Gen-ACI Parenting Center
627 subscribers
3 photos
2 links
Channel inspirasi & Ilmu Parenting
Download Telegram
KETELADANAN AYAH DAN BUNDA

=====================

Ayah bunda adalah pembentuk langsung kesalehan anak dan yang mendesign strategi terbentuknya kepribadian Islam anak. Maka ada satu uslub yang paling jitu untuk dilakukan dalam pendidikan anak yaitu keteladanan ayah bunda. Keteladanan ini paling penting, bernas, agung dan istimewa sebab ayah bunda sudah mempraktekkan apa yang diajarkan terlebih dahulu suatu perkara sebelum memerintah kepada anak. Kemudian anak-anak akan mempraktekkannya sebagaimana yang mereka indra dan saksikan dari orang tuanya.

Orang tua yang tidak mengamalkan apa yang dia katakan akan mendapatkan kemurkaan yang besar dari Allah swt, itu artinya gagal total.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(Ash-Shaf : 2-3)

Seorang yang memerintahkan anaknya agar rajin tilawah Alquran sementara dirinya minim tilawah tentu tidak akan berpengaruh pada motivasi anak untuk mengamalkan, karena melihat ayahnya hanya pintar ngomong tapi tidak pintar amal.

Jika ayah bunda memerintah walau lisannya seindah pujangga, kata-katanya berapi-api memotivasi dan ungkapan-ungkapannya dalam dan menyentuh, jika beda yang apa yang ada di lisan dengan apa yang ada di perbuatan tidak diiringi dengan teladan yang nyata, besar kemungkinan ananda tidak akan mudah menuruti perintah dan meninggalkan larangan jika tidak bisa disebut gagal.

Maka tidak bisa kita pungkiri bahwa uslub memberikan teladan dalam pendidikan jauh lebih berpengaruh, meninggalkan atsar (bekas) dalam qalbu, lebih cepat untuk diingat dan dipahami dan lebih menarik untuk ditiru dan diikuti dibandingkan kita menempuh uslub ceramah dan hanya mengungkapkan kata-kata. Lagi pula uslub memberikan teladan itu suatu yang alami, tidak dibuat-buat, natural. Rasulullah melakukan uslub ini sebagai uslub yang paling agung dan paling unggul.

Dari Ibnu Ishaq bahwasanya nabi saw mengutus Amru bin Al-Ash kepada Al Julanda untuk mengajaknya kepada Islam, maka dia menjawab :

“Orang ini telah menunjukkan kepadaku seorang Nabi yang ummi. Bahwa beliau tidak memerintahkan kepada suatu kebaikan pun melainkan dialah orang yang pertama memerintahkan kepada suatu kebaikan pun melainkan dialah orang yang pertama kali mengerjakannya. Tidaklah ia melarang dari suatu keburukan melainkan dialah orang yang pertama kali meninggalkannya. Ketika sedang berkuasa dia tidak sombong, ketika dikalahkan dia tidak berkata kejelekan. Dia selalu menepati perjanjian dan memenuhi janji. Maka dari situ saya bersaksi bahwa dia benar-benar seorang Nabi.”

Imam As-Syathibi Rahimahullahi Ta’ala berkata dalam kitabnya Al-I’sham :

“Akhlak beliau hanyalah Al-Quran, karena beliau menjadikan wahyu sebagai penguasa atas dirinya. Sehingga ilmu dan amal beliau sesuai dengan wahyu. Beliau senantiasa cocok, menyuarakan, tunduk dan mendukung keputusan wahyu.”

Keteladanan itulah kunci kesuksesan Rasulullah saw dalam mendidik umat, mendidik para sahabatnya yang mulia, ketepatan lisan dan amal sungguh sangat berpengaruh besar bagi siapapun yang mendengar perintah dan larangannya. Bagaimana tidak sukses ? Ketika Alquran memerintahkan shalat maka beliaulah yang terlebih dulu shalat, ketika Allah melarang minuman khamar dan riba maka beliaulah yang terlebih dahulu meninggalkannya.

Jika turun wahyu untuk memerintahkan dakwah maka beliau pasti berada di garda terdepan, jika Allah menurunkan wahyu tentang neraka dan seluruh kedahsyatannya di hari itu maka beliaulah yang paling dulu merasakan ngerinya dan takutnya azab neraka.

Karenanya kesesuain perkataan dan amal Rasululullah saw menjadi bukti bagi siapapun yang melihatnya bahwa lisannya benar tidak terbantahkan dan tidak akan ada celah bagi siapapun untuk membantahnya dan menafikannya, akan memaksa siapapun untuk mengikuti beliau, kalam dan perbuatan beliau saw.
BERPIKIR USLUB

======================

Berkesan apa yang dikatakan oleh Syeikh Taqiyyuddin An-Nabhani dalam kitab At-Tafkir bahwa berpikir uslub itu adalah berpikir tentang cara yang tidak permanen untuk melakukan suatu perbuatan. Untuk menghasilkannya membutuhkan akal kreatif meskipun dalam penggunaannya dilahirkan oleh akal yang biasa-biasa saja.

Akal kreatif bisa membuat yang sulit memahami menjadi mudah, membuat yang bertele-tele menjadi efektif dan membuat yang berlama-lama menjadi efektif. Akal kreatif juga bisa menentukan jenis kegiatan apa yang harus dilakukan hingga bisa mencapai target, mendapatkan hasil, bahkan tidak hanya satu target, satu hasil tapi bisa juga dalam satu jenis kegiatan beberapa target dan beberapa hasil bisa dicapai.

