo suami juga tak mapan secara financial sehingga istri harus terlibat membanting tulang. "Sama-sama bekerja, tapi kerjaan rumah aku berjibaku sendiri, dia enak-enakan main HP" begitu aduan yang kerap kuterima

Suami type begini, sering tak menghargai pekerjaan istrinya di rumah, karena dia tak pernah diajarkan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan itu. Jadi dia nggak tau, kalo pekerjaan rumah itu juga bisa menghasilkan lelah.

Putra kita, takkan selamanya bersama kita.

Dia milik masa depannya. Ada takdir yang akan menerbangkan sayapnya ke sebuah belahan bumi Allah, yang mungkin saja berjarak puluhan ribu kilo dari kita.

Di sana, mungkin langka sumber daya manusia. Jadi tak ada pembantu. Bisa juga tak ada laundry kiloan, tak ada warteg, nggak ada go food, dan nggak ada dana juga buat manggil go clean.

Kalo tak dibentuk dari awal, mereka akan kelelahan beradaptasi, canggung dan bingung, bahkan tak sedikit yang frustrasi.

Dan kelak, putra kesayangan kita, yang sekarang kita perlakukan bak raja, dia akan menikahi seorang putri kesayangan sebuah keluarga yang lain.

Lalu mereka hidup bersama dengan masa depannya. Laku, Apakah dia selamanya dan seenaknya mengandalkan istrinya?

Kebayangkah jika tak ada bantuan siapa-siapa, lalu saat istrinya sakit, hamil, melahirkan, lelah, lalu siapa yang akan menuntaskan segala kerjaan rumah?

Istri dari putra kita, adalah gadis kesayangan keluarganya. Kebayang gak sih? duka mendalam di hati keluarga saat melihat betapa lelah putri tercinta mereka mengerjakan semuanya sendiri di saat badannya masih lemah, sementara sang suami, -yang notabene adalah putra kita- hanya bisa bengong dan ongkang-ongkang kaki?

Aku tak punya anak perempuan. Tapi, andai punya, dan putriku diperlakukan begitu, terlepas soal dharma dan bhakti, aku nggak rela tenaga putriku diperas paksa.

Aku mau putriku bahagia, bergandengan tangan dengan pilihan hatinya berbagi tugas secara adil, tak membuat lelah salah satunya.

Memang, mendidik dan mengajarkan anak laki-laki 'sepertinya' lebih membutuhkan kesabaran ekstra. Kita sering menyerah melihat hasil kerja mereka, udahlah lama, gak bersih, gak rapi, masih kotor, dll. Akhirnya, semua kerjaan rumah kita ambil alih. Harusnya kita lebih bersabar. Karena tak ada hasil bagus yang dibentuk instan dalam semalam.

Padahal, kerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika, memasak, itu bukan hanya milik perempuan. Semuanya itu adalah KETERAMPILAN DASAR HIDUP.
Pekerjaan-pekerjaan itu tidak memiliki jenis kelamin. itu adalah skill dasar yang harus dikuasai oleh siapa saja.

Keletihan mengajarkan mereka saat ini, insyaa Allah akan terbayar di masanya nanti.

Meskipun bagimu putramu adalah raja, maka jadikan dia raja bijaksana. Meskipun bagimu dia adalah raja, jangan sampai dia jadi raja yang nyebelin bagi istrinya.

Sekali lagi, bertahap, kita harus mengajarkan dan mendidik agar anak-anak kita, PUTRI MAUPUN PUTRA untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Karena itu adalah KETERAMPILAN DASAR HIDUP 💖


Note : diambil dari berbagai sumber

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
APA YANG KITA CARI DARI HIDUP INI?

Kita hidup di gunung, merindukan pantai...
Kita hidup di pantai, merindukan gunung...

Kalau kemarau, kita tanya kapan hujan ?
Di musim hujan, kita tanya kapan kemarau ?

Diam di rumah, ingin pergi
Setelah pergi... ingin pulang ke rumah

Waktu tenang... cari keramaian
Waktu ramai... cari ketenangan

Ketika masih bujang mengeluh ingin nikah..
Sudah berkeluarga mengeluh belum punya anak...

Setelah punya anak mengeluh beratnya biaya hidup dan pendidikan...
Dan merasa hidup membujang gak punya beban...

Ternyata SESUATU itu tampak indah karena belum kita miliki.

Kapankah kebahagiaan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki....

Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR...
dengan rahmat yang sudah kita miliki.

Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki...

Bersyukurlah atas keluarga yang masih kita miliki...

Bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki...

Bersyukurlah dan selalu bersyukur didalam segala hal...

Note : diambil dari berbagai sumber

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
REST AREA

Terdorong menceritakan kembali kisah guru mulia. Hari ini ngaji ke guru, tentang konsep "Rest Area" yang beliau ajarkan.

Kadang hidup ini perlu pemberhentian sejenak. Seperti rest area, matikan mobil, istirahat, luruskan punggung, istirahat sejenak, untuk kemudian nge gas kembali dengan kondisi fit.

Dalam hidup ini Allah lebih sayang kepada kita dibanding dengan diri kita sayang kepada diri sendiri. Maka Allah hadirkan rest area dalam hidup, agar kita gak nge gas terus.

Dibuatlah kita bermasalah, dijauhi kawan-kawan, akhirnya didalam kesendirian itulah kita bisa menemukan makna.

Dibuatlah kita terhina, dipermalukan, dibukakan aib-aib, maka lunturlah ego, matilah mesin keangkuhan dalam diri. Akhirnya terpaksa merunduk, terpaksa melantai. Inilah rest area.

Dibuatlah bangkrut, tak punya apa-apa. Dari yang semula katanya ahli dan expert ini itu, mendadak bermasalah, pusing tujuh keliling. Inilah rest area, Allah minta kita matikan mesin logika, mesin fikiran, yang kemarin-kemarin sok pintar.

*

Guru mulia ku ini sekarang dibukakan semua pintu dunia, dunia datang ke tangannya dalam kehinaan. Sebagai santri yang insyaAllah disayang, guru tak segan menunjukkan hadirnya transferan puluhan juta rupiah, bukan sedekah, tapi hadiah, ke rekening pribadi. Gak minta. Dikasih. Ditunjukkan begini agar aku belajar, bahwa rezeki itu bukan hanya yang bisa ditebak saja, banyaknya gak bisa ditebak.

Guru ku kalo akad pemberian sedekah jelas ke rekening yayasan, ini kirimannya ke rekening pribadi. Tapi itulah guru mulia, dibelikanlah aku HP, yang aku pakai ketik tulisan ini, hadiah dari guru mulia. Bahkan sendal yang kupakai, merk buaya, hehehe, dikasih oleh guru mulia.

Yang dikasih-kasih bukan aku aja, semua santri dapat giliran dikasih-kasih.

Guru mulia dikasih mobil, akadnya pribadi, digeser jadi milik masjid. Wajar Allah hadirkan mobil macam-macam ke guru mulia, gak berhenti.

Influencer, selegram, artis, sebutlah... hampir sebagian besar sudah baiat ke guru mulia, baiat jadi santri.

Tapi itu sekarang.. hari ini...

Guru mulia dalam kajiannya menceritakan REST AREA beliau,...

Jual bubur... enam porsi pun tak laku..

Jual kopi... tak juga ramai pengunjung..

Bikin klinik kesehatan... tutup....

Kena marah orang...
Kena maki orang...
Kena tertawakan orang...

Guru mulia lulusan pondok ternama, lulusan S2 luar negeri, ndak kaleng-kaleng,...

Tapi guru mulia milih mikul beras ke pondok-pondok yatim penghafal Al Quran. Guru ku difitnah tukang makan donasi, difitnah eksploitasi anak yatim, di omongkan orang macam-macam. Guru ku jalan terus.

Tapi itulah Rest Area, Allah ingin sang guru belajar memaknai, merapikan lagi batin, membangun pondasi, tanpa rest area yang kuat, sang guru bisa jadi tidak jadi seperti hari ini.