Berpikir kreatif tentu tidak berdiri sendiri namun harus disertai berpikir tentang jenis perbuatan apa yang harus dilakukan sehingga setiap jenis perbuatan akan berbeda caranya, jika disamakan memungkinkan cara itu menurunkan target  jika tidak bisa dikatakan gagal. Untuk satu jenis kegiatan bisa dilakukan beberapa uslub dan cendrung berubah-rubah karenanya membutuhkan akal kreatif. Dari sinilah berpikir uslub itu lebih tinggi karena menuntut keseriusan untuk direalisasikan dan hasilnya bisa dirasakan.

Banyak orang yang mencampuradukkan antara metode dan uslub bahkan juga terjadi yang seharusnya metode diposisikan uslub dan yang seharusnya uslub diposisikan metode. Dalam dunia pendidikan seringkali terjadi seperti ini. Misalkan mendidik dengan memberikan contoh secara praktis ketika mengajarkan tata cara berwudhu disebut metode belajar padahal itu hanya uslub, teknik atau cara. Seorang guru bisa juga menggunakan cara tayangan video tata cara berwudhu atau ilustrasi gambar atau sekedar ceramah di majelis.

Jika uslub cendrung berubah-ubah dan tidak permanen maka metode belajar tetap dan baku tidak berubah-ubah. Sebuah metode belajar sering dilakukan oleh Rasulullah saw dan berulang-ulang tidak keluar dari amal aktifitas tersebut dan hukumnya wajib.

Maka uslub tidak terus menerus dilakukan Rasulullah saw dan ada alternatif-alternatif jenis kegiatan yang lain untuk mencapai target yang sama. Cendrung situasional dan sangat personal, uslub untuk orang tertentu bisa berbeda untuk orang yang lain tergantung level akalnya. Murid yang mudah menangkap informasi tentu tidak sama uslubnya dengan murid yang lemah dalam menangkap informasi.

Dalam kitab Ar Rasul al-Mu’allim mengungkapkan dalam pengajarannya, Rasulullah saw memilih uslub yang paling baik dan istimewa, paling berpengaruh terhadap jiwa lawan bicaranya, paling dekat kepada pemahaman dan pikiran, paling menguatkan ilmu di dalam ingatannya dan paling banyak membantu menjelaskan pendengarannya.

Rasulullah saw dalam mengajar penuh variasi warna dan beragam gaya, terkadang beliau menggunakan ilustrasi gambar, membuat garis di tanah, terkadang mengajukan pertanyaan, terkadang beliau menggunakan tasybih (persamaan), penjelasan langsung. Terkadang dengan menyamarkan atau isyarat.

Dalam dunia pendidikan ketika ayah bunda dan para guru kurang memiliki kekayaan uslub mengajar dan mendidik, akan  mentok berhadapan dengan anak didik dan mati gaya. Semua itu berawal dari tidak mengerahkan pemikiran atau tidak beruaha untuk memikirkan beragam uslub, jadinya kurang literasi tentang uslub.

Memang benar bisa jadi uslub orang tua yang satu belum tentu bisa dipakai oleh orang tua yang lain karena berbeda kondisi dan berbeda persoalan, maka disinilah butuh senantiasa berpikir tentang cara ketika kita hendak merealisasikan konsep kita dalam mendidik, tujuan dan target-target kita untuk ananda dan menguatkan metode belajar talaqqiyan fikriyyan.

In sya Allah selama Ramadhan ini kami mencoba mempersembahkan uslub-uslub mengajar dalam mendidik untuk ayah dan bunda dan untuk para guru peradaban, yang akan kami sarikan dari kitab Ar Rasul Al-Mu'allim karya Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Semoga kami dimampukan, disehatkan dan ditangguhkan


Source : Channel telegram parenting

#unleashyourpotential
#trainerpendidikan
#hypnosis
#motivasi
BERHIAS KEJUJURAN DALAM MENDIDIK

===========================

Orang yang paling dipercaya oleh anak adalah ayah bundanya, apapun yang dikatakan oleh ayahnya ataupun ibunya lebih dia percaya dibandingkan siapapun, anak sangat bergantung pada lisan ayah bundanya. Apalah jadinya jika anak hadir di tengah orang tua yang suka berdusta, berkata tidak jujur, bisa dibayangkan ananda akan bertumbuh dan berkembang sejalan dengan lontaran-lontaran kata-kata yang  jauh dari kejujuran.

Padahal disisi lain orang tua itu tidak mau dan tidak suka jika ananda berbohong dan menyembunyikan sesuatu dari dirinya lain di kata lain di kenyataan. Orang tua akan memuncak emosinya ketika mereka mengetahui bahwa ananda telah berdusta dan sakit hatinya tak terperi karena anak yang diharapkan baik-baik saja ternyata pribadinya tidak terpuji.

Namun ada juga orang tua yang merasa aman-aman saja dengan kebohongan yang mereka lakukan dengan berbagai alasan, bahkan asal ananda bisa diam dan mau menuruti apa kata-kata ayah bundanya meski itu adalah kebohongan. Dan juga ada orang tua menanggapi datar kebohongan yang dilakukan oleh ananda tanpa menegurnya dan meluruskannya karena dianggap biasa masih anak-anak.

Fenomena ketidakjujuran itu bisa kita saksikan saat memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ananda, misal kenapa tidak boleh hujan-hujanan, jawabannya nanti sakit, kenapa tidak boleh bermain HP, dijawab nanti matanya buta. Kalau sudah tahfidz nanti dikasih hadiah, hadiapun tak kunjung datang, pulang dari kantor nantia ayah belikan es krim, ditunggu sampai sore ayah pulang tapi tidak bawa es krim dan santai saja ketika menghadapi ananda protes dan cemberut.

Tahukah kita bahwa dari sinilah ananda belajar tidak jujur. Sadarkah kita bahwa Pendidikan yang dijalani dengan ketidakjujuran besar dampaknya kepada kepribadian ananda, berdampak langsung kepada pola berpikir dan pola sikap anak-anak kita kelak ketika dia dewasa karena ananda mengambil pola kebohongan itu dari ayah bunda.

Dampak yang tidak kalah seriusnya adalah perasaan ananda terluka, bisa jadi sembuhnya teramat lama dan membutuhkan energi yang lebih besar untuk memulihkannya dan beragam cara untuk mengembalikan perasaannya seperti sediakala, “Kenapa ayahku tidak jujur, kenapa ibuku harus berbohong?” Batinnya.

Ketidakjujuran ayah bunda juga bisa mengikis kepercayaan ananda terhadap perkataan ataupun perbuatan yang ayah bunda lakukan. Karena realitas kebohongan itu sangat melekat dalam kehidupan ananda maka apapun yang dikatakan oleh ayah bunda dianggap angin lalu, bukan sesuatu yang penting dan berharga untuk dia pahami dan turuti, toh itu kebohongan.

Ketidakjujuran ayah bunda berdampak juga kepada sikap tidak terbuka ananda dalam mengkritisi sesuatu yang salah disebabkan sudah tertanam mindset apapun masalah yang harus dibereskan yang dibukakan kepada ayah bunda  seringkali tidak jujur pada apa yang terjadi, percuma jika dibahas juga.

Ketidakjujuran ayah bunda bagaikan ruang kelas yang langsung dipelajari dan diamalkan oleh ananda. Dari pembelajaran di kelas itulah ananda mendapatkan pelajaran kebohongan. Dari situ juga Ananda dapat belajar menghindari masalah dan menghindari resiko tanggung jawab.

Rasulullah saw. Bersabda :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka.
BUKAN LAGI ANAK MANJA

========================

Begitu masuk usia sebelas tahun Gadis “kedatangan bulan”, perasaannya diselimuti kegelisahan,pikirannya kacau, bingung harus bagaimana ketika melihat ada darah yang keluar dari farjinya. Apa yang harus dilakukan, kenapa bisa terjadi seperti ini, umur saya masih sangat muda baru kelas 5 SD dan orang pertama yang mengalami haidh. Dan yang paling suprise disertai menegangkan saat haidh datang tanpa persiapan apa-apa, khususnya bagaimana mensucikan pakaian dalam yang kena darah, jijik rasanya.

Beda dengan anak di atas, yang ini begitu melihat darah yang keluar langsung peluk bundanya sambil menangis tersedu-sedu dan lama baru reda, galau rasanya menghadapi sisi kejiwaan seperti ini, khawatir tidak bisa menjadi hamba yang baik,karena seluruh amal harus dipertanggungjawabkan,lemes ini sekujur tubuh hilang gairah berhar-hari memikirkan pahala dan dosa.

Apalagi bunda membisikkan, “Mulai hari ini dirimu menanggung pahala dan dosa sendiri.” Duh, semakin resah jiwa. Bagaimana dengan shalatku yang masih asal, bagaimana dengan jilbabku, pergaulan, ibadah lainnya yang masih sedikit?
Juga ada anak yang pertama kali mengalami haidh setiap kali ganti pembalut, selalu minta dicucikan pembantu karena tidak mau mengurusi bekas darah,jika pembantu tidak ada itu pakaian dalam bisa berhari-hari di kamar mandi.

Karena bundanya tak cukup  waktu karena kesibukan untuk mendampingi ananda selama proses haidh berlangsung.

Lain anak perempuan lain pula dengan anak laki-laki ketika mengalami ihtilam meski sudah mendapatkan gambaran ciri-cirinya juga masih ragu apakah ini yang dinamakan mimpi, apakah ini yang disebut air mani, atau ini hanya cairan biasa, duh apakah aku sudah dewasa ataukah masih disebut anak-anak ?

Yang di atas itu potret kegelisahan anak yang baru dewasa ketika mengalami menstruasi atau mimpi pertama kali,namun sang ibu jauuuh lebih gelisah jika mengalami anak perempuannya haidh tanpa terduga dan tidak sesuai perkiraan umur yang dibayangkan sementara orang tua tak cukup memberikan persiapan, baik itu perkara keimanan, pemahaman tsaqafah islam dan wawasan seputar haidh. Semakin terasa besarnya kesalahan saat di usia yang sudah dewasa itu berpikir dan berprilaku ananda masih kanak-kanak.

Apalagi menghadapi anak laki-laki tentu ibu seringkali sulit mendeteksi dan intervensi. Saat ihtilam jika anak tidak tebruka mungkin luput dari perhatian ? Shalat subuh saja masih dibangunkan, ke mesjid sekali-kali, belum bisa cuci baju sendiri, pulang sekolah sepatu masih dimana, tas dimana, seragampun masih dirapihkan mama.

Ihtilam bagi anak laki-laki disertai tumbuhnya rambut di seputar kemaluan dan haidh bagi anak perempuan atau ada tanda kehamilan adalah ciri anak sudah dewasa dan mukallaf menanggung beban hukum-hukum syara’. Dalam konsep pendidikan sekuler tidak mengenal standar dewasa seperti ini, maka tidak pernah menyiapkan kurikulum konsekuensi pertanggungjawaban terhadap Allah swt.

Karenanya tidak heran jika di Sekolah Dasar di Indonesia anak-anak yang mengalami menstruasi masih disebut anak-anak hingga mereka usia 18 tahun mengikuti konsep anak di dunia. Ini menyesatkan dunia pendidikan dalam Islam. Tidaklah salah jika kita mengatakan anak-anak kita masih berprilaku manja dalam kesehariannya, masih merepotkan keluarga dan banyak orang, tidak mandiri dan cendrung tidak bisa mengurusi diri sendiri,padahal semua itu tidak perlu terjadi.