Rest area guruku mengajarkan untuk menghancurkan ego, memfokuskan amal hanya untuk Allah, bukan untuk lujian makhluq. Itu hikmahnya.

Waktu membuktikan, hari ini semua persangkaan patah. Mutiara tetaplah mutiara, walau sempat terbenam dalam lumpur jelaga.

*


Tengah malam aku nulis ini, setelah berkendara ratusan kilometer. Mengapa aku begitu semangat?

Karena aku ingin menyapa mereka yang sedang di Rest Area.

Kredibilitas babak belur...
Nama baik diinjak injak...
Pergaulan di isolasi... dijauhi...
Mau bergerak bermitra... selalu dijelek jelekkan...

Rumah tangga pecah belah...
Finansial kering kerontang...
Roda bisnis mampet...
Saudara dekat malah menyerang...

Kalo sudah kejadian begini... janganlah dilawan.. masuk saja rest area...

Matikan mesin ego, terima semua kesalahan, akui semua kesalahan, merendah, melantai, ridho saja di injak injak.

Matikan mesin logika, udah cukup-cukup melawan hidup ini pakai fikiran sendiri, sudah saatnya kembali ke Allah, menyerahkan kepada Allah, bertanya kepada Allah, gimana keluar dari masalah.

Matikan mesin kerja banting tulang. Cukup-cukuplah, siapa yang ngajarin kerja dari pagi sampai pagi? Kerja sesuai porsinya, selebihnya ke keluarga, tunaikan kebersamaan dengan anak, istri, suami. Tambahin dengan bakti orang tua, temani ngobrol, hadir, memperhatikan.
Masuk rest area. Jangan di gas terus. Ban perlu rehat. Mesin sudah panas. Air radiator sudah mau kering. Maka ambil lah rehat.

InsyaAllah ya... sabar...

Ego diri lagi dihancurkan Allah, agar diri ini sujud dengan benar. Dimana wajah diletak di tanah, rendah, hina, tempat diinjakannya kaki manusia.

Masuklah ke rest area, area keimanan, area penghambaan, area pertolongan, area keajaiban.

source : Ust. Rendy Saputra

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
WANITA CANTIK

Wanita cantik ini kerap dipanggil Ummi Wahida, istri dari Alm yarhamuh al-Habib Saggaf bin Mahdi Bin Syekh bin Abu Bakar bin Salim Parung Bogor, umur beliau Ummi Wahida ini sudah lebih dari 50 tahun. Beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW pada umur 21 tahun, beliau berkata:
"Saya bermimpi bertemu Rasululloh bukan karena ibadah saya yang rajin, bukan karena sholat tahajjud tiap malam, bukan karena sering puasa, dll melainkan karena patuh & taat pada suami saya..."

Waktu itu beliau merasa di Indonesia ini hanya seperti 'Pembantu' ( beliau aslinya dari Singapura), menemani dakwah sang Habib ke daerah sekitar Bogor, dan kalo di rumah hanya mengerjakan pekerjaan rumah saja, ya nyuci baju, masak, nyuci piring, dll..

Suatu hari beliau sempet mengeluh & hendak kabur balik ke Singapore negara beliau berasal, sehabis nyuci beliau masuk kamar dan menyusui anak ke 3 nya, yaitu Habib Muhammad kecil, namun beliau ketiduran, dalam tidurnya beliau bermimpi melihat Rasulullah SAW yang membelah roti maryam & memberikan kepada Umi Wahida yang tertegun tanpa bicara melihat Rasulullah, kemudian Rasulullah memakan roti tersebut setelah selesai makan Rasulullah menaikkan jubahnya mengusapkan tangannya, seketika Umi teringat kepada suaminya yang setiap habis makan beliau juga menyingsingkan jubahnya & melakukan hal yang sama seperti Rasulullah, dimana setiap habib melakukan seperti itu, beliau selalu su'udzhon kepada Habib mengatakan "jorok", lalu Rasulullah pergi. Seketika Umi bangun & Habib masuk kamar menanyakan, "Ada apa...?" Umi menjawab : Saya baru bermimpi bertemu Rasulullah & sang habib pun membenarkan bahwasanya itu memang Rasulullah SAW..