Seharusnya jika proses pendidikan Islam sesuai target, maka usia 10 tahun anak sudah memiliki kepribadian Islam, memiliki kecerdasan berpikir islami dan kesalehan jiwa dan sejumlah keterampilan hidup untuk memimpin dan kemandirian.

Sehingga saat anak mengalami baligh pertama tidak perlu ada episode kegalauan tapi yang ada adalah kepercayaan diri sebagai manusia dewasa yang sudah memahami segala konsekuensi dari keimanan. Kalau tohpun ada kegalauan itu bisa segera dikendalikan sebab sudah cukup tsqafah Islam dalam benak dan memiliki habit yang baik dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah swt sejak rentang usia 7-10 tahun.
Jadi kesiapan anak pasca baligh sangat ditentukan pendidikan anak di usia prabaligh, saat usia dini maupun usia mumayyiz. Kesuksesan pedidikan di usia prabalgh sangat menentukan kesiapan anak saat dia di usia baligh. Maka orang tua harus mengoptimalkan diri mendidik anak-anak prabaligh dan harus tuntas di setiap target yang diinginkan syariah Islam terhadap anak baik pola berpikir Islami maupun pola sikap islami.

Jika udah ditentukan maka anak yang tadinya manja, pas fase baligh tidak lagi, justru tidak hanya pandai mengurusi urusan dirinya tapi juga kreatif mengurusi urusan orang lain dengan Islam.

Adapun yang harus dimiliki anak pas baligh adalah :

1. Memiliki kepribadian Islan

2. Memiliki hafalan Alquran yang banyak sebagai ma’lumah sabiqah yang dipakai untuk menilai benda, perbuatan dan pemikiran.

3. Memiliki tsaqafah dasar berupa aqidah Islam, Fiqh, Tafsir, Ilmu Alquran,Ilmu Hadist, Siroh Rasulullah saw, Bahasa Arab, tarikh muslim, Ushul Fiqh

4. Memilik lifeskil yang  didapatkan dari ilmu math, Sains dan Geografi, Komputer,berenang, berkuda, memanah, dasar-dasar baris berbaris dll.

5. Memiliki jiwa kepemimpinan.

Semua dituangkan dalam kurikulum dan kurikulum tersebut harus dikuasai oleh orang tua dan guru agar anak mendapatkan haknya untuk menjadi sosok pribadi islam yang tangguh, sosok imam dalam ketakwaan dan sosok umat terbaik di usianya.

Wallaahu a’lam bishshowab


Source : Channel Telegram Parenting


#unleashyourpotential
#trainerpendidikan
#hypnosis
#motivasi
BEKAL MENDIDIK ANAK


=======================


Langkah awal bekal ayah bunda dalam pengasuhan dan pendidikan anak setidaknya seperti ini :

1⃣ Paham tentang hakekat berpikir, disini membahas definisi berpikir berikut komponennya dan bagaimana mengaktifkan seluruh komponen hingga didapatkan kecerdasan berpikir anak.  Dari sini pula ibu akan dapat memahami hakekat berpikir anak, pembagian berpikir, level berpikir anak sesuai usia, membangkitkan anak melalui pemikiran mustanir dll. Saat terjadinya proses berpikir ini ayah bunda berupaya membangun pondasi aqidah Islam dan menjadikannya sebagai kaidah (landasan) berpikir anak lalu  meletakkan ideologi Islam sebagai qiyadah (kepemimpinan) berpikir anak. Sehingga anak hanya menggunakan sudut pandang saja dalam menyelesaikan persoalan kehidupan yaitu Islam. Islam inipun menjadi way of life (ideologi) dan memimpin seluruh pemikiran.

2⃣ Paham Tentang hakekat potensi hidup anak terkait dengan kebutuhan fisik (hajatul udhowiyyah) dan naluri-naluri (gharaiz). Dari sini ibu akan paham dari mana munculnya masalah anak dan dari mana munculnya perilaku anak berikut paham bagaimana memberikan solusi yang tepat bagi setiap persoalan anak dan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak dengan benar. Juga akan paham kearah mana dominasi kecendrungan anak sehingga potensi mana yang hendak dilejitkan.

3⃣ Memahami metode pembelajaran dalam islam yaitu talaqqiyan fikriyyan, ilmu untuk diamalkan, mengikatkan pemahaman dengan amal, melahirkan anak pemikir bukan anak penghafal.

4⃣ Memiliki kekayaan strategi dalam mendidik, tidak pernah kering idenya dan jika gagal tak pernah putus asa, karena ayah bunda memiliki seribu cara untuk meraih cita-cita tentang anak.

Berpikir cara dan sarana pun bisa sederhana dan murah untuk merealisasikan konsep dan menguatkan metode pembelajaran.

Insya Allah ayah bunda akan lebih kreatif dan bisa pasang badan bahwa uslub ayah bunda bisa lebih bernas dibandingkan pakar parenting manapun. Silahkan dicoba !!!!


Source : Channel Telegram Parenting


#unleashyourpotential
#trainerpendidikan
#hypnosis
#motivasi
MEMBANGUN PONDASI AQIDAH ISLAM SEJAK DINI

==========================

Mendidik anak agar mendapatkan ketangguhannya perlu dibangunkan pondasi yang kokoh dan lurus karena pondasi menentukan bangunan yang dibangun di atasnya. Seperti halnya ketika kita hendak membangun pondasi rumah, bangunan diatasnya tergantung pondasi tersebut. Bila pondasinya datar maka bangunan di atasnya akan datar, bila pondasinya miring maka bangunannya juga miring. Bila pondasinya kokoh bangunannyapun akan kokoh, jika pondasi rapuh bangunnya akan cepat ambruk. disinilah pondasi itu sangat penting untuk diperhatikan dengan serius.

Begitupun jika orang tua hendak meletakkan pondasi dalam mendidik anak-anaknya, lemah atau kuat, kokoh atau rapuh, tangguh atau loyo bangunan kepribadian Islam ananda dipertaruhkan pada pondasi tersebut. Dalam pendidikan Islam pondasi itu adalah aqidah Islam.

Aqidah Islam harus dipastikan benar, lurus, murni, bening, kokoh, membangkitkan agar bangunannya akan berdiri sesuai pondasinya. Pastikan pemikiran-pemikiran yang membangun aqidah anak adalah pemikiran yang benar tidak ada campuran pemikiran-pemikiran asing di luar aqidah Islam, kalau tidak demikian aqidahnya akan rapuh.

Aqidah Islam ditanamkan pada anak melalui proses berpikir rasional tentang kebenaran, kebenaran itu harus mutlak, dan juga melalui sentuhan naluri tadayyun (beragama) secara bersamaan. Anak merasakan dirinya lemah, kurang dan mengagungkan keberadaan Allah dalam jiwanya.

Maka urgen mendidik anak dengan jalan proses berpikir terlebih dahulu. Untuk mendapatkan sebuah kebenaran maka orang tua wajib memahami dengan baik apa itu berpikir. Syarat berpikir itu ada empat, yaitu fakta, indera, otak dan ma’lumah sabiqoh (informasi sebelumnya). Jika anak mampu mengikat informasi yang diberikan dengan fakta maka saat itulah terjadi aktifitas berpikir, saat itulah anak paham dan saat itu pula anak berpikir tentang kebenaran, dimana kebenaran itu adalah sesuai kenyataan, informasi yang diberikan sesuai kenyataan.

Tentu ini adalah proses berpikir yang terjadi pada fakta yang dapat diindera langsung oleh anak, syarat dua indera saja yaitu mata dan pendengaran anak sudah bisa melakukan proses berpikir. Tataran ini level berpikir anak baru level berpikir paling bawah. Orang tua tidak cukup mengantarkan anak berpikir pada sesuatu yang dapat diindera langsung saja, namun lebih dari itu adalah berpikir mendalam pada perkara-perkara yang tidak tampak atau perkara yang ghaib.

Misalkan anak kita hadirkan fakta tentang ikan, maka ketika nak mampu menyebutkan setiap ada fakta ikan itu adalah ikan maka anak sudah dapat mengikat fakta dan informasi. Ketika kita sudah memberikan informasi ini ikan sungai, ini ikan laut, ini ikan mas, ini ikan nila,ini ikan gurame dan ini lele dan anak bisa menyebutkannya ketika inderanya bekerja melihat ikan-ikan tersebut dan mampu menyebutkan seluruh nama-nama ikan tesebut, maka anak sudah berpikir, suddah paham dan semua itu adalah kebenaran.

Namun tidak cukup sampai disitu anak harus digiring berpikir tentang apa yang tidak tampak, apa yang ada dibalik ikan. Misal tentang khashiyah ikan, gizi yang terkandung dalam ikan, protein yang terkandung dalam ikan. Tataran ini riset itu berjalan dan anak butuh dalil.

Bahkan sampai pada satu pemikiran siapa pencipta protein yang ada dalam ikan, siapa yang mengatur protein itu bisa bekerja untuk membangun sel-sel dalam tubuh manusia. Jika sudah sampai jawabannya adalah Allah maka level inilah aqidah Islam itu bisa ditanamkan dan sentuhan bahwa manusia lemah dari penciptaan dan pengaturan itu semua.

Tidak sampai hanya di level itu, tapi juga naik ke level kemustaniran (kecemerlangan) berpikir anak ketika informasi yang diberikan dapat digunakan oleh anak untuk menilai benda, menilai perbuatan dan menilai pemikiran atau ide. Ketika anak mampu menjawab dan bersikap bahwa ikan yang dihadapannya itu bisa dimakan jika jelas halal dan haramnya berdasarkan ketetapan dari Allah sang Khaliq dan Mudabbir.

Perlu mengantarkannya ke tingkat berpikir ini, level berpikir yang dapat memecahkan uqdat
Ul Qubra (simpul besar ) dimana kemustanirannyadapat menjawab dari mana manusia , alam dan kehidupan ini ada termasuk dari mana asal ikan, untuk apa manusia diciptakan dan hendak kemana manusia setelah mati. Jawaban-jawaban mendalam ini akan dijadikan sebagai landasan berpikir.

Jika aqidah yang kokoh ini sudah dibangun maka anak akan membangun semua pemikirannya dan aturan hidupnya di atas landasan bangunan aqidah tersebut, halal haram berasal dari Allah swt.

Proses membangun pondasi aqidah seperti di atas fasenya adalah fase usia dini. Maka di usia dini pondasi itu ibaratkan baru menyusun bata-bata agar semua komponen berpikirnya aktif dan terstimulasi dengan baik dan semua naluri anak terstimulasi juga dengan baik. Apa bata penyusunnya ? yaitu tsaqafah Islam, bahan pendukungnya adalah ilmu pengetahuan alam dan life skill. Maka buatlah semua bahan penyusun bata itu kuat dan kokoh dan buat pula strategi belajarnya yang dapat mengokohkan susunan bata-bata tersebut.

Pastikan pondasi yang dibangun adalah pondasi aqidah yang kokoh, lurus, bersih, tidak kotor dan tidak miring ,agar bangunan kepribadian islam anak mengikuti pondasi yang ada.