Rahasia kecantikan beliau katanya : Saya itu malah sering ke sawah & jarang ke salon.
Pesan beliau kepada istri-istri jaman sekarang patuhlah kepada suamimu, carilah ridhoNya jangan buat suamimu marah, ijinlah kepada suamimu ketika hendak keluar rumah, berdandanlah untuk suamimu jangan berdandan untuk orang lain, kebanyakan jaman sekarang justru terbalik..

Beliau Ummi Wahida adalah seorang yang berpindah kewarganegaraan dari Singapura yang serba makmur, ke pelosok Parung, Bogor. Demi mengelola Pesantren dan menggratiskan pendidikan serta biaya hidup 15.000 santri, setiap hari beliau mesti berpikir keras untuk menyediakan 7 ton beras serta kebutuhan lainnya.

Cita-citanya mulia, ingin menjadikan "Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School" yang beliau kelola itu sebagai moda pendidikan gratis dan berkualitas. Agar menjadi contoh bagi siapapun termasuk pemerintah kita.

Ini terbukti dengan beragam prestasi Internasional yang berhasil diraih santri-santrinya. Kehebatannya kian nampak manakala ditinggal wafat sang suami, al-Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim 2 tahun silam. Beliau menjadi wanita mandiri yang tak hanya berhasil menghidupi dan mendidik 7 anaknya, namun juga 15 ribu santrinya, hingga kini.

Sangat menginspirasi, semoga kita pun seperti sabda Rasulullah mampu memberi manfaat bagi sebanyak mungkin manusia dengan kondisi dan kemampuan kita masing-masing.

Semoga bermanfa'at.

Source: Guz Zimam Pekalongan...
SubhannAllah...

Allah humma shalli alla sayyidina Muhammad...


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
POTENSI

Setiap anak memiliki kelebihan dalam kemampuannya. Maka fokuslah pada kelebihannya. Jangan pernah merasa gagal dalam mendidik anak hanya karena anak memiliki kelemahan.

Anak yang satu berbeda kemampuannya dengan anak lain. Setiap anak memiliki kapasitas kemampuan berbeda. Ada anak pandai semua bidang non akademik maupun akademik. Ada juga anak yang hanya menguasai salah satu bidang akademik saja.

Dan sebagai orang tua, seharusnya kita bisa menerima dan memahami kelebihan dan kekurangan anak. Tidak memaksakan ataupun menekannya untuk menguasai semua bidang, demi dijadikan alat kebanggaan orang tua.

Justru saat orang tua memaksakan anak untuk terus berhasil di semua bidang, disitulah awal mula letak kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang menilai kesuksesan di semua bidang sebagai syarat dari keberhasilan.

Padahal yang disebut keberhasilan itu jika anak berhasil meraih impiannya (sesuai syariat), sejalan dengan kelebihan yang Allah berikan kepadanya, sehingga ia menjadi pribadi yang bersyukur kepada Rabbnya.

Dari rasa syukur itu ia semakin mencintai Rabbnya, taat kepada Rasulnya, dan taat juga kepada orangtuanya.

Ingatlah selalu bahwa dalam mengasuh dan mendidik anak, ada kesehatan mental anak yang harus selalu diperhatikan!

Source : Fanpage parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
RUMINI ADALAH NAMAMU

Sepenggal Kisah dr Lereng Gunung Semeru

Mungkin kami harus belajar darimu tentang mencintai, terutama ibu. Tak rela kau tinggalkan ibumu saat erupsi Semeru menyerang desamu, Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Sabtu 4 Desember 2021.

Rumini (28) ditemukan meninggal dunia berpelukan dengan sang ibu, Salamah (71) yang sudah renta dan tak sanggup berjalan. Pilihan berat bagi Rumini, antara lari menyelamatkan diri atau meninggalkan sang ibu yang tak sanggup berjalan. Rupanya Rumini memilih untuk mendekap sang ibu berjuang hadapi terjangan erupsi Semeru. Jasad keduanya ditemukan di dapur rumah mereka.

Namamu melangit, malaikat menyambut ruh yang mewangi meski tubuh terbakar material panas, nafas terakhir mu saat memeluk ibumu, InsyaAllah seluruh penduduk langit kini tengah memelukmu.

Kami seluruh relawan di Semeru tak kuasa membendung haru, Rumini telah ajarkan kami tentang kesungguhan mencintai dan berbakti kepada ibu.

Angkat topi sejuta kali untukmu, Rumini.
Tak terasa air mata menetes menulis kisahmu. 😭😭


Source : Fanpage Keindahan Tahajjud


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
SELISIH

"Apakah anak2 selaku akur?"

Iya sekarang. Sebelum baligh mereka tetaplah kanak-kanak yang kadang berselisih. Perang mulut atau lomba menangis. Namun, tak pernah main tangan. Tak ada luka cakaran, pukulan, cubitan. Kecuali dari batita yang tak paham.

Batita melalui masa agresifitas. Memukul, mencakar, menggigit, melempar, tanpa ada maksud buruk. Mereka sedang mengikuti naluri untuk belajar bersosialisasi. Kadang mereka marah dan meluapkan emosi karena belum bisa menjelaskan keinginannya.

Pada masa ini, kadang si kakak jadi korban. Untungnya tak ada yang membalas.

Perselisihan wajar terjadi pada masa tk-sd. Rebutan mainan, makanan, tempat tidur, atau kamar mandi. Sesekali tersebab candaan berlebihan atau persaingan dalam permainan. Kadang karena ada yang mengadu saat berbuat salah, itupun jarang-jarang.

Perselisihan ini bagus untuk belajar manajemen konflik. Mengendalikan emosi, memaafkan dan berjiwa ksatria. Mereka dipersiapkan untuk menghadapi dunia yang tak hanya berisi orang baik dan kedamaian.

Setelah dewasa, bahkan anak-anak saya sudah lupa, kapan terakhir mereka bertengkar. Soal apa dan bagaimana. Yang tersisa adalah kenangan manis dan kelucuan.

Memahami perjalanan tumbuh kembang dan tugas perkembangan pada fasenya, akan membuat orang tua mengerti. Bersabar bahwa semua ada masanya dan itu tidak lama. Kawal agar anak beralih fase dengan tuntas. Tidak meninggalkan hutang yang ditagihkan di fase selanjutnya atau bahkan menetap selamanya.

Misal, agresifitas pada anak 1-3 tahun. Selesai di tahun ke empat dimana anak telah belajar mengenali emosi dan mengendalikan. Anak memiliki ketrampilan bahasa dan sosial yang lebih baik. Gagal di peralihan ini, bisa saja menetap menjadi anak agresif. Bahkan menjadi-jadi sekalipun telah remaja atau dewasa. Bisa mengamuk kapan ia mau.

Jika batita agresif, orang dewasa bisa menangani. Bagaimana jika yang mengamuk remaja atau orang dewasa. Mengerikan ya?

Begitupun tentang perselisihan kanak-kanak. Semestinya selesai saat mereka mengerti syariat. Yakni terminal 10 -14 tahun. Jika menetap hingga tua, masih tak akur dengan saudara kandung, waah. Perlu dibenahi lagi pemahaman agamanya. Jangan lupa, kadang orang tua punya andil kesalahan.

Orang tua memang butuh terus belajar. Sebab anak-anak akan bertumbuh sesuai umur dan zamannya. Tak cukup belajar dari pengalaman sendiri. Kembali pada keteladanan nabi dalam mendidik anak dan memungut hikmah yang tercecer dari pengetahuan kontemporer.

Bersama seluruh ikhtiyar itu, doa-doa adalah kemestian tanpa jeda. Mengiringi setiap pertumbuhan sel dan helaan nafas ananda. Semoga Allah mudahkan, kuatkan, dan karuniakan kesabaran membentangkan jalan surga untuk diri sendiri, pasangan dan anak keturunan.