Untuk mengetahui kokoh atau tidaknya pondasi tentu harus teruji dulu, biasanya kita diuji dengan permasalahn-permasalahan anak. Misal anak masih sulit bangun subuh, anak masih suka bentak-bentak, masih suka memaksa jika punya keinginan, anak tidak mandiri, anak tidak semangat belajar dll. Jika kita ingin melihat rapuh atau tidaknya pondasi maka lihatlah dalam persoalan-persoalan yang mengguncang kepribadian Islam anak apakah anak mudah diarahkan dalam menyelesaikan masalah ataukah tidak apakah solusi yang diambil dari Islam atau tidak.

Kita akan bisa mengevaluasi bata yang mana yang harus direkatkan lagi dengan kuat, bata yang mana yang masih miring, maka segera dibenahi.

Peletakan pondasi awal di usia dini membutuhkan energi, semangat, kinerja yang tinggi, pengorbanan dalam menanamkan pondasi, kesabaran, ilmu, wawasan, strategi dll, jika di usia ini berhasil, target usia 6 tahun itu anak sudah memiliki pondasi aqidah Islam, maka di usia mumayyiz 7 tahun saat anak sudah aqil (berakal) dan mumayyiz, insya Allah menshalehkan anak merupakan perkara yang mudah. Jika usia dini kita sedang menyusun bata-batanya maka di usia mumayyiz kita mengokohkannya.

Bagaimana ini bisa ditempuh oleh setiap orang tua? Maka orang tua perlu memiliki pondasi yang kokoh dan lurus pula terlebih dahulu dalam mendidik anak. Jika bangunan aqidah orang tuanya miring maka bangunan kepribadian Islam anaknya pun besar kemungknanya akan miring.

Wallaahu a'lam


Source : Channel Telegram Parenting

#trainerpendidikan
#unleashyourpotential
#hypnosis
#motivasi
IKAT ANAK-ANAK PEREMPUANMU !

============================

Ketika membaca postingan kawan FB yang lewat di beranda, hati saya langsung tersentak. Ya Allah, telah datang masa ini? Inilah yang dimaksud dengan “ikat para perempuan di rumahmu (diantaranya termasuk  anak-anak perempuanmu)”, sebuah nasehat Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk laki-laki pemimpin keluarga di akhir zaman, ketika masa Dajjal Sang Pembohong datang.

Bagaimana tidak, banyak remaja perempuan, putri-putri kaum muslimin, yang identitasnya dicirikan dengan kerudung yang dikenakannya, namun berani melakukan hal-hal yang tercela. Tak sekedar itu, melalui kalimat-kalimat postingan mereka yang telah menafikan Rabbnya. Dajjal datang diawali dengan sihirnya. Dunia maya menjadi ajang pertempuran pertama dan utama.

Lihatlah fenomena Tik Tok, ini senjata yang menyeret banyak perempuan untuk menanggalkan rasa malu dan bahkan menggadaikan aqidah.

Lihatlah fenomena media yang menempatkan sosok-sosok selebriti yang mengumbar aurat, mengagungkan materi, gaya hidup boros berlebihan, memamerkan kekayaan dan kecantikan.

Mereka diletakkan di singgasana publik agar menjadi figur bagi manusia. Dijadikan indah kehidupan mereka yang penuh limpahan kekayaan dan kesenangan. Dijadikan mata manusia khususnya perempuan menginginkan hidup seperti mereka, dijadikan mempesona kecantikan-kecantikan mereka. Seolah mereka adalah dewi-dewi dengan hati bagai malaikat.  Sebuah kebohongan yang dipoles secara memikat oleh media.

Dijadikan kehidupan penuh ghibah sebagai aktivitas sehari-hari bagaikan sarapan pagi. Seolah-olah fitnah dan ghibah adalah hal biasa. Padahal dua aktivitas ini adalah kejahatan dan kehancuran bagi pelakunya. Semakin populer dan menjadi rujukan berita, akun-akun gosip yang menjual berita remeh temeh dari sang idola orbitan mereka.

Muncul sosok-sosok manusia yang diberhalakan oleh manusia lainnya. Dipilih ikon seperti Dilan dan Bowo. Sederhananya, mereka hanya umpan untuk mengeluarkan para perempuan muda dari keislamannya. Tanpa sadar, tanpa sadar dan tanpa sadar.

Wahai para ayah, ikatlah anak-anak perempuan kalian, sebelum mereka berlari tanpa akal lagi, keluar rumah-rumah kalian untuk memeluk berhala-berhala mereka.

Wahai para ibu, peluklah anak-anak perempuan kalian, sebelum mereka hilang iman dan kehormatannya. Jangan lepaskan, bila kalian tak ingin anak-anak perempuan yang kalian sayangi menjadi bahan bakar neraka.

Wahai para manusia berhala. Bertaubatlah dengan taubatan nasuha. Jangan jadikan diri kalian menjadi orang-orang pertama yang memasuki neraka sebelum para pemuja kalian.

NERAKA ITU BENCANA

Neraka itu bencana. Tak ada mau secara tertib antri memasuki neraka.  Tak ada yang mau memasukinya sambil berjalan. Bahkan tak ada yang mau menghadapinya dengan wajahnya. Bahkan Firaun, bahkan Abu jahal, bahkan Namruj, bahkan syaithan-syaithan dan iblis sekalipun, mereka tak mau sukarela memasuki neraka. Bahkan orang-orang kafir yang kejam dan bengis, bahkan orang-orang munafik yang di dunia begitu sombongnya menantang Allah untuk menghadapi neraka.