Source : Ida Nur Laila (Praktisi Parenting)

#trainerpendidikan
#unleadhyourpotential
#hypnosis
#motivasi
JANGAN OVER THINKING

Saat ini, perubahan begitu dahsyat. Konon, kata para ahli penyebabnya ada 4. Pertama, karena adanya disrupsi digital, lalu disrupsi milenial, dan terakhir disrupsi pandemi. Plus pelengkapnya, disrupsi iklim.

Dgn digital – apa lagi skrg ada kecerdasan buatan – jaman sdh banyak berubah. Disrupsi milenial, adalah disrupsi minat, gaya kerja dan mindset yg berbeda dgn generasi sebelumnya. Bahkan generasi Z pun juga berbeda. Perbedaan antar generasi ini menimbulkan “kebingungan & kekacauan” bagaimana merespon, mensikapi & memenuhi kebutuhan dan gaya kepemimpinan mereka karena adanya perbedaan antar generasi yg cukup menyolok.

Belum juga ini diselesaikan, lalu datanglah pandemic. Semua terasa dinolkan dan diakselerasi + dipaksa untuk berubah. Kebijakan pemerintah, bisnis, dunia kerja dan sekolah, kontak sosial bermasyarakat dan bernegara jadi berubah semua. Netizen sekarang bisa “melihat & memaksa” semua untuk jadi lebih baik, bermakna & memberi manfaat bagi sesama. Ini saja kita jadi meraba-raba : sikap spt apa yg paling pas. Lalu bagaimana memerankan diri dalam perubahan, dan prioritas kompetensi seperti apa yang pas sesuai kebutuhan. Dan seterusnya, dan sebagainnya.

Tiga perubahan diatas, lengkap sudah skrg dilengkapi dgn perubahan iklim yg cukup ekstrim. Karena semua perubahan itu, kita sekarang jadi banyak mikir. over thinking, kata para pakar.

Bener-bener perubahan skrg ini hipekompetitif – ekstrim – mendasar – membahayakan – akseleratif – tak terpola – tak terduga.

Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang. Saran saya, tetaplah semakin mendekatkan diri kepada Allah Yg Maha Menggenggam Zaman dan Perubahan. Tambah ilmu, wawasan dan kompetensi.

Banyak belajar dari praktisi sukses, dan yakinlah dibalik kesulitan ada 2 kemudahan. Dan bismillah : action saja. Sempurnakan ikhtiar, biar Allah yang nanti menunjukkan jalan kemudahannya, dan menyempurnakan hasil terbaiknya buat kita.

Jangan over thinking. Karena menurut Aa Gym, kita ini kebanyakan mikir, tapi kurang dzikir.

Source : channel parenting


#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Sebuah "pekerjaan" yang dilakukan oleh ratusan juta orang, dan rela untuk tidak "digaji"...

Apa yang terlintas dalam benak kita jika mendengar kata "Ibu"...
MENDIDIK ANAK BERDASARKAN USIA HARUS BERDALIL

Diantara basis pendidikan Islam yang tidak boleh diabaikan adalah basis usia, sejumlah nash baik dalam Al-Quran maupun Sunnah sudah menjelaskan perkara ini dengan gamblang dan jelas dan ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai dan visi generasi dalam Islam yang melahirkan sosok pribadi Islam yang tangguh, generasi pemimpin dan generasi khairu ummah.

Karena dalam pendidikan Islam harus senantiasa integral antara tujuan-tujuan pendidikan yang dicapai dengan konsep yang dimiliki dan juga metode yang diberlakukan, semua harus berasal dari jenis yang sama yaitu dari Islam. Tidak boleh konsepnya Islam metodenya Barat, apalagi konsepnya Barat metodenya juga Barat kecuali perkara sains dan teknologi dan itupun pada tataran aplikasi tetap saja harus diwaspadai karena bisa jadi mengandung hadharah.

Perkara mendidik berdasarkan usia Allah swt berfirman :

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Annur : 58)

Ayat ini menjelaskan bagaimana aturan interaksi anak usia prabaligh dengan orang tua dalam kehidupan khas, kehidupan rumah yang harus meminta izin terlebih dahulu di waktu-waktu aurat. Orang tua mempunyai kewajiban mendidik anak dalam perkara ini, ayah bunda memberikan pelajaran kepada anak tiga waktu aurat.

Namun ketika anak sudah baligh izin itu tidak hanya tiga waktu aurat tapi semua waktu dan kesempatan anak yang sudah baligh harus dapat izin ayah bundanya terlebih dahulu untuk memasuki kamar atau kehidupan khusus lainnya.
Allah berfirman :

Dan apabila anak-anakmu telah dewasa maka hendaklah mereka meminta izin jua sebagaimana meminta izinnya orang-orang telah terdahulu tadi. Bukankah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya untuk kamu; dan Allah adalah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana." (Annur : 59)

Dalam hadist juga menjelaskan bahwa perkara pendidikan itu harus berbasis usia prabaligh dan anak yang sudah baligh. Rasulullah saw. Bersabda :

رفع القلم ، عن ثلاثة ، النائم حتى يستيقظ ، والصبي حتى يبلغ ، والمجنون حتى يفيق
“Pena diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga baligh dan orang gila hingga sadar” (al-Bayhaqi dalam Ma’rifatus Sunan)

Dapat dipahami bahwa anak usia prabaligh tidak dimintai pertanggungjawaban terhadap perbuatannya hingga dia baligh. Dari sini penting memahami usia anak dalam penerapan hukum-hukum Allah agar tidak salah dalam mendidik.

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw juga mengajarkan parenting berbasis usia kepada kita dalam perkara shalat dan pemisahan tempat tidur langsung menyebutkan usia anak , beliau bersabda :

"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)

Demikianlah Allah dan Rasulnya mengarahkan kita dalam mendidik, harus memperhatikan usia saat prabaligh dan saat baligh. Memperhatikan usia anak dalam mendidik dengan berdasarkan dalil-dalil syara’ agar orang tua memahami hukum-hukum apa saja yang terkait dengan usia tersebut yang harus dilakukan oleh orang tua. Kemudian bagaimana perlakuan mendidik orang tua terhadap anak saat usia pra baligh dan saat usia baligh.

Jika kita memahami tentang pendidikan berbasis usia ini kaitannya dengan parenting adalah sebagai berikut :
1. Memahami tumbuh kembang anak setiap jenjang usia
2. Menentukan tahapan-tahapan pendidikan
3. Menentukan jenjang sekolah
4. Hukum-hukum syara’ yang terkait dengan anak sesuai jenjang usia
5. Penentuan kurikulum dan bahan ajar sesuai usia serta metode pembelajaran
6. Penentuan ta’dib bagi kesalahan anak
7. Meraih tujuan pendidikan (Takwinusysyakhshiyyah ) di setiap jenjang usia
8. Mengantarkan anak prabaligh menuju mukallaf (dewasa)

Source : channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
STRATEGI MENGUATKAN PENGARUH IBU TERHADAP ANAK

“ Tidaklah anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fithroh, maka orang tuanyalah yang meyahudikannya, menashranikannya dan memajusikannya”

Demikian Rasulullah membuat stetmen bahwa fithroh anak sejak lahir adalah Islam yang lurus, maka orang tualah yang menyimpangkan fithroh anak tersebut dari Islam. Ini artinya kewajiban orang tua adalah menjaga fithroh anak tetap dalam keislamannya.

Islam terdiri dari aqidah dan syariah, maka ayah bunda senantiasa memurnikan aqidah anak dan menjaga ketaatan anak terhadap Khaliknya. Tentunya ini membutuhkan pola pengasuhan dan pola pendidikan yang terencana, terukur, terealisasikan dan tercapai target membentuk kepribadian Islam anak.