Tak ada yang mau menghadapi gerbang api yang berkobar menjilat-jilat. Itulah sebabnya Allah Ta’ala menjadikan para penjaga neraka dari malaikat-malaikat yang besar, kasar dan menakutkan penghuni neraka.

Allah SWT berfirman:

إِذَآ أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِىَ تَفُورُ
izaaa ulquu fiihaa sami'uu lahaa syahiiqow wa hiya tafuur

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu membara,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 7)

Allah SWT berfirman:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ  ۖ  كُلَّمَآ أُلْقِىَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ
takaadu tamayyazu minal-ghoiizh, kullamaaa ulqiya fiihaa faujun saalahum khozanatuhaaa a lam yatikum naziir

"hampir meledak karena marah. Setiap kali ada sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan kedalamnya, penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, Apakah belum pernah ada orang yang datang memberi peringatan kepadamu (di dunia)?"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 8 )
Allah SWT

berfirman:

قَالُوا بَلٰى قَدْ جَآءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَىْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِى ضَلٰلٍ كَبِيرٍ
qooluu balaa qod jaaaanaa naziirun fa kazzabnaa wa qulnaa maa nazzalallohu min syaiin in antum illaa fii dholaaling kabiir

"Mereka menjawab, Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar."
(QS. Al-Mulk 67: ayat 9)

Berbeda dengan Surga, yang para calon penghuninya menanti untuk memasukinya dengan tertib dan bahagia, para penghuni neraka justru ingin berlari menjauhi gerbang neraka yang menakutkan.

Untuk itulah ada malaikat-malaikat yang akan menangkapnya,  menjeratnya dan melemparkannya ke neraka. Karena tak ada yang mau memasukinya dengan sukarela,  syaithan-syaithan sekalipun.

Allah SWT berfirman:

لَا تُبْقِى وَلَا تَذَرُ
laa tubqii wa laa tazar

"Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,"
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 28)

Allah SWT berfirman:

لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ
lawwaahatul lil-basyar

"yang menghanguskan kulit manusia."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 29)

Allah SWT berfirman:

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ
'alaihaa tis'ata 'asyar

"Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 30)

Allah SWT berfirman:

وَمَا جَعَلْنَآ أَصْحٰبَ النَّارِ إِلَّا مَلٰٓئِكَةً  ۙ  وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِيمٰنًا  ۙ  وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ وَالْمُؤْمِنُونَ  ۙ  وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ مَّرَضٌ وَالْكٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ اللَّهُ بِهٰذَا مَثَلًا  ۚ  كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَآءُ وَيَهْدِى مَنْ يَشَآءُ  ۚ  وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ  ۚ  وَمَا هِىَ إِلَّا ذِكْرٰى لِلْبَشَرِ
wa maa ja'alnaaa ash-haaban-naari illaa malaaaikataw wa maa ja'alnaa 'iddatahum illaa fitnatal lillaziina kafaruu liyastaiqinallaziina uutul-kitaaba wa yazdaadallaziina aamanuuu iimaanaw wa laa yartaaballaziina uutul-kitaaba wal-muminuuna wa liyaquulallaziina fii quluubihim marodhuw wal-kaafiruuna maazaaa aroodallohu bihaazaa masalaa, kazaalika yudhillullohu may yasyaaau wa yahdii may yasyaaa, wa maa ya'lamu junuuda robbika illaa huw, wa maa hiya illaa zikroo lil-basyar

"Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan? Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia."
(QS. Al-Muddassir 74: Ayat 31)

Allah SWT berfirman:

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu quuu anfusakum wa ahliikum naarow wa quuduhan-naasu wal-hijaarotu 'alaihaa malaaaikatun ghilaazhun syidaadul laa ya'shuunalloha maaa amarohum wa yaf'aluuna maa yumaruun

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)

Akhirul Kalam, kembali lagi,  wahai ibu dan ayah, selamatkan lah buah hati kita dari dahsyatnya api neraka.


Source : Channel Telegram Parenting
BUKAN SEKEDAR BERMAIN

===========================

Bunda tentu pernah mengeluhkan anak laki-lakinya yang beranjak usia belasan tahun senang sekali keluar rumah bermain dengan temannya dibandingkan diam di rumah? Segala bentuk kekhawatiran  sang Bunda sering  dirasakan, mulai dari kejahatan yang saat ini targetnya adalah anak-anak, pergaulan bebas , target komunitas LGBT pada anak-anak, ancaman pornografi dan pelecehan seksual, sodomi  hingga kekhawatiran kelalaian ananda dalam menjalankan kewajibannya pada Allah semisal shalat.

Anak laki-laki pasca 10 tahun, tentunya memiliki gejolak untuk mendapatkan eksplorasi yang lebih luas dari sekedar lingkungan rumah dan tetangga, interaksi pertemanannya pun semakin banyak sebab dia ingin eksis dan diakui sebagai teman dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya di lingkungan teman. Saat ini juga anak sedang menguji nalarnya menuju kematangan pola berpikir dan kematangan pola perilaku yang pernah dia dapatkan selama ini dari orang tua dan sekolah.

Jika pendampingan ayah bunda terhadap anak usia ini berhasil dalam pematangan kepribadian Islamnya, maka anak akan tumbuh sebagai sosok remaja yang memesona, pemikiran yang kritis dan ketaatan  yang kuat pada Allah swt. Kelak ketika dia sudah dewasa di usia 15 tahun kepribadian Islam itu melekat erat pada dirinya yang menjelma menjadi pribadi tangguh yang berpengaruh.