Pada saat anak-anak hadir di dunia ini, maka lingkungan yang dia dapatkan tentulah bukan hanya rumah, juga lingkungan tetangga dan sekolah. Tentunya lingkungan itu dapat berpengaruh positif dan dapat pula berpengaruh negatif. Bahkan di rumah sendiripun anak bisa dipengaruhi oleh Televisi, internet dan keluarga lain yang tinggal serumah. Juga tetangga yang tentunya beragam suasana yang bisa saja anak bergaul dengan anak-anak mereka.

Sekolah juga demikian, apa lagi sekolah sekuler dimana arahan pendidikan bukan untuk mewujudkan generasi sholeh sholehan pastinya anak dihadapkan berbagai pengaruh buruk yang siap menyimpangkan fthrohnya. Di sekolah yang berasis Islampun jangan dikira tidak ada pengaruh negatif meski tidak sekomplek sekolah sekuler, namun tetap saja harus dicermati.

Lantas bagaimana strategi ibu menghadapi tantangan seperti ini? Dikhususkan ibu karena ibulah yang tahu persis pertumbuhan dan perkembangan anak dan yang paling peka terhadap ancaman. Mengingat Ayah seringkali keluar rumah apakah untuk menjalankan kewajiban nafkah ataukah kewajiban dakwah, walau Ayah memiliki tanggung jawab yang sama.

Pertama Ibu harus memiliki jurus bahwa ibu tidak boleh kalah pengaruhnya oleh siapapun, tidak boleh kalah pengaruh dengan TV, kalah pengaruh dengan keluarga besar, kalah pengaruh dengan anak tetangga, kalah pengaruh dengan teman sekolah anak, kalah pengaruh dengan game, kalah pengaruh dengan internet dsb.

Berikutnya, ibu harus membuat Kegiatan Harian bersama anak sehingga porsi kegiatan anak ada bersama ibu, jika ibu mempunyai kepentingan lain semisal mencuci, memasak dsb anak bisa dilibatkan atau anak dibuatkan agenda kegiatan tersendiri yang bisa dia lakukan sendiri yang bisa menstimulus kecerdasannya.

Siapkan anak ketika berhadapan dengan teman yang membawa pengaruh jelek dengan membekali anak kebiasaan baik di rumah, perkataan yang ahsan, suka beribadah, dan gemar melakukan kebaikan.

Libatkan anak dalam aktifitas dakwah ibu sehingga anak mentauladani ibunya menjadi dai cilik yang selalu mengkritisi dan menasehati orang lain bila keluar dari koridor kebiasaannya. Misal, temannya berkata jorok, anak bisa nasehati temannya kalau kata-kata itu tidak disukai Allah dan kita akan dijauhi teman bila berkata kasar. Jadi anak bukan menirunya tapi mempengaruhi teman.

Curahkan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ibu punya untuk anak, apakah saat dia menjalankan ketaatan dengan baik ataukah dalam kesusahan mengajak anak untuk menjalankan pembelajaran.

Bangun komunikasi yang intens, penuh kebahagiaan, kesenangan dan ketentraman batin anak, apakah saat dia meraih prestasi atauhkah saat menghadapi masalah dengan teman misalnya.

Dan yang tidak boleh dilupakan adalah berdoa untuk kemudahan mendidik anak-anak, ketajaman lisan bunda dalam memberikan pelajaran dan menasehati anak, juga berdoa untuk segala pengaruh buruk yang menimpa anak-anak kita.


Source : Ustadzah Yanti Tanjung

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
📌BUKAN SEKEDAR BERMAIN📌

Ayah Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran sang Bunda sering dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.

Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannyapun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola prilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.

Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.

Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negati tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.

Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”

Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).

Jika pendampingan orang tua membersaamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.

Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan berma

innya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.

Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak teman-temannya shalat
di mesjid dan sebelum bermain setor muraja'ah dulu minimal 1/2 juz. Bahkan ada salah satu temannya pindah sekolah ke sekolahnya karena tertarik dengan sekolah tahfidznya.

Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memtakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingaan di luar :

1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan daberdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.

2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.

3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.

4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain, misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.

Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.

Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.

Wallau a’lam bishshawab

Source : Channel parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
Bismillah, mari sama² berdo'a agar hari ini kita diberikan Rizky yg halal dan barokah

Aammiiinn