Namun sebaliknya bila orang tua memandang fase ini adalah fase yang membuat rumit, galau dengan memberikan stereotip yang negatif tentu akan membuat jurang komunikasi antara anak dan orang tua sekaligus memadamkan potensi yang sejatinya mulai menyala-nyala. Anak tidak akan mau berkata jujur kemana dia bermain dan siapa saja teman bermainnya. Karenanya ada anak mengungkapkan alasan untuk bermain ke bundanya adalah bermain sepakbola, namun kenyataannya anak menonton video porno bersama teman-teman bermainnya yang notabene lebih tinggi usianya, jadilah anak tersebut korban pelecehan seksual sementara ayah dan bunda tidak memberikan pendampingan yang penuh tanggung jawab.

Zaman ini memang zaman penuh kekhawatiran, maka benar adanya quote dari Ja’far Ashshodiq, “Berikanlah pendidikan agama kepada anak-anakmu sesegera mungkin sebelum lawan-lawanmu menggantikanmu dan menanamkan ide-ide yang salah dan keliru pada pemikiran mereka”

Maka dalam konsep pendidikan anak berdasarkan tahapan usia, anak sudah harus memiliki kepribadian Islam di usia 10 tahun  dan sangat memungkin untuk hafal Al-quran di usia ini 30 juz sebagai ma’lumah sabiqah (informasi sebelumnya) sebagai informasi yang benar dalam  berpikir benarnya menilai pemikiran, perbuatan dan benda di sekitarnya. Usia ini juga berlatih jiwa kepemimpinannya saat ideologi islam yang ditanamkan padanya dapat berproses menjadi qiyadah fikriyyah (kepemimpinan Berpikir).

Jika pendampingan orang tua membersamai ananda dalam mengantarkan kepribadian Islam ini dapat optimal maka ada kepercayaan yang besar bagi orang tua untuk melepaskan ananda bermain tanpa kegalauan yang sangat ketika anak berada dalam lingkungan teman-temannya. Karena anak dalam pribadi yang berpengaruh bagi teman-temannya.

Katakanlah Musa, awalnya bunda sangat mengkhawatirkan bermainnya di luar rumah, mengingat angka LGBT di daerahnya meningkat tajam 4000 an dan target rekrutmennya adalah anak-anak. Melarang anak bermain tentu tidaklah adil, karena anak butuh penjelajahan dan medan yang lebih luas untuk pengalaman, mengasah mental, keberanian dan ke PD an. Disinilah sang bunda harus berpikir keras untuk menjalin keterbukaan antara anak dan bunda agar anak mau jujur menceritakan siapa saja temannya, dimana alamatnya, keluarganya seperti apa, ananda bermain sepeda ke wilayah mana saja yang ditaklukan, apa kepentingan ananda berada di wilayah itu dsb.

Pertama sekali bunda melarang ananda bermain ananda Musa tidak mau minta izin sebab Musa sudah tahu kalau bundanya pasti melarang, sementara dia sudah meyakinkan bundanya bahwa dia akan baik-baik saja sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk, tidak pernah meninggalkan shalat saat bermain bahkan mengajak
teman-temannya shalat di mesjid dan sebelum bermain setor muraja'ah dulu minimal 1/2 juz. Bahkan ada salah satu temannya pindah sekolah ke sekolahnya karena tertarik dengan sekolah tahfidznya.

Bunda...saat ananda bermain pada dasarnya anak sedang maping, memetakan wilayah eksplorasinya, memetakan teman-temannya dan memetakan posisinya di hadapan teman-temannya. Beberapa strategi ini mungkin bisa diterapkan ketika ananda ingin bermain keluar rumah tanpa pendampingan di luar :

1. Mintalah ananda untuk izin terlebih dahulu ketika keluar rumah. Berikan dia kepercayaan dan berdiskusilah seputar target ananda bermain, semisal olah raga dengan bersepeda, biar berkeringat dan jadi sehat.

2. Pastikan kejujuran ananda bermain dimana dan memilih teman yang menguatkan ketaatan pada Allah. bacakan hadist rasulullah tentang memilih teman dan betapa teman adalah orang penting dalam hidup ananda.

3. Beri jadwal bermain dan batasi waktu pulang, jika tidak pulang pada waktu yang sudah ditentukan ada sangsi menghafal satu hadist misalnya agar ananda memahami makna disiplin.

4. Beri tugas geografi atau sains atau matematika saat bermain,  misal menghitung berapa mesjid yang dilewati di wilayah bermain ananda, berapa gang yang dilewati, Jumlah teman bermain, berapa yang shalat dan berapa yang tidak. Trus apa yang ananda lakukan ketika ada teman yang tidak shalat. Atau bisa juga beri tugas dakwah. Dengan demikian bermainnya tetap dalam proses pembelajaran, mengasah mafhum dan mengikatkannya dengan amal dan proses tanggung jawab.

Anak, tidak selalu dalam pendampingan kita ketika bermain, berilah kepercayaan namun tetap waspada, pada kondisi seperti ini anak rentan tidak jujur, maka selalu kokohkan aqidah islam dan menstelkan dalam imannya bahwa dimanapun dia berada walau ayah bunda tidak bersamanya Allah senantiasa mengawasinya dan setiap apa yang kita lakukan kelak akan dipertanggung jawabkan.

Walau tidak menutupkan kemungkinan ananda melakukan kesalahan-kesalahan maka pada saat inilah mengikatkan mafhum dan amal itu lebih erat lagi, tarkiz aqidah islam lebih kokoh lagi, tsaqafah Islam lebih deras lagi. Dengan seperti ini kelak ananda dalam tempaan yang keras dan semakin menguatkan kepribadian Islamnya dan ketika dia dewasa kepribadian islam ini sudah matang.

Wallau a’lam bishshawab


Source : channel telegram parenting


#unleashyourpotential
#trainerpendidikan
#hypnosis
#motivasi